if99.net

IF99 ITB

Masyarakat Pemarah (2)

without comments

Masyaralat kita gampang sekali marah dan main hakim sendiri tanpa tahu duduk masalahnya.  Kasus yang memilukan baru-baru ini adalah tindakan main hakim sendiri hingga membakar hidup-hidup terduga pencuri amplifier mushola bernama Zoya (baca: Pria yang Dibakar Hidup-hidup di Bekasi Sempat Bilang “Saya Enggak Maling”, dan Ini Cerita Saksi Tentang Joya yang Dibakar Hidup-Hidup.)

Malang benar nasib Zoya. Dia tidak sempat membela diri, tapi hukuman jalanan sudah lebih dulu berbicara. Yang membuat hati tambah pilu adalah dia meninggalkan seorang istri yang sedang mengandung dan seorang anak balita.

Membakar hidup-hidup seorang yang diduga mencuri adalah tindakan yang sangat kejam. Kalau pun benar ia mencuri amplifier, hukuman membakar hidup-hidup itu sama sekali sangat tidak pantas di negara yang menjunjung tinggi hukum dan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Harga amplifier tidak seberapa dibandingkan  dengan nyawa seorang anak manusia yang dibunuh dan dibakarnya.

Saya ingin bertanya kepada pelaku yang membakar Zoya, anda dibakar saja sedikit jari tangannya, minimal disentuh ke dalam api selama sepuluh detik saja, mau tidak? Sakit tidak? Itu baru jari tangan, bagaimana bila seluruh tubuh? Sungguh sakit yang tiada terperi. Begitu pula yang dirasakan Zoya yang, lebih mengerikan sakitna dai yang kita kira. Saya tidak bermaksud membela Zoya, tapi saya mempertanyakan aksi kejam yang dilakukan oleh orang-orang saat itu.

Aksi pembakaran terhadap terduga pelaku pejahatan sudah sering terjadi. Tahun 2006 saya sudah pernah menulis tentang kejadian serupa dalam tulisan berjudul sama: Masyarakat pemarah. Masyarakat kita sudah gelap mata sehingga orang yang belum tentu benar-benar mencuri sudah dihukum tanpa proses pengadilan.

Masyarakat kita memang sudah tidak bisa lagi menahan diri untuk main hakim sendiri terhadap terduga perilaku kriminal. Ingat lho, masih terduga, belum menjadi tersangka. Tindakan main hakim sendiri hingga hukuman yang sangat sadis mungkin dilatari oleh rasa kesal  masyarakat terhadap aksi pencurian (maupun  aksi kriminal lain seperti penculikan anak, pemerkosaan, dll)  yang membuat resah. Aparat keamanan dianggap gagal memberikan rasa aman, maka masyarakat sendiri yang memberikan hukuman jalanan. Namun, apapun alasannnya, tetap saja tindakan main hakim sendiri tidak dapat dibenarkan.

Hukuman bakar hidup-hidup ini sangat ironis dibandingkan koruptor yang mencuri uang rakyat dalam jumlah yang tidak kira-kira. Koruptor saja hukumannya ringan, hanya dalam hitungan tahun. Bahkan ada koruptor yang masih bisa tersenyum dan melambaikan tangan.


Written by rinaldimunir

August 8th, 2017 at 4:41 pm

Posted in Indonesiaku

Berakhir Masa Menjadi “Tukang Ojek” Anak

without comments

Tahun ini saya pensiun menjadi “tukang ojek” anak. Sudah lebih lima belas tahun saya rutin setiap pagi mengantar anak pergi ke sekolah, untuk ketiga anak saya. Cerita menjadi tukang ojek buat anak sudah pernah saya tulis sebelumnya (Baca: Menjadi “Tukang Ojek” Anak).

Mengantar anak ke sekolah adaah pekerjaan yang menyenangkan bagi saya. Tidak semua ayah bisa punya kesempatan mengantar anaknya ke sekolah, lho.  Itu masa-masa yang tidak akan bisa terulang. Orangtua yang sangat sibuk, seperti di Jakarta, hampir tidak punya kesempatan mengantar anaknya pergi ke sekolah. Pagi ketika waktu Subuh mereka sudah berangkat ke kantor, hal ini karena perumahan sekarang sudah jauh di luar kota, maka pergi bekerja ke pusat kota harus siap mengejar jadwal kereta komuter atau bawa kendaraan sendiri lebih pagi supaya tidak terjebak macet. Pulang ke rumah pun sudah malam, anak sudah tidur. Masa bertemu dengan anak hanya hari Sabtu dan Minggu, tetapi kebanyakan sekolah libur pada hari Sabtu.

Seorang warganet di media sosial menumpahkan curhatannya tentang kesedihan tidak dapat mengantar anaknya ke sekolah (jika anda punya akun Facebook, silakan baca laman ini). Berikut curhatnya (mohon izin dikutip ya mas :-)):

Mimpi Mengantar Sekolah

Foto ini saya ambil di daerah Pasar Jumat, Lebak Bulus. Saat lalu lintas sedang padat-padatnya. Yang entah kenapa isinya kok banyak anak sekolahnya.

Fotonya memang biasa aja. Saya kenal dengan bapak beranak itu pun tidak. Tapi sebagai lelaki yang pernah jadi jagoan pada masanya dulu, saya langsung down melihat bapak antar sekolah anak macem ini. Anak saya 3. Yang usia sekolah 2. Tapi ngga pernah saya bisa menikmati hal-hal romantis macam itu: antar anak sekolah, menggenggam tangannya sambil berceloteh ala pria, lalu melepasnya masuk kelas setelah tos dan memukul pundaknya.

Saya kirim gambar itu ke istri, disertai caption menyayat hati

Dia bales sih.. satu jam kemudian. Sambil seperti biasa kasih joke satir: tenang… ntar juga bisa anter anak. Kalo udah pensiun..

Tak lupa emot ???. Makin membuat saya menertawakan nasib sendiri. Ini lagi sedih beneran. Kok bisa bisanya diguyoni.

