if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Memiliki “Mata” dari Kejauhan

without comments

Di RT saya dipasang beberapa kamera CCTV yang terhubung ke Internet.  CCTV ini hasil urunan warga setelah diskusi di dalam grup whatsapp (WA).  Di RT saya ada grup WA sebagai sarana komunikasi antar warga yang rata-rata sibuk sehingga sulit mengadakan rapat. Dari obrolan di WA terbersit ide untuk memasang kamera CCTV di sudut-sudut jalan di RT kami. RT kami, yang berada di kompleks perumahan, terhubung satu sama lain dengan empat ruas jalan. Setiap ruas jalan akan dipasang 3 buah kamera CCTV, yaitu di pojok persimpangan dan di tengah ruas jalan. Total keseluruhan kamera CCTV adalah 13 buah.

Setelah serius dengan ide CCTV itu, maka vendor pun diundang untuk menjelaskan mekanisme dan biaya keseluruhan (biaya beli peralatan dan pemasangan). Selanjutnya ditetapkan iuran untuk masing-masing rumah. Untuk membeli semua CCTV itu (termasuk komputer) diperlukan biaya 19 jutaan, dan TV untuk monitor 2,5 juta. Jika ditambah biaya upah tukang, beli cat, beli tiang, dan lain-lain, maka total keseluruhan biaya pengadaan dan pemasangan CCTV itu sekitar 22 jutaan. Setiap rumah ditarik iuran sekitar 400 ribuan. Maka, dua minggu kemudian terpasanglah CCTV di RT kami.

Komputer, wifi, dan layar TV yang memantau semua hasil tangkapan kamera CCTV  ditaruh di pos ronda yang dijaga oleh Pak Satpam. Dari pos ronda itu Satpam dapat memantau kondisi jalan-jalan pemukiman.

Tentu saja keamanan lingkungan tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada Satpam. Warga pun dapat aktif memantau gambar-gamabr CCTV melalui ponsel, karena video dari CCTV dapat diakses melalui intenet (karena ada wifi). Dengan memasang aplikasi Glenz di Android warga dapat memantau situasi jalan-jalan pemukiman via ponsel secara real time 24 jam di mana pun mereka berada.  Seperti screen shot dari ponsel saya di bawah ini, saya dapat memantau kondisi jalan di depan rumah saya meskipun saya sedang berada di luar kota. Ketika siang hari video yang ditampilkan oleh CCTV terlihat berwarna, tetapi pada malam hari gambarnya hitam putih saja karena kurang cahaya.

Kata kunci semua ini adalah IOT (internet of things), yaitu benda-benda ditambahkan dengan kemampuan untuk mentransfer data melalui jaringan (internet) tanpa memerlukan interaksi antar manusia ke manusia atau manusia ke komputer.

Menyenangkan juga sesudah ada CCTV ini. Dari kantor  saya dapat melihat anak saya yang pulang sekolah pada siang hari dengan sepedanya, atau saya dapat melihat pembantu yang keluar rumah menyapu jalan, melihat orang yang datang ke rumah, dan sebagainya. Memang kamera CCTV itu tidak dapat menampilkan wajah orang secara jelas (karena dipasang di atas dengan lebar tangkapan yang tidak terlalu besar), tapi sudah cukuplah memantau situasi perumahan. Ibaratnya saya memiliki “mata” dari kejauhan.

Written by rinaldimunir

October 12th, 2017 at 4:07 pm

Posted in Uncategorized

Nasib TKI di Penjara Malaysia

without comments

Supaya ada keseimbangan berita antara orang Indonesia yang merasakan “hidup senang” di Malaysia (terutama bagi yang mendapat beasiswa di Malaysia) dengan para TKI yang merasa “hidup menderita” di sana, saya kutipkan sebuah berita dari koran ini. Ternyata perilaku polisi di Malaysia tidak selamanya baik. Para pembaca di Malaysia mungkin tidak tahu hal yang begini, karena tidak mungkin berita semacam ini muncul di media Malaysia.

