if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Pendidikan’ Category

In Memoriam, Rektor ITERA Lampung, Prof. Ofyar Tamin

without comments

Hari Rabu pagi tanggal 9 Juni 2021 sebuah pesan di whatsapp mengejutkan saya. Isinya mengabarkan Rektor ITERA Lampung yang juga dosen ITB, Prof Ofyar Z. Tamin wafat di Jakarta karena sakit.

Saya memang tidak kenal dekat dengan almarhum. Selama saya menjadi dosen terbang di ITERA Lampung, saya hanya sekali saja pernah berbicara secara langsung dengan beliau.  Selebihnya hanya berpapasan saja di Wisma ITERA, melempar senyum atau menganggukkan kepala.

Rektor-Itera-Ofyar-Z-Tamin

Nama Pak Ofyar cukup berkesan bagi sebagian besar dosen ITB. Saya yakin sebagian besar dosen ITB tidak mengenal wajahnya, tetapi mengenal namanya. Hal itu karena Pak Ofyar memiliki kebiasaan yang unik. Dia rajin mengirim ucapan selamat ulang tahun via SMS ke setiap dosen ITB. Setiap tahun hampir setiap dosen di ITB (dan juga di ITERA) mendapat kiriman ucapan selamat ulang tahun pada hari kelahirannya. Kalau sekarang ada whatsapp, maka ucapan selamat ulang tahun dikirim lewat whatsapp. Tidak hanya ucapan selamat ulang tahun, tetapi juga ucapan selamat Idul Fitri dikirim lewat whatsapp.

Entah darimana beliau mendapat nomor telpon dan data tanggal lahir semua dosen ITB. Bahkan dosen muda yang baru menjadi dosen di ITB pun merasa kaget dikirimi ucapan selamat ulang tahun dari seorang profesor! Merasa de javu, merasa tersanjung dikirim selamat ulang tahun dari seorang Guru Besar, padahal beliau tidak mengenal dirinya. Mungkin begitulah cara Pak Ofyar menjalin silaturahmi dengan orang lain, termasuk orang yang tidak dikenalnya sekalipun.

Bahkan, kalau hari ulang tahun kita sudah lewat, mungkin karena dia lupa, Pak Ofyar tetap mengirim ucapan selamat ultah pada hari berikutnya seperti pada skrinsut pesan whatsapp berikut:

ofyar1

Namun karena dikirim setelah tanggal kelahiran saya, maka saya membalas pesannya bahwa sudah lewat kemarin. Beliau pun membalas lagi bahwa telat sehari masih tetap sah  ?

ofyar2

Yang lebih mengharukan saya, ketika beliau dirawat di RS di Lampung karena positif Covid pada tahun lalu, beliau masih sempat mengirim selamat ulang tahun kepada saya dari rumah sakit seperti pada gambar di bawah ini. Sungguh membuat saya terharu padahal saya tidak   mengenalnya secara pribadi. Saya hanya bisa mendoakan beliau agar sembuh dari Covid.

ofyar3

ITERA boleh dibilang sebagai “anak kandung” ITB karena ITB lah yang membidani kelahirannya hingga tumbuh pesat sampai sekarang. Dosen-dosen ITB pun “dipinjamkan” menjadi dosen luar biasa (istilahnya dosen terbang) di ITERA dan sebagian lagi menjadi pejabat kampus seperti rektor, wakil rektor, ketua jurusan, hingga ketua Program Studi. Dosen-dosen ITERA masih muda-muda sehingga masih perlu dibina oleh ITB.

Pak Ofyar Tamin ditugaskan menjadi Rektor ITERA Lampung oleh ITB pada tahun 2014, yaitu saat mahasiwa ITERA “dipindahkan” dari ITB  ke Lampung karena kampus ITERA sudah mulai dibangun di luar kota Bandar Lampung. Saat mulai menjabat, beliau hanya diberi lahan  kosong seluas 300 Ha di Jalan Terusan Ryacudu (yang menjadi kampus ITERA sekarang). Berkat kemampuannya mencari dana pembangunan ke sana sini, maka siapa yang menyangka kampus ITERA tumbuh pesat luar biasa seperti sekarang (lihat foto). Video kampus ITERA dari atas drone dapat dilihat di tayangan Youtube ini.

ITERA-2

Ya, berkat kepemimpinan Pak Ofyar-lah maka ITERA Lampung menjadi bagus seperti sekarang. Saya yang mulai mengajar menjadi dosen terbang di ITERA tahun 2014 hingga sekarang dapat melihat perbedaan dulu dan sekarang (baca tulisan saya ini).

Ada pengalaman yang tidak terlupakan bagi saya berkaitan dengan Pak Ofyar. Pada tahun 2019 ITERA meminta kepada fakultas saya (STEI-ITB) untuk mencarikan dosen yang bersedia menjadi Kaprodi Teknik Informatika ITERA. Oleh fakultas, saya yang diminta menjadi Kaprodi (Kepala Program Studi) sana. Saya pada mulanya agak keberatan karena pertimbangan  keluarga. Itu berarti saya harus sering bolak-balik Bandung-Lampung untuk rapat-rapat koordinasi. Saya juga memiliki anak berkebutuhan khusus yang perlu mendapat perhatian di rumah. Lagipula, saya tidak punya passion dalam manajemen dan pengelolaan SDM. Namun, setelah berdiskusi dengan istri, dan rasa “kasihan” serta empati saya kepada dosen-dosen muda ITERA yang perlu pembinaan, akhirnya tawaran menjadi Kaprodi di ITERA pun saya terima, namun tetap saja ada rasa yang mengganjal di dalam hati, yaitu rasa belum ikhlas. Saya lebih suka seperti selama ini saja, menjadi dosen biasa, membina dosen muda dan membimbing mahasiswa di sana, tanpa disibukkan dengan urusan manajerial yang tidak saya sukai.

