if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Pengalamanku’ Category

Oleh-oleh dari Kampung dari Mahasiwa Bimbingan

without comments

Suatu hari mahasiswaku datang mau bimbingan Tugas Akhir (TA). Dia membawa oleh-oleh dari kampung halamannya. Kebetulan saat itu baru selesai libur lebaran dan kampus sudah buka kembali.

“Ini buat bapak”, katanya, sambil menyerahkan sebuah plastik keresek berisi kue khas kampung halamannya.

Saya tahu niat baiknya, tulus, namun saya tidak bisa menerimanya karena dia masih dalam penilaian saya. Dia mahasiswa bimbingan saya, nilai tugas akhirnya tergantung dari saya.

“Bagikan saja buat teman-temanmu di kosan ya”, kata saya sambil tersenyum. Saya tidak ingin menyakiti perasaannya, jadi oleh-oleh tersebut tetap bermanfaat bagi teman-temannya di kos-kosan. Alhamdulillah, dia bisa memahami dan mengerti sikap saya tersebut. Akhirnya bimbingan TA pun dilanjutkan kembali tanpa terganggu dengan kejadian tadi.

Meskipun saya tahu ini adalah budaya keramahtamahan bangsa kita, yaitu sering membawa oleh-oleh ketika bertamu, namun menurut saya momennya tidak tepat.

Saya pun paham mereka memberi itu tidak punya maksud apa-apa sih, tetapi prinsip tidak menerima pemberian apapun dari orang yang berada di bawah tanggung jawab kita, di bawah penilaian kita, harus diterapkan. Dengan demikian kita tidak punya beban dalam menilai mereka. Tidak terikat dengan pemberian yang pernah mereka berikan.

Saya tidak akan menyebut itu gratifikasi atau pun istilah lainnya. Selama mahasiswa masih terikat dengan saya, saya tidak mau menerima apapun dari mereka.

Sebaiknya mahasiswa tidak usah memberi kami apa-apa. Menurut saya itu sikap yang terbaik agar kami tidak serba salah menanggapinya.

Written by rinaldimunir

June 3rd, 2022 at 10:49 am

Posted in Pengalamanku

Hujan dan Jemuran Mahasiswa Kos

without comments

Saat mengajar di kelas, tiba-tiba hujan deras turun. Semua mata mahasiswa menoleh ke arah jendela, melihat hujan turun dengan lebatnya. Terlihat sebagian mereka agak gelisah. Mungkin gelisah memikirkan bagaimana pulang ke kosan nanti?

Saya pun bertanya kepada mereka:

+ Kenapa kalian tampak gelisah? Ingat jemuran di kosan basah kuyup ya?

Semua mahasiswa tertawa. Hahaha…

Saya pun bercerita. Dulu saat saya jadi mahasiswa ITB, saya biasa mencuci pakaian sendiri, baik waktu ngekos maupun saat tinggal di asrama mahasiswa ITB. Tiga hari sekali mencucinya. Ditumpuk dulu semua pakaian kotor di dalam keranjang. Nggak repot-repot amat mencucinya, cukup direndam di dalam ember dengan deterjen Rinso. Rinso kan mencuci sendiri (demikian bunyi tagline iklan Rinso zaman itu) 🙂 . Biarkan rendaman cucian selama satu jam, kucek-kucek, lalu bilas. Setelah diperas, dijemur di atas atap kosan (ada tali jemuran di atas atap), kemudian ditinggal pergi kuliah. Sore atau siang sepulang kuliah jemuran sudah kering.

Nah, apesnya saat sedang asik kuliah di kampus, tiba-tiba hujan turun. Saya yang sedang mendengarkan dosen menerangkan kuliah langsung buyar fokusnya, teringat cucian di jemuran tadi, pasti basah lagi. Siapa yang mengangkat jemuran saya nih? Apakah ada teman yang sedang berada di kosan mau membantu mengangkatnya sebelum hujan? Hihihihi…kalau semua teman kosan juga sedang di kampus, apes deh, nggak selamat jemuran saya.

Kalau semua pakaian basah dan tidak punya persediaan yang kering lagi, terpaksa deh saya pakai CD side A side B. Hahahaha…

Namun ketika saya dan teman-teman satu alumni SMA mengontrak rumah ramai-ramai, maka saya tidak lagi mencuci sendiri. Kami mengambil pembantu yang dipanggil bibi. Bibi ini umumnya warga sekitar rumah kontrakan kami. Kami iuran per orang per bulan untuk menggaji bibi. Selain mencuci baju dan menyetrika pakaian kami, bibi bertugas berbelanja ke pasar, memasak dan menyiapkan sarapan untuk kami. Kami tinggal belajar dan kuliah saja, tidak pusing urusan mencuci dan makan lagi. Tetapi tinggal bersama dalam satu kontrakan hanya setahun saja, setelah itu kami berpisah dan kos sendiri-sendiri. Saya pun mulai mencuci sendiri lagi.

Kalau mahasiswa kos zaman sekarang apa masih ada yang mencuci sendiri ya? Sekarang kan serba mudah, jika malas mencuci, cukup cuci pakaian di tempat laundry saja. Laundry ada di mana-mana. Murah lagi, sebab hitungannya per kilo pakaian. Nggak perlu resah jika hujan turun saat sedang di kampus.

Written by rinaldimunir

April 29th, 2022 at 6:36 pm

Posted in Pengalamanku

Nasi Goreng Ibu

without comments

Anak saya yang bungsu, kalau mau sarapan pagi seringkali minta nasi goreng. Nasi goreng ibu, katanya. Kalau ibunya yang membuatkan nasi goreng maka biasanya makannya habis. Namun jika saya yang memasakkan nasi goreng maka seringkali tidak habis dimakannya, selalu saja bersisa. ?

