if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Gado-gado’ Category

Jebakan Tombol Keyboard Laptop ASUS

without comments

Siapa ya orang yang merancang keyboard laptop merek ASUS? Saya sering merasa kesal karena beberapa kali kepencet tombol power yang terletak di sebelah tombol delete. Tombol delete dan tombol power terletak bersebelahan. Maksud hati ingin menekan tombol delete tetapi karena mata fokus ke monitor, maka yang ditekan malah tombol power. Mati deh komputer. Pernah saat saya mengajar onlen salah pencet tombol, langsung mati kuliah virtualnya. Mahasiswa saya  di seberang sana tentu menunggu lama terkoneksi lagi.

Di rumah saya ada tiga buah laptop dengan merek ASUS, ketiganya memiliki posisi tombol delete dan tombol power yang bersebelahan seperti gambar di atas. Memang tidak semua jenis laptop ASUS seperti itu, tetapi yang saya miliki semuanya bersebelahan. Laptop ASUS teman saya posisi tombol power-nya terpisah sendiri. Tampaknya tergantung seri laptop ASUS ya? Dulu saya punya laptop Acer dan Toshiba letak tombol power-nya terpisah dan agak jauh dari tombol-tombol lainnya.

Memang ada cara untuk mengatasi salah pencet tombol power tersebut, yaitu melalui control panel di Windows. Tombolnya bisa diatur agar ketika dipencet tidak langsung shutdown.  Dari Control Panel, pilih Power Management, lalu ada pilihan “When press Power Button“.  Saya pun baru tahu cara ini setelah diberitahu teman. Namun, bagaimana dengan pembeli lain yang tidak paham? Tidak semua orang paham kan atau mengetahui cara pengaturan tersebut?

Saya heran, kenapa desainer laptop ASUS seceroboh itu? Desainer interface-nya kurang memahami psikologi pengguna. Kata seorang teman, kasus di laptop ASUS ini mirip dengan salah satu ponsel jadul Nokia, tombol backspace dan delete-nya bersebelahan. Maksud hati cuman mau hapus satu karakter, ehhh… malah terhapus semua seluruh teks yang sudah susah payah ditulis hanya karena salah pencet.

Tapi ya mau bagaimana lagi, masak harus ganti laptop lagi? Atau pasang keyboard tambahan? Ya sudahlah, awalnya memang mengganggu, lama-lama jadi terbiasa, anggap saja untuk mengingatkan agar break sejenak, makan camilan, atau berdiri sejenak. Kalau nanti kepencet lagi tombol power ketika mau menekan tombol delete, ya nasib…..  ?

Written by rinaldimunir

October 2nd, 2021 at 4:09 pm

Posted in Gado-gado

Sayur

without comments

Anak saya yang bungsu (kelas 9 SMP), yang selama ini selalu menolak makan sayur, tiba-tiba pada suatu siang meminta makan pakai sayur bayam. Nasi dengan sayur saja, tanpa pakai yang lain.

Kami pun terperangah. Nggak salah dengar nih? Dengan sigap saya siapkan tumis sayur bayam dan dia makan nasi dengan sayur itu saja. Tidak apa-apalah tanpa protein dulu, ini permulaan yang baik mau makan sayur. Selama ini dia kan  ogah sayur. Biarpun  di rumah hampir setiap hari saya masak sayur dan ganti-ganti rupa, misalnya cah kangkung cabe rawit, sop sayur, tumis kangkung, tumis bayam, beli sayuran di warung makan, tetap saja dia tidak tertarik.

“Kok tiba-tiba ingin makan sayur, dek?”, tanya saya.

Si bungsu diam cengengesan, tidak mau menjawab. Hmmm…saya menduga-duga, mungkinkah perubahan ini karena dia nonton video di YouTube tentang dampak jika tidak mengkonsumsi sayuran? Atau setelah baca-baca artikel kesehatan di internet? Atau dapat pencerahan setelah ngobrol dengan teman sebayanya pakai Line, atau Zoom?

bayam

Zaman pandemi begini anak-anak lebih banyak pakai internet, nonton YouTube, dan ngobrol dengan temannya di dunia maya.  Ada juga manfaatnya nonton YouTube jika ketemu konten yang membuatnya tersadar atau tercerahkan. Saya saja yang selalu khawatir, khawatir konten apa yang ditonton anak.

Wallahu alam. Apapun itu sebabnya patut disyukuri dia mau makan sayur. Kejadian ini sekali lagi menyadarkan saya bahwa kita tidak bisa memaksa anak makan apa yang kita maui atau menurut kita baik. Pada saatnya nanti dia juga akan makan sendiri apa yang dulu dia tidak mau. Kita sendiri yang orang dewasa juga begitu kan? Dulu tidak suka ini itu, tetapi sekarang malah suka.

Saya masih ingat saat anak-anak masih balita. Anak saya yang sulung susah sekali makan. Makan ini nggak mau, makan itu nggak mau. Saya takut saja dia kekurangan gizi. Tiap kali timbang badannya selalu sedih kok nggak naik-naik.

Ketika konsultasi ke dokter anak, dr. Nurrachim di Antapani, saya bertanya kenapa anak saya susah sekali makan meskipun sudah dicoba segala rupa bahkan sampai ‘dipaksa’.

