if99.net

IF99 ITB

Archive for June, 2022

Inspirasi dari Prof. Hariadi P. Soepangkat (alm)

without comments

Prof. Hariadi Paminto Soepangkat sudah dua tahun yang lalu wafat. Beliau adalah dosen Fisika ITB sekaligus mantan Rektor ITB. Sewaktu saya menjadi mahasiswa ITB, rektor ITB dijabat oleh Prof. Hariadi.

Secara pribadi saya tidak mengenal Prof Hariadi. Saya hanya tahu dia adalah rektor saya. Itu saja. Pun, saya tidak pernah diajar Fisika Dasar oleh Prof Hariadi ketika tahap TPB dulu.

Hari ini saya mendapat kiriman tulisan yang ditulis oleh Jansen Sinamo, salah satu mahasiswa Departmen Fisika ITB yang pernah menjadi murid Pak Hariadi. Tulisannya sangat berkesan bagi saya, sebab dari ceritanya itu saya mendapat gambaran seperti apa sosok Prof Hariadi dalam mengajar. Sungguh Prof Hariadi adalah seorang yang sangat inspirasional. Semoga saya bisa mencontoh hal yang positif ini dari Prof Hariadi dalam mendidik mahasiswa saya di ITB. Saya bagikan tulisan dari Jansen Sinamo ini kepada pembaca.

Prof. Hariadi P. Soepangkat (Sumber: Tempo)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Bandung, 1980

Pada sebuah ruang kuliah bangunan Belanda di ITB

Sekitar dua puluh menit setelah kuliah Fisika Kuantum berlangsung, usai menggambar orbit-orbit lintasan elektron pada atom hidrogen di papan tulis, tiba-tiba dipanggilnya nama saya.

“Saya, Pak,” jawab saya terkejut sambil mengangkat tangan.

Beliau lalu menanyakan kota asal saya. Saya katakan berasal dari Sidikalang. Langsung beliau ingat dengan seorang kawannya, Andi Hakim Nasution dari IPB konon daerah saya terkenal dengan kopinya.

Sambil menuruni panggung kuliah yang rapat dengan papan tulis dan berjalan mendekati saya di barisan depan.

“Dari Medan, berapa kilometer jauh, dan berapa ongkosnya?”

“Seratus lima puluh kilometer, dengan ongkos bus lima ribu rupiah, Pak”

“Kalau uang Saudara cuma tiga ribu, sampai di mana itu?”

“Berastagi, Pak.”

Sesudah kembali ke panggung, sambil memandang semua mahasiswa, Pak Hariadi berkata, “Kira-kira inilah yang dimaksud dengan energi ambang. Jika uang Saudara Jansen Sinamo cuma tiga ribu, ia tidak akan sampai ke Medan. Lima ribu adalah uang ambang yang diperlukan agar dia bisa sampai ke Medan dari Sidikalang.”

“Demikian pula elektron: ia butuh energi ambang, yaitu energi minimum yang harus ia miliki untuk pindah ke orbit yang lebih tinggi.”

Dengan cara mengajar yang menarik tersebut, membuat saya kagum dan senang dengan mata kuliah Fisika Kuantum yang disampaikan oleh Doktor lulusan Universitas Purdue tersebut. Selain Teori Relativitas Umum, mata kuliah tersebut adalah mata kuliah bergengsi dengan nilai kredit empat.

Rupanya cara mengajar beliau itu berpengaruh besar terhadap prestasi saya.

Sejak saat itu, rasa suka saya pada Pak Hariadi Paminto Soepangkat kian berlipat ganda. Sebagai akibatnya, berlipat ganda pula minat saya pada Fisika Kuantum. Singkat cerita, pada ujian akhir semester saya mendapat nilai A. Bagi saya, hal ini sungguh tidak lazim. Jarang sekali saya mendapat nilai A. Di antara angkatan 1978 lainnya, saya adalah mahasiswa rata-rata: mayoritas nilai saya C, beberapa B, tapi nilai A sungguh sangat sedikit.

Tapi, mendapat A untuk Fisika Kuantum rasanya selangit. Buat saya, hal itu setara dengan nilai A untuk sepuluh mata kuliah lain. Fisika Kuantum adalah salah satu mata kuliah paling bergengsi di Jurusan Fisika, dan kreditnya maksimum: empat.

Mengapa saya mendadak jadi sangat pintar? Saya akhirnya menyadari bahwa itu semua dikarenakan cara mengajar Pak Hariadi yang, buat saya, luar biasa.

Betapa tidak. Dia selalu sudah ada di kelas sepuluh menit sebelum kuliah dimulai. Sedangkan hampir semua mata kuliah lain, mahasiswanya yang menunggu dosen. Pak Hariadi sebaliknya.

