if99.net

IF99 ITB

Mahasiswa ABK

without comments

Ada dua orang mahasiswaku yang sangat “berbeda”, keduanya seperti ditakdirkan untuk dititipkan kepadaku. Keduanya adalah mahasiswa ABK (anak berkebutuhan khusus). Mahasiswa pertama penyandang asperger, dia mahasiswa waliku, sedangkan mahasiswa kedua adalah anak gifted, dia mahasiswa bimbingan TA-ku. Asperger itu salah satu spektrum autisme, tetapi high performance alias cerdas, ber-IQ tinggi, sedangkan gifted artinya anak berbakat

Mereka keduanya tergolong mahasiswa yang cerdas, diperkirakan IQ-nya di atas 135. Selama kuliah mereka termasuk tipe mahasiswa yang sulit bergaul karena sulit berkomunikasi. Jadi, di lingkungan teman seangkatannya mereka tergolong “lonely child“, selalu sendirian dan kesepian. Karena sulit bergaul dan berkomunikasi, maka mereka jarang dapat teman kelompok tugas. Mungkin teman-temannya enggan mengajak sekelompok, atau memang dasarnya mereka sulit berkomunikasi. Oleh karena itu, mereka umumnya mengerjakan tugas kuliah sendirian saja, tidak sekelompok dengan temannya.

Namun teman-temannya tidak pernah membuli, mengolok-olok, atau mempermainkannya. Teman-teman mereka baik, mereka tidak diperlakukan secara berbeda. Mahasiswa kami tidak ada yang nakal atau bertingkah aneh-aneh. Semua mahasiswa bisa memahami kondisinya.

Selama menjadi mahasiswa wali, tidak terhitung orangtuanya selalu intens berkomunikasi dengan saya, mengabarkan ini itu, memohon pengertian, konsultasi akademik putranya, dll. Saya bisa memahami dan mengerti, anak-anak seperti ini perlu perhatian lebih, pendampingan, dan pemakluman.

Sudah lama saya tidak bertemu dengannya sejak pandemi. Lalu pada hari ini saya menanyakan kabarnya, mengirim pesan WA, apakah dia sudah sidang Tugas Akhir. Sudah pak, balasnya. Alhamdulillah, saya senang mendengarnya. Artinya dia sudah menyelesaikan studinya, tinggal wisuda saja nanti. Terbayang dulu betapa sulitnya lika-liku dia menyelesaikan studinya, jatuh bangun, drop, on-off-on-off dengan kondisinya seperti itu, hingga melewati batas waktu studi dan diberi perpanjangan waktu.

Tinggal satu orang lagi, mahasiswa gifted yang menjadi bimbingan TA-ku. Semoga saja dia bisa melewati fase perjuangan ini. Saya belum tahu cara mendekati dia agar mau mengerjakan TA. Tiap kali ditanya tentang TA nya, dia tampak ketakutan.

Seperti yang saya tulis pada kalimat pertama, Tuhan seperti mentakdirkan mereka “dititipkan” kepadaku. Mungkin karena saya di rumah juga dianugerahi Tuhan anak sulung yang ABK juga? Wallahualam 😢

Written by rinaldimunir

November 13th, 2022 at 5:07 pm

Pengalaman Berobat ke Dokter Online

without comments

Pengalaman saya berobat ke dokter online di aplikasi Halodoc boleh juga nih. Saat anak saya sakit flu dan batuk, saya mau membawa dia berobat ke dokter umum di klinik praktek dokter di Antapani pada hari Sabtu. Tapi dokter umum pada hari itu penuh pasien dan tidak menerima pasien lagi.

Akhirnya iseng-iseng saya coba meng-instal aplikasi Halodoc, lalu saya cari daftar dokter yang praktek online hari itu. Ada kategori dokter umum dan ada dokter spesialis. Kita bisa pilih dokter yang menurut feeling kita cocok. Tarif dokternya bervariasi, paling murah Rp17.000 (what??? Hari gini masih ada tarif dokter seharga satu mangkok bakso?), Rp35.000, Rp40.000, sampai yang paling mahal Rp70.000. Kayaknya tarifnya bergantung pengalaman, dokter muda yang minim pengalaman tarifnya murah, dokter senior sedikit lebih mahal.

Sebagian daftar dokter yang direkomendasikan oleh aplikasi. Dokter yang saya pilih tidak ada di sini ?

Ok, saya pilih dokter perempuan yang bisa layanan video call, jadi nggak hanya sekedar chat saja. Dia saat itu sedang berada di dalam mobil yang melaju, mungkin mau jalan-jalan akhir pekan barangkali, tapi bukan sedang menyetir. Setelah terhubung dengan dokter tersebut, lalu dia menanyakan apa keluhan anak saya, gejala, suhu badan, dan sebagainya. Dokter meminta saya mengarahkan kamera kepada anak saya agar dia bisa melihatnya, lalu meminta lebih dekat lagi ke arah wajah agar bunyi napas dan suara batuknya kedengaran.

Setelah itu dia menjelaskan tentang sakit anak saya, memberi tips agar minum air hangat, istirahat yang cukup, makan yang bergizi, dan terakhir meresepkan obat. Saya tidak perlu keluar rumah membawa resep untuk beli obat di apotik, sebab aplikasi ini sudah terhubung dengan apotik-apotik. Apotik yang dipilih oleh aplikasi adalah apotik yang terdekat dengan rumah saya. Setelah membayar harga obat dengan gopay (bisa transfer bank juga), maka kita bisa melacak pergerakan driver gojek yang menjemput obat di apotik. Dalam waktu setengah jam, paket obat sampai ke rumah saya. Praktis sekali dan semudah itu.

Segera obat-obat itu saya minumkan kepada anak. Ada obat demam, obat batuk, antibiotik, obat radang, dan vitamin.

