if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Seputar Informatika’ Category

Kabar Bahagia dari Mahasiswaku

without comments

Seorang guru atau dosen di manapun pasti merasa bahagia mendengar muridnya berhasil dalam pendidikan atau karirnya. Meski bukan suatu keharusan bagi mereka memberi kabar bahagia, namun adakalanya beberapa mahasiswaku mengirim kabar bahagia melalui surel atau pesan di whatsapp. Sekedar berbagi kabar gembira itu, mungkin.

Seperti dua kabar berikut ini.

Yth.

Bp. Rinaldi Munir

di tempat

Dengan hormat,

dengan diselenggarakannya acara wisuda pada hari ini, saya, …….. (nama sengaja dirahasiakan, Red) — yang juga merupakan mahasiswa perwalian Bapak sewaktu S1 — hendak mengucapkan terima kasih. Saya berterima kasih atas bimbingan Bapak selama 3 tahun saya berkuliah di informatika ITB. 

Selain itu, seperti yang mungkin sudah Bapak ketahui, saya akan melanjutkan studi PhD ke University of Trento. Terkait hal tersebut, Bapak merupakan orang pertama yang saya mintai pendapat terkait profesi dosen, yang tentunya berperan dalam keputusan saya apply studi lanjut. Saya berterima kasih atas pendapat/ referensi/ nasihat yang Bapak berikan pada waktu itu.

Akhir kata, saya juga mohon maaf apabila selama menjadi mahasiswa perwalian Bapak ada kesalahan yang pernah saya lakukan. Saya berdoa agar Bapak sehat selalu dan terus menginspirasi.

Alhamdulillah, saya ikut senang membaca surat tersebut. Sejak dia kuliah di Informatika ITB, saya tahu sekali dia seorang anak perempuan yang sangat cerdas. Kalau duduk selalu paling depan di ruang kuliah, mendengarkan dosen menjelaskan materi kuliah dengan seksama, sekali-sekali dia mencatat pada buku catatannya. Tekun sekali. Kalau berpapasan dengan dosen di jalan dia selalu menyapa dengan santun. Setela menempuh program fastrack (S1 dan S2 sekaligus) di ITB selama 4 + 1 tahun, dia mendapat beasiswa untuk melanjutkan ke level pendidikan yang lebih tinggi, S3, di Italia.

Ah, bahagia sekali mendengarnya….

Kabar bahagia kedua saya terima baru-baru ini dari seorang mahaisswa saya yang pernah menjadi asisten lab. Dia mengabarkan melalui aplikasi perpesanan, whatsapp:

+ Assalamu’alaikum Pak Rinaldi, selamat sore. Semoga Bapak sehat selalu.

+ Pak Rinaldi, saya mohon izin update terkait status pendaftaran program PhD saya

+ Alhamdulillah, saya menerima 6 Letter of Acceptance dari 14 kampus yang saya daftar : University of Illinois Urbana Champaign, Purdue, Penn State, UC Santa Barbara, Virginia Tech dan SUNY Stony Brook

+ Syukur juga Pak saya diterima di pilihan pertama saya (Illinois), jadi Insya Allah saya akan lanjut PhD di Illinois

+ Untuk program PhD di Illinois dijamin funded selama keberlangsungan programnya Pak. Jadi, saya tidak perlu untuk apply beasiswa semacam LPDP/Fullbright.

+ Insya Allah saya akan berangkat ke US bulan Juli/Agustus tahun ini.

+ Terima kasih banyak Pak atas bantuan dan bimbingannya selama studi saya di ITB 🙏🙏

Alhamdulillah. Saya merasa ikut senang dan terharu. Mudah-mudahan dia sukses menempuh studi PhD di kampus yang diidamkannya di Amerika. Seperti mahasiswiku di atas, saya mengenalnya sebagai mahasiswa yang antusias belajar. Duduk selalu paling depan di ruang kuliah. Sejak menjadi mahasiswaku, sudah terlihat ketertarikannya dalam bidang keilmuan. Karena minatnya yang kuat dengan keilmuan dan riset, saya memilihnya menjadi asisten mata kuliah yang saya ampu. Sekarang dia berjodoh dengan program PhD di Amerika dan akan melakukan riset di sana.

Dari kedua tulisan (surel maupun whatsapp) yang dikirim kepada saya itu, terlihat sekali adab mereka yang sangat baik. Betul kata orang-orang bijak, dalam menuntut ilmu kepada guru, adab dulu yang didahulukan, baru ilmu. Beruntunglah kami memiliki mahasiswa-mahasiswa yang tidak hanya cerdas tetapi juga baik etikanya.

Itu hanyalah beberapa kabar bahagia yang saya terima dari mahasiswa-mahasiswa saya. Masih banyak lagi, semuanya terekam dengan jelas dalam ingatan saya.

Murid harus lebih maju dari gurunya. Mahasiswa harus lebih pintar dari dosennya. Mereka berhasil, kami pun ikut bahagia.

Written by rinaldimunir

April 17th, 2022 at 11:39 am

Kuliah Luring Perdana Setelah 1,5 Tahun Pandemi

without comments

Hari Selasa tanggal 2 November 2021 merupakan hari yang “bersejarah” bagi sebagian mahasiswa Teknik Informatika STEI-ITB angkatan 2020. Karena, pada hari tersebut dilaksanakan kuliah tatap muka pertama kali bagi mereka setelah satu tahun lebih sejak TPB mereka kuliah secara onlen (daring) terus.

Alhamdulillah saat ini kondisi pandemi corona di Indonesia sudah mulai mereda. Jumlah kasus positif dalam dua bulan ini menunjukkan penurunan signifikan, kurang dari 1000 kasus setiap hari. Jumlah kasus yang yang sembuh lebih banyak daripada kasus positif, begitu juga jumlah kematian juga menurun drastis. Vaksinasi semakin gencar dilakukan di mana-mana. Mungkin juga  saat ini sudah terbentuk herd immunity di dalam masyarakat sehingga kasus-kasus positif semakin menurun. Wallahualam.

