if99.net

IF99 ITB

Pengalaman Minum Obat Tidur

without comments

Mungkin ini salah satu pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan, yaitu pernah mengkonsumsi obat tidur!  Seumur hidup inilah pertama kali saya mengkonsumsi obat semacam ini.

Jadi ceritanya begini. Seusai lebaran kemaren, saya pernah dua hari dua malam tidak bisa tidur. Mata tidak bisa dipejamkan  sepicingpun. Sudah bolak-balik badan saya di atas kasur, tapi mata tetap melek. Sudah beberapa doa dan surat di dalam Al-Quran saya baca tetapi tetap tidak bisa tidur juga. Sampai adzan subuh berkumandang saya belum berhasil tidur.  Istilah ilmiahnya saya mengalami insomnia.

Efeknya terasa pada siang hari. Badan saya kleyeng-kleyengan kata orang Jawa, tidak nyaman, pusing, tidak bisa konsentrasi.  Badan terasa lelah. Mata terasa sangat berat tetapi tidak ada rasa mengantuk. Tidak enaklah pokoknya.

Dua hari tidak bisa tidur, maka saya tidak ingin pada hari ketiga juga tidak bisa tidur. Lalu, saya pun mengunjungi dokter umum. Dokter mengatakan saya mungkin mengalami stres atau banyak pikiran sehingga tidak bisa tidur. Banyak pikiran? Mungkin juga. Menjelang keberangkatan haji, seperti yang saya ceritakan pada tulisan sebelumnya, saya memang sering kepikiran. Kepikiran anak sulung, kepikiran segala macam. Meskipun kepikiran itu hanya selintas-selintas saja melayang di dalam otak, tetapi terbawa ke tempat tidur. Akibatnya ya begini, saya tidak bisa tidur sepicingpun. Insomnia!

Saya minta solusinya kepada dokter. Saya ingin tidur barang sejam dua jam tak apalah. Dokter memberi saya lima butir obat namanya Alganax. Dari internet saya ketahui kalau Alganax adalah sejenis obat penenang yang memberi efek mengantuk. Semacam valium lah. Obat ini diminum satu butir setelah makan malam. Dosis obat yang diberikan adalah 0.5 mg.

Malam harinya saya minum satu butir Alganax. Beberapa jam kemudian saya merasa mengantuk berat. Akhirnya saya benar-benar bisa tertidur pulas sampai adzan Subuh. Keesokan harinya badan saya merasa segar kembali.

Pada malam kedua saya minum satu butir lagi. Saya memang bisa tidur seperti pada hari sebelumnya.

Tetapi, pada hari ketiga, saya tidak mau meminum lagi. Saya tidak ingin tergantung pada obat tidur ini. Dua butir saja cukup, sisanya tidak mau saya habiskan.  Pada dasarnya semua obat penenang memberi efek kecanduan, yang jika dikonsumsi dalam jangka waktu lama bisa membuat penggunanya seperti pecandu narkoba: harus tersedia, jika tidak ada maka diri akan merasa gelisah, badan tidak enak, dan sebagainya.

Pada hari ketiga dan keempat setelah saya tidak mau minum obat tidur itu lagi, memang mata sulit dipejamkan. Saya mencoba berbagai tips agar bisa tidur, misalnya kamar dibuat dalam keadaan gelap gulita, tidak boleh ada cahaya sedikitpun. Semua jam yang berbunyi saya turunkan,  minum susu hangat, madu, bahkan mandi air hangat. Setelah berjuang berjam-jam untuk tidur, memang saya bisa tidur sebentar tapi terbangun lagi. Setelah terbangun saya tidak bisa tidur lagi. Intinya saya tidak bisa tidur lelap. Kejadian ini berlangsung selama beberapa hari yang membuat badan saya drop. Tetapi, demi tidak mau minum obat tidur lagi, hal ini harus dilalui supaya efek ketergantungan itu hilang.

Saya berkesimpulan bahwa penyebab insomnia ini yang harus diatasi terlebih dahulu, bukan solusinya dengan obat.  Obat tidur atau obat penenang hanya memberi ketenangan yang semu. Efek mengantuknya tidak alami, tetapi karena dirangsang oleh zat kimia dari obat. Kalau memang saya tidak bisa tidur karena banyak pikiran menjelang berangkat haji, maka masalah inilah yang harus diselesaikan.  Lalu, saya bermunajat kepada Allah SWT, saya memasrahkan diri saya kepada-Nya, ikhlas lahir batin. Semua saya serahkan kepada Allah, baik keluarga saya, anak saya, maupun harta benda saya. Saya minta diampuni semua dosa dan kesalahan saya.

