if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Seputar Informatika’ Category

Setelah PPDB SMP Kota Bandung Berlalu

without comments

Hari ini saya datang ke SMPN 44 Bandung di Jalan Cimanuk No. 1, pertigaan dengan Jalan Riau (Jl. R.E Martadinata, jalan yang terkenal dengan sederetan Factory Outlet atau FO). Tujuan ke sini adalah untuk melakukan daftar ulang anak yang diterima di SMP negeri tersebut. Alhamdulillah, Tuhan mentakdirkan anak bungsuku bersekolah di SMP ini melalui proses PPDB  pada bulan puasa yang lalu. Kota Bandung memang paling cepat menyelenggarakan PPDB di antara semua kota/kabupaten di Jawa Barat.

PPDB tahun ini menerapkan full sistem zonasi. Semua sekolah negeri di Indonesia harus tunduk pada Peraturan Menteri Kemendikbud yang mengharuskan penerimaan siswa baru SMP/SMA berdasarkan jarak rumah ke sekolah. Siapa yang rumahnya makin dekat ke sekolah, maka peluangnya diterima di sekolah tersebut makin besar. Tidak perlu belajar serius di tingkat sekolah sebelumnya, punya nilai NEM (nilai USBN atau nilai UN) rendah pun tetap bisa masuk asal rumahnya tidak jauh dari sekolah. Siswa yang punya NEM tinggi tapi rumah jauh dari sekolah terpaksa gigit jari, tersingkir dari sekolah yang diinginkannya.

Sistem zonasi memang sudah berhasil menghilangkan sekolah-sekolah berlabel favorit. Siswa dengan NEM bagus tersebar merata di berbagai sekolah. Sekolah-sekolah SMP favorit yang terletak di tengah kota di Bandung seperti SMPN 2, 5, 7, 13, dan 44 melalui sistem zonasi tahun 2019 ini rata-rata menerima siswa dengan NEM yang rendah. Tidak banyak siswa memiliki NEM bagus. Sistem zonasi di Bandung hanya memberi kuota 2,5% saja menerima siswa berdasarkan nilai NEM, atau setara 7 hingga 8 orang saja, 2,5 % lagi berdasarkan prestasi perlomabaan, dan 5% untk siswa mutasi. Sisanya 90% berdasarkan jarak, itu sudah termasuk jalur kombinasi sebesar 20% yang menerima siswa berdasarkan kombinasi jarak rumah dan nilai NEM.

Sistem PPDB yang selalu berubah-ubah setiap tahun memang memusingkan orangtua. Saya mengapresisi tujuan sistem zonasi, yaitu untuk memeratakan mutu sekolah, tidak ada lagi sekolah favorit atau tidak favorit. Tetapi apresiasi itu dengan syarat, yaitu sekolah tersebar secara merata dan kualitasnya juga merata, sehingga masuk sekolah mana saja sama saja. Namun sayangnya, di kota Bandung penyebaran sekolah dan kualitasnya tidak merata, oleh karena itu sistem zonasi belum bisa diterapkan secara penuh. Tentang hal ini sudah  pernah saya tulis pada posting tahun lalu (baca ini). Kalau belum bisa diterapkan secara penuh, maka fifty-fifty saja, yaitu 50% menerima siswa berdasarkan jarak dan 50% lagi berdasarkan NEM. Lebih fair dan lebih adil bagi semua pihak.

Tahun ini kabinet menteri akan berganti lagi karena presidennya baru. Mendikbud yang sekarang kemungkinan akan diganti juga. Kita semua sudah mahfum dengan slogan ganti menteri ganti aturan. Bukan tidak mungkin Mendikbud yang baru akan mengubah lagi mekanisme PPDB. Siap-siap saja orangtua dipusingkan dengan aturan yang berubah-ubah. Tiga tahun lagi ketika anak saya tamat SMP entah seperti apa pula aturan PPDB masuk SMA.

Jalan Cimanuk yang teduh

Alhamdulillah, proses pendaftaran ulang siswa baru sudah selesai di tempat sekolah anak saya. Sekolah yang berada di kawasan belakang Gedung Sate ini berada di kawasan yang teduh dan rindang, banyak pohon besar, dan tidak dilalui kendaraan umum. Mudah-mudahan sekolah ini adalah yang terbaik yang dipilihkan Tuhan untuk anak saya. Tahun lalu SMPN 44 meraih predikat sekolah berbudaya religi. Itu artinya SMPN 44 memiliki pola pendidikan karakter yang kuat. Insya Allah.

Written by rinaldimunir

June 17th, 2019 at 4:47 pm

In Memoriam Prof. Iping Supriana

without comments

Sudah hampir dua minggu guru kami, Prof. Iping Supriana, meninggalkan kami di Informatika ITB. Kepergiannya sangat mendadak. Pagi hari Jumat 29 Maret 2019 pukul 6.30 pagi saya menerima pesan dari grup WA tentang kabar duka tersebut. Kaget dan shock! Ya, bagaimana tidak kaget, sebab satu hari sebelumnya saya masih melihat beliau di Aula Timur ITB, saat ada acara asesor serdos di kampus ITB.  Selama ini kami tidak pernah mendengar Prof mederita sakit. Sehat-sehat saja nampaknya. Hari Rabu pun kami di Kelompok Keilmuan Informatika masih rapat bersama dengan beliau. Tapi umur memang rahasia Ilahi. Ajal bisa datang sewaktu-waktu kapan saja dan kita tidak pernah tahu kapannya itu. Prof Iping wafat pada hari baik, hari Jumat subuh dan tidak menyusahkan siapapun, sebab meninggalnya dalam keadaan tidur. Semoga khusnul khotimah, amin.

prof iping

Sesungguhnya saya cukup intens berinteraksi dengan beliau. Saya yunior, beliau senior. Lab saya di depan lab beliau. Kami pun satu kelompok keahlian, dan beliau adalah ketuanya.

