if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Seputar ITB’ Category

Kampus Ganesha ITB Sunyi dari Mahasiswa Saat Pandemi

without comments

Sudah satu setengah tahun kampus Ganesha ITB ditutup untuk perkuliahan dan aktivitas kemahasiswaan. Mahasiswa sudah pulang ke kampung halamannya masing-masing, kuliah dari rumah.

Saya pun sudah setengah tahun tidak pergi kerja ke kampus. Mau ngapain juga di kampus, tidak ada siapa-siapa, tidak ada mahasiswa, hanya ada beberapa pegawai tendik di kantorT ata Usaha yang bertugas secara bergantian hari dengan pegawai lannya.

Meskipun saya pegawai dan dosen ITB, namun saya tidak bebas leluasa masuk ke dalam kampus, ke kantor saya sendiri . Perlu mengurus surat izin masuk dulu ke fakultas, mengisi formulir daring, mendapatkan QR-code, dan seterusnya. Tujuannya sih bagus, yaitu untuk melakukan pelacakan jika terjadi kasus penularan covid di kampus dan mencegah timbulnya klaster kampus Ganesha. Sejauh ini kampus Ganesha ITB aman-aman saja, tidak ada klaster covid. Memang ada pegawai tendik dan dosen yang terpapar corona, namun mereka terpapar di luar kampus, mungkin di lingkungan keluarganya sendiri.

Meskipun saya WFH, namun sesekali saya masih pergi ke kampus Ganesha, tapi bukan untuk WFO, namun untuk urusan singkat saja, misalnya mengambil buku dan dokumen di meja kerja, meng-copy file di komputer desktop kantor, atau memperbaiki software di laptop. Saat  vaksinasi dosen di Gedung Sabuga, kampus dibuka untuk parkir kendaraan, laluke Sabuga mealui terowongan. Nah, saat bisa masuk ke kampus itulah saya sempat mengambil foto-foto suasana kampus Ganesha. Begini suasananya. Sepi dan sunyi.

  1. Gerbang Selatan (gerbang utama) kampus Ganesha yang membisu, seperti orang  yang duduk melamun sendirian, dengan bunga-bunga yang mulai bermekaran, namun tiada langkah-langkah kaki yang biasanya  selalu melewatinya.

ITB1

ITB2

2. Jalan utama kampus yang kosong. Hanya terdengar suara daun bergesek dan desiran suara angin.

ITB3

3. Kantin bengkok yang kesepian. Saat jam makan siang, tempat ini penuh dengan mahasiswa yang makan sambil mengerjakan tugas kuliah dengan laptopnya.

ITB4

4.  Lorong yang sepi. Lorong-lorong yang menghubungkan antar gedung-gedung di dalam kampus nyaris tidak ada orang yang lewat.

ITB5

5.  Ruang sekre unit-unit kegiatan mahasiswa di sunken court yang seperti markas yang ditinggal penghuninya (Sunken court adalah kawasan bawah tanah yang terletak di sepanjang jalan menuju terowongan yang menghubungkan kampus Ganesha dan Sabuga. Sunken court terletak antara Gedung Perpusatakan Pusat dan Gedung Riset dan Inovasi)

ITB6

ITB7

6. Kantin borju dengan meja-meja makan yang berdebu. Sebelum pandemi, kantin ini adalah tempat rendevouz selain tempat makan tentunya.

ITB8

7. Meja-meja belajar di selasar LabTek V yang kosong melompong. Pada hari-hari kuliah, meja-meja ini adalah tempat mahasiswa mengerjakan tugas-tugas kuliah

ITB10

ITB11

8. Lapangan basket dan lapangan cinta yang kosong. Sebelum pandemi, setiap hari tempat ini ramai dengan mahasiswa yang mengisi waktu melempar-lempar bola basket atau sekedar duduk-duduk di sini. Kalau ada TPB Cup atau pertandingan antar Himpunan Mahasiswa, bisa riuh rendah sampai malam hari di sini.

ITB13

ITB14

9. Ruang kelas dan lorong LabTek V yang lengang

ITB15

Foto-foto kampus ITB yang sepi selama pandemi dapat dilihat pada video saya di Youtube di bawah ini:

Semoga pandemi corona ini segera berakhir dan kondisi kampus yang sepi dari mahasiswa ini ramai kembali. Perlu waktu memang kalau ingin suasanya seperti dulu lagi.

Written by rinaldimunir

June 20th, 2021 at 4:11 pm

Posted in Seputar ITB

In Memoriam, Rektor ITERA Lampung, Prof. Ofyar Tamin

without comments

Hari Rabu pagi tanggal 9 Juni 2021 sebuah pesan di whatsapp mengejutkan saya. Isinya mengabarkan Rektor ITERA Lampung yang juga dosen ITB, Prof Ofyar Z. Tamin wafat di Jakarta karena sakit.

Saya memang tidak kenal dekat dengan almarhum. Selama saya menjadi dosen terbang di ITERA Lampung, saya hanya sekali saja pernah berbicara secara langsung dengan beliau.  Selebihnya hanya berpapasan saja di Wisma ITERA, melempar senyum atau menganggukkan kepala.

