if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Seputar Bandung’ Category

Uneg-Uneg PPDB Sistem Zonasi (lagi)

without comments

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019 untuk sekolah negeri SMP dan SMA di kota Bandung dan Jawa Barat umumnya sudah selesai. Hasil-hasilnya sudah diumumkan. Tentu ada yang sedih dan gembira dengan hasilnya. Diantara banyak kesedihan tersimpan kekecewaan mendalam dari sebagian orangtua yang merasa “dizalimi” dengan sistem penerimaan siswa berdasarkan jarak rumah. Dengan persentase kuota yang besar untuk jalur domisili berdasarkan jarak rumah ke sekolah (90%, termasuk kombinasi jarak dan NEM) dan hanya menyisakan 2,5% kuota untuk jalur berdasarkan nilai NEM dan 2,5% untuk prestasi perlombaan, PPDB sistem zonasi meninggalkan cerita pedih. Kekisruhan selama 1 bulan ini selama proses PPDB akhirnya membuat presiden turun tangan.

Menurut saya PPDB sistem zonasi merupakan kebijakan Mendikbud yang paling “konyol” dari seorang menteri miskin prestasi. Di akhir masa jabatannya ia membuat aturan zonasi 90% dalam PPDB. Setelah disentil oleh Pak Jokowi, akhirnya beliau mengubah kuota jalur prestasi dari 5% menjadi 15% dan menurunkan kuota jarak domisili menjadi 80%. Diubahnya hari Jumat sore, sedangkan di Jabar pendaftaran PPDB SMA terakhir hari Sabtu. Mana pula bisa formulir yang sudah dimasukin dicabut kembali? Sudah telat. Tidak dipikir dulu matang-matang sebelum bikin aturan, bisa diubah seenaknya di tengah jalan saat PPDB sedang injury time. Anak-anak sekolah jadi kelinci percobaan setiap tahun dengan aturan PPDB yang selalu berubah-ubah.

Untuk PPDB SMP di kota Bandung perubahan kuota jalur prestasi menjadi 15% bagaikan nasi sudah menjadi bubur. PPDB SMP di Bandung sudah tuntas sebelum lebaran dengan kuota jalur prestasi berdasarkan nilai USBN hanya 2,5% atau sama dg 8 orang siswa. Tentu penambahan kuota sampai 15% sudah tidak bisa lagi dilakukan. Sudah selesai. Andai waktu itu kuotanya 15%, tentu anak bungsuku bisa masuk ke SMP …., tapi ya sudahlah.

Pak menteri membuat aturan PPDB salah satu tujuannya adalah menghapus label sekolah favorit dan tidak favorit. Baiklah, saya tidak keberatan dengan maksud ini, labelisasi favorit dan tidak favorit telah mengkastakan sekolah negeri.  Dilanjutkan olehnya, bersekolah di mana saja sama.  Untuk pernyatan kedua ini saya tidak setuju. Jelas tidak sama, pak menteri. Bersekolah di SMP 2 Bandung dengan fasilitas sarana lengkap dan wah tentu tidak sama dengan bersekolah di SMP 5x yang sarana dan prasarananya memprihatinkan. Sekedar contoh, toilet di SMP 2 saja sekelas toilet hotel, sedangkan toilet di SMP xx jorok dan bau pesing. Itu baru toilet. Wajar orangtua mencari sekolah negeri yang berkualitas bua putra-putrinya.

Pak menteri lupa. PPDB sistem zonasi itu memiliki dua syarat sebelum dilaksanakan. Syarat pertama adalah penyebaran sekolah negeri harus merata di setiap kecamatan dan proporsional dengan jumlah penduduk. Ada kecamatan yang sama sekali tidak memiliki sekolah negeri. Jika mereka mendaftar ke sekolah negeri di kecamatan tetangga jelas mereka akan tersingkir karena kalah oleh faktor jarak rumah yang jauh. Padahal ketika belum ada sistem zonasi mereka seharusnya bisa bersaing masuk sekolah negeri berdasarkan NEM. Memang solusi untuk masalah ini adalah perlu ditambah jumlah sekolah negeri, tetapi itu kan perlu waktu beberapa tahun lagi, sekarang mereka mau sekolah di mana?

Syarat kedua adalah kualitas setiap sekolah -baik sarana dan prasaran maupun kualitas guru-  sudah sama atau setara. Jika kedua syarat itu sudah dipenuhi, barulah bisa dikatakan bersekolah di mana saja sama. Barulah PPDB sistem zonasi bisa diterapkan. Bukan seperti sekarang yang sangat jomplang. Faktanya saat ini penyebaran sekolah negeri belum merata dan kualitasnya satu sama lain jauh berbeda. Butuh waktu untuk menyamakan dan meratakan.

Selama penyebaran sekolah belum merata dan kualitasnya belum sama atau setara, maka PPDB sistem zonasi dilakukan secara bertahap dulu,  jangan langsung memaksakan full seperti sekarang. Artinya seleksi berdasarkan NEM tetap diadakan selain faktor jarak juga dipertimbangkan.  Jika tidak, maka yang terjadi adalah gejolak di tengah masyarakat.

Sistem zonasi telah membuat sekolah-sekolah negeri yang selama ini punya nama turun reputasinya. Sekolah-sekolah itu menerima siswa dengan NEM yang kecil-kecil. Padahal reputasi sekolah unggulan dicapai selama puluhan tahun. Tidak ada yang salah memiliki sekolah negeri favorit sebab sekolah itu terbentuk secara alami. Bahkan putri Gubernur Jabar pun mendaftar ke sekolah favorit (SMAN 3 Bandung) yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya, padahal Pak Gub sendiri dalam beberapa kesempatan berkoar-koar agar masyarakat memilih sekolah yang dekat rumah saja demi mengurangi kemacetan.

