if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Renunganku’ Category

Sebaskom Kecil Air Minum Untuk Kucing Liar

without comments

Di halaman rumah saya ada ember kecil untuk menampung cucuran air dari talang di atap rumah. Talang itu berfungsi untuk mengalirkan air hujan, selain itu juga untuk mengalirkan limpahan air dari toren penampung  air ledeng yang juga berada di atas atap rumah.

Setiap hari ember tersebut selalu berisi air bersih limpahan dari toren semalam. Karena di sekitar rumah saya jarang ada genangan air, maka kucing-kucing liar yang lalu lalang di depan rumah sering mendatangi ember itu untuk minum dikala kehausan. Nikmat sekali tampaknya kucing itu meneguk air dengan lidahnya. Cukup lama ia minum, ada sekitar dua hingga tiga menit hingga lambungnya sudah penuh dengan air.

Melihat kucing minum dengan nikmatnya dari ember itu merupakan pemandangan yang mengharukan bagi saya. Saya teringat sebuah tulisan seorang Ustadz yang berisi contoh amal sholeh kecil yang dapat kita lakukan setiap hari. Isinya kurang lebih begini: sediakan satu wadah atau ember kecil di depan rumahmu yang berisi air bersih untuk minum kucing-kucing liar atau anjing liar yang sering lewat. Mudah-mudahan setiap tetes air yang diminum oleh hewan itu menjadi tambahan timbangan pahalamu kelak di Padang Mahsyar nanti. Amin.

Sekarang ember kecil hitam itu saya ganti dengan baskom yang lebih rendah sehingga tidak menyulitkan kucing-kucing yang mampir untuk minum. Setiap hari air tersebut perlu diganti agar tidak menjadi sarang nyamuk. Idealnya saya taruh di pinggir jalan di depan rumah agar hewan lain seperti anjing liar yang lewat pun bisa minum, tapi untuk sementara masih di dalam halaman dulu.

Saya kutip tulisan dari seorang teman: kata bijak mengatakan, janganlah engkau meremehkan sebuah kebaikan kecil untuk selama lamanya, karena boleh jadi jadi saat engkau tengah terlelap dalam tidur, pintu-pintu langit diketuk oleh puluhan doa kebaikan untukmu dari kucing-kucing atau anjing-anjing liar yg kehausan yang telah engkau tolong. Amin.


Written by rinaldimunir

September 22nd, 2017 at 4:01 pm

Ingatlah Umurmu

without comments

Sewaktu melewati sebuah jalan di kawasan Kiaracondong, mata saya tertumbuk pada sebuah spanduk yang terpampang di tembok sebuah kantor biro perjalanan umrah dan haji. Isinya sebuah hadis Nabi, makjleb sekali maknanya.

spanduk

Spanduk tersebut mengingatkan kita akan usia yang selalu bertambah setiap tahun, tanpa  terasa ternyata sudah melewati usia Nabi. Nabi Muhammad SAW umurnya hanya 63 tahun. Banyak orang-orangtua berkata, ketika umur mereka sudah melewati 63  tahun, mereka sering menghibur diri dengan mengatakan  bahwa mereka mendapat bonus umur dari Tuhan, sambil membandingkan umur mereka dengan umur Rasulullah Muhammad SAW. Bagi orang Islam yang taat, semua hal dari Nabi adalah teladan, termasuk soal usia. Shalawat dan salam semoga selalu  tercurah bagimu ya Rasulullah shalallahu wa alaihi wassalam.

Memang panggilan Malaikat Izrail tidak tergantung pada usia manusia. Kematian bisa datang kapan saja, baik kala berusia muda maupun sudah berusia senja. Hari ini seseorang terlihat ceria, besoknya tiba-tiba kita mendengar hanya tinggal namanya saja. Mungkin dia meninggal karena kecelakaan, mungkin karena serangan jantung, mungkin karena nasib apes dibunuh begal di tengah jalan. Wallahu alam, hanya Allah yang tahu kapan panggilan itu datang.

Sesuatu yang sudah menjadi hukum alam adalah manusia itu fana. Usia tua artinya sudah mendekati kematian. Alam ini selalu setia menjalani siklus hidup. Mulai  dari bayi, tumbuh menjadi anak-anak, lalu remaja, kemudian dewasa, lalu menjaid tua, dan akhirnya mati. Maka, hadis Riwayat At-Tarmidzi pada spanduk di atas adalah pengingat agar manusia selalu bersiap-siap.