Prof Iping adalah sosok humoris, ramah, suka menyapa siapapun, dan jenius. Untuk yang terakhir, siapapun pasti angkat topi. Risetnya banyak,  karyanya tak terhitung. Meskipun sudah sangat senior, tetapi beliau masih aktif melakukan programming, menulis program atau mengembangkan aplikasi untuk riset maupun karyanya. Biasanya banyak guru besar sudah tidak menekuni lagi aktivitas programminng karena lebih fokus pada level abstraksi atau konstruksi model penyelesaian masalah sehingga memprogram sudah tidak dilakukan lagi, jarang, atau bahkan tidak pernah lagi. Sebaliknya, Prof Iping masih melakukan keduanya, ya konstruksi model, abstraksi persoalan, hingga memprogramnya.

Konsistensinya melakukan aktivitas coding dan programming (dua hal yang berbeda) sungguh luar biasa, tidak mengenal tempat dan waktu. Di sela-sela rapat dan seminar pun beliau masih menyempatkan diri menyelesaikan programnya. Bahkan, ketika kami jalan-jalan rekreasi pun beliau tetap asyik memprogram di laptopnya. Sebatang rokok tidak pernah lepas dari tangan.

Foto di bawah ini adalah di Pantai Senggigi, Lombok pada tahun 2015. Ketika kami asyik menikmati suasana sore di pantai menjelang sunset, beliau malah asyik sendiri memprogram di tepi pantai dengan laptop setianya.

Kalau foto di bawah ini di Chonburi, Thailand. Pagi-pagi di halaman belakang hotel di Chonburi, Thailand, beliau sudah sibuk mengkoding program, padahal rekan-rekan kami sedang sarapan dan menyiapkan konferensi ICAICTA 2015 di Chonburi, Thailand.

Meskipun rajin meneliti dan memprogram, namun sholat berjamaah di mushola maupun di masjid Salman ITB tidak pernah dilalaikannya. Beliau selalu sholat Dhuhur dan Ashar di Salman.

Jika tidak sholat di Salman, beliau sholat di mushola di LabTek 5. Saya sering jadi makmumnya. Nah, seringkali sesudah sholat berjamaah beliau mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang susah saya jawab, namun dari situ saya belajar hal yang baru yang banyak belum saya ketahui tentang ilmu agama. Setiap kali selesai diskusi dengan Prof Iping, selalu saya tuangkan ke dalam tulisan di blog ini. Beberapa tulisan saya di blog wordpress terinspirasi dari diskusi dengan beliau. Berikut beberapa tulisan saya yang saya sarikan dari beliau.

  1. Sedang Apa Allah Sekarang

Setelah sholat Dhuhur berjamaah dengan seorang profesor di kampus saya, beliau mengajukan pertanyaan kepada kami (jamaah sholat): “Pernahkah terpikir, sedang apa Allah sekarang?”

Hmmm…pertanyaan sederhana, namun sulit juga menjawabnya. Selama ini saya atau kita tidak pernah terpikir Tuhan itu sedang melakukan apa. Tidak terpikir sampai ke situ. Sedang melihatkah? Sedang mendengarkah? Sedang mengamati makhluk-Nya kah?

Pak Prof menunjukkan jawabannya. Coba buka Surat Ar-Rahman ayat 29 katanya, di sana ada jawabannya. Saya bukalah Al-Quran, dan ketemulah ayat 29 pada Surat Ar-Rahman yang artinya sbb: …. (dst, silakan baca selengkapnya pada tautan di atas)

2. Allah Menjawab Al-Fatihah yang Kita Baca 

(Ini masih lanjutan posting saya sebelumnya)

Pak Prof bertanya kepada kami, pernahkah terpikirkan bahwa Allah SWT selalu menjawab setiap bacaan Al-Fatihah yang kita baca di dalam sholat? Hal itu ditemukan penjelasannya dalam sebuah hadis qudsi, kata Pak Prof.

Benar, saya baru tahu jika Allah selalu menjawab setiap kali kita membaca ayat-ayat Al-Fatihah di dalam sholat. Maklum, ilmu saya masih dangkal sekali.

Lanjut Pak Prof, ketika kita membaca “Alhamdulillahirabbil ‘alamiin“, maka Allah menjawab, “Hamba-Ku telah memujiKu” …. ( …. (dst, silakan baca selengkapnya pada tautan di atas)

3.  Zikir pagi dan petang

(Pencerahan ketiga dari Prof.  Kalau yang ini tidak ada tulisannya di blog, saya tulis di laman Facebook) Ketika jalan-jalan di Lombok kemarin, saya sekamar dengan Prof Iping Supriana. Usai sholat maghrib, beliau bertanya kepada saya, “Pernah dengar nggak sayyidul istighfar?”

