if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Romantika kehidupan’ Category

Generasi kedua tahu Mang Yadi

without comments

Sudah beberapa bulan saya tidak melihat Mang Yadi lewat di depan rumah menjajakan tahunya. Tahuuuuu…, begitu teriaknya setiap kali lewat di depan rumah saya.

Saya sudah berlangganan tahu Mang Yadi sudah cukup lama. Dia menjual tahu cibuntu, salah satu produk tahu yang terkenal di kota Bandung. Tahu cibuntu berwarna kuning karena diberi kunyit pada lapisan luarnya agar tahan lama). Mang Yadi tinggal di kampung Cibuntu juga, yang merupakan sentra perajin tahu di kota Bandung (baca postingan saya tahun 2012 di tentang tahu Mang Yadi: Tahu Mang Yadi dan Perjuangannya)

Akhirnya dua minggu lalu saya dapat kabar dari sesama tukang tahu bahwa Mang Yadi sudah tiada tiga bulan lalu. Innalilahi wa inna ilaihi raajiun. Mang Yadi adalah penjual tahu yang ramah. Pelanggannya banyak di Antapani.

Sekarang jualan tahu keliling diteruskan oleh anaknya yang nomor dua (yang nomor 1 sudah meninggal juga). Namanya Yudi, hanya tamat SMA. Yudi sekarang menggantikan Mang Yadi sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah buat ibu dan adik-adiknya yang masih kecil.

Yudi mengendarai motor bapaknya dan setiap hari dia melewati jalan-jalan di Antapani yang merupakan rute keliling bapaknya, seakan-akan menapaki kembali jejak jalur yang dilalui Mang Yadi. History repeat itself.

mangyadi3

Kiri: (alm) Mang Yadi, Kanan: Yudi, putra Mang Yadi

Tadi pagi saya ketemu putra Mang Yadi ini persis di depan rumah tempat saya mengambil foto Mang Yadi tahun lalu, bulan Maret 2020. Perhatikan motor, kotak penyimpanan tahu, dan keranjang di atas motor, persis sama.

Written by rinaldimunir

September 22nd, 2021 at 9:05 am

Keinginan Setelah Pandemi Corona

without comments

Apa keinginanmu setelah pandemi corona dinyatakan sudah aman (terkendai)? Cukup lama masyarakat kita kita berada di rumah saja, tidak bisa pergi ke mana-mana, atau menunda pergi ke mana-mana Khawatir situasi belum aman, khawatir tertular corona, dan sebagainya. Beresiko.

Maka, kebanyakan orang hanya dapat menuliskan keinginannya saja di media sosial misalnya menyatakan ingin mudik ke kampung halaman, ingin mengadalan reuni dengan teman-teman lama, ingin makan di restoran yang dulu pernah dikunjungi, ingin jalan-jalan ke Bali atau ke luar negeri, atau ingin umrah ke Mekkah, dan lain-lain sebagainya.

Kalau saya keinginan utamanyanya satu, yaitu ingin dipijat badan di Panti Wiyata Guna, di Jalan Padjadjaran, Bandung. Lha, kok? Lha iya, jika orang lain ingin bepergian, saya malah ingin dipijit. Nggak, nggak lucu, tetapi benar lho, saya ingin badan dipijat oleh pemijat tuna netra di sana. Saya sudah bertahun-tahun menjadi pelanggan pijat di sana. Pernah saya tulis di sini: Pijat Badan Dulu Ah… di Wiyata Guna. Minimal sekali sebulan saya pergi ke sana untuk dipijit badan. Kalau badan sudah pegal-pegal, atau agak kurang enak badan, maka saya pergi ke sana. Dipijat oleh tuna netra sekalian beramal di sana, memberi penghasilan buat mereka. Pijatannya enak, karena pemijat itu lulusan sekolah pijat di Wiyata Guna juga. Mereka memilik teknik pijat dan terampil.

Kata orang, sekali dipijat maka akan ketagihan. Iya benar, mungkin karena dipijat itu enak, maka kita ingin lagi dipijat. Karena saya rutin pijat ke sana karena ingin badan sehat, maka saya sudah menjadi pelanggan tetap di sana. Sekali pijat satu setengah jam, satu jam hanya Rp37.500 rupiah.

