if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Seputar ITB’ Category

Google Doodle hari ini: Prof Samaun Samadikun

without comments

Hari ini gambar doodle di laman utama Google ada yang istimewa. Jika anda membuka laman Google hari ini (www.google.co.id atau www.google.com), maka tampaklah gambar karikatur seorang laki-laki dengan latar belakang kabel-kabel. yang membentuk tulisan google. Siapakah dia?

samaun

(Alm) Prof. Samaun Samadikun menjadi gambar Google hari ini

Dia adalah (alm) Prof. Samaun Samadikun. Beliau dulu adalah gurubesar dalam bidang mikroelektronika di ITB. Pak Samaun bukan orang sembarangan, beliau adalah bapak mikroelektronika Indonesia. Pada hari lahirnya yang bertepatan pada hari ini, Google menjadikannya sebagai doodle pada laman utamanya.

Saya pribadi tidak mengenal beliau, meski sama-sama di ITB. Beliau adalah seorang dosen di Jurusan Teknik Elektro ITB, jurusan yang berbeda dengan saya di Informatika ITB. Jadi saya tidak pernah diajar oleh Pak Samaun. Meskipun saya tidak pernah diajar oleh Pak Samaun, namun saya sudah sering mendengar nama besar beliau melalui karya-karyanya dalam bidang bidang elektronika.

Saya kutip dari sini:

Prof. Dr. Samaun Samadikun sendiri lahir di Magetan pada tanggal 15 April 1931. Ia pernah menjadi salah seorang dosen di ITB yang semasa hidupnya dikenal karena kepribadian dan sikapnya yang sangat sederhana dan bersahaja, namun tanpa mengurangi sedikit pun kewibawaannya sebagai salah seorang yang disegani.

Berawal dari pendidikan Teknik Elektro di ITB yang ditempuhnya pada tahun 1950. Kemudian Prof Samaun pun melanjutkan kuliahnya dan lulus dari Universitas Standford untuk mengambil gelar M.Sc di tahun 1957, tak hanya itu gelar Ph.D. pun berhasil direngkunya pada tahun 1971 dalam bidang teknik elektro. Prof Samaun bersama dengan K.D Wise akhirnya berhasil menciptakan sebuah paten “Method for forming regions of predetermined in silicon” dengan nomor Us Patent No 3.888.708 pada tahun 1975.

Berawal dari pendidikan Teknik Elektro di ITB yang ditempuhnya pada tahun
1950. Kemudian Prof Samaun pun melanjutkan kuliahnya dan lulus dari
Universitas Standford untuk mengambil gelar M.Sc di tahun 1957, tak hanya
itu gelar Ph.D. pun berhasil direngkunya pada tahun 1971 dalam bidang
teknik elektro. Prof Samaun bersama dengan K.D Wise akhirnya berhasil
menciptakan sebuah paten “Method for forming regions of predetermined in
silicon” dengan nomor Us Patent No 3.888.708 pada tahun 1975.

Prof Samaun sendiri juga Pernah menjabat sebagai seorang direktur pertama
dari sebuah Pusat Antar Universitas (PAU) Mikroelektronika di ITB pada
periode tahun 1984 hingga 1989. Ia pun juga sempat mengambil cuti dalam
mengajar di ITB karena ia mendapatkan jabatan sebagai Direktur Binsarak
DIKTI dari pemerintah pada tahun 1973 hingga 1978. serta pada tahun 1989
sampai 1995 Prof. Dr. Samaun Samadikun diangkat menjadi ketua Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Usai masa jabatan di LIPI berakhir, Prof Samaun Samadikun akhirnya
memutuskan untuk kembali lagi mengajar di ITB. ia pun mengabdikan dirinya
disana hingga akhirnya beliau meninggal dunia pada tahun 2006.

Tonton “Siapakah Samaun Samadikun ?” di YouTube

~~~~~~~~

Pak Samaun sudah tiada, tetapi karya-karyanya untuk dunia ilmu pengetahuan Indonesia dan dunia menjadi warisan bagi generasi penerus. Doa alfatihah buat Pak Samaun Samadikun.


Written by rinaldimunir

April 15th, 2016 at 3:24 pm

Menjadi “Dosen Terbang” di Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Lampung

without comments

Semester ini saya ditugaskan oleh fakultas saya di ITB untuk ikut membantu pengajaran mata kuliah di Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Lampung Selatan. ITERA adalah perguruan tinggi negeri baru yang kelahirannya dibidani oleh ITB (baca tulisan saya terdahulu: Institut Teknologi Sumatera (ITERA) Menerima Mahasiswa Baru Tahun Ini).

DSC_1476

Gerbang kampus ITERA, dipotret dari dalam mobil pada saat siang yang berawan mendung.

Pada awalnya mahasiswa ITERA masih sedikit jumlahnya. Namun, sejak penerimaan mahasiswa baru ITERA melalui SNMPTN dan SBMPTN, maka sejak tahun lalu jumlah mahasiswanya melonjak drastis, mereka menerima sekitar 500 orang mahasiswa baru angkatan 2015. Tahun 2016 ini penerimaan mahasiswa baru ITERA ditargetkan mencapai 1200 orang. Dari data mahasiswa baru yang diterima melalui jalur SBMPTN tahun 2015, skor nilai mahasiswa baru ITERA berada pada posisi menengah, artinya kualitas mahasiswa baru mereka cukup baik. Asal propinsi mahasiswa baru paling banyak dari Lampung sendiri, menyusul dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, dll. Artinya ITERA sudah mulai diminati oleh calon mahasiswa baru dari berbagai propinsi.

Sebagai  perguruan tinggi negeri baru (sudah 3 tahun usianya), dosen-dosennya masih belum banyak karena formasi penerimaan dosen PNS yang terbatas. Karena ITB memiliki andil dalam kelahiran ITERA, maka dosen-dosen ITB diperbantukan untuk mengajar di sana. Saat ini Rektor ITERA pun berasal dari ITB. Jadi, mahasiswa ITERA tentu merasa bangga karena diajar oleh dosen-dosen ITB :-).

Saya mengajar mata kuliah untuk Program Studi Informatika. Karena faktor jarak yang jauh, maka untuk mencapai Lampung, saya dan dosen-dosen ITB naik pesawat terbang ke Lampung. Dari Bandung ada dua penerbangan langsung setiap hari ke Bandara Radin Inten II di Lampung Selatan, masing-masing dilayani oleh maskapai Xpress Air (pagi hari) dan Wings Air (siang hari). Waktu tempuh pesawat dari Bandung ke Lampung adalah 50 menit. Jika dari Jakarta kita bisa menggunakan Garuda, Sriwijaya, atau Lion Air. Waktu tempuh pesawat dari Cengkareng ke Lampung hanya 30 menit. Ini artinya, akses transportasi ke Lampung bukan menjadi persoalan. Karena terbang untuk mengajar di ITERA  Lampung, maka saya menjulukinya  sebagai “dosen terbang”.