“Belum”, jawab saya polos, maklum ilmu saya masih jauuuh di bawah .

“Kalau dibaca setiap pagi dan sore, maka kita dijamin menjadi ahli surga”, lanjut Pak Prof.

Saya manggut-manggut, penasaran, seperti apa sayyidul istighfar itu sehingga membacanya pagi dan petang maka jika kita mati akan menjadi ahli surga.

Segera deh saya langsung gugling di Internet, dan dapatlah penjelasannya. Sayyidul istighfar adalah penghulunya istighfar atau the king of istighfar. Istighfar ini merupakan bacaan istighfar yang seharusnya menjadi nomor urut pertama apabila kita ingin membiasakan membacanya, artinya jangan sampai bacaan sayyidul istighfar ini ditinggalkan, sementara bacaan istighfar yang lainnya selalu dibaca.

Begini bunyi dzikir sayidul istighfar:

?????????? ?????? ?????? ??? ?????? ?????? ??????? ??????????? ??????? ????????? ??????? ????? ???????? ?????????? ??? ???????????? ??????? ???? ???? ????? ??? ????????? ??????? ???? ???????????? ???????? ????????? ???? ????????? ????????? ???? ????????? ??? ???????? ?????????? ?????? ??????

ALLAA-HUMMA ANTA RABBII LAA ILAAHA ILLA ANTA KHALAQTA-NII WA ANA ‘ABDUKA WA ANA ‘ALAA ‘AHDIKA WA WA’DIKA MAS-TA-THA’-TU A-‘UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA’THU ABUU-U LAKA BINI’-MATI-KA ALAYYA WA ABUU-U LAKA BI DZAM-BII FAGH-FIR-LII FAINNAHUU LAA YAGH-FIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA

yang artinya:

“Yaa Allah, Engkau adalah RabKu, tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkau yang telah menciptakan aku, aku hambaMu, aku senantiasa dalam ikrarku kepadaMu (untuk mengesakan-Mu) dan janjiMu (kepadaku untuk membalas dengan surga karena tauhidku) sebatas kemampuanku. Aku berlindung kepadaMu dari kejelekan perbuatanku. Aku akui segala nikmat yang Engkau berikan kepadaku dan aku akui dosa-dosaku, maka ampunilah aku. Karena tiada yang bisa mengampuni dosa selain Engkau.”

Tentang keutamaan sayyidul istighfar, begini hadisnya:

Dari Syaddad bin Aus radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Sayyidul Istighfar adalah bacaan: ….beliau menyebutkan doa di atas. Kemudian beliau menyebutkan keutamaannya:

“Barangsiapa yang membaca do’a ini dengan penuh keyakinan di sore hari, kemudian dia mati pada malam harinya maka dia termasuk ahli surga. Dan barangsiapa yang membacanya dengan penuh keyakinan di pagi hari, kemudian dia mati pada siang harinya maka dia termasuk ahli surga.” (HR. Al Bukhari 5522)

Subhanallah, Maha Suci Allah SWT.

Yuukk… mari membaca Isayyidul istighar ini pagi dan petang, sehingga jika kita mati pada siang atau malamnya, maka Allah menjadikan kita ahli syurga.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Demikianlah kenangan saya dengan guru kami, Prof. Iping Supriana. Semoga beliau mendapat tempat yang layak di Sisi-Nya, dan amal sholehnya diterima oleh Allah SWT. Amin. Selamat jalan, Prof.

Written by rinaldimunir

April 11th, 2019 at 2:11 pm

Berdamai dengan Diri Sendiri (Dialog dengan Mahasiswaku)

without comments

Sambil berjalan kaki dari Masjid Salman ke Labtek 5 di Kampus Ganesha, seorang mahasiswa yang ikut berjalan di samping saya menceritakan dirinya yang sekarang telah berubah. Selama dua tahun dia merasa tidak punya motivasi kuliah, tidak semangat, merasa tidak cocok kuliah di Informatika. IPK pas-pasan. Jauh tertinggal dari teman seangkatan.

+ Lalu apa yang membuatmu sekarang berubah? Tanya saya.

– Saya mencoba mengerjakan proyek kecil-kecilan, pak. Tidak apa-apa dibayar murah. Itu cara saya untuk menyukai bidang Informatika.

+ Berapa nilai proyeknya?, tanya saya lagi.

– Satu juta saja, Pak.

+ Oh, tak apa-apa, biar kecil, yang penting kamu mulai menyukai bidangmu. Lalu apa lagi?

– Saya mencoba memasukkan lamaran magang ke beberapa perusahaan dari situs online. Tetapi semua ditolak. Ndak masalah. Saya mau coba cari lagi untuk mengisi liburan semester Desember dan Januari ini.

+ Baguslah. Itu artinya kamu sekarang sudah berdamai dengan dirimu sendiri. Perlu dua tahun untuk merenung. Belum terlambat. Kalau di tingkat empat kamu baru sadar, barulah itu terlambat.

…….

Dialog berakhir. Saya sudah sampai ke ruangan saya. Diapun berbalik pergi.

 

******

Begitulah. Setiap tahun ada saja di antara mahasiswa saya yang keteteran dalam kuliah. Ketinggalan dari teman-temannya yang lain. Penyebabnya macam-macam. Tidak semangat, tidak punya motivasi, malas, kecanduan game, dan sebagainya. Padahal mereka tidaklah bodoh. Kalau bodoh, tentu kamu tidak mungkin bisa lolos masuk Informatika STEI- ITB, kata saya selalu setiap memberi wejangan di kelas. Lolos masuk STEI-ITB itu susah, passing grade-nya paling tinggi se-Indonesia. Seharusnya kamu bersyukur bisa masuk ke sini, kata saya lagi.