Tapi barangkali istri mengatakan itu juga dengan pedih hatinya (iya ngga sih, istri? Kamu pedih gak? ?)…

Selepas Subuh saya sudah gedandapan berangkat kerja meninggalkannya dengan segudang masalah rumah tangga. Pulangnya juga sering mendapati anak-anak sudah berpiyama.

Ada satu bagian yang hilang, itu sudah pasti. Saya melewatkan banyak momen romantis dengan tim transformer kecil saya di rumah. Untuk satu alasan: cari nafkah.

Harusnya alasan ini sangat kuat. Wajar kalau seorang ayah tidak banyak ambil bagian dalam membesarkan anak, karena memang jatah dia adalah di luar rumah. Tapi percaya tidak bro, mengantar anak sekolah adalah mimpi sederhana saya sejak dulu. Dan mimpi sesederhana ini pun sulit saya wujudkan.

Itu rasanya… seperti gagal menjadi lelaki dari anak lelaki.

Bro, kalau anda semua masih diberkahi waktu luang dan pekerjaan yang fleksibel, saya ucapkan selamat. Nikmati lah masa-masa yang tidak akan terulang ini. Berkelakarlah dengannya sembari ia merangkulmu di balik jaketmu. Tunjukkan jalan-jalan tikus sambil menyombongkan kehebatanmu menghafal jalan. Nikmati kekagumannya padamu.

Sebelum menjadi sepertiku. Yang hanya bisa iri setengah mati pada bapak-bapak berjaket pembonceng anak.

