if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Seputar Bandung’ Category

Haru Biru PPDB SMP Negeri Sistem Zonasi 90% di Kota Bandung

without comments

Di Kota Bandung Penerimaan Peserta Didik baru (PPDB) SMP negeri tahun ini menyisakan banyak cerita sedih. Sistem zonasi 90% telah membuat banyak orangtua marah dan kecewa. Banyak orangtua yang anak-anaknya terdepak, tidak diterima di pilihan manapun, kalah oleh faktor jarak rumah ke sekolah yang dituju. Bukan kalah oleh nilai UN atau dulu disebut NEM.

Sistem zonasi 90% artinya 90% kuota siswa baru diseleksi berdasarkan jarak rumah ke sekolah. Nilai UN SD sama sekali tidak dipakai. Semakin dekat jarak rumah calon siswa ke sekolah, semakin besar peluangnya diterima di sekolah tersebut. Faktanya hanya calon siswa yang berjarak radius kurang dari 500 meter yang diterima, selebihnya gagal, termasuk gagal di pilihan kedua yang tentu jarak dari rumah ke sekolah lebih jauh lagi. Jadi, diterima atau tidak seorang anak di SMP yang dituju tergantung nasib memilih rumah ketika orangtua membeli rumah dulu.

Tujuan sistem zonasi sebenarnya bagus yaitu agar anak-anak bersekolah di dekat rumah dan menghilangkan dikotomi sekolah favorit dan non favorit. Tetapi masalahnya penyebaran sekolah di Bandung tidak merata. Ada kawasan yang padat penduduk tetapi hanya ada satu SMP negeri atau bahkan tidak punya SMP negeri. Perhatikan peta sebaran SMP negeri di sepenggal wilayah kota Bandung yang saya peroleh dari akun Facebook ini.  Terlihat tidak meratanya sebaran SMP negeri. Hanya calon siswa yang sekitar sekolah saja yang bisa diterima. Bagaimana dengan calon siswa di daerah abu-abu yang notabene jauh dari SMP negeri? Tersingkir! Mereka dikalahkan oleh “nasib” memiliki rumah jauh dari sekolah. Meskipun nilai UN mereka tinggi, tetapi mereka kalah bersaing oleh siswa yang rumahnya dekat sekolah sekalipun memiliki nilai UN jelek. Nilai UN sama sekali tidak dipakai untuk seleksi (dipakai hanya kalau ada dua siswa mempunyai jarak yang sama).

petasekolah

Seorang ibu menulis pada akun tersebut:

Masih banyak yg mengira kisruhnya PPDB tahun ini karena memperebutkan sekolah favorit. Walau tidak sepenuhnya salah krn memang masih ada yg berharap demikian, dan sah2 saja selama berkemampuan dan dicapai dg jujur. Tapi kisruhnya PPDB sekarang ini lebih kepada tidak sesuainya kebijakan dg kondisi dilapangan. Tidak ada yg bisa diperjuangkan utk meraih sekolah krn sdh ditentukan oleh nasib letak rumahnya. Ilustrasi berikut mungkin bisa memudahkan mereka yg tidak terlibat PPDB (tidak tahu masalah) tapi menyalahkan korban krn menyangka memperebutkan sekolah favorit.

Akhirnya pilihan orangtua yang gagal adalah ke sekolah swasta. Tetapi sekolah swasta pun lokasinya jauh dari rumah. Sekolah swasta yang bagus-bagus pun sudah lama tutup pendaftaran. Maka, akhirnya tujuan zonasi agar siswa sekolah di dekat rumah tidak tercapai.

Tahun depan, jika sistem zonasi seperti ini tetap dipakai, maka harga rumah dekat sekolah mungkin akan melejit tinggi. Beli saja rumah atau apartemen dekat SMP 2 atau 5 (misalnya) di tengah kota, bikin kartu keluarga baru di sana, maka biarpun nilai UN anakmu jeblok, dia akan mudah masuk sekolah tersebut.

Sistem zonasi tanpa menperhitungjan nilai UN ini dapat membuat motivasi belajar siswa menjadi tidak perlu lagi. Siswa tidak usah giat belajar, banyak main game dan PS aja, toh sudah terjamin masuk SMP negeri karena rumah dekat sekolah.

Penerimaan siswa baru berdasarkan sistem zonasi hanya cocok bisa diterapkan SMP negeri tersebar secara merata. Selama sekolah belum tersebar secara merata, maka sistem ini tidak adil bagi siswa yang jauh dari sekolah. Menurut saya sistem yang fair adalah dengan tetap mempertahankan seleksi berdasarkan nilai UN. Sistem zonasi tetap ada, tetapi persentasenya 20 sampai 30% saja untuk warga sekitar. Mungkin sistem seleksi SMA negeri bisa dijadikan acuan yang tetap memperhitungkan nilai UN ditambah skor jarak dari rumah ke sekolah. Biarkan anak-anak kita termotivasi belajar di sekolah untuk meraih nilai UN bagus agar dapat bersaing masuk sekolah negeri pilihannya.

Written by rinaldimunir

July 12th, 2018 at 3:25 pm

Posted in Seputar Bandung

Miras Oplosan Berujung Maut

without comments

Sebuah berita mengenaskan datang dari daerah Cicalengka Bandung. Puluhan anak muda tewas setelah menenggak minuman keras (miras) oplosan. Jumlahnya kemungkinan akan terus bertambah karena peminum yang dibawa ke rumah sakit Cicalengka banyak sekali.  Hingga saat ini jumlah korban yang tewas mencapai 63 orang.

Astaghfirullah, 63 orang? Ini jumlah korban terbesar yang pernah ada di Bandung. Sungguh miris dan sangat prihatin sekali kita mendengarnya, mereka seakan tidak pernah belajar dari kasus yang sama sebelumnya. Sudah sangat sering terjadi banyak anak muda mati secara sia-sia setelah minum miras oplosan. Segala macam cairan dioplos ke dalam larutan alkohol: obat nyamuk autan, spritus, pemutih baju, pembersih lantai, ginseng, dll. Mereka seperti tidak paham ilmu kimia, sebab cairan yang dioplos itu sebenarnya adalah racun bagi tubuh.