Dokter Nurrachim berhenti sejenak menulis resep, lalu dia memandang saya, dan berkata:

“Bapak kalau disuruh atau dipaksa makan tetapi kalau bapak sendiri tidak mau, bagaimana?”

Saya terdiam. Saya sudah tahu jawabannya. Ya betul, kalau kita lagi nggak nafsu makan, nggak mau makan, lalu disuruh makan, tentu kita tidak mau meski dipaksa sekalipun.

“Begitu juga anak. Dia tahu kapan harus makan. Tubuhnya akan mengirim sinyal kapan perlu nutrisi. Nanti juga dia akan mau makan”, lanjut dr Nurrachim, seakan tahu jawaban saya.

Benar apa yang dikatakan dokter Nurrachim. Kita tidak bisa ‘memaksa’ anak kita makan kalau memang dia tidak mau.  Kebanyakan orangtua khawatir jika anak susah makan.  Apa yang kita khawatir seperti anak akan kurus, kurang gizi, dan sebagainya ternyata tidak terjadi. Pada saatnya nanti dia juga akan mau makan. Si sulung yang dulu susah makan sekarang doyan makan. Apa saja dimakannya dan tidak menolak makanan apapun. Mungkin juga karena semua anak saya dalam taraf pertumbuhan (remaja) sehingga sekarang suka makan. Tubuhnya sendiri yang mengirim sinyal sehingga suka makan. Apalagi si bungsu sekarang mau makan sayur. Itu kan sesuatu banget.

Written by rinaldimunir

July 29th, 2021 at 5:41 pm

Posted in Gado-gado

Kerupuk

without comments


Tadi pagi ada kejadian yang cukup membuat saya terharu. Setelah selesai jalan pagi (setiap pagi saya memang selalu olahraga jalan kaki), saya mampir ke sebuah warung nasi kuning di Pratista Antapani. Pedagangnya sepasang suami istri. Dari ceritanya kepada saya, mereka sudah tiga tahun berjualan di sana. Sebelumnya mereka punya usaha konveksi, tetapi bangkrut karena ditipu orang. Jadi sekarang mereka bikin usaha jualan nasi kuning dan lontong sayur.

Saya membeli satu bungkus nasi kuning, dua bungkus lontong sayur, dan satu bungkus lontong kari untuk dibawa pulang. Setelah membayar, saya berjalan pulang, menenteng keresek berisi makanan tadi.

Setelah lima belas menit berjalan dan hampir sampai di rumah, tiba-tiba seorang bapak dengan sepeda motor menghampiri saya. Oh, ternyata bapak penjual nasi kuning tadi. Dia membawa kantong keresek berisi empat bungkus kerupuk. Dia mengatakan bahwa tadi lupa memberikan kerupuk. Tidak enak makan kalau tidak ada kerupuk, katanya.

kerupuk

Rupanya dia mencari-cari saya dengan motor hanya untuk mengantarkan kerupuk. Sepertinya dia merasa bersalah karena tidak lengkap menyertakan pelengkap makanan (FYI, bagi orang Sunda atau Jawa, makan nasi tanpa kerupuk rasanya kurang lengkap. Jadi, kerupuk yang berwarna kuning seperti di atas selalu disertakan jika kita membeli makanan apapun di Bandung, seperti bubur ayam, nasi kuning, kupat tahu,  lontong kari, lontong sayur, nasi goreng, mie goreng, bahkan makan rujak juga pakai kerupuk). Dia susuri jalan di Antapani mengejar saya, mencari-cari saya. Tadi saat di warung memang dia bertanya saya tinggal di mana dan saya menyebutkan jalan rumah saya, mungkin karena saya pelanggannya yang baru. Oleh karena itu dia mencari ke jalan tersebut dan bertemu saya di pertigaan jalan.

Saya merasa terharu. Bapak baik sekali, kata saya. Hanya untuk mengantarkan kerupuk yang bagi saya nggak penting (benar, saya kurang begitu suka makan pakai kerupuk), dia bela-belain mencari-cari kemana saya berjalan.

Ahai, kalau semua orang jujur seperti bapak tadi alangkah indahnya dunia ini ya. Tidak mau merugikan orang lain, merasa bersalah jika tidak memberikan yang terbaik, dan selalu  menjaga integritasnya.

Written by rinaldimunir

June 6th, 2021 at 1:23 pm

Posted in Gado-gado

Majalah Udaraku

without comments

Saya punya koleksi yang unik, yaitu koleksi majalah-majalah udara, majalah yang disediakan di atas pesawat selama penerbangan (inflight magazine). Majalah-majalah tersebut berasal dari berbagai maskapai penerbangan yang berbeda-beda yang pernah saya naiki, baik maskapai dalam negeri maupun maskapai luar negeri. Umumnya majalah-majalah tersebut terbit setiap bulan. Jadi setiap bulan ada edisi barunya.

Foto pertama adalah majalah “Colours” dari Garuda Indonesia, majalah “Linkers” dari Citilink (anak perusahaan Garuda). Lalu majalah dari Lion Group, yaitu “Lionmag” dari Lion Air, majalah “Batik” dari Batik Air, majalah “Wings” dari Wings Air. Kemudian majalah “Sriwijaya” dari Sriwijaya Air, dan majalah “Xpressair” dari Xpress Air.