Memiliki sekolah negeri unggulan (baca: favorit) sepertinya “tidak diizinkan” dengan sistem zonasi. Semua sekolah harus sama rasa dan sama rata. Semua sekolah harus unggulan. Namun dengan kondisi yang jomplang saat ini, seperti yang diungkapkan di atas, jelas belum bisa.

PPDB sistem zonasi seakan-akan mempersulit siswa-siswa pintar masuk sekolah negeri idamannya karena kuota yang tersedia sangat sedikit (2,5%). Hasil kerja keras mereka belajar kurang diapresiasi dengan proporsional. Mereka kalah dengan seleksi berdasarkan meteran. Orangtua mereka mungkin telah “salah” memilih lokasi rumah di pinggiran kota atau di luar zona sehingga gagal masuk sekolah yang diinginkan.

Dalam pandangan saya, aturan PPDB zonasi memang terlihat adil bagi siswa yang rumahnya dekat sekolah, tetapi zalim bagi siswa berprestasi yang rumahnya di luar zona atau jauh dari sekolah negeri. Impiannya untuk masuk sekolah yang diidamkannya pupus karena tidak bisa mendaftar ke sana. Jika tidak lolos ke sekolah negeri, ya ke sekolah swasta saja, kata pak menteri. Dikiranya ke sekolah swasta itu bisa pakai uang pangkal kayak mengeruk uang di selokan depan rumah saja.

Sekarang bagaimana tanggung jawab menteri terhadap anak-anak yang tidak diterima di mana-mana dan tidak memiliki uang untuk masuk ke sekolah swasta?

 

Written by rinaldimunir

July 1st, 2019 at 1:54 pm

Shalat Ashar di Masjid PDAM Bandung

without comments

Setiap pulang kantor dari kampus ITB ke rumah, saya selalu melewati Jalan Ciung Wanar. Suaru kali saat pulang pas menjelang shlat Asha, adzan menggema dari masjid PDAM yang terletak persis di pinggir jalan Ciung Wanara. Kompleks PDAM Tirtawening Kota Bandung sangat luas, dikelilingi oleh Jalan Badak Singa, Jalan Tamansari, dan Jalan Ciung Wanara. Mendengar adzan saya pun singgah sejenak untuk menunakan sholat di  Masjid Maaimaaskuub, demikian nama masjid yang terletak di halaman kantor PDAM itu.

Masjid ini dibangun baru menggantikan bangunan masjid yang lama di lokasi yang sama. Saya belum pernah sholat di masjid yang baru ini, hanya selalu melewatinya setiap hari.

Setelah masuk ke masjid ini, saya terpesona. Ini masjid yang unik. Dikelilingi oleh air yang mengalir, kolam-kolam, dan air mancur. Bahkan di mihrab tempat imam pun ada kolam air.  Wajar bertema air karena ia terletak di kantor perusahaan air minum.

Nama Maaimaskuub artinya air yang terus mengalir dari surga. Suara gemercik air di dalam masjid membuat suasana hati jadi tenteram. Air memang menyejukkan jiwa. Mihrabnya pun tidak berdinding sehingga udara segar selalu keluar masuk masjid. Nyaman. Mirip seperti masjid di Kotabaru Parahyangan.

Selama ini masjid di PDAM Bandung adalah pilihan warga ganesha dan sekitarnya yang ingin sholat Jumat tidak lama-lama. Kalau ibadah sholat jumat di Masjid Salman memang cenderung lama, terutama khutbah jumatnya. Kalau di masjid PDAM sudah terkenal khutbah Jumatnya singkat sehingga secara berkelakar disebut sholat Jumat turbo. Entah kalau sekarang, karena saya baru satu kali sholat Jumat di sini. Tentang hal ini pernah aya tulis pada tulisan tahun 2013,  Pengalaman Shalat Jumat di Masjid PDAM Bandung. Pada tulisan tersebut juga ada foto masjid yang lama. Jauh berbeda dengan masjid yang baru ini.

Masjid Maaimaskuub tidak hanya digunakan oleh pegawai PDAM saja, tetapi juga oleh pelajar SMA dan masyarakat umum yang berada di sana. Semoga masjid ini selalu terawat dan menjadi berkah buat sekelilingnya.

Written by rinaldimunir

June 20th, 2019 at 11:08 am

Antri Membeli Sate Jando di Jalan Cimandiri

without comments

Hari masih pukul 9 pagi ketika saya melewati Jalan Cimandiri di belakang Gedung Sate Bandung, tetapi belasan orang sudah antre di depan jongko pedagang sate di seberang gedung Program Magister Ekonomi UNPAD. Mereka antri untuk mendapatkan seporsi sate yang terkenal dengan nama sate jando. Nanti saya ceritakan apa arti “jando” itu. Saya yang setiap hari lewat di jalan itu ketika menuju kampus ITB cukup penasaran apa yang membuat orang begitu rela antri hanya untuk mendapatkan sate.

Saya pun mencoba ikut antri untuk mencoba satenya itu. Seorang ibu dibantu beberapa “karyawannya” sedang melayani para pembeli yang antri. Ia menggelar dagangan sate di atas trotoar. Sate dibakar langsung di sana dan pembeli makan di situ juga, duduk di atas kursi plastik atau sambil jongkok di dekat selokan yang membatasi trotoar dengan pagar gedung. Pembeli sate banyak juga orang yang membawa mobil dan sengaja parkir di situ hanya untuk makan sate jando.