Jakarta 18 juli 2017

~~~~~~

Itulah yang saya katakan, tidak setiap ayah memiliki kesempatan mengantar anaknya ke sekolah. Sepele ya kelihatannya, ada rasa “iri”, ada kerinduan yang mendalam bagi seorang ayah untuk bisa mengalami momen seperti ini. Tapi apa mau dikata, alasan pekerjaan jua yang membuat mimpi itu belum bisa diwujudkan.

Kembali ke cerita saya pada bagian awal. Saya sekarang sudah berhenti mejadi “tukang ojek anak”. Apa pasal?  Anak saya yang bungsu sekarang sudah kelas 5 SD. Awal tahun ajaran kemaren dia bilang kepada saya bahwa dia tidak mau lagi diantar pergi ke sekolah, juga tidak mau pulang sekolah pakai becak langganan. Dia ingin pergi ke sekolah sendiri pakai sepeda. Pulang sekolah juga pakai sepeda sendiri. Biasanya selama ini saya mengantar anak ke sekolah dengan motor, lalu nanti siang, karena saya tidak bisa menjemput (sedang di kampus), maka anak saya pulang sekolah dengan becak yang sudah saya langgan sejak masih Playgroup.

fajar1

Tentu saja keinginannya itu adalah hal yang menyedihkan sekaligus juga menggembirakan bagiku. Sedih karena saya tidak bisa bisa punya momen indah mengantar anak ke sekolah. Tapi saya sudah merasa puaslah, sebab sejak anak-anak preschool hingga akhir SD semua anak kuantar ke sekolah dengan motor. Ketika masuk SMP mereka sudah mulai pergi sendiri naik angkot. Lima belas tahun sudah saya menjadi “tukang ojek” anak, dan itu adalah kenangan yang berkesan bagi seorang ayah dan anak.

fajar2

Di sisi lain ada juga terselip rasa gembira karena itu artinya dia sudah merasa besar dan sudah ingin mandiri.  Dia ingin menunjukkan bahwa dia mampu pergi sendiri. Tinggal saya saja yang merasa nelangsa sendiri, melepasanya dengan tatapan berkaca-kaca. Tapi saya pun harus menyadari, bahwa suatu hari nanti anak-anak kita akan pergi meninggalkan orangtuanya, pergi mencari jalan hidupnya sendiri. Tidak selamanya anak kita bersama kita, bukan?

Jadi, bagi kalian para ayah, jangan sampai melewatkan kesempatan berharga bersama anak-anakmu. Hanya ketika mereka masih kecil kita bisa menikmati  momen-momen indah bersama anak kita. Mengantar anak ke sekolah itu contohnya, adalah hal yang terlihat kecil dan sepele, namun akan berkesan bagi anak ketika mereka sudah dewasa nanti. Jangan lupa, ketika anda mengantar anak anda ke sekolah, banyak nilai-nilai kehidupan yang bisa ditanamkan.


Written by rinaldimunir

July 29th, 2017 at 1:48 pm

Bapak Tua Penjual Keripik Singkong

without comments

Di sekitar jalan di belakang Gedung Sate, ada seorang bapak tua yang sudah aki-aki berjalan tertatih-tatih memikul dagangan keripik singkong. Dia memakai tongkat besi berkaki tiga (yang biasa digunakan oleh orang-orang yang terkena stroke). Saya yang biasa melewati jalan itu setiap hari dari rumah ke kantor tidak tega melihatnya. Entah mengapa, setiap kali melihat orang-orang tua menjajakan dagangan, perasaan saya langsung terenyuh. Iba. Saya hentikan sepeda motor beberapa meter di depannya, lalu menunggunya berjalan lebih dekat. Kecepatan jalannya kira-kira satu langkah dalam empat detik. Benar-benar sangat pelan.

keripik1

Setelah dekat, saya hentikan dia dengan kode mau membeli. Saya tanya berapa harga sebungkus keripik singkong itu. Rupanya dia agak susah mendengar. Sebuah alat bantu dengar terpasang di telinganya. Setelah saya tanya beberapa kali, barulah dia menjawab Rp13.000 satu bungkus. Saya beli saja dua bungkus dan sisa uang kembalian tidak saya minta lagi. Saya tanya pak aki dari mana, dia menjawab dari Malangbong, Garut. Jadi keripik singkong itu dibawa dari Malangbong, lalu dijual di Bandung. Saya tidak menanyakan apakah dia bolak-balik membawa keripik singkong itu dari Malangbong ke Bandung, atau ada orang yang memasoknya dari sana lalu bapak aki ini menjualkan saja. Wallahualam.

Menurut beberapa orang yang pernah melihatnya, bapak aki sudah rutin berjualan keripik singkong di seputaran belakang Gedung Sate.  Saya memang baru kali ini menemukannya. Dalam hati saya berkata, sudah tidak sepatutnya bapak aki berjualan seperti ini. Dengan kondisi fisiknya yang lemah dia harus berjualan makanan yang tidak seberapa besar untungnya itu. Bapak aki seharusnya berada di rumah bermain dengan cucu, tetapi entahlah, kebutuhan hidup mungkin membuat bapak aki harus turun ke jalan tertatih-tatih mencari nafkah di kota besar.

keripik2

Sesungguhnya saya tidak terlalu membutuhkan keripik singkong ini. Di rumah masih banyak camilan seperti keripik itu. Namun, niat saya membelinya lagi-lagi karena kasihan semata. Bapak aki tidak mengemis, dia masih punya harga diri. Menurut saya, cara membantu orang-orang lemah seperti bapak aki adalah dengan membeli dagangannya. Itu sangat membantu sekali.

Banyak orang kecil dan lemah seperti bapak aki ini saya temui di jalan. Ketika dalam perjalanan pulang ke rumah waktu bulan puasa yang lalu, di trotoar Jalan Supratman saya melihat seorang laki-laki menggendong anak perempuan di bahunya. Sembari menggendong anak, di tangannya ada beberapa barang jualan berupa sapu lidi untuk membersihkan kasur.  Refleks saya tepikan motor, lalu memanggilnya. Lagi-lagi saya tidak tega melihat pemandangan seperti ini. Meskipun di rumah saya sudah ada sapu lidi semacam itu, namun saya beli juga. Saya ajak dia mengobrol. Laki-laki itu tinggal di Majalaya, Bandung Selatan. Setiap hari dia berjalan kaki di kota Bandung menjajakan sapu lidi. Anak perempuan itu adalah anak kandungnya, kemana-mana selalu dibawa serta karena ibunya sudah bercerai dengan dirinya. Di Majalaya dia mengontrak sebuah kamar, disanalah dia tinggal berdua dengan anak semata wayangnya. Karena tidak ada yang menjaga anaknya, maka setiap hari selalu dibawa berualan. Sudah empat tahun begini, katanya datar. Uang kembalian membeli sapu saya serahkan ke anaknya. Buat jajan dan buka puasa nanti, kata saya meninggalkan mereka.