Pada hari kelima dan seterusnya saya bisa juga tidur, tetapi setelah larut malam baru mata bisa terpejam. Tak apalah, daripada tidak bisa tidur sama sekali. Dua jam pun cukup.

Sekarang saya sudah bisa tidur lagi. Sebagai pengganti obat tidur dari dokter, saya menggunakan beberapa herbal. Saya pesan teh Chammomile lewat Tokopedia. Saya coba minum larutan serbuk buah pala dicampur madu. Saya juga minum suplemen. Alhamdulillah, saya berhasil  tidur lama dan badan saya mulai merasa segar kembali.

Written by rinaldimunir

July 6th, 2018 at 4:50 pm

Posted in Pengalamanku

Rindu dengan Rasulullah

without comments

Insya Allah tinggal dua minggu lagi saya akan berangkat menunaikan haji ke Tanah Suci. Berbagai perasaan tentu telah berkecamuk di dalam hati saya menjelang keberangkatan. Antara bahagia, sedih, dan gembira. Bahagia karena saya akan menjadi tamu Allah SWT di Rumah-Nya di Baitulah. Gembira karena saya akan bertemu kembali dengan Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan saya akan berada di samping Rasulullah meskipun hanya maqamnya saja. Sedih karena harus meninggalkan keluarga, terutama anak dan istri yang saya sayangi. Tetapi, saya telah memasrahkan diri kepada Allah SWT  sepenuh hati lahir dan batin agar perjalanan haji ini dilancarkan dan berharap mendapat haji yang mabrur.

Meskipun saya telah pernah pergi ke Tanah Suci untuk melaksanakan Umrah tahun 2015, namun haji adalah puncak dari Rukun Islam. Haji itu adalah wukuf di Arafah, demikian kata Rasulullah, maka haji tanpa wukuf di Arah adalah tidak sah. Umrah yang saya lakukan hanya sebatas Thawaf dan Sa’i, maka itu bukanlah ibadah haji.

Orang yang pernah pergi ke Tanah Suci Makkah dan Madinah, baik untuk berumrah maupun berbadah haji, maka di dalam dirinya selalu muncul keinginan untuk kembali dan kembali lagi ke Tanah Suci. Tanah Suci Makkah dan Madinah adalah dua tempat yang selalu dirindukan untuk didatangi lagi, berkali-kali jika ada kesempatan (waktu dan biaya). Tidak heran banyak orang umrah berkali-kali meskipun tidak wajib, tetapi perasaan rindu itu telah mengikat batin untuk datang berkali-kali ke sana.

Sebuah tempat yang saya rindukan untuk selalu berada di sisinya adalah maqam Rasulullah. Maqam Rasulullah terdapat di dalam Masjid Nabawi di Madinah. Saya pernah duduk di samping maqam Rasulullah, Nabi Muhammad SAW, ketika umrah tiga tahun lalu. Kisah ini saya ceritkan dalam tulisan berjudul Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 3): Di dalam Masjid Nabawi. Saya duduk di area Raudhah. Raudhah adalah tempat yang terletak di antara rumah Nabi dan mimbar Nabi. Seperti diketahui, Nabi dimakamkan di dalam rumahnya, dan rumahnya kini sudah menyatu di dalam Masjid Nabawi.

DSC_0511

Jamaah menyesaki Raudhah. Di kejauhan tampak maqam Nabi yang berawarna hijau

Kadang-kadang saya duduk persis di sebelah maqam Nabi. Tidak terbayangkan oleh saya bisa berada sedekat itu dengan Rasulullah meskipun hanya duduk di samping jasadnya yang sudah berada di dalam tanah. Saya bayangkan dulu Nabi bolak-balik pergi melewati tempat saya duduk dari rumahnya menuju mimbar di dalam masjid, dan sekarang saya hanya bisa mengenangnya. Shalawat dan salam ya Rasulullah.

DSC_0525

Maqam Rasulullah di dalam Masjid Nabawi, dahulu adalah rumahnya. Maqam ini ditutup dengan pintu besi berwarna hijau dan menyisakan beberapa lubang untuk melihat ke dalamnya.

