if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Romantika kehidupan’ Category

Pengemudi Gojek Mantan Pelaut

without comments

Selalu ada saja cerita menarik tentang supir gojek. Sudah sering saya temuka pengemudi gojek dulunya memiliki profesi hebat. Namun perjalanan hidup tidak selalu indah, kadangkala terjatuh dan harus bangkit lagi.

Kali ini saya mendapat pengemudi gojek yang punya pengalaman hidup hebat. Suatuagi saya akan berangkat naik kereta api ke Jakarta. Saya pesan gojek. Tidak sampai beberapa detik order langsung berbalas.  Seorang lelaki dengan muka ditutup kain datang menjemput ke rumah. Dari aplikasi saya baca namanya Heri.

Seperti biasa, saya selalu kepo, suka bertanya ke pengemudi gojek sepanjang perjalanan. Naluri jurnalisitk saya selalu muncul setiap kali naik gojek. Dari obrolan sepanjang jalan tahulah saya, Kang Heri yang mengantar saya ke stasiun kereta api Bandung ini dulunya pegawai kapal pesiar mewah (Cruise) di Samudra Atlantik.  Dia bekerja sebagai officer di anjungan kapal. Menurut Kang Heri dia dulu lulusan akademi pelayaran di Cirebon. Kapal pesiarnya adalah hotel terapung berlantai 15, membawa turis menyinggahi kota-kota pelabuhan di Eropa, Amerika hingga sampai ke kutub Utara. Kang Heri sudah mengunjungi hampir semua negara Eropa, mengujungi ke menara Eiffel, menara Pisa, New York, Florida, dan lain-lain. Dia bisa berbahasa Inggris pula.

Saya ternganga-nganga mendengar cerita masa lalunya.  Wow, sudah berkelana ke Eropa hingga ke utub utara? Jika kebanyakan orang Indonesia mungkin hanya bermimpi menjelajahi Eropa dan Amerika, dia sudah ke sana. Termasuk impian saya juga.

Kerja di kapal pesiar itu katanya ada senang dan ada sedihnya. Senangnya karena bertemu orang berbagai bangsa, mengenal berbagai kultur, makanan enak berlimpah di atas kapal, mengunjungi berbagai kota dunia. Kerja sembilan bulat di laut dan libur 3 bulan di darat. Gaji lumayan besar, dalam mata uang dolar. Sedihnya jika bosan berada di laut, kangen makanan Indonesia, atau berada hidup dan mati jika kapal pesiar dihantam, topan.

Lalu kenapa jadi tukang gojek?, tanya saya heran. Ya, kalau sudah senang kerja di sana kenapa menjadi tukang ojek?

Saya itu cita-citanyanya ingin mempunya usaha sendiri, jawabnya. Heri bercerita, setelah dua tahun bekerjka di kapal pesiar, dia lalu tidak memperpanjang kontrak di kapal lagi, pulang ke tanah air. Dengan bekal tabungan gajinya dalam dolar, dia membuka usaha clothing di Bandung. Tetapi suatu kali dia tertipu sehingga modal habis. Bangkrut. Sekarang dia banting setir jadi tukang ojek/gojek. Semua orderan gojek dia ambil, tak peduli jarak jauh atau dekat. Tidak pilih-pilih orderan.

Tidak ingin kerja di kapal lagi?, tanya saya.

Pingin sih, tapi perlu biaya banyak untuk urus surat-surat dan segala macam, jawabnya. Lagipula dia sudah lebih dua tahun berada di darat, sehingga sulit untuk bekerja di kapal pesiar lagi.

Setelah asyik ngobrol di jalan, akhirnya saya sampai di stasiun Bandung. Saya minta izin mengambil gambnarnya, akan saya bagi cerita ini kepada orang lain sebagai pelajaran kehidupan. Benar, hidup itu bagai roda pedati, kadang di atas kadang di bawah.

gojek

 

Written by rinaldimunir

April 30th, 2019 at 1:25 pm

Bapak Penjual Ember Keliling

without comments

Seorang penjual ember dan baskom keliling lewat di dekat rumah saya di Antapani.  Penampilannya menarik perhatian saya. Hanya bersendal jepit, baju kaos yang sudah baah dengan keringat, dia membawa begitu banyak ember dan baskom berukuran besar-besar. Dua buah baskom dipegang pada masing-masing tangannya, tujuh  buah ember berukuran besar ditumpuk menjadi “topi” menutupi kepalanya, dan beberapa ember serta keranjang plastik diselempangkan di belakang punggungnya.

Berat sekali beban yang dipikulnya. Sambil berjalan kaki, dua ember di tangannya saling diadunya menghasilkan bunyi gaduh untuk menarik perhatian orang. Dia berharap ada orang yang membeli ember atau baskom itu. Dia berkeliling perumahan di Antapani menawarkan embernya.

Saya dulu pernah membeli ember besar dari mamang seperti ini. Harganya sekiitar 60 ribu. Menurut saya ember yang dijualnya sangat kuat, terbuat dari bahan karet yang kenyal. Bahkan diinjak-injak oleh anak kecilpun tidak akan pecah.

