if99.net

IF99 ITB

Archive for June, 2021

Kampus Ganesha ITB Sunyi dari Mahasiswa Saat Pandemi

without comments

Sudah satu setengah tahun kampus Ganesha ITB ditutup untuk perkuliahan dan aktivitas kemahasiswaan. Mahasiswa sudah pulang ke kampung halamannya masing-masing, kuliah dari rumah.

Saya pun sudah setengah tahun tidak pergi kerja ke kampus. Mau ngapain juga di kampus, tidak ada siapa-siapa, tidak ada mahasiswa, hanya ada beberapa pegawai tendik di kantorT ata Usaha yang bertugas secara bergantian hari dengan pegawai lannya.

Meskipun saya pegawai dan dosen ITB, namun saya tidak bebas leluasa masuk ke dalam kampus, ke kantor saya sendiri . Perlu mengurus surat izin masuk dulu ke fakultas, mengisi formulir daring, mendapatkan QR-code, dan seterusnya. Tujuannya sih bagus, yaitu untuk melakukan pelacakan jika terjadi kasus penularan covid di kampus dan mencegah timbulnya klaster kampus Ganesha. Sejauh ini kampus Ganesha ITB aman-aman saja, tidak ada klaster covid. Memang ada pegawai tendik dan dosen yang terpapar corona, namun mereka terpapar di luar kampus, mungkin di lingkungan keluarganya sendiri.

Meskipun saya WFH, namun sesekali saya masih pergi ke kampus Ganesha, tapi bukan untuk WFO, namun untuk urusan singkat saja, misalnya mengambil buku dan dokumen di meja kerja, meng-copy file di komputer desktop kantor, atau memperbaiki software di laptop. Saat  vaksinasi dosen di Gedung Sabuga, kampus dibuka untuk parkir kendaraan, laluke Sabuga mealui terowongan. Nah, saat bisa masuk ke kampus itulah saya sempat mengambil foto-foto suasana kampus Ganesha. Begini suasananya. Sepi dan sunyi.

  1. Gerbang Selatan (gerbang utama) kampus Ganesha yang membisu, seperti orang  yang duduk melamun sendirian, dengan bunga-bunga yang mulai bermekaran, namun tiada langkah-langkah kaki yang biasanya  selalu melewatinya.

ITB1

ITB2

2. Jalan utama kampus yang kosong. Hanya terdengar suara daun bergesek dan desiran suara angin.

ITB3

3. Kantin bengkok yang kesepian. Saat jam makan siang, tempat ini penuh dengan mahasiswa yang makan sambil mengerjakan tugas kuliah dengan laptopnya.

ITB4

4.  Lorong yang sepi. Lorong-lorong yang menghubungkan antar gedung-gedung di dalam kampus nyaris tidak ada orang yang lewat.

ITB5

5.  Ruang sekre unit-unit kegiatan mahasiswa di sunken court yang seperti markas yang ditinggal penghuninya (Sunken court adalah kawasan bawah tanah yang terletak di sepanjang jalan menuju terowongan yang menghubungkan kampus Ganesha dan Sabuga. Sunken court terletak antara Gedung Perpusatakan Pusat dan Gedung Riset dan Inovasi)

ITB6

ITB7

6. Kantin borju dengan meja-meja makan yang berdebu. Sebelum pandemi, kantin ini adalah tempat rendevouz selain tempat makan tentunya.

ITB8

7. Meja-meja belajar di selasar LabTek V yang kosong melompong. Pada hari-hari kuliah, meja-meja ini adalah tempat mahasiswa mengerjakan tugas-tugas kuliah

ITB10

ITB11

8. Lapangan basket dan lapangan cinta yang kosong. Sebelum pandemi, setiap hari tempat ini ramai dengan mahasiswa yang mengisi waktu melempar-lempar bola basket atau sekedar duduk-duduk di sini. Kalau ada TPB Cup atau pertandingan antar Himpunan Mahasiswa, bisa riuh rendah sampai malam hari di sini.