Dalam sebuah acara di sebuah televisi, dokter spesialis penyakit jantung menjelaskan efek yang timbul dari minum miras, termasuk miras oplosan. Alkohol di dalam miras dapat mengganggu sistem syaraf. Miras oplosan memiliki kadar alkohol yang sangat tinggi, ini sangat berbahaya bagi tubuh manusia. Setelah miras oplosan masuk ke dalam tubuh, ia akan merusak sistem syaraf. Kerusakan sistem syaraf menimbulkan efek selanjutnya pada paru-paru, jantung, dan sistem pencernaaan. Dada menjadi sesak, lambung bereaksi sehingga muntah-muntah, dan yang paling fatal adalah gangguan syaraf membuat denyut jantung berhenti sehingga akhirnya adalah kematian.

Mengapa para anak muda itu mau meminum miras oplosan? Pertama, harganya  murah dibandingkan miras yang asli.  Kebanyakan peminum miras oplosan berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Mereka tidak mampu membeli miras resmi yang harganya mahal. Mereka meracik sendiri miras oplosan atau dibeli dari pengecer yang menjual miras ilegal dalam ukuran liter dengan harga yang jauh lebih murah dari miras biasa. Satu atau dua liter miras oplosan cukup untuk minum hingga sepuluh orang.

Kedua, untuk mendapatkan sensasi yang berbeda, karena pencampuran bermacam-macam cairan ke dalam alkohol secara coba-coba mungkin menimbulkan efek kehangatan yang berbeda dari miras biasa. Ketiga, ingin happy-happy berkumpul dengan teman-teman, mka sebagai solidaritas pertemanan  mereka minum miras oplosan bersama-sama. Sayangnya mereka tidak menyadari bahayanya minum oplosan tersebut. Kesenangan sebentar berujung petaka: mereka tidur selama-lamanya dan tidak bangun-bangun lagi.

Kita menyayangkan anak-anak muda itu mati secara sia-sia karena miras. Ketidaktahuan mereka tentang bahaya minuman keras berujung fatal. Agama Islam sudah sangat jelas mengharamkan khamar (miras termasuk ke dalam khamar), tetapi sebagain ummatnya tetap saja tidak mempedulikan larangan meminum khamar.

Oh anak muda, kau ingin menjadi pemabuk, tetapi yang kau dapatkan adalah pemabuk murahan, dan nyawa taruhannya.

Written by rinaldimunir

April 11th, 2018 at 5:11 pm

Posted in Seputar Bandung

PilGub Jabar 2018, Siapa yang Akan Menang?

without comments

Hiruk pikuk tahun politik 2018 sudah dimulai pada awal Januari. Tahun 2018 berlangsung iven Pilkada, termasuk di Jawa Barat, propinsi tempat tinggalku kini. Setelah melalui proses tarik ulur yang cukup dramatis, akhirnya PilGub Jabar akan diikuti oleh empat pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur. Keempat pasang calon tersebut adalah Deddy Mizwar – Dedi Mulyadi yang diusung Partai Demokrat dan Golkar, Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum yang diusung oleh Nasdem, PPP, PKB, dan Hanura, Sudradjat – Akhmad Syaikhu yang diusung Gerindra, PKS, dan PAN, serta Tubagus Hasanuddin – Anton Charliyan yang diusung oleh PDIP.

Empat pasang calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat

Sebenarnya jabatan Gubernur tidaklah terlalu menarik, karena negara kita menganut asas otonomi daerah. Kewenangan di daerah dipegang oleh Bupati/Walikota, Gubernur bertindak sebagai koordinator saja. Bupati/Walikotalah yang membuat kebijakan di daerahnya, bukan Gubernur, sehingga para bupati dan walikota sering disebut sebagai “raja kecil” yang berkuasa di daerahnya.

Tetapi, mengapa PilGub tahun 2018 ini sangat menarik perhatian? Tak lain dan tak bukan karena tahun berikutnya, 2019, adalah tahun politik panas. Pada tahun 2019 rakyat Indonesia melakukan pemilihan umum untuk memilih anggota legislatif dan presiden. Nah, posisi Presiden Jokowi tahun 2019 belum aman kalau ia ingin menjadi presiden lagi, sebab hasil-hasil jajak pendapat beberapa lembaga survey menyebutkan elektablitasnya masih di bawah 50%. Meskipun kepuasan rakyat terhadap kinerjanya tinggi, tetapi tidak sebanding dengan elektabilitas yang belum mencapi 50% itu.

Nah, disinilah letak strategisnya Pilkada tahun 2018. Partai-partai politik berlomba-lomba menempatkan calon terbaiknya dalam pemilihan bupati, walikota, dan gubernur sebagai ajang pemanasan  menjelang Pemilu 2019. Partai-partai politik itu berusaha memenangkan calonnya menjadi penguasa di daerah, karena akan memudahkan tujuan mereka mencapai kekuasaan yang lebih tinggi. Jika berhasil memenangkan Pilkada, maka bupati, walikota, atau gubernur yang mereka jagokan akan “dimanfaatkan” untuk memenangkan partainya dalam Pemilu 2019. Dana-dana politik untuk memenangkan Pemilu 2019 lebih mudah diperoleh karena bupati, walikota, dan gubernur itu memiliki akses ke birokrasi atau pengusaha di daerahnya. Itu sudah menjadi rahasia umum di negeri ini bahwa birokrasi digunakan penguasa daerah untuk tujuan politiknya.

