if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Titian Indonesia – Malaysia’ Category

Menaiki Puncak Menara Petronas

without comments

Menara kembar Petronas di Kuala Lumpur (KL) termasuk salah satu bangunan menara tertinggi di dunia. Wisatawan yang mengunjungi KL dipastikan mampir ke menara ini, sekedar melihat-lihat atau berfoto di bawahnya.

Kalau cuma jalan-jalan dan melihat-lihat di bawah menara saja itu sudah biasa, namun naik ke puncaknya tentu pengalaman berbeda. Ada rasa penasaran seperti apa berada di puncak menara yang tingginya 452 meter itu?

Sewaktu mengikuti konferensi internasional di KL beberapa bulan lalu, saya dan teman rehat sejenak mengunjungi Menara Petronas (MP). Sore itu taman di sekitar MP ramai dengan turis mancanegara, kebanyakan turis dari Cina dan India. Memotret menara ini dari bawah dengan kamera ponsel memang hasilnya kurang memuaskan, tidak keseluruhan menara dapat tertangkap di layar. Beberapa pedagang kaki lima, orang KL, menawarkan lensa tambahan sehingga dapat menangkap citra menara dengan jelas.

Menara kembar Petronas. Antara kedua menara dihubungkan dengan jembatan. Kami akan naik ke atas menara itu.

Setelah berjalan-jalan di mal Suria KLCC, yang terletak di bawah menara, waktunya sekarang untuk menaiki menara ini. Kami turun ke lantai dasar Suria KLCC untuk membeli tiket naik menara. Tiket naik menara lumayan mahal bagi orang asing, yaitu 80 ringgit atau kalau dirupiahkan Rp280.000. Namun bagi lansia (usia 57 tahun ke atas) hanya dikenakan 42 ringgit saja. Bagi warga lokal harga tiketnya  lebih murah, hanya 30 ringgit saja.

Tiket naik menara

Kami mendapat jam naik ke menara pukul 17.00. Untuk naik menara ini memang perlu antri, hanya satu rombongan setiap kali naik. Satu rombongan terdiri dari 20-25 orang. Sebelum naik menara ini kita difoto di lantai dasar  fotonya dijual nanti di lantai 83.

Tidak boleh bawa minuman ke atas menara ini, seperti naik pesawat saja. Semua tas ransel dan minuman harus dititipkan di lantai dasar. Total waktu kunjungan ke atas menara per grup adalah 45 menit.

Jam 17.00 kami mulai naik ke atas menara menggunakan lift. Perhentian pertama kali adalah di lantai 41. Di lantai inilah terdapat jembatan yang menghubungkan kedua menara kembar. Saya berjalan di atas jembatan ini agak merasa gamang ketika melihat ke bawah. Hiiii…pada dasarnya saya orang yang takut dengan ketinggian.

Pintu menuju jembatan yang terletak 170 meter di atas permukaan bumi

Jembatan di lantai 41

Pemandangan dari atas jembatan dan lantai 41 sangat mengagumkan. Kita dapat melihat kota Kuala Lumpur yang penuh dengan gedung-gedung pencakar langit. Foto-foto di bawah ini memperlihatkan beberapa sudut foto yang saya ambil dari atas jembatan lantai 41.

Di lantai 41 rombongan hanya boleh berada selama 20 menit saja. Setelah puas berfoto-foto, kita naik lift lagi menuju lantai 83. Di lantai 83 ini dijual berbagai souvenir tentang Menara Petronas, termasuk foto kita yang tadi dipotret di lantai dasar.  Harga fotonya bikin kita tidak mau beli, 130 ringgit! Kali saja dengan Rp3600, mendingan saya beli laksa johor dan teh tarik bergelas-gelas di Suria KLCC. Kalau tidak ada yang mau membeli, maka foto-foto itu mungkin dimusnahkan, barangkali.

Dari lantai 83, kita naik lift lagi ke lantai paling tinggi yang boleh dinaiki, yaitu lantai 86 dari 88 lantai Gedung Petronas (dua lantai paling atas untuk maintenance). Kita hanya boleh sampai di sini saja. Pemandangan dari lantai 88 lebih spektakuler dari lantai 41. Ini berarti kita sudah berada di ketinggian 425 meter dari permukaan tanah. Ngeri? Ya, sebenarnya saya phobia dengan ketinggian, melihat ke bawah merasa takut. Di bawah ini foto-foto dari lantai 88.