radin inten

Bandara Radin Inten II, bandara baru di Lampung (dulu namanya Bandara Branti)

Menjadi dosen terbang bukan hal yang baru bagi saya. Tahun 2000 saya juga pernah menjadi dosen terbang untuk membantu pengajaran di Progam Studi Informatika, UIN Sultan Syarif Qasim (UIN SUSQA) Pekanbaru. Waktu itu, pembentukan Program Studi Informatika UIN Susqa kurikulumnya diinisiasi oleh Informatika ITB.

Sebagai perguruan tinggi baru, ITERA memang terus membangun infrastruktur. Hingga saat ini sudah terdapat empat gedung baru yang selesai dibangun, yang digunakan untuk ruang kuliah, lab, kantor, dan lan-lain. Berikut penampakan gedung-gedung baru di ITERA.

DSC_1484

Gerbang ITERA dipotret dari dalam kampus. Gerbang ini termasuk bangunan unik, sehingga sering menjadi arena foto pra-wedding.

DSC_1479

Tiga gedung baru di sisi kanan. Di kejauhan satu gedung sedang dibangun

DSC_1487

Sepasang gedung baru, kembar

DSC_1514

Suasana lorong gedung perkuliahan di lantai 2

Lahan kampus ITERA sangat luas, sekitar 300 hektar. Lahan ini disediakan oleh Pemprov Lampung. Katanya lahan ini dulunya milik PTPN. Lahan yang sangat luas ini jika selesai dibangun nanti maka akan menjadi kampus yang paling megah di Sumatera. Oh iya, di belakang lahan kampus sedang dibangun ruas jalan tol yang baru saja diresmikan oleh Presiden Jokowi. Kelak jalan tol ini menjadi bagian dari jalan tol Sumatera yang membentang dari Lampung hingga ke Aceh. Bisa dibayangkan harga tanah di sekitar ITERA ini akan melonjak naik.

DSC_1488

Lahan kampus yang sangat luas. Di belakangnya terdapat jalan tol yang sedang dibangun

 

Saya mengajar d ITERA hari Jumat dan Sabtu, berhubung waktu saya yang kosong di ITB hanya hari Jumat. Hari Jumat saya ke Lampung, dari bandara saya langsung ke kampus untuk mengajar, lalu disambung keesokan harinya, dan pulang ke Bandung siang harinya. Secara rutin saya ke sana dua minggu sekali. Mudah-mudahan ini bentuk kontribusi saya untuk kemajuan pendidika di ITERA Laampung.

 

 

 


Written by rinaldimunir

March 7th, 2016 at 1:57 pm

Topi Wisuda dan Lagu “”Gaudeamus Igitur”

without comments

Baru saja saya membaca sebuah berita tentang mahasiswa Universitas Batam (Uniba) menolak rencana wisuda menggunakan peci sebaga pengganti topi toga (Baca: Mahasiswa Uniba Tolak Wisuda Berpeci). Alasannya, menggunakan peci tidak lazim pada acara wisuda, yang lazim adalah topi toga seperti gambar di bawah ini.

Sekilas penolakan ini terdengar klise, tetapi sesuatu yang sudah pakem jika diubah pastilah menimbulkan pro dan kontra. Saya paham dengan aspirasi mahasiswa Uniba tersebut, mereka tidak ingin tradisi yang sudah berurat berakar selama berabad-abad dalam sejarah wisuda perguruan tinggi tiba-tiba diubah begitu saja. Semoga saja masalah ini dapat diselesaikan dengan baik.

Saya teringat kasus yang mirip di ITB pada akhir tahun 1990-an. Di ITB juga pernah terjadi perubahan tradisi wisuda, namun berlangsung mulus tanpa penolakan. Perubahan itu terletak pada “Gaudeamus Igitur” yang digunakan untuk mengiringi masuknya para Guru Besar ke ruang wisuda diganti dengan lagu “Mars ITB”.

Selama bertahun-tahun lagu Gaudeamus Igitur selalu dinyanyikan oleh Paduan Suara Mahasiswa ITB pada setiap acara formal yang menghadirkan para guru besar, seperti pada acara wisuda sarjana, sidang terbuka penerimaan mahasiswa baru, atau acara Dies ITB. Ketika Rektor dan para Gurubesar masuk ruangan acara, maka paduan suara mahasiswa menyanyikan lagu Gaudeamus tersebut. Saya sendiri pernah menjadi anggota paduan suara mahasiswa ITB ketika menjadi mahasiswa baru dulu. Kami dipilih oleh kakak-kakak senior, lalu selama berhari-hari kami dilatih untuk menyanyikan beberapa lagu, termasuk lagu Gaudeamus yang sakral itu. Pada acara sidang senat terbuka penerimaan mahasiswa baru di kampus, kami tampil di depan menyanyikan lagu Gaudeamus dengan bangga.

Seperti apa lagu Gaudeamus itu, silakan klik video Youtube yang memperlihatkan prosesi rektor dan Gurubesar di UI masuk ke ruangan acara wisuda dan disambut dengan lagu Gaudeamus yang dinyanyikan oleh paduan suara mahasiswa baru UI.

Anda juga bisa mendengarkan lagu Gaudeamus Igitur yang pernah dinyanyikan oleh Paduan Suara Mahasiswa ITB dengan mengklik tautan ini.

Saya dan banyak orang saat itu mungkin tidak terlalu mengerti arti lagu Gaudeamus karena liriknya dalam bahasa latin. Namun, jika kita membaca sejarah ternyata lagu Gaudeamus dipakai untuk banyak tujuan, salah satunya sebagai lagu pembuka untuk bersulang minuman wiski/bir/anggur dalam sebuah pesta perayaan. Arti lirik-lirik lagu tersebut cukup mengejutkan. Begini bunyi lirik lagu yang lengkap beserta terjemahannya:

Gaudeamus igitur – Mari kita bersenang-senang
Uvenes dum sumus – Selagi masih muda
Post icundum iuventutem – Setelah masa muda yang penuh keceriaan
Post molestam senectutem – Setelah masa tua yang penuh kesukaran
Nos habebit humus – Tanah akan menguasai kita
Vita nostra brevis est – Hidup kita sangatlah singkat
Brevi finietur – Berakhir dengan segera
Venit mors velociter – Maut datang dengan cepat
Rapit nos atrociter – Merenggut kita dengan ganas
Nemini parcetur – Tak seorang pun mampu menghindar
Ubi sint qui ante nos – Kemana orang-orang sebelum kita
In mundo fuere? – Yang pernah hidup di dunia ini?
Vadite ad superos – Terbanglah ke kahyangan
Transite in inferos – Terjunlah ke kawah candradimuka
Hos si vis videre – Bila kau ingin menjumpai mereka
Vivat academia! – Hidup kampusku!
Vivant professores! – Hidup para dosen!