Padahal bumbu nasi goreng yang saya dan istri gunakan sama, bumbu sederhana saja, yaitu bumbu racik instan dari Indofood. Cara memasaknya juga sama, yaitu panaskan satu sendok margarin blue band di atas teflon, masukkan telur, aduk-aduk, campurkan nasi, tambahkan garam, udah gitu aja.

Nasi goreng minimalis untuk si bungsu

Mungkin beda tangan dan sentuhan bisa beda rasa ya nasi gorengnya. Mungkin juga faktor hubungan batin ibu dan anak membuat masakan jadi lebih enak kali ya. Ibu memasak dengan kasih, ayah memasak dengan cinta. (Eh, sama aja ya.. 🙂 )

Menurut saya, di rumah kita memang seharusnya ada sesuatu seperti masakan kesukaan anak buatan orangtuanya yang akan dirindukan oleh anak kita saat mereka jauh dari rumah nanti. Membuat mereka rindu rumah dan kangen dengan masakan ibu/ayahnya. Membuat mereka rindu untuk pulang.

Sama seperti kita orang dewasa, kita pun sering merasa kangen dengan masakan orangtua kita saat kita berada jauh di negeri orang. Rindu masakan yang dulu sering dibuat oleh ibu saat kita kecil. Orangtua kita tahu betul apa makanan kesukaan kita, dan saat kita pulang ke rumah masakan itulah yang dicari atau diminta buatkan, atau bahkan tanpa diminta orangtua kita sudah menyiapkan masakan itu ketika kita pulang ke rumah.

Jadi, penting bagi orangtua untuk mengingat apa yang menjadi kesukaan anak kita saat mereka masih tinggal di rumah. Mungkin kita kadang-kadang jengkel karena anak merengek-rengek minta dibuatkan makanan kesukaanya. Jangan merasa mersa repot dan cape mengurus anak, sebab masa-masa mengasuh anak itu hanya sekali saja dalam seumur hidup. Sebelum nanti kita menyesal karena telah melewatkan masa-masa yang berharga itu sehingga tidak meninggalkan kenangan manis pada anak kita.

Written by rinaldimunir

April 24th, 2022 at 2:40 pm

Posted in Pengalamanku

Serumah dengan Pasien Covid

without comments

Tiga minggu lalu, hari Jumat sore, istri saya pulang dari Surabaya. Sehari setelah tiba di rumah dia biasa-biasa saja. Tapi tiga hari kemudian, hari Senin, dia mulai merasa tidak enak badan. Malam hari badan terasa demam. Keesokan harinya tenggorokan dan kerongkongan mulai terasa sakit, susah menelan makanan. Batuk pun mulai terdengar satu satu. Jangan-jangan…., ya jangan-jangan positif. Kata positif dulu untuk kehamilan, sekarang berganti untuk kasus covid. Dulu saat awal menikah kata yang ditunggu adalah positif, sekarang kata yang didambakan adalah kata negatif. ?

Hari Selasa sore dia minta diantar oleh anak saya yang nomor dua untuk tes rapid antigen di klinik Medika Antapani. Setelah menunggu tiga puluh menit, hasilnya keluar. Qadarullah, positif!

Saya pun terhenyak mendengarnya. Sudah dua tahun sejak pandemi dimulai bulan Maret 2020, belum pernah ada kasus positif di rumah kami. Akhirnya pertahanan itu jebol juga. Yang terkena adalah istri saya yang mungkin dapat oleh-oleh virus di Surabaya atau di atas kereta api (Bandung-Surabaya naik kereta Argo Wilis pp). Tak tahulah dapat di mana. Istri sudah vaksin dua kali. Anak-anak di rumah juga sudah vaksin dua kali, sedangkan saya sudah booster (vaksin ketiga).

Setelah istri sampai di rumah, maka SOP pun saya terapkan. Istri isoman saja di kamarnya. Keluar hanya jika ke kamar mandi saja. Kalau keluar kamar pun harus pakai masker. Makan minum saya antarkan ke depan pintu kamar. Anak-anak diminta tidak ke kamar ibunya dan tidak berada dekat-dekat dengan ibunya. Kalau istri mau keluar kamar, maka anak-anak saya suruh mengumpet dulu di kamar. Pembantu rumah tangga pun saya suruh menjauh ke belakang rumah. Hehehe…, agak parno ya, tapi bagaimana lagi, ini kan dalam rangka ikhtiar tidak terkena. Kalau terkena semua kan gawat. Apalagi kami punya anak sulung yang ABK (anak berkebutuhan khusus), yang tidak paham apa itu covid, dan tidak mungkin bisa diisolasi jika terkena. Dia tidak bisa diam. Maklum anak autis.

Setelah berdiskusi dengan istri via WA, akhirnya pembantu rumah tangga yang biasa datang pagi dan pulang sore terpaksa saya “rumahkan”. Tidak usah masuk kerja dulu, karena dia punya komorbid, diabetes, dan lagipula dia belum pernah vaksin sama sekali (karenakadar gulanya tinggi, di atas 200 sehingga tidak bisa divaksinasi). Jika dia terkena bisa parah ‘kan.

Setelah pembantu pulang, malam hari anak sulung yang ABK itu badannya panas. Semalaman dia gelisah tidur. Saya pun agak panik. Jangan-jangan…. ah, tetapi pikiran itu saya buang, karena anak sulung ini mudah masuk angin. Jika masuk angin maka badannya pasti demam. Saya ukur suhunya 38 deajat. Saya pun tidak bisa tidur semalaman karena si sulung terus terbangun. Saya kompres dahinya, saya usap badannya dengan minyak kayu putih, dan saya minumkan Decolgen. Itu cara saya yang biasa menurunkan demamnya.

Besok pagi panas si sulung mulai turun. Dia mulai ceria lagi. Tapi sore harinya panasnya mulai naik lagi. Minum Decolgen lagi, dan alhamdulillah malamnya sudah normal kembali. Jadi saya makin yakin dia memang masuk angin saja. Tinggal saya yang karena tidak tidur semalaman maka badang terasa tidak enak, tetapi tidak panas. Batuk mulai satu-satu.

