if99.net

IF99 ITB

Kolaps dan Booming Akibat Corona

without comments

Ini masih cerita kesedihan tentang wabah virus corona. Tadi saya membaca berita bahwa maskapai Thai Airways di Thailand dinyatakan bangkrut karena sudah tidak mampu membayar utang-utang yang menumpuk dan semakin terpuruk ketika pandemi corona melanda dunia. Pandemi corona telah memaksa Thai Airways menghentikan penerbangannya karena orang-orang menunda bepergian atau karena banyak negara menutup kunjungan warga asing masuk ke negaranya. Saya pernah naik Thai Airways ketika dulu ke Bangkok. Maskapai ini pelayanannya sangat bagus, malah menurut saya lebih bagus daripada Garuda. Garuda Indonesia pun tampaknya juga sudah mulai oleng, apalagi tahun ini ibadah umrah haji dibatalkan, padahal membawa jamaah haji dan umrah ke Tanah Suci merupakan sumber pendapatan yang sangat besar bagi Garuda. Apakah Garuda akan menyusul nasib Thai Airways? Wallahu alam.

Tidak hanya Thai Airways yang kolaps. Berbagai maskapai dunia yang terkenal seperti Emirates, Etihad, Cathay Pacific, Singapore Airlines, dan lain-lain juga bertumbangan. Kasus Thai Airways adalah sebuah contoh betapa wabah virus corona mampu melumpuhkan berbagai sendi kehidupan manusia di bumi, salah satunya melumpuhkan dunia usaha dan bisnis. Jutaan orang kehilangan pekerjaan dan penghasilan karena perusahaan tempatnya bekerja tutup, kolaps, hingga bangkrut.

Dunia penerbangan adalah salah satu yang terkena dampak parah corona. Namun, efek dominonya luar biasa ke dunia perhotelan dan pariwisata. Hotel-hotel tutup karena tidak ada tamu. Dunia pariwisata ambruk karena tidak ada pengunjung. Usaha travel dan transportasi juga bangkrut karena tidak ada orang yang melakukan perjalanan. Mal dan usaha retail non makanan tutup. Restoran dan cafe anjlok karena orang-orang menghindari kerumunan, hanya boleh layanan makanan take away. Bisnis catering ambruk karena resepsi pernikahan dilarang. Masih banyak lagi dunia usaha yang mengalami kebangkrutan atau kolaps sejak pandemi corona, antara lain dunia hiburan (bioskop, panggung musik, atraksi),  otomotif, persewaan kantor, MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition), dan lain-lain.

Meskipun ada sebagian dunia usaha yang terpuruk, namun sebaliknya beberapa bisnis malah mengalami booming saat pandemi corona.  Bisnis yang tumbuh dan berkembang itu adalah bisnis e-commerce (perdagangan online melalui internet), webinar (seminar secara online), online training seperti Ruang Guru,  aplikasi video conference (Zoom, Webex), telekomunikasi, jasa logistik dan kurir (pengiriman barang), layanan internet dan televisi berbayar seperti Indihome/Netflix, remote working, home entertainment, peralatan medis dan APD (alat pelindung diri), telemedicine, sekolah online, dan lain.

Pandemi corona tidak tahu kapan berakhirnya. Mungkin durasinya akan berlangsung selama satu sampai dua tahun ke depan. Selama vaksinnya belum ditemukan, maka dunia usaha dan bisnis akan terus gonjang-ganjing.

Usaha dan bisnis yang dapat bertahan (survive) adalah bisnis yang masuk ke dunia digital dengan memanfaatkan layanan yang mengunakan teknologi informasi, cloud computing, dan menggunakan social media sebagai sarana komunikasi dan promosi, dan membuat model bisnis yang  menjual langsung ke pelanggan.

Dunia sudah berubah sejak pandemi corona. Kehidupan tidak lagi akan normal seperti dulu. Kita memasuki gaya kehidupan baru yang disebut new normal. Mungkin selama ini kita menjalani kehidupan yang abnormal. ?

Written by rinaldimunir

June 3rd, 2020 at 8:45 pm

Posted in Dunia oh Dunia

Lebaran Idul Fitri Saat Pandemi Corona

without comments

Hari ini 1 Syawal 1441 H atau tahun 2020 masehi. Lha, kok sempat-sempatnya saya menulis blog hari ini? Bukannya pergi mudik, bersilaturahmi, atau jalan-jalan keluar, atau sekedar cari makan di mal? Oh tidak. Lebaran (dan juga Ramadhan) tahun ini  terasa sangat berbeda dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. #LebaranDiRumahSaja. Stay at home. Lebaran yang tidak biasa.

Pandemi virus corona sudah mengubah sendi-sendi kehidupan manusia di dunia ini. Biasanya hidup berjalan normal, tetapi tahun ini kami rakyat Indonesia, dan juga warga dunia lainnya, terpaksa harus  berkurung diri di rumah, menjaga diri dan keluarga agar tidak tertular virus corona. Sudah hampir tiga bulan kami  diam di rumah saja. Saya tidak ke kampus karena kampus tutup. Anak-anak tidak sekolah. Belajar dan bekerja di rumah saja. Saya hanya keluar jika ada urusan penting-penting saja, belanja makanan atau sekedar olahraga jalan kaki pada pagi hari.