Pak Hariadi selalu tampil necis. Beliau juga selalu memastikan kelasnya bersih. Dia membersihkan sendiri papan tulis dengan kain lap basah yang dibawanya. Ada tiga papan tulis besar di kelas kami. Dibersihkannya dulu papan tulis ketiga saat ia mulai memakai papan tulis pertama, sehingga papan tulis ketiga itu sudah kering saat ia akan memakainya. Demikian seterusnya sampai kuliahnya yang berdurasi 120 menit itu selesai.

Selama lima tahun masa perkuliahan saya, tidak pernah saya bertemu dengan dosen lain yang mampu menyamai kerapihan dan keindahan tulisan tangan Pak Hariadi.

Pak Hariadi juga pekerja cepat. Jika hari ini diadakan ujian, esok harinya jawaban soal-soal sudah tertempel di papan pengumuman. Di Jurusan Fisika, hanya Pak Hariadi yang mampu dan cukup disiplin untuk berbuat demikian.

la pun hafal nama semua mahasiswa yang diajarnya. Ia mampu memanggil nama mahasiswa secara acak, dan, seperti saya sebelumnya, setiap mahasiswa yang disebut namanya diajaknya berinteraksi. Dari interaksi pendek tersebut, keluarlah ilustrasi yang menjelaskan konsep Fisika Kuantum. Ilustrasi yang membumi tersebut tidak hanya sangat menolong. Dalam tataran psikologis, mahasiswa juga merasa dilibatkan, bahkan dijadikan bintang dalam momen pendek tersebut. Tak pelak, kuliah Pak Hariadi selalu digandrungi. Fisika Kuantum jadi mudah dimengerti, gampang diikuti, dan menarik untuk ditelusuri.

Pak Hariadi bukanlah tipe dosen yang merasa puas jika kuliahnya sukar diikuti. la bukan tipe pengajar yang berbahagia melihat mahasiswa pusing tujuh keliling, lalu jadi takut dan jeri pada pelajarannya. Tak ada sedikit pun perangai galak padanya, apalagi killer. la memenuhi ciri orang cerdas menurut Albert Einstein: orang cerdas ialah orang yang mampu membuat perkara sulit menjadi mudah, sedangkan orang bodoh malah membuat perkara mudah menjadi sukar. Fokus keguruan Pak Hariadi adalah membantu mahasiswanya memahami pelajaran dengan mudah, supaya tumbuh gairah dan kecintaan pada pelajaran tersebut. Jadi, sebenarnya tidak terlalu mengherankan jika saya bisa dapat nilai A.

Saat liburan ke Sidikalang, sensasi nilai A itu masih terbawa. Tak tahan, saya menulis surat kepada pak Hariadi mengucapkan rasa syukur dan terimakasih dan apresiasi saya terhadap cara beliau mengajar.

Dengan cepat surat itu dibalasnya, yang mengatakan dari 30 mahasiswa yang mendapat nilai A, hanya saya yang berkirim surat. Beliau juga mengucapkan terimakasih atas apresiasi saya. Di penutup surat, usai menitipkan salam kepada orang tua saya, beliau mengundang saya untuk datang ke kantornya usai liburan.

Saya ceritakan hal itu kepada orangtua, dan mereka lalu menitipkan ulos, selain kopi Sidikalang yang pernah beliau sebut saat perkuliahan.

Sampai di Bandung, saya pun menghadap ke kantor Dekan F-MIPA. Di ujung percakapan, tanpa saya duga Pak Hariadi meminta agar saya bersedia menjadi asistennya untuk semester berikut. Terhenyak saya. Tubuh saya mendadak ringan seperti kapas di awang-awang. Tanpa pikir panjang, tawaran itu segera saya sambut.

Ketika Pak Hariadi sadar bahwa saya membawa cinderamata ulos, dia sempat tertegun lalu berkata, “Wah, istri saya harus ikut bersama saya menerima ini. Terima kasih. Ini penghargaan yang sangat tinggi.” Malam itu juga, di rumah Pak Hariadi di bilangan Sangkuriang, saya menjadi tamu keluarga. Saya diundang untuk makan malam dan bercakap-cakap dengan akrab. Dalam momen itulah saya menyerahkan ulos dan kopi Sidikalang.

Hingga saya tamat kuliah pada akhir 1983-saat itu Pak Hariadi sudah menjabat sebagai Rektor ITB-saya membantunya sebagai asisten kuliah Fisika Kuantum. Diajar oleh Pak Hariadi dan menjadi asistennya merupakan salah satu pengalaman akademik paling berkesan dan terpenting untuk saya selama kuliah di ITB Bandung.

Andai semua guru Matematika, Fisika, dan Kimia di semua SMA di negeri ini sanggup mengajar seperti Pak Hariadi, niscaya semua mata pelajaran sulit itu tidak akan menjadi momok untuk generasi muda kita. Malah, Matematika dan Sains akan menjadi mata pelajaran favorit.[]

Sumber: Buku 8 Etos Keguruan Jansen Sinamo

Written by rinaldimunir

June 25th, 2022 at 2:51 pm

Hari gini mahasiswa belum punya paspor?

without comments

Suatu siang saya ngobrol-ngobrol dengan mahasiswa bimbingan TA yang akan wisuda bulan Juli nanti.