Majalah1
Foto kedua adalah majalah-majalah yang maskapainya sekarang sudah tidak ada lagi atau tidak terbang lagi, yaitu majalah dari Batavia Air, Tiger Airways, dan Merpati Nusantara Airlines. Ada satu lagi maskapai yang pernah saya naiki tetapi tidak sempat mengkoleksi majalahnya yaitu Adam Air. Adam Air ini dihentikan operasinya tidak lama setelah pesawatnya jatuh di Selat Makassar ketika terbang dari Surabaya ke Manado.

Majalah2
Foto ketiga adalah majalah dari maskapai asing yaitu majalah “going places” dari Malaysia Airlines, majalah “3sixty” dari Air Asia, majalah “Heritage” dari Vietnam Airlines, majalah “Morningcalm” dari Korean Air, majalah “Ahlan Wasahlan” dari Saudi Arabia Airlines (Saudia), dan majalah “Sawasdee” dari maskapai Thai Airways yang baru-baru ini mengalami kebangkrutan akibat pandemi corona.

Majalah3
Majalah2 tersebut ada yang gratis (dapat dibawa pulang) seperti majalah Colours dari Garuda Indonesia, ada pula yang hanya untuk dibaca di tempat. Untuk kategori yang terakhir biasanya saya minta izin kepada pramugari saat akan turun dari pesawat. “Mbak,minta satu majalahnya ya untuk dibaca-baca“, pinta saya saat keluar pintu pesawat. “Oh, silakan, Pak“, kata pramugari tersebut ramah.

Ada cerita yang menarik saat saya lupa minta izin kepada pramugari ketika membawa majalah turun dari pesawat (lupa minta ? ). Tiba di darat lalu saya kirim surel kepada redaksinya dan minta izin sudah membawa majalah udaranya. Apa jawabnya? Eh, malah saya dikirimi via pos setumpuk majalah udara maskapainya edisi 6 bulan berturut-turut. Itu dari Xpress Air. Tampaknya mereka senang dengan perhatian saya pada majalah udaranya.

Berhubung dulu saya sangat sering naik pesawat, maka jadilah di rumah saya koleksi majalah2 tersebut memenuhi lemari buku. Di lemari buku majalah2 tersebut menempati satu baris lemari besar dan tersusun dengan rapi (foto keempat), disusun rapi oleh istri saya.

Majalah4
Kenapa saya tertarik mengkoleksi majalah-majalah udara ini? Itu karena majalahnya banyak berisi foto-foto nan rancak, yaitu foto-foto tempat wisata dan budaya di tanah air maupun di luar negeri. Fotografernya sangat pandai memotret sehingga menghasilkan foto-foto yang bagus.

Apalagi kertas majalahnya terbuat dari kertas lux sehingga foto-foto itu tampak cerah dan menawan. Sedikit banyaknya kegemaran saya pada foto-foto (meskipun saya tidak mahir fotografi) adalah karena salah satu minat saya di Informatika adalah bidang image processing.

Saat ini sudah sembilan bulan lebih saya tidak pernah terbang lagi. Akibat pandemi corona maka saya tidak bisa pergi kemana-mana. Masih takut bepergian, apalagi memang tidak ada keperluan ke luar kota naik pesawat. Jadilah saya baca2 majalah udara ini saja. Majalah2 tersebut merupakan saksi bisu saya pernah ke mana-mana. ?

Written by rinaldimunir

December 28th, 2020 at 8:39 pm

Posted in Gado-gado

(Tukang) Koran

without comments

Hingga saat ini saya masih setia berlangganan koran cetak. Rasanya sudah sejak lama saya berlangganan koran, ya sejak saya berumahtangga lah. Dulu saya berlangganan dua koran, satu koran ibukota dan satu lagi koran lokal. Sekarang tinggal satu koran saja, koran lokal Bandung. Itupun tidak bisa (atau tidak sempat) saya baca setiap hari, hanya lihat-lihat isinya secara garis besar, lalu ditaruh lagi. Besok hari koran itu sudah masuk ke keranjang koran bekas.

Pada zaman digital ini koran-koran dan media cetak seperti menunggu kematiannya saja. Orang-orang sudah tidak jarang membaca koran sebab beritanya kalah cepat dengan media daring. Lagipula, budaya membaca pada bangsa kita masih rendah, kalah dengan budaya debat atau ngegosip di media sosial.

Lihatlah koran-koran sekarang, makin tipis saja, jumlah halamannya semakin susut, iklannya minim. Oplahnya juga sudah berkurang. Tengoklah koran Komp*s, koran terbesar di tanah air, dulu berjaya dengan tiras (oplah) yang sempat mencapai 500.000 lebih per hari, iklannya pun berlimpah. Saking banyak iklannya, jumlah halamannya pun bisa  sampai 64 halaman, tebal sekali. Sekarang, hanya tersisa 20 halaman, sudah menipis, dengan iklan yang sudah jauh berkurang. Dunia memang fana, segala yang berjaya pasti ada masa surutnya.

