if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Romantika kehidupan’ Category

Mengapa Nasi Goreng Tek-tek Lebih Enak daripada Nasi Goreng di Hotel?

without comments

Beberapa tahun yang lalu Rhenald Kasali pernah menulis mengapa tidak ada nasi goreng yang enak di hotel.  Baca tulisannya ini:  Mengapa Tak Ada Nasi Goreng Enak di Hotel?. Ya, Anda yang pernah menginap di hotel berbintang pasti sependapat dengan Rhenald Kasali. Nasi goreng di hotel rasanya hambar dan penampilannya tidak menggugah selera.

Nasi goreng pedagang jalanan jauh lebih enak daripada nasi goeng di hotel. Salah satu jenis pedagang nasi goreng jalanan adalah pedagang mie tek-tek. Disebut pedagang mie tek-tek karena mereka menjajakan makanan dengan gerobak atau pikulan dengan menyusuri jalan pemukiman. Sambil berjalan mereka memukul wajan tempat memasak sehingga berbunyi tek…tek…tek. Meskipun berjulukan pedagang mie tek-tek, namun mereka juga menjual nasi goreng dan bihun goreng selain mie goreng tentunya.

Kehadirannya selalu dirindukan ditengah malam saat perut lapar. Daripada keluar rumah mencari makanan, maka tunggu saja pedagang mie tek-tek lewat di depan rumah. Nasi goreng adalah menu masakan yang paling favorit bagi kabannyakan orang Indonesia. Mmebuatnya mudah, namun perbedaan rasanya terletak pada bumbu yang digunakan.

Malam itu selepas hujan, lewatlah peagang mie tek-tek  di depan rumah saya. Kebetulan saya belum makan malam, nasi di rumah sudah habis dan laupun tidak ada. Daripada memasak lagi atau keluar rumah, maka saya tunggulah pedagang mie tek-tek lewat. Benar saja, jam 9 malam sudah terdengar bunyi tek-tek yang khas. Saya memesan satu porsi nasi goreng agak pedas.

Pedagang tek-tek memasak nasi goreng dengan menggunakan anglo. Anglo adalah kompor dengan bahan bakarnya adalah arang. Nah, salah satu faktor yang membuat nasi goreng tek-tek enak adalah karena dimasak dengan arang. Bau asap arang memberikan sensasi rasa yang khas pada masakan.

Saya perhatikan cara memasaknya, Mula-mula dituangnya dua sendok minyak goreng. Setelah panas, dimasukkan bawang daun, lalu telur ayam, dan diaduk sebentar. Kemudian dimasukkan bumbu ulek ke dalam wajan, lalu diaduk bersama telur tadi. Setelah itu dimasukkan sayuran soun, terakhir dimasukkan nasi dan terus diaduk. Selanjutnya dimasukkan setengah sendok teh garam, sedikit bumbu penyedap, sambal cabe rawit, dan kecap. Semuanya diaduk di atas anglo dengan api yang besar. Sebuah kipas yang ditekan dengan telapak kaki berfungsi memberi aliran udara kepada anglo sehingga apinya tetap besar. Tidak lama nasi gorengpun matang dan dipindahkan ke dalam piring. Dia atad nasi goreng ditaburi acar ketimun, potongan tomat, dan kerupuk. Nasi goreng itu sungguh nikmat rasanya bila langsung dimakan saat itu juga dalam keadaan hangat, rasanya nendang, enak banget.

Lalu, apa yang membuat nasi goreng tek-tek ini lebih enak daripada nasi goreng di hotel? Jawabanya beraneka ragam. Salah satunya adalah karena pedagang nasi goreng lebih berani menggunakan bumbu, dan  lebih berani menggunakan cabai dan penyedap rasa (MSG). Bandingkan dengan chef di hotel. Nasi goreng di hotel tidak berani pakai bumbu yang kaya, bumbunya minimalis saja, hanya bawang putih dan merica. Pelezat rasa pun biasanya  kaldu, garam dan gula. MSG tampaknya terlarang digunakan di dapur hotel. Garam pun hanya ditaburi sedikit karena mempertimbangkan tamu hotel yang diet garam. Tidak ada penambahan cabe rawit di dalam bumbu nasi goreng karena khawatir dikomplain tamu hotel jika nasi gorengnya kepedasan. Kalau mau agak asin atau agak pedas, tambahkan sendiri garam atau merica yang disediakan di atas meja. Karena memasak nasi goreng di hotel mempertimbangkan banyak faktor, maka nasi goreng di hotel dibuat lebih umum (kurangi garam, tidak terlalu pedas, dan tidak terlalu berbumbu) seingga tidak heran rasa nasi gorengnya pun kurang enak.

Pedagang nasi goreng tek-tek lebih berani bereksperimen dibandingkan chef di hotel. Rasa nasi gorengnya yang enak dominan karena faktor bumbu, cabe, dan tentu saja MSG. Saya perhatikan bumbunya terbuat dari bawang merah, bawang putih, cabe, ebi atau terasi, dan mungkin saja ditambah dengan penyedap rasa (wallahualam). MSG dalam porsi yang sangat sedikit dan hanya sekali-sekali saja dikonsumsi tidaklah berbahaya. Toh tidak setiap hari orang makan nasi goreng tek-tek, bukan?

Seorang teman mengatakan, selain faktor bumbu yang lebih berani, faktor lain yang membuat nasi goreng tek-tek lebih enak adalah adalah “jam terbang”  pedagang tek-tek yang jauh bedanya dengan jam terbang koki di hotel. Bagi kebanyakan penjual nasi goreng jalanan, dengan satu menu andalan, mereka sudah membuat jauh lebih banyak nasi goreng ketimbang koki hotel yang menguasai lebih banyak menu.  Dia teringat tulisan Malcolm Gladwell mengenai jam terbang minimal untuk bisa memiliki keahlian di satu bidang.