ITB13

ITB14

9. Ruang kelas dan lorong LabTek V yang lengang

ITB15

Foto-foto kampus ITB yang sepi selama pandemi dapat dilihat pada video saya di Youtube di bawah ini:

Semoga pandemi corona ini segera berakhir dan kondisi kampus yang sepi dari mahasiswa ini ramai kembali. Perlu waktu memang kalau ingin suasanya seperti dulu lagi.

Written by rinaldimunir

June 20th, 2021 at 4:11 pm

Posted in Seputar ITB

Masker, Jenuh, dan Pandemi Corona yang Tiada Berujung

without comments

Hari-hari ini, pertengahan bulan Juni, kasus covid-19 di Indonesia melonjak lagi dengan tajam. Sempat turun selama bulan Ramadhan dan pasca Lebaran Idul Fitri, saat ini jumlah penderita covid naik signifikan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran dan kecemasan, karena rumah sakit-rumah sakit di Indoensia, khususnya di Pulau Jawa akan kolaps jika tidak ada tindakan luar biasa untuk memutus pandemi.

Seperti yang sudah diprediksi banyak ahli epidemiologi, dua atau tiga minggu setelah libur Lebaran Idul Fitri kasus covid akan meningkat tajam. Hal ini disebabkan banyak masyarakat yang tetap mudik ke kampung halaman meskipun sudah dilarang oleh Pemerintah. Pemudik pulang ke kampung halamannya kemungkinan OTG, lalu menularkan penyakit itu kepada orang-orang di kampungnya. Atau, pemudik itu tertular di kampung halaman yang zona merah, lalu setelah mereka kembali ke kota mereka menularkan penyakit itu kepada orang-orang lain di kota. Propinsi-propinsi yang menjadi tujuan pemudik seperti Jabar, Jateng, Yogyakarta, Jatim, Sumbar, Riau, dan Sumsel sekarang mengalami pandemi gelombang kedua dengan pertambahan kasus luar biasa hari-hari ini.

Kasus covid di Indonesia naik turun seperti siklus yang tidak berujung. Di mana ujung dan pangkalnya sudah tidak jelas lagi. Meskipun sudah dilakukan PSBB, PKM mikro, atau apapun namanya (karena Pemerintah tidak suka dengan istilah lockdown), tetap saja kasus covid di Indonesia bertambah terus. 

Penyebab naiknya kasus covid ada dua. Pertama adalah ketidakpatuhan masyarakat dengan protokol kesehatan (prokes). Gerakan 3M (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan) sudah kendur. Banyak orang yang tidak lagi memakai masker. Jika di kota-kota besar kepatuhan warga memakai masker masih terbilang bagus, tetapi di luar kota seperti di kampung-kampung orang tidak menggubris lagi seruan memakai masker. Gambar kartun di Harian Kompas ini bisa menjelaskan fenomena masyarakat Indonesia saat ini:

kartun

Di kota besar, jika Anda tidak bermasker di tempat umum, maka orang lain mungkin akan marah kepada anda atau menolak bertemu dengan Anda. Sebaliknya di kampung-kampung, jika anda memakai masker maka Anda mungkin dianggap aneh oleh penduduk kampung. Semua orang memandang anda dengan tatapan heran atau malah anda ditertawakan. Mungkin saja Anda ditanya oleh penduduk kampung: “Apakah Mas atau Mbak lagi sakit?”. Sebagian orang di kampung mungkin tidak percaya dengan virus corona. Mereka  menganggap covid adalah penyakit orang-orang di kota. Corona hanya ada di kota-kota, di kampung kami bersih, demikian kira-kira keyakinan masyarakat kita. Faktanya sekarang kasus covid sudah sampai ke kampung-kampung.

Jadi, jangan heran jika kasus positif corona di Indonesia tidak pernah habis-habisnya karena masyarakat sudah banyak yang mengabaikan protokol kesehatan. Gerakan 3M, yang  sekarang sudah berubah menjadi 5M (2 M berikutnya adalah Menjauhi kerumunan dan mengurangi Mobilitas atau bepergian), tidak begitu dipedulikan warga. Masyarakat tampak berkegiatan seperti biasa. Meskipun Pemerintah sudah melarang untuk tidak mudik dulu demi kebaikan bersama agar kasus corona melandai namun tidak dipatuhi juga.