Vivat membrum quodlibet! – Hidup seluruh mahasiswa!
Vivat membra quaelibet! – Hidup seluruh mahasiswi!
Semper sint in flore – Semoga kalian semua akan terus maju
Vivat et republica! – Hidup negaraku!
Et qui illam regit – Dan pemerintahannya
Vivat nostra civitas! – Hidup kota kami!
Maecenatum caritas – Dan kemurahan hati para dermawan
Quae nos hic protegit – Yang telah melindungi kami
Vivant omnes virgines! – Hidup para gadis!
Faciles, formosae – Yang sederhana dan elok
Vivant et mulieres! – Hidup para wanita!
Tenerae, amabiles – Yang lembut dan penuh cinta
Bonae, laboriosae – Jujur, pekerja keras
Pereat tristitia – Enyahlah kesedihan
Pereant osores – Enyahlah kebencian
Pereat diabolus – Enyahlah kejahatan
Quivis antiburschius – Dan siapa pun yg anti perkumpulan mahasiswa
Atque irrisores – Juga mereka yang mencemoh kami
Quis confluxus hodie – Siapa yang sekarang telah berkumpul
Academicorum? – di universitas ini?
E longinquo convenerunt – Sejak lama mereka telah berkumpul
Protinusque successerunt – Dan kemudian bersatu
In commune forum – dalam forum bersama
Vivat nostra societas! – Hidup persahabatan kita!
Vivant studiosi! – Hidup studio!
Crescat una veritas – Semoga kebenaran dan kejujuran tercapai
Floreat fraternitas – Tumbuh bersama perkumpulan kita
Patriae prosperitas – Dan tanah air kita akan sejahtera
Alma Mater floreat – Majulah almamater
Quae nos educavit – Yang telah mendidik kami
Caros et commilitones – Kepada sahabat dan kawan-kawan
Dissitas in regiones – Yang terpisah di berbagai wilayah
Sparsos, congregavit – Mari kita berkumpul

Makna lagu Gaudeamus terasa cukup dalam, ia berbicara tentang kehidupan hingga kematian. Namun, jika dinyanyikan pada acara wisuda yang formal dan sakral, dan semua yang hadir tidak mengerti artinya, tentu kurang pas juga rasanya. Apalagi ada kesan negatif lagu itu digunakan untuk pengantar bersulang meminum bir, sesuatu yang bukan budaya orang Indonesia.

Pada tahun 1990-an (saya lupa persisnya), ITB mengadakan lomba membuat lagu Mars ITB dan Hymne ITB. ITB belum mempunyai lagu-lagu resmi seperti mars dan hymne. Kelak kedua lagu tersebut akan diperdengarkan pada acara-acara resmi ITB. Lomba lagu terbuka untuk umum. Pemenang lagu “Mars ITB” adalah Yudia Prapanca, seorang alumnus Teknik Sipil ITB angkatan 1985, teman seangkatan saya juga. Sedangkan pememang lagu “Hymne ITB” adalah Ibenzani Usman, seorang alumnus Senirupa FSRD ITB (kebetulan putrinya teman satu SMA di Padang).

Begini syair lagu kedua lagu tersebut.

Mars ITB

Derapkan langkah tatap ke depan
ITB citra Ganesha
Curahkan daya kejarlah cita
Bakti pada negara

Siapkan diri, teguhkan hati
Tegarkan tekad pribadi
Langkah dan karya, nyatakan pasti
Dambaan Ibu Pertiwi

Hai putra bangsa insan persada
Tugas mulia menantimu
S’mangat dan tekad kembangkan s’lalu
Sinar terang pasti datang

Kajilah ilmu dan teknologi
Seni dan budaya bangsa
Kukuhkan sikapmu dan tekadmu mandiri
Capai masa gemilang

Rentangkan sayap, pancarkan cita
Cerdaskan putra negara
Hantarkan bangsa Indonesia
Adil makmur sejahtera

Majulah maju pandu sejati
Almamater yang tercinta
S’moga semakin kukuh dewasa
Tetap jaya dan abadi

Di bawah ini syair lagu “Hymne ITB”

Hymne ITB

Dengan bangga kami seru namamu
Almamater nan jaya ITB tercinta
Besar nian sumbangsihmu bagi negri
Bagi cita nan mulia masyarakat sejahtera

Oh, Tuhan kami mohon
Restu dan petunjukMu
Dalam tugas dan bakti
Pada nusa dan bangsa

Anda dapat mengunduh MP3 lagu “Mars ITB” dan MP3 lagu “Hymne ITB” dengan mengklik tautan pada laman ini, atau bisa juga mendengarkan langsung lagunya di sini dan di sini

Lalu, entah kapan dimulainya (saya lupa tahunnya), akhirnya lagu Gaudeamus Igitur yang selama bertahun-tahun dinyanyikan pada acara wisuda, diganti dengan lagu “Mars ITB”. Klik video Youtube di bawah ini untuk melihat salah satu acara wisuda dengan lagu “Mars ITB” untuk menyambut Rektor dan para Gurubesar masuk ke ruangan wisuda di Gedung Sasana Budaya Ganesha ITB.

Apa alasan penggantian itu, saya kurang tahu persis, tetapi tentu bukan karena alasan lagu Gaudeamus adalah lagu pengantar bersulang minum bir, namun saya pikir karena kampus kami ingin punya ciri khas sendiri dengan lagu karya anak bangsa sendiri yang lebih dipahami artinya, ketimbang menyanyikan lagu asing yang hampir semua orang tidak paham artinya.

Saya suka dengan lagu Mars ITB itu. Lagunya menyiratkan semangat ke depan untuk melangkah dengan pasti memajjukan bangsa Indonesia, sesuai dengan bunyi lirik lagu di atas. Setiap mendengar lagu Mars ITB pada acara-acara resmi ITB, tiba-tiba saja bulu ramang saya berdiri.


Written by rinaldimunir

October 20th, 2015 at 2:39 pm

Posted in Seputar ITB

Topi Wisuda dan Lagu “Gaudeamus Igitur”

without comments

Baru saja saya membaca sebuah berita tentang mahasiswa Universitas Batam (Uniba) menolak rencana wisuda menggunakan peci sebaga pengganti topi toga (Baca: Mahasiswa Uniba Tolak Wisuda Berpeci). Alasannya, menggunakan peci tidak lazim pada acara wisuda, yang lazim adalah topi toga seperti gambar di bawah ini.

Sekilas penolakan ini terdengar kekanakan, tetapi dapat dimaklumi sebab sesuatu yang sudah pakem jika diubah pastilah menimbulkan pro dan kontra. Saya paham dengan aspirasi mahasiswa Uniba tersebut, mereka tidak ingin tradisi yang sudah berurat berakar selama berabad-abad dalam sejarah wisuda perguruan tinggi tiba-tiba diubah begitu saja. Semoga saja masalah ini dapat diselesaikan dengan baik.

