if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Seputar Bandung’ Category

Berharap banyak pada jembatan layang Antapani

without comments

Bagi warga kawasan Antapani Bandung, kemacetan setiap pagi dan sore di Jalan Terusan Jakarta sudah menjadi makanan sehari-hari. Jalan keluar menuju pusat kota Bandung dari Antapani cuma satu, yaitu Jalan Terusan Jakarta itu.Jalan Terusan Jakarta itu menjadi jalan keluar juga bagi warga lawasan tetangganya, yaitu Arcamanik. Jadi, dari dua kawasan pemukiman itu setiap pagi semuanya bermuara ke Jalan Terusan Jakarta. Penyebab kemacetan adalah lampu merah pada persimpangan dengan Jalan Kiaracondong (sekarang Jalan Ibrahim Ajie). Lampu merah ini bergiliran menjadi hijau untuk setiap empat arah jalan di perempatan itu. Jadi, kabayang kan betapa lamanya menunggu lampu merah menjadi hijau, sementara antrian di belakangnya panjaaaang pisan.

Tahu sendiri kan, kawasan Antapani itu adalah kawasan yang banyak kompleks perumahan. Dulu cuma ada Perumnas di sana, sekarang ada puluhan perumahan baru yang telah menghabisi sawah-sawah di sana sehingga nyaris tidak ada lagi sawah atau tanah kosong yang bersisa. Balong (danau kecil) pun sampai diuruk untuk dijadikan perumahan. Kawasan Antapani menjadi favorit untuk tempat tinggal karena jaraknya sangat dekat dengan pusat kota (cuma lima kilometer ke Gedung Sate). Infrastrukturnya juga sudah mapan. Sekolah, toserba, mal, klinik dokter, pertokoan, universitas, sarana olahraga, sarana ibadah, dan lain-lain sudah tersedia di sana. Maka tak heran harga tanah di Antapani sangat tinggi, begitu juga harga rumah di sana sudah ratusan juta.

Dengan jumlah perumahan yang terus bertambah, maka dapat dibayangkan semua warga keluar dalam waktu bersamaan pada pagi hari untuk sekolah atau bekerja, sorenya kembali ke rumah pada waktu yang bersamaan pula. Sementara jalan keluar dari kawasan ke pusat kota cuma satu, yaitu Jalan Terusan Jakarta. Ada sih alternatif melalui jalan kecil ke Terminal Cicaheum, tapi tetap saja bertemu kemacetan di sana. Atau, melalui Jalan Sulaksana di samping Borma Supermarket, tapi keluarnya di Jalan Ahmad Yani yang akhirnya bertemu lagi dengan perempatan Jalan Jakarta-Kiaracondong. Sama-sama parahnya kalau pagi hari.

Tapi sukurlah Walikota Bandung saat ini, Ridwan Kamil, memahami kondisi macet parah itu. Solusinya adalah dibangun jembatan layang di atas perempatan itu. Sejak dua minggu lalu pembangunan jembatan layang yang membentang di atas perempatan Jalan Terusan Jakarta-Kiaracondong sudah dimulai.

 

jembatanantapani

Gambar jembatan layang Antapani (Sumber: jabar.tribunnews.com)

Jembatang Layang Antapani Bandung

Sudut lain gabar jembatan layang (Sumber: bandungaktual.com)

Sudah dua minggu ini warga harus menghadapi kemacetan makin parah karena jalan-jalan di sekitar perempatan itu semakin sempit saja akibat pembangunan jembatan layang. Bagian tengah jalan ditutup dan dipagari seng untuk tahap pembangunan konstruksi. Tidak apa-apalah, bersabar selama enam bulan pembangunan, awal Januari 2017 nanti jembatan layang itu sudah selesai.

Jembatan layang Antapani ini akan menjadi role model jembatan layang berikutnya di kota Bandung. Disebut-sebut jembatan layang ini merupakan pertama di Indonesia menggunakan teknologi struktur baja bergelombang dari Korea. Waktu pengerjaannya lebih cepat 50 persen dibanding struktur bertulang, dan biayanya menjadi hemat 60 persen-70 persen. Jadi, jika jika untuk satu buah jembatan dibutuhkan Rp 100 miliar, maka dengan teknologi baja bergelombang ini biayanya hanya 35 milyar (Sumber dari sini).

Mudah-mudahan jembatan layang ini menjadi jawaban atas persoalan kemacetan selama ini. Saya pun bisa ke kampus lebih cepat. Namun seorang kawan berkata, turun dari jembatan layang akan bertemu lagi dengan kemacetan di jalan Jakarta yang menjadi bottleneck dari tiga arah jalan lain dari perempatan itu. Kita akan bertemu lagi dengan kemacetan baru di perempatan Jalan Ahmad Yani-Jalan Supratman-Jalan Jakarta. Tapi tenang, sesudah jembatan layang ini selesai, jembatan layang di perempatan Jalan Ahmad Yani tadi akan dibangun berikutnya. Pak Emil akan membangung banyak jembatan layang di berbagai permpatan jalan yang selalu menjadi titik macet di kota Bandung. Semoga Bandung bebas macet.


