if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Seputar ITB’ Category

Lumpiah Basah Jalan Ganesha yang “Ngangenin” Alumni ITB

without comments

Ada satu jajanan kaki lima di depan kampus ITB (Jalan Ganesha) yang menjadi nostalgia dan bikin kangen alumni ITB. Apa itu? Jajanan sederhana bernama lumpiah basah. Biasanya lumpiah itu digoreng, tetapi lumpiah yang satu ini, sesuai namanya, tidak digoreng, tetapi dibungkus di dalam sebuah kulit yang sudah dilumuri dengan adonan tertentu, sedangkan isinya berupa sayuran yang ditumis. Maka, tampilannya akan terlihat mengandung kuah  atau basah.

Gerobak pedagang lumpiah basah di Jalan Ganesha

Gerobak pedagang kaki lima penjual lumpiah basahi biasanya mangkal di depan Masjid Salman. Kalau kita mau ke Salman dan melewati gerobak pedagang ini maka terciumlah bau wangi bawang putih yang sedang dirajang di penggorengan.

lumpiah4

Mamang sedang membuat lumpiah (Foto ini dari Ginar IF2005)

Lumpiah basah terdiri dari kulit yang sudah dilumuri dengan adonan aci dan gula merah. Di atas kulit ini dimasukkan sayuran yang sudah ditumis dengan bumbu-bumbu dan  diorak-arik dengan telur.  Biasanya sayuran di dalam lumpiah adalah  rebung, tetapi pedagang lumpiah basah di Ganesha menggantinya dengan bengkoang yang sudah dibumbui sehingga baunya tidak terlalu tajam lagi (kalau rebung baunya khas dan tajam). Selain rebung juga ada tauge dan lain-lain. Untuk menambah selera dan sensasi pedas, maka ditambahkan sambal cabe rawit. Setelah matang lalu ditaruh di atas daun pisang dan dimakan menggunakan sumpit. Panas-panas dan pedas.

Lumpiah yang siap dimakan

Hmmmm….sedapnya

Porsi sayuran di dalam lumpiah banyak sekali sehingga memakan satu lumpiah basah itu sudah mengenyangkan. Harganya hanya 10 ribu rupiah saja.  Umumnya penggemar lumpiah basah adalah para mahasiswi. Mamang penjual lumpiah terlihat repot meladeni para pembeli ini terutama pada jam makan siang.

Di Bandung penjual lumpiah tidak terlalu banyak jumlahnya. Di kota lain di Jawa Barat  juga ditemukan pedagang lumpiah basah. Menurut cerita para alumni yang sudah mencoba bermacam lumpiah basah di berbagai tempat, maka lumpiah basah di Jalan Ganesha ini yang katanya paling enak. Mamang penjual lumpiah basah di Jalan Ganesha sudah cukup lama berjualan, mahasiswi angkatan tahun 97-an ke atas sudah mengenal si Mamang.

Saya jadi teringat cerita mahasiswiku tentang jajanan lumpiah basah di depan kampus ITB itu. Katanya lumpiah basah tidak ditemukan di kotanya (Yogya). Lumpiah basah di depan kampus selalu ngangenin, kata para alumni ITB, khususnya yang perempuan. Maka, jika ada kesempatan kunjungan ke Bandung, misalnya acara reuni di kampus, maka salah satu yang dicari adalah lumpiah basah di Jalan Ganesha ini.

Mau coba?


Written by rinaldimunir

December 27th, 2017 at 1:41 pm

“Tembok Ratapan” di Kampus ITB

without comments

Di Kampus ITB ada sebuah tembok (dinding) bangunan yang menjadi kenangan tak terlupakan bagi para mahasiswa dan alumni. Itulah tembok yang terdapat di Gedung Prodi Fisika FMIPA ITB. Gedung Fisika ini berusia sangat tua, setua Aula Barat dan Aula Timur. Ketika ITB (dulu Technische Hoogeschool) dibangun pada tahun 1920, ada empat gedung yang dibangun oleh Belanda, yaitu Aula Barat, Aula Timur, Gedung Teknik Sipil, dan Gedung Fisika ini (lihat foto pada tulisan terdahulu: Foto-Foto Kampus ITB Tempo Doeloe (1920 – 1930)). Gedung Fisika masih terawat dengan baik, lantai marmernya masih sama seperti dibangun tahun 1920-an. Sudah sulit mencari marmer seperti ini sekarang. Motif pada marmer ini sangat unik, jika anda berjalan sambil mata memandang marmer ini, maka kepala menjadi pusing melihat motif garis-garisnya seperti tidak berakhir. Lantai serasa bergoyang karena pusing.

Entah siapa yang memulai memberi nama, mahasiswa ITB mengenal dinding Gedung Prodi Fisika sebagai “tembok ratapan”, mungkin mengambil nama tembok ratapan yang ditangisi oleh orang Yahudi di Yerussalem.

tembok ratapan 1

Lorong Fisika yang sepi, ditinggal para mahasiswa yang mudik. Sebelah kanan adalah “tembok ratapan” mahasiswa TPB. Lantai marmernya yang membuat jalan bergoyang masih terjaga keasliannya sejak tahun 1920.