Pemerintah pun mulai melonggarkan aktivitas yang selama ini ditutup atau dibatasi, antara lain aktivitas dalam bidang pendidikan. Sekolah-sekolah sudah mulai dibuka secara bertahap, kampus pun menggeliat  dengan membuka kembali aktivitas perkuliahan terbatas seperti praktikum,studio, kuliah lapangan, dan kuliah tatap muka.

Ketika ada edaran kuisioner dari Kaprodi Informatika tentang kesediaan dosen untuk mengajar perkuliahan secara luring (offline) setelah dilaksanakan UTS, saya menyatakan kesediaan untuk mengajar kembali di kampus. Ada beberapa pertimbangan mengapa saya bersedia mengajar. Pertama, saya ikut merasakan kesedihan angkatan mahasiswa 2020 yang sejak diterima sebagai mahasiswa ITB, mereka belum pernah sekalipun merasakan kuliah tatap muka di kelas-kelas di kampus Ganesha. Jangankan kuliah, menginjakkan kaki di kampus Ganesha pun sebagian besar belum pernah.

Alasan kedua, selama hampir dua tahun kampus ITB kehilangan iklim akademik yang menjadi ciri khasnya. Sebelum pandemi, kita dapat melihat betapa suasana akademik di kampus ITB terlihat hidup. Dengan luas kampus yang kecil kita dapat menyaksikan mahasiswa-mahasiswa yang asyik belajar dan mengerjakan tugas-tugas kuliah di bangku-bangku taman, di kantin-kantin, di meja-meja belajar ruang terbuka, di lantai-lantai gedung, di perpustakaan, di sekre unit dan sekre himpunan. Di dalam lab terlihat mahasiswa mengerjakan praktikum. Di ruang lain berlangsung seminar-seminar, diskusi, dan pertemuan ilmiahnya. Tidak hanya pagi sampai sore hari, bahkan sampai malam hari pun kampus tetap hidup dengan mahasiswa-mahasiwa yang sepertinya enggan untuk pulang ke kosannya. Kampus ITB memang tempat yang kondusif untuk belajar. Namun semua pemandangan tersebut lenyap begitu saja saat negara api menyerang, eh…saat virus corona menyerang. Pandemi corona memaksa kampus menutup  dirinya, mahasiswa pulang kampung, perkuliahan dan aktivitas lainnya dilakukan secara daring.

Alasan ketiga lebih pada diri saya sendiri. Saya dosen yang senang mengajar. Dunia pendidikan adalah dunia saya sejak lama. Mengajar secara tatap muka di kelas bagi saya tidak tergantikan dengan kuliah secara daring. Ada kebahagiaan tersendiri selesai mengajar, senang melihat mereka paham, mengerti, dan mendapat pencerahan. Ada dialog dan narasi yang dibangun selama kuliah tatap muka. Kalau kuliah secara daring kita tidak dapat melihat wajah-wajah mahasiswa yang mangut-mangut melihat penurunan rumus, atau celutukan seperti “oooo… begitu caranya” ketika kita menjawab soal yang sulit di papan.

Singkat cerita, saya pun mulai mensurvei mahasiswa pada mata kuliah yang saya ampu, siapa saja yang ingin kuliah secara luring di kampus semester ini. Sebelumnya, Kaprodi Informatika juga sudah mensurvei  mahasiswa IF tentang kuliah luring, ternyata 63 persen mahasiswa IF siap untuk ikut kuliah luring. Dari mahasiswa IF 2020, ada 70 orang yang secara tentatif ingin kuliah luring. Karena kapasitas kelas selama adaptasi kebiasan baru dibatasi jumlahnya, maka jumlahnya dbatasi maksimal 34 orang saja. Jumlah 34 orang tersebut adalah kapasitas untuk ruang 7602, ruang kuliah terbesar di LabTek 5. Peminat kulah luring tidak hanya dari kelas K1 yang saya ampu, tetapi juga dari kelas paralel lain, K2 dan K3 setelah dikoordinasikan dengan dosen pengampu setiap kelas. Seluruhnya ada sekitar 30-an mahasiswa yang ingin kuliah luring di LabTek 5.

Kuliah luring  yang saya ampu adalah IF2120 Matematika Diskrit (Matdis) dan IF2123 Aljabar Linier dan Geometri (Algeo). Kuliah Matdis hari Selasa sore dan kuliah Algeo hari Rabu siang. Kuliah akan dilaksanakan secara bauran (hybrid), sehingga mahasiswa yang kuliah daring di rumah pun bisa bergabung dengan teman-temannya yang kuliah luring di kampus. Untuk itu digunakan peralatan yang dapat memfasilitasi kedua cara perkuliahan tersebut.

Saya datang ke kampus dua jam sebelum kuliah berlangsung. Saya harus mempelajari dulu cara menggunakan peralatan  yang terdiri dari kamera, dua monitor besar yang terhubung dengan komputer dan akses internet. Satu jam perlu waktu untuk belajar cara menggunakannya. Saya dibantu oleh pegawai Duktek, Pak Sudiarto, Pak Syamsudin, dan Pak Cece dalam menggunakan peralatan canggih ini. Mereka pun juga sambil belajar menggunakannya karena peralatan kuliah bauran ini memang baru dibeli dan baru dipasang. Menurut info peralatan kuliah bauran ini sangat mahal harganya.

Satu monitor besar dari Huawei di depan kelas digunakan untuk menampilkan slide PPT yang di-share dengan platform Zoom, sedangkan satu monitor besar yang lain digunakan untuk menampilkan mahasiswa-mahasiswa yang kuliah daring di rumah.  Sebuah kamera yang dapat berputar secara otomatis dipasang di depan untuk menayangkan gambar dosen secara live yang mengajar di depan monitor Huawei.

