if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Seputar Informatika’ Category

Pensiun (3)

without comments

Akhirnya satu persatu dosen senior saya memasuki masa purnabakti. Pensiun. Umur 65 tahun adalah batas usia seorang dosen mengabdi di almamaternya, kecuali profesor bisa sampai umur 70 tahun. Beberapa tahun sebelumnya sudah enam orang yang purnabakti. Tahun 2018 ini dua orang lagi. Dari semua dosen senior pendiri Informatika ITB, maka akan tersisa tiga orang yang masih mengabdi di tempat kami. Namun dalam beberapa tahun ke depan, sekitar empat hingga enam tahun lagi, mereka pun akan memasuki masa purna bakti pula. Maka, akan habislah dosen senior di almamater saya. Waktu ternyata berlalu begitu cepat. Empat atau enam tahun itu tidak terasa lama.

Saya yang selama ini merasa masih tetap dosen yunior, karena merasa nyaman dengan keberadaan dosen senior di atas saya, tiba-tiba harus merasa untuk bersiap-siap  menjadi dosen senior di almamater saya di Informatika ITB. Di bawah saya sudah banyak dosen muda yang berkiprah. Mereka menggantikan peran dosen yang telah pergi memasuki masa retired. Begitulah hidup, ada yang datang dan ada yang pergi. That”s life.  Pensiun adalah hukum alam yang tidak bisa ditolak.

Tiba-tiba saja saya merasa diri ini sudah tua. Sebenarnya saya sudah menyadari hal itu sejak beberapa tahun lalu, ketika rambut putih sudah mulai banyak bertaburan di atas kepala. Tetapi, saya sering tidak sadar karena alasan di atas, yaitu merasa nyaman dengan keberadaan dosen senior di atas saya, sehingga saya merasa masih muda saja, merasa masih perlu dibimbing oleh para senior. Tetapi dengan berlalunya waktu, mereka telah mulai meninggalkan kami. Itu artinya saya akan menggantikan peran mereka menjadi orang yang dituakan oleh para dosen yang lebih muda. Semoga saja saya bisa mengemban peran tersebut.

Suatu hari, saya pernah berjalan kaki bersama seorang dosen senior ketika kami mendapat tugas mengajar di Lampung. Satu tahun lagi dia akan memasuki masa purnabakti. Sembari kami berjalan kaki, saya menceritakan kesedihan saya yang akan merasa kehilangan setelah dia pensiun. Saya menceritakan saat saya diterima menjadi dosen ketika beliau menjabat Sekretaris Jurusan. Saya menceritakan wejangan yang dia berikan, nasehat yang dia berikan saat itu, tugas yang dia berikan kepada saya, lalu cerita masa-masa kami bersama menjalankan Jurusan (waktu itu masih bernama Jurusan Teknik Informatika). Entah kenapa saya merasa sentimentil.  Dia hanya tertawa dan mengatakan bahwa dia akan tetap sering ke kampus meskipun nanti sudah pensiun.

Ada satu hal yang membuat saya merasa betah berkiprah di kampus, yaitu keberadaan para mahasiswa. Itulah alasan mengapa saya tetap ada di sini. Mereka para anak muda yang haus ilmu pengetahuan. Mereka membutuhkan bimbingan dan panutan. Tiap hari saya masuk ke kampus, lalu pulang pada sore harinya. Terkadang, biarpun badan masih sakit saya paksakan juga ke kampus menemui mereka, mengajar di depan kelas, melayani bimbingan dan konsultasi. Tiba-tiba saja penyakit di badan terasa hilang, badan menjadi lebih ringan, tetapi di rumah badan mulai meriang lagi. Itulah kadang sukanya menjadi pengajar dan pendidik, rasa sakit lenyap ketika sudah berada di depan anak didik. Peran ini akan terus saya lanjutkan sampai tiba suatu masa saya mendapat giliran memasuki masa purnabakti pula, entah pada umur 65 atau umur 70. Wallahualam.

Written by rinaldimunir

February 2nd, 2018 at 3:45 pm

Berkas Ujian yang Sayang Dibuang

without comments

Semester genap di ITB baru saja selesai. Nilai-nilai mata kuliah sudah diumumkan. Seperti biasa, pada akhir semester saya selalu membagikan kembali semua berkas milik mahasiswa, baik itu berkas ujian mereka maupun berkas tugas lainnya. Saya taruh di atas meja lab, silakan diambil milik masing-masing. Namun, berkas ujian dan tugas itu seringkali tidak diambil lagi oleh mahasiswa setelah nilai diumumkan. Mungkin mereka merasa tidak perlu lagi, padahal menurut saya mendokumentasikan hasil-hasil pekerjaan dann ujian selama kuliah itu adalah penting.

berkas

Saya sendiri selalu menyimpan hasil-hasil ujian dan tugas sejak S1 hingga S3. Tujuannya bukan sekedar memorabilia untuk bernostalgia, tetapi mengingatkan perjalanan hidup yang pernah dilalui. Baik buruk hasilnya, itu adalah diri kita, sejarah kita.