Kembali ke istri saya. Dia hanya di kamar saja, tidur saja, karena badan tidak enak. Batuk pun mulai keras. Obat gratis yang diharapkan dikirim dari Kemenkes tidak datang-datang, padahal di aplikasi Peduli Lindungi statusnya sudah hitam (yang berarti terkena covid). Kemenkes sudah menghubungi istri via WA, tetapi anehnya disuruh menghubungi Puskesmas Kuta, Bali. Kacau nggak tuh data di Peduli Lindungi, kok Kuta? Ini kan di Bandung Jawa Barat gaesss. Hehehe…

Akhirnya saya menghubungi, Rosye, teman di Dinas Kesehatan Kota Bandung, minta dikirimi obat untuk penderita covid. Kok nggak dari awal-awal, katanya? Dengan sigap dia kirim paket obat ke rumah via gojek. Isinya tiga macam obat: pertama obat antivirus yang namanya Avigan, lalu multivitamin + zinc, dan terakhir vitamin D3 1000 IU. Avigan sebanyak 40 tablet, diminum pada hari pertama 2 x 8 butir (haaa? 8 butir sekali minum? ), hari ke-2 sampai hari ke-5 sebanyak 2 x 3 butir. Multivitamin satu kali sehari saja untuk 10 hari. Kalau badan masih panas minum parasetamol saja. Begitu juga kalau batuk pakai obat pasaran saja.

Jadi, selain istri, di rumah hanya saya dan si sulung ABK yang gejalanya seperti orang positif covid karena ada batuk dan sedikit pilek, sedangkan si tengah dan si bungsu tidak apa-apa. Maklum mereka berdua lebih banyak di kamar saja. Saya sendiri antara yakin dan tidak yakin ini covid atau bukan, karena gejalanya mirip dengan flu. Kalau mau kepastian positif atau negatif sih tes antigen atau PCR saja. Mungkin saya dan si sulung OTG, tapi anggap sajalah terkena omicron, jadi tidak perlu dites lagi. Toh dua hari juga sudah sembuh, hanya tersisa batuk sesekali. Resep yang saya tulis pada tulisan sebelumnya benar-benar saya laksanakan, yaitu minum air putih sesering mungkin, berjemur pagi, minum multvitamin. Kasus covid oleh virus omicron memang cepat sembuhnya karena gejalanya ringan bagi orang yang sudah vaksin dua kali dan tidak punya komorbid.

Istri saya yang karena tes rapid antigennya di Antapani, maka datanya cepat masuk ke Puskesmas Jajaway dan ke Satgas covid di RW kami. Pada hari kelima datanglah Pak RW dan Bu RW ke rumah mengantar paket sembako. Isinya seplastik telur ayam, pisang, dan madu. Untuk meringankan, katanya. Alhamdulillah, bentuk perhatian dari RW. Ternyata di RT saya yang terkena omicron tidak hanya istri saya saja, tetapi ada 15 orang! Waduh, banyak juga, tapi semuanya gejala ringan.

Setelah sepuluh hari isoman, istri saya merasa sudah lebih baik. Makan sudah enak, kerongkongan sudah tidak sakit lagi, batuk sudah jarang. Tanda hitam di Peduli Lindungi sudah berubah mejadi hijau. Alhamdulillah sudah sembuh, dan besok sudah mulai masuk kerja lagi.

Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah.

Written by rinaldimunir

March 7th, 2022 at 9:13 pm

Posted in Pengalamanku

Flu atau Omicron?

without comments

Teman-teman saya di Jakarta menceritakan kalau dia dan keluarganya tertular omicron. Gejalanya mirip flu biasa: ada pilek dan batuk. Tenggorokan sedikit gatal. Tapi tidak demam. Setelah minum panadol dan multivitamin, beberapa hari juga pilek sembuh. Sekarang tinggal batuk sesekali.

Dia tidak tes PCR. Udah yakinlah ini covid omicron katanya. Cepat penularannya. Mulai dari anak, lalu istri, akhirnya dirinya.

Memang agak sulit membedakan covid omicron saat ini dengan flu biasa. Gejalanya mirip. Kayaknya setiap orang yang pilek dan batuk jika dites antigen atau PCR hasil tesnya kemungkinan besar positif.

Jangan-jangan sudah banyak orang tertular omicron tapi nggak nyadar karena gejalanya sama dg pilek dan batuk biasa.

Jangan-jangan saya juga sudah pernah kena omicron nih. Beberapa minggu yang lalu saya kena batuk dan sedikit pilek. Awalnya dari anak, lalu ke saya, lalu ke anak yg lain. Nggak lama sih, pilek dua hari juga sudah hilang. Cuma batuk yang masih cukup lama. Masih ada sisanya sesekali.

Saya kalau kena flu maka obatnya sederhana saja. Perbanyak minum air putih. Saya bisa bergelas-gelas minum air putih sehari, mungkin lebih dari 1 liter. Biarin sering pipis, tidak apa-apa. Lalu tidak lupa berjemur pagi dan jalan kaki pagi lebih dari 30 menit.

Dari pengalaman saya, minum air putih yang banyak merupakan terapi yang sangat ampuh untuk flu seperti batuk dan pilek. Juga buat penyakit yang lain seperti pusing-pusing, tidak enak badan, darah tinggi, dll. Coba deh. Insya Allah.

Tidak hanya saat sakit saja, bahkan dalam kadaan sehat sekalipun, biasakan minum air putih yang banyak setiap hari. Air putih (air bening) ya, bukan yang dicampur dengan teh atau sirup.