Jika tidak mau mengubah diri sendiri, maka dunia tidak akan berubah. Apakah seterusnya malas, merasa kurang semangat? Wejangan dan nasehat setumpuk tidak mempan.

Saya yakin, mereka-mereka yang merasa tidak semangat kuliah itu karena belum berhasil mengalahkan dirinya sendiri. Mereka selalu dihantuai rasa bersalah sebagai orang yang tiada beruna. Hanya menghabiskan kiriman dari orangtua, tetapi di Bandung kuliah tanpa ada rasa.

Untunglah ada saja mahasiswa model begini tersadar. Setahun dua tahun habis waktunya untuk berperang dengan batin. Akhirnya dia bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Dia bangkit dari kekeliruannya yang selama ini sia-sia saja membuangbuang waktu. Mahasiwaku di atas contohnya.

Written by rinaldimunir

January 11th, 2019 at 5:12 pm

Pensiun (3)

without comments

Akhirnya satu persatu dosen senior saya memasuki masa purnabakti. Pensiun. Umur 65 tahun adalah batas usia seorang dosen mengabdi di almamaternya, kecuali profesor bisa sampai umur 70 tahun. Beberapa tahun sebelumnya sudah enam orang yang purnabakti. Tahun 2018 ini dua orang lagi. Dari semua dosen senior pendiri Informatika ITB, maka akan tersisa tiga orang yang masih mengabdi di tempat kami. Namun dalam beberapa tahun ke depan, sekitar empat hingga enam tahun lagi, mereka pun akan memasuki masa purna bakti pula. Maka, akan habislah dosen senior di almamater saya. Waktu ternyata berlalu begitu cepat. Empat atau enam tahun itu tidak terasa lama.

Saya yang selama ini merasa masih tetap dosen yunior, karena merasa nyaman dengan keberadaan dosen senior di atas saya, tiba-tiba harus merasa untuk bersiap-siap  menjadi dosen senior di almamater saya di Informatika ITB. Di bawah saya sudah banyak dosen muda yang berkiprah. Mereka menggantikan peran dosen yang telah pergi memasuki masa retired. Begitulah hidup, ada yang datang dan ada yang pergi. That”s life.  Pensiun adalah hukum alam yang tidak bisa ditolak.

Tiba-tiba saja saya merasa diri ini sudah tua. Sebenarnya saya sudah menyadari hal itu sejak beberapa tahun lalu, ketika rambut putih sudah mulai banyak bertaburan di atas kepala. Tetapi, saya sering tidak sadar karena alasan di atas, yaitu merasa nyaman dengan keberadaan dosen senior di atas saya, sehingga saya merasa masih muda saja, merasa masih perlu dibimbing oleh para senior. Tetapi dengan berlalunya waktu, mereka telah mulai meninggalkan kami. Itu artinya saya akan menggantikan peran mereka menjadi orang yang dituakan oleh para dosen yang lebih muda. Semoga saja saya bisa mengemban peran tersebut.

Suatu hari, saya pernah berjalan kaki bersama seorang dosen senior ketika kami mendapat tugas mengajar di Lampung. Satu tahun lagi dia akan memasuki masa purnabakti. Sembari kami berjalan kaki, saya menceritakan kesedihan saya yang akan merasa kehilangan setelah dia pensiun. Saya menceritakan saat saya diterima menjadi dosen ketika beliau menjabat Sekretaris Jurusan. Saya menceritakan wejangan yang dia berikan, nasehat yang dia berikan saat itu, tugas yang dia berikan kepada saya, lalu cerita masa-masa kami bersama menjalankan Jurusan (waktu itu masih bernama Jurusan Teknik Informatika). Entah kenapa saya merasa sentimentil.  Dia hanya tertawa dan mengatakan bahwa dia akan tetap sering ke kampus meskipun nanti sudah pensiun.

Ada satu hal yang membuat saya merasa betah berkiprah di kampus, yaitu keberadaan para mahasiswa. Itulah alasan mengapa saya tetap ada di sini. Mereka para anak muda yang haus ilmu pengetahuan. Mereka membutuhkan bimbingan dan panutan. Tiap hari saya masuk ke kampus, lalu pulang pada sore harinya. Terkadang, biarpun badan masih sakit saya paksakan juga ke kampus menemui mereka, mengajar di depan kelas, melayani bimbingan dan konsultasi. Tiba-tiba saja penyakit di badan terasa hilang, badan menjadi lebih ringan, tetapi di rumah badan mulai meriang lagi. Itulah kadang sukanya menjadi pengajar dan pendidik, rasa sakit lenyap ketika sudah berada di depan anak didik. Peran ini akan terus saya lanjutkan sampai tiba suatu masa saya mendapat giliran memasuki masa purnabakti pula, entah pada umur 65 atau umur 70. Wallahualam.

