if99.net

IF99 ITB

Sepenggal Dialog Siang

without comments

Seorang pegawai Pizza H*t (sebuah waralaba pizza yang terkenal)  lewat di depan rumah dengan motornya menawarkan paket pizza seratus ribu empat buah. Saya yang sedang berdiri di depan rumah disapanya.

+Pak, beli pizzanya, seratus ribu empat biji. Masih hangat pak, baru dibakar. (Ia menunjukkan box di sadel motor yang penuh berisi pizza)

Saya sebetulnya tidak tertarik dengan paket pizza seratus ribu empat itu, sebab kata seorang teman, pizzanya keras, udah dingin, banyak tepung, topping-nya dikit lagi.

-Boleh nggak dua saja (saya menawar 🙂 )

+Maaf pak, nggak bisa, sudah aturannya begitu. Kalau di restoran harganya 150 ribu pak (dia mencoba berpromosi)

Sudah lama jualan seperti ini?

+Iya pak, sekarang sepi. Jadi sekarang kami yang mencari pembeli door to door

Begitulah waralaba pizza yang dulu dikenal sebagai makanan elit, sekarang turun kelas menjadi makanan ‘murahan’ yang ditawarkan secara asongan di pinggir jalan atau dijajakan keliling kampung. Sejak pandemi corona banyak bisnis bertumbangan, termasuk waralaba makanan asing yang mengalami kerugian besar. Sepi pembeli, karena banyak orang takut makan di restoran, atau menghindar makan di dalam ruangan bersama.

pizza

Pizza ditawarkan di pinggir jalan

Oh, begitu?
+ Iya pak, sudah banyak pegawai kami di-PHK. Ini kami ditugaskan berjualan keliling.
Boleh nggak setengah saja (kembali saya menawar). Empat buah pizza mah kebanyakan.
+ Nggak bisa pak. Ini saya dari tadi keliling belum laku pak (katanya sedih)
(Ya iyalah, agak sulit laku, sebab seratus ribu itu bagi orang awam sangat besar kalau hanya untuk membeli pizza. Dengan uang segitu sudah dapat lima bungkus nasi ramas di rumah makan Padang. Kalau ingin menyasar kalangan menengah ke bawah seharusnya mereka menjualnya satuan atau minimal dua buah)
Karena raut wajahnya terlihat suram, akhirnya pertahanan saya tumbang. Kasihan aja. 🙂 Terbayang anaknya pasti menunggu ayahnya pulang bawa rezeki.
Ya udah, saya beli ya    (saya beli saja dengan niat menolong saja, meski saya tidak berminat makan pizza)
+ Terimakasih banyak ya pak (dengan nada gembira).
Empat buah pizza dan uang seratus ribu pun berpindah tangan.

Written by rinaldimunir

December 24th, 2020 at 10:22 am

Usai Kuliah Onlen Semester Ganjil 2020

without comments

Alhamdulillah, tuntas sudah perkuliahan onlen (daring) selama semester pertama (semester ganjil) tahun 2020. Dua pekan ke depan mahasiswa di kampus ITB memasuki masa Ujian Akhir Semester (UAS).

Capek? Ya, kuliah onlen ini sungguh melelahkan bagi saya. Meskipun kita tinggal di rumah, namun bekerja menyiapkan bahan kuliah menyita banyak waktu. Sebagian besar waktu di rumah habis untuk membuat video kuliah. Saya memegang tiga mata kuliah semester ini, dua mata kuliah berbagi tugas dengan rekan dosen satu tim membuat video kuliah secara bergantian, sedangkan satu mata kuliah lagi berupa kuliah pilihan, saya sendiri yang membuat seluruh videonya.

Tidak mudah lho membuat video kuliah, seringkali harus diulang-ulang untuk merekamnya karena banyak kesalahan. Video kuliah sekali selesai dibuat dan diunggah ke platform Youtube kan tidak bisa diubah lagi. Malu-maluin saja jika di tengah video ada materi yang salah, heheh…

Saya memang tidak terampil membuat video kuliah yang bagus, tidak nyeni, tidak pakai animasi, tidak gebyar-gebyar dan tidak memakai musik. Video kuliah saya baru sebatas materi presentasi PPT bersuara. Saya membuat video kuliah seakan-akan saya mempresentasikan file PPT di kelas. Semangatnya cuma satu, jika mahasiswa ingin mengulang-ulang kembali paparan materi kuliah saya, cukup putar ulang videonya di Youtube. Ada tiga kanal kuliah di Youtube yang saya buat, yang pertama ini, kedua ini, dan ketiga ini. Siapapun bebas mengakses, mengunduh, dan menggunakannya di kampus lain.