Ada tiga macam sate yang dijual Bu Sri Rezeki, demikian namanya. Sate ayam, sate sapi, dan sate jando. Nama yang terakhir ini terdengar aneh, tetapi istilah jando adalah sebutan pembeli untuk sate dari gajih yang diambil dari lemak payudara sapi. Seporsi sate dihidangkan di dalam pincuk daun pisang, ditambah lontong, dan disiram bumbu kuah kacang. Seporsi sate ayam harganya Rp22.000, sedangkan sate sapi atau sate jando Rp24.000.

Rasanya? Lumayan enak. Saya nilai 7,5 lah. Soal rasa memang relatif bagi setiap orang. Bumbunya gurih, bisa ditambah sambal supaya lebih pedas. Sate ini menjadi terkenal karena cerita dari mulut ke mulut lalu dari medsos ke medsos. Nama “jando” memang unik dan memancing penasaran banyak orang, termasuk wisatawan yang ke Bandung. Begitu terkenalnya sate jando ini sehingga ia sudah beberapa kali dimuat di media massa seperti di dalam artikel ini, ini, dan ini, serta beberapa situs kuliner.

Setiap hari sate jando hadir di trotoar Jalan Cimandiri. Keberadaannya menimbulkan simbiosa mutualisme dengan pedagang kaki lima lain di sebelahnya. Pedagang lain yang ikut mangkal di sana adalah pedagang minuman, sop buah, dan baso tahu. Tukang parkir pun menikmati kehadiran pembeli yang menepi memarkir motor dan mobil mereka.

Namun bukan berarti pedagang sate jando ini selalu aman berjualan di sana. Karena mereka berjualan di atas trotoar jalan yang dianggap mengganggu hak pejalan kaki, maka kehadiran Satpol PP yang melakukan razia adalah persoalan klasik yang selalu dihadapi pedagang kaki lima.

Sautu kali saya hendak membeli sate jando, tiba-tiba datanglah Satpol PP. Buyar deh rencana saya membeli sate.  Namun untungnya petugas Satpol PP nya masih “baik”, dagangan Bu Sri Rezeki tidak diangkut, hanya diambil KTP saja lalu dagangannya difoto. Entah ada deal atau apa :-). Hanya sebentar saja, dan bussiness as usual. Kembali seperti biasa dan pembeli pun antri kembali.

Petugas Satpol PP merazia pedagang sate jando

Begitulah sejumput keramaian di sebuah ruas jalan Cimandiri. Jalan Cimandiri yang rindang di belakang Gedung Sate memang menjadi tujuan orang yang hendak mencoba mencicipi sate jando yang terkenal itu.

Jalan Cimandiri

Written by rinaldimunir

February 22nd, 2019 at 3:59 pm

Lima Ratus Rupiah yang Berarti

without comments

Beberapa kali melewati sekitar Jalan Supratman Bandung saya sering melihat bapak bersepeda dengan tulisan di depan sepedanya “Isi Korek Gas Keliling”.

Kemarin ketika melewati Jalan Cilaki saya melihatnya lagi. Saya pun menghentikannya untuk mengetahui apa yang dia jual. Oh, ternyata dia menawarkan jasa isi korek gas. Korek gas adalah korek api yang memakai bahan gas.

Biasanya kalau kita menggunakan korek apai gas lalu gasnya sudah habis, korek api gas tersebut kita buang. Tetapi bagi Pak Dedi, demikian namanya, korek gas itu bisa jadi sumber rezeki. Dia menawarkan jasa mengisi korek gas yang kosong, hanya 500 rupiah saja sekali isi. Lima ratus yang tidak berarti apa-apa pada zaman sekarang, tetapi bagi Pak lima ratus rupiah Dedi sangat berarti.

Pak Dedi juga menjual korek gas kosong. Korek gas itu dibelinya dari pemulung, lalu dibentuknya dengan sentuhan seni sehingga meliuk-liuk. Kita bisa membeli korek gas kosong itu beserta isi gasnya. Harganya hanya 2000 rupiah saja beserta isi gasnya, berikut batere kecil untuk pemantik api.

Saya memperhatikan Pak Dedi cara memasukkan gas ke dalam korek kosong. Saya beli tiga buah korek gasnya yang antik itu beserta isi gasnya. Pak Dedi bilang 5000 rupiah saja untuk tiga buah korek api gas beserta isi gasnya. Ketika saya lebihkan membayarnyam, dia kaget. Ini terlalu banyak, katanya. Tidak apa-apa, buat bapak saja, kata saya. Saya pun berlalu meninggalkannya.

Zaman sekarang ketika orang sudah jarang menggunakan kompor minyak tanah, korek api mungkin tidak terlalu diperlukan. Cukup klik kompor gas, lalu kompor menyala. Mungkin korek api gas maupun korek api biasa masih dibutuhkan kaum perokok. Atau, dibutuhkan kalau pergi camping untuk membakar api unggun.

Menurut saya pekerjaan mengisi gas korek ini terbilang unik dan langka, namun masih ada orang yang mau menjalaninya dengan tekun dan tabah. Tuhan selalu punya cara memberikan rezeki bagi makhluk-Nya.

Kalau Anda bertemu Pak Dedi berkeliling di jalan, belilah korek gasnya, atau isilah korek gas yang kosong di rumahmu dengan gas yang dijualnya. Hanya 500 perak saja. Sambil membantu dia mencari rezeki halal.

