if99.net

IF99 ITB

Archive for December, 2021

Berkunjung ke Masid Al-Hakim, Masjid Baru nan Cantik di Pinggir Laut Pantai Padang

without comments

Setelah hampir dua tahun tidak pernah pulang kampung karena pandemi corona, akhirnya saya bisa pulang kampung juga ke tempat kelahiran di kota Padang minggu lalu. Dari Jakarta saya naik pesawat Citilink penerbangan pagi (menginap dulu di hotel kapsul di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta), dan turun di Bandara Minangkabau.

Waktu dua hari dan satu malam di Padang tentu sangat singkat, namun saya manfaatkan pergi berziarah ke makam orangtua di Bukit Seberang Padang. Satu lagi: mengunjungi dan sholat di Masjid Al-Hakim, masjid baru nan cantik yang terletak di pinggir laut di Pantai Padang. Selama ini saya kan hanya melihat dan membaca di media sosial saja tentang masjid baru tersebut, nah sekarang mumpung di Padang saya ingin melihat langsung ke sana.

Hari Minggu pagi, saya berjalan kaki dari rumah ke Pantai Padang, yah sambil olahraga jalan pagi maksudnya. Pantai Padang itu memanjang dari kawasan Muaro sampai ke utara ke arah Purus. Nah, Masjid Al-Hakim terletak yang dekat Muaro itu, yaitu tempat pertemuan Sungai Batang Arau dengan Samudera Hindia.

Pantai Padang

Hari minggu pagi banyak warga yang berolahraga di plaza sepanjang Pantai Padang. Jalur pedesterian yang lebar sangat nyaman untuk berjalan kaki atau olahraga lari, sambil menikmati sejuknya udara pantai. Di kiri kita terhampar Samudera Hindia dengan ombak yang menghempas-hempas ke pantai, seakan-akan memanggil perantau untuk pulang (seperti syair sebuah lagu berjudul Pantai Padang, yang dulu didendangkan oleh penyanyi Elly Kasim). Memang sangat menyenangkan berjalan-jalan menikmati pantai.

Video lagu cik uniang Elly Kasim (almh) berjudul Pantai Padang

Dari kejauhan sudah terlihat Masjid Al-Hakim yang berwarna putih. Letaknya ke arah ujung di dekat muara. Saya terus berjalan kaki, melewati berbagai tempat kenangan semasa kecil dan semasa bersekolah di Padang.

Nah, akhirnya sampailah saya di depan masjid ini, di pertigaan jalan Samudera. Cantik nian masjid Al-Hakim ini, arsitekturnya mirip dengan Taj Mahal di India. Langit yang cerah pagi itu menghasilkan foto yang menawan seperti di bawah ini yang saya jepret dengan kamera ponsel.

Masjid Al-Hakim

Dikutip dari laman Wikipedia, “Masjid Al-Hakim Padang adalah sebuah masjid bergaya Taj Mahal di tepi Pantai Padang, Kota Padang, Sumatra Barat, Indonesia. Masjid ini mulai dibangun pada awal 2017. Biaya pembangunannya berasal dari seorang donatur, sementara lahannya disediakan oleh Pemerintah Kota Padang seiring penataan Pantai Padang yang dilakukan sejak 2014.

Lahan masjid ini dulunya merupakan area permainan anak dan dipenuhi tenda-tenda pedagang kaki lima (PKL). Pada 2016, seorang donatur menyampaikan niatnya untuk membangun masjid di tepi pantai. Berkat pendekatan yang dilakukan pemerintah setempat, PKL bersedia direlokasi ke tempat baru sehingga pembangunan masjid dapat dikerjakan.

Sejak 4 September 2020, Masjid Al-Hakim Padang sudah dibuka terbatas untuk aktivitas ibadah dengan menerapkan protokol kesehatan COVID-19. Menurut rencana, masjid akan diresmikan pada November 2020.

Masjid Al-Hakim memiliki program ATM Beras, program bantuan berupa beras yang ditujukan kepada 100 Kepala Keluarga (KK) di sekitar masjid. Penerima bantuan dapat mengambil beras pada jadwal yang ditentukan.

