if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘sakit’ Category

Bagaimana jika sakit di Belanda?

without comments

Sanitasi dan lingkungan yang baik lebih memperkecil kemungkinan mudah terserang penyakit, daya tahan tubuh lebih kuat, ditambah pola makan/asupan yang baik. Tetapi bagaimana tata laksana untuk orang sakit di Belanda?

Asuransi adalah wajib, pendatang yang tidak memiliki asuransi dianggap ilegal, atau kalau tidak memperpanjang asuransi bisa berabe kalau ada apa2. Sebab serba mahal layanan disini. Enaknya dengan asuransi pula, pembayaran dokter juga bisa diatur terpusat, maka tidak ada perang tarif dokter, karena dokter digaji pemerintah (mungkin sudah cukup layak) dan mungkin pula telah ada rasio jumlah dokter dan pasien berdasarkan kepadatan populasi.  Pengalaman teman yang terdiagnosa kanker stadium lanjut dan dikemo mengatakan, untung saja kankernya disini ada asuransi, kalau di Ina mungkin harus jual rumah dan sawah. Teman saya yang kanker ini, sekarang dokter sudah tidak mau lagi menembak/menghancurkan sel kankernya, sudah maksimal selnya dibunuh. Jadi meski sekarang ada indikasi sel kanker tumbuh lagi, tidak bisa lagi dikemo, dan melakukan pengobatan tradisional plus menjaga pola makan (dia tidak makan daging dan banyak makan jus buah/detoks), kumaha deui ceunah.

Lebih baik jika telah mempunyai asuransi langsung mencari praktik dokter (huisartpraktijk ) terdekat dari rumah dan mendaftar kesana, apabila sudah penuh jumlah pasiennya biasanya dia tidak mau menerima dan menyaranakan untuk mencari praktek dokter umum lain. Biasanya kalau  mendaftarkan anak ke TK/sekolah salah satu yang harus diisi adalah siapakah dokternya anak (maksudnya anak terdaftar di praktek dokter umum mana), atau kalau beli obat di apotik ditanya nama dokternya. Karena saya di Indonesia tidak pernah seperti ini, maka sejak datang anteng2 saja ga daftar ke dokter mana2 juga, ini tidak baik katanya.

Setiap sakit (apapun) tata laksananya adalah ke dokter umum dulu, jangan coba2 langsung ke rumah sakit/nyari dokter spesialis, alamat tidak akan dilayani. Umumnya harus bikin janji dulu, kalau memang sakit banget bisa telepon gawat darurat atau dokter yang diminta datang ke rumah, tapi biayanya tentu lebih mahal :D
Dokter umum inilah yang akan menyarankan tindakan lebih lanjut. Apakah istirahat saja (biasanya ini saran umum kalau batuk pilek demam), apakah disuruh membeli obat di apotik, atau disuruh check up, atau di rujuk ke dokter spesialis, atau ke tempat terapi. Pengalaman yang pernah saya punya adalah lage rugpijn (low backpain/sakit pinggang bagian bawah), tata laksananya harus ke dokter umum dulu, dia kemudian memberikan surat rekomendasi untuk mendatangi terapis yang paling dekat jangkauan dari rumah. Terapis ini harus teregistrasi dan bisa dilacak pihak asuransi. Surat rekomendasi ini juga saya perlukan untuk dikirim ke pihak asuransi, karena mereka yang akan membayar biaya terapi tiap minggunya sekitar 30 ero (360 ribuan), kalau dipikir2 terapinya ´cuman´ dicontohin senam2 ringan untuk memperkuat otot pinggang, panggul, kaki. Profesi terapis menghasilkan juga ya disini. Oh iya, akupuntur telah diterima luas di kedokteran Barat, meski mahzabnya beda, sudah bisa masuk list asuransi.

Karena biasanya sakit demam batpil itu2 juga tata laksananya, saya jadi terpaksa malas sering2 visit dokter, paling disuruh banyak minum, banyak tidur, klo perlu minum paracetamol. Sepertinya orang-orang sudah tahu sama tahu tata laksana ini. Efek baiknya, lebih tenang ataukah rasional? ketika sakit (kok bisa ya?), masih mau bersabar menunggu dulu perkembangan.
Negatifnya, dengan sistem maka harus aware juga jika memang benar2 kesakitan, kata orang-orang kadang harus ngotot dan rewel, bahwa kondisi sedang gawat. Misalnya ada kasus dokter ?enyepelekan’ seorang mahasiswa yang demam dan sakit perut, disuruh balik pulang lagi pulang lagi, akhirnya gawat darurat usus buntunya harus segera dioperasi, itu ketahuan setelah dia ngotot masuk UGD karena nyeri yang tidak tertahan.  Atau anak teman demam terus disuruh balik pulang lagi pulang lagi, setelah rewel dan memaksa akhirnya di rumah sakit ketahuan infeksi saluran kencing. Jadi memang mau tidak mau kita harus pandai mengukur kekuatan/daya tahan diri.

Obat? farmacist di apotheek biasanya sudah tahu mana obat bebas mana obat harus dengan rekomendasi ataupun resep. Dan mereka galak/ketat soal ini, padahal kalau menurut saya yang di Indonesia dulu bisa beli bebas, kok disini ga bisa. Apalagi obat untuk anak mereka lebih ketat, mungkin karena prosedurnya begitu, atau mereka juga takut dituntut pasien kalau terjadi apa2. Biasanya yang jamak tersedia di rumah2 adalah paracetamol dewasa, paracetamol anak, vitamin D tetes untuk anak sampai usia 4 tahun (kasian ya…jarang terkena matahari), dan kotak P3K. Antibiotik saya belum pernah dikasih resep ini baik untuk saya maupun anak, antibiotik ada pula gunanya bukan? tapi bukan untuk virus katanya.

Jika harus operasi atau opname di rumah sakit, lebih tenang soal biaya karena ada asuransi tea. Jadi ingat waktu opname DB di Bandung dulu, alih2 mengkhawatirkan sakitnya, lebih setres ini bakal habis berapa karena belum punya asuransi hihihihi.
Tapi soal makanan teteup botterham met kaas (roti dan keju), sup instan, wah engga (niat) banget deh. Cerita teman, kamar juga kadang campur laki-perempuan, yang tentunya tidak mengenakkan buat orang Timur. Dan kayaknya tidak umum kelas 1, VIP, VVIP. Biasanya digolongkan berdasarkan penyakit (di Indonesia juga begini bukan?), penempatan tergantung ketersediaan kamar. Dan yang ga enaknya, disini efisien sekali (atau kata saya mah pelit :D ), kalau bisa orang segera pulang dari rumah sakit untuk menekan biaya yang harus asuransi/pemerintah keluarkan, tenaga medis dan perawat memang dihargai mahal. Jadi kadang masih lemes gitu ya disuruh pulang :(

Written by ibu didin

February 27th, 2011 at 12:22 pm