Kenapa disebut “tembok ratapan”, karena di sepanjang dinding gedung ini terdapat papan pengumuman nilai-nilai dan hasil ujian fisika, salah satunya mata kuliah Fisika Dasar. Fisika Dasar adalah salah satu mata kuliah wajib bagi mahasiwa Tingkat Pertama Bersama (TPB) alias mahasiwa tingkat 1. Seluruh mahasiswa TPB ITB, kecuali mahasiswa FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain) dan SBM (Sekolah Bisnis dan Manajemen),  mendapat mata kuliah yang sama, yaitu Fisika Dasar 1 dan 2, Kalkulus 1 dan 2, dan Kimia Dasar 1 dan 2. Ini tiga mata kuliah dasar yang penting, tetapi di antara ketiganya kuliah Fisika Dasarlah (bobot total 8 SKS) yang diangap paling sulit. Untuk mendapat nilai A saja susah, dapat C saja sudah bersyukur. Sejak dulu sampai sekarang batas nilai A tidak pernah berubah, yaitu 75 ke atas. Nah, untuk memperoleh nilai 75 itu perjuangangannya luar biasa. Saya mengalami sendiri dulu ketika TPB, cara pendekatan materi fisikanya sangat berbeda dengan pelajaran Fisika di SMA. Semua rumus yang memiliki arah diturunkan dengan notasi vektor. Entah kenapa cara belajar fisika saya di SMA menjadi buyar ketika mengambil kuliah Fisika Dasar di ITB. Soal-soal latihan dan ujian fisika dasar terbilang sulit untuk diselesaikan (bagi saya waktu itu :-)). Tapi ahamdulilah lulus juga meskipun tidak A.

Setiap kali selesai UTS dan UAS, di papan pengumuman di dinding ini ditempel solusi ujian, dan tentu saja nilai-nilai ujian mahasiswa. Setiap kali beredar kabar bahwa nilai fsika dasar telah diumumkan, para mahasiswa TPB bergerombol di tembok ini. Mereka merubungi papan pengumuman. Bahkan malam haripun mereka datang melihat sambil menyoroti kertas pengumuman dengan senter. Ada yang senang, bersorak kegirangan, tapi lebih banyak lagi yang sedih berduka melihat nilainya. Di akhir semester, ketika nilai akhir diumumkan, saat itulah puncak emosi dan perasaan mahasiswa. Bagi yang lulus dan tidak ikut ujian reevaluasi tentu bersyukur, meskipun C sudah gembira. Tapi bagi yang mendapat nilai D atau E dan terkena ujian reevaluasi (yang jumlahnya lumayan banyak), maka kecewalah ia sambil meratapi nasibnya. Uuuuu….uuuuu… sedih sekali. Tembok itu menjadi saksi bisu kesedihan para mahasiswa TPB yang merapai nasib malangnya, maka sejak itu dikenal sebagai “tembok ratapan”.

tembok ratapan 2

Bagi para alumni ITB, lorong di gedung Fisika ini menyimpan kenangan yang mendalam. Ketika saya memasang dua foto di atas di laman Fesbuk, foto-foto terebut beredar dengan cepat di media sosial.  Berbagai testimoni dan cerita mereka lontarkan mengenang zaman dulu ketika berada di lorong ini. Sekarang, setelah waktu berlalu sedemikian lama, semuanya menjadi indah untuk dikenang. Lorong tembok ratapan ini ini selalu dirindukan untuk didatangi kembali.


Written by rinaldimunir

July 11th, 2017 at 4:49 pm

Posted in Seputar ITB

Masjid Salman Tempat yang “Radikal”

without comments

Sebagai orang yang pernah aktif di Masjid Salman ITB, saya cukup terhentak dengan tudingan Ketua Umum PBNU K.H Said Aqil Siradj yang menyatakan bahwa Masjid Salman ITB adalah tempat berkembangnya paham radikalisme (Baca: NU: Radikalisme Menyebar ke Kampus, Terutama Masjid Salman ITB). Meski akhirnya Pak Kyai mengaku khilaf dan meminta maaf atas tudingannya itu  (baca: Pengurus Masjid Salman: Kiai Said Aqil Mengaku Khilaf dan Mohon Maaf), namun tuduhan pak Kyai terlanjur menjadi viral di media sosial dan menimbulkan keresahan bagi para alumni ITB yang pernah merasakan kehidupan di Masjid Salman.

masjid-salman

Masjid Salman ITB (Sumber: kabarsalman.com)

Kata radikal saat ini menjadi kata yang banyak dilontarkan terkait situasi politik tanah air yang belum tenang sebagai dampak kasus Ahok. Radikal dipertentangkan dengan Pancasila. Ormas radikal, ormas anti pancasila, radikalisme, kaum radikal, dan seterusnya, itulah kata-kata yang menghiasi media di tanah air. Disematkan kata radikal saja sudah membuat tidak nyaman, apalagi jika dituding sebagai pendukung dan penyebar radikalisme.

Padahal kalau membuka kamus radikal itu tidak selalu berarti negatif.  Radikal berasal dari kata radix yang artinya akar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti radikal adalah sbb:

radikal1/ra·di·kal/ a 1 secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip): perubahan yang –; 2 Pol amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan); 3 maju dalam berpikir atau bertindak;

Jika dimaksudkan radikal itu adalah kembali ke hal yang mendasar atau prinsipil, maka sudah seharusnya setiap orang demikian. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Kita sering berkata demikian, misalnya harus sesuai dengan prinsip dasar, hal yang mendasar adalah…., dsb, dsb.  Lihatlah artsitektur Masjid Salman sendiri tergolong radikal pada zamannya. Ia tidak mempunyai kubah seperti masjid lain pada umumnya.  Arsitek Masjid Salman, Pak (alm) Ahmad  Nu’man, punya alasan mengapa rancangan masjidnya demikian. Masjid itu kata dasarnya sujud, jadi masjid itu tempat bersujud. Maka, bagi sebuah masjid uyang dipentingkan adalah fungsi dasarnya sebagai tempat bersujud (sholat). Bentuk bangunan sendiri tidak ditekankan seperti apa, pakai kubah atau tidak. Lihatlah Masjidil Haram, tidak ada kubah di sana. Kubah masjid baru ada pada zaman Kerajaan Ottoman Turki. Kubah tidak identik dengan Islam, kubah juga terdapat pada bangunan gereja-gereja di Eropa.