PilGub Jabar menyedot perhatian karena Jawa Barat adalah propinsi dengan penduduk paling besar, yaitu 47 juta. Jawa Barat merupakan lumbung suara bagi banyak partai politik. Tetapi, di Jawa Barat ini Jokowi tumbang pada Pilpres 2014, dikalahkan oleh Prabowo dengan persentasi 60% : 40%. Maka, siapapun yang berhasil menguasai Jawa Barat akan memudahkan memenangkan persaingan dalam Pilpres 2019 nanti. Di sinilah letak pentingnya PilGub Jabar 2018. Maka, tidak heran Ridwan Kamil yang diusung salah satunya oleh Partai Nasdem diikat dengan perjanjian harus mensukseskan kemenangan Jokowi pada Pilpres 2019 nanti.

Lalu, siapakah calon gubernur yang akan dipilih oleh rakyat Jawa Barat pada Pilgub nanti? Di atas kertas adalah Ridwan Kamil. Ridwan Kamil selalu unggul dalam berbagai jajak pendapat. Peluangnya paling besar untuk memenangkan PilGub. Tetapi, banyak yang beranggapan Ridwan Kamil baru menang “di udara” (di dunia maya), yaitu di wilayah perkotaan yang melek Internet dan selalu update informasi, sementara di darat (wilayah pedesaan) belum tentu (kurang terlalu dikenal).

Tipikal orang Sunda (Jawa Barat) adalah memilih pemimpin yang memenuhi aspek nyunda, nyantri, dan nyakola. Dilihat dari ketiga aspek tersebut semua pasangan calon memiliki kelebihan dan kekurangan. Nyunda, semua calon orang suku Sunda, jadi tidak ada masalah (meskipun Deddy Mizwar orang Sunda tapi lebih banyak tinggal di Jakarta).   Nyakola (berpendidikan), semuanya merupakan intelektual dan berpendidikan.

yantri artinya taat agama (Islam). Tiga pasangan calon (Ridwan Kamil – Uu, Sudradjat – Akhmad Syaikhu, Deddy Mizwar – Dedi Mulyadi) memiliki rekam jejak yang dapat dinilai aspek kesantriannya. Untuk Dedi Mulyadi ada rekam jejak yang diingat bagi pemilih muslim yang kritis, yaitu kiprahnya selama menjadi Bupati Purwakarta mengadakan iven yang dianggap menjurus syirik dan membangun patung-patung di kota Purwakarta yang ditentang ulama dan ormas Islam.  Sementara pasangan Tb. Hasanuddin – Anton Charliyan jarang terdengar kiprahnya dalam soal keislaman. Faktor PDIP sebagai partai yang kurang dekat dengan Islam mungkin akan membuat jarak bagi pemilih yang menimbang aspek ini sebagai kriteria memilih.  Apalagi, Anton Charliyan ketika menjadi Kapolda Jabar pernah meninggalkan catatan yang kurang mengenakkan yaitu kejadian bentrokan antara ormas binaannya dengan sebuah ormas Islam.

Ridwan Kamil bukannya tanpa ada masalah juga. Awal-awal pencalonannya oleh Partai Nasdem menimbulkan pro dan kontra. Ridwan Kamil menerima pinangan Nasdem pada saat yang tidak tepat, yaitu saat suasana kebatinan pemilih muslim masih diliputi kemarahan oleh kasus Ahok. Kebetulan Nasdem adalah salah satu pengusung Ahok pada Pilkada DKI. Banyak pengagum dan fans Ridwan Kamil memilih meninggalkannya,  istilahnya unfriend. Saya tidak tahu apakah saat ini “rasa luka” pemilih yang unfriend itu masih berbekas atau sudah mulai melupakan. Wallahu alam.

Untuk pasangan Sudradjat – Akhamad Syaikhu, ini wajah baru yang kurang dikenal di Jawa Barat. Orang memilih karena kenal terlebih dahulu, kalau tidak dikenal mungkin kurang dilirik. Perlu waktu dan kerja keras mesin partai pengusung untuk memperkenalkannya ke penduduk Jawa Barat, padahal waktu yang tersisa hanya enam bulan.  Apakah berhasil, waktu yang akan menjawabnya.

Warga Jawa Barat bebas menentukan pilihannya sesuai preferensinya. Mau pilih figur atau melihat partai pengusung? Memilih calon dengan melihat rekam jejak? Yang jelas faktor SARA tidak akan terjadi pada PilGub Jabar nanti. Mengenai siapa yang akan menang, masih samar-samar.


Written by rinaldimunir

January 8th, 2018 at 5:33 pm

Angkot dan Taxi Daring, Dua Sisi Kehidupan Berbeda

without comments

Hari ini saya naik angkot dari Jalan Riau ke kampus ITB. Penumpangnya hanya saya sendiri di belakang. Sepi. Meski sepi, Pak Supir angkot tetap menjalankan angkotnya mencari penumpang yang masih setia menunggu angkot di pinggir jalan. Dari sisi ekonomi sebetulnya dia merugi karena menjalankan angkot menyusuri jalanan kota tetapi hanya membawa segelintir penumpang. Pendapatan yang masuk dari mengangkot tentu tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkannya (bensin, makan, perawatan, tips buat preman, dsb). Tapi dia tidak punya pilihan lain. Mencari pekerjaan saat ini tidak mudah.

Zaman telah berubah. Pengguna transportasi sudah beralih ke sepeda motor dan transportasi daring (online). Sepeda motor lebih praktis karena dapat menembus kemacetan. Berbeda dengan angkot yang sering berhenti dan ngetem lama menunggu penumpang, memakai sepeda motor jauh lebih bebas dan sesuka hati pemiliknya mau pergi ke mana saja.

Untuk alasan kedua, transportasi daring, sekarang sudah menjadi pilihan penting bagi masyarakat. Trasportasi daring seperti ojek daring dan taxi daring dari tiga perusahaan utama  (Gojek, Grab, dan Uber) telah menjadi andalan masyarakat yang enggan naik angkutan umum.  Tidak perlu capek-capek ke jalan raya mencari angkutan umum. Tinggal pesan via ponsel, taxi daring atau ojek daring datang ke rumah atau tempat kita memesan untuk menjemput. Selain efisien, ongkosnya murah lagi karena masih disubsidi oleh perushaannya yang rajin “membakar duit” investor.