Semester lalu dan semester ini berjalan bersamaan dengan pandemi corona yang masih terus mewabah di Indonesia. Belum terlihat ujung pandemi ini akan berakhir kapan. Pendidikan pun terganggu akibat pandemi ini, mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Namun “untungnya” pandemi berlangsung pada saat kondisi teknologi pembelajaran dan komunikasi (internet) sudah maju. Berbagai paltform video conference untuk mendukung proses belajar-mengajar jarak jauh sudah tersedia, seperti Zoom, Google Meet, Micosoft Teams, dan lain-lain. Kelas-kelas perkuliahan berlangsung secara virtual, seminar pun secara virtual. Komunikasi dan diskusi bisa dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari WA, email, hingga fasilitas video conference yang disebutkan di atas.

Foto bersama setelah kuliah onlen dengan menggunakan Microsoft Teams
Seminar dan sidang Tugas Akhir pun dilakukan secara onlen dengan fasilitas Google Meet

Bagaimana dengan ujian-ujian? Karena ujian dilakukan di rumah mahasiswa masing-masing, maka ujian pun dilakukan secara onlen juga. Soal ujian didistribusikan dapat didistribusikan dengan fasilitas email, WA, Google Form, atau menggunakan platform ujian yaitu exam.net dan sebagainya. Mahasiswa mengerjakannya di rumah masing-masing secara bersamaan, kamera di komputer diaktifkan, dosen dan asisten pengawas memantau ujian melalui kamera. Ujian di rumah namun serasa ujian di kelas saja.

daring4

Ujian secara onlen dan dipantau dengan menggunakan Google Meet

Salah satu hal yang menarik bagi saya selama kuliah onlen ini adalah memberi soal latihan, PR, kuis, UTS/UAS dengan menggunakan Google Form. Soal-soal bertipe hitungan/algoritma saya tulis di Google Form, lalu tautan Google Form- nya dikirim ke setiap mahasiswa via gmail. Mahasiswa menjawab setiap soal di Google Form pada kertas biasa di rumahnya, lalu memfoto lembar jawabannya, kemudian mengunggah (upload) fotonya dalam format JPG atau PDF ke Google Form.

daring1

Soal latihan menggunakan Goog


File-file foto jawaban masuk ke dalam akun Google Drive saya. Tinggal dibaca lalu dinilai. Praktis, hemat (tidak butuh kertas), dan mangkus. Kelemahannya adalah mata mudah lelah dan cape membaca lembar jawaban di layar komputer (ada 56 mahasiswa per kelas, dan ada 4 kelas). Bagi saya tetap lebih nyaman memeriksa lembar jawaban dalam bentuk kertas daripada bentuk digital.

Kalaupun nanti kuliah tatap muka sudah bisa dimulai pada semester depan (wallahu alam), cara pemberian soal latihan dan kuis menggunakan Google Form ini tampaknya akan saya lanjutkan.

Moral dari cerita di atas, pandemi corona tidak menghalangi proses belajar mengajar. Semua berjalan seperti biasa, hanya bertemu muka secara fisik yang tidak ada. Untung ada internet sehingga proses pendidikan saat ini agak tertolong. Jika tidak ada, sulit membayangkan apa yang harus dilakukan.

Written by rinaldimunir

December 5th, 2020 at 4:31 pm

Posted in Pendidikan

Charlie Hebdo, Macron, dan Kecintaan kepada Rasulullah

without comments

Mengapa Nabi Muhammad yang dicintai oleh umat muslim di seluruh dunia selalu menjadi sasaran pelecehan dan penghinaan oleh sebagian orang di Barat. Kesalahan apa yang dilakukan oleh junjungan umat Islam itu sehingga selalu menjadi objek penghinaan? Koran Charlie Hebdo di Perancis misalnya, sudah berulang-ulang menampilkan karikatur Nabi dengan narasi dan gambaran yang sangat merendahkan. Sudah berkali-kali pula kantor mereka diserang oleh muslim yang sangat tersinggung bahkan sampai melakukan pembunuhan segala (yang tentu saja sangat tidak dibenarkan oleh ajaran Islam). Koran itu berlindung dibalik kebebasan berekspresi yang selalu dipuja dan diagung-agungkan oleh dunia Barat.

Apa sebenarnya tujuan mereka menampilkan kartun tersebut? Untuk memancing kemarahan kaum muslimin di seluruh dunia kah? Lalu kalau sudah marah, apakah mereka mendapat kepuasan dari kemarahan itu?

Presiden Perancis, Macron, sama saja. Bukannya mengecam pemuatan kartun yang merendahkan junjungan umat Islam itu, tetapi malah memberi dukungan dan melontarkan kata-kata yang malah membuat situasi semakin runyam.

Tentu umat Islam tidak perlu membalas aksi Charlie Hebdo dan Macron itu dengan kemarahan yang berlebihan sehingga sampai melakukan kekerasan. Itu bukan ajaran Nabi Muhammad. Marah boleh, demo dan protes silakan, melakukan boykot sebagai aksi senyap tidak masalah.

