if99.net

IF99 ITB

Archive for May, 2021

Babi Ngepet dan Kerja Onlen

without comments

Baru-baru ini ada kajadian yang viral dan cukup menghebohkan di media sosial, yaitu kejadian tertangkapnya seekor babi hutan di Depok yang menurut orang-orang itu adalah babi jadi-jadian atau babi ngepet kata orang Sunda.

Dalam mitologoi orang Sunda, babi ngepet adalah sebuah cerita mitos tentang orang yang ingin mendapatkan uang banyak dengan cara pintas. Babi jadi-jadian itu adalah jelmaan manusia dan dapat memasuki rumah warga lainnya secara gaib lalu mencuri uang dengan cara menempelkan tubuhnya ke uang tersebut (bhs Sunda: mengepet). 

Warga yang resah karena selama ini sering kehilangan uang menuduh babi ngepet inilah yang mencuri uang mereka. Babi itu kemudian akhirnya dibunuh. Namun akhirnya terkuak bahwa cerita penangkapan babi yang disebut babi ngepet tersebut ternyata adalah rekayasa dari beberapa orang warga setempat yang ingin terkenal. Kasus ini akhirnya berurusan dengan polisi.

Namun ada kejadian lain yang menarik perhatian warganet dan viral di medsos terkait dengan penangkapan babi ngepet tersebut (sebelum kisah rekayasa tersebut terkuak). Seorang perempuan, bernama Bu Wati, di hadapan orang banyak menyebar berita hoaks dengan menuduh bahwa babi ngepet tersebut adalah seorang tetangganya yang terlihat menganggur (tidak bekerja) namun memiliki uang banyak. Dia curiga masak  tetangga  yang sehari-harinya lebih banyak diam di rumah namun bisa kaya (tonton videonya di sini). Meski akhirnya tidak terbukti dan perempuan tersebut meminta maaf, dia akhirnya diusir oleh warga dari kampungnya karena telah menebah fitnah.

Kasus babi ngepet dan tudingan Bu Wati yang viral menyadarkan kita kembali bahwa bagi sebagian besar masyarakat kita defenisi bekerja itu masih tradisionil. Yang namanya bekerja itu adalah “keluar rumah”, pergi pagi lalu pulang sore. Bekerja itu adalah aktivitas yang tampak oleh mata tetangga bahwa orang tersebut pagi hari sudah berangkat dari rumahnya menuju tempat kerja lalu sore atau malam hari pulang kembali ke rumahnya. Kalau hanya di rumah saja maka dianggap belum  “bekerja”.

Padalah pada zaman internet ini, apalagi pada masa pandemi cirina ini, bekerja tidak lagi harus secara fisik dilakukan di tempat pekerjaan, misalnya di kantor. Bekerja dapat dilakukan secara onlen dari rumah, misalnya menjadi seorang remote programmer, online trading seperti jual beli saham secara onlen, penambang bitcoin seperti uang kripto, dan masih banyak lagi pekerjaan yang dapat dilakukan secara onlen tanpa harus keluar rumah.  Jangan kaget kalau orang-orang yang bekerja secara onlen tersebut malah dapat menghasilkan dolar, bukan lagi rupiah, seperti penambang bitcoin atau pelaku online trading jual beli saham.

Alumni mahasiswa saya di Informatika ITB sudah biasa bekerja secara remote dari mana saja, tidak harus datang ke kantor. Kantor perusahaannya berada di luar negeri, namun bekerjanya dari rumah di Indonesia. Mereka bekerja secara team, melakukan programming dan coding di rumah atau dari kamar kos, menaruh programnya pada platform github, atau mengirim programnya melalui internet, men-deploy-nya ke server, dan seterusnya. Semuanya dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja asakan tersedia akses Internet yang baik. Rapat-rapat dan pertemuan dapat dilakukan dengan aplikasi video conference seperti Zoom, Google Meet, Webex, Teams, dan sebagainya. Sesekali pertemuan secara fisik dapat dilakukan di kantor atau di tempat lain. Kantor masa depan adalah kantor virtual, orang-orang bekerja di mana saja dan kapan saja.

Bekerja secara onlen itu juga bekerja meski tidak keuar rumah. Namun karena wawasan masyarakat kita masih kurang, maka orang-orang yang bekerja secara onlen dari rumah inilah dikira orang yang menganggur seperti tetangga Bu Wati tadi. Jadi, jika Anda yang bekerja secara onlen dari rumah lalu tiba-tiba tetangga Anda melihat anda  membeli mobil, membangun rumah, jalan-jalan ke luar negeri, dll, maka siap-siap saja nanti Anda digunjingkan oleh tetangga memelihara tuyul atau babi ngepet. Wkwkwwkwk…

Orang seperti Bu Wati itu banyak dalam masyarakat kita, mudah su’uzon, lebih sibuk mengurusi orang lain daripada diri sendiri, gampang menebar fitnah dan hoaks.

Written by rinaldimunir

May 1st, 2021 at 6:27 pm

Posted in Indonesiaku