Jam 16.00 kurang mahasiswa sudah masuk ke dalam ruangan 7602. Mereka sudah mendapat izin masuk kampus, sudah divaksin, sudah mengisi AMARI, memakai masker. Saya kira mereka ini mahasiswa yang berasal dari Bandung Raya, ternyata banyak juga yang berasal dari Jakarta, Jawa Tengah, Padang, dan lain-lain.  Rupanya mahasiswa asal luar Bandung ini sudah beberapa bulan kos di Bandung.  Jadi, mereka bukan mendadak ada di Bandung karena ingin ikutkuliah luring.

Jam 16.00 kuliah perdana secara bauran (onlen dan oflen sekaligus) dimulai. Mahasiswa IF 2020, yang sama sekali belum pernah merasakan kuliah di kampus Ganesha sejak tingkat 1, terlihat sangat gembira bisa kuliah lagi secara luring. Gembira bisa bertemu dengan teman seangkatan.

Ruang besar 7602 ini biasanya saat normal bisa diisi sampai 120 hingga 140 mahasiswa, tetapi pada masa adaptasi kapasitasnya hanya 34 orang saja dengan jarak duduk 1,5 meter.

Kuliah berjalan dengan lancar. Satu monitor besar menampilkan share screen PPT, satu monitor lagi menampilkan mahasiswa yang kuliah onlen dari rumah. Mahasiswa yang di rumah bisa melihat dosen berdiri mengajar di kelas dan melihat teman-temannya di kelas. Begitu sebaliknya.

Alhamdulillah, STEI-ITB, sudah siap melaksanakan perkuliahan secara luring maupun bauran. Mohon doanya agar kuliah lancar sampai akhir semester, sehat, dan aman. Amiiin ya Allah.

Written by rinaldimunir

November 4th, 2021 at 10:00 am

Rindu Mengajar Lagi di Kampus

without comments

Jika ada yang saya rindukan saat ini adalah mengajar di kampus. Sudah hampir 12 bulan saya di rumah saja, mengajar dari rumah, bimbingan mahasiswa dari rumah, diskusi dari rumah, segalanya serba dari rumah. Mahasiswa pun begitu, kuliah dari rumahnya. Pandemi tampaknya masih lama, jadi keinginan mengajar di dalam kelas di kampus rasanya belum bisa terwujud saat ini. Kampus masih ditutup untuk perkuliahan dan praktikum.

mengajar1

Hanya beberapa kali saja saya masuk ke dalam kampus, itu pun hanya untuk mengambil buku di lemari ruangan kerja di lab, atau ke kantor fakultas memasukkan surat. Masuk kampus pun tidak bisa sesuka hati, ada prosedur yang harus ditempuh, mengisi form. Ya, bisa dimengerti, jika terjadi apa-apa di kampus, misalnya kasus positif covid, maka pelacakan dapat dilakukan dari daftar surat izin civitas academica yang masuk ke dalam kampus.

Bagi saya mengajar itu sangat menyenangkan dan memberikan kepuasan batin. Bisa berbagi ilmu dan membuat orang lain mengerti apa yang saya ajarkan itu sudah memberi kebahagiaan. Dunia saya itu adalah dunia pendidikan. Saya suka mengajar. Kalau tidak mengajar ya menulis. Itu dua passion yang saya miliki.

Bertemu dengan anak-anak muda yang haus ilmu pengetahuan bagi saya sangat menyenangkan. Memang mengajar secara onlen (daring) tetap dapat dilakukan, tetapi ada nuansa  yang hilang jika mengajar secara onlen. Saya tidak dapat melihat wajah-wajah mahasiswa yang terkejut ketika saya panggil namanya dan saya beri pertanyaan. Saya tidak bisa berbagi cerita-cerita menarik sebagai selingan supaya kelas tidak garing. Dan saya tidak bisa memberi hadiah seperti coklat atau brownis bagi mahasiswa yang mendapat nilai tertinggi. ?

mengajar4

mengajar3

Ketika beberapa kali masuk kampus untuk suatu urusan, saya longok kelas yang kosong, lab yang sunyi, dan lorong-lorong yang sepi. Tidak terdengar riuh rendah suara mahasiswa yang meramaikan lorong dan sudut-sudut selasar tempat mahasiswa belajar atau mengerjakan tugas seperti foto di selasar LabTek 5 di bawah ini. 

selasar1

selasar2

Tampaknya suasana seperti di atas tidak akan mungkin terwujud dalam satu dua tahun ini. Jika pun kampus sudah dibuka untuk perkuliahan tatap muka pada semester depan (mudah-mudahan, Amiin) tetap akan ada pembatasan-pembatasan aktivitas dan serba bergiliran daring dan luring.  Jadi, suasana seperti foto-foto di atas mungkin baru bisa terulang setelah corona benar-benar bisa diatasi. Untuk sementara cukuplah memasang foto kenangan di atas.

Written by rinaldimunir

February 19th, 2021 at 5:45 pm

Coklat untuk Mahasiswaku

without comments

Setiap menjelang akhir semester saya pasti membeli beberapa buah coklat silver queen. Bukan untuk dimakan sendiri atau untuk anak-anak saya di rumah, tetapi untuk mahasiswa-mahsiswaku yang mendapat nilai terbaik dalam ujian tengah semester. Biasanya selalu saja ada mahasiswa yang mendapat nilai 100 untuk ujian yang saya berikan. Tidak hanya seorang, tetapi bisa sampai lima orang. Pintar-pintar ya mahasiswaku ini.

Nah, sebagai apresiasi buat mereka yang mendapat nilai tertinggi di dalam ujian, saya selalu memberikan hadiah. Hadiahnya sederhana saja, yaitu coklat. Kenapa coklat, karena coklat identik dengan anak muda. Anak-anak muda kan suka makan coklat, nah cocoklah sebagai hadiah. Say with chocolate, kata sebuah pepatah asing.