Kebiasaan menyimpan hasil sekolah ini saya teruskan ke anak saya. Semua berkas ujian mereka, buku catatan, hasil karya, dll (kecuali buku cetak) saya simpan di dalam lemari, sampai penuh tuh lemari. Sampai-sampai istri saya  mengeluh karena lemari sudah penuh. Mau dibuang, tapi saya bilang jangan dulu. Sayang.

Berkas-berkas yang tidak diambil itu sayang sekali jika nanti dikilo di pasar loak lalu berakhir di kios gorengan untuk pembungkus pisang goreng atau pembungkus barang dagangan. Tertera di bungkus gorengan nilai UAS seorang mahasiswa mendapat nilai 35. Saya tersenyum kecut membaca jawaban ujiannya.

Di negara Belanda (cerita teman), berkas-berkas ujian mahasiswa disimpan di lemari universitas. Berkas-berkas itu hanya boleh dimusnahkan setelah 5 tahun (itu artinya setelah mahasiswa yang bersangkutan lulus). Jadi, berkas ujian mahasiswa tidak pernah ditemukan di pasar kertas bekas, tidak seperti di sini yang berakhir menjadi pembungkus gorengan.

Dokumentasi itu penting, sebab ia adalah sejarah diri kita.


Written by rinaldimunir

June 2nd, 2017 at 3:18 pm

Suka Duka Memeriksa Berkas Ujian Mahasiswa

without comments

120 x 7 = 840.
Fiuh! Segitulah jumlah soal ujian UTS yang sudah selesai saya periksa selama beberapa hari ini, semua jawabannya essay, bukan pilihan berganda. Semuanya 120 orang mahasiswa tingkat dua dikao tujuh soal. Itu baru dari satu mata kuliah, masih menunggu berkas UTS mata kuliah lain dengan jumlah mahasiswa yang sama tapi dengan sembilan soal.

Memeriksa berkas ujian adalah pekerjaan yang berulang-ulang dan menjemukan memang. Tujuh jawaban soal itu harus dibaca dengan seksama, sekali-sekali saya membuat coretan merah dan memberi skor nilai. Hal yang sama diulang untuk 119 berkas jawaban lainnya. Melelahkan, suddh pasti.

Jika tidak selesai diperiksa di kampus, maka saya bawa pulang semua berkas ujian tersebut. Berharap bisa selesai diperiksa di rumah, eh..ternyata tidak juga. Tidak disentuh malah, sebab saya sendiri sudah sibuk dengan urusan anak-anak di rumah. Akhirnya berkas ujian yang ratusan lembar itu saya bawa lagi ke kampus. Bolak-balik wae, kata orang Sunda. Capek-capek saja membawanya pulang.

Terkadang, saya pernah juga membawa berkas ujian mahasiswa pulang mudik waktu lebaran, berharap diperiksa di sana, dan…ha…ha..ha, ternyata sama saja, sama sekali tidak bisa diperiksa, sudah sibuk ke sana ke sini, padahal itu berkas sudah melanglangbuana naik pesawat ke Sumatera.

Naah, jika sudah selesai memeriksa semuanya, senang deh rasanya. Satu beban pekerjaan beres. Tinggal membeli coklat sebagai hadiah bagi mahasiswa peraih nilai tertinggi. Mmeberi hadiah coklat kepada mahasiswa yang mendapat nilai tertinggi sudah kebiasaan saya sejak dulu. Say with chocolate, karena coklat adalah kesukaaan anak muda.

~~~~~

Setelah menjadi dosen selama belasan tahun, maka saya sudah hafal tipe mahasiswa pasca ujian. Tiap-tiap mahasiswa itu beda-beda sikapnya setelah ujian selesai dilaksanakan. Setidaknya ada dua tipe mahasiswa. Tipe pertama adalah mahasiswa yang tidak mau lagi mempersoalkan jawaban ujian setelah ujian selesai. Ya sudahlah, bagaimana nanti dapat nilainya sajalah. Pasrah. Ini tipe mahasiswa yang realistis, mereka siap menerima apapun hasilnya.

Tapi ada juga tipe yang pundungan. Ini tipe kedua. Setelah ujian berlalu bukannya melupakan, malah menjadi pikiran terus. Dia merasa ada jawaban yang salah, dan takut mendapat nilai yang kecil. Curhatlah dia ke dosen kalau tadi menjawabnya begini begitu. “Kalau hasilnya salah, jalannya (maksudnya proses) tetap dihargai nilai kan pak?”, tanyanya penuh was-was. “Ya bagaimana jawabannya, nanti saya lihat dulu”, mencoba menenangkan. Saya tahu perasaannya galau. Menurut saya ini tipe mahasiswa yang tidak siap menerima hasil buruk. Jika dapat jelek, maka akan menjadi pikirannya berhari-hari. Ini mungkin hasil didikan orangtua yang menuntut target harus bagus, jika tidak, maka amarah menanti di rumah. Siap menang tapi tidak siap kalah.

Jawaban untuk permasalahan ini adalah sesegera mungkin membagikan hasil ujian, sehingga mahasiswa yang galau ini tidak lama-lama merasa didera rasa menyesal.

Apakah kamu termasuk tipe pertama atau kedua?

