if99.net

IF99 ITB

Kebiasaanku Bila Bepergian

without comments

Saya punya beberapa kebiasaan jika bepergian ke luar kota.  Kebiasaan ini saya lakukan adalah hasil lesson learned dari kejadian apes  yang dialami orang kain, Agar kejadian yang sama tidak menimpa saya, maka saya selalu mengamalkan tiga kebiasaan di bawah ini.

Kebiasaan 1.

Kebiasaan saya kalau pergi ke luar kota adalah selalu meninggalkan SIM, STNK, dll di rumah. Saya cukup membawa KTP dan beberapa ATM. Ini untuk mengantisipasi kalau dompet hilang maka tidak seluruh kartu penting hilang.

Sabtu kemarin ketika pergi tugas mengajar ke Lampung saya tinggalkan lagi SIM dan STNK di rumah. Tapi hari Senin saya lupa memasukkannya ke dalam dompet. Alhasil, ketika bawa motor saya baru sadar ketinggalan di rumah. Sudah tangung mau balik lagi ke rumah. Sudah setengah perjalanan. Saya khawatir saja ada polisi yang razia. Jadilah saya celingak-celinguk dan waspada. Lewat jalan alternatif yang tidak ada polisinya. Nakal.

Ketika pulang kantor kekhawatiran yang sama kena razia terulang lagi. Tapi alhamdulilah tidak ada. Polisinya sibuk mengatur kemacetan saat jam pulang kerja.

Sekarang kalau pergi ke luar kota lagi saya harus pasang alarm di HP: ingat, SIM dan STNK di lemari!!! Alarm itu akan berbunyi pada hari Senin pagi.

Kebiasaan 2

Selain meninggalkan SIM dan STNK di rumah, saya juga punya kebiasaan memasukkan dua kartu ATM di dalam tas ransel setiap pergi ke luar kota (saya backpackeran). Saya punya tiga kartu ATM dari tiga bank berbeda: BNI, Muamalat, dan BSM. BNI buat penampungan gaji PNS, Muamalat dan BSM buat masa depan .

Nah, kartu ATM dan Muamalat saya selipkan di dalam tas ransel. Kartu BNI di dalam dompet. Jadi, jika dompet saya hilang atau ketinggalan, saya tidak panik kehabisaan uang buat makan atau beli tiket bus. Masih ada dua kartu ATM di dalam tas ransel. Bayangkan jika kita berada pada situasi dimana tidak kenal seorang pun di sebuah tempat, kemana mau minta uang? Oh ya, saya juga menyelipkan dua atau tiga lembar uang 10.000-an di dalam tas.

Kebiasaan ini saya lakukan berkaca dari pengalaman seorang teman, rekan saya, yang ketinggalan dompet di tempat penginapan. Dia sudah sampai di bandara tujuan, tetapi mau pulang ke rumah tidak punya uang. Setelah dia bongkar semua sudut di dalam tas ranselnya, alhamdulillah nyelip uang 3000.  Dia akhirnya bisa pulang ke rumah naik angkot.  Dia mengatakan sering memasukkan uang receh ke dalam tasnya, siapa tahu nanti diperlukan saat dibutuhkan. Ternyata memang sangat dibutuhkan saat terjepit seperti itu.

Sebuah peribahasa mengatakan jangan simpan semua telur di dalam satu keranjang. Jatuh keranjang, pecah semua telur. Simpanlah telur di dalam beberapa keranjang.

Kebiasaan 3

Kalau berada di bandara lalu KTP ketinggalan atau hilang, bagaimana? Tentuk kita akan kesulitan melakukan check-in, apalagi SIM juga sudah disimpan di rumah.

Kalau berada diluar negeri lalu paspor hilang, bagaimana? Tidak kita tidak bisa melewati imigrasi. Kepulangan tertunda, harus lapor dulu ke Kedubes.

Saya selalu memfoto semua identitas dan kartu penting: KTP, paspor, kartu NPWP, bahkan halaman pertama buku tabungan. Semua foto ada di dalam memori hp. Bukan apa-apa, jaga-jaga saja kalau ada apa-apa. Memang foto KTP atau paspor tidak bisa dijadikan bukti identitas diri di bandara, tetapi sering berguna jika dianggap “pendatang haram” atau orang tidak jelas. Tunjukkan saja foto identitas tersebut bersama tiket pesawat.

Namun ada sisi praktisnya punya foto identitas penting tersebut. Seringkali pihak pengundang meminta foto kartu NPWP, halaman pertama buku tabungan, dan KTP. Buat bukti potongan pajak katanya. Atau minta foto paspor. Buat dibelikan tiket, katanya. Nah, kita kan tidak selalu bawa paspor , NPWP, buku tabungan. Tapi karena fotonya ada di hp, tinggal kirim saja pakai WA atau email via hp. Tidak repot buka laci lemari mencari dan memfotonya lagi.

Dengan teknologi internet yang sangat mudah saat ini, kita pun dapat menyimpan foto-foto itu secara otomatis di private cloud., misalnya di  onedrive atau dropbox. Kita pun dapat mensinkronkan ponsel dengan Google Photo sehingga setiap kali memotret foto langsung terunggah ke onedrive.

Written by rinaldimunir

February 7th, 2019 at 7:10 am

Posted in Pengalamanku

Terbelah (Lagi) karena Pilpres 2019

without comments

Keterbelahan orang Indonesia akibat Pipres 2014 belum sepenuhnya pulih, sekarang keterbelahan itu semakin menguat menjelang Pemilu Presiden (Pilpres) bulan April 2019 mendatang. Penyebabnya adalah jagoan yang bertarung di Pilpres masih yang itu lagi: Jokowi dan Prabowo. Keduanya revenge kembali pada Pilpres 2019.

Pilpres 2014 masih menyisakan kubu-kubuan antara pendukung Jokowi dan Prabowo. Kedua kubu gontok-gontokan di udara melalui media sosial dan media daring.  Perang kata-kata, perang urat syafaf, dan psycological war antar kedua kubu. Saya kira bersamaan dengan berjalannya waktu perseteruan antara dua kubu akan berkurang, ternyata tidak. Pilkada DKI Jakarta 2017 adalah arena perseteruan berikutnya karena dua orang calon gubernur DKI kebetulan dari dua kubu yang itu lagi.

Sekarang  menjelang Pilpres 2019 kita merasakan panasnya suasana perseteruan dua kubu. Kubu petahana dan kubu oposisi. Berbagai sindiran, ujaran kebencian, berita hoaks, adu opini, perdebatan, dan adu komentar antara kedua kubu menghiasi media sosial. Banyak pihak merasakan ketidaknyamanan dengan situasi ini. Di media sosial yang kita ikuti (whatsapp, facebook, instagram, twitter, dll) selalu ada saja teman yang berseberangan dengan kita soal pilihan capres mengirim posting yang memburukkan capres lawan. Kalau sudah begitu, persahabatan dan hubungan pertemanan menjadi terganggu karena posting yang memanas-manaskan itu. Left group, unfriend, dan unfollow adalah tindakan ekstrim yang dilakukan sebagian orang ketika teman yang berseberangan dan selalu memburuk-burukkan capres lawan.

Saya yang aktif di Facebook setidaknya mengamati pendukung seorang capres selalu mengirim posting foto, tautan berita, kata-kata atau video yang berisi hal-hal negatif capres lawan. Seolah-olah dengan mengirim posting yang demikian dia merasa puas menghajar kubu lawan, merasa senang telah mentertawakan kedunguan lawan. Dia  merasa mendapat kepuasan batin dengan mem-posting demikian seolah-olah mengatakan “tuh lihat, capres jagoanmu begitu-begini, capresku nggak seperti capresmu“.

Padahal kedua capres tersebut mungkin baik-baik saja hubungan keduanya, tetapi pendukungnya yang mati-matian membela. Kalau dipikir-pikir, capres yang kita bela mati-matian itu belum tentu masih ingat kepada kita kalau nanti menang. Dia naik tahta, kita ya tetap begitu-begitu saja. Sudah sering terjadi, pemimpin yang kita dukung ternyata jauh dari ekspektasi kita. Saat awal-awal terlihat manisnya, tetapi setalah agak lama berkuasa barulah terlihat boroknya. Janji-janji yang diucapkan selama kampanye ternyata bohong belaka. Janji tinggallah janji.

Sayangnya Pilpres kita kali hanya diiukuti oleh dua pasang calon saja. Jokowi cs dan Prabowo cs.  Kita tidak diberikan pilihan ketiga, karena ketika penjaringan capres, undang-undang Pemilu yang baru seolah-olah memustahilkan muncul capres ketiga. Pasangan capres-cawapres hanya boleh diusulkan parpol atau gabungan parpol yang memiliki kursi di DPR minimal 20%. Itu jumlah kursi dari Pemilu 2014 yang lalu, bukan berdasarkan hasil Pemilu yang sekarang. Pada Pemilu sekarang Pileg dan Pilpres bersamaan, jadi tidak mungkin parliementary threshold itu terpenuhi dari hasil Pileg sekarang. Barulah nanti pada Pilpres 2024 tidak ada parliementary threshold lagi, setiap parpol bebas mengusn capresnya sendiri. Tapi itu kan annti, masih lama.