Pengemudi (driver) transportasi daring bisa siapa saja. Mahasiswa, karyawan, PNS, ibu rumah tangga, guru, satpam, dan lain-lain bisa menjadi driver asalkan memiliki kendaraan sendiri. Iming-iming bonus dari perusahaan transportasi daring telah membuat banyak orang tertarik ikut menjadi driver.

Saya sendiri adalah pengguna yang sering menggunakan transporatsi daring, khususnya taxi daring, selain ojek daring tentunya. Mobil yang saya naiki bermacam-macam merek dan tahun keluaran. Minggu lalu saya memesan taxi daring dari sebuah rumah sakit menuju rumah. Baru beberapa detik memesan via ponsel, order saya langsung ada yang menerima. Pengemudinya adalah seorang mahasiswa Unpad tingkat akhir yang baru saja selesai ujian skripsi. Mobil yang dibawanya adalah mobilnya sendiri (mungkin mobil yang dibelikan oleh orangtuanya), mobil terbaru dan jenis terbaru keluaran Honda (ups, sebut merek ?

Iseng-iseng saya tanya berapa bonus yang dia terima dengan me-go-car (saya pakai aplikasi Go-car). katanya, sehari, kalau mendapat order mengangkut penumpang 17 kali, dia mendapat bonus Rp390.000 pada hari biasa (weekday), atau Rp450.000 pada akhir pekan (weekend). Itu diluar ongkos dari penumpang dan sejumlah tips. Dia tidak perlu keliling-keliling mencari penumpang seperti halnya taxi konvensional atau angkot, cukup mangkal di suatu tempat keramaian (stasiun, pangkalan travel, mal, pasar, dsb), tunggu order yang masuk ke aplikasi, maka dia sudah mendapat penumpang.  Kerjanya cukup dari jam 8 pagi hingga jam 10 malam saja, suka-suka dia saja.

Saya berhitung-hitung, jika sehari katakanlah dia mendapat pendapatan (bonus + ongkos + tip dari penumpang) sebesar Rp500.000, maka sepuluh saja hari dia mendapat 5 juta, sebulan dia mendapat 15 juta rupiah (diluar bensin dan makan). Itu penghasilan yang sangat besar dan menggiurkan bagi anak muda seperti dia.

Bandingkan dengan nasib supir angkot di atas. Dengan penumpang yang sepi, setiap hari paling banter dia hanya mendapat 100 – 150 ribu rupiah saja. Jika dikurangi makan dan setoran, paling banter dia mendapat hanya 50 ribu rupiah saja, itu yang bisa dibawanya  pulang. Nasib yang sama juga dialami oleh supir taxi konvensional yang jumlah penumpangnya semakin menyusut. Orang lebih senang menggunakan taxi daring daripada taxi konvensional karena ongkosnya murah.

Dengan ketimpangan seperti itu, maka tidak heran sering terjadi bentrokan antara pengemudi transporatsi daring dengan pengemudi transportasi konvensional. Di Bandung perseteruan keduanya sangat sengit dan cenderung anarkis. Pengemudi taxi daring dicegat, dipukul, mobilnya dirusak. Kalau sudah menyangkut urusan perut, maka logika dan nalar tidak jalan lagi. Golongan menengah (yang direpresentasikan oleh mahasiswa tadi) telah mengambil lahan golongan lemah. Sungguh persaingan yang tidak sehat dan tidak seimbang.

Tentu kita tidak dapat menyalahkan sepenuhnya pilihan masyarakat yang beralih ke taxi daring ketimbang angkot atau taxi konvensional. Dengan kebiasaan angkot yang sering ngetem, sering berhenti, dan melalui jalur yang tidak shortetst path, maka pilihan dengan taxi daring adalah alternatif yang tidak terelakkan. Jika ditambah dengan kondisi mobil angkot yang sudah reot, tidak nyaman, panas, bersempit-sempit dengan peumpang lain, maka alasan memilih taxi daring semakin kuat. Dengan kata lain, masyarakat terbantu dengan kehadiran sarana transportasi daring.

Di sisi lain, pemerintah pun gamang dengan kondisi ini. Perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat tidak diikuti dengan kebijakan yang adil. Terkesan pemerintah daerah cuci tangan. Transportasi konvensional dibiarkan hidup segan mati tak mau, tetapi melarang transportasi daring juga tidak ada dasar hukumnya. Pemerintah seperti membiarkan konflik horizontal di tengah masyarakat. Kita tidak tahu sampai kapan demo-demo pengemudi transportasi daring vs pengemudi transportasi konvensional akan terus berlangsung.

Supaya persaingan ini fair, salah satu solusinya adalah pemerintah daerah mengambil alih pengelolaan semua transportasi umum. Artinya semua angkot itu dimiliki Pemda, supirmya digaji, pelayanannya diperbaiki, jalurnya dibebaskan seperti taxi daring, jadwalnya tepat waktu, dan lain-lain. Jika ini dlakukan, maka persaingan antara kedua jenis transportasi akan berlangsung sehat. Masyarakat mempunyai banyak pilihan. Tapi, ini mungkin cuma mimpi.


Written by rinaldimunir

October 26th, 2017 at 3:18 pm

Yang Dibutuhkan Anak-Anak Muda adalah Akses Internet dan Colokan Listrik

without comments

Lihatlah tempat-tempat makan anak-anak muda di Bandung pada malam hari, seperti kafe, kedai nasi goreng, kedai pasta, kedai ramen, dan warung makan kekinian yang lagi ngetrend seperti warung Upnormal. Tempat-tempat itu selalu penuh dengan pengunjung yang rata-rata anak-anak muda seperti pelajar dan mahasiswa. Mereka tidak hanya sekedar makan lalu pulang, tetapi betah berlama-lama di sana, berkumpul bersama teman-temannya, ngobrol, atau membicarakan rencana kegiatan.

upnormal

Sebuah warung kekinian yang setiap malam selalu penuh pengunjung, yang umumnya anak-anak muda

Sambil makan dan ngobrol, tangan-tangan mereka tidak pernah lepas dari gawai (gadget), terutama smartphone. Sambil  asik dengan gawainya, sambil sesekali menimpali obrolan temannya. Sebagian yang lain asyik menatap laptop, mungkin sedang berselancar di dunia maya atau bermain game. Piring-piring makan, gelas, dan botol minuman ringan masih berserakan di meja mereka.

