if99.net

IF99 ITB

Review Nissan Livina 2019 Setelah 6 Bulan Pemakaian, Komparasi dengan 16 Mobil Lainnya

without comments

Sebagai pengguna aktif KIA All New Sportage, Nissan Livina 2019 tidak cuma punya keunggulan, tapi juga punya kekurangan. Apa saja ya plus minusnya? Simak lebih lanjut ya.

Tak terasa 6 bulan telah berlalu, kami menggunakan Livina 2019 VL AT. Sudah 2 kali servis berkala, odometer menunjukkan angka 13.000 km. Sebelum memutuskan untuk mengambilnya, kami sudah test drive CRV, Fortuner, Pajero Sport, KIA Sedona bahkan juga DFSK Glory 580.

  1. Livina 2019 vs Honda CRV -> Suspensi CRV kalah nyaman, harga ketinggian untuk mesin yang “biasa aja”
  2. Livina 2019 vs Toyota Fortuner -> Fortuner kalah senyap, wong mesinnya diesel, di trek lurus Tol Cipali bisa susul-susulan kok dengan Livina 2019
  3. Livina 2019 vs Pajero Sport -> Walaupun tenaga alias horsepowernya besar, Pajero Sport kurang nyaman di bagian armrest kanan (pintu driver)
  4. Livina 2019 vs KIA Grand Sedona -> Sedona V6 cakep dan luas sih, mesin gahar body berat, muat 11 orang, boros BBM, lagian budgetnya gak nyampe ?
  5. Livina 2019 vs DFSK Glory 580 -> DFSK Glory 580 malas berhenti saat pengereman, terasa nge-lag nunggu turbonya aktif saat gaspol
  6. Walaupun gak diizinin isteri untuk testdrive Almaz, ada hipotesis dari lihat-lihat video reviewnya.
    Livina 2019 vs Wuling Almaz -> Almaz kurang cocok untuk malam hari, pengaturan AC harus dari layar, pasti silau bagi driver.
  7. Kalau yang ini hanya lihat-lihat di dealer Mitsubishi sebelum test drive Pajero Sport
    Livina 2019 vs Mitsubishi Xpander -> Xpander tipe tertinggi saat awal 2019 interiornya warna beige, bukan hitam dan belum ada sensor mundur, tapi Xpander menang cruise control
  8. Kami juga sering nyetir pinjaman Ertiga, Terios, Xenia/Avanza, Agya, Innova, Sienta, dan di tahun-tahun sebelumnya punya KIA Picanto dan KIA Carens II. Livina 2019 vs Suzuki Ertiga 2013 -> Kirain Ertiga udak paling empuk, ternyata kalah empuk. Luas kabinnya juga menang Livina. Mending dijual nih Ertiga kantor, japri ya.
  9. Livina 2019 vs Daihatsu Terios 2012 konde -> Tampangnya menang Livina, empuknya juga, transmisi maticnya juga lebih enak Livina.
  10. Livina 2019 vs Xenia/Avanza -> Kualitas cat body Livina menang lho, suspensinya juga menang jauh banget, kelas harga dan fiturnya cukup bersaing.
  11. Livina 2019 vs Agya -> Agya menang irit dong, lha 1000cc, andalan sopir gocar dan grabcar nih, sehari uang bensin 100 ribu doang.
  12. Livina 2019 vs Toyota Innova -> Innova itu body berat, mesin gede, tapi kurang tenaga, value for money dan empuknya masih menang Livina, ini kata saya lho ya, dilarang protes.
  13. Livina 2019 vs Toyota Sienta -> Sienta itu parah desain spion kiri kanannya, dua jengkal, sering nyangkut kalau papasan, menang pintu geser sih, tapi yg minat beli tinggal dikit.
  14. Livina 2019 vs KIA Picanto -> Picanto jauh kalah suspensinya, dibilang irit juga nggak.
  15. Livina 2019 vs KIA Carens II-> Carens body-nya lebih tebal, tapi masih kalah empuk sama Livina.
  16. Kembali ke Livina 2019 vs KIA All New Sportage 2012
    Setelah setengah tahun bergantian pakai Livina dan Sportage sehari-hari gara-gara aturan ganjil genap kalau ke Jakarta, ada beberapa hal yang kerasa banget.

Kalau habis pakai Sportage lalu pakai Livina 2019, empuknya suspensi betul-betul terasa. Kalau lagi nganter jemput anak ke sekolah, sehari bisa ngelewatin 20-an polisi tidur plus jalan berlubang. Makanya bagi penulis, suspensi itu penting.

Jalan berlubang maupun polisi tidur, bablas aja pakai Livina 2019, tetap nyaman kok. Tapi kalau high speed di tikungan jalan tol, jangan coba-coba, body roll-nya kerasa banget. Kalau maksa gak pakai pelan di tikungan tajam, atau dikit-dikit pindah lajur dengan nakal di tol, anak kecil yang jadi penumpang bisa mual dan muntah.

Suara mesin di rpm idle nyaris tidak kedengaran, kesenyapan kabin juga sangat bagus, suara dari luar dapat diredam dengan baik. Tapi sayang, tenaga di tanjakan tol saat high speed kurang besar, jadi tidak PD-lah nyalip di tanjakan tol Purbaleunyi dari Jakarta ke arah Bandung. Sekali lagi, feel ini sangat tergantung, kita sebelumnya baru saja bawa mobil apa. Kalau tiap hari sudah pakai Livina 2019, akan ketemu jurusnya, bagaimana cara bawa Livina 2019 di tanjakan tanpa perlu takut kehabisan tenaga.