Apa boleh buat, kita hanya disodorkan dua pilihan itu saja. Baik Jokowi maupun Prabowo menurut saya sama-sama capres yang mengecewakan. Jokowi terlalu banyak berjanji dan tidak ditepati, terlalu sering berutang sehingga terus menumpuk, menggunakan aparat penegak hukum sebagai alat kekuasaan untuk melibas lawan, kurang responsif dengan aspirasi mayoritas. Positifnya dia tipe pekerja, sederhana, merakyat, keluarganya tidak terlibat bisnis yang menggunakan kekuasaanya. Sedangkan Prabowo belum punya track record dalam pemerintahan, sering berbicara tanpa data, dan sudah dua kali kalah. Positifnya dia punya karakter tegas karena dari militer. Itu penilaian dari saya lho, anda boleh setuju atau tidak setuju. Meskipun demikian, nanti saat Pilpres saya harus memilih yang terbaik dari yang terburuk. Saya tidak akan golput.

Saya tidak tahu sampai kapan bangsa ini terus terbelah karena berbeda pilihan capres. Apakah pasca 2019 akan terus terpecah dan kubu-kubuan lagi? Wallahu alam. Menurut pengamatan saya, masih terus terjadinya perseteruan dua kubu pendukung Jokowi dan Prabowo pasca 2014 adalalah karena pihak yang menang tidak mau merangkul pihak yang kalah. Pihak yang kalah terus diwacanakan sebagai oposisi dan kelompok pengganggu. Kalau pasca 2019 pihak yang menang tidak mau merangkul kubu yang kalah, saya yakin bangsa ini akan terus terbelah.

Written by rinaldimunir

January 29th, 2019 at 5:35 pm

Posted in Indonesiaku

Punya SIM Lagi Setelah Hangus

without comments

Selama dua tahun saya mengendarai motor dengan SIM C yang sudah hangus. Mati. Penyebabnya adalah saya lupa memperpanjang SIM. Masa berlaku SIM adalah lima tahun, dan tanggal kadaluarsanya sesuai dengan tanggal lahir kita. Nah, masalahnya saya tidak menyadari kalau SIM saya harus diperpanjang sebelum tanggal kadaluarsanya habis. Lupa, benar-benar lupa. Saya kira masih satu tahun lagi kadaluarsanya. Sekarang kepolisian tidak memberi maaf, lewat satu hari dari tanggal kadaluarsa maka SIM kita hangus. Kita harus daftar ulang untuk membuat SIM baru dari awal lagi, harus tes drive lagi, harus ujian teori lagi.

Saya tidak masalah dalam ujian teori, tetapi tes drive itu yang bikin deg-degan. Kenapa deg-degan, sebab jika gagal melewati salah satu tes drive, misalnya kaki menginjak tanah saat melewati lintasan angka 8, maka tes drive gagal. Jika gagal, kita harus mengulang lagi minggu depannya. Jika gagal lagi, maka datang lagi minggu depan, begitu seterusnya sampai berhasil. Tes melewati angka 8 itu yang paling sulit. Tidak masuk akal memang, mana ada dalam kehidupan sehari-hari kita melewati jalur sempit angka 8. Tetapi, karena tesnya demikian maka ya dijalani saja.

Jarang ada peserta yang lolos tes drive satu kali. Beberapa orang yang pernah mengikuti tes drive menceritakan mereka sampai empat hingga enam kali mengulang baru berhasil lolos tes drive. Itu berarti empat minggu hingga enam minggu harus datang ke kantor polisi. Padahal, untuk mengikuti tes drive ini kita harus antri menunggu giliran. Orang yang mengantri juga banyak. Kita perlu menyediakan waktu setengah hari untuk mengikuti tes drive ini. Tentu kita harus mengorbankan waktu kerja. Kalau berulang-ulang mengikuti tes drive ya rugi waktu juga dan buang-buang tenaga.

Tahun 2016, saya mengamati ujian tes drive di Polrestabes Bandung.

Salah satu tes yang paling sulit adalah melintasi jalur angka 8. Banyak peserta yag gagal.

Orang-orang yang tidak mau bersusah payah mengikuti ujian praktek SIM yang berulang-ulang biasanya mengatakan begini: “Sudahlah, ambil SIM tembak saja, beres!”.  SIM tembak? Ah, saya tidak mau. SIM tembak artinya sama saja memberi suap kepada oknum polisi. Pungli. Tidak mendidik, dan yang jelas dosa memberi suap maupun menerima suap. SIM tembak itu tidak prosedural, jalur pintas, lewat jalan belakang. Membuat SIM tembak artinya melalui oknum polisi, kita tidak perlu ikut tes drive atau ujian teori. Pokoknya tinggal beres. Tapi harganya mahal, ada yang bilang 750 ribu, ada yang bilang 800 ribu. Uang itu entah dibagi buat siapa saja. Saya tidak tahu apakah sekarang masih ada praktek SIM tembak itu, karena kepolisian saat ini sudah berbenah dan lebih disiplin menegakkan aturan.

Karena “takut” gagal mengikuti tes  drive, maka selama dua tahun saya membawa motor dengan SIM yang sudah mati.  Nakal saya ini, melanggar aturan. Benar-benar nekat. Saya terpaksa kucing-kucingan supaya tidak bertemu polisi. Ketika melewati suatu jalan, saya harus waspada apakah ada razia. Jika ada, maka saya harus mencari jalan lain. Dua kali saya pernah apes, kena tilang saat ada razia. Tentu saya kena denda atau ikut pengadilan tilang. Namun, saya tidak mau membayar uang damai kepada polisi yang menawarkan dielesaikan di jalan saja.  Tidak. Saya meminta slip tilang berwarna biru, lalu saya membayar denda tilang di Bank BRI (baca: Kena Tilang (lagi), Slip Biru, dan Anti-korupsi).

Namun, perasaan saya tidak tenang setiap kali membawa motor dengan SIM yang sudah mati. Saya merasa bersalah. Namun, saya juga punya perasaan khawatir gagal melewati tes drive. Saya itu orangnya suka gugup jika menjalankan sebuah hal yang baru (curhat nih).  Untuk menghilangkan rasa bersalah, maka saya putuskan saya harus ikut ujian SIM. Harus, tidak bisa saya tunda-tunda lagi. Tapi bagaimana cara bisa lulus tes drive yang sulit itu?

Seminggu sebelum ikut ujian SIM, saya mengikuti pelatihan tes drive di belakang Lotte Jalan Soekarno-Hatta. Saya baru tahu ternyata ada lembaga pelatihan tes drive, baik untuk motor maupun mobil. Lumayan mahal biayanya, 500 ribu. Di sana saya dilatih sampai bisa (lulus) mengikuti tes drive yang sama persis dengan tes drive di kantor polisi. Memang sulit tes drive ini, beberapa kali saya melanggar plang, beberapa kali kaki terpaksa jatuh ke tanah karena tidak seimbang. Yang sangat sulit itu melewati angka 8 dan zig-zag (slalom test). Tetapi pembimbing di sana melatih terus dan memberikan trik dan tips. Akhirnya setelah beberapa kali dicoba akhirnya bisa juga, dan alhamdulillah lulus. Butuh waktu empat jam berlatih tes drive berkali-kali, sebelum akhirnya saya lulus.  Fiuh… Saya pun mendapat sertifikat lulus tes drive.

Sertifikat telah lulus ujian mengemudi

Ketika mendaftar pembuatan SIM di kantor polisi, sertifikat ini saya bawa saat pendaftaran dan dilampirkan pada formulir. Saya perhatikan hampir semua pemohon SIM (baik SIM A maupun SIM C) saya lihat membawa sertifikat lulus mengemudi.

Setiap pemohon SIM hampir semuanya membawa map yang berisi sertifikat lolos tes drive.

Prosedur pembuatan SIM tetap harus dilalui peserta sebanyak 7 loket. Loket satu sampai loket 7.  Tetap antri di loket manapun. Tetap harus ikut tes teori secara daring di depan komputer.

Tes teori

Serius mengikuti ujian teori

Ada 30 soal, soal-soal ujian umumnya tentang tertib berlalu lintas. Peserta ujian harus menjawab benar 21 soal dari 30 soal. Jika kurang dari 21, maka tidak lulus. Peserta yang tidak lulus ujian teori masuk ke ruang simulator. Di sana Pak Polisi menjelaskan cara tertib berlalu lintas kepada peserta yang tidak lulus ujian teori.

Loket simulator

Masuk ke ruang simulator bagi yang tidak lulus ujian teori.

