if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Romantika kehidupan’ Category

Bapak Tua Penjual Koran

without comments

Jika Anda sering melewati Masjid Salman ITB (jalan kecil menuju masjid di samping Taman Ganesha) tentu Anda sering melihat bapak tua ini. Dia menawarkan koran kepada siapapun yang lewat. Tidak banyak pejalan kaki yang membeli korannya. Kita semua paham bahwa pada era informasi digital ini media cetak sudah kehilangan banyak pembacanya  (baca tulisan saya sebelum ini). Pembaca sudah beralih membaca informasi dari media daring.

Tiap Dhuhur saya ke Salman dan selalu ketemu bapak ini.  Memang tidak setiap hari dia berjualan koran di Salman, tetapi kalau hari Jumat selalu ada, mungkin hari Jumat masjid sangat ramai dengan jamaah yang sholat Jumat.

penjualkoran

Setiap kali saya melewatinya biasanya saya tidak mempedulikannya, tidak tertarik beli koran, karena di rumah saya sudah berlangganan koran lokal meskipun jarang dibaca.

Tapi hari ini saya beli korannya. Saya beli koran ibukota saja. Saya beli karena rasa iba melihat dia duduk tertunduk menatap dagangan korannya. Masih banyak koran yang belum laku. Saya pun ingin sekedar tahu profilnya. Berikut dialog saya dengannya.

+ Siapa namanya, Pak?
– Asep.     (Agak-agak kurang jelas, suaranya lirih. Red).
+ Dari mana, pak?
– Dari Cicaheum
+ Setiap hari bawa koran berapa?
– 100
+ Habis?
– Nggak juga
+ Sudah jarang orang beli koran ya, Pak?
– Iya, tapi ada saja yang beli

Demikianlah percakapan saya dengan Pak Asep. Dia menjawab pendek-pendek sambil menunduk. Sepertinya Pak Asep sedang sakit. Dari seorang teman saya baru tahu kalau dulunya Pak Asep ini agak gemuk, tetapi sekarang mengidap penyakit diabetes. Tangannya tampak bergetar. Kasihan ya.

Kalau kamu ketemu dia, sempatkanlah membeli korannya, meski kamu tidak terlalu butuh. Satu saja tak apa. Itu sudah membantu dia bertahan hidup. Orang kecil seperti Pak Asep ini banyak di sekeliling kita. Mereka tidak mau meminta-minta, tetapi selalu berikhtiar mencari nafkah halal meskipun keuntungan tidak seberapa. Hanya melalui tangan kitalah kita bisa membantu mereka dengan membeli dagangannya.

 

Written by rinaldimunir

March 4th, 2020 at 8:27 am

Tetap Rukun Sampai Manula

without comments

Sepasang aki dan nini (sebutan buat kakek dan nenek dalam Bahasa Sunda) lewat di depan rumah saya. Ditaksir umur mereka sekitar 80-an. Mereka berjalan saling bergandengan tangan, tertatih-tatih dan sedikit-sedikit melangkah. Sang aki menggenggam erat tangan istrinya, khawatir jatuh. Jalanan sepi pagi hari itu dan hanya mereka berdua saja yang berjalan.

+ Mau ke mana, aki?, sapaku.
– Mau pulang ke rumah, dari rumah anak. Si Nini menjawab tanpa menoleh, tetap konsentrasi ke arah depan.

Oh, mereka mungkin habis bermalam di rumah anaknya di kawasan Antapani 2, pikirku. Mungkin juga habis menengok cucu lalu pagi-pagi mereka pulang kembali ke rumahnya. Kalian jangan berpikiran “kemana anaknya, kenapa tidak diantar?”. Mungkin saja mereka tidak ingin merepotkan anak-anak dan cucu-cucunya, tidak ingin diantar, ingin tetap mandiri. Kadang ada juga orangtua yang menolak diantar ke lokasi yang tidak terlalu jauh, sekalian olahraga katanya.

Saya menatap mereka yang terus berjalan. Romantis sekali kelihatannya. Tetap setia sampai aki-aki dan nini-nini.

Ah, akupun juga ingin begitu, kataku dalam hati sambil menghela napas. Menua bersama-sama dengan istriku kelak, dan selalu setia. Saya yakin Anda pun juga sama.