Sungguh saya tidak percaya, sedekat itu saya berada di samping Rasulullah, meskipun terpisah oleh waktu selama ribuan tahun. Tetapi saya saat itu duduk di dekatnya. Rasulullah Muhammad SAW, lelaki yang agung yang dicintai oleh ratusan juta ummat Islam di seluruh dunia. Namanya selalu diucapkan setiap hari, seluruh ummat mendambakan syafaatnya pada Hari Akhir nanti.

Ketika saya mendengarkan lagu dari penyanyi Maher Zain yang berjudul Ya Nabi Salam Alaika, tiba-tiba saja kerinduan saya kepada Rasulullah membuncah demikian hebatnya. Tidak terasa mata saya terasa basah, membayangkan lelaki yang telah membawa ummat manusia ke jalan keselamatan.

Lirik lagu Ya Nabi Salam Alaika:

Anta nurullahi fajran
Ji’ta ba’dal usri yusran
Rabbuna ‘alaka qadran
Ya imamal anbiya’i

Anta fil wujdani hayyun
Anta lil ainaini dhoyyun
Anta indal haudhiriyyun
Anta hadun wa shafiyyun
Ya habibi ya Muhammad

Ya nabi salam alaika
Ya rassul salam alaika
Ya habib salam alaika
Shalawatullah alaika

Yartawi bil hubbi qalbi
Hubbi khairi rusli Rabbi
Man bihi abshortu darbi
Ya syafi’i ya Rasulallah

Ayyuhal mukhtaru fina
Zadanal hubbu haniina
Ji’tana bil khairidiina
Ya khitamal mursalina
Ya habibi ya Muhammad

Ya Nabi salam alaika
Ya Rasul salam alaika
Ya Habib salam alaika
Shalawatullah alaika

 

Terjemahan:

Engkaulah cahaya pada waktu fajar
Engkau datang setelah kesulitan (dan menjadikannya) kemudahan
Tuhan kami telah mengangkat derajat atasmu
Wahai pemimpin para nabi

Engkau berada di dalam hati nurani yang hidup
Engkaulah cahaya untuk kedua mataku
Engkaulah aliran air pada sungai
Engkau adalah petunjuk yang sesungguhnya
Wahai kekasihku ya Muhammad

Wahai Nabi keselamatan (tercurah) atasmu
Wahai Rasul keselamatan (tercurah) atasmu
Wahai kekasih keselamatan (tercurah) atasmu
(semoga) shalawat (rahmat) Allah (tercurah atasmu

Cinta yang tak terpadamkan di dalam hatiku
Cinta(kepada) utusan terbaik dari Tuhanku
Barangsiapa yang bersama kulihat (berada) di jalan (Allah)
Wahai perantaraku wahai Rasululullah