Namun sejak masa pandemi corona, saya sudah tidak pernah lagi pijat badan ke sana. Semua tempat pijat di Bandung ditutup, mungkin di Wiyata Guna juga ikut ditutup. Entahlah, saya sudah lama tidak pernah melewati Jalan Padjadjaran, tidak tahu apakah Panti Wiaya Guna juga ditutup. Saya bisa memaklumi kenapa ditutup, yaitu untuk membatasi penularan virus corona. Pijat badan berarti terdapat interaksi fisik antara pasien dengan pemijat dalam jarak yang sangat dekat, sehingga rentan terjadi penularan virus melalui udara pernapasan. Meski pakai masker sekalipun, tetap saja ada perasaan khawatir.

Karena lama sekali tidak dipijat, badan saya mulanya sering merasa tidak nyaman. Pegal-pegal begitulah. Kalau dulu jika badan pegal-pegal maka saya pergi ke Wiyataguna untuk dipijat. Tetapi karena ditutup maka saya tidak bisa dipijat badan lagi. Mau pergi ke tempat pijat lain (pemijatnya tuna netra juga) saya tidak berani.

Pernah juga sih seorang pemijat langganan yang pernah datang memijat saya ke rumah menelpon saya, apakah saya ingin dipijat. Namun ya itu tadi, saya belum berani mendatangkan orang luar ke rumah. Pemijat kan berinteraksi dengan banyak orang, kita tidak tahu mereka sudah berinteraksi dengan siapa saja, apakah dengan orang OTG atau bukan. Jadi, saya tahan saja keinginan untuk dipijat itu. Saya kompensasikan dengan olahraga jalan kaki saja setiap pagi. 

Namun, pada sisi lain saya juga merasa kasihan. Saya dapat merasakan penderitaaan para pemijat tuna netra yang kehilangan mata pencaharian karena tempat pijatnya ditutup atau pelanggannya sementara menghindar dulu untuk dipijat. Padahal memijat badan merupakan profesi yang banyak dilakoni oleh penyandang tuna netra (baca tulisan saya tentang ini, Mencari Kehidupan di tengah Kegelapan).

Semoga pandemi corona ini segera berlalu ya Allah, agar orang-orang kecil itu dapat mencari nafkah lagi seperti dulu.

Written by rinaldimunir

April 15th, 2021 at 3:01 pm

Merasa Tidak Tega versus Kebutuhan Hidup Bang Gojek

without comments

Malam-malam saat hujan turun saya ingin makan martabak. Saya pesanlah  martabak di Babakan Sari via gofood.  Saya pikir Babakan Sari dekat dengan rumah saya di Antapani. Antapani dan Babakan Sari Kiaracondfong hanya dipisahkan oleh sebuah kali, Kali Cidurian namanya.
 
Saya kira sulit mendapat driver saat hujan begini. Sudah dua orang driver Gojek yang mengambil order ini, tetapi kok posisinya sangat jauh dari Babakan Sari. Driver pertama posisinya di Margacinta, daerah Margahayu sana. Driver kedua posisinya dekat Jalan Soekarno-Hatta. Jauh semua. Entah kenapa algoritma Gojek sekarang tidak memilihkan driver yang terdekat, tetapi entah berdasarkan apa. Karena cukup jauh dari Babakan Sari, saya minta mereka batalkan saja.
 
Akhirnya dapat driver ketiga, posisi di Antapani, lagi mangkal di  restoran Wingz o Wingz. Dari tempat mangkalnya di Antapani terlihat dia menyusuri jalan, masuk gang, menyeberang sungai Kali Cidurian. Sampai di tukang martabak 15 menit. Menunggu sampai martabak selesai 15 menit, lalu diantar ke rumah 15 menit. Satu jam kurang seperempat perjuangannya mencari nafkah halal malam-malam hujan begini untuk mencapai jumlah orderan gojek agar mendapat bonus yang tidak seberapa dari perusahaan Om Nadiem itu. Saya kok merasa gak tega, jadi merasa bersalah sendiri. Setiba pesanan diantar ke rumah, rasa gak tega itu saya ganti dengan bonus dari saya sendiri.
 
Saya sempat berpikir begini: ah, lain kali jangan pesan Gofood saat hujan malam-malam begini. Tapi saya sadar ini pikiran yang belum tentu benar. Mungkin saat hujan, malam-malam lagi, adalah waktu pengharapan bagi abang-abang Gojek. Berharap ada orang yang malam-malam lapar lalu  order Gofood.
 
