if99.net

IF99 ITB

Archive for November, 2021

Kemana Corona Pergi?

without comments

Tiba-tiba saja covid di Indonesia menurun dengan tajam. Tidak tiba-tiba juga sih, tetapi hanya dalam waktu dua bulan sejak Agustus 2021, jumlah kasus covid setiap hari berkurang drastis. Dalam satu bulan pada November ini saja misalnya, kasus harian hanya ratusan saja, dan jumlah yang wafat karena covid pun belasan.

Saya masih ingat saat puncak kasus covid selepas Idul Fitri, sekitar bulan Juni dan Juli 2021. Saat itu kondisi di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa sangat mencekam. Jumlah kasus positif covid setiap hari puluhan ribu, pernah mencapai di atas 50 ribu sehari bahkan nyaris menyentuh 100.000. Seluruh rumah sakit kolaps, tidak dapat menampung pasien covid. Banyak pasien covid yang akhirnya meninggal dalam perjalanan mencari rumah sakit atau meninggal di rumah karena sudah pasrah tidak mendapat tempat perawatan maupun isolasi.

Pemandangan memilukan yang kita saksikan adalah orang-orang berburu tabung oksigen atau mengantri tempat pengisian oksigen Berita-berita di grup Whatsapp maupun di media sosial lainnya adalah berita-berita menyedihkan. Hampir setiap hari kita mendengar orang-orang terdekat kita pergi satu per satu. Teman, kerabat, orangtua, tetangga, teman lama. Hampir setiap hari pula kita membaca tokoh-tokoh dan orang terkenal juga pergi menemui Sang Khalik.

Di kompleks perumahan saya, yang dikelilingi oleh banyak masjid dan mushola, hampir setiap hari terdengar pengumuman warga yang wafat karena covid. Tidak satu kali sehari, tetapi bisa dua kali sehari. Tidak hanya malam, tetapi juga pagi, siang, atau sore.

Sedangkan di luar sana, di jalanan, mobil ambulans tidak berhenti meraung-raung membawa pasien covid atau membawa pasien yang sudah wafat.

Sungguh keadaan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Virus corona varian Delta, yang berasal dari India, berhasil masuk ke Indonesia dan menginfeksi ratusan ribu orang.

Alhamdulillah. Sekarang kondisinya jauh lebih baik dan terkendali. Ini kondisi yang patut disyukuri meskipun kita tidak boleh jumawa, euforia, dan sebagainya. Corona masih terus mengintai setiap saat jika kita lengah.

Tentu kita bertanya-tanya, mengapa kasus covid di Indonesia menurun drastis hingga 95% dari kasus pada puncak bulan Juni-Juli.

Ada dua kemungkinan. Pertama, mungkin sudah terbentuk herd immunity di dalam masyarakat. Kekebalan alami yang timbul karena orang-orang Indonesia mungkin sebagian besar sudah terpapar virus corona namun tidak terdeteksi, alias menjadi orang tanpa gejala (OTG), lalu sembuh sendiri. Mungkin juga saya, keluarga saya, Anda, atau keluarga Anda, sudah terpapar tanpa disadari. Imunitas di tubuh kitalah yang membuat virus itu tidak berkembang.

Kemungkinan kedua adalah karena efek vaksinasi massal di mana-mana. Awalnya banyak orang yang enggan divaksinasi dengan bebagai alasan (terpapar hoax, takut, merasa kebal, dsb). Tetapi sejak ada peraturan bahwa masuk mal, restoran, naik kereta api, pesawat, kapal, dan sebagainya harus menunjukkan kartu vaksinasi, banyak warga menyerbu tempat-tempat vaksinasi sampai rela antri panjang berjam-jam. Tawaran-tawaran program vaksinasi yang diadakan oleh berbagai komunitas langsung penuh pendaftarnya setiap kali dibuka. Rupanya masyarakat kita lebih “takut” tidak bisa pergi ke mal atau takut tidak bepergian daripada takut divaksin. Cerdik juga Pemerintah yang bikin peraturan tersebut, terbukti mangkus. Membuat orang yang semula menolak divaksin akhirnya minta vaksinasi.

