if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Tafakur’ Category

Jika Berkeping-keping

without comments

Share

Manakalah sedih, hatiku patah berkeping-keping, yang kadang sulit aku utarakan. Keherananku pada sodara-sodaraku seiman, yang tidak paham kondisinya, ditengah penindasan dan penistaan, malah membela penistanya, mendukung penindasnya. Astaghfirullah… kalau sudah begini, suka berkelebat dua hal ini. Pertama, ingatan seorang anak laki-laki, Prof.Tariq Ramadan kepada (perjuangan) Ayahnya, Dr.Said Ramadhan:
…………………………………… penggalan dari http://tariqramadan.com/english/2011/08/10/4th-august-presence-and-silence/

But analysis of current events was not enough for him. Everything interested him, from technology and medicine to science and ecology. He knew what was needed for a thoroughgoing reform in Islam. His curiosity, always alert, always lucid, knew no limits. He had traveled the world; henceforth the world would come into his room. Where once there had been crowds, scholars, presidents and kings, now only observation, analysis and deep sadness remained. In his solitude, though, there was the Qur’an; and in his isolation, there were invocations mingled with tears. He gave his children symbolic names, names from the history of persecution and boundless determination. A thread of complicity connected him with each one of us; we held his undivided attention, shared the sensitivity of our relationship with him, and his love. With Aymen, it was his success and wounds; with Bilal, his potential and his heartbreak; with Yasser, his presence, his generous devotion and his patience; with Arwa, his complicity and silences; with Hani, his commitment and his determination. He convinced each of us to believe in our own qualities. He reminded each of us that he had given us the best of mothers, she who is, with all the qualities of her heart, his most precious gift.

Kemudian, sepenggal puisi dari Chairil Anwar, Aku, 1943

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih perih
Dan aku akan lebih tidak perduli  
Aku mau hidup seribu tahun lagi
................
 Wonden en gif voer ik mee op mijn vlucht
 Vlucht
 Tot de schrijnende pijn zal verdwijnen
 En ik zal er nog minder om geven
 Ik wil nog duizend jaar leven
(Avert.A. Teeuw, Amsterdam 1979)

Written by ibudidin

March 31st, 2015 at 4:22 pm

Posted in Puisi,Tafakur

Pada Suatu Pagi Hari

without comments

Share

Mual, ketika break siang kemarin membaca berita kriminalitas. Biasanya yang kerap dibaca adalah berita ekonomi politik sosial budaya teknologi. Kisah-kisahnya tak jauh dari perempuan. Prostitusi, buruh pabrik shift-shift-an, pembantu rumah tangga… tragis.. dianiaya, dibunuh. Mereka itu perempuan, seperti aku… tapi berada dalam kehidupan yang ganas, mengerikan, tidak aman. Gentayangan sampai larut dalam keadaan yang menyedihkan, barangkali laki-laki juga menganggapnya sampah. Masuk kerja shift jam 1 malam yang sungguh….. pembantu-pembantu dengan jam kerja ga jelas, upah ga jelas, tanpa perlindungan. Mungkin kisah mereka jarang dicolek menjadi status fesbuk yang menarik. Bahkan mereka juga barangkali tidak terlintas sebagai AKTOR yang diperhitungkan dalam pengambilan keputusan/kebijakan. Mereka itu perempuan, seperti aku. Dan mereka itu sama saudara satu bangsa, bahkan, barangkali saudara satu iman. Inginnya ga mau tahu cerita-cerita begitu… tapi… who am I, to be blind, pretending not to see their needs (?)… astaghfirullahaladhiimmm

Pada Suatu Pagi Hari

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis
Sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu
Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi
Agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis
dan tak ada orang bertanya kenapa

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk
Memecahkan cermin membakar tempat tidur
Ia hanya ingin menangis lirih saja
sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik
di lorong sepi pada suatu pagi

