if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Seputar Informatika’ Category

Tiga Stereotip Mahasiswa dalam Tugas Kelompok

without comments

Tugas-tugas kuliah di ITB ada yang merupakan tugas perorangan dan ada pula tugas kelompok. Tugas kelompok dikerjakan oleh satu tim yang terdiri dari beberapa orang mahasiswa. Di Informatika ITB tempat saya mengajar, tugas kelompok itu disebut tugas besar (tubes) yang umumnya adalah membuat sebuah program aplikasi yang kompleks.

Hasil pengamatan saya selama ini, dalam tugas kelompok itu biasanya terdapat tiga stereotip mahasiswa, yaitu mahasiswa tipe merah, tipe biru, dan tipe kuning.

Tipe merah: ini tipe mahasiswa yang mengerjakan sebagian besar tugas inti. Kalau di Informatika ini tipikal mahasiswa yang kerjaannya sebagai coder.

Tipe biru: ini seksi laporan atau spesialis dokumentasi, yaitu mahasiswa yang kebagian tugas pada saat akhir, yaitu menulis laporan untuk diserahkan ke pemberi tugas (dosen atau asisten).

Tipe kuning: ini seksi “gorengan”, yaitu mahasiswa yang tidak ikut berkeringat, perannya mungkin sebagai penghibur dengan menyediakan makanan (goreng pisang atau sebangsa itu) kepada angota kelompok, atau membanyol (melawak) dengan cerita-cerita heboh sehingga teman-temannya ketawa-ketawa, atau malah tidak berkontribusi apa-apa. Numpang nama saja di laporan tetapi tetap mendapat nilai alias gabut (makan gaji buta).

Stereotip mahasiswa (Sumber: www.Facebook/KartunNgampus

Stereotip mahasiswa (Sumber: http://www.Facebook/KartunNgampus

Ternyata tipe merah, biru, dan kuning itu sudah ada sejak zaman saya kuliah dulu, atau mungkin jauh sebelum saya kuliah. Selalu saja ada mahasiswa di dalam kelompok yang “malas” dalam mengerjakan tugas dan selalu saja ada mahasiswa yang ketempuhan dengan mengerjakan sebagian besar tugas.

Saya kira stereotip ini hanya di Indonesia saja, ternyata juga terdapat di universitas di Eropa. Seorang mahasiswa saya yang kuliah di Inggris menceritakan pengalamannya tentang mahasiswa di sana yang juga gabut dalam tugas kelompok. Nggak di Indonesia, nggak di luar negeri sama saja. Ini masalah mental, menurut saya.

Terus terang tiga stereotip tadi bukan klasifikasi yang baik. Setiap anggota kelompok seharusnya mempunyai peran yang sama dalam mengerjakan tugas. Kalau dihubungkan dengan tugas di Informatika misalnya, maka semua orang di dalam kelompok harus mempunyai pembagian tugas yang merata dalam coding dan pembagian tugas yang merata dalam membuat laporan. Tidak boleh ada orang yang dominan dalam satu peran, begitu pula tidak boleh ada yang mengerjakan yang ringan-ringan saja.

Misalnya untuk membuat program aplikasi yang besar, mahasiswa pertama membuat bagian interface, mahasiswa kedua membuat bagian engine aplikasi, dan mahasiswa ketiga mengintegrasikannya. Jika ada empat orang atau lebih maka tinggal dibagi saja untuk komponen yang lain. Hal yang sama untuk laporan, harus jelas siapa yang menulis apa. Dengan begitu semua mahasiswa memiliki kontribusi yang signifikan dan tidak ada yang gabut. Mendapat ilmu sama-sama dan mendapat nilai sama-sama. Adil dan sama-sama puas. Susah-susah gampang untuk diterapkan, tetapi harus dicoba.


Written by rinaldimunir

May 7th, 2014 at 5:53 pm

Ketika Kuliah di Informatika ITB Diisi oleh Aktor “Stand Up Comedy”

without comments

Dua minggu lalu saya mengundang Sam Darma Putra Ginting untuk mengisi kuliah tamu di tingkat 2 Informatika ITB. Tiap tahun memang saya selalu mengisi satu sesi kuliah dengan mendatangkan alumni Informatika untuk berbagi (sharing) cerita pengalaman mereka bekerja di ranah teknologi informasi. Semester ini saya mengundang seorang komedian bernama Sam Darma Putra alias Sammy yang sering tampil di TV pada acara-acara stand up comedy dan juga host beberapa acara di TV swasta.

Sam Darma Putra pada dalam sebuah acara stand up commedy.

Sam Darma Putra pada dalam sebuah acara stand up commedy.

Semula tidak mudah mendatangkan dia, maklum jadwalnya pasti sangat padat, tetapi karena saya dulu adalah dosennya waktu kuliah di ITB dan saya meminta kesediaannya, ternyata responnya cepat: bersedia datang dan mengisi kuliah dua jam, ha..ha..ha. Ya, Sam memang mantan mahasiswa saya dulu di Informatika ITB, tepatnya dia adalah mahasiswa Informatika (IF) angkatan 1994. Sejak kuliah dulu dia dikenal teman-temannya suka melucu (padahal saya sendiri dulu tidak tahu kalau dia senang melucu), dan akhirnya bakat melucunya itu kesampaian dengan melambungnya acara stand up comedy di TV-TV. Sekarang dia menjadi orang terkenal (artis) dan tentu saja bayarannya mahal, tapi untuk kuliah kali ini tentu saja gratis, he..he.

Setengah jam sebelum kuliah dia sudah datang bersama asistennya. Wah, artis profesional memang selalu pakai manager dan asistennya. Para asistennya juga ikut masuk ke kelas. Kelas saya hari itu penuh, karena memang sudah diumumkan minggu sebelumnya bahwa pengisi kuliah tamu adalah alumni Informatika yang menjadi aktor komedi.

Para mahasiswa saya mendengarkan kuliah dari Sam dengan penuh minat.

Para mahasiswa saya mendengarkan kuliah dari Sam dengan penuh minat.