Akhirnya, tibalah di loket 6, yaitu loket untuk tes drive. Ketika tiba di loket 6, ternyata peserta yang membawa sertifikat tidak dipanggil untuk mengikuti tes drive. Makanya saya tidak heran kenapa arena tes drive di luarnya sepi. Ya, karena pemohon SIM sudah lulus tes drive di tempat pelatihan sehingga tidak diuji lagi.  Apakah ini kebijakan baru di kantor polisi, saya tidak tahu. Hmmm…saya masih bertanya-tanya apakah data hasil kelulusan tes drive di tempat pelatihan tersambung secara online ke kantor polisi? Wallahu alam.

Arena tes drive yang sepi.

Dari loket 6 saya langsung langsung ke loket 7 (loket BRI) untuk pembayaran biaya SIM sebesar 100 ribu (untuk SIM A besarnya 120 ribu). Dan akhirnya SIM baru bisa diambil di ruang sebelahnya. Proses pembuatan SIM ini hanya memakan waktu 2 sampai 3 jam saja, kecuali jika jaringan tiba-tiba mati (offline) seperti hari ini. Sangat mudah membuat SIM sekarang ini. Kepolisian saat ini telah berevolusi menjadi lebih mangkus dan sangkil. Lebih ramah melayani, dan no tips.

Alhamdulillah, sekarang saya sudah memiliki SIM yang baru. Saya jadi tenang membawa motor, tidak takut razia lagi. Saya juga senang karena lulus godaan membuat SIM tembak atau lewat  calo. Saya akui memang saya mengeluarkan biaya tambahan sebesar 500 ribu untuk ikut pelatihan tes mengemudi sehingga biaya membuat SIM menjadi 600 ribu, tidak jauh beda dengan biaya SIM tembak. Tidak masalah. Saya tidak mempersoalkan  biaya tambahan 500 ribu itu, tetapi saya telah menghemat waktu karena tidak ikut tes drive berminggu-minggu di kantor polisi. Uang bisa dicari lagi, tetapi waktu sangat berharga untuk dibuang. Dan yang paling penting, saya telah mengikuti semua ujian SIM secara prosedural, tidak lewat calo atau pakai perantara.

Ayo bikin SIM sendiri tanpa nembak, tanpa calo, dan tanpa pakai biro jasa. Mudah kok dan cepat.

Written by rinaldimunir

January 25th, 2019 at 3:58 pm

Posted in Pengalamanku

Berkunjung ke Kota Kupang

without comments

Beberapa waktu yang lalu saya menginjakkan kaki pertama kali di Tanah Timor, tepatnya ke kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).  Saya berkunjung ke kota Kupang dalam rangka memantau kemajuan hasil penelitian rekan dosen di Politeknik Negeri Kupang. Hibah penelitan ini berasal dari Kemenristekdikti dengan skema PKPT (Peneliti Kerjasama Perguruan Tinggi) dengan ITB sebagai mitranya.

Tidak ada penerbangan langsung dari Bandung ke Kupang, jadi saya menggunakan penerbangan transit. Dari Bandung saya transit di Denpasar dengan Garuda, lalu dari Denpasar terbang dengan maskapai yang sama ke Kupang.  Saya tiba di Bandara El Tari  Kupang pukul 21.30 malam. Rekan saya dosen dari Poltek Kupang, Daniel Bataona,  menjemput di Bandara.

Bandara El Tari Kupang. Ikon alat musik Sasando terlihat di atas nama bandara

Kota Kupang terletak di Pulau Timor dan menjadi ibukota Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).  Propinsi NTT adalah propinsi kepulauan yang mencakup ratusan pulau. Pulau utama adalah Pulau Timor, Pulau Sumba, Pulau Flores, Pulau Alor, dan Pulau Rote. Pulau Timor sendiri terbagi menjadi dua negara. Sebelah timur Pulau Timor adalah negara Timor Leste yang dulu pernah menjadi propinsi ke 27 di Indonesia dengan nama Timor Timur.

Peta Propinsi NTT dengan ibukotanya Kupang  (Sumber: ttps://www.lavalontouristinfo.com/lavalon/map-ntt.htm)

Saya menginap di Hotel Neo yang tidak jauh dari Universitas Cendana (Undana) dan Politeknik Negeri Kupang. Politeknik Negeri Kupang bersebelahan letaknya dengan kampus Undana. Dari kamar hotel saya dapat melihat kalau tanah di kota Kupang banyak  unsur batu karang, sehingga kota Kupang dinamakan juga Kota Karang.

Batu karang yang menyusun tanah kota Kupang. Laut

Kota Kupang bercuaca panas. Panasnya terik.  Curah hujan di sini cukup rendah dibandingkan kota-kota lain di Indonesia. Dikutip dari laman Wikipedia, curah hujan selama tahun 2010 tercatat 1.720,4 mm dan hari hujan sebanyak 152 hari. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari, yaitu tercatat 598,3 mm, sedangkan hari hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember dengan 28 hari hujan.

Meskipun panas, namun saya mengagumi langit di kota Kupang. Langitnya biru bersih tanpa polusi, biru sebenar-benar biru, tanpa ada awan. Saya mengunjungi kota Kupang pada bulan Oktober, masih musim kemarau saat itu. Langit biru bersih seperti ini jarang saya lihat di Pulau Jawa. Saya berfoto di depan rektorat Undana, lihatlah birunya langit di atas kota Kupang. Tidak heran jika observatorium  bintang rencananya akan dibangun di Kota Kupang. Langit di Pulau Jawa sudah terkontaminasi polusi sehingga perlu dibuat observatorium kedua setelah Lembang.

Birunya langit di atas Kota Kupang

Menyusuri jalanan di kota Kupang maka yang saya lihat adalah pemandangan yang kering. Mungkin karena sedang musim kemarau maka pemandangan di kota Kupang sangat khas.  Pohon-pohon sepe, pohon khas di Kupang, berdiri meranggas di sepanjang jalan.

Pemandangan khas sepanjang jalan di kota Kupang, pohon sepe sepanjang jalan

Pohon-pohon sepe di sepanjang jalan di dalam kampus Undana

Di bawah lindungan pohon sepe

Tapi jangan salah, kata teman saya di Kupang, pada buan Desember pohon-pohon sepe itu berbunga dengan indahnya. Bunga-bunga merahnya keluar, menyembul dari balik daun, menjadikanya seperti bunga Sakura yang mekar di Jepang, seperti foto di bawah ini yang bersumber dari situs ini. Foto-foto kota Kupang yang berbunga pada bulan Desember dapat dilihat pada tulisan “Sepe, Sang Bunga Harapan” The December Flower, dan tulisan Mekarnya Bunga Sepe, Jadi Momen Terbaik untuk Traveling ke Kupang.

Pohon sepe berbunga merah pada bulan Desember (Sumber: https://cvaristonkupang.com/2013/11/27/sepe-sang-bunga-harapan-the-december-flower/)

Kota Kupang terletak  di pinggir pantai. Pantainya berpasir putih dan bersih, ombaknya tidak terlalu besar. Salah satu pantai di dalam kota yang saya kunjungi adalah Pantai Pasir Panjang.  Banyak pohon di pantai ini sehingga tidak terasa gerah. Duduk-duduk di sini saja bisa membuat kitatertidur. Anginnya itu sepoi-sepoi menghanyutkan.

Pantai Pasir Panjang

Di pinggir pantai ini ada sebuah restoran seafood yang cukup luas dan asri, di sanalah saya dan teman menikmati makan siang dengan hidangan seafood. Masakan ikan yang khas di Kupang adalah ikan kuah asam. Kuahnya bukan dari santan, tetapi dari air yang yang sudah mengandung bumbu-bumbu seperti kunyit, laos, bawang, cabe rawit, dan-lain, dan tentu saja jeruk asam.  Selain ikan kuah asam, salad tuna juga masakan khas di Kupang.

Rumah makan seafood di pantai Pasir Panjang

Salad ikan tuna yang yummy

Saya sampai lupa menceritakan kalau tugas utama saya ke Kupang adalah melihat kemajuan hasil penelitian penelitian kami di Politeknik Negeri Kupang. Purwarupa aplikasi Powerplan (Power Point menggunakan LAN) diuji coba oleh mahasiswa di dalam kelas. Dengan aplikasi ini, keterbatasan LCD untuk menayangkan slide presentasi dapat teratasi dengan menggunakan Local Area Network.

Mahasiswa Politeknik Kupang sedang melakukan uji coba aplikasi Powerplan

Wajah-wajah mahasiswa khas Kupang

Bersama dosen Politeknik Negeri Kupang

Malam hari di kota Kupang adalah waktu yang tepat menimati ikan segar di Kampung Solor. Kampung Solor adalah salah satu wilayah yang banyak didiami pemukiman muslim, si sini ada kampung nelayan dan pasar kuliner yang rata-rata menawarkan masakan ikan segar, kepiting, udang dan sebagainya. Ikan-ikan hasil tangkapan nelayan Kampung Solor dijejerkan di sepanjang ruas jalan. Kita tinggal pilih ikan yang mana dan mau dimasakkan apa. Mau dibakar, digoreng, atau dibuat masakan kuah asam kuning. Terserah.