Biasanya setiap saya bagikan hadiah ini di depan kelas, mahasiswa langsung heboh. Gembira campur senang, hehehehe. Hadiah sederhana saja, dari seorang guru kepada muridnya. Jangan dilihat dari harga coklatnya yang tidak seberapa, tetapi lihatlah sebagai sebuah bentuk penghargaan buat mereka.
coklat

Sejak kapan ya saya memberikan hadiah coklat? Hmmm…rasanya sudah lama sekali, mungkin sejak saya jadi pengajar sebuah bimbel. Dulu ketika masih mahasiswa saya pernah mengajar di sebuah lembaga bimbingan belajar. Murid-muridnya siswa SMP dan SMA. Lucu-lucu, ceria, dan menyenangkan. Dunia remaja. Nah, karena mereka remaja, maka saya perlu masuk ke dunia mereka. Coklat adalah salah satu caranya. Setiap kali ada murid bimbel saya yang mendapat nilai tertinggi, saya selalu memberikan hadiah coklat. Kebiasaan memberikan hadiah coklat tersebut ternyata berlanjut ketika saya menjadi dosen di kampus. Begitulah ceritanya.

Sebenarnya hadiahnya tidak selalu coklat, kadang-kadang juga pernah alat tulis. Pernah juga hadiahnya berupa ditraktir makan. Tetapi coklat adalah hadiah yang paling sering. Entah kenapa coklatnya selalu Silver Queen. Bukan promosi ya, menurut saya ini coklat yang paling enak, dan surprise…ternyata ini merek coklat buatan dalam negeri, asli produk lokal yang mendunia.

Written by rinaldimunir

February 18th, 2020 at 2:58 pm

Setelah PPDB SMP Kota Bandung Berlalu

without comments

Hari ini saya datang ke SMPN 44 Bandung di Jalan Cimanuk No. 1, pertigaan dengan Jalan Riau (Jl. R.E Martadinata, jalan yang terkenal dengan sederetan Factory Outlet atau FO). Tujuan ke sini adalah untuk melakukan daftar ulang anak yang diterima di SMP negeri tersebut. Alhamdulillah, Tuhan mentakdirkan anak bungsuku bersekolah di SMP ini melalui proses PPDB  pada bulan puasa yang lalu. Kota Bandung memang paling cepat menyelenggarakan PPDB di antara semua kota/kabupaten di Jawa Barat.

PPDB tahun ini menerapkan full sistem zonasi. Semua sekolah negeri di Indonesia harus tunduk pada Peraturan Menteri Kemendikbud yang mengharuskan penerimaan siswa baru SMP/SMA berdasarkan jarak rumah ke sekolah. Siapa yang rumahnya makin dekat ke sekolah, maka peluangnya diterima di sekolah tersebut makin besar. Tidak perlu belajar serius di tingkat sekolah sebelumnya, punya nilai NEM (nilai USBN atau nilai UN) rendah pun tetap bisa masuk asal rumahnya tidak jauh dari sekolah. Siswa yang punya NEM tinggi tapi rumah jauh dari sekolah terpaksa gigit jari, tersingkir dari sekolah yang diinginkannya.

Sistem zonasi memang sudah berhasil menghilangkan sekolah-sekolah berlabel favorit. Siswa dengan NEM bagus tersebar merata di berbagai sekolah. Sekolah-sekolah SMP favorit yang terletak di tengah kota di Bandung seperti SMPN 2, 5, 7, 13, dan 44 melalui sistem zonasi tahun 2019 ini rata-rata menerima siswa dengan NEM yang rendah. Tidak banyak siswa memiliki NEM bagus. Sistem zonasi di Bandung hanya memberi kuota 2,5% saja menerima siswa berdasarkan nilai NEM, atau setara 7 hingga 8 orang saja, 2,5 % lagi berdasarkan prestasi perlomabaan, dan 5% untk siswa mutasi. Sisanya 90% berdasarkan jarak, itu sudah termasuk jalur kombinasi sebesar 20% yang menerima siswa berdasarkan kombinasi jarak rumah dan nilai NEM.

Sistem PPDB yang selalu berubah-ubah setiap tahun memang memusingkan orangtua. Saya mengapresisi tujuan sistem zonasi, yaitu untuk memeratakan mutu sekolah, tidak ada lagi sekolah favorit atau tidak favorit. Tetapi apresiasi itu dengan syarat, yaitu sekolah tersebar secara merata dan kualitasnya juga merata, sehingga masuk sekolah mana saja sama saja. Namun sayangnya, di kota Bandung penyebaran sekolah dan kualitasnya tidak merata, oleh karena itu sistem zonasi belum bisa diterapkan secara penuh. Tentang hal ini sudah  pernah saya tulis pada posting tahun lalu (baca ini). Kalau belum bisa diterapkan secara penuh, maka fifty-fifty saja, yaitu 50% menerima siswa berdasarkan jarak dan 50% lagi berdasarkan NEM. Lebih fair dan lebih adil bagi semua pihak.

Tahun ini kabinet menteri akan berganti lagi karena presidennya baru. Mendikbud yang sekarang kemungkinan akan diganti juga. Kita semua sudah mahfum dengan slogan ganti menteri ganti aturan. Bukan tidak mungkin Mendikbud yang baru akan mengubah lagi mekanisme PPDB. Siap-siap saja orangtua dipusingkan dengan aturan yang berubah-ubah. Tiga tahun lagi ketika anak saya tamat SMP entah seperti apa pula aturan PPDB masuk SMA.

Jalan Cimanuk yang teduh

Alhamdulillah, proses pendaftaran ulang siswa baru sudah selesai di tempat sekolah anak saya. Sekolah yang berada di kawasan belakang Gedung Sate ini berada di kawasan yang teduh dan rindang, banyak pohon besar, dan tidak dilalui kendaraan umum. Mudah-mudahan sekolah ini adalah yang terbaik yang dipilihkan Tuhan untuk anak saya. Tahun lalu SMPN 44 meraih predikat sekolah berbudaya religi. Itu artinya SMPN 44 memiliki pola pendidikan karakter yang kuat. Insya Allah.