~~~~~~

Setiap kali saya memeriksa berkas ujian, seringkali saya kasihan memeriksa jawaban ujian mahasiswa yang kosong. Tidak bisa menjawabnyakah, malas belajarkah, atau pikirannya lagi di manakah, ah… saya tidak tahu penyebabnya. Tapi nilai nol tidak diinginkan siapapun, termasuk saya yang memberi nilai.

Baiklah, saya pun membuat pengumuman begini: barang siapa tidak bisa menjawab suatu soal, maka tulis ulang saja soalnya di lembar jawaban, saya akan beri nilai 1 sebagai “upah menulis“. Lumayan kan daripada nol.

Adakah pengumuman itu berpengaruh? Ternyata tidak juga. Tidak banyak yang mencoba mendapat nilai 1, mungkin tawaran yang tidak menarik. Atau, mereka gengsi barangkali.

Anda pernah punya pengalaman serupa?


Written by rinaldimunir

November 3rd, 2015 at 2:40 pm

Ketika Teman Seangkatan di ITB Maju ke Pilkada Kabupaten Sragen

without comments

Seorang teman seangkatan saya ketika dulu sama-sama kuliah di Informatika ITB, mencoba karir barunya sebagai politisi. Jaka Sumanta namanya, orang Sragen, Jawa Tengah. Jaka maju ke Pilkada Kabupaten Sragen sebagai calon Bupati Sragen periode yang baru (2016-2021). Jaka dan pasangannya calon wakil bupati, diusung oleh tiga partai yaitu PKB, PAN, dan PPP. Tahun 2015 memang tahun Pilkada, karena Pilkada serentak dilakukan di seluruh Indonesia.

Jaka Sumanta, tengah, berpeci.

Jaka Sumanta, tengah, berpeci.

Alumni ITB yang menjadi walikota, bupati, atau gubernur sudah banyak. Ridwan Kamil misalnya, alumnus Arsitektur ITB angkatan 1990 itu sukses memenangkan Pilkada Kota Bandung dan sekarang menjadi walikota yang populer. Selain itu masih ada Riza Falepi, alumnus Teknik Elektro angkatan 1989, yang menjadi walikota Payakumbuh, Sumatera Barat, dan Indra Catri, alumnus Teknik Planologi ITB angkatan 1983 yang menjadi Bupati Kabupaten Agam, masih di Sumatera Barat.

Nah, jika teman semasa kuliah sendiri yang maju sebagai calon pemimpin daerah, ya baru kali ini. Rasanya saya belum pernah mendengar ada alumni angkatan 1985 ITB yang menjadi bupati/walikota/gubernur.

Kenapa para alumni itu tertarik ikut Pilkada? Alasannya cukup melankolik, yaitu untuk memajukan tanah kelahiran. Jaka Sumanta berasal dari daerah Sragen. Menurutnya, Sragen memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan, terutama dalam sektor pertanian, dan itu semua untuk kemakmuran rakyat Sragen. :-)

Jaka Sumanta di antara pendukungnya di Sragen

Jaka Sumanta di antara pendukungnya di Sragen

Saya dan Jaka Sumanta kuliah di Jurusan Teknik Informatika ITB, kami sama-sama diterima di ITB dari jalur PMDK (jalur undangan). Saya akui Jaka adalah mahasiswa yang sangat cerdas. Materi kuliah di kampus begitu mudah dicernanya, saya banyak belajar dan diajar oleh Jaka, karena saya kadang-kadang agak lambat memahami materi kuliah dasar. Seingat saya dia orang yang relijius, rendah hati, dan suka membantu orang lain.

Bakat kepemimpinan Jaka sudah terlihat sejak kuliah. Menjadi Ketua Angkatan di Informatika, lalu pernah menjadi ketua pertama organisisi GAMAIS, sebuah organisasi mahasiswa muslim ITB yang tetap eksis sampai sekarang (didirikan tahun 1987), dan sekarang menjadi ketua Ikatan Alumni Informatika ITB (IAIF ITB). Hampir semua mahasiswa ITB angkatan 1985 menyegani kewibawaannya.

Sekarang Jaka Sumanta sudah berhasil sebagai seorang wirausaha (enterpreneur) dalam bidang Teknologi Informasi. Secara materi mungkin dia sudah merasa lebih dari cukup. Menjadi bupati tentu bukan untuk mengejar materi lagi. Kini saatnya mengabdi ke tanah kelahiran untuk mencurahkan pikiran dan tenaganya untuk memajukan kampung halaman.