Dengan berubahnya budaya masyarakat pada era digital, berubah pula cara pandang orang tentang media. Apakah koran cetak masih dibutuhkan di era informasi digital yang berubah dengan cepat?

Bagi saya jawaban terhadap pertanyaan di atas adalah: masih dibutuhkan. Alasannya bukan karena saya ingin membaca berita di dalam koran itu, sebab hal itu sudah tergantikan dengan informasi di media daring. Alasannya satu: Saya masih mempertahankan berlangganan koran hingga hari ini karena kasihan saja dengan si mang koran, dia akan kehilangan penghasilan jika saya berhenti berlangganan. Tidak tega saya.

tukang koran

Tukang koran langganan saya, setiap pagi selalu setia mengantarkan koran lokal ke rumah, biar lagi sakit sekalipun.

Written by rinaldimunir

February 28th, 2020 at 7:13 pm

Posted in Gado-gado

Manfaat Tidur Miring ala Rasulullah

without comments

Tidur dengan posisi manakah yang bagus buat kesehatan tubuh? Tidur telentang atau tidur miring? Para ahli tidur telah meneliti tentang hal ini, dan mereka menyimpulkan bahwa tidur dengan posisi miring memberi manfaat buat kesehatan. Saya baru saja membaca tulisan di Republika yang menceritakan Empat Manfaat Tidur dalam Posisi Miring. Dikutip dari artikel tersebut:

Menurut sejumlah ahli, tidur dalam posisi miring sangat disarankan demi alasan kesehatan. Dilansir dari Business Insider, inilah empat manfaat yang diperoleh dengan tidur miring:

1. Mengatasi dengkur

Orang-orang yang punya kebiasaan mendengkur saat tidur disarankan untuk tidur dalam posisi miring. Menurut Joachim Maurer selaku praktisi dari German Society of Otolaryngology, Head, and Neck Surgery, orang mendengkur karena memulai tidur dalam posisi terlentang.

“Hampir semua orang yang mendengkur mengawali tidurnya dalam posisi terlentang,” ungkap Maurer.

Alexander Blau, praktisi tidur dan pulmonologis di Berlin Sleep Academy juga merekomendasikan agar orang dengan problem pernafasan tidur dengan miring. “Paru-paru bekerja lebih baik dalam kondisi tegak,” ujar Blau.

2. Mengatasi masalah perut dan jantung

Maurer menyarakan memilih posisi tidur yang tepat tidak hanya membuat nyaman. Akan tetapi, bisa menjaga kesehatan jantung, otak, perut, dan sistem pernafasan.

Dietrich Andersen, kardiologis dan ahli fisiologi di Hubertus Protestant Hospital di Berlin menjelaskan orang dengan masalah jantung sebaiknya tidur menghadap kanan. Ini bertujuan agar jantung tidak menerima tekanan dari tubuh saat tidur.

3. Menyegarkan otak

Tahukah anda ternyata selama tidur otak kita mengalami proses ‘pencucian’. Oleh karena itu posisi tidur yang tepat bisa membuat kita bangun dengan pikiran yang segar. Kendati tidak memiliki masalah kesehatan apapun, tidur dengan posisi miring disebut lebih baik. Hans Forstl yang menjalankan klinik psikiatri dan psikoterapi di Munich mengatakan selama tidur otak mengalami penyegaran.

“Dengan tidur yang berkualitas, otak seperti dicuci ketika istirahat di malam hari,” jelasnya. Percobaan di laboratoruin dengan tikus putih menunjukkan apabila tikus tidur dalam posisi miring, maka zat-zat negatif akan luruh berkat kinerja sistem imun.

