if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Renunganku’ Category

Mahasiswa Depresi dan Bunuh Diri

without comments

Beberapa hari yang lalu ada peristiwa yang cukup menggemparkan warga kampus Ganesha ITB. Seorang mahasiswa S2 di kampus kami meninggal dunia di kamar kosnya karena bunuh diri (baca beritanya di sini). Siapa sangka, mahasiswa yang cerdas, berprestasi, ternyata mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis seperti itu. Di dalam blognya dia menulis sudah lama mengalami depresi dan sudah punya keinginan untuk melakukan bunuh diri. Membaca tulisannya di blog sungguh membuat hati terenyuh.

Depresi. Aku pernah merasakan depresi. April 2018 lalu aku ke psikolog mengikuti konseling karena depresi. Aku merasakan depresi dan terus berpikir untuk bunuh diri.

….

Dua belas atau tiga belas tahun yang lalu aku mendapat peringkat pertama Olimpiade Sains Nasional tingkat SD di bidang IPA. Karena prestasi itu aku mendapatkan beasiswa di SMP Semesta Semarang, sebuah sekolah swasta berasrama. Kemudian aku melanjutkan pendidikan di SMA Mustafa Germirli di Kayseri, Turki. Setelah 4 tahun SMA aku lalu melanjutkan kuliah di ITB mengambil jurusan Teknik Elektro. Juli 2018 lalu aku lulus menjadi ST.

Apakah aku masih depresi? Aku tidak tahu. Ingin aku katakan kalau aku sudah tidak lagi merasakan depresi. Aku sudah tidak merasa sesedih April 2018 lalu. Namun bagaimana aku bisa tahu? Bagaimana aku tahu kalau nanti malam, atau besok, atau lusa aku tidak akan melompat dari gedung atau menggantung diri atau memutus nadi. Bagaimana aku bisa tahu?

Aku tidak tahu.

Namun yang aku tahu sekarang adalah aku punya kedua orang tua yang mendukungku. Aku tahu ada adik-adikku melihatku dari jauh. Aku tahu ada teman-teman dan Bapak Ibu dosen dan staff yang mengenalku. Dan yang paling penting ada seseorang yang menghangatkan hatiku. Selama ada mereka mungkin aku tidak akan bunuh diri. Karena aku ingin membuat mereka bahagia.

….

Dalam hidupku aku bukanlah orang yang punya banyak teman. Aku tidak pandai bergaul. Keberadaan sesorang dan ketiadaan sesorang sangat berarti bagiku. Maka dari itu aku takut.

Aku takut kalau selama ini aku terlalu clingy kepada orang-orang yang mengenalku. Aku takut sendirian. Ketika aku depresi aku merasa sangat sendirian. Tidak ada yang dapat aku ajak curhat. Tidak ada yang dapat aku peluk. Tidak ada yang bilang kepadaku kalau dia mengerti dan mau menenangkanku.

Saat aku depresi aku merasakan ketiadaan itu jauh lebih baik dari pada keberadaan. Setiap waktu yang berlalu terasa menusuk. Pekerjaan semuanya tertunda. Apapun tidak ingin dilakukan. Yang diinginkan adalah ketiadaan.

….

Saya tidak habis pikir dan tidak mengerti mengapa almarhum mengambil jalan pintas yang sesat itu? Saya bisa membayangkan betapa hancur dan sedih hati ayah dan ibunya mendapat kenyataan pahit seperti ini. Padahal orangtuanya selalu mendukungnya seperti yang dia tulis di atas.

Saya sudah sering membaca berita mahasiswa melakukan bunuh diri di berbagai kampus. Apakah masalah perkuliahan di kampus yang menjadi penyebab mahasiswa bunuh diri? Saya tidak percaya. Saya yakin sebagian besar faktor penyebab bunuh diri itu bukan karena masalah akademik, tetapi masalah non akademik yang mengganggu pikirannya, seperti masalah dengan pacar, orangtua, keluarga, mengidap penyakit menahun, halusinasi pikiran-pikiran burruk, dan lain sebagainya. Masalah non akademik ini mengakibatkan stres dan depresi yang berkepanjangan, lalu jalan pintasnya bunuh diri. Sayang sekali, kita kehilangan satu generasi, lost generation.

Sebagai dosen kita tidak hanya melihat mahasiswa dari sisi akademik semata. Kalau ada mahasiswa yang sudah aneh-aneh sikapnya, stres, depresi, dsb, maka mahasiswa ini perlu diperhatikan lebih intens, kalau perlu dilakukan pendampingan agar dia tidak sendirian. Early warning perlu kita tindak lanjuti.

Di sisi lain teman-teman sesama mahasiswa juga perlu bersikap peduli dengan temannya yang bermasalah. Jangan cuek. Kesibukan kuliah yang padat jangan sampai menjadi alasan untuk memperhatikan orang lain. Sesibuk apapun sempatkanlah memperhatikan teman. Sharing is caring.