(Sapardi Djoko Damono, 1973)
Kalpana-rainy alley way

Written by ibudidin

November 26th, 2014 at 8:01 am

Posted in Puisi,Tafakur

Syiah-Sunni, Interfaith Dialog

without comments

Share

ini drop komen di teh Cher Husty yang layak juga saya jadikan setatus, tentang Syiah tea:

Ini tentang lebih luas dari syiah-sunni, yaitu dialog antar agama, di Memphis diadakan dialog antar agama Yahudi, Kristen, Islam, di akhir ketika hendak ditutup, sang Pastor maju ke mimbar, dlm situasi yg canggung sang Pastor berpidato, katanya, ini kalau saya ga bilang maka saya tidak jujur kepada apa yang saya percayai. Berdasarkan iman saya, nanti, di akherat, kalian semua selain umat Kristen akan masuk neraka. Awkward situation. Keesokannya, sang Rabi Yahudi menelpon Imam nya muslim, apology minta maaf atas situasi yang sangat tidak mengenakkan di akhir jamuan. Sang Imam bilang that’s okay, dengan kejujuran itu aku melihat beban yang berat lepas dari pundak sang Pastor.

Maka peristiwa itu jg menjadi bahan canda, ada seorang Rabi Yahudi menelepon Imam umat Islam untuk meminta maaf atas tindakan sang Pastor. Kata Imam, sejak peristiwa itu hubunganku dengan pastor makin baik, kita makin bisa bicara dengan enak, ngobrol asyik, karena menaruh kejujuran tadi. Sehingga obrolan-obrolan kita lebih maju, regardless, kita nanti berantem di akherat tentang siapa yang masuk neraka, tapi di dunia ini, disini, di dunia ini, adalah sebuah tragedi jika penganut agama2 itu membiarkan ada orang miskin tak bisa makan, orang muda kesulitan lapangan kerja, anak-anak tak bisa sekolah dengan layak, dan hal-hal lainya. Got the point??? be honest dan jangan mbulet, lepaskan beban di pundakmu dengan jujur dengan imanmu. Itu bukan cerita rekayasa, go to youtube dan ketik yasir qadhi interfaith dialog

Jadi political & religious leader Syiah, jujurlah, lepaskan beban di pundakmu, gw dan orang2 tahu kok loe ngimanin Al Qur’an yg ga sama dg Al Quran kita… jujurlah, deklarasikan agama baru dan berjuang cari legitimasi publik secara hukum.. jangan menusuk2 dan mengobrak-abrik agama Islam dong

Written by ibudidin

November 24th, 2014 at 5:55 pm

Posted in Tafakur

Syiah-Sunni, Interfaith Dialog

without comments

Share

ini drop komen di teh Cher Husty yang layak juga saya jadikan setatus, tentang Syiah tea:

Ini tentang lebih luas dari syiah-sunni, yaitu dialog antar agama, di Memphis diadakan dialog antar agama Yahudi, Kristen, Islam, di akhir ketika hendak ditutup, sang Pastor maju ke mimbar, dlm situasi yg canggung sang Pastor berpidato, katanya, ini kalau saya ga bilang maka saya tidak jujur kepada apa yang saya percayai. Berdasarkan iman saya, nanti, di akherat, kalian semua selain umat Kristen akan masuk neraka. Awkward situation. Keesokannya, sang Rabi Yahudi menelpon Imam nya muslim, apology minta maaf atas situasi yang sangat tidak mengenakkan di akhir jamuan. Sang Imam bilang that’s okay, dengan kejujuran itu aku melihat beban yang berat lepas dari pundak sang Pastor.