TKI: Pemerintah Harus Protes Penghinaan Malaysia
Sabtu, 28 Agustus 2010, 11:35 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,TANJUNGPINANG–Ratusan TKI bermasalah yang diusir Pemerintah Malaysia melalui Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau mengharapkan pemerintah Indonesia melayangkan nota protes terhadap penghinaan yang dilakukan petugas Malaysia selama mereka di penjara.”Kami berharap pemerintah bertindak tegas, karena setiap hari bangsa kita dihina petugas penjara maupun polisi Malaysia selama kami ditahan,” kata salah seorang TKI bermasalah, Sahiradin (39), ketika sampai di pelabuhan internasional Sri Bintan Pura Tanjungpinang, Jumat malam.

Sahiradin yang berasal dari Nusa Tenggara Barat mengatakan, hinaan dan cacian setiap hari didengar oleh ratusan bahkan ribuan TKI bermasalah yang ditahan di penjara Malaysia.”Mereka menuduh bangsa Indonesia sebagai bangsa pencuri, padahal merekalah pencuri karena seluruh harta benda kami diambil saat di penjara. Bukan itu saja, kami dipukul dan ditelanjangi jika sedikit melawan,” ujarnya yang dipenjara selama satu bulan di penjara Keluang, Johor Bahru, Malaysia dengan satu kali hukuman “sebat” (cambuk) dengan rotan.

TKI bermasalah asal Aceh, Jumirin, mengatakan bendera Indonesia juga diinjak-injak petugas penjara Malaysia dengan mengeluarkan berbagai cacian.”Ini bendera Indonesia yang diinjak petugas penjara Malaysia,” ujarnya sambil menunjukkan replika bendera Merah Putih kecil yang dikeluarkan dari kantong celananya.

Jumirin menyatakan mendapat pukulan lima kali hanya gara-gara meminta obat karena sakit selama di penjara Kluang, Malaysia.”Saya hanya minta obat karena sakit, namun lima kali pukulan yang saya dapatkan,` katanya.

Riski (22), mengatakan warga Indonesia yang mencapai ribuan di penjara Malaysia tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi penyiksaan yang dilakukan petugas penjara.”Sedikit saja kami protes akan disiksa dengan cara dipukul dan dijemur di bawah terik matahari dengan baju dibuka,” ujarnya yang mendapat hukuman cambuk satu kali pada hari Kamis (19/8).

Riski menunjukkan bekas hukuman cambuk yang masih tampak basah di bagian pantatnya seukuran satu jari.Ratusan TKI yang diusir Malaysia serentak menjawab merasakan hukuman cambuk ketika ditanyakan apakah pernah dihukum cambuk atau tidak.”Semuanya pernah mengalami hukuman cambuk, jumlahnya tergantung keputusan “mahkamah” (pengadilan),” ujar TKI.

Ratusan TKI tersebut sempat menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan meneriakkan kata-kata Merdeka dengan bersemangat.”Kami berharap pemerintah lebih memperhatikan nasib warganya yang disiksa dan dihina di penjara Malaysia,” harap Riski.

TKI yang diusir Malaysia Jumat malam terdiri dari laki-laki sebanyak 69 orang, perempuan sebanyak 68 orang dan anak-anak sebanyak 18 orang. Salah seorang laki-laki dewasa di antaranya diduga mengidap HIV/AIDS dan dilarikan ke Rumah Sakit Daerah Tanjungpinang untuk perawatan karena tidak bisa lagi berjalan.
Red: Krisman Purwoko
Sumber: ant


Written by rinaldimunir

August 28th, 2010 at 10:10 am

Posted in Uncategorized

Velcro + iPad

without comments

Nice and simple combination

iPad + Velcro from Jesse Rosten on Vimeo.

Related posts:

  1. Opinions surround iPad
  2. How to print from iPad?

Velcro + iPad originally appeared on satukubik on May 22, 2010.

Written by Nanda Firdausi

May 22nd, 2010 at 11:49 pm

Duh, si Zul Terancam Skorsing 3 Semester

without comments

Kasus si Zul dan tulisan rasisnya tentang Papua di fesbuk masih menjadi isu hangat di ITB. Kekagetan civitas academica muncul setelah mendengar hasil rekomendasi Komisi Disiplin ITB. Komisi ini merekomendasikan si Zul dikskorsing selama 3 semester. Selain itu, ada lagi hukuman tambahan seperti kerja sosial, tugas keilmuan/keprofesian, dan bimbingan konseling (baca berita ini). Mendengar skorsing 3 bulan semester itu si Zul langsung menangis (baca berita ini).