Bulan Ramadhan tahun ini pun dijalani di rumah saja. Shalat tarawih di masjid ditiadakan. Masjid-masjid di zona merah dihimbau tidak melakukan peribadatan, termasuk sholat Jumat pun sudah tiga bulan tidak pernah kami lakukan lagi. Selama bulan Ramadhan saya dan keluarga sholat tarawih di rumah saja. Alhamdulillah selama 30 malam Ramadhan saya keluarga saya selalu menegakkan shalat tarawih, saya yang menjadi imamnya.

Puncaknya adalah Hari Raya Idul Fitri pada hari ini. Tidak ada sholat Ied di masjid di RW kami. Pemerintah dan MUI memang menghimbau agar sholat Ied di rumah saja. Baru kali inilah dalam hidup saya melakukan sholat Ied di rumah, bukan di masjid atau di lapangan. Untuk pertama kali saya menjadi imam sholat Ied dengan jamaahnya adalah anak istri saya. Sesuatu yang tidak pernah terbayangkan selama ini. Corona, dampakmu memang sangat luar biasa bagi insan di dunia ini.

Lalu setelah sholat Ied mau apa lagi? Silaturahmi kepada tetangga, teman, kerabat? Salam-salaman? Baru pada lebaran kali inilah kita terpaksa menutup pintu rumah dari kehadiran tamu. Tidak menerima tamu yang datang berkunjung, dan tidak pula pergi mengunjungi rumah orang lain. Terpaksa. Sebab, itulah cara untuk memutus rantai virus corona. Kita tidak ingin menzalimi tuan rumah, siapa tahu kita adalah OTG (orang tanpa gejala), di dalam diri kita ada virus corona yang bisa menularkannya kepada orang lain.  Sebaliknya, boleh jadi orang yang kita kunjungi adalah OTG, kita pula yang tertular nanti. Maka, cara yang paling aman adalah tidak bertemu secara fisik sama sekali. Untuk sementara watu saja.

Tidak mudik, tidak salam-salaman, tidak mengunjungi tetangga, tidak bertemu secara fisik bukan berarti memutus hubungan persaudaraan dan silaturahmi. Ini zaman sudah era digital, zaman internet. Pertemuan secara fisik dapat diganti secara virtual dengan berbagai aplikasi video call, video meeting, online meeting. Tahun ini adalah lebaran dilakukan secara online, mudik pun juga online. Jauh di mata, dekat di hati, seperti video Aidil Fitri  Muslim Singapura yang cukup menyentuh di bawah  ini (klik saja).

Semoga pandemi segera berakhir, kita pun akan memasuki hidup normal baru (new normal) selepas pandemi. Amiin.

Written by rinaldimunir

May 24th, 2020 at 1:34 pm

Posted in Indonesiaku

WFH itu Tidak Selalu Nyaman

without comments

Setelah hampir dua bulan “dirumahkan” semasa pandemi virus corona, apa yang Anda rasakan?

Bagi saya, jujur saja jawabannya adalah bosan. Iya, rasanya sudah bosan rasanya berada di rumah terus. Bagi orang yang sudah biasa bekerja di luar rumah atau berhubungan dengan banyak orang seperti saya (dosen dengan para mahasiswanya), berada di rumah selama berbulan-bulan tidak menyenangkan. Kecuali bagi orang yang memang sehari-harinya bekerja dari rumah tentu tidak masalah di rumah terus.

Virus corona mengajarkan kepada kita bahwa relasi sosial itu penting artinya. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri. Ia butuh berhubungan dengan orang lain. Namun pandemi virus corona yang tidak tahu pasti kapan berakhirnya membuat banyak orang harus menjauh dari orang lain. Diam di rumah saja agar terhindar dari penularan virus corona. Itu cara yang aman dan ikut membantu membatasi penularan.

Bagi kami yang bekerja dalam bidang pendidikan (guru, dosen), work from home (WFH) itu, jujur saja, tidak selalu nyaman. Seorang teman curhat begini:

Kasihan dosen2 ya… kalau harus ngajar on line terus… pakai fasilitas internet dan komputer pribadi. WFH itu bagi dosen malah jadi bekerja seperti 24 hours a day… 7 days a week… Instruksi “top down” dari atasan kapan saja, mhs minta diskusi on line kapan saja, konsultasi pembimbingan kapan saja… tidak ada “office hours”…

Melakukan perkuliahan secara daring itu cukup menyita waktu. Bekerja tidak lagi sesuai jam kerja, tetapi bisa siang dan malam. Rapat secara daring juga dilakukan pada hari libur (sabtu atau minggu), atau sore menjelang malam. Jadi tidak heran jika WFH itu tidak mengenal “office hour”.

