if99.net

IF99 ITB

Rumah Makan di Setiap Simpang Pagi dan Sore

without comments

Membicarakan rumah makan masakan Minang (orang sering menyebutkan rumah makan padang, nasi padang, dan sebagainya) tidak akan habis-habisnya. Rumah makan minang ada di mana-mana di pelosok nusantara hingga di luar negeri. Masakan minang yang pedas, bersantan, dan berbumbu lengkap cocok dengan lidah oang Indonesia dan bule-bule.

Kali ini saya tidak akan membahas masakannya, tetapi nama rumah makannya. Nama rumah makan minang itu mengikuti tempat atau lokasinya. Ada anekdot yang mengatakan bahwa di setiap simpang jalan ada rumah makan minang, jadi tidak usah khawatir kelaparan. Ya memang betul, makanya nama rumah makan minang itu ada yang bernama RM Simpang Tigo, RM Simpang Ampek (ampek = 4), RM Simpang Limo (limo = 5). Yang belum ada mungkin RM Simpang Anam. Kemudian rumah makan yang bernama simpang-simpang masih banyak lagi, seperti RM Simpang RayaRM Simpang Jaya. Di kota Padang sendiri rumah makan yang bernama simpang dikaitkan dengan nama lokasinya, misalnya RM Simpang Alai, RM Simpang Jondul, RM Simpang Haru dan lain-lain.

simpang

Tidak hanya diberi nama sesuai lokasinya, nama rumah makan minang juga mengikuti waktu, yang menunjukkan ketegaran pengusaha rumah makan itu mencari nafkah dari pagi sampai malam. Jadi kita akan menemukan RM Pagi Sore, RM Siang Malam, RM Semalam Suntuk, RM Begadang. Sehingga ada anekdot yang mengatakan bhawa begitulah seni makan di rumah makan padang. Pagi hari sarapan di RM Pagi Sore, siang hari makan di RM Siang Malam. Malamnya makan di RM Semalam Suntuk. Kalau masih lapar juga karena begadang, maka makan lagi di RM Begadang.

simpang2Dari mana asal nama yang berkaitan dengan waktu tersebut? Tidak ada yang tahu. Semasa kecil di Padang saya tahu ada rumah makan yang cukup ternama, yaitu RM Semalam Suntuk. Tidak jelas juga apakah memang rumah makan ini hanya buka dari sore sampai subuh sehingga dinamakan semalam suntuk. Barangkali dari nama rumah makan semalam suntuk itu lahirlah nama-nama rumah makan di tempat lain yang bernama pagi sore, siang malam, dan lain-lain.

Sedangkan untuk nama RM Begadang, ini adalah jaringan rumah makan perantau Minang yang terkenal di daerah Lampung. Di sepanjang jalur Lintas Sumatera kita akan menemukan rumah makan dengan nama Begadang I, Begadang IIBegadang III, dan seterusnya. Di rumah makan inilah bus-bus penumpung tujuan Sumatera dan Jawa berhenti untuk beristirahat dan mempersilakan penumpangnya makan di sana. Tentu saja untuk para awak bus makan di rumah makan perhentian tersebut gratis dan dijamu lengkap oleh pemiliknya, kadang dapat tips pula. Bus-bus tersebut membawa rezeki bagi pemilik rumah makan.

Beberapa pemilik rmah makan di perantauan memberi nama rumah makannya yang berkaitan dengan  kampung asalnya. Jadi, kita akan menemukan RM Singgalang Jaya, RM Gunung Talang, RM Talago Biru, RM Lubuk Minturun, RM Bareh Solok, RM Maninjau, dan lain-lain.

Nama memang bukan hal yang sederhana, tetapi menunjukkan hubungan emosional pemilik rumah makan tersebut dengan sesuatu yang berkaitan dengan lingkungannya dan kampung halamannya.

Written by rinaldimunir

October 5th, 2021 at 10:14 am

Posted in Uncategorized

Jebakan Tombol Keyboard Laptop ASUS

without comments

Siapa ya orang yang merancang keyboard laptop merek ASUS? Saya sering merasa kesal karena beberapa kali kepencet tombol power yang terletak di sebelah tombol delete. Tombol delete dan tombol power terletak bersebelahan. Maksud hati ingin menekan tombol delete tetapi karena mata fokus ke monitor, maka yang ditekan malah tombol power. Mati deh komputer. Pernah saat saya mengajar onlen salah pencet tombol, langsung mati kuliah virtualnya. Mahasiswa saya  di seberang sana tentu menunggu lama terkoneksi lagi.

Di rumah saya ada tiga buah laptop dengan merek ASUS, ketiganya memiliki posisi tombol delete dan tombol power yang bersebelahan seperti gambar di atas. Memang tidak semua jenis laptop ASUS seperti itu, tetapi yang saya miliki semuanya bersebelahan. Laptop ASUS teman saya posisi tombol power-nya terpisah sendiri. Tampaknya tergantung seri laptop ASUS ya? Dulu saya punya laptop Acer dan Toshiba letak tombol power-nya terpisah dan agak jauh dari tombol-tombol lainnya.

Memang ada cara untuk mengatasi salah pencet tombol power tersebut, yaitu melalui control panel di Windows. Tombolnya bisa diatur agar ketika dipencet tidak langsung shutdown.  Dari Control Panel, pilih Power Management, lalu ada pilihan “When press Power Button“.  Saya pun baru tahu cara ini setelah diberitahu teman. Namun, bagaimana dengan pembeli lain yang tidak paham? Tidak semua orang paham kan atau mengetahui cara pengaturan tersebut?

Saya heran, kenapa desainer laptop ASUS seceroboh itu? Desainer interface-nya kurang memahami psikologi pengguna. Kata seorang teman, kasus di laptop ASUS ini mirip dengan salah satu ponsel jadul Nokia, tombol backspace dan delete-nya bersebelahan. Maksud hati cuman mau hapus satu karakter, ehhh… malah terhapus semua seluruh teks yang sudah susah payah ditulis hanya karena salah pencet.

