if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Seputar ITB’ Category

Sidang Tugas Akhir Mahasiswa Angkatan Corona

without comments

Mahasiswa yang lulus sidang skripsi/tugas akhir (TA) dan disiwisuda saat pandemi wabah masih berlangsung mungkin dapat disebut angkatan corona. Mereka sidang TA secara daring dan wisuda secara daring pula. Hal ini karena kampus-kampus ditutup, pertemuan tatap muka ditiadakan, dan semua aktivitas akademik dilakukan secara daring gegara wabah virus corona. Mahasiswa dan dosen tetap berada di tempat tinggalnya masing-masing. Semua terhubung secara virtual. Kuliah , seminar, sidang, rapat, dan wisuda dilakukan secara virtual.

Sebelum ini kita sudah merasa nyaman semua aktivitas dilakukan dengan bertemu secara fisik, namun semua berubah setelah negara api menyerang…eh salah, setelah virus corona menyerang. ?

Untung zaman modern ini ada internet sehingga semua kegiatan akademik, termasuk sidang TA, tetap bisa berjalan sebagaimana biasa. Soal apakah efektif atau tidak, itu soal lain.

Saya akan menceritakan pengalaman saya melakukan sidang tugas akhir, tesis, dan disertasi mahasiswa secara daring. Jika secara luring (offline) sidang dilakukan di dalam ruangan tertutup, dihadiri oleh mahasiswa yang disidang, dosen penguji, dan dosen pembimbing, maka secara virtual sidang dilakukan di dalam sebuah meeting room virtual yang dibuat (create) terlebih dahulu menggunakan aplikasi video conference seperti Zoom atau Google Meet (kami menggunakan Google Meet dengan pertimbangan lebih “murah” dan  fleksibel dibandingkan Zoom). Waktu dan tanggal sidang pun sudah ditetapkan dengan menggunakan aplikasi Calender di Google.

Dosen dan mahasiswa bertemu di ruang virtual ini. Tautan (link) ke meeting room sudah dibagikan jauh-jauh hari kepada dosen pembimbing, dosen penguji, dan mahasiswa melalui surel. Saat waktu sidang tiba, klik tautan tersebut untuk join dan ruang sidang pun muncul di layar komputer menghadirkan semua peserta sidang (dosen dan mahasiswa). Bagi dosen yang tidak ingin wajahnya ditampilkan maka kamera di komputernya bisa dimatikan.

sidang1

Tatacara sidang TA secara virtual dilakukan persis sama seperti sidang secara luring. Ada pembukaan, presentasi dari mahasiswa, tanya jawab dari dosen penguji, penilaian hasil sidang secara tertutup, dan pembacaan hasil sidang. Sesi penilaian secara tertutup oleh dosen penguji dan pembimbing dilakukan dengan cara meminta mahasiswa meninggalkan (left) meeting room virtual untuk kemudian dipanggil lagi (melalui whatsapp) dan disuruh join video conference kembali setelah sesi penilaian tertutup selesai. Hal ini persis seperti pada sidang secara luring, mahasiswa diminta keluar ruang sidang, lalu kemudian dipanggil masuk kembali untuk mendengarkan pembacaan hasil sidang. Proses sidang dapat direkam (REC) jika sewaktu-waktu dibutuhkan untuk melihat kembali pelaksanaan sidang.

sidang2

(Keterangan gambar: Dua buah skrinsut yang saya tampilkan di bawah ini adalah dua orang mahasiswa saya yang sidang TA. Posisinya sedang berada di Singaraja (Bali), satu lagi di Medan, sedangkan dosen pembimbing dan dosen penguji berada di rumahnya Bandung).

Lalu, bagaimana pengisian form penilaian sidang yang biasanya pada sidang secara luring menggunakan form kertas? Mudah saja. Semua form penilaian dan beriata acara sidang diubah formatnya menjadi format digital  menggunakan aplikasi Google Form yang dapat diakses secara daring pula. Dosen pembimbing dan penguji tinggal mengisi form tersebut dari komputernya masing-masing. Berita acara sidang yang berisi catatan perbaikan dikirim secara otomatis ke surel mahasiswa.

Bagaimana dengan naskah TA mahasiswa, apakah perlu dikirim ke rumah dosen dalam bentuk hard copy atau soft copy-nya dikirim melalui surel? Tidak perlu. Merepotkan saja. Semua naskah TA mahasiswa yang sidang pada periode ini disimpan di dalam Google Drive. Dosen cukup mengklik tautan Google Drive yang berisi soft copy TA tersebut, tinggal diunduh atau cukup dibaca saja.

Lihat, semua proses, baik sebelum dan selama pelaksanaan sidang, dilakukan secara daring, tanpa kertas (paperless), dan sangat mangkus (efisien). Aplikasi yang disediakan Google sangat bermanfaat, mulai dari aplikasi Calender untuk menetapkan waktu sidang, Google Form untuk membuat form penilaian, Google Meet untuk melakukan video conferebce, dan Google Drive untuk menyimpan dokumen TA.

Ke depan, meskipun pandemi corona nanti sudah berakhir dan aktifitas temu fisik kembali berjalan, saya pikir sidang secara daring ini akan menjadi model yang dapat diteruskan. Dosen dan mahasiswa tidak perlu hadir di kampus. Semua form dan dokumen tersedia secara daring. Tatacara sidangnya sama seperti sidang secara luring.

Memang semua orang di dalam sidang  tidak hadir secara fisik, tetapi secara virtual saja.  Apalah bedanya. Jauh secara fisik, namun tetap berdekatan secara niskala.

Selama sidang secara virtual saya tidak harus berada di depan laptop terus menerus. Saya bisa pergi sebentar ke dapur mengambil kudapan, membuat minuman, atau menengok anak di dalam kamarnya, lalu balik lagi ke meja laptop mendengarkan mahasiswa presentasi atau dicecar pertanyaan oleh dosen penguji. Sersan. Serius tapi santai.  ?

Written by rinaldimunir

June 18th, 2020 at 8:56 pm

Kreatifitas Kuliah di tengah Pandemi Corona

without comments

Wabah virus corona di Indonesia telah memaksa sekolah-sekolah dari TK hingga perguruan tinggi “diliburkan”. Sebenarnya tidak diliburkan dalam arti sebenarnya, siswa/mahasiswa tetap belajar dari rumah secara daring (online). Kuliah tatap muka diganti dengan kuliah dengan menggunakan Internet.

Di ITB kuliah tatap muka sudah berjalan selama 10 minggu. Pekan Ujian Tengah Semester (UTS) pun sudah selesai. Tersisa kuliah selama lima minggu lagi. Kampus ditutup mulai tanggal 16 Maret 2020. Aktivitas perkuliahan secara tatap muka dihentikan,  dosen dipersilakan melakukan perkuliahan (termasuk bimbingan tugas akhir) dengan menggunakan segala perangkat TIK (teknologi informasi dan komunikasi) yang ada. Silakan menggunakan email, Whatsapp, Facebook, YouTube, atau aplikasi online meeting seperti Zoom, Webex, Google Meet, dan lain-lain.