Meskipun Nabi Muhammad SAW sering direndahkan, dilecehkan, dan dicela, namun semua hinaan itu tidak akan mengurangi sedikitpun kemuliaannya. Tidak juga akan mengurangi kecintaan kaum muslimin dan muslimat di seluruh dunia untuk selalu mencintainya, selalu mengucapkan shalawat kepadanya siang dan malam pada setiap sholat.

Manusia boleh datang dan pergi dari dunia ini, bangsa-bangsa berjaya dan runtuh silih berganti, namun kecintaan kepada Rasulullah akan terus hidup sepanjang masa.

Dan barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka ia telah mencintaiku. Dan barangsiapa yang telah mencintaiku, maka aku bersamanya di Surga”. (Hadis Riwayat Tarmidzi).

Mengapa ummat Islam sangat mencintai Rasulnya itu? Selalu bershalawat dan mengirim salam kepadanya sepanjang waktu? Selalu merindukan untuk bertemu dengannya? Karena beliaulah yang menuntun ummatnya ke jalan yang lurus, keberkahan, dan kemuliaan hidup. Beliaulah satu-satunya pemberi syafaat di Hari Pembalasan nanti. Siapa yang bisa menolong umatnya terlepas dari siksaan api neraka kalau bukan Nabi Muhammad?

Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kutatap wajahmu

Kan pasti mengalir air mataku
Karena pancaran ketenanganmu

Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kukucup tanganmu

Moga mengalir keberkatan dalam diriku
Untuk mengikut jejak langkahmu

Ya Rasulallah, Ya Habiballah
Tak pernah kutatap wajahmu

Ya Rasulallah, Ya Habiballah
Kami rindu padamu

Allahumma sholli ‘alaa Muhammad
Ya Robbi sholli ‘alaihi wassalim

Allahumma sholli ‘alaa Muhammad
Ya Robbi sholli ‘alaihi wassalim

Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kudakap dirimu

Tiada kata yang dapat aku ucapkan
Hanya Tuhan saja yang tahu

Ya Rasulallah, Ya Habiballah
Tak pernah kutatap wajahmu

Ya Rasulallah, Ya Habiballah
Kami rindu padamu

Kutahu cintamu kepada ummat
Umati umati

Kutahu bimbangnya kau tentang kami
Syafa’atkan kami

Ya Rasulallah, Ya Habiballah
Terimalah kami sebagai umatmu

Ya Rasulallah, Ya Habiballah
Kurniakanlah syafa’atmu

(Raihan – Ya Rasulullah)

Allahumma shalli ‘ala Muhammad.

Written by rinaldimunir

November 1st, 2020 at 8:03 pm

Posted in Agama

Sudah Baca versus Belum Baca UU Omnibus Law

without comments

Sudah baca UU Omnibus Law (UU Cipta Kerja)? Belum. Saya belum membacanya. Pendukung UU Omnibus sering meledek kepada penolak UU dengan berkata: “sudah baca isinya belum? Kalau belum baca jangan asal komen”.

Hmmm…apakah yang mendukung UU tsb juga sudah membaca isinya dan paham? Saya kok kurang yakin mereka juga sudah membacanya.

Apa karena masih ada efek sentimen Pilpres sehingga asal dukung dan asal tolak saja? Wallahu alam, mungkin saja ada. Semua faktor ikut berpengaruh dalam cara pandang seseorang. Kabarnya UU itu setebal 900 halaman.

Membaca 900 halaman tentu pekerjaan yang tidak mudah. Anda harus sekalian membaca juga naskah akademisnya, lalu baca setumpuk UU lama yang berkaitan dengan UU baru tersebut. Puff…membaca laporan disertasi mahasiswa S3 yang tebalnya 100 halaman saja sudah bikin nyut-nyut kepala, apalagi membaca 900 halaman. Puyeng.

Lalu apakah harus membaca 900 halaman itu agar bisa paham lalu mengambil kesimpulan setuju atau tidak setuju dengan UU itu. Tentu tidak. Orang cukup membaca bagian UU yang memiliki kepentingan dengan dunianya saja. Orang lingkungan membaca bagian UU yang berkaitan dengan masalah lingkungan. Orang pendidikan membaca bagian UU yang berkaitan dengan pendidikan. Dan seterusnya.

Apakah buruh-buruh yang demo kemaren itu membaca UU Omnibus Law? Wallahualam, mungkin saja ada sebagian buruh yang membacanya. Tentu mereka hanya membaca bagian UU yang berkaitan dengan nasib tenaga kerja seperti mereka. Jadi kalau mereka demo sampai mengamuk-amuk tentu ada bunyi UU itu yang merugikan mereka.