Saya teringat kasus yang mirip di ITB pada akhir tahun 1990-an. Di ITB juga pernah terjadi perubahan tradisi wisuda, namun berlangsung mulus tanpa penolakan. Perubahan itu terletak pada lagu “Gaudeamus Igitur” yang digunakan untuk mengiringi masuknya para Guru Besar ke ruang wisuda diganti dengan lagu “Mars ITB”.

Selama bertahun-tahun lagu Gaudeamus Igitur selalu dinyanyikan oleh Paduan Suara Mahasiswa ITB pada setiap acara formal yang menghadirkan para guru besar, seperti pada acara wisuda sarjana, sidang senat terbuka penerimaan mahasiswa baru, atau acara Dies ITB. Ketika Rektor dan para Gurubesar berjalan masuk ke ruangan acara, maka paduan suara mahasiswa menyanyikan lagu Gaudeamus tersebut. Saya sendiri pernah menjadi anggota paduan suara mahasiswa ITB ketika menjadi mahasiswa baru dulu. Kami dipilih oleh kakak-kakak senior, lalu selama berhari-hari kami dilatih untuk menyanyikan beberapa lagu, termasuk lagu Gaudeamus yang sakral itu. Pada acara sidang senat terbuka penerimaan mahasiswa baru di kampus, kami tampil di depan menyanyikan lagu Gaudeamus dengan bangga.

Seperti apa lagu Gaudeamus itu, silakan klik video Youtube yang memperlihatkan prosesi rektor dan Gurubesar di UI masuk ke ruangan acara wisuda dan disambut dengan lagu Gaudeamus yang dinyanyikan oleh paduan suara mahasiswa baru UI.

Anda juga bisa mendengarkan lagu Gaudeamus Igitur yang pernah dinyanyikan oleh Paduan Suara Mahasiswa ITB dengan mengklik tautan ini.

Saya dan banyak orang saat itu mungkin tidak terlalu mengerti arti lagu Gaudeamus karena liriknya dalam bahasa latin. Namun, jika kita membaca sejarah ternyata lagu Gaudeamus dipakai untuk banyak tujuan, salah satunya sebagai lagu pembuka untuk bersulang minuman wiski/bir/anggur dalam sebuah pesta perayaan. Arti lirik-lirik lagu tersebut cukup mengejutkan. Begini bunyi lirik lagu yang lengkap beserta terjemahannya:

Gaudeamus igitur – Mari kita bersenang-senang
Uvenes dum sumus – Selagi masih muda
Post icundum iuventutem – Setelah masa muda yang penuh keceriaan
Post molestam senectutem – Setelah masa tua yang penuh kesukaran
Nos habebit humus – Tanah akan menguasai kita
Vita nostra brevis est – Hidup kita sangatlah singkat
Brevi finietur – Berakhir dengan segera
Venit mors velociter – Maut datang dengan cepat
Rapit nos atrociter – Merenggut kita dengan ganas
Nemini parcetur – Tak seorang pun mampu menghindar
Ubi sint qui ante nos – Kemana orang-orang sebelum kita
In mundo fuere? – Yang pernah hidup di dunia ini?
Vadite ad superos – Terbanglah ke kahyangan
Transite in inferos – Terjunlah ke kawah candradimuka
Hos si vis videre – Bila kau ingin menjumpai mereka
Vivat academia! – Hidup kampusku!
Vivant professores! – Hidup para dosen!
Vivat membrum quodlibet! – Hidup seluruh mahasiswa!
Vivat membra quaelibet! – Hidup seluruh mahasiswi!
Semper sint in flore – Semoga kalian semua akan terus maju
Vivat et republica! – Hidup negaraku!
Et qui illam regit – Dan pemerintahannya
Vivat nostra civitas! – Hidup kota kami!
Maecenatum caritas – Dan kemurahan hati para dermawan
Quae nos hic protegit – Yang telah melindungi kami
Vivant omnes virgines! – Hidup para gadis!
Faciles, formosae – Yang sederhana dan elok
Vivant et mulieres! – Hidup para wanita!
Tenerae, amabiles – Yang lembut dan penuh cinta
Bonae, laboriosae – Jujur, pekerja keras
Pereat tristitia – Enyahlah kesedihan
Pereant osores – Enyahlah kebencian
Pereat diabolus – Enyahlah kejahatan
Quivis antiburschius – Dan siapa pun yg anti perkumpulan mahasiswa
Atque irrisores – Juga mereka yang mencemoh kami
Quis confluxus hodie – Siapa yang sekarang telah berkumpul
Academicorum? – di universitas ini?
E longinquo convenerunt – Sejak lama mereka telah berkumpul
Protinusque successerunt – Dan kemudian bersatu
In commune forum – dalam forum bersama
Vivat nostra societas! – Hidup persahabatan kita!
Vivant studiosi! – Hidup studio!
Crescat una veritas – Semoga kebenaran dan kejujuran tercapai
Floreat fraternitas – Tumbuh bersama perkumpulan kita
Patriae prosperitas – Dan tanah air kita akan sejahtera
Alma Mater floreat – Majulah almamater
Quae nos educavit – Yang telah mendidik kami
Caros et commilitones – Kepada sahabat dan kawan-kawan
Dissitas in regiones – Yang terpisah di berbagai wilayah
Sparsos, congregavit – Mari kita berkumpul

Makna lagu Gaudeamus sendiri sebenarnya cukup dalam, ia berbicara tentang kehidupan hingga kematian. Namun, jika dinyanyikan pada acara wisuda yang formal dan sakral, dan semua yang hadir tidak mengerti artinya, tentu kurang pas juga rasanya. Apalagi ada kesan negatif lagu itu digunakan untuk pengantar bersulang meminum bir, sesuatu yang bukan budaya orang Indonesia.

Pada tahun 1990-an (saya lupa persisnya), ITB mengadakan lomba membuat lagu Mars ITB dan Hymne ITB. ITB belum mempunyai lagu-lagu resmi seperti mars dan hymne. Kelak kedua lagu tersebut akan diperdengarkan pada acara-acara resmi ITB. Lomba lagu terbuka untuk umum. Pemenang lagu “Mars ITB” adalah Yudia Pancaputra, seorang alumnus Teknik Sipil ITB angkatan 1985, teman seangkatan saya juga. Sedangkan pemenang lagu “Hymne ITB” adalah Ibenzani Usman, seorang alumnus Senirupa FSRD ITB (kebetulan putrinya teman satu SMA di Padang).

Begini syair lagu kedua lagu tersebut.