Saya tanya ini produksi ember dari mana. Penjual itu mengatatakan pabriknya di Tangerang. Dia hanya menjajakan secara keliling.

Kasihan bapak itu. Sedari tadi dia berkeliling belum ada yang laku. Ketika saya keluar rumah lagi, saya menemukannya berjalan di pinggir jalan besar, masih dengan jumlah ember yang sama.

Bapak penjual ember keliling terus mencoba peruntungan nasib. Mudah-mudahan ada orang yang mau membeli embernya sehingga dia pulang tanpa tangan hampa.  Anak istrinya tentu menunggu jerih payahnya di rumah.

Semoga lelahnya menjadi pahala, berkah dan penghapus dosanya karena mencari rezeki secara halal.

Written by rinaldimunir

February 14th, 2019 at 11:37 am

Lima Ratus Rupiah yang Berarti

without comments

Beberapa kali melewati sekitar Jalan Supratman Bandung saya sering melihat bapak bersepeda dengan tulisan di depan sepedanya “Isi Korek Gas Keliling”.

Kemarin ketika melewati Jalan Cilaki saya melihatnya lagi. Saya pun menghentikannya untuk mengetahui apa yang dia jual. Oh, ternyata dia menawarkan jasa isi korek gas. Korek gas adalah korek api yang memakai bahan gas.

Biasanya kalau kita menggunakan korek apai gas lalu gasnya sudah habis, korek api gas tersebut kita buang. Tetapi bagi Pak Dedi, demikian namanya, korek gas itu bisa jadi sumber rezeki. Dia menawarkan jasa mengisi korek gas yang kosong, hanya 500 rupiah saja sekali isi. Lima ratus yang tidak berarti apa-apa pada zaman sekarang, tetapi bagi Pak lima ratus rupiah Dedi sangat berarti.

Pak Dedi juga menjual korek gas kosong. Korek gas itu dibelinya dari pemulung, lalu dibentuknya dengan sentuhan seni sehingga meliuk-liuk. Kita bisa membeli korek gas kosong itu beserta isi gasnya. Harganya hanya 2000 rupiah saja beserta isi gasnya, berikut batere kecil untuk pemantik api.

Saya memperhatikan Pak Dedi cara memasukkan gas ke dalam korek kosong. Saya beli tiga buah korek gasnya yang antik itu beserta isi gasnya. Pak Dedi bilang 5000 rupiah saja untuk tiga buah korek api gas beserta isi gasnya. Ketika saya lebihkan membayarnyam, dia kaget. Ini terlalu banyak, katanya. Tidak apa-apa, buat bapak saja, kata saya. Saya pun berlalu meninggalkannya.

Zaman sekarang ketika orang sudah jarang menggunakan kompor minyak tanah, korek api mungkin tidak terlalu diperlukan. Cukup klik kompor gas, lalu kompor menyala. Mungkin korek api gas maupun korek api biasa masih dibutuhkan kaum perokok. Atau, dibutuhkan kalau pergi camping untuk membakar api unggun.

Menurut saya pekerjaan mengisi gas korek ini terbilang unik dan langka, namun masih ada orang yang mau menjalaninya dengan tekun dan tabah. Tuhan selalu punya cara memberikan rezeki bagi makhluk-Nya.

Kalau Anda bertemu Pak Dedi berkeliling di jalan, belilah korek gasnya, atau isilah korek gas yang kosong di rumahmu dengan gas yang dijualnya. Hanya 500 perak saja. Sambil membantu dia mencari rezeki halal.

Written by rinaldimunir

January 15th, 2019 at 3:03 pm

“Harta Karun” dari Almarhumah Ibunda; Rezeki Anak Sholeh

without comments

Tukang ojek langganan anakku, yang selama 5 tahun ini selalu mengantar jemput anakku ke sekolah, tiba-tiba mendapat “harta karun” yang tak terkira.

Jadi begini ceritanya (dulu saya pernah tuliskan di sini: Kesabaran Merawat Ibu yang Terkena Stroke).  Tukang ojek ini dan istrinya (mereka belum punya anak) hidupnya susah. Namun dia adalah tipe anak yang berbakti kepada orangtuanya. Sudah tiga tahun lebih ibunya terbaring tidak berdaya di atas kasur karena terkena stroke. Lumpuh. Segala-galanya dilakukan di atas kasur. Tidur, mandi, makan, pipis, BAB, semua di atas kasur. Sudah menipis badannya, tinggal tulang saja.

Namun tukang ojek langganan anakku ini merawat ibunya dengan sabar dan telaten. Sebelum mengantar anakku ke sekolah, dia mandikan dulu ibunya di atas kasur (dilap). Setelah itu diberinya makan. Setiap hari Minggu pagi dijemur di bawah sinar matahari pagi. Selama dia mencari nafkah, istrinya yang di rumah yang mengurus ibunya. Jika ibunya BAB, dia yang membersihkan kotorannya, membersihkan pipisnya. Memang pakai pampers, tapi pampers jika penuh dengan kotoran BAB tetap harus diganti. Satu pampers setiap hari. Sudah habis barang-barang di rumahnya dijual untuk biaya pengobatan dan biaya kebutuhan sehari-hari.