Maka peristiwa itu jg menjadi bahan canda, ada seorang Rabi Yahudi menelepon Imam umat Islam untuk meminta maaf atas tindakan sang Pastor. Kata Imam, sejak peristiwa itu hubunganku dengan pastor makin baik, kita makin bisa bicara dengan enak, ngobrol asyik, karena menaruh kejujuran tadi. Sehingga obrolan-obrolan kita lebih maju, regardless, kita nanti berantem di akherat tentang siapa yang masuk neraka, tapi di dunia ini, disini, di dunia ini, adalah sebuah tragedi jika penganut agama2 itu membiarkan ada orang miskin tak bisa makan, orang muda kesulitan lapangan kerja, anak-anak tak bisa sekolah dengan layak, dan hal-hal lainya. Got the point??? be honest dan jangan mbulet, lepaskan beban di pundakmu dengan jujur dengan imanmu. Itu bukan cerita rekayasa, go to youtube dan ketik yasir qadhi interfaith dialog

Jadi political & religious leader Syiah, jujurlah, lepaskan beban di pundakmu, gw dan orang2 tahu kok loe ngimanin Al Qur’an yg ga sama dg Al Quran kita… jujurlah, deklarasikan agama baru dan berjuang cari legitimasi publik secara hukum.. jangan menusuk2 dan mengobrak-abrik agama Islam dong

Written by ibudidin

November 24th, 2014 at 5:55 pm

Posted in Tafakur

Kajian Relijiusitas di era post-modern

without comments

Share

Salah satu implikasi pergeseran dari era modern ke era post-modern adalah dominasi scientific inquiry dg logika positivism sebagai gold standard juga mulai bergeser. Perceraian agama dan sains juga (to some extent) mulai dipertanyakan. Kajian-kajian religiosity menjadi ‘diterima’ oleh dunia sains modern, karena keber-agama-an dianggap sebagai fenomena sosial (which is really really exist) yang bisa dikaji dengan kacamata sosiologi misalnya. Kita tidak bisa lagi pura-pura bahwa orang beragama itu tidak ada. Tidak bisa lagi pura-pura seolah relijiusitas itu non-sense.

Beberapa hari lalu sempat diskusi dg kolega yang sedang riset di bidang sosiologi-organisational behavior, tentang bagaimana religiusitas seseorang (bisa Islam, Kristen, Yahudi) mempengaruhi performansi kerjanya di organisasi. Studi (amat sangat) menarik yang mirip dengan apa yang dilakukan salah satu bapak sosiologi (Max Weber) yang mempelajari tentang bagaimana relijiusitas (protestan) berkontribusi signifikan terhadap pembangunan ekonomi. Menarik bukan, mangga dibaca lebih lanjut jika tertarik ^_^

Kemudian saya bertanya, mungkin tidak Pak jika mengambil referensi dari ‘school of thought’ sarjana-sarjana Islam dari abad ke 7 sampai 15 misalnya kemudian dicemplungkan dalam kajian ilmu sosial modern. Bapaknya menjawab, pada masa-masa itu keilmuan juga berkembang pesat, mereka juga punya metode saintifik nya, tapi kemudian menurun dan suatu masa berhenti dialog-dialog sains nya (kekalahan peradaban). Jadi kemungkinan-kemungkinan itu terbuka lebar.

Baru saja saya lihat postingan di The Guardian tentang arsip dialog-dialog sains dari abad 9-19 yang menggunakan bahasa arab. Bahasa arab pada saat itu sebagai standar bahasa ‘pembicaraan ilmu’ seperti bahasa Inggris saat ini ^_^ Saya senang bahwa Inggris dan Qatar bekerjasama membangun dialog ‘sains’ dari masa ke masa, antar dua bahasa yang menjadi standar berbicara pengetahuan. Hasil arsip The British Library Qatar Foundation Partnership yang disediakan gratis dan bisa diakses secara digital, Alhamdulillah berita super ini. Mangga meluncur kesini http://qnl.qa/about-the-library/partnerships/british-library#

ttp://www.theguardian.com/higher-education-network/blog/gallery/2014/oct/23/-sp-the-importance-of-arabic-contributions-to-science-over-time-in-pictures

Written by ibudidin

October 25th, 2014 at 9:43 am

Posted in DSM,Tafakur

Membangun Ubudiyah dalam Diri

without comments

Share

Ketika dua hari lalu menulis tentang di batas penyerahan, ternyata (selalu) ada jawabannya, yaitu nasihat dibawah ini. Tetapi semua jawaban itu memerlukan usaha, jika tidak diusahakan, barangkali kalau diberi umur setahun sepuluh tahun atau seratus tahun lagi akan mengulang menulis dengan judul yang sama di batas penyerahan. Ya Allah, mampukanlah.