Written by rinaldimunir

June 24th, 2016 at 11:29 am

Posted in Seputar Bandung

PPDB Kota Bandung 2016 yang “Unpredictable”

without comments

Bertemu kembali dengan PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) kota Bandung tahun 2016. Setelah tiga tahun lalu pengalaman PPDB masuk SMP negeri yang cukup mendebarkan, maka tahun ini ritual PPDB masuk SMA negeri yang membuat  H2C (harap-harap cemas) akan terulang kembali:-). Anak saya yang nomor dua tahun ini lulus SMP dan akan mendaftar ke SMA negeri yang ada di kota Bandung.

Seperti diinformasikan di situs PPDB 2016 Kota Bandung, pendaftaran PPDB jalur akademik akan dimulai tanggal 27 Juni dan berakhir tanggal 30 Juni 2016.  Di kota Bandung satu-satunya alat seleksi masuk SMA (maupun SMP) negeri hanyalah berdasarkan nilai Ujian Nasional (UN). Kalau di kota lain seperti di Surabaya, seperti kata   teman saya di sana, seleksi masuk SMA tidak hanya dari nilai UN, tapi juga nilai TPA (Test Potensi Akademik). Nilai UN hanya memiliki bobot 40%, sedangkan nilai TPA 60%. Lain kota tentu lain pula aturannya.

Nah, siswa kelas 9 SMP sudah memiliki nilai UN di tangannya. Sekarang mereka sedang berhitung-hitung untuk memilih SMA negeri mana. Jika dulu kita (siswa) sendiri yang mengurus pendaftaran masuk SMA negeri, sekarang orangtua perlu turun tangan untuk melakukan pemilihan sekolah dan pendaftarannya. Mengapa demikian? Karena lulus atau tidak dalam PPDB itu tidak bisa diprediksi (unpredictable). Lebih jelasnya lagi passing grade masuk SMA tertentu tidak bisa diprediksi, bergantung jumlah siswa yang mendaftar di sekolah tersebut serta nilai-nilai UN mereka. Passing grade tahun-tahun sebelumnya pun tidak bisa dijadikan patokan, passing grade tahun ini bisa lebih rendah atau lebih tinggi.  Jadi, orangtua pun perlu “berhitung” dalam memilih sekolah anaknya, tidak bisa diserahkan begitu saja pada anaknya.

Di kota  Bandung seleksi PPDB dua tahun belakangan ini sudah menggunakan sistem rayonisasi (perwilayahan), artinya siswa memilih sekolah yang sesuai rayon tempat tinggalnya. Tahun lalu pilihan satu boleh di sekolah di luar rayon mana saja tetapi pilihan dua harus di dalam rayon wilayah tyempat tinggalnya. Namun tahun 2016 ini pilihan satu dan pilihan dua boleh sekolah di wilayah mana saja, namun ada sejumlah konsekuensi. Ada istilah proteksi wilayah, yang artinya siswa yang memilih SMA di wilayah rayonnya diutamakan lebih dahulu, baru kemudian sisanya dibagi untuk pendaftar yang berasal dari luar rayon. Contohnya begini. Siswa A memilih SMA di luar rayonnya sebagai pilihan satu dan SMA di wilayah rayonnya sebagai pilihan kedua, maka dia akan mendapat tiga kali kesempatyan seleksi. Seleksi pertama adalah  untuk SMA pilihan kesatu. Mula-mula siswa A “dipertandingkan” dengan semua pendaftar dari wilayah yang sama yang memilih SMA tersebut. Ini yang dinamakan proteksi wilayah. Jika dia tidak lulus pada seleksi wilayah, maka dia “dipertandingkan” dalam seleksi gabungan wilayah (seleksi kedua), yaitu dengan semua pendaftar dari berbagai rayon wilayah yang mengambil  pilihan SMA  tersebut. Jika dia tidak lulus juga, maka A akan dipertandingkan untuk seleksi ketiga pada pilihan keduanya. Karena pilihan keduanya adalah SMA di luar wilayahnya, maka dia akan dipertandingkan dalam seleksi gabungan wilayah, dengan semua pendaftar dari berbagai rayon wilayah yang mengambil  pilihan SMA pilihan kedua tersebut (lihat gambar). Selain faktor nilai UN dan pilihan SMA di wilayah/luar wilayah, jarak km dari rumah ke sekolah pun dihitung dalam proses seleksi. Jika mengambil pilihan satu dan dua semuanya di luar wilayah, maka siswa hanya mendapat kesempatan dua kali seleksi.

PPDB

Nah, melihat gambaran proses di atas kebayang kan betapa kompleksnya proses seleksi PPDB di kota Bandung dan sangat tidak bisa diprediksi. Banyak orangtua siswa hari-hari ini mencari informasi tentang sebaran nilai UN dan prediksi passing grade. Sebaran nilai UN ini penting untuk mengetahui tingkat persaingan masuk SMA negeri tertentu. Meski sudah menggunakan sistem rayonisasi untuk menghilangkan kesan sekolah favorit, namun di dalam benak masyarakat yang namanya sekolah favorit itu tidak bisa hilang begitu saja, tetap saja beberapa sekolah menjadi rebutan. Di kota Bandung SMA negeri yang dikategorikan favorit adalah SMAN 3, SMAN 5, SMAN 2, dan SMAN 8, kemudian kategori favorit berikutnya adalah SMAN 1, SMAN 20, SMAN 24, dan seterusnya.  Maka, pertanyaan-pertanyaan tentang berapa kira-kira passing grade sekolah-sekolah yang saya sebutkan di atas, apakah dnegan nilai UN segini bisa masuk ke sana, dll, menjadi topik yang banyak dibicarakan menjelang tanggal 27-30 Juni nanti. Sebuah situs blog di WordPress yang secara khusus membicarakan passing grade PPDB banyak diakses para orangtua, yaitu situs Bicara PPDB Kota Bandung . Saya termasuk salah satu pengunjungnya:-).