Pasar kuliner di Kampung Solor

Ikan-ikan segar hasil tangkapan nelayan di Kampung Solor

Salah satu warung kuliner di Kampung Solor

Hmmm…ikan bakar yang yummy

Tidak lengkap pulang dari Kupang tanpa membawa oleh-oleh. Salah satu oleh-oleh khas koyta Kupang adalah seí. Seí adalah daging asap, yaitu daging yang diawetkan dengan cara diasap selama berjam-jam. Daging yang digunakan bisa daging babi, daging sapi, atau ikan. Seí adalah tradisi mengawetkan makanan yang berasal dari Pulau Rote, tetapi di Kupang dapat kita temukan penjual seí. Karena saya muslim tentu saya mencari seí  yang halal, salah satunya di kedai Ibu Soekiran di Jalan Muhammad Hatta. Seí dapat diolah lagi menjadi aneka masakan, misalnya digoreng, ditumis, digulai, dipindang, dan sebagainya. Orang Kupang sendiri makan seí dengan sambal khas Kupang yaitu sambal luat. Sambal luat terbuat dari cabe rawit dicampur dengan daun kemangi. Harum dan pedas.

Seí sapi dan se’i ikan tuna

Kedai Ibu Soekiran yang menjual seí halal

Esok harinya sebelum pulang ke Bandung (jadwal pesawat saya sore hari), rekan saya di Politeknik Kupang mengajak menikmati jajanan khas NTT di desa  Oesao, di Kabupaten Kupang. Sepanjang jalan menuju Oesao yang saya lihat adalah alam yang kering dan gersang. Penduduk Pulau Timor sudah biasa hidup dengan kondisi alam yang kering dan panas seperti itu. Saya juga melewati pemukiman penduduk Timor Timur pro integrasi, mereka adalah warga Timor Timur yang menolak referendum dan memilih tetap bergabung dengan  Indonesia. Sungguh menyedihkan melihat rumah-rumah mereka yang seperti bedeng dan jauh dari layak. Pemerintah RI seharusnya memperhatikan nasib mereka

Jajanan khas di Oesao jagung pulut. Jagung pulut adalah jagung putih yang digoreng dengan bumbu-bumbu dan dimakan dengan sambal. Hmmm…enak.

Jagung pulut

Kedai cucur

Jalan raya menuju Kab. Timor Tengah Selatan, Atambua, dan Timor Leste

Dari Oesao saya menuju Bandar El Tari untuk kembali ke Bandung. Meskipun dua hari saya di Kupang, tapi cukup banyak yang saya lihat. Insya Allah lain waktu saya ingin ke Kupang lagi. Jika ada kesempatan saya ingin mengunjungi Timor Leste karena jaraknya tidak terlalu jauh dari Kupang.

Ruang tunggu keberangkatan di Bandara El Tari

See you, Kupang!

Written by rinaldimunir

January 17th, 2019 at 5:06 pm

Posted in Cerita perjalanan

Lima Ratus Rupiah yang Berarti

without comments

Beberapa kali melewati sekitar Jalan Supratman Bandung saya sering melihat bapak bersepeda dengan tulisan di depan sepedanya “Isi Korek Gas Keliling”.

Kemarin ketika melewati Jalan Cilaki saya melihatnya lagi. Saya pun menghentikannya untuk mengetahui apa yang dia jual. Oh, ternyata dia menawarkan jasa isi korek gas. Korek gas adalah korek api yang memakai bahan gas.

Biasanya kalau kita menggunakan korek apai gas lalu gasnya sudah habis, korek api gas tersebut kita buang. Tetapi bagi Pak Dedi, demikian namanya, korek gas itu bisa jadi sumber rezeki. Dia menawarkan jasa mengisi korek gas yang kosong, hanya 500 rupiah saja sekali isi. Lima ratus yang tidak berarti apa-apa pada zaman sekarang, tetapi bagi Pak lima ratus rupiah Dedi sangat berarti.

Pak Dedi juga menjual korek gas kosong. Korek gas itu dibelinya dari pemulung, lalu dibentuknya dengan sentuhan seni sehingga meliuk-liuk. Kita bisa membeli korek gas kosong itu beserta isi gasnya. Harganya hanya 2000 rupiah saja beserta isi gasnya, berikut batere kecil untuk pemantik api.

Saya memperhatikan Pak Dedi cara memasukkan gas ke dalam korek kosong. Saya beli tiga buah korek gasnya yang antik itu beserta isi gasnya. Pak Dedi bilang 5000 rupiah saja untuk tiga buah korek api gas beserta isi gasnya. Ketika saya lebihkan membayarnyam, dia kaget. Ini terlalu banyak, katanya. Tidak apa-apa, buat bapak saja, kata saya. Saya pun berlalu meninggalkannya.

Zaman sekarang ketika orang sudah jarang menggunakan kompor minyak tanah, korek api mungkin tidak terlalu diperlukan. Cukup klik kompor gas, lalu kompor menyala. Mungkin korek api gas maupun korek api biasa masih dibutuhkan kaum perokok. Atau, dibutuhkan kalau pergi camping untuk membakar api unggun.

Menurut saya pekerjaan mengisi gas korek ini terbilang unik dan langka, namun masih ada orang yang mau menjalaninya dengan tekun dan tabah. Tuhan selalu punya cara memberikan rezeki bagi makhluk-Nya.

Kalau Anda bertemu Pak Dedi berkeliling di jalan, belilah korek gasnya, atau isilah korek gas yang kosong di rumahmu dengan gas yang dijualnya. Hanya 500 perak saja. Sambil membantu dia mencari rezeki halal.

Written by rinaldimunir

January 15th, 2019 at 3:03 pm

Berdamai dengan Diri Sendiri (Dialog dengan Mahasiswaku)

without comments

Sambil berjalan kaki dari Masjid Salman ke Labtek 5 di Kampus Ganesha, seorang mahasiswa yang ikut berjalan di samping saya menceritakan dirinya yang sekarang telah berubah. Selama dua tahun dia merasa tidak punya motivasi kuliah, tidak semangat, merasa tidak cocok kuliah di Informatika. IPK pas-pasan. Jauh tertinggal dari teman seangkatan.

+ Lalu apa yang membuatmu sekarang berubah? Tanya saya.

– Saya mencoba mengerjakan proyek kecil-kecilan, pak. Tidak apa-apa dibayar murah. Itu cara saya untuk menyukai bidang Informatika.

+ Berapa nilai proyeknya?, tanya saya lagi.

– Satu juta saja, Pak.

+ Oh, tak apa-apa, biar kecil, yang penting kamu mulai menyukai bidangmu. Lalu apa lagi?

– Saya mencoba memasukkan lamaran magang ke beberapa perusahaan dari situs online. Tetapi semua ditolak. Ndak masalah. Saya mau coba cari lagi untuk mengisi liburan semester Desember dan Januari ini.

+ Baguslah. Itu artinya kamu sekarang sudah berdamai dengan dirimu sendiri. Perlu dua tahun untuk merenung. Belum terlambat. Kalau di tingkat empat kamu baru sadar, barulah itu terlambat.

…….

Dialog berakhir. Saya sudah sampai ke ruangan saya. Diapun berbalik pergi.

 

******

Begitulah. Setiap tahun ada saja di antara mahasiswa saya yang keteteran dalam kuliah. Ketinggalan dari teman-temannya yang lain. Penyebabnya macam-macam. Tidak semangat, tidak punya motivasi, malas, kecanduan game, dan sebagainya. Padahal mereka tidaklah bodoh. Kalau bodoh, tentu kamu tidak mungkin bisa lolos masuk Informatika STEI- ITB, kata saya selalu setiap memberi wejangan di kelas. Lolos masuk STEI-ITB itu susah, passing grade-nya paling tinggi se-Indonesia. Seharusnya kamu bersyukur bisa masuk ke sini, kata saya lagi.

Jika tidak mau mengubah diri sendiri, maka dunia tidak akan berubah. Apakah seterusnya malas, merasa kurang semangat? Wejangan dan nasehat setumpuk tidak mempan.

Saya yakin, mereka-mereka yang merasa tidak semangat kuliah itu karena belum berhasil mengalahkan dirinya sendiri. Mereka selalu dihantuai rasa bersalah sebagai orang yang tiada beruna. Hanya menghabiskan kiriman dari orangtua, tetapi di Bandung kuliah tanpa ada rasa.

Untunglah ada saja mahasiswa model begini tersadar. Setahun dua tahun habis waktunya untuk berperang dengan batin. Akhirnya dia bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Dia bangkit dari kekeliruannya yang selama ini sia-sia saja membuangbuang waktu. Mahasiwaku di atas contohnya.

Written by rinaldimunir

January 11th, 2019 at 5:12 pm

“Harta Karun” dari Almarhumah Ibunda; Rezeki Anak Sholeh

without comments

Tukang ojek langganan anakku, yang selama 5 tahun ini selalu mengantar jemput anakku ke sekolah, tiba-tiba mendapat “harta karun” yang tak terkira.