Alhamdulillah, dua hari setelah minum obat anak saya sembuh. Andai tidak pakai Halodoc, mungkin saya harus menunggu hari Senin membawa anak ke dokter, belum tentu dapat nomor, lalu antri lama di dokter dengan pasien sakit lainnya.

Tentu cara terbaik adalah langsung diperiksa secara fisik (secara tatap muka) oleh dokter di tempat praktek, diperiksa fisiknya pakai alat (stetoskop), tetapi kalau kondisi darurat begini dan dokter penuh saat musim hujan (sekaligus musim flu) seperti bulan-bulan sekarang, maka layanan dokter online adalah sebuah alternatif yang patut dicoba.

Written by rinaldimunir

November 5th, 2022 at 7:09 pm

Posted in Pengalamanku

Mencatat selama kuliah

without comments

Saat mengajar di depan kelas, ada mahasiswaku yang rajin mencatat, baik mencatat apa yang saya tulis di papan, maupun mencatat poinpoin materi kuliah yang saya sampaikan secara lisan. Dia menyimak kuliah saya dengan seksama lalu menuliskan di dalam buku catatannya. Meskipun sudah tersedia PPT materi kuliah yang bisa diunduh dari website saya, namun dia tetap rajin mencatat.

Suatu kali saya apresiasi mahasiswa yang mencatat di dalam kuliah. Saya katakan kepada seluruh mahasiswa di kelas, mencatat selama kuliah adalah proses pembelajaran yang efektif. Kenapa? Karena ketika kita mencatat, otak kita ikut berpikir, sambil menulis mata kita membaca apa yang kita tulis sembari otak kita memahaminya, sekaligus terekam di dalam memori otak.

Jadi, selama proses mencatat itu kita melatih menggerakkan tangan, mata, telinga, dan otak sekaligus. Semua indera terlibat di dalamnya. Semakin banyak indera terlibat, semakin kuat pula ilmu itu melekat. Apalagi jika dibubuhi tambahan visual pada materi yang diserapnya, makin tinggilah pemahamannya

Mencatat selama kuliah juga berarti mengabstraksikan atau menyarikan apa yang diterangkan oleh dosen. . Tidak banyak mahasiswa yang mampu melakukan hal itu.

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya, demikian kata Rasulullah SAW.

Written by rinaldimunir

October 12th, 2022 at 8:18 pm

Posted in Pendidikan

Ibu Penjual Nasi Kuning Tidak Menaikkan Harga Jualannya

without comments

Kenaikan harga BBM pekan kemarin pasti berimbas pada kenaikan harga barang dan jasa, antara lain kenaikan harga bahan pangan.

Seorang ibu penjual nasi kuning langganan saya di Antapani tetap tidak menaikkan harga nasi kuningnya meski harga BBM sudah naik berkali-kali. Sejak dulu sampai sekarang tetap harganya Rp7000 saja per porsi. Satu porsi nasi kuning dengan irisan telur dadar, oseng tempe orak-arik, sambal, dan kerupuk.

Ketika saya tanya kenapa tidak dinaikkan harga nasi kuningnya kira-kira Rp500 atau Rp1000 (sementara pedagang nasi kuning lain sudah Rp10.000 per porsi), si ibu hanya tersenyum kecil.

“Ah, biarin segini aja harganya. Kalau dinaikkan kasihan pelanggan”, jawabnya.

Bagi pedagang kecil seperti ibu itu, kehilangan pembeli atau pelanggan lebih menakutkan daripada kehilangan keuntungan sesaat yang tidak seberapa. Sebenarnya dia ingin mengatakan bahwa ia lebih khawatir pembelinya akan lari jika harga dagangannya dinaikkan, tidak akan pernah datang lagi. Kenaikan harga 500 atau 1000 efeknya besar sekali, maklum pelanggannya juga orang-orang kecil seperti mang ojek, mang beca, tukang parkir, dll.

Bagi pedagang kecil, kelestarian pelanggan adalah hal yang utama. Lebih penting mempertahankan kelangsungan usahanya daripada meraih keuntungan yang lebih besar. Tidak apalah margin keuntungan berkurang asal pembeli tetap.

“Biar untungnya kecil tetapi awet”, demikian kira-kira yang ingin diucapkannya. Awet maksudnya pelanggannya tidak hilang. Sebuah cara pikir yang sederhana, khas orang-orang kecil yang polos dan jujur.

Written by rinaldimunir

September 12th, 2022 at 2:50 pm

Mencoba Mie Kriuk Cici Claypot

without comments

Bandung itu memang surga kuliner. Banyak saja bermunculan makanan baru, jajanan baru, penganan baru. Sebut saja mie kocok, batagor, seblak, bakso aci, bakso cuankie, sampai surabi. Kreatif memang warga kotanya.

Tergoda dengan sebuah posting-an mahasiswaku di Instagram yang memajang foto mie kriuk Cici Claypot, saya pun ingin mencobanya pula. Ini jenis makanan yang pernah viral beberapa tahun yang lalu (tahun 2019 kalau nggak salah). Samai sekarang mie kriuk Cici Claypot ini masih dicari. Saya aja yang telat mencobanya, padahal saya sendiri warga Bandung lho, tapi ya itu, saya jarang makan di luar.

Di Jalan Anggrek, dekat toko kue Tiramisusu, ada konter mie claypot. Saya pergilah ke sana sore itu. Saya pesan satu porsi mie kriuk daging cincang. Jadi ini mie yang tidak direbus, tetapi masih seperti kerupuk (kriuk), lalu mie kriuk disiram kuah kental dan daging cincang, dimasak dan disajikan di dalam tembikar (claypot). Seperti di bawah ini penampakanya.