4. Mengurangi risiko kematian bayi

Studi yang dimuat di British Medical Journal menyebut ibu hamil yang tidur miring akan lebih sedikit terkena risiko kematian bayi saat lahir. Ibu hamil yang tidur miring ke kiri risiko kematian bayinya lebih rendah 50 persen daripada mereka yang tidur menghadap ke kanan atau terlentang.

~~~~~~~~~~~~~~

Ternyata, ratusan abad sebelum para ahli kesehatan menemukan manfaat tidur dengan posisi miring,  Rasulullah Muhammad SAW sudah mencontohkan tidur dengan posisi miring. Rasulullah tidur dengan posisi miring ke kanan.

Rasulullah bersabda :

“Apabila kamu hendak tidur maka berwudhulah (dengan sempurna) seperti kamu berwudhu untuk sholat, kemudian berbaringlah di atas sisi tubuhmu yang kanan.” (HR. Bukhari).

Dalam riwayat lain Rasulullah juga bersabda;Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu,” (Hr Al-Bukhari dan Muslim).

Dikutip dari artikel Rahasia Tidur Miring ke Kanan Anjuran Nabi, ternyata tidur dengan posisi miring ke kanan sangat baik untuk kesehtan. Dikuti dari artikel tersebut:

Berikut menfaat tidur dengan posisi miring ke kanan yang diambil dari berbagai sumber.

  • Tidur dalam posisi ke kanan dapat mengistirahatkan otak kiri. Dengan tidur miring ke kanan,  dapat menghindarkan dari bahaya yang timbul seperti pengendapan pembekuan darah, lemak, asam sisa oksidasi, dan penyempitan pembuluh darah.
  • Dapat mengurangi beban jantung. Dengan posisi miring ke kanan saat tidur dapat membuat darah terdistribusi secara merata dan terkonsentrasi ke tubuh bagian kanan, membuat aliran darah yang masuk dan keluar jantung lebih melambat sehingga denyut jantung lebih lambat dan tekanan darah akan menurun.
  • Mengistirahatkan lambung. Dengan tidur miring ke kanan menyebabkan aliran chiem lancar sehingga cairan empedu meningkat. Hal ini dapat mencegah batu kantung empedu.
  • Meningkatkan waktu penyerapan gizi. Dengan posisi tidur miring ke kanan membuat perjalan makanan yang tercerna lebih lama, sehingga penyerapan sari makanan lebih optimal.
  • Merangsang buang air besar. Dengan tidur miring ke kanan akan membuat proses pengisian usus besar lebih cepat penuh sehingga merangsang gerak usus besar dan relaksasi dari otot anus. Ini akan merangsang untuk buang air besar.
  • Mengistirahatkan kaki kiri. Dengan tidur miring ke kanan akan membantu pengosongan vena kaki kiri sehinnga rasa pegal lebih cepat hilang.
  • Menjaga kesehatan paru-paru. Paru-paru kanan lebih besar daripada paru-paru kiri. Saat tidur miring ke kanan, jantung juga akan condong ke kanan. Hal ini tak masalah karena jantung akan menekan paru-paru kanan yang ukurannya lebih besar.
    Menjaga saluran pernafasan. Dengan tidur miring ke kanan akan mencegah jatuhnya pangkal lidah yang dapat mengganggu saluran pernafasan.
  • Untuk sekarang apa salahnya kita membiasakan dengan tidur miring ke kanan untuk memperoleh posisi tidur yang sehat.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad. Saya akan mengikuti sunnah Nabi ini karena terbukti banyak manfaatnya.

Written by rinaldimunir

July 13th, 2018 at 1:14 pm

Mengapa Nasi Goreng Tek-tek Lebih Enak daripada Nasi Goreng di Hotel?

without comments

Beberapa tahun yang lalu Rhenald Kasali pernah menulis mengapa tidak ada nasi goreng yang enak di hotel.  Baca tulisannya ini:  Mengapa Tak Ada Nasi Goreng Enak di Hotel?. Ya, Anda yang pernah menginap di hotel berbintang pasti sependapat dengan Rhenald Kasali. Nasi goreng di hotel rasanya hambar dan penampilannya tidak menggugah selera.

Nasi goreng pedagang jalanan jauh lebih enak daripada nasi goeng di hotel. Salah satu jenis pedagang nasi goreng jalanan adalah pedagang mie tek-tek. Disebut pedagang mie tek-tek karena mereka menjajakan makanan dengan gerobak atau pikulan dengan menyusuri jalan pemukiman. Sambil berjalan mereka memukul wajan tempat memasak sehingga berbunyi tek…tek…tek. Meskipun berjulukan pedagang mie tek-tek, namun mereka juga menjual nasi goreng dan bihun goreng selain mie goreng tentunya.

Kehadirannya selalu dirindukan ditengah malam saat perut lapar. Daripada keluar rumah mencari makanan, maka tunggu saja pedagang mie tek-tek lewat di depan rumah. Nasi goreng adalah menu masakan yang paling favorit bagi kabannyakan orang Indonesia. Mmebuatnya mudah, namun perbedaan rasanya terletak pada bumbu yang digunakan.

Malam itu selepas hujan, lewatlah peagang mie tek-tek  di depan rumah saya. Kebetulan saya belum makan malam, nasi di rumah sudah habis dan laupun tidak ada. Daripada memasak lagi atau keluar rumah, maka saya tunggulah pedagang mie tek-tek lewat. Benar saja, jam 9 malam sudah terdengar bunyi tek-tek yang khas. Saya memesan satu porsi nasi goreng agak pedas.