Arti kata radikal yang ketiga adalah maju dalam berpikir dan bertindak. Ya, memang, dalam hal ini Masjid Salman tergolong radikal. Pengelolaan masjid dilakukan secara profesional oleh pengurus masjid yang kebanyakan adalah dosen-dosen ITB. Berbagai teknologi sudah diterapkan Masjid Salman untuk membuat masjid ini semakin nyaman untuk beribadah (baca juga: ATM Beras dari Masjid Salman ITB). Berbagai kajian dan diskusi yang mencerahkan pikiran diadakan silih berganti untuk menambah wawasan jamaah. Berbagai tokoh politik, tokoh agama, ilmuwan, dan tokoh masyarakat telah banyak mengisi kajian berupa seminar, telaah buku, diskusi kontemporer, semuanya untuk menghidupkan fungsi masjid lebih dari sekedar tempat sholat, tetapi masjid adalah pusat peradaban masyarakat.

Arti kata radikal yang kedua adalah amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan). Jika ini yang dimaksudkan, maka sangat jauh panggang dari api. Jamaah Salman yang umumnya kaum intelektual (mahasiswa, dosen) bukanlah bertipe demikian, apalagi jika dihubungkan dengan perilaku kekerrasan.  Saya belum pernah membaca atau mendengar ada kegiatan makar atau penggulingan Pemerintahan yang sah yang dilakukan oleh jamaah Salman. Di Salman tidak ada kaderisasi politik. Jika alumninya aktif dalam politik praktis, maka itu bukan karena Salman-nya, tetapi adalah pilihan pribadinya.

Siapapun yang pernah berkunjung, sholat, maupun aktif di Masjid Salman ITB, pasti mengetahui bahwa Masjid Salman ITB adalah masjid yang terbuka. Siapapun boleh datang, ikut kajian, ikut mendengarkan ceramah, ikut mengaji, ikut memakmurkan masjid, ikut berbagai kegiatan yang dilakukan oleh remaja masjid, dan sebagainya. Walikota Bandung, Ridwan Kamil, adalah alumni Masjid Salman juga.

emil dan bimbel

Emil (sedang dipeluk di belakang) dan para murik Bimbel Salman berfoto dengan para pengajar di tangga Masjid Salman, tahun 1990 usai malam tafakkur menjelang UMPTN 1990.

Karena sifatnya yang terbuka, maka siapapun bisa beraktivitas di sana. Ketika ramai kasus NII di Bandung, masjid Salman ikut kena imbas karena aktivis NII melakukan perekrutan anggota melalui masjid, tak terkecuali mungkin mereka diam-diam menggunakan Masjid Salman sebagai base. Tapi, sekali lagi itu bukan kegiatan masjid, tetapi orang-orang yang memanfaatkan masjid untuk tujuan kelompoknya.

Tulisan ini bukan pembelaan diri. Tetapi demikianlah adanya bahwa masjid Salman itu memang masjid yang radikal dalam tanda kutip.


Written by rinaldimunir

May 31st, 2017 at 3:44 pm

Suatu Siang di depan Aula Barat ITB

without comments

Aula Barat dan Aula imr ITB adalah karya arsitektur masa lalu yang tidak habis-habisnya menjadi objek untuk dilukis dan difoto. Bangunan yang cantik dan menjadi heritage kampus ITB dan juga heritage kota Bandung. Siang itu tampak beberapa orang mahasiswa fakultas  senirupa (atau Arsitektur ?) sedang membuat tugas menggambar. Objeknya adalah Aula Barat dalam sudut perspektif yang memikat. Dengan alas permadani berupa rumput yang hijau, bangunan Aula Barat itu tampak anggun.

albar1

albar2

 


Written by rinaldimunir

March 14th, 2017 at 3:15 pm

Posted in Seputar ITB

ATM Beras dari Masjid Salman ITB

without comments

Ada yang baru di Masjid Salman ITB, yaitu keberadaan sebuah ATM beras di pojok kantor masjid (depan kantor satpam). Biasanya ATM mengeluarkan uang, tapi ATM yang satu ini dapat mengeluarkan beras! Dengan menempelkan kartu elektronik RFID (Radio Frequency Identification) di bagiancard reader, maka ATM akan mengeluarkan beras dalam jumlah tertentu secara otomatis. Sewaktu makan di kantin Salman kemarin saya melihat ATM beras ini, gambar di bawah ini wujudnya, mirip seperti ATM biasa, namun isinya beras.

atmberas1

Tidak semua orang dapat mengambil beras dari ATM beras (disingkat ATMB), tetapi beras yang ada di dalamnya hanya untuk kaum dhuafa saja, dan tentu saja dibagikan secara gratis. Jadi ATM ini bersifat sosial, karena tujuannya untuk membantu kaum fakir miskin yang karena kemiskinannya tidak mampu membeli beras. Kaum dhuafa (fakir dan miskin) yang berhak diseleksi terlebih dahulu lalu dibagikan kartu elektronik yang mirip seperti kartu ATM biasa.

atmberas2

Pencipta ATMB ini adalah alumni Salman bernama Budiaji.Budiaji sendiri adalah alumni Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 1980.  Dikutip dalam laman http://kabar.salmanitb.com, Budiaji mengatakan:

ATMB ini bisa ditempatkan di masjid-masjid, kantor kelurahan, kantor-kantor BUMN, sekolah,  kampus atau di lokasi kantong-kantong kemiskinan lainnya.  Bahkan bisa jadi di area rumah orang kaya untuk menyantuni fakir miskin di sekelilingnya. “Bisa juga temporary ditempatkan di area bencana. Sumber berasnya bisa dari pemerintah (raskin), CSR (Corporate Social Responsibility), zakat, atau masyarakat yang peduli lainnya,” tutur alumni Asrama Masjid Salman ITB ini,

Secara fisik, perangkat ini berukuran 60 cm x 60 cm x 160 cm, berbentuk kotak/lemari, mirip mesin ATM biasa berkapasitas sekitar seperempat ton beras. Mesin ini juga dilengkapi dengan perangkat elektroniknya, modem hybrid untuk network GSM/satelit untuk daerah terpencil, serta sistem kontrol dan pemantauan berbasis  M2M (machine to machine) / IoT (Internet of Things).