Tapi ya mau bagaimana lagi, masak harus ganti laptop lagi? Atau pasang keyboard tambahan? Ya sudahlah, awalnya memang mengganggu, lama-lama jadi terbiasa, anggap saja untuk mengingatkan agar break sejenak, makan camilan, atau berdiri sejenak. Kalau nanti kepencet lagi tombol power ketika mau menekan tombol delete, ya nasib…..  ?

Written by rinaldimunir

October 2nd, 2021 at 4:09 pm

Posted in Gado-gado

Generasi kedua tahu Mang Yadi

without comments

Sudah beberapa bulan saya tidak melihat Mang Yadi lewat di depan rumah menjajakan tahunya. Tahuuuuu…, begitu teriaknya setiap kali lewat di depan rumah saya.

Saya sudah berlangganan tahu Mang Yadi sudah cukup lama. Dia menjual tahu cibuntu, salah satu produk tahu yang terkenal di kota Bandung. Tahu cibuntu berwarna kuning karena diberi kunyit pada lapisan luarnya agar tahan lama). Mang Yadi tinggal di kampung Cibuntu juga, yang merupakan sentra perajin tahu di kota Bandung (baca postingan saya tahun 2012 di tentang tahu Mang Yadi: Tahu Mang Yadi dan Perjuangannya)

Akhirnya dua minggu lalu saya dapat kabar dari sesama tukang tahu bahwa Mang Yadi sudah tiada tiga bulan lalu. Innalilahi wa inna ilaihi raajiun. Mang Yadi adalah penjual tahu yang ramah. Pelanggannya banyak di Antapani.

Sekarang jualan tahu keliling diteruskan oleh anaknya yang nomor dua (yang nomor 1 sudah meninggal juga). Namanya Yudi, hanya tamat SMA. Yudi sekarang menggantikan Mang Yadi sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah buat ibu dan adik-adiknya yang masih kecil.

Yudi mengendarai motor bapaknya dan setiap hari dia melewati jalan-jalan di Antapani yang merupakan rute keliling bapaknya, seakan-akan menapaki kembali jejak jalur yang dilalui Mang Yadi. History repeat itself.

mangyadi3

Kiri: (alm) Mang Yadi, Kanan: Yudi, putra Mang Yadi

Tadi pagi saya ketemu putra Mang Yadi ini persis di depan rumah tempat saya mengambil foto Mang Yadi tahun lalu, bulan Maret 2020. Perhatikan motor, kotak penyimpanan tahu, dan keranjang di atas motor, persis sama.

Written by rinaldimunir

September 22nd, 2021 at 9:05 am

Sayur

without comments

Anak saya yang bungsu (kelas 9 SMP), yang selama ini selalu menolak makan sayur, tiba-tiba pada suatu siang meminta makan pakai sayur bayam. Nasi dengan sayur saja, tanpa pakai yang lain.

Kami pun terperangah. Nggak salah dengar nih? Dengan sigap saya siapkan tumis sayur bayam dan dia makan nasi dengan sayur itu saja. Tidak apa-apalah tanpa protein dulu, ini permulaan yang baik mau makan sayur. Selama ini dia kan  ogah sayur. Biarpun  di rumah hampir setiap hari saya masak sayur dan ganti-ganti rupa, misalnya cah kangkung cabe rawit, sop sayur, tumis kangkung, tumis bayam, beli sayuran di warung makan, tetap saja dia tidak tertarik.

“Kok tiba-tiba ingin makan sayur, dek?”, tanya saya.

Si bungsu diam cengengesan, tidak mau menjawab. Hmmm…saya menduga-duga, mungkinkah perubahan ini karena dia nonton video di YouTube tentang dampak jika tidak mengkonsumsi sayuran? Atau setelah baca-baca artikel kesehatan di internet? Atau dapat pencerahan setelah ngobrol dengan teman sebayanya pakai Line, atau Zoom?

bayam

Zaman pandemi begini anak-anak lebih banyak pakai internet, nonton YouTube, dan ngobrol dengan temannya di dunia maya.  Ada juga manfaatnya nonton YouTube jika ketemu konten yang membuatnya tersadar atau tercerahkan. Saya saja yang selalu khawatir, khawatir konten apa yang ditonton anak.

Wallahu alam. Apapun itu sebabnya patut disyukuri dia mau makan sayur. Kejadian ini sekali lagi menyadarkan saya bahwa kita tidak bisa memaksa anak makan apa yang kita maui atau menurut kita baik. Pada saatnya nanti dia juga akan makan sendiri apa yang dulu dia tidak mau. Kita sendiri yang orang dewasa juga begitu kan? Dulu tidak suka ini itu, tetapi sekarang malah suka.

Saya masih ingat saat anak-anak masih balita. Anak saya yang sulung susah sekali makan. Makan ini nggak mau, makan itu nggak mau. Saya takut saja dia kekurangan gizi. Tiap kali timbang badannya selalu sedih kok nggak naik-naik.

Ketika konsultasi ke dokter anak, dr. Nurrachim di Antapani, saya bertanya kenapa anak saya susah sekali makan meskipun sudah dicoba segala rupa bahkan sampai ‘dipaksa’.

Dokter Nurrachim berhenti sejenak menulis resep, lalu dia memandang saya, dan berkata:

“Bapak kalau disuruh atau dipaksa makan tetapi kalau bapak sendiri tidak mau, bagaimana?”

Saya terdiam. Saya sudah tahu jawabannya. Ya betul, kalau kita lagi nggak nafsu makan, nggak mau makan, lalu disuruh makan, tentu kita tidak mau meski dipaksa sekalipun.

“Begitu juga anak. Dia tahu kapan harus makan. Tubuhnya akan mengirim sinyal kapan perlu nutrisi. Nanti juga dia akan mau makan”, lanjut dr Nurrachim, seakan tahu jawaban saya.