Written by rinaldimunir

January 15th, 2019 at 3:03 pm

Haru Biru PPDB SMP Negeri Sistem Zonasi 90% di Kota Bandung

without comments

Di Kota Bandung Penerimaan Peserta Didik baru (PPDB) SMP negeri tahun ini menyisakan banyak cerita sedih. Sistem zonasi 90% telah membuat banyak orangtua marah dan kecewa. Banyak orangtua yang anak-anaknya terdepak, tidak diterima di pilihan manapun, kalah oleh faktor jarak rumah ke sekolah yang dituju. Bukan kalah oleh nilai UN atau dulu disebut NEM.

Sistem zonasi 90% artinya 90% kuota siswa baru diseleksi berdasarkan jarak rumah ke sekolah. Nilai UN SD sama sekali tidak dipakai. Semakin dekat jarak rumah calon siswa ke sekolah, semakin besar peluangnya diterima di sekolah tersebut. Faktanya hanya calon siswa yang berjarak radius kurang dari 500 meter yang diterima, selebihnya gagal, termasuk gagal di pilihan kedua yang tentu jarak dari rumah ke sekolah lebih jauh lagi. Jadi, diterima atau tidak seorang anak di SMP yang dituju tergantung nasib memilih rumah ketika orangtua membeli rumah dulu.

Tujuan sistem zonasi sebenarnya bagus yaitu agar anak-anak bersekolah di dekat rumah dan menghilangkan dikotomi sekolah favorit dan non favorit. Tetapi masalahnya penyebaran sekolah di Bandung tidak merata. Ada kawasan yang padat penduduk tetapi hanya ada satu SMP negeri atau bahkan tidak punya SMP negeri. Perhatikan peta sebaran SMP negeri di sepenggal wilayah kota Bandung yang saya peroleh dari akun Facebook ini.  Terlihat tidak meratanya sebaran SMP negeri. Hanya calon siswa yang sekitar sekolah saja yang bisa diterima. Bagaimana dengan calon siswa di daerah abu-abu yang notabene jauh dari SMP negeri? Tersingkir! Mereka dikalahkan oleh “nasib” memiliki rumah jauh dari sekolah. Meskipun nilai UN mereka tinggi, tetapi mereka kalah bersaing oleh siswa yang rumahnya dekat sekolah sekalipun memiliki nilai UN jelek. Nilai UN sama sekali tidak dipakai untuk seleksi (dipakai hanya kalau ada dua siswa mempunyai jarak yang sama).

petasekolah

Seorang ibu menulis pada akun tersebut:

Masih banyak yg mengira kisruhnya PPDB tahun ini karena memperebutkan sekolah favorit. Walau tidak sepenuhnya salah krn memang masih ada yg berharap demikian, dan sah2 saja selama berkemampuan dan dicapai dg jujur. Tapi kisruhnya PPDB sekarang ini lebih kepada tidak sesuainya kebijakan dg kondisi dilapangan. Tidak ada yg bisa diperjuangkan utk meraih sekolah krn sdh ditentukan oleh nasib letak rumahnya. Ilustrasi berikut mungkin bisa memudahkan mereka yg tidak terlibat PPDB (tidak tahu masalah) tapi menyalahkan korban krn menyangka memperebutkan sekolah favorit.

Akhirnya pilihan orangtua yang gagal adalah ke sekolah swasta. Tetapi sekolah swasta pun lokasinya jauh dari rumah. Sekolah swasta yang bagus-bagus pun sudah lama tutup pendaftaran. Maka, akhirnya tujuan zonasi agar siswa sekolah di dekat rumah tidak tercapai.

Tahun depan, jika sistem zonasi seperti ini tetap dipakai, maka harga rumah dekat sekolah mungkin akan melejit tinggi. Beli saja rumah atau apartemen dekat SMP 2 atau 5 (misalnya) di tengah kota, bikin kartu keluarga baru di sana, maka biarpun nilai UN anakmu jeblok, dia akan mudah masuk sekolah tersebut.

Sistem zonasi tanpa menperhitungjan nilai UN ini dapat membuat motivasi belajar siswa menjadi tidak perlu lagi. Siswa tidak usah giat belajar, banyak main game dan PS aja, toh sudah terjamin masuk SMP negeri karena rumah dekat sekolah.

Penerimaan siswa baru berdasarkan sistem zonasi hanya cocok bisa diterapkan SMP negeri tersebar secara merata. Selama sekolah belum tersebar secara merata, maka sistem ini tidak adil bagi siswa yang jauh dari sekolah. Menurut saya sistem yang fair adalah dengan tetap mempertahankan seleksi berdasarkan nilai UN. Sistem zonasi tetap ada, tetapi persentasenya 20 sampai 30% saja untuk warga sekitar. Mungkin sistem seleksi SMA negeri bisa dijadikan acuan yang tetap memperhitungkan nilai UN ditambah skor jarak dari rumah ke sekolah. Biarkan anak-anak kita termotivasi belajar di sekolah untuk meraih nilai UN bagus agar dapat bersaing masuk sekolah negeri pilihannya.

Written by rinaldimunir

July 12th, 2018 at 3:25 pm

Posted in Seputar Bandung

Miras Oplosan Berujung Maut

without comments

Sebuah berita mengenaskan datang dari daerah Cicalengka Bandung. Puluhan anak muda tewas setelah menenggak minuman keras (miras) oplosan. Jumlahnya kemungkinan akan terus bertambah karena peminum yang dibawa ke rumah sakit Cicalengka banyak sekali.  Hingga saat ini jumlah korban yang tewas mencapai 63 orang.