Mengapa mereka betah berlama-lama di tempat makan tersebut? Padahal menu makanan di dalamnya biasa-biasa saja, selain itu beberapa kedai agak mahal harganya. Tak lain karena kedai makan tersebut menyediakan wifi untuk mengakses intenet. Selain akses internet, warung makan juga menyediakan colokan listrik. Jadi, jika batere gawai atau laptopnya habis, mereka tidak perlu kemana-mana untuk mengisi ulang batere.

Di zaman internet seperti ini orang-orang tidak lepas dari gawainya. Penyebabnya, pertama karena ada games, kedua karena ada media sosial dan jejaring pertemanan (social network). Anak-anak muda adalah konsumen terbesar produk games yang beraneka ragam dan dapat diunduh secara gratis dari Playstore. Mereka juga adalah pengguna terbesar media sosial seperti blog, YouTube, Instagram, Plurk, dan jejaring pertemanan yang populer seperti Facebook, Line, Path, Whatsapp. Tipikal orang Indonesia adalah senang mengobrol. Sejak ada media sosial dan jejaring sosial, obrolan pun berpindah secara daring (online).

Untuk semua hal tersebut di atas diperlukan akses internet, maka kedai-kedai makan itu menangkap peluang dengan menyediakan wifi yang dapat diakses secara gratis oleh pengunjungnya. Itu adalah daya tarik buat kedai mereka. Nah, berlama-lama menggunakan gawai tentu akan menghabiskan daya batere, maka colokan listrik yang cukup banyak adalah kebutuhan penting berikutnya yang harus ada di sebuah kedai. Kedua item tersebut menjadi alasan mengapa kedai-kedai itu selalu ramai.

Jadi, yang dibutuhkan oleh anak-anak muda zamans ekarang adalah dua: pertama akses internet, kedua colokan listrik. Siapa yang bisa membaca kebutuhan itu, maka kedainya akan didatangi anak-anak muda.


Written by rinaldimunir

January 19th, 2017 at 4:31 pm

Posted in Seputar Bandung

Jembatan Layang Antapani yang Cantik

without comments

Masih ingat dengan tulisan saya yang berjudul Berharap banyak pada jembatan layang Antapani? Akhir tahun 2016 jembatan layang tersebut sudah selesai dibangun dan mulai  tanggal 2 Januari 2017 kemarin sudah digunakan. Pembangunannya tergolong cepat, hanya 6 bulan saja, dan biaya pembangunannya “hanya” 40 milyar. Normalnya, untuk jembatan layang yang sama membutuhkan waktu pembangunan satu tahun dan biaya 100 juta, tetapi dengan teknologi baja bergelombang jembatan layang ini hemat waktu dan biaya pengerjaan hingga 50%.

Menariknya lagi, jembatan layang ini dibalur dengan seni sehingga terlihat cantik dan menarik. Di sepanjang dinding luar dan dinding dalamnya diilapisi lukisan mural mozaik. Mural mozaik ini terbuat dari bahan keramik sehingga terlihat mengkilap bila terkena cahaya. Mural mozaik ini karya seniman lulusan FSRD ITB yang dikenal dengan nama John Mart. Berikut foto-fotonya:

 

antapani1

antapani2

antapani6

antapani3

antapani4

antapani5

Menurut saya, ini jembatan layang tercantik yang pernah saya lihat. Bandung sebagai kota seni maka  wajar semua infrastruktur  di dalam kotanya diberi sentuhan seni. Hal ini  tentu tidak lepas dari peran Walikota Bandung, Ridwan Kamil, yang kreatif.

Mungkin jembatan layang Antapani ini akan menjaid ikon baru di kota Bandung. Saya berharap tidak ada aksi vandalisme yang mencorat-coret tembok jembatan layang ini dengan tulisan dari cat semprot. Jangan di-pylox ya….


Written by rinaldimunir

January 6th, 2017 at 4:43 pm

Posted in Seputar Bandung

Menemukan Mushola di RS Santo Boromeus Bandung

without comments

Menemukan ruang tempat sholat (mushola) di tempat-tempat umum (bandara, stasiun, terminal, mal, dan sebagainya) sudah merupakan hal yang biasa. Tetapi, menemukan mushola di sebuah rumah sakit Katolik adalah pengalaman yang luar biasa. Apalagi mushola itu berdampingan dengan kapel (gereja kecil) dan lambang-lambang salib yang bertebaran di dinding rumah sakit.

Pengalaman ini saya peroleh ketika membawa istri berobat ke dokter yang praktek di Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung. Rumah sakit ini sangat dekat dengan kampus ITB, tempat kerja saya. Sambil menunggu hasil pemeriksaan radiologi, saya melihat ke jam tangan waktu sholat Ashar sudah masuk. Saya belum melaksanakan sholat Ashar. Masjid terdekat dengan rumah sakit St. Borromeus adalah Masjid Salman ITB. Dulu ketika kita berada di rumah sakit ini dan ingin melaksanakan kewajiban sholat, maka petugas Satpam rumah sakit memberi saran ke Masjid Salman. Tetapi sekarang tidak perlu jauh lagi, tenrnyata di dalam RS Boromeus sendiri tersedia mushola yang cukup representatif.