Benar apa yang dikatakan dokter Nurrachim. Kita tidak bisa ‘memaksa’ anak kita makan kalau memang dia tidak mau.  Kebanyakan orangtua khawatir jika anak susah makan.  Apa yang kita khawatir seperti anak akan kurus, kurang gizi, dan sebagainya ternyata tidak terjadi. Pada saatnya nanti dia juga akan mau makan. Si sulung yang dulu susah makan sekarang doyan makan. Apa saja dimakannya dan tidak menolak makanan apapun. Mungkin juga karena semua anak saya dalam taraf pertumbuhan (remaja) sehingga sekarang suka makan. Tubuhnya sendiri yang mengirim sinyal sehingga suka makan. Apalagi si bungsu sekarang mau makan sayur. Itu kan sesuatu banget.

Written by rinaldimunir

July 29th, 2021 at 5:41 pm

Posted in Gado-gado

Kesehatan adalah Rezeki yang Paling Tinggi

without comments

Saat pandemi corona yang berlangsung sekarang ini, saat banyak orang sakit terpapar covid, saat rumah sakit sudah hampir kolaps karena pasien sudah tidak tertampung, saat pasien  harus menunggu untuk masuk IGD, saat mencari kamar rawat inap dan oksigen sangat sulit, saat uang yang banyak tidak ada artinya karena tidak mendapat ruang ICU di rumah sakit, maka barulah kita sadar betapa kesehatan adalah nikmat dari Allah SWT  yang paling berharga. 

Di dalam ilmu tasawuf diceritakan bahwa Syaikh As-Sya’rawi menjelaskan rezeki memiliki tingkatan sebagai berikut :

  1. Harta (Maal), adalah rejeki yang paling rendah
  2. Afiyah (sehat lahir batin), adalah rejeki yang paling tinggi.
  3. Anak-anak yang Sholeh (sholihu abna) adalah rejeki yang paling utama.
  4. Mendapat ridho Allah (ridho rabbul ‘alamin) adalah rejeki yang paling sempurna. 

(Sumber dari sini)

Ustad Adiwaman Karim, yang juga seorang ahli ekonomi, menjelaskan tingkatan rezeki ini secara menarik di dalam videonya. Klik video di Youtbe di bawah ini.

Jadi, uang yang kita cari, harta yang kita yang kita kumpulkan, ternyata itu hanyalah rezeki dengan tingkatan paling rendah. Banyak orang yang mengorbankan waktu dan tenaganya untuk mengunpulkan uang dan harta benda. Dengan hartanya yang banyak dia dapat membangun rumah yang bagus, membeli mobil yang mewah, jalan-jalan ke luar negeri, dan sebagainya. Selama harta itu diperoleh dengan jalan halal tentu tidak ada yang salah. Orang perlu kaya agar bisa pergi naik haji, agar bisa membangun masjid, agar membantu orang miskin dan anak yatim.  

Namun, ketika diri sakit, harta yang banyak itu seringkali menjadi tiada artinya. Apa gunanya uang banyak tetapi tidak dapat dinikmati karena makanan  selalu dibatasi. Ada orang yang memiliki penyakit diabetes atau penyakit darah tinggi. Asupan makanannya harus dibatasi dan serba ditimbang. Makan ini tidak boleh, itu tidak boleh. Makanan ini hanya boleh sekian gram, makanan itu sekian gram.

Dulu ada rekan saya yang mengidap suatu penyakit (saya tidak ingat, kolesterol tinggi atau diabetes, atau hepatitis). Makanannya hanya boleh yang serba dikukus atau direbus. Dia harus bawa sendiri bekal makanannya dari rumah. Ketika orang lain menikmati aneka hidangan di atas meja, dia membuka bekal makanannya yang berupa kentang rebus, brokoli kukus, wortel kukus, dan aneka makanan yang dikukus. Padahal dari sisi kekayaaan apa yang kurang darinya, makanan apa saja mampu dibelinya. Tapi saat itu, uang yang banyak menjadi tidak berarti karena makanan yang apa saja itu tidak boleh dimakan.

Ternyata di atas harta, ada rezeki lain yang lebih tinggi lagi, yaitu kesehatan. Badan yang sehat adalah rezeki dari Allah SWT. Dengan tubuh yang sehat kita dapat bekerja dan berkativitas, dapat pergi ke mana-mana, dan dapat menikmati makanan pemberian dari Allah. Tentu saja selama tidak berlebih-lebihan, karena yang berlebihan itu dapat mendatangkan penyakit.

Sekarang hampir setiap hari kita membaca berita jumlah kasus positif covid di Indonesia meledak lagi setelah lebaran. Pertambahannya tidak hanya ribuan setiap hari, tetap puluhan ribu. Kemarin, tanggal 7 Kuli 2021, pertambahan kasus covid di Indonesia adalah 34.000-an, nomor dua tertinggi di dunia setelah Brazil. Yang lebih menyedihkan, ada 100o-an lebih wafat kemarin. Ya Allah, lindungi kami ini ya Allah.

Betapa hari-hari ini kita mendengar banyak pasien covid yang ditolak oleh rumah sakit karena bed sudah penuh, ruang rawat sudah penuh, bahkan untuk masuk IGD saja sampai antri berhari-hari. Jangankan orang miskin, orang kaya atau pejabat saja banyak yang tidak mendapat tempat perawatan di rumah sakit. Oksigen juga menjadi barang langka, karena banyak pasien covid, baik di yang di rumah sakit atau yang isolasi mandiri di rumah, mengalami sesak napas. Astaghfirullah al adzim, benar-benar situasi saat ini sangat mencekam.

Karena itu, sudah seharusnyalah kita bersyukur atas karunia Allah SWT masih diberi kesehatan. Semoga kita terhindar dari wabah virus corona. Jaga selalu protokol kesehatan, dan jangan lupa untuk selalu bersedeqah, berdoa dan berserah diri kepada Allah semata.