Written by rinaldimunir

February 17th, 2022 at 1:13 pm

Posted in Pengalamanku

Demam yang Parno

without comments

Pada zaman pandemi corona yang masih berlangsung saat ini, siapapun yang pernah demam, sakit kepala, nggak enak badan, batuk, atau diare, mungkin akan mengalami parno (paranoid) seperti yang saya rasakan. Karena gejala-gejala seperti yang disebutkan tadi mengarah ke Covid-19. Ciri-cirinya mirip-mirip.

Minggu lalu saya mengalami demam dan diare. Dimulai dari hari Rabu malam, tiba-tiba badan saya menggigil seperti orang yang meriang. Saya langsung tarik selimut dan tidur saja sampai pagi. Keesokan harinya saya harus menguji beberapa tesis mahasiswa S2 secara onlen, namun tubuh saya terasa hangat. Demam. Saya tidak bisa konsentrasi. Semakin siang suhu badan saya semakin tinggi dan pernah mencapai hampir 39 derajat Celcius. Dan yang membuat saya menderita adalah saya diare (mencret) tiada henti. Tiap sebentar pergi ke toilet, meskipun BAB yang keluar hanya berbentuk cair. Saya coba meminum obat diare seperti Diatab dan Diapet, namun diare tidak berhenti juga.

Saya sudah mulai khawatir, jangan-jangan….. Ah, saya buang jauh-jauh pikiran ini, namun setiap kali membaca penjelasan di Internet tentang gejala covid, saya pun khawatir lagi. Diare dan demam adalah salah satu ciri Covid-19. Saya juga kehilangan selera makan, patah selera. Tidak mau makan. Namun yang masih saya syukuri, indra penciuman dan perasa saya masih normal. Setiap kali saya coba hirup minyak kayu putih, saya baui nasi, pisang, saya minum madu, masih terasa baik rasanya. Namun tetap saja ada rasa was-was di dalam hati.

Saya semakin gelisah ketika anak saya yang sulung, yang ABK, badannya juga hangat. Saya kontak istri, lalu saya minta pakai masker di rumah dan tidak dekat-dekat dengan saya dan anak. Saya mengisolasi diri di studio mini tempat saya bekerja di lantai dua.

Akhirnya Hari Jumat saya beranikan diri ke klinik Medika Antapani, berobat ke dokter umum, diantar anak saya yang tengah. Setelah menunggu cukup lama, tibalah giliran saya masuk ke ruang praktek dokter. Setelah menceritakan gejala yang saya alami, dokter merekomendasikan saya untuk tes swab antigen, setelah ada hasilnya nanti kembali lagi ke dokter tersebut.

Kebetulan di klinik tersebut juga menyediakan tes swab antigen, jadi saya tidak perlu jauh-jauh ke tempat lain. Dengan perasaan harap-harap cemas, saya mulai menjalani tes swab antigen. Hidung saya dicucuk dengan semacam cotton bud untuk mengambil cairan di hidung. Duh, perih ngilu. Saya agak tegang sih. Ini pertama kali saya dicucuk hidung, biasanya hanya mendengar cerita-cerita orang yang di-swab, sekarang saya menjalani sendiri.

Sambil menunggu hasi tes, pikiran saya berkelabat ke mana-mana. Saya memikirkan berbagai skenario kalau hasilnya positif. Itu berarti seluruh orang di rumah nanti harus di-swab juga, lalu isolasi mandiri. Yang saya pikirkan adalah anak sulung saya yang ABK, bagaimana dia menjalaninya nanti? Sambil berdoa, saya berharap agar hasilnya negatif, saya minta anak saya yang tengah mendoakan saya.

Setelah setengah jam menunggu, maka hasilnya segera keluar. Dan….alhamdulillah, hasilnya negatif. Saya pun bernapas lega. Saya kembali ke dokter umum tadi membawa hasil tes, dan dia berucap yang sama. Barulah dokter berani memeriksa badan saya. Setelah memberi resep obat, saya pun menuju apotik untuk membeli obatnya.

Setelah minum obat dari dokter selama dua hari, ternyata diare saya tidak berhenti juga. Kalau demam memang tidak ada lagi, tetapi diarenya masih, meskipun frekuensi ke belakang sudah berkurang menjadi satu dan dua kali saja. Selera makan saya sudah mulai agak normal. Namun diare itu masih menjadi pikiran saya. Sampai obatnya habis saya masih tetap diare, BAB nya masih cair atau bubur (maaf). Namun yang alhamdulillah, anak saya yang sulung, yang tadi demam, demamnya hanya satu hari, besoknya sudah sembuh.

Di dalam lembaran hasil tes swab antigen disebutkan bahwa hasil negatif tidak menyingkirkan kemungkinan terinfeks SARS-Cov-2 sehingga masih beresiko menularkan kepada orang lain. Meskipun saya tidak batuk, tidak pilek, dan tidak demam lagi, namun indera penciuman dan perasa masih normal. Ini yang saya syukuri, sebab seperti yang saya baca, penderita covid kehilangan penciuman. 

Untuk lebih meyakinkan lagi dan ingin sembuh dari diare, saya kembali berobat ke klinik Medika Antapani, tetapi kali ini ke dokter spesialis penyakit dalam (internis) pada Hari Selasa. Hari Senin dokter internis sudah penuh dengan pasien. Setelah menunggu sampai jam 13.00 (bayangkan dari jam 9 pagi), maka tibalah giliran saya. Saya ceritakan kondisi saya secara kronologis dan saya tunjukkan hasil tes swab antigen.

Dokter Faishol yang memeriksa saya adalah dokter yang sudah berusia lansia, tentu beliau sudah berpengalaman dengan  berbagai penyakit. “Jadi, kenapa saya masih diare, Dok”, tanya saya. “Bapak mengalami gangguan pencernaan”, jawabnya. Oh…,jadi itu rupanya.

Dokter memberi resep obat. Ada dua macam obat yang harus saya minum, yang pertama antibiotik, yang kedua obat diare. Alhamdulillah, keesokan harinya saya sudah tidak diare lagi. BAB normal.