Astaghfirullah, 63 orang? Ini jumlah korban terbesar yang pernah ada di Bandung. Sungguh miris dan sangat prihatin sekali kita mendengarnya, mereka seakan tidak pernah belajar dari kasus yang sama sebelumnya. Sudah sangat sering terjadi banyak anak muda mati secara sia-sia setelah minum miras oplosan. Segala macam cairan dioplos ke dalam larutan alkohol: obat nyamuk autan, spritus, pemutih baju, pembersih lantai, ginseng, dll. Mereka seperti tidak paham ilmu kimia, sebab cairan yang dioplos itu sebenarnya adalah racun bagi tubuh.

Dalam sebuah acara di sebuah televisi, dokter spesialis penyakit jantung menjelaskan efek yang timbul dari minum miras, termasuk miras oplosan. Alkohol di dalam miras dapat mengganggu sistem syaraf. Miras oplosan memiliki kadar alkohol yang sangat tinggi, ini sangat berbahaya bagi tubuh manusia. Setelah miras oplosan masuk ke dalam tubuh, ia akan merusak sistem syaraf. Kerusakan sistem syaraf menimbulkan efek selanjutnya pada paru-paru, jantung, dan sistem pencernaaan. Dada menjadi sesak, lambung bereaksi sehingga muntah-muntah, dan yang paling fatal adalah gangguan syaraf membuat denyut jantung berhenti sehingga akhirnya adalah kematian.

Mengapa para anak muda itu mau meminum miras oplosan? Pertama, harganya  murah dibandingkan miras yang asli.  Kebanyakan peminum miras oplosan berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Mereka tidak mampu membeli miras resmi yang harganya mahal. Mereka meracik sendiri miras oplosan atau dibeli dari pengecer yang menjual miras ilegal dalam ukuran liter dengan harga yang jauh lebih murah dari miras biasa. Satu atau dua liter miras oplosan cukup untuk minum hingga sepuluh orang.

Kedua, untuk mendapatkan sensasi yang berbeda, karena pencampuran bermacam-macam cairan ke dalam alkohol secara coba-coba mungkin menimbulkan efek kehangatan yang berbeda dari miras biasa. Ketiga, ingin happy-happy berkumpul dengan teman-teman, mka sebagai solidaritas pertemanan  mereka minum miras oplosan bersama-sama. Sayangnya mereka tidak menyadari bahayanya minum oplosan tersebut. Kesenangan sebentar berujung petaka: mereka tidur selama-lamanya dan tidak bangun-bangun lagi.

Kita menyayangkan anak-anak muda itu mati secara sia-sia karena miras. Ketidaktahuan mereka tentang bahaya minuman keras berujung fatal. Agama Islam sudah sangat jelas mengharamkan khamar (miras termasuk ke dalam khamar), tetapi sebagain ummatnya tetap saja tidak mempedulikan larangan meminum khamar.

Oh anak muda, kau ingin menjadi pemabuk, tetapi yang kau dapatkan adalah pemabuk murahan, dan nyawa taruhannya.

Written by rinaldimunir

April 11th, 2018 at 5:11 pm

Posted in Seputar Bandung

PilGub Jabar 2018, Siapa yang Akan Menang?

without comments

Hiruk pikuk tahun politik 2018 sudah dimulai pada awal Januari. Tahun 2018 berlangsung iven Pilkada, termasuk di Jawa Barat, propinsi tempat tinggalku kini. Setelah melalui proses tarik ulur yang cukup dramatis, akhirnya PilGub Jabar akan diikuti oleh empat pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur. Keempat pasang calon tersebut adalah Deddy Mizwar – Dedi Mulyadi yang diusung Partai Demokrat dan Golkar, Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum yang diusung oleh Nasdem, PPP, PKB, dan Hanura, Sudradjat – Akhmad Syaikhu yang diusung Gerindra, PKS, dan PAN, serta Tubagus Hasanuddin – Anton Charliyan yang diusung oleh PDIP.

Empat pasang calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat

Sebenarnya jabatan Gubernur tidaklah terlalu menarik, karena negara kita menganut asas otonomi daerah. Kewenangan di daerah dipegang oleh Bupati/Walikota, Gubernur bertindak sebagai koordinator saja. Bupati/Walikotalah yang membuat kebijakan di daerahnya, bukan Gubernur, sehingga para bupati dan walikota sering disebut sebagai “raja kecil” yang berkuasa di daerahnya.

Tetapi, mengapa PilGub tahun 2018 ini sangat menarik perhatian? Tak lain dan tak bukan karena tahun berikutnya, 2019, adalah tahun politik panas. Pada tahun 2019 rakyat Indonesia melakukan pemilihan umum untuk memilih anggota legislatif dan presiden. Nah, posisi Presiden Jokowi tahun 2019 belum aman kalau ia ingin menjadi presiden lagi, sebab hasil-hasil jajak pendapat beberapa lembaga survey menyebutkan elektablitasnya masih di bawah 50%. Meskipun kepuasan rakyat terhadap kinerjanya tinggi, tetapi tidak sebanding dengan elektabilitas yang belum mencapi 50% itu.

Nah, disinilah letak strategisnya Pilkada tahun 2018. Partai-partai politik berlomba-lomba menempatkan calon terbaiknya dalam pemilihan bupati, walikota, dan gubernur sebagai ajang pemanasan  menjelang Pemilu 2019. Partai-partai politik itu berusaha memenangkan calonnya menjadi penguasa di daerah, karena akan memudahkan tujuan mereka mencapai kekuasaan yang lebih tinggi. Jika berhasil memenangkan Pilkada, maka bupati, walikota, atau gubernur yang mereka jagokan akan “dimanfaatkan” untuk memenangkan partainya dalam Pemilu 2019. Dana-dana politik untuk memenangkan Pemilu 2019 lebih mudah diperoleh karena bupati, walikota, dan gubernur itu memiliki akses ke birokrasi atau pengusaha di daerahnya. Itu sudah menjadi rahasia umum di negeri ini bahwa birokrasi digunakan penguasa daerah untuk tujuan politiknya.