====================

Dari seorang sahabat:

Sharing taujih ba’da Shubuh
Ustadz Abdul Aziz Abdur Rauf Al-Hafizh, Lc
19 oktober 2014

Mabit qur’an @ulil albab
RQ inspirasi, SQ UII, Rumah TahfizhQU
Jogjakarta

Jika kita baca Al-kahfi maka bisa terlindung dari fitnah dajjal.
Dajjal ini sudah disosialisasikan dari zaman nabi Nuh.
Fitnah dajjal adalah, fitnah tauhid, dajjal merayu dengan segala atraksinya untuk berpaling dari Allah dan Rasulullah SAW.

Allah memanggil Rasulullah dengan nama ‘abdihi
Harapannya bisa dicontoh oleh umatnya, agar bisa sebenar-benarnya sebagai ‘abdihi.

Makna dari ayat pertama surat alkahfi,
Merupakan rasa syukur atas turunnya Al-Quran
Apakah kita bersyukur dengan adanya Al-Qur’an?

Al-Qur’an ini diturunkan bukan untuk menyusahkan, tapi untuk membuat bahagia

‘Ala ‘abdihi, Alquran diturunkan kepada Rasululllah yang tingkat penghambaanya sudah sampai ‘ubudiyah

Dan kita pun bisa sampai tingkat ‘ubudiyah, untuk menjadi ahlu qur’an

Qt sudah sampai ‘ubudiyah jika kita sudah bisa melakukan ibadah taqarrub ‘iLallah yang diluar akal nalar manusia.

Misalkan: Bangun jam 2 pagi, terus terjaga sampai setelah subuh.
Ini kalau bukan karena semangat ingin dekat dengan Allah, diluar nalar manusia
tapi Allah menolongnya,
sehingga bisa dilakukan.

Inilah kenapa Fadhilah Qiyamullail, shalat Fajar, Shalat subuh, apalagi sampai menunggu syuruq, sangaaaaaaattttt tinggi Fadhilahnya,
Ini adalah ibadah Ribath.

Karena ini bukti ‘ubudhiyah kita kepada Allah, dan Allah beri apresiasi yang besar kepada hamba-hamba-Nya yang melakukan ini..

Kalau sudah bisa seperti itu, lakukan setiap hari,
Sampai meninggal..

‘Ubudiyah : melakukan ibadah yang perjuanganya dahsyat, dan Allah pasti memberikan point sangat besar, dan membukakan pintu untuk kita bisa dekat dengan Al-Qur’an.
Semangat melakukan ibadah, semangat ‘ubudiyah, semangat penghambaan tinggi kepada Allah

Seperti sahabat Hudzaifah, menjadi ma’mum Rasulullah dalam shalat malam 1 raka’at. Baca Al-Baqarah, Ali ‘Imran, An-Nisa.
Walaupun ada rasa mengeluh di dalam hatinya, tetapi bisa selesai juga.
Ini karena semangat ‘ubudiyahnya Hudzaifah.

Coba cek tingkat ‘ubudiyah kita.
Apakah bisa kita tilawah satu juz perhari?
Jika diluar nalar, coba dikerjakan, jika berhasil, maka sudah masuk tingkat ‘ubudiyah
Kemudian tingkatkan lagi.

Mengafal Al-Qur’an semangatnya adalah penghambaan kita kepada Allah SWT.

Rasanya hari ini tidak masuk akal, orang bisa menghafal satu Al-Qur’an seperti membaca Alfatihah.
Ini secara akal, rasanya tidak mungkin, susah, panjang, repot,
bukan secara ‘ubudiyah.. karena jika ‘ubudiyah kuat tiada yang mustahil.Coba dilihat bagian akhir QS. Al Ankabut.