Begitulah pengalaman saya. Salah satu kesalahan saya adalah panik, khawatir, atau stres. Hal ini tidak boleh, sebab dapat menurunkan imun. Sebaiknya harus disikapi dengan tenang dan berpasrah diri kepada Allah SWT.

Moral dari kisah ini, saya semakin mensyukuri nikmat kesehatan dari Allah SWT. Betapa kesehatan itu adalah nikmat yang paling tinggi. Apa guna banyak uang tetapi badan sakit, maka uang itu tidak dapat kita nikmati. Sakit mengajarkan kita agar selalu menjaga kesehatan dan selalu bersyukur. Jangan merasa sombong dan takabur. Jangan menganggap enteng pandemi ini. Terima kasih ya Allah, semoga kami sekeluarga diberi selalu tubuh yang sehat dan dijauhkan dari berbagai penyakit, dan pembaca yang membaca kisah saya ini juga dilindungi oleh Allah SWT. Amiin ya rabbal alamiin.

Written by rinaldimunir

July 4th, 2021 at 2:46 pm

Posted in Pengalamanku

Studio Pandemi

without comments

Selama masa pandemi corona saya lebih banyak berkutat di ruang kecil di lantai dua rumah. Ini ruang kecil yang dulu dijadikan mushola keluarga. Karena sekarang kami lebih banyak sholat di lantai satu, maka ruangan mushola tersebut jarang digunakan.

studio1

Sejak pandemi corona bulan Maret 2020 yang lalu, praktis saya hanya di rumah saja, bekerja dari rumah. Mengajar dari rumah, rapat dari rumah, segalanya dari rumah. Onlen atau daring. Mengajar, seminar, sidang,  dan rapat dari rumah mengandalkan suara yang lumayan keras kalau berbicara. Oleh karena itu, supaya tidak mengganggu yang lain dan juga tidak diganggu anak, maka saya pindah ke ruang kecil ex mushola ini.

Sekarang ruang kecil di pojok rumah itu saya jadikan tempat untuk mengajar onlen, seminar onlen, rapat onlen, sidang onlen, bimbingan onlen, perwalian onlen, dan juga menjadi studio dadakan untuk memproduksi video-video kuliah. Sebuah kasur tipis dihampar di lantai untuk rebahan jika penat. Saya menyebut studio kecil ini dengan nama studio pandemi.

studio2

Hampir setiap hari saya berada di sini karena pekerjaan pada semester genap ini lumayan menyita waktu juga. Sebagian besar waktu saya di sini habis untuk menyiapkan bahan kuliah daring dan merekam video kuliah yang akan diunggah di YouTube. Melayani mahasiswa yang perwalian, bimbingan Tugas Akhir, dan seminar-seminar serta sidang juga dari sini.

Kalau cape dan mengantuk saya berbaring sebentar di kasur di samping meja kerja (meja belajar anak saya dulunya). Di seberang ruang kecil ada balkon. Di sanalah saya berjemur pada pagi hari atau melihat suasana sore dari lantai dua rumah. Kalau hujan saya dapat melihat langsung airnya turun di sini.

Jenuh? Ya, bagaimana lagi, kondisinya seperti ini. Saya sudah rindu memgajar di kampus seperti dulu, bertemu mahasiswa, bercanda, bimbingan di kampus, dan bertemu kolega. Tapi keinginan tersebut sepertinya belum bisa terwujud saat ini. Kampus masih ditutup untuk aktivitas perkuliahan. Artinya sampai akhir semester saya saya kembali bertapa di ruang kecil ini. Entah bagaimana pada semester ganjil tahuna ajaran yang baru nanti. ? ?

Written by rinaldimunir

February 13th, 2021 at 10:31 am

Pohon Buah Tin di Halaman Rumah

without comments

Di rumah saya sedang tumbuh dua batang pohon tin. Saya tanam di dalam pot karena halaman rumah saya tidak luas. Satu bibit pohon tin saya dapatkan dari seorang teman di medsos, sedangkan satu lagi saya beli di tukang tanaman di depan GOR Arcamanik, Bandung.

Buah tin atau yang memiliki nama ilmiah Ficus carica ini dulunya banyak tumbuh di kawasan Asia Barat atau Timur Tengah. Buah tin juga disebut sebagai buah ara atau fig dalam Bahasa Inggris.

Subhanalah, pohon tin yang aslinya hidup di Timur Tengah ternyata bisa hidup subur di tanah nusantara.  Daunnya lebar-lebar dan banyak. Pada mulanya daunnya seperti tiga jari, tetapi ketika melebar ia menjadi daun yang lancip. Ini gambar dua pohon tin di halaman rumah saya.

Tin1

Buah tin adalah salah satu dari empat nama buah-buahan yang disebut di dalam Al-Quran (tiga lagi adalah buah kurma, buah zaitun, dan buah anggur). Begitu istimewanya buah tin ini sehingga di dalam Al-Quran terdapat sebuah surat yang diberi nama surat At-Tin. Bahkan Allah sendiri pernah bersumpah atas nama buah tin di dalam permulaan surat tersebut yang bunyinya:

Wattiini waz zaituun
Watuurisiniina
(Demi buah tin dan buah zaitun,
dan demi bukit Sinai)
(At-Tin, 1:2)

Karena Allah pernah bersumpah atas nama buah tin, saya menganggap buah tin adalah buah yang diberkahi. Buah surga. Para ahli telah menyelidiki manfaat buah tin untuk kesehatan. Dikutip dari sini, buah tin memiliki kandungan vitamin, mineral, dan fitonutrien yang baik untuk tubuh.  Vitamin yang terkandung dalam buah tin antar lain Vitamin A, vitamin C, vitamin E, vitamin K, dan vitamin B kompleks. Terdapat juga kandungan mineral meliputi tembaga, kalium, zat besi, mangan, magnesium, kalsium, zinc, sodium, dan selenium.