Pekerjaan merawat ibunya ini dilakukan sudah hampir tiga tahun lebih. Pada bulan Agustus 2018 yang lalu, bertepatan saat saya masih menunaikan ibadah haji di Mekkah, ibunya dipanggil oleh Allah SWT. Wafat. Berakhirlah penderitaan ibunya, , dan berakhir pulalah tugas ia merawat ibunya. Mungkin itulah jalan terbaik menurut Allah SWT.

Pada bulan November 2018, ketika tukang ojek anakku membersihkan lemari tua ibunya, dia menemukan “harta karun” tak disangka-sangka. Sebuah surat tanah di Kabupaten Cianjur seluas 5000 meter persegi, terletak di pinggir jalan raya. Selama ini ibunya tidak pernah bercerita tentang surat tanah tersebut.

Bergegas dia dan keluarganya mencari lokasi tanah itu di Cianjur. Ternyata memang benar ada. Karena sudah lama tidak diurus (15 tahun lebih), tanah itu dirawat oleh kelurahan di Cianjur. Tanah masih kosong, hanya ditanami tanaman palawija. Segeralah tanah itu diurus sertifikatnya melalui notaris.

Jika tanah tersebut dijual dengan harga 300.000/M2, dia akan mendapat uang sebesar Rp 1,5 milyar. Mungkin harga bisa naik lagi karena tanah itu terletak di pinggir jalan raya, cocok untuk perumahan atau hotel.

Alhamdulillah, saya pun ikut bersyukur dan berbahagia. Ternyata alamarhumah ibunya meninggalkan warisan berupa “harta karun” yang besar sekali nilainya.

Saya katakan kepadanya, bahwa tanah itu tidak sekedar warisan, tetapi mungkin balasan dari Allah SWT atas baktinya merawat ibunya yang sakit stroke selama bertahun-tahun. Rezeki anak Sholeh.

Written by rinaldimunir

January 7th, 2019 at 4:34 pm

Bapak Penjual Mainan Baling-Baling Angin

without comments

+ Berapa harganya satu pak?
– Sepuluh ribu, cep
+ Saya beli satu ya pak

Uang dan mainan baling-baling dari plastik itu pun berpindah tangan.

Saya sering melihat bapak tua ini berjalan kaki di Jalan Bengawan menenteng kardus yang berisi mainan baling-baling. Setiap hari saya memang melewati jalan ini ketika pergi ke kampus ITB dari rumah, karena di kiri kanan jalan banyak pepohonan, udaranya sejuk, dan tidak terlalu macet dibandingkan jika melewati Jalan Supratman. Beberapa kali saya berpapasan dengan dia. Akhirnya, pada papasan ketiga kalinya saya menghentikan laju sepeda motor saya lalu menunggu dia lewat. Saya ingin membeli mainannya itu.

Baling-baling angin. Ini mainan kanak-kanak, baling-baling yang dapat berputar ketika ditiup angin. Mainan saya waktu kecil dulu. Bedanya dulu baling-baling terbuat dari kertas, kalau yang ini dari plastik berwarna-warni. Batangnya terbuat dari bambu. Bapak saya dulu membelikan mainan ini, lalu saya berlari-lari membawa baling-baling itu. Hei lihat, baling-balingnya berputar. Semakin kencang angin, semakin kencang putarannya.

Tetapi, pada zaman sekarang, ketika mainan serba  elektonik dan anak-anak yang sudah caandu main game di gawai, masih adakah anak-anak di perkotaan yang suka dengan mainan baling-baling angin?  Saya pun tidak punya anak balita lagi, tetapi saya beli saja agar dagangannya laku.

Saya pasang baling-baling itu di bagian depan motor, sehingga baling-baling ini akan berputar ditiup angin bersamaan lajunya motor. Hidup itu laksana baling-baling angin,   terus berputar.

Semoga barokah pak daganganya. Saya pun melajukan motor, meninggalkannya yang terus menyusuri Jalan Bengawan.

Written by rinaldimunir

December 31st, 2018 at 10:48 am

Mengapa Nasi Goreng Tek-tek Lebih Enak daripada Nasi Goreng di Hotel?

without comments

Beberapa tahun yang lalu Rhenald Kasali pernah menulis mengapa tidak ada nasi goreng yang enak di hotel.  Baca tulisannya ini:  Mengapa Tak Ada Nasi Goreng Enak di Hotel?. Ya, Anda yang pernah menginap di hotel berbintang pasti sependapat dengan Rhenald Kasali. Nasi goreng di hotel rasanya hambar dan penampilannya tidak menggugah selera.