Masing-masing aplikasi memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Aplikasi Zoom misalnya, kualitasnya video conference-nya bagus, namun memakan pulsa internet yang besar. Saya merasa kasihan saja dengan kantong mahasiswa. Memakai Zoom bisa menguras pulsa internet mahasiswa yang rata-rata fakir kuota. Seorang teman melakukan survey kepada mahasiswanya setelah melakukan kuliah daring selama dua jam menggunakan Zoom. Ternyata mahasiswa membutuhkan lebih dari 300 MB untuk pertemuan kuliah daring. Kalau tersedia akses wifi yang unlimited, apalagi gratis, tentu tidak masalah habis pulsa internet seberapapun.

Dari yang saya amati, banyak dosen (dan juga guru sekolah) yang gagap menyiapkan kuliah secara daring. Wajar saja, ini kasus pertama kali terjadi. Selama ini para dosen di Indonesia sudah merasa nyaman mengajar secara tradisionil yaitu kuliah tatap muka. Ketika terjadi penyebaran wabah penyakit seperti virus corona ini sehingga kuliah tatap muka dihentikan dan diganti dengan kuliah daring, banyak dosen kita yang belum siap.

Namun, keadaan terpaksa ini justru membuat para dosen harus meluangan waktu belajar menggunakan berbagai aplikasi TIK untuk tetap memberikan layanan perkuliahan dan bimbingan tugas akhir, tesis, dan disertasi kepada mahasiswa.

Saya sendiri memutuskan tidak menggunakan aplikasi pertemuan daring seperti Zoom, Google Meet, Webex, dan sebagainya untuk melaksanakan perkuliahan daring dengan berbagai pertimbangan. Sebagai gantinya, saya membuat video-video kuliah yang saya unggah ke Youtube. Video kuliah tanpa wajah saya di sana, dibuat dengan menggunakan aplikasi Power Point. Saya sudah memiliki PPT materi kuliah, jadi dengan PowerPoint saya merekamnya menjadi video bersuara, seolah-olah saya sedang mengajar materi tersebut.

Silakan kunjungi kanal saya di YoutTube dengan meng-klik tautan ini untuk mengakses video-video kuliah yang saya buat bersama dengan teman-teman dari tim kuliah yang kami ampu:

https://www.youtube.com/channel/UCBiY3GSJuQGGjNAdV8JebSQ

Dengan menunggah video-video kuliah tersebut di YouTube, mahasiswa dapat memutarnya berkali-kali jika belum mengerti.  Saya juga meniatkan membagikannya kepada mahaiswa lain di luar ITB dan juga buat umum yang ingin belajar materi kuliah kami. Semoga bermanfaat buat pendidikan bangsa ini.

Written by rinaldimunir

April 9th, 2020 at 8:51 pm

100 Tahun Kampus ITB

without comments

Tahun ini merupakan tahun yang istimewa bagi kampus saya, Institut Teknologi Bandung. Pada tahun 2020 ini kampus ITB berusia tepat satu abad. Seratus tahun. Kampus ITB didirikan pada zaman kolonial Belanda pada tahun 1920. Memang dulu namanya bukan ITB, tetapi Technische Hoogeschool (TH). ITB sendiri baru diresmikan pada tahun 1959 oleh Presiden Soekarno (baca: Foto-foto Peresmian ITB Tahun 1959 oleh Bung Karno).  Namun, baik TH ataupun ITB kampusnya ya disitu juga, di Jalan Ganesha nomor 10. Makanya saya menyebutnya sebagai 100 tahun “kampus ITB”, bukan 100 tahun ITB itu sendiri.

Aula Barat ITB tahun 1920

Aula Barat ITB saat ini (Sumber foto dari sini)

Kampus ITB (atau TH) dibuka pertama kali tanggal 3 Juli 1920. Inilah kampus pendidikan teknik pertama di Hindia Belanda yang berlokasi di kota Bandung.

Upacara pembukaan Technische Hoogeschool te Bandoeng pada hari Sabtu, 3 Juli 1920 di Barakgebouw B (sekarang Aula Timur ITB). Sumber foto dari sini.

Satu tahun kemudian, TH melakukan dies natalis atau ulang tahun pertama yang diisi dengan orasi ilmiah oleh Prof. Ir. R. L. A. Schoemaker  berjudul “Constructie, doelmatigheid en schoonheid in de bouwkunde” (Konstruksi, efisiensi, dan keindahan dalam bangunan).

Dies Natalis ke-1 Technische Hoogeschool te Bandoeng 2 Juli 1921 di Barakgebouw A (Aula Barat ITB) Sumber foto dari sini.

Kampus TH Bandung dilihat dari IJzermanpark (Taman Ganesha), dari kiri ke kanan adalah Barakgebouw A (Aula Barat), kantor Sekretaris TH (sekarang Kantor Dekan FTSL), gerbang utama, kantor Pedel TH (sekarang Kantor Dekan FSRD), dan Barakgebouw B (Aula Timur), tampak di kejauhan searah garis lurus poros tengah kampus adalah Gunung Tangkuban Parahu. Sumber foto dari sini.

Jika Anda ingin membaca sejarah lengkap TH hingga menjadi kampus ITB, lengkap dengan daftar mahasiswa pada tahun 1920, 1921, dan seterusnya (termasuk mahasiswanya yang kelak menjadi pemimpin bangsa, yaitu Soekarno), silakan baca tulisan yang sangat runtut ini:  Technische Hoogeschool te Bandoeng.

Kampus ITB pada tahun 1925

Kampus ITB pada tahun 1925. Entah bagaimana cara memotret kampus ini dari udara, rasanya belum ada pesawat pada tahun tersebut.

Bagi alumni ITB, menjadi kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri bisa berkuliah di kampus bersejarah ini. Sekali pernah kuliah di kampus Ganesha, maka mereka tidak akan pernah bisa lupa kenangan suka dan duka semasa menjadi mahasiswa. Setiap kali menginjakkan kaki kota di Bandung, mereka selalu menyempatkan diri berkunjung ke kampus untuk mengenang masa-masa itu. Itulah almamater, ibu yang selalu dikunjungi oleh anak-anaknya.

Sekarang kampus ITB tidak hanya ada di Jalan Ganesha, tetapi sudah berkembang menjadi multi kampus. Ada kampus ITB Jatinangor, kampus ITB Cirebon, dan yang akan dibangun adalah kampus ITB Walini. Dua kampus di Jatinangor dan Cirebon sudah memiliki mahasiswa untuk program studi baru maupun program studi “kelas jauh”. Kampus di Walini masih berupa lahan hijau. Kampus di Bekasi masih berupa ide meskipun lahannya ada.

Selamat ulang tahun satu abad kampus almamaterku, Institut Teknologi Bandung.

Written by rinaldimunir

January 31st, 2020 at 8:55 pm

Posted in Seputar ITB

Ber-“lu gue” di Kampus

without comments

Ketika saya berada di kampus UKSW Salatiga mengisi sebuah seminar, terdengar mahasiswa ngobrol dengan sesamanya menggunakan kata “kau” dan “aku”.  Tampaknya mereka belum terkontaminasi pergaulan anak muda Jakarta yang pakai sapaan “elo”,”lo” “elu”, “lu”, “gua”, “gue, “gw”.