Misalkan: membaca alma’tsurat kubra tiap hari, kalau dipikir-pikir tidak mungkin, repot, harus masak, kerja, olah raga pagi dll. Ini jika kita lihat pakai akal.
Bukan pakai semangat ‘ubudiyah

Jika kita terus melihat secara akal, tidak akan bisa kita melakukan ibadah-ibadah yang menurut kita tidak bisa.
Kalau kita melihat dengan semangat ‘ubudiyah, maka Allah akan tolong, dan kita bisa melakukan ibadah-ibadah itu.

Seperti ibrah dari kisah Nabi Nuh a.s, yang sabar dan terus mendekatkan diri kepada Allah.
Allah akan dekat dengan kita jika kita berdo’a (Al-Baqarah)

Kemudian mintalah kebutuhan akhirat kita, kepada Allah agar kita bisa dekat Allah.
Minta surga, walaupun merasa tidak pantas, karena belum jadi tampang ahli surga ( sudah berjihad dan sabar), tapi Allah senang jika kita berdoa.
Dan Allah sangat senang jika kita serius minta surga.
Allah berdialog dengan malaikat.
Wahai malaikat, itu hamba-hamba-Ku belum lihat surga, kok sudah serius minta surga?
Kata malaikat, iya ya Allah, kalau mereka sudah melihat,
1000 x lagi lebih serius minta Surganya.

Begitu juga dengan dialog tentang seorang hamba yang minta dijauhkan dari neraka.

Mari Membangun ‘ubudiyah dalam diri kita.
Semoga dimudahkan untuk bisa akrab dengan Al-Qur’an. Aamiin

Written by ibudidin

October 20th, 2014 at 9:28 pm

Posted in Al-Qur'an,Tafakur

Di Batas Penyerahan Refleksi untuk Anak-anakku dan Adik-adikku

without comments

Share

Segala puji hanya pantas bagi Allah yang membukakan kepahaman demi kepahaman. Saat ini di usia 30-an, saya merasa terpaksa diperes dalam pengertian praktek-praktek amal-amal kita di berbagai bidang sedang benar-benar diminta. Dalam keprofesionalan yang kita tekuni, dalam kegiatan-kegiatan sosial yang kita ikuti, semuanya sedang meminta sejauh mana keilmuan kita, pemahaman-pemahaman terhadap masalah, terhadap lingkungan. Hari ini mengerjakan setoran untuk besok, kemarin mengerjakan persiapan untuk agenda hari ini. Bukan bermaksud menunda pekerjaan, tapi maknanya adalah bahwa pekerjaan, agenda, itu mengalir terus tak berhenti-berhenti, sehingga ritme nya sudah bukan lagi pada mengerjakan hari ini untuk agenda sebulan mendatang. Cepet sekali perputarannya. Hari cepat berganti, pekerjaan harus cepat diselesaikan. Agenda harus segera dieksekusi. Ini tentang semuanya, tentang agenda menjadi istri, ibu, anak, bagian dari masyarakat.

Sayang beribu sayang penyesalan, pada saat dituntut mateng, berisi, ibarat pohon tinggal dipetik buah-buahnya yang manis ranum. Disaat-saat seperti ini masih sibuk mengumpulkan ilmunya, ada problem A sibuk nyari referensi penyelesaian problemnya. Masih sibuk menyempurnakan bahasa Inggris. Ga bisa bahasa Arab. Makin menyadari ini harus dipelajari, ini harus dibaca, aduh yang itu belum dibaca, aduh aduh…. Menyesal sungguh menyesal, pada tahun-tahun yang bahkan tidak sanggup melahap buku-buku teks, tahun-tahun bablas ga jelas, tahun-tahun yang mengerikan dan sekarang menyakitkan adalah tahun-tahun dimana tidak banyak mengakuisisi ilmu. Ngapain aja siy? belajar bahasa engga, belajar keahlian engga, mediocre, pas-pasan kurang mutu. Dan penyesalan terbesar adalah, ga paham Qur’an. See, ga paham agama sendiri, bencana ini bencana. Mengais sana sini kebingungan. Istighfar.

