if99.net

IF99 ITB

Archive for June, 2021

Memasak Nasi Biryani di Rumah

without comments

Seewaktu menunaikan ibadah haji di Mekah pada tahun 2018, saya baru pertama kalinya mencoba makan nasi biryani (kadang-kadang disebut briyani) dan nasi kebuli. Sebelum itu hanya mendengar namanya saja. di dekat Masjidil Hara banyak rrumah makan yang menjual bermacam-macam nasi, seperti nasi bukhori, nasi mandhi, termasuk nasi kebuli dan nasi biryani. Nasi kebuli memang khas dari Arab, kalau nasi biryani katanya dari India. Keduanya menggunakan beras basmati yang ukurannya panjang-panjang itu. Beras basmati sering dinamakan beras India.

38278977_1982643265137022_6783662894253867008_n

Restoran di luar Masjidil Haram

 
38426810_1982226221845393_6577459886580301824_o

Nasi bukhori. Lalapannya adalah cabe hijau besar.

Saat ini ini di Bandung dan kota-kota besar lainnya sudah banyak restoran yang menjual nasi biryani dan nasi kebuli. Bahkan yang menjual secara onlen juga banyak, ditawarkan melalui medsos atau lewat Gofood atau Grabfood.

Karena pernah mencoba makan nasi Arab yang kaya rempah-rempah dan menurut saya rasanya enak, maka saya pun ingin mencoba memasaknya sendiri. Namun karena ingin lebih praktis dan tidak terlalu repot mencoba meracik bumbunya, maka saya membeli kemasan  nasi biryani (semi) instan yang banyak dijual secara onlen. Kebetulan kemasan nasi biryani semi instan ini diproduksi oleh sebuah UMKM di Cimahi. Jadi, tidak apa-apalah tulisan saya ini seperti mempromosikan produk UMKM ini.

Saya sebut semi instan karena untuk mendapatkan nasi biryani yang rasanya pas seperti di Timur Tengah maka masih diperlukan bahan dan bumbu-bumbu tambahan yang diolah sendiri. Jadi tidak langsung instan dimasak ke dalam rice cooker. Di dalam kemasan nasi biryani instan tersebut sudah lengkap dengan beras basmati, bumbu biryani, susu, dan kismis.

biryani

Bahan dan bumbu tambahan yang perlu disiapkan sendiri adalah  lima siung bawang putih, lima siung bawang merah, satu siung bawang bombay, satu buah tomat, dan daging ayam/sapi cincang. Nah, cara memasaknya saya tuliskan dalam bentuk algoritma berikut ini (seperti yang tertulis di dalam kemasannya).

Algoritma memasak nasi biryani:

1. Semua bumbu bawang dan tomat dicincang lalu ditumis bersama bumbu briyani dengan lima sendok makan minyak sayur.

2. Masukkan dua gelas air (450 ml), kemudian masukkan ayam/daging cincang, ungkep sampai setengah matang.

3. Matikan kompor, lalu masukkan beras basmati yang sudah dicuci. Masukkan bumbu lain yang sudah disediakan yaitu susu dan kismis. Aduk rata.

4. Masukkan ke dalam rice cooker, tambahkan air hingga dua ruas jari. Masak hingga matang.

biryani2

Jadi, cukup rumit juga memasaknya, tidak langsung instan, makanya saya sebut semi-instan. Setelah tiga puluh menit di dalam rice cooker, akhirnya nasi biryaninya matang. Jadi deh…🙂

biryani3

Bau nasinya harum rempah-rempah. Kalau ingin sedikit asin tambahkan garam. Kalau mau makan tambahkan kerupuk emping melinjo, acar, dan sambal. Selamat makan…

Written by rinaldimunir

June 12th, 2021 at 1:11 pm

Posted in Makanan enak

Kerupuk

without comments


Tadi pagi ada kejadian yang cukup membuat saya terharu. Setelah selesai jalan pagi (setiap pagi saya memang selalu olahraga jalan kaki), saya mampir ke sebuah warung nasi kuning di Pratista Antapani. Pedagangnya sepasang suami istri. Dari ceritanya kepada saya, mereka sudah tiga tahun berjualan di sana. Sebelumnya mereka punya usaha konveksi, tetapi bangkrut karena ditipu orang. Jadi sekarang mereka bikin usaha jualan nasi kuning dan lontong sayur.

Saya membeli satu bungkus nasi kuning, dua bungkus lontong sayur, dan satu bungkus lontong kari untuk dibawa pulang. Setelah membayar, saya berjalan pulang, menenteng keresek berisi makanan tadi.

Setelah lima belas menit berjalan dan hampir sampai di rumah, tiba-tiba seorang bapak dengan sepeda motor menghampiri saya. Oh, ternyata bapak penjual nasi kuning tadi. Dia membawa kantong keresek berisi empat bungkus kerupuk. Dia mengatakan bahwa tadi lupa memberikan kerupuk. Tidak enak makan kalau tidak ada kerupuk, katanya.

kerupuk

Rupanya dia mencari-cari saya dengan motor hanya untuk mengantarkan kerupuk. Sepertinya dia merasa bersalah karena tidak lengkap menyertakan pelengkap makanan (FYI, bagi orang Sunda atau Jawa, makan nasi tanpa kerupuk rasanya kurang lengkap. Jadi, kerupuk yang berwarna kuning seperti di atas selalu disertakan jika kita membeli makanan apapun di Bandung, seperti bubur ayam, nasi kuning, kupat tahu,  lontong kari, lontong sayur, nasi goreng, mie goreng, bahkan makan rujak juga pakai kerupuk). Dia susuri jalan di Antapani mengejar saya, mencari-cari saya. Tadi saat di warung memang dia bertanya saya tinggal di mana dan saya menyebutkan jalan rumah saya, mungkin karena saya pelanggannya yang baru. Oleh karena itu dia mencari ke jalan tersebut dan bertemu saya di pertigaan jalan.

Saya merasa terharu. Bapak baik sekali, kata saya. Hanya untuk mengantarkan kerupuk yang bagi saya nggak penting (benar, saya kurang begitu suka makan pakai kerupuk), dia bela-belain mencari-cari kemana saya berjalan.

Ahai, kalau semua orang jujur seperti bapak tadi alangkah indahnya dunia ini ya. Tidak mau merugikan orang lain, merasa bersalah jika tidak memberikan yang terbaik, dan selalu  menjaga integritasnya.

Written by rinaldimunir

June 6th, 2021 at 1:23 pm

Posted in Gado-gado