Melalui situs Bicara PPDB tersebut saya banyak memperoleh informasi tentang PPDB, nilai-nilai UN, dan perkiraan passing grade. Dari beberapa komentar pembaca di blog tersebut saya memperoleh data sebaran nilai-nilai UN siswa SMP (negeri dan swasta) di kota Bandung (yang disebut berasal dari Disdik Kota Bandung, mudah-mudahan saja valid). Data sebaran nilai tersebut kemudian saya olah dengan Microsoft Excell dan saya tampilkan hasilnya dalam bentuk tabel dan grafis (Sumber data saya ambil dari sini).

PPDB-1

Sebaran nilai UN SMP Negeri tahun 2016

Dari gambaran di atas terlihat bahwa di kota Bandung jumlah siswa SMP negeri yang mendapat nilai UN di bawah 300 justru mayoritas. Nilai UN SMP di Bandung tahun ini memang turun hingga 1,5 poin dibandingkan tahun lalu. Hampir semua orangtua berharap passing grade tahun ini ikut turun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya

Jika digabung dengan SMP swasta, maka sebaran nilai UN SMP membuat orangtau siswa semakin H2C. Pertanyaan-pertanyaan apakah anak saya bisa masuk SMA ini dengan nilai UN segini? Bagaimana kans di SMA yang itu? Dst.

PPDB-2

Sebaran nilai UN SMP negeri dan swasta kota Bandung tahun 2016

Nah, melihat sebaran di atas, sangat sulit memprediksi persaingan masuk SMA negeri di kota Bandung. Sebaran yang lebih rinci per nilai UN atau sebaran dengan rentang yang lebih sempit sangat dinanti dari Disdik Kota Bandung agar pertimbangan memilih SMA tertentu menjadi lebih kuat. Seperti tahun-tahun lalu, kebanyakan orangtua memasukkan formulir pendaftaran pada hari terakhir. Kita tunggu saja nanti bagaimana hasilnya, sekarang yang bisa dilakukan adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya sambil berhitung-hitung menjelang buka puasa dan sahur:-).


Written by rinaldimunir

June 18th, 2016 at 3:47 pm

Bakmi Jowo Gunung Kidul van Bandung

without comments

Sore hari sepulang dari kantor saya melewati jalan Dipati Ukur. Cuaca yang dingin karena mendung dan perut yang sedang lapar membuat saya berhenti dulu di sebauh kedai bakmi jowo di pertigaan Jalan Dipati Ukur – Jalan Multatuli, seberang kampus ITHB. Bakmi Jowo DU namanya, singkatan Dipati Ukur. Saya sering melintasi jalan itu, sering melihat beberapa orang koki memasak bakmi menggunakan anglo (tungku dengan bahan bakar berupa arang kayu). Dapurnya persis di pinggir jalan, jadi siapapun yang lewat pasti melihat para koki itu memasak. Bau harum bakmi menyebar ke hidung, membuat siapapun yang lewat untuk singgah makan di sana.

bakmijowo1

Juru masak bakmi jowo yang selalu menggunakan batik

Kata orang-orang yang pernah mencoba bakmi di sana rasanya enak. Favort, katanya. Jadi, singgahlah saya di kedai Bakmi Jowo DU untuk makan bakmi godhog panas-panas sepiring. Bakmi godhog adalah nama lain untuk mie berkuah. Selain bakmi godhog, ada bakmi goreng yang rasanya agak manis dan bakmi nyemek, yaitu bakmie goreng namun agak basah karena diberi kuah sedikit.

bakmijowo2

Bakmi nyemek

bakmijowo3

bakmi godhog

Setelah menunggu sekitar 10 menit, maka pesanan bakmi godhog saya pun terhidang di atas meja. Isinya mie (jelas dong), sayur, ayam suwir, telur, dan bahan yang agak kenyal-kenyal gitu. Silakan tambah dengan acar ketimun, sambal cabe rawit, dan saos tomat sesuai selera.

bakmijowo4

Sepiring mie godhog

Dari tampilannya saja sudah menggugah selera. Rasanya? Lumayanlah, agak kurang asin gitu. Mungkin anda perlu menambahkan garam sendiri yang tersedia di atas meja. Sepiring mie godhog itu harganya Rp25.000. Agak sedikit mahal ya, bagi mahasiwa kos mungkin berat makan di situ, karena seputar Jalan Dipati Ukur adalah kawasan mahasiswa.

Menurut asal-usul, bakmi jowo pada mulanya berasal dari Gunung Kidul, Yogyakarta, sehingga diberi nama mie jowo. Orang Jawa dan orang Indonesia pada dasarnya suka makan mie. Mie jika diolah dengan bumbu lokal akan menghasilkan cita rasa yang khas. Di Aceh ada mie aceh yang kuahnya serasa bumbu kari, maka di Gunung Kidul ada mie jowo yang bumbunya sesuai dengan selera orang Jawa.

Di Bandung banyak cabang bakmi jowo. Bakmi Jowo DU ini termasuk favorit penikmat kuliner di kawasan Bandung Utara. Selain Bakmi DU, bakmi jowo di Jalan Taman Pramuka (dekat Jalan R.E Martadinata) juga terkenal enak, tapi yang ini saya belum coba. Kapan-kapan deh makan bakmi jowo di sana.


