if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Wawasan Kebangsaan’ Category

Apa Untungnya Belajar Bahasa (Indonesia)

without comments

Share

3Dulu waktu Ebta kesenian, saya kerap dapat nilai tinggi. Barangkali karena membawakan lagu-lagu yang teman saya ga begitu tahu hihihi.. iya.. dulu saya suka dengan lagu yang liriknya ditulis Bu Wieke Gur seperti… Kusadari, Seandainya Selalu Satu, dll…Belakangan, saya tahu beliau salah satu linguist Bahasa Indonesia.

Adik-adikku, anak-anakku, belajar bahasa kerap dipandang sebelah mata, ga penting, ga menarik, apalagi Bahasa Indonesia iihh apaan siy. Padahal, biasanya linguist itu orang dengan kecerdasan sangat tinggi lho, contohnya Noam Chomsky. Karena belajar bahasa, belajar simbol sampai manusia bisa berkomunikasi dengan manusia lain itu pastilah luar biasa. Bahkan Adam sendiri diajar bahasa langsung oleh Tuhannya bukan.

Lantas apa untungnya belajar Bahasa Indonesia, secara profesional komersil mengisi dompet bisa tidak? Loh jangan salah, bukan profesi penulis saja yang tersedia, lihat Bu Wieke Gur, bisa produktif menulis lirik lagu yang indah, bisa jadi dosen Bahasa Indonesia di luar negeri. Iya, perlu banyak orang kompeten yang mengajar Bahasa Indonesia di luar negeri, proliferasi bahasa sama dengan penyebarluasan kebudayaan.

Kemudian Bu Wieke saat ini sudah kembali ke tanah air dan menjadi konsultan marketing multi dan lintas budaya. Penduduk Indonesia yang ratusan juga dengan ratusan ribu kilometer wilayahnya yang membentang itu potensi ekonomi bisnis ga main-main. Perusahaan-perusahaan luar negeri berlomba-lomba mengais pundi-pundi disini. Dan mereka perlu belajar budaya, belajar bahasa, belajar menaklukkan pasar, lewat budaya, lewat bahasa. Profesi konsultan marketing masih terbuka luas, dan turunan-turunannya. Yang berarti pula kesempatan buat kamu-kamu untuk membuka bisnis di bidang tersebut bukan? Ini keunggulan yang sulit dimiliki non-native Bahasa Indonesia.

Oh iya, dulu di sekitar tahun 2008, saya menyarankan seorang anak SMA untuk mengambil Sastra Rusia Unpad, dibentangkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa diraih. Ada yang mencemooh pilihannya itu, apaan sastra, Rusia lagi. Dan saat ini, dia sudah menggigil kedinginan di Rusia, master ilmu politik! Halo Aboy.. semoga kian sukses, penuh nasionalisme untuk berbakti pada tanah air, dan bergabung dengan Partai Gerindra (loh!) heheheh

Written by ibudidin

December 1st, 2014 at 2:18 pm

Posted in Wawasan Kebangsaan

Apa Untungnya Belajar Bahasa (Indonesia)

without comments

Share

3Dulu waktu Ebta kesenian, saya kerap dapat nilai tinggi. Barangkali karena membawakan lagu-lagu yang teman saya ga begitu tahu hihihi.. iya.. dulu saya suka dengan lagu yang liriknya ditulis Bu Wieke Gur seperti… Kusadari, Seandainya Selalu Satu, dll…Belakangan, saya tahu beliau salah satu linguist Bahasa Indonesia.

Adik-adikku, anak-anakku, belajar bahasa kerap dipandang sebelah mata, ga penting, ga menarik, apalagi Bahasa Indonesia iihh apaan siy. Padahal, biasanya linguist itu orang dengan kecerdasan sangat tinggi lho, contohnya Noam Chomsky. Karena belajar bahasa, belajar simbol sampai manusia bisa berkomunikasi dengan manusia lain itu pastilah luar biasa. Bahkan Adam sendiri diajar bahasa langsung oleh Tuhannya bukan.

Lantas apa untungnya belajar Bahasa Indonesia, secara profesional komersil mengisi dompet bisa tidak? Loh jangan salah, bukan profesi penulis saja yang tersedia, lihat Bu Wieke Gur, bisa produktif menulis lirik lagu yang indah, bisa jadi dosen Bahasa Indonesia di luar negeri. Iya, perlu banyak orang kompeten yang mengajar Bahasa Indonesia di luar negeri, proliferasi bahasa sama dengan penyebarluasan kebudayaan.