Written by rinaldimunir

February 2nd, 2018 at 3:45 pm

Berkas Ujian yang Sayang Dibuang

without comments

Semester genap di ITB baru saja selesai. Nilai-nilai mata kuliah sudah diumumkan. Seperti biasa, pada akhir semester saya selalu membagikan kembali semua berkas milik mahasiswa, baik itu berkas ujian mereka maupun berkas tugas lainnya. Saya taruh di atas meja lab, silakan diambil milik masing-masing. Namun, berkas ujian dan tugas itu seringkali tidak diambil lagi oleh mahasiswa setelah nilai diumumkan. Mungkin mereka merasa tidak perlu lagi, padahal menurut saya mendokumentasikan hasil-hasil pekerjaan dann ujian selama kuliah itu adalah penting.

berkas

Saya sendiri selalu menyimpan hasil-hasil ujian dan tugas sejak S1 hingga S3. Tujuannya bukan sekedar memorabilia untuk bernostalgia, tetapi mengingatkan perjalanan hidup yang pernah dilalui. Baik buruk hasilnya, itu adalah diri kita, sejarah kita.

Kebiasaan menyimpan hasil sekolah ini saya teruskan ke anak saya. Semua berkas ujian mereka, buku catatan, hasil karya, dll (kecuali buku cetak) saya simpan di dalam lemari, sampai penuh tuh lemari. Sampai-sampai istri saya  mengeluh karena lemari sudah penuh. Mau dibuang, tapi saya bilang jangan dulu. Sayang.

Berkas-berkas yang tidak diambil itu sayang sekali jika nanti dikilo di pasar loak lalu berakhir di kios gorengan untuk pembungkus pisang goreng atau pembungkus barang dagangan. Tertera di bungkus gorengan nilai UAS seorang mahasiswa mendapat nilai 35. Saya tersenyum kecut membaca jawaban ujiannya.

Di negara Belanda (cerita teman), berkas-berkas ujian mahasiswa disimpan di lemari universitas. Berkas-berkas itu hanya boleh dimusnahkan setelah 5 tahun (itu artinya setelah mahasiswa yang bersangkutan lulus). Jadi, berkas ujian mahasiswa tidak pernah ditemukan di pasar kertas bekas, tidak seperti di sini yang berakhir menjadi pembungkus gorengan.

Dokumentasi itu penting, sebab ia adalah sejarah diri kita.


Written by rinaldimunir

June 2nd, 2017 at 3:18 pm

Suka Duka Memeriksa Berkas Ujian Mahasiswa

without comments

120 x 7 = 840.
Fiuh! Segitulah jumlah soal ujian UTS yang sudah selesai saya periksa selama beberapa hari ini, semua jawabannya essay, bukan pilihan berganda. Semuanya 120 orang mahasiswa tingkat dua dikao tujuh soal. Itu baru dari satu mata kuliah, masih menunggu berkas UTS mata kuliah lain dengan jumlah mahasiswa yang sama tapi dengan sembilan soal.

Memeriksa berkas ujian adalah pekerjaan yang berulang-ulang dan menjemukan memang. Tujuh jawaban soal itu harus dibaca dengan seksama, sekali-sekali saya membuat coretan merah dan memberi skor nilai. Hal yang sama diulang untuk 119 berkas jawaban lainnya. Melelahkan, suddh pasti.

Jika tidak selesai diperiksa di kampus, maka saya bawa pulang semua berkas ujian tersebut. Berharap bisa selesai diperiksa di rumah, eh..ternyata tidak juga. Tidak disentuh malah, sebab saya sendiri sudah sibuk dengan urusan anak-anak di rumah. Akhirnya berkas ujian yang ratusan lembar itu saya bawa lagi ke kampus. Bolak-balik wae, kata orang Sunda. Capek-capek saja membawanya pulang.

Terkadang, saya pernah juga membawa berkas ujian mahasiswa pulang mudik waktu lebaran, berharap diperiksa di sana, dan…ha…ha..ha, ternyata sama saja, sama sekali tidak bisa diperiksa, sudah sibuk ke sana ke sini, padahal itu berkas sudah melanglangbuana naik pesawat ke Sumatera.

Naah, jika sudah selesai memeriksa semuanya, senang deh rasanya. Satu beban pekerjaan beres. Tinggal membeli coklat sebagai hadiah bagi mahasiswa peraih nilai tertinggi. Mmeberi hadiah coklat kepada mahasiswa yang mendapat nilai tertinggi sudah kebiasaan saya sejak dulu. Say with chocolate, karena coklat adalah kesukaaan anak muda.

~~~~~

Setelah menjadi dosen selama belasan tahun, maka saya sudah hafal tipe mahasiswa pasca ujian. Tiap-tiap mahasiswa itu beda-beda sikapnya setelah ujian selesai dilaksanakan. Setidaknya ada dua tipe mahasiswa. Tipe pertama adalah mahasiswa yang tidak mau lagi mempersoalkan jawaban ujian setelah ujian selesai. Ya sudahlah, bagaimana nanti dapat nilainya sajalah. Pasrah. Ini tipe mahasiswa yang realistis, mereka siap menerima apapun hasilnya.

Tapi ada juga tipe yang pundungan. Ini tipe kedua. Setelah ujian berlalu bukannya melupakan, malah menjadi pikiran terus. Dia merasa ada jawaban yang salah, dan takut mendapat nilai yang kecil. Curhatlah dia ke dosen kalau tadi menjawabnya begini begitu. “Kalau hasilnya salah, jalannya (maksudnya proses) tetap dihargai nilai kan pak?”, tanyanya penuh was-was. “Ya bagaimana jawabannya, nanti saya lihat dulu”, mencoba menenangkan. Saya tahu perasaannya galau. Menurut saya ini tipe mahasiswa yang tidak siap menerima hasil buruk. Jika dapat jelek, maka akan menjadi pikirannya berhari-hari. Ini mungkin hasil didikan orangtua yang menuntut target harus bagus, jika tidak, maka amarah menanti di rumah. Siap menang tapi tidak siap kalah.

Jawaban untuk permasalahan ini adalah sesegera mungkin membagikan hasil ujian, sehingga mahasiswa yang galau ini tidak lama-lama merasa didera rasa menyesal.

Apakah kamu termasuk tipe pertama atau kedua?