Lalu kalau tidak sempat membacanya, bagaimana sikap kita? Kalau saya sih, cukup membaca pendapat pakar2 yang kompeten yang memberikan penilaian. Jika pakar hukum seperti prof-prof UGM saja menyebutkan UU tersebut bermasalah, maka saya juga sepakat bahwa UU tersebut memang mengandung masalah. (Baca: PUKAT UGM Sebut RUU Cipta Kerja Bermasalah dari Proses Hingga Substansi)

Sebaiknya UU tersebut ditunda saja dulu oleh Pemerintah. Perbaiki lagi bagian-bagian yang masih bermasalah tersebut, dengarkan aspirasi rakyat, dengarkan pendapat para ahli,  tidak perlu buru-buru mengesahkannya. Bikin Perpu.

Jika dengan pemberlakuan UU tersebut diharapkan memudahkan investor masuk ke dalam negeri sehingga dapat mengurangi dampak ekonomi akibat pandemi corona, kok rasanya agak jauh. Investor tentu akan menunggu kondisi pulih dulu. Itu perlu waktu yang cukup lama. Jika kasus positif corona terus saja bertambah banyak setiap hari, investor tentu enggan untuk masuk.

Masyarakat kita saat ini sedang fokus pada masalah corona. Jangan sampai penderitaan masyarakat bertambah lagi dengan hal-hal yang bermasalah pada UU tersebut.

Written by rinaldimunir

October 9th, 2020 at 8:02 pm

Posted in Indonesiaku

Momen yang Hilang di Kelas Onlen

without comments

Setelah kuliah daring (online) selama beberapa bulan, apa yang dirasakan?

Seorang rekan menjawab, kita tidak bisa lagi merasakan momen celutukan “ohhh…gituu…” dari mahasiswa yang mengangguk-anggukkan kepala tanda paham setelah kita menyelesaikan soal sulit di papan tulis.

Kita tidak bisa melihat wajah-wajah terkesima, ketika mendemokan sesuatu, menurunkan sebuah rumus, atau ketika mereka diajarkan suatu metode/algoritma/teori yang sangat menarik perhatian, apalagi jika dibumbui cerita-cerita tentang latar belakang teori itu yang dramatis. Ada rasa yang hilang.

mhs

Mengajar tatap muka di kelas nyata dan di kelas maya beda nuansanya. Mengajar di kelas maya itu seperti berbicara sendiri dengan komputer. Ketika file PPT di-share screen, maka hilanglah wajah-wajah mahasiswa di layar komputer, lalu kita berbicara sendiri di depan monitor, berbicara seperti orang “kurang waras” karena tidak ada orang lain di dekat kita, hehe.

mhs2

Ada rasa yang hilang di kelas onlen. Sentuhan humanistik tidak tergantikan dengan mengajar secara onlen meskipun kita sudah membuat video kuliah semenarik dan sebagus apapun.

Mengajar tatap muka secara langsung di kelas nyata tetaplah yang terbaik. Pandemi corona di satu sisi telah menghapus aneka rencana dan kegiatan berjumpa dengan anak didik di kampus. Di sisi lain masa pandemi membuat kita merenung kembali pentingnya hubungan antar manusia, betapa hubungan antar manusia secara langsung tetap tidak tergantikan dengan teknologi.

Ah, kangen suasana kelas lagi, bertatap muka dengan para mahasiswaku. Miss you my students. ?

Written by rinaldimunir

October 6th, 2020 at 9:32 am

Empat Amalan Sebelum Tidur

without comments

Ini merupakan tulisan untuk pengingat diri. Tidur adalah nikmat Allah yang tidak terganti. Beberapa orang, termasuk saya sendiri, pernah sulit tidur.  Saya pernah tidak memicingkan mata selama dua hari malam. Insomnia (baca: Pengalaman Minum Obat Tidur). Cukup sering seperti ini, terutama jika ada masalah yang dipikirkan, atau badan lagi ada yang tidak beres (sakit). Saat kita tidur Allah sebenarnya mengambil ruh kita, lalu mengembalikannya lagi saat terbangun pagi hari. Banyak pula orang yang wafat saat sedang tidur.

Maka, lakukanlah empat amalan sebelum kita tidur. Sebagaimana disebutkan di dalam Kitab Durratun Nashihin karya Syaikh Ustman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakiri Al- yang terjemahan bebasnya sebagai berikut:

Rasulullah SAW berpesan kepada Aisyah RA : “Wahai Aisyah jangan engkau tidur sebelum melakukan empat perkara, yaitu:

1. Sebelum khatam Al Qur’an
2. Sebelum membuat para Nabi memberimu syafaat di hari akhir
3. Sebelum para muslim meridhoi kamu
4. Sebelum kau melaksanakan haji dan umroh

” Bertanya Aisyah: “Ya Rasulullah.. Bagaimana aku dapat melaksanakan empat perkara seketika?” Rasulullah tersenyum dan bersabda:

1. “Jika engkau tidur bacalah surat Al- Ikhlas sebanyak tiga kali maka pahalanya sama seperti mengkhatamkan Al Qur’an.”:
Bismillaahir rohmaanir rohiim, Qulhuallahu ahad’ Allahushshomad’ lam yalid’ walam yuulad’ walam yakul lahuu kufuwan ahad’ (3x)

2. “Membaca sholawat untuk ku dan para nabi sebelum aku, maka kami semua akan memberi syafa’at di hari kiamat“:
Bismillaahir rohmaanir rohiim, Allahumma shollii ‘alaa Muhammad wa’alaa alii Muhammad (3x)“

3. “Beristighfarlah untuk para muslimin maka mereka akan meridhoi kamu”:
Astaghfirullahal adziim aladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum wa atuubu ilaih (3x)

4. “Perbanyaklah bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir maka seakan – akan kamu telah melaksanakan ibadah haji dan umroh“:
Bismillaahir rohmaanir rohiim, Subhanallahi Walhamdulillaahi walaailaaha Illallahu Allahu akbar (3x).

Meskipun Rasulullah berkata kepada Aisyah R.A, tetapi karena Rasulullah adalah suri teladan, maka apa yang dikatakannya juga patut kita teladani.

Kutipan asli dari buku tersebut dikutip dari sini:

Diriwayatkan dari Rasulullah bahwa beliau berkata kepada Sayidah Aisyah, ‘Wahai Aisyah, janganlah kamu tidur sebelum melakukan empat hal; sebelum mengkhatamkan Alquran, sebelum membuat para nabi memberi syafaat kepadamu kelak di hari kiamat, sebelum membuat seluruh kaum muslimin ridha kepadamu dan sebelum melakukan ibadah haji dan umrah.’

Setelah berkata demikian, Nabi kemudian melanjutkan sholat malamnya dan Sayidah Aisyah sendiri berada di tempat tidur seraya menunggu Nabi menyempurnakan sholatnya. Setelah Nabi Saw menyempurnakan sholatnya, Sayidah Aisyah langsung bertanya, ‘Wahai Rasulullah, demi bapak dan ibuku, engkau perintahkan aku melakukan empat perkara yang saat ini tidak mampu aku melakukannya.’

Mendengar pertanyaan Aisyah ini, Nabi lalu tersenyum dan beliau menjelaskan, ‘Jika kamu membaca Surah Al-Ikhlas sebanyak tiga kali, maka pahalanya sama dengan mengkhatamkan Alquran. Jika kamu membaca sholawat kepadaku dan para nabi sebelum aku, maka kami semua akan memberikan syafaat kepadamu di hari kiamat kelak. Jika kamu memohonkan ampunan untuk seluruh kaum muslimin, maka mereka semua akan ridha kepadamu.

Dan jika kamu membaca ‘Subhanallah wal hamdulillah wala ilaha illahu wallahu akbar,’ maka kamu telah melakukan haji dan umrah,”

Allahumma shalli ‘ala Muhammad, wa ‘ala ali Muhammad.

Written by rinaldimunir

October 3rd, 2020 at 12:50 pm

Posted in Agama

Mamang Tukang Cukur Keliling

without comments

Seorang lelaki tua tampak berjalan kaki dengan berjalan perlahan di sekitar perumahan Antapani.  Dia, seorang bapak tukang cukur keliling. Setiap hari dia mengukur jalanan, masuk kampung keluar kampung, masuk gang keluar gang. Dengan memanggul tas besar berisi peralatan cukur dan bangku kecil untuk duduk, dia berjalan kaki menyusuri jalan-jalan pemukiman penduduk, menawarkan jasa cukur, berharap ada bocah atau orang dewasa dicukur rambutnya.

TukangCukur

Saya sering melihatnya di sekitar Antapani sejak lama.  Setiap pagi saat saya olahraga jalan kaki saya sering berselisih jalan dengannya. Kadang dia lewat di depan rumah saya. Tampak letih di wajahnya, kerut keriput wajahnya, dan kulitnya yang sudah hitam terpanggang matahari menandakan dia sudah lama menjalani profesi tukang cukur keliling ini. Saya memang tidak mengenalnya dan tidak pernah memakai jasanya, tetapi saya dapat merasakan perjuangannya mencari nafkah.

Pada masa pandemi seperti ini mencari orang yang mau dicukur tentu semakin sulit. Sebagian orang masih menghindar kontak langsung dengan tukang cukur, khawatir tertular virus corona. Namun di beberapa barber shop dan tempat-tempat cukur lain di Antapani, pengunjung sudah mulai tampak normal, sudah banyak orang bercukur lagi. Tentu rambut tidak bisa menunggu waktu lebih lama untuk dicukur, ia tumbuh terus dan bertambah panjang. Mencukur sendiri atau dicukur oleh anggota keluarga hasilnya kurang memuaskan karena memang bukan ahlinya. Akhirnya orang kembali lagi ke tukang cukur rambut, tentu dengan tetap memperhatikan protokol covid-19: pakai masker saat dicukur, baik pencukur maupun yang dicukur.