Nasi goreng pedagang jalanan jauh lebih enak daripada nasi goeng di hotel. Salah satu jenis pedagang nasi goreng jalanan adalah pedagang mie tek-tek. Disebut pedagang mie tek-tek karena mereka menjajakan makanan dengan gerobak atau pikulan dengan menyusuri jalan pemukiman. Sambil berjalan mereka memukul wajan tempat memasak sehingga berbunyi tek…tek…tek. Meskipun berjulukan pedagang mie tek-tek, namun mereka juga menjual nasi goreng dan bihun goreng selain mie goreng tentunya.

Kehadirannya selalu dirindukan ditengah malam saat perut lapar. Daripada keluar rumah mencari makanan, maka tunggu saja pedagang mie tek-tek lewat di depan rumah. Nasi goreng adalah menu masakan yang paling favorit bagi kabannyakan orang Indonesia. Mmebuatnya mudah, namun perbedaan rasanya terletak pada bumbu yang digunakan.

Malam itu selepas hujan, lewatlah peagang mie tek-tek  di depan rumah saya. Kebetulan saya belum makan malam, nasi di rumah sudah habis dan laupun tidak ada. Daripada memasak lagi atau keluar rumah, maka saya tunggulah pedagang mie tek-tek lewat. Benar saja, jam 9 malam sudah terdengar bunyi tek-tek yang khas. Saya memesan satu porsi nasi goreng agak pedas.

Pedagang tek-tek memasak nasi goreng dengan menggunakan anglo. Anglo adalah kompor dengan bahan bakarnya adalah arang. Nah, salah satu faktor yang membuat nasi goreng tek-tek enak adalah karena dimasak dengan arang. Bau asap arang memberikan sensasi rasa yang khas pada masakan.

Saya perhatikan cara memasaknya, Mula-mula dituangnya dua sendok minyak goreng. Setelah panas, dimasukkan bawang daun, lalu telur ayam, dan diaduk sebentar. Kemudian dimasukkan bumbu ulek ke dalam wajan, lalu diaduk bersama telur tadi. Setelah itu dimasukkan sayuran soun, terakhir dimasukkan nasi dan terus diaduk. Selanjutnya dimasukkan setengah sendok teh garam, sedikit bumbu penyedap, sambal cabe rawit, dan kecap. Semuanya diaduk di atas anglo dengan api yang besar. Sebuah kipas yang ditekan dengan telapak kaki berfungsi memberi aliran udara kepada anglo sehingga apinya tetap besar. Tidak lama nasi gorengpun matang dan dipindahkan ke dalam piring. Dia atad nasi goreng ditaburi acar ketimun, potongan tomat, dan kerupuk. Nasi goreng itu sungguh nikmat rasanya bila langsung dimakan saat itu juga dalam keadaan hangat, rasanya nendang, enak banget.

Lalu, apa yang membuat nasi goreng tek-tek ini lebih enak daripada nasi goreng di hotel? Jawabanya beraneka ragam. Salah satunya adalah karena pedagang nasi goreng lebih berani menggunakan bumbu, dan  lebih berani menggunakan cabai dan penyedap rasa (MSG). Bandingkan dengan chef di hotel. Nasi goreng di hotel tidak berani pakai bumbu yang kaya, bumbunya minimalis saja, hanya bawang putih dan merica. Pelezat rasa pun biasanya  kaldu, garam dan gula. MSG tampaknya terlarang digunakan di dapur hotel. Garam pun hanya ditaburi sedikit karena mempertimbangkan tamu hotel yang diet garam. Tidak ada penambahan cabe rawit di dalam bumbu nasi goreng karena khawatir dikomplain tamu hotel jika nasi gorengnya kepedasan. Kalau mau agak asin atau agak pedas, tambahkan sendiri garam atau merica yang disediakan di atas meja. Karena memasak nasi goreng di hotel mempertimbangkan banyak faktor, maka nasi goreng di hotel dibuat lebih umum (kurangi garam, tidak terlalu pedas, dan tidak terlalu berbumbu) seingga tidak heran rasa nasi gorengnya pun kurang enak.

Pedagang nasi goreng tek-tek lebih berani bereksperimen dibandingkan chef di hotel. Rasa nasi gorengnya yang enak dominan karena faktor bumbu, cabe, dan tentu saja MSG. Saya perhatikan bumbunya terbuat dari bawang merah, bawang putih, cabe, ebi atau terasi, dan mungkin saja ditambah dengan penyedap rasa (wallahualam). MSG dalam porsi yang sangat sedikit dan hanya sekali-sekali saja dikonsumsi tidaklah berbahaya. Toh tidak setiap hari orang makan nasi goreng tek-tek, bukan?

Seorang teman mengatakan, selain faktor bumbu yang lebih berani, faktor lain yang membuat nasi goreng tek-tek lebih enak adalah adalah “jam terbang”  pedagang tek-tek yang jauh bedanya dengan jam terbang koki di hotel. Bagi kebanyakan penjual nasi goreng jalanan, dengan satu menu andalan, mereka sudah membuat jauh lebih banyak nasi goreng ketimbang koki hotel yang menguasai lebih banyak menu.  Dia teringat tulisan Malcolm Gladwell mengenai jam terbang minimal untuk bisa memiliki keahlian di satu bidang.