Saya yakin, masyarakat bukannya tidak mau mematuhi prokes, tetapi saya duga karena masyarakat sudah jenuh dengan kondisi saat ini. Mereka sudah bosan disuruh di rumah terus.  Memakai masker dan menjaga jarak hanya diawal-awal pandemi saja, sekarang sudah longgar. Masyarakat menganggap kalau sudah divaksin maka aman, nyatanya orang yang sudah divaksin pun bisa terkena covid juga.  Selain itu ada juga yang beranggapan bahwa kalau terkena covid maka nanti akan sembuh sendiri sehingga mereka tidak terlalu khawatir. Ditambah dengan berbagai berita hoaks yang beredar secara berantai melalui whatsapp tentang covid maka terbentuklah pemahaman di dalam sebagian masyarakat bahwa covid itu semacam penyakit flu biasa. Wallahu alam.  

Di sisi lain, tidak adil jika kesalahan ditimpakan hanya kepada mayarakat yang dianggap tidak patuh. Inkonsistensi Pemerintah juga punya andil membuat kondisi menjadi membingungkan dan chaos. Misalnya pada bulan puasa kemarin Pemerintah mengatakan bahwa mudik dilarang namun berwisata ke tempat-tempat wisata diperbolehkan dengan alasan untuk menghiduokan perekonomian. Kebijakan yang aneh, bukan? Mudik itu bepergian ke luar kota, apa bedanya dengan pergi mengunjungi tempat-tempat wisata yang juga ke luar kota.

Inkonsistensi lain misalnya melarang mudik tetapi membolehkan tenaga kerja asing masuk ke Indonesia, melarang sekolah dibuka tetapi mal, bioskop, dan kantor-kantor boleh dibuka, dan lain-lain. Jadi, kasus covid di Indonesia yang sekarang memasuki gelombang entah keberapa (rasanya gelombang satu juga belum habis) merupakan buah dari sikap ketidakpatuhan masyarakat menaati prokes dan sikap inkonsistensi Pemerintah dalam membuat kebijakan yang membingungkan.

Entah kapan siklus corona yang tidak berujung dan tidak berpangkal ini putus. Masyarakat merindukan kembali suasana seperti sebelum pandemi, bisa beraktivitas seperti biasa, bisa bepergian ke mana saja, bisa pergi umrah dan haji bagi yang muslim, bisa sekolah dan kuliah dengan lancar. Sudah cukuplah cobaan ini. Semoga Allah SWT mengangkat pandemi corona ini dari Indonesia khsusunya dan dari dunia umumnya. Virus corona merupakan peringatan dari Allah SWT agar manusia lebih mendekatakan diri kepada-Nya.

Written by rinaldimunir

June 18th, 2021 at 2:48 pm

Posted in Indonesiaku

In Memoriam, Rektor ITERA Lampung, Prof. Ofyar Tamin

without comments

Hari Rabu pagi tanggal 9 Juni 2021 sebuah pesan di whatsapp mengejutkan saya. Isinya mengabarkan Rektor ITERA Lampung yang juga dosen ITB, Prof Ofyar Z. Tamin wafat di Jakarta karena sakit.

Saya memang tidak kenal dekat dengan almarhum. Selama saya menjadi dosen terbang di ITERA Lampung, saya hanya sekali saja pernah berbicara secara langsung dengan beliau.  Selebihnya hanya berpapasan saja di Wisma ITERA, melempar senyum atau menganggukkan kepala.

Rektor-Itera-Ofyar-Z-Tamin

Nama Pak Ofyar cukup berkesan bagi sebagian besar dosen ITB. Saya yakin sebagian besar dosen ITB tidak mengenal wajahnya, tetapi mengenal namanya. Hal itu karena Pak Ofyar memiliki kebiasaan yang unik. Dia rajin mengirim ucapan selamat ulang tahun via SMS ke setiap dosen ITB. Setiap tahun hampir setiap dosen di ITB (dan juga di ITERA) mendapat kiriman ucapan selamat ulang tahun pada hari kelahirannya. Kalau sekarang ada whatsapp, maka ucapan selamat ulang tahun dikirim lewat whatsapp. Tidak hanya ucapan selamat ulang tahun, tetapi juga ucapan selamat Idul Fitri dikirim lewat whatsapp.

