if99.net

IF99 ITB

Archive for May, 2021

Mendadak Youtuber

without comments

Salah satu dampak positif (jika ini dibilang positif) pandemi corona bagi kalangan guru dan dosen adalah menjadi Youtuber. Youtuber adalah sebutan bagi orang-orang yang merilis konten-konten video ke platform media sosial Youtube. Pembelajaran secara onlen (daring) selama pandemi (yang masih berlangsung) “memaksa” guru dan dosen harus kreatif membuat materi ajar berupa video. Video-video tersebut sebagian diunggah ke Youtube agar dapat  ditonton ulang kapan dan di mana saja oleh peserta didik.

Saya pun juga mendadak menjadi seorang Youtuber. Sejak awal pandemi tahun lalu hingga sekarang saya sudah mengunggah puluhan video kuliah ke Youtube yang saya buat dari studio mini dadakan juga. Setiap mata kuliah ada kanalnya masing-masing. Video-video tersebut saya set menjadi publik sehingga dapat ditonton tidak hanya oleh mahasiswa saya di ITB tetapi oleh mahasiswa dan dosen di perguruan tinggi lain di Indonesia (mungkin juga di luar negeri asalkan mengerti bahasa Indonesia). Ini dapat dilihat dari komentar-komentar pada setiap video kuliah yang saya unggah yang merupakan mahasiswa dari kampus lain.

Kanal Youtube saya ada lima buah:

  1. Kanal gabungan (Rinaldi Munir): https://www.youtube.com/channel/UCBiY3GSJuQGGjNAdV8JebSQ
  2. Kanal kuliah Matematika Diskrit: https://youtube.com/channel/UCNkisa2dwJdMjg__CaHeuVw
  3. Kanal kuliah Aljabar Linier dan Geometri: https://youtube.com/channel/UC0Y0mSw5lnBbWy-N5gGV5IQ
  4. Kanal kuliah Kriptografi: https://youtube.com/channel/UCR7CdK1MwcQH2NHI6HoMSYA
  5. Kanal kuliah Strategi Algoritma: https://youtube.com/channel/UClfQhMnstEXInwGGUI6spCw

Kanal kuliah yang belum ada adalah untuk mata kuliah Interpretasi dan Pengolahan Citra.  Kanal gabungan adalah kanal yang berisi semua video yang saya buat sendiri, sedangkan kanal nomor 2, 3, dan 5 tidak hanya berisi video-video yang saya buat tetapi juga video dari dosen lain yang mengampu mata kuliah yang sama (kelas paralel). Sekarang kanal-kanal tersebut sudah memiliki ratusan hingga ribuan subscriber.

Meskipun video yang saya buat masih sederhana (hanya menyuarakan materi power point, seolah-olah saya sedang mengajar di kelas offline), namun sudah cukup membantu bagi mahasiswa saya sendiri khususnya dan bagi mahasiswa lain di luar ITB untuk memahami materi perkuliahan. Alhamdulillah, semoga memberi manfaat.

Membuat video-videoitu selain melelahkan namun juga mengasyikkan. Selain membuat video materi kuliah, saya pun sekarang mulai membuat video-video lain berupa kreasi video musik atau konten-konten video yang berisi dokumentasi foto-foto sidang tugas akhir, tesis, dan disertasi, kenangan perkuliahan selama pandemi. Iseng-iseng saya juga membuat vlog (video blog) yang menceritakan pengalaman atau peristiwa yang saya alami seperti pengalaman naik haji, jalan-jalan di kampus, suasana lebaran, dan lain-lain. Video-video yang saya sebutkan di atas dapat dilihat pada kanal gabungan  (https://www.youtube.com/channel/UCBiY3GSJuQGGjNAdV8JebSQ).

Menjadi Youtuber tidak pernah terpikirkan oleh saya sebelum ini. Ini keadaan karena “terpaksa” namun rupanya banyak manfaatnya, terutama bagi orang lain. Saya hanyalah satu dari ribuan guru dan dosen lain di tanah air yang membuat konten video ajar atau video kuliah yang diunggah ke Youtube. Pandemi corona telah melahirkan ribuan video ajar dengan presenternya adalah orang Indonesia sendiri. Jika sebelum pandemi kebanyakan video ajar di Youtube umumnya beraroma “India”, sebab banyak konten video ajar yang dibuat oleh dosen-dosen India, maka sekaranglah  anak-anak bangsa kita membanjiri Youtube dengan video-video ajar buatan anak negeri sendiri. Dengan membuat video ajar dan mengunggahnya ke Youtube maka itu berarti kita telah berbagi ilmu pengetahuan kepada siapapun. Berbagi adalah sebuah kepdulian. Sharing is caring.