Jaka Sumanta sedang berorasi di antara pendukungnya.

Jaka Sumanta sedang berorasi di antara pendukungnya.

Sebagai teman seangkatan, tentu saya terpanggil memberi dukungan moril, dan katrena saya suka menulis maka yang saya mampu adalah melalui tulisan ini. Teman-teman seangkatan 1985 di ITB juga memberi dukungan penuh. Jaka Sumanta sudah memiliki kendaraan politik untuk mewujudkan idealismenya menjadi pemimpin daerah, mudah-mudahan saja rakyat Kabupaten Sragen memberi dukungan kepadanya. Pada akhirnya, rakyat Sragen juga yang menentukan. Semangat, kawan!


Written by rinaldimunir

August 3rd, 2015 at 1:10 pm

Program Studi Informatika ITB Memperoleh Akreditasi ABET

without comments

Dua tahun yang lalu saya menulis persiapan Informatika ITB Menuju Akreditasi ABET. Setelah dikunjungi (visitasi) dan dinilai oleh asesor ABET dari negeri Paman Sam, maka dengan mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT, pada tanggal 22 September 2014 Program Studi Informatika ITB mendapat surat resmi dari ABET yang menyatakan bahwa Prodi kami resmi memperoleh akreditasi internasional ABET. Dengan demikian di ITB sudah ada tujuh Program Studi yang terakreditasi ABET, yaitu Teknik Elektro, Teknik Kimia, Teknik Fisika, Teknik Kelautan, Teknik Lingkungan, Teknik Industri, dan Informatika.

Akreditasi ABET (latar belakang Gedung Labtek V dan VIII, tempat prodi Informatika berrada). Sumber foto: https://stei.itb.ac.id/blog/2014/09/29/4367/

Akreditasi ABET (latar belakang Gedung Labtek V dan VIII, tempat prodi Informatika berrada). Sumber foto: https://stei.itb.ac.id/blog/2014/09/29/4367/

Kerja keras untuk menyiapkan semua dokumen akreditasi akhirnya berbuah manis. Akreditasi ini menjadi kebanggaan mahasiswa, dosen, dan alumni Informatika ITB. Dengan demikian Program Studi Informatika ITB sejajar dengan Program Studi serupa di perguruan tinggi terkemuka dunia. Lulusan Informatika ITB akan mendapat pengakuan internasional dan akreditasi ini menjadi nilai plus untuk bersaing di tingkat global.

Akreditasi ABET ini resminya berlaku mulai 1 Oktober 2014. Hanya sayangnya kami tidak boleh mempublikasikan durasi (masa berlaku) akreditasi tersebut. Saya tidak tahu alasannya kenapa, katanya aturan ABET begitu. Ya sudahlah kalau memang tidak boleh :-).

Yang paling sukar sekarang ini adalah mempertahankan akreditasi tersebut, yaitu bagaimana seluruh proses perkuliahan sejak terakreditasi harus sesuai dengan standard ABET. Mempertahankan ternyata lebih sulit daripada mendapatkannya.

(berita terkait dapat dibaca pada laman web fakultas STEI-ITB: Teknik Informatika ITB Resmi Mendapat Akreditasi Internasional ABET)


Written by rinaldimunir

September 28th, 2014 at 12:38 pm

Tiga Stereotip Mahasiswa dalam Tugas Kelompok

without comments

Tugas-tugas kuliah di ITB ada yang merupakan tugas perorangan dan ada pula tugas kelompok. Tugas kelompok dikerjakan oleh satu tim yang terdiri dari beberapa orang mahasiswa. Di Informatika ITB tempat saya mengajar, tugas kelompok itu disebut tugas besar (tubes) yang umumnya adalah membuat sebuah program aplikasi yang kompleks.

Hasil pengamatan saya selama ini, dalam tugas kelompok itu biasanya terdapat tiga stereotip mahasiswa, yaitu mahasiswa tipe merah, tipe biru, dan tipe kuning.

Tipe merah: ini tipe mahasiswa yang mengerjakan sebagian besar tugas inti. Kalau di Informatika ini tipikal mahasiswa yang kerjaannya sebagai coder.

Tipe biru: ini seksi laporan atau spesialis dokumentasi, yaitu mahasiswa yang kebagian tugas pada saat akhir, yaitu menulis laporan untuk diserahkan ke pemberi tugas (dosen atau asisten).

Tipe kuning: ini seksi “gorengan”, yaitu mahasiswa yang tidak ikut berkeringat, perannya mungkin sebagai penghibur dengan menyediakan makanan (goreng pisang atau sebangsa itu) kepada angota kelompok, atau membanyol (melawak) dengan cerita-cerita heboh sehingga teman-temannya ketawa-ketawa, atau malah tidak berkontribusi apa-apa. Numpang nama saja di laporan tetapi tetap mendapat nilai alias gabut (makan gaji buta).