Bukan berarti ketika masih muda maka manusia bisa berbuat apa saja, mumpung masih muda maka nikmatilah dunia, karena hidup hanya sekali. Begitu yang sering kita dengar. Namun bukan begitu maksudnya. Seperti yang saya tuliska di atas, kematian bisa datang kapan saja. Maka, yang perlu anda renungkan adalah: suidahkah kamu menyiapkan bekal untuk kampung akhirat kelak? Bekal itu adalah amal sholeh selama di dunia.


Written by rinaldimunir

November 21st, 2016 at 9:58 am

Posted in Renunganku

Jangan menawar harga dari pedagang kecil

without comments

Kalau  berbelanja di supermarket atau toko swalayan, kita tidak pernah bisa menawar harga. Harga barang sudah pasti, tidak bisa dikurangi lagi. Tetapi, jika kita berbelanja di pasar tradisionil, maka tawar menawar harga merupakan seni berbelanja. Kepandaian mendapat harga lebih murah bergantung pada kemampuan pembeli menawar harga. Kaum perempuan umumnya pandai menawar harga, sedemikian alotnya sehingga jika berhasil mendapat harga lebih murah, maka ada kepuasa tersendiri bagi mereka.

Namun, tidak selamanya kita harus menawar harga barang kepada pedagang tradisionil. Lihat-lihat dululah keadaan pedagangnya. Bagi pedagang kecil, pedagang yang sudah tua, pedagang yang tampak kepayahan, pedagang yang  dagangannya kurang laku, atau pedagang yang hanya mendapat keuntungan sedikit dari barang yang dijualnya, tidak usahlah kita menawar harga barangnya. Beli sajalah sesuai harganya, kalau perlu dilebihkan. Mudah-mudahan ini menjadi amal sholeh. Sungguh miris jika kita masih menawar harga serendah mungkin kepada pedagang semacam di atas, sementara berbelanja di pasar modern kita tidak pernah menawar harga.

Mengapa kita tidak usah menawar harga barang dari pedagang kecil? Bagi mereka uang sekecil apapun sangatlah berarti. Anak dan istrinya mungkin sedang sakit sehingga membutuhkan uang. Ketika kita menawar barangnya terlalu murah, boleh jadi mereka melepaskan barang jualannya karena terpaksa. Terpaksa butuh uang daripada tidak laku sama sekali.

Di bulan Ramadhan ini mari kita perbanyak amal sholeh dengan membantu orang-orang kecil tersebut. Tidak usah berburuk sangka bahwa mereka mencari untung banyak. Dengan membeli dagangan mereka seharga yang layak, kita telah membantu kehidupan mereka.


Written by rinaldimunir

June 9th, 2016 at 1:55 pm

Posted in Renunganku

Ujian Bagi Guru, Dosen, Ustad, …

without comments

“The mediocre teacher tells. The good teacher explains. The superior teacher demonstrates. The great teacher inspires.”
— William Arthur Ward

Saya termenung membaca ungkapan William Arthur di atas. Saya belum mampu menjadi the great teacher, yaitu dosen yang menginspirasi mahasiswanya. Masih jauhlah. Mungkin saya baru sampai menjadi the good teacher saja, itupun dengan banyak kekurangan.

Menjadi guru, dosen, atau ustadz itu banyak godaannya. Godaan yang nyata adalah merasa ‘ujub atau merasa bangga dengan ilmu yang dimilikinya.  Orang yang memiliki sifat ‘ujub merasa tinggi hati karena merasa memiliki ilmu lebih banyak, lebih dulu,  atau lebih tinggi dari para murid atau jamaahnya. Sifat ‘ujub itu sangat dekat dengan sifat riya, yaitu sifat ingin dipuji atau disanjung karena  ilmu yang dimilikinya. Jika sudah mencapai sifat riya, maka bagi seorang muslim apapun yang dilakukannya sudah tidak bernilai lagi di Mata Allah, karena sudah tidak ikhlas. Kunci dari ibadah itu adalah ikhlas, yaitu semata-mata mengharapkan  ridha Allah semata. Padahal, menjadi dosen, guru, atau ustadz itu diniatkan untuk beribadah kepada-Nya. Mengajar itu ibadah, membimbing mahasiswa itu ibadah, berbagi ilmu itu ibadah, memberi ceramah itu ibadah.