Saling membantu itu indah. Anda tidak perlu merasa terbuang waktu karena telah menaruh kepedulian kepada sesama. Waktu yang terbuang tidak sebanding dengan generasi yang hilang.

Written by rinaldimunir

September 6th, 2019 at 11:31 am

Sedekah, Amalan yang Dahsyat

without comments

Kemarin, tiba-tiba saja seorang teman menghampiri saya lalu menyerahkan amplop berisi uang. Buat anak saya yang sekolah/kuliah, katanya. Ambillah, katanya lagi.

Saya pun terbingung-bingung bin terheran-heran. Lho, kok saya dikasih uang? Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba saja saya diberi uang yang cukup besar. Teman saya itu memang tahu dua anak saya masuk sekolah tahun ini, satu di SMP dan satu lagi di perguruan tinggi lewat jalur seleksi mandiri. Oh, mungkin dipikirnya saya membutuhkan biaya besar untuk biaya sekolah/kuliah anak sehingga dia memberi saya uang?, pikir saya. Sudah saya tolak berkali-kali pemberiannya, merasa tidak enak menerimanya, itu tetapi tetap saja ia memaksa saya untuk menerimanya. Akhirnya saya menyerah dan menerima juga pemberiannya.

Saya pun berbaik sangka saja. Mungkin inikah cara Allah SWT mengganti uang yang saya sedekahkan dua hari yang lalu? Ada teman saya semasa SMP yang hidupnya susah. Dia selalu minta tolong dikirimkan uang. Tidak banyak yang dia minta, hanya seratus ribu saja, buat membayar kontrakannya. Sering begitu, dia selalu menelpon memohon dikirimkan uang karena hidupnya yang memang berkesusahan.

Ya Allah, Engkau baik sekali. Engkau ganti berlipat ganda dari yang saya beri. Yang saya berikan hanya receh saja, tetapi Engkau balas dengan tak terduga.

Saya semakin yakin saja bahwasanya bersedekah atau membelanjakan uang di jalan Allah tidak akan membuat harta kita berkurang, malah bertambah-tambah. Tidak akan menjadi miskin kita karena bersedekah. Benar yang dikatakan oleh Rasulullah SAW bahwa malaikat akan mendoakan orang yang bersedekah. “Ya Allah, berilah orang yang bersedekah, gantinya,” seru para malaikat sepenjuru langit mendoakan orang yang bersedekah. (HR Bukhari Muslim).

Rajin bersedekah dapat membuat rezeki datang dari arah yang tidak kita sangka-sangka, seperti yang sering saya alami.

Sahabat, jangan ragu untuk bersedekah kepada orang yang membutuhkan. Jangan berat tangan merogeh kocek untuk sekedar memberi kepada orang yang yang mengalami kesulitan hidup.

Sedekah adalah amalan yang yang dirindukan oleh orang yang sudah mati. Orang yang sudah tiada dan sudah berada di alam barzah, sekiranya ia bisa dikembalikan ke dunia, maka amalan apakah yang akan dilakukannya? Jawabnya adalah sedekah. Di dalam Surat Al-Munafiqun ayat 11 Allah SWT berfirman

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, lalu dia berkata (menyesali), ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)-ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.” (QS al-Munafiqun: 11).

Saya kutip tulisan dari sini:

Mengapa ia (si mayat. Red) menyebut bersedekah. Padahal, banyak amal shaleh lainnya yang tak kalah dahsyat pahalanya. Sebut saja shalat sunah, baca Alquran, berpuasa, berzikir, berjihad, atau berangkat haji ke Tanah Suci. Mengapa ia memilih bersedekah dari sekian banyak amal-amal shaleh yang ada? Para ulama mengatakan, karena ia melihat sedemikian dahsyatnya pahala sedekah setelah kematiannya.

Seorang yang meninggal itu ketika melihat dosanya, sedekahlah salah satunya yang dapat menghapuskan dosanya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sedekah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR Turmudzi, Ahmad, al-Baihaqi, an-Nasa`i, dishahihkan al-Albani).

Ketika orang yang akan meninggal tengah menghadapi hebatnya sakaratul maut, sedekah juga dapat melapangkan dadanya. Sehingga, ia dapat melepaskan nyawa dengan khusnul khatimah. Sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya, sedekah memadamkan murka Allah dan mencegah kematian yang buruk.” (HR Turmudzi, Ibnu Hibban, dan Tirmizi).

Demikian juga, ketika seorang yang meninggal melihat api neraka yang siap menerkamnya, ia melihat amalan sedekah bisa menyelamatkannya dari api neraka. Inilah yang dipesankan Rasulullah SAW kepada istrinya Aisyah RA. “Wahai Aisyah, berlindunglah dari siksa api neraka walau dengan sebutir kurma.” (HR Ahmad, al-Bazzar, dan Ibnu Khuzaimah).

***********************

Begitulah dahsyatnya amalan sedekah. Sedekah  juga membuat hati kita tenteram dan bahagia. Tak percaya? Setiap kali kita telah melepaskan kesulitan orang lain, entah mengapa hati kita merasa senang dan bahagia. Bersedekah adalah salah satu cara melepaskan orang lain dari kesusahan hidup.