PilGub Jabar menyedot perhatian karena Jawa Barat adalah propinsi dengan penduduk paling besar, yaitu 47 juta. Jawa Barat merupakan lumbung suara bagi banyak partai politik. Tetapi, di Jawa Barat ini Jokowi tumbang pada Pilpres 2014, dikalahkan oleh Prabowo dengan persentasi 60% : 40%. Maka, siapapun yang berhasil menguasai Jawa Barat akan memudahkan memenangkan persaingan dalam Pilpres 2019 nanti. Di sinilah letak pentingnya PilGub Jabar 2018. Maka, tidak heran Ridwan Kamil yang diusung salah satunya oleh Partai Nasdem diikat dengan perjanjian harus mensukseskan kemenangan Jokowi pada Pilpres 2019 nanti.

Lalu, siapakah calon gubernur yang akan dipilih oleh rakyat Jawa Barat pada Pilgub nanti? Di atas kertas adalah Ridwan Kamil. Ridwan Kamil selalu unggul dalam berbagai jajak pendapat. Peluangnya paling besar untuk memenangkan PilGub. Tetapi, banyak yang beranggapan Ridwan Kamil baru menang “di udara” (di dunia maya), yaitu di wilayah perkotaan yang melek Internet dan selalu update informasi, sementara di darat (wilayah pedesaan) belum tentu (kurang terlalu dikenal).

Tipikal orang Sunda (Jawa Barat) adalah memilih pemimpin yang memenuhi aspek nyunda, nyantri, dan nyakola. Dilihat dari ketiga aspek tersebut semua pasangan calon memiliki kelebihan dan kekurangan. Nyunda, semua calon orang suku Sunda, jadi tidak ada masalah (meskipun Deddy Mizwar orang Sunda tapi lebih banyak tinggal di Jakarta).   Nyakola (berpendidikan), semuanya merupakan intelektual dan berpendidikan.

yantri artinya taat agama (Islam). Tiga pasangan calon (Ridwan Kamil – Uu, Sudradjat – Akhmad Syaikhu, Deddy Mizwar – Dedi Mulyadi) memiliki rekam jejak yang dapat dinilai aspek kesantriannya. Untuk Dedi Mulyadi ada rekam jejak yang diingat bagi pemilih muslim yang kritis, yaitu kiprahnya selama menjadi Bupati Purwakarta mengadakan iven yang dianggap menjurus syirik dan membangun patung-patung di kota Purwakarta yang ditentang ulama dan ormas Islam.  Sementara pasangan Tb. Hasanuddin – Anton Charliyan jarang terdengar kiprahnya dalam soal keislaman. Faktor PDIP sebagai partai yang kurang dekat dengan Islam mungkin akan membuat jarak bagi pemilih yang menimbang aspek ini sebagai kriteria memilih.  Apalagi, Anton Charliyan ketika menjadi Kapolda Jabar pernah meninggalkan catatan yang kurang mengenakkan yaitu kejadian bentrokan antara ormas binaannya dengan sebuah ormas Islam.

Ridwan Kamil bukannya tanpa ada masalah juga. Awal-awal pencalonannya oleh Partai Nasdem menimbulkan pro dan kontra. Ridwan Kamil menerima pinangan Nasdem pada saat yang tidak tepat, yaitu saat suasana kebatinan pemilih muslim masih diliputi kemarahan oleh kasus Ahok. Kebetulan Nasdem adalah salah satu pengusung Ahok pada Pilkada DKI. Banyak pengagum dan fans Ridwan Kamil memilih meninggalkannya,  istilahnya unfriend. Saya tidak tahu apakah saat ini “rasa luka” pemilih yang unfriend itu masih berbekas atau sudah mulai melupakan. Wallahu alam.

Untuk pasangan Sudradjat – Akhamad Syaikhu, ini wajah baru yang kurang dikenal di Jawa Barat. Orang memilih karena kenal terlebih dahulu, kalau tidak dikenal mungkin kurang dilirik. Perlu waktu dan kerja keras mesin partai pengusung untuk memperkenalkannya ke penduduk Jawa Barat, padahal waktu yang tersisa hanya enam bulan.  Apakah berhasil, waktu yang akan menjawabnya.

Warga Jawa Barat bebas menentukan pilihannya sesuai preferensinya. Mau pilih figur atau melihat partai pengusung? Memilih calon dengan melihat rekam jejak? Yang jelas faktor SARA tidak akan terjadi pada PilGub Jabar nanti. Mengenai siapa yang akan menang, masih samar-samar.


Written by rinaldimunir

January 8th, 2018 at 5:33 pm

Angkot dan Taxi Daring, Dua Sisi Kehidupan Berbeda

without comments

Hari ini saya naik angkot dari Jalan Riau ke kampus ITB. Penumpangnya hanya saya sendiri di belakang. Sepi. Meski sepi, Pak Supir angkot tetap menjalankan angkotnya mencari penumpang yang masih setia menunggu angkot di pinggir jalan. Dari sisi ekonomi sebetulnya dia merugi karena menjalankan angkot menyusuri jalanan kota tetapi hanya membawa segelintir penumpang. Pendapatan yang masuk dari mengangkot tentu tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkannya (bensin, makan, perawatan, tips buat preman, dsb). Tapi dia tidak punya pilihan lain. Mencari pekerjaan saat ini tidak mudah.