Ancaman sangsi hukuman yang dijatuhkan komdis berbalik menimbulkan simpati dari kalangan dosen ITB. Sebagian pihak menilai hukuman itu terlalu berlebihan dan tidak adil. Sama saja membunuh harapan masa depan dia, dengan kata lain men-DO dia dari ITB. Komentar rekan saya di milis menanggapi hukuman itu: tiga semester? Yang bener aja… semua harus nangis pak, katanya. Terhadap yang menyontek dalam ujian saja hukumannya adalah pengurangan 10 SKS, tetapi untuk tulisan emosionalnya di fesbuk dia harus mendapat hukuman yang sangat berat itu. Rekan yang lain menilai, kenapa masalah ini tidak diselesaikan dalam ranah hukum saja, tidak perlu ITB memberi hukuman karena apa yang dilakukannya tidak terkait ITB. Kan ada UU ITE, kalau dia bersalah maka dia cukup dijerat dengan pasal-pasal di dalam UU ITE dengan ancaman hukuman penjara, tetapi tidak perlu sangsi akademis. Sangsi hukuman yang dijatuhkan buat si Zul tidak pada tempatnya. Tidaklah adil jika seorang bertindak rasis yang kejadiannya di luar kampus lalu dijatuhi sangsi akademis. Nggak ada relevansinya.

Si Zul memang salah, perbuatannya tidak benar. Dia telah melukai hati rakyat Papua. Masalah ini sebenarnya cukup diselesaikan dengan mediasi dan permintaan maaf kepada rakyat Papua. Toh kita semua sama satu bangsa dan satu negara. He is just a bad boy.


Written by rinaldimunir

May 20th, 2010 at 2:34 pm

Ketika Orang ITS Menilai ITB

without comments

Ada tulisan yang bagus dari seorang mahasiswa ITS Surabaya tentang ITB. Menarik juga untuk mengetahui bagaimana pandangan orang luar tentang ITB dan bagaimana ia membandingkan ITB dengan institusi pendidikannya sendiri. Menurut saya sebagian besar apa yang dikatakannya tentang ITB ada benarnya, meskipun sebagian lagi ada yang kurang tepat (ayo, tunjukkan yang mana?). ITS sebenarnya tidak perlu “minder” begitu terhadap ITB. Lagipula ITB, ITS, UI, UGM, dan semua perguruan tinggi lain yang ada di Indonesia diciptakan bukan untuk bersaing memperebutkan yang terbaik, tetapi bagaimana semuanya bersama-sama memajukan bangsa Indonesia yang besar ini.

Tulisan diambil dari sini.

Melawan Hegemoni ITB
Oleh: Bahtiar Rifai Septiansyah
Mahasiswa Teknik Perkapalan
12 April 2010 16:49:01

Malam itu, saya pergi berselancar bersama Eyang Google. Mata saya terbelalak melihat kata-kata berbunyi ”Melawan Hegemoni ITB” tercecer di milist alumni ITB. Padahal niat awal hanya mencari kabar tentang Dies Emas ITB setahun lalu (nama ITB resmi dipakai 2 Maret 1959). Karena penasaran, saya malah menelusuri perdebatan ini, tanpa suatu tendensi apapun. Sampai pertanyaan, siapa kampus teknik terbaik di Indonesia? Kakaknya atau adiknya?

Kampus ITS, ITS Online – Soal SNMPTN baru saja dibagikan. Mata Andi melirik Tono. “No…Pilih apa nih, B atau S?”. “B aja. B itu pasti Bahagia”. “Kalau S?”. “S itu Sengsara Ndi. ” sekejap gigi Tono berderet tampil di bawah bibirnya yang mengembang. Sementara alis Andi mengerut keheranan. Cita-cita keduanya memang jadi insinyur. Setahu mereka, hanya ada dua sekolah yang secara jantan bisa memberi mimpi itu. Tidak sedikit anak seperti Andi yang selalu bingung memilih kampus tambatan hatinya. Akhirnya image-lah yang menuntun mereka menempatkan B dulu baru S. Benar salah?

Saat ini, hampir tiap kampus memiliki jurusan teknik, kecuali Akademi Kebidanan. Tapi kalau bicara masalah dedengkotnya teknik, hanya ada dua: ITB dan ITS. Nama besar keduanya jadi rebutan anak-anak SMA sederajat. ITB terkenal dengan nama harum alumninya, salah satunya Ir Soekarno, sedangkan ITS terkenal dengan industri maritim dan dunia robotikanya.