Rektor-Itera-Ofyar-Z-Tamin

Nama Pak Ofyar cukup berkesan bagi sebagian besar dosen ITB. Saya yakin sebagian besar dosen ITB tidak mengenal wajahnya, tetapi mengenal namanya. Hal itu karena Pak Ofyar memiliki kebiasaan yang unik. Dia rajin mengirim ucapan selamat ulang tahun via SMS ke setiap dosen ITB. Setiap tahun hampir setiap dosen di ITB (dan juga di ITERA) mendapat kiriman ucapan selamat ulang tahun pada hari kelahirannya. Kalau sekarang ada whatsapp, maka ucapan selamat ulang tahun dikirim lewat whatsapp. Tidak hanya ucapan selamat ulang tahun, tetapi juga ucapan selamat Idul Fitri dikirim lewat whatsapp.

Entah darimana beliau mendapat nomor telpon dan data tanggal lahir semua dosen ITB. Bahkan dosen muda yang baru menjadi dosen di ITB pun merasa kaget dikirimi ucapan selamat ulang tahun dari seorang profesor! Merasa de javu, merasa tersanjung dikirim selamat ulang tahun dari seorang Guru Besar, padahal beliau tidak mengenal dirinya. Mungkin begitulah cara Pak Ofyar menjalin silaturahmi dengan orang lain, termasuk orang yang tidak dikenalnya sekalipun.

Bahkan, kalau hari ulang tahun kita sudah lewat, mungkin karena dia lupa, Pak Ofyar tetap mengirim ucapan selamat ultah pada hari berikutnya seperti pada skrinsut pesan whatsapp berikut:

ofyar1

Namun karena dikirim setelah tanggal kelahiran saya, maka saya membalas pesannya bahwa sudah lewat kemarin. Beliau pun membalas lagi bahwa telat sehari masih tetap sah  ?

ofyar2

Yang lebih mengharukan saya, ketika beliau dirawat di RS di Lampung karena positif Covid pada tahun lalu, beliau masih sempat mengirim selamat ulang tahun kepada saya dari rumah sakit seperti pada gambar di bawah ini. Sungguh membuat saya terharu padahal saya tidak   mengenalnya secara pribadi. Saya hanya bisa mendoakan beliau agar sembuh dari Covid.

ofyar3

ITERA boleh dibilang sebagai “anak kandung” ITB karena ITB lah yang membidani kelahirannya hingga tumbuh pesat sampai sekarang. Dosen-dosen ITB pun “dipinjamkan” menjadi dosen luar biasa (istilahnya dosen terbang) di ITERA dan sebagian lagi menjadi pejabat kampus seperti rektor, wakil rektor, ketua jurusan, hingga ketua Program Studi. Dosen-dosen ITERA masih muda-muda sehingga masih perlu dibina oleh ITB.

Pak Ofyar Tamin ditugaskan menjadi Rektor ITERA Lampung oleh ITB pada tahun 2014, yaitu saat mahasiwa ITERA “dipindahkan” dari ITB  ke Lampung karena kampus ITERA sudah mulai dibangun di luar kota Bandar Lampung. Saat mulai menjabat, beliau hanya diberi lahan  kosong seluas 300 Ha di Jalan Terusan Ryacudu (yang menjadi kampus ITERA sekarang). Berkat kemampuannya mencari dana pembangunan ke sana sini, maka siapa yang menyangka kampus ITERA tumbuh pesat luar biasa seperti sekarang (lihat foto). Video kampus ITERA dari atas drone dapat dilihat di tayangan Youtube ini.

ITERA-2

Ya, berkat kepemimpinan Pak Ofyar-lah maka ITERA Lampung menjadi bagus seperti sekarang. Saya yang mulai mengajar menjadi dosen terbang di ITERA tahun 2014 hingga sekarang dapat melihat perbedaan dulu dan sekarang (baca tulisan saya ini).

Ada pengalaman yang tidak terlupakan bagi saya berkaitan dengan Pak Ofyar. Pada tahun 2019 ITERA meminta kepada fakultas saya (STEI-ITB) untuk mencarikan dosen yang bersedia menjadi Kaprodi Teknik Informatika ITERA. Oleh fakultas, saya yang diminta menjadi Kaprodi (Kepala Program Studi) sana. Saya pada mulanya agak keberatan karena pertimbangan  keluarga. Itu berarti saya harus sering bolak-balik Bandung-Lampung untuk rapat-rapat koordinasi. Saya juga memiliki anak berkebutuhan khusus yang perlu mendapat perhatian di rumah. Lagipula, saya tidak punya passion dalam manajemen dan pengelolaan SDM. Namun, setelah berdiskusi dengan istri, dan rasa “kasihan” serta empati saya kepada dosen-dosen muda ITERA yang perlu pembinaan, akhirnya tawaran menjadi Kaprodi di ITERA pun saya terima, namun tetap saja ada rasa yang mengganjal di dalam hati, yaitu rasa belum ikhlas. Saya lebih suka seperti selama ini saja, menjadi dosen biasa, membina dosen muda dan membimbing mahasiswa di sana, tanpa disibukkan dengan urusan manajerial yang tidak saya sukai.

Apa yang terjadi? Setelah nama saya diusulkan oleh ITB ke ITERA, ternyata Pak Ofyar tidak setuju tanpa alasan yang saya ketahui. Apakah saya kecewa? Oh, sama sekali tidak, malah sebaliknya. Saya justru berterima kasih tidak jadi disetujui oleh Pak Ofyar. Ada perasaan lega di dalam hati. Mungkin Tuhan menjawab ketidakrelaan saya melalui cara Pak Ofyar tidak menyetujui saya sebagai Kaprodi. Terima kasih, Pak, Bapak telah “menyelamatkan” saya dari berbagai macam kekhawatiran yang hanya diri saya yang mengetahuinya.