Mie kriuk cici claypot

Claypot itu bahasa Inggris untuk tembikar atau gerabah. Jadi, semua bahan makanan dimasak di dalam tembikar ini, lalu dihidangkan di meja kita panas-panas. Kuahnya masih mendidih, asapnya masih mengebul. Rasanya gurih. Pakai sambal supaya terasa lebih nendang. Seporsi mie kriuk itu harganya sekitar 40 ribuan, termasuk pajak. Hihihi…mahal juga ya. Selain mie juga ada nasi yang topping-nya seperti pada gambar di atas, lalu ada pula nasi hainan, nasi goreng, nasi buncis, dll, semuanya dimasak dan disajikan di dalam tembikar.

Dikutip dari sini, Cici Claypot merupakan tempat makan yang dimiliki oleh seorang influencer di bidang kuliner dan traveling, Shasya Pashatama. Bisa dibilang, Cici Claypot menjadi satu-satunya tempat makan di Bandung yang menawarkan sensasi kuliner di dalam claypot. Menurut Shasya Pashatama, inspirasi untuk membuka Cici Claypot berasal dari tempat makan favoritnya saat kuliah.

“Dulu tuh ada yang jualan claypot di pinggir jalan Dago, makanannya enak banget dan aku sering ke sana. Terus tiba-tiba dia enggak jualan lagi dan aku merasa kehilangan,” ungkap pemilik akun @surgamakan kepada kami beberapa waktu yang lalu.

Kehilangan tempat makan favorit semasa kuliah tak membuat Shasya berputus asa, ia lantas membuka tempat makan serupa bersama saudara laki-lakinya.

Nah, begitu cerita pengalaman saya mencoba masakan Cici Claypot. Soal rasa memang subyektif. Kalau untuk anak-anak muda milenial memang rasa mie kriuk Cici Claypot ini cocok di lidah mereka. Kalau bagi saya yang masih fanatik dengan masakan Minang yang pedas, mie kriuk Claypot ini kuahnya terasa agak manis/gurih, agak kurang cocok dengan lidah saya. Tapi yang penting saya sudah mencoba gaesss….

Written by rinaldimunir

September 5th, 2022 at 10:16 am

Berkunjung ke Makam Eril di Cimaung, Banjaran

without comments

Dalam perjalanan pulang dari Pangalengan ke Bandung, kami melewati komplek makam Eril Mumtaz, putera Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, yang meninggal di Swiss setelah tenggelam di sungai Aare di kota Bern. Tentu anda sudah mendengar dan membaca berita tentang Eril tersebut

Saat ke Pangalengan dari Bandung, spanduk yang menunjukkan makam Eril sudah terlihat di pinggir jalan. Oleh karena itu, kami berniat akan mengunjungi makamnya nanti saat akan pulang ke Bandung. Beberapa mobil pengunjung terlihat keluar masuk komplek makam.

Komplek makam Eril terletak di Cimaung, Banjaran, Jawa Barat. Makamnya terletak tidak jauh dari pinggir jalan. Berjalan sedikit dari pinggir jalan, sedikit menuruni anak tangga, maka sampailah kita ke komplek makam Eril. Komplek makam ini terletak di pinggir persawahan dengan pemandangan yang indah. Disebut komplek makam karena selain makam di samping makan Eril sedang dibangun Masjid Al-Mumtaz yang dari gambarnya terlihat megah. Masjid ini dirancang oleh ayahnya sendiri, Ridwan Kamil, yang merupakan seorang arsitek.

Komplek makam Eril di Cimaung dan baliho pembangunan Masjid Al-Mumtaz di belakangnya

Setelah berjalan menurruni tangga, sampailah kita ke makam Eril yang terlihat sederhana. Hanya ditutupi rerumputan, tanpa ada batu nisan keramik, hanya nisan dari kayu saja. Sebuah foto besar Eril terlihat di samping makam. Ada juga sebuah papan yang disediakan bagi pengunjung makam untuk menempelkan kertas berisi ucapan belasungkawa dan doa untul Eril dan keluarganya.

Saya berdiri dekat makam Eril
Kertas-kertas yang berisi ucapan belasungkawa dan doa untuk Eril dan keluarganya

Seperti yang saya katakan tadi, makam Eril terletak di pinggir pesawahan dengan pemandangan yang menyejukkan mata. Tidak ada jaminan juga sawah-sawah itu akan bertahan sampai kapan, mungkin saja dibeli oleh pengusaha lalu dibuat menjadi area komersil. Wallahu alam.

Pesawahan di samping komplek makam Eril

Saya menyempatkan berdoa di samping makam Eril. Allahummaghfirlahu war hamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu wadj ‘alil jannata matswaahu. Alfatihah buat Eril.

Berdoa di samping makam Eril

Meskipun saya tidak mengenal Eril secara pribadi, namun ayahnya adalah murid saya dulu saat di Bimbel Karisma Masjid Salman ITB (Baca: Ridwan Kamil yang Saya Kenal). Paman Eril (kakak Ridwan Kamil) adalah sesama pengajar di Bimbel. Jadi saya hanya mengenal ayahnya dan pamannya saja. Eril adalah alumni Teknik Mesin ITB angkatan 2017. Eril lulus dari ITB pada saat musim corona tahun 2021 dan berencana mengambil S2 di di Swiss. Namun takdirnya berakhir di sungai Aare, Bern, Swiss. Allah yang lebih tahu semuanya.

Written by rinaldimunir

August 14th, 2022 at 9:54 am

Mengunjungi Rumah Boscha di Kebun Teh Malabar, Pangalengan

without comments

Minggu lalu saya dan teman-teman di kampus mengadakan rapat jurnal di kebun teh Malabar, Pangalengan, Jawa Barat. Kami menginap di Malabar Tea Village, yaitu sebuah tempat penginapan (hotel) yang dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara 8. Penginapan ini menjadi unik karena menyatu dengan sebuah rumah peninggalan bersejarah, yaitu Rumah Boscha.