Sayang, di mata masyarakat luas, keberadaan ITS masih di bawah bayang-bayang saudara tuanya. Seperti bayang-bayang klub sepak bola Manchester United di atas Manchester City. Wajar saja, sejak SNMPTN masih bernama UMPTN sekitar 20 tahun lalu, nama ITB tak pernah bergeser dari posisi puncak nilai rata-rata terbaik untuk kelompok IPA. ITB tetap paling favorit sedang ITS hanya mampu menggoda siswa SMA sederajat di wilayah Jawa Timur dan sebagian Indonesia Timur. Bahkan di wilayah barat, nama ITS hanya terdengar sayup-sayup.

Terbukti, tiap kali saya pulang kampung ke Depok, Jawa Barat, banyak tetangga yang bilang, “ITS ya, swasta atau negeri tuh?”. Dalam hati saya membalas,”Swasta dari Hongkong!!!”. “Wah…hebat kamu ya bisa kuliah di Hongkong.” ternyata ia bisa baca kata hati saya. Lain tetangga, lain pula tusukan teman lama saya yang polosnya luar biasa. ”Kuliah dimana sekarang?” tanyanya. “Ehm…jadi nggak enak nih nyebut-nya,” gaya saya agak sombong. “ITS dong bro!” jawab saya bersemangat. “Wah…ITS, pinter juga lu bro! Di Semarang nge-kos apa sama saudara?”. Yah…

***
Sekali lagi, tanpa tendensi dan tiap fakta di bawah ini tak bisa digeneralisasi. Saya juga tak mau disebut seperti kata pepatah: istri tetangga lebih cantik dari istri sendiri. Oh salah, rumput tetangga maksudnya. Saya hanya pengamat dari perdebatan everything about ITS dan ITB di dunia maya. Saya laporkan di sini dengan kerendahan hati, semoga kita semakin terpacu.

Percaya Diri
Banyak blog (malah dari anak ITB sendiri) menyimpulkan bahwa sombong adalah sifat yang paling kentara dari anak ITB. Kalau saya menilainya bukan sombong tapi percaya diri. Simpulan lain, anak ITS malah down ketika berhadapan dengan nama besar UI, ITB, dan UGM. Pada poin terakhir ini, 80 % saya sepakat. Entah mengapa, aura mereka begitu menyilaukan.

Saya punya teman SMA di ITB, ketika sekelas di SMA dulu levelnya sepadan lah dengan saya. Kelas terbang menengah. Artinya rangking selalu melayang, bodoh tidak, pintar apalagi. Tapi ketika terakhir bertemu, wah…berubah! Kepercayaan dirinya menanjak drastis terlihat dari caranya berbicara. Katanya, menyandang gelar “anak ITB” membuatnya percaya diri. Padahal dulu, kalau ada tugas presentasi bawaannya izin ke belakang terus.

Ada sebuah idiom unik di sebuah blog,”Kalau orang ITB mikirnya negara, kalau orang ITS mikirnya bagaimana mengalahkan ITB,”. “Yah…kalau ITS mah nggak level,” tambahnya. Kalau ITS masih coba melangkahi ITB. Kami (ITB), tulisnya, sudah berpikir bagaimana bersaing dengan Todai, Kyodai, Beijing, Nanyang, NUS, Chulalongkorn dkk. “Lewatin dulu tuh UI sama UGM!” lanjutnya.

Saya sama sekali tidak marah. Malah saya bergumam,”Oh iya, kenapa tidak berpikir sejauh itu?”. Kalau sparring partner kita Tokyo Daigaku bahkan MIT, mungkin kita bisa lari lebih cepat. Mudah-mudahan saya sedang tidak bermimpi.

Contoh lain adalah masalah gaji. Di banyak forum diskusi dunia maya, banyak cerita kalau anak ITS ketika ditanya tentang gaji oleh interviewer, menjawab dengan malu-malu,”Terserah Bapak saja,” . Lantas kemudian dibalas Sang HRD “Di bawah UMR ya?”. Dalam hati saya mencandai, “Oh iya Pak, tidak apa-apa, yang penting bisa makan. Ngomong-ngomong UMR itu apa Pak?”