Selamat jalan Pak Ofyar. Meski tidak mengenal bapak secara pribadi, menurut saya bapak adalah orang yang baik. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan dan amal shaleh yang telah bapak perbuat dengan pahala yang berlipat ganda, terutama dalam memajukan pendidikan tinggi di Pulau Sumatera khususnya dan di Indonesia umumnya.

Written by rinaldimunir

June 14th, 2021 at 9:05 pm

Rindu Mengajar Lagi di Kampus

without comments

Jika ada yang saya rindukan saat ini adalah mengajar di kampus. Sudah hampir 12 bulan saya di rumah saja, mengajar dari rumah, bimbingan mahasiswa dari rumah, diskusi dari rumah, segalanya serba dari rumah. Mahasiswa pun begitu, kuliah dari rumahnya. Pandemi tampaknya masih lama, jadi keinginan mengajar di dalam kelas di kampus rasanya belum bisa terwujud saat ini. Kampus masih ditutup untuk perkuliahan dan praktikum.

mengajar1

Hanya beberapa kali saja saya masuk ke dalam kampus, itu pun hanya untuk mengambil buku di lemari ruangan kerja di lab, atau ke kantor fakultas memasukkan surat. Masuk kampus pun tidak bisa sesuka hati, ada prosedur yang harus ditempuh, mengisi form. Ya, bisa dimengerti, jika terjadi apa-apa di kampus, misalnya kasus positif covid, maka pelacakan dapat dilakukan dari daftar surat izin civitas academica yang masuk ke dalam kampus.

Bagi saya mengajar itu sangat menyenangkan dan memberikan kepuasan batin. Bisa berbagi ilmu dan membuat orang lain mengerti apa yang saya ajarkan itu sudah memberi kebahagiaan. Dunia saya itu adalah dunia pendidikan. Saya suka mengajar. Kalau tidak mengajar ya menulis. Itu dua passion yang saya miliki.

Bertemu dengan anak-anak muda yang haus ilmu pengetahuan bagi saya sangat menyenangkan. Memang mengajar secara onlen (daring) tetap dapat dilakukan, tetapi ada nuansa  yang hilang jika mengajar secara onlen. Saya tidak dapat melihat wajah-wajah mahasiswa yang terkejut ketika saya panggil namanya dan saya beri pertanyaan. Saya tidak bisa berbagi cerita-cerita menarik sebagai selingan supaya kelas tidak garing. Dan saya tidak bisa memberi hadiah seperti coklat atau brownis bagi mahasiswa yang mendapat nilai tertinggi. ?

mengajar4

mengajar3

Ketika beberapa kali masuk kampus untuk suatu urusan, saya longok kelas yang kosong, lab yang sunyi, dan lorong-lorong yang sepi. Tidak terdengar riuh rendah suara mahasiswa yang meramaikan lorong dan sudut-sudut selasar tempat mahasiswa belajar atau mengerjakan tugas seperti foto di selasar LabTek 5 di bawah ini. 

selasar1

selasar2

Tampaknya suasana seperti di atas tidak akan mungkin terwujud dalam satu dua tahun ini. Jika pun kampus sudah dibuka untuk perkuliahan tatap muka pada semester depan (mudah-mudahan, Amiin) tetap akan ada pembatasan-pembatasan aktivitas dan serba bergiliran daring dan luring.  Jadi, suasana seperti foto-foto di atas mungkin baru bisa terulang setelah corona benar-benar bisa diatasi. Untuk sementara cukuplah memasang foto kenangan di atas.

Written by rinaldimunir

February 19th, 2021 at 5:45 pm

Momen yang Hilang di Kelas Onlen

without comments

Setelah kuliah daring (online) selama beberapa bulan, apa yang dirasakan?

Seorang rekan menjawab, kita tidak bisa lagi merasakan momen celutukan “ohhh…gituu…” dari mahasiswa yang mengangguk-anggukkan kepala tanda paham setelah kita menyelesaikan soal sulit di papan tulis.

Kita tidak bisa melihat wajah-wajah terkesima, ketika mendemokan sesuatu, menurunkan sebuah rumus, atau ketika mereka diajarkan suatu metode/algoritma/teori yang sangat menarik perhatian, apalagi jika dibumbui cerita-cerita tentang latar belakang teori itu yang dramatis. Ada rasa yang hilang.

mhs

Mengajar tatap muka di kelas nyata dan di kelas maya beda nuansanya. Mengajar di kelas maya itu seperti berbicara sendiri dengan komputer. Ketika file PPT di-share screen, maka hilanglah wajah-wajah mahasiswa di layar komputer, lalu kita berbicara sendiri di depan monitor, berbicara seperti orang “kurang waras” karena tidak ada orang lain di dekat kita, hehe.

mhs2

Ada rasa yang hilang di kelas onlen. Sentuhan humanistik tidak tergantikan dengan mengajar secara onlen meskipun kita sudah membuat video kuliah semenarik dan sebagus apapun.