Written by rinaldimunir

June 17th, 2019 at 4:47 pm

In Memoriam Prof. Iping Supriana

without comments

Sudah hampir dua minggu guru kami, Prof. Iping Supriana, meninggalkan kami di Informatika ITB. Kepergiannya sangat mendadak. Pagi hari Jumat 29 Maret 2019 pukul 6.30 pagi saya menerima pesan dari grup WA tentang kabar duka tersebut. Kaget dan shock! Ya, bagaimana tidak kaget, sebab satu hari sebelumnya saya masih melihat beliau di Aula Timur ITB, saat ada acara asesor serdos di kampus ITB.  Selama ini kami tidak pernah mendengar Prof mederita sakit. Sehat-sehat saja nampaknya. Hari Rabu pun kami di Kelompok Keilmuan Informatika masih rapat bersama dengan beliau. Tapi umur memang rahasia Ilahi. Ajal bisa datang sewaktu-waktu kapan saja dan kita tidak pernah tahu kapannya itu. Prof Iping wafat pada hari baik, hari Jumat subuh dan tidak menyusahkan siapapun, sebab meninggalnya dalam keadaan tidur. Semoga khusnul khotimah, amin.

prof iping

Sesungguhnya saya cukup intens berinteraksi dengan beliau. Saya yunior, beliau senior. Lab saya di depan lab beliau. Kami pun satu kelompok keahlian, dan beliau adalah ketuanya.

Prof Iping adalah sosok humoris, ramah, suka menyapa siapapun, dan jenius. Untuk yang terakhir, siapapun pasti angkat topi. Risetnya banyak,  karyanya tak terhitung. Meskipun sudah sangat senior, tetapi beliau masih aktif melakukan programming, menulis program atau mengembangkan aplikasi untuk riset maupun karyanya. Biasanya banyak guru besar sudah tidak menekuni lagi aktivitas programminng karena lebih fokus pada level abstraksi atau konstruksi model penyelesaian masalah sehingga memprogram sudah tidak dilakukan lagi, jarang, atau bahkan tidak pernah lagi. Sebaliknya, Prof Iping masih melakukan keduanya, ya konstruksi model, abstraksi persoalan, hingga memprogramnya.

Konsistensinya melakukan aktivitas coding dan programming (dua hal yang berbeda) sungguh luar biasa, tidak mengenal tempat dan waktu. Di sela-sela rapat dan seminar pun beliau masih menyempatkan diri menyelesaikan programnya. Bahkan, ketika kami jalan-jalan rekreasi pun beliau tetap asyik memprogram di laptopnya. Sebatang rokok tidak pernah lepas dari tangan.

Foto di bawah ini adalah di Pantai Senggigi, Lombok pada tahun 2015. Ketika kami asyik menikmati suasana sore di pantai menjelang sunset, beliau malah asyik sendiri memprogram di tepi pantai dengan laptop setianya.

Kalau foto di bawah ini di Chonburi, Thailand. Pagi-pagi di halaman belakang hotel di Chonburi, Thailand, beliau sudah sibuk mengkoding program, padahal rekan-rekan kami sedang sarapan dan menyiapkan konferensi ICAICTA 2015 di Chonburi, Thailand.

Meskipun rajin meneliti dan memprogram, namun sholat berjamaah di mushola maupun di masjid Salman ITB tidak pernah dilalaikannya. Beliau selalu sholat Dhuhur dan Ashar di Salman.

Jika tidak sholat di Salman, beliau sholat di mushola di LabTek 5. Saya sering jadi makmumnya. Nah, seringkali sesudah sholat berjamaah beliau mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang susah saya jawab, namun dari situ saya belajar hal yang baru yang banyak belum saya ketahui tentang ilmu agama. Setiap kali selesai diskusi dengan Prof Iping, selalu saya tuangkan ke dalam tulisan di blog ini. Beberapa tulisan saya di blog wordpress terinspirasi dari diskusi dengan beliau. Berikut beberapa tulisan saya yang saya sarikan dari beliau.

  1. Sedang Apa Allah Sekarang

Setelah sholat Dhuhur berjamaah dengan seorang profesor di kampus saya, beliau mengajukan pertanyaan kepada kami (jamaah sholat): “Pernahkah terpikir, sedang apa Allah sekarang?”

Hmmm…pertanyaan sederhana, namun sulit juga menjawabnya. Selama ini saya atau kita tidak pernah terpikir Tuhan itu sedang melakukan apa. Tidak terpikir sampai ke situ. Sedang melihatkah? Sedang mendengarkah? Sedang mengamati makhluk-Nya kah?

Pak Prof menunjukkan jawabannya. Coba buka Surat Ar-Rahman ayat 29 katanya, di sana ada jawabannya. Saya bukalah Al-Quran, dan ketemulah ayat 29 pada Surat Ar-Rahman yang artinya sbb: …. (dst, silakan baca selengkapnya pada tautan di atas)

2. Allah Menjawab Al-Fatihah yang Kita Baca 

(Ini masih lanjutan posting saya sebelumnya)

Pak Prof bertanya kepada kami, pernahkah terpikirkan bahwa Allah SWT selalu menjawab setiap bacaan Al-Fatihah yang kita baca di dalam sholat? Hal itu ditemukan penjelasannya dalam sebuah hadis qudsi, kata Pak Prof.

Benar, saya baru tahu jika Allah selalu menjawab setiap kali kita membaca ayat-ayat Al-Fatihah di dalam sholat. Maklum, ilmu saya masih dangkal sekali.

Lanjut Pak Prof, ketika kita membaca “Alhamdulillahirabbil ‘alamiin“, maka Allah menjawab, “Hamba-Ku telah memujiKu” …. ( …. (dst, silakan baca selengkapnya pada tautan di atas)

3.  Zikir pagi dan petang

(Pencerahan ketiga dari Prof.  Kalau yang ini tidak ada tulisannya di blog, saya tulis di laman Facebook) Ketika jalan-jalan di Lombok kemarin, saya sekamar dengan Prof Iping Supriana. Usai sholat maghrib, beliau bertanya kepada saya, “Pernah dengar nggak sayyidul istighfar?”