Saya masuk ke dalam masjid, hendak menunaikan sholat Dhuha. Pagi itu ada beberapa orang ibu-ibu yang juga sholat Dhuha. Sepertinya mereka adalah wisatawan lokal yang berkunjung ke masjid ini. Masjid Al-Hakim menjadi magnet baru di Pantai Padang dan menjadi salah satu obyek wisata religi di kota Padang.

Interior di dalam masjid terlihat cantik dan suasananya terasa lapang dengan karpet merah tebal sebagai alas sholat. Lampu kristal menggantung di tengah-tengah.

Suasana di dalam masjid

Usai sholat saya berjalan ke luar, naik tangga melalui koridor. Tampak dari sini laut di pinggir masjid. Ya, masjid Al-Hakim memang persis di pinggir pantai. Tampak dari sini Bukit Padang yang menjadi ikon Pantai Padang. Bukit Padang ini satu kesatuan dengan bukit Gado-Gado yang menjadi tempat legenda Siti Nurbaya. Bukit Gado-gado ini juga membentengi sungai Batang Arau. Di bawah bukit inilah bermuara sungai Batang Arau sehingga kawasan ini dinamakan Muaro (muara).

Tampak laut dari atas Masjid Al-Hakim

Di Muaro ini ada pelabuhan kecil bernama Pelabuhan Muaro sebagai tempat pemberangkatan kapal-kapal ke Kepulauan Mentawai. Keluar dari sungai Batang Arau ini bertemulah air tawar dan air laut. Kota Padang sudah ada sejak Abad 18. Dulu kota Padang bermula di kawasan Muaro ini karena ada pelabuhan kapal, sehingga kawasan Muaro disebut juga kawasan kota tua. Di kawasan Muaro masih terdapat bangunan-bangunan peninggalan Belanda (VOC) seperti kantor VOC, gudang rempah-rempah, kantor pelabuhan, dan bangunan lainnya yang dilestarikan oleh Pemerintah kota.

Kembali ke cerita Masjid Al-Hakim. Untuk menghindari abrasi yang menggerus Pantai Padang, maka di pinggir pantai di depan masjid Al-Hakim ditanam batu-batu penahan ombak. Namun hempasan ombak di dekat Muaro ini tidak sebesar ombak pantai yang ke arah utara. Berikut penampakan beberapa foto pemandangan laut dan pantai di samping Masjid Al-Hakim.

Halaman belakang masjdi Al-Hakim berupa pantai
Batu-batu penahan abrasi

Satu hal yang menarik di sekitar Masjid Al-Hakim ini adalah di seberang masjid terdapat vihara Budha. Vihara ini sudah ada sebelum masjid dibangun. Kawasan Muaro memang merupakan kawasan pecinan di kota Padang. Di sini terdapat daerah pemukiman dan perniagaan kaum Tionghoa yang dikenal dengan nama daerah Pondok. Dua ratus meter dari vihara, atau dua ratus meter dari masjid Al-Hakim, di tepi jalan Samudera, terdapat Gereja Advent Hari Ketujuh. Jadi, keberadaan masjid, vihara, dan gereja memperlihatkan kerukunan beragama yang baik di Ranah Minang.

Setelah puas mengitari masjid, saya pun meninggalkan Masjid Al-Hakim. Alhamdulillah, tercapai juga keinginan untuk mengunjungi dan sholat di masjid nan cantik ini. Saya pun memesan Gojek untuk pulang. Eh, tidak langsung pulang ding, tetapi pergi ke RS Bunda di Tarandam untuk melakukan tes antigen sebagai persyaratan naik pesawat. Saya kembali ke Jakarta sore hari dengan pesawat Citilink lagi. Semoga saya dapat kembali ke Masjid A-Hakim dan sholat di masjid ini bila pulang kampung lagi. Amiin.

Video vlog yang saya buat ketika mengunjungi Masjid Al-Hakim dapat ditonton pada kanal Youtube saya di bawah ini.