Hematnya BBM juga beda jauh . Wajar sih, Sportage kan 2000cc, Livina 2019 hanya 1500cc dengan mesin disuplai dari Mitsubishi Xpander. Kalau Agya sekali ngisi bensin cukup 100rb, Livina tiap ngisi 200 ribu, kalau Sportage 300rb untuk jarak tempuh yang kira-kira sama.

Kalau habis pakai Livina 2019 lalu pindah ke Sportage lagi, empuknya jok mobil di semua baris kerasa banget, badan serasa dipeluk dari belakang. Perjalanan jarak jauh sampai 400-an km Bandung-Semarang pun gak akan bikin pegel di badan, baik sopir maupun penumpang. Jok driver bisa elektrik, body tebal, lebih safety aja rasanya. Maklum, pernah ada 2 kali insiden nyium pantat bus dan pantat Serena saat macet-macetan di tol Jkt gara-gara microsleep ?

Kekuatan mesin Sportage untuk nyalip di tanjakan sangat dapat diandalkan. Beranilah ngelawan Pajero Sport di Cipali. High speed di tikungan sama sekali tidak membuat body-nya kebanting, mungkin kebantu sama Prime Suspension Active Stabilizator. Walaupun Sportage-nya sudah tahun ke-7, tidak terasa ada penurunan performa dari segi kemampuan engine saat full throttle alias gaspol. Kulit joknya juga masih awet, tidak mengelupas.

Mari kita kembali bahas Nissan Livina VL 2019. Saat mulai berjalan, autodoorlock-nya tidak aktif, demikian juga dengan fitur autounlock. Fitur-fitur itu sebenarnya sudah ada di dalam komputernya, sama dengan Xpander. Tetapi entah mengapa dari pabrik hal itu tidak dianggap penting sehingga tidak diaktifkan. Kalah dong sama Toyota Agya, hihi. Di Youtube ada yang ngasih triknya sih.

Ganti Oli Gratis, Sekalian Olinya Juga Gratis

Kalau kelebihan lain Nissan Livina 2019 VL, sudah ada keyless entry, start stop button, jok kulit bawaan pabrik, kaca film, plus gratis servis termasuk oli sampai 50.000 km. Wah, ini benar-benar asyik bagi yang udah merasakan tingginya harga oli di setiap kali servis rutin. Jadi pikirannya ya tinggal isi bensin aja, pakai tiap hari, sampai saatnya servis, masuk bengkel, gak pake bayar. Cost of ownership-nya benar-benar rendah. Tidak perlu diongkosin lagi setelah beli, kecuali untuk menambahkan asesoris lain seperti karpet dari bahan karet, pengharum, audio, dll.

BTW audionya cukup enak kok, pas lah, ini pendapat telinga yang standarnya suka dengar suara speaker JBL. Luas bagasi, lega. Mengatur konfigurasi sandaran jok cukup mudah, melipatnya juga tidak sulit. Keliling kota Jogja masih enak banget walaupun bawa full 8 orang dewasa. AC juga awalnya bagus, cuman gak tahu kenapa kok sekarang suka ada bau gak enak pas baru dinyalakan, jadi harus buka jendela tiap akan menyalakan mesin. Ada yang tahu solusinya? Tolong tulis di komen ya!

Garasi sempit? Hati-hati, hitung dulu dengan seksama. Panjang body-nya lumayan lho, cek di brosur ya. Atau pinjam test drive dari dealer, coba masukkan ke garasi. Sudah 2 orang yang juga beli Livina 2019 hasil rekomendasi dari kami, salah satunya petinggi Brother di Jakarta ( http://scannerbrother.com )

Akhir kata, alhamdulillah penulis beli mobil Nissan Livina 2019 ini secara cash keras dari hasil project scanning ( http://ayoscan.com ) plus Jual Scanner ( http://jualscanner.com ) dan jualan aplikasi scan LJK ujian bernama DMR-Digital Mark Reader ( http://dmr.co.id )

Arif Rahmat
arifrahmat.com

Written by arifrahmat

December 13th, 2019 at 5:58 pm

Jalan-jalan ke Pulau Ayer

without comments

Mau jalan-jalan jauh ke tempat wisata di luar pulau saat ini terasa mahal akibat tiket pesawat yang naiknya nggak karu-karuan. Apa boleh buat, jalan-jalan ke tempat yang dekat saja. Kenapa tidak ke Kepulauan Seribu di DKI Jakarta? Dari Bandung cukup naik kereta api ke Jakarta, lalu dari Gambir bersambung naik bus ke Ancol. Tinggal menyeberang ke salah satu pulau di Kepulauan Seribu, maka nikmatilah pulau yang indah dengan pemandangan laut yang jernih dan udara yang masih bersih.