Di kampus saya di ITB  sudah jarang saya mendengar mahasiswa memakai kata “saya”, “kamu”, “kau”, “aku” ketika mengobrol sesamanya.  Sudah saling pakai kata  “elo”,”gua”, dan sejenisnya, meskipun mereka bukan dari Jakarta dan sekitarnya. Mahasiswa dari daerah Jawa dan luar Jawa pun sudah biasa saja bersaling sapa dengan kata elo gua tersebut. Enakan saja tampaknya. Saya kurang tahu apakah di kampus  lain di Bandung seperti UNPAD, UPI, Telkom University, Unpar, dan lain-lain juga seperti di ITB. ITB sebagai kampus nusantara, yang mana mahasiswanya berasal dari Sabang sampai Merauke, pergaulan mahasiswanya ternyata tidak dipengaruhi oleh kultur Sunda, malah budaya dan gaya pergaulan anak Jakarta, khususnya dalam bercakap-cakap.

Kota Bandung yang dekat dengan Jakarta sudah biasa terimbas style dan gaya pergaulan dari Jakarta, termasuk soal sapaan tadi. Mahasiswa-mahasiswa sesama anak muda, tidak peduli dari daerah mana, cenderung bertutur kata seperti gaya Betawi. Bahkan anak saya yang dibesarkan di tanah Parahyangan dan baru masuk ITB tahun ini pun sudah ber-elu gua kepada sesama temannya di kampus. Terdengar oleh saya dari kamarnya dia berbicara dengan temannya lewat hape memakai sapaan lu  gua. ?

Saya masih ingat dulu saat saya jadi mahasiswa ITB, teman-teman saya sudah biasa memanggil dengan kata elo gua itu, saya saja yang masih polos sebagai mahasiswa asal daerah masih ber-saya kamu, he..he. Sampai sekarang pun begitu, merasa aneh saja kalau saya juga menggunakan sapaan lo gua itu kepada orang lain. Tetap ber-saya kamu, tetap dengan jatidiri saya sebagai orang rantau yang tidak terpengaruh gaya Jakarta.

Written by rinaldimunir

December 19th, 2019 at 4:55 pm

Posted in Seputar ITB

Mahasiswa Depresi dan Bunuh Diri

without comments

Beberapa hari yang lalu ada peristiwa yang cukup menggemparkan warga kampus Ganesha ITB. Seorang mahasiswa S2 di kampus kami meninggal dunia di kamar kosnya karena bunuh diri (baca beritanya di sini). Siapa sangka, mahasiswa yang cerdas, berprestasi, ternyata mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis seperti itu. Di dalam blognya dia menulis sudah lama mengalami depresi dan sudah punya keinginan untuk melakukan bunuh diri. Membaca tulisannya di blog sungguh membuat hati terenyuh.

Depresi. Aku pernah merasakan depresi. April 2018 lalu aku ke psikolog mengikuti konseling karena depresi. Aku merasakan depresi dan terus berpikir untuk bunuh diri.

….

Dua belas atau tiga belas tahun yang lalu aku mendapat peringkat pertama Olimpiade Sains Nasional tingkat SD di bidang IPA. Karena prestasi itu aku mendapatkan beasiswa di SMP Semesta Semarang, sebuah sekolah swasta berasrama. Kemudian aku melanjutkan pendidikan di SMA Mustafa Germirli di Kayseri, Turki. Setelah 4 tahun SMA aku lalu melanjutkan kuliah di ITB mengambil jurusan Teknik Elektro. Juli 2018 lalu aku lulus menjadi ST.

Apakah aku masih depresi? Aku tidak tahu. Ingin aku katakan kalau aku sudah tidak lagi merasakan depresi. Aku sudah tidak merasa sesedih April 2018 lalu. Namun bagaimana aku bisa tahu? Bagaimana aku tahu kalau nanti malam, atau besok, atau lusa aku tidak akan melompat dari gedung atau menggantung diri atau memutus nadi. Bagaimana aku bisa tahu?

Aku tidak tahu.

Namun yang aku tahu sekarang adalah aku punya kedua orang tua yang mendukungku. Aku tahu ada adik-adikku melihatku dari jauh. Aku tahu ada teman-teman dan Bapak Ibu dosen dan staff yang mengenalku. Dan yang paling penting ada seseorang yang menghangatkan hatiku. Selama ada mereka mungkin aku tidak akan bunuh diri. Karena aku ingin membuat mereka bahagia.

….

Dalam hidupku aku bukanlah orang yang punya banyak teman. Aku tidak pandai bergaul. Keberadaan sesorang dan ketiadaan sesorang sangat berarti bagiku. Maka dari itu aku takut.

Aku takut kalau selama ini aku terlalu clingy kepada orang-orang yang mengenalku. Aku takut sendirian. Ketika aku depresi aku merasa sangat sendirian. Tidak ada yang dapat aku ajak curhat. Tidak ada yang dapat aku peluk. Tidak ada yang bilang kepadaku kalau dia mengerti dan mau menenangkanku.

Saat aku depresi aku merasakan ketiadaan itu jauh lebih baik dari pada keberadaan. Setiap waktu yang berlalu terasa menusuk. Pekerjaan semuanya tertunda. Apapun tidak ingin dilakukan. Yang diinginkan adalah ketiadaan.

….

Saya tidak habis pikir dan tidak mengerti mengapa almarhum mengambil jalan pintas yang sesat itu? Saya bisa membayangkan betapa hancur dan sedih hati ayah dan ibunya mendapat kenyataan pahit seperti ini. Padahal orangtuanya selalu mendukungnya seperti yang dia tulis di atas.

Saya sudah sering membaca berita mahasiswa melakukan bunuh diri di berbagai kampus. Apakah masalah perkuliahan di kampus yang menjadi penyebab mahasiswa bunuh diri? Saya tidak percaya. Saya yakin sebagian besar faktor penyebab bunuh diri itu bukan karena masalah akademik, tetapi masalah non akademik yang mengganggu pikirannya, seperti masalah dengan pacar, orangtua, keluarga, mengidap penyakit menahun, halusinasi pikiran-pikiran burruk, dan lain sebagainya. Masalah non akademik ini mengakibatkan stres dan depresi yang berkepanjangan, lalu jalan pintasnya bunuh diri. Sayang sekali, kita kehilangan satu generasi, lost generation.

Sebagai dosen kita tidak hanya melihat mahasiswa dari sisi akademik semata. Kalau ada mahasiswa yang sudah aneh-aneh sikapnya, stres, depresi, dsb, maka mahasiswa ini perlu diperhatikan lebih intens, kalau perlu dilakukan pendampingan agar dia tidak sendirian. Early warning perlu kita tindak lanjuti.

Di sisi lain teman-teman sesama mahasiswa juga perlu bersikap peduli dengan temannya yang bermasalah. Jangan cuek. Kesibukan kuliah yang padat jangan sampai menjadi alasan untuk memperhatikan orang lain. Sesibuk apapun sempatkanlah memperhatikan teman. Sharing is caring.