Written by rinaldimunir

December 18th, 2021 at 5:16 pm

Pengalaman Menginap di Hotel Kapsul “Digital Airport Hotel” Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta

without comments

Karena saya ada keperluan penerbangan pagi dari Bandara Soekarno-Hatta, maka daripada berangkat dari Bandung dinihari jam 01.00, saya memutuskan menginap saja di hotel di dalam bandara. Kalau menginap di hotel sekitar bandara masih perlu naik taksi lagi ke dalam bandara.

Pilihan saya jatuh pada hotel kapsul di dalam Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Namanya Digital Airport Hotel. Letaknya di lantai 1 Terminal 3, tepat di bawah konter check-in. Kalau mau chek-in pesawat di Terminal 3 cukup naik ke lantai 2 pakai eskalator. Sangat dekat, tinggal jalan kaki saja. Oh ya, di Terminal 2 juga ada hotel Digital Airport. Saya pilih hotel kapsul di Terminal 3 karena pesawat saya, Citilink, berangkat dari Terminal 3.

Digital Airport Hotel

Kamar kapsulnya berbentuk kontainer bergaya futuristik, panjang sekitar 2,5 m, lebar sekitar 1,5 m dan tinggi 1,5 meter, dua tingkat. Serasa berada di kamar astronot. Kata petugas hotel, jumlah kamar kapsulnya ada sekitar 100 lebih. Oh ya, ada juga kamar untuk double (2 orang juga).

Disebut hotel digital karena semua peralatan di kamar kapsul serba digital. Untuk membuka semua pintu mengguankan kartu elektronik. Di dalam kamar ada TV, meja lipat, USB port buat hape, headphone, bantal, selimut, peralatan mandi (handuk, odol, sikat gigi), free wifi. Warna cahaya lampunya bisa diatur, begitu juga terang gelapnya. Hanya sayang tidak ada colokan listrik buat laptop, jadi kalau mau cas laptop bisa di ruang yang ada meja co-working.

Pintu masuk ke dalam kamar kapsul
Kamar tidur di dalam kapsul

Kamar mandinya sharing, ada 10 kamar mandi (5 untuk pria dan 5 untuk wanita, terpisah). Kamar mandi terletak di luar area kamar, jadi kita harus keluar lagi dengan pintu yang hanya bisa dibuka menggunakan sensor tangan. Kamar mandinya lumayan bersih, tetapi menurut saya terlalu besar ukurannya. Padahal kamar mandi cukup kecil saja namun banyak jumlahnya supaya tidak terlalu antri (tapi pas saya ke sana tidak antri karena agak sepi, maklum masih pandemi jadi belum banyak penumpang pesawat)

Ruang area kamar mandi, ada 5 kamar mandi di sini
Di dalam setiap kamar mandi ada kloset, shower, dan westafel. Kamar mandi yang luas yang sebenarnya tidak perlu terlalu luas.

Menurut saya hotel kapsul ini cocok bagi solo traveller yang transit cukup lama atau penumpang yang berangkat dinihari atau pagi-pagi tanpa khawatir ketinggalan pesawat. Sambil menunggu penerbangan bisa istirahat dulu di kamar kapsul, leyeh-leyeh, mandi, atau tidur memulihkan tenaga. Daripada tidur di ruang transit atau di kursi-kursi bandara, ya kan. Atau kalau menginap di hotel di luar bandara, maka perlu naik taksi lagi ke Terminal 3 dan harus buru-buru supaya tidak ketinggalan pesawat.

Tarif kamarnya sekitar Rp 200 – 300 ribu-an semalam. Bisa untuk full day (dari jam 14.00 sampai jam 12.00 keesokan harinya) atau untuk yang 9 jam. Lebih murah pesan di Traveloka daripada langsung datang (go show). Sangat aman karena untuk membuka sesuatu (pintu kamar, loker penyimpan barang, pintu kamar mandi, dll) menggunakan kartu elektronik.