Agak kurang yakin juga saya apakah memang ada mushola di rumah sakit ini, mengingat ini rumah sakit Katolik. Namun saya beranikan diri bertanya kepada Satpam di sana di mana letak mushola. Dia memberi petunjuk mushola terletak di gedung Irene dekat tangga. Ternyata benar, ada sebuah mushola yang cukup nyaman di dekat tangga Gedung Irene.  Musholanya ada dua buah, satu untuk laki-laki dan satu untuk perempuan. Tersedia juga tempat wudhu untuk masing-masing mushola. Mushola itu diberi nama Ruang Doa/Mushola seperti diperlihatkan pada foto-foto di bawah ini.

borrommeus2

borromeus1

borromeus3

Alhamdulillah, ternyata memang benar ada mushola di Rumah Sakit Santo Boromeus. Tidak jauh dari situ ada kapel (gereja kecil) bernama kapel Hati Kudus Yesus. Hmmm…sebuah bentuk kerukunan yang patut diapresiasi. Meskipun rumah sakit ini bernuansa Katolik, tetapi meraka menyediakan tempat ibadah bagi kaum muslim. Keberadaan mushola ini sangat wajar karena memang sangat dibutuhkan. Mayoritas pengunjung rumah sakit Santo Boromeus (pasien, keluarga pasien, pengunjung pasien, dan orang yang datang berobat) adalah kaum muslim, begitu juga pegawai rumah sakit ini banyak juga beragama Islam. Tentu mereka memerlukan tempat sholat untuk melaksanakan kewajiban agamanya.

Saya memberi apresiasi yang tinggi kepada pengelola Rumah Sakit Santo Borromeus atas ketersediaan mushola ini. Terima kasih, semoga kerukunan antar umat beragama tetap terpelihara dengan baik.


Written by rinaldimunir

November 18th, 2016 at 12:49 pm

Posted in Seputar Bandung

Orang Cina Bandung yang “Nyunda”

without comments

Membaca berita kerusuhan rasial di Tanjungbalai, Sumatera Utara, minggu lalu, membuat saya merasa sangat prihatin. Ya, hanya bisa prihatin, karena masalah kecil antara seorang warga keturunan Tionghoa dengan kaum pribumi di kota itu berujung pembakaran rumah ibadah kaum Tionghoa. Peristiwa ini menyiratkan bahwa hubungan antara warga Tionghoa dengan penduduk pribumi di sana masih menyimpan masalah, yang sewaktu-waktu bisa meledak bagaikan bara di dalam sekam. Ada masalah sedikit saja, maka akan ada pihak ketiga yang memprovokasi warga untuk melampiaskan kemarahan sekaligus mengambil kesempatan dalam kesempitan (pencurian misalnya). Kerusuhan SARA di Indonesia memang setiap waktu bisa meletup gara-gara masalah sepele.

Saya tidak pernah hidup di Sumut, jadi kurang tahu seperti apa hubungan antara etnik di sana, khususnya antara penduduk pribumi dengan warga keturunan.  Yang saya tahu adalah kondisi di Bandung. Saya sudah tiga puluh tahun tinggal di Bandung, dan saya melihat sendiri hubungan antara etnik Tionghoa dengan warga pribumi (Sunda) di Bandung terjalin sangat baik.

Orang Tionghoa di Bandung berbaur dengan orang Sunda. Jangan heran jika anda datang ke Bandung, orang-orang cina di sini berbicara dalam Bahasa Sunda.  Mereka memakai bahasa Sunda bukan hanya kepada orang pribumi, tetapi juga kepada sesama orang Tionghoa lainnya.

Contohnya enchi di bawah ini. Nci atau enchi adalah panggilan buat wanita cina di Bandung. Enchi-enchi ini pedagang sepeda di Jalan Veteran, Bandung. Jalan Veteran di kawasan Kosambi merupakan sentra toko-toko sepeda di Bandung. Sejak anak masih balita hingga remaja saya sudah langganan beli sepeda di toko enchi ini. Mulai dari sepeda roda tiga hingga sepeda gunung. Tukar tambah sepeda bisa di tokonya, jadi sepeda lama yang dulu saya beli di toko si enchi bisa saya tukar lagi dengan sepeda baru.

cina3

Jalan Veteran Bandung, salah satu kawasan perniagaan yang banyak diiisi oleh toko-toko sepeda.

Toko-toko sepeda di Kosambi para pemiliknya umumnya dari etnik Tionghoa. Mereka mempekerjakan orang Melayu ( Sunda) sebagai pegawai teknisi sepeda. Simbiosis Cina-Melayu sudah umum di mana-mana. Ada relasi saling membutuhkan antara keduanya.

Enchi ini wanita tua yang ramah. Bicaranya pelan dan lembut. Dia bicara pakai bahasa Sunda, bahkan kepada anaknya dan kepada sesama enchi pun tetap pakai bahasa Sunda, bukan bahasa Mandarin. Bahasa Sundanya halus, tak beda dengan orang Sunda umumnya, malah lebih halus dari orang Sunda kebanyakan, dengan logat  Sunda yang kentara. Rata-rata orang Tionghoa di Bandung memang berbicara dengan bahasa Sunda sehari-hari. Mereka bergaul dengan pribumi, di sekolah-sekolah, termasuk sekolah yang banyak diisi orang cina,  diajarkan muatan lokal yaitu bahasa Sunda. Secara bahasa mereka sudah menyatu dengan pribumi di sini. Mereka sudah menjadi Sunda sejak kecil, hanya secara rupa saja yang berbeda.

cina1

Enchi, pedagang sepeda yang ramah

cina2

Sepeda-sepeda di toko si enchi

Sejauh yang saya ketahui setelah tiga puluh tahun tinggal di Bandung, harmoni antara etnik Tionghoa dan etnik Sunda terjaga dengan baik. Belum pernah terjadi kerusuhan rasial antara kedua etnik ini. Mungkin seperti kata saya tadi, orang Cina di Bandung sudah menjadi Sunda sejak kecil. Faktor rukun ini ditambah lagi dengan sifat orang Sunda yang ramah terhadap kaum pendatang,  sehingga keberadaan orang cina diterima dengan baik.