Setelah kesehatan merupakan rezeki paling tinggi, ternyata di atasnya ada lagi rezeki yang paling utama, yaitu memiliki anak-anak yang sholeh dan sholehah. Alangkah beruntung orangtua yang punya anak sholeh dan sholehah, yang selalu taat menjalankan agama, dan yang selalu mendoakan ibu bapanya.

Namun, rezeki yang paling sempurna di dalam hidup ini adalah ridho dari Allah SWT.  Apa gunanya punya banyak harta, badan yang sehat, anak yang sholeh, tetapi Allah tidak meridhoi diri kita. Orang yang diridhoi Allah adalah orang yang ketika matinya dalam keadaan husnul khotimah. Itulah mati yang paling beruntung.

Tulisan ini merupakan pengingat bagi diri saya sendiri dan bagi siapapun yang membacanya agar ingat selalu kepada Allah SWT, selalu bersyukur kepada-Nya, taat kepada-Nya, dan berserah diri hanyalah kepada Allah SWT. Ampuni kami ini, Ya Allah.

Written by rinaldimunir

July 8th, 2021 at 4:21 pm

Posted in Renunganku

Demam yang Parno

without comments

Pada zaman pandemi corona yang masih berlangsung saat ini, siapapun yang pernah demam, sakit kepala, nggak enak badan, batuk, atau diare, mungkin akan mengalami parno (paranoid) seperti yang saya rasakan. Karena gejala-gejala seperti yang disebutkan tadi mengarah ke Covid-19. Ciri-cirinya mirip-mirip.

Minggu lalu saya mengalami demam dan diare. Dimulai dari hari Rabu malam, tiba-tiba badan saya menggigil seperti orang yang meriang. Saya langsung tarik selimut dan tidur saja sampai pagi. Keesokan harinya saya harus menguji beberapa tesis mahasiswa S2 secara onlen, namun tubuh saya terasa hangat. Demam. Saya tidak bisa konsentrasi. Semakin siang suhu badan saya semakin tinggi dan pernah mencapai hampir 39 derajat Celcius. Dan yang membuat saya menderita adalah saya diare (mencret) tiada henti. Tiap sebentar pergi ke toilet, meskipun BAB yang keluar hanya berbentuk cair. Saya coba meminum obat diare seperti Diatab dan Diapet, namun diare tidak berhenti juga.

Saya sudah mulai khawatir, jangan-jangan….. Ah, saya buang jauh-jauh pikiran ini, namun setiap kali membaca penjelasan di Internet tentang gejala covid, saya pun khawatir lagi. Diare dan demam adalah salah satu ciri Covid-19. Saya juga kehilangan selera makan, patah selera. Tidak mau makan. Namun yang masih saya syukuri, indra penciuman dan perasa saya masih normal. Setiap kali saya coba hirup minyak kayu putih, saya baui nasi, pisang, saya minum madu, masih terasa baik rasanya. Namun tetap saja ada rasa was-was di dalam hati.

Saya semakin gelisah ketika anak saya yang sulung, yang ABK, badannya juga hangat. Saya kontak istri, lalu saya minta pakai masker di rumah dan tidak dekat-dekat dengan saya dan anak. Saya mengisolasi diri di studio mini tempat saya bekerja di lantai dua.

Akhirnya Hari Jumat saya beranikan diri ke klinik Medika Antapani, berobat ke dokter umum, diantar anak saya yang tengah. Setelah menunggu cukup lama, tibalah giliran saya masuk ke ruang praktek dokter. Setelah menceritakan gejala yang saya alami, dokter merekomendasikan saya untuk tes swab antigen, setelah ada hasilnya nanti kembali lagi ke dokter tersebut.

Kebetulan di klinik tersebut juga menyediakan tes swab antigen, jadi saya tidak perlu jauh-jauh ke tempat lain. Dengan perasaan harap-harap cemas, saya mulai menjalani tes swab antigen. Hidung saya dicucuk dengan semacam cotton bud untuk mengambil cairan di hidung. Duh, perih ngilu. Saya agak tegang sih. Ini pertama kali saya dicucuk hidung, biasanya hanya mendengar cerita-cerita orang yang di-swab, sekarang saya menjalani sendiri.

Sambil menunggu hasi tes, pikiran saya berkelabat ke mana-mana. Saya memikirkan berbagai skenario kalau hasilnya positif. Itu berarti seluruh orang di rumah nanti harus di-swab juga, lalu isolasi mandiri. Yang saya pikirkan adalah anak sulung saya yang ABK, bagaimana dia menjalaninya nanti? Sambil berdoa, saya berharap agar hasilnya negatif, saya minta anak saya yang tengah mendoakan saya.

Setelah setengah jam menunggu, maka hasilnya segera keluar. Dan….alhamdulillah, hasilnya negatif. Saya pun bernapas lega. Saya kembali ke dokter umum tadi membawa hasil tes, dan dia berucap yang sama. Barulah dokter berani memeriksa badan saya. Setelah memberi resep obat, saya pun menuju apotik untuk membeli obatnya.

Setelah minum obat dari dokter selama dua hari, ternyata diare saya tidak berhenti juga. Kalau demam memang tidak ada lagi, tetapi diarenya masih, meskipun frekuensi ke belakang sudah berkurang menjadi satu dan dua kali saja. Selera makan saya sudah mulai agak normal. Namun diare itu masih menjadi pikiran saya. Sampai obatnya habis saya masih tetap diare, BAB nya masih cair atau bubur (maaf). Namun yang alhamdulillah, anak saya yang sulung, yang tadi demam, demamnya hanya satu hari, besoknya sudah sembuh.

Di dalam lembaran hasil tes swab antigen disebutkan bahwa hasil negatif tidak menyingkirkan kemungkinan terinfeks SARS-Cov-2 sehingga masih beresiko menularkan kepada orang lain. Meskipun saya tidak batuk, tidak pilek, dan tidak demam lagi, namun indera penciuman dan perasa masih normal. Ini yang saya syukuri, sebab seperti yang saya baca, penderita covid kehilangan penciuman. 