~~~~~~

Setiap kali saya memeriksa berkas ujian, seringkali saya kasihan memeriksa jawaban ujian mahasiswa yang kosong. Tidak bisa menjawabnyakah, malas belajarkah, atau pikirannya lagi di manakah, ah… saya tidak tahu penyebabnya. Tapi nilai nol tidak diinginkan siapapun, termasuk saya yang memberi nilai.

Baiklah, saya pun membuat pengumuman begini: barang siapa tidak bisa menjawab suatu soal, maka tulis ulang saja soalnya di lembar jawaban, saya akan beri nilai 1 sebagai “upah menulis“. Lumayan kan daripada nol.

Adakah pengumuman itu berpengaruh? Ternyata tidak juga. Tidak banyak yang mencoba mendapat nilai 1, mungkin tawaran yang tidak menarik. Atau, mereka gengsi barangkali.

Anda pernah punya pengalaman serupa?


Written by rinaldimunir

November 3rd, 2015 at 2:40 pm

Ketika Teman Seangkatan di ITB Maju ke Pilkada Kabupaten Sragen

without comments

Seorang teman seangkatan saya ketika dulu sama-sama kuliah di Informatika ITB, mencoba karir barunya sebagai politisi. Jaka Sumanta namanya, orang Sragen, Jawa Tengah. Jaka maju ke Pilkada Kabupaten Sragen sebagai calon Bupati Sragen periode yang baru (2016-2021). Jaka dan pasangannya calon wakil bupati, diusung oleh tiga partai yaitu PKB, PAN, dan PPP. Tahun 2015 memang tahun Pilkada, karena Pilkada serentak dilakukan di seluruh Indonesia.

Jaka Sumanta, tengah, berpeci.

Jaka Sumanta, tengah, berpeci.

Alumni ITB yang menjadi walikota, bupati, atau gubernur sudah banyak. Ridwan Kamil misalnya, alumnus Arsitektur ITB angkatan 1990 itu sukses memenangkan Pilkada Kota Bandung dan sekarang menjadi walikota yang populer. Selain itu masih ada Riza Falepi, alumnus Teknik Elektro angkatan 1989, yang menjadi walikota Payakumbuh, Sumatera Barat, dan Indra Catri, alumnus Teknik Planologi ITB angkatan 1983 yang menjadi Bupati Kabupaten Agam, masih di Sumatera Barat.

Nah, jika teman semasa kuliah sendiri yang maju sebagai calon pemimpin daerah, ya baru kali ini. Rasanya saya belum pernah mendengar ada alumni angkatan 1985 ITB yang menjadi bupati/walikota/gubernur.

Kenapa para alumni itu tertarik ikut Pilkada? Alasannya cukup melankolik, yaitu untuk memajukan tanah kelahiran. Jaka Sumanta berasal dari daerah Sragen. Menurutnya, Sragen memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan, terutama dalam sektor pertanian, dan itu semua untuk kemakmuran rakyat Sragen. :-)

Jaka Sumanta di antara pendukungnya di Sragen

Jaka Sumanta di antara pendukungnya di Sragen

Saya dan Jaka Sumanta kuliah di Jurusan Teknik Informatika ITB, kami sama-sama diterima di ITB dari jalur PMDK (jalur undangan). Saya akui Jaka adalah mahasiswa yang sangat cerdas. Materi kuliah di kampus begitu mudah dicernanya, saya banyak belajar dan diajar oleh Jaka, karena saya kadang-kadang agak lambat memahami materi kuliah dasar. Seingat saya dia orang yang relijius, rendah hati, dan suka membantu orang lain.

Bakat kepemimpinan Jaka sudah terlihat sejak kuliah. Menjadi Ketua Angkatan di Informatika, lalu pernah menjadi ketua pertama organisisi GAMAIS, sebuah organisasi mahasiswa muslim ITB yang tetap eksis sampai sekarang (didirikan tahun 1987), dan sekarang menjadi ketua Ikatan Alumni Informatika ITB (IAIF ITB). Hampir semua mahasiswa ITB angkatan 1985 menyegani kewibawaannya.

Sekarang Jaka Sumanta sudah berhasil sebagai seorang wirausaha (enterpreneur) dalam bidang Teknologi Informasi. Secara materi mungkin dia sudah merasa lebih dari cukup. Menjadi bupati tentu bukan untuk mengejar materi lagi. Kini saatnya mengabdi ke tanah kelahiran untuk mencurahkan pikiran dan tenaganya untuk memajukan kampung halaman.

Jaka Sumanta sedang berorasi di antara pendukungnya.

Jaka Sumanta sedang berorasi di antara pendukungnya.