+ Sudah punya paspor?

Belum, pak.

+ Hah, hari gini mahasiswa belum punya paspor? Udah mau lulus lagi.

Iya pak, belum terpikir

+ Katanya kamu udah diterima bekerja di perusahaan X tersebut. Kalau tiba-tiba kamu ditugaskan ke Singapore atau ke India, bagaimana? Kamu belum punya paspor. Tidak cepat lho mengurus paspor itu, tidak bisa mendadak dua hari sebelum pergi.

Banyak dari mahasiswaku yang tingkat akhir, dan sebentar lagi akan wisuda, sudah mendapat pekerjaan tetap sebelum lulus. Perusahaan tempat mereka bekerja rata-rata perusahaan ternama dengan gaji wah. Ada yang di Jakarta, Singapura, Jepang, dan lain-lain. Kalau mahasiswa yang sudah pasti dapat pekerjaan di luar negeri tentu sudah mengurus paspor. Tapi bagi yang bekerja di dalam negeri juga sudah seharusnya memiliki paspor, karena ada kemungkinan tiba-tiba mendapat tugas ke luar negeri. Tanpa paspor tentu orang tidak bisa menyeberangi perbatasan.

Saya jadi teringat tulisan Rhenald Kasali tentang paspor (pernah saya tulis pada postingan ini: Passport, Tiket Untuk Melihat Dunia (Tulisan Inspiratif dari RhenaldĀ Kasali). Paspor adalah surat izin untuk memasuki dunia global. Tanpa paspor, kita tidak bisa pergi ke mana-mana. Mau jalan-jalan ke luar negeri, mau sekolah atau magang di LN, mau pergi dinas, mau pergi umrah dan haji, tentu membutuhkan paspor.

Dulu saya berpikiran membuat paspor itu membutuhkan waktu setidaknya satu minggu, mulai dari memasukkan berkas persyaratan, antri wawancara, sesi foto, sampai mendapat paspor yang berupa buku setebal buku nikah. Tetapi sekarang ada e-paspor yang lebih cepat lagi prosesnya. Malah saya baru tahu kalau sekarang juga bisa membuat paspor dalam waktu sehari saja, yang tentu saja biayanya lebih mahal (tiga kali lipat). Baca: Cara Membuat Paspor dalam Waktu Satu Hari.

Jadi, sudah saatnya mahasiswa mengurus paspornya mulai dari kini. Siapa tahu tiba-tiba Anda mendapat kesempatan magang atau pertukaran pelajar di luar negeri, atau sekedar refreshing saja menjadi turis backpacker ke negara tetangga.

Ngomong-ngomong paspor saya sudah habis masa berlakunya dan harus diperpanjang lagi. Ke kantor imigrasi dulu ah…

Written by rinaldimunir

June 16th, 2022 at 11:06 am

Oleh-oleh dari Kampung dari Mahasiwa Bimbingan

without comments

Suatu hari mahasiswaku datang mau bimbingan Tugas Akhir (TA). Dia membawa oleh-oleh dari kampung halamannya. Kebetulan saat itu baru selesai libur lebaran dan kampus sudah buka kembali.

“Ini buat bapak”, katanya, sambil menyerahkan sebuah plastik keresek berisi kue khas kampung halamannya.

Saya tahu niat baiknya, tulus, namun saya tidak bisa menerimanya karena dia masih dalam penilaian saya. Dia mahasiswa bimbingan saya, nilai tugas akhirnya tergantung dari saya.

“Bagikan saja buat teman-temanmu di kosan ya”, kata saya sambil tersenyum. Saya tidak ingin menyakiti perasaannya, jadi oleh-oleh tersebut tetap bermanfaat bagi teman-temannya di kos-kosan. Alhamdulillah, dia bisa memahami dan mengerti sikap saya tersebut. Akhirnya bimbingan TA pun dilanjutkan kembali tanpa terganggu dengan kejadian tadi.

Meskipun saya tahu ini adalah budaya keramahtamahan bangsa kita, yaitu sering membawa oleh-oleh ketika bertamu, namun menurut saya momennya tidak tepat.

Saya pun paham mereka memberi itu tidak punya maksud apa-apa sih, tetapi prinsip tidak menerima pemberian apapun dari orang yang berada di bawah tanggung jawab kita, di bawah penilaian kita, harus diterapkan. Dengan demikian kita tidak punya beban dalam menilai mereka. Tidak terikat dengan pemberian yang pernah mereka berikan.

Saya tidak akan menyebut itu gratifikasi atau pun istilah lainnya. Selama mahasiswa masih terikat dengan saya, saya tidak mau menerima apapun dari mereka.

Sebaiknya mahasiswa tidak usah memberi kami apa-apa. Menurut saya itu sikap yang terbaik agar kami tidak serba salah menanggapinya.

Written by rinaldimunir

June 3rd, 2022 at 10:49 am

Posted in Pengalamanku