Zaman telah berubah. Pengguna transportasi sudah beralih ke sepeda motor dan transportasi daring (online). Sepeda motor lebih praktis karena dapat menembus kemacetan. Berbeda dengan angkot yang sering berhenti dan ngetem lama menunggu penumpang, memakai sepeda motor jauh lebih bebas dan sesuka hati pemiliknya mau pergi ke mana saja.

Untuk alasan kedua, transportasi daring, sekarang sudah menjadi pilihan penting bagi masyarakat. Trasportasi daring seperti ojek daring dan taxi daring dari tiga perusahaan utama  (Gojek, Grab, dan Uber) telah menjadi andalan masyarakat yang enggan naik angkutan umum.  Tidak perlu capek-capek ke jalan raya mencari angkutan umum. Tinggal pesan via ponsel, taxi daring atau ojek daring datang ke rumah atau tempat kita memesan untuk menjemput. Selain efisien, ongkosnya murah lagi karena masih disubsidi oleh perushaannya yang rajin “membakar duit” investor.

Pengemudi (driver) transportasi daring bisa siapa saja. Mahasiswa, karyawan, PNS, ibu rumah tangga, guru, satpam, dan lain-lain bisa menjadi driver asalkan memiliki kendaraan sendiri. Iming-iming bonus dari perusahaan transportasi daring telah membuat banyak orang tertarik ikut menjadi driver.

Saya sendiri adalah pengguna yang sering menggunakan transporatsi daring, khususnya taxi daring, selain ojek daring tentunya. Mobil yang saya naiki bermacam-macam merek dan tahun keluaran. Minggu lalu saya memesan taxi daring dari sebuah rumah sakit menuju rumah. Baru beberapa detik memesan via ponsel, order saya langsung ada yang menerima. Pengemudinya adalah seorang mahasiswa Unpad tingkat akhir yang baru saja selesai ujian skripsi. Mobil yang dibawanya adalah mobilnya sendiri (mungkin mobil yang dibelikan oleh orangtuanya), mobil terbaru dan jenis terbaru keluaran Honda (ups, sebut merek ?

Iseng-iseng saya tanya berapa bonus yang dia terima dengan me-go-car (saya pakai aplikasi Go-car). katanya, sehari, kalau mendapat order mengangkut penumpang 17 kali, dia mendapat bonus Rp390.000 pada hari biasa (weekday), atau Rp450.000 pada akhir pekan (weekend). Itu diluar ongkos dari penumpang dan sejumlah tips. Dia tidak perlu keliling-keliling mencari penumpang seperti halnya taxi konvensional atau angkot, cukup mangkal di suatu tempat keramaian (stasiun, pangkalan travel, mal, pasar, dsb), tunggu order yang masuk ke aplikasi, maka dia sudah mendapat penumpang.  Kerjanya cukup dari jam 8 pagi hingga jam 10 malam saja, suka-suka dia saja.

Saya berhitung-hitung, jika sehari katakanlah dia mendapat pendapatan (bonus + ongkos + tip dari penumpang) sebesar Rp500.000, maka sepuluh saja hari dia mendapat 5 juta, sebulan dia mendapat 15 juta rupiah (diluar bensin dan makan). Itu penghasilan yang sangat besar dan menggiurkan bagi anak muda seperti dia.

Bandingkan dengan nasib supir angkot di atas. Dengan penumpang yang sepi, setiap hari paling banter dia hanya mendapat 100 – 150 ribu rupiah saja. Jika dikurangi makan dan setoran, paling banter dia mendapat hanya 50 ribu rupiah saja, itu yang bisa dibawanya  pulang. Nasib yang sama juga dialami oleh supir taxi konvensional yang jumlah penumpangnya semakin menyusut. Orang lebih senang menggunakan taxi daring daripada taxi konvensional karena ongkosnya murah.

Dengan ketimpangan seperti itu, maka tidak heran sering terjadi bentrokan antara pengemudi transporatsi daring dengan pengemudi transportasi konvensional. Di Bandung perseteruan keduanya sangat sengit dan cenderung anarkis. Pengemudi taxi daring dicegat, dipukul, mobilnya dirusak. Kalau sudah menyangkut urusan perut, maka logika dan nalar tidak jalan lagi. Golongan menengah (yang direpresentasikan oleh mahasiswa tadi) telah mengambil lahan golongan lemah. Sungguh persaingan yang tidak sehat dan tidak seimbang.

Tentu kita tidak dapat menyalahkan sepenuhnya pilihan masyarakat yang beralih ke taxi daring ketimbang angkot atau taxi konvensional. Dengan kebiasaan angkot yang sering ngetem, sering berhenti, dan melalui jalur yang tidak shortetst path, maka pilihan dengan taxi daring adalah alternatif yang tidak terelakkan. Jika ditambah dengan kondisi mobil angkot yang sudah reot, tidak nyaman, panas, bersempit-sempit dengan peumpang lain, maka alasan memilih taxi daring semakin kuat. Dengan kata lain, masyarakat terbantu dengan kehadiran sarana transportasi daring.

Di sisi lain, pemerintah pun gamang dengan kondisi ini. Perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat tidak diikuti dengan kebijakan yang adil. Terkesan pemerintah daerah cuci tangan. Transportasi konvensional dibiarkan hidup segan mati tak mau, tetapi melarang transportasi daring juga tidak ada dasar hukumnya. Pemerintah seperti membiarkan konflik horizontal di tengah masyarakat. Kita tidak tahu sampai kapan demo-demo pengemudi transportasi daring vs pengemudi transportasi konvensional akan terus berlangsung.