Sampe ketika di hari-hari ini, ketika menyadari Ya Salammm hanya butiran debu dibelantara dunia yang luas.. aku ingin belajar ini, ingin belajar itu, aku harus berbekal ini, berbekal itu, tapi waktu..waktu..waktu… hingga di batas: Ya Allah aku menyerah, ampuunn, tolong beritahu caranya, tolong ilhamkan caranya. Agar aku sanggup menjalani prioritas-prioritas dalam program pedekate mencari perhatian-Mu.

?#?istighfar?
Refleksi untuk Anak-anakku dan Adik-adikku: Pergunakan masa kecil, masa muda, masa perkasa untuk seoptimalnya mengakuisisi ilmu

Written by ibudidin

October 18th, 2014 at 6:39 pm

Sebuah Catatan Keprihatinan di Hari Jum’at 17 Oktober 2014: Anakku Sayang, Anakku Malang

without comments

Share

Adakah yang masih mengingat peristiwa disensornya lagu ‘Hati yang Luka’ Betharia Sonata, dan sempat dibredel juga kaset-kasetnya Iis Sugianto? Sebabnya adalah lagu yang terlalu melow dianggap Pak Harto (via Pak Murdiono) tidak cocok dengan alam pembangunan Indonesia yang sedang adrenalin tinggi memompa pertumbuhan ekonomi menuju era tinggal landas.

Di satu sisi memang ada sayang juga kok sampai sensor segala, tetapi ketika dipikir dari sisi lain, pada masa itu sampe-sampe hal-hal ‘soft’ kultural, olah rasa, diperhatikan sedemikian rupa. Sedang saat ini berada di bandul ekstrim seberangnya, euforia kebebasan yang serasa belum mentas-mentas, belum kelar-kelar.

Kata-kata beringas bahkan keluar dari orang-orang terdidik, bahkan dari pendidik, dari dosen, hanya sebab perbedaan pandangan politik isi kebun binatang keluar, padahal dia pendidik, dia guru. Kata-katanya berkobar-kobar dengan api kebencian dan kemarahan. Maka tidak heran, suatu hari saya di angkot mendengar sekelompok pelajar SMP, perempuan, setiap kalimat ceritanya diakhiri dengan kata b*go. Sampe-sampe saya heran, ini memang gaya bicara jaman ini begini gitu?

Belum lagi pornografi yang merenggut masa depan anak-anak, anak-anak kita yang semestinya asyik dengan kepolosannya, jauh dari kata-kata beringas dan tontonan pornografi. Anak-anak ini yang sebagiannya belajar dari postingan, komen fesbuk, komen di grup Bapaknya yang berisi kobaran umpatan dan kebencian. Ahhh sayang..sayang….. sudahlah, ayolah kita move on. Sudah dewasa, sudah harus meletakkan pewarisan satu demi satu apa yang hendak kita wariskan ke anak-anak kita? anak-anak sodara kita? anak-anak bangsa kita?

Anak-anak ini semestinya menggemaskan tanpa perlu terinfeksi pornografi. Sehingga adrenalinnya dipakai untuk menaklukkan tantangan-tantangan positif. Olahraga, membaca ribuan textbook, menghafal ayat-ayat suci, tangannya mencoba berbagai kerajinan dan permainan. Olaraga, olahrasa, olah pikir, tanpa terenggut oleh pornografi yang ahhhh.. aduh sayang…sayang….

Sementara itu, Bapak atau Ibunya ribut di sosial media, bahkan kadang, sesama ibu-ibu menjudesi ibu-ibu lain yang mencari nafkah untuk keluarganya, padahal tidak tahu bagaimana kondisi di keluarga ibu tadi. Seperti bibi yang kerja di tempat saya, dulupun sempat meninggalkan rumah bekerja sebagai pembantu, untuk biaya anaknya, sementara tidak ada penghasilan dari suaminya. Jadi perempuan, jadi ibu-ibu itu sudah capek, kepala jadi kaki, kaki jadi kepala, sudah ga perlu ditambah-tambah judes menjudesi lagi. Let’s move on.