Fakultas saya mengadakan tur rekreasi ke Pulau Ayer di Kepulauan Seribu. Pulau Ayer adalah salah pulau tujuan wisata yang populer. Di pulau ini terdapat sebuah resort wisata yang dikelola oleh sebuah perusahaan swasta. Cottage-cottage bergaya etnik Papua terhampar di atas permukaan laut

69488552_2613851398682869_8861211929075515392_n

Pulau Ayer, foto dari atas drone (Credit photo by Arry Ahmad Arman)

Cottage-cottage apung bergaya etnik Papua di atas permukaan laut ((Credit photo by Arry Ahmad Arman)

Untuk pergi ke pulau ini kita dapat berangkat dari  Marina Ancol dengan waktu tempuh 30 menit menggunakan speedboat. Untunglah saat itu cuaca sangat bagus sehingga laut tidak terlalu bergelombang. Perjalanan ke Pulau Ayer berlangsung tanpa hambatan.

Pulau Ayer kecil saja. Meskipun demikian, pulau ini telah lama dijadikan tempat wisata dan rehat dari kesibukan ibukota. Dikutip dari laman Wikipedia, Pulau ini mulai dikunjungi sejak tahun 1950. Bahkan semasa hidupnya, mantan Presiden Sukarno menjadikan Pulau Ayer ini sebagai tempat peristirahatannya. Mantan Presiden Sukarno juga pernah mengajak mantan Presiden Tito dari Yugoslavia dan mantan Sekretaris Jenderal PBB, U Nu, berkunjung ke pulau ini. Meski pulau kecil, namun di sini terdapat sumber air tawar.

Pulau Ayer berpasir putih

Baru saja mendarat di Pulau Ayer, kita seakan-akan disambut oleh sekumpulan hewan baiawak. Biawak mirip dengan komodo, namun sebenarnya mereka spesies yang berbeda. Biawak di Pulau Ayer hidup di kolong-kolong dermaga. Petugas di Pulau Ayer menjaga biawak ini agar tidak berkeliaran ke tengah pulau. Hati-hati jangan terlalu mendekat ke biawak sebab jika terancam mereka melecutkan ekornya. Kata petugas pulau, lecutan ekor biawak  sangat pedih dan bisa menimbulkan luka yang dalam.

Biawak di Pulau Ayer

Mencoba berteman dengan biawak

Semua pantai di Pulau Ayer berpasir putih, namun butiran pasirnya tidak terlalu halus. Pohon-pohon besar nan rindang bertebaran di seluruh pulau. Beberapa pohon tergolong langka, seperti pohon beringin, pohon asam jawa, dan lain-lain. Angin sepoi-sepoi dari laut membuat kita terkantuk-kantuk saat tidur bermalas-malasan di tepi pantai. Sejenak melupakan rutinitas di kampus, merenung di pulau. Hmmm…sekarang ada program Dosen Merenung lho yang diluncurkan oleh Dikti. Namun bukan sembarang merenung atau melamun, tetapi dari merenung itu  harus bisa menghasilkan paper atau jurnal. Ah, nggaklah, saya ke sini bukan mau menulis paper, tetapi mau jalan-jalan saja bersama istri menikmati jauh dari keramaian, sekalian bulan madu kedua, hehehe.

Pantai Andoi

Santai sejenak di Pantai Andoi, Pulau Ayer

Tempat yang instagrammable untuk berfoto

Seperti yang saya ceritakan di atas, cottage-cottage di Pulau Ayer terletak di atas laut. Saat malam hari, terasa sekali ombak kecil beriak-riak di bawah kolong cottage. Ada sensasi tersendiri tidur di atas laut. Sekali-sekali saya terbangun dari tidur mendengar riak-riak ombak di kolong, seolah-olah ombak menggulung cottage. Ah, itu hanya pikiran aneh-aneh saja.

Cottage apung. Setiap cottage terhubung dengan jembatan

Pemandangan salah satu cottage

Saat malam hari

Andalan Pulau Ayer adalah pantainya dan cottage-cottage di atas laut. Bagi wisatawan yang senang memancing, pulau ini menyediakan tempat untuk memancing. Pulau Ayer dapat dikelilingi dalam waktu lima belas menit saja dengan berjalan kaki. Benar-benar pulau yang kecil ya. Tidak ada dataran tinggi atau bukit, datar saja.

Semalam di Pulau Ayer sudah cukuplah. Saatnya kembali ke keramaian dunia, kembali ke rutinitas harian di kampus Ganesha.

Written by rinaldimunir

December 12th, 2019 at 9:31 am

Posted in Cerita perjalanan

Beli Meski Tidak Butuh

without comments

Seorang bapak duduk termenung di pinggir jalan di seberang Toserba Griya menjelang senja. Lelah dia berjalan setelah berkeliling menjajakan jualannya berupa barang remeh temeh seperti tisu, peniti, spon cuci piring, gunting kuku, jepit rambut, dll. Matanya nanar menatap lalu lalang kendaraan dan orang-orang yang lewat, berharap ada yang membeli dagangannya.

Saya beli saja tisu, spon, dan gunting kuku, yang sebenarnya barang2 itu sudah ada di rumah.

#suatusenjadiAntapani

Written by rinaldimunir

December 5th, 2019 at 4:56 pm

Masa-masa Mengantar Anak ke Sekolah yang Tidak akan Pernah Terulang

without comments

Seorang teman di kantor minta izin sebentar karena mau menjemput anaknya dari sekolah (masih SD). Setiap pagi dia selalu mengantar anaknya ke sekolah, pun pulang sekolah juga selalu dijemput.

Saya katakan kepada teman saya itu (sambil menyemangatinya): Benar, masa-masa mengantar jemput  anak ke sekolah  tidak akan pernah terulang. Hanya sekali saja dalam hidup kita ini sebagai orangtua. Kalau anak sudah besar, mereka mungkin tidak mau diantar lagi. Mumpung masih bisa antar jemput, lakukan saja dengan senang hati. Nikmati masa-masa itu.