Namun WFH bagi kami orang pendidikan ada sisi positifnya juga. Materi kuliah yang sudah ada mau tidak mau harus diperbaiki, di-update, dan diperbagus, sehingga ketika disampaikan di dalam kuliah yang menggunakan video conference (Zoom, GoogleMeetWebex, dll) mudah dimengerti oleh mahasiswa.  Menyampaikan kuliah secara langsung (offline) tentu berbeda jika disampaikan secara daring (online). Pun jika  materi kuliah tampil dalam bentuk rekaman di platform seperti YouTube misalnya, tidak malu-maluin. Selain itu ini saat yang tepat untuk mempelajari berbagai teknologi dan aplikasi pembelajaran daring.

Meski bosan, tidak nyaman dengan WFH, ya mau tidak mau harus dijalani saja dengan sabar dan tabah. Yang patut disyukuri adalah saya dan keluarga masih diberi kesehatan oleh Allah SWT.

Written by rinaldimunir

May 14th, 2020 at 3:25 pm

Posted in Pendidikan

Kreatifitas Kuliah di tengah Pandemi Corona

without comments

Wabah virus corona di Indonesia telah memaksa sekolah-sekolah dari TK hingga perguruan tinggi “diliburkan”. Sebenarnya tidak diliburkan dalam arti sebenarnya, siswa/mahasiswa tetap belajar dari rumah secara daring (online). Kuliah tatap muka diganti dengan kuliah dengan menggunakan Internet.

Di ITB kuliah tatap muka sudah berjalan selama 10 minggu. Pekan Ujian Tengah Semester (UTS) pun sudah selesai. Tersisa kuliah selama lima minggu lagi. Kampus ditutup mulai tanggal 16 Maret 2020. Aktivitas perkuliahan secara tatap muka dihentikan,  dosen dipersilakan melakukan perkuliahan (termasuk bimbingan tugas akhir) dengan menggunakan segala perangkat TIK (teknologi informasi dan komunikasi) yang ada. Silakan menggunakan email, Whatsapp, Facebook, YouTube, atau aplikasi online meeting seperti Zoom, Webex, Google Meet, dan lain-lain.

Masing-masing aplikasi memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Aplikasi Zoom misalnya, kualitasnya video conference-nya bagus, namun memakan pulsa internet yang besar. Saya merasa kasihan saja dengan kantong mahasiswa. Memakai Zoom bisa menguras pulsa internet mahasiswa yang rata-rata fakir kuota. Seorang teman melakukan survey kepada mahasiswanya setelah melakukan kuliah daring selama dua jam menggunakan Zoom. Ternyata mahasiswa membutuhkan lebih dari 300 MB untuk pertemuan kuliah daring. Kalau tersedia akses wifi yang unlimited, apalagi gratis, tentu tidak masalah habis pulsa internet seberapapun.

Dari yang saya amati, banyak dosen (dan juga guru sekolah) yang gagap menyiapkan kuliah secara daring. Wajar saja, ini kasus pertama kali terjadi. Selama ini para dosen di Indonesia sudah merasa nyaman mengajar secara tradisionil yaitu kuliah tatap muka. Ketika terjadi penyebaran wabah penyakit seperti virus corona ini sehingga kuliah tatap muka dihentikan dan diganti dengan kuliah daring, banyak dosen kita yang belum siap.

Namun, keadaan terpaksa ini justru membuat para dosen harus meluangan waktu belajar menggunakan berbagai aplikasi TIK untuk tetap memberikan layanan perkuliahan dan bimbingan tugas akhir, tesis, dan disertasi kepada mahasiswa.

Saya sendiri memutuskan tidak menggunakan aplikasi pertemuan daring seperti Zoom, Google Meet, Webex, dan sebagainya untuk melaksanakan perkuliahan daring dengan berbagai pertimbangan. Sebagai gantinya, saya membuat video-video kuliah yang saya unggah ke Youtube. Video kuliah tanpa wajah saya di sana, dibuat dengan menggunakan aplikasi Power Point. Saya sudah memiliki PPT materi kuliah, jadi dengan PowerPoint saya merekamnya menjadi video bersuara, seolah-olah saya sedang mengajar materi tersebut.

Silakan kunjungi kanal saya di YoutTube dengan meng-klik tautan ini untuk mengakses video-video kuliah yang saya buat bersama dengan teman-teman dari tim kuliah yang kami ampu:

https://www.youtube.com/channel/UCBiY3GSJuQGGjNAdV8JebSQ

Dengan menunggah video-video kuliah tersebut di YouTube, mahasiswa dapat memutarnya berkali-kali jika belum mengerti.  Saya juga meniatkan membagikannya kepada mahaiswa lain di luar ITB dan juga buat umum yang ingin belajar materi kuliah kami. Semoga bermanfaat buat pendidikan bangsa ini.

Written by rinaldimunir

April 9th, 2020 at 8:51 pm

Hadis Nabi tentang Isolasi Wilayah

without comments

Beberapa negara telah menerapkan lockdown di wilayahnya untuk membatasi penularan virus corona. China (khususnya di propinsi Hubei), Italia, Malaysia, India, Spanyol, dan beberapa negara lain melakukan lockdown.