Written by rinaldimunir

April 13th, 2018 at 4:31 pm

Suatu Malam dengan Pedagang Sate Ayam

without comments

Malam itu, di tengah hujan yang mengguyur deras, terdengarlah suara teriakan dari luar rumah. Sateee… Saya yang mendengarnya dari dalam rumah tertegun sejenak. Oh, siapa yg berjualan malam-malam dan hujan begini? Kasihan, kata saya dalam hati. Saya menyuruh anak saya untuk memanggil pedagang sate itu. Ternyata dia seorang ibu berjilbab yang berdagang sate keliling. Dia berjalan kaki menjajakan sate ayam. Sebuah payung besar yang sudah kusam di tangan kanan melindungi dirinya dari hujan. Saya minta dia menepi di depan rumah saya, di bawah balkon yang tidak terkena hujan.

Saya memesan sepuluh tusuk sate ayam yang harganya delapan belas ribu rupiah. Saya dan anak saya memperhatikannya membakar sate dan menyiapkan bumbu. Sambil menunggu sate matang, saya tidak tahan untuk tidak mengobrol dengan ibu itu sembari menggali kehidupannya. Rasa ingin tahu saya muncul.  Menurut saya ini cukup unik, yakni ada seorang perempuan di tengah malam berkeliling jualan sate, berjalan kaki lagi.  Apa dia tidak khawatir dengan keselamatannya.

Lalu, terjadilah dialog di bawah ini (keterangan: + saya, – ibu pedagang sate).

+ Tinggal di mana, Mbak?
– Antapani Lama, Mas
+ Darimana asalnya?
– Dari Kedu, Blora, Mas
+ Di sini tinggal sama siapa?
– Sama suami saya. Dia juga jualan sate keliling, tapi ke Arcamanik pakai sepeda.
(Ooo, jadi keduanya berjualan sate)

+ Trus, anaknya sama siapa?
– Anaknya nggak mau ikut ke Bandung, maunya mondok (pesantren) di Tuban. Masih SMP. Senangnya mondok daripada ikut ke sini. Ya udah kalau senangnya begitu.
+ Berapa orang anaknya, Mbak?
– Cuma satu
+ Udah lama di Bandung?
– Udah 18 tahun. Kalau jualan sate ini ya 10 tahun.
(Hmmm..tipikal perempuan Jawa yang gigih dan ulet mencari nafkah membantu suami)

+ Keluar rumah untuk jualan jam berapa,Mmbak?
– Nggak tentu, kadang jam 4 atau jam 5 (sore).
+ Pulangnya jam berapa?
– Jam 9 (malam)
(Wah, berani sekali, perempuan malam-malam keliling berjualan sate dengan berjalan kaki. Salut saya. Resikonya besar. Diganggu laki-laki, dibegal, dsb. Mungkin rasa takutnya dikalahkan oleh semangat mencari nafkah membantu suaminya dan untuk biaya anaknya mondok)

+ Sering pulang ke Jawa, Mbak?
– Satu semester sekali. Kalau mau bulan puasa saya pulang sampai lebaran.

+ Di Antapani Lama banyak orang Jawa ya?
( Antapani Lama itu sebuah kawasan di Antapani yang padat dan banyak gang sempit. Di sana banyak bermukim pendatang dari Jawa yang bekerja di sektor informal, pedagang jamu, bakso, dan lain-lain. Mereka  mengontrak rumah atau kamar dari warga lokal/Sunda. )

– Iya, Mas. Kami punya arisan satu bulan sekali, anggotanya orang Jawa semua. Senang kalau kumpul2 sesama orang Jawa, mengobati rasa kangen ke kampung.

Sate pun selesai dibakar. Sepiring sate ayam dan dua puluh ribu rupiah pun berpindah tangan. Lumayan enak satenya.

Selesai makan sate saya masih teringat dialog percakapan tadi. Hmmm…dia dan suaminya meninggalkan anaknya mondok di pesantren di Jawa, sementara mereka berdua berjuang mencari nafkah di Tanah Sunda untuk membiayai anak satu-satunya itu. Semoga saja anaknya nanti menjadi ulama, amin. Semoga rezekinya lancar dan selalu diberi keselamatan dalam mencari nafkah.

Written by rinaldimunir

March 1st, 2018 at 4:47 pm

Angkot dan Taxi Daring, Dua Sisi Kehidupan Berbeda

without comments

Hari ini saya naik angkot dari Jalan Riau ke kampus ITB. Penumpangnya hanya saya sendiri di belakang. Sepi. Meski sepi, Pak Supir angkot tetap menjalankan angkotnya mencari penumpang yang masih setia menunggu angkot di pinggir jalan. Dari sisi ekonomi sebetulnya dia merugi karena menjalankan angkot menyusuri jalanan kota tetapi hanya membawa segelintir penumpang. Pendapatan yang masuk dari mengangkot tentu tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkannya (bensin, makan, perawatan, tips buat preman, dsb). Tapi dia tidak punya pilihan lain. Mencari pekerjaan saat ini tidak mudah.

Zaman telah berubah. Pengguna transportasi sudah beralih ke sepeda motor dan transportasi daring (online). Sepeda motor lebih praktis karena dapat menembus kemacetan. Berbeda dengan angkot yang sering berhenti dan ngetem lama menunggu penumpang, memakai sepeda motor jauh lebih bebas dan sesuka hati pemiliknya mau pergi ke mana saja.

Untuk alasan kedua, transportasi daring, sekarang sudah menjadi pilihan penting bagi masyarakat. Trasportasi daring seperti ojek daring dan taxi daring dari tiga perusahaan utama  (Gojek, Grab, dan Uber) telah menjadi andalan masyarakat yang enggan naik angkutan umum.  Tidak perlu capek-capek ke jalan raya mencari angkutan umum. Tinggal pesan via ponsel, taxi daring atau ojek daring datang ke rumah atau tempat kita memesan untuk menjemput. Selain efisien, ongkosnya murah lagi karena masih disubsidi oleh perushaannya yang rajin “membakar duit” investor.