Written by rinaldimunir

April 13th, 2018 at 4:31 pm

Suatu Malam dengan Pedagang Sate Ayam

without comments

Malam itu, di tengah hujan yang mengguyur deras, terdengarlah suara teriakan dari luar rumah. Sateee… Saya yang mendengarnya dari dalam rumah tertegun sejenak. Oh, siapa yg berjualan malam-malam dan hujan begini? Kasihan, kata saya dalam hati. Saya menyuruh anak saya untuk memanggil pedagang sate itu. Ternyata dia seorang ibu berjilbab yang berdagang sate keliling. Dia berjalan kaki menjajakan sate ayam. Sebuah payung besar yang sudah kusam di tangan kanan melindungi dirinya dari hujan. Saya minta dia menepi di depan rumah saya, di bawah balkon yang tidak terkena hujan.

Saya memesan sepuluh tusuk sate ayam yang harganya delapan belas ribu rupiah. Saya dan anak saya memperhatikannya membakar sate dan menyiapkan bumbu. Sambil menunggu sate matang, saya tidak tahan untuk tidak mengobrol dengan ibu itu sembari menggali kehidupannya. Rasa ingin tahu saya muncul.  Menurut saya ini cukup unik, yakni ada seorang perempuan di tengah malam berkeliling jualan sate, berjalan kaki lagi.  Apa dia tidak khawatir dengan keselamatannya.

Lalu, terjadilah dialog di bawah ini (keterangan: + saya, – ibu pedagang sate).

+ Tinggal di mana, Mbak?
– Antapani Lama, Mas
+ Darimana asalnya?
– Dari Kedu, Blora, Mas
+ Di sini tinggal sama siapa?
– Sama suami saya. Dia juga jualan sate keliling, tapi ke Arcamanik pakai sepeda.
(Ooo, jadi keduanya berjualan sate)

+ Trus, anaknya sama siapa?
– Anaknya nggak mau ikut ke Bandung, maunya mondok (pesantren) di Tuban. Masih SMP. Senangnya mondok daripada ikut ke sini. Ya udah kalau senangnya begitu.
+ Berapa orang anaknya, Mbak?
– Cuma satu
+ Udah lama di Bandung?
– Udah 18 tahun. Kalau jualan sate ini ya 10 tahun.
(Hmmm..tipikal perempuan Jawa yang gigih dan ulet mencari nafkah membantu suami)

+ Keluar rumah untuk jualan jam berapa,Mmbak?
– Nggak tentu, kadang jam 4 atau jam 5 (sore).
+ Pulangnya jam berapa?
– Jam 9 (malam)
(Wah, berani sekali, perempuan malam-malam keliling berjualan sate dengan berjalan kaki. Salut saya. Resikonya besar. Diganggu laki-laki, dibegal, dsb. Mungkin rasa takutnya dikalahkan oleh semangat mencari nafkah membantu suaminya dan untuk biaya anaknya mondok)

+ Sering pulang ke Jawa, Mbak?
– Satu semester sekali. Kalau mau bulan puasa saya pulang sampai lebaran.

+ Di Antapani Lama banyak orang Jawa ya?
( Antapani Lama itu sebuah kawasan di Antapani yang padat dan banyak gang sempit. Di sana banyak bermukim pendatang dari Jawa yang bekerja di sektor informal, pedagang jamu, bakso, dan lain-lain. Mereka  mengontrak rumah atau kamar dari warga lokal/Sunda. )

– Iya, Mas. Kami punya arisan satu bulan sekali, anggotanya orang Jawa semua. Senang kalau kumpul2 sesama orang Jawa, mengobati rasa kangen ke kampung.

Sate pun selesai dibakar. Sepiring sate ayam dan dua puluh ribu rupiah pun berpindah tangan. Lumayan enak satenya.

Selesai makan sate saya masih teringat dialog percakapan tadi. Hmmm…dia dan suaminya meninggalkan anaknya mondok di pesantren di Jawa, sementara mereka berdua berjuang mencari nafkah di Tanah Sunda untuk membiayai anak satu-satunya itu. Semoga saja anaknya nanti menjadi ulama, amin. Semoga rezekinya lancar dan selalu diberi keselamatan dalam mencari nafkah.

Written by rinaldimunir

March 1st, 2018 at 4:47 pm

Angkot dan Taxi Daring, Dua Sisi Kehidupan Berbeda

without comments

Hari ini saya naik angkot dari Jalan Riau ke kampus ITB. Penumpangnya hanya saya sendiri di belakang. Sepi. Meski sepi, Pak Supir angkot tetap menjalankan angkotnya mencari penumpang yang masih setia menunggu angkot di pinggir jalan. Dari sisi ekonomi sebetulnya dia merugi karena menjalankan angkot menyusuri jalanan kota tetapi hanya membawa segelintir penumpang. Pendapatan yang masuk dari mengangkot tentu tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkannya (bensin, makan, perawatan, tips buat preman, dsb). Tapi dia tidak punya pilihan lain. Mencari pekerjaan saat ini tidak mudah.