Antrian vaksinasi di Sabuga ITB hari Minggu 22 Agustys 2021, kiriman teman

Vaksinasi di Indonesia saat ini mencapai rekor yang tinggi, sudah lebih dari lebih 200 juta vaksin disuntikkan. Salah satu faktor kunci penyebab tingginya vaksinasi adalah keterlibatan lembaga non-kesehatan untuk menggelar vaksinasi massal, seperti perguruan tinggi, Kodam, komunitas alumni, komunitas etnis, lembaga swasta, rumah ibadah, perusahaan, polri, dan lain-lai.

Dulu dikira hanya puskesmas dan rumah sakit saja yang melakukan vaksinasi sehingga diperkirakan akan lambat ketercapaianya, ternyata keterlibatan pihak non negara itulah yang membuat tingginya ketercapaian vaksinasi.

Sekarang masyarakat merasakan manfaat divaksin tersebut, jumlah kasus covid menurun tajam. Ini jelas pertolongan dari Allah yang Maha Kuasa kepada negeri ini. Ada rasa bahagia terpancar dari masyarakat. Sekolah dan kampus sudah mulai buka lagi. Aktivitas sehari-hari tampak seperti sudah normal saja. Rumah makan, kafe, dan restoran sudah tampak ramai pengunjung yang makan di tempat.

Di tempat-tempat umum masyarakat masih patuh memakai masker. Memakai masker seolah sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Keluar rumah tanpa masker rasanya ada yang kurang.

Namun sebagai manusia kita tidak boleh takabur. Corona tetap akan ada. Dia tidak pergi, masih ada di sini.

Written by rinaldimunir

November 29th, 2021 at 1:40 pm

Posted in Uncategorized

Roti dari Warung Mamah

without comments

Pulang mengajar dari kampus malam itu, saya singgah dulu di Toserba Borma Antapani. Mau beli pesanan dari anak. Hujan deras di luar membuatku tertahan di sini menunggu hujan reda. Seorang remaja duduk di pojok toko menggenggam dagangan roti di pangkuannya. Duduk termangu memandang orang-orang lewat. Kudekati dia.

+ Jualan apa itu, Dik?

– Roti, Om

+ Berapa satu?

– Dua ribu, Om

+ Nggak sekolah?

– Sekolah, Om, di SMA …(sambil menyebutkan sebuah sekolah di Antapani), kelas 1

+ Tinggal di mana?

– Di gang Antapani Lama, Om.

+ Ini roti diambil dari mana?

– Dari warung Mamah. Kata Mamah daripada nggak ada kerjaan, sok jualkan roti ini, nanti ada sebagian hasilnya buat jajan kamu.

+ Oh, gitu.

– Iya, Om, lumayan, jadi nggak minta jajan lagi dari orangtua.

+ Tiap hari jualan di sini?

– Iya, dari jam 4 sore

Anak baik. Dia sudah belajar mandiri dan merasakan susahnya orangtua mencari uang. Saya pun membeli rotinya lima, dan kulebihkan uangnya.

Dan hujan pun masih turun.

Written by rinaldimunir

November 17th, 2021 at 9:00 am

Posted in Uncategorized

Kuliah Luring Perdana Setelah 1,5 Tahun Pandemi

without comments

Hari Selasa tanggal 2 November 2021 merupakan hari yang “bersejarah” bagi sebagian mahasiswa Teknik Informatika STEI-ITB angkatan 2020. Karena, pada hari tersebut dilaksanakan kuliah tatap muka pertama kali bagi mereka setelah satu tahun lebih sejak TPB mereka kuliah secara onlen (daring) terus.