Jadi, mending order Gofood saja daripada merasa “tidak tega” ya. Abang-abang Gohej itu juga perlu orderan agar mendapat pemasukan. Dari kita sebagai pembeli sebaiknya kasih tip yang lumayan banyak saja, apalagi kalau dirasa hujan deras. Atau belikan dua, satu buat kita dan satu lagi buat Bang Gojek.  
 
Moral dari cerita ini adalah bahwa yang kita sangka kesulitan (saat hujan) ternyata bagi orang lain merupakan berkah. 

Written by rinaldimunir

March 30th, 2021 at 1:28 pm

Mamang Pedagang Bacang

without comments

Pagi-pagi dia sudah berkeliling perumahan di Antapani dengan sepedanya, menjajakan bacang yang masih hangat. Tiga buah bacang harganya sepuluh ribu. Saya yang olahraga jalan kaki setiap pagi selalu bertemu dengan mamang ini. Saya lupa menanyakan namanya, sebut saja Mang Aryo.

bacang2

Bacaaaanggg…bacaaaanggg...”,teriak Mang Aryo dengan suara khas sambil terus mengayuh sepeda.

Bacang adalah penganan yang terbuat dari beras ketan dan diisi dengan daging cincang (ayam atau sapi) yang dimasak dengan kecap dan bumbu-bumbu lainnya, kemudian dibungkus dengan daun bambu, lalu dikukus sampai matang.

Bacang berbentuk limas segitiga. Dulu saya kira bacang adalah penganan khas Sunda, karena orang Sunda suka makan bacang. Ternyata saya salah, bacang adalah penganan khas Tionghoa (cina), dan tentu saja daging di dalam bacang adalah daging babi. Dalam budaya lokal, bacang diadaptasi yang tadinya daging babi menjadi daging sapi atau daging ayam.

bacang1

Di Bandung bacang mudah ditemukan di warung atau di kedai kue basah. Ia dijajarkan dengan jajanan seperti bala-bala, risoles, kue sus, dan sebagainya. Bacang lebih enak dimakan dalam keadaan hangat, terutama yang baru dikukus.

Dikutip dari situs ini, “Bacang adalah tradisi Tionghoa. Bacang sudah menjadi makanan yang bisa ditemukan setiap hari oleh para pedagang di pasar. Namun sebelum dijual secara umum, makanan ini hanya dimakan pada saat perayaan suku Tionghoa di Indonesia, yaitu festival Peh Cun.

Pada festival ini, orang-orang Tionghoa akan sembahyang kepada para leluhur dan mempersembahkan bacang yang sudah dibuat. Pada festival ini juga ada perlombaan perahu naga. Festival Peh Cun dirayakan setiap tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek.

Anak saya yang sekarang kuliah onlen suka makan bacang. Makanya, ketika saya jalan pagi dan ketemu Mang Aryo, saya beli bacangnya untuk penganan anak saya. Kalau saya sendiri sih kurang suka makan bacang  karena rasa dagingnya manis. Lidah Minang saya masih susah menerima masakan yang rasanya manis seperti gudeg, abon, termasuk bacang, meskipun saya sudah puluhan tahun di tanah Sunda. Bagi saya masih lebih enak makan lemang daripada makan bacang.?

Bacang yang dijual Mang Aryo memang bukan dia sendiri yang membuatnya, tetapi bersama-sama dengan temannya. Dia menjual beberapa puluh ikat di dalam box di belakang sepedanya. Ketika matahari baru terbit di timur, saat sebagian orang masih di dalam selimut, dia sudah mengayuh sepeda keliling Antapani menjajakan bacangnya.

bacang3

Keuntungan menjual bacang yang tidak banyak itu memang tidak seberapa. Tetapi saya salut dengan usahanya yang gigih mencari nafkah halal dengan  berjualan bacang.

Usai menyerahkan tiga buah bacang di dalam kantong keresek, Mas Aryo segera mengayuh sepedanya lagi menawarkan bacangnya.

Bacaaaanggg…bacaaaanggg...”,teriaknya sambil terus mengayuh sepeda.

Semoga rezeki yang diperolehnya setiap pagi  barokah.

Written by rinaldimunir

January 23rd, 2021 at 8:46 pm

Bapak Penjual Tahu Sumedang (2)

without comments

Tahuuu…..

