if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Romantika kehidupan’ Category

Bapak Penjual Tahu Sumedang (2)

without comments

Tahuuu…..

Setiap pagi bapak penjual tahu sumedang lewat di depan rumah saya. Dia memikul dua buah ketiding bambu (apa ya Bahasa Indonesianya?). Satu ketiding berisi penuh tahu goreng, satu ketiding lagi berisi lontong. Di kota besar seperti Bandung masih cukup banyak pedagang yang berjualan makanan dengan cara dipikul secara tradisionil pada bahu seperti itu.

tahu1

Selain tahu dan lontong, dia juga menambah jualannya dengan membawa telur asin, kerupuk-keripik, dan camilan-camilan lain dari Sumedang. Sesak sekali pikulannya. Tentu berat sekali.

+ Wah, berat sekali ini, Pak. Berapa kilo berat semuanya?
Awalnya 40 kg, tapi berkurang terus setiap ada yang beli.
Sudah berapa tahun jualan seperti ini, Pak?
+ Sudah 30 tahun lebih pak, sejak Antapani ini masih sawah-sawah, belum perumahan seperti sekarang.

Tahu yang dijualnya didatangkan langsung dari Sumedang. Sumedang terkenal dengan tahunya yang khas. Tahu-tahu itu dipasok dari juragan tahu di Sumedang. Dia hanya menjualkan saja secara keliling, masuk kampung keluar kampung. Tapi dia memang tinggal di Sumedang, bolak balik ke Bandung.

+ Dari Sumedang ke Bandung naik apa, Pak?
Naik colt buntung, Pak
+ Kalau tahunya tidak habis bagaimana?
Kalau tidak habis saya menginap dulu di mess yang disediakan juragan.

Juragan tahu menyediakan mess bagi penjual tahunya di daerah Bandung Timur. Para penjual tahu menginap di sana. Setiap pagi pasokan tahu goreng datang langsung dari Sumedang. Seminggu sekali mereka pulang ke Sumedang membawa penghasilan berjualan tahu, kemudian kembali lagi ke Bandung. Profesi ini sudah dilakoninya selama 30 tahun! Itu artinya sejak saya datang ke kota Bandung ini.

Saya sampai hampir lupa membeli tahunya karena asyik mengobrol.

+ Berapa harga tahunya, Pak?
Biasa, sepuluh lima ribu.
+ Saya beli dua puluh ya

Tahu Sumedang dan uang sepuluh ribu berpindah tangan. Cocok untuk teman sarapan pagi dengan nasi hangat.

tahu2

Saya selalu bersimpati kepada orang-orang kecil yang gigih mencari nafkah secara halal. Betapa berat beban yang dia pikul, tetapi keikhlasan tampak di matanya. Orang-orang seperti ini berjuang mencari rezeki untuk keluarga yang ditinggalkannya.

Saya jadi teringat almarhum ayah saya. Setiap hari, usai sholat Subuh, ia berjalan kaki menuju terminal bus. Bapak saya adalah penjual daging sapi. Daging sapi itu dibeli di luar kota, awalnya di Lubuk Alung, lalu di Padangpanjang, kemudian di Bukittinggi. Daging-daging segar itu dibeli di sana, lalu dibawa lagi ke Padang sebelum siang dengan menggunakan bus umum. Di Padang daging sapi itu dijual ke pedagang sate atau dijual ke pedagang daging di los  Pasar Raya Padang. Hal itu dilakukannya setiap hari untuk nafkah keluarga kami. Dari perbedaan harga beli dan harga jual itulah ayah saya mendapat sedikit keuntungan membiayai sekolah saya dan kakak-kakak saya, hingga saya bisa berkuliah di Bandung. Saya bisa seperti sekarang adalah karena perjuangan ayah saya yang rela berjualan setiap hari. Alfatihah buat almarhum ayah dna ibu saya. Amiin.