Pengemudi (driver) transportasi daring bisa siapa saja. Mahasiswa, karyawan, PNS, ibu rumah tangga, guru, satpam, dan lain-lain bisa menjadi driver asalkan memiliki kendaraan sendiri. Iming-iming bonus dari perusahaan transportasi daring telah membuat banyak orang tertarik ikut menjadi driver.

Saya sendiri adalah pengguna yang sering menggunakan transporatsi daring, khususnya taxi daring, selain ojek daring tentunya. Mobil yang saya naiki bermacam-macam merek dan tahun keluaran. Minggu lalu saya memesan taxi daring dari sebuah rumah sakit menuju rumah. Baru beberapa detik memesan via ponsel, order saya langsung ada yang menerima. Pengemudinya adalah seorang mahasiswa Unpad tingkat akhir yang baru saja selesai ujian skripsi. Mobil yang dibawanya adalah mobilnya sendiri (mungkin mobil yang dibelikan oleh orangtuanya), mobil terbaru dan jenis terbaru keluaran Honda (ups, sebut merek ?

Iseng-iseng saya tanya berapa bonus yang dia terima dengan me-go-car (saya pakai aplikasi Go-car). katanya, sehari, kalau mendapat order mengangkut penumpang 17 kali, dia mendapat bonus Rp390.000 pada hari biasa (weekday), atau Rp450.000 pada akhir pekan (weekend). Itu diluar ongkos dari penumpang dan sejumlah tips. Dia tidak perlu keliling-keliling mencari penumpang seperti halnya taxi konvensional atau angkot, cukup mangkal di suatu tempat keramaian (stasiun, pangkalan travel, mal, pasar, dsb), tunggu order yang masuk ke aplikasi, maka dia sudah mendapat penumpang.  Kerjanya cukup dari jam 8 pagi hingga jam 10 malam saja, suka-suka dia saja.

Saya berhitung-hitung, jika sehari katakanlah dia mendapat pendapatan (bonus + ongkos + tip dari penumpang) sebesar Rp500.000, maka sepuluh saja hari dia mendapat 5 juta, sebulan dia mendapat 15 juta rupiah (diluar bensin dan makan). Itu penghasilan yang sangat besar dan menggiurkan bagi anak muda seperti dia.

Bandingkan dengan nasib supir angkot di atas. Dengan penumpang yang sepi, setiap hari paling banter dia hanya mendapat 100 – 150 ribu rupiah saja. Jika dikurangi makan dan setoran, paling banter dia mendapat hanya 50 ribu rupiah saja, itu yang bisa dibawanya  pulang. Nasib yang sama juga dialami oleh supir taxi konvensional yang jumlah penumpangnya semakin menyusut. Orang lebih senang menggunakan taxi daring daripada taxi konvensional karena ongkosnya murah.

Dengan ketimpangan seperti itu, maka tidak heran sering terjadi bentrokan antara pengemudi transporatsi daring dengan pengemudi transportasi konvensional. Di Bandung perseteruan keduanya sangat sengit dan cenderung anarkis. Pengemudi taxi daring dicegat, dipukul, mobilnya dirusak. Kalau sudah menyangkut urusan perut, maka logika dan nalar tidak jalan lagi. Golongan menengah (yang direpresentasikan oleh mahasiswa tadi) telah mengambil lahan golongan lemah. Sungguh persaingan yang tidak sehat dan tidak seimbang.

Tentu kita tidak dapat menyalahkan sepenuhnya pilihan masyarakat yang beralih ke taxi daring ketimbang angkot atau taxi konvensional. Dengan kebiasaan angkot yang sering ngetem, sering berhenti, dan melalui jalur yang tidak shortetst path, maka pilihan dengan taxi daring adalah alternatif yang tidak terelakkan. Jika ditambah dengan kondisi mobil angkot yang sudah reot, tidak nyaman, panas, bersempit-sempit dengan peumpang lain, maka alasan memilih taxi daring semakin kuat. Dengan kata lain, masyarakat terbantu dengan kehadiran sarana transportasi daring.

Di sisi lain, pemerintah pun gamang dengan kondisi ini. Perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat tidak diikuti dengan kebijakan yang adil. Terkesan pemerintah daerah cuci tangan. Transportasi konvensional dibiarkan hidup segan mati tak mau, tetapi melarang transportasi daring juga tidak ada dasar hukumnya. Pemerintah seperti membiarkan konflik horizontal di tengah masyarakat. Kita tidak tahu sampai kapan demo-demo pengemudi transportasi daring vs pengemudi transportasi konvensional akan terus berlangsung.

Supaya persaingan ini fair, salah satu solusinya adalah pemerintah daerah mengambil alih pengelolaan semua transportasi umum. Artinya semua angkot itu dimiliki Pemda, supirmya digaji, pelayanannya diperbaiki, jalurnya dibebaskan seperti taxi daring, jadwalnya tepat waktu, dan lain-lain. Jika ini dlakukan, maka persaingan antara kedua jenis transportasi akan berlangsung sehat. Masyarakat mempunyai banyak pilihan. Tapi, ini mungkin cuma mimpi.