Untuk lebih meyakinkan lagi dan ingin sembuh dari diare, saya kembali berobat ke klinik Medika Antapani, tetapi kali ini ke dokter spesialis penyakit dalam (internis) pada Hari Selasa. Hari Senin dokter internis sudah penuh dengan pasien. Setelah menunggu sampai jam 13.00 (bayangkan dari jam 9 pagi), maka tibalah giliran saya. Saya ceritakan kondisi saya secara kronologis dan saya tunjukkan hasil tes swab antigen.

Dokter Faishol yang memeriksa saya adalah dokter yang sudah berusia lansia, tentu beliau sudah berpengalaman dengan  berbagai penyakit. “Jadi, kenapa saya masih diare, Dok”, tanya saya. “Bapak mengalami gangguan pencernaan”, jawabnya. Oh…,jadi itu rupanya.

Dokter memberi resep obat. Ada dua macam obat yang harus saya minum, yang pertama antibiotik, yang kedua obat diare. Alhamdulillah, keesokan harinya saya sudah tidak diare lagi. BAB normal.

Begitulah pengalaman saya. Salah satu kesalahan saya adalah panik, khawatir, atau stres. Hal ini tidak boleh, sebab dapat menurunkan imun. Sebaiknya harus disikapi dengan tenang dan berpasrah diri kepada Allah SWT.

Moral dari kisah ini, saya semakin mensyukuri nikmat kesehatan dari Allah SWT. Betapa kesehatan itu adalah nikmat yang paling tinggi. Apa guna banyak uang tetapi badan sakit, maka uang itu tidak dapat kita nikmati. Sakit mengajarkan kita agar selalu menjaga kesehatan dan selalu bersyukur. Jangan merasa sombong dan takabur. Jangan menganggap enteng pandemi ini. Terima kasih ya Allah, semoga kami sekeluarga diberi selalu tubuh yang sehat dan dijauhkan dari berbagai penyakit, dan pembaca yang membaca kisah saya ini juga dilindungi oleh Allah SWT. Amiin ya rabbal alamiin.

Written by rinaldimunir

July 4th, 2021 at 2:46 pm

Posted in Pengalamanku

Kampus Ganesha ITB Sunyi dari Mahasiswa Saat Pandemi

without comments

Sudah satu setengah tahun kampus Ganesha ITB ditutup untuk perkuliahan dan aktivitas kemahasiswaan. Mahasiswa sudah pulang ke kampung halamannya masing-masing, kuliah dari rumah.

Saya pun sudah setengah tahun tidak pergi kerja ke kampus. Mau ngapain juga di kampus, tidak ada siapa-siapa, tidak ada mahasiswa, hanya ada beberapa pegawai tendik di kantorT ata Usaha yang bertugas secara bergantian hari dengan pegawai lannya.

Meskipun saya pegawai dan dosen ITB, namun saya tidak bebas leluasa masuk ke dalam kampus, ke kantor saya sendiri . Perlu mengurus surat izin masuk dulu ke fakultas, mengisi formulir daring, mendapatkan QR-code, dan seterusnya. Tujuannya sih bagus, yaitu untuk melakukan pelacakan jika terjadi kasus penularan covid di kampus dan mencegah timbulnya klaster kampus Ganesha. Sejauh ini kampus Ganesha ITB aman-aman saja, tidak ada klaster covid. Memang ada pegawai tendik dan dosen yang terpapar corona, namun mereka terpapar di luar kampus, mungkin di lingkungan keluarganya sendiri.

Meskipun saya WFH, namun sesekali saya masih pergi ke kampus Ganesha, tapi bukan untuk WFO, namun untuk urusan singkat saja, misalnya mengambil buku dan dokumen di meja kerja, meng-copy file di komputer desktop kantor, atau memperbaiki software di laptop. Saat  vaksinasi dosen di Gedung Sabuga, kampus dibuka untuk parkir kendaraan, laluke Sabuga mealui terowongan. Nah, saat bisa masuk ke kampus itulah saya sempat mengambil foto-foto suasana kampus Ganesha. Begini suasananya. Sepi dan sunyi.

  1. Gerbang Selatan (gerbang utama) kampus Ganesha yang membisu, seperti orang  yang duduk melamun sendirian, dengan bunga-bunga yang mulai bermekaran, namun tiada langkah-langkah kaki yang biasanya  selalu melewatinya.

ITB1

ITB2

2. Jalan utama kampus yang kosong. Hanya terdengar suara daun bergesek dan desiran suara angin.

ITB3

3. Kantin bengkok yang kesepian. Saat jam makan siang, tempat ini penuh dengan mahasiswa yang makan sambil mengerjakan tugas kuliah dengan laptopnya.

ITB4

4.  Lorong yang sepi. Lorong-lorong yang menghubungkan antar gedung-gedung di dalam kampus nyaris tidak ada orang yang lewat.

ITB5

5.  Ruang sekre unit-unit kegiatan mahasiswa di sunken court yang seperti markas yang ditinggal penghuninya (Sunken court adalah kawasan bawah tanah yang terletak di sepanjang jalan menuju terowongan yang menghubungkan kampus Ganesha dan Sabuga. Sunken court terletak antara Gedung Perpusatakan Pusat dan Gedung Riset dan Inovasi)

ITB6

ITB7

6. Kantin borju dengan meja-meja makan yang berdebu. Sebelum pandemi, kantin ini adalah tempat rendevouz selain tempat makan tentunya.

ITB8

7. Meja-meja belajar di selasar LabTek V yang kosong melompong. Pada hari-hari kuliah, meja-meja ini adalah tempat mahasiswa mengerjakan tugas-tugas kuliah

ITB10

ITB11

8. Lapangan basket dan lapangan cinta yang kosong. Sebelum pandemi, setiap hari tempat ini ramai dengan mahasiswa yang mengisi waktu melempar-lempar bola basket atau sekedar duduk-duduk di sini. Kalau ada TPB Cup atau pertandingan antar Himpunan Mahasiswa, bisa riuh rendah sampai malam hari di sini.