Wahai yang terpilih diantara kami
Cinta kami mendorong rasa rindu kami
Engkau datang kepada kami dengan agamayang terbaik
Wahai penutup orang-orang yang diutus
Wahai kekasihku wahai Muhammad

~~~~~~~~~~~~

Ya Nabi salam ‘alaika shalawat dan salam tercurah untukmu.

Written by rinaldimunir

July 3rd, 2018 at 3:36 pm

Posted in Agama,Pengalamanku

Tragedi Danau Toba yang Memilukan

without comments

Liburan Idul Fitri tahun ini diwarnai berita yang kecelakaan yang memilukan. Pada tanggal 18 Juni 2018 sebuah kapal penyeberangan di Danau Toba, KM Sinar Bangun, yang mengangkut lebih dari 200 orang penumpang serta puluhan kendaraan bermotor tenggelam di danau yang sangat dalam itu (450-500 meter dalamnya).  Hanya ada 18 orang penumpang selamat, tiga orang ditemukan meninggal dunia, dan ratusan lainnya masih hilang, diduga ikut tenggelam ke dasar Danau Toba bersama kapal yang nahas itu. Kapal berangkat dari Pulau Samosir yang berada di tengah danau dan hendak menyerang ke daerah Simalungun di daratan Sumatera (berita di sini). Penumpang kapal mungkin sebagian besar adalah wisatawan yang jalan-jalan ke Pulau Samosir.

Menurut penuturan penumpang yang selamat, kapal dihantam badai dan gelombang besar ketika berlayar (Baca: Video Detik-detik Menakutkan Kapal Tenggelam di Danau Toba). Tetapi faktor lain yang membuat kapal itu tenggelam adalah over kapasitas atau kelebihan muatan. Seharusnya kapal hanya boleh membawa penumpang maximum 80 orang, tetapi jumlah yang diangkut didiuga mencapai 200 orang lebih.  Di bawah ini foto penampakan KM Sinar Bangun yang saya peroleh dari media sosial, saya tidak tahu apakah ini foto sebelum keberangkatan pada harii yang nahas itu atau foto pelayaran sebelumnya. Lihatlah puluhan motor berjajar di pinggir kapal, sementara penumpang yangmembludak sampai duduk di atas kapal.

sinarbangun

Penampakan KM Sinar Bangun yang over kapasitas

Tahun lalu kami sefakultas jalan-jalan ke Danau Toba dan Pulau Samosir. Sungguh takjub saya menyaksikan Danau Toba, selain indah juga sangat-sangat luas.  Karena sangat  tidak terkira luasnya, maka ia tampak lebih mirip lautan ketimbang danau. Dengan bentang danau yang sangat luas itu, sangatlah mungkin di tengahnya terjadi badai dan gelombang besar mirip di lautan.

Danau Toba yang sangat luas tampak dari Taman Simalem di Bukit Simarjarunjung

Danau Toba dari atas Taman Simalem

Danau Toba dan Pulau Samosir di tengahnya (Sumber gambar: Wikipedia)

Kembali ke soal keecelakaan kapal  di Daau Toba tadi. Siapakah yang salah? Pada kodnisi prihatin seperti ini saling menyalahkan tidak ada gunanya. Nakhoda kapal jelas harus bertanggung jawab karena dia tidak memperhatikan faktor keselamatan kapal, penumpang diangkut sebanyak-banyaknya mumpung sedang ramai.  Kendaraan (motor) dibawa dalam jumlah banyak seperti pada foto di atas. Nakhoda juga tidak memeprhatikan faktor cuaca, tidak memantau informasi datri BMKG.

Tetapi kita juga menyayangkan kurangnya perhatian pada angkutan danau. Kita punya lembaga ASDP, Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan, namun kalau saya perhatikan ASDP lebih sering mengurusi pelayaran penyeberangan di laut seperti kapal ferry. Padahal negara kita mempunyai beberapa danau yang luas, misalnya selain Danau Toba adalah Danau Singkarak, Danau Sentani, Danau Maninjau, Danau Ranau, Danau Sempayang, dan lain-lain.  Di danau yang luas maupun kecil penyeberangan dari suatu titik ke titik lain di pinggir danau sering tidak terawasi. Kalau sudah ada kejadian, barulah kita menyadari kealpaan selama ini.

Written by rinaldimunir

June 26th, 2018 at 7:35 am

Posted in Indonesiaku

Island hopping around Morotai island, North Maluku with…

without comments

Island hopping around Morotai island, North Maluku with Instagrammers. That blue everywhere. ?????? #instameet #morotai #thatday (di Pulau Morotai) via https://ift.tt/2MGQeAh

Written by Veriyanta Kusuma

June 20th, 2018 at 4:28 pm