Written by rinaldimunir

May 20th, 2016 at 2:05 pm

“Memburu” SD swasta favorit di Bandung

without comments

Tahun ajaran baru tahun 2016/2017 akan segera datang. Bagi orangtua yang memiliki anak yang siap masuk SD tahun ini pasti sudah mencari-cari info pendaftaran sekolah sejak tahun lalu. Jauh-jauh hari mereka sudah berburu informasi tentang SD yang akan  menjadi pilihan untuk anaknya nanti. Orangtua yang baru pertama kali memasukkan anaknya ke SD (anak pertama) pasti sudah bertanya ke sana sini, SD apa yang bagus, berapa biayanya, dan sebagainya.

Bagi orangtua kelas menengah ke atas di Bandung, SD yang disasar adalah SD swasta. SD negeri tidak terlalu menjadi pilihan, kecuali beberapa SD yang dilabeli masyarakat sebagai SD favorit karena terletak di tengah kota, diantaranya SD negeri di Jalan Merdeka dan SD negeri di Jalan Sabang.

Fenomena yang menarik dalam dekade terakhir ini adalah kesadaran para orangtua kelas menengah ke atas menyekolahkan anaknya di SD berbasis keagamaan, baik SD Islam maupun SD Kristen/Katolik. Khusus bagi orangtua beragama Islam, menyekolahkan anak ke SD Islam didasarkan pada pertimbangan untuk memberikan lebih banyak pendidikan agama Islam sejak dini kepada anak-anaknya. Masa kecil adalah masa yang sangat cocok untuk menanamkan pendidikan agama  kepada anak. Pendidikan agama sejak kecil diharapkan menjadi bekal menghadapi kehidupan pada masa dewasa yang sarat dengan godaan yang menjerumuskan. Tantangan hidup pada era globalisasi ini sangat besar, jika tidak memiliki  dasar agama yang kuat maka dikhawatirkan hanya menghasilkan generasi yang rusak.

Orangtua pasangan muda yang memilih sekolah dasar Islam adalah orang-orang yang sibuk, mereka mungkin tidak punya banyak waktu untuk memberikan pendidikan agama kepada anak-anaknya, maka dengan menyekolahkan di SD Islam mereka berharap anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang sholeh selain cerdas tentunya. Mereka menaruh harapan kepada SD Islam tersebut untuk membekali anaknya dengan pendidikan agama selain pendidikan umum tentunya.

Di Bandung terdapat beberapa SD Islam yang dilabeli favorit oleh orang-orang. Untuk menyebut beberapa di antaranya adalah SD Salman Al-Farisi di kawasan Tubagus Ismail, SD Mutiara Bunda dan SD Cendekia Muda di kawasan Arcamanik, SD Ar-Rafi di Kiaracondong, SD Muhammadiyah 7 di Antapani, SD Cendekia Leadership School di Bukit Ligar, SD Tunas Unggul di Pasir Impun Cicaheum, SD Mutiara Hati di Antapani, SD Al-Biruni di Panyileukan. Selain SD Islam yang disebut di atas, beberapa SD swasta lain yang favorit (meski tidak berlabel Islam) yaitu SD Gagas Ceria di Jalan Malabar, SD Alam di Dago, SD Bianglala di Gegerkalong, SD Sembilan Mutiara di Kopo, , dan lain-lain.

Umumnya SD swasta yang saya sebutkan SD di atas memiliki jam belajar full-day school  atau semi full-day. Jika di SD negeri anak-anak hanya bersekolah tiga jam sampai lima jam sehari, maka di SD swasta tersebut  belajar tujuh jam hingga delapan jam sehari. Rata-rata pulang sekolah pukul dua siang hingga pukul empat sore, dari Senin sampai Jumat (Sabtu libur).  Lamanya jam belajar di sekolah karena banyak muatan tambahan seperti pendidikan agama yang saya ceritakan di atas. Sholat Dhuhur berjamaah di masjid sekolah, pelajaran Al-Quran seperti tahsin dan tahfidz, dan lain-lain.

SD swasta favorit yang saya sebutkan di atas tentu tidak murah uang masuk maupun SPP nya. Uang masuknya saja dari belasan juta hingga puluhan juta. SD Mutiara Bunda misalnya, uang masuknya tahun 2016 ini total (bersama uang lain-lain) berjumlah 42 juta, SD Salman Al-Farisi 21 juta, SD Gagas Ceria 31 juta, SD Cendekia Leadership School 36 juta (Sumber:Biaya Masuk Beberapa SD Swasta Favorit di Bandung). Itu baru uang masuknya, sementara SPP per bulan bisa mencapai lebih dari satu juta per tahun. Seorang teman berseloroh, biaya masuk SD saja lebih mahal daripadfa biaya masuk kuliah di Perguruan Tinggi.

Meskipun mahal, namun SD-SD swasta favorit tersebut tetap menjadi buruan orangtua. Mahal tidak menjadi alasan, sebab pendidikan adalah investasi masa depan. Beberapa SD favorit tersebut sudah menutup pendaftaran pada akhir tahun. Mereka sudah menerima pendaftaran jauh-jauh hari sejak bulan Oktober hingga Desember. Praktis pada awal tahun baru tidak ada lagi tempat yang bersisa, sudah habis, padahal tahun ajaran baru dimulai pada bulan Juli. Karena permintaan banyak sementara tempat terbatas, maka kadang-kadang diberlakukan waiting list segala.

