if99.net

IF99 ITB

Archive for July, 2021

Kesehatan adalah Rezeki yang Paling Tinggi

without comments

Saat pandemi corona yang berlangsung sekarang ini, saat banyak orang sakit terpapar covid, saat rumah sakit sudah hampir kolaps karena pasien sudah tidak tertampung, saat pasien  harus menunggu untuk masuk IGD, saat mencari kamar rawat inap dan oksigen sangat sulit, saat uang yang banyak tidak ada artinya karena tidak mendapat ruang ICU di rumah sakit, maka barulah kita sadar betapa kesehatan adalah nikmat dari Allah SWT  yang paling berharga. 

Di dalam ilmu tasawuf diceritakan bahwa Syaikh As-Sya’rawi menjelaskan rezeki memiliki tingkatan sebagai berikut :

  1. Harta (Maal), adalah rejeki yang paling rendah
  2. Afiyah (sehat lahir batin), adalah rejeki yang paling tinggi.
  3. Anak-anak yang Sholeh (sholihu abna) adalah rejeki yang paling utama.
  4. Mendapat ridho Allah (ridho rabbul ‘alamin) adalah rejeki yang paling sempurna. 

(Sumber dari sini)

Ustad Adiwaman Karim, yang juga seorang ahli ekonomi, menjelaskan tingkatan rezeki ini secara menarik di dalam videonya. Klik video di Youtbe di bawah ini.

Jadi, uang yang kita cari, harta yang kita yang kita kumpulkan, ternyata itu hanyalah rezeki dengan tingkatan paling rendah. Banyak orang yang mengorbankan waktu dan tenaganya untuk mengunpulkan uang dan harta benda. Dengan hartanya yang banyak dia dapat membangun rumah yang bagus, membeli mobil yang mewah, jalan-jalan ke luar negeri, dan sebagainya. Selama harta itu diperoleh dengan jalan halal tentu tidak ada yang salah. Orang perlu kaya agar bisa pergi naik haji, agar bisa membangun masjid, agar membantu orang miskin dan anak yatim.  

Namun, ketika diri sakit, harta yang banyak itu seringkali menjadi tiada artinya. Apa gunanya uang banyak tetapi tidak dapat dinikmati karena makanan  selalu dibatasi. Ada orang yang memiliki penyakit diabetes atau penyakit darah tinggi. Asupan makanannya harus dibatasi dan serba ditimbang. Makan ini tidak boleh, itu tidak boleh. Makanan ini hanya boleh sekian gram, makanan itu sekian gram.

Dulu ada rekan saya yang mengidap suatu penyakit (saya tidak ingat, kolesterol tinggi atau diabetes, atau hepatitis). Makanannya hanya boleh yang serba dikukus atau direbus. Dia harus bawa sendiri bekal makanannya dari rumah. Ketika orang lain menikmati aneka hidangan di atas meja, dia membuka bekal makanannya yang berupa kentang rebus, brokoli kukus, wortel kukus, dan aneka makanan yang dikukus. Padahal dari sisi kekayaaan apa yang kurang darinya, makanan apa saja mampu dibelinya. Tapi saat itu, uang yang banyak menjadi tidak berarti karena makanan yang apa saja itu tidak boleh dimakan.

Ternyata di atas harta, ada rezeki lain yang lebih tinggi lagi, yaitu kesehatan. Badan yang sehat adalah rezeki dari Allah SWT. Dengan tubuh yang sehat kita dapat bekerja dan berkativitas, dapat pergi ke mana-mana, dan dapat menikmati makanan pemberian dari Allah. Tentu saja selama tidak berlebih-lebihan, karena yang berlebihan itu dapat mendatangkan penyakit.

Sekarang hampir setiap hari kita membaca berita jumlah kasus positif covid di Indonesia meledak lagi setelah lebaran. Pertambahannya tidak hanya ribuan setiap hari, tetap puluhan ribu. Kemarin, tanggal 7 Kuli 2021, pertambahan kasus covid di Indonesia adalah 34.000-an, nomor dua tertinggi di dunia setelah Brazil. Yang lebih menyedihkan, ada 100o-an lebih wafat kemarin. Ya Allah, lindungi kami ini ya Allah.