Apa yang terjadi? Setelah nama saya diusulkan oleh ITB ke ITERA, ternyata Pak Ofyar tidak setuju tanpa alasan yang saya ketahui. Apakah saya kecewa? Oh, sama sekali tidak, malah sebaliknya. Saya justru berterima kasih tidak jadi disetujui oleh Pak Ofyar. Ada perasaan lega di dalam hati. Mungkin Tuhan menjawab ketidakrelaan saya melalui cara Pak Ofyar tidak menyetujui saya sebagai Kaprodi. Terima kasih, Pak, Bapak telah “menyelamatkan” saya dari berbagai macam kekhawatiran yang hanya diri saya yang mengetahuinya.

Selamat jalan Pak Ofyar. Meski tidak mengenal bapak secara pribadi, menurut saya bapak adalah orang yang baik. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan dan amal shaleh yang telah bapak perbuat dengan pahala yang berlipat ganda, terutama dalam memajukan pendidikan tinggi di Pulau Sumatera khususnya dan di Indonesia umumnya.

Written by rinaldimunir

June 14th, 2021 at 9:05 pm

Mendadak Youtuber

without comments

Salah satu dampak positif (jika ini dibilang positif) pandemi corona bagi kalangan guru dan dosen adalah menjadi Youtuber. Youtuber adalah sebutan bagi orang-orang yang merilis konten-konten video ke platform media sosial Youtube. Pembelajaran secara onlen (daring) selama pandemi (yang masih berlangsung) “memaksa” guru dan dosen harus kreatif membuat materi ajar berupa video. Video-video tersebut sebagian diunggah ke Youtube agar dapat  ditonton ulang kapan dan di mana saja oleh peserta didik.

Saya pun juga mendadak menjadi seorang Youtuber. Sejak awal pandemi tahun lalu hingga sekarang saya sudah mengunggah puluhan video kuliah ke Youtube yang saya buat dari studio mini dadakan juga. Setiap mata kuliah ada kanalnya masing-masing. Video-video tersebut saya set menjadi publik sehingga dapat ditonton tidak hanya oleh mahasiswa saya di ITB tetapi oleh mahasiswa dan dosen di perguruan tinggi lain di Indonesia (mungkin juga di luar negeri asalkan mengerti bahasa Indonesia). Ini dapat dilihat dari komentar-komentar pada setiap video kuliah yang saya unggah yang merupakan mahasiswa dari kampus lain.

Kanal Youtube saya ada lima buah:

  1. Kanal gabungan (Rinaldi Munir): https://www.youtube.com/channel/UCBiY3GSJuQGGjNAdV8JebSQ
  2. Kanal kuliah Matematika Diskrit: https://youtube.com/channel/UCNkisa2dwJdMjg__CaHeuVw
  3. Kanal kuliah Aljabar Linier dan Geometri: https://youtube.com/channel/UC0Y0mSw5lnBbWy-N5gGV5IQ
  4. Kanal kuliah Kriptografi: https://youtube.com/channel/UCR7CdK1MwcQH2NHI6HoMSYA
  5. Kanal kuliah Strategi Algoritma: https://youtube.com/channel/UClfQhMnstEXInwGGUI6spCw

Kanal kuliah yang belum ada adalah untuk mata kuliah Interpretasi dan Pengolahan Citra.  Kanal gabungan adalah kanal yang berisi semua video yang saya buat sendiri, sedangkan kanal nomor 2, 3, dan 5 tidak hanya berisi video-video yang saya buat tetapi juga video dari dosen lain yang mengampu mata kuliah yang sama (kelas paralel). Sekarang kanal-kanal tersebut sudah memiliki ratusan hingga ribuan subscriber.

Meskipun video yang saya buat masih sederhana (hanya menyuarakan materi power point, seolah-olah saya sedang mengajar di kelas offline), namun sudah cukup membantu bagi mahasiswa saya sendiri khususnya dan bagi mahasiswa lain di luar ITB untuk memahami materi perkuliahan. Alhamdulillah, semoga memberi manfaat.

Membuat video-videoitu selain melelahkan namun juga mengasyikkan. Selain membuat video materi kuliah, saya pun sekarang mulai membuat video-video lain berupa kreasi video musik atau konten-konten video yang berisi dokumentasi foto-foto sidang tugas akhir, tesis, dan disertasi, kenangan perkuliahan selama pandemi. Iseng-iseng saya juga membuat vlog (video blog) yang menceritakan pengalaman atau peristiwa yang saya alami seperti pengalaman naik haji, jalan-jalan di kampus, suasana lebaran, dan lain-lain. Video-video yang saya sebutkan di atas dapat dilihat pada kanal gabungan  (https://www.youtube.com/channel/UCBiY3GSJuQGGjNAdV8JebSQ).