Saya hanya bisa membantu orang-orang kecil seperti itu dengan cara membeli dagangannya. Meskipun kita tidak terlalu membutuhkan barang dagangannya saat ini, namun percayalah, dengan membeli dagangan mereka, kita sudah memperpanjang hidup mereka.


Written by rinaldimunir

July 20th, 2017 at 5:13 pm

Supir Taksi di Pulau Lombok, Orang Sasak yang Taat Agama

without comments

Bulan lalu saya berkesempatan membawa anak istri jalan-jalan ke Pulau Lombok.  Saya sudah dua kali ke Pulau Lombok tapi tidak bersama keluarga, kali ini ketika sedang libur lebaran saya ingin membawa mereka ke Pantai Senggigi, Lombok Barat. Dari Bandung kami naik Lion Air pukul 6 pagi, lalu transit di Juanda Surabaya selama dua jam kurang. Setelah menyambung perjalanan dengan pesawat Lion yang lain, kami sampai di Bandara Internasional Lombok di Praya, Lombok Tengah, pukul 11.30 siang waktu setempat (WITA).

Hari itu adalah hari Jumat. Kami naik taksi resmi bandara dengan tujuan hotel Holiday Resort di Batu Layar, Senggigi, Lombok Barat. Tarifnya Rp240.000, karena jaraknya cukup jauh. Perjalanan ke Senggigi dari Bandara memakan waktu sekitar satu jam 20 menit. Sepanjang jalan dari Bandara menuju Senggigi terasa seakli suasana sepi. Masyarakat Lombok baru saja merayakan lebaran Idul Fitri  seperti umat Islam lainnya di tanah air. Tetapi perayaan lebaran yang lebih meriah adalah seminggu sesudahnya, yang disebut Lebaran Ketupat, atau Lebaran Topat.

Jalan raya dari bandara menuju kota Mataram sangat mulus laksana jalan tol saja. Hanya ada satu dua kendaraan yang melintas. Suasana sepi ini mungkin karena kaum muslimin sedang menunaikan ibadah sholat Jumat.

Tiba-tiba di tengah perjalanan, supir taksi meminta izin apakah dia boleh berhenti sebentar di mesjid untuk menunaikan sholat Jumat. Kebetulan kami hampir memasuki kota Mataram. Dia akan mencari masjid terdekat yang akan siap menunaikan sholat Jumat, jadi tidak sampai ikut mendengarkan khutbah Jumat. Kemungkinan nanti di  masjid Islamic Center yang baru dan megah di Kota Mataram. Kalau tidak diizinkan  juga tidak apa-apa, katanya.

islamic center mataram

Masjid Islamic Center di tengah kota Mataram (Sumber: bimasislam.kemenag.go.id)

Saya langsung menyetujui permintaan supir taksi tesrebut. Ibadah sholat Jumat di masjid wajib bagi laki-laki muslim. Yang membuat saya salut adalah meski sedang bekerja mencari nafkah (mengemudi taksi), tapi dirinya tidak mau melalaikan sholat Jumat. Saya jarang menemui supir taksi di kota-kota lain seperti itu, mereka tetap saja menarik taksi (membawa penumpang) meskipun sedang berlangsung ibadah sholat Jumat (ibadah sholat Jumat meliputi khutbah Jumat dan sholat dua rakaat).

Setelah mencari masjid yang sudah mulai khutbah Jumat dan menunjukkan tanda-tanda akan berakhir, pak supir akhirnya berhenti di sebuah masjid di dalam kompleks kantor Pemerintah. Di meminggirkan mobilnya di pinggir jalan di depan kantor itu.  Sepanjang jalan banyak mobil yang parkir karena pemiliknya sedang sholat Jumat. Dia meninggalkan taksi kepada kami dalam keadaan AC nyala dan pintu tidak dikunci.  Saya tidak ikut sholat Jumat karena ada keringanan (rukshah) sebagai musafir. Saya nanti akan sholat jamak Dhuhur dan Ashar di kamar hotel saja. Saya dan keluarga menunggu di dalam taksi.

Ada sekitar 15 menit kami menunggu di dalam taksi. Sholat Jumat sudah usai. Setelah itu terlihat supir taksi tadi datang dengan terburu-buru sambil meminta maaf karena kami lama menunggu. Tidak apa-apa, kata saya tersenyum. Perjalanan dilanjutkan lagi menuju Senggigi.

Supir taksi ini orang dari suku Sasak, yaitu suku asli di Pulau Lombok. Suku Sasak dikenal sebagai suku yang sangat taat menjalankan agama. Jika Pulau Bali dijuluki Pulau Seribu Pura, maka Pulau Lombok sendiri dijuluki pulau Seribu Masjid karena terdapat ribuan masjid di sana. Orang Sasak belajar agama Islam dari ulama yang disebut Tuan Guru , jika di Pulau Jawa namanya Kyai.  Jika di Jawa masyarakat santri sangat patuh kepada kyai pondok pesantren, maka di Pulau Lombok orang Sasak takzim dan sangat menghormati Tuan Guru. Gubernur NTB sekarang adalah seorang Tuan Guru Haji (TGH) Muhammad Zainul Majdi yang juga dikenal sebagai Tuan Guru Bajang. Demikan tingginya penghormatan orang Sasak kepada Tuan Guru, maka ketika Tuan Guru mereka dilecehkan, mereka bangkit untuk membelanya. Kita masih ingat kejadian terakhir ketika Gubernur NTB yang juga Tuan Guru mendapat pelecehan kata-kata kotor dari seorang  warga Indonesia dari etnik tertentu di Bandara Changi Singapura. Mendengar kabar Tuan Guru mereka dilecehkan, masyarakat  Sasak melakukan demo di seantero Pulau Lombok, begitu juga masyarakat Sasak di Jakarta. Kasus ini sudah dilaporkan ke Kepolisian, tetapi sampai  sekarang tidak ada lagi kejelasannya.

Jika di Pulau Jawa ormas keagamaan tradisional yang dominan adalah Nahdlatul Ulama (NU), maka di Pulau Lombok ormas keagamaan  yang dominan adalah Nahdlatul Wathan (NW). NW merupakan ormas yang bergerak dalam bidang pendidikan dan sosial, organisisasi ini memiliki sekolah mulai dari SD sampai perguruan tinggi. Pemimpin tertinggi Nahdlatul Wathan disebut Tuan Guru Bajang.