Written by rinaldimunir

May 24th, 2021 at 9:07 pm

Posted in Pendidikan

Babi Ngepet dan Kerja Onlen

without comments

Baru-baru ini ada kajadian yang viral dan cukup menghebohkan di media sosial, yaitu kejadian tertangkapnya seekor babi hutan di Depok yang menurut orang-orang itu adalah babi jadi-jadian atau babi ngepet kata orang Sunda.

Dalam mitologoi orang Sunda, babi ngepet adalah sebuah cerita mitos tentang orang yang ingin mendapatkan uang banyak dengan cara pintas. Babi jadi-jadian itu adalah jelmaan manusia dan dapat memasuki rumah warga lainnya secara gaib lalu mencuri uang dengan cara menempelkan tubuhnya ke uang tersebut (bhs Sunda: mengepet). 

Warga yang resah karena selama ini sering kehilangan uang menuduh babi ngepet inilah yang mencuri uang mereka. Babi itu kemudian akhirnya dibunuh. Namun akhirnya terkuak bahwa cerita penangkapan babi yang disebut babi ngepet tersebut ternyata adalah rekayasa dari beberapa orang warga setempat yang ingin terkenal. Kasus ini akhirnya berurusan dengan polisi.

Namun ada kejadian lain yang menarik perhatian warganet dan viral di medsos terkait dengan penangkapan babi ngepet tersebut (sebelum kisah rekayasa tersebut terkuak). Seorang perempuan, bernama Bu Wati, di hadapan orang banyak menyebar berita hoaks dengan menuduh bahwa babi ngepet tersebut adalah seorang tetangganya yang terlihat menganggur (tidak bekerja) namun memiliki uang banyak. Dia curiga masak  tetangga  yang sehari-harinya lebih banyak diam di rumah namun bisa kaya (tonton videonya di sini). Meski akhirnya tidak terbukti dan perempuan tersebut meminta maaf, dia akhirnya diusir oleh warga dari kampungnya karena telah menebah fitnah.

Kasus babi ngepet dan tudingan Bu Wati yang viral menyadarkan kita kembali bahwa bagi sebagian besar masyarakat kita defenisi bekerja itu masih tradisionil. Yang namanya bekerja itu adalah “keluar rumah”, pergi pagi lalu pulang sore. Bekerja itu adalah aktivitas yang tampak oleh mata tetangga bahwa orang tersebut pagi hari sudah berangkat dari rumahnya menuju tempat kerja lalu sore atau malam hari pulang kembali ke rumahnya. Kalau hanya di rumah saja maka dianggap belum  “bekerja”.

Padalah pada zaman internet ini, apalagi pada masa pandemi cirina ini, bekerja tidak lagi harus secara fisik dilakukan di tempat pekerjaan, misalnya di kantor. Bekerja dapat dilakukan secara onlen dari rumah, misalnya menjadi seorang remote programmer, online trading seperti jual beli saham secara onlen, penambang bitcoin seperti uang kripto, dan masih banyak lagi pekerjaan yang dapat dilakukan secara onlen tanpa harus keluar rumah.  Jangan kaget kalau orang-orang yang bekerja secara onlen tersebut malah dapat menghasilkan dolar, bukan lagi rupiah, seperti penambang bitcoin atau pelaku online trading jual beli saham.

Alumni mahasiswa saya di Informatika ITB sudah biasa bekerja secara remote dari mana saja, tidak harus datang ke kantor. Kantor perusahaannya berada di luar negeri, namun bekerjanya dari rumah di Indonesia. Mereka bekerja secara team, melakukan programming dan coding di rumah atau dari kamar kos, menaruh programnya pada platform github, atau mengirim programnya melalui internet, men-deploy-nya ke server, dan seterusnya. Semuanya dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja asakan tersedia akses Internet yang baik. Rapat-rapat dan pertemuan dapat dilakukan dengan aplikasi video conference seperti Zoom, Google Meet, Webex, Teams, dan sebagainya. Sesekali pertemuan secara fisik dapat dilakukan di kantor atau di tempat lain. Kantor masa depan adalah kantor virtual, orang-orang bekerja di mana saja dan kapan saja.

Bekerja secara onlen itu juga bekerja meski tidak keuar rumah. Namun karena wawasan masyarakat kita masih kurang, maka orang-orang yang bekerja secara onlen dari rumah inilah dikira orang yang menganggur seperti tetangga Bu Wati tadi. Jadi, jika Anda yang bekerja secara onlen dari rumah lalu tiba-tiba tetangga Anda melihat anda  membeli mobil, membangun rumah, jalan-jalan ke luar negeri, dll, maka siap-siap saja nanti Anda digunjingkan oleh tetangga memelihara tuyul atau babi ngepet. Wkwkwwkwk…

Orang seperti Bu Wati itu banyak dalam masyarakat kita, mudah su’uzon, lebih sibuk mengurusi orang lain daripada diri sendiri, gampang menebar fitnah dan hoaks.

Written by rinaldimunir

May 1st, 2021 at 6:27 pm

Posted in Indonesiaku