Lockdown adalah istilah lain untuk isolasi wilayah. Sebuah wilayah di-lockdown artinya wilayah tersebut ditutup atau diisolasi dari akses keluar masuk orang ke atau dari wilayah tersebut.  Tidak hanya sekdar ditutup, warga di dalam wilayah lockdown tidak boleh keluar rumah, mereka harus tetap berada di dalam rumah di rumah, kecuali keluar rumah untuk urusan yang penting seperti membeli makanan dan obat-obatan.

Indonesia memang tidak menerapkan lockdown dengan berbagai pertimbangan. Pertimbangan utama adalah ekonomi, Intinya Pemerintah tidak siap bila melakukan lockdown, dengan kata lain tidak punya dana yang cukup, sebab pemberlakuan lockdown konsekuensinya Pemerintah harus menyediakan makanan untuk rakyanya yang harus tinggal di rumah. Menyediakan makanan untuk 270 juta rakyat Indonesia untuk jangka waktu yang tidak pasti darimana uangnya?

Selain itu, untuk menerapkan lockdown, perlu pengerahan pasukan keamanan untuk menjaga warga agar mematuhi aturan tidak berkeliaran di luar rumah. Jumlah polisi dan tentara di negara kita tidka sebanding dengan jumlah penduduk.

Hingga saat ini wabah virus corona di China sudah hampir berakhir, sebaliknya gelombang kedua virus ini berkembang dengan pesat di luar China, terutama di wilayah Eropa dan Amerika Serikat. Benua Eropa dan Amerika menjadi pusat (episentrum) pandemi baru virus corona. Jumlah kasus positif corona (COVID-19) di Amerika saja sudah di atas 200 ribu, di Italia dan Spanyol sudah 119 ribu, jauh melebihi kasus posittif corona di negeri asalnya (China). Jumlah kematian pasien corona di negara-negara itu juga jauh melebihi jumlah kematian di China.

corona-4-April-2020

Jumlah kasus positif COVID-19 di sejumlah negara (data tanggal 4 April 2020). Sumber: https://www.worldometers.info/coronavirus/

Beberapa negara berhasil melakukan lockdown, misalnya China.Beberapa lagi tidak terlalu berhasil seperti Italia. Penyebabnya adalah faktor kedisiplinan. Rakyat China cukup disiplin, mereka mematuhi aturan Pemerintahnya yang menerapkan lockdown. Sebaliknya di Italia, warganya menganggap enteng virus corona, mereka tetap berkeliaran di luar rumah, tidak memakai masker. Beberapa jam sebelum penerapan lockdown di Italia bagian utara (Lombardy dan sekitarnya), ribuan warganya keluar wilayah Italia utara, pergi ke selatan ke kampung halamannya atau ke tempat saudaranya. Akibatnya fatal, mereka bagaikan anak panah yang melesat membawa virus corona ke wilayah lainnya di Italia. Jadilah negara Italia sangat parah saat ini dilanda wabah virus.

Hal yang hampir mirip terjadi di negara kita. Himbauan untuk tetap tinggal di rumah (work from home), sekolah-sekolah diliburkan, pembatasan jarak (social distancing), matinya perekonomian, kehilangan mata pencaharian, dan menyebarnya isu bahwa Jakarta akan dikarantina, membuat para kaum migran mudik ke kampung halamannya. Padahal Jakarta adalah pusat pandemi corona, kasus positif corona sebagian besar ada di Jakarta. Warga Jakarta yang mudik ini dikhawatirkan  bagai anak panah yang membawa virus corona ke kampung halamannya. Terbukti kasus-kasus positif corona di berbagai daerah muncul setelah kepulangan warga Jakarta ke daerah asalnya.

Seharusnya jika di sebuah wilayah sedang menyebar wabah penyakit, warga di wilayah itu dilarang keluar wilayahnya, dan warga dari luar juga dilarang masuk ke wilayah itu. Apapunlah namanya, baik isolasi, karantina, atau lockdown, wilayah tersebut harus dikunci agar wabah tidak menyebar keluar.

Saya teringat sebuah hadis Rasulullah Muhammad SAW yang sangat pas dengan kondisi pandemi corona. Saat itu di wilayah Arab sedang berkembang wabah penyakit. Rasulullah pun memerintahkan ummat untuk menghindari wilayah yang terkena wabah.

Rasulullah bersabda, “Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu,” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Sudah benar yang dilakukan oleh Pemerintah China dengan mengisolasi kota Wuhan: melarang orang-orang masuk ke kota Wuhan dan melarang penduduk Wuhan meninggalkan kota.  Ini sesuai dengan hadis di atas meski China adalah negara komunis.

Meskipun karantina, isolasi, lockdown, atau apapun namanya, belum diberlan. Meskipun di negara kita, sebaiknya kita (khususnya kaum muslimin dan muslimat) mengikuti hadis Nabi tersebut. Tidak berpergian ke mana-mana, tidak masuk ke wilayah yang terpapar corona. Demi keselematan kita bersama. Amiin, ya rabbal alami.