Rumah Boscha
Tampak depan

Pernah mendengar nama Boscha? Tentu saya yakin anda pernah. Siapa yang tidak kenal dengan Observatorium Boscha di Lembang. Siapa sebenarnya Boscha? Dikutip dari sumber ini, Boscha atau nama lengkapnya Karel Albert Rudolf Boscha adalah orang Belanda yang pertama kali membangun perkebunan teh di Malabar pada tahun 1896. Rumah Boscha ini dibangun bersamaan dengan pembangunan perkebunan teh Malabar. Boscha menggunakan rumah ini sebagai tempat peristirahatannya. Karena kebun teh Malabar yang dimiliki Boscha ini sangat luas, selain itu dia juga memiliki kebun teh di tempat lain, maka Boscha dijuluki juga Raja Teh Priangan. Boscha adalah seorang yang cinta ilmu pengetahuan. Dia menyumbangkan sebagian kekayaannya untuk pembangunan observatorium Boscha di Lembang, karena itulah namanya diabadikan sebagai nama observatorium. Bosscha juga salah seorang yang ikut mendirikan kampus TH (Technische Hoogeschool) di Bandung yang sekarang menjadi kampus ITB.

Rumah Boscha tampak dari samping kanan. Ada cerobong asap di atasnya, di bawahnya tungku untuk menghangatkan badan

Memasuki rumah Boscha kita seolah-olah dibawa ke masa silam. Hampir semua perabotan peninggalan Boscha seperti lemari, kursi, lampu, masih terawat dengan baik. Saya memasuki rumah Boscha yang terdiri dari beberapa bagian (ruang tamu, ruang tengah, ruang makan, dapur, dan kamar tidur). Terdapat juga sebuah ruang basement yang di dalamnya terdapat meja biliar yang digunakan oleh Boscha untuk bermain. Beberapa foto di dalam rumah Boscha:

Ruang tengah. Foto di dinding adalah Karel Albert Rudolf Boscha
Ruang tamu. Beberapa furnitur mungkin sudah diperbarui
Tungku perapian
Ruang tengah

Di ruang tengah ini terdapa sebuah piano buatan tahun 1837 yang masih berfungsi dengan baik. Saya mencoba memainkan tuts-tuts piano, suaranya masih bagus dan jernih.

Piano merek Zeitter – Winkellmann, Braunchweig Georg. 1837

Lalu di manakah kamar Boscha? Pegawai hotel menunjukkan kamar Boscha yang sekaligus menjdi ruang kerjanya. Letaknya di sayap kanan rumah, masuk dari ruang makan. Kamar ini sudah dilengkapi dengan bed yang baru, tetapi meja kerja Boscha yang asli masih terdapat di dalamnya. Kata pegawai hotel, kamar ini tidak disewakan kepada tamu hotel, hanya menjadi tempat yang dirawat dengan baik.

Kamar tidur Boscha
Meja kerja Boscha

Boscha menghabiskan hidupnya di rumah ini sampai dia meninggal pada tahun 1923. Menurut kisah, Boscha meninggal akibat penyakit tetanus akibat terluka setelah dia terjatuh dari kudanya di Bukit Nini yang terletak di belakang rumahnya. Dia meninggal di pangkuan pegawainya. Boscha dimakamkan ditengah kebun teh, tidak jauh dari rumahnya. Saya tidak sempat mellihat makamnya saat itu.

Rumah Boscha persis terletak di pertengahan kebun teh Malabar. Kebun teh ini sangat luas sekitar 2000 hektar, sampai ke perbukitan di sekitarnya. Kita dapat berjalan-jalan menyusuri kebun teh yang luas itu, menikmati udara segar pegunungan yang dingin. Kita juga dapat melihat para pekerja memetik daun teh. Saat saya ke sana pada hari Minggu pemetik daun teh libur, sehingga kita tidak dapat melihat pemandangan khas para wanita yang sedang memetik pucuk teh.

Kebun teh Malabar, di depan rumah Boscha

Oh ya, untuk melihat-lihat rumah Boscha pengunjung tidak perlu menginap di bangunan penginapan di samping rumah Boscha. Pengunjung dapat masuk melihat-lihat ke dalamnya dengan tiket masuk Rp5000. Jika menginap di kamar penginapan kelas standard harganya 600 ribu per malam, dan jika di rumah kayu (cottage) di belakang rumah Boscha harganya 1,2 juta per malam (di dalam satu cottage terdapat dua kamar tidur).

Saya telah membuat video kunjungan ke rumah Boscha di kanal saya di YouTube. Silakan menontonnya dengan mengklik video di bawah ini:

Written by rinaldimunir

August 10th, 2022 at 4:47 pm

ART Kami Telah Tiada

without comments

Tiga minggu yang lalu kami mendapat kabar yang mengagetkan. ART (pembantu) kami yang sudah bekerja dengan kami selama 15 tahun telah dipanggil oleh Allah SWT di Cibatu, Garut. Dia wafat pada har Rabu pagi tanggal 5 Juli 2022. Tidak menyangka secepat itu.

Sejak awal tahun yang lalu ART kami ini sudah sakit-sakitan. Beberapa kali on-off-on-off masuk kerja. Sengaja dia mengontrak sebuah kamar di RW tetangga agar dekat ke rumah kami (ART kami tidak menginap, dia masuk kerja pagi dan pulang sore, sejak dulu seperti itu, sejak 15 tahun yang lalu). Sejak suaminya wafat pada awal tahun 2021, dia seperti kehilangan pegangan dan sering sakit. Meskipun sudah berulang kali tidak masuk kerja, namun dia tetap ingin bekerja di rumah kami (Baca: ART yang Kembali Lagi). Dia betah bekerja di rumah kami, buktinya sudah 15 tahun dia bekerja sejak anak bungsu kami masih berusia 6 bulan!