Stereotip mahasiswa (Sumber: www.Facebook/KartunNgampus

Stereotip mahasiswa (Sumber: http://www.Facebook/KartunNgampus

Ternyata tipe merah, biru, dan kuning itu sudah ada sejak zaman saya kuliah dulu, atau mungkin jauh sebelum saya kuliah. Selalu saja ada mahasiswa di dalam kelompok yang “malas” dalam mengerjakan tugas dan selalu saja ada mahasiswa yang ketempuhan dengan mengerjakan sebagian besar tugas.

Saya kira stereotip ini hanya di Indonesia saja, ternyata juga terdapat di universitas di Eropa. Seorang mahasiswa saya yang kuliah di Inggris menceritakan pengalamannya tentang mahasiswa di sana yang juga gabut dalam tugas kelompok. Nggak di Indonesia, nggak di luar negeri sama saja. Ini masalah mental, menurut saya.

Terus terang tiga stereotip tadi bukan klasifikasi yang baik. Setiap anggota kelompok seharusnya mempunyai peran yang sama dalam mengerjakan tugas. Kalau dihubungkan dengan tugas di Informatika misalnya, maka semua orang di dalam kelompok harus mempunyai pembagian tugas yang merata dalam coding dan pembagian tugas yang merata dalam membuat laporan. Tidak boleh ada orang yang dominan dalam satu peran, begitu pula tidak boleh ada yang mengerjakan yang ringan-ringan saja.

Misalnya untuk membuat program aplikasi yang besar, mahasiswa pertama membuat bagian interface, mahasiswa kedua membuat bagian engine aplikasi, dan mahasiswa ketiga mengintegrasikannya. Jika ada empat orang atau lebih maka tinggal dibagi saja untuk komponen yang lain. Hal yang sama untuk laporan, harus jelas siapa yang menulis apa. Dengan begitu semua mahasiswa memiliki kontribusi yang signifikan dan tidak ada yang gabut. Mendapat ilmu sama-sama dan mendapat nilai sama-sama. Adil dan sama-sama puas. Susah-susah gampang untuk diterapkan, tetapi harus dicoba.


Written by rinaldimunir

May 7th, 2014 at 5:53 pm

Tiga Stereotip Mahasiswa dalam Tugas Kelompok

without comments

Tugas-tugas kuliah di ITB ada yang merupakan tugas perorangan dan ada pula tugas kelompok. Tugas kelompok dikerjakan oleh satu tim yang terdiri dari beberapa orang mahasiswa. Di Informatika ITB tempat saya mengajar, tugas kelompok itu disebut tugas besar (tubes) yang umumnya adalah membuat sebuah program aplikasi yang kompleks.

Hasil pengamatan saya selama ini, dalam tugas kelompok itu biasanya terdapat tiga stereotip mahasiswa, yaitu mahasiswa tipe merah, tipe biru, dan tipe kuning.

Tipe merah: ini tipe mahasiswa yang mengerjakan sebagian besar tugas inti. Kalau di Informatika ini tipikal mahasiswa yang kerjaannya sebagai coder.

Tipe biru: ini seksi laporan atau spesialis dokumentasi, yaitu mahasiswa yang kebagian tugas pada saat akhir, yaitu menulis laporan untuk diserahkan ke pemberi tugas (dosen atau asisten).

Tipe kuning: ini seksi “gorengan”, yaitu mahasiswa yang tidak ikut berkeringat, perannya mungkin sebagai penghibur dengan menyediakan makanan (goreng pisang atau sebangsa itu) kepada angota kelompok, atau membanyol (melawak) dengan cerita-cerita heboh sehingga teman-temannya ketawa-ketawa, atau malah tidak berkontribusi apa-apa. Numpang nama saja di laporan tetapi tetap mendapat nilai alias gabut (makan gaji buta).

Stereotip mahasiswa (Sumber: www.Facebook/KartunNgampus

Stereotip mahasiswa (Sumber: http://www.Facebook/KartunNgampus

Ternyata tipe merah, biru, dan kuning itu sudah ada sejak zaman saya kuliah dulu, atau mungkin jauh sebelum saya kuliah. Selalu saja ada mahasiswa di dalam kelompok yang “malas” dalam mengerjakan tugas dan selalu saja ada mahasiswa yang ketempuhan dengan mengerjakan sebagian besar tugas.

Saya kira stereotip ini hanya di Indonesia saja, ternyata juga terdapat di universitas di Eropa. Seorang mahasiswa saya yang kuliah di Inggris menceritakan pengalamannya tentang mahasiswa di sana yang juga gabut dalam tugas kelompok. Nggak di Indonesia, nggak di luar negeri sama saja. Ini masalah mental, menurut saya.