Posted in Uncategorized

Warping through the bridge #jakarta #urban (di Jakarta,…

without comments

Warping through the bridge #jakarta #urban (di Jakarta, Indonesia) via https://ift.tt/2tmboLi

Written by Veriyanta Kusuma

June 20th, 2018 at 4:28 pm

Posted in Uncategorized

Island hopping around Morotai island, North Maluku with…

without comments

Island hopping around Morotai island, North Maluku with Instagrammers. That blue everywhere. ?????? #instameet #morotai #thatday (di Pulau Morotai) via https://ift.tt/2MGQeAh

Written by Veriyanta Kusuma

June 20th, 2018 at 4:28 pm

Posted in Uncategorized

Warping through the bridge #jakarta #urban (di Jakarta,…

without comments

Warping through the bridge #jakarta #urban (di Jakarta, Indonesia) via https://ift.tt/2tmboLi

Written by Veriyanta Kusuma

June 20th, 2018 at 4:28 pm

Posted in Uncategorized

Kenangan di Pelabuhan Teluk Bayur

without comments

Masa-masa alrus balik lebaran yang berlangsung hari-hari ini membuat saya teringat dengan sebuah foto lama. Ini foto kenangan saya di pelabuhan Teluk Bayur Padang tahun 1998, saat saya balik ke perantauan ke tanah Jawa setelah mudik lebaran ke kampung halaman. Saya masih bujangan saat itu, baru beberapa tahun menjadi dosen di ITB. Balik ke pulau Jawa menumpang kapal PT PELNI bernama KM Lambelu. Saya diantar ke pelabuhan Teluk Bayur oleh orangtua (alm) dan saudara.

Di depan KM Lambelu, Teluk Bayur Padang

Saat itu pulang mudik dan balik naik kapal laut adalah pilihan yang menyenangkan. Pesawat low cost carrier seperti Lion Air dan lainnya belum ada, pesawat hanya ada Garuda, Merpati, dan Sempati Air (milik Tommy Soeharto ). Harga tiket pesawat masih terasa mahal, sedangkan naik kapal laut masih lebih murah. Di atas kapal laut kita bertemu dengan teman2 seperantauan. Tidur di kelas ekonomi (dek) atau paling banter di kelas 4 yang sekamar 8 orang.

Kapal Pelni yang singgah ke Teluk Bayur saat itu adalah KM Kerinci, KM Kambuna, KM Lawit, dan KM Lambelu. Butuh waktu perjalanan dua hari satu malam mengarungi Samudera Hindia menuju Tanjung Priok, Jakarta. Dari Tanjung Priok perjalanan diteruskan ke Bandung naik bus atau kereta api.

Ada kesan yang mendalam setiap naik kapal dari Teluk Bayur, terutama ketika naik KM Kerinci. Ketika kapal mulai bertolak dari pelabuhan, dari pengeras suara di atas kapal diputarlah lagu legendaris ” Teluk Bayur” dari Ernie Djohan yang terkenal itu, menggema ke seluruh ruang-ruang kapal dan sampai terdengar hingga dermaga. Begini syair lagunya:

“Selamat tinggal Teluk Bayur permai
Aku pergi jauh ke negeri seberang
Ku kan mencari ilmu di negeri orang
Bekal hidup kelak di hari tua

Selamat tinggal kasihku yang tercinta
Doakan agar ku cepat kembali
Kuharapkan suratmu setiap minggu
Kan ku jadikan pembunuh rindu

Lambaian tanganmu kurasakan ngilu di dada
Kasih sayangku bertambah padamu
Air mata berlinang tak terasa kan olehku
Nantikanlah aku di Teluk Bayur”

https://m.youtube.com/watch?v=2nMmX7masBE

Suasananya memang pas sekali, melankolis, yaitu menceritakan perpisahan di Teluk Bayur. Ketika lagu itu diputar, hampir semua penumpang berdiri di pinggir kapal melambai-lambaikan tangan ke para pengantar di dermaga. Di dermaga para pengantar berjalan semakin mendekati bibir dermaga sambil melambaikan tangan tanda perpisahan. Syair lagu tadi begitu meresap, tak terasa air mata pun berlinang-linang, banyak penumpang kapal menangis terisak-isak termasuk saya sendiri tentunya, seakan-akan pergi tidak bertemu lagi. Salut bagi kapten kapal yang pandai mengharu-biru emosi penumpang kapal dengan lagu itu sehingga penumpang merasa berkesan naik kapalnya.

Sekarang sudah tidak ada kapal Pelni menyinggahi pelabuhan Teluk Bayur lagi, kalah bersaing dengan Lion Air dkk. Orang awak lebih memilih naik pesawat daripada kapal laut. Tetapi pengalaman naik kapal laut setiap mudik dan balik lebaran meninggalkan kenangan yang tidak terlupakan bagi saya.