Saling membantu itu indah. Anda tidak perlu merasa terbuang waktu karena telah menaruh kepedulian kepada sesama. Waktu yang terbuang tidak sebanding dengan generasi yang hilang.

Written by rinaldimunir

September 6th, 2019 at 11:31 am

Lorong dan Pilar di Kampus ITB

without comments

Kampus ITB di Jalan Ganesha adalah kampus yang indah dan unik. Banyak bangunan heritage yang dibangun pada zaman Belanda sejak tahun 1920. Sebut saja Aula Barat, Aula Timur, Gedung Teknik Sipil, Gedung Fisika, Gedung Teknik Lingkungan, dan Gedung LFM. Semuanya adalah bangunan tua dengan atap berupa kayu sirap. Dua tahun lagi, pada tahun 2020 ITB genap berusia 100 tahun.

Aula Barat ITB

Bangunan baru di dalam kampus dibuat kompatibel dengan bangunan lama. Salah satu unsur yang dipertahankan pada bangunan baru adalah pilar-pilar bulat yang tersusun dari batu kali dan direkat dengan semen sehingga tampak alami. Pilar-pilar itu menyangga atap bangunan. Pilar-pilar itu ada yang dibuat berpasangan kiri dan kanan sehingga membentuk lorong. Kalau kita berjalan di dalam lorong itu, kita seakan-akan menapaki perjalanan sejarah.

Di bawah ini adalah lorong dengan pilar-pilar penyangga di Gedung Teknik Sipil yang terletak di belakang Aula Barat. Ketika anda melewati lorong Teknik Sipil ini, seakan-akan anda menapaktilasi langkah kaki Soekarno ketika dia berjalan di lorong yang sama saat kuliah di sini pada tahun 1920-an. Ya, Soekarno adalah alumni Teknik Sipil ITB tahun 1920-an. Waktu Soekarno kuliah tahun 1923 di ITB hanya ada beberapa gedung saja, antara lain  Aula Barat, Teknik Sipil, dan Gedung Fisika. Praktis Soekarno bolak-balik kuliah ke gedung-gedung tersebut melewati lorong ini.

Pilar-pilar dari susunan batu yang menyangga atap bangunan di Gedung Teknik Sipil

Berjalan terus dari lorong ini ke arah utara kita melewati lorong di Gedung Fisika. Lantainya adalah marmer jadul, dan di sebelah kiri adalah dinding atau tembok untuk menempel pengumuman nilai ujian Fisika. Mahasiswa menyebut tembok ini sebagai tembok ratapan. Pilar-pilar yang sama seperti di Aula Barat dan Gedung Teknik Sipil berdiri diam membisu. Pilar-pilar itu sudah berdiri di sana sejak tahun 1920-an.

Lorong Fisika yang sepi, ditinggal para mahasiswa yang mudik. Sebelah kanan adalah “tembok ratapan” mahasiswa TPB. Lantai marmer nya yang membuat jalan bergoyang masih terjaga keasliannya sejak tahun 1920.

Terus berjalan lagi ke utara, kita akan melewati lorong yang menghubungkan Gedung Fisika dengan Gedung Labtek V. Gedung LabTek adalah gedung yang relatif baru usianya, yaitu dibangun tahun 1994. Namun, gedung ini dibuat sedemikian rupa sehingga tetap mewarisi aura atau “ruh” Aula Barat. Pilar-pilar batu berdiri dengan anggunnya seakan menyapa kita yang melewatinya.

Lorong yang menghubungkan Gedung Fisika dengan LabTek V

Gedung LabTek V, VI, VII, dan VIII serupa bentuknya. Bangunan berlantai 4 itu disangga dengan pilar-pilar batu. Saat berjalan di lorong yang berjejer dengan pilar-pilar batu itu saat kampus sedang sepi, dari ujung ke ujung, kita seolah berjalan menuju sebuah titik yang konvergen.

Saat kampus sedang sunyi, berjalan di lorong LabTek V ini seakan menuju ke sebuah titik fokus.

Semua pilar-pilar batu di dalam kampus dihiasi dengan kembang stepanut  yang menjalar dan bergelayutan. Pada Bulan Agustus, bunga-bunga yang berwarna oranye dari kembang stepanut bermekaran dengan indahnya.

Bunga-bunga di setiap pilar

Duh, cantiknya…

Kembang stepanut yang cantik di pelataran antara LabTek V dan LabTek VI (depan kolam “Indonesia Tenggelam”)

Kembang agustusan bermekaran di Tugu Kubus di depan Taman Ganesha

Semua lorong di dalam kampus berawal dari pintu gerbang utara, dan berakhir di gerbang selatan. Setiap gedung dari utara ke selatan terhubung oleh lorong-lorong dengan pilar batu yang artistik dan alami, sehingga tidak ada alasan mahasiswa kehujanan untuk mencapai gedung manapun di dalam kampus.

Written by rinaldimunir

July 9th, 2018 at 3:35 pm

Posted in Seputar ITB

Prodi-Prodi (Program Studi) Baru di ITB

without comments

FYI, di ITB sekarang banyak Program Studi baru atau relatif baru (S1) yang mungkin tidak banyak diketahui oleh umum. Prodi-Prodi baru itu sebagian merupakan pengembangan dari Prodi yang sudah mapan (mainstream), sebagian lagi memang baru sama sekali. Sebagian besar Prodi baru itu berkuliah di kampus ITB Jatinangor. Semoga info ini bermanfat buat anak/cucu/teman/saudara/keponakan yang mungkin hanya tahu Prodi-prodi klasik seperti Sipil, Mesin, Elektro, Arsitektur, Tambang, Kimia, dll.

Prodi-Prodi baru tersebut adalah (keterangan: seluruh teks diambil dari web Program Studi tersebut):

A. Di bawah Fakultas Tenologi Industri (FTI)
1. Program Studi Teknik Bio Energi dan Kemurgi
Program Studi Teknik Bioenergi dan Kemurgi merupakan program studi engineering yang serumpun dengan program studi Teknik Kimia. Program Studi Teknik Bioenergi dan Kemurgi hendak dikembangkan untuk ikut serta dalam menanggulangi isu – isu nasional dan mempersiapkan bangsa menghadapi persaingan global. Tenaga ahli yang dihasilkan diharapkan tidak hanya berkompetensi dalam bidang teknologi, tetapi juga mampu untuk melakukan inovasi dalam pembaruan sistem pasca panen yang berdaya saing global dan mengikuti perkembangan keilmuan di dunia internasional.

Program studi Teknik Bioenergi dan Kemurgi ITB memiliki tujuan untuk menghasilkan sumber daya insani yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan kemampuan di bidang pengolahan Teknologi Bioenergi dan Kemurgi sehingga dapat menformulasikan masalah-masalah yang berhubungan dengan pemrosesan dan pengolahan bahan nabati menjadi bahan non-pangan pada skala industri, menemukan solusi permasalahan di bidang terkait, sehingga mewujudkan Indonesia menuju sistem Bio-Based Economy.