Beberapa posting menyebut bahwa fresh graduate ITB terkenal berani pasang tarif tinggi. Benar atau tidak tak jadi masalah. Bagi saya bukan masalah uangnya, tapi keyakinannya. Seperti beberapa ekspatriat di Indonesia. Berapa persen sih dari mereka yang punya ”kemampuan sebenarnya”. Kadang malah hanya menang penampilan, percaya diri, dan bahasa Inggris cas-cis-cus.

Lulusan bermutu ibarat Mercy SL Class. Dua milyar atau sebanding dengan dua Alphard pun jadi impas untuk mobil dengan spesifikasi seperti itu. Nah, anak ITS bisa kasih harga bersaing seperti anak ITB. Kalau cocok, membayar berapa pun perusahaan mau. Usut punya usut, beberapa survey top university juga melakukan penilaian terhadap “harga jual” fresh graduate dalam menentukan world rank.

Apresiasi
Saya membaca dua tulisan tentang perkembangan robot ITB di website ITB. Sangat apresiatif. Walaupun seumur hidupnya tak pernah mampu mengalahkan PENS-ITS, mereka punya tekad besar dan dukungan besar untuk maju. Namun di beberapa blog, terpuruknya ITB di bidang robotika jadi bulan-bulanan civitasnya. Dari kritik sampai hujatan, lengkap. Maklum, Robot sudah seperti lambang supremasi anak teknik. Salutnya, walau ada beberapa yang tetap tak mau mengakui dengan menunjukkan prestasi ITB di bidang lain, tapi masih lebih banyak yang bilang,”Kita harus belajar dari mereka,”.

Saat saya main ke UI, waktu itu UI bikin baliho besar ucapan selamat atas masuknya UI di peringkat 250 besar world’s top university. Saya hanya membayangkan sambil tersenyum, itu baliho bisa sebesar apa ya kalau UI peringkat satu universitas terbaik sedunia-akhirat.

Penghormatan yang mungkin kurang dari diri kita. Banyak mahasiswa yang mendapat juara “cuma diambil pialanya saja”. Padahal berapa sih ongkos bikin spanduk untuk membuat ucapan selamat. Bunyi “Selamat kepada Tono atas Juara bla bla bla” itu sudah cukup. Si pemilik nama yang dipampang di sudut jalan itu wes bangganya minta ampun.

Kurang apresiasi atau memang tak ada yang berprestasi, saya tidak tahu. Saya jadi ingat kawan saya di salah satu organisasi yang sering lomba ke luar negeri. Ia mengeluh,”Kalau kita sukses saja, baru dibangga-banggakan. Tapi giliran dimintai bantuan (moril atau materil) pada ngilang semua,”. Ya, mahasiswa butuh apresiasi atas tiap ukir prestasi mereka.

Bukan hanya satu, saya sering dengar banyak mahasiswa ITS baik yang mewakili organisasi ataupun pribadi, ketika lomba pakai kantong sendiri dengan segala keterbatasannya. Tapi ketika pulang bawa piala dianggap usaha bersama satu ITS. Istilah kebahasaannya “Totem Pro Parte”.

Saya yakin sekali, sebenarnya segmen profil dalam website ITS dapat terus di-update. Namun terkadang, prestasi tersebut sampai ke meja redaksi hanya dari mulut ke mulut. Sedangkan sangat tidak mungkin bagi 12 reporter ITS Online untuk menanyakan satu per satu ke jurusan, siapa civitas yang berprestasi minggu ini.

Masalah jumlah doktor dan profesor juga jadi perdebatan. Kata mereka dalam forum, jumlah doktor pengaruh pada kualitas pengajaran. ITB masih menang jauh dari ITS. Dari 1056 dosen, ITB punya 800 doktor. Sedangkan dari data Laporan Rektor ITS, sampai Oktober 2008 (maaf kurang update) dosen ITS yang bergelar doktor hanya 200 dari 1125 orang. Belum lagi melihat produktivitas ITB dalam jurnal ilmiah internasional. Kurun Juni 2009, ITB masih peringkat teratas, bahkan di atas LIPI. Sedangkan nama ITS belum nongol di lima besar se-Indonesia versi Scopus.