Mengajar tatap muka secara langsung di kelas nyata tetaplah yang terbaik. Pandemi corona di satu sisi telah menghapus aneka rencana dan kegiatan berjumpa dengan anak didik di kampus. Di sisi lain masa pandemi membuat kita merenung kembali pentingnya hubungan antar manusia, betapa hubungan antar manusia secara langsung tetap tidak tergantikan dengan teknologi.

Ah, kangen suasana kelas lagi, bertatap muka dengan para mahasiswaku. Miss you my students. ?

Written by rinaldimunir

October 6th, 2020 at 9:32 am

Sidang Tugas Akhir Mahasiswa Angkatan Corona

without comments

Mahasiswa yang lulus sidang skripsi/tugas akhir (TA) dan disiwisuda saat pandemi wabah masih berlangsung mungkin dapat disebut angkatan corona. Mereka sidang TA secara daring dan wisuda secara daring pula. Hal ini karena kampus-kampus ditutup, pertemuan tatap muka ditiadakan, dan semua aktivitas akademik dilakukan secara daring gegara wabah virus corona. Mahasiswa dan dosen tetap berada di tempat tinggalnya masing-masing. Semua terhubung secara virtual. Kuliah , seminar, sidang, rapat, dan wisuda dilakukan secara virtual.

Sebelum ini kita sudah merasa nyaman semua aktivitas dilakukan dengan bertemu secara fisik, namun semua berubah setelah negara api menyerang…eh salah, setelah virus corona menyerang. ?

Untung zaman modern ini ada internet sehingga semua kegiatan akademik, termasuk sidang TA, tetap bisa berjalan sebagaimana biasa. Soal apakah efektif atau tidak, itu soal lain.

Saya akan menceritakan pengalaman saya melakukan sidang tugas akhir, tesis, dan disertasi mahasiswa secara daring. Jika secara luring (offline) sidang dilakukan di dalam ruangan tertutup, dihadiri oleh mahasiswa yang disidang, dosen penguji, dan dosen pembimbing, maka secara virtual sidang dilakukan di dalam sebuah meeting room virtual yang dibuat (create) terlebih dahulu menggunakan aplikasi video conference seperti Zoom atau Google Meet (kami menggunakan Google Meet dengan pertimbangan lebih “murah” dan  fleksibel dibandingkan Zoom). Waktu dan tanggal sidang pun sudah ditetapkan dengan menggunakan aplikasi Calender di Google.

Dosen dan mahasiswa bertemu di ruang virtual ini. Tautan (link) ke meeting room sudah dibagikan jauh-jauh hari kepada dosen pembimbing, dosen penguji, dan mahasiswa melalui surel. Saat waktu sidang tiba, klik tautan tersebut untuk join dan ruang sidang pun muncul di layar komputer menghadirkan semua peserta sidang (dosen dan mahasiswa). Bagi dosen yang tidak ingin wajahnya ditampilkan maka kamera di komputernya bisa dimatikan.

sidang1

Tatacara sidang TA secara virtual dilakukan persis sama seperti sidang secara luring. Ada pembukaan, presentasi dari mahasiswa, tanya jawab dari dosen penguji, penilaian hasil sidang secara tertutup, dan pembacaan hasil sidang. Sesi penilaian secara tertutup oleh dosen penguji dan pembimbing dilakukan dengan cara meminta mahasiswa meninggalkan (left) meeting room virtual untuk kemudian dipanggil lagi (melalui whatsapp) dan disuruh join video conference kembali setelah sesi penilaian tertutup selesai. Hal ini persis seperti pada sidang secara luring, mahasiswa diminta keluar ruang sidang, lalu kemudian dipanggil masuk kembali untuk mendengarkan pembacaan hasil sidang. Proses sidang dapat direkam (REC) jika sewaktu-waktu dibutuhkan untuk melihat kembali pelaksanaan sidang.

sidang2

(Keterangan gambar: Dua buah skrinsut yang saya tampilkan di bawah ini adalah dua orang mahasiswa saya yang sidang TA. Posisinya sedang berada di Singaraja (Bali), satu lagi di Medan, sedangkan dosen pembimbing dan dosen penguji berada di rumahnya Bandung).

Lalu, bagaimana pengisian form penilaian sidang yang biasanya pada sidang secara luring menggunakan form kertas? Mudah saja. Semua form penilaian dan beriata acara sidang diubah formatnya menjadi format digital  menggunakan aplikasi Google Form yang dapat diakses secara daring pula. Dosen pembimbing dan penguji tinggal mengisi form tersebut dari komputernya masing-masing. Berita acara sidang yang berisi catatan perbaikan dikirim secara otomatis ke surel mahasiswa.

Bagaimana dengan naskah TA mahasiswa, apakah perlu dikirim ke rumah dosen dalam bentuk hard copy atau soft copy-nya dikirim melalui surel? Tidak perlu. Merepotkan saja. Semua naskah TA mahasiswa yang sidang pada periode ini disimpan di dalam Google Drive. Dosen cukup mengklik tautan Google Drive yang berisi soft copy TA tersebut, tinggal diunduh atau cukup dibaca saja.

Lihat, semua proses, baik sebelum dan selama pelaksanaan sidang, dilakukan secara daring, tanpa kertas (paperless), dan sangat mangkus (efisien). Aplikasi yang disediakan Google sangat bermanfaat, mulai dari aplikasi Calender untuk menetapkan waktu sidang, Google Form untuk membuat form penilaian, Google Meet untuk melakukan video conferebce, dan Google Drive untuk menyimpan dokumen TA.