Sebagai teman seangkatan, tentu saya terpanggil memberi dukungan moril, dan katrena saya suka menulis maka yang saya mampu adalah melalui tulisan ini. Teman-teman seangkatan 1985 di ITB juga memberi dukungan penuh. Jaka Sumanta sudah memiliki kendaraan politik untuk mewujudkan idealismenya menjadi pemimpin daerah, mudah-mudahan saja rakyat Kabupaten Sragen memberi dukungan kepadanya. Pada akhirnya, rakyat Sragen juga yang menentukan. Semangat, kawan!


Written by rinaldimunir

August 3rd, 2015 at 1:10 pm

Program Studi Informatika ITB Memperoleh Akreditasi ABET

without comments

Dua tahun yang lalu saya menulis persiapan Informatika ITB Menuju Akreditasi ABET. Setelah dikunjungi (visitasi) dan dinilai oleh asesor ABET dari negeri Paman Sam, maka dengan mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT, pada tanggal 22 September 2014 Program Studi Informatika ITB mendapat surat resmi dari ABET yang menyatakan bahwa Prodi kami resmi memperoleh akreditasi internasional ABET. Dengan demikian di ITB sudah ada tujuh Program Studi yang terakreditasi ABET, yaitu Teknik Elektro, Teknik Kimia, Teknik Fisika, Teknik Kelautan, Teknik Lingkungan, Teknik Industri, dan Informatika.

Akreditasi ABET (latar belakang Gedung Labtek V dan VIII, tempat prodi Informatika berrada). Sumber foto: https://stei.itb.ac.id/blog/2014/09/29/4367/

Akreditasi ABET (latar belakang Gedung Labtek V dan VIII, tempat prodi Informatika berrada). Sumber foto: https://stei.itb.ac.id/blog/2014/09/29/4367/

Kerja keras untuk menyiapkan semua dokumen akreditasi akhirnya berbuah manis. Akreditasi ini menjadi kebanggaan mahasiswa, dosen, dan alumni Informatika ITB. Dengan demikian Program Studi Informatika ITB sejajar dengan Program Studi serupa di perguruan tinggi terkemuka dunia. Lulusan Informatika ITB akan mendapat pengakuan internasional dan akreditasi ini menjadi nilai plus untuk bersaing di tingkat global.

Akreditasi ABET ini resminya berlaku mulai 1 Oktober 2014. Hanya sayangnya kami tidak boleh mempublikasikan durasi (masa berlaku) akreditasi tersebut. Saya tidak tahu alasannya kenapa, katanya aturan ABET begitu. Ya sudahlah kalau memang tidak boleh :-).

Yang paling sukar sekarang ini adalah mempertahankan akreditasi tersebut, yaitu bagaimana seluruh proses perkuliahan sejak terakreditasi harus sesuai dengan standard ABET. Mempertahankan ternyata lebih sulit daripada mendapatkannya.

(berita terkait dapat dibaca pada laman web fakultas STEI-ITB: Teknik Informatika ITB Resmi Mendapat Akreditasi Internasional ABET)


Written by rinaldimunir

September 28th, 2014 at 12:38 pm

Tiga Stereotip Mahasiswa dalam Tugas Kelompok

without comments

Tugas-tugas kuliah di ITB ada yang merupakan tugas perorangan dan ada pula tugas kelompok. Tugas kelompok dikerjakan oleh satu tim yang terdiri dari beberapa orang mahasiswa. Di Informatika ITB tempat saya mengajar, tugas kelompok itu disebut tugas besar (tubes) yang umumnya adalah membuat sebuah program aplikasi yang kompleks.

Hasil pengamatan saya selama ini, dalam tugas kelompok itu biasanya terdapat tiga stereotip mahasiswa, yaitu mahasiswa tipe merah, tipe biru, dan tipe kuning.

Tipe merah: ini tipe mahasiswa yang mengerjakan sebagian besar tugas inti. Kalau di Informatika ini tipikal mahasiswa yang kerjaannya sebagai coder.

Tipe biru: ini seksi laporan atau spesialis dokumentasi, yaitu mahasiswa yang kebagian tugas pada saat akhir, yaitu menulis laporan untuk diserahkan ke pemberi tugas (dosen atau asisten).

Tipe kuning: ini seksi “gorengan”, yaitu mahasiswa yang tidak ikut berkeringat, perannya mungkin sebagai penghibur dengan menyediakan makanan (goreng pisang atau sebangsa itu) kepada angota kelompok, atau membanyol (melawak) dengan cerita-cerita heboh sehingga teman-temannya ketawa-ketawa, atau malah tidak berkontribusi apa-apa. Numpang nama saja di laporan tetapi tetap mendapat nilai alias gabut (makan gaji buta).

Stereotip mahasiswa (Sumber: www.Facebook/KartunNgampus

Stereotip mahasiswa (Sumber: http://www.Facebook/KartunNgampus

Ternyata tipe merah, biru, dan kuning itu sudah ada sejak zaman saya kuliah dulu, atau mungkin jauh sebelum saya kuliah. Selalu saja ada mahasiswa di dalam kelompok yang “malas” dalam mengerjakan tugas dan selalu saja ada mahasiswa yang ketempuhan dengan mengerjakan sebagian besar tugas.