‘Ujub adalah godaan yang berat bagi seorang pendidik, tetapi ada godaan yang lebih berat lagi, yaitu mengendalikan ego. Pelajaran ini saya peroleh dari kisah Prof Damardjati Supadjar, seorang dosen UGM. Kisah tersebut saya baca pada situs web ini, yang bersumber dari akun Facebook seorang muridnya. Sangat menarik dan inspiratif.

Saya kutip kembali kisah Prof. Damardjati Supadjar seperti tertulis di bawah ini:

Setiap berkendara dari perempatan Kamdanen, ke timur ke arah Jalan Kaliurang, aku selalu melintasi rumah almarhum Prof. Damardjati Supadjar. Setiap kali pula, aku teringat sebuah percakapan dengan beliau, yang bagiku sangat inspiratif.

Tahun 90an awal, Pak Damar beberapa kali mengisi acara di Masjid Ash-Shiddiiqy, Demangan — sebuah masjid kecil yang aku turut mengurusnya. Ceramah beliau selalu sangat filosofis, sarat dengan ilmu kelas tinggi yang disajikan dengan cara amat sederhana. Ngelmu tuwo, kata beberapa jamaah senior di masjid itu.

Pada suatu kesempatan, saat turut mengantar Pak Damar pulang usai ceramah, aku bertanya pada beliau, “Pak, jadi dosen enak ya?”

“Bagi saya enak,” jawab beliau. “Tapi kalau diniati untuk kaya raya, ya jadi dosen itu tidak enak.”

“Tapi jadi dosen kan harus selalu menambah ilmu Pak,” kataku agak kurang nyambung.

“Tentu saja. Tapi itu kan otomatis berjalan, tak perlu dipaksakan.”

“Jadi tidak berat ya Pak?”

“Sama sekali tidak. Yang berat itu malah hal lain.”

“Apa itu Pak?”

“Mengendalikan ego,” jawab beliau.

Aku membuka telinga…

“Seorang dosen, juga seorang guru atau ustadz atau kyai, mudah terjerumus pada ‘ujub.” Pak Damar mulai menjelaskan. “Dengan pengetahuan yang dimiliki, dengan peluang untuk berbicara di depan orang lain yang bersedia atau dipaksa mendengarkan, semua pendidik pada dasarnya punya peluang menjadi tinggi hati. Ciri pendidik yang tinggi hati adalah gemar memamerkan pengetahuan, agar nampak pandai di hadapan anak-didiknya.”

“Tapi kan itu lumrah Pak.”

“Tidak lumrah. Pendidik yang tinggi hati, sesungguhnya akan gagal mendidik. Dia hanya akan menghasilkan pengagum, bukan orang terdidik. Pendidik yang baik adalah yang mampu menekan ego di hadapan anak-anak didiknya.

“Menekan ego seperti apa Pak, maksudnya?” Aku tak paham betul apa maksud Pak Damar.

“Menekan ego untuk nampak pintar. Tugas guru dan dosen bukanlah keminter di hadapan murid-muridnya, melainkan untuk memberi inspirasi.”

“Menunjukkan kepintaran di hadapan murid kan juga bisa menginspirasi Pak?” tanyaku tetap kurang paham.

“Iya, inspirasi untuk kagum pada sang guru, bukan inspirasi untuk mencari ilmu sejati.”

Tetap tak paham, namun aku lanjut bertanya. “Soal menekan ego itu Pak, seberapa banyak pendidik yang bisa melakukannya?”

“Hanya mereka yang bisa menghayati makna ‘tidak ada ilah selain Allah’ yang bisa menekan ego.”

Aku tak yakin apakah aku betul-betul paham yang dimaksudkan oleh Pak Damar. Namun kata-kata itu selalu terngiang di benakku: “Seorang pendidik harus menekan ego untuk nampak pintar”.

Aku baru bisa mencerna dan sedikit-demi-sedikit memahami kata-kata itu beberapa tahun kemudian, setelah beberapa waktu menjadi dosen. Bahkan hingga sekarangpun, aku tak yakin apakah bisa mengendalikan ego seperti dimaksud Pak Damar itu.