Zaman telah berubah. Pengguna transportasi sudah beralih ke sepeda motor dan transportasi daring (online). Sepeda motor lebih praktis karena dapat menembus kemacetan. Berbeda dengan angkot yang sering berhenti dan ngetem lama menunggu penumpang, memakai sepeda motor jauh lebih bebas dan sesuka hati pemiliknya mau pergi ke mana saja.

Untuk alasan kedua, transportasi daring, sekarang sudah menjadi pilihan penting bagi masyarakat. Trasportasi daring seperti ojek daring dan taxi daring dari tiga perusahaan utama  (Gojek, Grab, dan Uber) telah menjadi andalan masyarakat yang enggan naik angkutan umum.  Tidak perlu capek-capek ke jalan raya mencari angkutan umum. Tinggal pesan via ponsel, taxi daring atau ojek daring datang ke rumah atau tempat kita memesan untuk menjemput. Selain efisien, ongkosnya murah lagi karena masih disubsidi oleh perushaannya yang rajin “membakar duit” investor.

Pengemudi (driver) transportasi daring bisa siapa saja. Mahasiswa, karyawan, PNS, ibu rumah tangga, guru, satpam, dan lain-lain bisa menjadi driver asalkan memiliki kendaraan sendiri. Iming-iming bonus dari perusahaan transportasi daring telah membuat banyak orang tertarik ikut menjadi driver.

Saya sendiri adalah pengguna yang sering menggunakan transporatsi daring, khususnya taxi daring, selain ojek daring tentunya. Mobil yang saya naiki bermacam-macam merek dan tahun keluaran. Minggu lalu saya memesan taxi daring dari sebuah rumah sakit menuju rumah. Baru beberapa detik memesan via ponsel, order saya langsung ada yang menerima. Pengemudinya adalah seorang mahasiswa Unpad tingkat akhir yang baru saja selesai ujian skripsi. Mobil yang dibawanya adalah mobilnya sendiri (mungkin mobil yang dibelikan oleh orangtuanya), mobil terbaru dan jenis terbaru keluaran Honda (ups, sebut merek ?

Iseng-iseng saya tanya berapa bonus yang dia terima dengan me-go-car (saya pakai aplikasi Go-car). katanya, sehari, kalau mendapat order mengangkut penumpang 17 kali, dia mendapat bonus Rp390.000 pada hari biasa (weekday), atau Rp450.000 pada akhir pekan (weekend). Itu diluar ongkos dari penumpang dan sejumlah tips. Dia tidak perlu keliling-keliling mencari penumpang seperti halnya taxi konvensional atau angkot, cukup mangkal di suatu tempat keramaian (stasiun, pangkalan travel, mal, pasar, dsb), tunggu order yang masuk ke aplikasi, maka dia sudah mendapat penumpang.  Kerjanya cukup dari jam 8 pagi hingga jam 10 malam saja, suka-suka dia saja.

Saya berhitung-hitung, jika sehari katakanlah dia mendapat pendapatan (bonus + ongkos + tip dari penumpang) sebesar Rp500.000, maka sepuluh saja hari dia mendapat 5 juta, sebulan dia mendapat 15 juta rupiah (diluar bensin dan makan). Itu penghasilan yang sangat besar dan menggiurkan bagi anak muda seperti dia.

Bandingkan dengan nasib supir angkot di atas. Dengan penumpang yang sepi, setiap hari paling banter dia hanya mendapat 100 – 150 ribu rupiah saja. Jika dikurangi makan dan setoran, paling banter dia mendapat hanya 50 ribu rupiah saja, itu yang bisa dibawanya  pulang. Nasib yang sama juga dialami oleh supir taxi konvensional yang jumlah penumpangnya semakin menyusut. Orang lebih senang menggunakan taxi daring daripada taxi konvensional karena ongkosnya murah.

Dengan ketimpangan seperti itu, maka tidak heran sering terjadi bentrokan antara pengemudi transporatsi daring dengan pengemudi transportasi konvensional. Di Bandung perseteruan keduanya sangat sengit dan cenderung anarkis. Pengemudi taxi daring dicegat, dipukul, mobilnya dirusak. Kalau sudah menyangkut urusan perut, maka logika dan nalar tidak jalan lagi. Golongan menengah (yang direpresentasikan oleh mahasiswa tadi) telah mengambil lahan golongan lemah. Sungguh persaingan yang tidak sehat dan tidak seimbang.

Tentu kita tidak dapat menyalahkan sepenuhnya pilihan masyarakat yang beralih ke taxi daring ketimbang angkot atau taxi konvensional. Dengan kebiasaan angkot yang sering ngetem, sering berhenti, dan melalui jalur yang tidak shortetst path, maka pilihan dengan taxi daring adalah alternatif yang tidak terelakkan. Jika ditambah dengan kondisi mobil angkot yang sudah reot, tidak nyaman, panas, bersempit-sempit dengan peumpang lain, maka alasan memilih taxi daring semakin kuat. Dengan kata lain, masyarakat terbantu dengan kehadiran sarana transportasi daring.