Setiap pagi bapak penjual tahu sumedang lewat di depan rumah saya. Dia memikul dua buah ketiding bambu (apa ya Bahasa Indonesianya?). Satu ketiding berisi penuh tahu goreng, satu ketiding lagi berisi lontong. Di kota besar seperti Bandung masih cukup banyak pedagang yang berjualan makanan dengan cara dipikul secara tradisionil pada bahu seperti itu.

tahu1

Selain tahu dan lontong, dia juga menambah jualannya dengan membawa telur asin, kerupuk-keripik, dan camilan-camilan lain dari Sumedang. Sesak sekali pikulannya. Tentu berat sekali.

+ Wah, berat sekali ini, Pak. Berapa kilo berat semuanya?
Awalnya 40 kg, tapi berkurang terus setiap ada yang beli.
Sudah berapa tahun jualan seperti ini, Pak?
+ Sudah 30 tahun lebih pak, sejak Antapani ini masih sawah-sawah, belum perumahan seperti sekarang.

Tahu yang dijualnya didatangkan langsung dari Sumedang. Sumedang terkenal dengan tahunya yang khas. Tahu-tahu itu dipasok dari juragan tahu di Sumedang. Dia hanya menjualkan saja secara keliling, masuk kampung keluar kampung. Tapi dia memang tinggal di Sumedang, bolak balik ke Bandung.

+ Dari Sumedang ke Bandung naik apa, Pak?
Naik colt buntung, Pak
+ Kalau tahunya tidak habis bagaimana?
Kalau tidak habis saya menginap dulu di mess yang disediakan juragan.

Juragan tahu menyediakan mess bagi penjual tahunya di daerah Bandung Timur. Para penjual tahu menginap di sana. Setiap pagi pasokan tahu goreng datang langsung dari Sumedang. Seminggu sekali mereka pulang ke Sumedang membawa penghasilan berjualan tahu, kemudian kembali lagi ke Bandung. Profesi ini sudah dilakoninya selama 30 tahun! Itu artinya sejak saya datang ke kota Bandung ini.

Saya sampai hampir lupa membeli tahunya karena asyik mengobrol.

+ Berapa harga tahunya, Pak?
Biasa, sepuluh lima ribu.
+ Saya beli dua puluh ya

Tahu Sumedang dan uang sepuluh ribu berpindah tangan. Cocok untuk teman sarapan pagi dengan nasi hangat.

tahu2

Saya selalu bersimpati kepada orang-orang kecil yang gigih mencari nafkah secara halal. Betapa berat beban yang dia pikul, tetapi keikhlasan tampak di matanya. Orang-orang seperti ini berjuang mencari rezeki untuk keluarga yang ditinggalkannya.

Saya jadi teringat almarhum ayah saya. Setiap hari, usai sholat Subuh, ia berjalan kaki menuju terminal bus. Bapak saya adalah penjual daging sapi. Daging sapi itu dibeli di luar kota, awalnya di Lubuk Alung, lalu di Padangpanjang, kemudian di Bukittinggi. Daging-daging segar itu dibeli di sana, lalu dibawa lagi ke Padang sebelum siang dengan menggunakan bus umum. Di Padang daging sapi itu dijual ke pedagang sate atau dijual ke pedagang daging di los  Pasar Raya Padang. Hal itu dilakukannya setiap hari untuk nafkah keluarga kami. Dari perbedaan harga beli dan harga jual itulah ayah saya mendapat sedikit keuntungan membiayai sekolah saya dan kakak-kakak saya, hingga saya bisa berkuliah di Bandung. Saya bisa seperti sekarang adalah karena perjuangan ayah saya yang rela berjualan setiap hari. Alfatihah buat almarhum ayah dna ibu saya. Amiin.

Written by rinaldimunir

January 3rd, 2021 at 5:00 pm

Menanti Panggilan Kerja

without comments

Setiap pagi para pekerja serabutan duduk menanti di Jalan Indramayu, Antapani, Bandung. Mereka adalah buruh-buruh kuli yang umumnya berasal dari kampung yang sama di Majalengka, sebuah kabupaten di bagian timur Jawa Barat. Mereka datang ke Bandung jika di kampung tidak ada orderan menggarap sawah, karena mereka umumnya tidak memiliki sawah.

kuli
Saat musim panen dan awal musim tanam di kampung, mereka pulang kembali ke kampungnya menggarap sawah milik juragan. Setelah itu mereka balik lagi ke Bandung mencari penghasilan sebagai buruh serabutan.  Di Bandung buruh-buruh tersebut menginap di saung-saung, emperen kantor pos, atau mengontrak kamar ramai-ramai.