Barangkali kita perlu sedikit meniru langkah ‘sensor’, kita perlu secara bersama menjatuhkan sensor lebih keras terhadap kata-kata kebun binatang yang diumbar, di komen-komen surat kabar dot com misalnya, atau di media lain. Barangkali kita perlu secara bersama, menjatuhkan himbauan dengan lebih keras, kepada Bapak-bapak teman-teman kita sendiri, yang mengumbar umpatan kebencian di forum-forum alumni kita. Barangkali juga kita perlu secara bersama demo turun ke jalan untuk televisi yang tidak mau peduli dengan petisi2 yang kita tanda-tangani, surat-surat yang kita layangkan. Barangkali untuk menarik bandul ekstrim kebablasan kita harus menariknya dengan sedikit lebih keras, secara bersama-sama, agar agak imbang ke tengah. Barangkali…. entahlah. Wallahu’alam.

Written by ibudidin

October 17th, 2014 at 3:45 pm

Manfaatkan Waktu dalam Menuntut Ilmu

without comments

Share

masyaAllah… cerita yang menarik dan indah…..
sebagaimana halnya yang saya alami, saya menyesali tahun-tahun di sekitar 1999-2003, pada tahun-tahun bujangan, ga ngasuh anak, ga kerja nyari uang, uang bulanan lancar, nge-kos di tempat yang bagus, kuliah dan hanya kuliah, dan saya………………………… menyedihkan, sedikit sekali buku teks yang dilahap, ga prestatif, ngapain aja? disamping memang ada faktor dari saya sendiri salah pilih jurusan, tetapi memang tidak banyak membaca/melahap teks itu berlangsung sekitar 4 tahun, berarti masa SD saya jauh-jauh lebih baik, hampir 1 hari 1 buku. Tetapi Alhamdulillah kesalahan itu terbayar dengan kesempatan yang Allah hadirkan untuk S2 yang mengubah jalan hidup saya saat ini, Alhamdulillah.

Nah sekarang ini, masyaAllah… hal-hal yang dari dulu tahu tapi ga paham maknanya, konteksnya, maksudnya, sekarang ini terbuka, dikasih-Nya pemahaman… memang ilmu itu dicari tetapi pemahaman itu dimintakan pada-Nya, kalau sudah cling disetrumkan, maka bisa paham, bisa ngerti.

Tetapi, sekarang ini waktu-waktu bekerjaran dengan sempit, hari ini saya mengerjakan setoran untuk esok hari, bukan menunda-nunda, tapi kemarin mengerjakan setoran untuk hari ini, esok mengerjakan setoran untuk esoknya, nyaris tak ada waktu mengerjakan hari ini untuk dikumpulkan seminggu lagi, artinya memang waktu yang cepat sekali berlalu dan kewajiban yang ga berhenti-henti.

Maka dari itu, anak-anakku, adik-adikku yang masih muda, masih ada orangtua yang membiayai, aduh waktu itu sayanggg banget kalau tidak dimaknai/bermakna, berisi hal-hal yang berguna. Nanti giliran pengen melakukan hal yang baik, waktunya terbatas, nyesel, nangis. Terutama masih muda, kuat, sehat, tenaga full, lahaplah itu teks-teks, tidur 4-6 jam saja, yang sehat olahraga, waktu itu berharga

**** antara penyesalan dan kesyukuran

Secuil Pengalaman dalam Menuntut Ilmu

Bicara pengorbanan dan kesulitan dalam menuntut ilmu, kita belum ada apa-apanya bila dibandingkan ulama-ulama dulu. Tapi sekedar berbagi pengalaman, dan memenuhi permintaan sebagian teman, saya akan berbagi satu cuplikan cerita pengalaman saya yang sangat sederhana dalam menuntut ilmu.

Alhamdulillah, sekalipun tidak bisa dikatakan mewah, saya tidak pernah mengalami kekurangan biaya dalam menuntut ilmu, karena saya selalu dapat beasiswa dan kiriman dari orang tua walau tidak banyak.