Jadi begini ceritanya (dulu saya pernah tuliskan di sini: Kesabaran Merawat Ibu yang Terkena Stroke).  Tukang ojek ini dan istrinya (mereka belum punya anak) hidupnya susah. Namun dia adalah tipe anak yang berbakti kepada orangtuanya. Sudah tiga tahun lebih ibunya terbaring tidak berdaya di atas kasur karena terkena stroke. Lumpuh. Segala-galanya dilakukan di atas kasur. Tidur, mandi, makan, pipis, BAB, semua di atas kasur. Sudah menipis badannya, tinggal tulang saja.

Namun tukang ojek langganan anakku ini merawat ibunya dengan sabar dan telaten. Sebelum mengantar anakku ke sekolah, dia mandikan dulu ibunya di atas kasur (dilap). Setelah itu diberinya makan. Setiap hari Minggu pagi dijemur di bawah sinar matahari pagi. Selama dia mencari nafkah, istrinya yang di rumah yang mengurus ibunya. Jika ibunya BAB, dia yang membersihkan kotorannya, membersihkan pipisnya. Memang pakai pampers, tapi pampers jika penuh dengan kotoran BAB tetap harus diganti. Satu pampers setiap hari. Sudah habis barang-barang di rumahnya dijual untuk biaya pengobatan dan biaya kebutuhan sehari-hari.

Pekerjaan merawat ibunya ini dilakukan sudah hampir tiga tahun lebih. Pada bulan Agustus 2018 yang lalu, bertepatan saat saya masih menunaikan ibadah haji di Mekkah, ibunya dipanggil oleh Allah SWT. Wafat. Berakhirlah penderitaan ibunya, , dan berakhir pulalah tugas ia merawat ibunya. Mungkin itulah jalan terbaik menurut Allah SWT.

Pada bulan November 2018, ketika tukang ojek anakku membersihkan lemari tua ibunya, dia menemukan “harta karun” tak disangka-sangka. Sebuah surat tanah di Kabupaten Cianjur seluas 5000 meter persegi, terletak di pinggir jalan raya. Selama ini ibunya tidak pernah bercerita tentang surat tanah tersebut.

Bergegas dia dan keluarganya mencari lokasi tanah itu di Cianjur. Ternyata memang benar ada. Karena sudah lama tidak diurus (15 tahun lebih), tanah itu dirawat oleh kelurahan di Cianjur. Tanah masih kosong, hanya ditanami tanaman palawija. Segeralah tanah itu diurus sertifikatnya melalui notaris.

Jika tanah tersebut dijual dengan harga 300.000/M2, dia akan mendapat uang sebesar Rp 1,5 milyar. Mungkin harga bisa naik lagi karena tanah itu terletak di pinggir jalan raya, cocok untuk perumahan atau hotel.

Alhamdulillah, saya pun ikut bersyukur dan berbahagia. Ternyata alamarhumah ibunya meninggalkan warisan berupa “harta karun” yang besar sekali nilainya.

Saya katakan kepadanya, bahwa tanah itu tidak sekedar warisan, tetapi mungkin balasan dari Allah SWT atas baktinya merawat ibunya yang sakit stroke selama bertahun-tahun. Rezeki anak Sholeh.

Written by rinaldimunir

January 7th, 2019 at 4:34 pm

Bapak Penjual Mainan Baling-Baling Angin

without comments

+ Berapa harganya satu pak?
– Sepuluh ribu, cep
+ Saya beli satu ya pak

Uang dan mainan baling-baling dari plastik itu pun berpindah tangan.

Saya sering melihat bapak tua ini berjalan kaki di Jalan Bengawan menenteng kardus yang berisi mainan baling-baling. Setiap hari saya memang melewati jalan ini ketika pergi ke kampus ITB dari rumah, karena di kiri kanan jalan banyak pepohonan, udaranya sejuk, dan tidak terlalu macet dibandingkan jika melewati Jalan Supratman. Beberapa kali saya berpapasan dengan dia. Akhirnya, pada papasan ketiga kalinya saya menghentikan laju sepeda motor saya lalu menunggu dia lewat. Saya ingin membeli mainannya itu.

Baling-baling angin. Ini mainan kanak-kanak, baling-baling yang dapat berputar ketika ditiup angin. Mainan saya waktu kecil dulu. Bedanya dulu baling-baling terbuat dari kertas, kalau yang ini dari plastik berwarna-warni. Batangnya terbuat dari bambu. Bapak saya dulu membelikan mainan ini, lalu saya berlari-lari membawa baling-baling itu. Hei lihat, baling-balingnya berputar. Semakin kencang angin, semakin kencang putarannya.

Tetapi, pada zaman sekarang, ketika mainan serba  elektonik dan anak-anak yang sudah caandu main game di gawai, masih adakah anak-anak di perkotaan yang suka dengan mainan baling-baling angin?  Saya pun tidak punya anak balita lagi, tetapi saya beli saja agar dagangannya laku.

Saya pasang baling-baling itu di bagian depan motor, sehingga baling-baling ini akan berputar ditiup angin bersamaan lajunya motor. Hidup itu laksana baling-baling angin,   terus berputar.

Semoga barokah pak daganganya. Saya pun melajukan motor, meninggalkannya yang terus menyusuri Jalan Bengawan.

Written by rinaldimunir

December 31st, 2018 at 10:48 am

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 12 – HABIS): Hari-hari Terakhir di Mekkah, Selamat Tinggal Tanah Suci Mekkah Al-Mukarramah

without comments

Usai sudah puncak pelaksanaan ibadah haji. Tinggal menghitung hari lagi saya berada di kota Mekkah. sini. Hampir empat puluh hari meninggalkan tanah air, berada di tanah suci. Tiba saatnya untuk berpisah. Sedih? Ya sudah tentu. Ingin lebih lama lagi di sini, tetapi program pemerintah untuk haji hanya 41 hari. Selain itu tugas-tugas di kampus pun sudah menanti. Mahasiswa sudah menunggu. Keluarga di rumah juga sudah menunggu. Tugas-tugas kehidupan adalah arena ibadah selanjutnya.

Bak kata sebuah lagu, ada pertemuan tentu ada pula perpisahan.

“Pertemuan atau berada di Baitullah memiliki makna tersendiri bagi setiap orang yang pernah mengerjakan haji atau umrah.

Ka’bah yang selalu dirindukan

Baitullah bukan hanya sekedar “rumah” yang ditatap hanya sepintas dan kemudian ditinggalkan. Baitullah ternyata menjadi sumber kerinduan bagi seluruh jamaah haji.

Setiap jamaah yang meninggalkan Ka’bah rindu untuk kembali ke sana, bahkan tidak sedikit orang yang meneteskan air mata karenanya. Berbeda dengan ketika melihat dan menyaksikan suatu tempat yang lain yang tanpa kesan dan tidak tertarik lagi untuk kedua kaki dan seterusnya. Memandang Ka’bah menumbuhkan keimanan di dalam hati” (Dikutip dari buku panduan haji Kemenag).

Bagi seorang muslim, tiada satupun tempat di muka bumi ini yang selalu dirindukan untuk ingin dikunjugi lagi, dikunjungi lagi, dan seterusnya, selain Baitullah. Haji memang wajib satu kali saja, tetapi umrah bisa kapan saja selagi masih punya umur, biaya, dan kesempatan. Kalau anda sudah berada di tanah air lalu mendengar teman atau tetangga naik haji atau umrah, mungkn tiba-tiba saja perasaan di dalam dada berkecamuk rindu dengan penuh keharuan. Kapan pula saya akan ke sana lagi?, begitu kira-kira. Mungkin perasaan yang sama akan saya rasakan pula tahun depan ketika melihat postingan teman2 di media sosial yang pamitan naik haji.

Satu per satu jamaah haji gelombang pertama mulai pulang ke tanah air. Kami yang termasuk ke dalam Kloter 07 JKS akan pulang tanggal 29 Agustus 2018 melalui bandara Jeddah. Jamaah haji gelombang kedua masih tetap berada di Mekkah selama 30 hari, lalu kemudian pindah ke kota Madinah dan pulang ke tanah air melalui bandara Madinah.

Dua hari sebelum pulang ke tanah air, kami semua kembali ke Masjidil Haram untuk melaksanakan tawaf wada’ atau tawaf perpisahan. Kami sengaja mengambil waktu tawaf setelah sholat Subuh agar dapat melaksanakan tawaf di plaza di depan Ka’bah. Bus Sholawat sudah mulai berperasi sesudah hari tasyrik. Masjidil Haram sudah mulai agak longgar karena jamaah hai dari berbagai negara sudah mulai pulang ke tanah airnya.

Melaksanakan tawaf perpisahan sungguh mengharukan. Inilah tawaf perpisahan yang sangat mengharukan. Hampir semua jamaah berlinang air mata ketika melakukan tawaf wada’, karena sebentar lagi akan berpisah dengan Baitullah.  Selesai tawaf wada’, kami berdoa dipimpin oleh Pak Ustad. Kami berdoa agar dapat bertemu kembali dengan Baitullah. Dalam doa ada air mata.