Terus terang tiga stereotip tadi bukan klasifikasi yang baik. Setiap anggota kelompok seharusnya mempunyai peran yang sama dalam mengerjakan tugas. Kalau dihubungkan dengan tugas di Informatika misalnya, maka semua orang di dalam kelompok harus mempunyai pembagian tugas yang merata dalam coding dan pembagian tugas yang merata dalam membuat laporan. Tidak boleh ada orang yang dominan dalam satu peran, begitu pula tidak boleh ada yang mengerjakan yang ringan-ringan saja.

Misalnya untuk membuat program aplikasi yang besar, mahasiswa pertama membuat bagian interface, mahasiswa kedua membuat bagian engine aplikasi, dan mahasiswa ketiga mengintegrasikannya. Jika ada empat orang atau lebih maka tinggal dibagi saja untuk komponen yang lain. Hal yang sama untuk laporan, harus jelas siapa yang menulis apa. Dengan begitu semua mahasiswa memiliki kontribusi yang signifikan dan tidak ada yang gabut. Mendapat ilmu sama-sama dan mendapat nilai sama-sama. Adil dan sama-sama puas. Susah-susah gampang untuk diterapkan, tetapi harus dicoba.


Written by rinaldimunir

May 7th, 2014 at 5:53 pm

Ketika Kuliah di Informatika ITB Diisi oleh Aktor “Stand Up Comedy”

without comments

Dua minggu lalu saya mengundang Sam Darma Putra Ginting untuk mengisi kuliah tamu di tingkat 2 Informatika ITB. Tiap tahun memang saya selalu mengisi satu sesi kuliah dengan mendatangkan alumni Informatika untuk berbagi (sharing) cerita pengalaman mereka bekerja di ranah teknologi informasi. Semester ini saya mengundang seorang komedian bernama Sam Darma Putra alias Sammy yang sering tampil di TV pada acara-acara stand up comedy dan juga host beberapa acara di TV swasta.

Sam Darma Putra pada dalam sebuah acara stand up commedy.

Sam Darma Putra pada dalam sebuah acara stand up commedy.

Semula tidak mudah mendatangkan dia, maklum jadwalnya pasti sangat padat, tetapi karena saya dulu adalah dosennya waktu kuliah di ITB dan saya meminta kesediaannya, ternyata responnya cepat: bersedia datang dan mengisi kuliah dua jam, ha..ha..ha. Ya, Sam memang mantan mahasiswa saya dulu di Informatika ITB, tepatnya dia adalah mahasiswa Informatika (IF) angkatan 1994. Sejak kuliah dulu dia dikenal teman-temannya suka melucu (padahal saya sendiri dulu tidak tahu kalau dia senang melucu), dan akhirnya bakat melucunya itu kesampaian dengan melambungnya acara stand up comedy di TV-TV. Sekarang dia menjadi orang terkenal (artis) dan tentu saja bayarannya mahal, tapi untuk kuliah kali ini tentu saja gratis, he..he.

Setengah jam sebelum kuliah dia sudah datang bersama asistennya. Wah, artis profesional memang selalu pakai manager dan asistennya. Para asistennya juga ikut masuk ke kelas. Kelas saya hari itu penuh, karena memang sudah diumumkan minggu sebelumnya bahwa pengisi kuliah tamu adalah alumni Informatika yang menjadi aktor komedi.

Para mahasiswa saya mendengarkan kuliah dari Sam dengan penuh minat.

Para mahasiswa saya mendengarkan kuliah dari Sam dengan penuh minat.

Sam tidak hanya berprofesi sebagai aktor komedi, itu pekerjaan sambilan dia saja. Pekerjaan utamanya tetap saja di bidang teknologi informasi. Setelah lulus dari ITB dia bekerja di perusahaan-perusahan TI dan saat ini dia founder ASD-Consult, pemilik brand ST24-Pulsa dan Utama Bizniz Cell.

Dalam kuliahnya hari itu Sam memaparkan apa saja yang diperlukan seorang lulusan Informatika bila bekerja sebagai enterpreneur di bidang TI. Seorang mahasiswa sebaiknya tidak hanya belajar horizontal knowledge, tetapi juga vertical knowledge. Horizontal knowledge tentu saja materi yang perkuliahan yang dipelajari selama kuliah, tetapi vertical knowledge adalah pengetahuan tambahan yang diperlukan untuk menopang horizontal knowledge karena seorang lulusan Informatika nanti akan berhubungan dengan bidang ilmu lain. Dia mencontohkan pengalamannya yang belajar tentang akuntansi, hukum, dan sebagainya (baca ringkasan materi kuliahnya di sini).

Sam Darma Putra sedang serius memberi kuliah sekaligus melawak.

Sam Darma Putra sedang serius memberi kuliah sekaligus melawak.