Written by rinaldimunir

April 4th, 2020 at 1:34 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Negeriku Dilanda Corona dan Sikap Takabur

without comments

Setelah lama tidak diakui, akhirnya virus corona saat ini sudah mewabah di Indonesia.  Bermula kasus positif COVID-19 hanya dua orang, lalu jumlahnya bertambah secara eksponensial, hingga saat tulisan ini ditulis, jumlahnya sudah ribuan dan  tersebar di seluruh propinsi (Baca:  Data Sebaran 1.677 Kasus Positif Corona di RI, Terbanyak di DKI-Jabar-Banten).

Banyak orang menyesalkan kelambatan Pemerintah dalam mendeteksi kasus corona di Indonesia.  Ketika negara lain gerak cepat mengendalikan laju penyebaran virus corona, pejabat di sini tenang-tenang saja, seolah-olah Indonesia menganggap enteng virus ini. Mereka bersikap takabur dan menganggap corona sebagai bahan candaan.

Dikutip dari sebuah posting-an seorang netizen di medsos, perhatikan bagaimana para pemimpin kita bersikap takabur, berkoar-koar, dan buang-buang waktu, saat mereka seharusnya sudah melakukan kontrol ketat terhadap wabah ini pada saat awal.  Netizen tersebut berhasil mengumpulkan tautan berita yang menunjukkan sikap menganggap enteng yang dilakukan oleh pejabat dan para tokoh publik.  Sikap takabur dan menganggap remeh itu sekarang menjadi boomerang.
.
1). Jokowi Pastikan Virus Corona Tak Terdeteksi di Indonesia
Senin, 27 Januari 2020
https://m.ayobandung.com/read/2020/01/27/77612/jokowi-pastikan-virus-corona-tak-terdeteksi-di-indonesia

2). Rapat di DPR, Ribka Tjiptaning Bercanda Korona ‘Komunitas Rondo Mempesona’
Rolando Fransiscus Sihombing – detikNews
Senin, 03 Feb 2020 13:50 WIB
https://m.detik.com/news/berita/d-4883599/rapat-di-dpr-ribka-tjiptaning-bercanda-korona-komunitas-rondo-mempesona#top

3). Mahfud: RI Satu-satunya Negara Besar di Asia Tak Kena Corona
CNN Indonesia
Jumat, 07/02/2020 21:22
https://m.cnnindonesia.com/nasional/20200207194915-20-472750/mahfud-ri-satu-satunya-negara-besar-di-asia-tak-kena-corona

4.) Canda Luhut saat Ditanya Corona Masuk Batam: Mobil?
Herdi Alif Al Hikam – detikFinance, Senin, 10 Feb 2020 14:52 WIB
https://m.detik.com/finance/berita-ekonomi-bisnis/d-4893152/canda-luhut-saat-ditanya-corona-masuk-batam-mobil

5). Menkes Tantang Harvard Buktikan Virus Corona di Indonesia
CNN Indonesia
Selasa, 11/02/2020 20:09
https://m.cnnindonesia.com/nasional/20200211195637-20-473740/menkes-tantang-harvard-buktikan-virus-corona-di-indonesia

6). Terawan Bicara Kekuatan Doa yang Bikin RI Bebas Corona
Chandra Gian Asmara, CNBC Indonesia
NEWS
17 February 2020 13:37
https://www.cnbcindonesia.com/news/20200217133044-4-138367/terawan-bicara-kekuatan-doa-yang-bikin-ri-bebas-corona

7.) Kelakar Menhub: Kita Kebal Corona karena Doyan Nasi Kucing
Menhub Budi Karya Sumadi mengaku berguyon bersama Presiden soal nasi kucing.
Senin , 17 Feb 2020, 20:21 WIB
https://republika.co.id/berita/q5ul4k409/kelakar-menhub-kita-kebal-corona-karena-doyan-nasi-kucingl.

8), Kelakar Bahlil di Depan Hary Tanoe: Virus Korona Tak Masuk Indonesia Karena Izinnya Susah
Giri Hartomo , Okezone
Senin 24 Februari 2020 12:03 WIB
https://economy.okezone.com/read/2020/02/24/320/2173155/kelakar-bahlil-di-depan-hary-tanoe-virus-korona-tak-masuk-indonesia-karena-izinnya-susah?_gl=1*1ul5e7f*_ga*bS1nNFFRLU9zajk2UzhPeU4wM1FPSWNNSUJxVzc1bW1SY05rSHlIczdZckw2S3N2OWttUXJucWRITVctMlNZcA..