Kembali ke cerita di atas. Akhirnya sampailah kami diantar supir taksi yang sholeh tadi ke hotel tujuan kami di Senggigi. Kami tidak berlama-lama berlibur di Senggigi, karena hari Minggu tanggal 2 Juli 2017 adalah perayaan Lebaran Ketupat besar-besaran di Senggigi. Lebaran Ketupat (atau Lebaran Topat) dirayakan seminggu setelah hari H Idul Fitri. Perayaannya dipusatkan di Senggigi. Hampir seluruh masayarakat Sasak dari berbagai daerah di Pulau Lombok mendatangi Pantai Senggigi. Mereka membawa makanan berupa ketupat dan sayurannya lalu dimakan ramai-ramai di sepanjang Pantai Senggigi. Jadi, sudah dapat dipastikan jalanan akan macet total dengan kendaraan dan lautan manusia. Anda akan kesulitan menuju Bandara, kecuali berangkat pagi-pagi sekali. Jika memaksakan diri menuju bandara pada siang hari, dipastikan akan menempuh perjalanan berjam-jam  lamanya (sekitar lima sampai enam jam) dan mungkin anda akan ketinggalan pesawat. Informasi ini saya peroleh dari supir taksi.

lebaran-topat guidelombok.com

Perayaan lebaran topat (Sumber foto: guidelombok.com)

Nah, ketika berangkat ke Bandara dari hotel kami memesan taksi Blue Bird. Taksi ini banyak mangkal di sekitar Senggigi dan dapat kita minta pergi kemana saja di seluruh Pulau Lombok. Kali ini saya mendapat pengalaman yang sama mengesankan seperti kisah supir taksi di atas. Kami berangkat dari hotel pukul 16.00 sore WITA. Perkiraan saya akan sampai di Bandara LIA jam 17.30. Dari Senggigi ke Bandara melewati kota Mataram lagi.  Ketika sampai di Ampenan (kota Mataram lama), supir taksi meminta izin menunaikan sholat Ashar. Dia belum sholat Ashar rupanya. Ya sudah, sekalian saja berhenti  di tumah makan ayam taliwang di Ampenan, karena saya ingin membeli ayam taliwang yang terkenal itu untuk dibawa ke Bandung. Di rumah makan itu tersedia mushala. Jadi, sembari menunggu pesanan ayam selesai, supir taksi tadi menunaikan sholat Ashar dulu di mushala.

Begitulah pengalaman saya yang berkesan tentang orang Sasak di Pulau Lombok. Dua sampel (dua orang) saya tentu tidak representatif mewakili kesholehan para supir taksi di sana. Tapi yang saya temukan kebetulan adalah dua sampel yang taat menjalaan kewajibann agama, yaitu sholat.


Written by rinaldimunir

July 13th, 2017 at 4:05 pm

Posted in Cerita perjalanan

“Tembok Ratapan” di Kampus ITB

without comments

Di Kampus ITB ada sebuah tembok (dinding) bangunan yang menjadi kenangan tak terlupakan bagi para mahasiswa dan alumni. Itulah tembok yang terdapat di Gedung Prodi Fisika FMIPA ITB. Gedung Fisika ini berusia sangat tua, setua Aula Barat dan Aula Timur. Ketika ITB (dulu Technische Hoogeschool) dibangun pada tahun 1920, ada empat gedung yang dibangun oleh Belanda, yaitu Aula Barat, Aula Timur, Gedung Teknik Sipil, dan Gedung Fisika ini (lihat foto pada tulisan terdahulu: Foto-Foto Kampus ITB Tempo Doeloe (1920 – 1930)). Gedung Fisika masih terawat dengan baik, lantai marmernya masih sama seperti dibangun tahun 1920-an. Sudah sulit mencari marmer seperti ini sekarang. Motif pada marmer ini sangat unik, jika anda berjalan sambil mata memandang marmer ini, maka kepala menjadi pusing melihat motif garis-garisnya seperti tidak berakhir. Lantai serasa bergoyang karena pusing.

Entah siapa yang memulai memberi nama, mahasiswa ITB mengenal dinding Gedung Prodi Fisika sebagai “tembok ratapan”, mungkin mengambil nama tembok ratapan yang ditangisi oleh orang Yahudi di Yerussalem.

tembok ratapan 1

Lorong Fisika yang sepi, ditinggal para mahasiswa yang mudik. Sebelah kanan adalah “tembok ratapan” mahasiswa TPB. Lantai marmernya yang membuat jalan bergoyang masih terjaga keasliannya sejak tahun 1920.

Kenapa disebut “tembok ratapan”, karena di sepanjang dinding gedung ini terdapat papan pengumuman nilai-nilai dan hasil ujian fisika, salah satunya mata kuliah Fisika Dasar. Fisika Dasar adalah salah satu mata kuliah wajib bagi mahasiwa Tingkat Pertama Bersama (TPB) alias mahasiwa tingkat 1. Seluruh mahasiswa TPB ITB, kecuali mahasiswa FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain) dan SBM (Sekolah Bisnis dan Manajemen),  mendapat mata kuliah yang sama, yaitu Fisika Dasar 1 dan 2, Kalkulus 1 dan 2, dan Kimia Dasar 1 dan 2. Ini tiga mata kuliah dasar yang penting, tetapi di antara ketiganya kuliah Fisika Dasarlah (bobot total 8 SKS) yang diangap paling sulit. Untuk mendapat nilai A saja susah, dapat C saja sudah bersyukur. Sejak dulu sampai sekarang batas nilai A tidak pernah berubah, yaitu 75 ke atas. Nah, untuk memperoleh nilai 75 itu perjuangangannya luar biasa. Saya mengalami sendiri dulu ketika TPB, cara pendekatan materi fisikanya sangat berbeda dengan pelajaran Fisika di SMA. Semua rumus yang memiliki arah diturunkan dengan notasi vektor. Entah kenapa cara belajar fisika saya di SMA menjadi buyar ketika mengambil kuliah Fisika Dasar di ITB. Soal-soal latihan dan ujian fisika dasar terbilang sulit untuk diselesaikan (bagi saya waktu itu :-)). Tapi ahamdulilah lulus juga meskipun tidak A.

Setiap kali selesai UTS dan UAS, di papan pengumuman di dinding ini ditempel solusi ujian, dan tentu saja nilai-nilai ujian mahasiswa. Setiap kali beredar kabar bahwa nilai fsika dasar telah diumumkan, para mahasiswa TPB bergerombol di tembok ini. Mereka merubungi papan pengumuman. Bahkan malam haripun mereka datang melihat sambil menyoroti kertas pengumuman dengan senter. Ada yang senang, bersorak kegirangan, tapi lebih banyak lagi yang sedih berduka melihat nilainya. Di akhir semester, ketika nilai akhir diumumkan, saat itulah puncak emosi dan perasaan mahasiswa. Bagi yang lulus dan tidak ikut ujian reevaluasi tentu bersyukur, meskipun C sudah gembira. Tapi bagi yang mendapat nilai D atau E dan terkena ujian reevaluasi (yang jumlahnya lumayan banyak), maka kecewalah ia sambil meratapi nasibnya. Uuuuu….uuuuu… sedih sekali. Tembok itu menjadi saksi bisu kesedihan para mahasiswa TPB yang merapai nasib malangnya, maka sejak itu dikenal sebagai “tembok ratapan”.

tembok ratapan 2