Supaya persaingan ini fair, salah satu solusinya adalah pemerintah daerah mengambil alih pengelolaan semua transportasi umum. Artinya semua angkot itu dimiliki Pemda, supirmya digaji, pelayanannya diperbaiki, jalurnya dibebaskan seperti taxi daring, jadwalnya tepat waktu, dan lain-lain. Jika ini dlakukan, maka persaingan antara kedua jenis transportasi akan berlangsung sehat. Masyarakat mempunyai banyak pilihan. Tapi, ini mungkin cuma mimpi.


Written by rinaldimunir

October 26th, 2017 at 3:18 pm

Yang Dibutuhkan Anak-Anak Muda adalah Akses Internet dan Colokan Listrik

without comments

Lihatlah tempat-tempat makan anak-anak muda di Bandung pada malam hari, seperti kafe, kedai nasi goreng, kedai pasta, kedai ramen, dan warung makan kekinian yang lagi ngetrend seperti warung Upnormal. Tempat-tempat itu selalu penuh dengan pengunjung yang rata-rata anak-anak muda seperti pelajar dan mahasiswa. Mereka tidak hanya sekedar makan lalu pulang, tetapi betah berlama-lama di sana, berkumpul bersama teman-temannya, ngobrol, atau membicarakan rencana kegiatan.

upnormal

Sebuah warung kekinian yang setiap malam selalu penuh pengunjung, yang umumnya anak-anak muda

Sambil makan dan ngobrol, tangan-tangan mereka tidak pernah lepas dari gawai (gadget), terutama smartphone. Sambil  asik dengan gawainya, sambil sesekali menimpali obrolan temannya. Sebagian yang lain asyik menatap laptop, mungkin sedang berselancar di dunia maya atau bermain game. Piring-piring makan, gelas, dan botol minuman ringan masih berserakan di meja mereka.

Mengapa mereka betah berlama-lama di tempat makan tersebut? Padahal menu makanan di dalamnya biasa-biasa saja, selain itu beberapa kedai agak mahal harganya. Tak lain karena kedai makan tersebut menyediakan wifi untuk mengakses intenet. Selain akses internet, warung makan juga menyediakan colokan listrik. Jadi, jika batere gawai atau laptopnya habis, mereka tidak perlu kemana-mana untuk mengisi ulang batere.

Di zaman internet seperti ini orang-orang tidak lepas dari gawainya. Penyebabnya, pertama karena ada games, kedua karena ada media sosial dan jejaring pertemanan (social network). Anak-anak muda adalah konsumen terbesar produk games yang beraneka ragam dan dapat diunduh secara gratis dari Playstore. Mereka juga adalah pengguna terbesar media sosial seperti blog, YouTube, Instagram, Plurk, dan jejaring pertemanan yang populer seperti Facebook, Line, Path, Whatsapp. Tipikal orang Indonesia adalah senang mengobrol. Sejak ada media sosial dan jejaring sosial, obrolan pun berpindah secara daring (online).

Untuk semua hal tersebut di atas diperlukan akses internet, maka kedai-kedai makan itu menangkap peluang dengan menyediakan wifi yang dapat diakses secara gratis oleh pengunjungnya. Itu adalah daya tarik buat kedai mereka. Nah, berlama-lama menggunakan gawai tentu akan menghabiskan daya batere, maka colokan listrik yang cukup banyak adalah kebutuhan penting berikutnya yang harus ada di sebuah kedai. Kedua item tersebut menjadi alasan mengapa kedai-kedai itu selalu ramai.

Jadi, yang dibutuhkan oleh anak-anak muda zamans ekarang adalah dua: pertama akses internet, kedua colokan listrik. Siapa yang bisa membaca kebutuhan itu, maka kedainya akan didatangi anak-anak muda.


Written by rinaldimunir

January 19th, 2017 at 4:31 pm

Posted in Seputar Bandung

Jembatan Layang Antapani yang Cantik

without comments

Masih ingat dengan tulisan saya yang berjudul Berharap banyak pada jembatan layang Antapani? Akhir tahun 2016 jembatan layang tersebut sudah selesai dibangun dan mulai  tanggal 2 Januari 2017 kemarin sudah digunakan. Pembangunannya tergolong cepat, hanya 6 bulan saja, dan biaya pembangunannya “hanya” 40 milyar. Normalnya, untuk jembatan layang yang sama membutuhkan waktu pembangunan satu tahun dan biaya 100 juta, tetapi dengan teknologi baja bergelombang jembatan layang ini hemat waktu dan biaya pengerjaan hingga 50%.

Menariknya lagi, jembatan layang ini dibalur dengan seni sehingga terlihat cantik dan menarik. Di sepanjang dinding luar dan dinding dalamnya diilapisi lukisan mural mozaik. Mural mozaik ini terbuat dari bahan keramik sehingga terlihat mengkilap bila terkena cahaya. Mural mozaik ini karya seniman lulusan FSRD ITB yang dikenal dengan nama John Mart. Berikut foto-fotonya:

 

antapani1

antapani2

antapani6

antapani3

antapani4

antapani5

Menurut saya, ini jembatan layang tercantik yang pernah saya lihat. Bandung sebagai kota seni maka  wajar semua infrastruktur  di dalam kotanya diberi sentuhan seni. Hal ini  tentu tidak lepas dari peran Walikota Bandung, Ridwan Kamil, yang kreatif.

Mungkin jembatan layang Antapani ini akan menjaid ikon baru di kota Bandung. Saya berharap tidak ada aksi vandalisme yang mencorat-coret tembok jembatan layang ini dengan tulisan dari cat semprot. Jangan di-pylox ya….


Written by rinaldimunir

January 6th, 2017 at 4:43 pm

Posted in Seputar Bandung