Di lantai 88 ini dipajang foto Mahathir Muhammad. Mahathir yang menginspirasi Malaysia, pantaslah dia menjadi Bapak Malaysia.

Setelah 45 menit mengunjungi lantai 41, 83, dan lantai 88 menara, kami pun disuruh turun kembali. Delapan puluh ringgit harga yang harus dibayar untuk menikmati pemandangan dari Menara Petronas. Lumayanlah. Mengobati rasa penasaran.

Written by rinaldimunir

February 11th, 2019 at 5:19 pm

Menaiki Puncak Menara Petronas

without comments

Menara kembar Petronas di Kuala Lumpur (KL) termasuk salah satu bangunan menara tertinggi di dunia. Wisatawan yang mengunjungi KL dipastikan mampir ke menara ini, sekedar melihat-lihat atau berfoto di bawahnya.

Kalau cuma jalan-jalan dan melihat-lihat di bawah menara saja itu sudah biasa, namun naik ke puncaknya tentu pengalaman berbeda. Ada rasa penasaran seperti apa berada di puncak menara yang tingginya 452 meter itu?

Sewaktu mengikuti konferensi internasional di KL beberapa bulan lalu, saya dan teman rehat sejenak mengunjungi Menara Petronas (MP). Sore itu taman di sekitar MP ramai dengan turis mancanegara, kebanyakan turis dari Cina dan India. Memotret menara ini dari bawah dengan kamera ponsel memang hasilnya kurang memuaskan, tidak keseluruhan menara dapat tertangkap di layar. Beberapa pedagang kaki lima, orang KL, menawarkan lensa tambahan sehingga dapat menangkap citra menara dengan jelas.

Menara kembar Petronas. Antara kedua menara dihubungkan dengan jembatan. Kami akan naik ke atas menara itu.

Setelah berjalan-jalan di mal Suria KLCC, yang terletak di bawah menara, waktunya sekarang untuk menaiki menara ini. Kami turun ke lantai dasar Suria KLCC untuk membeli tiket naik menara. Tiket naik menara lumayan mahal bagi orang asing, yaitu 80 ringgit atau kalau dirupiahkan Rp280.000. Namun bagi lansia (usia 57 tahun ke atas) hanya dikenakan 42 ringgit saja. Bagi warga lokal harga tiketnya  lebih murah, hanya 30 ringgit saja.

Tiket naik menara

Kami mendapat jam naik ke menara pukul 17.00. Untuk naik menara ini memang perlu antri, hanya satu rombongan setiap kali naik. Satu rombongan terdiri dari 20-25 orang. Sebelum naik menara ini kita difoto di lantai dasar  fotonya dijual nanti di lantai 83.

Tidak boleh bawa minuman ke atas menara ini, seperti naik pesawat saja. Semua tas ransel dan minuman harus dititipkan di lantai dasar. Total waktu kunjungan ke atas menara per grup adalah 45 menit.

Jam 17.00 kami mulai naik ke atas menara menggunakan lift. Perhentian pertama kali adalah di lantai 41. Di lantai inilah terdapat jembatan yang menghubungkan kedua menara kembar. Saya berjalan di atas jembatan ini agak merasa gamang ketika melihat ke bawah. Hiiii…pada dasarnya saya orang yang takut dengan ketinggian.

Pintu menuju jembatan yang terletak 170 meter di atas permukaan bumi

Jembatan di lantai 41

Pemandangan dari atas jembatan dan lantai 41 sangat mengagumkan. Kita dapat melihat kota Kuala Lumpur yang penuh dengan gedung-gedung pencakar langit. Foto-foto di bawah ini memperlihatkan beberapa sudut foto yang saya ambil dari atas jembatan lantai 41.