Written by rinaldimunir

January 3rd, 2021 at 5:00 pm

Menanti Panggilan Kerja

without comments

Setiap pagi para pekerja serabutan duduk menanti di Jalan Indramayu, Antapani, Bandung. Mereka adalah buruh-buruh kuli yang umumnya berasal dari kampung yang sama di Majalengka, sebuah kabupaten di bagian timur Jawa Barat. Mereka datang ke Bandung jika di kampung tidak ada orderan menggarap sawah, karena mereka umumnya tidak memiliki sawah.

kuli
Saat musim panen dan awal musim tanam di kampung, mereka pulang kembali ke kampungnya menggarap sawah milik juragan. Setelah itu mereka balik lagi ke Bandung mencari penghasilan sebagai buruh serabutan.  Di Bandung buruh-buruh tersebut menginap di saung-saung, emperen kantor pos, atau mengontrak kamar ramai-ramai.

Sekali sebulan atau dua bulan sekali mereka pulang ke kampungnya mengantarkan hasil jerih payah untuk belanja anak dan istrinya. Hasil menguras tenaga selama menjadi kuli serabutan di Bandung diserahkan kepada istrinya. Pada umumnya mereka adalah para suami yang setia.

Modal kerja mereka hanyalah cangkul, parang, dan pikulan beban. Tiap pagi buruh-buruh ini menunggu panggilan warga yang membutuhkan tenaganya untuk membersihkan kebun, taman, halaman rumah, angkut-angkut bahan bangunan, angkut barang, angkut galian, dll. Jika tidak ada panggilan kerja, mereka berkeliling kompleks perumahan, berharap siapa tahu ada warga yang memerlukan tenaganya.

kuli2Tidak ada tarif yang pasti berapa bayaran untuk buruh kuli ini, tergantung kesepakatan pemberi kerja dengan mereka. Yang jelas kita harus dapat mengukur berapa volume kerjanya dana apa saja yang harus dikerjakan sehingga kita dapat memperkirakan ongkosnya.

Saya sendiri sering menggunakan buruh kuli ini untuk membersihkan halaman rumah dan kebun/taman di seberang rumah. Yah hitung-hitung membantu mereka dengan memberi kerjaan. Tidak hanya saya beri uang jasa, tetapi juga makan. Alangkah senangnya mereka mendapat kerjaan.

Mereka yang duduk-duduk pada pagi hari itu mungkin juga sedang menunggu orang-orang yang ingin memberi sedekah sarapan . Hampir setiap hari hari, khususnya pada hari Jumat, ada saja orang baik yang mendrop nasi bungkus buat mereka.

Semoga mendapat rezeki yang barokah untuk keluarganya.

Written by rinaldimunir

December 30th, 2020 at 11:54 am

Sepenggal Dialog Siang

without comments

Seorang pegawai Pizza H*t (sebuah waralaba pizza yang terkenal)  lewat di depan rumah dengan motornya menawarkan paket pizza seratus ribu empat buah. Saya yang sedang berdiri di depan rumah disapanya.

+Pak, beli pizzanya, seratus ribu empat biji. Masih hangat pak, baru dibakar. (Ia menunjukkan box di sadel motor yang penuh berisi pizza)

Saya sebetulnya tidak tertarik dengan paket pizza seratus ribu empat itu, sebab kata seorang teman, pizzanya keras, udah dingin, banyak tepung, topping-nya dikit lagi.

-Boleh nggak dua saja (saya menawar 🙂 )

+Maaf pak, nggak bisa, sudah aturannya begitu. Kalau di restoran harganya 150 ribu pak (dia mencoba berpromosi)

Sudah lama jualan seperti ini?