Tuhan selalu menyajikan banyak pelajaran kehidupan kepada kita sepanjang waktu. Salah satunya pelajaran dari aki dan nini itu pada pagi hari tadi.

Written by rinaldimunir

February 9th, 2020 at 8:09 pm

Beli Meski Tidak Butuh

without comments

Seorang bapak duduk termenung di pinggir jalan di seberang Toserba Griya menjelang senja. Lelah dia berjalan setelah berkeliling menjajakan jualannya berupa barang remeh temeh seperti tisu, peniti, spon cuci piring, gunting kuku, jepit rambut, dll. Matanya nanar menatap lalu lalang kendaraan dan orang-orang yang lewat, berharap ada yang membeli dagangannya.

Saya beli saja tisu, spon, dan gunting kuku, yang sebenarnya barang2 itu sudah ada di rumah.

#suatusenjadiAntapani

Written by rinaldimunir

December 5th, 2019 at 4:56 pm

Anak Kecil Penjual Serbet dan Keset

without comments

“Assalaamu’alaikum, Pak. Beli serbet dan kesetnya, Pak”

Seorang bocah dengan baju yang tamapk kebesaran tiba-tiba muncul di depan pagar rumah. Dia, si Ujang dari Cicalengka, menjajakan serbet dan keset dari rumah ke rumah di Antapani. Serbet lima belas ribu dua, keset duapuluh ribu satu. Ibunya menunggu di sudut jalan, mengerahkan anak-anaknya berjualan dari pintu ke pintu.

Sayapun menemuinya. Saya tidak butuh-butuh amat sih, masih banyak serbet dan keset kaki di rumah. Namun, saya beli juga. Iba.

Berikut dialog saya dengan si Ujang, tentu dalam Bahasa Sunda, Sunda minimalis . Maklum, meski saya sudah puluhan tahun di Bumi Parahyangan, namun bahasa Sunda saya masih saeutik-saeutik.

+ Umurnya berapa, Jang?
– Tujuh tahun, Pak
+ Sekolah kelas berapa?
– Kelas dua
+ Dari Cicalengka naik apa?
– Naik kereta
+ Berapa orang ke sini?
– Empat. Mama, Aa, adik, dan saya
+ Pulang ke Cicalengka lagi jam berapa?
– Nanti kalau udah habis

Apa yang dilakukan si Ujang dan mamanya masih lebih baik daripada mengemis. Sejak kecil ibunya sudah memperkenalkan beratnya perjuangan hidup. Sekarang sih dia belum mengerti. Kalau sudah besar baru dia paham betapa kerasnya kehidupan.

Mungkin ada orang yang berpikir, ah, itu strategi “orangtua” untuk memanfaatkan anak-anaknya berjualan agar memancing rasa iba. Child abuse. Sama seperti kisah anak-anak penjual coet atau batu cobek atau batu ulekan (batu untuk menghaluskan bumbu) dari Padalarang. Entahlah, saya tidak peduli. Saya beli saja, hitung-hitung niat sedekah.

Hati-hati di jalan ya, Jang. Dia pun pergi ke pintu yang lain. Menjajakan dagangan yang sama. Serbet dan keset.

Written by rinaldimunir

November 10th, 2019 at 4:32 pm

Pengemudi Gojek Perempuan itu Ternyata…

without comments

Sore hari saat jam pulang kantor saya memesan gojek motor dari sebuah rumah makan di Jalan Katamso. Saya mau pesan gojek ke rumah saya di Antapani. Di layar aplikasi ternyata yang mengambil order adalah seorang driver wanita.  Hmmm…batalkan nggak ya? Ini kedua kalinya saya mendapat pengemudi perempuan (pengalaman pertama mendapat pengemudi perempuan saya tulis di sini:  Tukang Ojek Perempuan yang Ikhlas Membantu Suaminya).

Sebenarnya saya risih jika memboncengi motor yang dikemudikan perempuan bukan mahram. Perasaan risih ini sudah saya ceritakan pada tulisan pertama tadi. Tapi lagi-lagi rasa kasihan saya mengalahkan perasaan risih. Baiklah, saya  OK-kan saja.  Pengemudi perempuan itu mengatakan bahwa dia sudah biasa mendapat penumpang laki-laki.  Di dalam hati saya berkata, jika perempuan sampai terjun menjadi tukang ojek atau gojek pastilah karena alasan yang sangat mendesak atau alasan-alasan yang luar biasa.