Lahul faatihah…

Sumber: FB salah satu muridnya

*********

Alangkah tinggi untuk mencapai ma’rifat seperti yang disampaikan Prof. Damardjati di atas. Maafkan saya Prof, saya belum mampu mencapainya, bahkan sekadar membuang sifat ‘ujub saja tidaklah mudah, apalagi mengendalikan ego. Saya tidak ingin mahasiswa saya kagum kepada diri saya, tetapi seharusnya mereka kagum dengan ilmu yang saya sampaikan. Dari situlah saya berharap mahasiswa terinspirasi untuk mencari ilmu sejati.


Written by rinaldimunir

December 24th, 2015 at 4:45 pm

Posted in Renunganku

Saran Buat Para “Jelita”

without comments

Seorang teman di grup angkatan mengirimkan pesan berisi nasehat via whatsapp. Nasehatnya ditujukan kepada kami-kami yang “jelita”. Kami di grup angkatan tidak lama lagi memasuki usia lima puluh tahun, sehingga dijuluki “jelita” alias jelang lima puluh tahun :-). Tidak terasa usia saya sendiri akan beranjak setengah abad dalam waktu yang tidak lama lagi. Waktu terasa begitu cepat sekali berjalan.

Nasehatnya cukup bijak. Intinya, bagi orang yang berusia lima puluh tahun ke atas, bukan saatnya lagi menghabiskan waktunya untuk menumpuk harta kekayaan. Bukan saatnya lagi menghabiskan sisa umurnya untuk mencari sesuap emas dan sepiring berlian. Kini saatnya untuk lebih bijak dalam hidup. Gunakan waktu yang tersisa untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Khalik sembari mepersiapkan diri untuk hari esok yang abadi.

Begini bunyi nasehatnya:

SEPULUH SARAN BAGI USIA 50 TH KE ATAS

1. FOKUS: menyenangkan diri sendiri dan orang lain, bukan saatnya mengejar dan menumpuk harta/materi lagi.

2. BIJAK menggunakan tabungan. Jalan2/wisata bila masih ada kesempatan dan kuat.

3. IBADAH dan amalan baik diperbanyak. Hiduplah di sini dan sekarang, bukan besok/kemarin. Besok belum tentu ada kesempatan,
kemarin sudah lewat.

4. CERIA bermain dengan cucu (kalau ada), bukan menjadi BABY SITTER dan bukan pula menjadi SATPAM kalau anak-anak sedang bepergian.

5. IKHLAS menerima semua kemunduran fisik, nyeri, sakit/lemah, sebagai konsekwensi logis dari proses penuaan.

6. NIKMATI kondisi yang ada sekarang, tak perlu terus menerus banting tulang lagi.

7. SYUKURI hidup dengan pasangan, anak/cucu dan teman2 yang merasa
dekat dengan Anda, bukan karena harta/kedudukan.

8. MAAF kan diri sendiri. Minta maaf dan memberi maaf kepada orang
lain. Perlu ketenangan batin dengan menghilangkan dendam dan benci.

9. BERSAHABAT dengan siapa saja sebagai bagian dari hidup yang normal. Jangan takut mati.

10. DAMAI di hati Anda. Disarankan selalu bercanda via BBM/WhatsApp atau sarana komunikasi lainnya.

Jangan mudah salah paham apalagi marah2 tanpa sebab, karena hal itu bisa bikin mati mendadak.

PERENUNGAN :
“Tua bukan tanpa arti tetapi harus makin berarti bagi diri sendiri, keluarga, teman/sahabat dan sesama, dalam setiap sudut dan tahap kehidupan”.

Nah, begitu bunyi nasehatnya. Anda, para jelita dan sulita (sudah lima puluh tahun), setujukah?

Terimakasih temanku, yang telah berbagi.

 

 


Written by rinaldimunir

November 30th, 2015 at 8:21 am

Posted in Renunganku

Allah Menjawab Al-Fatihah yang Kita Baca

without comments

(Ini masih lanjutan posting saya sebelumnya)

Pak Prof bertanya kepada kami, pernahkah terpikirkan bahwa Allah SWT selalu menjawab setiap bacaan Al-Fatihah yang kita baca di dalam sholat? Hal itu ditemukan penjelasannya dalam sebuah hadis qudsi, kata Pak Prof.

Benar, saya baru tahu jika Allah selalu menjawab setiap kali kita membaca ayat-ayat Al-Fatihah di dalam sholat. Maklum, ilmu saya masih dangkal sekali.