“Belum”, jawab saya polos, maklum ilmu saya masih jauuuh di bawah .

“Kalau dibaca setiap pagi dan sore, maka kita dijamin menjadi ahli surga”, lanjut Pak Prof.

Saya manggut-manggut, penasaran, seperti apa sayyidul istighfar itu sehingga membacanya pagi dan petang maka jika kita mati akan menjadi ahli surga.

Segera deh saya langsung gugling di Internet, dan dapatlah penjelasannya. Sayyidul istighfar adalah penghulunya istighfar atau the king of istighfar. Istighfar ini merupakan bacaan istighfar yang seharusnya menjadi nomor urut pertama apabila kita ingin membiasakan membacanya, artinya jangan sampai bacaan sayyidul istighfar ini ditinggalkan, sementara bacaan istighfar yang lainnya selalu dibaca.

Begini bunyi dzikir sayidul istighfar:

?????????? ?????? ?????? ??? ?????? ?????? ??????? ??????????? ??????? ????????? ??????? ????? ???????? ?????????? ??? ???????????? ??????? ???? ???? ????? ??? ????????? ??????? ???? ???????????? ???????? ????????? ???? ????????? ????????? ???? ????????? ??? ???????? ?????????? ?????? ??????

ALLAA-HUMMA ANTA RABBII LAA ILAAHA ILLA ANTA KHALAQTA-NII WA ANA ‘ABDUKA WA ANA ‘ALAA ‘AHDIKA WA WA’DIKA MAS-TA-THA’-TU A-‘UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA’THU ABUU-U LAKA BINI’-MATI-KA ALAYYA WA ABUU-U LAKA BI DZAM-BII FAGH-FIR-LII FAINNAHUU LAA YAGH-FIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA

yang artinya:

“Yaa Allah, Engkau adalah RabKu, tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkau yang telah menciptakan aku, aku hambaMu, aku senantiasa dalam ikrarku kepadaMu (untuk mengesakan-Mu) dan janjiMu (kepadaku untuk membalas dengan surga karena tauhidku) sebatas kemampuanku. Aku berlindung kepadaMu dari kejelekan perbuatanku. Aku akui segala nikmat yang Engkau berikan kepadaku dan aku akui dosa-dosaku, maka ampunilah aku. Karena tiada yang bisa mengampuni dosa selain Engkau.”

Tentang keutamaan sayyidul istighfar, begini hadisnya:

Dari Syaddad bin Aus radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Sayyidul Istighfar adalah bacaan: ….beliau menyebutkan doa di atas. Kemudian beliau menyebutkan keutamaannya:

“Barangsiapa yang membaca do’a ini dengan penuh keyakinan di sore hari, kemudian dia mati pada malam harinya maka dia termasuk ahli surga. Dan barangsiapa yang membacanya dengan penuh keyakinan di pagi hari, kemudian dia mati pada siang harinya maka dia termasuk ahli surga.” (HR. Al Bukhari 5522)

Subhanallah, Maha Suci Allah SWT.

Yuukk… mari membaca Isayyidul istighar ini pagi dan petang, sehingga jika kita mati pada siang atau malamnya, maka Allah menjadikan kita ahli syurga.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Demikianlah kenangan saya dengan guru kami, Prof. Iping Supriana. Semoga beliau mendapat tempat yang layak di Sisi-Nya, dan amal sholehnya diterima oleh Allah SWT. Amin. Selamat jalan, Prof.

Written by rinaldimunir

April 11th, 2019 at 2:11 pm

Berdamai dengan Diri Sendiri (Dialog dengan Mahasiswaku)

without comments

Sambil berjalan kaki dari Masjid Salman ke Labtek 5 di Kampus Ganesha, seorang mahasiswa yang ikut berjalan di samping saya menceritakan dirinya yang sekarang telah berubah. Selama dua tahun dia merasa tidak punya motivasi kuliah, tidak semangat, merasa tidak cocok kuliah di Informatika. IPK pas-pasan. Jauh tertinggal dari teman seangkatan.

+ Lalu apa yang membuatmu sekarang berubah? Tanya saya.

– Saya mencoba mengerjakan proyek kecil-kecilan, pak. Tidak apa-apa dibayar murah. Itu cara saya untuk menyukai bidang Informatika.

+ Berapa nilai proyeknya?, tanya saya lagi.

– Satu juta saja, Pak.

+ Oh, tak apa-apa, biar kecil, yang penting kamu mulai menyukai bidangmu. Lalu apa lagi?

– Saya mencoba memasukkan lamaran magang ke beberapa perusahaan dari situs online. Tetapi semua ditolak. Ndak masalah. Saya mau coba cari lagi untuk mengisi liburan semester Desember dan Januari ini.

+ Baguslah. Itu artinya kamu sekarang sudah berdamai dengan dirimu sendiri. Perlu dua tahun untuk merenung. Belum terlambat. Kalau di tingkat empat kamu baru sadar, barulah itu terlambat.

…….

Dialog berakhir. Saya sudah sampai ke ruangan saya. Diapun berbalik pergi.

 

******

Begitulah. Setiap tahun ada saja di antara mahasiswa saya yang keteteran dalam kuliah. Ketinggalan dari teman-temannya yang lain. Penyebabnya macam-macam. Tidak semangat, tidak punya motivasi, malas, kecanduan game, dan sebagainya. Padahal mereka tidaklah bodoh. Kalau bodoh, tentu kamu tidak mungkin bisa lolos masuk Informatika STEI- ITB, kata saya selalu setiap memberi wejangan di kelas. Lolos masuk STEI-ITB itu susah, passing grade-nya paling tinggi se-Indonesia. Seharusnya kamu bersyukur bisa masuk ke sini, kata saya lagi.

Jika tidak mau mengubah diri sendiri, maka dunia tidak akan berubah. Apakah seterusnya malas, merasa kurang semangat? Wejangan dan nasehat setumpuk tidak mempan.