Di lantai 41 rombongan hanya boleh berada selama 20 menit saja. Setelah puas berfoto-foto, kita naik lift lagi menuju lantai 83. Di lantai 83 ini dijual berbagai souvenir tentang Menara Petronas, termasuk foto kita yang tadi dipotret di lantai dasar.  Harga fotonya bikin kita tidak mau beli, 130 ringgit! Kali saja dengan Rp3600, mendingan saya beli laksa johor dan teh tarik bergelas-gelas di Suria KLCC. Kalau tidak ada yang mau membeli, maka foto-foto itu mungkin dimusnahkan, barangkali.

Dari lantai 83, kita naik lift lagi ke lantai paling tinggi yang boleh dinaiki, yaitu lantai 86 dari 88 lantai Gedung Petronas (dua lantai paling atas untuk maintenance). Kita hanya boleh sampai di sini saja. Pemandangan dari lantai 88 lebih spektakuler dari lantai 41. Ini berarti kita sudah berada di ketinggian 425 meter dari permukaan tanah. Ngeri? Ya, sebenarnya saya phobia dengan ketinggian, melihat ke bawah merasa takut. Di bawah ini foto-foto dari lantai 88.

Di lantai 88 ini dipajang foto Mahathir Muhammad. Mahathir yang menginspirasi Malaysia, pantaslah dia menjadi Bapak Malaysia.

Setelah 45 menit mengunjungi lantai 41, 83, dan lantai 88 menara, kami pun disuruh turun kembali. Delapan puluh ringgit harga yang harus dibayar untuk menikmati pemandangan dari Menara Petronas. Lumayanlah. Mengobati rasa penasaran.

Written by rinaldimunir

February 11th, 2019 at 5:19 pm

Melihat Pramugari Garuda Indonesia Sholat di Atas Pesawat

without comments

Beberapa hari ini di jejaring sosial Facebook beredar foto pramugari Garuda Indonesia sedang menunaikan sholat di kursi belakang pesawat. Sang juru foto adalah Eddie Putera, seorang fotografer warganegara Malaysia yang sedang berada di atas pesawat tersebut. Dia secara kebetulan memotret pramugari yang sedang sholat itu karena dia duduk di bangku paling belakang yang biasanya kosong. Eddie mengunggah ketiga foto jepretannya di akun Facebook-nya. Seperti diberitakan di dalam situs Berita Power, ketika 10 menit setelah take-off, Eddie merasa terkantuk-kantuk. Tiba-tiba ada seorang pramugari yang membuka kompartemen (kabin) di atas, sepertinya hendak mengambil sesuatu dari tasnya. Dikiranya pramugari itu akan bersalin baju, tidak tahunya dia mengambil mukena (telekung) dan menunaikan sholat sambil duduk. Eddie mengambil 3 gambar, dan ini dua diantaranya yang memperlihatkan pramugari tersebut sedang sholat (sumber foto dari situs Berita Power).

Pramugari Garuda Indonesia mengambil sesuatu seperti kain dari tasnya.

Pramugari Garuda Indonesia mengambil sesuatu seperti kain dari tasnya.

Pramugari tersebut sedang sholat sambil duduk.

Pramugari tersebut sedang sholat sambil duduk.

Menurut saya ini foto yang langka – meskipun sholat di atas pesawat adalah hal yang biasa saja-, karena sangat jarang kita melihat pramugari menunaikan sholat di atas pesawat. Kalau penumpang pesawat sholat sambil duduk di atas kursinya itu adalah hal yang lumrah. Agama mengajarkan kita untuk sholat dalam keadaan apapun, baik dalam keadaan sehat atau dalam keadaan sakit sekalipun, baik sedang berdiam atau sedang dalam perjalanan. Jika tidak bisa berdiri, ya duduk, kalau tidak bisa duduk, ya berbaring. Apalagi dalam perjalanan jauh sebagai musafir, seorang muslim mendapat keringanan melakukan sholat dengan jamak (menggabungkan dua shalat dalam satu waktu) dan qashar (meringkas sholat yang empat rakaat menjadi dua rakaat).

Tentu saja saya yakin pramugari ini menunaikan sholat ketika sedang tidak sibuk melayani penumpang. Pramugari kan tidak selalu mondar mandir setiap saat dari depan ke belakang. Adakalanya mereka duduk-duduk di bagian depan atau di bagian belakang setelah tugas mengantarkan hidangan dan lain-lainnya selesai. Nah, mungkin di sela-sela kesibukan itu pramugari yang taat ini mengambil sedikit waktu untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslimah, yaitu sholat wajib.