Di satu sisi keinginan orangtua memberi pendidikan yang berkualitas (termasuk pendidikan agama) untuk anak-anaknya merupakan satu bentuk kesadaran pentingnya pendidikan untuk membentuk karakter anak. Di sisi lain terjadi kesenjangan yang lebar dengan pendidikan di SD lain yang tidak favorit, termasuk di SD negeri. Pemerintah belum mampu menghadirkan pendidikan yang berkualitas bagi warganya. Karena Pemerintah belum mampu, maka pihak swasta mengambil alih peran itu.


Written by rinaldimunir

May 14th, 2016 at 4:23 pm

Mencoba terminal baru bandara Husein Sastranegara, Bandung

without comments

Hari ini saya berkesempatan mencoba terminal penumpang baru Bandara Husein Bandung. Seperti biasa dalam kunjungan rutin saya mengajar di ITERA Lampung, saya naik pesawat dari Bandara Husein. Terminal baru itu baru beroperasi hari rabu yang lalu, jadi ini hari ketiga penggunaannya.

Terminal penumpang yang lama (untuk keberangkatan dan kedatangan) sangat kecil. Jumlah penumpang yang naik dan turun di Husein tumbuh luar biasa. Sungguh tidak nyaman menggunakan ruang tunggu yang sempit dan harus berdiri karena tidak kebagian tempat duduk. Sungguh malu membandingkan bandara Husein dengan bandara megah di kota lain. Padahal Bandung adalah kota wisata, maka bandara adalah etalase pertama yang dilihat orang.

Untunglah walikota Bandung Ridwan Kamil cepat tanggap. Dia mendesain terminal penumpang yang baru di sebelah terminal yang lama. Setelah setahun lebih dikerjakan, akhirnya terminal yang baru selesai bulan ini.  Yang membedakan bandara ini dengan bandara lain adalah aksen seni di dalamnya. Ya, Bandung adalah kota seni, maka sangat wajar unsur seni mewarnai bandara. Di dalam bandara kita serasa berada di sebuah galeri lukisan, karena lukisan berukuran besar karya alumni FSRD ITB terpampang di dinding ruang tunggu.

Yuk lihat foto-foto yang saya jepret tadi siang.

Husein1

Terminal baru tampak dari luar, dengan atap bangunan khas adat Sunda.

Husein2

Terminal keberangkatan

Husein3

Ruang check-in

Husein4

Ruang check-in yang lapang

Husein5

Pemeriksaan X-ray

Husein6

Ruang tunggu keberangkatan. Lukisan besar tergantung di dinding

Husein8

Ruang tunggu yang lapang

Husein9

Kafe-kafe dan restoran di ruang tunggu

Husein10

Ruang tunggu yang nyaman. Penumpang tidak perlu lagi berdiri karena tidak kebagian kursi

Husein7

Tempat bermain anak di ruang tunggu

Yang masih perlu dibenahi di Bandara Husein adalah soal taksi yang dimonopoli oleh taksi Primkopau TNI-AU. Taksi ini tidak pakai argometer, sistem harganya borongan dan tawar menawar. Sungguh membuat penumpang yang baru datang sering kesal dengan layanan taksi bandara. Selain masalah taksi yang cukup klasik, masalah parkir yang sempit dan semrawut juga masalah yang belum terselesaikan. Oh iya, terminal yang baru ini tidak punya garbarata, jadi penumpang harus turun ke landasann untuk naik dan turun pesawat. Sangat sulit membangun garbarata karena bandara Husein lahannya sempit. Bandara Husein memang dari awal tidak dirancang untuk bandara komersil karena bandara ini adalah milik TNI AU sebagai pangkalan udara.

Selamat mencoba terminal Husein yang baru.


Written by rinaldimunir

April 8th, 2016 at 8:17 pm

Posted in Seputar Bandung

Pedestrian yang Ramah

without comments

Jika kita berjalan kaki melalui trotoar kota Bandung saat ini, ada banyak perubahan yang terlihat. Di beberapa tempat jalur pedestriannya (jalur pejalan kaki) dibuat lebih lapang dan nyaman. Memang belum semua jalan ada jalur pedestrian -sebagian besar masih berupa trotoar sempit atau bahkan tanpa trotoar- tetapi memiliki jalur pejalan kaki yang ramah, nyaman, dan aman, mungkin Bandung sudah mempeloporinya.

Ramah artinya jalur pedestrian tersebut tidak hanya untuk orang yang normal saja, tetapi penyandang cacat dan pengguna kursi roda juga dapat menikmatinya tanpa takut jatuh atau tergelincir.

Coba lewati pedsterian di Jalan R.E Martadinata (meskipun berganti nama tetap dikenal dengan nama Jalan Riau). Jalurnya lebar-lebar dan nyaman. Setiap beberapa meter terdapat bangku antik  untuk duduk-duduk jika anda lelah berjalan kaki atau sekedar cuci mata. Bola-bola batu dari semen berukuran besar berjajar di depan untuk mempercantik pedestrian.