Alhamdulillah saat ini kondisi pandemi corona di Indonesia sudah mulai mereda. Jumlah kasus positif dalam dua bulan ini menunjukkan penurunan signifikan, kurang dari 1000 kasus setiap hari. Jumlah kasus yang yang sembuh lebih banyak daripada kasus positif, begitu juga jumlah kematian juga menurun drastis. Vaksinasi semakin gencar dilakukan di mana-mana. Mungkin juga  saat ini sudah terbentuk herd immunity di dalam masyarakat sehingga kasus-kasus positif semakin menurun. Wallahualam.

Pemerintah pun mulai melonggarkan aktivitas yang selama ini ditutup atau dibatasi, antara lain aktivitas dalam bidang pendidikan. Sekolah-sekolah sudah mulai dibuka secara bertahap, kampus pun menggeliat  dengan membuka kembali aktivitas perkuliahan terbatas seperti praktikum,studio, kuliah lapangan, dan kuliah tatap muka.

Ketika ada edaran kuisioner dari Kaprodi Informatika tentang kesediaan dosen untuk mengajar perkuliahan secara luring (offline) setelah dilaksanakan UTS, saya menyatakan kesediaan untuk mengajar kembali di kampus. Ada beberapa pertimbangan mengapa saya bersedia mengajar. Pertama, saya ikut merasakan kesedihan angkatan mahasiswa 2020 yang sejak diterima sebagai mahasiswa ITB, mereka belum pernah sekalipun merasakan kuliah tatap muka di kelas-kelas di kampus Ganesha. Jangankan kuliah, menginjakkan kaki di kampus Ganesha pun sebagian besar belum pernah.

Alasan kedua, selama hampir dua tahun kampus ITB kehilangan iklim akademik yang menjadi ciri khasnya. Sebelum pandemi, kita dapat melihat betapa suasana akademik di kampus ITB terlihat hidup. Dengan luas kampus yang kecil kita dapat menyaksikan mahasiswa-mahasiswa yang asyik belajar dan mengerjakan tugas-tugas kuliah di bangku-bangku taman, di kantin-kantin, di meja-meja belajar ruang terbuka, di lantai-lantai gedung, di perpustakaan, di sekre unit dan sekre himpunan. Di dalam lab terlihat mahasiswa mengerjakan praktikum. Di ruang lain berlangsung seminar-seminar, diskusi, dan pertemuan ilmiahnya. Tidak hanya pagi sampai sore hari, bahkan sampai malam hari pun kampus tetap hidup dengan mahasiswa-mahasiwa yang sepertinya enggan untuk pulang ke kosannya. Kampus ITB memang tempat yang kondusif untuk belajar. Namun semua pemandangan tersebut lenyap begitu saja saat negara api menyerang, eh…saat virus corona menyerang. Pandemi corona memaksa kampus menutup  dirinya, mahasiswa pulang kampung, perkuliahan dan aktivitas lainnya dilakukan secara daring.

Alasan ketiga lebih pada diri saya sendiri. Saya dosen yang senang mengajar. Dunia pendidikan adalah dunia saya sejak lama. Mengajar secara tatap muka di kelas bagi saya tidak tergantikan dengan kuliah secara daring. Ada kebahagiaan tersendiri selesai mengajar, senang melihat mereka paham, mengerti, dan mendapat pencerahan. Ada dialog dan narasi yang dibangun selama kuliah tatap muka. Kalau kuliah secara daring kita tidak dapat melihat wajah-wajah mahasiswa yang mangut-mangut melihat penurunan rumus, atau celutukan seperti “oooo… begitu caranya” ketika kita menjawab soal yang sulit di papan.

Singkat cerita, saya pun mulai mensurvei mahasiswa pada mata kuliah yang saya ampu, siapa saja yang ingin kuliah secara luring di kampus semester ini. Sebelumnya, Kaprodi Informatika juga sudah mensurvei  mahasiswa IF tentang kuliah luring, ternyata 63 persen mahasiswa IF siap untuk ikut kuliah luring. Dari mahasiswa IF 2020, ada 70 orang yang secara tentatif ingin kuliah luring. Karena kapasitas kelas selama adaptasi kebiasan baru dibatasi jumlahnya, maka jumlahnya dbatasi maksimal 34 orang saja. Jumlah 34 orang tersebut adalah kapasitas untuk ruang 7602, ruang kuliah terbesar di LabTek 5. Peminat kulah luring tidak hanya dari kelas K1 yang saya ampu, tetapi juga dari kelas paralel lain, K2 dan K3 setelah dikoordinasikan dengan dosen pengampu setiap kelas. Seluruhnya ada sekitar 30-an mahasiswa yang ingin kuliah luring di LabTek 5.