Menurut saya, salah satau cara agar terjadi harmoni antara etnik berbeda di tanah air, resepnya adalah menyesuaikan diri dengan budaya lokal. Berbicara dengan bahasa lokal, misalnya, itu adalah salah satu cara agar bisa diterima. Orang-orang cina di Jawa, Padang, Manado, dan lain-lain yang saya ketahui juga berbicara dalam bahasa lokal. Di negara-negara seperti Thailand, Vietnam,  Laos, dan lain-lain, orang Cina malah menjadi pengikut Budha sesuai dengan agama mayoritas di sana. Di Filipina orang-orang cina beragama Katolik sesuai agama mayoritas di sana.

Hanya di Indonesia asimilasi itu berbeda, orang Cina tidak mengikuti agama mayoritas pribumi karena faktor sejarah penjajahan Belanda. Penjajah Belanda mengkategorikan penduduk menjadi kelas-kelas sosial. Orang Belanda dan keturunan Indo-nya merupakan warga kelas satu, orang Tionghoa warga kelas dua, dan orang pribumi warga kelas tiga. Berbeda kelas maka berbeda pula pergaulannya, termasuk budayanya. Warga kelas satu tidak mau serupa dengan warga kelas dua atau tiga, warga kelas dua juga tidak mau seruap dengan warga kelas tiga. Serupa itu dalam pengertian budaya dan agama. Jadi, warga Belanda dan kaum Indo beragama Kristen, warga Cina beragama Budha atau Khong Hu Chu, dan warga pribumi beragama Islam (khususnya di Jawa).

Oleh karena itu, proses pembaruan Tionghoa dan pribumi masih menyisakan masalah. Jika agama tidak mungkin bisa disatukan, maka pembauran bisa dilakukan secara budaya. Contohnya berbahasa lokal seperti orang Cina di Bandung. Mereka sudah nyunda sejak kecil.


Written by rinaldimunir

August 2nd, 2016 at 12:14 pm

Setelah PPDB 2016 Berlalu

without comments

Tanggal 18 Juli 2016 adalah awal tahun ajaran baru untuk tingkat SD, SMP, dan SMA. Sebagian besar anak-anak sudah mendapat sekolah yang diidamkannya masing-masing, sebagian lagi masuk di sekolah yang kurang diinginkannya, dan sebagian lagi gagal mendapat sekolah. PPDB (Pendaftaran Peserta Didik baru) sekolah negeri tahun 2016 di Kota Bandung sudah berakhir dengan sejumlah banyak catatan. Tentu ada yang bahagia, sebagian tentu ada yang merasa kecewa. Ada yang merasa diperlakukan kurang adil, tetapi sebagian lagi merasa PPDB ini sudah adil. Adil atau tidak adalah relatif bagi setiap orang, jika keinginannya tercapai maka dia akan senang hati menyebutnya sudah adil, tetapi jika keinginannya tidak tercapai maka dia mungkin menganggap proses PPDB ini tidak adil.

Masyarakat kota Bandung kebanyakan negeri-minded.  Bukan apa-apa, untuk tingkat SMP dan SMA kebanyakan sekolah yang bagus itu adalah sekolah negeri. Sekolah swasta hanya satu beberapa saja yang bagus dan itupun uang pangkal serta SPP-nya lumayan mahal, tidak terjangkau oleh sebagian besar masyarakat. Lagipula, sekolah swasta yang bagus-bagus itu sudah tersegmentasi pasarnya berdasarkan etnis, agama, atau status sosial.

Hasil PPDB 2016 sudah diumumkan di situs PPDB Kota Bandung, namun data kelulusan PPDB ini hanya akan bertahan selama tiga bulan saja, setelah itu masyarakat tidak dapat melihatnya lagi. Namun beberapa blog merekap hasil PPDB sehingga dapat menjadi rujukan untuk tahun-tahun berikutnya, misalnya direkap oleh seorang volunteer di dalam blog bicarapassinggrade.wordpress.com.

Anak saya yang nomor dua masuk SMA taun ini. Keinginannya untuk masuk SMA negeri  di Jalan Belitung ternyata belum berhasil. Kurang sedikit lagi passing grade-nya untuk bisa lolos pada SMA pilihan pertama di Jalan Belitung itu.  Andai Peraturan Walikota (Perwal) yang mengatur passing grade luar kota minimal sama dengan passing grade tahap dua (gabungan wilayah), mungkin dia bisa lolos di SMA pilihan pertama. Namun Panitia PPDB tidak menjalankan amanah Perwal ini dengan alasan yang tidak diketahui. Meskipun saya sudah menyampaikan komplain ini ke Disdik di Jalan Ahmad Yani, namun tidak ada tanggapan. Ya sudahlah, anak saya akhirnya bisa dengan lapan dada menerima masuk di SMA pilihan kedua. Meskipun ada rona kekecewaan, namun saya anggap mungkin sudah jalan hidupnya demikian. Dia memang tidak  lolos masuk SMA terbaik di kota Bandung, namun insya Allah SMA pilihan keduanya ini mungkin SMA yang terbaik bagi dirinya.

Harus saya akui, PPDB 2016 tetap  belum bisa menghilangkan kesan sekolah favorit dalam benak masyarakat, termasuk saya sendiri. Meskipun kebijakan walikota Bandung pada PPDB tahun ini bertujuan baik yaitu agar anak bersekolah di sekolah terdekat dengan rumahnya (sistem rayonisasi), namun bagi sebagian masyarakat memburu sekolah favorit tersebut tetap tidak bisa dihilangkan. Bagi saya pribadi, masuk ke sekolah favorit itu bukan soal gengsi, tetapi bersekolah di sekolah favorit itu agar dapat merasakan suasana kompetitif bagi sang anak. Anak-anak yang masuk di sekolah favorit itu memang sudah bibit unggul, jadi jika berada di tengah-tengah mereka dapat memotivasi anak lain untuk selalu mengejar ketertinggalan dan berusaha terus maju. Inilah yang saya maksud dengan suasana kompetitif yang berdampak positif bagi perkembangan akademik seorang anak. Bukankah di ITB tempat saya mengajar suasana kompetitif itu terbentuk karena mahasiswa yang masuk adalah mahasiswa pilihan yang berotak brilian. Input mahasiswa yang bagus jugalah yang membuat ITB bisa menjadi perguruan tinggi terdepan dalam bidang sains dan  teknologi. Suasana kompetitif semacam ini sulit ditemukan di sekolah atau perguruan tinggi yang biasa-biasa aja.