Betapa hari-hari ini kita mendengar banyak pasien covid yang ditolak oleh rumah sakit karena bed sudah penuh, ruang rawat sudah penuh, bahkan untuk masuk IGD saja sampai antri berhari-hari. Jangankan orang miskin, orang kaya atau pejabat saja banyak yang tidak mendapat tempat perawatan di rumah sakit. Oksigen juga menjadi barang langka, karena banyak pasien covid, baik di yang di rumah sakit atau yang isolasi mandiri di rumah, mengalami sesak napas. Astaghfirullah al adzim, benar-benar situasi saat ini sangat mencekam.

Karena itu, sudah seharusnyalah kita bersyukur atas karunia Allah SWT masih diberi kesehatan. Semoga kita terhindar dari wabah virus corona. Jaga selalu protokol kesehatan, dan jangan lupa untuk selalu bersedeqah, berdoa dan berserah diri kepada Allah semata.

Setelah kesehatan merupakan rezeki paling tinggi, ternyata di atasnya ada lagi rezeki yang paling utama, yaitu memiliki anak-anak yang sholeh dan sholehah. Alangkah beruntung orangtua yang punya anak sholeh dan sholehah, yang selalu taat menjalankan agama, dan yang selalu mendoakan ibu bapanya.

Namun, rezeki yang paling sempurna di dalam hidup ini adalah ridho dari Allah SWT.  Apa gunanya punya banyak harta, badan yang sehat, anak yang sholeh, tetapi Allah tidak meridhoi diri kita. Orang yang diridhoi Allah adalah orang yang ketika matinya dalam keadaan husnul khotimah. Itulah mati yang paling beruntung.

Tulisan ini merupakan pengingat bagi diri saya sendiri dan bagi siapapun yang membacanya agar ingat selalu kepada Allah SWT, selalu bersyukur kepada-Nya, taat kepada-Nya, dan berserah diri hanyalah kepada Allah SWT. Ampuni kami ini, Ya Allah.

Written by rinaldimunir

July 8th, 2021 at 4:21 pm

Posted in Renunganku

Demam yang Parno

without comments

Pada zaman pandemi corona yang masih berlangsung saat ini, siapapun yang pernah demam, sakit kepala, nggak enak badan, batuk, atau diare, mungkin akan mengalami parno (paranoid) seperti yang saya rasakan. Karena gejala-gejala seperti yang disebutkan tadi mengarah ke Covid-19. Ciri-cirinya mirip-mirip.

Minggu lalu saya mengalami demam dan diare. Dimulai dari hari Rabu malam, tiba-tiba badan saya menggigil seperti orang yang meriang. Saya langsung tarik selimut dan tidur saja sampai pagi. Keesokan harinya saya harus menguji beberapa tesis mahasiswa S2 secara onlen, namun tubuh saya terasa hangat. Demam. Saya tidak bisa konsentrasi. Semakin siang suhu badan saya semakin tinggi dan pernah mencapai hampir 39 derajat Celcius. Dan yang membuat saya menderita adalah saya diare (mencret) tiada henti. Tiap sebentar pergi ke toilet, meskipun BAB yang keluar hanya berbentuk cair. Saya coba meminum obat diare seperti Diatab dan Diapet, namun diare tidak berhenti juga.

Saya sudah mulai khawatir, jangan-jangan….. Ah, saya buang jauh-jauh pikiran ini, namun setiap kali membaca penjelasan di Internet tentang gejala covid, saya pun khawatir lagi. Diare dan demam adalah salah satu ciri Covid-19. Saya juga kehilangan selera makan, patah selera. Tidak mau makan. Namun yang masih saya syukuri, indra penciuman dan perasa saya masih normal. Setiap kali saya coba hirup minyak kayu putih, saya baui nasi, pisang, saya minum madu, masih terasa baik rasanya. Namun tetap saja ada rasa was-was di dalam hati.

Saya semakin gelisah ketika anak saya yang sulung, yang ABK, badannya juga hangat. Saya kontak istri, lalu saya minta pakai masker di rumah dan tidak dekat-dekat dengan saya dan anak. Saya mengisolasi diri di studio mini tempat saya bekerja di lantai dua.

Akhirnya Hari Jumat saya beranikan diri ke klinik Medika Antapani, berobat ke dokter umum, diantar anak saya yang tengah. Setelah menunggu cukup lama, tibalah giliran saya masuk ke ruang praktek dokter. Setelah menceritakan gejala yang saya alami, dokter merekomendasikan saya untuk tes swab antigen, setelah ada hasilnya nanti kembali lagi ke dokter tersebut.