2. Program Studi Teknik Pangan
Program Studi (prodi) Teknik Pangan ITB merupakan program studi engineering yang serumpun dengan program studi Teknik Kimia ITB. Di mulai pada tahun 2003 sebagai sub prodi Teknologi Pangan pada prodi Teknik Kimia ITB, kini Program Studi Teknik
Pangan ITB hendak dikembangkan untuk ikut serta dalam menanggulangi isu – isu nasional bio-based economy dan mempersiapkan bangsa menghadapi persaingan global. Tenaga ahli yang dihasilkan diharapkan tidak hanya berkompetensi dalam bidang teknologi, tetapi juga mampu untuk melakukan inovasi dalam pembaruan sistem pasca panen yang berdaya saing global dan mengikuti perkembangan keilmuan di dunia internasional.

Program studi Teknik Pangan ITB memiliki tujuan untuk menghasilkan sumber daya insani yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan di bidang teknologi pengolahan pangan, sehingga dapat memformulasikan masalah-masalah yang berhubungan dengan pemrosesan dan pengolahan pangan pada skala industri serta menemukan solusinya, dapat menciptakan inovasi-inovasi di bidang industri proses pasca panen produk pertanian, khususnya pangan tandingan khas Indonesia, dan dapat mewujudkan Indonesia menuju sistem Bio-Base Economy yakni ekonomi yang berbasis bahan hayati yang baru dan terbarukan.

B. Di bawah Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL)
1. Program Studi Teknik dan Pengelolaan Sumber Daya Air
Pengertian Sumber Daya Air (SDA) diberikan oleh UU No. 7 Tahun 2004 yaitu “air, sumber air, dan daya air yang terkandung di dalamnya”, dimana air di sini adalah “semua air yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan tanah, termasuk dalam pengertian ini air pemukaan, air tanah, air hujan, dan air laut yang berada di darat”. Bidang Sumber Daya Air adalah bidang yang multidisiplin, untuk itu Body of Knowledge (BoK) Program Studi Sarjana Teknik dan Pengelolaan Sumber Daya Air (TPSDA) harus mengakomodasi berbagai disiplin ilmu yang diperlukan dalam mengelola dan rekayasa sumber daya air, antara lain meliputi:

    1. Rekayasa
    2. System informasi, ekonomi dan manajemen
    3. Sumberdaya Air dan Ekosistem
    4. Masyarakat dan Budaya
    5. Integrated Water Resources Management (IWRM)

Program Studi Sarjana Teknik dan Pengelolaan Sumber Daya Air (TPSDA) dikembangkan untuk dapat menjadi energi positif pada penanganan permasalahan keairan yang semakin lama semakin penting. Isu-su strategis yang terkait dengan permasalahan nasional dalam bidang keairan antara lain: ketahanan pangan, permasalahan banjir, sea water level (rob), kekeringan, degradasi lingkungan sungai dan danau, perubahan iklim, penurunan muka air tanah dan intrusi air laut, lahan kritis, dan pemanfaatan energi terbarukan. Selain isu strategis, ada juga isu-isu yang terkait dengan pengelolaan SDA yang berupa partisipasi masyarakat, koordinasi perencanaan dan pembangunan, sifat multidisiplin-antar sektor, peran otonomi daerah, pengelolaan wilayah administrasi dan Daerah Aliran Sungai (DAS).

Program studi ini memiliki empat tujuan yang ingin dicapai, yaitu:

  1. Menjadikan wahana pendidikan tinggi yang berkelanjutan dalam mewujudkan sarjana teknik dalam bidang Sumber Daya Air dalam era globalisasi, otonomi daerah, dan privatisasi/ korporasi serta tanggap dengan partisipatif masyarakat luas.
  2. Menjadikan wahana bagi pendidikan tinggi yang berkelanjutan dalam mewujudkan manusia yang berkarakter pribadi yang mandiri, mulia, disiplin dan tangguh serta berempati dan turut berpasipasi aktif dalam menyelesaikan permasalahan manusia dan kelestarian alam Indonesia dan permasalahan dunia pada umumnya.
  3. Menghasilkan lulusan sarjana teknik dengan kemampuan dasar meneliti dan memiliki kompetensi yang dibutuhkan dan ingin dicapai yaitu pada kemampuan dan pemahaman perancangan sarana dan prasarana bidang Sumber Daya Air.
  4. Menghasilkan lulusan sarjana teknik di bidang Sumber Daya Air untuk memenuhi kebutuhan bangsa, sehingga diharapkan dapat memenuhi kebutuhan tenaga profesional dalam bidang Sumber Daya Air.

2. Program Studi Rekayasa Infrastruktur Lingkungan
Outcome keprofesian Teknik Lingkungan (termasuk di dalamnya Rekayasa Infrastruktur Lingkungan) dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu:

  1. Kategori outcome fundamental: terkait dengan mata-ajar matematika, ilmu-ilmu alam, kemanusiaan, dan ilmu-ilmu sosial.
  2. Kategori outcome teknis: terkait dengan mata-ajar ilmu bahan, mekanika, ekperimen, pengenalan masalah dan pemecahannya, desain, perspektif isu kontemporer, risiko dan ketidakpastian, proyek manajemen, area terkait dengan bidang environmental engineering.
  3. Kategori outcome profesional: terkait dengan mata-ajar komunikasi, kebijakan public, business-public administration, globalisasi, kepemimpinan, kerjasama, perilaku, life long learning, profesional dan tangung jawab etika.

Program studi Rekayasa Infrastruktur Lingkungan (RIL) diharapkan mampu menjawab kebutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini akan sumber daya manusia di bidang air bersih dan sanitasi. Program studi ini adalah sebagai sebuah disiplin ilmu teknik yang lebih banyak bergerak dalam:

  1. Penyediaan air bersih yang baik dan layak bagi kebutuhan aktivitas manusia ditinjau dari sudut kualitas, kuantitas maupun kontinuitas.
  2. Upaya pengendalian pencemaran akibat limbah cair dan padat hasil aktivitas manusia
  3. Penyaluran limbah dan buangan yang terjadi, termasuk air hujan dan buangan padat (sampah), agar tidak mengganggu lingkungan, serta agar dapat tertangani secara baik.
  4. Kontrol terhadap kemungkinan penyebaran penyakit dan pengelolaan kesehatan lingkungan terutama terkait sanitasi lingkungan.
  5. Kemampuan dasar seorang Engineer pada umumnya, antara lain penggunaan bahasa asing, penyusunan naskah atau dokumen teknis, penguasan IT dan aplikasi yang mendukung kompetensi secara spesifik.

 

C. Di bawah Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM)
Program Studi Kewirausahaan

A comprehensive curriculum which includes studying, putting into practice and developing the science of the cycle of building a business enterprise,beginning with the identification of opportunities, devising creative concepts, planning the enterprise, and establishing it in its initial stages right up to the point of building upon innovative ideas having calculated the relevant risks.

Aim

To produce Graduates in Entrepreneurship who are able to apply their skills and knowledge to recognize and grasp business opportunities, and create and develop enterprises after assessing the business risks involved. Graduates are expected to be able to plan business models and procedures, which abide by ethical protocols in accordance with principles of business practice of universally acknowledged excellence and industrial standards of the highest quality.