Mars ITB

Derapkan langkah tatap ke depan
ITB citra Ganesha
Curahkan daya kejarlah cita
Bakti pada negara

Siapkan diri, teguhkan hati
Tegarkan tekad pribadi
Langkah dan karya, nyatakan pasti
Dambaan Ibu Pertiwi

Hai putra bangsa insan persada
Tugas mulia menantimu
S’mangat dan tekad kembangkan s’lalu
Sinar terang pasti datang

Kajilah ilmu dan teknologi
Seni dan budaya bangsa
Kukuhkan sikapmu dan tekadmu mandiri
Capai masa gemilang

Rentangkan sayap, pancarkan cita
Cerdaskan putra negara
Hantarkan bangsa Indonesia
Adil makmur sejahtera

Majulah maju pandu sejati
Almamater yang tercinta
S’moga semakin kukuh dewasa
Tetap jaya dan abadi

Di bawah ini syair lagu “Hymne ITB”

Hymne ITB

Dengan bangga kami seru namamu
Almamater nan jaya ITB tercinta
Besar nian sumbangsihmu bagi negri
Bagi cita nan mulia masyarakat sejahtera

Oh, Tuhan kami mohon
Restu dan petunjukMu
Dalam tugas dan bakti
Pada nusa dan bangsa

Anda dapat mengunduh MP3 lagu “Mars ITB” dan MP3 lagu “Hymne ITB” dengan mengklik tautan pada laman ini, atau bisa juga mendengarkan langsung lagunya di sini dan di sini

Lalu, entah kapan dimulainya (saya lupa tahunnya), akhirnya lagu Gaudeamus Igitur yang selama bertahun-tahun dinyanyikan pada acara wisuda, diganti dengan lagu “Mars ITB”. Klik video Youtube di bawah ini untuk melihat salah satu acara wisuda dengan lagu “Mars ITB” untuk menyambut Rektor dan para Gurubesar masuk ke ruangan wisuda di Gedung Sasana Budaya Ganesha ITB.

Apa alasan penggantian itu, saya kurang tahu persis, tetapi tentu bukan karena alasan lagu Gaudeamus adalah lagu pengantar bersulang minum bir, namun saya pikir karena kampus kami ingin punya ciri khas sendiri dengan lagu karya anak bangsa sendiri yang lebih dipahami artinya, ketimbang menyanyikan lagu asing yang hampir semua orang tidak paham artinya.

Saya suka dengan lagu Mars ITB itu. Lagunya menyiratkan semangat ke depan untuk melangkah dengan pasti memajjukan bangsa Indonesia, sesuai dengan bunyi lirik lagu di atas. Setiap mendengar lagu Mars ITB pada acara-acara resmi ITB, tiba-tiba saja bulu ramang saya berdiri.


Written by rinaldimunir

October 20th, 2015 at 2:39 pm

Posted in Seputar ITB

Spanduk Sambutan Mahasiswa Baru ITB 2015

without comments

Tahun ini bunyi spanduk ucapan selamat datang kepada mahasiswa baru ITB angkatan 2015 sudah ganti lagi isinya. Tiap tahun berbeda, dan tulisan “Selamat datang putera-puteri terbaik bangsa” tidak pernah dipakai lagi. Banyak yang protes. Terkesan angkuh, katanya.

Spanduk ucapan selamat datang mahasiwa baru ITB angkatan 2015

Spanduk ucapan selamat datang mahasiwa baru ITB angkatan 2015

Tahun ini bunyi kalimatnya: “Selamat datang putera-puteri penerus kepimimpinan bangsa”. Apakah kalimat ini masih multi-interpretasi? Entahlah.


Written by rinaldimunir

August 20th, 2015 at 1:14 pm

Posted in Seputar ITB

Ketika Teman Seangkatan di ITB Maju ke Pilkada Kabupaten Sragen

without comments

Seorang teman seangkatan saya ketika dulu sama-sama kuliah di Informatika ITB, mencoba karir barunya sebagai politisi. Jaka Sumanta namanya, orang Sragen, Jawa Tengah. Jaka maju ke Pilkada Kabupaten Sragen sebagai calon Bupati Sragen periode yang baru (2016-2021). Jaka dan pasangannya calon wakil bupati, diusung oleh tiga partai yaitu PKB, PAN, dan PPP. Tahun 2015 memang tahun Pilkada, karena Pilkada serentak dilakukan di seluruh Indonesia.

Jaka Sumanta, tengah, berpeci.

Jaka Sumanta, tengah, berpeci.

Alumni ITB yang menjadi walikota, bupati, atau gubernur sudah banyak. Ridwan Kamil misalnya, alumnus Arsitektur ITB angkatan 1990 itu sukses memenangkan Pilkada Kota Bandung dan sekarang menjadi walikota yang populer. Selain itu masih ada Riza Falepi, alumnus Teknik Elektro angkatan 1989, yang menjadi walikota Payakumbuh, Sumatera Barat, dan Indra Catri, alumnus Teknik Planologi ITB angkatan 1983 yang menjadi Bupati Kabupaten Agam, masih di Sumatera Barat.

Nah, jika teman semasa kuliah sendiri yang maju sebagai calon pemimpin daerah, ya baru kali ini. Rasanya saya belum pernah mendengar ada alumni angkatan 1985 ITB yang menjadi bupati/walikota/gubernur.

Kenapa para alumni itu tertarik ikut Pilkada? Alasannya cukup melankolik, yaitu untuk memajukan tanah kelahiran. Jaka Sumanta berasal dari daerah Sragen. Menurutnya, Sragen memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan, terutama dalam sektor pertanian, dan itu semua untuk kemakmuran rakyat Sragen. :-)

Jaka Sumanta di antara pendukungnya di Sragen

Jaka Sumanta di antara pendukungnya di Sragen

Saya dan Jaka Sumanta kuliah di Jurusan Teknik Informatika ITB, kami sama-sama diterima di ITB dari jalur PMDK (jalur undangan). Saya akui Jaka adalah mahasiswa yang sangat cerdas. Materi kuliah di kampus begitu mudah dicernanya, saya banyak belajar dan diajar oleh Jaka, karena saya kadang-kadang agak lambat memahami materi kuliah dasar. Seingat saya dia orang yang relijius, rendah hati, dan suka membantu orang lain.

Bakat kepemimpinan Jaka sudah terlihat sejak kuliah. Menjadi Ketua Angkatan di Informatika, lalu pernah menjadi ketua pertama organisisi GAMAIS, sebuah organisasi mahasiswa muslim ITB yang tetap eksis sampai sekarang (didirikan tahun 1987), dan sekarang menjadi ketua Ikatan Alumni Informatika ITB (IAIF ITB). Hampir semua mahasiswa ITB angkatan 1985 menyegani kewibawaannya.

Sekarang Jaka Sumanta sudah berhasil sebagai seorang wirausaha (enterpreneur) dalam bidang Teknologi Informasi. Secara materi mungkin dia sudah merasa lebih dari cukup. Menjadi bupati tentu bukan untuk mengejar materi lagi. Kini saatnya mengabdi ke tanah kelahiran untuk mencurahkan pikiran dan tenaganya untuk memajukan kampung halaman.

Jaka Sumanta sedang berorasi di antara pendukungnya.