Lanjut Pak Prof, ketika kita membaca “Alhamdulillahirabbil ‘alamiin“, maka Allah menjawab, “Hamba-Ku telah memujiKu”

Ketika kita membaca “Arrahmaanirrahim“, maka Allah menjawab, “HambaKu telah mengagungkan-Ku”

Ketika kiita membaca “Maalikiyaumiddin“, maka Allah menjawab, “Hambaku telah memuliakan-KU”

Ketika kita membaca “Iyyakana’budu waiyyakanasta’in“, maka Allah menjawab, “Ini adalah untuk hamba-Ku dan untuk Aku setengahnya”

Lalu, ketika kita membaca “Ihdinasshiratol mustaqiim shirootalladziina an’amta alaihim ghoiril maghduubi alaihim waladhdhoolliin“, maka Allah menjawab ini adalah milik hambaKU dan bagi hambaKU apa yang hamba minta akan KUberikan.

~~~~~~~

Subhanallah, Maha Suci Allah Yang Maha Agung.  Makanya kita tidak perlu membaca surat Al-Fatihah terburu-buru, sebab Allah menjawab setiap apa yang kita ucapkan di dalam Al-Fatihah itu.

Hikmah hadis itu adalah, hendaklah kita meyakini bahwa  Allah selalu menjawab permintaan kita, karena setiap ayat di dalam surat Al-Fatihah itu pada dasarnya adalah permintaan.

Saya pun mencari-cari hadis qudsi yang dimaksudkan Pak Prof di Google, lalu ketemulah hadis tersebut, yang bunyinya begini:

“Disebutkan dalam shohih Muslim yakni hadits qudsi, Allah SWT berfirman yaitu AKU membagi Al-Fatihah dalam sholat antara AKU dan hambaKU menjadi dua bagian dan bagi HambaKU apa yang dia minta akan KU berikan. Ketika hamba mengatakan alhamdulillahirabbil aalamiin maka Allah menjawab: Hamba-KU Memuji AKU;  Ketika hamba mengucapkan arrahmaanirrahim maka Allah menjawab: Hamba-KU menyanjung-nyanjung AKU;  Ketika hamba mengucapkan maaliki yaumiddin, maka Allah menjawab: Hamba-KU mengagung-agungkan AKU; Ketika hamba mengucapkan iyyakana’budu wa iyya ka nastaiin Allah menjawab ini adalah pertengahan antara AKU dan hamba-KU dan bagi hamba-KU apa yang ia minta akan KU-berikan; Ketika hamba mengucapkan ihdinasshiratol mustaqiim shirootalladziina an’amta alaihim ghoiril maghduubi alaihim waladhdhoolliin maka Allah menjawab ini adalah milik hambaKU dan bagi hambaKU apa yang hamba minta akan KUberikan.”

~~~~~~

Maha Suci Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dia begitu menyayangi ummat-Nya, Dia selalu menjawab apapun yang kita minta. Air mata pun membasahi pelupuk mata ini….


Written by rinaldimunir

November 23rd, 2015 at 3:49 pm

Posted in Agama,Renunganku

Sedang Apa Allah Sekarang?

without comments

Setelah sholat Dhuhur berjamaah dengan seorang  profesor di kampus saya, beliau mengajukan pertanyaan kepada kami (jamaah sholat): “Pernahkah terpikir, sedang apa Allah sekarang?”

Hmmm…pertanyaan sederhana, namun sulit juga menjawabnya. Selama ini saya atau kita tidak pernah terpikir Tuhan itu sedang melakukan apa.  Tidak terpikir sampai ke situ. Sedang melihatkah? Sedang mendengarkah? Sedang mengamati makhluk-Nya kah?

Pak Prof menunjukkan jawabannya. Coba buka Surat Ar-Rahman ayat 29 katanya, di sana ada jawabannya. Saya bukalah Al-Quran, dan ketemulah ayat 29 pada Surat Ar-Rahman yang artinya sbb:

“Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan”. (Q.S. Ar-Rahman:29)

Subhanallah, Maha Suci Allah SWT. Ternyata, pada setiap waktu Dia selalu dalam kesibukan. Allah tidak pernah diam, Allah tidak pernah mengantuk dan tidak pernah tidur. Allah selalu mengurus mahkhlu-Nya, hal ini dikuatkan dengan Firman-Nya di dalam ASurat Al-Baqaqarah ayat 255:

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi] Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Al Baqarah : 255)

Allah yang selalu sibuk dan  terus menerus mengurus makhluk-Nya. Dia sibuk melayani permintaan (doa) yang kita panjatkan kepada-Nya. Ibaratnya seperti sebuah komputer server yang selalu sibuk mengurus semua permintaan komputer client. Client dalam hal ini adalah manusia, kita, sedangkah yang menjadi Maha Server adalah Allah SWT.