 

pedestrian

Pedesterian di Jalan Riau, Bandung

Jalur pedestrian ini ramah bagi penyandang tuna netra. Coba perhatikan jalur berwarna kuning di tengahnya, itu adalah jalur khusus bagi tuna netra untuk membantunya menentukan arah dan posisi. Dengan meraba jalur kuning menggunakan tongkatnya, penyandang tuna netra dapat berjalan sendiri tanpa perlu dipandu. Jalur kuning ini memanjang dari barat ke timur sepanjang pedestrian.

Jalur kuning  bagi tuna netra tidak hanya ada di pedestrian lebar seperti di atas, tetapi di berbagai sudut kota Bandung jalur kuning juga dipasang pada beberapa trotoar kecil hingga ke jalan-jalan di pemukiman. Di trotoar Jalan Ganesha di depan kampus ITB, anda akan menemukan jalur kuning tersebut. Di jalan-jalan di pemukiman Antapani saya juga menemukan jalur kuning itu pada beberapa trotoar (Jalan Cibatu Raya, Jalan di depan Lapangan Gasmin).

Saya belum menemukan jalur kuning itu di kota-kota lain, bahkan di Jakarta pun saya belum pernah melihatnya (CMIIW).

Selain ramah bagi tuna netra, jalur pedestrian pada gambar di atas juga aman dan ramah bagi pengguna kursi roda. Hal ini karena sepanjang jalur pedestrian itu relatif datar, tidak naik turun ketika bertemu dengan jalan menuju pintu masuk gedung atau rumah di sepanjang jalan itu. Bagian yang menghadap jalan menuju pintu rumah/gedung dibuat hampir sama tinggi dengan trotoar sehingga tidak menyulitkan pengguna kursi roda. Bagi anda yang membawa koper yang pakai roda juga tidak perlu naik turun. Saya ingat pengalaman menyeret koper sepanjang trotoar di kota Tokyo, sama sekali tidak perlu turun naik jika bertemu bagian jalan yang masuk gedung karena sama datarnya dengan trotoar.

Semoga jalur pedestrian yang ama, ramah, dan nyaman seperti gambar di atas dapat dibuat di seluruh jalan di kota Bandung.


Written by rinaldimunir

February 9th, 2016 at 2:23 pm

Posted in Seputar Bandung

Sony Sugema dan Fenomena SSC-nya

without comments

Hari minggu yang lalu ada berita duka yang cukup mengejutkan. Sony Sugema, pendiri bimbingan belajar SSC (Sony Sugema College) dan sekolah SMP/SMA Alfa Centauri dipanggil oleh Allah SWT karena penyakit jantung (Baca: Sony Sugema Wafat Saat Sholat Tahajud). Bagi orang Bandung dan kalangan pelajar SMA, nama Sony Sugema tidak asing lagi. Meskipun tidak mengenal orangnya, namun banyak pelajar mengenal nama Bimbel-nya. Dia adalah raja Bimbel, SSC mempunyai cabang di mana-mana di seluruh Indonesia, berkejar-kejaran dengan bimbingan belajar lain yang juga mendominasi, Ganesha Operation (GO).

Saya tidak mengenal almarhum secara pribadi, bahkan pernah bertemu muka juga tidak, namun saya punya cerita tentang almarhum. Pada tahun 90-an awal saya menjadi pengajar di  bimbingan belajar Karisma Salman ITB.  Waktu itu bimbel belum punya banyak saingan di Bandung. Murid-murid kami  cukup banyak waktu itu. Namun pada tahun 1991  saya mendengar cerita dari murid-murid bimbel kami tentang kehebatan bimbel baru bernama SSC. Memang tidak ada murid bimbel kami yang berpindah, namun teman-teman mereka yang tidak ikut bimbel akhirnya mendaftar ke bimbel SSC.

Kehebatan bimbel SSC terletak pada dua pengajar mereka yang fenomenal. Pertama Sony Sugema itu sendiri, kedua Dimitri Mahayana. Sony saya tidak kenal, tetapi Dimitri adalah teman saya seangkatan di ITB. Dimitri saya kenal sebagai mahasiswa Teknik Elektro yang jenius (belakangan saya juga mendengar Sony juga mahasiswa Teknik Sipil yang jenius). Kedanya memiliki persamaan, Sony dan Dimitri menikah muda. Sony menikah kala tingkat satu, sedangkan Dimitri menikah pada tingkat dua. Istri mereka sama-sama berusia tiga tahun lebih tua dari usia mereka sendiri. Bedanya, Sony memilih mengundurkan diri dari mahasiswa ITB pada tahun pertama itu, sedangkan Dimitri tetap lanjut kuliah dan menjadi dosen ITB hingga sekarang (Baca: Obituari Sony Sugema, Raja Bimbel SSC.)

Dua orang ini membuat siswa-siswa SMA ternganga-nganga, karena keduanya menyelesaikan soal-soal Matematika, Fisika, Kimia, yang sulit-sulit itu dengan cara cepat yang dikenal dengan dengan nama the fastest solution. Mereka berdua menulis buku-buku penyelesaian soal-soal Sipenmaru (sekarang SBMPTN) dengan teknik cepat itu. Buku-buku tersebut laris bak kacang goreng. Banyak siswa SMA membelinya sebagai persiapan tes Sipenamru. Dimitri sendiri, selain sebagai pengajar idola di SSC, dia sering memberikan ceramah-ceramah futuristik yang memukau. Kloplah dua orang itu membesarkan SSC sehingga menjadi terkenal.