Sekali sebulan atau dua bulan sekali mereka pulang ke kampungnya mengantarkan hasil jerih payah untuk belanja anak dan istrinya. Hasil menguras tenaga selama menjadi kuli serabutan di Bandung diserahkan kepada istrinya. Pada umumnya mereka adalah para suami yang setia.

Modal kerja mereka hanyalah cangkul, parang, dan pikulan beban. Tiap pagi buruh-buruh ini menunggu panggilan warga yang membutuhkan tenaganya untuk membersihkan kebun, taman, halaman rumah, angkut-angkut bahan bangunan, angkut barang, angkut galian, dll. Jika tidak ada panggilan kerja, mereka berkeliling kompleks perumahan, berharap siapa tahu ada warga yang memerlukan tenaganya.

kuli2Tidak ada tarif yang pasti berapa bayaran untuk buruh kuli ini, tergantung kesepakatan pemberi kerja dengan mereka. Yang jelas kita harus dapat mengukur berapa volume kerjanya dana apa saja yang harus dikerjakan sehingga kita dapat memperkirakan ongkosnya.

Saya sendiri sering menggunakan buruh kuli ini untuk membersihkan halaman rumah dan kebun/taman di seberang rumah. Yah hitung-hitung membantu mereka dengan memberi kerjaan. Tidak hanya saya beri uang jasa, tetapi juga makan. Alangkah senangnya mereka mendapat kerjaan.

Mereka yang duduk-duduk pada pagi hari itu mungkin juga sedang menunggu orang-orang yang ingin memberi sedekah sarapan . Hampir setiap hari hari, khususnya pada hari Jumat, ada saja orang baik yang mendrop nasi bungkus buat mereka.

Semoga mendapat rezeki yang barokah untuk keluarganya.

Written by rinaldimunir

December 30th, 2020 at 11:54 am

Sepenggal Dialog Siang

without comments

Seorang pegawai Pizza H*t (sebuah waralaba pizza yang terkenal)  lewat di depan rumah dengan motornya menawarkan paket pizza seratus ribu empat buah. Saya yang sedang berdiri di depan rumah disapanya.

+Pak, beli pizzanya, seratus ribu empat biji. Masih hangat pak, baru dibakar. (Ia menunjukkan box di sadel motor yang penuh berisi pizza)

Saya sebetulnya tidak tertarik dengan paket pizza seratus ribu empat itu, sebab kata seorang teman, pizzanya keras, udah dingin, banyak tepung, topping-nya dikit lagi.

-Boleh nggak dua saja (saya menawar 🙂 )

+Maaf pak, nggak bisa, sudah aturannya begitu. Kalau di restoran harganya 150 ribu pak (dia mencoba berpromosi)

Sudah lama jualan seperti ini?

+Iya pak, sekarang sepi. Jadi sekarang kami yang mencari pembeli door to door

Begitulah waralaba pizza yang dulu dikenal sebagai makanan elit, sekarang turun kelas menjadi makanan ‘murahan’ yang ditawarkan secara asongan di pinggir jalan atau dijajakan keliling kampung. Sejak pandemi corona banyak bisnis bertumbangan, termasuk waralaba makanan asing yang mengalami kerugian besar. Sepi pembeli, karena banyak orang takut makan di restoran, atau menghindar makan di dalam ruangan bersama.

pizza

Pizza ditawarkan di pinggir jalan

Oh, begitu?
+ Iya pak, sudah banyak pegawai kami di-PHK. Ini kami ditugaskan berjualan keliling.
Boleh nggak setengah saja (kembali saya menawar). Empat buah pizza mah kebanyakan.
+ Nggak bisa pak. Ini saya dari tadi keliling belum laku pak (katanya sedih)
(Ya iyalah, agak sulit laku, sebab seratus ribu itu bagi orang awam sangat besar kalau hanya untuk membeli pizza. Dengan uang segitu sudah dapat lima bungkus nasi ramas di rumah makan Padang. Kalau ingin menyasar kalangan menengah ke bawah seharusnya mereka menjualnya satuan atau minimal dua buah)
Karena raut wajahnya terlihat suram, akhirnya pertahanan saya tumbang. Kasihan aja. 🙂 Terbayang anaknya pasti menunggu ayahnya pulang bawa rezeki.
Ya udah, saya beli ya    (saya beli saja dengan niat menolong saja, meski saya tidak berminat makan pizza)
+ Terimakasih banyak ya pak (dengan nada gembira).
Empat buah pizza dan uang seratus ribu pun berpindah tangan.