Meskipun kuliah yang dibawakannya adalah materi yang cukup serius, namun karena dia seorang komedian maka tetap saja isinya ditimpali dengan humor segar khas stand up commedy. Seluruh isi kelas terpingkal-pingkal mendengar aksi panggungnya di ruang kelas dari awal sampai akhir, apalagi setelah saya minta dia secara khusus ber-stand up commedy selama 10 menit pada akhir kuliah (yang katanya kalau orang lain yang meminta maka harus lewat manajernya dan tentu saja bayarannya mahal lho).

Terima kasih banyak Sam, kapan-kapan Anda kami undang kembali mengisi acara di Informatika ITB.

(Dua foto di atas diambil dari dokumentasi STEI-ITB pada laman ini. Foto-foto lainnya saya ambil dengan kamera sendiri di bawah ini).

DSCF1386

DSCF1387

DSCF1389

DSCF1390


Written by rinaldimunir

March 11th, 2014 at 3:46 pm

Antara “Start-up” dan Keinginan Orangtua

without comments

Seorang ibu menelpon saya beberapa waktu yang lalu. Sedikit curhat dia menceritakan kegundahannya mengenai pilihan anaknya yang membuat sebuah perusahan pemula (sering disebut start-up company) di bidang IT setelah lulus dari Informatika ITB. Putranya itu adalah mantan mahasiswa saya dulu, dan setelah lulus sarjana dia dan teman-temannya satu alamamater sepakat membuat start-up.

Memang cukup banyak alumni kami yang berwirausaha membuat perusahaan yang bergerak di bidang teknologi informasi. Mereka sudah memulai membuat start-up itu pada tahun-tahun terakhir kuliah, dan sesudah lulus sarjana mereka men-seriusi start-up tersebut. Idealisme dan mimpi-mimpi mereka direalisasikan melalui start-up mereka itu. Jika dihitung-hitung mungkin sudah puluhan perusahaan start-up yang dibuat alumni kami. Ada yang sudah tumbuh menjadi besar dan terkenal seperti eBdesk, Agate Studio, NoLimit, Bukalapak, dan lain-lain. Ada juga yang masih menapak menjadi perusahaan yang besar, namun ada juga yang masih begitu-begitu saja.

Bagi sang ibu ini, bekerja dengan membuat start-up tidak menjanjikan masa depan. Pikiran para orangtua pada umumnya tipikal, yaitu setelah lulus sarjana maka anaknya bekerja di perusahaan mapan. Apalagi bagi lulusan ITB, harapan itu lebih “berat” lagi, orangtua ingin anaknya bekerja di perusahaan besar –baik perusahaan nasional, BUMN, perusahaan asing maupun multinasional– dengan gaji yang besar pula. Nama besar ITB sepertinya adalah “beban” agar sang anak menjadi orang yang sukses dengan penghasilan yang mapan.

Oleh karena itu, ketika sang anak memutuskan berwirausaha seperti membuat start-up itu, maka sebagian orangtua yang berpikiran tipikal tadi seakan tidak (atau belum) bisa menerimanya. Meskipun ketidaksetujuan itu tidak disampaikan secara langsung kepada sang anak, hanya disimpan di dalam hati saja, namun dalam batin mereka tetap saja berharap sang anak bekerja di tempat yang pasti-pasti.

Terhadap kegundahan sang ibu tadi, saya hanya bisa memberikan jawaban “menghibur”, bahwa putranya sudah dewasa dan dia lebih tahu apa yang terbaik buat dirinya dan masa depannya. Jawaban yang umum, namun hanya itu yang bisa saya sampaikan kepadanya.

Dalam pandangan saya, berwirausaha itu bagus bahkan mulia karena bisa membuka lapangan kerja bagi orang lain. Sudah saatnya anak-anak bangsa yang punya potensi tinggi memajukan negeri ini dengan inovasi produk dalam negeri namun berkualitas dunia. Saya percaya lulusan perguruan tinggi tanah air mampu bersaing menghasilkan produk IT yang hebat-hebat, tidak kalah dengan produk IT dari luar. Lulusan kami di ITB memiliki kreativitas yang tinggi sehingga inovasi mereka melahirkan produk yang brilian, mungkin ini dampak positif kebebasan berkreasi dalam membuat tugas-tugas besar aplikasi ketika kuliah.

Di sisi lain, keinginan membuat dan mengembangkan start-up sering berbenturan dengan harapan orangtua dan keluarga. Menurut saya komunikasi sangat penting untuk meyakinkan orangtua agar restu didapat. Restu orangtua itu sangat penting, sebab dalam agama kita (Islam) diajarkan bahwa ridho Allah kepada seorang anak bergantung pada keridhoan orangtuanya. Jika orangtua ridho (merestui), maka jalan ke depan terbuka lapang sebab Allah pun akan meridhoi. Nah, kalau orangtua belum (atau tidak) meridhoi, maka alamat bakal susah jalan ke depan. Ada cerita mahasiswa saya yang gagal dalam berwirausaha karena orangtuanya tidak merestui. Sudah tak terhitung darah dan air mata yang keluar dari diri dan orangtuanya karena kegagalan-kegagalan yang terjadi. Akhirnya, setelah orangtuanya merestui jalan pilihannya, barulah usahanya bisa stabil dan berkembang hingga sekarang.