Written by rinaldimunir

October 26th, 2017 at 3:18 pm

Bapak Tua Penjual Keripik Singkong

without comments

Di sekitar jalan di belakang Gedung Sate, ada seorang bapak tua yang sudah aki-aki berjalan tertatih-tatih memikul dagangan keripik singkong. Dia memakai tongkat besi berkaki tiga (yang biasa digunakan oleh orang-orang yang terkena stroke). Saya yang biasa melewati jalan itu setiap hari dari rumah ke kantor tidak tega melihatnya. Entah mengapa, setiap kali melihat orang-orang tua menjajakan dagangan, perasaan saya langsung terenyuh. Iba. Saya hentikan sepeda motor beberapa meter di depannya, lalu menunggunya berjalan lebih dekat. Kecepatan jalannya kira-kira satu langkah dalam empat detik. Benar-benar sangat pelan.

keripik1

Setelah dekat, saya hentikan dia dengan kode mau membeli. Saya tanya berapa harga sebungkus keripik singkong itu. Rupanya dia agak susah mendengar. Sebuah alat bantu dengar terpasang di telinganya. Setelah saya tanya beberapa kali, barulah dia menjawab Rp13.000 satu bungkus. Saya beli saja dua bungkus dan sisa uang kembalian tidak saya minta lagi. Saya tanya pak aki dari mana, dia menjawab dari Malangbong, Garut. Jadi keripik singkong itu dibawa dari Malangbong, lalu dijual di Bandung. Saya tidak menanyakan apakah dia bolak-balik membawa keripik singkong itu dari Malangbong ke Bandung, atau ada orang yang memasoknya dari sana lalu bapak aki ini menjualkan saja. Wallahualam.

Menurut beberapa orang yang pernah melihatnya, bapak aki sudah rutin berjualan keripik singkong di seputaran belakang Gedung Sate.  Saya memang baru kali ini menemukannya. Dalam hati saya berkata, sudah tidak sepatutnya bapak aki berjualan seperti ini. Dengan kondisi fisiknya yang lemah dia harus berjualan makanan yang tidak seberapa besar untungnya itu. Bapak aki seharusnya berada di rumah bermain dengan cucu, tetapi entahlah, kebutuhan hidup mungkin membuat bapak aki harus turun ke jalan tertatih-tatih mencari nafkah di kota besar.

keripik2

Sesungguhnya saya tidak terlalu membutuhkan keripik singkong ini. Di rumah masih banyak camilan seperti keripik itu. Namun, niat saya membelinya lagi-lagi karena kasihan semata. Bapak aki tidak mengemis, dia masih punya harga diri. Menurut saya, cara membantu orang-orang lemah seperti bapak aki adalah dengan membeli dagangannya. Itu sangat membantu sekali.

Banyak orang kecil dan lemah seperti bapak aki ini saya temui di jalan. Ketika dalam perjalanan pulang ke rumah waktu bulan puasa yang lalu, di trotoar Jalan Supratman saya melihat seorang laki-laki menggendong anak perempuan di bahunya. Sembari menggendong anak, di tangannya ada beberapa barang jualan berupa sapu lidi untuk membersihkan kasur.  Refleks saya tepikan motor, lalu memanggilnya. Lagi-lagi saya tidak tega melihat pemandangan seperti ini. Meskipun di rumah saya sudah ada sapu lidi semacam itu, namun saya beli juga. Saya ajak dia mengobrol. Laki-laki itu tinggal di Majalaya, Bandung Selatan. Setiap hari dia berjalan kaki di kota Bandung menjajakan sapu lidi. Anak perempuan itu adalah anak kandungnya, kemana-mana selalu dibawa serta karena ibunya sudah bercerai dengan dirinya. Di Majalaya dia mengontrak sebuah kamar, disanalah dia tinggal berdua dengan anak semata wayangnya. Karena tidak ada yang menjaga anaknya, maka setiap hari selalu dibawa berualan. Sudah empat tahun begini, katanya datar. Uang kembalian membeli sapu saya serahkan ke anaknya. Buat jajan dan buka puasa nanti, kata saya meninggalkan mereka.

Saya hanya bisa membantu orang-orang kecil seperti itu dengan cara membeli dagangannya. Meskipun kita tidak terlalu membutuhkan barang dagangannya saat ini, namun percayalah, dengan membeli dagangan mereka, kita sudah memperpanjang hidup mereka.


Written by rinaldimunir

July 20th, 2017 at 5:13 pm

Nasib Atlet PSSI yang Merana Dikala Tua

without comments

Kemarin pagi ketika saya sedang duduk-duduk di teras rumah, lewatlah seorang bapak tua yang menjajakan dagangan berupa sapu, ember, dan peralatan rumah lainnya. Karena memang ingin membeli sapu lidi, saya panggillah dia. Harga sapu lidinya Rp25.000. Tanpa saya tawar lagi, saya pun membelinya. Kepada pedagang-pedagang tua seperti bapak ini saya sering tidak tega menawar barang. Ada rasa kasihan melihatnya. Cara terbaik membantu mereka adalah membeli dagangannya, meskipun kita mungkin tidak terlalu membutuhkannya saat itu.

Setelah uang diterima, bapak tua itu berkata begini. “Cep, nanti malam ada Persib di TV lawan Barito Putra”. Saya hanya tersenyum. Saya bukan penyuka bola. Anak saya yang nomor dua yang hobbi bola. “Suka nonton bola, nggak?”, tanyaya. “Nggak aki, anak saya yang suka”, jawab saya.

“Bapak dulu pemain PSSI tahun 1949”, dia melanjutkan kata-katanya.

“Oh ya?”. Saya pun mulai tertarik mendengarkannya. Bapak pedagang sapu itu bernama Suhatman. Menurut ceritanya, dia mantan pemain PSSI tahun 1949 (mungkin maksudnya tahun 1959, saya kurang persis mendengarnya) yang pernah mengharumkan nama Indonesia di berbagai kancah laga internasional. Posisinya sebagai pemain gelandang. Dia pernah bermain di Afghanistan, Australia, dll. Dia masih ingat nama salah satu pemain saat itu, Saelan. Tahun 50-an kesebelasan Indonesia termasuk yang disegani di kawasan Asia.

suhatman1

Tanpa diminta dia bercerita tentang pengalaman main bolanya, pelatihnya, dan kondisi sepakbola Indonsia saat ini. Tak lupa dia memperagakan tendangan andalannya yang ia sebut “tendangan pisang”. Pak Suhatman bercerita, sampai tahun 70-an namanya masih tertulis di Gelora Senayan, tetapi sekarang sudah dihapus, ceritanya sedih. Saya mulai percaya dengan ceritanya. Saya pikir Pak Suhatman ini orang jujur dan tidak  mungkin mengada-ada. Untuk apa dia bercerita soal sepakbola begitu lengkap, tentu bukan karena motif ekonomi.