Kemudian Bu Wieke saat ini sudah kembali ke tanah air dan menjadi konsultan marketing multi dan lintas budaya. Penduduk Indonesia yang ratusan juga dengan ratusan ribu kilometer wilayahnya yang membentang itu potensi ekonomi bisnis ga main-main. Perusahaan-perusahaan luar negeri berlomba-lomba mengais pundi-pundi disini. Dan mereka perlu belajar budaya, belajar bahasa, belajar menaklukkan pasar, lewat budaya, lewat bahasa. Profesi konsultan marketing masih terbuka luas, dan turunan-turunannya. Yang berarti pula kesempatan buat kamu-kamu untuk membuka bisnis di bidang tersebut bukan? Ini keunggulan yang sulit dimiliki non-native Bahasa Indonesia.

Oh iya, dulu di sekitar tahun 2008, saya menyarankan seorang anak SMA untuk mengambil Sastra Rusia Unpad, dibentangkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa diraih. Ada yang mencemooh pilihannya itu, apaan sastra, Rusia lagi. Dan saat ini, dia sudah menggigil kedinginan di Rusia, master ilmu politik! Halo Aboy.. semoga kian sukses, penuh nasionalisme untuk berbakti pada tanah air, dan bergabung dengan Partai Gerindra (loh!) heheheh

Written by ibudidin

December 1st, 2014 at 2:18 pm

Posted in Wawasan Kebangsaan

‘kriminalisasi’ PNS

without comments

Share

Ketika sama-sama mengerjakan tugas essay fisalfat, seorang teman bertanya: Bu Didin udah selesai? Ya pastinya Pak…. Belum, klo udah ya rekor itu saya bisa lebih dulu dari bapak hahahah ketak ketik ketak ketik si Bapak masih nongkrong di sebelah meja komputer saya, rupanya Bapaknya juga melakukan perbaikan-perbaikan. Kemudian dia nyeletuk, udah aja Bu Didin jangan bagus-bagus, kumpulin aja nanti punya saya kebanting jadi dinilai jelek… ya ngakaklah kita berdua… disisi ini bukan saya lebih baik dari beliau, cuman saya sudah bertahun-tahun terpapar/mengambil kuliah filsafat, dan beliau baru, jadi soal exposure dan jam terbang saja.
Berlanjut ke cerita sodara kita sebangsa dibawah ini tentang PNS. Menjadi PNS jaman ini asa ‘hina’ ya.. dijatuhkan sedemikian rupa. Saya mikir lama, ini pasti ada sesuatu yang berlangsung di masyarakat kita.. dan saya kira, ini karena ada pihak yang ‘ga bagus’ tapi ingin terlihat bagus dengan membuat pihak lain lebih tidak bagus lagi. Saya bisa setuju dengan testimoni dibawah ini, ada ‘invisible group’ yang menurunkan moral PNS sedemikian rupa, sehingga mudah dijadikan isu dan kambing hitam, sebagai ‘collateral damage’ dari agenda-agenda mereka. Dan intuisi saya, the invisible group ini ga jauh2 dari yang namanya kelompok pedagang atau pebisnis.

Memusuhi PNS dianggap perjuangan kesejahteraan rakyat,
Mengurangi tunjangan PNS dan melarang kegiatan di hotel dianggap kemenangan rakyat,
Sidak dan memarahi PNS dianggap prestasi,
Kampanye “jangan jadi PNS, jadilah pengusaha” sebagai pedoman hidup bijaksana,
PNS di pusat perbelanjaan adalah suatu dosa dan kenistaan,
PNS yang berkecukupan adalah ancaman negara yang harus diberantas,
Membatasi 400 undangan perkawinan adalah ide cemerlang benderang rupawan.
………
Sahabat saya PNS seluruh Indonesia, kita adalah korban kebijakan populis!
Para penguasa berusaha membangun propaganda “PNS adalah musuh bersama” untuk merebut hati rakyat miskin dengan mengobral isu bahwa kita PNS hidup keenakan.
Banyak rakyat miskin di negara kita adalah dampak dari korupsi para penguasa! Bukan karena tunjangan PNS, bukan karena PNS melangsungkan pernikahan dengan 400 undangan! Seolah-olah kehidupan PNS adalah masalah paling krusial di negara ini.
Apa kabar mafia anggaran? Apa kabar mafia minyak? Apa kabar mafia kebijakan ekspor-impor? Apa kabar mafia hukum?
Mari bersama kita tolak POLITISASI PNS… kami adalah abdi negara, abdi masyarakat, berjanji untuk setia kepada bangsa dan negara, mengambil pilihan untuk menjadi PNS karena kami cinta Indonesia.
KAMI BUKAN MASALAH, KAMI BUKAN PENYAKIT, KAMI BUKAN MUSUH!
?#?StopPolitisasiPNS? ?#?KamiBukanMusuh?