Saya jadi teringat posting-an seorang warganet di Facebook yang baper melihat seorang ayah mengantar anaknya ke sekolah. Dia merasa sangat sedih karena tidak pernah mengantar anaknya ke sekolah. Bukan dia tidak mau, tetapi tidak punya kesempatan.

antar

Seorang ayah mengantar anaknya ke sekolah (sumber foto dari sini)

Saya sih sudah selesai menjalani masa antar anak-anak ke sekolah saat mereka SD (baca: Berakahir Masa Menjadi “Tukang Ojek” Anak). Anak-anakku kini sudah beranjak besar, dua orang yang besar sudah kuliah. Anak yang bungsu masih SMP kelas 7, dia pergi dan pulang sekolah sendiri, naik gojek, kadang naik angkot/bis. Dulu dari TK sampai SD saya yang rutin antar setiap anak ke sekolahnya setiap pagi dengan motor yang kupakai hingga kini ke kampus. Sekarang masa itu sudah lewat dengan setumpuk kenangan yang tidak akan terlupakan.

Mumpung kalian masih punya anak masih kecil, nikmati masa-masa mengantar anak ke sekolah setiap pagi. Masa-masa seperti itu tidak akan pernah terulang lagi.

Written by rinaldimunir

December 3rd, 2019 at 9:11 am

Anak Kecil Penjual Serbet dan Keset

without comments

“Assalaamu’alaikum, Pak. Beli serbet dan kesetnya, Pak”

Seorang bocah dengan baju yang tamapk kebesaran tiba-tiba muncul di depan pagar rumah. Dia, si Ujang dari Cicalengka, menjajakan serbet dan keset dari rumah ke rumah di Antapani. Serbet lima belas ribu dua, keset duapuluh ribu satu. Ibunya menunggu di sudut jalan, mengerahkan anak-anaknya berjualan dari pintu ke pintu.

Sayapun menemuinya. Saya tidak butuh-butuh amat sih, masih banyak serbet dan keset kaki di rumah. Namun, saya beli juga. Iba.

Berikut dialog saya dengan si Ujang, tentu dalam Bahasa Sunda, Sunda minimalis . Maklum, meski saya sudah puluhan tahun di Bumi Parahyangan, namun bahasa Sunda saya masih saeutik-saeutik.

+ Umurnya berapa, Jang?
– Tujuh tahun, Pak
+ Sekolah kelas berapa?
– Kelas dua
+ Dari Cicalengka naik apa?
– Naik kereta
+ Berapa orang ke sini?
– Empat. Mama, Aa, adik, dan saya
+ Pulang ke Cicalengka lagi jam berapa?
– Nanti kalau udah habis

Apa yang dilakukan si Ujang dan mamanya masih lebih baik daripada mengemis. Sejak kecil ibunya sudah memperkenalkan beratnya perjuangan hidup. Sekarang sih dia belum mengerti. Kalau sudah besar baru dia paham betapa kerasnya kehidupan.

Mungkin ada orang yang berpikir, ah, itu strategi “orangtua” untuk memanfaatkan anak-anaknya berjualan agar memancing rasa iba. Child abuse. Sama seperti kisah anak-anak penjual coet atau batu cobek atau batu ulekan (batu untuk menghaluskan bumbu) dari Padalarang. Entahlah, saya tidak peduli. Saya beli saja, hitung-hitung niat sedekah.

Hati-hati di jalan ya, Jang. Dia pun pergi ke pintu yang lain. Menjajakan dagangan yang sama. Serbet dan keset.

Written by rinaldimunir

November 10th, 2019 at 4:32 pm

Ubuntu, Saya Ada karena Kita Ada

without comments

Bagi anda yang menekuni bidang komputer, tentu pernah mendengar nama Ubuntu. Ubuntu adalah nama sistem operasi keluarga Linux. lebih tepatnya, Ubuntu adalah sebuah sistem operasi distribusi Linux berbasis Debian yang gratis dan bersifat kode terbuka (open-source). Sistem operasi ini dirilis pada tahun 2004 dan dengan cepat menjadi populer karena mudah diinstalasi dan digunakan.

Logo Ubuntu

Tulisan saya ini tidak akan membahas spesifikasi Ubuntu, silakan baca informasinya yang banyak bertebaran di Internet. Saya akan menceritakan kisah yang sangat  menarik dari nama Ubuntu itu. Ternyata nama Ubuntu berasal dari filosofi dari Afrika Selatan yang bemakna kemanusiaan kepada sesama. Ada motivasi di balik budaya Ubuntu di Afrika.

Begini ceritanya.

Seorang antropologis mengajukan sebuah permainan kepada anak-anak suku Afrika.

Dia menempatkan sekeranjang permen di bawah sebuah pohon, lalu meminta kepada anak-anak itu untuk berdiri 100 meter dari keranjang itu. Dia mengumumkan bahwa siapa saja yang pertama kali mencapai keranjang, maka ia akan mendapatkan semua permen di dalam keranjang. Ketika dia mulai mengatakan ‘siaaapp…Go!’….

Tahukah anda apa yang dilakukan oleh anak-anak itu? Mereka saling bergandengan tangan, lari bersama-sama menuju keranjang di bawah pohon, membagi permen-permen itu sama banyak di antara mereka, memakan permen dan menikmatinya.