ITB13

ITB14

9. Ruang kelas dan lorong LabTek V yang lengang

ITB15

Foto-foto kampus ITB yang sepi selama pandemi dapat dilihat pada video saya di Youtube di bawah ini:

Semoga pandemi corona ini segera berakhir dan kondisi kampus yang sepi dari mahasiswa ini ramai kembali. Perlu waktu memang kalau ingin suasanya seperti dulu lagi.

Written by rinaldimunir

June 20th, 2021 at 4:11 pm

Posted in Seputar ITB

Masker, Jenuh, dan Pandemi Corona yang Tiada Berujung

without comments

Hari-hari ini, pertengahan bulan Juni, kasus covid-19 di Indonesia melonjak lagi dengan tajam. Sempat turun selama bulan Ramadhan dan pasca Lebaran Idul Fitri, saat ini jumlah penderita covid naik signifikan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran dan kecemasan, karena rumah sakit-rumah sakit di Indoensia, khususnya di Pulau Jawa akan kolaps jika tidak ada tindakan luar biasa untuk memutus pandemi.

Seperti yang sudah diprediksi banyak ahli epidemiologi, dua atau tiga minggu setelah libur Lebaran Idul Fitri kasus covid akan meningkat tajam. Hal ini disebabkan banyak masyarakat yang tetap mudik ke kampung halaman meskipun sudah dilarang oleh Pemerintah. Pemudik pulang ke kampung halamannya kemungkinan OTG, lalu menularkan penyakit itu kepada orang-orang di kampungnya. Atau, pemudik itu tertular di kampung halaman yang zona merah, lalu setelah mereka kembali ke kota mereka menularkan penyakit itu kepada orang-orang lain di kota. Propinsi-propinsi yang menjadi tujuan pemudik seperti Jabar, Jateng, Yogyakarta, Jatim, Sumbar, Riau, dan Sumsel sekarang mengalami pandemi gelombang kedua dengan pertambahan kasus luar biasa hari-hari ini.

Kasus covid di Indonesia naik turun seperti siklus yang tidak berujung. Di mana ujung dan pangkalnya sudah tidak jelas lagi. Meskipun sudah dilakukan PSBB, PKM mikro, atau apapun namanya (karena Pemerintah tidak suka dengan istilah lockdown), tetap saja kasus covid di Indonesia bertambah terus. 

Penyebab naiknya kasus covid ada dua. Pertama adalah ketidakpatuhan masyarakat dengan protokol kesehatan (prokes). Gerakan 3M (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan) sudah kendur. Banyak orang yang tidak lagi memakai masker. Jika di kota-kota besar kepatuhan warga memakai masker masih terbilang bagus, tetapi di luar kota seperti di kampung-kampung orang tidak menggubris lagi seruan memakai masker. Gambar kartun di Harian Kompas ini bisa menjelaskan fenomena masyarakat Indonesia saat ini:

kartun

Di kota besar, jika Anda tidak bermasker di tempat umum, maka orang lain mungkin akan marah kepada anda atau menolak bertemu dengan Anda. Sebaliknya di kampung-kampung, jika anda memakai masker maka Anda mungkin dianggap aneh oleh penduduk kampung. Semua orang memandang anda dengan tatapan heran atau malah anda ditertawakan. Mungkin saja Anda ditanya oleh penduduk kampung: “Apakah Mas atau Mbak lagi sakit?”. Sebagian orang di kampung mungkin tidak percaya dengan virus corona. Mereka  menganggap covid adalah penyakit orang-orang di kota. Corona hanya ada di kota-kota, di kampung kami bersih, demikian kira-kira keyakinan masyarakat kita. Faktanya sekarang kasus covid sudah sampai ke kampung-kampung.

Jadi, jangan heran jika kasus positif corona di Indonesia tidak pernah habis-habisnya karena masyarakat sudah banyak yang mengabaikan protokol kesehatan. Gerakan 3M, yang  sekarang sudah berubah menjadi 5M (2 M berikutnya adalah Menjauhi kerumunan dan mengurangi Mobilitas atau bepergian), tidak begitu dipedulikan warga. Masyarakat tampak berkegiatan seperti biasa. Meskipun Pemerintah sudah melarang untuk tidak mudik dulu demi kebaikan bersama agar kasus corona melandai namun tidak dipatuhi juga.

Saya yakin, masyarakat bukannya tidak mau mematuhi prokes, tetapi saya duga karena masyarakat sudah jenuh dengan kondisi saat ini. Mereka sudah bosan disuruh di rumah terus.  Memakai masker dan menjaga jarak hanya diawal-awal pandemi saja, sekarang sudah longgar. Masyarakat menganggap kalau sudah divaksin maka aman, nyatanya orang yang sudah divaksin pun bisa terkena covid juga.  Selain itu ada juga yang beranggapan bahwa kalau terkena covid maka nanti akan sembuh sendiri sehingga mereka tidak terlalu khawatir. Ditambah dengan berbagai berita hoaks yang beredar secara berantai melalui whatsapp tentang covid maka terbentuklah pemahaman di dalam sebagian masyarakat bahwa covid itu semacam penyakit flu biasa. Wallahu alam.  

Di sisi lain, tidak adil jika kesalahan ditimpakan hanya kepada mayarakat yang dianggap tidak patuh. Inkonsistensi Pemerintah juga punya andil membuat kondisi menjadi membingungkan dan chaos. Misalnya pada bulan puasa kemarin Pemerintah mengatakan bahwa mudik dilarang namun berwisata ke tempat-tempat wisata diperbolehkan dengan alasan untuk menghiduokan perekonomian. Kebijakan yang aneh, bukan? Mudik itu bepergian ke luar kota, apa bedanya dengan pergi mengunjungi tempat-tempat wisata yang juga ke luar kota.