Dia mengemudikan motor dengan tenang. Tidak mengebut dan selalu hati-hati. Saya duduk sedikit agak menjauh dari punggungnya.

Tiba di Antapani. Sayapun turun. Lalu saya tanya:
+ Dari jam berapa nge-gojek, Teh?  (Saya memanggil dia “teteh”, panggilan kepada  perempuan Sunda)
– Dari jam 7 pagi sampai jam 10 malam, Pak.
+ Punya anak?
– Punya
+ Suami?
– Sudah enggak.

Oh, berarti dia single parent, dia mencari nafkah untuk menghidupi anaknya. Kasihan ya. Dari pagi sampai malam. Untung tadi tidak jadi saya batalkan. Ternyata dia perempuan perkasa. Di akhir perjalanan saya tambahkan bonus kepadanya.

~~~~~~

Saya kagum pada perjuangan pengemudi gojek perempuan. Mereka melakukan pekerjaan yang halal. Soal mahram dan hijab dapat saya atur, saya duduk tidak terlalu merapat ke badannya, ada ruang kosong. Membatalkan pesanan gojek  kalau tidak terpaksa sekali jangan  dilakukan, karena berpengaruh pada performa driver. Kalo performa turun, mereka susah mendapat order.

Seorang teman memberi saran, jika mendapat pengemudi perempuan, maka dia tukaran tempat. Dia yang mengemudi motor, sedangkan si perempuan yang menjadi penumpang. Menurut saya cara ini pun kurang sopan, sebab seolah-olah merendahkan perempuan karena dianggap tidak mampu menjadi driver.

Paa perempuan tukang ojek adalah perempuan perkasa. Banyak perempuan perkasa di sekitar kita. Mereka terjun mencari nafkah karena alasan yang terpaksa. Mungkin suami sudah tidak ada, atau ada suami tetapi penghasilan suami jauh dari mencukupi. Menjadi tukang ojek atau gojek mungkin adalah  pilihan yang cukup realistis saat ini. Mengapresiasi pekerjaan mereka adalah dengan menghargai mereka dan tidak melecehkannya.

Written by rinaldimunir

October 7th, 2019 at 4:47 pm

Pengemudi Gojek Mantan Pelaut

without comments

Selalu ada saja cerita menarik tentang supir gojek. Sudah sering saya temuka pengemudi gojek dulunya memiliki profesi hebat. Namun perjalanan hidup tidak selalu indah, kadangkala terjatuh dan harus bangkit lagi.

Kali ini saya mendapat pengemudi gojek yang punya pengalaman hidup hebat. Suatuagi saya akan berangkat naik kereta api ke Jakarta. Saya pesan gojek. Tidak sampai beberapa detik order langsung berbalas.  Seorang lelaki dengan muka ditutup kain datang menjemput ke rumah. Dari aplikasi saya baca namanya Heri.

Seperti biasa, saya selalu kepo, suka bertanya ke pengemudi gojek sepanjang perjalanan. Naluri jurnalisitk saya selalu muncul setiap kali naik gojek. Dari obrolan sepanjang jalan tahulah saya, Kang Heri yang mengantar saya ke stasiun kereta api Bandung ini dulunya pegawai kapal pesiar mewah (Cruise) di Samudra Atlantik.  Dia bekerja sebagai officer di anjungan kapal. Menurut Kang Heri dia dulu lulusan akademi pelayaran di Cirebon. Kapal pesiarnya adalah hotel terapung berlantai 15, membawa turis menyinggahi kota-kota pelabuhan di Eropa, Amerika hingga sampai ke kutub Utara. Kang Heri sudah mengunjungi hampir semua negara Eropa, mengujungi ke menara Eiffel, menara Pisa, New York, Florida, dan lain-lain. Dia bisa berbahasa Inggris pula.

Saya ternganga-nganga mendengar cerita masa lalunya.  Wow, sudah berkelana ke Eropa hingga ke utub utara? Jika kebanyakan orang Indonesia mungkin hanya bermimpi menjelajahi Eropa dan Amerika, dia sudah ke sana. Termasuk impian saya juga.