Ketika antropologis bertanya mengapa mereka melakukan hal itu. Mereka menjawab…”Ubuntu“,  yang mana berarti “bagaimana bisa seseorang bahagia ketika yang lainnya merasa sedih?”

Ubuntu dalam bahasa mereka berarti:

“Saya ada karena kami ada” (I am because we are)

Ini adalah pesan yang sangat kuat  untuk semua generasi.

Marilah kita selalu memiliki perilaku ini dan menyebarkan kebahagiaan kemana saja kita pergi.

Marilah memiliki kehidupan “Ubuntu”…

SAYA ADA KARENA KITA ADA

(I AM BECAUSE WE ARE)

Kisah Ubuntu

Written by rinaldimunir

October 21st, 2019 at 3:04 pm

Ketika Menjadi Sholeh Menimbulkan Kecurigaan

without comments

Sudah puluhan tahun saya hidup di tanah air tercinta, baru pada zaman pemerintahan sekarang, kira-kira 5 tahun ke belakanglah, saya merasa banyak hal menjadi terbalik-balik. Yang benar dianggap salah, yang salah dianggap benar. Banyak contohnya.

Memakai gamis, memakai jilbab panjang, menumbuhkan jenggot, atau memakai celana semata kaki (dikenal dengan nama celana cingkrang) akan dicap sebagai orang radikal, khilafah, HTI, fundamentalis, PKS, bahkan teroris. Dengan gampang saja label itu disematkan kepada mereka oleh kelompok pembenci. Waspada kepada paham radikalisme boleh-boleh saja, tetapi menggeneralisasi semua orang yang mengikuti sunnah Rasul adalah radikal adalah sikap kebablasan.

Pada kasus revisi UU KPK misalnya, buzzer-buzzer pendukung Pemerintah melancarkan opini bahwa KPK adalah sarang kelompok radikal. Tudingan itu dibuat karena di sana ada penyidik Novel Baswedan yang sekarang suka memakai celana cingkrang, juga karena setiap pekan ada pengajian buat karyawan yang muslim ( sementara kebaktian bagi karyawan kristiani tidak dipermasalahkan).

Fenomena lain yang membuat saya prihatin adalah seringnya ustad dihadang di bandara, pengajian dibubarkan oleh sekelompok orang atau ormas hanya karena ustad  yang akan mengisi pengajian dicap sebagai ustad radikal, khilafah, HTI, dan sebagainya. Ustad Felix Siaw adalah ustad yang paling sering dihadang dan pengajiannya dibubarkan, disamping ustad-ustad lain. Meskipun saya tidak kenal Felix Siaw, tidak selalu sepaham dengan Felix Siaw, tidak pernah mendengarkan ceramahnya, namun membubarkan pengajian atau menghadang ulama dalam kacamata saya adalah perbuatan yang tidak menghargai demokrasi. Tidak Pancasilais, anti Pancasila malah, sebab Pancasila menjunjung tinggi demokrasi, menghargai kebebasan berpendapat, dan menjamin setiap orang menjalankan agama dan kepercayaannya.

Parahnya, ormas yang membubarkan pengajian sama-sama ormas Islam juga. Lha, kok?  Aneh, bukan? Sama-sama mengucapkan syahadat, sama-sama mempunyai kitab Al-Quran, Nabinya sama, Tuhannya sama, tetapi kok sangat beringas kepada saudaranya. Dialog tidak dikedepankan, tetapi kekerasan fisik dan verbal lebih diutamakan.

Kemarin saya membaca berita Ustad Abdul Somad (UAS) ditolak oleh UGM mengisi diskusi di masjid kampus dengan alasan yang terkesan mengada-ada. Menurut kabar karena tekanan sebagian alumninya. Sebagai kampus yang menyediakan mimbar akademis dan tempat beradu gagasan, penolakan itu tidaklah pada tempatnya. Apa yang ditakutkan dengan ceramah seorang ustad? Penolakan terhadap UAS tidak hanya sekali ini saja, tetapi sudah beberapa kali di beberapa tempat karena alasan dia ustad radikal. Benarkah?

Saya menduga, penyebab berbagai tudingan radikal, fundamentalis, khilafah, membubarkan pengajian, menghadang ulama, menolak ustad, dan sebagainya, benang merahnya sama: mereka dianggap oposan, tidak pro rezim, mereka tidak berada di kubu 01. Politis sekali, bukan? Karena anda tidak berada di kubu kami, maka anda adalah lawan. Mengerikan. Polarisasi akibat Pilpres (dan juga Pilkada DKI) memang sangat buruk. Bangsa kita terbelah dua. Efeknya masih terasa sampai sekarang meskipun Pilkada DKI dan Pilpres sudah selesai, meskipun Prabowo sudah menyalami Jokowi, tetapi dampaknya belum hilang. Orang-orang yang dianggap oposan itu citranya dibuat buruk

Keberadaan para pendengung (buzzer) seperti Denny Siregar, Abu Janda, dan lain-lain ikut memperkeruh suasana. Para pendengung itu meniupkan isu, menyebarkan hoaks (ingat isu ambulan membawa batu yang disebarkan oleh DS), paling sering melontarkan isu radikal, khilafah, dan lain-lain, sehingga membuat suasana menjadi panas. Keberadaan para pendengung ini merusak demokrasi karena membuat bangsa ini terpecah belah. Sayangnya, meski telah berkali-kali dilaporkan ke kepolisian, mereka untouchable. Sampai lima tahun ke depan saya prediksi persatuan bangsa ini akan mudah tercabik-cabik karena kepentingan kekuasaan. Mengerikan!