Inkonsistensi lain misalnya melarang mudik tetapi membolehkan tenaga kerja asing masuk ke Indonesia, melarang sekolah dibuka tetapi mal, bioskop, dan kantor-kantor boleh dibuka, dan lain-lain. Jadi, kasus covid di Indonesia yang sekarang memasuki gelombang entah keberapa (rasanya gelombang satu juga belum habis) merupakan buah dari sikap ketidakpatuhan masyarakat menaati prokes dan sikap inkonsistensi Pemerintah dalam membuat kebijakan yang membingungkan.

Entah kapan siklus corona yang tidak berujung dan tidak berpangkal ini putus. Masyarakat merindukan kembali suasana seperti sebelum pandemi, bisa beraktivitas seperti biasa, bisa bepergian ke mana saja, bisa pergi umrah dan haji bagi yang muslim, bisa sekolah dan kuliah dengan lancar. Sudah cukuplah cobaan ini. Semoga Allah SWT mengangkat pandemi corona ini dari Indonesia khsusunya dan dari dunia umumnya. Virus corona merupakan peringatan dari Allah SWT agar manusia lebih mendekatakan diri kepada-Nya.

Written by rinaldimunir

June 18th, 2021 at 2:48 pm

Posted in Indonesiaku

In Memoriam, Rektor ITERA Lampung, Prof. Ofyar Tamin

without comments

Hari Rabu pagi tanggal 9 Juni 2021 sebuah pesan di whatsapp mengejutkan saya. Isinya mengabarkan Rektor ITERA Lampung yang juga dosen ITB, Prof Ofyar Z. Tamin wafat di Jakarta karena sakit.

Saya memang tidak kenal dekat dengan almarhum. Selama saya menjadi dosen terbang di ITERA Lampung, saya hanya sekali saja pernah berbicara secara langsung dengan beliau.  Selebihnya hanya berpapasan saja di Wisma ITERA, melempar senyum atau menganggukkan kepala.

Rektor-Itera-Ofyar-Z-Tamin

Nama Pak Ofyar cukup berkesan bagi sebagian besar dosen ITB. Saya yakin sebagian besar dosen ITB tidak mengenal wajahnya, tetapi mengenal namanya. Hal itu karena Pak Ofyar memiliki kebiasaan yang unik. Dia rajin mengirim ucapan selamat ulang tahun via SMS ke setiap dosen ITB. Setiap tahun hampir setiap dosen di ITB (dan juga di ITERA) mendapat kiriman ucapan selamat ulang tahun pada hari kelahirannya. Kalau sekarang ada whatsapp, maka ucapan selamat ulang tahun dikirim lewat whatsapp. Tidak hanya ucapan selamat ulang tahun, tetapi juga ucapan selamat Idul Fitri dikirim lewat whatsapp.

Entah darimana beliau mendapat nomor telpon dan data tanggal lahir semua dosen ITB. Bahkan dosen muda yang baru menjadi dosen di ITB pun merasa kaget dikirimi ucapan selamat ulang tahun dari seorang profesor! Merasa de javu, merasa tersanjung dikirim selamat ulang tahun dari seorang Guru Besar, padahal beliau tidak mengenal dirinya. Mungkin begitulah cara Pak Ofyar menjalin silaturahmi dengan orang lain, termasuk orang yang tidak dikenalnya sekalipun.

Bahkan, kalau hari ulang tahun kita sudah lewat, mungkin karena dia lupa, Pak Ofyar tetap mengirim ucapan selamat ultah pada hari berikutnya seperti pada skrinsut pesan whatsapp berikut:

ofyar1

Namun karena dikirim setelah tanggal kelahiran saya, maka saya membalas pesannya bahwa sudah lewat kemarin. Beliau pun membalas lagi bahwa telat sehari masih tetap sah  ?

ofyar2

Yang lebih mengharukan saya, ketika beliau dirawat di RS di Lampung karena positif Covid pada tahun lalu, beliau masih sempat mengirim selamat ulang tahun kepada saya dari rumah sakit seperti pada gambar di bawah ini. Sungguh membuat saya terharu padahal saya tidak   mengenalnya secara pribadi. Saya hanya bisa mendoakan beliau agar sembuh dari Covid.

ofyar3

ITERA boleh dibilang sebagai “anak kandung” ITB karena ITB lah yang membidani kelahirannya hingga tumbuh pesat sampai sekarang. Dosen-dosen ITB pun “dipinjamkan” menjadi dosen luar biasa (istilahnya dosen terbang) di ITERA dan sebagian lagi menjadi pejabat kampus seperti rektor, wakil rektor, ketua jurusan, hingga ketua Program Studi. Dosen-dosen ITERA masih muda-muda sehingga masih perlu dibina oleh ITB.

Pak Ofyar Tamin ditugaskan menjadi Rektor ITERA Lampung oleh ITB pada tahun 2014, yaitu saat mahasiwa ITERA “dipindahkan” dari ITB  ke Lampung karena kampus ITERA sudah mulai dibangun di luar kota Bandar Lampung. Saat mulai menjabat, beliau hanya diberi lahan  kosong seluas 300 Ha di Jalan Terusan Ryacudu (yang menjadi kampus ITERA sekarang). Berkat kemampuannya mencari dana pembangunan ke sana sini, maka siapa yang menyangka kampus ITERA tumbuh pesat luar biasa seperti sekarang (lihat foto). Video kampus ITERA dari atas drone dapat dilihat di tayangan Youtube ini.

ITERA-2

Ya, berkat kepemimpinan Pak Ofyar-lah maka ITERA Lampung menjadi bagus seperti sekarang. Saya yang mulai mengajar menjadi dosen terbang di ITERA tahun 2014 hingga sekarang dapat melihat perbedaan dulu dan sekarang (baca tulisan saya ini).