Beberapa tahun lalu, seorang pejabat ITS pernah mengeluh pada media lokal kalau ITS susah menambah doktor dan profesornya karena kurangnya motivasi dan sibuk “ngantor” di luar. Tapi sekarang (mungkin) beda, ITS sedang produktif menghasilkan profesor baru. Para dosen juga “dipaksa” jadi doktor, kalau tidak bisa dibilang terpaksa karena malu dosen-dosen muda sekarang sudah banyak yang doktor. Sekali lagi, motivasi dan apresiasi.

Dr Nieuwenhuis berkata “Suatu bangsa tidak akan maju sebelum ada di antara bangsa itu segolongan guru yang suka berkurban untuk keperluan bangsanya,”. Saya mengartikannya sebagai sosok guru yang tulus mengembangkan ilmu untuk muridnya. Melalui muridnya itulah bangsa ini maju. Walaupun guru itu yang akhirnya menjadi korban dengan kesederhanaannya.

Pola pikir terbuka
Walaupun (katanya) sombong, alumni ITB secara terbuka ramai mengkritik almamaternya sendiri. Lihat milis dan blog bertema ITB. Terkadang kritiknya pedas, sehingga debat kusir sering terjadi di dunia maya. Uniknya, pemikiran terbuka dan perdebatan itu berjalan konstruktif.

Mereka juga membahas guyonan Jusuf Kalla saat memberi pidato saat Dies Emas ITB 2009 kemarin. “Kalau negeri ini gagal, maka ITB harus bertanggung jawab,”. Argumen Kalla waktu itu karena ITB menempatkan tujuh alumninya di kabinet SBY-JK. Cukup logis, apalagi dua orang ITB juga pernah meraih kursi RI 1. Hati saya nyeletuk, untung ITS cuma taruh Pak Nuh.

Termasuk pola pikir ”Saya harus kerja jadi insinyur, karena saya lulusan ITS!” itu cukup terpatri kuat. Apa memang hukumnya wajib ketika saya lulus nanti saya harus bergaul dengan alat-alat pertukangan? Apa tidak ada pilihan lain? Jujur, terkadang hal ini menghambat pola pikir kreatif. Tapi saya sadar, saya tak boleh mengingkari ”kodrat” sebagai (nantinya) alumni institut teknologi.

Dalam beberapa blog, civitas ITB begitu bangga dengan pesebaran alumninya. Mereka bernostalgia dengan nama besar Soekarno dan Habibie. Mereka juga bercerita bagaimana apiknya Hatta Radjasa membanting setir dari Kepala BPPT menjadi Ketua Parpol lalu sekarang jadi Ketua Ikatan Alumni ITB. Atau Ahmad Bakrie dan Arifin Panigoro dengan raksasa bernama Bakrie Group dan Medco Group yang mereka rintis dari nol. Mungkin lebih mencengangkan adalah kisah hidup anak desa dari Sulawesi: Ciputra.

Tak jarang alumni ITB yang justru keluar jalur. Seperti bagaimana fasihnya seorang Fadjroel Rahman dan Rizal Ramli beretorika tentang sistem ekonomi negara. Lain hal, tentu para pecinta sastra tak lupa ketika Nirwan Dewanto mengagetkan dunia sastra Indonesia saat ia tampil di kongres kebudayaan 20 tahun silam. Atau bagaimana seorang Purwacaraka pandai menggubah partitur walau latar pendidikannya Teknik Industri.

Sebenarnya pola pikir ini harus sedikit demi sedikit tertanam. Mungkin sudah mulai tampak dalam dunia akdemik dan kemahasiswaan di ITS. Munculnya pelatihan ESQ, mata kuliah Technopreneurship, seminar-seminar softskill, dan semakin banyak mahasiswa yang cum laude dan lulus tepat waktu (walau saya tak termasuk di dalamnya) bisa jadi bukti. Geliat kegiatan mahasiswa juga mulai tampak kreatif dan tepat guna. Beberapa tahun terakhir, dari mahasiswa muncul sebuah gerakan dinamisasi untuk mendobrak jauh keluar pattern yang kolot.