Ke depan, meskipun pandemi corona nanti sudah berakhir dan aktifitas temu fisik kembali berjalan, saya pikir sidang secara daring ini akan menjadi model yang dapat diteruskan. Dosen dan mahasiswa tidak perlu hadir di kampus. Semua form dan dokumen tersedia secara daring. Tatacara sidangnya sama seperti sidang secara luring.

Memang semua orang di dalam sidang  tidak hadir secara fisik, tetapi secara virtual saja.  Apalah bedanya. Jauh secara fisik, namun tetap berdekatan secara niskala.

Selama sidang secara virtual saya tidak harus berada di depan laptop terus menerus. Saya bisa pergi sebentar ke dapur mengambil kudapan, membuat minuman, atau menengok anak di dalam kamarnya, lalu balik lagi ke meja laptop mendengarkan mahasiswa presentasi atau dicecar pertanyaan oleh dosen penguji. Sersan. Serius tapi santai.  ?

Written by rinaldimunir

June 18th, 2020 at 8:56 pm

Kreatifitas Kuliah di tengah Pandemi Corona

without comments

Wabah virus corona di Indonesia telah memaksa sekolah-sekolah dari TK hingga perguruan tinggi “diliburkan”. Sebenarnya tidak diliburkan dalam arti sebenarnya, siswa/mahasiswa tetap belajar dari rumah secara daring (online). Kuliah tatap muka diganti dengan kuliah dengan menggunakan Internet.

Di ITB kuliah tatap muka sudah berjalan selama 10 minggu. Pekan Ujian Tengah Semester (UTS) pun sudah selesai. Tersisa kuliah selama lima minggu lagi. Kampus ditutup mulai tanggal 16 Maret 2020. Aktivitas perkuliahan secara tatap muka dihentikan,  dosen dipersilakan melakukan perkuliahan (termasuk bimbingan tugas akhir) dengan menggunakan segala perangkat TIK (teknologi informasi dan komunikasi) yang ada. Silakan menggunakan email, Whatsapp, Facebook, YouTube, atau aplikasi online meeting seperti Zoom, Webex, Google Meet, dan lain-lain.

Masing-masing aplikasi memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Aplikasi Zoom misalnya, kualitasnya video conference-nya bagus, namun memakan pulsa internet yang besar. Saya merasa kasihan saja dengan kantong mahasiswa. Memakai Zoom bisa menguras pulsa internet mahasiswa yang rata-rata fakir kuota. Seorang teman melakukan survey kepada mahasiswanya setelah melakukan kuliah daring selama dua jam menggunakan Zoom. Ternyata mahasiswa membutuhkan lebih dari 300 MB untuk pertemuan kuliah daring. Kalau tersedia akses wifi yang unlimited, apalagi gratis, tentu tidak masalah habis pulsa internet seberapapun.

Dari yang saya amati, banyak dosen (dan juga guru sekolah) yang gagap menyiapkan kuliah secara daring. Wajar saja, ini kasus pertama kali terjadi. Selama ini para dosen di Indonesia sudah merasa nyaman mengajar secara tradisionil yaitu kuliah tatap muka. Ketika terjadi penyebaran wabah penyakit seperti virus corona ini sehingga kuliah tatap muka dihentikan dan diganti dengan kuliah daring, banyak dosen kita yang belum siap.

Namun, keadaan terpaksa ini justru membuat para dosen harus meluangan waktu belajar menggunakan berbagai aplikasi TIK untuk tetap memberikan layanan perkuliahan dan bimbingan tugas akhir, tesis, dan disertasi kepada mahasiswa.

Saya sendiri memutuskan tidak menggunakan aplikasi pertemuan daring seperti Zoom, Google Meet, Webex, dan sebagainya untuk melaksanakan perkuliahan daring dengan berbagai pertimbangan. Sebagai gantinya, saya membuat video-video kuliah yang saya unggah ke Youtube. Video kuliah tanpa wajah saya di sana, dibuat dengan menggunakan aplikasi Power Point. Saya sudah memiliki PPT materi kuliah, jadi dengan PowerPoint saya merekamnya menjadi video bersuara, seolah-olah saya sedang mengajar materi tersebut.

Silakan kunjungi kanal saya di YoutTube dengan meng-klik tautan ini untuk mengakses video-video kuliah yang saya buat bersama dengan teman-teman dari tim kuliah yang kami ampu:

https://www.youtube.com/channel/UCBiY3GSJuQGGjNAdV8JebSQ

Dengan menunggah video-video kuliah tersebut di YouTube, mahasiswa dapat memutarnya berkali-kali jika belum mengerti.  Saya juga meniatkan membagikannya kepada mahaiswa lain di luar ITB dan juga buat umum yang ingin belajar materi kuliah kami. Semoga bermanfaat buat pendidikan bangsa ini.

Written by rinaldimunir

April 9th, 2020 at 8:51 pm

100 Tahun Kampus ITB

without comments

Tahun ini merupakan tahun yang istimewa bagi kampus saya, Institut Teknologi Bandung. Pada tahun 2020 ini kampus ITB berusia tepat satu abad. Seratus tahun. Kampus ITB didirikan pada zaman kolonial Belanda pada tahun 1920. Memang dulu namanya bukan ITB, tetapi Technische Hoogeschool (TH). ITB sendiri baru diresmikan pada tahun 1959 oleh Presiden Soekarno (baca: Foto-foto Peresmian ITB Tahun 1959 oleh Bung Karno).  Namun, baik TH ataupun ITB kampusnya ya disitu juga, di Jalan Ganesha nomor 10. Makanya saya menyebutnya sebagai 100 tahun “kampus ITB”, bukan 100 tahun ITB itu sendiri.