Written by rinaldimunir

October 11th, 2019 at 1:21 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Pengemudi Gojek Perempuan itu Ternyata…

without comments

Sore hari saat jam pulang kantor saya memesan gojek motor dari sebuah rumah makan di Jalan Katamso. Saya mau pesan gojek ke rumah saya di Antapani. Di layar aplikasi ternyata yang mengambil order adalah seorang driver wanita.  Hmmm…batalkan nggak ya? Ini kedua kalinya saya mendapat pengemudi perempuan (pengalaman pertama mendapat pengemudi perempuan saya tulis di sini:  Tukang Ojek Perempuan yang Ikhlas Membantu Suaminya).

Sebenarnya saya risih jika memboncengi motor yang dikemudikan perempuan bukan mahram. Perasaan risih ini sudah saya ceritakan pada tulisan pertama tadi. Tapi lagi-lagi rasa kasihan saya mengalahkan perasaan risih. Baiklah, saya  OK-kan saja.  Pengemudi perempuan itu mengatakan bahwa dia sudah biasa mendapat penumpang laki-laki.  Di dalam hati saya berkata, jika perempuan sampai terjun menjadi tukang ojek atau gojek pastilah karena alasan yang sangat mendesak atau alasan-alasan yang luar biasa.


Dia mengemudikan motor dengan tenang. Tidak mengebut dan selalu hati-hati. Saya duduk sedikit agak menjauh dari punggungnya.

Tiba di Antapani. Sayapun turun. Lalu saya tanya:
+ Dari jam berapa nge-gojek, Teh?  (Saya memanggil dia “teteh”, panggilan kepada  perempuan Sunda)
– Dari jam 7 pagi sampai jam 10 malam, Pak.
+ Punya anak?
– Punya
+ Suami?
– Sudah enggak.