+Iya pak, sekarang sepi. Jadi sekarang kami yang mencari pembeli door to door

Begitulah waralaba pizza yang dulu dikenal sebagai makanan elit, sekarang turun kelas menjadi makanan ‘murahan’ yang ditawarkan secara asongan di pinggir jalan atau dijajakan keliling kampung. Sejak pandemi corona banyak bisnis bertumbangan, termasuk waralaba makanan asing yang mengalami kerugian besar. Sepi pembeli, karena banyak orang takut makan di restoran, atau menghindar makan di dalam ruangan bersama.

pizza

Pizza ditawarkan di pinggir jalan

Oh, begitu?
+ Iya pak, sudah banyak pegawai kami di-PHK. Ini kami ditugaskan berjualan keliling.
Boleh nggak setengah saja (kembali saya menawar). Empat buah pizza mah kebanyakan.
+ Nggak bisa pak. Ini saya dari tadi keliling belum laku pak (katanya sedih)
(Ya iyalah, agak sulit laku, sebab seratus ribu itu bagi orang awam sangat besar kalau hanya untuk membeli pizza. Dengan uang segitu sudah dapat lima bungkus nasi ramas di rumah makan Padang. Kalau ingin menyasar kalangan menengah ke bawah seharusnya mereka menjualnya satuan atau minimal dua buah)
Karena raut wajahnya terlihat suram, akhirnya pertahanan saya tumbang. Kasihan aja. 🙂 Terbayang anaknya pasti menunggu ayahnya pulang bawa rezeki.
Ya udah, saya beli ya    (saya beli saja dengan niat menolong saja, meski saya tidak berminat makan pizza)
+ Terimakasih banyak ya pak (dengan nada gembira).
Empat buah pizza dan uang seratus ribu pun berpindah tangan.

Written by rinaldimunir

December 24th, 2020 at 10:22 am

Bertahan Hidup pada Masa Pandemi

without comments

Sudah lima bulan pandemi corona berlangsung di tanah air (dan mungkin masih akan terus berlangsung). Sudah banyak orang terhempas secara ekonomi akibat pandemi corona. Sudah banyak orang kehilangan pekerjaan dan mata pencahariannya karena tidak ada orang yang mau memakai jasanya, atau membeli barangnya, atau karena orang-orang menghindar dulu untuk berhubungan dulu dengan mereka.

Berikut daftar orang-orang yang kehilangan mata pencaharian/pekerjaan akibat pandemi corona:
1. Pemijat termasuk tukang pijat tuna netra dan pekerja di spa
2. Pengajar bimbel/les privat
3. Pegawai hotel dan pekerja di tempat-tempat wisata
4. Perajin suvenir untuk pariwisata
5. Pilot dan pramugari (hanya sebagian mereka yang boleh terbang)dan kru di bandara (porter, pegawai check-in counter)
6. Pegawai bioskop
7. Guru honorer di sekolah swasta
8. Pegawai perusahaan biro travel, termasuk biro perjalanan umrah dan haji
9. Pegawai perusahaan ticketing daring (Traveloka, Tiket.com, Airy Room, dll sudah merumahkan sebagian karyawannya)
10. Pegawai perusahaan catering dan wedding, karena resepsi pernikahan masih belum diperbolehkan untuk tamu yang banyak.
11. Pegawai sarana transportasi (kereta api, bus travel, pesawat, Gojek, Grab, dll)
12. Pekerja event organizer
13. Pekerja seni pertunjukan (dalang, penari, sinden, penyanyi, MC, dll)
14. Artis
15. …

Masih panjang lagi daftarnya, silakan diisi sendiri. Sedih melihat situasi ini, karena efek dominonya kemana-mana.

Namun bukan orang Indonesia namanya jika tidak berusaha dengan berbagai cara untuk bertahan hidup. Kang Deden misalnya, sebelum pandemi ia bekerja di sebuah perusahaan interior kantor. Namun akibat pandemi, perusahaannya melakukan rasionalisasi karena tidak ada order interior. Setelah di-PHK dari tempat kerjanya akibat badai corona, Kang Deden banting stir berjualan ikan bandeng presto keliling. Ketika lewat di depan rumah saya, dia menawarkan ikan bandeng presto. Saya pun membelinya.