Sam tidak hanya berprofesi sebagai aktor komedi, itu pekerjaan sambilan dia saja. Pekerjaan utamanya tetap saja di bidang teknologi informasi. Setelah lulus dari ITB dia bekerja di perusahaan-perusahan TI dan saat ini dia founder ASD-Consult, pemilik brand ST24-Pulsa dan Utama Bizniz Cell.

Dalam kuliahnya hari itu Sam memaparkan apa saja yang diperlukan seorang lulusan Informatika bila bekerja sebagai enterpreneur di bidang TI. Seorang mahasiswa sebaiknya tidak hanya belajar horizontal knowledge, tetapi juga vertical knowledge. Horizontal knowledge tentu saja materi yang perkuliahan yang dipelajari selama kuliah, tetapi vertical knowledge adalah pengetahuan tambahan yang diperlukan untuk menopang horizontal knowledge karena seorang lulusan Informatika nanti akan berhubungan dengan bidang ilmu lain. Dia mencontohkan pengalamannya yang belajar tentang akuntansi, hukum, dan sebagainya (baca ringkasan materi kuliahnya di sini).

Sam Darma Putra sedang serius memberi kuliah sekaligus melawak.

Sam Darma Putra sedang serius memberi kuliah sekaligus melawak.

Meskipun kuliah yang dibawakannya adalah materi yang cukup serius, namun karena dia seorang komedian maka tetap saja isinya ditimpali dengan humor segar khas stand up commedy. Seluruh isi kelas terpingkal-pingkal mendengar aksi panggungnya di ruang kelas dari awal sampai akhir, apalagi setelah saya minta dia secara khusus ber-stand up commedy selama 10 menit pada akhir kuliah (yang katanya kalau orang lain yang meminta maka harus lewat manajernya dan tentu saja bayarannya mahal lho).

Terima kasih banyak Sam, kapan-kapan Anda kami undang kembali mengisi acara di Informatika ITB.

(Dua foto di atas diambil dari dokumentasi STEI-ITB pada laman ini. Foto-foto lainnya saya ambil dengan kamera sendiri di bawah ini).

DSCF1386

DSCF1387

DSCF1389

DSCF1390


Written by rinaldimunir

March 11th, 2014 at 3:46 pm

Antara “Start-up” dan Keinginan Orangtua

without comments

Seorang ibu menelpon saya beberapa waktu yang lalu. Sedikit curhat dia menceritakan kegundahannya mengenai pilihan anaknya yang membuat sebuah perusahan pemula (sering disebut start-up company) di bidang IT setelah lulus dari Informatika ITB. Putranya itu adalah mantan mahasiswa saya dulu, dan setelah lulus sarjana dia dan teman-temannya satu alamamater sepakat membuat start-up.

Memang cukup banyak alumni kami yang berwirausaha membuat perusahaan yang bergerak di bidang teknologi informasi. Mereka sudah memulai membuat start-up itu pada tahun-tahun terakhir kuliah, dan sesudah lulus sarjana mereka men-seriusi start-up tersebut. Idealisme dan mimpi-mimpi mereka direalisasikan melalui start-up mereka itu. Jika dihitung-hitung mungkin sudah puluhan perusahaan start-up yang dibuat alumni kami. Ada yang sudah tumbuh menjadi besar dan terkenal seperti eBdesk, Agate Studio, NoLimit, Bukalapak, dan lain-lain. Ada juga yang masih menapak menjadi perusahaan yang besar, namun ada juga yang masih begitu-begitu saja.

Bagi sang ibu ini, bekerja dengan membuat start-up tidak menjanjikan masa depan. Pikiran para orangtua pada umumnya tipikal, yaitu setelah lulus sarjana maka anaknya bekerja di perusahaan mapan. Apalagi bagi lulusan ITB, harapan itu lebih “berat” lagi, orangtua ingin anaknya bekerja di perusahaan besar –baik perusahaan nasional, BUMN, perusahaan asing maupun multinasional– dengan gaji yang besar pula. Nama besar ITB sepertinya adalah “beban” agar sang anak menjadi orang yang sukses dengan penghasilan yang mapan.

Oleh karena itu, ketika sang anak memutuskan berwirausaha seperti membuat start-up itu, maka sebagian orangtua yang berpikiran tipikal tadi seakan tidak (atau belum) bisa menerimanya. Meskipun ketidaksetujuan itu tidak disampaikan secara langsung kepada sang anak, hanya disimpan di dalam hati saja, namun dalam batin mereka tetap saja berharap sang anak bekerja di tempat yang pasti-pasti.

Terhadap kegundahan sang ibu tadi, saya hanya bisa memberikan jawaban “menghibur”, bahwa putranya sudah dewasa dan dia lebih tahu apa yang terbaik buat dirinya dan masa depannya. Jawaban yang umum, namun hanya itu yang bisa saya sampaikan kepadanya.

Dalam pandangan saya, berwirausaha itu bagus bahkan mulia karena bisa membuka lapangan kerja bagi orang lain. Sudah saatnya anak-anak bangsa yang punya potensi tinggi memajukan negeri ini dengan inovasi produk dalam negeri namun berkualitas dunia. Saya percaya lulusan perguruan tinggi tanah air mampu bersaing menghasilkan produk IT yang hebat-hebat, tidak kalah dengan produk IT dari luar. Lulusan kami di ITB memiliki kreativitas yang tinggi sehingga inovasi mereka melahirkan produk yang brilian, mungkin ini dampak positif kebebasan berkreasi dalam membuat tugas-tugas besar aplikasi ketika kuliah.

Di sisi lain, keinginan membuat dan mengembangkan start-up sering berbenturan dengan harapan orangtua dan keluarga. Menurut saya komunikasi sangat penting untuk meyakinkan orangtua agar restu didapat. Restu orangtua itu sangat penting, sebab dalam agama kita (Islam) diajarkan bahwa ridho Allah kepada seorang anak bergantung pada keridhoan orangtuanya. Jika orangtua ridho (merestui), maka jalan ke depan terbuka lapang sebab Allah pun akan meridhoi. Nah, kalau orangtua belum (atau tidak) meridhoi, maka alamat bakal susah jalan ke depan. Ada cerita mahasiswa saya yang gagal dalam berwirausaha karena orangtuanya tidak merestui. Sudah tak terhitung darah dan air mata yang keluar dari diri dan orangtuanya karena kegagalan-kegagalan yang terjadi. Akhirnya, setelah orangtuanya merestui jalan pilihannya, barulah usahanya bisa stabil dan berkembang hingga sekarang.