Di sisi lain, pemerintah pun gamang dengan kondisi ini. Perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat tidak diikuti dengan kebijakan yang adil. Terkesan pemerintah daerah cuci tangan. Transportasi konvensional dibiarkan hidup segan mati tak mau, tetapi melarang transportasi daring juga tidak ada dasar hukumnya. Pemerintah seperti membiarkan konflik horizontal di tengah masyarakat. Kita tidak tahu sampai kapan demo-demo pengemudi transportasi daring vs pengemudi transportasi konvensional akan terus berlangsung.

Supaya persaingan ini fair, salah satu solusinya adalah pemerintah daerah mengambil alih pengelolaan semua transportasi umum. Artinya semua angkot itu dimiliki Pemda, supirmya digaji, pelayanannya diperbaiki, jalurnya dibebaskan seperti taxi daring, jadwalnya tepat waktu, dan lain-lain. Jika ini dlakukan, maka persaingan antara kedua jenis transportasi akan berlangsung sehat. Masyarakat mempunyai banyak pilihan. Tapi, ini mungkin cuma mimpi.


Written by rinaldimunir

October 26th, 2017 at 3:18 pm

Bapak Tua Penjual Keripik Singkong

without comments

Di sekitar jalan di belakang Gedung Sate, ada seorang bapak tua yang sudah aki-aki berjalan tertatih-tatih memikul dagangan keripik singkong. Dia memakai tongkat besi berkaki tiga (yang biasa digunakan oleh orang-orang yang terkena stroke). Saya yang biasa melewati jalan itu setiap hari dari rumah ke kantor tidak tega melihatnya. Entah mengapa, setiap kali melihat orang-orang tua menjajakan dagangan, perasaan saya langsung terenyuh. Iba. Saya hentikan sepeda motor beberapa meter di depannya, lalu menunggunya berjalan lebih dekat. Kecepatan jalannya kira-kira satu langkah dalam empat detik. Benar-benar sangat pelan.

keripik1

Setelah dekat, saya hentikan dia dengan kode mau membeli. Saya tanya berapa harga sebungkus keripik singkong itu. Rupanya dia agak susah mendengar. Sebuah alat bantu dengar terpasang di telinganya. Setelah saya tanya beberapa kali, barulah dia menjawab Rp13.000 satu bungkus. Saya beli saja dua bungkus dan sisa uang kembalian tidak saya minta lagi. Saya tanya pak aki dari mana, dia menjawab dari Malangbong, Garut. Jadi keripik singkong itu dibawa dari Malangbong, lalu dijual di Bandung. Saya tidak menanyakan apakah dia bolak-balik membawa keripik singkong itu dari Malangbong ke Bandung, atau ada orang yang memasoknya dari sana lalu bapak aki ini menjualkan saja. Wallahualam.

Menurut beberapa orang yang pernah melihatnya, bapak aki sudah rutin berjualan keripik singkong di seputaran belakang Gedung Sate.  Saya memang baru kali ini menemukannya. Dalam hati saya berkata, sudah tidak sepatutnya bapak aki berjualan seperti ini. Dengan kondisi fisiknya yang lemah dia harus berjualan makanan yang tidak seberapa besar untungnya itu. Bapak aki seharusnya berada di rumah bermain dengan cucu, tetapi entahlah, kebutuhan hidup mungkin membuat bapak aki harus turun ke jalan tertatih-tatih mencari nafkah di kota besar.

keripik2

Sesungguhnya saya tidak terlalu membutuhkan keripik singkong ini. Di rumah masih banyak camilan seperti keripik itu. Namun, niat saya membelinya lagi-lagi karena kasihan semata. Bapak aki tidak mengemis, dia masih punya harga diri. Menurut saya, cara membantu orang-orang lemah seperti bapak aki adalah dengan membeli dagangannya. Itu sangat membantu sekali.

Banyak orang kecil dan lemah seperti bapak aki ini saya temui di jalan. Ketika dalam perjalanan pulang ke rumah waktu bulan puasa yang lalu, di trotoar Jalan Supratman saya melihat seorang laki-laki menggendong anak perempuan di bahunya. Sembari menggendong anak, di tangannya ada beberapa barang jualan berupa sapu lidi untuk membersihkan kasur.  Refleks saya tepikan motor, lalu memanggilnya. Lagi-lagi saya tidak tega melihat pemandangan seperti ini. Meskipun di rumah saya sudah ada sapu lidi semacam itu, namun saya beli juga. Saya ajak dia mengobrol. Laki-laki itu tinggal di Majalaya, Bandung Selatan. Setiap hari dia berjalan kaki di kota Bandung menjajakan sapu lidi. Anak perempuan itu adalah anak kandungnya, kemana-mana selalu dibawa serta karena ibunya sudah bercerai dengan dirinya. Di Majalaya dia mengontrak sebuah kamar, disanalah dia tinggal berdua dengan anak semata wayangnya. Karena tidak ada yang menjaga anaknya, maka setiap hari selalu dibawa berualan. Sudah empat tahun begini, katanya datar. Uang kembalian membeli sapu saya serahkan ke anaknya. Buat jajan dan buka puasa nanti, kata saya meninggalkan mereka.