Budiaji pun memaparkan, sistem pengelolaan dan pengawasan dibuat secara transparan sehingga masyarakat luas bisa mengakses via internet tentang data orang miskin yang disantuni, jumlah beras yang dibagikan, dan rincian pendistribusiannya. Selain itu, sistem juga akan memantau status level beras yg tersedia di tiap-tiap ATMB.

“Ditargetkan ke depan bahwa tidak boleh ada lagi rakyat yang lapar di negeri ini yang terpaksa mengemis di mana-mana. Lebih jauh lagi dari itu, ATMB ini bisa dikembangkan dan diproduksi lebih luas untuk penjualan beras secara otomatis melalui transaksi kartu elektronis,” katanya. Budiaji berharap, umat Muslim bisa lebih mengembangkan nilai-nilai kesalehan sosial melalui ATMB.

Hingga saat ini kaum dhuafa yang berhak mendapatkan beras dari ATMBN bejumlah 49 orang. Dikutip dari laman Antara,

Mekanisme penarikan beras dari mesin tersebut diatur berdasarkan jenis kartu yang dimiliki warga yakni bagi warga yang memiliki kartu kategori A bisa mengambil beras pada hari Selasa dan Jumat, bagi warga pemilik kartu kategori B mengambil beras pada hari Rabu dan Sabtu dan warga pemilik kartu kategori C bisa mengambil beras pada hari Kamis dan Minggu. Satu kali transaksi warga bisa menarik beras dari ATM Beras ini sebanyak 1,65 kg atau sekitar dua lite.

Semoga keberadaan ATMB dapat diproduksi secara massal dan dapat dijadikan ladang amal sholeh untuk berbagi kepada kaum yang membutuhkan. Saya mengapresiasi Mas Budiaji yang telah menemukan ATMB dan kepada Masjid Salman ITB yang mempelopori pemanfaatan ATMB untuk membantu mengentaskan kebutuhan pokok kaum dhuafa. Jazakallah.


Written by rinaldimunir

December 7th, 2016 at 4:25 pm

Posted in Agama,Seputar ITB

Temanku Menuju Bombana 1

without comments

Musim Pilkada datang lagi. Ratusan Pilkada akan berlangsung di banyak daerah di tanah air untuk memiliki kepala daerah yang baru (bupati, walikota, gubernur). Sayangnya hampir semua berita tentang ratusan Pilkada itu tenggelam oleh pemberitaan tentang Pilkada DKI  Jakarta yang  gegap gempita dengan isu agama.  Berita Pilkada di daerah nyaris tidak terdengar gegap gempitanya.

kasra

Baiklah, kita tinggalkan hiruk pikuk Pilkada DKI Jakarta dulu. Salah satu temanku semasa kuliah di ITB dulu sekarang maju mencalonkan diri menjadi calon Bupati Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Kasra Munara namanya, dia alumni ITB angkatan 1985, seangkatan dengan saya di ITB, tapi beda Jurusan. Saya dari Jurusan Informatika, sedangkan Kasra dari Jurusan Kimia. Kasra Munara diusung oleh empat Parpol yaitu PPP, PKS,PDIP dan PBB. Berpasangan dengan Man Arfah, pasangan calon Bupati-Wakil Bupati. Mereka mengusung tagline BERKAH, yaitu singkatan “Bombana Baru dan Maju Bersama Kasra dan Arfah”.

Sebelum Kasra, sudah ada teman seangkatanku tahun lalu ikut kompetisi Pilkada di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Namanya Jaka Sumanta, teman kuliah di Jurusan Informatika ITB angkatan 1985. Namun sayang dia tidak menang dalam Piilkada Kabupaten Sragen tersebut.

Saya mengenal Kasra sejak tahun pertama di ITB. Waktu itu saya dan Kasra ikut pelatihan Panitia Pelaksana Program Pelaksana Ramadhan (P3R) 1405 H di Masjid Salman ITB tahun 1986. P3R itu seluruh anggota panitianya adalah mahasiswa tingkat 1 ITB dari berbagai Jurusan (sekarang Program Studi). Jumlah anggota P3R sekitar 200-an orang. Beberapa bulan sebelum bulan Ramadhan datang, kami diberi pelatihan oleh kakak-kakak mentor selama dua hari dua malam di Masjid Salman. Di sanalah saya berkenalan dengan Kasra. Saya tanya dari mana asalnya, dia menjawab dari Pulau Buton. Wah, mendengar Pulau Buton saya teringat pelajaran Ilmu Bumi di Sekolah Dasar. Yang saya ingat tentang Pulau Buton adalah pulau penghasil aspal di Indonesia. Jadi jika ingat aspal maka pasti ingat Pulau Buton. Namun saya belum pernah pergi ke Pulau Buton. Yang saya tahu Pulau Buton itu di Sulawesi, tepatnya di Propinsi Sulawesi Tenggara.

pulau_buton

Saya sering terkesan dengan teman-teman mahasiswa ITB dari berbagai daerah di tanah air. Mahasiswa ITB berasal dari Sabang sampai Merauke. Pulau Buton menurut saya pulau yang sangat jauh karena terletak di kawasan Indonesia Timur. Perlu waktu tiga hari tiga malam untuk berlayar dengan kapal penumpang PELNI dari pelabuhan Bau-bau di Pulau Buton menuju Jakarta.