Pedagang tek-tek memasak nasi goreng dengan menggunakan anglo. Anglo adalah kompor dengan bahan bakarnya adalah arang. Nah, salah satu faktor yang membuat nasi goreng tek-tek enak adalah karena dimasak dengan arang. Bau asap arang memberikan sensasi rasa yang khas pada masakan.

Saya perhatikan cara memasaknya, Mula-mula dituangnya dua sendok minyak goreng. Setelah panas, dimasukkan bawang daun, lalu telur ayam, dan diaduk sebentar. Kemudian dimasukkan bumbu ulek ke dalam wajan, lalu diaduk bersama telur tadi. Setelah itu dimasukkan sayuran soun, terakhir dimasukkan nasi dan terus diaduk. Selanjutnya dimasukkan setengah sendok teh garam, sedikit bumbu penyedap, sambal cabe rawit, dan kecap. Semuanya diaduk di atas anglo dengan api yang besar. Sebuah kipas yang ditekan dengan telapak kaki berfungsi memberi aliran udara kepada anglo sehingga apinya tetap besar. Tidak lama nasi gorengpun matang dan dipindahkan ke dalam piring. Dia atad nasi goreng ditaburi acar ketimun, potongan tomat, dan kerupuk. Nasi goreng itu sungguh nikmat rasanya bila langsung dimakan saat itu juga dalam keadaan hangat, rasanya nendang, enak banget.

Lalu, apa yang membuat nasi goreng tek-tek ini lebih enak daripada nasi goreng di hotel? Jawabanya beraneka ragam. Salah satunya adalah karena pedagang nasi goreng lebih berani menggunakan bumbu, dan  lebih berani menggunakan cabai dan penyedap rasa (MSG). Bandingkan dengan chef di hotel. Nasi goreng di hotel tidak berani pakai bumbu yang kaya, bumbunya minimalis saja, hanya bawang putih dan merica. Pelezat rasa pun biasanya  kaldu, garam dan gula. MSG tampaknya terlarang digunakan di dapur hotel. Garam pun hanya ditaburi sedikit karena mempertimbangkan tamu hotel yang diet garam. Tidak ada penambahan cabe rawit di dalam bumbu nasi goreng karena khawatir dikomplain tamu hotel jika nasi gorengnya kepedasan. Kalau mau agak asin atau agak pedas, tambahkan sendiri garam atau merica yang disediakan di atas meja. Karena memasak nasi goreng di hotel mempertimbangkan banyak faktor, maka nasi goreng di hotel dibuat lebih umum (kurangi garam, tidak terlalu pedas, dan tidak terlalu berbumbu) seingga tidak heran rasa nasi gorengnya pun kurang enak.

Pedagang nasi goreng tek-tek lebih berani bereksperimen dibandingkan chef di hotel. Rasa nasi gorengnya yang enak dominan karena faktor bumbu, cabe, dan tentu saja MSG. Saya perhatikan bumbunya terbuat dari bawang merah, bawang putih, cabe, ebi atau terasi, dan mungkin saja ditambah dengan penyedap rasa (wallahualam). MSG dalam porsi yang sangat sedikit dan hanya sekali-sekali saja dikonsumsi tidaklah berbahaya. Toh tidak setiap hari orang makan nasi goreng tek-tek, bukan?

Seorang teman mengatakan, selain faktor bumbu yang lebih berani, faktor lain yang membuat nasi goreng tek-tek lebih enak adalah adalah “jam terbang”  pedagang tek-tek yang jauh bedanya dengan jam terbang koki di hotel. Bagi kebanyakan penjual nasi goreng jalanan, dengan satu menu andalan, mereka sudah membuat jauh lebih banyak nasi goreng ketimbang koki hotel yang menguasai lebih banyak menu.  Dia teringat tulisan Malcolm Gladwell mengenai jam terbang minimal untuk bisa memiliki keahlian di satu bidang.

Written by rinaldimunir

April 13th, 2018 at 4:31 pm

Memasangkan Jokowi dengan Prabowo

without comments

Pemilu dan Pilpres 2019 sudah dekat. Politikus di tanah air sudah mulai kasak-kusuk memikirkan Capres dan Cawapres. Sementara ini Jokowi diprediksi memiliki peluang paling besar untuk menang lagi menjadi Presiden periode kedua. Jokowi belum punya lawan tangguh. Survey-survey menunjukkan elektabilitasnya paling tinggi, jauh meninggalkan kandidat-kandidat yang digadang-gadang menjadi Capres. Sebut saja Prabowo, Agus Harimurti Yudhoyono, Anies Baswedan, dan lain-lain. Hanya Prabowo yang elektablitasnya agak bagus, yang lain-lain masih di bawah dua digit.

Dari media kita membaca bahwa Prabowo mungkin akan maju lagi menjadi Capres. Jika ini terjadi, maka saya memprediksi dia akan kalah lagi. Sulit bagi Prabowo untuk menang, karena media daring dan media sosial di negara kita sangat garang untuk membunuh karakter seseorang. Kita sebaiknya berkaca pada Pilpres 2014 yang lalu, bagaimana bangsa kita terbelah dua menyikapi perbedaan dalam mendukung seorang Capres. Meskipun Pilpres sudah berlalu, tetapi keterbelahan itu masih terus kita rasakan hingga sekarang. Efek keterbelahan akibat Pilpres merembet sampai Pilkada DKI tahun yang lalu. Kelompok-kelompok yang saling bertentangan ini memiliki julukan nama seperti  jokower, wowoer, ahoker, cebong, hater, panasbung, dan lain-lain.