Alhamdulillah lagi, saya tidak pernah kekurangan makan, sekalipun dengan lauk yang sangat sederhana. Tapi tidaklah sampai makan hanya pakai garam. Akibatnya, ilmu yang saya dapatkan juga hanya amat secuil.

Namun, untuk membeli buku tidaklah bisa seenaknya. Harus menahan perut untuk tidak jajan dan makan mewah. Demi memiliki buku, selama S 1 dan S 2 saya tidak kenal dengan yang namanya rumah makan, apalagi restauran. Kecuali restauran kusyari dan ful. Kalau ada yang traktir baru saya bisa mencoba makan enak di tempat itu. Kalau tidak seperti itu saya tidak akan mungkin punya buku banyak. Sementara saya adalah “hantu” buku semenjak kecil.

Pada suatu kali, saya pergi belanja kebutuhan harian ke pasar Madrasah. Di sana saya menemukan orang menjual buah tin yang sangat ranum. Mekar-mekar dan bersih, serta besar-besar. Harganya 8 pound sekilo. Kebetulan saya sangat suka makan buah tin.

Ketika saya akan membelinya, saya ingat bahwa uang jajan bulan itu harus dihemat untuk beli salah satu buku yang ditulis oleh Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah. Semua buku yang beliau tulis atau beliau tahqiq harganya mahal-mahal. Maklum, isinya memang luar biasa dan cetakannya selalu lux.

Akhirnya saya urungkan niat membeli buah tin, dari pada uang saya kurang untuk beli buku. Saat itu saya tiba-tiba ingat hadits dari Rasulullah yang berbunyi:

“???? ?????: ????????? ??????? ????????? ???????????? ???????? ???? ???????? ??? ?????????”

Siapa yang mengucapkan: Subhanallahil ‘Azhimi wa bihamdihi, ditanamkan untuknya sebatang kurma di surga”. (HR. Turmudzi)

Lalu hati saya berkata, lebih baik baca saja zikir ini sebanyak-banyaknya, kalau pun tidak bisa makan buah tin di dunia, semoga dapat buah tin yang lebih banyak dan lebih nikmat di akhiarat nanti. Lidah sayapun segera mengucapkannya berulang kali dengan khusyu’.

Tanpa saya sadari, tiba-tiba ada rasa gembira dan haru luar biasa yang menjalar keseluruh pori-pori tubuh saya. Akibatnya sampai kemata, yang membuat butiran air mendesak untuk keluar. Allah mengganti nikmat buah tin dengan nikmat lain. Tanpa bisa ditahan, sayapun menangis haru di tengah pasar.

Saya berharap, sekalipun sekarang tidak mesti seperti itu lagi, Allah tetap memberi saya nikmat buah tin di akhirat nanti. Kalau dulu finansial terbatas untuk beli buku, tapi waktu membaca terhampar seluas-luasnya, tanpa ada gangguan dan batasan. Adapun sekarang, bisa beli buku apa saja, kapan saja dan berapa saja, tapi tidak punya waktu seluas dulu lagi untuk membaca. Hanya lebih-lebih waktu bisa digunakan untuk “bermesraan” dengan buku-buku. Waktu libur betul-betul nikmat digunakan untuk itu.

Demikian lah kehidupan dunia, dilebihkan di sini dikurangi di sana. Dikurangi biaya, dihamparkan kesempatan. Hanya di akhiratlah semuanya terhampar seluas-luasnya, semaunya kita.

Tiadalah kehidupan sebenarnya selain kehidupan akhirat.

Ya Rabbi, selamatkan kami dari neraka dan masukkan kami bersama hamba-hamba-Mu yang shaleh ke surga-Mu.

Written by ibudidin

October 12th, 2014 at 8:35 am

Posted in Tafakur,Taujih

Cukup

without comments

Rasanya sudah cukup ketidakmasukakalan ini. Dua bulan lagi, akan kuperjuangkan langkahku sendiri.

Written by ibu didin

March 22nd, 2012 at 11:34 pm

Posted in Tafakur