Kerja di kapal pesiar itu katanya ada senang dan ada sedihnya. Senangnya karena bertemu orang berbagai bangsa, mengenal berbagai kultur, makanan enak berlimpah di atas kapal, mengunjungi berbagai kota dunia. Kerja sembilan bulat di laut dan libur 3 bulan di darat. Gaji lumayan besar, dalam mata uang dolar. Sedihnya jika bosan berada di laut, kangen makanan Indonesia, atau berada hidup dan mati jika kapal pesiar dihantam, topan.

Lalu kenapa jadi tukang gojek?, tanya saya heran. Ya, kalau sudah senang kerja di sana kenapa menjadi tukang ojek?

Saya itu cita-citanyanya ingin mempunya usaha sendiri, jawabnya. Heri bercerita, setelah dua tahun bekerjka di kapal pesiar, dia lalu tidak memperpanjang kontrak di kapal lagi, pulang ke tanah air. Dengan bekal tabungan gajinya dalam dolar, dia membuka usaha clothing di Bandung. Tetapi suatu kali dia tertipu sehingga modal habis. Bangkrut. Sekarang dia banting setir jadi tukang ojek/gojek. Semua orderan gojek dia ambil, tak peduli jarak jauh atau dekat. Tidak pilih-pilih orderan.

Tidak ingin kerja di kapal lagi?, tanya saya.

Pingin sih, tapi perlu biaya banyak untuk urus surat-surat dan segala macam, jawabnya. Lagipula dia sudah lebih dua tahun berada di darat, sehingga sulit untuk bekerja di kapal pesiar lagi.

Setelah asyik ngobrol di jalan, akhirnya saya sampai di stasiun Bandung. Saya minta izin mengambil gambnarnya, akan saya bagi cerita ini kepada orang lain sebagai pelajaran kehidupan. Benar, hidup itu bagai roda pedati, kadang di atas kadang di bawah.

gojek

 

Written by rinaldimunir

April 30th, 2019 at 1:25 pm

Bapak Penjual Ember Keliling

without comments

Seorang penjual ember dan baskom keliling lewat di dekat rumah saya di Antapani.  Penampilannya menarik perhatian saya. Hanya bersendal jepit, baju kaos yang sudah baah dengan keringat, dia membawa begitu banyak ember dan baskom berukuran besar-besar. Dua buah baskom dipegang pada masing-masing tangannya, tujuh  buah ember berukuran besar ditumpuk menjadi “topi” menutupi kepalanya, dan beberapa ember serta keranjang plastik diselempangkan di belakang punggungnya.

Berat sekali beban yang dipikulnya. Sambil berjalan kaki, dua ember di tangannya saling diadunya menghasilkan bunyi gaduh untuk menarik perhatian orang. Dia berharap ada orang yang membeli ember atau baskom itu. Dia berkeliling perumahan di Antapani menawarkan embernya.

Saya dulu pernah membeli ember besar dari mamang seperti ini. Harganya sekiitar 60 ribu. Menurut saya ember yang dijualnya sangat kuat, terbuat dari bahan karet yang kenyal. Bahkan diinjak-injak oleh anak kecilpun tidak akan pecah.

Saya tanya ini produksi ember dari mana. Penjual itu mengatatakan pabriknya di Tangerang. Dia hanya menjajakan secara keliling.

Kasihan bapak itu. Sedari tadi dia berkeliling belum ada yang laku. Ketika saya keluar rumah lagi, saya menemukannya berjalan di pinggir jalan besar, masih dengan jumlah ember yang sama.

Bapak penjual ember keliling terus mencoba peruntungan nasib. Mudah-mudahan ada orang yang mau membeli embernya sehingga dia pulang tanpa tangan hampa.  Anak istrinya tentu menunggu jerih payahnya di rumah.

Semoga lelahnya menjadi pahala, berkah dan penghapus dosanya karena mencari rezeki secara halal.

Written by rinaldimunir

February 14th, 2019 at 11:37 am

Lima Ratus Rupiah yang Berarti

without comments

Beberapa kali melewati sekitar Jalan Supratman Bandung saya sering melihat bapak bersepeda dengan tulisan di depan sepedanya “Isi Korek Gas Keliling”.