Aula Barat ITB tahun 1920

Aula Barat ITB saat ini (Sumber foto dari sini)

Kampus ITB (atau TH) dibuka pertama kali tanggal 3 Juli 1920. Inilah kampus pendidikan teknik pertama di Hindia Belanda yang berlokasi di kota Bandung.

Upacara pembukaan Technische Hoogeschool te Bandoeng pada hari Sabtu, 3 Juli 1920 di Barakgebouw B (sekarang Aula Timur ITB). Sumber foto dari sini.

Satu tahun kemudian, TH melakukan dies natalis atau ulang tahun pertama yang diisi dengan orasi ilmiah oleh Prof. Ir. R. L. A. Schoemaker  berjudul “Constructie, doelmatigheid en schoonheid in de bouwkunde” (Konstruksi, efisiensi, dan keindahan dalam bangunan).

Dies Natalis ke-1 Technische Hoogeschool te Bandoeng 2 Juli 1921 di Barakgebouw A (Aula Barat ITB) Sumber foto dari sini.

Kampus TH Bandung dilihat dari IJzermanpark (Taman Ganesha), dari kiri ke kanan adalah Barakgebouw A (Aula Barat), kantor Sekretaris TH (sekarang Kantor Dekan FTSL), gerbang utama, kantor Pedel TH (sekarang Kantor Dekan FSRD), dan Barakgebouw B (Aula Timur), tampak di kejauhan searah garis lurus poros tengah kampus adalah Gunung Tangkuban Parahu. Sumber foto dari sini.

Jika Anda ingin membaca sejarah lengkap TH hingga menjadi kampus ITB, lengkap dengan daftar mahasiswa pada tahun 1920, 1921, dan seterusnya (termasuk mahasiswanya yang kelak menjadi pemimpin bangsa, yaitu Soekarno), silakan baca tulisan yang sangat runtut ini:  Technische Hoogeschool te Bandoeng.

Kampus ITB pada tahun 1925

Kampus ITB pada tahun 1925. Entah bagaimana cara memotret kampus ini dari udara, rasanya belum ada pesawat pada tahun tersebut.

Bagi alumni ITB, menjadi kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri bisa berkuliah di kampus bersejarah ini. Sekali pernah kuliah di kampus Ganesha, maka mereka tidak akan pernah bisa lupa kenangan suka dan duka semasa menjadi mahasiswa. Setiap kali menginjakkan kaki kota di Bandung, mereka selalu menyempatkan diri berkunjung ke kampus untuk mengenang masa-masa itu. Itulah almamater, ibu yang selalu dikunjungi oleh anak-anaknya.

Sekarang kampus ITB tidak hanya ada di Jalan Ganesha, tetapi sudah berkembang menjadi multi kampus. Ada kampus ITB Jatinangor, kampus ITB Cirebon, dan yang akan dibangun adalah kampus ITB Walini. Dua kampus di Jatinangor dan Cirebon sudah memiliki mahasiswa untuk program studi baru maupun program studi “kelas jauh”. Kampus di Walini masih berupa lahan hijau. Kampus di Bekasi masih berupa ide meskipun lahannya ada.

Selamat ulang tahun satu abad kampus almamaterku, Institut Teknologi Bandung.

Written by rinaldimunir

January 31st, 2020 at 8:55 pm

Posted in Seputar ITB

Ber-“lu gue” di Kampus

without comments

Ketika saya berada di kampus UKSW Salatiga mengisi sebuah seminar, terdengar mahasiswa ngobrol dengan sesamanya menggunakan kata “kau” dan “aku”.  Tampaknya mereka belum terkontaminasi pergaulan anak muda Jakarta yang pakai sapaan “elo”,”lo” “elu”, “lu”, “gua”, “gue, “gw”.

Di kampus saya di ITB  sudah jarang saya mendengar mahasiswa memakai kata “saya”, “kamu”, “kau”, “aku” ketika mengobrol sesamanya.  Sudah saling pakai kata  “elo”,”gua”, dan sejenisnya, meskipun mereka bukan dari Jakarta dan sekitarnya. Mahasiswa dari daerah Jawa dan luar Jawa pun sudah biasa saja bersaling sapa dengan kata elo gua tersebut. Enakan saja tampaknya. Saya kurang tahu apakah di kampus  lain di Bandung seperti UNPAD, UPI, Telkom University, Unpar, dan lain-lain juga seperti di ITB. ITB sebagai kampus nusantara, yang mana mahasiswanya berasal dari Sabang sampai Merauke, pergaulan mahasiswanya ternyata tidak dipengaruhi oleh kultur Sunda, malah budaya dan gaya pergaulan anak Jakarta, khususnya dalam bercakap-cakap.

Kota Bandung yang dekat dengan Jakarta sudah biasa terimbas style dan gaya pergaulan dari Jakarta, termasuk soal sapaan tadi. Mahasiswa-mahasiswa sesama anak muda, tidak peduli dari daerah mana, cenderung bertutur kata seperti gaya Betawi. Bahkan anak saya yang dibesarkan di tanah Parahyangan dan baru masuk ITB tahun ini pun sudah ber-elu gua kepada sesama temannya di kampus. Terdengar oleh saya dari kamarnya dia berbicara dengan temannya lewat hape memakai sapaan lu  gua. ?