Maha Suci Allah Yang Maha Agung.


Written by rinaldimunir

November 20th, 2015 at 3:21 pm

Posted in Agama,Renunganku

Kenangan Rendang Kurban

without comments

Dulu ketika orangtua saya masih hidup, setiap usai Hari Raya Idul Adha saya selalu mendapat kiriman randang (rendang) daging kurban dari ibu saya yang tinggal di Padang. Keluarga kami di Padang selalu mendapat daging kurban, karena ayah saya yang berprofesi sebagai penjual daging, selalu diminta bantuannya oleh panitia Iedul Adha di masjid untuk memotong-motong daging sapi. Sebagai “upahnya”, maka orang-orang yang membantu pemotongan dan pendistribusian daging kurban mendapat sebagian daging kurban. Daging sapi itulah yang dimasak menjadi rendang oleh ibu saya.

Ketika ayah saya pensiun dari pekerjaannya, maka gantian mereka yang berkurban 1/7 bagian sapi ke panitia Idul Adha di masjid. Biasanya kaum muslimin yang ikut berkurban akan mendapat sebagian dari daging sapi dari panitia, daging itulah yang dimasak ibu saya menjadi rendang. Rendang barokah, karena daging kurban itu barokah.

Randang buatan ibu saya harum baunya, homemade, buatan tangan sendiri. Ibu saya yang orang Solok pandai memasak rendang yang enak. Kelapanya ditakar sekian butir sehingga pas rasanya. Bumbu-bumbunya seperti kunyit, bawang, cabe, lengkuas, dan lain-lain dihaluskan dengan batu lado. Ibu mamasak rendang selama berjam-jam sampai berwarna hitam, dagingya empuk dengan bumbu yang meresap. Kadang-kadang ada ati sapi di antara dagingnya. Rendang itu tahan selama berbulan-bulan asal tahu cara menyimpannya.

Ibu saya selalu ingat saya dan kakak saya yang kuliah di Bandung. Maka, sebagian rendang itu dikirimnya ke Bandung. Rendang dikemas di dalam kaleng susu dan dikirim via jasa Titipan Kilat (sekarang Tiki). Dua hari dikirim dari Padang paket rendang itu sudah sampai di Bandung.

Sesampainya randang ini langsung dipanaskan, demikian bunyi secarik kertas di dalam paket rendang. Tulisan itu ditulis tangan dengan gaya tulisan orang yang pernah mengenyam pendidikan sekolah rakyat pada zaman kemerdekaan. Kadang-kadang untuk membuat paket itu terlihat besar dan padat, maka selain rendang ibu saya menyisipkan makanan lain seperti samba lado merah, karupuak jangek (kerupuk kulit), bahkan kerupuk jariang (jengkol) kesukaan saya :-).

Setiap mendengar kabar saya mendapat kiriman rendang, teman-teman saya yang satu SMA pun datang ke tempat kos untuk mencicipi rendang kurban. Saya cukup membeli nasi putih saja di warung Sunda, maka makan bersama pun menjadi hal menyenangkan. Kadang kalau mereka yang mendapat kiriman rendang, saya yang gantian datang dan makan di tempat kos mereka.

Sekarang semuanya tinggal menjadi kenangan.

Allahummaghfirlaha war hamha wa afihi wa’fuanha waj alil jannata matswaaha. Allahummaghfirlahu war hamhu wa afihi wa’fuanhu waj alil jannata matswaahu. Semoga almarhum ayah dan ibu saya bahagia di akhirat sana. Rendangnya tidak pernah tergantikan dan akan selalu teringat sepanjang hidup saya. Saya bisa berhasil saat ini salah satunya karena rendang kurban itu.