Saya sendiri kurang setuju mengajarkan teknik cepat menyelesaikan soal kepada murid-murid SMA. Kurang mendidik dan tidak memberikan pemahaman konsep, begitu alasan saya kepada murid-murid bimbel kami. Namun bagi kebanyakan murid SMA tentu berbeda paham dengan saya, yang penting bagi mereka adalah  dapat menjawab soal ujian dengan benar dan singkat, karena dengan waktu ujian yang hanya dua jam, puluhan soal Sipenmaru harus dilibas dengan cepat. Sebagian besar siswa SSC itu menargetkan masuk ITB, dan memang terbukti banyak dari siswa mereka lulus masuk ITB kala itu.

Nama SSC berkibar di kalangan siswa SMA di Indonesia. Waktu itu SSC hanya ada di Bandung. Bagi siswa yang menargetkan masuk ITB, mereka rela memesan tempat jauh-jauh hari untuk mendapatkan kursi bimbingan intensif di SSC (yang tentu saja dengan biaya mahal). Usai Ebtanas (sekarang UN), siswa-siswa dari seluruh Indonesia itu menyerbu Bandung untuk mengikuti bimbingan belajar intensif di SSC selama dua bulan hingga tes Sipenmaru. Nama SSC seolah-olah menjadi jaminan mutu, sehingga bimbel lain tampaknya kurang terlalu dilirik. Ingat Sony Sugema, ingat SSC, begitu sebaliknya.

SSC berkembang pesat, tetapi di tengah jalan Dimitri keluar dari SSC. Saya mendengar alasan Dimitri keluar adalah karena SSC dikelola oleh keluarga Sony sehingga Dimitri merasa tidak nyaman di dalamnya. Namun, sepeninggal Dimitri, SSC tetap masih eksis, karena mereka merekrut pengajar dari mana-mana (ITB, Unpad, UPI). Sony tetap mengajar di sana.

Berkembangnya bisnis SSC membuat Sony Sugema mencoba membuat eksperimen lain. Dia mencoba mendirikan perguruan tinggi informatika yang bernama (kalau tidak salah) Sekolah Tinggi Informatika Sony Sugema (tetap memakai namanya sebagai brand). Namun dari pengamatan saya, sekolah tinggi ini tidak terlalu berhasil dan kurang peminat.

Selanjutnya dia mencoba misi yang lain. Sony mendirikan sekolah untuk kalangan dhuafa, bernama SMA Alfa Centauri. Sekolah di sini menerapkan sistem subsidi silang. Siswa yang mampu mensubsidi siswa dari kalangan miskin. Siswa dari kalangan miskin gratis sekolah di sana. Sony Sugema memang dikenal sebagai seorang dermawan, dia punya keinginan untuk mengangkat derajat siswa dhuafa dengan sekolah gratis di tempatnya. Saya tiap hari lewat sekolah itu di jalan Supratman. SMA Alfa Centauri sudah mulai dikenal elit, para siswanya bermobil, uang masuknya mahal, namun saya tetap berkeyakinan siswa-siswa miskin diakomodasi dengan sistem subsidi silang itu.

Tahun 2002, Sony bersama Pramnono Anung dan I Gde Wenten menerima ITB82 award, yang diserahkan langsung oleh Rektor ITB saat itu (Kusmayanto Kadiman) dan Rektor ITB tahun 80-an Pak Hariadi Soepangkat. Sony sengaja membawa ibunya saat itu, dan dalam pidatonya Sony berkata : “Bu, kalau dulu ibu kecewa karena saya tak jadi diwisuda di ITB, saat ini ada dua Rektor yang mewisuda saya”. Kontan saja hadirin bertepuk tangan standing applause untuk Sony.

Selamat jalan Sony. Meskipun saya tidak mengenal secara pribadi, namun kebajikan dan amal soleh yang sudah anda perbuat semoga mendapat balasan pahala dari Allah SWT dan selalu menginspirasi orang lain untuk berbuat amal soleh. Amin.


Written by rinaldimunir

February 1st, 2016 at 12:35 pm

Menikmati Pembuatan Surabi “Urang Bandung”

without comments

Pada pagi hari yang dingin di kota Bandung, menikmati jajanan surabi (Bhs Indonesia: serabi) adalah pilihan yang tepat. Surabi yang dibuat langsung di pinggir jalan dibeli dalam keadaan panas, setiba di rumah masih hangat. Surabi lebih enak jika dimakan dalam keadaan masih panas.

Surabi orang Bandung sedikit berbeda dengan serabi di daerah lain. Jika serabi di daerah lain dimakan dengan kuah gula merah, maka surabi urang Bandung tidak demikian. Surabinya lebih tebal dan rasa aslinya agak asin. Surabi yang polos dapat ditambahkan bermacam-macam topping di atasnya.

Jika mau surabi yang manis, maka si pedagang manambahkan larutan gula merah ke atas adonan surabi yang baru dituang ke atas cetakan. Selain surabi yang polos, jenis surabi lainnya adalah surabi oncom, yaitu surabi dengan topping oncom di atasnya. Mau surabi oncom yang pedas, tinggal ditambahkan satu sendok kecil sambal cabe rawit di atasnya.

Mau surabi yang lebih bergizi, maka pembeli bisa minta memesan surabi pakai telur kocok. Itulah tiga macam surabi tradisionil yang masih dijual di banyak tempat di kota Bandung.