Awal tahun 2022 dia sudah mulai mengeluh pada kakinya. Sudah tidak kuat berjalan, namun dia tetap memaksakan diri untuk bekerja. Sudah saya katakan kepadanya, tidak apa-apa dia beristirahat saja dulu, tidak usah bekerja, tetapi dia tidak mau. ART kami juga menderita diabetes, kadar gulanya tinggi.

Karena kadar gula yang tinggi itulah makanya dia belum pernah mendapat vaksinasi covid. Ketika musim covid delta lagi parah-parahnya pada tahun 2021, saya dan seisi rumah sudah berhati-hati supaya tidak ada yang terkena covid. Si Bibi (ART) tergolong komorbid, beresiko tinggi jika terkena covid. Namun alhamdulillah tidak ada di antara kami yang terkena covid pada tahun 2021. Si bibi pun di rumah selalu pakai masker dan kami mewanti-wanti agar dia menghindar bertemu orang banyak, selalu pakai masker jika ketemu keluarga, dan lain-lain.

Namun pada bulan Februari 2022 istri saya terkena covid ommicron sepulang dari Surabaya. Istri pun harus isolasi di rumah, dan demi keselamatan semua, termasuk ART, kami pun merumahkannya, tidak mengizinkannya kerja dirumah. Dia pun pulang ke Garut, ke rumah anaknya.

Setelah istri sembuh dari covid, satu bulan kemudian, si bibi masuk kerja lagi. Namun hanya sebentar, dia sering sakit, dan puncaknya setelah dia mengeluh sudah tidak kuat berjalan. Ada keropos pada tulang kakinya. Dia pun pulang ke rumah anaknya di Garut kembali. Sejak saat itu kami tidak pernah bertemu dia lagi, sampai akhirnya suatu hari keluarganya di Bandung mengabarkan dia sudah tiada.

Dua minggu yang lalu kami sekeluarga mendatangi rumah anaknya di Cibatu, Garut, dengan maksud bertakziah dan berziarah. Si bibi dikuburkan di makam keluarganya, tidak jauh dari rumah anaknya. Kami sudah mengikhlaskannya, termasuk semua utang bibi kepada kami. Kami pun meminta maaf kepada anak dan menantunya jika selama si bibi bekerja kami melakukan kesalahan.

Bagaimanapun ART kami sudah banyak “berjasa” kepada keluarga kami. Saya dan istri bekerja (sekarang istri saya sudah tidak bekerja lagi). Kami perlu ART yang tidak hanya mengerjakan pekerjaan rumah (mencuci, menyetrika, beres-beres rumah), tetapi juga menjaga dan menyiapkan kebutuhan anak selama kami bekerja di kantor. Anak saya masih kecil-kecil saat itu, si bungsu masih berusia 6 bulan ketika dia mulai bekerja, dua anak lain masih sekolah. ART kami yang memandikan si bungsu, memberi makan, menidurkan, lalu menunggu anak yang lain pulang sekolah, menyiapkan makan siang, dan sebagainya.

Satu pengalaman yang tidak terlupakan bagi saya adalah ketika si bungsu yang saat itu berusia 2 tahun hampir saja tidak bisa bernapas setelah tak sengaja buah lengkeng tertelan masuk ke tenggorokannya. Saya yang tidak ngeh saat itu tidak melihat kejadiannya. Istri saya yang melihat dan panik. Tetapi untunglah dengan sigap si bibi langsung memukul tengkuk si bungsu sehingga buah lengkeng itu keluar dari mulutnya. Terlambat sedikit bisa fatal. Saya yang tidak punya pengalaman tentang kasus sepert ini tentu juga panik dan tidak tahu harus berbuat apa. Namun si bibi mungkin sudah punya banyak pengalaman hidup mengasuh anak sehingga dia tahu apa yang harus dilakukan.

Alfatihah buat si bibi, ART kami yang setia. Semoga Allah SWT melapangkan kuburnya dan menempatkannya pada tempat yang layak di sisi-Nya.

Written by rinaldimunir

August 1st, 2022 at 3:47 pm

Pengalaman PPDB SMA di Kota Bandung Tahun 2022 (Bagian 2)

without comments

Setelah mengetahui PPDB Tahap 1 dari jalur prestasi rapor tidak lolos, anak saya bersedih hati. Dia mengurung diri di kamar. Harapan untuk bisa bersekolah di SMA negeri tidak berhasil. Saya pun gundah gulana dan timbul penyesalan kenapa tidak melihat pergerakan skor nilai di SMA lain sebelum memutuskan memilih pilihan 1 dan pilihan 2 seperti yang saya ceritakan pada tulisan bagian ke-1.

Tapi masih ada tahap 2 yaitu seleksi melalui jalur zonasi, artinya mencoba mendaftar ke SMA negeri dekat rumah. Sistem zonasi ini berdasarkan jarak rumah ke sekolah. Jarak yang dimaksud adalah jarak garis lurus, diukur dengan menggunakan Google Map. Jadi, meskipun jarak dari rumah ke sekolah menggunakan kendaraan bermotor melalui jalan umum bisa mencapai lebih dari satu km, tetapi jarak garis lurusnya di Google Map bisa jadi hanya beberapa ratus meter saja.

Di sekitar Antapani hanya ada dua SMA negeri yang bisa dipilih, yaitu SMAN 23 di Jalan Malangbong dan SMAN 16 di Jalan Mekarsari, Kiaracondong. Jarak garis lurus dari rumah kami ke SMAN 23 sekitar 1,2 km, sedangkan jarak garis lurus ke SMAN 16 dengan Google Map 512 meter. Tahun lalu siswa yang diterima di SMAN 23 paling jauh jaraknya sekitar 600-an meter. Jadi hopeless lah ya ke SMAN 23. Sedangkan di SMAN 16 tahun lalu siswa yang diterima paling jauh sekitar 500-an meter. Jadi ada harapan lah ya. Kami pun mendaftarkan Fajar pada tahap 2 ini dengan salah satu pilihannya adalah SMAN 16.