Kebetulan di klinik tersebut juga menyediakan tes swab antigen, jadi saya tidak perlu jauh-jauh ke tempat lain. Dengan perasaan harap-harap cemas, saya mulai menjalani tes swab antigen. Hidung saya dicucuk dengan semacam cotton bud untuk mengambil cairan di hidung. Duh, perih ngilu. Saya agak tegang sih. Ini pertama kali saya dicucuk hidung, biasanya hanya mendengar cerita-cerita orang yang di-swab, sekarang saya menjalani sendiri.

Sambil menunggu hasi tes, pikiran saya berkelabat ke mana-mana. Saya memikirkan berbagai skenario kalau hasilnya positif. Itu berarti seluruh orang di rumah nanti harus di-swab juga, lalu isolasi mandiri. Yang saya pikirkan adalah anak sulung saya yang ABK, bagaimana dia menjalaninya nanti? Sambil berdoa, saya berharap agar hasilnya negatif, saya minta anak saya yang tengah mendoakan saya.

Setelah setengah jam menunggu, maka hasilnya segera keluar. Dan….alhamdulillah, hasilnya negatif. Saya pun bernapas lega. Saya kembali ke dokter umum tadi membawa hasil tes, dan dia berucap yang sama. Barulah dokter berani memeriksa badan saya. Setelah memberi resep obat, saya pun menuju apotik untuk membeli obatnya.

Setelah minum obat dari dokter selama dua hari, ternyata diare saya tidak berhenti juga. Kalau demam memang tidak ada lagi, tetapi diarenya masih, meskipun frekuensi ke belakang sudah berkurang menjadi satu dan dua kali saja. Selera makan saya sudah mulai agak normal. Namun diare itu masih menjadi pikiran saya. Sampai obatnya habis saya masih tetap diare, BAB nya masih cair atau bubur (maaf). Namun yang alhamdulillah, anak saya yang sulung, yang tadi demam, demamnya hanya satu hari, besoknya sudah sembuh.

Di dalam lembaran hasil tes swab antigen disebutkan bahwa hasil negatif tidak menyingkirkan kemungkinan terinfeks SARS-Cov-2 sehingga masih beresiko menularkan kepada orang lain. Meskipun saya tidak batuk, tidak pilek, dan tidak demam lagi, namun indera penciuman dan perasa masih normal. Ini yang saya syukuri, sebab seperti yang saya baca, penderita covid kehilangan penciuman. 

Untuk lebih meyakinkan lagi dan ingin sembuh dari diare, saya kembali berobat ke klinik Medika Antapani, tetapi kali ini ke dokter spesialis penyakit dalam (internis) pada Hari Selasa. Hari Senin dokter internis sudah penuh dengan pasien. Setelah menunggu sampai jam 13.00 (bayangkan dari jam 9 pagi), maka tibalah giliran saya. Saya ceritakan kondisi saya secara kronologis dan saya tunjukkan hasil tes swab antigen.

Dokter Faishol yang memeriksa saya adalah dokter yang sudah berusia lansia, tentu beliau sudah berpengalaman dengan¬† berbagai penyakit. “Jadi, kenapa saya masih diare, Dok”, tanya saya. “Bapak mengalami gangguan pencernaan”, jawabnya. Oh…,jadi itu rupanya.

Dokter memberi resep obat. Ada dua macam obat yang harus saya minum, yang pertama antibiotik, yang kedua obat diare. Alhamdulillah, keesokan harinya saya sudah tidak diare lagi. BAB normal.

Begitulah pengalaman saya. Salah satu kesalahan saya adalah panik, khawatir, atau stres. Hal ini tidak boleh, sebab dapat menurunkan imun. Sebaiknya harus disikapi dengan tenang dan berpasrah diri kepada Allah SWT.

Moral dari kisah ini, saya semakin mensyukuri nikmat kesehatan dari Allah SWT. Betapa kesehatan itu adalah nikmat yang paling tinggi. Apa guna banyak uang tetapi badan sakit, maka uang itu tidak dapat kita nikmati. Sakit mengajarkan kita agar selalu menjaga kesehatan dan selalu bersyukur. Jangan merasa sombong dan takabur. Jangan menganggap enteng pandemi ini. Terima kasih ya Allah, semoga kami sekeluarga diberi selalu tubuh yang sehat dan dijauhkan dari berbagai penyakit, dan pembaca yang membaca kisah saya ini juga dilindungi oleh Allah SWT. Amiin ya rabbal alamiin.

Written by rinaldimunir

July 4th, 2021 at 2:46 pm

Posted in Pengalamanku