Sukur-sukur punya orangtua yang membebaskan pilihan Anda setelah lulus, mau bekerja, kuliah lagi, atau berwirausaha. Lebih sukur lagi jika mereka memberikan dorongan dan mendukung setiap pilihan yang Anda lakukan. Namun tidak semua orangtua seperti itu kan? Dalam pandangan saya, ketika orangtua masih belum setuju dengan pilihan ber-start-up, maka keputusan bijaksana adalah menunda terlebih dahulu dengan mematuhi keinginan mereka agar Anda bekerja di perusahaan yang sudah mapan. Setelah beberapa tahun Anda bekerja di sana, sudah punya banyak pengalaman, dan Anda sudah membuktikan bahwa Anda sudah bisa mandiri, maka barulah Anda memikirkan kembali membuat start-up tersebut. Setidaknya Anda sudah punya simpanan modal dari penghasilan bekerja sebelumnya untuk berjaga-jaga jika start-up Anda itu masih belum dapat memberikan kontribusi materi yang signifikan untuk menopang masa depan Anda.

Bagaimanapun, restu orangtua tetap harus anda dapatkan terlebih dahulu ketika anda memutuskan berhenti bekerja dan membuat start-up tersebut. Menurut saya, pilihan bijaksana ini juga berlaku bagi Anda yang diharapkan menjadi tiang keluarga, setidaknya Anda sudah dapat membantu keluarga Anda sebelum memutuskan berhenti bekerja dan membuat start-up. Menurut saya inilah win-win solution atau jalan tengah dari pilihan yang sulit, antara membuat start-up dan keinginan orangtua.


Written by rinaldimunir

January 10th, 2014 at 4:38 pm

Kehadiran Kuliah Sebagai Komponen Nilai Akhir

without comments

Sangat sedikit ada dosen yang memasukkan kehadiran kuliah sebagai salah satu komponen nilai akhir. Saya termasuk dosen yang sedikit itu. Kehadiran kuliah saya hitung dalam menentukan indeks nilai mata kuliah. Tidak besar bobotnya, antara 2,5% hingga 5% saja dari keseluruhan nilai akhir. Meskipun sangat kecil, tetapi sekecil apapun nilainya sangat berarti ketika penentuan indeks nilai akhir dilakukan.

Di ITB ada sebagian dosen yang menjadikan kehadiran kuliah sebagai syarat mengikutu ujian. Misalnya jika jumlah kehadiran kuliah minimal 75%, jika kurang dari 75% maka seorang mahasiswa tidak dapat mengikuti ujian akhir. Kalau saya sebaliknya, tidak ada syarat minimal kehadiran untuk mengikuti ujian akhir, tetapi saya menjadikan kehadiran sebagai salah satu komponen penillaian.

Ada orang yang bertanya kenapa saya menjadikan kehadiran sebagai salah satu nilai akhir. Padahal, di era digital dan internet seperti sekarang, belajar materi kuliah bisa dilakukan di rumah, di tempat kos, atau di mana saja. Materi kuliah dapat dicari di Internet, e-book teks kuliah juga banyak tersedia, soal latihan juga banyak, toh belajar dapat dilakukan dari jarak jauh, jadi buat apa datang ke kelas kuliah? Apalagi jika dosennya tidak menarik, monoton, dan mengulang apa yang sudah ada di dalam buku, jadi buat apa perlu hadir?

Baik, Anda bisa saja membaca e-book, mengunduh materi kuliah dari Internet, cukup belajar di kamar kos dan keluar kamar jika perlu saja. Selain belajar ilmu pengetahuan secara langsung dari orang yang ahlinya (dosen), ada hal lain yang tidak Anda dapatkan jika tidak mau hadir di dalam kelas kuliah, yaitu interaksi sosial baik dengan dosen maupun dengan teman-teman mahasiswa lainnya. Hadir dalam kelas kuliah berarti Anda belajar berkomunikasi, belajar menghargai orang lain, dan belajar untuk empati. Selain itu, cerita-cerita, wejangan dan nasehat dari dosen juga amat berguna sebagai bekal kehidupan nanti.

Bagi saya, hadir dalam kelas kuliah adalah sebuah usaha dalam menuntut ilmu, dan usaha itu harus diapresiasi sebagai salah satu komponen nilai, sekecil apapun usaha itu. Inilah alasan mengapa saya memasukkan kehadiran kuliah sebagai bagian dari nilai akhir.


Written by rinaldimunir

January 6th, 2014 at 2:22 pm

Kenangan Bersama Kaisar Siregar (alm)

without comments

Pagi tadi saya kaget sekali ketika membaca status teman di Fesbuk. Salah satu alumni kami di Informatika ITB bernama Kaisar Siregar, IF angkatan 2006, ditemukan meninggal dunia di apartemennya di TU Delft, Belanda. Kaisar memang sedang menempuh S2 di sana. Dia memperoleh beasiswa Erasmus Mundus Justus & Louise Van Effen Scholarships (beasiswa dari TU Delft). Tidak ada yang tahu meninggalnya karena apa, mungkin karena sakit. Sayangnya tidak ada yang melepasnya pergi ke Alam Abadi, karena dia memang tinggal sendiri di apartemen itu. Kalau melihat status Fesbuknya, satu malam sebelumnya dia masih sempat memutakhirkan status dengan memasang foto acaranya bersama teman-teman.

Kaisar Siregar (Foto diambil dari blog temannya: http://ndrewh.wordpress.com/2013/12/09/rip-kaisar-siregar/)

Kaisar Siregar (Foto diambil dari blog temannya: http://ndrewh.wordpress.com/2013/12/09/rip-kaisar-siregar/)

Kenapa saya goreskan khusus satu tulisan ini untuk mengenangnya? Karena saya mempunyai banyak kenangan dengan dia. Kaisar adalah salah satu mahasiswa terbaik di Informatika ITB Angkatan 2006. Karena prestasinya yang bagus, saya “mendapatkan” dia sebagai asisten mata kuliah yang saya ampu. Tidak hanya satu mata kuliah, tetapi dia menjadi asisten tiga mata kuliah selama 2 tahun berturut-turut, yaitu Matematika Diskrit, Strategi Algoritmik, dan Kriptografi. Karena berinteraksi dengannya setiap semester dalam urusan kuliah saya, maka saya kenal betul dirinya.