Menjadi Youtuber tidak pernah terpikirkan oleh saya sebelum ini. Ini keadaan karena “terpaksa” namun rupanya banyak manfaatnya, terutama bagi orang lain. Saya hanyalah satu dari ribuan guru dan dosen lain di tanah air yang membuat konten video ajar atau video kuliah yang diunggah ke Youtube. Pandemi corona telah melahirkan ribuan video ajar dengan presenternya adalah orang Indonesia sendiri. Jika sebelum pandemi kebanyakan video ajar di Youtube umumnya beraroma “India”, sebab banyak konten video ajar yang dibuat oleh dosen-dosen India, maka sekaranglah  anak-anak bangsa kita membanjiri Youtube dengan video-video ajar buatan anak negeri sendiri. Dengan membuat video ajar dan mengunggahnya ke Youtube maka itu berarti kita telah berbagi ilmu pengetahuan kepada siapapun. Berbagi adalah sebuah kepdulian. Sharing is caring.

Written by rinaldimunir

May 24th, 2021 at 9:07 pm

Posted in Pendidikan

Rindu Mengajar Lagi di Kampus

without comments

Jika ada yang saya rindukan saat ini adalah mengajar di kampus. Sudah hampir 12 bulan saya di rumah saja, mengajar dari rumah, bimbingan mahasiswa dari rumah, diskusi dari rumah, segalanya serba dari rumah. Mahasiswa pun begitu, kuliah dari rumahnya. Pandemi tampaknya masih lama, jadi keinginan mengajar di dalam kelas di kampus rasanya belum bisa terwujud saat ini. Kampus masih ditutup untuk perkuliahan dan praktikum.

mengajar1

Hanya beberapa kali saja saya masuk ke dalam kampus, itu pun hanya untuk mengambil buku di lemari ruangan kerja di lab, atau ke kantor fakultas memasukkan surat. Masuk kampus pun tidak bisa sesuka hati, ada prosedur yang harus ditempuh, mengisi form. Ya, bisa dimengerti, jika terjadi apa-apa di kampus, misalnya kasus positif covid, maka pelacakan dapat dilakukan dari daftar surat izin civitas academica yang masuk ke dalam kampus.

Bagi saya mengajar itu sangat menyenangkan dan memberikan kepuasan batin. Bisa berbagi ilmu dan membuat orang lain mengerti apa yang saya ajarkan itu sudah memberi kebahagiaan. Dunia saya itu adalah dunia pendidikan. Saya suka mengajar. Kalau tidak mengajar ya menulis. Itu dua passion yang saya miliki.

Bertemu dengan anak-anak muda yang haus ilmu pengetahuan bagi saya sangat menyenangkan. Memang mengajar secara onlen (daring) tetap dapat dilakukan, tetapi ada nuansa  yang hilang jika mengajar secara onlen. Saya tidak dapat melihat wajah-wajah mahasiswa yang terkejut ketika saya panggil namanya dan saya beri pertanyaan. Saya tidak bisa berbagi cerita-cerita menarik sebagai selingan supaya kelas tidak garing. Dan saya tidak bisa memberi hadiah seperti coklat atau brownis bagi mahasiswa yang mendapat nilai tertinggi. ?

mengajar4

mengajar3

Ketika beberapa kali masuk kampus untuk suatu urusan, saya longok kelas yang kosong, lab yang sunyi, dan lorong-lorong yang sepi. Tidak terdengar riuh rendah suara mahasiswa yang meramaikan lorong dan sudut-sudut selasar tempat mahasiswa belajar atau mengerjakan tugas seperti foto di selasar LabTek 5 di bawah ini. 

selasar1

selasar2

Tampaknya suasana seperti di atas tidak akan mungkin terwujud dalam satu dua tahun ini. Jika pun kampus sudah dibuka untuk perkuliahan tatap muka pada semester depan (mudah-mudahan, Amiin) tetap akan ada pembatasan-pembatasan aktivitas dan serba bergiliran daring dan luring.  Jadi, suasana seperti foto-foto di atas mungkin baru bisa terulang setelah corona benar-benar bisa diatasi. Untuk sementara cukuplah memasang foto kenangan di atas.

Written by rinaldimunir

February 19th, 2021 at 5:45 pm

Studio Pandemi

without comments

Selama masa pandemi corona saya lebih banyak berkutat di ruang kecil di lantai dua rumah. Ini ruang kecil yang dulu dijadikan mushola keluarga. Karena sekarang kami lebih banyak sholat di lantai satu, maka ruangan mushola tersebut jarang digunakan.

studio1

Sejak pandemi corona bulan Maret 2020 yang lalu, praktis saya hanya di rumah saja, bekerja dari rumah. Mengajar dari rumah, rapat dari rumah, segalanya dari rumah. Onlen atau daring. Mengajar, seminar, sidang,  dan rapat dari rumah mengandalkan suara yang lumayan keras kalau berbicara. Oleh karena itu, supaya tidak mengganggu yang lain dan juga tidak diganggu anak, maka saya pindah ke ruang kecil ex mushola ini.

Sekarang ruang kecil di pojok rumah itu saya jadikan tempat untuk mengajar onlen, seminar onlen, rapat onlen, sidang onlen, bimbingan onlen, perwalian onlen, dan juga menjadi studio dadakan untuk memproduksi video-video kuliah. Sebuah kasur tipis dihampar di lantai untuk rebahan jika penat. Saya menyebut studio kecil ini dengan nama studio pandemi.

studio2

Hampir setiap hari saya berada di sini karena pekerjaan pada semester genap ini lumayan menyita waktu juga. Sebagian besar waktu saya di sini habis untuk menyiapkan bahan kuliah daring dan merekam video kuliah yang akan diunggah di YouTube. Melayani mahasiswa yang perwalian, bimbingan Tugas Akhir, dan seminar-seminar serta sidang juga dari sini.