Saya masih ingat dulu saat saya jadi mahasiswa ITB, teman-teman saya sudah biasa memanggil dengan kata elo gua itu, saya saja yang masih polos sebagai mahasiswa asal daerah masih ber-saya kamu, he..he. Sampai sekarang pun begitu, merasa aneh saja kalau saya juga menggunakan sapaan lo gua itu kepada orang lain. Tetap ber-saya kamu, tetap dengan jatidiri saya sebagai orang rantau yang tidak terpengaruh gaya Jakarta.

Written by rinaldimunir

December 19th, 2019 at 4:55 pm

Posted in Seputar ITB

Mahasiswa Depresi dan Bunuh Diri

without comments

Beberapa hari yang lalu ada peristiwa yang cukup menggemparkan warga kampus Ganesha ITB. Seorang mahasiswa S2 di kampus kami meninggal dunia di kamar kosnya karena bunuh diri (baca beritanya di sini). Siapa sangka, mahasiswa yang cerdas, berprestasi, ternyata mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis seperti itu. Di dalam blognya dia menulis sudah lama mengalami depresi dan sudah punya keinginan untuk melakukan bunuh diri. Membaca tulisannya di blog sungguh membuat hati terenyuh.

Depresi. Aku pernah merasakan depresi. April 2018 lalu aku ke psikolog mengikuti konseling karena depresi. Aku merasakan depresi dan terus berpikir untuk bunuh diri.

….

Dua belas atau tiga belas tahun yang lalu aku mendapat peringkat pertama Olimpiade Sains Nasional tingkat SD di bidang IPA. Karena prestasi itu aku mendapatkan beasiswa di SMP Semesta Semarang, sebuah sekolah swasta berasrama. Kemudian aku melanjutkan pendidikan di SMA Mustafa Germirli di Kayseri, Turki. Setelah 4 tahun SMA aku lalu melanjutkan kuliah di ITB mengambil jurusan Teknik Elektro. Juli 2018 lalu aku lulus menjadi ST.

Apakah aku masih depresi? Aku tidak tahu. Ingin aku katakan kalau aku sudah tidak lagi merasakan depresi. Aku sudah tidak merasa sesedih April 2018 lalu. Namun bagaimana aku bisa tahu? Bagaimana aku tahu kalau nanti malam, atau besok, atau lusa aku tidak akan melompat dari gedung atau menggantung diri atau memutus nadi. Bagaimana aku bisa tahu?

Aku tidak tahu.

Namun yang aku tahu sekarang adalah aku punya kedua orang tua yang mendukungku. Aku tahu ada adik-adikku melihatku dari jauh. Aku tahu ada teman-teman dan Bapak Ibu dosen dan staff yang mengenalku. Dan yang paling penting ada seseorang yang menghangatkan hatiku. Selama ada mereka mungkin aku tidak akan bunuh diri. Karena aku ingin membuat mereka bahagia.

….

Dalam hidupku aku bukanlah orang yang punya banyak teman. Aku tidak pandai bergaul. Keberadaan sesorang dan ketiadaan sesorang sangat berarti bagiku. Maka dari itu aku takut.

Aku takut kalau selama ini aku terlalu clingy kepada orang-orang yang mengenalku. Aku takut sendirian. Ketika aku depresi aku merasa sangat sendirian. Tidak ada yang dapat aku ajak curhat. Tidak ada yang dapat aku peluk. Tidak ada yang bilang kepadaku kalau dia mengerti dan mau menenangkanku.

Saat aku depresi aku merasakan ketiadaan itu jauh lebih baik dari pada keberadaan. Setiap waktu yang berlalu terasa menusuk. Pekerjaan semuanya tertunda. Apapun tidak ingin dilakukan. Yang diinginkan adalah ketiadaan.

….

Saya tidak habis pikir dan tidak mengerti mengapa almarhum mengambil jalan pintas yang sesat itu? Saya bisa membayangkan betapa hancur dan sedih hati ayah dan ibunya mendapat kenyataan pahit seperti ini. Padahal orangtuanya selalu mendukungnya seperti yang dia tulis di atas.

Saya sudah sering membaca berita mahasiswa melakukan bunuh diri di berbagai kampus. Apakah masalah perkuliahan di kampus yang menjadi penyebab mahasiswa bunuh diri? Saya tidak percaya. Saya yakin sebagian besar faktor penyebab bunuh diri itu bukan karena masalah akademik, tetapi masalah non akademik yang mengganggu pikirannya, seperti masalah dengan pacar, orangtua, keluarga, mengidap penyakit menahun, halusinasi pikiran-pikiran burruk, dan lain sebagainya. Masalah non akademik ini mengakibatkan stres dan depresi yang berkepanjangan, lalu jalan pintasnya bunuh diri. Sayang sekali, kita kehilangan satu generasi, lost generation.

Sebagai dosen kita tidak hanya melihat mahasiswa dari sisi akademik semata. Kalau ada mahasiswa yang sudah aneh-aneh sikapnya, stres, depresi, dsb, maka mahasiswa ini perlu diperhatikan lebih intens, kalau perlu dilakukan pendampingan agar dia tidak sendirian. Early warning perlu kita tindak lanjuti.