Written by rinaldimunir

December 24th, 2020 at 10:22 am

Bertahan Hidup pada Masa Pandemi

without comments

Sudah lima bulan pandemi corona berlangsung di tanah air (dan mungkin masih akan terus berlangsung). Sudah banyak orang terhempas secara ekonomi akibat pandemi corona. Sudah banyak orang kehilangan pekerjaan dan mata pencahariannya karena tidak ada orang yang mau memakai jasanya, atau membeli barangnya, atau karena orang-orang menghindar dulu untuk berhubungan dulu dengan mereka.

Berikut daftar orang-orang yang kehilangan mata pencaharian/pekerjaan akibat pandemi corona:
1. Pemijat termasuk tukang pijat tuna netra dan pekerja di spa
2. Pengajar bimbel/les privat
3. Pegawai hotel dan pekerja di tempat-tempat wisata
4. Perajin suvenir untuk pariwisata
5. Pilot dan pramugari (hanya sebagian mereka yang boleh terbang)dan kru di bandara (porter, pegawai check-in counter)
6. Pegawai bioskop
7. Guru honorer di sekolah swasta
8. Pegawai perusahaan biro travel, termasuk biro perjalanan umrah dan haji
9. Pegawai perusahaan ticketing daring (Traveloka, Tiket.com, Airy Room, dll sudah merumahkan sebagian karyawannya)
10. Pegawai perusahaan catering dan wedding, karena resepsi pernikahan masih belum diperbolehkan untuk tamu yang banyak.
11. Pegawai sarana transportasi (kereta api, bus travel, pesawat, Gojek, Grab, dll)
12. Pekerja event organizer
13. Pekerja seni pertunjukan (dalang, penari, sinden, penyanyi, MC, dll)
14. Artis
15. …

Masih panjang lagi daftarnya, silakan diisi sendiri. Sedih melihat situasi ini, karena efek dominonya kemana-mana.

Namun bukan orang Indonesia namanya jika tidak berusaha dengan berbagai cara untuk bertahan hidup. Kang Deden misalnya, sebelum pandemi ia bekerja di sebuah perusahaan interior kantor. Namun akibat pandemi, perusahaannya melakukan rasionalisasi karena tidak ada order interior. Setelah di-PHK dari tempat kerjanya akibat badai corona, Kang Deden banting stir berjualan ikan bandeng presto keliling. Ketika lewat di depan rumah saya, dia menawarkan ikan bandeng presto. Saya pun membelinya.

Ikan bandeng presto itu memang bukan dia yang membuatnya, tetapi diambil dari majikannya, orang Semarang  yang menjadi perajin bandeng presto di Bandung. Dia hanya menjualkannya saja secara keliling, lalu mengambil sedikit keuntungan dari per satuan  ikan bandeng yang terjual. Satu ekor ikan bandeng presto dijualnya sembilan ribu hingga sepuluh ribu rupiah. Tidak terlalu mahal. Setelah saya goreng atau bakar, rasanya yummy. Enak.

“Ya ginilah, Pak,”, katanya. “Daripada nggak ada kerjaan, saya keliling jualan ikan bandeng ini”, katanya lagi.

Tentu saja orang-orang seperti Kang Deden ini banyak jumlahnya, ratusan ribu, bahkan jutaan orang. Mereka ini dulunya punya pekerjaan tetap, tetapi akibat pandemi yang luar biasa ini, pekerjaan mereka menjadi ambyar. Pekerjaan apapun dilakukan untuk mencoba bertahan.  Yang penting halal.

Semoga orang-orang seperti Kang Deden diberi ketabahan dan tetap semangat ditengah krisis.