Kalau cape dan mengantuk saya berbaring sebentar di kasur di samping meja kerja (meja belajar anak saya dulunya). Di seberang ruang kecil ada balkon. Di sanalah saya berjemur pada pagi hari atau melihat suasana sore dari lantai dua rumah. Kalau hujan saya dapat melihat langsung airnya turun di sini.

Jenuh? Ya, bagaimana lagi, kondisinya seperti ini. Saya sudah rindu memgajar di kampus seperti dulu, bertemu mahasiswa, bercanda, bimbingan di kampus, dan bertemu kolega. Tapi keinginan tersebut sepertinya belum bisa terwujud saat ini. Kampus masih ditutup untuk aktivitas perkuliahan. Artinya sampai akhir semester saya saya kembali bertapa di ruang kecil ini. Entah bagaimana pada semester ganjil tahuna ajaran yang baru nanti. ? ?

Written by rinaldimunir

February 13th, 2021 at 10:31 am

Usai Kuliah Onlen Semester Ganjil 2020

without comments

Alhamdulillah, tuntas sudah perkuliahan onlen (daring) selama semester pertama (semester ganjil) tahun 2020. Dua pekan ke depan mahasiswa di kampus ITB memasuki masa Ujian Akhir Semester (UAS).

Capek? Ya, kuliah onlen ini sungguh melelahkan bagi saya. Meskipun kita tinggal di rumah, namun bekerja menyiapkan bahan kuliah menyita banyak waktu. Sebagian besar waktu di rumah habis untuk membuat video kuliah. Saya memegang tiga mata kuliah semester ini, dua mata kuliah berbagi tugas dengan rekan dosen satu tim membuat video kuliah secara bergantian, sedangkan satu mata kuliah lagi berupa kuliah pilihan, saya sendiri yang membuat seluruh videonya.

Tidak mudah lho membuat video kuliah, seringkali harus diulang-ulang untuk merekamnya karena banyak kesalahan. Video kuliah sekali selesai dibuat dan diunggah ke platform Youtube kan tidak bisa diubah lagi. Malu-maluin saja jika di tengah video ada materi yang salah, heheh…

Saya memang tidak terampil membuat video kuliah yang bagus, tidak nyeni, tidak pakai animasi, tidak gebyar-gebyar dan tidak memakai musik. Video kuliah saya baru sebatas materi presentasi PPT bersuara. Saya membuat video kuliah seakan-akan saya mempresentasikan file PPT di kelas. Semangatnya cuma satu, jika mahasiswa ingin mengulang-ulang kembali paparan materi kuliah saya, cukup putar ulang videonya di Youtube. Ada tiga kanal kuliah di Youtube yang saya buat, yang pertama ini, kedua ini, dan ketiga ini. Siapapun bebas mengakses, mengunduh, dan menggunakannya di kampus lain.

Semester lalu dan semester ini berjalan bersamaan dengan pandemi corona yang masih terus mewabah di Indonesia. Belum terlihat ujung pandemi ini akan berakhir kapan. Pendidikan pun terganggu akibat pandemi ini, mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Namun “untungnya” pandemi berlangsung pada saat kondisi teknologi pembelajaran dan komunikasi (internet) sudah maju. Berbagai paltform video conference untuk mendukung proses belajar-mengajar jarak jauh sudah tersedia, seperti Zoom, Google Meet, Micosoft Teams, dan lain-lain. Kelas-kelas perkuliahan berlangsung secara virtual, seminar pun secara virtual. Komunikasi dan diskusi bisa dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari WA, email, hingga fasilitas video conference yang disebutkan di atas.

Foto bersama setelah kuliah onlen dengan menggunakan Microsoft Teams
Seminar dan sidang Tugas Akhir pun dilakukan secara onlen dengan fasilitas Google Meet

Bagaimana dengan ujian-ujian? Karena ujian dilakukan di rumah mahasiswa masing-masing, maka ujian pun dilakukan secara onlen juga. Soal ujian didistribusikan dapat didistribusikan dengan fasilitas email, WA, Google Form, atau menggunakan platform ujian yaitu exam.net dan sebagainya. Mahasiswa mengerjakannya di rumah masing-masing secara bersamaan, kamera di komputer diaktifkan, dosen dan asisten pengawas memantau ujian melalui kamera. Ujian di rumah namun serasa ujian di kelas saja.

daring4

Ujian secara onlen dan dipantau dengan menggunakan Google Meet

Salah satu hal yang menarik bagi saya selama kuliah onlen ini adalah memberi soal latihan, PR, kuis, UTS/UAS dengan menggunakan Google Form. Soal-soal bertipe hitungan/algoritma saya tulis di Google Form, lalu tautan Google Form- nya dikirim ke setiap mahasiswa via gmail. Mahasiswa menjawab setiap soal di Google Form pada kertas biasa di rumahnya, lalu memfoto lembar jawabannya, kemudian mengunggah (upload) fotonya dalam format JPG atau PDF ke Google Form.

daring1

Soal latihan menggunakan Goog


File-file foto jawaban masuk ke dalam akun Google Drive saya. Tinggal dibaca lalu dinilai. Praktis, hemat (tidak butuh kertas), dan mangkus. Kelemahannya adalah mata mudah lelah dan cape membaca lembar jawaban di layar komputer (ada 56 mahasiswa per kelas, dan ada 4 kelas). Bagi saya tetap lebih nyaman memeriksa lembar jawaban dalam bentuk kertas daripada bentuk digital.