9). Indonesia Terhindar Virus Corona, Ma’ruf Amin: Berkah Doa Qunut
Reporter: Servio Maranda (Kontributor)
Editor: Rahma Tri
Kamis, 27 Februari 2020 09:40 WIB
https://bisnis.tempo.co/amp/1312785/indonesia-terhindar-virus-corona-maruf-amin-berkah-doa-qunut#aoh=15848478571857&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&_tf=From%20%251%24s

10). Ma’ruf Amin: Berkat Doa Kiai dan Qunut, Corona Menyingkir dari Indonesia
Oleh Lizsa Egeham pada 29 Feb 2020, 16:11 WIB
https://m.liputan6.com/news/read/4190703/maruf-amin-berkat-doa-kiai-dan-qunut-corona-menyingkir-dari-indonesia

11). Virus Corona Masuk Indonesia, Jokowi: Kita Sudah Siap
Reporter: Dewi Nurita
Editor: Endri Kurniawati
Senin, 2 Maret 2020 12:34 WIB
https://nasional.tempo.co/read/1314390/virus-corona-masuk-indonesia-jokowi-kita-sudah-siap

11). Menkes: Percuma yang Sehat Pakai Masker
Senin, 2 Maret 2020 | 15:54 WIB
https://amp.kompas.com/nasional/read/2020/03/02/15541281/menkes-percuma-yang-sehat-pakai-masker

13). Bahagia Terawan Teori Terbukti: Corona, Penyakit yang Akan Sembuh Sendiri
Tim detikcom – detikNews
Jumat, 13 Mar 2020 07:10 WIB
https://m.detik.com/news/berita/d-4937063/bahagia-terawan-teori-terbukti-corona-penyakit-yang-akan-sembuh-sendiri 

Nasi sudah menjadi bubur, virus corona sudah mewabah di Indonesia. Kita tidak tahu kapan wabah corona ini berakhir di Indonesia. Tampaknya masih akan lama, namun baru satu bulan saja virus corona sudah mampu melumpuhkan sendi-sendi ekonomi bangsa dan menciptakan histeria ketakutan  sendiri. Astaghfirullah, marilah kita memohon ampun kepada Allah SWT atas sikap takabur ini.

Written by rinaldimunir

April 1st, 2020 at 5:00 pm

Posted in Indonesiaku

Pohon Buah Tin di Halaman Rumah

without comments

Di rumah saya sedang tumbuh dua batang pohon tin. Saya tanam di dalam pot karena halaman rumah saya tidak luas. Satu bibit pohon tin saya dapatkan dari seorang teman di medsos, sedangkan satu lagi saya beli di tukang tanaman di depan GOR Arcamanik, Bandung.

Buah tin atau yang memiliki nama ilmiah Ficus carica ini dulunya banyak tumbuh di kawasan Asia Barat atau Timur Tengah. Buah tin juga disebut sebagai buah ara atau fig dalam Bahasa Inggris.

Subhanalah, pohon tin yang aslinya hidup di Timur Tengah ternyata bisa hidup subur di tanah nusantara.  Daunnya lebar-lebar dan banyak. Pada mulanya daunnya seperti tiga jari, tetapi ketika melebar ia menjadi daun yang lancip. Ini gambar dua pohon tin di halaman rumah saya.

Tin1

Buah tin adalah salah satu dari empat nama buah-buahan yang disebut di dalam Al-Quran (tiga lagi adalah buah kurma, buah zaitun, dan buah anggur). Begitu istimewanya buah tin ini sehingga di dalam Al-Quran terdapat sebuah surat yang diberi nama surat At-Tin. Bahkan Allah sendiri pernah bersumpah atas nama buah tin di dalam permulaan surat tersebut yang bunyinya:

Wattiini waz zaituun
Watuurisiniina
(Demi buah tin dan buah zaitun,
dan demi bukit Sinai)
(At-Tin, 1:2)

Karena Allah pernah bersumpah atas nama buah tin, saya menganggap buah tin adalah buah yang diberkahi. Buah surga. Para ahli telah menyelidiki manfaat buah tin untuk kesehatan. Dikutip dari sini, buah tin memiliki kandungan vitamin, mineral, dan fitonutrien yang baik untuk tubuh.  Vitamin yang terkandung dalam buah tin antar lain Vitamin A, vitamin C, vitamin E, vitamin K, dan vitamin B kompleks. Terdapat juga kandungan mineral meliputi tembaga, kalium, zat besi, mangan, magnesium, kalsium, zinc, sodium, dan selenium.

Beberapa manfaat buah tin adalah untuk menjaga kesehatan jantung, menjaga saluran pencernaan, mengatasi anemia, menjaga kesehatan tulang, mengatasi insomnia, mengatasi masalah seksual, meningkatkan imunitas tubuh, dan lain-lain (selengkapnya baca ini, atau ini).

Saya sendiri belum pernah makan buah tin, hanya mendengar namanya saja. Dua tahun lalu ketika saya menunaikan ibadah haji, saya mencari-cari buah tin di supermarket di kota Mekkah. Namun sayang sekali saya tidak menjumpai buah tin segar, yang ada hanya buah tin yang sudah diawetkan menjadi manisan. Kalau sudah menjadi manisan tentu rasanya sudah tidak asli lagi, cuma rasa gula saja.