Di bawah ini adalah rekapitulasi hasil PPDB tahun 2022 jalur zonasi untuk semua SMA negeri di kota Bandung (perhatikan kolom tabel bagian kanan saja). Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa rata-rata jarak terjauh yang diterima adalah di bawah 1 km. Hanya tiga SMAN yang jarak terjauhnya di atas 1 km, yaitu SMAN 21, SMAN 25, dan SMAN 27. Jarak terjauh terkecil yang diterima adalah di SMAN 14, yaitu 307 meter.

Dari tabel rekapitulasi di atas dapat diketahui bahwa jarak terjauh yang diterima di sekolah negeri dari tahun ke tahun semakin berkurang saja jaraknya, semakin mendekat ke sekolah. Padahal pemukiman penduduk di kota Bandung semakin lama semakin ke pinggiran kota. Apakah penyebabnya ini? Apakah semakin banyak warga memiliki rumah yang semakin dekat dengan sekolah negeri?

Dari komentar-kementar orangtua di akun instagram @disdikjabar yang kesal dan marah karena anaknya tidak lolos jalur zonasi meskipun rumah dekat dengan sekolah, saya menangkap kesan bahwa jalur zonasi ini rawan kecurangan. Mereka melaporkan bahwa teman anaknya yang rumahnya jauh dari sekolah lolos jalur zonasi, sedangkan anaknya yang dekat dengan sekolah malah tidak lolos. Benar atau tidak, hal ini perlu diselidiki lebih jauh kenapa bisa demikian. Kejadian ini banyak terjadi di kota dan kabupaten lain di Jawa Barat, saya tidak tahu di kota Bandung apakah ada kasus seperti ini.

Namun saya menduga masalah ini terjadi karena pada tahun ini banyak orangtua melakukan modus menumpang KK (Kartu Keluarga) ke rumah orang lain yang dekat dengan sekolah. Jadi misalnya rumah calon siswa jauh dari sekolah, tapi karena ingin masuk ke SMA negeri tertentu, maka orangtuanya menumpang KK ke pemilik rumah yang dekat sekolah (tentu saja dengan imbalan uang). Anehnya, cara menumpang KK ini diperbolehkan (legal) asalkan ada pernyataan persetujuan dari pemilik rumah. Panita PPDB di sekolah tidak memiliki kewenangan menyelidiki kebenaran alamat siswa yang sesungguhnya, mereka hanya bekerja berdasarkan data yang diterima (bukti KK).

Orangtua teman anak saya pada tahun lalu pernah ditawari pemilik rumah dekat sebuah SMA negeri untuk ditumpangkan nama anaknya di KK pemilik rumah dengan bayaran 15 juta rupiah. Namun dia tidak mau karena itu sama saja melakukan kebohongan.

PPDB jalur zonasi ini selalu bermasalah setiap tahun. Selalu muncul celah untuk mengakali aturan, seperti memanipulasi KK, menumpang KK, dan sebagainya. Tujuan awal jalur zonasi ini adalah agar siswa tidak perlu jauh-jauh besekolah, namun faktanya banyak siswa yang jauh dari sekolah diterima, sedangkan siswa yang dekat dengan sekolah justru tidak diterima karena adanya modus menumpang KK tersebut. Hak siswa dekat sekolah dirampas oleh siswa yang jauh dari sekolah.

Saya dari dulu kurang setuju seleksi jalur zonasi ini kuotanya sangat besar (50%). Jalur zonasi terkesan “menguntungkan” bagi siswa yang tinggal dekat sekolah. Mereka tidak perlu belajar rajin-rajin, tidak perlu berkompetisi, karena nanti sudah pasti diterima di sekolah dekat rumah. Masalahnya sekolah negeri tidak merata sebarannya, ada wilayah yang padat penduduk tetapi tidak mempunyai sekolah negeri atau hanya memiliki satu sekolah negeri. Kasihan dengan anak-anak yang memiliki prestasi tetapi tidak dapat masuk sekolah negeri karena rumah mereka jauh dari sekolah. Mau masuk melalui jalur prestasi juga gagal karena kuotanya sedikit sekali. Mau masuk sekolah swasta belum tentu mampu. Bahkan banyak sekolah swasta, terutama yang berkualitas bagus, sudah tutup pendaftaran sebelum PPDB sekolah negeri. Mau sekolah di mana? Maka, PPDB tahun 2022 meninggalkan banyak cerita sedih dan derai air mata dari siswa dan orangtua yang kecewa karena PPDB yang dianggap tidak fair dan banyak masalah.

Untuk tahun-tahun selanjutnya aturan PPDB ini perlu dievaluasi dan diperbaiki. Pak menteri yang membuat aturan PPDB ini sebaiknya mengubah Permendikbudnya. Berikan kesempatan yang besar bagi anak-anak berprestasi masuk sekolah negeri. Kuota jalur prestasi ditingkatkan hingga 50 persen, sedangkan kuota jalur zonasi cukup 25% saja. Tegakkan aturan yang tegas tentang kartu keluarga, jangan sampai ada kecurangan memanipulasi KK.