Kalaupun nanti kuliah tatap muka sudah bisa dimulai pada semester depan (wallahu alam), cara pemberian soal latihan dan kuis menggunakan Google Form ini tampaknya akan saya lanjutkan.

Moral dari cerita di atas, pandemi corona tidak menghalangi proses belajar mengajar. Semua berjalan seperti biasa, hanya bertemu muka secara fisik yang tidak ada. Untung ada internet sehingga proses pendidikan saat ini agak tertolong. Jika tidak ada, sulit membayangkan apa yang harus dilakukan.

Written by rinaldimunir

December 5th, 2020 at 4:31 pm

Posted in Pendidikan

Momen yang Hilang di Kelas Onlen

without comments

Setelah kuliah daring (online) selama beberapa bulan, apa yang dirasakan?

Seorang rekan menjawab, kita tidak bisa lagi merasakan momen celutukan “ohhh…gituu…” dari mahasiswa yang mengangguk-anggukkan kepala tanda paham setelah kita menyelesaikan soal sulit di papan tulis.

Kita tidak bisa melihat wajah-wajah terkesima, ketika mendemokan sesuatu, menurunkan sebuah rumus, atau ketika mereka diajarkan suatu metode/algoritma/teori yang sangat menarik perhatian, apalagi jika dibumbui cerita-cerita tentang latar belakang teori itu yang dramatis. Ada rasa yang hilang.

mhs

Mengajar tatap muka di kelas nyata dan di kelas maya beda nuansanya. Mengajar di kelas maya itu seperti berbicara sendiri dengan komputer. Ketika file PPT di-share screen, maka hilanglah wajah-wajah mahasiswa di layar komputer, lalu kita berbicara sendiri di depan monitor, berbicara seperti orang “kurang waras” karena tidak ada orang lain di dekat kita, hehe.

mhs2

Ada rasa yang hilang di kelas onlen. Sentuhan humanistik tidak tergantikan dengan mengajar secara onlen meskipun kita sudah membuat video kuliah semenarik dan sebagus apapun.

Mengajar tatap muka secara langsung di kelas nyata tetaplah yang terbaik. Pandemi corona di satu sisi telah menghapus aneka rencana dan kegiatan berjumpa dengan anak didik di kampus. Di sisi lain masa pandemi membuat kita merenung kembali pentingnya hubungan antar manusia, betapa hubungan antar manusia secara langsung tetap tidak tergantikan dengan teknologi.

Ah, kangen suasana kelas lagi, bertatap muka dengan para mahasiswaku. Miss you my students. ?

Written by rinaldimunir

October 6th, 2020 at 9:32 am

Milenial yang Berbahasa Santun

without comments

Beberapa waktu yang lalu di dunia maya (khususnya twitter) sempat trending berita tentang chat mahasiswa kepada dosenya yang dianggap oleh dosen tersebut kurang sopan (baca: Membaca Lagi Chat Dosen ‘Kok Kamu Atur Saya’ yang Heboh di Twitter). Meskipun saya tidak  mengerti dimana letak kesalahan kata-kata si mahasiswi, biasa saja kalimatnya, wajar dan sopan, tapi mungkin saja saat itu sang dosen sedang tidak berada dalam kondisi mood yang baik sehingga emosinya kurang stabil. Wallahu alam.

Itulah bedanya bahasa lisan dengan bahasa tulisan, bisa berbeda-beda penafsiran. Bahasa tulisan (seperti SMS, surel, chat dengan whatsapp, dll) tidak mengandung ekspresi dan intonasi yang rentan menimbulkan salah paham.

Anak muda generasi milenial sering dipersepsikan tidak tahu sopan santun berbahasa. Benarkah demikian? Pengalaman saya mengajar mahasiswa milenial beberapa tahun terakhir ternyata sebaliknya.

Mahasiswa milenial menurut saya sopan-sopan saja kok kalau menghubungi dosen via surel (e-mail) atau WA. Saya belum pernah mendapat pesan dengan bahasa yang kurang santun, baik dari mahasiswa di kampus sendiri, maupun mahasiswa dari kampus lain. Di awal atau di akhir surel mereka sering ada kalimat begini:

Mohon maaf apabila mengganggu waktu Bapak

Mohon maaf bila ada salah kata

Mohon maaf bila ada kata-kata atau kalimat saya yang kurang sopan

Menurut saya itu kalimat-kalimat yang baik. Malah saya sendiri kalau menyurati orang lain jarang menulis  kalimat-kalimat di atas.

Terima kasih anak-anaku, saya tidak pernah merasa terganggu membaca surel kalian, karena kebiasaan saya setiap (pagi) hari adalah mengecek semua surel yang masuk dan selalu membacanya (dan membalasnya jika pengirim menunggu jawaban).

Dulu sebelum pandemi corona, setiap kali masuk kantor dan menyalakan komputer desktop, maka aktivitas yang pertama kali saya lakukan adalah membaca semua surel yang masuk ke dalam inbox. Sekarang, ketika harus WFH, membaca surel dari orang lain bisa dilakukan kapan saja, di rumah, di perjalanan, di kantor, dan sebagainya. Ada smartphone, dan yang terpenting ada akses internet.