Media massa di negara kita sebagian besar dikuasai kelompok tertentu. Dengan dukungan media massa (daring maupun konvensional) dan media sosial yang tak bertuan, opini masyarakat sangat mudah dibentuk untuk membunuh karakter seorang calon pemimpin yang dianggap pesaing rezim saat ini. Karena itu, sangat sulit bagi calon lawan Jokowi untuk muncul, karena deklarasi saja belum tapi yang bersangkutan sudah dibantai dengan sejumlah isu untuk menggiring opini masyarakat. Pasukan cyber army, buzzer, dan bot siap untuk menyebarkan berbagai posting (termasuk yang hoax) untuk menjatuhkan lawan.

Jika Capres itu dari kelompok Islam, maka sejumlah isu sensitif sangat mudah untuk dimainkan media massa maupun media sosial, sebut saja isu syariah, anti NKRI, anti bhinneka tunggal ika, anti Pancasila, anti pluralisme, intoleran, dan sebagainya. Isu semacam itu akan membuat alergi masyarakat non-muslim (terutama di kawasan Indonesia Timur) maupun masyarakat yang sekuler (tidak suka agama ikut masuk urusan politik).  Jika Capres itu dari kelompok militer, maka isu yang digunakan untuk menghantamnya adalah isu pelanggaran HAM pada masa lalu.  Jika Capres itu anak tokoh politik, maka isu yang digunakan untuk menjatuhkannya adalah masa lalu orangtuanya. Politik menanamkan kebencian sudah menjadi hal lazim untuk menjatuhkan citra seorang lawan.

Bangsa kita yang sudah terlanjur terbelah sejak Pilpres 014 dan Pilkada DKI 2017 membutuhkan ketenangan. Mereka mungkin sudah tidak suka melihat perang urat syaraf dan perang kata antara pendukung Jokowi dan pendukung non-Jokowi.

Jika Prabowo direpresentasikan sebagai penantang kuat Jokowi nanti, maka saya punya saran untuk mengobati “luka” masyarakat kita akibat keterbelahan. Dari pengamatan saya, perpolitikan di negara kita ditentukan oleh empat king maker: Megawati, Prabowo, SBY, dan satu lagi mungkin kamu tidak sepakat dengan saya, yaitu Habib Rizieq Syihab. Jangan salah, pengikut HRS sangat banyak jumlahnya dan kenyataan itu tidak bisa dinafikan. Maka, saya menyarankan semua pertentangan itu disatukan saja dalam satu wadah.  Saya usul Jokowi sebagai Capres dan Prabowo sebagai Cawapres. Lalu, tokoh-tokoh lain nanti menjabat sebagai menteri atau setingkat menteri. Mas AHY, Ahok, Anies Baswedan, bahkan Habib Rizieq Syihab, menjadi menteri atau kordinator menteri. Bukan tidak mungkin pula tokoh politik yang garang di DPR seperti Fahri Hamzah dan Fadli Zon menjadi menteri kabinet. Lengkaplah sudah semua tokoh yang berseberangan ini terkumpul menjadi satu, semuanya memikirkan bangsa ini, tidak ada lagi gontok-gontokan. Negara dan masyarakat ini akan tenang, riuh rendah media sosial akan berhenti berperang menyikat lawan (seng tak ada lawan).

Ide saya ini mungkin ide yang konyol. Mimpi kalee.

Written by rinaldimunir

February 23rd, 2018 at 2:48 pm

Posted in Gado-gado

Koran Bekas “Penglarisan” si Mamang

without comments

Mamang-mamang pembeli barang rongsokan setiap hari selalu lewat di depan rumah saya  sambil menanyakan apakah mau jual koran bekas. Mamang-mamang itu sepertinya tahu saja kalau saya masih berlangganan koran, padahal dalam era digital sekarang orang lebih banyak membaca berita di internet ketimbang media cetak. Media cetak pun satu per satu sudah mulai kolaps karena ditinggalkan pembaca.

Langganan koran di rumah tetap saya lanjutkan karena anak saya suka membaca koran, yach minimal untuk tetap terus menumbuhkan minat baca selain baca buku tentunya. Sejak kecil di Padang saya penyuka baca koran, karena itulah saya banyak tahu tentang sitauasi politik negara ini, kejadian di luar negeri, dan lainnya. Hobi membaca koran itu diwariskan ke anak saya.

Kembali ke cerita si Mamang pembeli koran bekas. Dengan setengah berharap dia meminta saya menjual koran bekas. Buat penglarisan, katanya. Dari tadi belum dapat barang, lanjutnya. Pedagang Sunda memang paling suka menyebut kata “penglaris” sebagai cara berharap agar dagangannya laku. Jika dagangan sedang sepi, lalu ada pembeli pertama datang, maka tawar menawar harga tidak akan sulit. Pedagang merelakan dagangannya dibeli dengan harga yang ditawar. Setingkali uang yang diterima dari pembeli dikibas-kibaskan ke barang dagangannya. Buat penglarisan, katanya, sebuah kepercayaan yang sudah turun temurun di Tatar Sunda sejak dulu kala.

Mamang sedang menimbang koran bekas

Saya lihat ke dapur, memang sudah banyak tumpukan koran bekas. Berapa sekilo mang, tanya saya. Tiga ribu, jawabnya. Sekarang harga koran bekas lagi bagus, Pak, lanjutnya. Iya, kata saya dalam hati, biasanya pedagang koran bekas membeli 2000/kg. Koran-koran bekas itu dijual ke pengepul. Biasanya koran bekas dijadikan pembungkus, misalnya pembungkus ikan asin atau buat tanaman. Si Mamang juga menanyakan apakah saya punya kertas HVS bekas kalau ada. Kertas HVS bekas biaanya didaur ulang menjadi kertas lagi. Harganya 1500/kg, lebih murah daripada koran bekas. Selain koran, si mamang juga sering menanyakan apakah ada aki bekas, besi bekas, dan sebagainya. Wah, mana ada barang itu di rumah saya.