Entah darimana beliau mendapat nomor telpon dan data tanggal lahir semua dosen ITB. Bahkan dosen muda yang baru menjadi dosen di ITB pun merasa kaget dikirimi ucapan selamat ulang tahun dari seorang profesor! Merasa de javu, merasa tersanjung dikirim selamat ulang tahun dari seorang Guru Besar, padahal beliau tidak mengenal dirinya. Mungkin begitulah cara Pak Ofyar menjalin silaturahmi dengan orang lain, termasuk orang yang tidak dikenalnya sekalipun.

Bahkan, kalau hari ulang tahun kita sudah lewat, mungkin karena dia lupa, Pak Ofyar tetap mengirim ucapan selamat ultah pada hari berikutnya seperti pada skrinsut pesan whatsapp berikut:

ofyar1

Namun karena dikirim setelah tanggal kelahiran saya, maka saya membalas pesannya bahwa sudah lewat kemarin. Beliau pun membalas lagi bahwa telat sehari masih tetap sah  ?

ofyar2

Yang lebih mengharukan saya, ketika beliau dirawat di RS di Lampung karena positif Covid pada tahun lalu, beliau masih sempat mengirim selamat ulang tahun kepada saya dari rumah sakit seperti pada gambar di bawah ini. Sungguh membuat saya terharu padahal saya tidak   mengenalnya secara pribadi. Saya hanya bisa mendoakan beliau agar sembuh dari Covid.

ofyar3

ITERA boleh dibilang sebagai “anak kandung” ITB karena ITB lah yang membidani kelahirannya hingga tumbuh pesat sampai sekarang. Dosen-dosen ITB pun “dipinjamkan” menjadi dosen luar biasa (istilahnya dosen terbang) di ITERA dan sebagian lagi menjadi pejabat kampus seperti rektor, wakil rektor, ketua jurusan, hingga ketua Program Studi. Dosen-dosen ITERA masih muda-muda sehingga masih perlu dibina oleh ITB.

Pak Ofyar Tamin ditugaskan menjadi Rektor ITERA Lampung oleh ITB pada tahun 2014, yaitu saat mahasiwa ITERA “dipindahkan” dari ITB  ke Lampung karena kampus ITERA sudah mulai dibangun di luar kota Bandar Lampung. Saat mulai menjabat, beliau hanya diberi lahan  kosong seluas 300 Ha di Jalan Terusan Ryacudu (yang menjadi kampus ITERA sekarang). Berkat kemampuannya mencari dana pembangunan ke sana sini, maka siapa yang menyangka kampus ITERA tumbuh pesat luar biasa seperti sekarang (lihat foto). Video kampus ITERA dari atas drone dapat dilihat di tayangan Youtube ini.

ITERA-2

Ya, berkat kepemimpinan Pak Ofyar-lah maka ITERA Lampung menjadi bagus seperti sekarang. Saya yang mulai mengajar menjadi dosen terbang di ITERA tahun 2014 hingga sekarang dapat melihat perbedaan dulu dan sekarang (baca tulisan saya ini).

Ada pengalaman yang tidak terlupakan bagi saya berkaitan dengan Pak Ofyar. Pada tahun 2019 ITERA meminta kepada fakultas saya (STEI-ITB) untuk mencarikan dosen yang bersedia menjadi Kaprodi Teknik Informatika ITERA. Oleh fakultas, saya yang diminta menjadi Kaprodi (Kepala Program Studi) sana. Saya pada mulanya agak keberatan karena pertimbangan  keluarga. Itu berarti saya harus sering bolak-balik Bandung-Lampung untuk rapat-rapat koordinasi. Saya juga memiliki anak berkebutuhan khusus yang perlu mendapat perhatian di rumah. Lagipula, saya tidak punya passion dalam manajemen dan pengelolaan SDM. Namun, setelah berdiskusi dengan istri, dan rasa “kasihan” serta empati saya kepada dosen-dosen muda ITERA yang perlu pembinaan, akhirnya tawaran menjadi Kaprodi di ITERA pun saya terima, namun tetap saja ada rasa yang mengganjal di dalam hati, yaitu rasa belum ikhlas. Saya lebih suka seperti selama ini saja, menjadi dosen biasa, membina dosen muda dan membimbing mahasiswa di sana, tanpa disibukkan dengan urusan manajerial yang tidak saya sukai.