Saya cepat akrab dengan Kasra karena kami sama-sama putra daerah di ITB (saya dari Padang). Selepas kepanitiaan di P3R saya masih sering bertemu dengan Kasra di dalam kampus (kampus ITB di Jalan Ganesha itu tidak luas, sehingga intensitas bertemu dengan teman-teman dari berbagai jurusan cukup sering). Meskipun berbeda Jurusan, saya dan Kasra tetap menjalin persahabatan. Saya sering mengunjunginya yang tinggal di Asrama Mahasiswa ITB  Rumah H di Jalan Sawunggaling (sekarang menjadi Hotel Sawunggaling). Di tahun terakhir kuliah saya juga tinggal di asrama mahasiswa ITB, tetapi di Rumah C di Jalan Skanda. Ketika liburan panjang tiba saya berkirim surat kepada Kasra yang waktu itu pulang kampung ke Buton. Saya mengutarakan keinginan untuk ikut dengannya pulang kampung berlayar ke Pulau Buton. Saya ingin sekali mengunjungi Pulau Buton itu dan ingin melihat kehidupan masyarakat di sana. Hingga sekarang keinginan ke Buton belum terlaksana meskipun tahun lalu Kasra pernah mengajak ke sana.

Setelah lulus dari ITB saya mendengar Kasra bekerja di luar negeri di perusahaan eksplorasi minyak Schlumburger. Selama bekerja di Schlumburger dia sudah sering berpindah-pindah kota di berbagai belahan dunia karena ditempatkan oleh perusahaaanya.

Setelah sekian lama bekerja di luar negeri, Kasra berniat untuk pulang kampung untuk membangun tanah kelahirannya di Bombana dengan melamar menjadi calon Kepala Daerah di sana. Setelah saya cari petanya di Google, Kabupaten Bombana itu sebagian berada dataran Pulau Sulawesi dan sebagian lagi di Pulau Kabaena (lihat peta di bawah, sumber peta dari sini). Mengapa bukan di Buton, mengapa di Bombana? Menurut Kasra dia  besar dan sekolah di Buton (karena ayahnya yang TNI ditugaskan di sana), namun kampung asalnya ya di Bombana ini.

sulawesi_tenggara_kabupaten_bombana

Sebagai seorang teman  seangkatan tentu saya mendukung langkahnya untuk menjadi Bombana 1. Saya mengenal Kasra sebagai orang yang baik dan humble.  Dia punya kapasitas menjadi pemimpin karena semasa mahasiswa aktif dalam kegiatan di Himpunan Mahasiswa Kimia. Pengalaman kerjanya yang melanglangbuana di luar negeri pasti berguna untuk membangun tanah kelahirannya. Meski saya tidak bisa memilih, karena bukan warga Bombana, namun saya berharap Kasra terpilih sebagai Bupati Bombana. Selamat dan sukses, kawan!


Written by rinaldimunir

October 29th, 2016 at 4:32 pm

Jangan Takut Kuliah di ITB Karena Masalah Biaya

without comments

Kemarin saya membaca berita di suratakabar daring. Rektot ITB, Pak Kadarsah  menyatakan bahwa asal berprestasi, jangan risau soal biaya kuliah di ITB. Pernyataan Pak Kadarsah benar adanya. Selama lebih dua puluh tahun saya menjadi dosen di ITB, saya sudah melihat sendiri bahwa biaya kuliah bukan isu penting di ITB. Faktor ekonomi bukan halangan untuk berkuliah di ITB, karena selalu saja ada solusi untuk mahasiswa yang terbentur biaya kuliah dan biaya hidup selama di Bandung.

Masyarakat seringkali beranggapan bahwa ITB itu untuk kalangan orang berduit saja. Kalau hanya melihat parkiran lautan mobil mahasiswa di seputar kampus ITB, maka kesan  bahwa ITB isinya anak orang kaya semua pasti akan muncul. Ternyata dugaan itu salah. Mahasiswa ITB itu ibarat supermarket, semua mahasiswa dari kalangan ekonomi apapun, agama apapun, etnik apapun, ada di dalamnya. Mereka bisa masuk karena satu faktor saja: otak yang cerdas. Maksudnya, di ITB siapapun bisa kuliah, baik anak orang kaya maupun anak orang miskin, yang penting mereka mempunyai kemampuan intelektual bagus. Soal biaya itu urusan belakangan, yang penting diterima dulu.

Tengoklah Uang Kuliah Tunggal (UKT) di ITB yang besarnya 10 juta per semester. Itu berlaku untuk semua fakultas di ITB (kecuali di fakultas SBM yang perhitungannya berbeda). Tidak ada kutipan uang pangkal atau uang gedung, hanya UKT itu saja. Dari UKT yang 10 juta rupiah itu, ternyata tidak semua mahasiwa ITB membayarnya penuh. Ada keringanan sebesar 20%, 40%, 60%, 80%, hingga 100% yang dapat diajukan, tentu ada persyaratannya. Jadi, ada mahasiswa yang membayar 2 juta, 4 juta, 6 juta, 8 juta, bahkan 0 juta, disamping tentu ada yang membayar penuh 10 juta. Jumlah mahasiswa yang membayar penuh 10 juta hanya 30% saja dari populasi mahasiswa baru, artinya 1200 orang mahasiwa berasal dari kalangan berada, sedangkan 70% lagi bervariasi tingkat kemampuan ekonominya.