Jaka Sumanta sedang berorasi di antara pendukungnya.

Sebagai teman seangkatan, tentu saya terpanggil memberi dukungan moril, dan katrena saya suka menulis maka yang saya mampu adalah melalui tulisan ini. Teman-teman seangkatan 1985 di ITB juga memberi dukungan penuh. Jaka Sumanta sudah memiliki kendaraan politik untuk mewujudkan idealismenya menjadi pemimpin daerah, mudah-mudahan saja rakyat Kabupaten Sragen memberi dukungan kepadanya. Pada akhirnya, rakyat Sragen juga yang menentukan. Semangat, kawan!


Written by rinaldimunir

August 3rd, 2015 at 1:10 pm

Warna-warni Kesenian Minangkabau di Gedung Sabuga ITB

without comments

(Tulisan ini sebenarnya agak terlambat di-posting, karena kejadiannya sebulan yang lalu. Meskipun demikian, masih tetap gres saya tulis di sini)

Setiap tahun, menjelang Ujian Akhir Semester, mahasiswa-mahasiswa ITB yang tergabung di dalam Unit Kesenian Minangkabau (UKM) ITB mengadakan malam pagelaran kesenian budaya Minangkabau di dalam kampus. Temptanya di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) ITB. Penontonnya tidak hanya para mahasiswa di dalam kampus, tetapi juga datang dari mahasiswa lainnya di kota Bandung, khususnya mahasiswa asal Sumbar, dan tentu saja para perantau Minang yang berada dia kawasan Bandung Raya. Bagi pertantau Minang di Bandung, acara UKM-ITB ini adalah yang selalu ditunggu-tunggu. Hal ini tampak dari membludaknya penonton, ditandai dari antrean panjang calon penonton di pintu Sabuga dengan memperlihatkan kode pesanan tiketnya yang dipesan secara daring di Internet. Zaman sekarang menjual tiket tidak perlu berupa kertas lagi, tetapi cukup via internet seperti kita membeli tiket pesawat. Tidak hanya itu, jika anda tidak hadir di Sabuga malam itu, pertunjukan pun dapat dilihat dari seluruh dunia karena disiarkan secara live streaming melalui Internet.

Saya datang pada malam itu guna memenuhi undangan para mahasiswa Minang ITB yang saya cintai. Bandung malam itu sangat ramai dan meriah, karena baru saja usai ‘pesta’ perayaaan Konferensi Asia Afrika ke-60. Kawasan Jalan Dago dan sekitarnya macet total, karena beberapa jalan ditutup akibat adanya pertunjukan musik dan karnaval. Jadi, malam pagelaran kesenian Minang dari UKM-ITB itu bolehlah dianggap sebagai ‘ikut meramaikan’ perayaan KAA. Ketika ada seorang rekan bertanya kepada saya, apakah malam keseninan Minang di Sabuga itu dalam rangka KAA? Iya, jawab saya sekenanya sambil tersenyum.

Asesori-asesori hiasan Minangkabau sudah menyambut tamu menuju pintu Sabuga. Sepasang anak daro-marapulai (pengantin muda-muda Minang) menyambut penonton dengan ramah. Saya menyempatkan berfoto dulu bersama teman saya, seorang alumni ITB yang pernah menjadi Dirut beberapa BUMN semasa Menteri Dahkan Iskan dulu. Sambutan muda-mudi dalam balutan busana tradisionil Minangkabau bagaikan pengkondisian bahwa anda sekarang memasuki kawasan budaya Minang.

Sepasang muda-mudi Minang menyambut penonton masuk ke dalam sabuga.

Sepasang muda-mudi Minang menyambut penonton masuk ke dalam sabuga.

Jadwal pertunjukan ternyata ngaret dari yang diagendakan. Acara dimulai dengan pembacaan tilawah Al-Quran. Sebagai orang Minang yang taat pada agama dan dengan filosofi adat yang bersendikan pada ajaran agama (Islam), tradisi pembukaan acara dengan membaca kitab Suci Al-Quran sangat jarang kita temukan pada pertunjukan kesinian manapun. Hanya di UKM-ITB itu ada. Tradisi ini sangat baik dan perlu dilestarikan pada setiap pertunjukan dari UKM-ITB.

Setelah beberapa kata sambutan dari beberapa orang, dua orang pembawa acara mulai berceloteh panjang lebar dalam Bahasa Minang yang memancing tawa. Saya mencatat celotehan ini setidaknya memakan waktu hampir satu jam, waktu yang terlalu lama untuk pembawa acara yang tampak terlampau semangat bergurau di atas panggung, lupa bahwa the main course bukanlah lawakan mereka, tetapi atraksi kesenian yang ditunggu-tunggu penonton. Tidak heran jika pertunjukan berakhir sampai hampir tengah malam (23.30 WIB). Ups…, saya sudah membicarakan waktu akhir, padahal tulisan ini baru saja dimulai.

Latar belakang panggung dengan rumah bagonjong dan tampilan video mapping.

Latar belakang panggung dengan rumah bagonjong dan tampilan video mapping.

Pertunjukan kesenian Minang pada malam itu mengambil setting cerita drama tahun 2040 (wah!). Dikisahkan tentang keluarga perantau Minang di Jakarta mempunyai anak lelaki yang akan diplot menjadi datuk di kampung halaman. Namun persoalannya, di kampungnya juga ada kandidat calon datuk lain yang digadang-gadang oleh keluarganya. Persaingan menjadi datuk pun terjadi dengan aneka intrik dan taktik. Di sela-sela kisah drama itu ditampilkan aneka tarian, randai, dendang, musik, dan lagu.

Salah satu adegan drama. Video mapping di latar belakang menambah rancak suasana.

Salah satu adegan drama. Video mapping di latar belakang menambah rancak suasana.

Sejatinya penonton tidak terlalu mementingkan jalan cerita drama yang mudah ditebak dan mengandung pesan-pesan yang mungkin terkesan klise. Pada setiap pertunjukan kesenian Minang di manapun, yang menjadi andalan adalah tari, musik, dan lagu. Kisah drama bolehlah dianggap sebagai pemanis belaka, celoteh bagarah-garah (lawakan) yang memnacing tawa bolehlah untuk menghidupkan suasana supaya tidak garing, namun gerak tari dan lagu dengan iringan musik tradisionil itulah yang sebenarnya ditunggu-tunggu oleh penonton di manapun. Jiwa dari kesenian minang adalah musik, tarian (termasuk randai), dan lagu. Jadi, jiwa inilah yang harus mendapat perhatian besar bagi produser acara kesenian Minang di manapun, termasuk para mahasiswa ITB itu.