Pohon tin yang tumbuh di halaman rumah selalu saya rawat dengan sepenuh hati. Saya siram dan rutin diberi pupuk. Setiap hari sebelum berangkat ke kampus saya pandang-pandang pohon ini.  Cepatlah berbuah, kata saya dalm hati.  Saya tidak sabar untuk menikmati buah surga ini.

Setelah empat bulan tumbuh, maka pada suatu hari pohon tin mulai mengeluarkan beberapa buah putik. Makin lama putik semakin  besar dan mulai menampakkan wujud seperti buah tin sebenarnya.  Warnanya masih hijau, pertanda belum matang. Saya sudah tidak sabar menunggunya sampai merah.

tin3

Kelak jika sudah matang warnanya akan merah seperti di bawah ini (sumber foto dari sini). Hmmm…ranumnya.

tin4

Dan bila kita memotong buahnya, tampaklah daging buahnya yang seperti serat-serat berwarna marah. Serat-serat berwarna merah itu mengingatkan saya pada isi buah delima.

tin5

Dua hari yang lalu buah tin di pohon sudah menunjukkan tanda-tanda matang. Meskipun kulitnya belum berwarna merah seperti pada gambar, namun saya merabanya seperti sudah matang. Mungkin jenis buah tin yang sayang tanam berbeda dengan buah tin berwarna merah.