Menurut saya Ical (panggilan Kaisar) orangnya agak pemalu dan tidak terlalu banyak bicara. Meskipun begitu, dia adalah mahasiswa yang cerdas. Seringkali jalan pikirannya extra-ordinary dalam mengerjakan tugas-tugas kuliah pemrograman (Tugas Besar) yang cukup berat dan padat di Informatika ITB. Orang lain masih menggunakan pendekatan sederhana, dia sudah berpikiran jauh ke depan.

Meskipun agak pemalu tetapi dia mempunyai prestasi yang mmbanggakan. Bersama timnya, Ganesh, Kaisar memenangkan Imagine Cup, yaitu kompetisi inovasi perangkat lunak yang diadakan oleh Microsoft. Tim Kaisar berhak mewakili Indonesia dalam final Imagine Cup tingkat dunia di Polandia (baca berita ini).

Kaisar dan Tim Ganesh yang mewakili Indonesia di final Imagine Cup di Polandia (sumber foto dari sini:  http://www.itb.ac.id/news/2840.xhtml)

Kaisar dan Tim Ganesh yang mewakili Indonesia di final Imagine Cup di Polandia (sumber foto dari sini: http://www.itb.ac.id/news/2840.xhtml)

Sebagai asisten di Lab Ilmu dan Rekayasa Komputasi (IRK), Informatika ITB, Kaisar dan teman-temannya membantu perkuliahan di lab kami. Masa-masa menjadi asisten dosen adalah masa yang menyenangkan dan suatu kebanggaan. Di bawah ini foto kami para dosen di lab IRK dengan para asisten Lab IRK, termasuk Kaisar di dalamnya.

Kaisar bersama-sama asisten Lab IRK Informatika ITB (Angkatan 2006 dan 2007)

Kaisar bersama-sama asisten Lab IRK Informatika ITB (Angkatan 2006 dan 2007)

Kaisar bersama para dosen dan asisten Lab IRK (1).

Kaisar bersama para dosen dan asisten Lab IRK (1).

Kaisar bersama para dosen dan asisten Lab IRK (2).

Kaisar bersama para dosen dan asisten Lab IRK (2).

Kaisar bersama para dosen dan asisten Lab IRK (3).

Kaisar bersama para dosen dan asisten Lab IRK (3).

Kaisar bersama para dosen dan asisten Lab IRK (4).

Kaisar bersama para dosen dan asisten Lab IRK (4).

Suatu hari setelah lulus Sarjana di ITB, Kaisar mengirimi saya surel. Dia mengajukan lamaran beasiswa S2 ke Eropa, dan sebagai salah satu persyaratannya adalah surat rekomendasi dari dosen. Kaisar meminta surat rekomendasi dari saya, dan dengan senang hati saya buatkan surat rekomendasi untuknya.

From: Kaisar Siregar “kaisar.siregar@gmail.com”

Dear Pak Rin,

Apa kabar Pak Rin? Semoga Bapak sehat-sehat saja :D

Begini Pak Rin, saya berencana akan melanjutkan studi S2 saya pada akhir tahun nanti dan berminat utuk mendaftarkan diri di beberapa Universitas di Eropa. Salah satunya adalah TU Delft di Belanda yang memiliki program studi Management of Techonolgy. Program studi ini saya rasa cocok untuk rencana saya ke depannya, di mana saya ingin berkiprah di dunia Consulting dan juga Entrepreneurship.

Salah satu syarat pendaftaran untuk beasiswanya yang berakhir pada 1 November nanti adalah menyerahkan dua buah surat rekomendasi, satu dari dosen kuliah dan satu lagi dari employer. Nah untuk surat yang pertama tersebut saya berhaap Pak Rin bersedia untuk memberikan saya rekomendasi guna mendapatkan beasiswa tersebut karna saya rasa Pak Rin cukup mengenal saya baik dari kelas maupun dari kegiatan di Lab IRK.

Kurang lebihnya seperti itu, saya menunggu balasan dari Pak Rin :D

Terima kasih sebelumnya.

Best Regards

~~~~~~~~~~~

From: Rinaldi Munir
Baik Kaisar, akan saya buatkan. Formatnya bebas kan?
Kapan mau diambil?

wassalam
rin

~~~~~~~~~~~~

From: Kaisar Siregar
Dear Pak Rin,

Terima kasih banyak Pak :D Untuk formatnya tidak ada spesifikasi khusus. Apabila saya ambil Jumat minggu depan apakah Pak Rin available?

Best Regards,
Ical

~~~~~~~~~~~~~~

From: Rinaldi Munir
Bisa Sar, siang ya setelah shalat Jumat (pukul 14.00-an lah…)

wassalam