Oh, berarti dia single parent, dia mencari nafkah untuk menghidupi anaknya. Kasihan ya. Dari pagi sampai malam. Untung tadi tidak jadi saya batalkan. Ternyata dia perempuan perkasa. Di akhir perjalanan saya tambahkan bonus kepadanya.

~~~~~~

Saya kagum pada perjuangan pengemudi gojek perempuan. Mereka melakukan pekerjaan yang halal. Soal mahram dan hijab dapat saya atur, saya duduk tidak terlalu merapat ke badannya, ada ruang kosong. Membatalkan pesanan gojek  kalau tidak terpaksa sekali jangan  dilakukan, karena berpengaruh pada performa driver. Kalo performa turun, mereka susah mendapat order.

Seorang teman memberi saran, jika mendapat pengemudi perempuan, maka dia tukaran tempat. Dia yang mengemudi motor, sedangkan si perempuan yang menjadi penumpang. Menurut saya cara ini pun kurang sopan, sebab seolah-olah merendahkan perempuan karena dianggap tidak mampu menjadi driver.

Paa perempuan tukang ojek adalah perempuan perkasa. Banyak perempuan perkasa di sekitar kita. Mereka terjun mencari nafkah karena alasan yang terpaksa. Mungkin suami sudah tidak ada, atau ada suami tetapi penghasilan suami jauh dari mencukupi. Menjadi tukang ojek atau gojek mungkin adalah  pilihan yang cukup realistis saat ini. Mengapresiasi pekerjaan mereka adalah dengan menghargai mereka dan tidak melecehkannya.

Written by rinaldimunir

October 7th, 2019 at 4:47 pm

Generasi Milenial Ternyata tidak Apatis Sosial Politik

without comments

Aksi demo besar-besaran mahasiswa di berbagai kota di Indonesia yang meminta pencabutan revisi RUU KPK dan beberapa RUU lainnya telah membuat tercengang berbagai kalangan. Bagaimana tidak, mahasiswa-mahasiswa yang berdemo ini merupakan generasi milenial, yaitu mereka yang lahir sekitar tahun 2000. Generasi mileneal sering dianggap apatis, cuek, atau kurang peduli  terhadap kondisi sosial politik di tanah air. Mereka dibesarkan oleh gawai dan sangat aktif ber-sosmed ketimbang memikirkan urusan perpolitikan.

Namun, tanpa diduga, ternyata masih ada dan masih banyak mahasiswa yang peduli tentang negeri ini dengan melakukan aksi turun ke jalan. Mereka menyuarakan keresahan di tengah masyarakat terkait dengan revisi UU KPK yang dianggap mengkerdilkan lembaga anti rasuah tersebut serta bebrbagai RUU yang dianggap kontroversial. Surprise karena di tengah kondisi mahasiswa kita yang umumnya  lebih mementingkan urusan kuliah, gawai, medsos, dan juga asmara rupanya masih ada sebagian mahasiswa yang tergerak hati nuraninya menyuarakan keprihatinan masyarakat. Ketika tidak ada lagi yang mampu menyuarakan keprihatinan, maka harapan masyarakat disandangkan ke pundak para mahasiswa itu.

Aksi demo berlangsung masif dan brhari-hari. Dimulai dari aksi  #GejayanMemanggil Yogyakarta, dengan cepat aksi mahasiswa di Yogya menular ke berbagai kota di Indonesia. Mereka turun ke jalan. Mahasiswa yang selama ini diam akhirya terpanggil bergerak. Aksi demo semakin dramatis dengan kehadiran pelajar-pelajar STM (sebutan SMK untuk jurusan teknik) yang membantu kakak-kakaknya berdemo. Sejak aksi demonstrasi besar-besaran mahasiswa tahun 1998, barangkali inilah aksi demo yang terbesar sesudah tahun 1998.

Namun ingat, mereka berdemo bukanlah untuk menurunkan presiden. Bukan. Pemilu dan Pilpres sudah selesai. Mereka menyuarakan keprihatinan dan kekecewaan masyarakat terhadap berbagai UU dan RUU yang dibuat kejar tayang oleh DPR dan Pemerintah. Naif juga mengaitkan aksi mereka dengan radikalisme dan isu-isu seperti khilafah dan sebagainya. Saya melihat aksi demo mereka murni dan tidak ditunggangi.

Selama aksi-aksi mahasiswa itu murni, konstitusional, dan tidak anarkis, tentu akan  didukung oleh masyarakat. Menyuarakan pendapat dijamin oleh UU. Tentu saja aksi demo mereka berhadapan dengan aparat keamanan yang menjaga ketertiban. Hanya saja kalau ada mahasiswa yang terluka, terkena gas air mata, apalagi sampai ada yang mati, saya merasa sangat sedih. Tidak seharusnya aksi damai berubah menjadi “pertarungan” antara anak-anak muda harapan bangsa itu dengan polisi dan berakhir dengan kesedihan.

Generasi milenial ternyata tidak identik dengan anak manja, apatis, cuek, kurang peduli, dan stereotip lainnya. Mereka akan “bangun” pada waktunya, sekali mereka bangun bergemuruhlah seluruh negeri.

Written by rinaldimunir

October 3rd, 2019 at 3:35 pm

Posted in Indonesiaku

Mengenang Habibie

without comments

Terlalu banyak yang ingin saya tuliskan tentang B.J. Habibie, mantan Presiden Indonesia yang wafat semalam. Habibie adalah orang yang sangat baik. Semua orang Indonesia pasti tahu tentang itu. Semua anak Indonesia dulu mengidolakan beliau. Kenapa tidak, Habibie adalah orang yang jenius, karya-karyanya dalam bidang aeronautika tersebar ke seluruh dunia. Banyak orangtua menamai anak lekakinya dengan nama Habibie. Di Prodi saya di Informatika ITB tidak terhitung jumlah mahasiswa bernama Habibi, baik sebagai kata did epan maupun di belakang. Orangtuanya tentu berharap anaknya kelak seperti B.J Habibie.

Tidak salah Presiden Soeharto memanggil Habibie pulang dari Jerman dan mengangkatnya menjadi menteri. Takdir hidup pula yang menggariskan dia kelak menjadi presiden Indonesia berikutnya setelah Soeharto mengundurkan diri akibat tekanan politik, kerusuhan sosial, dan kejatuhan rupiah saat itu.

Saat saya masih mahasiswa di ITB, nama Habibie adalah jaminan untuk sekolah ke luar negeri. Pak Habibie saat itu sebagai Menristek sekaligus ketua BPPT mengirim banyak lulusan SMA untuk sekolah di luar negeri, khsusnya ke Eropa dan Amerika. Kami menyebutnya program Beasiswa Habibie.Tujuannya tidak lain untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dalam bidang teknologi. Tidak hanya teknologi dirgantara seperti keahlian Habibie, tetapi teknologi lainnya yang dibutuhkan negara.