Foto ini juga mengingatkan saya akan kasih sayang (alm) ayah dan (almh) ibu, setiap balik ke Tanah Jawa saya selalu diantar ke pelabuhan meskipun saya sudah besar sekalipun. Hanya doa yang bisa kupanjatkan buat mereka.

Allahummaghfirlahu(a) warhamhu(a) wa ‘afihi wa’fuanhu(a) waj ‘alil jannata matswaahu(a).

Written by rinaldimunir

June 18th, 2018 at 6:45 am

Posted in Cerita perjalanan

Melakukan Perjalanan dalam Bulan Puasa

without comments

Latepost !

Melakukan perjalanan ke luar kota saat bulan Ramadhan ini rasanya sesuatu banget bagi saya. Kalau tidak terlalu penting sama sekali saya lebih baik tidak pergi saja. Bagi saya sendiri, berkumpul bersama anak dan istri di rumah, menyiapkan buka puasa dan makan sahur bersama, itu adalah kebahagiaan yang tidak bisa diukir dengan materi.  Acara-acara buka bersama (bukber) jarang saya ikuti, ya karena alasan itu tadi, saya kebih suka bersama anak-anak saya di rumah. Tetapi demi memudahkan urusan orang lain di kota yang saya kunjungi, maka saya tidak kuasa menolaknya, saya ikhlaskan hati pergi meninggalkan rumah selama bulan  puasa  ini.

Bandara Husein Sastranegara Bandung dengan latar belakang Gunung Tangkubanperahu.

Mendarat di kota tujuan saat adzan maghrib berkumandang ibalah hati. Terbayang anak-anak dan istri di rumah buka puasa tanpa kehadiran saya, sementara saya masih on the way dari bandara menuju hotel. Memang pihak hotel menyediakan kurma dan teh hangat untuk berbuka puasa, tetapi tetap saja  lebih afdhal sama anak-anakku di rumah.

Pihak pengundang menyediakan akomodasi hotel dengan paket makan malam untuk buka puasa dan makan sahur sebagai pengganti breakfast. Saat memasuki restoran hotel untuk buka puasa,  betapa kagetnya saya melihat restoran ini penuh dengan manusia yang menyerbu berbagai makanan yang terhidang. Semua kursi penuh di-booking. Agaknya mereka tidak semuanya tamu hotel, tetapi pengunjung biasa yang memanfaatkan promosi hotel yang menyediakan paket berbuka puasa all you can eat dengan harga miring.   Apalagi hotel ini bersatu  dengan mal, jadi tidak heran pengunjungnya mungkin adalah pengunjung mal juga.

Seperti diketahui, saat bulan puasa adalah low season bagi kebanyakan industri hotel. Tamu hotel turun sangat drastis karena orang-orang menahan diri tidak melakukan perjalanan selama bulan puasa.  Kegiatan-kegiatan bisnis dan pertemuan di hotel banyak “dipepetkan” selesai sebelum bulan Ramadhan, akibatnya selama bulan Ramadhan hotel benar-benar sepi tamu. Maka, salah satu strategi hotel untuk tetap “hidup” adalah mengadakan paket buka puasa di restoran mereka dengan harga miring, all you can eat. Strategi ini tampaknya berhasil, nyatanya hampir semua rumah makan, kafe, termasuk restoran di hotel, pengunjungnya membludak saat buka puasa tiba. Kursi-kursi sudah di-booking, orang-orang sudah ramai duduk di kursinya satu jam sebelum beduk maghrib berbunyi. Maka, saya tidak heran melihat restoran hotek penuh sesak seperti yang saya saksikan.

Saya kehilangan selera makan melihat suasana ramai seperti itu.  Apalagi hampir semua makanan yang tersaji ludes, saya hanya mendapat sisa-sisa saja.  Lagi-lagi saya teringat dengan keluarga di rumah, kami makan dengan tenang. Seusai makan pembatal puasa, saya menemani anak shalat maghrib dulu, barulah makan makanan berat.

Saat makan sahur di hotel, saya merasa “aneh” saja makan sahur sendirian di hotel ini. Biasanya jam 3.20 dinihari  segini saya dan istri sudah bangun untuk menyiapkan makan sahur buat semua. Sekarang saya menikmati sahur yang disediakan hotel sebagai pengganti breakfast. Menginap di hotel ini sekalian dengan paket berbuka puasa dan sahur. Jika saat buka puasa restoran hotel penuh sesak dengan pengunjung sehingga makanan yang tersaji cepat habis, maka saat makan sahur boleh dihitung pengunjungnya dengan jari, yang umumnya tamu hotel itu sendiri.

Sagur sendirian di hotel