Bagi sebagian orang, membeli surabi tidak hanya sekedar membeli jajanan itu sendiri. Tetapi, menyaksikan secara langsung pembuatan surabi adalah kenikmatan tersendiri. Sungguh mengasyikkan mengamati pasangan suami istri di  pinggir Jalan Kuningan Raya, Antapani, Bandung yang saling bekerjasama membuat surabi di atas tungku bakar. Para pembeli terus berdatangan dan harus sabar antri menunggu pesanan surabinya matang.

surabi1

Bekerjasama membuat surabi

surabi2

Tuangkan adonan surabi ke dalam cetakan

surabi3

Sedang dibakar di atas bara api, sekali-sekali diintip apakah sudah matang

surabi4

Surabi yang sudah matang, masih panas menngepul. Ada surabi oncom, surabi manis, dan surabi telur ((yang berwarna kuning)

Harga surabinya tidak mahal. Surabi polos, surabi oncom, atau surabi manis harganya hanya Rp1500, sedangkan surabi telur Rp2500. Tidak mahal bukan?

Kalau jalan-jalan ke Bandung, jangan lupa menikmati surabi urang Bandung yang enak itu.


Written by rinaldimunir

December 9th, 2015 at 2:21 pm

Khawatir dengan Crane yang Menggantung di Atas Jalan

without comments

Setiap kali saya melihat crane pembangunan gedung malang melintang di atas jalan umum, saya seringkali merasa khawatir sekaligus takut. Khawatir jika crane tersebut rubuh menimpa apapun yang di bawahnya, takut jika yang terkena rubuhan itu adalah saya sendiri.  Saya berlindung kepada Allah SWT.

Saya masih ingat dengan musibah crane yang jatuh di Masjidil Haram pada musim haji yang lalu. Ratusan jamaah haji gugur syahid karena tertimpa bangunan masjid yang rubuh akibat ambruknya crane.  Saya juga pernah membaca di Jakarta beberapa kali crane rubuh menimpa bangunan dan menewaskan pekerja.

Ketika melewati perempatan Jalan Dago, saya melihat sebuah crane melintang di atas Jalan Sulanjana seperti foto jepretan saya di bawah ini. Wuss..saya ngeri melihatnya. Kok boleh sih diberikan izin memasang crane yang melintang di atas jalan raya? Seharusnya crane itu melintang secara diagonal di atas tanah gedung yang sedang dibangun agar tidak membahayakan.

Crane yang melintang di atas Jalan Sulanjana, Bandung

Crane yang melintang di atas Jalan Sulanjana, Bandung

Seberapa bagus daya tahan crane itu?  Di salah satu ujung belalainya diberi beban pemberat berupa batu-batu beton yang beratnya mungkin dalam satuan ton. Wah, jika pemberat itu lepas dan jatuh ke bawah, tamatlah riwayat orang yang melintas di bawahnya.  Mudah-mudahan kekhawatiran saya tidak berdasar, mudah-mudahan crane yang melintang di atas jalan itu telah teruji keamanannya.


Written by rinaldimunir

November 12th, 2015 at 1:09 pm

Posted in Seputar Bandung

Gaya Pengamen Anak Jalanan

without comments

Banyak pengamen dan anak jalanan di setiap perempatan jalan itu adalah hal yang biasa. Bermacam cara mengamen dilakukan anak jalanan untuk memperoleh uang receh. Ada yang mengamen dengan gitar, gendang dari botol aqua, atau cuma kincring-kincring dari kaleng bekas tutup botol.

Suatu hari di perempatan Jalan Jakarta dan Jalan Ahmad Yani Bandung, sepeda motor saya berhenti pada saat lampu merah. Seorang bocah pengamen berbaju merah tampil berjalan di depan para pengendara yang berhenti. Dia tidak membawa alat musik apapun. Namun tidak punya alat musik bukan berarti tidak bisa mengamen. Dia ‘kan punya tubuh untuk digerakkan. Dengan membuang rasa malu, jadilah bagi bocah pengamen ini cukup jumpalitan di depan pengendara. Sambil meliuk-liukkan badannya seperti orang menari, dia menyanyi tak jelas. Hampir semua pengendara tampak tidak mempedulikan kehadirannya.

Bocah pengamen

Bocah pengamen

Setelah satu menit beraksi, dia menyodorkan botol bekas aqua mengharap sereceh dua receh dari pengendara. Saya perhatikan tidak ada seorangpun pengendara yang memberi uang. Kasihan dia, sudah beraksi seperti seorang penari, tak ada uang receh yang diperoleh.

Kasihan? Ya, antara kasihan dan tidak. Ada himbauan dari Pemkot Bandung agar tidak memberi pengamen uang. Semakin diberi, semakin betah anak-anak jalanan itu ‘mengemis’ dengan cara mengamen. Namun ada juga yang tidak setuju dengan himbauan itu. Anak-anak itu mencari uang untuk membantu orangtuanya yang miskin. Benarkah demikian? Wallahualam. Ada laporan yang menyatakan bahwa uang mengamen itu digunakan untuk membeli rokok, ngelem, dan hal yang tidak baik lainnya.

Seharusnya bocah berbaju merah di atas sedang berada di sekolah. Kehidupan jalanan yang keras dan kejam tidak cocok baginya. Dia akan kehilangan masa depan. Dinas Sosial kota harus membina anak-anak jalanan seperti ini.


Written by rinaldimunir

November 9th, 2015 at 12:22 pm

Posted in Seputar Bandung