Bagi para alumni ITB, lorong di gedung Fisika ini menyimpan kenangan yang mendalam. Ketika saya memasang dua foto di atas di laman Fesbuk, foto-foto terebut beredar dengan cepat di media sosial.  Berbagai testimoni dan cerita mereka lontarkan mengenang zaman dulu ketika berada di lorong ini. Sekarang, setelah waktu berlalu sedemikian lama, semuanya menjadi indah untuk dikenang. Lorong tembok ratapan ini ini selalu dirindukan untuk didatangi kembali.


Written by rinaldimunir

July 11th, 2017 at 4:49 pm

Posted in Seputar ITB

Nasib Atlet PSSI yang Merana Dikala Tua

without comments

Kemarin pagi ketika saya sedang duduk-duduk di teras rumah, lewatlah seorang bapak tua yang menjajakan dagangan berupa sapu, ember, dan peralatan rumah lainnya. Karena memang ingin membeli sapu lidi, saya panggillah dia. Harga sapu lidinya Rp25.000. Tanpa saya tawar lagi, saya pun membelinya. Kepada pedagang-pedagang tua seperti bapak ini saya sering tidak tega menawar barang. Ada rasa kasihan melihatnya. Cara terbaik membantu mereka adalah membeli dagangannya, meskipun kita mungkin tidak terlalu membutuhkannya saat itu.

Setelah uang diterima, bapak tua itu berkata begini. “Cep, nanti malam ada Persib di TV lawan Barito Putra”. Saya hanya tersenyum. Saya bukan penyuka bola. Anak saya yang nomor dua yang hobbi bola. “Suka nonton bola, nggak?”, tanyaya. “Nggak aki, anak saya yang suka”, jawab saya.

“Bapak dulu pemain PSSI tahun 1949”, dia melanjutkan kata-katanya.

“Oh ya?”. Saya pun mulai tertarik mendengarkannya. Bapak pedagang sapu itu bernama Suhatman. Menurut ceritanya, dia mantan pemain PSSI tahun 1949 (mungkin maksudnya tahun 1959, saya kurang persis mendengarnya) yang pernah mengharumkan nama Indonesia di berbagai kancah laga internasional. Posisinya sebagai pemain gelandang. Dia pernah bermain di Afghanistan, Australia, dll. Dia masih ingat nama salah satu pemain saat itu, Saelan. Tahun 50-an kesebelasan Indonesia termasuk yang disegani di kawasan Asia.

suhatman1

Tanpa diminta dia bercerita tentang pengalaman main bolanya, pelatihnya, dan kondisi sepakbola Indonsia saat ini. Tak lupa dia memperagakan tendangan andalannya yang ia sebut “tendangan pisang”. Pak Suhatman bercerita, sampai tahun 70-an namanya masih tertulis di Gelora Senayan, tetapi sekarang sudah dihapus, ceritanya sedih. Saya mulai percaya dengan ceritanya. Saya pikir Pak Suhatman ini orang jujur dan tidak  mungkin mengada-ada. Untuk apa dia bercerita soal sepakbola begitu lengkap, tentu bukan karena motif ekonomi.

“Kalau jadi pemain bola nggak dapat uang pensiun”, katanya sedih. Jadilah pada masa tuanya hidup Pak Suhatman merana seperti sekarang. Dulu dia pernah dijanjikan kerja di PLN oleh walikota Bandung (alm) Ateng Wahyudi, tetapi tidak terealisasi. Sekarang dia harus mencari uang sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Agak susah dia mendengar pertanyaan saya karena pendengarannya terganggu. Ini karena dulu kepalanya sering kena sleading bola, katanya. Umurnya saat ini 79 tahun dan masih sehat berjalan. Saya bertanya asalnya darimana, dia jawab dari Rajagaluh, Ciamis. Sekarang dia tinggal di gang sempit di Cicadas. Anak-anaknya sudah meninggal dunia, hanya satu anak perempuannya yang masih hidup, tetapi menantunya tidak suka kepadanya. Pak Suhatman harus mencari hidupnya sendiri.  Berjualan sapu dan ember adalah atas kebaikan seorang Babah Tionghoa yang menjadi majikannya. Semua barang jualan ini adalah milik si Babah. Dia hanya menjualkan saja.

Uang lima puluh ribu untuk membeli sapu tidak saya minta kembaliannya. “Buat Pak Suhatman saja”, kata saya. Dia merasa sangat terharu, dipeluknya saya dan didoakannya saya serta keluarga saya.

suhatman2

Saya tatap kepergian pak Suhatman. Saya merasa iba seorang atlet yang pernah mengharumkan nama Indonesia pada tahun 50-an tetapi hidup mengenaskan pada masa tuanya. Dia tidak sendiri, masih banyak atlet lain yang pernah mengharumkan nama bangsa namun kurang mendapat perhatian Pemerintah, mereka harus bertahan hidup dengan usaha apa saja. Membuka usaha warung, menjadi tukang beca, kuli angkat, tukang ojeg, atau pedagang keliling seperti Pak Suhatman ini.

Semoga Aki Suhatman selalu tetap sehat dan dilindungi oleh Allah SWT. Amin.


Written by rinaldimunir

June 19th, 2017 at 3:30 pm

Berbuka dengan yang Asin

without comments

Pada bulan puasa ini, ada fenomena yang cukup unik saya jumpai di Bandung. Menjelang waktu berbuka puasa, pedagang gorengan ramai dikerubungi pembeli.  Gorengan seperti bala-bala (sejenis bakwan), tempe mendoan, tempe goreng, gehu (tahu goreng yang berisi sayur toge dan kol), comro, cireng, pisang goreng yang  mengkal, perkedel jagung, dan lain-lain, laris dibeli orang.   Semuanya, kecuali pisang goreng, adalah jajanan yang rasanya asin.

gorengan1

Pedagang gorengan di Antapani

Tampilan gorengan yang tampak krispi memang menggoda selera siapapun yang melihatnya.  Di Indonesia gorengan sering menjadi makanan pembuka sebelum makanan utama.  Bila ada gorengan di atas meja, maka itulah yang dicomot lebih dulu. Gorengan adalah makanan pengganjal perut yang sedang lapar. Menikmati gorengan akan lebih enak lagi bila dimakan dengan cabe rawit atau sambal kecap cabe rawit.

Pada bulan puasa, ternyata kebanyakan orang kita lebih suka berbuka puasa dengan  makanan asin ketimbang yang manis. Coba saja anda perhatikan, jika di meja makan tersedia kurma dan gorengan, maka makanan yang diambil pertama kali kebanyakan adalah gorengan. Kurma sendiri kurang begitu “laku”.

gorengan2

Gorengan yang menggoda

Padahal ada hadis Nabi yang mengatakan “berbukalah dengan yang manis”. Jika di negara-negara Arab maksud makanan yang manis itu adalah kurma, tapi karena di Indonesia bukan tempat tumbuh pohon kurma, maka kurma diganti dengan kolak pisang atau makanan manis lainnya.