Sebagai dosen dan pendidik, kita tidak perlu menjadi orang yang gila hormat. Kalau kita ramah, rendah hati, selalu menyempatkan diri membalas surel/WA mahasiswa, tidak mempersulit mahasiswa, maka mahasiswa kita pun akan hormat dan segan. Mereka tidak pernah mengirim pesan dengan bahasa yang tidak sopan kepada kita. Seperti bunyi sebuah slogan pada sebuah stiker: anda sopan, kami segan.

Written by rinaldimunir

August 29th, 2020 at 11:43 am

Rindu ke Sekolah Lagi

without comments

Sebuah posting-an di grup WA saya terima pagi ini, lengkap dengan foto ilustrasi:

Sedih yaa .. nasib anak desa .. anak rakyat kecil nan miskin ..

Absen tiap pagi pakai seragam “cekrek cekrek” dan kirim fotonya ke Bapak / ibu guru. Setelah itu duduk manis di depan hape canggih ataupun laptop mahal… kelas online dimulai. Sepertinya asyik ya?

Apa daya aku anak seorang buruh harian, jangankan hape mahal… hape di rumah hanya ada satu dibawa ayah bekerja. Ayah bilang hapenya tak bisa ditinggal untukku, ayah juga perlu.

Aku berharap pandemi segera berlalu. Bisa kembali ke sekolah. Aku bisa bersaing dengan yang lainnya jika belajar di sekolah. Tapi kalau online… aku bisa apa? Termangu di teras rumah, pasrah….

Aku rindu suasana belajar di sekolah lagi…

anaksekolah

****************************

Tidak hanya anak desa, anak di kota pun merasakan hal yang sama. Memang pembelajaran secara daring (atau PJJ, pembelajaran jarak jauh) banyak kendala. Kendala kesenjangan antara daerah yang dapat mengakses internet dan tidak, kesenjangan antara kaya dan miskin (yang mampu beli hape smartphone dan tidak, apalagi membeli kuota internet).

Maka hari-hari ini kita sering membaca kisah guru-guru yang rela naik turun bukit menemui muridnya di rumah demi si anak bisa menerima pelajaran (Baca:  Tak Punya Android, Guru SDN Riit di Sikka Datangi Rumah Murid Beri Pelajaran)

Sedih dan prihatin. Apa mau dikata, ketentuan belajar daring dari Pemerintah Pusat harus dijalankan tanpa pernah memperhatikan apakah infrastrukturnya sudah tersedia, apakah orangtuanya mampu menyediakan perangkat.

Selain dua kesenjangan tadi, terdapat juga kesenjangan kualitas PJJ antara sekolah swasta (yang bonafid tentunya) dengan sekolah negeri dalam melaksanakan belajar daring (PJJ). Di sekolah swasta guru-guru melakukan pembelajaran secara video conference dengan semua muridnya lewat aplikasi Zoom dan siswa menyimak dari laptopnya masing-masing. Guru-gurunya cukup kreatif menyiapkan konten video ajar. Sekolah sudah menyiapkannya video ajar jauh-jauh hari, berkaca dari pengalaman PJJ pada semester yang lalu. Orangtua siswa umumnya mampu menyediakan laptop dan akses internet yang unlimited (karena ada WiFi di rumah).

Coba lihat di sekolah negeri. Guru-guru memberi materi pelajaran kepada murid lewat grup WA dan Google classroom. Siswa-siswa di sekolah negeri berasal dari keluarga dengan disparitas ekonomi yang sangat beragam. Tidak semua orangtua mampu menyediakan kuota internet untuk vidcon lewat Zoom. Pun tidak semua mampu menyediakan laptop, siswa hanya belajar pakai ponsel saja.

***********

Anak-anak sekolah sudah lama rindu pergi ke sekolah lagi.  Anak-anak sekolah (juga mahasiswa) sudah berkorban cukup lama berdiam diri di rumah, mereka tentu sudah ingin bersosialisasi dengan temannya. Orangtua di rumah pun sudah sangat kerepotan dengan pembelajaran jarak jauh ini.

Sebuah posting-an di WA berisi keluhan orangtua wali murid:

Saya mewakili wali murid seluruh indonesia yg insya Allaah satu suara. Tolong dg sangat ” BUKA KEMBALI SEKOLAH UTK ANAK2 KAMI”
Kami tidak semuanya paham dan ngerti cara belajar online. Kami tidak selalu punya uang utk beli paket data. Dgn adanya belajar online… tidak membuat anak2 kami ngerti dg materi pelajaran, malah tambah bodoh….. malas… tidak disiplin…. bahkan yg lebih parah…. MEMPERCEPAT ANAK2 INDONESIA MENGALAMI KEBUTAAN DINI karena kebanyakan mantengin ponsel…. . Apakah ini yg namanya SOLUSI???? Bapak/ ibu pemimpin yg terhormat…. tolong pertimbangkan lagi kebijakan yg kalian ambil. Aktifitas kami di batasi dg ancaman covid, sementara beratnya beban hidup kami seolah tak kalian peduli. Jika sekolah masih terus di tutup, apa jadinya dg anak2 kami….! Pasar bebas ramai , berkerumun, tanpa khawatir terpapar covid, pantai dan tmpat wisata di buka, tmpat hiburan di buka, pesawat penuh sesak dg penumpang…. mall juga di buka. Tapi kenapa SEKOLAH DI TUTUP hanya karena takut terpapar covid?! . Tolong… pak… bu…. bukalah lagi sekolah kami, tmpat anak2 kami menuntut ilmu, tmpat di mana anak2 bertemu kawan dan guru guru…. sementara di rumah…. kami sbg ortu sudahlah di repotkan dg pekerjaan rumah, kebutuhan sehari hari…. masih lagi di repotkan dg mengajarkan materi yg ada di buku tema kpd anak yg notabene itu bukan kapasitas kami… karena memang itu di luar kemampuan kami. Saya mohon….. kpd bpk/ ibu yg trhormat…. tolong…. BUKA… BUKA…. BUKA SEKOLAH KAMI. Jgn sampai menunggu kejadian… yg tak di harapkan terjadi dan ter alami di suatu saat nanti.