Written by ibudidin

December 1st, 2014 at 1:13 pm

Posted in Wawasan Kebangsaan

‘kriminalisasi’ PNS

without comments

Share

Ketika sama-sama mengerjakan tugas essay fisalfat, seorang teman bertanya: Bu Didin udah selesai? Ya pastinya Pak…. Belum, klo udah ya rekor itu saya bisa lebih dulu dari bapak hahahah ketak ketik ketak ketik si Bapak masih nongkrong di sebelah meja komputer saya, rupanya Bapaknya juga melakukan perbaikan-perbaikan. Kemudian dia nyeletuk, udah aja Bu Didin jangan bagus-bagus, kumpulin aja nanti punya saya kebanting jadi dinilai jelek… ya ngakaklah kita berdua… disisi ini bukan saya lebih baik dari beliau, cuman saya sudah bertahun-tahun terpapar/mengambil kuliah filsafat, dan beliau baru, jadi soal exposure dan jam terbang saja.
Berlanjut ke cerita sodara kita sebangsa dibawah ini tentang PNS. Menjadi PNS jaman ini asa ‘hina’ ya.. dijatuhkan sedemikian rupa. Saya mikir lama, ini pasti ada sesuatu yang berlangsung di masyarakat kita.. dan saya kira, ini karena ada pihak yang ‘ga bagus’ tapi ingin terlihat bagus dengan membuat pihak lain lebih tidak bagus lagi. Saya bisa setuju dengan testimoni dibawah ini, ada ‘invisible group’ yang menurunkan moral PNS sedemikian rupa, sehingga mudah dijadikan isu dan kambing hitam, sebagai ‘collateral damage’ dari agenda-agenda mereka. Dan intuisi saya, the invisible group ini ga jauh2 dari yang namanya kelompok pedagang atau pebisnis.

Memusuhi PNS dianggap perjuangan kesejahteraan rakyat,
Mengurangi tunjangan PNS dan melarang kegiatan di hotel dianggap kemenangan rakyat,
Sidak dan memarahi PNS dianggap prestasi,
Kampanye “jangan jadi PNS, jadilah pengusaha” sebagai pedoman hidup bijaksana,
PNS di pusat perbelanjaan adalah suatu dosa dan kenistaan,
PNS yang berkecukupan adalah ancaman negara yang harus diberantas,
Membatasi 400 undangan perkawinan adalah ide cemerlang benderang rupawan.
………
Sahabat saya PNS seluruh Indonesia, kita adalah korban kebijakan populis!
Para penguasa berusaha membangun propaganda “PNS adalah musuh bersama” untuk merebut hati rakyat miskin dengan mengobral isu bahwa kita PNS hidup keenakan.
Banyak rakyat miskin di negara kita adalah dampak dari korupsi para penguasa! Bukan karena tunjangan PNS, bukan karena PNS melangsungkan pernikahan dengan 400 undangan! Seolah-olah kehidupan PNS adalah masalah paling krusial di negara ini.
Apa kabar mafia anggaran? Apa kabar mafia minyak? Apa kabar mafia kebijakan ekspor-impor? Apa kabar mafia hukum?
Mari bersama kita tolak POLITISASI PNS… kami adalah abdi negara, abdi masyarakat, berjanji untuk setia kepada bangsa dan negara, mengambil pilihan untuk menjadi PNS karena kami cinta Indonesia.
KAMI BUKAN MASALAH, KAMI BUKAN PENYAKIT, KAMI BUKAN MUSUH!
?#?StopPolitisasiPNS? ?#?KamiBukanMusuh?

Written by ibudidin

December 1st, 2014 at 1:13 pm

Posted in Wawasan Kebangsaan