Graduate Profile

  • Fledgling Entrepreneur
  • Business Planner
  • Business Developer
  • Business Consultant and Adviser

 

D. Di bawah Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH)

1. Program Studi Rekayasa Hayati

Bio-engineering merupakan interdisiplin Ilmu Kehayatan (Bio-sciences) dan Teknik (Engineering)yang diaplikasikan dalam perekayasaan berbasis bio-sistem untuk meningkatkan efisiensi fungsi dan manfaat biosistem.

Perekayasaan biosistem disini mencakup pengertian, seperti perekayasaan proses biologis, pengoperasian agen hayati terekayasa, pembuatan peralatan baru berbasis biosistem atau teknologi untuk pengembangan biomaterial. Bio-engineering dapat diaplikasikan dalam perekayasaan sistem produksi untuk pengembangan industri.

Perlunya Bio-engineers

Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang pesat selama beberapa dekade terakhir ini, dalam bidang pertanian, kesehatan, industri obat-obatan, makanan – pakan, menuntut pengembangan tahap hilir untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas agen hayati  dalam skala industri. Untuk mendukung hal tersebut dibutuhkan penguasaan ilmu teknik yang terkait terutama dalam perancangan sistem produksi massal, perhitungan struktur, mekanisasi, labor/SDM dan teknologi proses hilir.

Karena itu, diperlukan Sarjana Bio-engineering (Bio-engineers) dengan kompetensi khusus dalam perekayasaan berbasis biosistem. Bio-engineers sangat dibutuhkan dalam perancangan sistem dan produksi massal dari biomaterial dan bioproduk, seperti misalnya enzim, therapeutic proteins, senyawa bioaktif, bioenergi, biomembran atau biodegradable plastics.

Tujuan Program Studi:

  1. Memberikan pemahaman dasar-dasar pengetahuan teknik dan ilmu kehayatan, serta pengaplikasian teknologi dalam perekayasaan sistem produksi berbasis produk tumbuhan,
  2. Mendidik mahasiswa agar mampu mendesain  sistem produksi dimana agen hayati tropika,    terutama tumbuhan merupakan komponen utama dalam pengembangan industri bioproduk,
  3. Mendidik mahasiswa agar mampu meningkatkan efisiensi sistem produksi dengan memahami bahwa tumbuhan merupakan bagian tidak terpisahkan dalam industri bioproduk,
  4. Mendidik mahasiswa agar mampu mendesain  sistem produksi, menguji dan mengoperasikan hasil perekayasaan sistem produksi dalam industri produk nabati,
  5. Mendidik mahasiswa dan melatih kemampuannya dalam system, quantitative, creative, dan critical thinking,
  6. Mempersiapkan mahasiswa agar mampu menyesuaikan diri terhadap perkembangan IPTEK dan masyarakat.

2. Program Studi Rekayasa Pertanian
Program Sarjana Rekayasa Pertanian SITH merupakan program pendidikan interdisipliner untuk menghasilkan professional agriculture engineers yang mampu menjawab tantangan masalah terkini di bidang pertanian. Untuk mendukung hal tersebut, disusun tujuan pendidikan Program Sarjana Rekayasa Pertanian untuk menghasilkan profesional yang:

  1. handal dan tangguh untuk mengembangkan sumber daya hayati yang berkelanjutan (dengan Jawa barat sebagai model) demi memenuhi swasembada kebutuhan pokok dan peningkatan kualitas hidup masyarakat Jawa Barat dan Indonesia umumnya; dan
  2. mampu merancang sistem produksi biomassa pertanian yang efisien secara biologis dan ekonomis pada berbagai kondisi lahan dan iklim.

3. Program Studi Rekayasa Kehutanan

Program Sarjana Rekayasa Kehutanan SITH merupakan program pendidikan interdisipliner untuk menghasilkan professional forest engineers yang mampu menjawab tantangan masalah kehutanan terkini. Untuk mendukung hal tersebut, disusun tujuan pendidikan Program Sarjana Rekayasa Kehutanan sebagai berikut.

  1. Menghasilkan lulusan handal, tangguh dan kompeten dalam menghadapi tantangan bidang kehutanan.
  2. Mendidik dan melatih kemampuan aplikatif dalam merekayasa ekosistem untuk tujuan melindungi, memanipulasi, membangun dan mengelola hutan secara berkelanjutan berikut produk dan jasa yang terkandung di dalamnya.

4. Program Studi Sarjana Teknologi Pasca Panen

Program Sarjana Teknologi Pasca Panen SITH merupakan program pendidikan interdisipliner untuk menghasilkan professional post-harvest engineers yang mampu menjawab tantangan masalah terkini di bagian hilir bioindustri agro-silvo-fishery. Untuk mendukung hal tersebut, disusun tujuan pendidikan Program Sarjana Teknologi Pasca Panen adalah untuk menghasilkan lulusan yang:

  • menguasai sains dan rekayasa sistem terpadu dan terapan di bidang pertanian, kehutanan, dan perikanan;
  • mampu membangun prosedur yang berkelanjutan dalam memperpanjang shelf-life (umur simpan, dan masa pakai) bioproduk berdasarkan pemahaman sains dan rekayasa;
  • mampu mempertahankan dan membuat nilai tambah dalam kualitas (daya guna/gizi, penampilan, dan ergonomic (bentuk, maupun rasa) dan kuantitas bioproduk;
  • menguasai teknologi informasi untuk memahami  distribusi dan jejaring pasar;
  • memiliki kemampuan merancang suatu sistem penanganan pasca panen terpadu.

 

E. Di bawah Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI)
Program Studi Teknik Biomedis

Biomedical Engineering is a multi/trans-disciplinary engineering approach aiming to bridge the traditional disciplines of engineering, biology, and medicine. Engineering approach has played an increasing role in the advances of life science and healthcare. Future breakthroughs on these fields are expected to be more and more technology-driven. Biomedical engineering expertise undoubtedly becomes the critical component of such advances, since best engineering practice in this particular setting demands comprehensive understanding of the biological and medical aspects. It essentially applies well-known principles in engineering and physical sciences to study and solve problems in biology and medicine. SEEI ITB foresees the increasing relevancy of educating future engineers with strong affinity to biology and medicine; hence a specialized program in Biomedical Engineering within SEEI is established.

The Biomedical Engineering Program at SEEI ITB is made up of faculty members who are well respected in their areas of research and education. They engage in research activities encompassing a wide range of areas such as electronics and instrumentation, signal processing, computer networks, intelligent system and robotics, machine vision, and biomedical system modeling. The multi/trans-disciplinary nature of the program is demonstrated through the active participation of different faculty and schools at ITB; among others the School of Life Science and Technology, School of Pharmacy, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, and the Faculty of Industrial Technology.