Habibie saat muda (Aachen, Jerman, 1954)

Banyak sekali teman saya yang sudah diterima di ITB akhirnya mengundurkan diri dari kampus karena mendapat beasiswa Habibie. Sebuah prestise saat itu mendapat beasiswa ke Eropa dan Amerika. Mereka sekolah dari S1 sampai S3. Sebagian ada yang pulang kembali ke tanah air, tapi sebagian lagi tidak balik dan bekerja sebagai ekspatriat di Eropa.

Saya yakin seyakin-yakinnya hampir semua orang Indonesia mencintai Habibie. Beliau Presiden Indonesia yang tidak meninggalkan masalah selepas turun tahta. Dari tujuh presiden Indonesia (Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY, dan Jokowi), saya paling berkesan dengan Habibie. Alasan-alasannya adalah sebagai berikut:
1. Cerdas. Beliau adalah salah satu orang Indonesia yang jenius. Ilmuwan hebat yang diakui dunia atas karya-karyanya dalam bidang aeronautika.
2. Rendah hati (humble). Tidak sombong, tidak suka berkoar-koar menebar janji-janji dan harapan palsu. Betapa presiden-presiden Indonesia terlalu sering membuat janji dan harapan semu sekedar gimmick atau lipstik. Tapi Habibie beda. Sekedar contoh saja, berkat tangan dinginnya dia mampu mengembalikan rupiah yang terpuruk saat kejatuhan Soeharto dari 17.000 menjadi 9000 per dollar. Saat ini kita tidak pernah melihat dollar bertengger di bawah sepuluh ribu rupiah.
3. Tidak menumpuk kekayaan selama berkuasa, karena memang pada dasarnya Habibie sudah kaya dari royalti yang diterimanya atas karya-karya pesawatnya. Habibie adalah sosok yang ikhlas. Kecintaannya pada tanah air jangan diragukan lagi.
4. Tidak punya kasus setelah tidak berkuasa.  Ini saya saya sebutkan tadi. Habibie bersih dari berbagai skandal, sepi dari segala rumor dan isu tidak sedap setelah turun tahta. Coba bandingkan dengan Soekarno, Soeharto, SBY, Megawati, masih saja diungkit-ungkit perbuatannya pada  masa lalu. Entah pula nanti Jokowi ketika nanti lengser, apa pula yang akan dipermasalahkan orang nanti.
5. Demokratis. Dialah yang membuka kran media massa sehingga puluhan media terbit. Media bebas bersuara, tidak takut lagi mengkritik penguasa. Pemilu multi partai pun dimulai pada era Habibie. Partai yang semula cuma 3 (Golkar, PPP, PDI) berkembang menjadi 48 partai. Luar biasa. Pantaslah Habibie disebuts ebagai Bapak Demokrasi.
6. Habibie mewakafkan hartanya untuk ilmu pengetahuan. Habibie Award adalah Nobel Price-nya Indonesia.
7. Habibie memadukan ilmu dengan agama. Salah satuwarisan yang dipopulerkan Habibie adalah frase “meningkatkan IMTAK dan IPTEK”. IMTAK = iman dan taqwa. IPTEK = ilmu pengetahuan dan teknologi.
8. Habibie menguasai banyak bahasa asing (Inggris, Jerman, Perancis)

Memang semua presiden di repulik ini punya keunikan, masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Namun Habibie-lah yang paling berkesan di hati.

Habibie saat muda adalah pria yang ganteng. Kegantengannya dan budi pekertinya yang santun meluluhkan hati Ainun, seorang mojang priangan kota Kembang yang cantik, saat Habibi kuliah di ITB dulu. Foto-foto Habibie saat masih muda bertebaran di media sosial seperti foto-foto di bawah ini.

Berkat film Ainun dan Habibie, yang mengisahkan perjalanan Hbibibie dan istrinya, orang Indonesia pun tahu bahwa Habibie tidak hanya cerdas tetapi juga romantis. Kisah hidupnya dengan Ainun menjadi inspirasi bagi banyak orang. Bacalah sebuah tulisan yang saya tidak tahu siapa penulisnya tetapi saya rasa sungguh tepat menggambarkan Habibie dan istrinya itu. Saya copas di sini ya.

SELAMAT JALAN, RUDY..
9 Maret 1962. Saat itu malam hari raya Iedul Fitri.
Rudy – panggilan BJ Habibie – mengajak jalan Ainun. Ia ingin mengajaknya nonton bioskop, tapi sayang karena udara begitu cerah. Akhirnya mereka berjalan kaki menyusuri sepanjang kampus ITB. Hati Rudy berdetak tidak karuan. Ada yang ingin ia sampaikan. Tapi ia begitu malu. Sampai terlintas dalam pikirannya, “Kalau tidak sekarang, kapan lagi ?”
Lalu ia memberanikan diri bertanya, “Ainun, maaf. Saya tidak ingin mengganggu masa depanmu. Tapi, apakah kamu punya kawan dekat ?”

Ainun, dengan detak jantung yang sama cepatnya, terdiam lama. Lalu ia menghadapkan tubuhnya ke arah Rudy sambil menjawab dengan lirih, “Tidak. Saya tidak punya kawan dekat..”

Hati Rudy bersorak. Perasaan yang sudah lama dipendamnya mendapatkan jawaban. Sesudah malam itu, merekapun selalu bersama, saling berbincang dan saling menyatukan hati hingga menikah pada tahun yang sama.

Perjalanan hidup kedua manusia ini menjadi cerita romansa yang tidak ada habisnya. Mereka tidak pernah berjauhan. Tidak sedikitpun. Ainun selalu mengikuti kemana Rudy pergi, sampai kekasihnya menjadi Presiden RI.

Tetapi janji itu putus sudah. Ainun harus pergi tanpa bisa meminta. Betapa hancurnya hati Rudy saat itu. Ia ingin menangis tapi suaranya tidak pernah keluar. Tubuhnya lunglai tanpa ia mampu menegakkan.

“Saat ini saya tidak takut lagi menunggu kematian, karena Ainun menunggu disana..” Perih hatinya menjadi sukacita. Ia menunggu hari-harinya dengan senyum kekasihnya yang selalu ada di setiap malam ketika rasa sepi membunuhnya.

Malam ini, Profesor Dr Ing Bacharuddin Jusuf Habibie, dengan tersenyum menuju ke tempat hatinya berada. Ke tempat Ainun menunggunya dengan senyum yang tak pernah ada habisnya.
Ia berbahagia ketika seluruh bangsa menangis ditinggalkannya. Hati ini hancur seperti hancurnya Rudy ketika Ainun meninggalkannya.

Rudy dan Ainun, mereka bersama menari di alam yang berbeda. Mereka memang tidak terpisahkan. Tidak akan pernah…

Selamat jalan B.J Habibie. Anda akan dikenang sebagai seorang yang baik, malah sangat baik. Nama anda akan selalu ada di hati segenap bangsa Indonesia.

Written by rinaldimunir

September 12th, 2019 at 9:04 am

Posted in Indonesiaku