Oh ya, saya lupa menceritakan bagaimana hasil seleksi jalur zonasi anak saya? Alhamdulillah, Fajar diterima di SMAN 16 karena jarak rumah ke sekolah 512 meter, sedangkan jarak terjauh yang diterima 527 meter. Hampir saja tidak lolos mengingat banyaknya pendaftar ke sekolah itu. Apalagi SMA ini terletak di wilayah pemukiman penduduk yang padat, tentu banyak pendaftar yang rumahnya dekat sekolah. Sempat hopeless juga, dan untuk jaga-jaga saya mendaftarkan Fajar ke sebuah sekolah swasta sebagai cadangan jika tidak lolos masuk sekolah negeri. Namun mungkin rezeki anak kami bisa lolos ke sana. Saya berikan pilihan kepadanya, mau mengambil sekolah swasta itu atau SMAN 16, dan dia memilih di SMAN 16 saja.

Tampak depan SMA Negeri 16 Bandung
Bagian dalam sekolah dan lapangan upacara
Ruang-ruang kelas lainnya

SMA Negeri 16 itu berada di gang pemukiman yang rapat penduduk. Dari luar terlihat kecil, tetapi setelah kita masuk ke dalamnya lumayan luas juga. Ruang kelasnya banyak dan bangunannya terlihat cukup bagus. Semoga saja Fajar betah sekolah di sana. Ini PPDB terakhir buat dia dan buat keluarga kami. Tidak ada lagi anak saya yang akan ber-PPDB. Anak kami tiga orang, dan Fajar adalah anak bungsu. Sekarang tinggal menyiapkan dia untuk belajar yang rajin agar bisa masuk perguruan tinggi negeri kelak. (TAMAT)

Written by rinaldimunir

July 16th, 2022 at 9:04 pm

Pengalaman PPDB SMA di Kota Bandung Tahun 2022 (Bagian 1)

without comments

Penerimaan Peserta Didik baru (PPDB) SMA dan SMK negeri di Jawa Barat tahun 2022 sudah selesai. Hasil seleksi tahap 2 (jalur Zonasi) untuk SMA dan SMA sudah diumumkan pada tanggal 8 Juli 2022, daftar ulang juga sudah tuntas, dan minggu depan tanggal 18 Juli 2022 sudah dimulai tahun ajaran baru yang diawali dengan MPLS (masa pengenalan lingkungan sekolah).

Ini merupakan PPDB terakhir untuk anak saya yang bungsu. Kakaknya sudah mengikuti PPDB ketika mendaftar ke SMP dan SMA negeri. Si bungsu yang bersekolah di sebuah SMP negeri tahun ini lulus SMP dan melanjutkan ke SMA. Saya (dan juga anak) memang penganut negeri-minded, selalu memilih sekolah negeri. Bukan karena alasan sekolah negeri itu murah, tetapi lebih karena saya ingin anak menjalani belajar di lingkungan yang heterogen untuk menumbuhkan semangat egaliter. Di sekolah negeri siswa-siswanya berasal dari latar belakang ekonomi keluarga yang berbeda, suku dan agama yang berbeda, serta kebiasaan hidup yang berbeda pula. Hanya ketika SD saja saya memilih sekolah swasta Islam agar anak memiliki landasan agama yang kuat untuk bekal hidupnya nanti.

Pada tulsian ini saya hanya membahas PPDB SMA saja ya, karena sekolah yang dituju adalah SMA. PPDB SMA di Jawa Barat ada dua tahap atau dua gelombang. Tahap 1 adalah seleksi untuk jalur afirmasi (KETM, ABK, kondisi tertentu), jalur perpindahan tugas orangtua/anak guru, dan jalur prestasi (prestasi rapor dan prestasi kejuaraan). Jika tidak lulus pada tahap 1, calon siswa masih bisa mengikuti tahap 2, yaitu jalur zonasi. Jalur zonasi ini adalah seleksi berdasarkan jarak garis lurus dari rumah ke sekolah tujuan. Makin dekat jaraknya, makin besar peluang diterima.

Fajar, anak bungsu saya, ikut seleksi tahap 1, yaitu seleksi jalur prestasi berdasarkan nilai rapor. Karena Ujian Nasiona(UN) sudah ditiadakan, maka satu-satunya alat ukur seleksi adalah nilai rapor lima semester dari kelas 7 sampai kelas 9. Nilai rapor semua pelajaran (12 pelajaran) pada setiap semester dijumlahkan lalu dihitung rata-ratanya. Nilai rata-rata rapor semua semester dijumlahkan, dan itulah yang menjadi skor nilai. Tahun lalu perhitungan skor lebih rumit karena menggunakan rumus kalibrasi dan memperhitungkan ranking di kelas. Tahun ini lebih sederhana.

Namun disinilah masalahnya, yang menjadi kelemahan PPDB jalur prestasi rapor. Tidak ada standar nilai rapor antara satu sekolah dengan sekolah lainnya. Nilai 90 di sebuah sekolah untuk sebuah pelajaran tentu tidak sama dengan nilai 80 di sekolah lainnya untuk pelajaran yang sama. Ada sekolah yang guru-gurunya sangat ketat dalam memberikan nilai, sebaliknya ada sekolah yang gurunya sangat “pemurah” dalam memberikan nilai. Siswa yang berasal dari sekolah yang pemurah memberikan nilai rapor akan diuntungkan karena skor rapor mereka akan tinggi-tinggi dibandingkan siswa yang sekolahnya sangat ketat dan selektif dalam memberikan nilai. Sudah menjadi rahasia umum pula bahwa nilai di dalam rapor siswa adalah nilai yang dikatrol agar melewati nilai KKM.