Written by rinaldimunir

February 27th, 2018 at 1:27 pm

Posted in Seputar ITB

Lumpiah Basah Jalan Ganesha yang “Ngangenin” Alumni ITB

without comments

Ada satu jajanan kaki lima di depan kampus ITB (Jalan Ganesha) yang menjadi nostalgia dan bikin kangen alumni ITB. Apa itu? Jajanan sederhana bernama lumpiah basah. Biasanya lumpiah itu digoreng, tetapi lumpiah yang satu ini, sesuai namanya, tidak digoreng, tetapi dibungkus di dalam sebuah kulit yang sudah dilumuri dengan adonan tertentu, sedangkan isinya berupa sayuran yang ditumis. Maka, tampilannya akan terlihat mengandung kuah  atau basah.

Gerobak pedagang lumpiah basah di Jalan Ganesha

Gerobak pedagang kaki lima penjual lumpiah basahi biasanya mangkal di depan Masjid Salman. Kalau kita mau ke Salman dan melewati gerobak pedagang ini maka terciumlah bau wangi bawang putih yang sedang dirajang di penggorengan.

lumpiah4

Mamang sedang membuat lumpiah (Foto ini dari Ginar IF2005)

Lumpiah basah terdiri dari kulit yang sudah dilumuri dengan adonan aci dan gula merah. Di atas kulit ini dimasukkan sayuran yang sudah ditumis dengan bumbu-bumbu dan  diorak-arik dengan telur.  Biasanya sayuran di dalam lumpiah adalah  rebung, tetapi pedagang lumpiah basah di Ganesha menggantinya dengan bengkoang yang sudah dibumbui sehingga baunya tidak terlalu tajam lagi (kalau rebung baunya khas dan tajam). Selain rebung juga ada tauge dan lain-lain. Untuk menambah selera dan sensasi pedas, maka ditambahkan sambal cabe rawit. Setelah matang lalu ditaruh di atas daun pisang dan dimakan menggunakan sumpit. Panas-panas dan pedas.

Lumpiah yang siap dimakan

Hmmmm….sedapnya

Porsi sayuran di dalam lumpiah banyak sekali sehingga memakan satu lumpiah basah itu sudah mengenyangkan. Harganya hanya 10 ribu rupiah saja.  Umumnya penggemar lumpiah basah adalah para mahasiswi. Mamang penjual lumpiah terlihat repot meladeni para pembeli ini terutama pada jam makan siang.

Di Bandung penjual lumpiah tidak terlalu banyak jumlahnya. Di kota lain di Jawa Barat  juga ditemukan pedagang lumpiah basah. Menurut cerita para alumni yang sudah mencoba bermacam lumpiah basah di berbagai tempat, maka lumpiah basah di Jalan Ganesha ini yang katanya paling enak. Mamang penjual lumpiah basah di Jalan Ganesha sudah cukup lama berjualan, mahasiswi angkatan tahun 97-an ke atas sudah mengenal si Mamang.

Saya jadi teringat cerita mahasiswiku tentang jajanan lumpiah basah di depan kampus ITB itu. Katanya lumpiah basah tidak ditemukan di kotanya (Yogya). Lumpiah basah di depan kampus selalu ngangenin, kata para alumni ITB, khususnya yang perempuan. Maka, jika ada kesempatan kunjungan ke Bandung, misalnya acara reuni di kampus, maka salah satu yang dicari adalah lumpiah basah di Jalan Ganesha ini.

Mau coba?


Written by rinaldimunir

December 27th, 2017 at 1:41 pm

“Tembok Ratapan” di Kampus ITB

without comments

Di Kampus ITB ada sebuah tembok (dinding) bangunan yang menjadi kenangan tak terlupakan bagi para mahasiswa dan alumni. Itulah tembok yang terdapat di Gedung Prodi Fisika FMIPA ITB. Gedung Fisika ini berusia sangat tua, setua Aula Barat dan Aula Timur. Ketika ITB (dulu Technische Hoogeschool) dibangun pada tahun 1920, ada empat gedung yang dibangun oleh Belanda, yaitu Aula Barat, Aula Timur, Gedung Teknik Sipil, dan Gedung Fisika ini (lihat foto pada tulisan terdahulu: Foto-Foto Kampus ITB Tempo Doeloe (1920 – 1930)). Gedung Fisika masih terawat dengan baik, lantai marmernya masih sama seperti dibangun tahun 1920-an. Sudah sulit mencari marmer seperti ini sekarang. Motif pada marmer ini sangat unik, jika anda berjalan sambil mata memandang marmer ini, maka kepala menjadi pusing melihat motif garis-garisnya seperti tidak berakhir. Lantai serasa bergoyang karena pusing.

Entah siapa yang memulai memberi nama, mahasiswa ITB mengenal dinding Gedung Prodi Fisika sebagai “tembok ratapan”, mungkin mengambil nama tembok ratapan yang ditangisi oleh orang Yahudi di Yerussalem.

tembok ratapan 1

Lorong Fisika yang sepi, ditinggal para mahasiswa yang mudik. Sebelah kanan adalah “tembok ratapan” mahasiswa TPB. Lantai marmernya yang membuat jalan bergoyang masih terjaga keasliannya sejak tahun 1920.

Kenapa disebut “tembok ratapan”, karena di sepanjang dinding gedung ini terdapat papan pengumuman nilai-nilai dan hasil ujian fisika, salah satunya mata kuliah Fisika Dasar. Fisika Dasar adalah salah satu mata kuliah wajib bagi mahasiwa Tingkat Pertama Bersama (TPB) alias mahasiwa tingkat 1. Seluruh mahasiswa TPB ITB, kecuali mahasiswa FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain) dan SBM (Sekolah Bisnis dan Manajemen),  mendapat mata kuliah yang sama, yaitu Fisika Dasar 1 dan 2, Kalkulus 1 dan 2, dan Kimia Dasar 1 dan 2. Ini tiga mata kuliah dasar yang penting, tetapi di antara ketiganya kuliah Fisika Dasarlah (bobot total 8 SKS) yang diangap paling sulit. Untuk mendapat nilai A saja susah, dapat C saja sudah bersyukur. Sejak dulu sampai sekarang batas nilai A tidak pernah berubah, yaitu 75 ke atas. Nah, untuk memperoleh nilai 75 itu perjuangangannya luar biasa. Saya mengalami sendiri dulu ketika TPB, cara pendekatan materi fisikanya sangat berbeda dengan pelajaran Fisika di SMA. Semua rumus yang memiliki arah diturunkan dengan notasi vektor. Entah kenapa cara belajar fisika saya di SMA menjadi buyar ketika mengambil kuliah Fisika Dasar di ITB. Soal-soal latihan dan ujian fisika dasar terbilang sulit untuk diselesaikan (bagi saya waktu itu :-)). Tapi ahamdulilah lulus juga meskipun tidak A.