Loker untuk menyimpan barang

Kelebihan hotel ini ya karena sangat dekat saja ke konter chek-in dan boarding di lantai 2. Kekurangannya sih ada. Karena kamar kapsul ini terbuat dari plastik maka ia tidak kedap suara. Suara-suara dari luar kamar terdengar, atau suara orang yang mendengkur dari kamar sebelah. Kamar mandinya di luar dan harus keluar ruang kamar. Kamar mandi yang sharing ini harus sering dibersihkan karena perilaku tamu ada yang jorok (membuang tisu ke dalam kloset, lantai shower masih penuh sabun, dan sebagainya). Saat saya ke sana sabun cair yang disediakan habis, untung saya bawa sabun sendiri. Tapi secara keseluruhan lumayanlah buat menginap sementara.

Written by rinaldimunir

December 13th, 2021 at 4:34 pm

Posted in Cerita perjalanan

Mamang-Mamang Penjual Air Gerobak

without comments

Setiap pagi di Antapani saya sering bertemu dengan bapak-bapak yang mendorong gerobak berisi jerigen-jerigen air. Air itu dijual ke rumah-rumah yang mengalami seret air. Satu gerobak itu berisi 13 sampai 14 jerigen air PDAM. Air satu gerobak itu harganya 65 ribu rupiah. Satu jerigen air dijual 5 ribu sampai 6 ribu rupiah. Pada musim kemarau atau saat aliran PDAM mati (misalnya karena pipa PDAM pecah), maka harga air jerigen ini melonjak hingga 75 sampai 90 ribu, tergantung kemampuan tawar menawar.

Meskipun kawasan perumahan di Antapani dilalui saluran PDAM, tetapi tidak semua rumah lancar aliran airnya. Di sini air ledeng tidak bisa langsung mengalir ke dalam bak penampungan, perlu disedot dengan mesin pompa terlebih dahulu. Setiap rumah punya mesin pompa yang menyedot air ledeng. Sebenarnya memasang pompa dari saluran air PDAM terlarang, namun apa boleh buat, aliran air tidak kuat naik ke dalam rumah, harus ditarik dengan pompa. PDAM pun tampak “memaklumi” keadaan ini. Ya, kota Bandung adalah kota yang padat pemukiman dan padat penduduk, aliran air harus dibagi-bagi sedangkan sumber air baku terbatas dan terus menyusut.

Tidak semua rumah juga terpasang air ledeng PDAM. Sebagian warga memanfaatkan air tanah dengan cara disedot pakai pompa. Beberapa komplek peruamahan yang lebih kecil membuat sumur artesis sendiri lalu air dialirkan ke rumah-rumah warga dengan sistem iuran.

Penting sekali membeli rumah dengan memperhatikan airnya. Saya dulu membeli rumah seken di Antapani pada tahun 2005. Hal pertama yang saya periksa adalah bagaimana airnya, sebab air sangat vital dalam kehidupan, manusia tidak bisa hidup tanpa air. Kalau airnya bersumber dari PDAM, apakah alirannya lancar setiap hari? Alhamdulillah rumah yang saya beli airnya selalu mengalir setiap hari. Hanya kadang-kadang saja air ledeng mati jika ada gangguan dari PDAM, misalnya ketika pipa air (yang berukuran besar) yang mengalirkan air dari PDAM di Jalan Badaksinga pecah di daerah tertentu. Akibatnya aliran alir ke rumah-rumah warga dihentikan.

Saat air mati seperti itulah kehadiran mamang-mamang penjual air gerobak ini sangat dinantikan sebagai solusi sementara. Mamang-mamang mengambil air tersebut dari kran umum gratis yang disediakan PDAM untuk warga di daerah padat penduduk di Antapani Lama.

Karena air yang diambil dari kran umum ini gratis, maka usaha jual air gerobak ini tidak perlu modal uang. Cuma perlu modal tenaga saja untuk pekerjaan ini, plus kesabaran menunggu antri mengisi air di kran umum, lalu mendorongnya ke kompleks perumahan yang seret air PDAM atau warga yang air artesisnya keruh (tidak layak minum).

Written by rinaldimunir

December 5th, 2021 at 1:28 pm