Di sisi lain teman-teman sesama mahasiswa juga perlu bersikap peduli dengan temannya yang bermasalah. Jangan cuek. Kesibukan kuliah yang padat jangan sampai menjadi alasan untuk memperhatikan orang lain. Sesibuk apapun sempatkanlah memperhatikan teman. Sharing is caring.

Saling membantu itu indah. Anda tidak perlu merasa terbuang waktu karena telah menaruh kepedulian kepada sesama. Waktu yang terbuang tidak sebanding dengan generasi yang hilang.

Written by rinaldimunir

September 6th, 2019 at 11:31 am

Lorong dan Pilar di Kampus ITB

without comments

Kampus ITB di Jalan Ganesha adalah kampus yang indah dan unik. Banyak bangunan heritage yang dibangun pada zaman Belanda sejak tahun 1920. Sebut saja Aula Barat, Aula Timur, Gedung Teknik Sipil, Gedung Fisika, Gedung Teknik Lingkungan, dan Gedung LFM. Semuanya adalah bangunan tua dengan atap berupa kayu sirap. Dua tahun lagi, pada tahun 2020 ITB genap berusia 100 tahun.

Aula Barat ITB

Bangunan baru di dalam kampus dibuat kompatibel dengan bangunan lama. Salah satu unsur yang dipertahankan pada bangunan baru adalah pilar-pilar bulat yang tersusun dari batu kali dan direkat dengan semen sehingga tampak alami. Pilar-pilar itu menyangga atap bangunan. Pilar-pilar itu ada yang dibuat berpasangan kiri dan kanan sehingga membentuk lorong. Kalau kita berjalan di dalam lorong itu, kita seakan-akan menapaki perjalanan sejarah.

Di bawah ini adalah lorong dengan pilar-pilar penyangga di Gedung Teknik Sipil yang terletak di belakang Aula Barat. Ketika anda melewati lorong Teknik Sipil ini, seakan-akan anda menapaktilasi langkah kaki Soekarno ketika dia berjalan di lorong yang sama saat kuliah di sini pada tahun 1920-an. Ya, Soekarno adalah alumni Teknik Sipil ITB tahun 1920-an. Waktu Soekarno kuliah tahun 1923 di ITB hanya ada beberapa gedung saja, antara lain  Aula Barat, Teknik Sipil, dan Gedung Fisika. Praktis Soekarno bolak-balik kuliah ke gedung-gedung tersebut melewati lorong ini.

Pilar-pilar dari susunan batu yang menyangga atap bangunan di Gedung Teknik Sipil

Berjalan terus dari lorong ini ke arah utara kita melewati lorong di Gedung Fisika. Lantainya adalah marmer jadul, dan di sebelah kiri adalah dinding atau tembok untuk menempel pengumuman nilai ujian Fisika. Mahasiswa menyebut tembok ini sebagai tembok ratapan. Pilar-pilar yang sama seperti di Aula Barat dan Gedung Teknik Sipil berdiri diam membisu. Pilar-pilar itu sudah berdiri di sana sejak tahun 1920-an.

Lorong Fisika yang sepi, ditinggal para mahasiswa yang mudik. Sebelah kanan adalah “tembok ratapan” mahasiswa TPB. Lantai marmer nya yang membuat jalan bergoyang masih terjaga keasliannya sejak tahun 1920.

Terus berjalan lagi ke utara, kita akan melewati lorong yang menghubungkan Gedung Fisika dengan Gedung Labtek V. Gedung LabTek adalah gedung yang relatif baru usianya, yaitu dibangun tahun 1994. Namun, gedung ini dibuat sedemikian rupa sehingga tetap mewarisi aura atau “ruh” Aula Barat. Pilar-pilar batu berdiri dengan anggunnya seakan menyapa kita yang melewatinya.

Lorong yang menghubungkan Gedung Fisika dengan LabTek V

Gedung LabTek V, VI, VII, dan VIII serupa bentuknya. Bangunan berlantai 4 itu disangga dengan pilar-pilar batu. Saat berjalan di lorong yang berjejer dengan pilar-pilar batu itu saat kampus sedang sepi, dari ujung ke ujung, kita seolah berjalan menuju sebuah titik yang konvergen.

Saat kampus sedang sunyi, berjalan di lorong LabTek V ini seakan menuju ke sebuah titik fokus.

Semua pilar-pilar batu di dalam kampus dihiasi dengan kembang stepanut  yang menjalar dan bergelayutan. Pada Bulan Agustus, bunga-bunga yang berwarna oranye dari kembang stepanut bermekaran dengan indahnya.

Bunga-bunga di setiap pilar

Duh, cantiknya…

Kembang stepanut yang cantik di pelataran antara LabTek V dan LabTek VI (depan kolam “Indonesia Tenggelam”)

Kembang agustusan bermekaran di Tugu Kubus di depan Taman Ganesha

Semua lorong di dalam kampus berawal dari pintu gerbang utara, dan berakhir di gerbang selatan. Setiap gedung dari utara ke selatan terhubung oleh lorong-lorong dengan pilar batu yang artistik dan alami, sehingga tidak ada alasan mahasiswa kehujanan untuk mencapai gedung manapun di dalam kampus.

Written by rinaldimunir

July 9th, 2018 at 3:35 pm

Posted in Seputar ITB