~~~~~~~~~~~~~~

From Kaisar Siregar
Baik Pak Rin. Sampai jumpa tanggal 7 nanti :D

~~~~~~~~~~~

Tanggal 7 November 2011 dia datang, dan itulah pertemuan saya terakhir dengannya. Alhamdulillah, dia lulus program beasiswa tersebut dan diterima di TU Delft Belanda pada bidang Computer Science Management of Technology.

Saya tidak kuasa menahan kesedihan dengan kepergiannya. Allah SWT memanggilnya begitu cepat dalam usia yang masih muda. Tentu Dia yang tahu rahasia kematian. Maut bisa datang kapan saja dan di mana saja, untuk itulah kita selalu diingatkan agar selalu siap menghadapi kematian.

Selamat jalan Kaisar, semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa dan kesalahanmu. Semoga Allah SWT menerima segala amal pahalamu dan menempatkanmu di tempat yang terbaik di sisi-Nya. Amin.


Written by rinaldimunir

December 10th, 2013 at 12:04 pm

Pak Rasidi dan Purnabaktinya

without comments

Akhir bulan Oktober 2013 ini Pak Rasidi akan memasuki masa purnabakti di Informatika ITB, setelah mengabdi selama 23 tahun di Informatika (mulai ditugaskan di TU-IF sejak tahun 1990). Siapa mahasiswa Informatika ITB (IF-ITB) yang tidak kenal dengan pegawai Tata Usaha Informatika yang satu ini? Hampir semua mahasiswa IF-ITB pernah berurusan dengan beliau, terutama urusan surat menyurat. Mulai dari surat pengantar kerja praktek, surat keterangan sebagai mahasiswa IF-ITB, sampai urusan seminar dan sidang Tugas Akhir.

Pak Rasidi di depan meja kerjanya.

Pak Rasidi di depan meja kerjanya.

Pak Rasidi bukan sembarang pegawai TU, dia sangat baik bahkan terlalu baik kepada mahasiswa. Saking baiknya sehingga seringkali dia yang menelpon mahasiswa bila ada surat yang masuk untuk mahasiswa tersebut. Dia tidak pernah marah dan selalu sabar melayani permintaan mahasiswa yang malah tidak sabaran dan terkadang menganggap remeh pegawai TU. Kita semua membutuhkan pegawai TU. Tanpa kehadiran pegawai TU, mahasiswa tidak mungkin bisa menjadi sarjana. Siapa yang akan mengurus urusan adminstratif Anda di kampus? Begitu juga, tanpa pegawai TU urusan perkuliahan dan kenaikan pangkat dosen tidak mungkin dapat terlaksana dengan baik. Kita manusia semua saling membutuhkan satu sama lain.

Kembali ke cerita tentang Pak Rasidi. Satu kata untuk Pak Rasidi adalah: dedikasi. Dedikasi, kesabaran dan kebaikannya tidak akan pernah dilupakan mahasiswa kami. Masa-masa peak season adalah menjelang seminar dan sidang Tugas Akhir. Jika masuk peak season, Pak Rasidi sampai perlu lembur hingga pukul 12 malam di kampus untuk menyiapkan semua berkas untuk sidang. Sendirian di kantor. Kadang-kadang dosen penguji memberitahukan secara mendadak kalau tidak bisa menguji, maka Pak Rasidi harus menelpon malam-malam itu mencari dosen pengganti. Kadang-kadang jadwal sidang yang harus diubah karena permintaan dosen, maka Pak Rasidi menelpon mahasiswa memberitahukan perubahan itu.

Pernah suatu waktu setelah peak season Pak Rasidi tidak masuk beberapa hari. Sakit. Karena sering duduk dan menahan buang air kecil (toilet di kampus dikunci pada malam hari), maka Pak Rasidi mengalami encok dan saraf kejepit. Dia sampai susah untuk duduk dan harus diterapi beberapa kali sampai pulih kembali.

Namun alam tetaplah fana. Sebagaimana manusia lain umumnya, Pak Rasidi tidak bisa melawan kehendak alam. Setiap orang akan menua dan pada waktunya tiba ia harus menyingkir dari panggung kehidupan, digantikan oleh tenaga yang lebih muda. Pak Rasidi akan memasuki masa purnabakti dari kampus ITB, menikmati hidup barunya dengan tenang dan jauh dari rutinitas kampus yang tidak pernah berhenti beraktivitas.

Klik video di Youtube yang berisi penuturan Pak Rasidi ketika diwawancarai satu tahun menjelang masa purnabaktinya.


Written by rinaldimunir

October 7th, 2013 at 8:40 pm

CALL FOR PAPER Jurnal Cybermatika, Vol. 1 No. 2 Tahun 2013 (Edisi Desember 2013)

without comments

Jurnal Cybermatika, yang diterbitkan oleh KK-Informatika STEI-ITB, mengundang para peneliti, pengkaji, praktisi, industri, dan pemerhati bidang informatika untuk mengirimkan makalahnya untuk diterbitkan pada edisi kedua (Vol. 2) pada bulan December 2013.

Makalah dapat dikirimkan melalui email ke: cybermatika@stei.itb.ac.id atau melalui situs ini : http://cybermatika.stei.itb.ac.id. Format makalah dapat diunduh di sini. Makalah dapat dikirimkan sewaktu-waktu, penerbitan berikutnya akan dilakukan sesuai tanggal-tanggal penting Cybermatika Vol. 1 No. 2 (Edisi December 2013) berikut ini:

Batas penerimaan makalah : 1 Oktober 2013
Pengumuman penerimaan makalah: 18 November 2013.

Semua makalah yang diterima, akan melewati proses peer-review secara anonim oleh dua orang reviewer. Setelah proses review selesai, hasil review akan diinformasikan kepada penulis karya ilmiah melalui email.

Ruang lingkup makalah adalah (namun tidak terbatas pada):

Artificial Intelligence
Computer Graphics and Animation
Image Processing
Cryptography
Computer Network Security
Modelling and Simulation
Information Retrieval
Information Filtering
Multimedia
Bioinformatics and Telemedicine
Computer Architecture Design
Computer Vision and Robotics
Parallel and Distributed Computing
Operating System
Compiler and Interpreter
Information System
Game
Numerical Methods
Mobile Computing
Natural Language Processing
Data Mining
Cognitive System
Algorithm and complexity
Human computer interaction
Digital Speech Processing
Cloud Computing