Ikan bandeng presto itu memang bukan dia yang membuatnya, tetapi diambil dari majikannya, orang Semarang  yang menjadi perajin bandeng presto di Bandung. Dia hanya menjualkannya saja secara keliling, lalu mengambil sedikit keuntungan dari per satuan  ikan bandeng yang terjual. Satu ekor ikan bandeng presto dijualnya sembilan ribu hingga sepuluh ribu rupiah. Tidak terlalu mahal. Setelah saya goreng atau bakar, rasanya yummy. Enak.

“Ya ginilah, Pak,”, katanya. “Daripada nggak ada kerjaan, saya keliling jualan ikan bandeng ini”, katanya lagi.

Tentu saja orang-orang seperti Kang Deden ini banyak jumlahnya, ratusan ribu, bahkan jutaan orang. Mereka ini dulunya punya pekerjaan tetap, tetapi akibat pandemi yang luar biasa ini, pekerjaan mereka menjadi ambyar. Pekerjaan apapun dilakukan untuk mencoba bertahan.  Yang penting halal.

Semoga orang-orang seperti Kang Deden diberi ketabahan dan tetap semangat ditengah krisis.

Written by rinaldimunir

August 4th, 2020 at 8:22 pm

Bapak Tua Penjual Koran

without comments

Jika Anda sering melewati Masjid Salman ITB (jalan kecil menuju masjid di samping Taman Ganesha) tentu Anda sering melihat bapak tua ini. Dia menawarkan koran kepada siapapun yang lewat. Tidak banyak pejalan kaki yang membeli korannya. Kita semua paham bahwa pada era informasi digital ini media cetak sudah kehilangan banyak pembacanya  (baca tulisan saya sebelum ini). Pembaca sudah beralih membaca informasi dari media daring.

Tiap Dhuhur saya ke Salman dan selalu ketemu bapak ini.  Memang tidak setiap hari dia berjualan koran di Salman, tetapi kalau hari Jumat selalu ada, mungkin hari Jumat masjid sangat ramai dengan jamaah yang sholat Jumat.

penjualkoran

Setiap kali saya melewatinya biasanya saya tidak mempedulikannya, tidak tertarik beli koran, karena di rumah saya sudah berlangganan koran lokal meskipun jarang dibaca.

Tapi hari ini saya beli korannya. Saya beli koran ibukota saja. Saya beli karena rasa iba melihat dia duduk tertunduk menatap dagangan korannya. Masih banyak koran yang belum laku. Saya pun ingin sekedar tahu profilnya. Berikut dialog saya dengannya.

+ Siapa namanya, Pak?
– Asep.     (Agak-agak kurang jelas, suaranya lirih. Red).
+ Dari mana, pak?
– Dari Cicaheum
+ Setiap hari bawa koran berapa?
– 100
+ Habis?
– Nggak juga
+ Sudah jarang orang beli koran ya, Pak?
– Iya, tapi ada saja yang beli

Demikianlah percakapan saya dengan Pak Asep. Dia menjawab pendek-pendek sambil menunduk. Sepertinya Pak Asep sedang sakit. Dari seorang teman saya baru tahu kalau dulunya Pak Asep ini agak gemuk, tetapi sekarang mengidap penyakit diabetes. Tangannya tampak bergetar. Kasihan ya.

Kalau kamu ketemu dia, sempatkanlah membeli korannya, meski kamu tidak terlalu butuh. Satu saja tak apa. Itu sudah membantu dia bertahan hidup. Orang kecil seperti Pak Asep ini banyak di sekeliling kita. Mereka tidak mau meminta-minta, tetapi selalu berikhtiar mencari nafkah halal meskipun keuntungan tidak seberapa. Hanya melalui tangan kitalah kita bisa membantu mereka dengan membeli dagangannya.

 

Written by rinaldimunir

March 4th, 2020 at 8:27 am

Tetap Rukun Sampai Manula

without comments

Sepasang aki dan nini (sebutan buat kakek dan nenek dalam Bahasa Sunda) lewat di depan rumah saya. Ditaksir umur mereka sekitar 80-an. Mereka berjalan saling bergandengan tangan, tertatih-tatih dan sedikit-sedikit melangkah. Sang aki menggenggam erat tangan istrinya, khawatir jatuh. Jalanan sepi pagi hari itu dan hanya mereka berdua saja yang berjalan.