Written by rinaldimunir

September 29th, 2015 at 9:57 pm

Posted in Renunganku

Kenangan Rendang Kurban

without comments

Dulu ketika orangtua saya masih hidup, setiap usai Hari Raya Idul Adha saya selalu mendapat kiriman randang (rendang) daging kurban dari ibu saya yang tinggal di Padang. Keluarga kami di Padang selalu mendapat daging kurban, karena ayah saya yang berprofesi sebagai penjual daging, selalu diminta bantuannya oleh panitia Iedul Adha di masjid untuk memotong-motong daging sapi. Sebagai “upahnya”, maka orang-orang yang membantu pemotongan dan pendistribusian daging kurban mendapat sebagian daging kurban. Daging sapi itulah yang dimasak menjadi rendang oleh ibu saya.

Ketika ayah saya pensiun dari pekerjaannya, maka gantian mereka yang berkurban 1/7 bagian sapi ke panitia Idul Adha di masjid. Biasanya kaum muslimin yang ikut berkurban akan mendapat sebagian dari daging sapi dari panitia, daging itulah yang dimasak ibu saya menjadi rendang. Rendang barokah, karena daging kurban itu barokah.

Randang buatan ibu saya harum baunya, homemade, buatan tangan sendiri. Ibu saya yang orang Solok pandai memasak rendang yang enak. Kelapanya ditakar sekian butir sehingga pas rasanya. Bumbu-bumbunya seperti kunyit, bawang, cabe, lengkuas, dan lain-lain dihaluskan dengan batu lado. Ibu mamasak rendang selama berjam-jam sampai berwarna hitam, dagingya empuk dengan bumbu yang meresap. Kadang-kadang ada ati sapi di antara dagingnya. Rendang itu tahan selama berbulan-bulan asal tahu cara menyimpannya.

Ibu saya selalu ingat saya dan kakak saya yang kuliah di Bandung. Maka, sebagian rendang itu dikirimnya ke Bandung. Rendang dikemas di dalam kaleng susu dan dikirim via jasa Titipan Kilat (sekarang Tiki). Dua hari dikirim dari Padang paket rendang itu sudah sampai di Bandung.

Sesampainya randang ini langsung dipanaskan, demikian bunyi secarik kertas di dalam paket rendang. Tulisan itu ditulis tangan dengan gaya tulisan orang yang pernah mengenyam pendidikan sekolah rakyat pada zaman kemerdekaan. Kadang-kadang untuk membuat paket itu terlihat besar dan padat, maka selain rendang ibu saya menyisipkan makanan lain seperti samba lado merah, karupuak jangek (kerupuk kulit), bahkan kerupuk jariang (jengkol) kesukaan saya :-).

Setiap mendengar kabar saya mendapat kiriman rendang, teman-teman saya yang satu SMA pun datang ke tempat kos untuk mencicipi rendang kurban. Saya cukup membeli nasi putih saja di warung Sunda, maka makan bersama pun menjadi hal menyenangkan. Kadang kalau mereka yang mendapat kiriman rendang, saya yang gantian datang dan makan di tempat kos mereka.

Sekarang semuanya tinggal menjadi kenangan.

Allahummaghfirlaha war hamha wa afihi wa’fuanha waj alil jannata matswaaha. Allahummaghfirlahu war hamhu wa afihi wa’fuanhu waj alil jannata matswaahu. Semoga almarhum ayah dan ibu saya bahagia di akhirat sana. Rendangnya tidak pernah tergantikan dan akan selalu teringat sepanjang hidup saya. Saya bisa berhasil saat ini salah satunya karena rendang kurban itu.


Written by rinaldimunir

September 29th, 2015 at 9:57 pm

Posted in Renunganku

Metafora Hidup Manusia

without comments

Manusia ini dipenuhi dengan banyak urusan dan masalah setiap waktunya. Selesai satu urusan, muncul lagi urusan baru, demikian seterusnya tidak pernah berakhir. Kehidupan kita ini pada dasarnya menyelesaikan aneka urusan dan masalah yang datang silih berganti. Hanya jika kita sudah mati maka semua urusan dan masalah itu berakhir. Orang-orang yang tidak kuat menanggung beban hidup di dunia ini memilih mengakhiri hidupnya sebelum waktunya tiba.