Subhanallah, saya berempati melihat foto ini. Di tengah kesibukannya, dia masih meluangkan waktu sejenak “menghadap” Tuhannya. Orang-orang di Garuda Indonesia seharusnya bangga dengan foto ini, karena perusahaan mereka memberi kebebasan kepada pegawainya untuk menunaikan kewajiban agama.

Catatan: Jika anda tidak bisa mengakses situs Berita Power di atas, anda dapat membaca beritanya di situs Fimadani ini.


Written by rinaldimunir

May 9th, 2014 at 1:49 pm

Melihat Pramugari Garuda Indonesia Sholat di Atas Pesawat

without comments

Beberapa hari ini di jejaring sosial Facebook beredar foto pramugari Garuda Indonesia sedang menunaikan sholat di kursi belakang pesawat. Sang juru foto adalah Eddie Putera, seorang fotografer warganegara Malaysia yang sedang berada di atas pesawat tersebut. Dia secara kebetulan memotret pramugari yang sedang sholat itu karena dia duduk di bangku paling belakang yang biasanya kosong. Eddie mengunggah ketiga foto jepretannya di akun Facebook-nya. Seperti diberitakan di dalam situs Berita Power, ketika 10 menit setelah take-off, Eddie merasa terkantuk-kantuk. Tiba-tiba ada seorang pramugari yang membuka kompartemen (kabin) di atas, sepertinya hendak mengambil sesuatu dari tasnya. Dikiranya pramugari itu akan bersalin baju, tidak tahunya dia mengambil mukena (telekung) dan menunaikan sholat sambil duduk. Eddie mengambil 3 gambar, dan ini dua diantaranya yang memperlihatkan pramugari tersebut sedang sholat (sumber foto dari situs Berita Power).

Pramugari Garuda Indonesia mengambil sesuatu seperti kain dari tasnya.

Pramugari Garuda Indonesia mengambil sesuatu seperti kain dari tasnya.

Pramugari tersebut sedang sholat sambil duduk.

Pramugari tersebut sedang sholat sambil duduk.

Menurut saya ini foto yang langka – meskipun sholat di atas pesawat adalah hal yang biasa saja-, karena sangat jarang kita melihat pramugari menunaikan sholat di atas pesawat. Kalau penumpang pesawat sholat sambil duduk di atas kursinya itu adalah hal yang lumrah. Agama mengajarkan kita untuk sholat dalam keadaan apapun, baik dalam keadaan sehat atau dalam keadaan sakit sekalipun, baik sedang berdiam atau sedang dalam perjalanan. Jika tidak bisa berdiri, ya duduk, kalau tidak bisa duduk, ya berbaring. Apalagi dalam perjalanan jauh sebagai musafir, seorang muslim mendapat keringanan melakukan sholat dengan jamak (menggabungkan dua shalat dalam satu waktu) dan qashar (meringkas sholat yang empat rakaat menjadi dua rakaat).

Tentu saja saya yakin pramugari ini menunaikan sholat ketika sedang tidak sibuk melayani penumpang. Pramugari kan tidak selalu mondar mandir setiap saat dari depan ke belakang. Adakalanya mereka duduk-duduk di bagian depan atau di bagian belakang setelah tugas mengantarkan hidangan dan lain-lainnya selesai. Nah, mungkin di sela-sela kesibukan itu pramugari yang taat ini mengambil sedikit waktu untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslimah, yaitu sholat wajib.

Subhanallah, saya berempati melihat foto ini. Di tengah kesibukannya, dia masih meluangkan waktu sejenak “menghadap” Tuhannya. Orang-orang di Garuda Indonesia seharusnya bangga dengan foto ini, karena perusahaan mereka memberi kebebasan kepada pegawainya untuk menunaikan kewajiban agama.

Catatan: Jika anda tidak bisa mengakses situs Berita Power di atas, anda dapat membaca beritanya di situs Fimadani ini.


Written by rinaldimunir

May 9th, 2014 at 1:49 pm