Saya kira stereotip ini hanya di Indonesia saja, ternyata juga terdapat di universitas di Eropa. Seorang mahasiswa saya yang kuliah di Inggris menceritakan pengalamannya tentang mahasiswa di sana yang juga gabut dalam tugas kelompok. Nggak di Indonesia, nggak di luar negeri sama saja. Ini masalah mental, menurut saya.

Terus terang tiga stereotip tadi bukan klasifikasi yang baik. Setiap anggota kelompok seharusnya mempunyai peran yang sama dalam mengerjakan tugas. Kalau dihubungkan dengan tugas di Informatika misalnya, maka semua orang di dalam kelompok harus mempunyai pembagian tugas yang merata dalam coding dan pembagian tugas yang merata dalam membuat laporan. Tidak boleh ada orang yang dominan dalam satu peran, begitu pula tidak boleh ada yang mengerjakan yang ringan-ringan saja.

Misalnya untuk membuat program aplikasi yang besar, mahasiswa pertama membuat bagian interface, mahasiswa kedua membuat bagian engine aplikasi, dan mahasiswa ketiga mengintegrasikannya. Jika ada empat orang atau lebih maka tinggal dibagi saja untuk komponen yang lain. Hal yang sama untuk laporan, harus jelas siapa yang menulis apa. Dengan begitu semua mahasiswa memiliki kontribusi yang signifikan dan tidak ada yang gabut. Mendapat ilmu sama-sama dan mendapat nilai sama-sama. Adil dan sama-sama puas. Susah-susah gampang untuk diterapkan, tetapi harus dicoba.


Written by rinaldimunir

May 7th, 2014 at 5:53 pm

Tiga Stereotip Mahasiswa dalam Tugas Kelompok

without comments

Tugas-tugas kuliah di ITB ada yang merupakan tugas perorangan dan ada pula tugas kelompok. Tugas kelompok dikerjakan oleh satu tim yang terdiri dari beberapa orang mahasiswa. Di Informatika ITB tempat saya mengajar, tugas kelompok itu disebut tugas besar (tubes) yang umumnya adalah membuat sebuah program aplikasi yang kompleks.

Hasil pengamatan saya selama ini, dalam tugas kelompok itu biasanya terdapat tiga stereotip mahasiswa, yaitu mahasiswa tipe merah, tipe biru, dan tipe kuning.

Tipe merah: ini tipe mahasiswa yang mengerjakan sebagian besar tugas inti. Kalau di Informatika ini tipikal mahasiswa yang kerjaannya sebagai coder.

Tipe biru: ini seksi laporan atau spesialis dokumentasi, yaitu mahasiswa yang kebagian tugas pada saat akhir, yaitu menulis laporan untuk diserahkan ke pemberi tugas (dosen atau asisten).

Tipe kuning: ini seksi “gorengan”, yaitu mahasiswa yang tidak ikut berkeringat, perannya mungkin sebagai penghibur dengan menyediakan makanan (goreng pisang atau sebangsa itu) kepada angota kelompok, atau membanyol (melawak) dengan cerita-cerita heboh sehingga teman-temannya ketawa-ketawa, atau malah tidak berkontribusi apa-apa. Numpang nama saja di laporan tetapi tetap mendapat nilai alias gabut (makan gaji buta).

Stereotip mahasiswa (Sumber: www.Facebook/KartunNgampus

Stereotip mahasiswa (Sumber: http://www.Facebook/KartunNgampus

Ternyata tipe merah, biru, dan kuning itu sudah ada sejak zaman saya kuliah dulu, atau mungkin jauh sebelum saya kuliah. Selalu saja ada mahasiswa di dalam kelompok yang “malas” dalam mengerjakan tugas dan selalu saja ada mahasiswa yang ketempuhan dengan mengerjakan sebagian besar tugas.

Saya kira stereotip ini hanya di Indonesia saja, ternyata juga terdapat di universitas di Eropa. Seorang mahasiswa saya yang kuliah di Inggris menceritakan pengalamannya tentang mahasiswa di sana yang juga gabut dalam tugas kelompok. Nggak di Indonesia, nggak di luar negeri sama saja. Ini masalah mental, menurut saya.

Terus terang tiga stereotip tadi bukan klasifikasi yang baik. Setiap anggota kelompok seharusnya mempunyai peran yang sama dalam mengerjakan tugas. Kalau dihubungkan dengan tugas di Informatika misalnya, maka semua orang di dalam kelompok harus mempunyai pembagian tugas yang merata dalam coding dan pembagian tugas yang merata dalam membuat laporan. Tidak boleh ada orang yang dominan dalam satu peran, begitu pula tidak boleh ada yang mengerjakan yang ringan-ringan saja.

Misalnya untuk membuat program aplikasi yang besar, mahasiswa pertama membuat bagian interface, mahasiswa kedua membuat bagian engine aplikasi, dan mahasiswa ketiga mengintegrasikannya. Jika ada empat orang atau lebih maka tinggal dibagi saja untuk komponen yang lain. Hal yang sama untuk laporan, harus jelas siapa yang menulis apa. Dengan begitu semua mahasiswa memiliki kontribusi yang signifikan dan tidak ada yang gabut. Mendapat ilmu sama-sama dan mendapat nilai sama-sama. Adil dan sama-sama puas. Susah-susah gampang untuk diterapkan, tetapi harus dicoba.


Written by rinaldimunir

May 7th, 2014 at 5:53 pm