“Kalau jadi pemain bola nggak dapat uang pensiun”, katanya sedih. Jadilah pada masa tuanya hidup Pak Suhatman merana seperti sekarang. Dulu dia pernah dijanjikan kerja di PLN oleh walikota Bandung (alm) Ateng Wahyudi, tetapi tidak terealisasi. Sekarang dia harus mencari uang sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Agak susah dia mendengar pertanyaan saya karena pendengarannya terganggu. Ini karena dulu kepalanya sering kena sleading bola, katanya. Umurnya saat ini 79 tahun dan masih sehat berjalan. Saya bertanya asalnya darimana, dia jawab dari Rajagaluh, Ciamis. Sekarang dia tinggal di gang sempit di Cicadas. Anak-anaknya sudah meninggal dunia, hanya satu anak perempuannya yang masih hidup, tetapi menantunya tidak suka kepadanya. Pak Suhatman harus mencari hidupnya sendiri.  Berjualan sapu dan ember adalah atas kebaikan seorang Babah Tionghoa yang menjadi majikannya. Semua barang jualan ini adalah milik si Babah. Dia hanya menjualkan saja.

Uang lima puluh ribu untuk membeli sapu tidak saya minta kembaliannya. “Buat Pak Suhatman saja”, kata saya. Dia merasa sangat terharu, dipeluknya saya dan didoakannya saya serta keluarga saya.

suhatman2

Saya tatap kepergian pak Suhatman. Saya merasa iba seorang atlet yang pernah mengharumkan nama Indonesia pada tahun 50-an tetapi hidup mengenaskan pada masa tuanya. Dia tidak sendiri, masih banyak atlet lain yang pernah mengharumkan nama bangsa namun kurang mendapat perhatian Pemerintah, mereka harus bertahan hidup dengan usaha apa saja. Membuka usaha warung, menjadi tukang beca, kuli angkat, tukang ojeg, atau pedagang keliling seperti Pak Suhatman ini.

Semoga Aki Suhatman selalu tetap sehat dan dilindungi oleh Allah SWT. Amin.


Written by rinaldimunir

June 19th, 2017 at 3:30 pm

Tukang Ojek Perempuan yang Ikhlas Membantu Suami

without comments

Beberapa waktu yang lalu saya ke kampus Ganesha naik Go-Jek (karena motor saya masih kena tilang di kantor polisi). Ketika mengorder Go-Jek, pengemudi yang menerima order ternyata perempuan. Wah, kaget! Susi namanya, begitu yang tertera di layar aplikasi. Waduh, bagimana ya, asa gimana gitu diboncengi tukang ojeg perempuan. Belum pernah sih. Tapi karena udah terlanjur pesan, saya merasa nggak enak juga membatalkannya.

Setelah dia datang, benar, ternyata ada rasa canggung juga bagi saya naik motornya. Risih.

“Nggak apa-apa nih, saya laki2”, tanya saya.

“Nggak apa2 pak, udah biasa”, katanya.

Ya sudah, saya pun naik motor gojeknya dengan tetap menjaga jarak di atas boncengan. Dari Antapani tujuan saya ke kampus ITB naik Go-Jek dengan pengemudinya bernama Teteh Susi. ?

Seperti biasa saya selalu mengajak ngobrol supir Go-Jek sepanjang perjalanan. Kata Teh Susi, dia biasanya berjualan buah lokal di Antapani. Tetapi sekarang jualan buah sedang sepi, musim hujan yg berkepanjangan membuat buah2an jarang ada. Akhirnya Teh Susi banting stir jadi pengemudi Go-Jek.

Bagi Teh Susi, kerja meng-gojek merupakan pekerjaan sampingan untuk membantu suaminya. Suami Teh Susi bekerja di sebuah bengkel motor di daerah Ujungberung. Bosnya orang Tionghoa. Baik. Suami Teh Susi meminjam uang kepada bosnya untuk membangun rumah di Pasir Impun. Cara pengembalian pinjaman adalah dengan memotong gaji suaminya. Kata Teh Susi, gaji suaminya di bengkel itu Rp3 juta per bulan. Tiap bulan dipotong 50% untuk membayar cicilan pinjaman. Suami Teh Susi meminjam Rp 100 juta kepada bosnya. Alhamdulilah, rumah yang dibangun di atas tanah seluas 5 tumbak (70 m2) sudah selesai dibangun, tinggal melunasi penjaman uang setiap bulan.

Untuk membantu melunasi pinjaman suaminya, Teh Susi bekerja menjadi supir Go-Jek dari jam 7 pagi sampai sore. Dia mangkal di kios buahnya di Jl. Indramayu yang kosong (tidak ada buah yang dijual). Anaknya dua orang masih kecil-kecil, dititipkan di rumah ibunya. Dari bekerja sebagai supir Go-Jek, Teh Susi bisa mendapat bonus (dari go-ride, go-food, go-send, dll) sampai 20 poin sehari, itu setara dengan Rp100.000. Kadang-kadang cuma dapat Rp50.000. Lumayan, alhamdullah.

Sampailah saya di Jl. Ganesha. Ongkos Go-Jek 15.000 saya lebihkan saja menjadi 20.000. Lima ribunya buat teh Susi saja, kata saya, buat wanita yang bekerja dengan ikhlas membantu suaminya.