Inilah yang terjadi pada hasil seleksi PPDB jalur prestasi. Di sebuah SMA negeri “favorit” di jalan Belitung, urutan rangking 1 sampai 12 yang diterima semuanya “dikuasai” oleh siswa-siwa dari sebuah SMP swasta. Siswa-siswa tersebut juga menguasai SMA favorit lainnya di kota Bandung, mengalahkan siswa-siswa dari SMP lain. Skor nilai rapor siswa dari SMP tersebut hampir semuanya di atas 480, paling tinggi 495. Jika dibagi lima semester, 495/5 = 99, berarti nilai rata-rata per semester di rapor siswa tersebut adalah 99. Kebayang kan nilai-nilai pelajaran di rapor siswa tersebut banyak bernilai 100, hanya satu dua saja yang benilai 98 atau 97. Secara logika hampir sulit bisa menerima ada siswa yang nyaris sempurna untuk semua pelajaran di sekolah, termasuk pelajaran olahraga, seni budaya, atau bahasa Sunda. Biasanya kan siswa unggul dalam pelajaran tertentu dan kurang dalam pelajaran yang lain. Tapi ya sudahlah, wallahualam, saya tidak mau berspekulasi macam-macam tentang nilai rapor siswa-siswa yang menakjubkan tersebut.

Di bawah ini adalah rekapitulasi hasil PPDB SMA negeri di kota Bandung berdasarkan nilai rapor yang diresumekan dari situs http://ppdb.disdik.jabarprov.go.id (perhatikan kolom tabel Jalur Prestasi Rapor saja, untuk jalur zonasi akan dibahas pada seri tulisan kedua nanti). Terlihat passing grade (nilai skor terendah yang diterima) SMA negeri di kota Bandung tinggi-tinggi. Passing grade tertinggi ada d SMA Negeri 3 Bandung, yaitu 473.545, selanjutnya SMA Negeri 8 yaitu 463.455, SMA Negeri 5 (465.067), SMA Negeri 2 (463.067), SMA Negeri 20 (454), SMA Negeri 1 (453), dan SMA Negeri 4 (450.545). Itulah tujuh SMA negeri yang dipersepsikan warga kota Bandung sebagai SMA “favorit”, istilah yang tidak pernah hilang meskipun penerimaan siswa sekarang ini paling banyak melalui jalur zonasi.

Lalu bagaimana dengan anak saya? Dia tidak lulus pada jalur prestasi nilai rapor ini, baik pada pilihan 1 maupun pilihan 2!. Tidak menyangka passing grade yang tinggi-tinggi itu, bahkan pilihan 2 di SMA negeri yang “sedang” sekalipun tidak lulus. Bisa dipahami kenapa demikian, sebab pendaftar jalur prestasi rapor ini luar biasa banyak, sedangkan kuotanya sedikit sekali (jalur prestasi kuotanya hanya 25%, itupun dibagi dua untuk kuota prestasi rapor dan prestasi kejuaraan). Di SMA Negeri 1 Bandung misalnya, jumlah pendaftar jalur prestasi rapor hampir mencapa 500 orang, sedangkan kuotanya hanya 68 orang saja. Sedikit sekali.

Jalur prestasi rapor ini seharusnya “hak” siswa-siswa yang rumahnya jauh dari sekolah negeri, sebab kalau pakai jalur zonasi pasti mereka akan tersingkir dari siswa-siswa yang rumahnya dekat dengan sekolah. Namun kenyataannya, siswa-siswa yang dekat sekolah pun (yang seharusnya bisa diterima melalui jalur zonasi) mencoba peruntungan nasib dengan ikut seleksi jalur prestasi rapor. Karena tidak ada larangan untuk ikut jalur prestasi, maka mereka pun mencoba jalur ini. Hak siswa yang jauh dari sekolah seolah-olah “terampas” oleh mereka.

Sebaiknya PPDB seleksi jalur prestasi tidak dilakukan pada tahap 1, tetapi pada tahap 2. Seleksi jalur zonasi dulu (tahap 1), sehingga siswa-siswa yang tidak diterima pada jalur zonasi ini (karena rumanya jauh dari sekolah) akan berjuang pada jalur prestasi. Kuota jalur prestasi juga seharusya dinaikkan menjadi 50% karena mayoritas siswa tinggal sangat jauh dari sekolah, bahkan ada pemukiman yang tidak mempunyai SMA negeri. Kuota jalur zonasi cukup 25% saja bagi siswa-siswa yang rumahnya dekat sekolah.

Untuk tahun-tahun selanjutnya, jika seleksi jalur prestasi tetap memakai nilai rapor seperti saat ini, maka akan membuka peluang terjadinya berbagai kecurangan . Sekolah akan berlomba-lomba memurahkan nilai rapor agar semakin banyak siswanya diterima di sekolah negeri. Rekayasa nilai rapor, yang mungkin saja dengan imbalan uang, yang dilakukan oleh oknum guru, oknum kepala sekolah, atau oknum operator sekolah akan semakin tambah subur. Mutu pendidikan tidak penting lagi, yang penting nilai (dan uang).

Berbagai rumor bertebaran di media sosial terkait rekayasa nilai rapor jelang PPDB. Meskipun rumor tersebut sulit dibuktikan, namun faktanya memang ada. Saya mendengar dari seseorang, dirinya ditawari oleh oknum sebuah seolah untuk menaikkan nilai rapor anaknya agar bisa diterima di SMA negeri favorit tapi dengan imbalan 15 juta. Syukurlah dia tidak mau, karena dia tidak ingin memulai mengajari anak dengan perbuatan curang, nanti bisa jadi anaknya akan melakukan hal yang sama jika besar nanti. Tidak barokah, demikian intinya.

Jalur seleksi PPDB yang paling fair tetaplah seperti pada zaman kami sekolah dulu, yaitu berdasarkan NEM (nilai Ebtanas murni), atau nilai UN (ujian nasional) pada beberapa tahun yang lalu. Sayangnya Mendikbud yang sekarang sudah menghapus UN untuk semua jenjang (SD, SMP, dan SMA). Tidak adalagi alat ukur yanga adil untuk melakukan seleksi ke jenjang pendidikan selanjutnya.

(BERSAMBUNG ke tulisan seri ke-2)

Written by rinaldimunir

July 14th, 2022 at 4:12 pm