Kembali tentang bapak tukang cukur keliling tadi. Pikiran saya melayang ke masa lalu, saat masih bocah. Dulu waktu kecil,  rambut saya sering dicukur oleh tukang cukur keliling. Ibu menyuruh saya duduk di kursi kecil yang dibawa tukang cukur itu. Kaki kursinya berbentuk huruf X dan dapat dilipat menjadi satu. Alas duduknya terbuat dari kulit sapi yang lentur. Saya duduk di bawah pohon atau di halaman rumah yang tidak bersemen. Tukang cukur mengeluarkan sehelai kain putih yang sudah kumal, kain putih itu dipakaikan ke punggung saya sebagai jubah agar potongan rambut tidak mengenai badan.  Potongan rambut anak-anak saat itu umumnya seragam, yaitu potongan rambut tentara: plontos di bagian belakang, tipis di bagian atas. ?

Kalau tidak pakai jasa tukang cukur keliling, ayah saya membawa saya bercukur rambut di DPR (di bawah pohon rindang). DPR itu pada prinsipnya sama dengan tukang cukur keliling, tetapi mereka mangkal di bawah pohon besar yang rindang, biasanya pohon beringin. Dulu di dekat rumah saya di kawasan Sawahan Padang ada tempat pemotongan hewan yang dikenal dengan nama Rumah Potong. Nah, di halaman Rumah Potong itu tumbuh sebuah pohon beringin yang besar dan rindang. Nah, di bawah pohon beringin itulah mangkal beberapa orang tukang cukur. Sebuah cermin besar tergantung di batang pohon sebagai tempat bercermin orang yang sedang dicukur.

Ada terbersit keinginan saya nanti ingin dicukur oleh tukang cukur keliling yang sering saya lihat tadi. Ada rasa iba di dalam hati saya. Kasihan melihat keletihan di wajahnya. Semoga Allah SWT membalas peluh keringatnya yang bercucuran dengan pahala, dan memberinya rezeki yang barokah.

Written by rinaldimunir

September 29th, 2020 at 10:08 am

Posted in Uncategorized

Milenial yang Berbahasa Santun

without comments

Beberapa waktu yang lalu di dunia maya (khususnya twitter) sempat trending berita tentang chat mahasiswa kepada dosenya yang dianggap oleh dosen tersebut kurang sopan (baca: Membaca Lagi Chat Dosen ‘Kok Kamu Atur Saya’ yang Heboh di Twitter). Meskipun saya tidak  mengerti dimana letak kesalahan kata-kata si mahasiswi, biasa saja kalimatnya, wajar dan sopan, tapi mungkin saja saat itu sang dosen sedang tidak berada dalam kondisi mood yang baik sehingga emosinya kurang stabil. Wallahu alam.

Itulah bedanya bahasa lisan dengan bahasa tulisan, bisa berbeda-beda penafsiran. Bahasa tulisan (seperti SMS, surel, chat dengan whatsapp, dll) tidak mengandung ekspresi dan intonasi yang rentan menimbulkan salah paham.

Anak muda generasi milenial sering dipersepsikan tidak tahu sopan santun berbahasa. Benarkah demikian? Pengalaman saya mengajar mahasiswa milenial beberapa tahun terakhir ternyata sebaliknya.

Mahasiswa milenial menurut saya sopan-sopan saja kok kalau menghubungi dosen via surel (e-mail) atau WA. Saya belum pernah mendapat pesan dengan bahasa yang kurang santun, baik dari mahasiswa di kampus sendiri, maupun mahasiswa dari kampus lain. Di awal atau di akhir surel mereka sering ada kalimat begini:

Mohon maaf apabila mengganggu waktu Bapak

Mohon maaf bila ada salah kata

Mohon maaf bila ada kata-kata atau kalimat saya yang kurang sopan

Menurut saya itu kalimat-kalimat yang baik. Malah saya sendiri kalau menyurati orang lain jarang menulis  kalimat-kalimat di atas.

Terima kasih anak-anaku, saya tidak pernah merasa terganggu membaca surel kalian, karena kebiasaan saya setiap (pagi) hari adalah mengecek semua surel yang masuk dan selalu membacanya (dan membalasnya jika pengirim menunggu jawaban).

Dulu sebelum pandemi corona, setiap kali masuk kantor dan menyalakan komputer desktop, maka aktivitas yang pertama kali saya lakukan adalah membaca semua surel yang masuk ke dalam inbox. Sekarang, ketika harus WFH, membaca surel dari orang lain bisa dilakukan kapan saja, di rumah, di perjalanan, di kantor, dan sebagainya. Ada smartphone, dan yang terpenting ada akses internet.