Alumni
Sadar atau tidak, IKA ITS jadi panutan bagi ikatan alumni lainnya. Bahkan di milis IA ITB, IKA ITS benar-benar disanjung. Bukan sebuah khayalan, ikatan alumni bisa jadi kendaraan politik yang cukup solid dan bernilai. Hal itu yang terjadi pada Joko Kirmanto (Menteri PU) mantan Ketua KAGAMA, Sofyan Djalil (mantan Menkominfo) juga bosnya ILUNI, dan Hatta Radjasa (Menko Ekuin) adalah Ketua IA ITB.

Alumni ITB tersebut kagum dengan kedewasaan para alumni ITS. Alumni ITS, katanya, tidak ambisius dan saling sikut. Padahal Pak Nuh, saat masih Menkominfo, berpeluang besar jadi ketua. ”Apa ia nggak mau ikut jejak temannya di kabinet?” katanya. Tapi IKA ITS mampu mendorong agar Pak Nuh fokus pada amanahnya sehingga kursi Ketum jatuh ke Dwi Sutjipto, Dirut Semen Gresik, tanpa “pertumpahan darah”.

Bukan isapan jempol. Saya pernah kerja praktek di galangan. Ketika itu banyak alumni ITS (bukan banyak tapi semuanya), saya serasa hidup di rumah sendiri. Pembimbing saya sangat membantu, termasuk memudahkan saya membuat laporan. Kalau bertemu alumni ITS rasanya seperti kawan lama tak bersua.

Kekuatan alumni inilah yang sering terlupa. ITB dan UI terkenal punya jaringan yang menggurita di pemerintahan, BUMN, dan BUMS. Kesolidannya terihat dimana ketika ada alumninya yang promosi jabatan, maka semua alumni serentak mendukung. Mereka juga secara aktif menempatkan alumni terbaiknya di institusi penting itu dan merekrut juniornya untuk turut mewarnai institusi. ”Alumni ITS kelihatannya kalau sukses sendiri-sendiri,” tulis dalam milis itu. Belum lagi tentang loyalitas mereka pada almamater.

Alumni ITS? Diam-diam menghanyutkan. Baru-baru ini terbit buku berjudul Inspire to Succes: Menuju Kemandirian Bangsa Ide 100 tokoh alumni ITS. Entrepreneur, Pejabat BUMN/BUMS, Pemerintahan, Pendidikan, LSM/Organisasi, dan peneliti. Pucuk-pucuk pimpinan dan posisi strategis itu sudah pernah kita pegang. Bahkan tak sedikit, alumni ITS yang keluar jalur dan sukses. Walau tak sepopuler alumni ITB, nyatanya alumni ITS juga tak bisa dipandang remeh.

Semua poin tadi adalah sedikit perbandingan saja. Masing-masing punya karakter dan nilai positif. Agar tak tergelincir, maka belajarlah merunduk seperti padi. ITB dan ITS memang kampus teknik terbaik, tapi baru di kandang sendiri. Ketika di Asia apalagi dunia, nama keduanya masih ”di bawah garis kemiskinan”. Bagi saya, lulusan apa pun kita atau bahkan tak pernah mencicipi bangku kuliah sekalipun, akan lebih bernilai ketika kita mampu berkontribusi bagi masyarakat luas di sekitar kita. Dengan cara apapun.

”Dik, Kakak beri kamu sebungkus hadiah untuk ulang tahunmu November besok,”.
”Jangan Kak. Beri saja hadiah itu pada Ibu. Dialah yang berjasa sampai kita berumur 50,”
”Sekarang Ibu mana?”
”Itu…” Sang Adik menunjuk gubuk-gubuk reot di balik kemegahan gedung berteknologi tinggi yang dibangun para insinyur cerdas.


Written by rinaldimunir

May 15th, 2010 at 12:19 pm

Thought on “Thoughts on Flash”

without comments

I guess you all have read the “Thoughts on Flash”, courtesy of Steve Jobs. This is a quote:

New open standards created in the mobile era, such as HTML5, will win on mobile devices (and PCs too). Perhaps Adobe should focus more on creating great HTML5 tools for the future, and less on criticizing Apple for leaving the past behind.

Did you hear flash instead of past?

Related posts:

  1. Will Apple redefine portable game market?
  2. What I love from the new iMac and what I don’t

Thought on “Thoughts on Flash” originally appeared on satukubik on April 30, 2010.