Teteh, saya foto dulu ya..

teh susi


Written by rinaldimunir

May 18th, 2017 at 10:47 am

Kesabaran Merawat Ibu yang Terkena Stroke

without comments

Dulu saya pernah menulis tentang kesabaran anak yang diuji dengan merawat orangtuanya yang sakit-sakitan di akhir hayatnya (Baca: “Ujian” dari Orangtua pada Saat Akhir Hayat). Kali ini saya menemukan kisah yang serupa lagi, yang dialami oleh tukang ojek langganan anak saya.

Saya punya ojek langganan yang khusus untuk mengantar jemput anak saya ke sekolah. Saya memanggilnya Kang Agus. Sudah hampir empat tahun saya berlangganan ojek dengannya. Dia mempunyai seorang istri tapi belum dikarunia anak.  Selain menjadi tukang ojek, dia juga berjualan kaos kaki di dekat sebuah sekolah. Penghasilannya tidak seberapa, baik menjadi tukang ojek maupun berjualan kaos kaki.

Sekarang menjadi tukang ojek sudah mulai dikuranginya, pasalnya ibunya terbaring sakit di rumah setelah mendapat serangan stroke tiga tahun lalu. Ibunya sejak lama tinggal seorang diri setelah berpisah dengan suaminya. Serangan stroke membuat ibunya lumpuh. Tidak bisa berjalan, tidak bisa duduk sendiri, dan bicara pun sudah kurang jelas. Sejak ibunya terkena stroke, Kang Agus pun pindah ke rumah ibunya demi bisa merawat ibunya yang sudah tidak bisa apa-apa. Ibunda Kang Agus benar-benar bergantung pada orang lain.

Sebenarnya Kang Agus punya dua orang saudara perempuan, sudah menikah, dan hidup terpisah, tetapi kedua suadaranya ini tidak mau merawat ibunya. Praktis hanya Kang Agus sendiri, dibantu istrinya, yang merawat ibunya setiap hari.

Karena sudah tidak bisa apa-apa (lumpuh sebelah), maka ibunya hanya berada di atas kasur dari pagi sampai malam hingga pagi lagi. Semua aktivitasnya hanya di atas kasur, baik makan, buang air besar, pipis, dan lain-lain. Satu-satunya aktivitas untuk mengusir rasa jenuh adalah membaca yasinan setiap hari.

Istri Kang Agus bekerja di rumah saya sebagai asisten rumah tangga. Rutinitas yang dilakukan mereka berdua setiap hari kepada ibunda dimulai sejak subuh. Setelah sholat subuh, ibunda dimandikan (digendong ke kamar mandi). Setelah dipakaikan pampers dan pakaian, selanjutnya ibunda digendong lagi ke atas kasur. Sarapan pagi pun disiapkan untuk sang ibu sebelum mereka berdua berangkat kerja. Jam setengah tujuh pagi Kang Agus sudah datang ke rumah saya untuk mengantar anak sulung ke sekolah. Istrinya baru datang ke rumah saya pukul delapan setelah selesai membereskan rumah mertua dan memasak untuk makan siang.

Ibunda Kang Agus ditinggalkan seorang diri di rumah dalam posisi duduk di atas kasur. Untuk merebahkan tubuhnya ke kasur tidak bisa dilakukan sendiri, harus dibantu. Kadang-kadang karena mengantuk setelah membaca yasinan, sang ibu rebah tertidur begitu saja di atas kasur, namun untuk bangkit duduk lagi tidak bisa dilakukannya karena syaraf di punggung sudah lumpuh. Harus menunggu anak atau menantunya pulang agar ia bisa duduk lagi.

Setelah mengantar anak saya ke sekolah, Kang Agus balik ke rumahnya sebentar untuk melihat kondisi ibunya, lalu keluar rumah lagi untuk berjualan kaos kaki. Jam satu siang istrinya pulang ke rumah sebentar untuk memberi makan ibunya, membersihkan pipis dan BAB di dalam pampers (sang ibu dipakaikan pampers karena untuk pipis dan buang air besar hanya bisa di atas kasur), lalu kembali lagi ke rumah saya melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Kang Agus menjemput anak saya dari sekolah pukul empat sore, lalu kembali ke rumah ibunya.

Begitulah rutinitas yang dilakukan Kang Agus setiap hari, diantara memikirkan nafkah dan merawat ibunya. Dapatkah kau mengerti ujian kesabaran yang dihadapinya. Jarang ada orang yang bisa tahan mengurus orangtuanya yang sakit-sakitan dan tidak berdaya lagi di atas kasur.  Siapa anak dan menantu yang dengan penuh kesabaran dan ketelatenan membersihkan kotoran ibunya, melap badannya, menceboki pantat dan membersihkan pipisnya? Semua itu dilakukan setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, dan setiap tahun, dan dilakukan berdua.  Sungguh sebuah kesabaran dan pengorbanan yang tiada batasnya.

Minggu lalu saya menjenguk ke rumah Kang Agus karena sudah beberapa hari Kang Agus tidak bisa mengantar jemput anak saya ke sekolah. Rupanya Kang Agus sakit diabetes (turunan dari ibunya) sehingga hanya bisa di rumah saja. Dalam keadaan sakit pun kang Agus tetap merawat ibunya dengan setia.  Saya yang datang ke rumah itu melihat sendiri kondisi ibunya yang di atas kasur. Memang menyedihkan, ibu yang sudah tua, kesepian setiap hari, tidak punya teman bicara ketika anak dan menantunya pergi bekerja, dan hanya bisa duduk berjam-jam di atas kasur dari pagi sampai malam.

Saya hanya bisa membesarkan hati Kang Agus dan menyatakan bahwa yang dilakukannya kepada ibunya adalah amal sholeh sebagai bakti anak kepada orangtuanya. Insya Allah amalan sholeh itu akan dibalas oleh Allah SWT dengan pahala yang berlipat ganda. Mungkin sekali-sekali pernah terbersit perasaaan bosan dan jengkel menghadapi ibunya, itu manusiawi, namun Kang Agus tetaplah melakoninya dengan sabar.