Ada banyak urusan hidup yang datang pada setiap diri manusia, ada urusan besar dan ada urusan kecil. Urusan besar misalnya hubungan kita dengan Tuhan, dengan keluarga, dengan orangtua, dengan anak, dengan istri. Urusan sedang misalnya berhubungan dengan pekerjaan, teman, sahabat, dan lain-lain. Urusan kecil misalnya bersenang-senang, rekreasi, hobby, makan di luar, dan lain-lain.

Kadang-kadang kita lebih mengutamakan urusan kecil dibandingkan urusan besar. Kita lebih mengutamakan pekerjaan di kantor daripada mendidik anak. Kita lebih mengutamakan mengurus hobby kita ketimbang memperhatikan keluarga. Ada banyak manusia seperti itu. Akhirnya yang terjadi adalah kekecewaan dan penyesalan.

Sebuah cerita di bawah ini yang mengandung metafora dan inspirasi saya peroleh dari sebuah sharing di media sosial. Apa yang lebih diprioritaskan di dalam hidup ini, dan bagaimana mengelolalnya? Sebuah mtafora yang bermakna bagi saya, dan mungkin juga anda.

~~~~~~~~~~~~

Seorang guru besar berdiri di depan audiensnya memulai materi kuliah dengan menaruh stoples bening dan besar diatas meja. Lalu sang guru mengisinya dengan bola tenis hingga tidak muat lagi. Beliau bertanya, sudah penuh kah?

Audiens menjawab, sudah penuh.

Lalu sang guru mengeluarkan gundu (kelereng) dari kotaknya; dituangkannya gundu-gundu tadi ke dalam stoples, gundu mengisi sela-sela bola tenis hingga tidak muat lagi. Beliau bertanya, sudah penuh kah?

Audiens menjawab, sudah penuh.

Lalu sang guru mengeluarkan pasir pantai; memasukkannya ke dalam stoples tadi. Pasir mengisi sela-sela bola dan gundu hingga tidak bisa muat lagi. Semua sepakat stoples sudah penuh dan tidak ada yg bisa dimasukkan lagi.

Tapi, terakhir sang guru menuangkan secangkir air kopi, masuk mengisi stoples yg sudah penuh bola, gundu, dan pasir itu.

Kemudian beliau bertanya. Apakah pesan yang dapat diambil dari permainan ini?

Lantas beliau menjelaskan sendiri jawabannya. Hidup kita kapasitasnya terbatas seperti stoples. Tiap kita berbeda ukuran stoplesnya.

Bola tenis adalah hal-hal besar dalam hidup kita, yakni tanggung jawab terhadap Tuhan, orangtua, istri, anak-anak serta makan, tempat tinggal, dan kesehatan.

Gundu adalah hal-hal yg penting seperti pekerjaan, kendaraan, sekolah anak, gelar sarjana, dll.

Pasir adalah yang lain-lain dalam hidup kita, seperti olah raga, nyanyi, rekreasi, Facebook, BBM, nonton film, model baju, model kendaraan dll.

Jika kita isi hidup dg mendahulukan pasir hingga penuh, maka gundu tidak bisa masuk. Berarti hidup kita hanya berisi hal-hal kecil. Hidup kita habis dengan rekreasi dan hobby, sedangkan Tuhan dan keluarga terabaikan.

Jika kita isi dengan mendahulukan bola tenis, lalu gundu dan seterusnya seperti tadi, maka hidup kita berisi lengkap, mulai dari urusan besar, penting hingga hal-hal yang menjadi pelengkap.

Lesson learned-nya adalah: kita mesti mengelola hidup secara cerdas dan bijak, tahu menempatkan mana yg perioritas dan mana yg menjadi pelengkap.

Jika tidak, hidup bukan saja tidak lengkap, bahkan bisa tidak berarti sama sekali.

Lalu sang guru bertanya, adakah kalian yang mau bertanya. Semua audiens terdiam, karena sangat mengerti apa inti pesan dalam pelajaran tadi.

Namun, tiba-tiba seseorang nyeletuk bertanya. Apa arti secangkir air kopi yg dituang tadi..?

Sang guru besar menjawab sebagai penutup. Sepenuh dan sesibuk apa pun hidup kita, jangan lupa masih bisa disempurnakan dengan bersilaturrahmi sambil minum kopi dengan tetangga, teman, sahabat yg hebat.

~~~~~~~~

Demikianlah metafora dalam mengelola prioritas hidup yang sebaiknya kita lakukan.


Written by rinaldimunir

September 6th, 2015 at 8:59 am