Sebelum buah surga ini disikat oleh kelelawar, kemarin saya petik. Saya potong empat, buat anak dan istri, sama-sama mencicipi, meski cuma sekerat saja.  Rasanya? Manis dan segar. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa mencicipi buah tin hasil tanam sendiri. Terima kasih ya allah, atas nikmat buah surga dari-Mu.

~~~~~~~~~~~~

Surat At Tin

?????? ??????? ??????????? ???????????

  1. ??????????? ????????????????  wat-t?ni waz-zait?n  (Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun),
  2. ???????? ???????????  wa ??ri s?n?n (demi gunung Sinai),
  3. ??????? ????????? ????????????  wa h??al-baladil-am?n dan demi negeri (Mekah) yang aman ini.
  4. ?????? ????????? ???????????? ????? ???????? ???????????  laqad khalaqnal-ins?na f? a?sani taqw?m (Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya),
  5. ????? ?????????? ???????? ????????????  ?umma radadn?hu asfala s?fil?n (kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya),
  6. ?????? ?????????? ????????? ?????????? ??????????? ???????? ?????? ?????? ???????????  illalla??na ?man? wa ‘amilu?-??li??ti fa lahum ajrun gairu mamn?n (kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya).
  7. ????? ??????????? ?????? ????????????  fa m? yuka??ibuka ba’du bid-d?n  (Maka apa yang menyebabkan (mereka) mendustakanmu (tentang) hari pembalasan setelah (adanya keterangan-keterangan) itu?)
  8. ???????? ??????? ?????????? ?????????????  a laisall?hu bi`a?kamil-??kim?n (Bukankah Allah hakim yang paling adil?)

Written by rinaldimunir

March 6th, 2020 at 1:38 pm

Bapak Tua Penjual Koran

without comments

Jika Anda sering melewati Masjid Salman ITB (jalan kecil menuju masjid di samping Taman Ganesha) tentu Anda sering melihat bapak tua ini. Dia menawarkan koran kepada siapapun yang lewat. Tidak banyak pejalan kaki yang membeli korannya. Kita semua paham bahwa pada era informasi digital ini media cetak sudah kehilangan banyak pembacanya  (baca tulisan saya sebelum ini). Pembaca sudah beralih membaca informasi dari media daring.

Tiap Dhuhur saya ke Salman dan selalu ketemu bapak ini.  Memang tidak setiap hari dia berjualan koran di Salman, tetapi kalau hari Jumat selalu ada, mungkin hari Jumat masjid sangat ramai dengan jamaah yang sholat Jumat.

penjualkoran

Setiap kali saya melewatinya biasanya saya tidak mempedulikannya, tidak tertarik beli koran, karena di rumah saya sudah berlangganan koran lokal meskipun jarang dibaca.

Tapi hari ini saya beli korannya. Saya beli koran ibukota saja. Saya beli karena rasa iba melihat dia duduk tertunduk menatap dagangan korannya. Masih banyak koran yang belum laku. Saya pun ingin sekedar tahu profilnya. Berikut dialog saya dengannya.

+ Siapa namanya, Pak?
– Asep.     (Agak-agak kurang jelas, suaranya lirih. Red).
+ Dari mana, pak?
– Dari Cicaheum
+ Setiap hari bawa koran berapa?
– 100
+ Habis?
– Nggak juga
+ Sudah jarang orang beli koran ya, Pak?
– Iya, tapi ada saja yang beli

Demikianlah percakapan saya dengan Pak Asep. Dia menjawab pendek-pendek sambil menunduk. Sepertinya Pak Asep sedang sakit. Dari seorang teman saya baru tahu kalau dulunya Pak Asep ini agak gemuk, tetapi sekarang mengidap penyakit diabetes. Tangannya tampak bergetar. Kasihan ya.

Kalau kamu ketemu dia, sempatkanlah membeli korannya, meski kamu tidak terlalu butuh. Satu saja tak apa. Itu sudah membantu dia bertahan hidup. Orang kecil seperti Pak Asep ini banyak di sekeliling kita. Mereka tidak mau meminta-minta, tetapi selalu berikhtiar mencari nafkah halal meskipun keuntungan tidak seberapa. Hanya melalui tangan kitalah kita bisa membantu mereka dengan membeli dagangannya.

 

Written by rinaldimunir

March 4th, 2020 at 8:27 am

(Tukang) Koran

without comments

Hingga saat ini saya masih setia berlangganan koran cetak. Rasanya sudah sejak lama saya berlangganan koran, ya sejak saya berumahtangga lah. Dulu saya berlangganan dua koran, satu koran ibukota dan satu lagi koran lokal. Sekarang tinggal satu koran saja, koran lokal Bandung. Itupun tidak bisa (atau tidak sempat) saya baca setiap hari, hanya lihat-lihat isinya secara garis besar, lalu ditaruh lagi. Besok hari koran itu sudah masuk ke keranjang koran bekas.

Pada zaman digital ini koran-koran dan media cetak seperti menunggu kematiannya saja. Orang-orang sudah tidak jarang membaca koran sebab beritanya kalah cepat dengan media daring. Lagipula, budaya membaca pada bangsa kita masih rendah, kalah dengan budaya debat atau ngegosip di media sosial.

Lihatlah koran-koran sekarang, makin tipis saja, jumlah halamannya semakin susut, iklannya minim. Oplahnya juga sudah berkurang. Tengoklah koran Komp*s, koran terbesar di tanah air, dulu berjaya dengan tiras (oplah) yang sempat mencapai 500.000 lebih per hari, iklannya pun berlimpah. Saking banyak iklannya, jumlah halamannya pun bisa  sampai 64 halaman, tebal sekali. Sekarang, hanya tersisa 20 halaman, sudah menipis, dengan iklan yang sudah jauh berkurang. Dunia memang fana, segala yang berjaya pasti ada masa surutnya.

Dengan berubahnya budaya masyarakat pada era digital, berubah pula cara pandang orang tentang media. Apakah koran cetak masih dibutuhkan di era informasi digital yang berubah dengan cepat?

Bagi saya jawaban terhadap pertanyaan di atas adalah: masih dibutuhkan. Alasannya bukan karena saya ingin membaca berita di dalam koran itu, sebab hal itu sudah tergantikan dengan informasi di media daring. Alasannya satu: Saya masih mempertahankan berlangganan koran hingga hari ini karena kasihan saja dengan si mang koran, dia akan kehilangan penghasilan jika saya berhenti berlangganan. Tidak tega saya.

tukang koran

Tukang koran langganan saya, setiap pagi selalu setia mengantarkan koran lokal ke rumah, biar lagi sakit sekalipun.

Written by rinaldimunir

February 28th, 2020 at 7:13 pm

Posted in Gado-gado

Ayah dan Ibu Tidak Dapat Dibandingkan

without comments

Ayah dan Ibu adalah orang yang sangat berarti bagi kita. Kita ada di dunia ini karena ada mereka. Satu orang saja di antara mereka tidak cukup untuk menghadirkan kita ke dunia.

Ayah dan ibu adalah dua orang manusia unik. Ayah dan ibu masing-masing punya peran berbeda.  Keduanya bukan untuk diperbandingkan, tetapi saling melengkapi dalam kehidupan seorang anak manusia.

Sebuah gambar di bawah ini memaparkan mengapa kita tidak perlu membandingkan keduanya. Sungguh dalam maknanya.

father-mother

Orang yang mencintai sampai kamu menutupkan mata adalah Ibu.
Orang yang mencintai tanpa ekspresi di matanya adalah Ayah

Ibu memperkenalkanmu kepada dunia
Ayah mengenalkan dunia kepadamu

Ibu memberimu kehidupan
Ayah memberimu penghidupan

Ibu memastikanmu tidak kelaparan
Ayah memastikanmu tahu nilai-nilai lapar

Ibu melambangkan perawatan
Ayah melambangkan tanggung jawab

Ibu melindungimu dari kejatuhan
Ayah mengajarkanmu untuk bangkit dari kejatuhan

Ibu mengajarkanmu berjalan
Ayah mengajarkanmu perjalanan hidup

Ibu mengajarmu dari pengalamannya
Ayah mengajarkanmu untuk belajar dari pengalamanmu

Ibu mencerminkan ideologi
Ayah mencerminkan realitas

Kamu mengenal cinta ibumu sejak lahir
Kamu mengenal cinta ayahmu ketika kamu menjadi seorang ayah

*******

Nikmatilah apa yang dikatakan ayahmu
Tetaplah mencintai ibumu

Written by rinaldimunir

February 21st, 2020 at 10:27 am