Usai berdoa, rombongan jamaah meninggalkan Masjidil Haram, kecuali saya. Saya sengaja memisahkan diri dan belum ingin pulang. Saya ingin duduk lama di depan Ka’bah sebelum saya pulang ke hotel. Sebab, setelah tawaf wada’ ini kita tidak bisa lagi mengunjungi Ka’bah, tidak boleh lagi tawaf. Saya belum ingin berpisah dengan Baitullah. Saya mengambil tempat menyendiri di depan Ka’bah. Saya menumpahkan isi hati saya kepada Allah, menceritakan apa yang yang saya rasakan. Terbayanglah anak-anak saya, terutama si sulung yang matanya selalu sendu. Membuncahlah tangis saya tak tertahankan. Saya menangis tersedu-sedu, saya berdoa, meminta kepada Allah agar si sulung diberi kesembuhan.  Lama sekali saya menangis di depan Ka’bah. Kira-kira setengah jam saya menangis tersedu-sedu sendirian, sementara di depan saya lalu lalang orang-orang yang melaksanakan tawaf. Saya tidak peduli, saya terus menangis, mohon ampunan, memohon lindungan, memohon segala apa yang ada di dalam hati saya. Saya belum pernah menangis tersedu-sedu dalam waktu yang lama seperti ini. Belum pernah.

Setelah tangisan saya berhenti, saya duduk menjauh, tetap masih menghadap Ka’bah. Setelah sholat sunat Dhuha, saya selesaikan khatam Quran saya di depan Ka’bah. Ada beebrapa surat di dalam Juz 30 yang belum selesai saya baca, saya tamatkan di depan Ka’bah hari ini, hari terakhir saya mengunjungi Baitullah. Alhamdulillah, niat saya dari tanah air untuk mengkkhatamkan Al-Quran akhirnya tuntas sudah.

Saya isi air botol air mineral dengan air zam-zam sebanyak-banyaknya. Saya ingin membawa pulang beberapa botol air zam-zam, meskipun Pemerintah Arab Saudi akan memberikan secara gratis 5 liter air zam-zama.

Saya berjalan ke arah pintu keluar Haram melalui jalus sa’i. Mata saya terus menatap Ka’bah. Dan terakhir kali sebelum Ka’bah hilang di pelupuk mata, saya potretlah ia dalam mode siluet.