PPDB tahun 2016 yang membagi seleksi calon siswa menjadi kategori Dalam Wilayah (DW) dan Gabungan Wilayah (GW) (baca tulisan saya sebelumnya) menghasilkan beberapa kejutan yang tak terduga. Beberapa SMA favorit memperoleh siswa dengan nilai UN yang sangat rendah. Di sebuah SMA favorit nilai UN terkecil yang diterima adalah 166. Jika dirata-rata dengan empat pelajaran yang di-UN-kan, maka nilai rata-ratanya hanya 41,5. Saya berpikir positf saja, mungkin sudah rezekinya demikian, maka kita tidak perlu membuli anak yang bernilai UN rendah tersebut. Ada puluhan anak dengan nilai UN yang rendah-rendah lolos masuk SMA favorit tersebut, sangat jauh dengan nilai UN mayoritas anak lainnya yang tinggi-tinggi. Anak-anak tersebut bisa lolos masuk karena “diuntungkan” dengan keberadaan rumah yang berada di dalam rayon SMA favorit itu. Karena jumlah pendaftar dari dalam wilayah SMA tersebut sangat sedikit (maklum bukan wilayah pemukiman penduduk), sementara kuota yang tersedia besar, maka mereka otomatis diterima karena tidak ada saingan di dalam wilayahnya. Mereka pun tidak perlu bersaing dengan anak-anak dari luar rayon (GW)  dengan nilai UN yang lebih tinggi, yang berjuang dengan susah payah untuk masuk dan akhirnya sebagian besar terlempar.

Apakah hasil seperti ini yang dimaksudkan Pak Walikota dengan sistem “proteksi wilayah”, yaitu anak-anak yang berada di dalam wilayah SMA-nya lebih diutamakan daripada anak-anak yang tinggal jauh. Jika sistem seperti ini diteruskan setiap tahun, maka bukan tidak mungkin kesan favorit SMA-SMA tersebut akan pudar karena mereka banyak menerima siswa dengan kemampuan pas-pasan akibat proteksi wilayah. Hal ini menjadi tantangan bagi para guru di sekolah tersebut, yang mungkin shock dengan kondisi ini, yaitu bagaimana membuat anak-anak yang mempunyai keterbatasan akademik itu menjadi orang-orang hebat di kemudian hari. Saya percaya pendidikan tidak hanya untuk memberdayakan otak kiri saja yang identik dengan kecerdasan intelektual, tetapi juga memberdayakan otak kanan yang berhubungan kecerdasan emosional. Kalau anak-anak itu  tidak dapat dibentuk menjadi orang pintar, mudah-mudahan para guru dapat membentuknya menjadi orang yang sholeh.


Written by rinaldimunir

July 18th, 2016 at 12:28 pm

Merdu dan syahdunya suara Muzzamil Hasballah

without comments

Di awal Ramadhan hingga hari ini masyarakat muslim Indonesia dibuat terpesona dengan video yang berisi lantunan suara Muzzamil Hasballah ketika mengimami sholat Maghrib dan Isya di Masjid Al-Lathif Bandung bulan Maret 2016.  Anda mungkin sudah pernah melihat beritanya di TV atau membaca profilnya dari berita daring. Kalau belum tahu, sila klik salah satu videonya di Youtube di bawah ini. Video Muzzamil menyebar secara viral di dunia maya.

Muzzamil Hasballah dulunya adalah mahasiswa Arsitektur ITB angkatan tahun 2011 yang berasal dari Aceh (sekarang sudah lulus). Suara Muzzamil Hasballah ketika melantunkan bacaan sholat terdengar merdu dan syahdu sekali, enak didengar telinga. Suaranya mirip dengan suara Mishari Rasyid, qori asal Kuwait yang terkenal itu.

Kalau video di bawah ini adalah bacaan Surat Ar-Rahman full. Perhatikan pada menit 00.52 ada bayangan sekelabat di belakang jamaah. Jin Islam kah itu? Wallahu alam bissawab.

Saya tidak mengenal mahasiswa ini secara pribadi, juga belum pernah bertemu muka, namun saya pernah menjadi jamaah sholat di Masjid Salman ITB dengan dia sebagai imam sholatnya. Muzzamil saya dengar adalah aktivis Masjid Salman ITB semasa kuliahnya. Ketika dia mengimami sholat, bacaan surat Alfatihah dan surat pendek lainnya terdengar sangat indah dan menggetarkan hati. Rasanya tidak akan “bosan” seandainya pun dia membaca surat yang panjang-panjang atau bahkan satu juz dalam sekali sholat. Video di bawah ini adalah ketika dia mengimami sholat Tarawih di Masjid Salman ITB tahun 2014, yaitu dua tahun sebelum video yang paling atas menjadi viral.

 

Dalam pandangan saya Muzzamil bagaikan seorang hafidz yang sedang membaca Al-quran dengan indahnya. Mungkin kita perlu menunggu rekaman suaranya dalam format MP3 untuk seluruh surat di dalam Al-quran.:-)

Jarang-jarang ada orang dikaruniai suara indah seperti Muzzamil. Sekarang mungkin dia sedang laris diminta untuk mengimami sholat di berbagai masjid. Mungkin pula Muzzamil  menjadi calon menantu idaman para orangtua yang memiliki anak gadis:-). Semoga Muzzamil tetap rendah hati setelah menjadi seorang yang terkenal, jangan sampai terperosok dalam puja-puji yang dapat membuat riya. Amiin.


Written by rinaldimunir

June 27th, 2016 at 12:11 pm