Beberapa manfaat buah tin adalah untuk menjaga kesehatan jantung, menjaga saluran pencernaan, mengatasi anemia, menjaga kesehatan tulang, mengatasi insomnia, mengatasi masalah seksual, meningkatkan imunitas tubuh, dan lain-lain (selengkapnya baca ini, atau ini).

Saya sendiri belum pernah makan buah tin, hanya mendengar namanya saja. Dua tahun lalu ketika saya menunaikan ibadah haji, saya mencari-cari buah tin di supermarket di kota Mekkah. Namun sayang sekali saya tidak menjumpai buah tin segar, yang ada hanya buah tin yang sudah diawetkan menjadi manisan. Kalau sudah menjadi manisan tentu rasanya sudah tidak asli lagi, cuma rasa gula saja.

Pohon tin yang tumbuh di halaman rumah selalu saya rawat dengan sepenuh hati. Saya siram dan rutin diberi pupuk. Setiap hari sebelum berangkat ke kampus saya pandang-pandang pohon ini.  Cepatlah berbuah, kata saya dalm hati.  Saya tidak sabar untuk menikmati buah surga ini.

Setelah empat bulan tumbuh, maka pada suatu hari pohon tin mulai mengeluarkan beberapa buah putik. Makin lama putik semakin  besar dan mulai menampakkan wujud seperti buah tin sebenarnya.  Warnanya masih hijau, pertanda belum matang. Saya sudah tidak sabar menunggunya sampai merah.

tin3

Kelak jika sudah matang warnanya akan merah seperti di bawah ini (sumber foto dari sini). Hmmm…ranumnya.

tin4

Dan bila kita memotong buahnya, tampaklah daging buahnya yang seperti serat-serat berwarna marah. Serat-serat berwarna merah itu mengingatkan saya pada isi buah delima.

tin5

Dua hari yang lalu buah tin di pohon sudah menunjukkan tanda-tanda matang. Meskipun kulitnya belum berwarna merah seperti pada gambar, namun saya merabanya seperti sudah matang. Mungkin jenis buah tin yang sayang tanam berbeda dengan buah tin berwarna merah.