Sebagai dosen dan pendidik, kita tidak perlu menjadi orang yang gila hormat. Kalau kita ramah, rendah hati, selalu menyempatkan diri membalas surel/WA mahasiswa, tidak mempersulit mahasiswa, maka mahasiswa kita pun akan hormat dan segan. Mereka tidak pernah mengirim pesan dengan bahasa yang tidak sopan kepada kita. Seperti bunyi sebuah slogan pada sebuah stiker: anda sopan, kami segan.

Written by rinaldimunir

August 29th, 2020 at 11:43 am

Biar Sedikit Asal Rutin

without comments

Setiap pagi saya selalu jalan kaki mengitari jalan-jalan perumahan di Antapani. Usai jalan pagi setiap hari saya selalu mampir ke sebuah warung sayur. Ya sekalian beli sayur dan buah. Namun yang saya suka belanja di warung tersebut adalah selalu tersedia kotak amal buat anak yatim atau dhuafa. Saya suka memasukkan uang kembalian yang jumlahnya sih tidak banyak ke kotak itu, kadang 2000 kadang 5000. Biar sedikit tapi insya Allah rutin setiap hari. Bukankah Allah menyukai amalan yang kontinu meskipun sedikit?

Dari ’Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah. Rasul shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab,

?????????? ?????? ?????

”Amalan yang rutin (kontinu), walaupun sedikit”.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad, wa ‘ala ali Muhammad. Shalawat buat Rasulullah yang mulia berserta keluarganya. Pesan Rasul sangat bermakna, khususnya saya.

Biar beramal sedikit tetapi rutin setiap hari, apalagi kalau banyak ya. Mari beramal sholeh secara rutin. Sedekah secara rutin, puasa sunat secara rutin, sholat tahajud secara rutin (dua yang terakhir masih berat saya kerjakan).

#renunganpagi

 

Written by rinaldimunir

August 21st, 2020 at 5:41 pm

Posted in Agama,Renunganku

Mengenal Jurus Meretas Password

without comments

Password atau dikenal juga dalam istilah lain passphrase, PIN, kata sandi, merupakan metode otentikasi berbasis teks yang paling tua dan paling banyak dipakai. Karena sederhana dan mudah dipakai, otentikasi berbasis password, sering kali menjadi target utama dan titik masuk dalam insiden peretasan.

Bagaimana Otentikasi berbasis Password Bekerja

Password digunakan sebagai bukti identitas, seperti halnya paspor, KTP atau SIM dalam dunia fisik. Namun password dalam tulisan ini adalah password yang tidak ada bentuk fisiknya, hanya berupa teks digital.

Apa yang sebenarnya terjadi dalam sistem ketika password diketikkan ke dalam layar login di website atau di sistem operasi?

  1. Sistem menerima pasangan username dan password. Username menunjukkan identitas yang akan diklaim, sedangkan password adalah bukti dari klaim identitas tersebut.
  2. Sistem akan mencari dalam basis data, informasi mengenai username tersebut. Dalam tahap ini sistem akan menolak bila user tersebut tidak ada dalam basis data.
  3. Sistem mendapatkan informasi mengenai user tersebut, termasuk informasi mengenai password yang benar untuk user tersebut (analoginya seperti kunci jawaban sebuah soal). Password yang benar ini disimpan dalam berbagai format, ada yang tersimpan dalam format apa adanya (plaintext), dalam format hash (md5, sha256, hmac dsb.) atau ada juga yang dalam format tersandikan (encrypted).
  4. Sistem akan mengonversi password yang dimasukkan user, ke dalam format yang sama dengan yang tersimpan dalam database. Sebagai contoh, bila dalam database menggunakan format sha256, maka masukan password akan diubah ke dalam format sha256 juga.
  5. Setelah password dari masukan user dalam format yang sama dengan password yang tersimpan dalam basis data, maka keduanya bisa dibandingkan secara tekstual. Bila keduanya identik, jawaban dan kunci jawaban yang tersimpan dalam basis data adalah sama, maka bukti identitas dianggap valid dan benar.

Kategori Peretasan Password

Secara umum jurus meretas password dibagi dalam dua kategori besar:

Peretasan Luring (offline)

Peretasan secara luring hanya bisa dilakukan bila peretas telah berhasil mendapatkan akses ke dalam basis data yang menyimpan informasi pengguna. Umumnya ini adalah tahap pasca-eksploitasi, setelah basis data sistem berhasil dikuasai (salah satunya dengan SQL injection atau teknik lain, di luar cakupan tulisan ini), peretas ingin mendapatkan password dari semua user yang ada dalam sistem dengan harapan dapat menguasai sistem-sistem lain.