Saya mendapat pelajaran berharga dari Kang Agus tentang kesabaran yang luar biasa.


Written by rinaldimunir

April 18th, 2017 at 11:34 am

Bapak Tua Penjual Amplop Itu Telah Tiada

without comments

Sewaktu mau ke Masjid Salman ITB untuk sholat Jumat tadi, saya tidak melihat Bapak tua penjual amplop. Biasanya setiap hari Jumat dia sudah duduk menunggu dagangan amplopnya di samping pedagang kaki lima yang menjual VCD/DCVD bajakan. Saya bertanya ke pedagang kaki lima yang ada di sana, ke mana bapak penjual amplop?

“Kan sudah meninggal, Pak?”, jawab pedagang kaki lima yang menjual kacamata.

Inna lillaahi. Kapan? “, tanya saya kaget.

“Tiga minggu yang lalu”, kata pedagang tadi.

Beberapa minggu yang lalu saya masih melihatnya, tetapi sudah beberapa Jumat belakangan saya punya jadwal rutin ke ITERA Lampung, sehingga tidak bisa sholat Jumat di Salman.

200120122112

Pak Darta sedang memasukkan 10 bungkus amplop yang saya beli

Inna lillaahi wa inna ilaihi raajiun. Saya merasa sangat sedih. Saya sesekali masih membeli beberapa amplopnya. Saya lihat orang-orang  yang membeli amplopnya menyerahkan uang tetapi tidak meminta kembalian. Sisanya diniatkan sedekah buat Pak Darta, nama bapak penjual amplop itu. Amplop-amplop yang saya beli darinya sudah menumpuk di dalam lemari, jumlahnya lumayan banyak dan belum pernah saya pakai hingga sekarang.

Bapak tua penjual amplop adalah simbol kegigihan seorang manula yang tidak mau  mencari uang dengan cara mengemis, dia masih setia menjual amplop surat pada zaman orang-orang sudah jarang berkirim surat menggunakan amplop. Cerita perjuangan bapak penjual amplop yang dulu saya tulis sudah menyebar ke mana-mana. Banyak orang tergerak membantunya atau sekedar membeli amplopnya. Di sisa usianya yang sudah senja dia masih diperhatikan. Jazakallah.

Selamat jalan Pak Darta, semoga Allah SWT melapangkan jalanmu, menerima amal sholehmu, dan menempatkanmu di tempat yang terbaik sisi-Nya. Amin.


Written by rinaldimunir

March 11th, 2016 at 2:17 pm

Tiga anak kecil peminta-minta

without comments

Kemarin pagi ketika saya akan bersiap berangkat ke kampus, dua orang anak perempuan kecil – satu berusia sekitar 8 tahun dan satu lagi berusia sekitar 5 tahun- berdiri di depan pagar rumah sambil menengadahkan tangan. “Pak, minta sedekahnya”, katanya dengan suara memelas. Minggu lalu mereka juga datang ke rumah saya namun bertiga, satu lagi bocah laki-laki. Masing-masingnya mendatangi rumah tetangga meminta sedekah.

Biasanya saya menjawab: “Maaf, Dik!”, lalu mereka pun pergi. Saya memang kurang suka dan kurang setuju memberi pengemis yang  masih anak-anak itu uang. Kecil-kecil kok sudah diajar mengemis oleh orangtuanya. Tidak baik, nanti malah menjadi kebiasaan dan pemalas, begitu pikiran saya.

Namun kedatangan anak-anak itu kemarin pagi membuat saya beristighfar, tidak seharusnya saya memukul rata sikap menolak memberi sedekah kepada pengemis yang masih anak-anak.

Setelah saya mengucapkan “maaf, Dik” seperti biasanya, kedua anak itu pergi menjauh. Disitulah rasa iba saya muncul. Sungguh terlalu saya ini. Rasa ingin tahu saya pun muncul, mengapa mereka sering datang meminta-minta. Saya panggil kembali anak perempuan yang paling besar dan memberi kode akan memberinya uang. Dia pun mendekat, lalu saya bertanya kepadanya.

“Tinggal di mana, Dik?”, tanya saya.

“Di Kiaracondong”, jawabnya. Kiaraconcong adalah wilayah pemukiman padat dekat stasiun kereta api, tidak jauh dari rumah saya. Penduduk yang tinggal di dekat stasiun kereta api itu umumnya bekerja pada sektor informal, seperti buruh pabrik, tukang beca, buruh bangunan, kuli angkut, pedagang kecil, pembantu rumah tangga, dan lain-lain.

“Kenapa kok kecil-kecil sudah mengemis?”, tanya saya ingin tahu.

“Bapak saya stroke di rumah, tidak bisa mencari uang. Dulu kerjanya tukang rongsok”, jawabnya lirih.Tukang rongsok adalah sebutan orang Bandung untuk orang-orang  yang kerjanya berkeliling membeli barang rongsokan ke rumah-rumah atau memulung barang rongsokan dari tempat sampah, lalu dijual lagi ke pengepul. Barang rongsokan yang dicari umumnya koran bekas, buku bekas, karung semen, besi-besi bekas bangunan,  atau barang-barang lain yang tidak terpakai lagi.

“Kalau ibu tidak kerja?”, tanya saya lagi. Saya pikir mungkin ibunya bekerja si sektor informal juga, seperti buruh pabrik, buruh cuci, atau pembantu rumah tangga.

Nggak. Ibu di rumah saja, merawat bapak. Di rumah juga ada adek bayi“, jawabnya lagi.

Astaghfirullah, ampuni saya ya Allah. Ternyata keluarganya sedang ditimpa musibah. Ayahnya sakit stroke sehingga tidak berdaya untuk mencari nafkah, sedangkan ibunya hanya bisa di rumah untuk merawat bayi sekaligus merawat suaminya yang sakit.