Pandangan terakhir melihat Ka’bah

Sampai bertemu kembali dengan Baitullah. Mudah-mudahan Allah SWT mengundangku kembali ke sini suatu hari nanti. Amin.

~~~~~~~~~~~~~~

Sehari sebelum kepulangan, semua koper jamaah haji dikumpulkan di lobby hotel untuk dibawa ke bandara. Koper akan lebih dulu dibawa ke bandara Jeddah. Setiap koper ditimbang dan beratnya tidak boleh lebih dari 30 kg. Jangan sekali-sekali mencoba “menyelundupkan” air zamzam ke dalam bagasi, pasti ketahuan, dan koper Anda akan dibuka paksa petugas di Jeddah untuk mengeluarkannya.

Pemeriksaan dan penimbangan bagasi di lobby hotel

Keesokan harinya, setelah sholat Subuh, kami sudah bersiap masuk ke dalam bus-bus untuk menuju kota Jeddah. Setelah ada acara pelepasan oleh petugas haji Indonesia, bus-bus bergerak meninggalkan hotel. Selamat tinggal kota Mekkah.

Perjalanan ke Jeddah menempuh waktu dua jam. Selepas kota Mekkah, pemandangan yang kita lihat hanyalah padang pasir dan bukit batu yang tandus.

Di Bandara King Abdul Aziz Jeddah, jamaah menunggu untuk masuk melalui pintu keberangkatan. Di sini kita mendapat catering makan siang. Inilah catering terakhir dari Kemenag RI.

Di pintu keberangkatan, petugas haji Arab Saudi membagikan Al-Quran gratis dan keping DVD. Banyak sekali pemberian yang diperoleh di bandara ini. Sudah tidak muat lagi tas tenteng untuk menyimpan barang-barang tersebut.

Sebelum masuk ke gate keberangkatan, semua barang bawaan jamaah diperiksa lagi. Sangat lelet sekali pemeriksaannya. Pemeriksaan terhadapa jamaah perempuan lebih lama dibandingkan jamaah pria. Saya antri kira-kira dua jam untuk sampai ke alat pemindai X-ray. Saya lihat banyak jamaah yang menggantungkan di lehernya tabung air dari tembaga yang berisi air zam-zam. Saya pikir tabung air zam-zam maupun botol-botol air zam-zam akan disita, eh, ternyata boleh lewat. Jadi, membawa air zam-zam ke atas pesawat tidak dilarang oleh petugas Arab Saudi, asalkan botol air zam-zam itu ditenteng, tidak dimasukkan ke dalam tas. Jadi, yang tidak boleh itu adalah memasukkan zamzam ke dalam tas, sebab jika tumpah maka dapat berbahaya jika di atas pesawat (korsleting mislanya). Saya yang hanya membawa tiga botol air-zam “sedikit menyesal” kenapa hanya membawa tiga botol saja, padahal kalau saya bawa lebih banyak lagi tidak apa-apa. Tapi ya sudahlah, mungkin rezekis aya segitus aja.

Jam 14.00 siang akhirnya kami bisa boarding ke atas pesawat Saudi Arabian. Pesawat berbadan lebar ini akan mengangkut sekitar 400-an jamaah haji Kloter 07 ke Jakarta. Jamah yang pulang telah berkurang satu karena wafat di Mekkah.

Pulang

Setelah menempuh perjalanan sekitar 9 jam, pada hari Kamis pukul 03.00 pesawat mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Alhamdulillah, sampailah kami kembali ke tanah aii tercinta. Dari landasan Bandara, bus-bus menjemput kami untuk dibawa ke Embarkasi Haji di Bekasi. Di sana setiap jamaah mendapat jerigen berisi 5 liter air zam-zam. Koper-koper bagasi dikembalikan lagi kepada jamaah.

Setelah seremoni singkat serah terima jamaah haji dari Embarkasi Bekasi ke PPIH Kota Bandung, berangkatlah bus-bus rombongan jamaah haji Klotyer 07 JKS menuju kota Bandung.

Selama di dalam perjalanan ke Bandung, saya melakukan kials balik dan merenung. Banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan sejak keberangkatan ke Tanah Suci hingga pulang kembali ke tanah air. Menjadi jamaah haji Indonesia, khususnya yang berangkat melalui Embarkasi Jakarta/Bekasi, mendapat banyak sekali kebajikan dan keistmewaan dari berbagai pihak sebagai berikut:

Di tanah air:
1. Kami mendaat berbagai souvenir dari Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung antara lain  tikar mendong, tempat air minum, payung, tas sandal, dll. Itu belum termasuk souvernir dari bank penerima setoran ONH berupa kain ihram, buku, tas sandal. Khusus kami jamaah haji dari ITB, dilepas oleh pak rektor di rumah dinasnya dan mendapat lagi seabreg souvernir.

2. Makan gratis oleh Pemkot di perjalanan ke Embarkasi waktu pergi dan pulang.

3. Bus rombongan haji dikawal oleh mobil Patwal polisi dari Mapolda Jabar hingga Embarkasi sehingga mendapat prioritas jalan. Bahkan ketika tol Cikampek ditutup karena ada pembangunan jalan LRT, khusus untuk rombongan jamaah haji dibuka khusus. Serasa menjadi tamu VIP. Hal yang sama ketika pulang ke Bandung.

4. Dari Embarkasi Bekasi hingga bandara Cengkareng dikawal lagi oleh patwal.

5. Di Embarkasi mendapat souvernir lagi dari Kemenkes berupa obat2an, payung, masker, tabung semprot, dll. Sudah tidak muat lagi tas dengan berbagai pemberian.

6. Naik ke pesawat tidak melalui gate atau terminal keberangkatan, bus rombongan langsung mengantar jamaah haji dari Embarkasi hingga ke tangga pesawat. Hal yang sama ketika pulang.

7. Pengambilan data biometrik tidak lagi di bandara Saudi, tetapi di Embarkasi Bekasi sehingga mempercepat proses keluar bandara.

8. Pemeriksaan imigrasi di bandara Saudi dipindahkan ke bandara Cengkareng, sehingga tiba di Saudi tidak perlu ke imigrasi lagi, langsung keluar bandara.

9. Mendapat uang living cost sejumlah 1500 riyal atau setara 6 juta rupiah. Sejak dulu hingga sekarang, hanya jamaah haji Indonesia yang mendapat uang living cost selama di Saudi. Pernah tanya ke jamaah negara tetangga, mereka tidak pernah dapat bekal uang.
10. Tidak terhitung doa dari para sejawat, teman, tetangga, handai tolan, hingga dilepas oleh ribuan orang.

Di Saudi:
1. Ada perbaikan menu catering yang tadinya 25 kali menjadi 40 kali.

2. Masuk di perbatasan kota Mekah disambut oleh petugas Saudi dengan mengantarkan makanan dan air zamzam ke dalam bus.

3. Banyak orang Saudi memberi makanan dan minuman gratis kepada jamaah haji di Madinah dan Mekah. Itu mulai dari kurma, air mineral, hingga makanan berat.

4. Tanggal 1 hingga 8 Zulhijjah adalah puncak murah hatinya para dermawan Saudi kepada para jamaah haji. Hampir tiap hari mobil2 dermawan datang ke pemondokan mengantarkan nasi kotak berupa nasi briyani, nasi bukhori, nasi mandhi. Sampai-sampai kita tidak tahu bagaimana menghabiskannya karena baru dapat nasi kotak, tiba lagi nasi kotak baru.

5. Macam-macam souvernir datang lagi ke pemondokan berupa payung, Al-Qur’an, dll.

6. Tim kesehatan (dokter dan perawat) dari Kemenkes siap siaga di maktab jika ada jamaah haji yang sakit. Semua obat dan pelayanan gratis.

7. Pulang lewat bandara Jeddah disambut khusus oleh petugas Saudi dan mendapat lagi paket Qur’an, buku, dan DVD. Tas sudah tidak muat lagi.

Semua keistimewaan tadi sebabnya satu: jamaah haji itu adalah tamu-tamu Allah, sehingga banyak orang/instansi berlomba memuliakan tamu-tamu itu, meskipun kita sebagai jamaah haji tentu tidak pernah meminta perlakuan khusus tadi.

Least but not least: untuk semua kebajikan di atas maka saya teringat ayat ini : “Maka, nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?” (TAMAT)

Written by rinaldimunir

December 21st, 2018 at 5:00 pm

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 11): Melempar Jumrah pada Hari-hari Tasyrik dan Tawaf Ifadah

without comments

Siang hari setelah aktivitas melempar jumrah Aqabah selesai, jamaah yang sudah bangun dari tidurnya memulai aktivitas di dalam dan di sekita tenda. Tidak ada yang dapat dilakukan selain hanya membaca, mengaji, duduk-duduk, ngobrol, tiduran, dan sebagainya. Pasokan catering untuk makan siang dan makan malam tetap datang. Catering makan siang datang pada pukul 10 pagi, sedangkan catering makan malam datang pada sore hari. Di sekitar juga tersedia air panas untuk memasak mie instan, teh, atau kopi.

Saya berjalan-jalan ke luar tenda, karena saya belum melihat suasana perkampungan tenda pada siang hari. Jamaah yang sudah berpakaian biasa terlihat bercengkerama di luar.

Jmaaah haji bercengkerama di luar tenda

Aktivitas yang paling ramai adalah di sekitar toilet merangkap kamar mandi. Puluhan orang antri untuk mandi atau membuang hajat. Jika terlalu lama anda di dalam, seseorang di luar mungkin menggedor-gedor pintu toilet. Ya, harap bertoleransi saja dan menenggang rasa dengan jamaah haji orang lain. Harap dimaklumi juga orang Indoensia tidak bisa menjaga kebersihan. Bungkus shampo, sabun mandi, dan yang paling mengenaskan adalah ceceran BAB orang-orang tua yang tidak bersih membersihkan diri. Oh ya, di dalam toliet ini tersedia selang air panas dan air dingin.

Antri di depan jajaran toilet di sekitar tenda

Saya melihat ke arah jalan di sekitar tenda. Jamaah haji yang tidak punya kegiatan menghabiskan waktu di luar, sembari melihat-lihat dagangan PKL yang juga berjualan secara sembunyi-sembunyi.

Pintu masuk ke perkampungan tenda. Jamaah haji mengerumuni PKL

Saya melongok ke arah jalan. Masih banyak rombongan jamaah haji yang baru pulang melempar jumrah Aqabah. Mereka tetap melempar jumrah pada siang hari. Setiap KBIH memang berbeda-beda dalam  menentukan waktu untuk melempar jumrah. Menurut saya semuanya sah saja karena ada dalilnya masing-masing dan tidka perlu dipersoalkan.

Pulang dari melempar jumrah Aqabah

Adzan Maghrib di Mina menandakan waktu pun berganti hari menjadi tanggal 11 Zulhijjah. Ini berarti hari-hari Tasyrik pun dimulai. Selama hari-hari Tasyrik jamaah haji melempar 3 jumrah, yaitu jumrah Ula, jumrah Wustha, dan jumrah Aqabah. Batu-batu di dalam kantong kecil yang berawran biru masih cukup untuk melempar ketiga jumrah itu. Ustad pembimbing haji mengatakan bahwa kita akan melempar tiga buah jumrah pada pukul 2 dinihari nanti. Jadi, sama seperti tanggal 10 Zulhijjah, kita akan melempar jumrah pada waktu dinihari. Oke, jadi jamaah haji tidur dulu dan bangun lagi pukul 12 malam.

Jam 12 malam kami dibangunkan. Pak Ustad menyuruh kita membawa semua barang bawaan. Lho, mau ke mana, kata saya? Ternyata, setelah melempar tiga buah jumrah nanti, kita langsung kembali ke hotel di Mekkah, tidak kembali lagi ke tenda di Mina. Saya baru paham, berada siang hari di Mina tidak diwajibkan, sebab yang wajib itu adalah mabit (bermalam) di Mina. Barang siapa yang berada siang hari di Mina, maka dia wajib bermalam di Mina. Sementara, kami tidak akan di Mina pada siang hari, tetapi istirahat di hotel saja. Nanti setelah Maghrib kami akan kembali ke Mina untuk mabit. Kebetulan hotel kami di daerah Syisyah 2 tidak jauh dari jamarat, yaitu dibalik bukit batu. Tenda-tenda yang sempit di Mina dengan fasilitas sanitasi yang kurang memadai memang kurang nyaman bagi jamaah haji, jadi kalau bisa istirahat di hotel kenapa tidak.