Sebelum buah surga ini disikat oleh kelelawar, kemarin saya petik. Saya potong empat, buat anak dan istri, sama-sama mencicipi, meski cuma sekerat saja.  Rasanya? Manis dan segar. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa mencicipi buah tin hasil tanam sendiri. Terima kasih ya allah, atas nikmat buah surga dari-Mu.

~~~~~~~~~~~~

Surat At Tin

?????? ??????? ??????????? ???????????

  1. ??????????? ????????????????  wat-t?ni waz-zait?n  (Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun),
  2. ???????? ???????????  wa ??ri s?n?n (demi gunung Sinai),
  3. ??????? ????????? ????????????  wa h??al-baladil-am?n dan demi negeri (Mekah) yang aman ini.
  4. ?????? ????????? ???????????? ????? ???????? ???????????  laqad khalaqnal-ins?na f? a?sani taqw?m (Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya),
  5. ????? ?????????? ???????? ????????????  ?umma radadn?hu asfala s?fil?n (kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya),
  6. ?????? ?????????? ????????? ?????????? ??????????? ???????? ?????? ?????? ???????????  illalla??na ?man? wa ‘amilu?-??li??ti fa lahum ajrun gairu mamn?n (kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya).
  7. ????? ??????????? ?????? ????????????  fa m? yuka??ibuka ba’du bid-d?n  (Maka apa yang menyebabkan (mereka) mendustakanmu (tentang) hari pembalasan setelah (adanya keterangan-keterangan) itu?)
  8. ???????? ??????? ?????????? ?????????????  a laisall?hu bi`a?kamil-??kim?n (Bukankah Allah hakim yang paling adil?)

Written by rinaldimunir

March 6th, 2020 at 1:38 pm

Sholat Jumat di Masjid Jogokariyan

without comments

Sewaktu berada di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu, saya sudah meniatkan diri untuk sholat Jumat di Masjid Jogokariyan, sebuah masjid bersejarah di Yogyakarta. Kebetulan saya check-out hotel jam 12.00, jadi waktunya pas dengan jadwal sholat Jumat. Dari hotel tempat saya menginap di Jalan Gowongan Kidul, Malioboro, saya naik Gojek ke masjid tersebut.

Sudah lama saya mendengar cerita tentang manajemen masjid Jogokariyan, masjid kampung yang mendunia. Sejarah masjid ini dapat anda baca pada laman Wikipedia ini.  Masjid Jogokariyan memiliki manajemen yang luar biasa, sila baca pada situs webnya. Masjid Jogokariyan tidak hanya sekadar masjid tempat sholat, tetapi sekaligus menjadikannya sebagai pusat peradaban.

Deretan keistimewaan masjid Jogokariyan misalnya mengundang jamaah sholat ke masjid dengan cara berbeda, gerakan infak yag selalu tersisa nol rupiah, gerakan jamaah mandiri (selengkap baca di sini:  Deretan Keistimewaan Masjid Jogokariyan di Yogyakarta). Di masjid ini sandal hilang atau bahkan kendaraan yang hilang saja diganti. Banyak lagi deh cerita-cerita unik tentang masjid ini (Baca ini: 4 Alasan Mendatangi Masjid Jogokariyan Jogja Saat Ramadhan, yang ini:  Kisah Masjid dan Jamaah Jogokariyan Melayani Peserta Muslim United, atau yang ini:  Geliat dakwah Masjid Jogokariyan di kampung komunis).

Banyaknya cerita unik dan tayangan menarik tentang masjid ini membuat saya semakin penasaran. Oleh karena itulah ketika saya di Yogyakarta dan jadwal kereta saya ke Bandung waktunya masih lama (malam hari), maka saya sempatkan ke sana.

Setelah mutar-mutar naik Gojek, sampailah saya di kampung Jogokariyan. Kampung Jogokariyan terletak di arah Jalan Parangtritis, Nah, di perempatan kampung itulah terletak masjid Jogokariyan yang berwarna hijau. Waktu sholat Jumat lima bels menit lagi, saya berfoto dulu di depan masjid.

Di halaman masjid sudah teratata rapi ratusan nasi bungkus, gelas-gelas air minum dan botol-botol air minum mineral. Makanan dan minuman itu disediakan oleh masjid bagi jamaah usai sholat Jum’at nanti, atau bagi siapapun yang lewat di sana.

Semakin mendekati waktu sholat Jumat, masjid semakin ramai dengan jamaah hingga meluber ke halaman. Jamaah sholat Jumat tidak hanya warga sekitar, tetapi juga wisatawan atau pendatang seperti saya yang sama-sama ingin mencoba sholat di masjid yang terkenal ini. Saya tahu hal itu sebab setelah selesai sholat Jumat banyak orang berfoto-foto di depan nama masjid ini.

Sholat Jumat berlangsung seperti biasa. Khotib sholat Jumat mengangkat topik tentang makanan halal dan haram. Khatib menyoroti maraknya kedai-kedai makanan di Yogyakarta yang menjual menu daging anjing, jamaah diminta untuk mewaspadai makanan yang diharamkan agama itu (anjing adalah hewan carnivora sehingga termasuk makanan yang diharamkan di dalam Islam).

Usai sholat Jum’at nasi bungkus yang telah telah disediakan tadi dibagikan kepada para jamaah. Tidak usah khawatir, semua orang akan kebagian. Sayapun mendapat satu bungkus nasi. Ini nasi barokah, sebab ia adalah sedekah ikhlas dari hamba Allah. Jamaah termasuk saya makan bersama di teras masjid. Alangkah nikmatnya makan bersama-sama ya.

Nasi bungkus habis saya makan. Menunya sederhana saja. Nasi dan lauk berupa telur bacem dan bihun goreng bumbu kecap. Heran juga saya bisa menghabiskannya, sebab saya sangat sulit makan dengan lauk yang rasanya manis. Maklum selera saya masih selera Minang yang pedas, masih sukar menerima masakan yang manis meski sudah bertahun-tahun merantau di tanah Jawa.

Setiap orang makan dengan tertib, tidak ada makanan yang tersisa, tidak ada sampah-sampah bekas makanan yang terserak. Jamaah dengan tertib membuang sampah di tempat yang telah disediakan. Sambil makan jamaah bercakap-cakap dengan jamaah lain. Ibu-ibu yang tidak ikut sholat Jumat datang belakangan lalu menunaikan sholat Dhuhur di masjid, selanjutnya ikut makan nasi bungkus. Nasi bungkus sepertinya tidak pernah kurang.

Alhamdulillah, akhirnya niat saya untuk sholat di Masjid Jogokariyan kesampaian juga. Terima kasih ya Allah.

Written by rinaldimunir

January 3rd, 2020 at 11:36 am

Kisah Hidup Berharga dari Tukang Becak di Malioboro

without comments

Semalam saya diantar seorang tukang becak dari hotel ke stasiun Tugu, Yogyakarta. Dia  adalah bagian tukang becak yang biasa mangkal di dekat hotel. Tarif becak ke berbagai tujuan sudah pasti harganya, sebagaimana tertulis di dekat gerbang hotel. Hotel-hotel di Yogya telah berkordinasi dengan tukang beca dalam bentuk “kerjasama” yang saling menguntungkan, antara lain penentuan tarif. Pengguna becak itu kebanyakan para tamu hotel, terutama turis-turis yang ingin keliling Yogya dengan kendaraan tradisional. Saat ini becak harus bersaing dengan gojek dan grab dalam meraih penumpang.