+ Mau ke mana, aki?, sapaku.
– Mau pulang ke rumah, dari rumah anak. Si Nini menjawab tanpa menoleh, tetap konsentrasi ke arah depan.

Oh, mereka mungkin habis bermalam di rumah anaknya di kawasan Antapani 2, pikirku. Mungkin juga habis menengok cucu lalu pagi-pagi mereka pulang kembali ke rumahnya. Kalian jangan berpikiran “kemana anaknya, kenapa tidak diantar?”. Mungkin saja mereka tidak ingin merepotkan anak-anak dan cucu-cucunya, tidak ingin diantar, ingin tetap mandiri. Kadang ada juga orangtua yang menolak diantar ke lokasi yang tidak terlalu jauh, sekalian olahraga katanya.

Saya menatap mereka yang terus berjalan. Romantis sekali kelihatannya. Tetap setia sampai aki-aki dan nini-nini.

Ah, akupun juga ingin begitu, kataku dalam hati sambil menghela napas. Menua bersama-sama dengan istriku kelak, dan selalu setia. Saya yakin Anda pun juga sama.

Tuhan selalu menyajikan banyak pelajaran kehidupan kepada kita sepanjang waktu. Salah satunya pelajaran dari aki dan nini itu pada pagi hari tadi.

Written by rinaldimunir

February 9th, 2020 at 8:09 pm

Beli Meski Tidak Butuh

without comments

Seorang bapak duduk termenung di pinggir jalan di seberang Toserba Griya menjelang senja. Lelah dia berjalan setelah berkeliling menjajakan jualannya berupa barang remeh temeh seperti tisu, peniti, spon cuci piring, gunting kuku, jepit rambut, dll. Matanya nanar menatap lalu lalang kendaraan dan orang-orang yang lewat, berharap ada yang membeli dagangannya.

Saya beli saja tisu, spon, dan gunting kuku, yang sebenarnya barang2 itu sudah ada di rumah.

#suatusenjadiAntapani

Written by rinaldimunir

December 5th, 2019 at 4:56 pm

Anak Kecil Penjual Serbet dan Keset

without comments

“Assalaamu’alaikum, Pak. Beli serbet dan kesetnya, Pak”

Seorang bocah dengan baju yang tamapk kebesaran tiba-tiba muncul di depan pagar rumah. Dia, si Ujang dari Cicalengka, menjajakan serbet dan keset dari rumah ke rumah di Antapani. Serbet lima belas ribu dua, keset duapuluh ribu satu. Ibunya menunggu di sudut jalan, mengerahkan anak-anaknya berjualan dari pintu ke pintu.

Sayapun menemuinya. Saya tidak butuh-butuh amat sih, masih banyak serbet dan keset kaki di rumah. Namun, saya beli juga. Iba.

Berikut dialog saya dengan si Ujang, tentu dalam Bahasa Sunda, Sunda minimalis . Maklum, meski saya sudah puluhan tahun di Bumi Parahyangan, namun bahasa Sunda saya masih saeutik-saeutik.

+ Umurnya berapa, Jang?
– Tujuh tahun, Pak
+ Sekolah kelas berapa?
– Kelas dua
+ Dari Cicalengka naik apa?
– Naik kereta
+ Berapa orang ke sini?
– Empat. Mama, Aa, adik, dan saya
+ Pulang ke Cicalengka lagi jam berapa?
– Nanti kalau udah habis

Apa yang dilakukan si Ujang dan mamanya masih lebih baik daripada mengemis. Sejak kecil ibunya sudah memperkenalkan beratnya perjuangan hidup. Sekarang sih dia belum mengerti. Kalau sudah besar baru dia paham betapa kerasnya kehidupan.