Saya yakin, mereka-mereka yang merasa tidak semangat kuliah itu karena belum berhasil mengalahkan dirinya sendiri. Mereka selalu dihantuai rasa bersalah sebagai orang yang tiada beruna. Hanya menghabiskan kiriman dari orangtua, tetapi di Bandung kuliah tanpa ada rasa.

Untunglah ada saja mahasiswa model begini tersadar. Setahun dua tahun habis waktunya untuk berperang dengan batin. Akhirnya dia bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Dia bangkit dari kekeliruannya yang selama ini sia-sia saja membuangbuang waktu. Mahasiwaku di atas contohnya.

Written by rinaldimunir

January 11th, 2019 at 5:12 pm

Pensiun (3)

without comments

Akhirnya satu persatu dosen senior saya memasuki masa purnabakti. Pensiun. Umur 65 tahun adalah batas usia seorang dosen mengabdi di almamaternya, kecuali profesor bisa sampai umur 70 tahun. Beberapa tahun sebelumnya sudah enam orang yang purnabakti. Tahun 2018 ini dua orang lagi. Dari semua dosen senior pendiri Informatika ITB, maka akan tersisa tiga orang yang masih mengabdi di tempat kami. Namun dalam beberapa tahun ke depan, sekitar empat hingga enam tahun lagi, mereka pun akan memasuki masa purna bakti pula. Maka, akan habislah dosen senior di almamater saya. Waktu ternyata berlalu begitu cepat. Empat atau enam tahun itu tidak terasa lama.

Saya yang selama ini merasa masih tetap dosen yunior, karena merasa nyaman dengan keberadaan dosen senior di atas saya, tiba-tiba harus merasa untuk bersiap-siap  menjadi dosen senior di almamater saya di Informatika ITB. Di bawah saya sudah banyak dosen muda yang berkiprah. Mereka menggantikan peran dosen yang telah pergi memasuki masa retired. Begitulah hidup, ada yang datang dan ada yang pergi. That”s life.  Pensiun adalah hukum alam yang tidak bisa ditolak.

Tiba-tiba saja saya merasa diri ini sudah tua. Sebenarnya saya sudah menyadari hal itu sejak beberapa tahun lalu, ketika rambut putih sudah mulai banyak bertaburan di atas kepala. Tetapi, saya sering tidak sadar karena alasan di atas, yaitu merasa nyaman dengan keberadaan dosen senior di atas saya, sehingga saya merasa masih muda saja, merasa masih perlu dibimbing oleh para senior. Tetapi dengan berlalunya waktu, mereka telah mulai meninggalkan kami. Itu artinya saya akan menggantikan peran mereka menjadi orang yang dituakan oleh para dosen yang lebih muda. Semoga saja saya bisa mengemban peran tersebut.

Suatu hari, saya pernah berjalan kaki bersama seorang dosen senior ketika kami mendapat tugas mengajar di Lampung. Satu tahun lagi dia akan memasuki masa purnabakti. Sembari kami berjalan kaki, saya menceritakan kesedihan saya yang akan merasa kehilangan setelah dia pensiun. Saya menceritakan saat saya diterima menjadi dosen ketika beliau menjabat Sekretaris Jurusan. Saya menceritakan wejangan yang dia berikan, nasehat yang dia berikan saat itu, tugas yang dia berikan kepada saya, lalu cerita masa-masa kami bersama menjalankan Jurusan (waktu itu masih bernama Jurusan Teknik Informatika). Entah kenapa saya merasa sentimentil.  Dia hanya tertawa dan mengatakan bahwa dia akan tetap sering ke kampus meskipun nanti sudah pensiun.

Ada satu hal yang membuat saya merasa betah berkiprah di kampus, yaitu keberadaan para mahasiswa. Itulah alasan mengapa saya tetap ada di sini. Mereka para anak muda yang haus ilmu pengetahuan. Mereka membutuhkan bimbingan dan panutan. Tiap hari saya masuk ke kampus, lalu pulang pada sore harinya. Terkadang, biarpun badan masih sakit saya paksakan juga ke kampus menemui mereka, mengajar di depan kelas, melayani bimbingan dan konsultasi. Tiba-tiba saja penyakit di badan terasa hilang, badan menjadi lebih ringan, tetapi di rumah badan mulai meriang lagi. Itulah kadang sukanya menjadi pengajar dan pendidik, rasa sakit lenyap ketika sudah berada di depan anak didik. Peran ini akan terus saya lanjutkan sampai tiba suatu masa saya mendapat giliran memasuki masa purnabakti pula, entah pada umur 65 atau umur 70. Wallahualam.

Written by rinaldimunir

February 2nd, 2018 at 3:45 pm

Berkas Ujian yang Sayang Dibuang

without comments

Semester genap di ITB baru saja selesai. Nilai-nilai mata kuliah sudah diumumkan. Seperti biasa, pada akhir semester saya selalu membagikan kembali semua berkas milik mahasiswa, baik itu berkas ujian mereka maupun berkas tugas lainnya. Saya taruh di atas meja lab, silakan diambil milik masing-masing. Namun, berkas ujian dan tugas itu seringkali tidak diambil lagi oleh mahasiswa setelah nilai diumumkan. Mungkin mereka merasa tidak perlu lagi, padahal menurut saya mendokumentasikan hasil-hasil pekerjaan dann ujian selama kuliah itu adalah penting.

berkas

Saya sendiri selalu menyimpan hasil-hasil ujian dan tugas sejak S1 hingga S3. Tujuannya bukan sekedar memorabilia untuk bernostalgia, tetapi mengingatkan perjalanan hidup yang pernah dilalui. Baik buruk hasilnya, itu adalah diri kita, sejarah kita.

Kebiasaan menyimpan hasil sekolah ini saya teruskan ke anak saya. Semua berkas ujian mereka, buku catatan, hasil karya, dll (kecuali buku cetak) saya simpan di dalam lemari, sampai penuh tuh lemari. Sampai-sampai istri saya  mengeluh karena lemari sudah penuh. Mau dibuang, tapi saya bilang jangan dulu. Sayang.