Pemberlakuan hanya daerah zona hijau dalam tingkat kabupaten/kota yang boleh melakukan belajar tatap muka perlu ditinjau lagi. Daerah-daerah yang berada di pedalaman, di lereng gunung, di pulau kecil, di tepi hutan, dan daerah-daerah lain yang jauh dari penyebaran covid, sebenarnya dapat melakukan pembelajaran tatap muka seperti biasa (tentu dengan memperhatikan protokol kesehatan).

Pemberlakuan zona hijau sebaiknya ditinjau pada level yang lebih kecil. Jika di sebuah kecamatan tidak ada kasus covid atau penyebaran covid terkendali, maka pembelajaran tatap muka di sekolah bisa dilakukan dengan protokol kesehatan. Rencana Gubernur Jabar yang akan membuka sekolah di kawasan-kawasan tersebut perlu diapresiasi.

“Dari (daerah) Risiko Rendah dan Sedang ini kita akan lebih detail ke wilayah kecamatan untuk pembukaan sekolah di Zona Hijau. Akan dibahas lebih lanjut lagi,” ucap Kang Emil. (Sumber: 22 Daerah di Jabar Masuk Zona Kuning, 5 Masih Zona Oranye).

Silakan sekolah-sekolah di kawasan yang aman dibuka kembali, tapi tentu saja dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Written by rinaldimunir

July 21st, 2020 at 11:34 am

Sidang Tugas Akhir Mahasiswa Angkatan Corona

without comments

Mahasiswa yang lulus sidang skripsi/tugas akhir (TA) dan disiwisuda saat pandemi wabah masih berlangsung mungkin dapat disebut angkatan corona. Mereka sidang TA secara daring dan wisuda secara daring pula. Hal ini karena kampus-kampus ditutup, pertemuan tatap muka ditiadakan, dan semua aktivitas akademik dilakukan secara daring gegara wabah virus corona. Mahasiswa dan dosen tetap berada di tempat tinggalnya masing-masing. Semua terhubung secara virtual. Kuliah , seminar, sidang, rapat, dan wisuda dilakukan secara virtual.

Sebelum ini kita sudah merasa nyaman semua aktivitas dilakukan dengan bertemu secara fisik, namun semua berubah setelah negara api menyerang…eh salah, setelah virus corona menyerang. ?

Untung zaman modern ini ada internet sehingga semua kegiatan akademik, termasuk sidang TA, tetap bisa berjalan sebagaimana biasa. Soal apakah efektif atau tidak, itu soal lain.

Saya akan menceritakan pengalaman saya melakukan sidang tugas akhir, tesis, dan disertasi mahasiswa secara daring. Jika secara luring (offline) sidang dilakukan di dalam ruangan tertutup, dihadiri oleh mahasiswa yang disidang, dosen penguji, dan dosen pembimbing, maka secara virtual sidang dilakukan di dalam sebuah meeting room virtual yang dibuat (create) terlebih dahulu menggunakan aplikasi video conference seperti Zoom atau Google Meet (kami menggunakan Google Meet dengan pertimbangan lebih “murah” dan  fleksibel dibandingkan Zoom). Waktu dan tanggal sidang pun sudah ditetapkan dengan menggunakan aplikasi Calender di Google.

Dosen dan mahasiswa bertemu di ruang virtual ini. Tautan (link) ke meeting room sudah dibagikan jauh-jauh hari kepada dosen pembimbing, dosen penguji, dan mahasiswa melalui surel. Saat waktu sidang tiba, klik tautan tersebut untuk join dan ruang sidang pun muncul di layar komputer menghadirkan semua peserta sidang (dosen dan mahasiswa). Bagi dosen yang tidak ingin wajahnya ditampilkan maka kamera di komputernya bisa dimatikan.

sidang1

Tatacara sidang TA secara virtual dilakukan persis sama seperti sidang secara luring. Ada pembukaan, presentasi dari mahasiswa, tanya jawab dari dosen penguji, penilaian hasil sidang secara tertutup, dan pembacaan hasil sidang. Sesi penilaian secara tertutup oleh dosen penguji dan pembimbing dilakukan dengan cara meminta mahasiswa meninggalkan (left) meeting room virtual untuk kemudian dipanggil lagi (melalui whatsapp) dan disuruh join video conference kembali setelah sesi penilaian tertutup selesai. Hal ini persis seperti pada sidang secara luring, mahasiswa diminta keluar ruang sidang, lalu kemudian dipanggil masuk kembali untuk mendengarkan pembacaan hasil sidang. Proses sidang dapat direkam (REC) jika sewaktu-waktu dibutuhkan untuk melihat kembali pelaksanaan sidang.

sidang2

(Keterangan gambar: Dua buah skrinsut yang saya tampilkan di bawah ini adalah dua orang mahasiswa saya yang sidang TA. Posisinya sedang berada di Singaraja (Bali), satu lagi di Medan, sedangkan dosen pembimbing dan dosen penguji berada di rumahnya Bandung).