Mungkin ada orang yang berpikir, ah, itu strategi “orangtua” untuk memanfaatkan anak-anaknya berjualan agar memancing rasa iba. Child abuse. Sama seperti kisah anak-anak penjual coet atau batu cobek atau batu ulekan (batu untuk menghaluskan bumbu) dari Padalarang. Entahlah, saya tidak peduli. Saya beli saja, hitung-hitung niat sedekah.

Hati-hati di jalan ya, Jang. Dia pun pergi ke pintu yang lain. Menjajakan dagangan yang sama. Serbet dan keset.

Written by rinaldimunir

November 10th, 2019 at 4:32 pm

Pengemudi Gojek Perempuan itu Ternyata…

without comments

Sore hari saat jam pulang kantor saya memesan gojek motor dari sebuah rumah makan di Jalan Katamso. Saya mau pesan gojek ke rumah saya di Antapani. Di layar aplikasi ternyata yang mengambil order adalah seorang driver wanita.  Hmmm…batalkan nggak ya? Ini kedua kalinya saya mendapat pengemudi perempuan (pengalaman pertama mendapat pengemudi perempuan saya tulis di sini:  Tukang Ojek Perempuan yang Ikhlas Membantu Suaminya).

Sebenarnya saya risih jika memboncengi motor yang dikemudikan perempuan bukan mahram. Perasaan risih ini sudah saya ceritakan pada tulisan pertama tadi. Tapi lagi-lagi rasa kasihan saya mengalahkan perasaan risih. Baiklah, saya  OK-kan saja.  Pengemudi perempuan itu mengatakan bahwa dia sudah biasa mendapat penumpang laki-laki.  Di dalam hati saya berkata, jika perempuan sampai terjun menjadi tukang ojek atau gojek pastilah karena alasan yang sangat mendesak atau alasan-alasan yang luar biasa.


Dia mengemudikan motor dengan tenang. Tidak mengebut dan selalu hati-hati. Saya duduk sedikit agak menjauh dari punggungnya.

Tiba di Antapani. Sayapun turun. Lalu saya tanya:
+ Dari jam berapa nge-gojek, Teh?  (Saya memanggil dia “teteh”, panggilan kepada  perempuan Sunda)
– Dari jam 7 pagi sampai jam 10 malam, Pak.
+ Punya anak?
– Punya
+ Suami?
– Sudah enggak.