Memang kolak manis itu juga menjadi ciri hidangan pembuka puasa di tanah air, tetapi jika ia hadir berdampingan dengan gorengan, maka secara psikologis ketika orang lapar makanan yang diambil pertama kali adalah gorengan yang asin itu sebagai pembuka puasa, baru kemudian makan kolaknya.

Meski gorengan itu kurang sehat, ternyata orang Indonesia adalah pencinta gorengan sejati. Asal jangan sering-sering saja sebab kandungan kolesterolnya tinggi.


Written by rinaldimunir

June 15th, 2017 at 1:29 pm

Posted in Gado-gado

Motor, Trotoar, dan Kegagalan Pendidikan Karakter

without comments

Sore hari menjelang waktu buka puasa, lalu lintas menuju kawasan perumahan di Antapani sangat padat. Semua pengendara berpacu agar duluan sampai ke rumah. Berbuka puasa bersama keluarga tentu momen yang selalu dinantikan. Jam-jam rush hour adalah saat sore ketika pulang kantor, yaitu ketika secara bersamaan orang-orang pulang ke rumah. Ruas jalan sempit di samping Jembatan Pelangi Antapani itu disesaki mobil dan motor.  Ruas jalan itu tersendat dan sulit bergerak. Semua pengendara tidak mau mengalah, tidak mau antri.

Pengendara motor yang tidak sabaran akhirnya menjajal trotoar yang diperuntukkan bagi pejalan kaki.  Satu memberi contoh, lalu diikuti oleh pengendara yang laindi belakangnya.

trotoar1

Tanpa merasa bersalah, pengendara motor – yang pasti orang berpendidikan- melaju di atas trotoar. Memang tidak ada pejalan kaki saat itu. Tapi, melaju di atas trotoar tetap saja salah, bukan?

trotoar2

Pemandangan seperti ini, pada saat lalu lintas padat, sering kita temui di mana-mana. Di bawah ini foto bersumberkan dari Antara. Ceritanya masih sama, pemotor yang tidak sabaran dan maunya menang sendiri.

Motor-Naik-Trotoar-020713-AGR-2

Pemgendara motor yang tidak sabaran (Sumber foto: Antara)

Beberapa tahun yang lalu pernah  ada berita yang menjadi viral di media sosial tentang bocah kecil bernama Daffa yang berani menghadang pengendara motor di atas trotoar. Hebatnya lagi, bocah kecil itu tidak takut dibentak pengendara motor.  Dia ingin menunjukkan keyakinannya bahwa berkendaraan di atas trotoar itu salah.

daffa

Daffa menghadang pengendara motor di atas trotoar (Sumber foto: Tribunnews.com)

Tapi, viralnya berita tentang Daffa tidak mampu mengubah perilaku pengendara motor. Dengan berlalunya waktu, orang pun melupakan kisah Daffa, pemotor yang menaiki trotoar pun mulai marak lagi.

Kasus pemotor yang menaiki trotoar adalah salah satu contoh bahwa pendidikan katakter di negara kita belum berhasil. Contoh lainnya adalah budaya antri yang belum menjadi perilaku bangsa kita, orang-orang yang membuang sampah makanan dari atas mobil, merokok di sembarang tempat, meludah sembarangan, dan sebagainya.

Boleh saya katakan bahwa pendidikan di negara kita baru sebatas knowing, belum sampai menjadi doing. Murid-murid  memang diajarkan agar jangan membuang sampah di sembarang tempat, tapi itu baru sebatas pengetahuan saja. Dalam kesehariannya masih banyak anak-anak  bahkan orang dewasa dengan cuek membuang bungkus kemasan makanan dari dalam mobil di atas jalan tol. Makan kacang rebus memang asyik, tapi kulitnya berserakan di atas tanah. Makan permen itu simpel, tapi bungkusnya dibuang ke lantai.

Menyeberanglah di atas zebra cross atau di atas jembatan, tapi orang-orang tetap saja seenaknya menyeberang jalan di mana saja dia suka. Naiklah bus dari halte, tapi orang-orang malas pergi ke halte, mereka menyetop bus atau angkot dari posisi berdirinya sekarang. Supir-supir bus pun menuruti permintaan penumpang yang minta turun di mana saja yang diinginkan penumpang.

Antrilah masuk ke dalam pesawat, tapi orang-orang secara bergerombol berusaha duluan masuk melalui gate tempat pemeriksaan boarding pass. Kenapa mereka tidak mau antri dengan tertib, bukankah nanti semua penumpang akan masuk juga ke dalam pesawat, semuanya sudah mendapat nomor kursi, apa lagi yang dikhawatirkan?

Antrilah naik ke atas kereta, tapi orang-orang berebut naik dan turun kereta. Mungkin untuk kereta commuter yang karcisnya tanpa nomor kursi kita masih bisa agak maklum, mengapa orang-orang  adu cepat naik kereta agar dapat tempat duduk, tapi tetap saja fenomena ini menunjukan orang kita malas antri.

Ketika saya berkunjung ke Jepang beberapa tahun lalu, saya kagum dengan budaya antri mereka. Kereta belum datang, tapi orang-orang sudah antri dengan tertib dalam satu line. Ini adalah antrian untuk masuk ke dalam kereta, padahal keretanya sendiri belum sampai ke stasiun. Tidak ada dorong-dorongan, tidak ada yang menyerobot antrian.

DSCF1019

Antri dengan tertib menunggu kereta.

DSCF1023

Antri dengan tertib menunggu kereta

Selama pola pendidikan di negara kita masih dalam sebatas knowing, maka sangat sulit mengubah karakter bangsa ini. Pendidikan karakter seharusnya sejak dini ditanamkan. Pendidikan karakter yang terbaik adalah by practicing, tidak hanya knowing. Saya dapat cerita dari teman, jika di negara kita anak TK diajarkan sebareg pelajaran mulai dari belajar membaca dan berhitung sederhana, maka di Jepang anak-anak TK diajarkan bagaimana naik kereta, bagaimana antri dan bertransaksi di minimarket atau di supermarket. Jadi, pendidikan dini di sana langsung praktek, yang diaharapkan terbawa jika mereka dewasa. Jika dari kecil sudah terbiasa belajar tertib dan sesuai aturan, maka kelak jika dewasa nanti sudah menjadi perilaku keseharian.


Written by rinaldimunir

June 12th, 2017 at 3:05 pm

Ketika Mahasiswiku Non-Muslim Menanyakan Kantin pada Bulan Puasa

without comments

Suatu hari seorang mahasiswiku yang beragama bukan Islam (non muslim) bertanya kepada saya. Pak, apakah ada kantin yang buka di kampus siang ini?, tanyanya.