Keterangan lebih lengkap silahkan klik ini: http://cybermatika.stei.itb.ac.id/. Adapun makalah yang diterbitkan pada Vol. 1 No. 1 (Edisi Juli 2013) dapat dilihat pada pranala berikut: http://cybermatika.stei.itb.ac.id/ojs/index.php/cybermatika/issue/view/1

Cover CYBERMATIKA


Written by rinaldimunir

July 28th, 2013 at 1:15 pm

JURNAL CYBERMATIKA, “Call for Paper” untuk Edisi Pertama

without comments

Bagi anda para akademisi (dosen, mahasiswa), peneliti, dan praktisi di bidang Informatika, Kelompok Keilmuan (KK) kami yang bernama KK Informatika ITB menerbitkan jurnal ilmiah yang kami beri nama JURNAL CYBERMATIKA. Dahulu Jurusan (sekarang Program Studi) Informatika ITB pernah menerbitkan jurnal ilmiah yang bernama JURNAL INFORMATIKA. Namun, jurnal tersebut hanya bertahan sampai tiga edisi, kemudian mati. Alasan klasiknya adalah kekurangan naskah (yang berbobot tentu), disamping pengelolaan yang kurang intensif.

Sejak ditunjuk sebagai Ketua KK-Informatika akjhir tahun yang lalu, saya mencoba menerbitkan jurnal Informatika kembali, tetapi kali ini berganti nama menjadi JURNAL CYBERMATIKA. Nama ini adalah usulan Profesor Iping Supriana, senior kami. Bersama teman-teman dosen di KK-Informatika, kami membuat situs web jurnal dengan memanfaatkan aplikasi Open Journal System (OJS). Melalui situs web tersebut, JURNAL CYBERMATIKA akan mempublikasikan secara daring (online) makalah-makalah yang diterima pada setiap edisi. Nantinya jurnal mempunyai dua edisi, edisi cetak dan edisi daring. Alamat situs web jurnal adalah: http://stei.itb.ac.id/jurnal_kk_if/

Berikut ini deskripsi dan ruang lingkup makalah yang diterbitkan di dalam JURNAL CYBERMATIKA (copas dari web tersebut):

Jurnal CYBERMATIKA adalah jurnal ilmiah nasional dalam Bahasa Indonesia untuk bidang Informatika yang dikelola oleh Kelompok Keahlian Informatika (KK-IF), Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI), Institut Teknologi Bandung (ITB). Jurnal ini bertujuan sebagai media publikasi hasil-hasil penelitian bagi para akademisi, peneliti, dan praktisi di bidang Informatika.

Jurnal CYBERMATIKA terbit dua sekali setahun, yaitu pada Bulan Juni dan Desember. Makalah yang dipublikasikan di dalam Jurnal CYBERMATIKA haruslah naskah yang orisinal dan memiliki state-of-the-art bidang keilmuan Informatika. Ruang lingkup makalah adalah (namun tidak terbatas pada):

Artificial Intelligence
Computer Graphics and Animation
Image Processing
Cryptography
Computer Network Security
Modelling and Simulation
Information Retrieval
Information Filtering
Multimedia
Bioinformatics and Telemedicine
Computer Architecture Design
Computer Vision and Robotics
Parallel and Distributed Computing
Operating System
Compiler and Interpreter
Information System
Game
Numerical Methods
Mobile Computing
Natural Language Processing
Data Mining
Cognitive System
Digital Speech Processing
Machine Learning
Expert System
Geographical Information System
Computing Theory

Kami mengundang para akademisi, peneliti, dan praktisi di bidang Informatika untuk mempublikasikan hasil-hasil penelitiannya di dalam Jurnal CYBERMATIKA.

Untuk edisi pertama yang akan terbit pada bulan Juni mendatang, kami membuat pengumuman Call for Paper (CFP) untuk mengundang akademisi, peneliti, dan praktisi mengirim makalahnya ke JURNAL CYBERMATIKA.

Call For Paper for June 2013 Edition (1st Edition)

Cybermatika mengundang para peneliti, pengkaji, praktisi, industri, dan pemerhati bidang informatika untuk mengirimkan papernya untuk diterbitkan pada edisi perdana di bulan Juni 2013.

Makalah dapat dikirimkan melalui situs ini : stei.itb.ac.id\jurnal_kk_if
atau melalui email ke: cybermatika@stei.itb.ac.id.
Format makalah dapat diunduh di sini.

Tanggal-tanggal penting Cybermatika Edisi Juni 2013 (Vol. 1 No. 1)

Batas penerimaan makalah : 25 April 2013

Pengumuman penerimaan makalah: 25 Mei 2013.

Semua makalah yang diterima, akan melewati proses peer-review secara anonim. Setelah proses review selesai, hasil review akan diinformasikan kepada penulis karya ilmiah melalui email.

Nah, berminat mengirim naskah makalah anda ke jurnal kami? Kami tunggu.

(mohon CFP ini dsebarluaskan melalui milis-milis, web, email, dan lain-lain)


Written by rinaldimunir

April 2nd, 2013 at 9:27 pm

PilGub Jabar 2013, Semua Calon Kurang Bagus

without comments

Rakyat Jawa Barat akan memilih Jabar 1 pada tanggal 4 Februari nanti. Siapa yang akan anda pilih? Menurut saya, semua calon gubernur dan wakil gubernur yang maju tidak ada yang bagus. Debat cagub-cawagub di TV isinya normatif semua, tidak ada yang memberikan langkah kongkrit yang menyentuh permasalahan rakyat Jawa Barat. Apa permasalahan warga Jawa Barat? Sebagai propinsi dengan jumlah penduduk nomor dua terbanyak setelah Jawa Timur, persoalan utama rakyat Jabar adalah kemiskinan dan pengangguran. Selama lima tahun masa jabatan gubernur yang lama memimpin, tidak banyak perubahan yang dirasakan masyarakat. Rakyat Jabar tetap saja banyak yang miskin, pengangguran di mana-mana. Belum lagi ditambah dengan pencemaran alam karena limbah pabrik, banjir yang tidak pernah berhenti pada musim hujan, anak-anak putus sekolah, dan sebagainya.

pilgubjabar

Marilah kita simak para calon gubernur dan calon wakil gubernur itu satu per satu, sesuai dengan nomor urutnya.

1. Dikdik Mulyana Arief Mansur – Cecep Nana Suryana Toyib.