Berkas-berkas yang tidak diambil itu sayang sekali jika nanti dikilo di pasar loak lalu berakhir di kios gorengan untuk pembungkus pisang goreng atau pembungkus barang dagangan. Tertera di bungkus gorengan nilai UAS seorang mahasiswa mendapat nilai 35. Saya tersenyum kecut membaca jawaban ujiannya.

Di negara Belanda (cerita teman), berkas-berkas ujian mahasiswa disimpan di lemari universitas. Berkas-berkas itu hanya boleh dimusnahkan setelah 5 tahun (itu artinya setelah mahasiswa yang bersangkutan lulus). Jadi, berkas ujian mahasiswa tidak pernah ditemukan di pasar kertas bekas, tidak seperti di sini yang berakhir menjadi pembungkus gorengan.

Dokumentasi itu penting, sebab ia adalah sejarah diri kita.


Written by rinaldimunir

June 2nd, 2017 at 3:18 pm

Suka Duka Memeriksa Berkas Ujian Mahasiswa

without comments

120 x 7 = 840.
Fiuh! Segitulah jumlah soal ujian UTS yang sudah selesai saya periksa selama beberapa hari ini, semua jawabannya essay, bukan pilihan berganda. Semuanya 120 orang mahasiswa tingkat dua dikao tujuh soal. Itu baru dari satu mata kuliah, masih menunggu berkas UTS mata kuliah lain dengan jumlah mahasiswa yang sama tapi dengan sembilan soal.

Memeriksa berkas ujian adalah pekerjaan yang berulang-ulang dan menjemukan memang. Tujuh jawaban soal itu harus dibaca dengan seksama, sekali-sekali saya membuat coretan merah dan memberi skor nilai. Hal yang sama diulang untuk 119 berkas jawaban lainnya. Melelahkan, suddh pasti.

Jika tidak selesai diperiksa di kampus, maka saya bawa pulang semua berkas ujian tersebut. Berharap bisa selesai diperiksa di rumah, eh..ternyata tidak juga. Tidak disentuh malah, sebab saya sendiri sudah sibuk dengan urusan anak-anak di rumah. Akhirnya berkas ujian yang ratusan lembar itu saya bawa lagi ke kampus. Bolak-balik wae, kata orang Sunda. Capek-capek saja membawanya pulang.

Terkadang, saya pernah juga membawa berkas ujian mahasiswa pulang mudik waktu lebaran, berharap diperiksa di sana, dan…ha…ha..ha, ternyata sama saja, sama sekali tidak bisa diperiksa, sudah sibuk ke sana ke sini, padahal itu berkas sudah melanglangbuana naik pesawat ke Sumatera.

Naah, jika sudah selesai memeriksa semuanya, senang deh rasanya. Satu beban pekerjaan beres. Tinggal membeli coklat sebagai hadiah bagi mahasiswa peraih nilai tertinggi. Mmeberi hadiah coklat kepada mahasiswa yang mendapat nilai tertinggi sudah kebiasaan saya sejak dulu. Say with chocolate, karena coklat adalah kesukaaan anak muda.

~~~~~

Setelah menjadi dosen selama belasan tahun, maka saya sudah hafal tipe mahasiswa pasca ujian. Tiap-tiap mahasiswa itu beda-beda sikapnya setelah ujian selesai dilaksanakan. Setidaknya ada dua tipe mahasiswa. Tipe pertama adalah mahasiswa yang tidak mau lagi mempersoalkan jawaban ujian setelah ujian selesai. Ya sudahlah, bagaimana nanti dapat nilainya sajalah. Pasrah. Ini tipe mahasiswa yang realistis, mereka siap menerima apapun hasilnya.

Tapi ada juga tipe yang pundungan. Ini tipe kedua. Setelah ujian berlalu bukannya melupakan, malah menjadi pikiran terus. Dia merasa ada jawaban yang salah, dan takut mendapat nilai yang kecil. Curhatlah dia ke dosen kalau tadi menjawabnya begini begitu. “Kalau hasilnya salah, jalannya (maksudnya proses) tetap dihargai nilai kan pak?”, tanyanya penuh was-was. “Ya bagaimana jawabannya, nanti saya lihat dulu”, mencoba menenangkan. Saya tahu perasaannya galau. Menurut saya ini tipe mahasiswa yang tidak siap menerima hasil buruk. Jika dapat jelek, maka akan menjadi pikirannya berhari-hari. Ini mungkin hasil didikan orangtua yang menuntut target harus bagus, jika tidak, maka amarah menanti di rumah. Siap menang tapi tidak siap kalah.

Jawaban untuk permasalahan ini adalah sesegera mungkin membagikan hasil ujian, sehingga mahasiswa yang galau ini tidak lama-lama merasa didera rasa menyesal.

Apakah kamu termasuk tipe pertama atau kedua?

~~~~~~

Setiap kali saya memeriksa berkas ujian, seringkali saya kasihan memeriksa jawaban ujian mahasiswa yang kosong. Tidak bisa menjawabnyakah, malas belajarkah, atau pikirannya lagi di manakah, ah… saya tidak tahu penyebabnya. Tapi nilai nol tidak diinginkan siapapun, termasuk saya yang memberi nilai.

Baiklah, saya pun membuat pengumuman begini: barang siapa tidak bisa menjawab suatu soal, maka tulis ulang saja soalnya di lembar jawaban, saya akan beri nilai 1 sebagai “upah menulis“. Lumayan kan daripada nol.

Adakah pengumuman itu berpengaruh? Ternyata tidak juga. Tidak banyak yang mencoba mendapat nilai 1, mungkin tawaran yang tidak menarik. Atau, mereka gengsi barangkali.

Anda pernah punya pengalaman serupa?


Written by rinaldimunir

November 3rd, 2015 at 2:40 pm