Hari ini adalah hari ketiga puasa bulan Ramadhan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, hampir semua kantin di kampus ITB tutup selama bulan puasa (ketika tulisan ini ditulis, ternyata ada satu kantin yang buka, yaitu kantin Eititu di Gedung Student Center).  Saat ini juga memasuki liburan panjang, maka kantin tutup dikarenakan tidak banyak mahasiswa di kampus juga merupakan alasan lainnya.

Tidak ada, jawab saya. Kalau kamu mau makan, kamu bisa pergi ke kantin atau kafe di Jl Gelapnyawang, di belakang Masjid Salman. Apakah kamu bawa bekal dari rumah?, tanya saya lagi.

+ Ada, pak. Saya bawa snack.

Silakan kamu makan di sini saja, di ruang asistenku di sana

+ Saya tidak enak pak sama orang yang puasa.

Tidak apa-apa. Kamu makan di labku nggak akan membuat yang berpuasa jadi batal puasanya. Kami di sini sama-sama bisa mengerti.

Saya memang tidak melarang orang lain untuk makan pada siang hari bulan Ramadhan. Orang yang berpuasa tidak perlu meminta dihormati puasanya, orang lain makan di siang bolong kita tidak boleh melarangnya. Tidak semua orang berpuasa, di lingkungan kita tidak semuanya muslim, ada saudara-suadara sebangsa kita yang tidak ikut berrpuasa. Bahkan tidak semua orang Islam ikut berpuasa. Wanita yang datang bulan, wanita yang hamil, wanita yang sedang menyusui anak, musafir, dan orang yang sedang sakit diperbolehkan tidak menjalankan ibadah puasa. Karena itu, rumah makan yang melayani orang yang tidak berpuasa seharusnya diperbolehkan.

Di Indonesia memang ada pro kontra tentang rumah makan yang buka pada siang hari bulan Ramadhan.  Di daerah yang heterogen seperti Jakarta, Bandung, dan kota-kota multietnis dan agama lainnya, sebagian rumah makan tetap buka. Biasanya mereka masih menunjukkan sikap tenggang rasa dengan tidak membuka rumah makannya secara mencolok.  Jendelanya ditutup dengan tabir kain, atau pintunya tidak dibuka seluruhnya. Di Bandung beberapa rumah makan Padang ada yang buka pada siang hari namun mereka tidak melayani makan di tempat, hanya bisa dibungkus atau tidak makan di sana.

Di daerah yang homogen dan kental keislamannya sudah ada kesepakatan berupa Perda atau aturan yang melarang rumah makan berjualan pada siang hari selama bulan puasa. Sebagai bentuk kearifan lokal, maka aturan tersebut tetaplah harus kita hormati. Saya pernah membaca ada aturan di daerah mayoritas Kristen seperti di Papua yang melarang toko-toko dan pasar buka pada hari Minggu, karena hari Minggu adalah hari khusus untuk beribadah di gereja. Aturan tersebut ditaati oleh pedagang muslim di sana.

Bangsa Indonesia ini sudah sejak dulu tidak punya masalah soal toleransi atau tenggang rasa. Saya teringat pengalaman saya sholat di sebuah ruang di kampus Perguruan Tinggi Swasta Katolik, mereka (teman-teman dosen di PTS tersebut) tidak masalah saya sholat di sana, padahal  di dalam ruang tersebut ada salib dan patung Yesus di dinding, malah saya sholat di bawahnya. Mereka memberi waktu untuk saya melakukan sholat, bahkan menanyakan apakah saya mau sholat dulu sebelum memulai diskusi lagi?

Meskipun saya punya pandangan tidak melarang orang makan pada siang hari bulan puasa, tetapi tetaplah ada satu hal yang perlu diperhatikan. Kalau mau makan, ya makan saja, tidak usah secara demonstratif sengaja menunjukkan makan secara terbuka di depan khalayak yang berpuasa. Kadang-kadang tidak semua orang bisa paham atau mungkin bisa salah paham dengan anda. Maka lebih bijak mencari tempat yang agak tertutup dan silakan makan di sana.

Kembali ke dialog saya dengan mahasiswi tadi.

+ Terima kasih, pak.

Dia pun mencari tempat di sudut lab, memakan bekal snack-nya.


Written by rinaldimunir

June 5th, 2017 at 2:50 pm

Berkas Ujian yang Sayang Dibuang

without comments

Semester genap di ITB baru saja selesai. Nilai-nilai mata kuliah sudah diumumkan. Seperti biasa, pada akhir semester saya selalu membagikan kembali semua berkas milik mahasiswa, baik itu berkas ujian mereka maupun berkas tugas lainnya. Saya taruh di atas meja lab, silakan diambil milik masing-masing. Namun, berkas ujian dan tugas itu seringkali tidak diambil lagi oleh mahasiswa setelah nilai diumumkan. Mungkin mereka merasa tidak perlu lagi, padahal menurut saya mendokumentasikan hasil-hasil pekerjaan dann ujian selama kuliah itu adalah penting.

berkas

Saya sendiri selalu menyimpan hasil-hasil ujian dan tugas sejak S1 hingga S3. Tujuannya bukan sekedar memorabilia untuk bernostalgia, tetapi mengingatkan perjalanan hidup yang pernah dilalui. Baik buruk hasilnya, itu adalah diri kita, sejarah kita.

Kebiasaan menyimpan hasil sekolah ini saya teruskan ke anak saya. Semua berkas ujian mereka, buku catatan, hasil karya, dll (kecuali buku cetak) saya simpan di dalam lemari, sampai penuh tuh lemari. Sampai-sampai istri saya  mengeluh karena lemari sudah penuh. Mau dibuang, tapi saya bilang jangan dulu. Sayang.

Berkas-berkas yang tidak diambil itu sayang sekali jika nanti dikilo di pasar loak lalu berakhir di kios gorengan untuk pembungkus pisang goreng atau pembungkus barang dagangan. Tertera di bungkus gorengan nilai UAS seorang mahasiswa mendapat nilai 35. Saya tersenyum kecut membaca jawaban ujiannya.

Di negara Belanda (cerita teman), berkas-berkas ujian mahasiswa disimpan di lemari universitas. Berkas-berkas itu hanya boleh dimusnahkan setelah 5 tahun (itu artinya setelah mahasiswa yang bersangkutan lulus). Jadi, berkas ujian mahasiswa tidak pernah ditemukan di pasar kertas bekas, tidak seperti di sini yang berakhir menjadi pembungkus gorengan.

Dokumentasi itu penting, sebab ia adalah sejarah diri kita.


Written by rinaldimunir

June 2nd, 2017 at 3:18 pm