Bagi yang mendapat keringanan 100%, artinya mereka dibebaskan dari SPP, alias gratis kuliah di ITB. Siapakah mereka itu? Itulah mahasiswa program Bidik Misi, jumlahnya 20% dari mahasiswa baru. Mahasiswa Bidik Misi ini mendapat bantuan sepenuhnya dari Pemerintah, baik SPP maupun biaya hidup. Tiap tahun ITB menerima sekitar 4000 mahasiswa baru, jadi 20% dari 4000 adalah 800 orang per tahun, merekalah yang  mendapat kesempatan kuliah tanpa memikirkan SPP. Selain SPP gratis, mereka juga mendapat uang saku sebesar 1 juta rupiah per bulan sebagai biaya hidup. Di ITB uang saku dari Pemerintah itu tidak dipotong sepersenpun, 100% diberikan utuh kepada mahasiswa (sementara di PT lain yang saya dengar uang saku itu tidak sampai 100% kepada mahasiswa, tetapi dipotong untuk  biaya ini dan itu).

Dengan demikian, ada 20% dari jumlah total mahasiswa ITB berasal dari kalangan keluarga yang benar-benar tidak mampu, 30% dari keluarga yang kaya, selebihnya bervariasi dari keluarga yang sederhana hingga dari keluarga yang agak berada. Itulah gado-gado mahasiswa ITB yang menunjukkan sisi demokratisnya.

Bahkan setelah kuliah di ITB pun, tersedia ribuan beasiswa yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa ITB. Beasiswa itu beragam jenisnya, ada beasiswa yang dilihat dari sisi prestasi saja (prestasi akademik maupun prestasi non akademik) tanpa memandang status ekonomi, namanya Beasiswa PPA (Peningkatan Prestasi Akademik). Lalu, ada pula beasiswa  bagi mahasiswa yang mendapat kesulitan ekonomi, namanya beasiswa ekonomi.  Jadi, jika anda mahasiswa kaya atau mahasiswa miskin, anda pun dapat memperoleh beasiswa PPA. Jika anda mahasiswa miskin, anda berkesempatan memperoleh beasiswa ekonomi. Beragam jenis beasiswa itu dapat dilihat pada laman ini: APA SAJA BEASISWA DI ITB ?. Jadi, untuk beasiswa saja ITB juga menunjukkan demokratisnya, semua mahasiswa dari berbagai latar belakang dapat memperoleh beasiswa.

Dikutip dari tautan berita di atas,

Sebanyak 20 persen dari total seluruh mahasiswa tidak bayar sepeserpun. Mahasiswa ini masuk program bidik misi. Mereka mendapat beasiswa penuh dari pemerintah dan bahkan mendapat uang saku per bulannya sebesar (1 juta rupiah).

Sebesar 50 persen mahasiswa, lanjut Kadarsah, membayar uang kuliah bervariasi. Ada yang bayar hanya 20 persen dari total keseluruhan biaya kuliah, ada yang 40 persen dan seterusnya. Dan yang bayar 100 persen dari biaya kuliah hanya 30 persen mahasiswa.

“Itulah potret situasi perekonomian mahasiswa ITB,” ujar dia.

Kadarsah menegaskan, setiap warga negara Indonesia punya hak dan kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan di ITB sepanjang memenuhi syarat yang ditentukan. Dia meminta siapapun yang ingin masuk ITB tak khawatir dengan biaya pendidikan.

“Sepanjang berprestasi, uang jangan dijadikan kendala,” katanya.

Jadi, tidak ada alasan takut kuliah di ITB karena faktor biaya. Semua ada jalannya, semua ada solusinya.


Written by rinaldimunir

September 8th, 2016 at 5:28 pm

Posted in Seputar ITB

Peringkat PT Indonesia, masih yang itu-itu lagi

without comments

Kemenristekdikti tahun 2016 ini mengeluarkan daftar peringkat Perguruan Tinggi di Indonesia. Hasil peringkat untuk dua belas besar perguruan tinggi (dan perbandingan dengan peringkat tahun 2015) diperlihatkan pada gambar di bawah ini (Sumber data dari sini). Baca juga berita: Ini 12 Besar Peringkat Perguruan Tinggi Indonesia 2016).

peringkat-pt-2016

Peringkat dua belas besar PT d Indonesia (Sumber: Kemenristekdikti)

Ada PT yang peringkatnya naik dan ada yang turun. ITB dan UGM stabil peringkatnya, sedangkan sisanya naik turun. Di Jawa Timur Universitas Brawijaya menggeser ITS dan Unair. Di Jawa Barat hanya ITB yang tetap stabil di peringkat pertama, sedangkan Unpad merosot ke peringkat bawah. Hanya ada dua perguruan tinggi di luar Jawa yang masuk 12 besar, yaitu Universitas Andalas Padang dan Universitas Hasanuddinj Makassar. Maka, bolehlah dikatakan Unand dan Unhas adalah perguruan tinggi terbaik di luar Jawa dan  berhasil masuk sebagai PT cluster 1)

Kriteria penilaian peringkat tentu saja dapat diperdebatkan, namun Kemenristekdikti telah menetapkan indikatornya. Indikator penilaian peringkat dihitung berdasarkan kualitas dosen (12%), kecukupan dosen (18%), akreditasi (30%), kualitas kegiatan kemahasiswaan (10%), dan kualitas kegiatan penelitian (30%).

indikator

Indikator yang digunakan dalam penilian PT

Nilai terbesar  untuk pemeringkatan adalah dari poin akreditasi dan kegiatan penelitian, masingmasing 30%. Dalam hal ini untuk kasus ITB memang sangat tinggi nilainya untuk kedua indikator tersebut, karena semua Prodinya beraktreditasi A. Dari sisi penelitian ITB juga paling tinggi jika dihitung dari jumlah publikasi ilmiah yang terindeks di Scopus (baca: UI dan ITB “Kejar-kejaran””di Scopus).

Nilai-peringkat-2015-3

Peringkatberdasarkan penbelitian

Dari nilai keseluruhan memang ITB berada pada peringkat pertama, tetapi kontribusi terbesar nilai itu diperoleh dari poin penelitian dan akreditasi, sedangkan untuk indikator yang lain tidak terlalu bagus amat. Nilai  yang sangat mencolok adalah dari kualitas kegiatan kemahasiswaan, ITB  di bawah UI, Universitas Brawijaya, dan UGM.