Setiap kali selesai UTS dan UAS, di papan pengumuman di dinding ini ditempel solusi ujian, dan tentu saja nilai-nilai ujian mahasiswa. Setiap kali beredar kabar bahwa nilai fsika dasar telah diumumkan, para mahasiswa TPB bergerombol di tembok ini. Mereka merubungi papan pengumuman. Bahkan malam haripun mereka datang melihat sambil menyoroti kertas pengumuman dengan senter. Ada yang senang, bersorak kegirangan, tapi lebih banyak lagi yang sedih berduka melihat nilainya. Di akhir semester, ketika nilai akhir diumumkan, saat itulah puncak emosi dan perasaan mahasiswa. Bagi yang lulus dan tidak ikut ujian reevaluasi tentu bersyukur, meskipun C sudah gembira. Tapi bagi yang mendapat nilai D atau E dan terkena ujian reevaluasi (yang jumlahnya lumayan banyak), maka kecewalah ia sambil meratapi nasibnya. Uuuuu….uuuuu… sedih sekali. Tembok itu menjadi saksi bisu kesedihan para mahasiswa TPB yang merapai nasib malangnya, maka sejak itu dikenal sebagai “tembok ratapan”.

tembok ratapan 2

Bagi para alumni ITB, lorong di gedung Fisika ini menyimpan kenangan yang mendalam. Ketika saya memasang dua foto di atas di laman Fesbuk, foto-foto terebut beredar dengan cepat di media sosial.  Berbagai testimoni dan cerita mereka lontarkan mengenang zaman dulu ketika berada di lorong ini. Sekarang, setelah waktu berlalu sedemikian lama, semuanya menjadi indah untuk dikenang. Lorong tembok ratapan ini ini selalu dirindukan untuk didatangi kembali.


Written by rinaldimunir

July 11th, 2017 at 4:49 pm

Posted in Seputar ITB

Masjid Salman Tempat yang “Radikal”

without comments

Sebagai orang yang pernah aktif di Masjid Salman ITB, saya cukup terhentak dengan tudingan Ketua Umum PBNU K.H Said Aqil Siradj yang menyatakan bahwa Masjid Salman ITB adalah tempat berkembangnya paham radikalisme (Baca: NU: Radikalisme Menyebar ke Kampus, Terutama Masjid Salman ITB). Meski akhirnya Pak Kyai mengaku khilaf dan meminta maaf atas tudingannya itu  (baca: Pengurus Masjid Salman: Kiai Said Aqil Mengaku Khilaf dan Mohon Maaf), namun tuduhan pak Kyai terlanjur menjadi viral di media sosial dan menimbulkan keresahan bagi para alumni ITB yang pernah merasakan kehidupan di Masjid Salman.

masjid-salman

Masjid Salman ITB (Sumber: kabarsalman.com)

Kata radikal saat ini menjadi kata yang banyak dilontarkan terkait situasi politik tanah air yang belum tenang sebagai dampak kasus Ahok. Radikal dipertentangkan dengan Pancasila. Ormas radikal, ormas anti pancasila, radikalisme, kaum radikal, dan seterusnya, itulah kata-kata yang menghiasi media di tanah air. Disematkan kata radikal saja sudah membuat tidak nyaman, apalagi jika dituding sebagai pendukung dan penyebar radikalisme.

Padahal kalau membuka kamus radikal itu tidak selalu berarti negatif.  Radikal berasal dari kata radix yang artinya akar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti radikal adalah sbb:

radikal1/ra·di·kal/ a 1 secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip): perubahan yang –; 2 Pol amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan); 3 maju dalam berpikir atau bertindak;

Jika dimaksudkan radikal itu adalah kembali ke hal yang mendasar atau prinsipil, maka sudah seharusnya setiap orang demikian. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Kita sering berkata demikian, misalnya harus sesuai dengan prinsip dasar, hal yang mendasar adalah…., dsb, dsb.  Lihatlah artsitektur Masjid Salman sendiri tergolong radikal pada zamannya. Ia tidak mempunyai kubah seperti masjid lain pada umumnya.  Arsitek Masjid Salman, Pak (alm) Ahmad  Nu’man, punya alasan mengapa rancangan masjidnya demikian. Masjid itu kata dasarnya sujud, jadi masjid itu tempat bersujud. Maka, bagi sebuah masjid uyang dipentingkan adalah fungsi dasarnya sebagai tempat bersujud (sholat). Bentuk bangunan sendiri tidak ditekankan seperti apa, pakai kubah atau tidak. Lihatlah Masjidil Haram, tidak ada kubah di sana. Kubah masjid baru ada pada zaman Kerajaan Ottoman Turki. Kubah tidak identik dengan Islam, kubah juga terdapat pada bangunan gereja-gereja di Eropa.

Arti kata radikal yang ketiga adalah maju dalam berpikir dan bertindak. Ya, memang, dalam hal ini Masjid Salman tergolong radikal. Pengelolaan masjid dilakukan secara profesional oleh pengurus masjid yang kebanyakan adalah dosen-dosen ITB. Berbagai teknologi sudah diterapkan Masjid Salman untuk membuat masjid ini semakin nyaman untuk beribadah (baca juga: ATM Beras dari Masjid Salman ITB). Berbagai kajian dan diskusi yang mencerahkan pikiran diadakan silih berganti untuk menambah wawasan jamaah. Berbagai tokoh politik, tokoh agama, ilmuwan, dan tokoh masyarakat telah banyak mengisi kajian berupa seminar, telaah buku, diskusi kontemporer, semuanya untuk menghidupkan fungsi masjid lebih dari sekedar tempat sholat, tetapi masjid adalah pusat peradaban masyarakat.

Arti kata radikal yang kedua adalah amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan). Jika ini yang dimaksudkan, maka sangat jauh panggang dari api. Jamaah Salman yang umumnya kaum intelektual (mahasiswa, dosen) bukanlah bertipe demikian, apalagi jika dihubungkan dengan perilaku kekerrasan.  Saya belum pernah membaca atau mendengar ada kegiatan makar atau penggulingan Pemerintahan yang sah yang dilakukan oleh jamaah Salman. Di Salman tidak ada kaderisasi politik. Jika alumninya aktif dalam politik praktis, maka itu bukan karena Salman-nya, tetapi adalah pilihan pribadinya.

Siapapun yang pernah berkunjung, sholat, maupun aktif di Masjid Salman ITB, pasti mengetahui bahwa Masjid Salman ITB adalah masjid yang terbuka. Siapapun boleh datang, ikut kajian, ikut mendengarkan ceramah, ikut mengaji, ikut memakmurkan masjid, ikut berbagai kegiatan yang dilakukan oleh remaja masjid, dan sebagainya. Walikota Bandung, Ridwan Kamil, adalah alumni Masjid Salman juga.

emil dan bimbel

Emil (sedang dipeluk di belakang) dan para murik Bimbel Salman berfoto dengan para pengajar di tangga Masjid Salman, tahun 1990 usai malam tafakkur menjelang UMPTN 1990.

Karena sifatnya yang terbuka, maka siapapun bisa beraktivitas di sana. Ketika ramai kasus NII di Bandung, masjid Salman ikut kena imbas karena aktivis NII melakukan perekrutan anggota melalui masjid, tak terkecuali mungkin mereka diam-diam menggunakan Masjid Salman sebagai base. Tapi, sekali lagi itu bukan kegiatan masjid, tetapi orang-orang yang memanfaatkan masjid untuk tujuan kelompoknya.

Tulisan ini bukan pembelaan diri. Tetapi demikianlah adanya bahwa masjid Salman itu memang masjid yang radikal dalam tanda kutip.


Written by rinaldimunir

May 31st, 2017 at 3:44 pm