“Adik disuruh orangtua untuk mengemis?”, tanya saya agak menyelidik.

“Nggak pak. Saya juga kerja mencari barang rongsok, tapi dapatnya sedikit. Karena nggak cukup, saya meminta sedekah”, jawabnya polos.

Tenggorokan saya tercekat mendengar ceritanya. Saya yakin dia tidak berbohong. Sungguh malang nasib anak kecil yang terpaksa meminta-minta untuk menghidupi keluarganya yang tidak berdaya di rumah. Ayahnya stroke, ibunya merawat ayah yang stroke. Amanat mencari nafkah keluaga ada pada pundaknya. Dia seorang anak perempuan yang masih kecil, tapi harus berjuang di tengah penderitaan hidup. Anak-anak seusianya pada jam-jam pagi itu sedang belajar di kelas, atau sedang berlarian di halaman sekolah, bercanda ria dengan teman-teman sebaya, sedangkan dia harus berhenti sekolah untuk membantu keluarganya. Oh, malangnya kamu dik, lirih saya dalam hati. Terharu.

Saya lari ke dalam rumah, mengambil beberapa lembar uang, mencari makanan yang bisa diberikan.

“Ini untuk jajan kamu dan adik-adikmu. Ini kasih ke ibumu”, kata saya sambil memberinya uang.

Setelah mengucapkan terima kasih, dia pun berlalu dengan adiknya. Saya memandang mereka sampai hilang di belokan. Anak-anak yang malang. Jika mereka datang lagi, saya ingin mencoba membantu lagi, sekedar meringankan beban keluarganya.


Written by rinaldimunir

January 21st, 2016 at 3:16 pm

Mamang Penjual Tangga Bambu

without comments

Pagi tadi saya duduk di depan rumah setelah menikmati sarapan. Seorang mamang lewat berjalan kaki membawa dagangan dari bambu. Ada tangga, ada sapu panjang, dan penjolok buah-buahan. Sungguh tidak tega melihat dia membawa barang dagangan yang berat itu di bahunya. Saya membayangkan betapa berat sekali beban dagangan yang dipikul di pundaknya itu. Saya saja satu tangga pun tidak sanggup memikulnya, apalagi sepuluh buah. Dia berkeliling kampung memikul barang dagangan dengan berjalan kaki.

Mamang penjual tangga bambu, sapu panjang, dan penjolok buah lewat di depan rumah.

Mamang penjual tangga bambu, sapu panjang, dan penjolok buah lewat di depan rumah.

Mamang penjual tangga bambu itu berasal dari Cicalengka, tepatnya di daerah Curug Cinulang, yaitu daerah wisata yang terkenal dengan air terjunnya. Dari Cicalengka dia naik mobil elf membawa barang dagangan itu dengan mobil elf (elf adalah sebutan orang Bandung untuk mobil angkutan umum berukuran kecil). Barang dagangan ditaruh di atap mobil elf, ongkos naik elf ke Bandung Rp7.500. Barang dagangan yang di atap mobil elf dihitung sebagai satu penumpang, jadi dia harus membayar Rp15.000 seluruhnya.

Barang dagangan si Mamang.

Barang dagangan si Mamang.

Di terminal Cicaheum dia turun, kemudian berjalan kaki menyusuri jalan-jalan pemukiman di Bandung Timur menawarkan dagangannya. Jika tidak habis sehari, dia tidak akan pulang-pulang ke kampungnya di Cicalengka dan menginap di mana saja bersama dagangannya itu. Satu hari bisa saja tidak laku satu buah pun. Barang dagangan itu biasanya baru habis dua hingga empat hari, barulah setelah habis dia pulang kembali ke Cicalengka.

Mamang sedang membuka tali yang mengikat dagangannya.

Mamang sedang membuka tali yang mengikat dagangannya.

Saya membeli sapu panjangnya satu buah, harganya Rp35.000. Kalau tangga bambu harganya Rp60.000. Sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan sapu itu, saya membelinya karena tidak tega saja melihatnya. Menurut si mamang, dagangan itu tidak dibuatnya sendiri, tetapi diambil dari bandar di Cicalengka. Untuk setiap sapu yang dia jual dia hanya mendapat keuntungan sekitar Rp5.000. Jika seluruh barang dagangannya habis, maka keuntungannya tidak sampai 100 ribu rupiah, diluar biaya makan dan lain-lain. Seratus ribu rupiah untuk berkelana selama empat hari itu. Saya sungguh terharu mendengarnya. Seorang asisten pelatihan di sebuah workshop saja bisa mendapatkan minimal Rp50.000/jam, sementara untuk si mamang mendapatkan Rp50.000 itu perlu waktu berhari-hari berjalan kaki.

Sapu panjang yang saya beli dari si Mamang.

Sapu panjang yang saya beli dari si Mamang.

Mamang yang tidak tamat SD itu mempunyai dua orang anak. Anak pertamanya yang gadis sudah dinikahkan ketika berumur 16 tahun. Di kampung-kampung anak perawan dinikahkan pada usia demikian muda untuk meringankan beban orangtuanya. Satu orang anak lainnya masih sekolah di SD. Istri si mamang tidak bekerja, jadi dialah yang menjadi tiang keluarga. Dialah yang menjadi tumpuan hidup keluarganya. Di rumah anak istrinya tentu menanti kepulangannya menunggu rezeki si bapak yang tidak banyak itu. Entah kapan dia pulang, entah hari itu, atau dua hari lagi.

Mamang kembali berjalan kaki menawarkan memikul dagangannya.

Mamang kembali berjalan kaki menawarkan memikul dagangannya.

Barakollah untuk rezeki yang tidak seberapa itu, Mang.


Written by rinaldimunir

August 28th, 2014 at 12:24 pm