Oke, transaksi pun berlanjut. Setelah ditimbang, ternyata ada 11 kg. Lumayan, tiga puluh tiga ribu. Uang penjualan koran bekas buat si bibi pembantu di rumah saja, yang selama ini selalu membereskan koran yang berantakan di lantai setelah dibaca. Si Mamang pun pergi dengan hati yang girang membawa barang.

Written by rinaldimunir

February 19th, 2018 at 11:15 am

Posted in Gado-gado

Memelihara Jantung

without comments

Beberapa minggu yang lalu rekan kami di kampus meninggal dunia secara mendadak akibat serangan jantung. Tentu saja kami merasa kehilangan karena usia beliau masih relatif muda. Penyakit jantung merupakan penyakit nomor satu yang paling mematikan. Ia bisa menyerang siapa saja, tidak peduli usia muda atau tua. Teman saya semasa kuliah dulu sudah ada berapa orang yang meninggal dunia karena serangan jantung, padahal usianya kala itu juga masih muda.

Ada orang yang menderita penyakit jantung karena bawaan sejak lahir, tetapi lebih banyak lagi orang yang menderita penyakit jantung karena gaya hidup yang tidak memperhatikan keseimbangan, keseimbangan antara yang masuk dan keluar. Terlalu banyak makan yang berlemak tetapi kurang gerak atau olahraga merupakan pemicu penyakit jantung.

Saya bukan dokter, tetapi dari berbagai informasi yang saya ketahui serangan jantung disebabkan oleh tersumbatnya aliran darah menuju jantung akibat penumpukan lemak kolesterol, atau unsur lain di dalam pembuluh darag. Gangguan aliran darah ke jantung bisa merusak atau menghancurkan otot jantung dan bisa berakibat fatal (Sumber:  Pengertian Serangan Jantung).

Penyakit jantung disebabkan berbagai faktor, antara lain kebiasaan merokok, pola hidup yang kurang sehat (kurang berolahraga, suka makanan berlemak, jarang memakan buah dan sayur), hipertensi, diabetes, obesitas, faktor usia, jenis kelamin, dan riwayat keluarga yang memiliki penyakit jantung (Sumber: Penyebab Penyakit Jantung).

Jadi, mulai sekarang peliharalah jantung milik kita masing-masing, dengan cara memperhatikan faktor-faktor penyebab di atas, salah satunya olahraga secara teratur. Berolahraga memang bagus buat jantung, tetapi memforsis diri untuk berolahraga malah bisa fatal. Olahraga itu ada batasnya, kalau tubuh sudah merasa tidak nyaman atau mata mulai berkunang-kunang ketika berolahraga, badan mulai tidak stabil (sempoyongan), itu pertanda olahraga harus dihentikan saat itu. Segeralah menepi dan memilih beristirahat.

Tahun lalu Rektor sebuah PTN di Bandung meninggal dunia ketiak sedang bermain tenis. Beberapa tahun lalu kita juga mendengar seorang artis pria (Adjie Massaid) meninggal dunia ketika sedang bermain futsal. Masih banyak lagi berita orang yang meninggal dunia secara mendadak ketika berolahraga.

Bagi orang yang berusia di atas 40 tahun (seperti saya), sudah waktunya memilih olahraga yang bisa “dikendalikan”. Maksudnya, sebaiknya kita melakukan olahraga yang bisa kita kontrol sendiri kapan kita harus berhenti dan kapan dilanjutkan. Jika tubuh sudah merasa lelah, maka kita sendiri memutuskan untuk berhenti sejenak atau dalam waktu yang agak lama. Olahraga yang bisa dikendalikan itu antara lain jalan kaki, lari, senam, bersepeda, dan berenang. Semua olahraga ini bersifat privat dan bukan bersifat pertandingan. Kita tidak perlu mengikuti aturan baku dalam olahraga itu, karena kita sendiri yang melakukannya dan kita sendiri yang tahu kapan tubuh kita harus berhenti untuk berisitirahat dan kapan dilanjutkan lagi.

Olahraga yang memerlukan partner atau teamwork dalam pertandingan tidak disarankan bagi orang berusia di atas 40 tahun, karena sangat mengurus energi. Olahraga semacam itu misalnya bermain futsal, tenis, badminton, sepakbola, volley, basket, dan sebagainya. Bermain sepakbola misalnya, kita hanya istirahat setelah 90 menit pertandingan. Kita tidak bisa berhenti sesuka hati kita ketika sedang main. Meskipun tubuh sudah sempoyongan, kita terikat aturan permainan untuk terus bermain sampai waktu istirahat tiba (kecuali ada pergantian). Hal yang sama juga berlaku ketiak sedang bermain tenis, badminton, volley, futsal, dan sebagainya. Semuanya olahraga yang menguras tenaga, jika jantung tidak kuat memompa darah bisa fatal akibatnya, apalagi kalau punya potensi penyakit jantung.

Jantung adalah pusat dari tubuh kita, yang memompa darah ke semua bagian tubuh, Jika ia berhenti berkerja, maka habislah riwayat kita. Mari kita syukuri nikmat Allah SWT dengan memelihara jantung kita masing-masing.

Written by rinaldimunir

January 17th, 2018 at 11:05 am

Posted in Gado-gado