Nilai-peringkat-2015-2

Peringkat berdasarkan kemahasiswaan

Berdasarkan data pemeringkatan tahun 2015 misalnya (tahun 2016 tidak tersedia datanya), nilai ITB jauh di bawah UGM untuk indikator kualitas kegiatan kemahasiswaan, ITB 1.9 sedangkan UGM 4.0. Apakah itu berarti kegiatan kemahasiswaan di ITB melempem? Kalau melihat ramainya kehidupan kampus ITB oleh kegiatan unit-unit kemahasiswaan dari sore hingga malam hari, ternyata itu bukan indikasi kualitas kemahasiswaan. Jika diukur dari prestasi kegiatan yang diadakan oleh Kemenristekdikti seperti PKM, PIMNAS, dll, memang ITB jauh di bawah UGM.

Nilai-peringkat-2015

Nilai skor pemeringkatan PT tahun 2015.   

Dari hasil pemeringkatan tahun 2015 dan tahun 2016 saya tidak melihat ada kejutan. Kita dapat membaca bahwa perguruan tinggi yang masuk peringkat atas masih yang itu-itu lagi, sebagian besar masih di Pulau Jawa, hanya Unand dan Unhas  dari luar Jawa yang bisa danggap sejajar. Bahkan untuk 20 besar pun semuanya masih PT di Jawa. Sangat sulit bagi perguruan tinggi di luar Jawa bisa bersaing dengan perguruan tinggi di Pulau Jawa. Agak-agak tidak fair juga membandingkan PT di luar Jawa dengan PT di Jawa. Mereka sudah kalah dalam banyak hal, mulai dari segi pendanaan, kualitas SDM, dana riset,  publikasi, dan sebagainya. Menurut saya Pemerintah belum berhasil menaikkan kualitas PT di luar Jawa. Fokus Pemerintah masih PT di Jawa, sedangkan yang di luar Jawa agak terabaikan.


Written by rinaldimunir

August 22nd, 2016 at 4:25 pm

Google Doodle hari ini: Prof Samaun Samadikun

without comments

Hari ini gambar doodle di laman utama Google ada yang istimewa. Jika anda membuka laman Google hari ini (www.google.co.id atau www.google.com), maka tampaklah gambar karikatur seorang laki-laki dengan latar belakang kabel-kabel. yang membentuk tulisan google. Siapakah dia?

samaun

(Alm) Prof. Samaun Samadikun menjadi gambar Google hari ini

Dia adalah (alm) Prof. Samaun Samadikun. Beliau dulu adalah gurubesar dalam bidang mikroelektronika di ITB. Pak Samaun bukan orang sembarangan, beliau adalah bapak mikroelektronika Indonesia. Pada hari lahirnya yang bertepatan pada hari ini, Google menjadikannya sebagai doodle pada laman utamanya.

Saya pribadi tidak mengenal beliau, meski sama-sama di ITB. Beliau adalah seorang dosen di Jurusan Teknik Elektro ITB, jurusan yang berbeda dengan saya di Informatika ITB. Jadi saya tidak pernah diajar oleh Pak Samaun. Meskipun saya tidak pernah diajar oleh Pak Samaun, namun saya sudah sering mendengar nama besar beliau melalui karya-karyanya dalam bidang bidang elektronika.

Saya kutip dari sini:

Prof. Dr. Samaun Samadikun sendiri lahir di Magetan pada tanggal 15 April 1931. Ia pernah menjadi salah seorang dosen di ITB yang semasa hidupnya dikenal karena kepribadian dan sikapnya yang sangat sederhana dan bersahaja, namun tanpa mengurangi sedikit pun kewibawaannya sebagai salah seorang yang disegani.

Berawal dari pendidikan Teknik Elektro di ITB yang ditempuhnya pada tahun 1950. Kemudian Prof Samaun pun melanjutkan kuliahnya dan lulus dari Universitas Standford untuk mengambil gelar M.Sc di tahun 1957, tak hanya itu gelar Ph.D. pun berhasil direngkunya pada tahun 1971 dalam bidang teknik elektro. Prof Samaun bersama dengan K.D Wise akhirnya berhasil menciptakan sebuah paten “Method for forming regions of predetermined in silicon” dengan nomor Us Patent No 3.888.708 pada tahun 1975.

Berawal dari pendidikan Teknik Elektro di ITB yang ditempuhnya pada tahun
1950. Kemudian Prof Samaun pun melanjutkan kuliahnya dan lulus dari
Universitas Standford untuk mengambil gelar M.Sc di tahun 1957, tak hanya
itu gelar Ph.D. pun berhasil direngkunya pada tahun 1971 dalam bidang
teknik elektro. Prof Samaun bersama dengan K.D Wise akhirnya berhasil
menciptakan sebuah paten “Method for forming regions of predetermined in
silicon” dengan nomor Us Patent No 3.888.708 pada tahun 1975.

Prof Samaun sendiri juga Pernah menjabat sebagai seorang direktur pertama
dari sebuah Pusat Antar Universitas (PAU) Mikroelektronika di ITB pada
periode tahun 1984 hingga 1989. Ia pun juga sempat mengambil cuti dalam
mengajar di ITB karena ia mendapatkan jabatan sebagai Direktur Binsarak
DIKTI dari pemerintah pada tahun 1973 hingga 1978. serta pada tahun 1989
sampai 1995 Prof. Dr. Samaun Samadikun diangkat menjadi ketua Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Usai masa jabatan di LIPI berakhir, Prof Samaun Samadikun akhirnya
memutuskan untuk kembali lagi mengajar di ITB. ia pun mengabdikan dirinya
disana hingga akhirnya beliau meninggal dunia pada tahun 2006.