Ada pengalaman yang tidak terlupakan bagi saya berkaitan dengan Pak Ofyar. Pada tahun 2019 ITERA meminta kepada fakultas saya (STEI-ITB) untuk mencarikan dosen yang bersedia menjadi Kaprodi Teknik Informatika ITERA. Oleh fakultas, saya yang diminta menjadi Kaprodi (Kepala Program Studi) sana. Saya pada mulanya agak keberatan karena pertimbangan  keluarga. Itu berarti saya harus sering bolak-balik Bandung-Lampung untuk rapat-rapat koordinasi. Saya juga memiliki anak berkebutuhan khusus yang perlu mendapat perhatian di rumah. Lagipula, saya tidak punya passion dalam manajemen dan pengelolaan SDM. Namun, setelah berdiskusi dengan istri, dan rasa “kasihan” serta empati saya kepada dosen-dosen muda ITERA yang perlu pembinaan, akhirnya tawaran menjadi Kaprodi di ITERA pun saya terima, namun tetap saja ada rasa yang mengganjal di dalam hati, yaitu rasa belum ikhlas. Saya lebih suka seperti selama ini saja, menjadi dosen biasa, membina dosen muda dan membimbing mahasiswa di sana, tanpa disibukkan dengan urusan manajerial yang tidak saya sukai.

Apa yang terjadi? Setelah nama saya diusulkan oleh ITB ke ITERA, ternyata Pak Ofyar tidak setuju tanpa alasan yang saya ketahui. Apakah saya kecewa? Oh, sama sekali tidak, malah sebaliknya. Saya justru berterima kasih tidak jadi disetujui oleh Pak Ofyar. Ada perasaan lega di dalam hati. Mungkin Tuhan menjawab ketidakrelaan saya melalui cara Pak Ofyar tidak menyetujui saya sebagai Kaprodi. Terima kasih, Pak, Bapak telah “menyelamatkan” saya dari berbagai macam kekhawatiran yang hanya diri saya yang mengetahuinya.

Selamat jalan Pak Ofyar. Meski tidak mengenal bapak secara pribadi, menurut saya bapak adalah orang yang baik. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan dan amal shaleh yang telah bapak perbuat dengan pahala yang berlipat ganda, terutama dalam memajukan pendidikan tinggi di Pulau Sumatera khususnya dan di Indonesia umumnya.

Written by rinaldimunir

June 14th, 2021 at 9:05 pm

Memasak Nasi Biryani di Rumah

without comments

Seewaktu menunaikan ibadah haji di Mekah pada tahun 2018, saya baru pertama kalinya mencoba makan nasi biryani (kadang-kadang disebut briyani) dan nasi kebuli. Sebelum itu hanya mendengar namanya saja. di dekat Masjidil Hara banyak rrumah makan yang menjual bermacam-macam nasi, seperti nasi bukhori, nasi mandhi, termasuk nasi kebuli dan nasi biryani. Nasi kebuli memang khas dari Arab, kalau nasi biryani katanya dari India. Keduanya menggunakan beras basmati yang ukurannya panjang-panjang itu. Beras basmati sering dinamakan beras India.

38278977_1982643265137022_6783662894253867008_n

Restoran di luar Masjidil Haram

 
38426810_1982226221845393_6577459886580301824_o

Nasi bukhori. Lalapannya adalah cabe hijau besar.

Saat ini ini di Bandung dan kota-kota besar lainnya sudah banyak restoran yang menjual nasi biryani dan nasi kebuli. Bahkan yang menjual secara onlen juga banyak, ditawarkan melalui medsos atau lewat Gofood atau Grabfood.

Karena pernah mencoba makan nasi Arab yang kaya rempah-rempah dan menurut saya rasanya enak, maka saya pun ingin mencoba memasaknya sendiri. Namun karena ingin lebih praktis dan tidak terlalu repot mencoba meracik bumbunya, maka saya membeli kemasan  nasi biryani (semi) instan yang banyak dijual secara onlen. Kebetulan kemasan nasi biryani semi instan ini diproduksi oleh sebuah UMKM di Cimahi. Jadi, tidak apa-apalah tulisan saya ini seperti mempromosikan produk UMKM ini.

Saya sebut semi instan karena untuk mendapatkan nasi biryani yang rasanya pas seperti di Timur Tengah maka masih diperlukan bahan dan bumbu-bumbu tambahan yang diolah sendiri. Jadi tidak langsung instan dimasak ke dalam rice cooker. Di dalam kemasan nasi biryani instan tersebut sudah lengkap dengan beras basmati, bumbu biryani, susu, dan kismis.

biryani

Bahan dan bumbu tambahan yang perlu disiapkan sendiri adalah  lima siung bawang putih, lima siung bawang merah, satu siung bawang bombay, satu buah tomat, dan daging ayam/sapi cincang. Nah, cara memasaknya saya tuliskan dalam bentuk algoritma berikut ini (seperti yang tertulis di dalam kemasannya).

Algoritma memasak nasi biryani:

1. Semua bumbu bawang dan tomat dicincang lalu ditumis bersama bumbu briyani dengan lima sendok makan minyak sayur.

2. Masukkan dua gelas air (450 ml), kemudian masukkan ayam/daging cincang, ungkep sampai setengah matang.

3. Matikan kompor, lalu masukkan beras basmati yang sudah dicuci. Masukkan bumbu lain yang sudah disediakan yaitu susu dan kismis. Aduk rata.

4. Masukkan ke dalam rice cooker, tambahkan air hingga dua ruas jari. Masak hingga matang.

biryani2

Jadi, cukup rumit juga memasaknya, tidak langsung instan, makanya saya sebut semi-instan. Setelah tiga puluh menit di dalam rice cooker, akhirnya nasi biryaninya matang. Jadi deh…🙂

biryani3

Bau nasinya harum rempah-rempah. Kalau ingin sedikit asin tambahkan garam. Kalau mau makan tambahkan kerupuk emping melinjo, acar, dan sambal. Selamat makan…

Written by rinaldimunir

June 12th, 2021 at 1:11 pm

Posted in Makanan enak