Tim musik talempong

Tim musik talempong

Gerak tari sungguh rancak dipandang mata, suara musik dan lagu memanjakan telinga. Padu padan tarian dan musik lebih baik dari tahun sebelumnya. Lho, kok tahu? Lha iya, saya selalu menonton acara ini setiap tahun :-). Hanya sayangnya, seperti kata saya dulu, tarian yang dibawakan tidak pernah berubah, selalu yang itu-itu saja. Hanya personilnya yang berganti, sedangkan koleksi tarian masih yang dulu.

Meskipun demikian, hati sungguh terhibur dengan penampilan yang memukau mata dan telinga. Gerakan yang kompak, ritmis, dan teratur dari para penari membuat penonton tidak beranjak sampai acara selesai. Apalagi di latar belakang dihiasi dengan tampilan video mapping yang membuat acara kali ini penuh warna. Video mapping adalah hal yang bari kali ini, meskipun kepopulerannya di kota Bandung sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu ketika ada pertunjukan video mapping di dinding Gedung Sate.

Foto-foto di bawah ini dapat membawa anda terhanyut dalam warna-warni kesenian Minangkabau seperti yang saya ceritakan.

Tari pembukaan, Pasambahan

Tari pembukaan, Pasambahan

Tari pembukaan, Pasambahan

Tari pembukaan, Pasambahan

Tari Indang

Tari Indang

Tari Kipeh Marawa

Tari Kipeh Marawa

Tari Randai

Tari Randai

Tari Rantak

Tari Rantak

Puncak semua tari, Tari Piring

Puncak semua tari, Tari Piring

Para mahasiswa itu telah berhasil menampilkan pagelatran kesenian Minang yang menawan. Apresiasi buat mereka, karena telah mengorbankan banyak waktu latihan di sela-sela kesibukan kuliah yang padat dan berat. Setiap sore dan malam meerka berlatih di sela-sela lantai gedung kampus yang kosong. Meskipun mereka bukan penari dan pemusik profesional, mereka sudah menampilkan pertunjukan kesenian sekelas profesional.

Tahun depan, pertunjukan macam apa lagikah yang akan mereka hidangkan?


Written by rinaldimunir

June 9th, 2015 at 3:42 pm

Pensiun (2)

without comments

Tahun depan makin banyak senior saya akan menjalani masa purnabakti (istilah halus untuk kata pensiun). Saya hitung-hitung ada tiga orang dosen senior akan pensiun dalam tahun yang sama (tahun 2016). Kemudian, dua atau tiga tahun lagi bertambah lagi satu atau dua orang. Jika dihitung-hitung dengan tiga orang dosen senior yang sudah purnabakti dalam lima tahun sebelumnya, maka jumlah dosen yang lebih senior dari saya tinggal sedikit lagi. Ini berarti saya dan beberapa orang teman akan beralih “status” menjadi dosen senior di lingkungan akademik saya.

Memasuki masa purnabakti adalah hukum alam yang tidak bisa ditolak. Usia akan terus merambat naik, masa kejayaan seseorang perlahan mulai sirna. Cepat atau lambat dia harus meninggalkan dunia pekerjaan yang sudah ditekuninya selama puluhan tahun. Generasi baru siap menggantikan perannya. Begitulah siklus hidup manusia yang berlangsung terus menerus, sudah sunnatullah sesuai yang digariskan oleh-Nya.

Dosen dan guru, khususnya yang berstatus pegawai negeri, memiliki keistimewaan dalam usia pensiun dibandingkan pegawai non-akademik maupun pegawai departemen lainnya di Indonesia. Jika pegawai biasa pensiun pada usia 55 tahun (sekarang diubah menjadi 58 tahun), maka guru pensiun pada usia 60 tahun. Usia pensiun dosen lebih lama lagi, yaitu 65 tahun. Kalau dosen tersebut memiliki jabatan akademik profesor, maka profesor pensiun pada umur 70 tahun.

Pegawai non-akademik (administrasi) pensiun pada usia 55 tahun, belakangan diperpanjang menjadi 58 tahun. Masa persiapan purnabakti (MPP) adalah satu tahun, jadi tepat pada usia 56 tahun ia sudah berstatus pegawai purnanakti. Selama MPP itu ia jadwal kerjanya lebih fleksibel, ia boleh masuk kerja, atau boleh tidak masuk, namun gaji PNS nya tetap jalan terus. Di lingkungan akademik di kampus saya, ada fenomena pegawai administrasi tidak ingin mengambil jatah maksimal usia pensiun. Pada umur 55 tahun mereka sudah mengajukan pensiun, meskipun masa MPP masih satu tahun lagi. Bahkan ketika usia pensiun diperpanjang menjadi 58 tahun, mereka tetap ingin pensiun lebih awal. Mereka sudah ingin istirahat di rumah saja, ingin bermain dengan cucu, merawat tanaman, memperbanyak ibadah, atau menunaikan umroh, dan lain-lain.

Pekerjaan administrasi yang berat dalam bidang akademik adalah penyebabnya. Mengurus nilai mahasiswa, mengurus surat-surat, mengatur penjadwalan seminar dan sidang Tugas Akhir, dan lain-lain merupakan pekerjaan yang menyita waktu. Seorang pegawai administrasi bercerita kepada saya bahwa dia terpaksa membawa pulang pekerjaan ke rumah, menyimpan semua data ke dalam flash disk, lalu melanjutkan pekerjaan yang belum selesai pada malam hari di rumah. Dengan usia yang sudah di atas kepala lima, tentu tenaganya sudah tidak fit lagi kerja lembur di rumah. Oleh karena itu, ketika tiba masa MPP, dia langsung minta istirahat di rumah dan enggan ke kantor lagi.

Fenomena ini berbeda dengan dosen. Kalau saya perhatikan, banyak dosen yang sudah memasuki masa purnabakti, masih tetap betah ngantor ke kampus. Meja kerja mereka belum disingkirkan, dibiarkan tetap seperti biasa, atau ruang kerjanya tetap di sana. Ada perasaan segan di kalangan dosen yunior menyingkirkan meja kerja dosen purnabakti. Mereka adalah dosen senior yang sangat dihormati, yang telah ikut andil mengisi kapasitas keilmuan si yunior. Karakter orang Timur memang begitu, menghormati orang tua. Oleh karena itu, selama meja itu belum ada dosen baru yang mengisinya, maka ia tetap dibiarkan di situ. Dosen purnabakti masih sering mengunjungi ruang kerjanya, sekedar duduk bercerita, membuka komputer, atau melakukan pekerjaan apapun yang dapat dilakukannya.

Pada masa-masa sebelumnya, dosen yang sudah purnabakti masih dikaryakan oleh kampus untuk mengajar satu dua mata kuliah, atau membimbing tugas akhir, tesis atau disertasi. Mungkin karena ilmunya masih dibutuhkan atau belum ada penggantinya, sehingga tenaganya masih diperlukan. Mereka disebut dosen luar biasa, kalau mereka profesor maka disebut profesor emiritus. Ada kebahagiaan yang terpancar pada dosen-dosen purnabakti itu ketika merasa dirinya masih dibutuhkan. Bukan uang yang dikejar, tetapi kepuasan batin yang dicari. Setiap orang di mananpun di dunia pasti merasa dirinya dihargai kala tenaga dan pikirannya masih dibutuhkan orang, bukan?