Kemarin ketika melewati Jalan Cilaki saya melihatnya lagi. Saya pun menghentikannya untuk mengetahui apa yang dia jual. Oh, ternyata dia menawarkan jasa isi korek gas. Korek gas adalah korek api yang memakai bahan gas.

Biasanya kalau kita menggunakan korek apai gas lalu gasnya sudah habis, korek api gas tersebut kita buang. Tetapi bagi Pak Dedi, demikian namanya, korek gas itu bisa jadi sumber rezeki. Dia menawarkan jasa mengisi korek gas yang kosong, hanya 500 rupiah saja sekali isi. Lima ratus yang tidak berarti apa-apa pada zaman sekarang, tetapi bagi Pak lima ratus rupiah Dedi sangat berarti.

Pak Dedi juga menjual korek gas kosong. Korek gas itu dibelinya dari pemulung, lalu dibentuknya dengan sentuhan seni sehingga meliuk-liuk. Kita bisa membeli korek gas kosong itu beserta isi gasnya. Harganya hanya 2000 rupiah saja beserta isi gasnya, berikut batere kecil untuk pemantik api.

Saya memperhatikan Pak Dedi cara memasukkan gas ke dalam korek kosong. Saya beli tiga buah korek gasnya yang antik itu beserta isi gasnya. Pak Dedi bilang 5000 rupiah saja untuk tiga buah korek api gas beserta isi gasnya. Ketika saya lebihkan membayarnyam, dia kaget. Ini terlalu banyak, katanya. Tidak apa-apa, buat bapak saja, kata saya. Saya pun berlalu meninggalkannya.

Zaman sekarang ketika orang sudah jarang menggunakan kompor minyak tanah, korek api mungkin tidak terlalu diperlukan. Cukup klik kompor gas, lalu kompor menyala. Mungkin korek api gas maupun korek api biasa masih dibutuhkan kaum perokok. Atau, dibutuhkan kalau pergi camping untuk membakar api unggun.

Menurut saya pekerjaan mengisi gas korek ini terbilang unik dan langka, namun masih ada orang yang mau menjalaninya dengan tekun dan tabah. Tuhan selalu punya cara memberikan rezeki bagi makhluk-Nya.

Kalau Anda bertemu Pak Dedi berkeliling di jalan, belilah korek gasnya, atau isilah korek gas yang kosong di rumahmu dengan gas yang dijualnya. Hanya 500 perak saja. Sambil membantu dia mencari rezeki halal.

Written by rinaldimunir

January 15th, 2019 at 3:03 pm

“Harta Karun” dari Almarhumah Ibunda; Rezeki Anak Sholeh

without comments

Tukang ojek langganan anakku, yang selama 5 tahun ini selalu mengantar jemput anakku ke sekolah, tiba-tiba mendapat “harta karun” yang tak terkira.

Jadi begini ceritanya (dulu saya pernah tuliskan di sini: Kesabaran Merawat Ibu yang Terkena Stroke).  Tukang ojek ini dan istrinya (mereka belum punya anak) hidupnya susah. Namun dia adalah tipe anak yang berbakti kepada orangtuanya. Sudah tiga tahun lebih ibunya terbaring tidak berdaya di atas kasur karena terkena stroke. Lumpuh. Segala-galanya dilakukan di atas kasur. Tidur, mandi, makan, pipis, BAB, semua di atas kasur. Sudah menipis badannya, tinggal tulang saja.

Namun tukang ojek langganan anakku ini merawat ibunya dengan sabar dan telaten. Sebelum mengantar anakku ke sekolah, dia mandikan dulu ibunya di atas kasur (dilap). Setelah itu diberinya makan. Setiap hari Minggu pagi dijemur di bawah sinar matahari pagi. Selama dia mencari nafkah, istrinya yang di rumah yang mengurus ibunya. Jika ibunya BAB, dia yang membersihkan kotorannya, membersihkan pipisnya. Memang pakai pampers, tapi pampers jika penuh dengan kotoran BAB tetap harus diganti. Satu pampers setiap hari. Sudah habis barang-barang di rumahnya dijual untuk biaya pengobatan dan biaya kebutuhan sehari-hari.