Lalu, bagaimana pengisian form penilaian sidang yang biasanya pada sidang secara luring menggunakan form kertas? Mudah saja. Semua form penilaian dan beriata acara sidang diubah formatnya menjadi format digital  menggunakan aplikasi Google Form yang dapat diakses secara daring pula. Dosen pembimbing dan penguji tinggal mengisi form tersebut dari komputernya masing-masing. Berita acara sidang yang berisi catatan perbaikan dikirim secara otomatis ke surel mahasiswa.

Bagaimana dengan naskah TA mahasiswa, apakah perlu dikirim ke rumah dosen dalam bentuk hard copy atau soft copy-nya dikirim melalui surel? Tidak perlu. Merepotkan saja. Semua naskah TA mahasiswa yang sidang pada periode ini disimpan di dalam Google Drive. Dosen cukup mengklik tautan Google Drive yang berisi soft copy TA tersebut, tinggal diunduh atau cukup dibaca saja.

Lihat, semua proses, baik sebelum dan selama pelaksanaan sidang, dilakukan secara daring, tanpa kertas (paperless), dan sangat mangkus (efisien). Aplikasi yang disediakan Google sangat bermanfaat, mulai dari aplikasi Calender untuk menetapkan waktu sidang, Google Form untuk membuat form penilaian, Google Meet untuk melakukan video conferebce, dan Google Drive untuk menyimpan dokumen TA.

Ke depan, meskipun pandemi corona nanti sudah berakhir dan aktifitas temu fisik kembali berjalan, saya pikir sidang secara daring ini akan menjadi model yang dapat diteruskan. Dosen dan mahasiswa tidak perlu hadir di kampus. Semua form dan dokumen tersedia secara daring. Tatacara sidangnya sama seperti sidang secara luring.

Memang semua orang di dalam sidang  tidak hadir secara fisik, tetapi secara virtual saja.  Apalah bedanya. Jauh secara fisik, namun tetap berdekatan secara niskala.

Selama sidang secara virtual saya tidak harus berada di depan laptop terus menerus. Saya bisa pergi sebentar ke dapur mengambil kudapan, membuat minuman, atau menengok anak di dalam kamarnya, lalu balik lagi ke meja laptop mendengarkan mahasiswa presentasi atau dicecar pertanyaan oleh dosen penguji. Sersan. Serius tapi santai.  ?

Written by rinaldimunir

June 18th, 2020 at 8:56 pm

WFH itu Tidak Selalu Nyaman

without comments

Setelah hampir dua bulan “dirumahkan” semasa pandemi virus corona, apa yang Anda rasakan?

Bagi saya, jujur saja jawabannya adalah bosan. Iya, rasanya sudah bosan rasanya berada di rumah terus. Bagi orang yang sudah biasa bekerja di luar rumah atau berhubungan dengan banyak orang seperti saya (dosen dengan para mahasiswanya), berada di rumah selama berbulan-bulan tidak menyenangkan. Kecuali bagi orang yang memang sehari-harinya bekerja dari rumah tentu tidak masalah di rumah terus.

Virus corona mengajarkan kepada kita bahwa relasi sosial itu penting artinya. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri. Ia butuh berhubungan dengan orang lain. Namun pandemi virus corona yang tidak tahu pasti kapan berakhirnya membuat banyak orang harus menjauh dari orang lain. Diam di rumah saja agar terhindar dari penularan virus corona. Itu cara yang aman dan ikut membantu membatasi penularan.

Bagi kami yang bekerja dalam bidang pendidikan (guru, dosen), work from home (WFH) itu, jujur saja, tidak selalu nyaman. Seorang teman curhat begini:

Kasihan dosen2 ya… kalau harus ngajar on line terus… pakai fasilitas internet dan komputer pribadi. WFH itu bagi dosen malah jadi bekerja seperti 24 hours a day… 7 days a week… Instruksi “top down” dari atasan kapan saja, mhs minta diskusi on line kapan saja, konsultasi pembimbingan kapan saja… tidak ada “office hours”…

Melakukan perkuliahan secara daring itu cukup menyita waktu. Bekerja tidak lagi sesuai jam kerja, tetapi bisa siang dan malam. Rapat secara daring juga dilakukan pada hari libur (sabtu atau minggu), atau sore menjelang malam. Jadi tidak heran jika WFH itu tidak mengenal “office hour”.

Namun WFH bagi kami orang pendidikan ada sisi positifnya juga. Materi kuliah yang sudah ada mau tidak mau harus diperbaiki, di-update, dan diperbagus, sehingga ketika disampaikan di dalam kuliah yang menggunakan video conference (Zoom, GoogleMeetWebex, dll) mudah dimengerti oleh mahasiswa.  Menyampaikan kuliah secara langsung (offline) tentu berbeda jika disampaikan secara daring (online). Pun jika  materi kuliah tampil dalam bentuk rekaman di platform seperti YouTube misalnya, tidak malu-maluin. Selain itu ini saat yang tepat untuk mempelajari berbagai teknologi dan aplikasi pembelajaran daring.

Meski bosan, tidak nyaman dengan WFH, ya mau tidak mau harus dijalani saja dengan sabar dan tabah. Yang patut disyukuri adalah saya dan keluarga masih diberi kesehatan oleh Allah SWT.

Written by rinaldimunir

May 14th, 2020 at 3:25 pm

Posted in Pendidikan