Oh, berarti dia single parent, dia mencari nafkah untuk menghidupi anaknya. Kasihan ya. Dari pagi sampai malam. Untung tadi tidak jadi saya batalkan. Ternyata dia perempuan perkasa. Di akhir perjalanan saya tambahkan bonus kepadanya.

~~~~~~

Saya kagum pada perjuangan pengemudi gojek perempuan. Mereka melakukan pekerjaan yang halal. Soal mahram dan hijab dapat saya atur, saya duduk tidak terlalu merapat ke badannya, ada ruang kosong. Membatalkan pesanan gojek  kalau tidak terpaksa sekali jangan  dilakukan, karena berpengaruh pada performa driver. Kalo performa turun, mereka susah mendapat order.

Seorang teman memberi saran, jika mendapat pengemudi perempuan, maka dia tukaran tempat. Dia yang mengemudi motor, sedangkan si perempuan yang menjadi penumpang. Menurut saya cara ini pun kurang sopan, sebab seolah-olah merendahkan perempuan karena dianggap tidak mampu menjadi driver.

Paa perempuan tukang ojek adalah perempuan perkasa. Banyak perempuan perkasa di sekitar kita. Mereka terjun mencari nafkah karena alasan yang terpaksa. Mungkin suami sudah tidak ada, atau ada suami tetapi penghasilan suami jauh dari mencukupi. Menjadi tukang ojek atau gojek mungkin adalah  pilihan yang cukup realistis saat ini. Mengapresiasi pekerjaan mereka adalah dengan menghargai mereka dan tidak melecehkannya.

Written by rinaldimunir

October 7th, 2019 at 4:47 pm

Pengemudi Gojek Mantan Pelaut

without comments

Selalu ada saja cerita menarik tentang supir gojek. Sudah sering saya temuka pengemudi gojek dulunya memiliki profesi hebat. Namun perjalanan hidup tidak selalu indah, kadangkala terjatuh dan harus bangkit lagi.

Kali ini saya mendapat pengemudi gojek yang punya pengalaman hidup hebat. Suatuagi saya akan berangkat naik kereta api ke Jakarta. Saya pesan gojek. Tidak sampai beberapa detik order langsung berbalas.  Seorang lelaki dengan muka ditutup kain datang menjemput ke rumah. Dari aplikasi saya baca namanya Heri.

Seperti biasa, saya selalu kepo, suka bertanya ke pengemudi gojek sepanjang perjalanan. Naluri jurnalisitk saya selalu muncul setiap kali naik gojek. Dari obrolan sepanjang jalan tahulah saya, Kang Heri yang mengantar saya ke stasiun kereta api Bandung ini dulunya pegawai kapal pesiar mewah (Cruise) di Samudra Atlantik.  Dia bekerja sebagai officer di anjungan kapal. Menurut Kang Heri dia dulu lulusan akademi pelayaran di Cirebon. Kapal pesiarnya adalah hotel terapung berlantai 15, membawa turis menyinggahi kota-kota pelabuhan di Eropa, Amerika hingga sampai ke kutub Utara. Kang Heri sudah mengunjungi hampir semua negara Eropa, mengujungi ke menara Eiffel, menara Pisa, New York, Florida, dan lain-lain. Dia bisa berbahasa Inggris pula.

Saya ternganga-nganga mendengar cerita masa lalunya.  Wow, sudah berkelana ke Eropa hingga ke utub utara? Jika kebanyakan orang Indonesia mungkin hanya bermimpi menjelajahi Eropa dan Amerika, dia sudah ke sana. Termasuk impian saya juga.

Kerja di kapal pesiar itu katanya ada senang dan ada sedihnya. Senangnya karena bertemu orang berbagai bangsa, mengenal berbagai kultur, makanan enak berlimpah di atas kapal, mengunjungi berbagai kota dunia. Kerja sembilan bulat di laut dan libur 3 bulan di darat. Gaji lumayan besar, dalam mata uang dolar. Sedihnya jika bosan berada di laut, kangen makanan Indonesia, atau berada hidup dan mati jika kapal pesiar dihantam, topan.

Lalu kenapa jadi tukang gojek?, tanya saya heran. Ya, kalau sudah senang kerja di sana kenapa menjadi tukang ojek?

Saya itu cita-citanyanya ingin mempunya usaha sendiri, jawabnya. Heri bercerita, setelah dua tahun bekerjka di kapal pesiar, dia lalu tidak memperpanjang kontrak di kapal lagi, pulang ke tanah air. Dengan bekal tabungan gajinya dalam dolar, dia membuka usaha clothing di Bandung. Tetapi suatu kali dia tertipu sehingga modal habis. Bangkrut. Sekarang dia banting setir jadi tukang ojek/gojek. Semua orderan gojek dia ambil, tak peduli jarak jauh atau dekat. Tidak pilih-pilih orderan.

Tidak ingin kerja di kapal lagi?, tanya saya.

Pingin sih, tapi perlu biaya banyak untuk urus surat-surat dan segala macam, jawabnya. Lagipula dia sudah lebih dua tahun berada di darat, sehingga sulit untuk bekerja di kapal pesiar lagi.

Setelah asyik ngobrol di jalan, akhirnya saya sampai di stasiun Bandung. Saya minta izin mengambil gambnarnya, akan saya bagi cerita ini kepada orang lain sebagai pelajaran kehidupan. Benar, hidup itu bagai roda pedati, kadang di atas kadang di bawah.

gojek

 

Written by rinaldimunir

April 30th, 2019 at 1:25 pm