Written by rinaldimunir

August 4th, 2020 at 8:22 pm

Bapak Tua Penjual Koran

without comments

Jika Anda sering melewati Masjid Salman ITB (jalan kecil menuju masjid di samping Taman Ganesha) tentu Anda sering melihat bapak tua ini. Dia menawarkan koran kepada siapapun yang lewat. Tidak banyak pejalan kaki yang membeli korannya. Kita semua paham bahwa pada era informasi digital ini media cetak sudah kehilangan banyak pembacanya  (baca tulisan saya sebelum ini). Pembaca sudah beralih membaca informasi dari media daring.

Tiap Dhuhur saya ke Salman dan selalu ketemu bapak ini.  Memang tidak setiap hari dia berjualan koran di Salman, tetapi kalau hari Jumat selalu ada, mungkin hari Jumat masjid sangat ramai dengan jamaah yang sholat Jumat.

penjualkoran

Setiap kali saya melewatinya biasanya saya tidak mempedulikannya, tidak tertarik beli koran, karena di rumah saya sudah berlangganan koran lokal meskipun jarang dibaca.

Tapi hari ini saya beli korannya. Saya beli koran ibukota saja. Saya beli karena rasa iba melihat dia duduk tertunduk menatap dagangan korannya. Masih banyak koran yang belum laku. Saya pun ingin sekedar tahu profilnya. Berikut dialog saya dengannya.

+ Siapa namanya, Pak?
– Asep.     (Agak-agak kurang jelas, suaranya lirih. Red).
+ Dari mana, pak?
– Dari Cicaheum
+ Setiap hari bawa koran berapa?
– 100
+ Habis?
– Nggak juga
+ Sudah jarang orang beli koran ya, Pak?
– Iya, tapi ada saja yang beli

Demikianlah percakapan saya dengan Pak Asep. Dia menjawab pendek-pendek sambil menunduk. Sepertinya Pak Asep sedang sakit. Dari seorang teman saya baru tahu kalau dulunya Pak Asep ini agak gemuk, tetapi sekarang mengidap penyakit diabetes. Tangannya tampak bergetar. Kasihan ya.

Kalau kamu ketemu dia, sempatkanlah membeli korannya, meski kamu tidak terlalu butuh. Satu saja tak apa. Itu sudah membantu dia bertahan hidup. Orang kecil seperti Pak Asep ini banyak di sekeliling kita. Mereka tidak mau meminta-minta, tetapi selalu berikhtiar mencari nafkah halal meskipun keuntungan tidak seberapa. Hanya melalui tangan kitalah kita bisa membantu mereka dengan membeli dagangannya.

 

Written by rinaldimunir

March 4th, 2020 at 8:27 am

Tetap Rukun Sampai Manula

without comments

Sepasang aki dan nini (sebutan buat kakek dan nenek dalam Bahasa Sunda) lewat di depan rumah saya. Ditaksir umur mereka sekitar 80-an. Mereka berjalan saling bergandengan tangan, tertatih-tatih dan sedikit-sedikit melangkah. Sang aki menggenggam erat tangan istrinya, khawatir jatuh. Jalanan sepi pagi hari itu dan hanya mereka berdua saja yang berjalan.

+ Mau ke mana, aki?, sapaku.
– Mau pulang ke rumah, dari rumah anak. Si Nini menjawab tanpa menoleh, tetap konsentrasi ke arah depan.

Oh, mereka mungkin habis bermalam di rumah anaknya di kawasan Antapani 2, pikirku. Mungkin juga habis menengok cucu lalu pagi-pagi mereka pulang kembali ke rumahnya. Kalian jangan berpikiran “kemana anaknya, kenapa tidak diantar?”. Mungkin saja mereka tidak ingin merepotkan anak-anak dan cucu-cucunya, tidak ingin diantar, ingin tetap mandiri. Kadang ada juga orangtua yang menolak diantar ke lokasi yang tidak terlalu jauh, sekalian olahraga katanya.

Saya menatap mereka yang terus berjalan. Romantis sekali kelihatannya. Tetap setia sampai aki-aki dan nini-nini.

Ah, akupun juga ingin begitu, kataku dalam hati sambil menghela napas. Menua bersama-sama dengan istriku kelak, dan selalu setia. Saya yakin Anda pun juga sama.

Tuhan selalu menyajikan banyak pelajaran kehidupan kepada kita sepanjang waktu. Salah satunya pelajaran dari aki dan nini itu pada pagi hari tadi.

Written by rinaldimunir

February 9th, 2020 at 8:09 pm