Kuliah luring  yang saya ampu adalah IF2120 Matematika Diskrit (Matdis) dan IF2123 Aljabar Linier dan Geometri (Algeo). Kuliah Matdis hari Selasa sore dan kuliah Algeo hari Rabu siang. Kuliah akan dilaksanakan secara bauran (hybrid), sehingga mahasiswa yang kuliah daring di rumah pun bisa bergabung dengan teman-temannya yang kuliah luring di kampus. Untuk itu digunakan peralatan yang dapat memfasilitasi kedua cara perkuliahan tersebut.

Saya datang ke kampus dua jam sebelum kuliah berlangsung. Saya harus mempelajari dulu cara menggunakan peralatan  yang terdiri dari kamera, dua monitor besar yang terhubung dengan komputer dan akses internet. Satu jam perlu waktu untuk belajar cara menggunakannya. Saya dibantu oleh pegawai Duktek, Pak Sudiarto, Pak Syamsudin, dan Pak Cece dalam menggunakan peralatan canggih ini. Mereka pun juga sambil belajar menggunakannya karena peralatan kuliah bauran ini memang baru dibeli dan baru dipasang. Menurut info peralatan kuliah bauran ini sangat mahal harganya.

Satu monitor besar dari Huawei di depan kelas digunakan untuk menampilkan slide PPT yang di-share dengan platform Zoom, sedangkan satu monitor besar yang lain digunakan untuk menampilkan mahasiswa-mahasiswa yang kuliah daring di rumah.  Sebuah kamera yang dapat berputar secara otomatis dipasang di depan untuk menayangkan gambar dosen secara live yang mengajar di depan monitor Huawei.

Jam 16.00 kurang mahasiswa sudah masuk ke dalam ruangan 7602. Mereka sudah mendapat izin masuk kampus, sudah divaksin, sudah mengisi AMARI, memakai masker. Saya kira mereka ini mahasiswa yang berasal dari Bandung Raya, ternyata banyak juga yang berasal dari Jakarta, Jawa Tengah, Padang, dan lain-lain.  Rupanya mahasiswa asal luar Bandung ini sudah beberapa bulan kos di Bandung.  Jadi, mereka bukan mendadak ada di Bandung karena ingin ikutkuliah luring.

Jam 16.00 kuliah perdana secara bauran (onlen dan oflen sekaligus) dimulai. Mahasiswa IF 2020, yang sama sekali belum pernah merasakan kuliah di kampus Ganesha sejak tingkat 1, terlihat sangat gembira bisa kuliah lagi secara luring. Gembira bisa bertemu dengan teman seangkatan.

Ruang besar 7602 ini biasanya saat normal bisa diisi sampai 120 hingga 140 mahasiswa, tetapi pada masa adaptasi kapasitasnya hanya 34 orang saja dengan jarak duduk 1,5 meter.

Kuliah berjalan dengan lancar. Satu monitor besar menampilkan share screen PPT, satu monitor lagi menampilkan mahasiswa yang kuliah onlen dari rumah. Mahasiswa yang di rumah bisa melihat dosen berdiri mengajar di kelas dan melihat teman-temannya di kelas. Begitu sebaliknya.

Alhamdulillah, STEI-ITB, sudah siap melaksanakan perkuliahan secara luring maupun bauran. Mohon doanya agar kuliah lancar sampai akhir semester, sehat, dan aman. Amiiin ya Allah.

Written by rinaldimunir

November 4th, 2021 at 10:00 am