Tonton “Siapakah Samaun Samadikun ?” di YouTube

~~~~~~~~

Pak Samaun sudah tiada, tetapi karya-karyanya untuk dunia ilmu pengetahuan Indonesia dan dunia menjadi warisan bagi generasi penerus. Doa alfatihah buat Pak Samaun Samadikun.


Written by rinaldimunir

April 15th, 2016 at 3:24 pm

Menjadi “Dosen Terbang” di Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Lampung

without comments

Semester ini saya ditugaskan oleh fakultas saya di ITB untuk ikut membantu pengajaran mata kuliah di Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Lampung Selatan. ITERA adalah perguruan tinggi negeri baru yang kelahirannya dibidani oleh ITB (baca tulisan saya terdahulu: Institut Teknologi Sumatera (ITERA) Menerima Mahasiswa Baru Tahun Ini).

DSC_1476

Gerbang kampus ITERA, dipotret dari dalam mobil pada saat siang yang berawan mendung.

Pada awalnya mahasiswa ITERA masih sedikit jumlahnya. Namun, sejak penerimaan mahasiswa baru ITERA melalui SNMPTN dan SBMPTN, maka sejak tahun lalu jumlah mahasiswanya melonjak drastis, mereka menerima sekitar 500 orang mahasiswa baru angkatan 2015. Tahun 2016 ini penerimaan mahasiswa baru ITERA ditargetkan mencapai 1200 orang. Dari data mahasiswa baru yang diterima melalui jalur SBMPTN tahun 2015, skor nilai mahasiswa baru ITERA berada pada posisi menengah, artinya kualitas mahasiswa baru mereka cukup baik. Asal propinsi mahasiswa baru paling banyak dari Lampung sendiri, menyusul dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, dll. Artinya ITERA sudah mulai diminati oleh calon mahasiswa baru dari berbagai propinsi.

Sebagai  perguruan tinggi negeri baru (sudah 3 tahun usianya), dosen-dosennya masih belum banyak karena formasi penerimaan dosen PNS yang terbatas. Karena ITB memiliki andil dalam kelahiran ITERA, maka dosen-dosen ITB diperbantukan untuk mengajar di sana. Saat ini Rektor ITERA pun berasal dari ITB. Jadi, mahasiswa ITERA tentu merasa bangga karena diajar oleh dosen-dosen ITB :-).

Saya mengajar mata kuliah untuk Program Studi Informatika. Karena faktor jarak yang jauh, maka untuk mencapai Lampung, saya dan dosen-dosen ITB naik pesawat terbang ke Lampung. Dari Bandung ada dua penerbangan langsung setiap hari ke Bandara Radin Inten II di Lampung Selatan, masing-masing dilayani oleh maskapai Xpress Air (pagi hari) dan Wings Air (siang hari). Waktu tempuh pesawat dari Bandung ke Lampung adalah 50 menit. Jika dari Jakarta kita bisa menggunakan Garuda, Sriwijaya, atau Lion Air. Waktu tempuh pesawat dari Cengkareng ke Lampung hanya 30 menit. Ini artinya, akses transportasi ke Lampung bukan menjadi persoalan. Karena terbang untuk mengajar di ITERA  Lampung, maka saya menjulukinya  sebagai “dosen terbang”.

radin inten

Bandara Radin Inten II, bandara baru di Lampung (dulu namanya Bandara Branti)

Menjadi dosen terbang bukan hal yang baru bagi saya. Tahun 2000 saya juga pernah menjadi dosen terbang untuk membantu pengajaran di Progam Studi Informatika, UIN Sultan Syarif Qasim (UIN SUSQA) Pekanbaru. Waktu itu, pembentukan Program Studi Informatika UIN Susqa kurikulumnya diinisiasi oleh Informatika ITB.

Sebagai perguruan tinggi baru, ITERA memang terus membangun infrastruktur. Hingga saat ini sudah terdapat empat gedung baru yang selesai dibangun, yang digunakan untuk ruang kuliah, lab, kantor, dan lan-lain. Berikut penampakan gedung-gedung baru di ITERA.

DSC_1484

Gerbang ITERA dipotret dari dalam kampus. Gerbang ini termasuk bangunan unik, sehingga sering menjadi arena foto pra-wedding.

DSC_1479

Tiga gedung baru di sisi kanan. Di kejauhan satu gedung sedang dibangun

DSC_1487

Sepasang gedung baru, kembar

DSC_1514

Suasana lorong gedung perkuliahan di lantai 2

Lahan kampus ITERA sangat luas, sekitar 300 hektar. Lahan ini disediakan oleh Pemprov Lampung. Katanya lahan ini dulunya milik PTPN. Lahan yang sangat luas ini jika selesai dibangun nanti maka akan menjadi kampus yang paling megah di Sumatera. Oh iya, di belakang lahan kampus sedang dibangun ruas jalan tol yang baru saja diresmikan oleh Presiden Jokowi. Kelak jalan tol ini menjadi bagian dari jalan tol Sumatera yang membentang dari Lampung hingga ke Aceh. Bisa dibayangkan harga tanah di sekitar ITERA ini akan melonjak naik.

DSC_1488

Lahan kampus yang sangat luas. Di belakangnya terdapat jalan tol yang sedang dibangun

 

Saya mengajar d ITERA hari Jumat dan Sabtu, berhubung waktu saya yang kosong di ITB hanya hari Jumat. Hari Jumat saya ke Lampung, dari bandara saya langsung ke kampus untuk mengajar, lalu disambung keesokan harinya, dan pulang ke Bandung siang harinya. Secara rutin saya ke sana dua minggu sekali. Mudah-mudahan ini bentuk kontribusi saya untuk kemajuan pendidika di ITERA Laampung.

 

 

 


Written by rinaldimunir

March 7th, 2016 at 1:57 pm