Namun sekarang, peraturan selalu berganti-ganti. Dosen yang sudah purnabakti tidak bisa mengajar atau membimbing lagi oleh kampus kami. Tugasnya dianggap sudah selesai. Saya tidak tahu alasannya, apakah karena pertimbangan anggaran atau apa. Yang jelas saya melihat ada raut kekecewaan pada wajahnya ketika diberitahu tidak boleh mengampu mata kuliah lagi. Padahal, kalau boleh, mereka masih ingin dikaryakan kembali selama beberapa tahun sampai mereka memang sudah tidak kuat lagi datang ke kampus. Bagi saya yang mempunyai jalan pikiran bebas, selagi dosen purnabakti tersebut masih bersedia mengajar atau membimbing, apa salahnya dikaryakan. Apalagi di lingkungan akademik saya jumlah dosen masih kurang, jatah dosen PNS tiap tahun hanya satu dua orang, sedangkan yang pensiun banyak, maka keberadaan dosen purnabakti masih diperlukan.

Entahlah, suatu hari nanti saya pun akan memasuki kondisi serupa, purnabakti. Saya belum tahu bagaimana kondisi nanti, namun yang sudah pasti saya akan terus menulis selama hayat dikandung badan.


Written by rinaldimunir

May 7th, 2015 at 8:56 am

Posted in Seputar ITB

Peta Daerah Asal SMA Mahasiswa ITB Angkatan 2014

without comments

Pada acara Dies Natalis ITB ke-56 kemarin, kami diberi Data dan Informasi Mahsiswa ITB Angkatan 2014. Hmmm….menarik juga melihat peta daerah asal SMA mahasiswa baru ITB angkatan 2014. Hampir semua propinsi di tanah air terwakili di ITB, sehingga ITB sebagai kampus nusantara adalah julukan yang layak.

Peta Derah Asal SMA Mahasiswa ITB Angkatan 2014

Peta Derah Asal SMA Mahasiswa ITB Angkatan 2014

Urutan 33 Propinsi daerah asal SMA mahasiswa baru ITB angkatan 2014 adalah sebagai beriku:
1. Jabar, 1104 orang
2. DKI, 728 orang
3. Jatim, 370 orang
4. Jateng, 367 orang
5. Sumut, 212 orang
6. Banten, 179 orang
7. Sumbar, 135 orang
8. Lampung, 54 orang
9. Sumsel, 49 orang
10. Riau, 48 orang
11. DIY, 46 orang
12. Bali, 46 orang
13. Jambi, 28 orang
14. Sulsel, 22 orang
15. Kepri, 20 orang
16. Kalbar, 16 orang
17. Aceh, 15 orang
18. Kaltim, 14 orang
19. Gorontalo, 12 orang
20. Bengkulu, 7 orang
21. NTB, 6 orang
22. Sulteng, 4 orang
23. Bangka dan Belitung, 3 orang
24. Sultra, 3 orang
25. Kalsel, 2 orang
26. Maluku, 2 orang
27. Papua, 2 orang
28. Papua Barat, 2 orang
29. NTT, 1 orang
30. Maluku Utara, 1 orang
31. Sulbar, 1 orang
32. Kalteng, 1 orang
33. Sulut, 1 orang

Distribusi daerah tersebut memang belum merata. Jawa Barat dan DKI adalah propinsi penyumbang terbesar mahasiswa ITB. Untuk luar Jawa, mahasiswa asal Sumatera Utara dan Sumatera Barat adalah dua propinsi yang terbanyak mahasiswanya di ITB. Dari tujuh besar urutan propinsi yang mengirimkan mahasiswa terbanyak, lima diantaranya dari Pulau Jawa. Data ini berbicara banyak hal. Pertama, kita dapat melihat bahwa kantung0kantung daerah dengan kualitas pendidikan yang bagus masih berkutat di Pulau Jawa, sedangkan di luar Jawa adalah Sumut, Sumbar, Bali, Riau, Sumsel, Lampung, dan Sulsel. Namun, itu bukan berarti di daerah luar Jawa tidak ada bibit yang bagus. Sulawesi Utara misalnya, kualitas pendidikan di sana terkenal bagus, tetapi minat siswa SMA untuk kuliah di ITB minim. Mereka mungkin enggan memilih ITB dengan berbagai alasan seperti faktor ekonomi, jarak yang jauh, dan kesan kuliah di ITB itu mahal. Bisa juga karena informasi tentang kampus ITB ini masih relatif kurang sehingga tidak banyak diketahui.

Kedua, dulu zaman saya kuliah mahasiswa asal Jawa (Jateng, DIY, dan Jatim) di ITB jumlahnya lumayan banyak, kalau sekarang agak berkurang. Mungkin karena di Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur memiliki perguruan tinggi yang tidak kalah dengan ITB, sehingga calon mahasiswa memilih kuliah di propinsi mereka saja. Selain itu mungkin kesan biaya hidup di Bandung mahal sehingga mengurangi minat lulusan SMA kuliah di ITB.

Ke depan saya berharap lebih banyak lagi calon mahasiswa dari luar Jawa kuliah di ITB. Kebhinnekaan mahasiswa di ITB adalah aset yang berharga, sehingga nanti kalau anda ingin melihat Indonesia mini, maka datanglah ke ITB.


Written by rinaldimunir

March 3rd, 2015 at 1:33 pm

Posted in Seputar ITB

Patung Si Dino T-Rex Setelah Pasar Seni Usai

without comments

Sudah seminggu lebih Pasar Seni ITB usai. Patung dinosaurus T-rex dari seng bekas masih teronggok di sana. Patung dino ini menjadi daya tarik utama pengunjung ketika Pasar Seni ITB 23 November yang lalu. Sekarang ia menjadi ajang foto-foto bagi orang yang datang ke kampus ITB. Saya merasa sayang saja jika si dino dibuang atau dibongkar, eksentrik sekali sih. Saya membayangkan si T-Rex ini dipindahkan ke dekat Aula Timur dekat FSRD dan akan menjadi daya tarik tersendiri bagi orang yang datang ke kampus. Kalau saya punya tanah saya akan minta dinosaurus itu untuk dipajang di rumah supaya menjadi hiburan bagi anak-anak di kampung.

Tapi, olala, ternyata ada kabar si dino sudah terjual, dibeli oleh alumni ITB ’81 untuk dipasang di kampus ITB Jatinangor. Semoga saja setelah dipasang di kampus Jatinangor, si T-Rex tidak berjalan-jalan pada malam hari dan membuat takut penghuni asrama. Hi..hi..


Written by rinaldimunir

December 1st, 2014 at 4:05 pm

Posted in Seputar ITB