Nasi goreng hotel. Hanya sedikit saya bisa makan.

Kembali ke Bandung dengan pesawat siang, hanya ada 20 orang penumpang Wings Air hari itu dari kapasitas 80 penumpang, itupan sudah digabung dengan penumpang Lion Air jadwal sorenya. Waktu berangkat dari Bandung pun demikian, seharusnya saya terbang dengan Lion Air sore, tetapi karena penumpang sore sangat sedikit, maka mereka digabung dengan penumpang pesawat siang, pesawat sore dibatalkan.

Sepi penumpang

Seperti halnya hotel, industri penerbangan pun mengalami low season saat bulan puasa, tetapi itu hanya sebentar, sawat memang Benar2 sepi. Seperti sudah diduga, selama bulan puasa orang enggan melakukan perjalanan. Namun periode sepi itu hanya sebentar, menjelang lebaran Idul Fitri penumpang pesawat hotel melonjak tajam dan mencapai peak season tertingginya dalam satu tahun, sampai-sampai maskapai menambahfrekuensi penerbangan (extra flight). Begitu juga hotel-hotel full booked selama musim liburan Idul Fitri. Begitulah, Allah SWT Maha Adil, rezeki-Nya tidak pernah kurang. Selalu saja ada.

Written by rinaldimunir

June 12th, 2018 at 8:57 am

Posted in Cerita perjalanan

Rujak Sayur-Buah dan Bubur Hanjeli khas Orang Sunda kala Bulan Puasa

without comments

Membicarakan masalah makanan tiada habisnya, he..he. Mumpung ini bulan Ramadhan, maka topik tentang makanan untuk buka puasa termasuk hal yang menarik untuk dibahas. Setiap daerah di tanah air tentu punya makanan khas yang hanya keluar saat bulan Ramadhan saja. Pada bulan puasa inilah kita dapat melihat aneka penganan dan makanan yang disajikan sebagai hidangan pembuka puasa. Kreativitas masyarakat dalam mengolah makanan keluar semua pada bulan puasa.

Tipikal orang perkotaan adalah ingin serba praktis, dan tidak mau direpotkan dengan urusan memasak makanan untuk buka puasa. Hal ini ditangkap oleh sebagian masyarakat dengan menjual aneka hidangan takjil. Ketika matahari mulai tergelincir, lapak-lapak penjual makanan untuk buka puasa bertebaran di mana-mana.

Di Kota Bandung di sepanjang jalan banyak yang menjual aneka takjil. Menjelang sore keriuhan penjual takjil semakin  menjadi-jadi. Orang-orang yang pulang dari kantor biasanya mampir membeli makanan untk berbuka puasa.

Salah satu makanan untuk buka puasa favorit saya adalah rujak buah-sayur dan bubur hanjeli. Yang pertama adalah rujak buah-sayur atau kadang disebut juga rujak cuka.  Penganan ini saya amati hanya muncul saat bulan puasa di Bandung. Rujak buah-sayur mungkin mirip seperti asinan Bogor tetapi tidak serupa. Saya sebut rujak buah-sayur karena isinya campuran buah dan sayur. Buah yang digunakan adalah potongan buah bengkoang dan buah nanas, sedangkan sayurannya adalah tauge, kol, mentimun, dan parutan wortel. Kuahnya adalah air yang sudah dicampur dengan serbuk kacang, cabe, gula, dan cuka. Rasanya asam pedas manis. Lebih enak disimpan dulu di dalam kulkas, lalu dimakan sepulang sholat tarawih. Segar dan menyehatkan.

Rujak buah-sayur khas Bandung

Makanan yang kedua adalah bubur hanjeli. Hanjeli adalah tumbuhan biji-bijian dari suku padi-padian, mirip seperti biji gandum. Nama latinnya coix lacryma-jobi.  Jika dimasak menjadi bubur sepintas mirip kacang hijau. Rasanya tawar, tapi bagi orang Sunda hanjeli dijadikan bubur dengan tambahan gula merah dan santan. Bubur hanjeli bisa juga dicampur dengan aneka kolak seperti kolak kolang-kaling, kolak candil dan pisang. Makanan ini jarang dijual pada hari biasa, meskipun beberapa food court ada juga yang menyediakannya, misalnya di Kartika Sari.

Bubur hanjeli

Itulah dua makanan khas yang saya temukan di tanah Pasundan saat bulan puasa. Jika anda ingin mencobanya, coba saja cari di antara penjual kolak di berbagai ruas jalan yang ramai menjajakannya. Kolak candil sudah biasa, tetapi bubur hanjeli jarang ada. Rujak buah sudah umum, tetapi rujak buah-saur ini beda rasanya.

Mau?

Written by rinaldimunir

May 30th, 2018 at 2:08 pm

Posted in Makanan enak