Ada banyak sekali contoh kasus peretasan di banyak perusahaan dengan jutaaan pengguna, haveibeenpwned.com/PwnedWebsites, memuat daftar panjang situs-situs yang diretas lengkap dengan daftar password yang bisa diunduh bebas.

Apa yang dilakukan peretas untuk mendapatkan password tergantung dari format password yang tersimpan dalam database user:

Peretasan Password Plaintext

Password disimpan dalam bentuk aslinya apa adanya, maka selesai sudah, tidak perlu ada peretasan apa-apa lagi,, semua password sudah tersaji dalam piring siap santap.

Peretasan Password Tersandi (Dua Arah)

Format ini adalah format dua arah, artinya teks bisa diubah ke dalam bentuk lain (tersandikan), dan bisa dikembalikan lagi ke bentuk asalnya. Password yang tersimpan dalam format ini adalah hasil dari fungsi enkripsi yang bisa dikembalikan ke bentuk aslinya melalui fungsi dekripsi.

Dalam hal ini, peretas harus mendapatkan kunci untuk melakukan dekripsi password. Kunci ini bisa simetris atau asimetris dan bisa tersimpan di sistem yang sama atau di sistem yang berbeda.

Setelah kunci didapatkan, maka peretas dapat dengan sangat cepat dan mudah, mendapatkan semua password dalam database dengan melakukan fungsi dekripsi. Tanpa kunci, peretas yang mendapatkan akses ke tabel user, tidak bisa mendapatkan password yang benar.

Peretasan Password Hash (Satu Arah)

Hash adalah format satu arah, maksudnya adalah, teks yang telah diubah menjadi bentuk hash, tidak bisa dikembalikan lagi ke dalam bentuk aslinya.

Lalu bagaimana cara mendapatkan password bila satu arah? Peretas hanya bisa mencoba-coba banyak kandidat password dan melihat apakah ada di antara kandidat password tersebut, yang memiliki hash yang sama dengan yang tersimpan dalam database.

Contoh, bila peretas ingin mengetahui apa password dibalik md5 hash ini 098f6bcd4621d373cade4e832627b4f6, maka peretas harus mencoba melakukan hashing banyak kandidat password seperti “a”, “aa”, “bb”, dan seterusnya, sampai akhirnya peretas yang beruntung akan menemukan bahwa kandidat “test” memiliki md5 hash yang sama persis, sehingga peretas mengetahui password dibalik md5 hash tersebut adalah “test”.

Tentu saja, peretas tidak akan secara naif mencoba semua kemungkinan teks secara acak atau terurut karena password di dunia nyata jarang yang benar-benar acak, jadi peretas akan memfokuskan waktu dan biaya untuk mencoba kandidat yang berpeluang besar untuk menjadi password yang benar. Sebagai contoh, peluang kandidat “password” atau “12345” lebih besar dari pada kandidat acak seperti “xMc2u48#M”.

Ada banyak tools dengan teknik statistik dan machine learning yang canggih dengan dibantu hardware khusus seperti GPU dan kapasitas penyimpanan yang besar, untuk membantu mempercepat proses peretasan password. Teknik-teknik dan tools tersebut di luar cakupan tulisan ini.

Database pemetaan dari teks ke hash dari banyak kasus peretasan, tersedia bebas di internet sehingga peretas bisa dengan mudah memasukkan sebuah hash dan dengan cepat akan mendapatkan teks di balik hash tersebut bila hash tersebut sudah pernah diretas sebelumnya.

Peretasan Daring (online)

Berbeda dengan peretasan luring yang bisa dilakukan tanpa koneksi ke sistem yang ditarget, peretasan daring dilakukan secara “live” dengan mencoba banyak kandidat password langsung ke layar login sistem yang ditarget.

Teknik ini jauh lebih lambat karena banyaknya kombinasi username dan password yang bisa dicoba secara live tergantung dari kecepatan jaringan dan kemungkinan adanya pembatasan sistem (contohnya mengunci user bila gagal login lebih dari N kali).

Sedangkan peretasan luring, peretas bisa mencoba milyaran kombinasi per detik tanpa terpengaruh dengan kecepatan internet dan tanpa menyentuh sistem target sama sekali.

Namun kelebihan teknik ini adalah, teknik ini bisa dicoba tanpa harus mendapatkan akses ke database terlebih dahulu. Bila peretas memiliki koneksi internet yang cepat, dan sistem tidak menerapkan pembatasan percobaan, maka teknik ini akan sangat efektif.

Sekali lagi, peretas tidak akan naif mencoba semua kemungkinan password secara acak, peretas harus lebih bijak memilih kandidat yang akan dicoba dibandingkan peretasan luring (offline) karena biaya mencoba satu kandidat secara live jauh lebih mahal dan lama.

The post Mengenal Jurus Meretas Password appeared first on Ilmu Hacking.

Written by Rizki Wicaksono

August 13th, 2020 at 1:55 pm

Posted in Uncategorized