Apa yang terjadi? Setelah nama saya diusulkan oleh ITB ke ITERA, ternyata Pak Ofyar tidak setuju tanpa alasan yang saya ketahui. Apakah saya kecewa? Oh, sama sekali tidak, malah sebaliknya. Saya justru berterima kasih tidak jadi disetujui oleh Pak Ofyar. Ada perasaan lega di dalam hati. Mungkin Tuhan menjawab ketidakrelaan saya melalui cara Pak Ofyar tidak menyetujui saya sebagai Kaprodi. Terima kasih, Pak, Bapak telah “menyelamatkan” saya dari berbagai macam kekhawatiran yang hanya diri saya yang mengetahuinya.

Selamat jalan Pak Ofyar. Meski tidak mengenal bapak secara pribadi, menurut saya bapak adalah orang yang baik. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan dan amal shaleh yang telah bapak perbuat dengan pahala yang berlipat ganda, terutama dalam memajukan pendidikan tinggi di Pulau Sumatera khususnya dan di Indonesia umumnya.

Written by rinaldimunir

June 14th, 2021 at 9:05 pm

Memasak Nasi Biryani di Rumah

without comments

Seewaktu menunaikan ibadah haji di Mekah pada tahun 2018, saya baru pertama kalinya mencoba makan nasi biryani (kadang-kadang disebut briyani) dan nasi kebuli. Sebelum itu hanya mendengar namanya saja. di dekat Masjidil Hara banyak rrumah makan yang menjual bermacam-macam nasi, seperti nasi bukhori, nasi mandhi, termasuk nasi kebuli dan nasi biryani. Nasi kebuli memang khas dari Arab, kalau nasi biryani katanya dari India. Keduanya menggunakan beras basmati yang ukurannya panjang-panjang itu. Beras basmati sering dinamakan beras India.

38278977_1982643265137022_6783662894253867008_n

Restoran di luar Masjidil Haram

 
38426810_1982226221845393_6577459886580301824_o

Nasi bukhori. Lalapannya adalah cabe hijau besar.

Saat ini ini di Bandung dan kota-kota besar lainnya sudah banyak restoran yang menjual nasi biryani dan nasi kebuli. Bahkan yang menjual secara onlen juga banyak, ditawarkan melalui medsos atau lewat Gofood atau Grabfood.

Karena pernah mencoba makan nasi Arab yang kaya rempah-rempah dan menurut saya rasanya enak, maka saya pun ingin mencoba memasaknya sendiri. Namun karena ingin lebih praktis dan tidak terlalu repot mencoba meracik bumbunya, maka saya membeli kemasan  nasi biryani (semi) instan yang banyak dijual secara onlen. Kebetulan kemasan nasi biryani semi instan ini diproduksi oleh sebuah UMKM di Cimahi. Jadi, tidak apa-apalah tulisan saya ini seperti mempromosikan produk UMKM ini.

Saya sebut semi instan karena untuk mendapatkan nasi biryani yang rasanya pas seperti di Timur Tengah maka masih diperlukan bahan dan bumbu-bumbu tambahan yang diolah sendiri. Jadi tidak langsung instan dimasak ke dalam rice cooker. Di dalam kemasan nasi biryani instan tersebut sudah lengkap dengan beras basmati, bumbu biryani, susu, dan kismis.

biryani

Bahan dan bumbu tambahan yang perlu disiapkan sendiri adalah  lima siung bawang putih, lima siung bawang merah, satu siung bawang bombay, satu buah tomat, dan daging ayam/sapi cincang. Nah, cara memasaknya saya tuliskan dalam bentuk algoritma berikut ini (seperti yang tertulis di dalam kemasannya).