Ini pasangan calon yang kurang dikenal, mereka maju melalui jalur independen. Siapa mereka sebelumnya? Sebagian Anda mungkin kenal mereka, tetapi jujur saja saya tidak tahu (menurut informasi terakhir yang saya baca, Pak Dikdik dulu adalah Kapolda Sumatera Selatan, tapi Sumsel itu kan jauh dari Jabar). Ketidaktahuan kita kepada pasangan ini berpengaruh terhadap pilihan, karena dalam memilih pemimpin orang cenderung melihat figur: dikenal apa tidak? Kalau tidak dikenal ya tidak masuk hitungan pemilih. Boleh dibilang Didkdik-Cecep adalah pasangan calon penggembira saja. Memang dari hasil-hasil survey pasangan Dikdik dan Cecep selalu berada pada elektabiltas paling bawah dari lima pasang calon. Dari segi calon independen sebenarnya mereka membawa harapan sebab mereka tidak terikat kepentingan dengan parpol. Namun, citra calon jalur independen langsung rontok gara-gara kasus Aceng (Bupati Garut yang juga berasal dari jalur independen). Orang-orang gampang saja menggeneralisasi, jangan-jangan nanti gubernur dari jalur independen seperti Aceng pula. Tentu tidaklah ya. Namun jangan kaget, Dikdik adalah calon gubernur paling kaya, harta kekayaannya saja 30 milyar bo!

2. Irianto MS Syafiuddin (Yance) – Tatang Farhanul Hakim
Ini adalah pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur dari Golkar. Pak Yance pernah dua kali menjadi Bupati Indramayu dan sejak dulu punya ambisi menjadi Gubernur Jabar (dia selalu memasang iklan setengah halaman secara rutin di kotran lokal dan koran nasional untuk menjual “kebaikan” dirinya). Sebelum proses penjaringan calon gubernur, baliho Pak Yance berukuran raksasa menghiasi tempat-tempat strategis di kota Bandung. Dari segi popularitas, Pak Yance satu tingkat di atas Pak Dikdik. Kans Pak Yance dan temannya untuk menang menurut saya sangat tipis. Mungkin dia dapat meraih suara yang cukup besar di daerah basisnya yaitu kawasan Indramayu-Cirebon, tetapi di tempat lain dia tidak terlalu dikenal.

3. Dede Yusuf – Lex Laksamana.
Mereka adalah Calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang diusung oleh gabungan Partai Demokrat dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan Partai Amanat Nasional (PAN). Siapa yang tidak kenal Dede Yusuf? Artis iklan “Bodrex” yang menjadi idola ibu-ibu. Dede Yusuf adalah calon petahana. Dia sudah pecah kongsi dengan gubernur Ahmad Heryawan. Tanda-tanda perpecahan sudah tercium sejak dua tahun lalu, mereka terlihat seperti dalam “perang dingin”, namun tidak sampai putus di tengah jalan. Pak Aher dan Dede tetap jaim seolah-olah di antara mereka tidak ada apa-apa, namun sesungguhnya ada apa-apa, dan tanda-tanda ketidakakuran sudah terlihat sejak lama. Rupanya Aher yang terlalu dominan dalam membuat kebijakan dan tidak melibatkan Dede Yusuf telah membuat hubungan mereka tidak harmonis. Sekarang Dede maju menjadi Cagub dan ingin menunjukkan eksistensinya bahwa dia pun mampu menjadi pilihan rakyat Jabar.

Apa ya yang sudah dilakukan Dede Yusuf selama lima tahun menjadi Wagub? Rasanya tidak banyak kiprahnya yang saya dengar, sebab sebagai orang nomor dua itu di mana-mana statusnya hanyalah menjadi “ban serep” gubernur. Ia tidak punya kuasa yang cukup besar untuk membuat kebijakan, sebab ia akan selalu dibayang-bayangi atasannya, yaitu sang gubernur. Namun, dari segi elektabilitas Dede bersaing sangat ketat dengan Aher, dan hasil-hasil survey selalu menempatkan Dede dan Aher saling kejar mengejar. Sesungguhnya dalam Pilgub nanti yang terjadi adalah rivalitas antara Dede dan Aher. Namun, karena Dede maju dari Partai Demokrat, kisruh Partai Demokrat yang dilanda persoalan korupsi dan diramalkan akan karam cukup berpengaruh pada persepsi orang Jabar terhadap Dede Yusuf. Sejauh mana rakyat Jabar menghubungkan Partai Demokrat dengan Dede Yusuf, itu sangat menentukan keterpilihan dia nanti.

4. Ahmad Heryawan – Deddy Mizwar
Ini adalah pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura). Sama seperti Dede Yusuf yang dipengaruhi oleh isu Partai Demokrat, Aher juga dibayangi masalah tidak sedap yang menimpa partainya, yaitu kasus suap daging sapi yang membuat ditangkapnya LHI, Presiden PKS. Sejauh mana kasus itu berpengaruh dalam pilihan rakyat Jabar bergantung pada sejauh mana orang mempersepsikan dirinya dengan PKS. Memang hasil survey terbaru menempatkan elektabilitas dia sedikit di atas Dede Yusuf, tetapi hasil-hasil sementara bisa saja berubah: naik atau turun, bergantung pada isu daging sapi yang akan menjadi bola liar dan sejauh mana PKS bisa meredamnya.

Ahmad Heryawan pada tahun 2008 bisa menang karena faktor dominan Dede Yusuf. Dia tidak dikenal oleh mayoritas orang Jabar, namun berkat popularitas Dede Yusuflah Pak Aher bisa terpilih menjadi Gubernur. Jadi, seharusnya Pak Aher ini berterima kasih kepada Dede Yusuf (yang ini tidak pernah diakuinya sebagai faktor kemenangan), namun di tengah jalan dia meninggalkan Dede Yusuf dan meniadakan perannya. Setelah pecah kongsi dengan Dede Yusuf, Aher pun mencari artis lain untuk mengimbangi popularitas Dede Yusuf. Pilihan pun jatuh pada Deddy Mizwar, si jenderal Naga Bonar. Berkat popularitas Deddy Mizwar, elektablitas Aher tertolong kembali, naik cukup signifikan. Diperkirakan Aher akan terpilih kembali bila tidak ada isu luar biasa yang menimpa Dede Yusuf selain isu Partai Demokrat.