Dalam perjalanan menuju stasiun, bapak penarik becak, sebut saja Pak Sumarto namanya, menawarkan kepada saya apakah mau beli oleh-oleh bakpia dulu di Jalan Pathuk sebelum ke stasiun. Bolehlah, kata saya. Jadwal kereta saya toh masih dua jam lagi. Tapi ongkosnya tambah berapa?, tanya saya. Cuma tambah lima ribu saja, Mas, jawabnya.

Saya minta diantar oleh Pak Sumarto ke toko bakpia 25 di Jalan Pathuk. Memang saya lebih suka bakpia 25, menurut saya bakpia 25 ini yang paling enak diantara nomor-nomor bakpia yang puluhan jumlahnya (14, 27, 55, 99, dll).

+ Kok tidak ke pabriknya saja pak?, tanya saya. (Saya dulu pernah ke home industry bakpia 25, langsung melihat proses pembuatannya, melihat para pekerja membuat bakpia. Fresh from oven)
– Ini juga sama mas, pabriknya punya beberapa toko, jawabnya.

Setelah selesai membeli beberapa kotak bakpia, saya kembali naik becaknya menuju stasiun Tugu.

Selama perjalanan dari hotel melewati Jalan Malioboro terus ke Jalan Pathuk dan stasiun Tugu saya pun kepo bertanya tentang pengalaman hidupnya menarik becak di Yogya.

+ Pak, bapak kan sering mengantar pembeli ke toko bakpia. Bapak nggak dapat komisi dari toko karena sudah mendatangkan pembeli ke tokonya?
– Oh, itu nanti. Nanti menjelang lebaran kami tukang becak dikasih THR berupa uang dan sembako dari toko.

Pak Sumarto bercerita, toko-toko bakpia, toko batik, dan toko kaos sudah punya data nama-nama tukang becak yang mangkal di hotel atau di jalan Malioboro. Tukang-tukang becak itulah yang mengantar tamu (lebih tepatnya mendatangkan) ke toko-toko tadi. Mereka tidak langsung dapat uang tips dari toko, tetapi nanti pada hari raya dalam bentuk THR dan sembako (beras, gula, minyak goreng, dll).

Jadi, di kota Yogyakarta sudah lama terjalin simbiosis mutualisma antara tukang becak dan toko oleh-oleh. Tukang-tukang becak bagaikan agen marketing toko-toko oleh-oleh. Kalau kita jalan-jalan di Malioboro, banyak tukang becak menyapa kita, menawarkan beli oleh-oleh ke bakpia pathuk. Misalnya sapaan begini: Mas, mbak, mau diantar naik becak beli bakpia ke Jalan Pathuk? Sepuluh ribu saja pulang pergi.

Biasanya tukang becak mengantar ke toko bakpia 25, karena bakpia 25 itu yang sudah punya nama. Tetapi mereka juga mau mengantar ke toko bakpia lain sesuai keinginan pelancong, misalnya bakpia tugu jogja, dan lain-lain.

Tidak hanya bakpia, simbiosis mutualisma juga terjadi dengan toko batik (misalnya rumah batik di gang-gang perumahan dekat keraton), toko kaos dll.

Setiap menjelang lebaran, demikian cerita Pak Sumarto, toko-toko itu membagikan THR dan sembako kepada tukang becak yang sudah mereka data. Pak Sumarto tidak hanya mendapat THR dari satu toko, tetapi juga dari toko-toko lain.

+ Pemilik toko bakpia itu baik orangnya. Kita juga boleh datang ke tokonya minta bantuan. Misalnya kalau becak saya rusak, perlu ongkos 200 ribu untuk memperbaikinya, tapi saya hanya punya uang 150 ribu, mereka mau membantu 50 ribu sisanya.
– Oh gitu ya pak. Memangnya pemilik toko bakpia itu orang Jawa?
+ Bukan. Semuanya orang cina, tetapi mereka baik kepada kami.

Yogyakarta adalah kota harmoni. Kehidupan di sini terasa tenang dan damai. Orang-orang kecil seperti tukang becak seperti Pak Sumarto ini tidak perlu khawatir tidak dapat rezeki. Simbiosis mutualisme dengan pihak hotel dan toko oleh-oleh adalah pengikatnya.

Tiba-tiba sejurus kemudian dia bertanya.

+ Mas orang cina ya?
– Bukan pak. Emang wajah saya mirip cina, gitu? (Saya pun terheran-heran).
+ Kulitnya mas
– Oh… (saya pun tertawa. Sudah sering saya dikira orang Cina atau orang Manado karena warna kulit)
+ Mantu saya orang cina, Mas, cina singapur. Anak saya perempuan kawin dengan cina singapur dan sekarang tinggal di Singapur.

Wah, menarik nih.

– Terus, bapak pernah diajak anak ke Singapur? Jalan2 gitu.
+ Sudah sering diajak, tapi saya nggak punya paspor. Repot mengurus paspor, harus banyak yang diisi, pakai akte kelahiran. Wong saya nggak punya akte.

Trus, bapak ketemu anak dan mantu bapak di mana?
+ Karena nggak punya paspor, kami hanya bisa ketemuan di Batam. Anak saya yang datang ke Batam sama suaminya. Sebulan saya di sana. Tapi nggak betah, balik lagi ke Yogya.
– Trus? (Saya semakin kepo saja )
+ Anak saya menyuruh saya berhenti ngebeca, tinggal di Batam saja. Saya mau dibelikan rumah 250 juta di Batam. Tapi saya nggak mau. Biarlah saya di Yogya saja menarik becak.

– Bapak asli mana?
+ Saya dari Wonogiri, Mas. Di sini saya merantau saja.
+ Ngontrak di sini?
– Ya nggak, tidur di atas becak saja.

Hmmm…meski sudah punya anak yang sudah hidup mapan di Singapur, namun Pak Marto tetap menarik becak.

– Pak, apakah anak bapak sering kirim uang ke Bapak? Bantu2 bapak dan ibunya,gitu.
+ Saya larang, Mas. Saya bilang ke dia, itu kan uang suamimu. Suamimu yang kerja,bukan kamu. Kamu harus minta izin ke suamimu jika menggunakan uang untuk keperluan keluarga di kampung. Kecuali memang suamimu yang kasih, ya saya terima.
+ Saya bilang ke anak saya. Bapak sudah cukup dengan penghasilan menarik becak.

Dalam hati saya berkata, sungguh Anda bapak yang rendah hati, tidak mau merepotkan anak atau meminta sesuatu kepada anaknya meski anaknya sudah hidup senang. Uang istri adalah dari suami. Istri harus minta izin suami jika menggunakan uang pemberian suami untuk membantu keluarganya. Ini sejalan dengan prinsip Islam.

– Menantu bapak muslim?
+ Iya. Masuk Islam. Saya suruh sunat dulu sebelum kawin dengan anak saya.
– Oh… (saya tertawa kecil)

Becakpun akhirnya sampai di stasiun Tugu. Saya pun turun. Tidak lupa ongkos becak saya lebihkan.

Bagi saya ini sebuah kisah hidup yang berharga. Meski anaknya sudah hidup mapan di negeri orang, tetapi dia tidak pernah mau meminta apapun dari anaknya. Dia melarang anaknya mengirim uang kepadanya . Membesarkan dan mendidik anak adalah pekerjaan penuh keikhlasan, tidak harap berbalas jasa. Hanya memberi, tak harap kembali.

Akupun nanti juga akan begitu. Jika anak-anakku sudah berkerja dan berkeluarga, akupun tidak akan mau meminta apapun darinya, tidak akan mau merepotkan anakku. Biarlah masa tua nanti dijalani dengan kesederhanaan di rumah sendiri. Sebagai orangtua kita sudah cukup bahagia jika anak kita sukses dan bahagia dengan hidupnya. Cukuplah kita mendoakan anak-anak kita agar mereka menjadi anak sholeh dan berhasil di dalam hidupnya.

Written by rinaldimunir

December 15th, 2019 at 9:13 pm