Algoritma memasak nasi biryani:

1. Semua bumbu bawang dan tomat dicincang lalu ditumis bersama bumbu briyani dengan lima sendok makan minyak sayur.

2. Masukkan dua gelas air (450 ml), kemudian masukkan ayam/daging cincang, ungkep sampai setengah matang.

3. Matikan kompor, lalu masukkan beras basmati yang sudah dicuci. Masukkan bumbu lain yang sudah disediakan yaitu susu dan kismis. Aduk rata.

4. Masukkan ke dalam rice cooker, tambahkan air hingga dua ruas jari. Masak hingga matang.

biryani2

Jadi, cukup rumit juga memasaknya, tidak langsung instan, makanya saya sebut semi-instan. Setelah tiga puluh menit di dalam rice cooker, akhirnya nasi biryaninya matang. Jadi deh…🙂

biryani3

Bau nasinya harum rempah-rempah. Kalau ingin sedikit asin tambahkan garam. Kalau mau makan tambahkan kerupuk emping melinjo, acar, dan sambal. Selamat makan…

Written by rinaldimunir

June 12th, 2021 at 1:11 pm

Posted in Makanan enak

Kerupuk

without comments


Tadi pagi ada kejadian yang cukup membuat saya terharu. Setelah selesai jalan pagi (setiap pagi saya memang selalu olahraga jalan kaki), saya mampir ke sebuah warung nasi kuning di Pratista Antapani. Pedagangnya sepasang suami istri. Dari ceritanya kepada saya, mereka sudah tiga tahun berjualan di sana. Sebelumnya mereka punya usaha konveksi, tetapi bangkrut karena ditipu orang. Jadi sekarang mereka bikin usaha jualan nasi kuning dan lontong sayur.

Saya membeli satu bungkus nasi kuning, dua bungkus lontong sayur, dan satu bungkus lontong kari untuk dibawa pulang. Setelah membayar, saya berjalan pulang, menenteng keresek berisi makanan tadi.

Setelah lima belas menit berjalan dan hampir sampai di rumah, tiba-tiba seorang bapak dengan sepeda motor menghampiri saya. Oh, ternyata bapak penjual nasi kuning tadi. Dia membawa kantong keresek berisi empat bungkus kerupuk. Dia mengatakan bahwa tadi lupa memberikan kerupuk. Tidak enak makan kalau tidak ada kerupuk, katanya.

kerupuk

Rupanya dia mencari-cari saya dengan motor hanya untuk mengantarkan kerupuk. Sepertinya dia merasa bersalah karena tidak lengkap menyertakan pelengkap makanan (FYI, bagi orang Sunda atau Jawa, makan nasi tanpa kerupuk rasanya kurang lengkap. Jadi, kerupuk yang berwarna kuning seperti di atas selalu disertakan jika kita membeli makanan apapun di Bandung, seperti bubur ayam, nasi kuning, kupat tahu,  lontong kari, lontong sayur, nasi goreng, mie goreng, bahkan makan rujak juga pakai kerupuk). Dia susuri jalan di Antapani mengejar saya, mencari-cari saya. Tadi saat di warung memang dia bertanya saya tinggal di mana dan saya menyebutkan jalan rumah saya, mungkin karena saya pelanggannya yang baru. Oleh karena itu dia mencari ke jalan tersebut dan bertemu saya di pertigaan jalan.

Saya merasa terharu. Bapak baik sekali, kata saya. Hanya untuk mengantarkan kerupuk yang bagi saya nggak penting (benar, saya kurang begitu suka makan pakai kerupuk), dia bela-belain mencari-cari kemana saya berjalan.

Ahai, kalau semua orang jujur seperti bapak tadi alangkah indahnya dunia ini ya. Tidak mau merugikan orang lain, merasa bersalah jika tidak memberikan yang terbaik, dan selalu  menjaga integritasnya.

Written by rinaldimunir

June 6th, 2021 at 1:23 pm

Posted in Gado-gado