Sama seperti Dede Yusuf, saya juga tidak melihat apa prestasi Aher selama menjabat menjadi gubernur. Yang mengatakan Aher banyak prestasi kebanyakan dari kader-kader PKS sendiri, lengkap dengan cerita-cerita betapa randah hati dan merakyatnya sang ustad (seperti tidak ingin kalah merakyat dengan Jokowi). Prestasi yang diklaim puluhan buah itu tidak bisa dianggap sebagai kesuksesan sang gubernur, sebab bisa saja sebagian prestasi itu adalah kerja keras staf atau bawahannya tetapi diangap sebagai prestasi gubernur. Oh ya, karena media tidak banyak mempublikasikan keberhasilan Pak Aher, maka para pendukungnya mensiasati dengan membuat puluhan baligo dengan wajah Aher tersenyum mendapat penghargaan, saya sampai muak melihatnya. Baligo-baligo yang menyanjung-nyanjung personal itu terasa ironi dengan ideologi partainya yang anti dengan pengkultusan individu.

5. Rieke Diah Pitaloka – Teten Masduki
Ini adalah pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang diusung oleh Partai demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Gerindra. Sayangnya Rieke meniru mentah-mentah gaya kampanye Jokowi, terutama simbol baju kotak-kotak. Orang melihat pasangan ini tidak punya rasa percaya diri dengan melakukan copy paste gaya Jokowi-Ahok. Rieke sepertinya ingin meniru keberhasilan Jokowi dalam Pilgub DKI, tetapi dia lupa masa euforia Jokowi sudah hampir selesai. Publik belum melihat “keberhasilan” Jokowi dalam menangani persoalan besar di Jakarta yaitu banjir dan kemacetan. Banjir besar di Jakarta bulan Desember yang lalu membuka mata publik bahwa Jokowi toh masih biasa-biasa saja, dia bukan superman seperti yang dibayangkan orang. Hanya gaya blusukan Jokowi yang membuat dia masih disambut meriah dan menjadi media darling karena blusukan itu membuat dia sangat merakyat.

Lagipula harus diingat bahwa medan Jakarta tidak sama dengan medan Jabar yang sangat luas dan lebih homogen. Jakarta multikultur, rakyatnya lebih terbuka dan well-informed, sedangkan Jabar terasa sangat nyunda dan tidak bisa dipisahkan dari agama (Islam).

Nah, Rieke alias Oneng telah mengambil strategi yang salah dengan mem-foto-copy Jokowi. Baju kotak-kotak ternyata tidak laku di daerah, buktinya dalam Pilgub Sulawesi Selatan pasangan kotak-kotak kalah telak oleh petahana. Hasil-hasil survey menempatkan elektabilitas Rieke nomor 3 setelah Aher dan Dede. Status Rieke sebagai aktivis buruh tidak cukup kuat mendongkrak elektabilitasnya. Selama menjadi aktivis dan anggota DPR prestasi apa yang telah diperbuatnya? Kebanyakan yang dipersepsi publik adalah Rieke hanya bisa cuap-cuap saja tetapi action tidak ada. Dan jangan lupa, rekam jejak Rieke sebagai pengusung paham pluralisme dan liberalisme (ingat penolakannya terhadap UU Pornografi) menjadi catatan tersendiri bagi kalangan muslim kritis. Rieke juga lupa bahwa rakyat Jawa Barat terkenal agamis dan sering menghargai simbol-simbol agama, maka dengan penampilannya tanpa memakai kerudung cukup menjauhkannya dari ibu-ibu majelis taklim, kalangan santri, dan kelompok-kelompok agamis lainnya.

Jadi, siapa yang anda pilih pada tanggal 24 Februari nanti. Pilihlah yang paling bagus dari semua calon yang tidak bagus itu.


Written by rinaldimunir

February 11th, 2013 at 11:27 pm

Menjadi Desainer di Informatika

without comments

Setiap kali memeriksa berkas ujian mahasiswa, saya sering menemukan lembar jawaban yang dicorat-coret menggunakan pulpen atau tinta. Mungkin menulisnya salah, tetapi karena ditulis pakai pulpen (pena) atau tinta maka kesalahan itu tidak bisa dihapus, maka dicoretlah dan diganti dengan tulisan yang baru. Kalau dihapus pakai tip-ex perlu menunggu kering dulu sebelum ditimpa tulisan baru, tentu tidak praktis ditengah waktu ujian yang terbatas.

Padahal saya sudah sering kali mengingatkan kepada mahasiswa agar menulis jawaban menggunakan pensil saja. Memakai pensil akan membuat lembar jawaban anda bersih, kalau salah tinggal dihapus dengan penghapus saja. Tetapi, ada alasan yang lebih esensi daripada sekedar bersih saja. Di bawah ini penjelasannya.

Mungkin anda heran mengapa saya lebih suka mahasiswa saya di Informatika ITB memakai pensil saja ketimbang pulpen atau tinta. Bagi kami, profesi di Informatika tidak ubahnya sebagai desainer. Jangan sangka desainer hanya milik orang seni atau perancang mode saja, tetapi seorang enjinir sesusungguhnya adalah seorang desainer. Seorang enjiner merancang model solusi dari proyek yang dikerjakannya, dan dalam pekerjaan merancang itu memerlukan kegiatan mensketsa bagan, diagram, perhitungan, skema, dan sebagainya. Pensil adalah alat tulis yang tepat untuk kegiatan merancang model solusi persoalan.

Secara khas, di Informatika, kegiatan mendesain itu banyak macamnya. Merancang algoritma, kode program, diagram use case, diagram kelas, data flow diagram, model entity-relationship, dan lain-lain, adalah pekerjaan seeorang desainer informatika. Pensil merupakan alat tulis yang cocok untuk kegiatan merancang seperti ini. Meskipun pekerjan merancang seperti itu sudah banyak dikerjakan menggunakan peralatan komputer (ipad, komputer tablet, dll), tetapi menggunakan alat tulis konvensionil seperti pensil dan penghapus tetap tidak bisa tergantikan keluwesannya.

Oleh karena itu, sejak menjadi mahasiswa di Informatika, saya sering membiasakan mahasiswa menjawab ujian menggunakan pensil dan penghapus saja. Dalam ujian di Informatika banyak sekali kegiatan mendesain seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Cukuplah penulisan nama, NIM, dan tanda tangan menggunakan pulpen (karena nama, NIM, dan tanda tangan sudah statik bukan?)


Written by rinaldimunir

December 25th, 2012 at 5:16 pm