Sukur-sukur punya orangtua yang membebaskan pilihan Anda setelah lulus, mau bekerja, kuliah lagi, atau berwirausaha. Lebih sukur lagi jika mereka memberikan dorongan dan mendukung setiap pilihan yang Anda lakukan. Namun tidak semua orangtua seperti itu kan? Dalam pandangan saya, ketika orangtua masih belum setuju dengan pilihan ber-start-up, maka keputusan bijaksana adalah menunda terlebih dahulu dengan mematuhi keinginan mereka agar Anda bekerja di perusahaan yang sudah mapan. Setelah beberapa tahun Anda bekerja di sana, sudah punya banyak pengalaman, dan Anda sudah membuktikan bahwa Anda sudah bisa mandiri, maka barulah Anda memikirkan kembali membuat start-up tersebut. Setidaknya Anda sudah punya simpanan modal dari penghasilan bekerja sebelumnya untuk berjaga-jaga jika start-up Anda itu masih belum dapat memberikan kontribusi materi yang signifikan untuk menopang masa depan Anda.

Bagaimanapun, restu orangtua tetap harus anda dapatkan terlebih dahulu ketika anda memutuskan berhenti bekerja dan membuat start-up tersebut. Menurut saya, pilihan bijaksana ini juga berlaku bagi Anda yang diharapkan menjadi tiang keluarga, setidaknya Anda sudah dapat membantu keluarga Anda sebelum memutuskan berhenti bekerja dan membuat start-up. Menurut saya inilah win-win solution atau jalan tengah dari pilihan yang sulit, antara membuat start-up dan keinginan orangtua.


Written by rinaldimunir

January 10th, 2014 at 4:38 pm

Kehadiran Kuliah Sebagai Komponen Nilai Akhir

without comments

Sangat sedikit ada dosen yang memasukkan kehadiran kuliah sebagai salah satu komponen nilai akhir. Saya termasuk dosen yang sedikit itu. Kehadiran kuliah saya hitung dalam menentukan indeks nilai mata kuliah. Tidak besar bobotnya, antara 2,5% hingga 5% saja dari keseluruhan nilai akhir. Meskipun sangat kecil, tetapi sekecil apapun nilainya sangat berarti ketika penentuan indeks nilai akhir dilakukan.

Di ITB ada sebagian dosen yang menjadikan kehadiran kuliah sebagai syarat mengikutu ujian. Misalnya jika jumlah kehadiran kuliah minimal 75%, jika kurang dari 75% maka seorang mahasiswa tidak dapat mengikuti ujian akhir. Kalau saya sebaliknya, tidak ada syarat minimal kehadiran untuk mengikuti ujian akhir, tetapi saya menjadikan kehadiran sebagai salah satu komponen penillaian.

Ada orang yang bertanya kenapa saya menjadikan kehadiran sebagai salah satu nilai akhir. Padahal, di era digital dan internet seperti sekarang, belajar materi kuliah bisa dilakukan di rumah, di tempat kos, atau di mana saja. Materi kuliah dapat dicari di Internet, e-book teks kuliah juga banyak tersedia, soal latihan juga banyak, toh belajar dapat dilakukan dari jarak jauh, jadi buat apa datang ke kelas kuliah? Apalagi jika dosennya tidak menarik, monoton, dan mengulang apa yang sudah ada di dalam buku, jadi buat apa perlu hadir?

Baik, Anda bisa saja membaca e-book, mengunduh materi kuliah dari Internet, cukup belajar di kamar kos dan keluar kamar jika perlu saja. Selain belajar ilmu pengetahuan secara langsung dari orang yang ahlinya (dosen), ada hal lain yang tidak Anda dapatkan jika tidak mau hadir di dalam kelas kuliah, yaitu interaksi sosial baik dengan dosen maupun dengan teman-teman mahasiswa lainnya. Hadir dalam kelas kuliah berarti Anda belajar berkomunikasi, belajar menghargai orang lain, dan belajar untuk empati. Selain itu, cerita-cerita, wejangan dan nasehat dari dosen juga amat berguna sebagai bekal kehidupan nanti.

Bagi saya, hadir dalam kelas kuliah adalah sebuah usaha dalam menuntut ilmu, dan usaha itu harus diapresiasi sebagai salah satu komponen nilai, sekecil apapun usaha itu. Inilah alasan mengapa saya memasukkan kehadiran kuliah sebagai bagian dari nilai akhir.


Written by rinaldimunir

January 6th, 2014 at 2:22 pm