Written by Nanda Firdausi

April 30th, 2010 at 6:37 am

Merantau – Imam Syafii

without comments

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tak tinggalkan busur tidak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa
Jika didalam hutan

Author : Imam Syafii
(Dikutip dari novel Negeri 5 Menara. By: Ahmad Fuadi)

Related posts:

  1. Tip-tip debugging dengan Eclipse (II): Inspeksi (1)
  2. Monster dan kelinci
  3. 6 jam lagi: Wolfram|Alpha

Merantau – Imam Syafii originally appeared on satukubik on April 28, 2010.

Written by Nanda Firdausi

April 28th, 2010 at 7:19 pm

Perayaan Wisuda Meriah Lagi

without comments

Setelah sempat beberapa tahun dilarang, akhirnya perayaan wisuda ITB yang dilakukan oleh Himpunan-himpunan Mahasiswa di dalam kampus diperbolehkan kembali. Sebelumnya oleh rektorat terdahulu arak-arakan wisuda dan perayaan wisuda di dalam kampus dilarang karena alasan yang saya nilai terlalu mengekang ekspresi mahasiswa. Tetapi sejak pergantian rektor baru acara pawai wisuda atau arak-arakan ternyata sudah diperbolehkan. Ungkapan bahwa “ganti menteri ganti aturan” ada juga benarnya, yang kalau di ITB berbunyi begini: “ganti rektor ganti aturan”.

Perayaan wisuda di ITB adalah tradisi yang unik, mungkin hanya ada di ITB acara wisuda begitu meriah dan memberi kenangan yang tidak terlupakan bagi wisudawan dan keluarganya. Yang dimaksud dengan perayaan wisuda adalah acara happening art yang diselenggarakan oleh adik-adik yunior untuk menyambut kakak-kakaknya setelah acara wisuda formal di Sabuga.

Di bawah ini adalah beberapa cuplikan foto perayaan wisuda oleh beberapa himpunan mahasiswa.

1. Penyambutan wisudawan Informatika oleh adik-adik angkatan mereka di lapangan parkir LabTek V. Wuih… sampai ada yang berdiri segala di atas atap untuk berorasi kepada wisudawan.

2. Mahasiswa Mesin dengan solidarity forever-nya yang khas.

Seorang wisudawan Mesin berdiri memberi orasi:

Foto dari sudut pandang lain:

Mobil balap mini siap (go car) menunggu para wisudawan:

3. Lempar-lemparan air oleh wisudawan Fisika dengan adik-adik angkatan. Jangan lupa plastik bekas air dikumpulkan lagi dan dibuang ke tempat sampah ya mas…


Written by rinaldimunir

April 12th, 2010 at 11:27 am

Cari PRT?Maaf Bukan Disini Tempatnya..

without comments

Belum lama ini kami menerima email dari seorang pelanggan MomsMiracle dari Kuala Lumpur.

Kepada Ibu Ati,

Saya ingin bertanya kpd Ibu...saya ingin meminta pertolongan ibu sekiranya
ade warga di sane ingin bekerja sebagai pembantu rumah di malaysia, kerna
sepupu saya amat membutuhkan pembantu buar masa ini...

saya berharap agar ibu ati dpt membalas pertanyaan saya secepat yg mungkin.

sekian, trima kasih.

Hoho..maaf ya,kami juga disini kesulitan dengan pembantu..Dan saya rasa wanita Indonesia kini sedang sibuk mengembangkan dirinya sendiri agar mandiri dan tidak tergantung orang lain.Apalagi menjadi PRT di negeri Jiran.
Mohon maaf.

Written by Ati Wicaksono

August 26th, 2008 at 4:48 pm

Posted in Uncategorized

Penyerahan Bantuan Dana secara Simbolis

without comments

Hari jumat malam tgl 8 Mei kemarin kami peserta TDA EM diundang untuk menghadiri Forum TDA Jum'at Malam..Saya sendiri wajib datang untuk menerima penyerahan bantuan dana yang langsung diberikan oleh Pak Roni. Beritanya ada blog Pak Roni Yuzirman dan blog Pak Agus Ali.
Sayang belom punya fotonya..padahal segitu banyak fotografer kmaren malam:)
Bantuan ini bukan sebagai kemenangan buat saya,namun awal dari perjalanan panjang menuju cita-cita menjadi pebisnis yang sukses.Amiin..

Written by Ati Wicaksono

May 11th, 2008 at 3:47 pm

Posted in Uncategorized