Jam 2 malam sampailah kami di jamarat. Mula-mula kami melempar jumrah Ula yang berukuran kecil sebanyak tujuh kali, selanjutnya jumrah Wustha sebanyak tujuh kali, dan terakhir melempar  jumrah Aqabah sebanyak tujuh kali. Jamaah haji tidak terlalu padat malam itu sehingga melempar jumrah dapat dilakukan dengan mudah.

Selesai melempar tiga buah jumrah kami meninggalkan jamarat, berjalan kaki menyusuri jalan menuju hotel Syisyah 2. Setelah melewati beberapa bukit batu, jalanan yang padat dengan bus-bus rombongan jamaah haji, sampailah kami ke hotel pukul 4 pagi. Jarak dari jamarat ke hotel kira-kira 3 km. Berjalan kaki adalah kegiatan yang paling banyak dilakukan selama berhaji, jadi fisik harus kuat, badan harus sehat.

Jamarat tidak terlalu jauh dari hotelami Syisyah 2, letaknya di balik bukit batu itu (di kejauhan)

Sesampai di hotel, lega rasanya bertemu dengan kasur dan kamar mandi dengan air yang deras. Setelah sholat Shubuh, maka apalagi yang dilakukan selain tidur. Sungguh melelahkan tetapi menyenangkan sekali pengalaman melempar jumrah pada hari tasyrik pertama.

Sore hari kami berjalan kaki kembali dari hotel ke jamarat. Ya, kami akan melempar tiga buah jumrah pada hari  Tasyrik kedua (12 Zulhijjah). Kita harus berada di Mina sore itu, yang berarti harus bermalam di Mina. Dalam perjalanan dari Syisah 2 ke jamarat, kami melewati ujung terowongan. Itulah terowongan Mina, terowongan yang punya sejarah monumental bagi jamaah haji Indonesia. Di dalam terowongan inilah terjadi tragedi Mina tahun 1990, yaitu bertemunya arus manusia yang mau melontar jumrah dengan arus manusia yg baru pulang melontar jumrah. Tubrukan tidak terhindarkan dan ribuan jamaah mati syahid terinjak-injak. Ada 600 lebih jamaah haji Indonesia yang jadi korban.  Tapi itu dulu. Sekarang sudah dibangun dua terowongan, satu untuk pergi dan satu untuk pulang.

Terowongan Mina

Sore hari sebelum Maghrib kami sudah sampai ke areal jamarat, tapi belum masuk gedung jamarat. Kami akan melempar jumrah setelah lepas tengah malam. Di areal jamarat ini saya menyaksikan ratusan ribu jamaah haji datang dan pergi pada hari-hari tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah) untuk melaksanakan lempar jumrah. Semakin sore semakin padat karena cuaca sudah berkurang kegarangan panasnya. Mungkin mereka sama seperti kami, pada siang hari pulang ke Mekkah, lalu sore hari kembali ke Mina untuk mabit. Saya merinding melihat ratusan ribu jamaah yang mengalir seperti air bah.

Ratusan ribu jamaah bagai air bah mengalir ke jamarat.

Karena hari masih sore, jadi kami duduk-duduk dulu di sini. Ternyata para askar mengusir  jamaah yang duduk-duduk maupun berdiri dalam kelompok-kelompok. Hajj..hajj, teriak mereka mengusir jamaah haji yang berdiri. Ya, jamaah yang duduk atau berdiri (tidak berjalan) dianggap oleh askar menghalanagi pergerakan jamaah haji lainnnya. Askar-askar itu sih inginnya kami terus berjalan kaki ke arah gedung jamarat, tapi kan kami baru akan melempar jumrah pada pukul 2 dinihari nanti.

Berfoto di area jamarat

Sambil menunggu waktu Maghrib, kami mulai membentangkan sajadah di aspal, lalu sholat sunnat. Nah, kalau sedang sholat, maka askar tidak akan berani mengusir orang yang sholat. Sholat Maghrib dan Isya dilakukan dengan niat jamak.

Selesai sholat Maghrib, kami berjalan kaki menuju gdung jamarat. Jalan kakinya pelan-pelan saja, tidak buru-buru, karena waktu melempar jumrah masih lama. Selama dalam perjalanan kami menemui jamaah haji berbagai bangsa dalam kelompok-kelompoknya. Jamaah haji dari Indonesia tampil dengan busana batik yang khas dan membawa bendera yang melambangkab KBIH atau daerah mereka. Sebagian jamaah haji Indonesia sangat unik, mereka berjalan kaki dengan semangat sambil menyanyikan shalawat. Pastilah itu jamaah haji dari kalangan nahdliyin (NU).

Sambil menunggu waktu untuk melempar jumrah, kami duduk-duduk di jembatan lalu  di dekat gedung jamarat. Dari atas jembatan terlihatlah Mina pada waktu malam dibalut cahaya lampu. Ribuan orang ramai berjalan kaki. Di kejauhan juga terlihat restoran ayam goreng yang terkenal di Saudi, yaiyu Al-Baik.

Mina pada waktu malam

Mina pada waktu malam, sangat ramai.

Dari jembatan kami turun ke lantai dasar. Di area lantai dasar sudah penuh dengan jamaah haji dari berbagai bangsa yang juga menunggu waktu lepas tengah malam untuk melempar jumrah. Kami pun mencari tempat yang kosong di lantai aspal, beralaskan tikar atau sajadah untuk sekedar duduk atau tiduran. Sebenarnya tempat ini terlarang buat jamaah haji untuk duduk-duduk. Tiap sebentar datang mobil askar dengan sirinenya yang meraung-raung membubarkan jamaah yang berada di sana. Bandel ya para jamaah haji. Setelah mobil askar pergi, mereka kembali lagi duduk-duduk dan tiduran di sana. Ya mau kemana lagi, tidak ada tempat untuk beristirahat di jamarat.

Duduk-duduk di areal terlarang untuk menunggu waktu tengah malam.

Akhirnya setelah menunggu selama enam jam, waktu menunjukkan pukul 2 dinihari. Kami segera naik ke lantai satu untuk melempar tiga buah jumrah seperti kemarin. Tujuh lempana untuk jumrah Ula, tujuh lemparan untuk jumrah Wustha, dan tujuh lemparan untuk jumrah Aqabah. Berhubung kami mengambil nafar awal, kami tidak melakukan lempar jumrah pada hari tasyrik ketiga. Oleh karena itu, batu-batu yang tersisa di dalam kantung batu harus dibuang ke dasar jumrah. Batu-batu itu tidak boleh dibawa pulang ke tanah air sebagai oleh-oleh atau kenang-kenangan. Cerita dari ustad kami, pernah ada jamaah haji yang membawa pulang batu dari Mina sebagai oleh-oleh, tapi  di tanah air dia sakit-sakitan dan akhirnya meninggal dunia. Percaya atau tidak, maka sebaiknya kita ikuti saja nasihat untuk tidak membawa pulang sisa batu pelepar jumrah ke tanah air supaya tidak terjadi kejadian yang tidak diinginkan.

Oh ya, tadi saya menyinggung tentang nafar awal. Selain nafar awal maka jamaah haji bisa memilih melakukan nafar tsani. Jika melakukan nafar awal, maka kita melempar jumrah hanya pada tanggal 11 dan 12 Zulhijjah saja. Jika melakukan nafar tsani, maka kita melempar jumrah sampai tanggal 13 Zulhijjah. Jika seseorang berada di Mina pada siang hari tanggal 12 Zulhijjah, maka dia harus mabit di Mina tanggal 13 Zulhijjah, dan wajib melempar jumrah pada tanggal 13 Zulhijjah. Kedua nafar ini sama sahnya.

Karena kami melakukan nafar awal, maka kami harus kembali ke Mekkah guna melakukan tawaf ifadah.  Dari jamarat kami berjalan kaki kembali keluar dari Mina. Kami sampai di luar kota Mekkah (saya lupa namanya, mungkin Aziziyah) yang dinihari itu sangat ramai. Ada beberapa hotel jamaah haji Indonesia di sini. Mungkin inilah hotel jamaah haji yang terdekat ke jamarat.

Dari sini perjalanan ke Masjidil Haram akan ditempuh dengan berjalan kaki. Sebagian jamaah yang tidak kuat lagi berjalan kaki memilih menyewa taksi ramai-ramai ke Masjidil Haram. Saya memilih berjalan kaki saja ke Haram bersama teman yang lain. Menurut saya ini perjalanan spiritual, jadi lebih baik berjalan kaki saja samil meresapi suasana batiniah yang tidak akan terlupakan seumur hidup.

Perjalanan ke Masjidil Haram kira-kira jauhnya 5 km. Saya dan beberapa jamaah lain berjalan kaki melewati jalanan kota Mekkah yang tetap ramai. Sesekali berhenti untuk istirahat dan minum teh yang dijual di pinggir jalan. Sungguh suasana dinihari itu sangat syahdu bagi saya. Alhamdulillah kaki saya masih kuat berjalan.

Kami pun sampai di mulut sebuah terowongan. Ini adalah terowongan yang sering saya lalui jika naik bus sholawat ke Haram. Ini berarti di ujung terowongan sana adalah terminal bus Syib Amir. Dengan kata lain sebentar lagi saya akan sampai di Masjidil Haram. Panjang terowongan ini 800 meter.

Terowongan ke arah terminal Syib Amir

Bejalan di dalam terowongan. JHarus hati-hati karena kendaraan melaju kencang. Tidak ada trotoar.

Di ujung terowongan terlihatlah Menara Zamzam beridiri dengan megah. Allahu Akbar, saya sudah sampai kembali ke Haram. Adzan Subuh berkumaandang tepat ketika kami sampai. Kami pun segera berlari untuk mengejar tempat buat sholat subuh. Masjidil Haram saat itu tidak ramai. Masih sepi saat itu karena sebagian besar jamaah masih berada di Mina. Tentu saja, karena sebagian besar jamaah haji masih berada di MinaMungkin setelah matahari sepenggalahan naik Masjidil Haram akan semakin ramai.

Selesai sholat subuh, kami turun ke mataf untuk melaksanakan tawaf ifadah. Karena jamaah tidak ramai, maka tawaf ifadah dapat dilakukan lebih cepat. Selesai tawaf ifadah, saya duduk di mataf setelah usai melaksanakan tawaf Ifadah usai sholat subuh. Duduk memandangi Baitullah, Ka’bah yang menjadi pusat kiblat ummat Islam sedunia.

Duduk memandangi Ka’bah usai tawaf ifadah

Tinggal menghitung hari lagi saya di sini. Hampir empat puluh hari meninggalkan tanah air, berada di tanah suci. Tiba saatnya untuk berpisah. Sedih? Ya sudah tentu. Ingin lebih lama lagi di sini, tetapi program pemerintah untuk haji hanya 41 hari. Selain itu tugas-tugas di kampus pun sudah menanti. Mahasiswa sudah menunggu. Keluarga di rumah juga sudah menunggu. Tugas-tugas kehidupan adalah arena ibadah selanjutnya.

Tawaf ifadah bukanlah tawaf wada’. Jadi, setelah melakukan tawaf ifadah, sholat di maqam Ibrahim, minum air zam-zam, lalu jamaah haji melakukan ibadah sa’i antara Safa dan Marwa. Dengan demikian tuntaslah rangkaian ibadah haji, sebelum nanti ditutup dengan tawaf Wada’ sebelum kembali ke tanah air. Kami kembali ke hotel dengan taksi, karena bus Sholawat belum beroperasi. Tarif taksi melambung tinggi pada hari-hari setelah melempar jumrah. Saya berlima dengan teman membayar 250 riyal, per orangnya 50 riyal.

Tiba di hotel, saya dan teman-teman menggunduli rambut. Ada teman yang membawa alat cukur dari Bandung, jadi kami tidak perlu pergi ke barber shop. Inilah sunnah yang dilakukan setelah rangkaian ibadah haji selesai. Ini pula pertama kali saya gundul, karena saya belum pernah botak, he..he..he. Huffff…mengantuk sekali, capai sekali selama tiga hari dua malam ini.  Waktunya membayar utang tidur dengan tidur pulas siang hari ini. (BERSAMBUNG).

Written by rinaldimunir

December 17th, 2018 at 3:23 pm