Pekerjaan merawat ibunya ini dilakukan sudah hampir tiga tahun lebih. Pada bulan Agustus 2018 yang lalu, bertepatan saat saya masih menunaikan ibadah haji di Mekkah, ibunya dipanggil oleh Allah SWT. Wafat. Berakhirlah penderitaan ibunya, , dan berakhir pulalah tugas ia merawat ibunya. Mungkin itulah jalan terbaik menurut Allah SWT.

Pada bulan November 2018, ketika tukang ojek anakku membersihkan lemari tua ibunya, dia menemukan “harta karun” tak disangka-sangka. Sebuah surat tanah di Kabupaten Cianjur seluas 5000 meter persegi, terletak di pinggir jalan raya. Selama ini ibunya tidak pernah bercerita tentang surat tanah tersebut.

Bergegas dia dan keluarganya mencari lokasi tanah itu di Cianjur. Ternyata memang benar ada. Karena sudah lama tidak diurus (15 tahun lebih), tanah itu dirawat oleh kelurahan di Cianjur. Tanah masih kosong, hanya ditanami tanaman palawija. Segeralah tanah itu diurus sertifikatnya melalui notaris.

Jika tanah tersebut dijual dengan harga 300.000/M2, dia akan mendapat uang sebesar Rp 1,5 milyar. Mungkin harga bisa naik lagi karena tanah itu terletak di pinggir jalan raya, cocok untuk perumahan atau hotel.

Alhamdulillah, saya pun ikut bersyukur dan berbahagia. Ternyata alamarhumah ibunya meninggalkan warisan berupa “harta karun” yang besar sekali nilainya.

Saya katakan kepadanya, bahwa tanah itu tidak sekedar warisan, tetapi mungkin balasan dari Allah SWT atas baktinya merawat ibunya yang sakit stroke selama bertahun-tahun. Rezeki anak Sholeh.

Written by rinaldimunir

January 7th, 2019 at 4:34 pm

Bapak Penjual Mainan Baling-Baling Angin

without comments

+ Berapa harganya satu pak?
– Sepuluh ribu, cep
+ Saya beli satu ya pak

Uang dan mainan baling-baling dari plastik itu pun berpindah tangan.

Saya sering melihat bapak tua ini berjalan kaki di Jalan Bengawan menenteng kardus yang berisi mainan baling-baling. Setiap hari saya memang melewati jalan ini ketika pergi ke kampus ITB dari rumah, karena di kiri kanan jalan banyak pepohonan, udaranya sejuk, dan tidak terlalu macet dibandingkan jika melewati Jalan Supratman. Beberapa kali saya berpapasan dengan dia. Akhirnya, pada papasan ketiga kalinya saya menghentikan laju sepeda motor saya lalu menunggu dia lewat. Saya ingin membeli mainannya itu.

Baling-baling angin. Ini mainan kanak-kanak, baling-baling yang dapat berputar ketika ditiup angin. Mainan saya waktu kecil dulu. Bedanya dulu baling-baling terbuat dari kertas, kalau yang ini dari plastik berwarna-warni. Batangnya terbuat dari bambu. Bapak saya dulu membelikan mainan ini, lalu saya berlari-lari membawa baling-baling itu. Hei lihat, baling-balingnya berputar. Semakin kencang angin, semakin kencang putarannya.

Tetapi, pada zaman sekarang, ketika mainan serba  elektonik dan anak-anak yang sudah caandu main game di gawai, masih adakah anak-anak di perkotaan yang suka dengan mainan baling-baling angin?  Saya pun tidak punya anak balita lagi, tetapi saya beli saja agar dagangannya laku.

Saya pasang baling-baling itu di bagian depan motor, sehingga baling-baling ini akan berputar ditiup angin bersamaan lajunya motor. Hidup itu laksana baling-baling angin,   terus berputar.

Semoga barokah pak daganganya. Saya pun melajukan motor, meninggalkannya yang terus menyusuri Jalan Bengawan.

Written by rinaldimunir

December 31st, 2018 at 10:48 am