Saya hanya bisa membantu orang-orang kecil seperti itu dengan cara membeli dagangannya. Meskipun kita tidak terlalu membutuhkan barang dagangannya saat ini, namun percayalah, dengan membeli dagangan mereka, kita sudah memperpanjang hidup mereka.


Written by rinaldimunir

July 20th, 2017 at 5:13 pm

Nasib Atlet PSSI yang Merana Dikala Tua

without comments

Kemarin pagi ketika saya sedang duduk-duduk di teras rumah, lewatlah seorang bapak tua yang menjajakan dagangan berupa sapu, ember, dan peralatan rumah lainnya. Karena memang ingin membeli sapu lidi, saya panggillah dia. Harga sapu lidinya Rp25.000. Tanpa saya tawar lagi, saya pun membelinya. Kepada pedagang-pedagang tua seperti bapak ini saya sering tidak tega menawar barang. Ada rasa kasihan melihatnya. Cara terbaik membantu mereka adalah membeli dagangannya, meskipun kita mungkin tidak terlalu membutuhkannya saat itu.

Setelah uang diterima, bapak tua itu berkata begini. “Cep, nanti malam ada Persib di TV lawan Barito Putra”. Saya hanya tersenyum. Saya bukan penyuka bola. Anak saya yang nomor dua yang hobbi bola. “Suka nonton bola, nggak?”, tanyaya. “Nggak aki, anak saya yang suka”, jawab saya.

“Bapak dulu pemain PSSI tahun 1949”, dia melanjutkan kata-katanya.

“Oh ya?”. Saya pun mulai tertarik mendengarkannya. Bapak pedagang sapu itu bernama Suhatman. Menurut ceritanya, dia mantan pemain PSSI tahun 1949 (mungkin maksudnya tahun 1959, saya kurang persis mendengarnya) yang pernah mengharumkan nama Indonesia di berbagai kancah laga internasional. Posisinya sebagai pemain gelandang. Dia pernah bermain di Afghanistan, Australia, dll. Dia masih ingat nama salah satu pemain saat itu, Saelan. Tahun 50-an kesebelasan Indonesia termasuk yang disegani di kawasan Asia.

suhatman1

Tanpa diminta dia bercerita tentang pengalaman main bolanya, pelatihnya, dan kondisi sepakbola Indonsia saat ini. Tak lupa dia memperagakan tendangan andalannya yang ia sebut “tendangan pisang”. Pak Suhatman bercerita, sampai tahun 70-an namanya masih tertulis di Gelora Senayan, tetapi sekarang sudah dihapus, ceritanya sedih. Saya mulai percaya dengan ceritanya. Saya pikir Pak Suhatman ini orang jujur dan tidak  mungkin mengada-ada. Untuk apa dia bercerita soal sepakbola begitu lengkap, tentu bukan karena motif ekonomi.

“Kalau jadi pemain bola nggak dapat uang pensiun”, katanya sedih. Jadilah pada masa tuanya hidup Pak Suhatman merana seperti sekarang. Dulu dia pernah dijanjikan kerja di PLN oleh walikota Bandung (alm) Ateng Wahyudi, tetapi tidak terealisasi. Sekarang dia harus mencari uang sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Agak susah dia mendengar pertanyaan saya karena pendengarannya terganggu. Ini karena dulu kepalanya sering kena sleading bola, katanya. Umurnya saat ini 79 tahun dan masih sehat berjalan. Saya bertanya asalnya darimana, dia jawab dari Rajagaluh, Ciamis. Sekarang dia tinggal di gang sempit di Cicadas. Anak-anaknya sudah meninggal dunia, hanya satu anak perempuannya yang masih hidup, tetapi menantunya tidak suka kepadanya. Pak Suhatman harus mencari hidupnya sendiri.  Berjualan sapu dan ember adalah atas kebaikan seorang Babah Tionghoa yang menjadi majikannya. Semua barang jualan ini adalah milik si Babah. Dia hanya menjualkan saja.

Uang lima puluh ribu untuk membeli sapu tidak saya minta kembaliannya. “Buat Pak Suhatman saja”, kata saya. Dia merasa sangat terharu, dipeluknya saya dan didoakannya saya serta keluarga saya.

suhatman2

Saya tatap kepergian pak Suhatman. Saya merasa iba seorang atlet yang pernah mengharumkan nama Indonesia pada tahun 50-an tetapi hidup mengenaskan pada masa tuanya. Dia tidak sendiri, masih banyak atlet lain yang pernah mengharumkan nama bangsa namun kurang mendapat perhatian Pemerintah, mereka harus bertahan hidup dengan usaha apa saja. Membuka usaha warung, menjadi tukang beca, kuli angkat, tukang ojeg, atau pedagang keliling seperti Pak Suhatman ini.

Semoga Aki Suhatman selalu tetap sehat dan dilindungi oleh Allah SWT. Amin.


Written by rinaldimunir

June 19th, 2017 at 3:30 pm