Janganlah kita enggan memberi sedekah kepada orang lain yang hidupnya berkesusahan. Orang yang pelit dan kikir digambarkan oleh Allah sebagai tangan terbelenggu. Tangan yang terbelenggu mengakibatkan keinginan untuk merogoh kocek dengan uang receh pun tidak bisa dilakukan. Padahal harta yang kita peroleh hanyalah titipan sementara di dunia, tidak akan dibawa mati. Justru yang dibawa mati adalah amalan sholeh kita sebagai teman kita di akhirat kelak.

Mohon ampuni kami, Ya Allah, jauhkan kami dari sifat kikir.

Written by rinaldimunir

August 13th, 2019 at 10:19 am

Posted in Agama,Renunganku

Cara Menghilangkan Ujub dan Riya saat Sholat ke Masjid

without comments

Seorang teman pernah mengatakan bahwa tantangan sholat ke masjid itu cuma dua. Tantangan pertama adalah mengalahkan rasa malas. Tantangan kedua adalah mengalahkan rasa ujub dan riya . Ujub artinya merasa lebih baik dari orang lain, termasuk juga  merendahkan orang lain yang tidak pergi sholat ke masjid. Riya artinya mengharapkan dipuji oleh orang lain.

Bagi laki-laki muslim, sholat fardhu wajib dilakukan di masjid secara berjamaah.  Meskipun demikian, sholat fardhu yang dilakukan di rumah tetap sah (Baca: Laki-Laki Wajib Shalat Berjamaah di Masjid, Benarkah?).

Saya pribadi selalu mengusahakan sholat fardhu di masjid, meskipun beberapa kali sering timbul rasa malas (seharusnya tidak boleh ya).

Kembali ke tantangan yang ditulis oleh teman saya tadi. Dia mengatakan bahwa kebanyakan dari kita mampu mengatasi tantangan nomor  satu. Rasa malas bisa dibuang dengan memotivasi diri. Ayo, jangan malas

Tetapi, katanya, tidak banyak orang yang mampu melewati tantangan nomor dua.  Perasaan ujub dan riya jika muncul di dalam hati dapat membuat amalan kita sia-sia, karena tidak diterima oleh Allah SWT.

Perasan ujub sering timbul pada manusia, termasuk ahli ibadah. Merasa dirinya lebih baik dari orang lain, merasa lebih sholeh, lebih alim, lebih islami, dan sebagainya. Orang lain yang tidak berbuat seperti dia dipandangnya kurang sholeh, kurang taat, dan lebih rendah dari dirinya. Orang muslim yang tidak sholat ke masjid dianggapnya lebih rendah dari dirinya yang rajin sholat ke masjid.

Perasaan ujub membuat manusia tinggi hati, lama-lama menjadi angkuh dan sombong. Merasa Allah menilainya lebih tinggi beberapa derajat dibandingkan orang yang tidak sholat ke masjid.

Perasaan riya adalah ingin dipuji dan disanjung. Sholat ke masjid dipamer-pamerkan supaya orang lain menilai dirinya ahli ibadah, orang sholeh, orang paling taat agama, dan sebagainya.

Kalau rasa malas bisa dikalahkan, tidak demikian dengan rasa ujub dan riya. Saya punya dua cara menghilangkan ujub dan riya itu. Jika anda pergi sholat ke masjid, maka  janganlah menengok kiri kanan ke arah tetangga supaya ingin dilihat,  terus saja jalan ke depan ke arah masjid. Konsentrasikan saja pikiran ke masjid.  Cara kedua adalah tidak perlu memakai asesoris seperti peci, sarung, kupiah, jika pergi ke masjid. Berpakaian biasa saja sehingga orang lain tidak tahu kalau kita mau ke masjid. Insya Allah dengan kedua cara tersebut kita dijauhi darai rasa ujub dan riya sehingga amalan kita menjadi tidak sia-sia dan diterima oleh Allah SWT.

Saya teringat sebuah pepatah yang menyatakan  penyakit ahli ilmu adalah sombong dan penyakit ahli ibadah adalah riya. Semoga kita dijauhkan dari keduanya. Amiin.

Written by rinaldimunir

June 11th, 2019 at 3:32 pm

Posted in Agama,Renunganku

Penyesalan yang (Belum) Terlambat

without comments

Dulu pernah ada mahasiswa saya yang bercerita tentang penyesalan dia selama berkuliah. Dia menyesal kenapa dulu ia tidak kuliah dengan serius, malas, dan lebih banyak waktu terbuang untuk hal-hal yang tidak berguna.  Ketika sudah berada pada tahun keenam kuliah, tahun terakhir sebagai batas waktu studi di ITB, barulah dia menyesali diri sendiri jika ternyata dia sudah lalai selama ini. Dia merasa dirinya sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan teman-teman seangkatannya. Andai jarum waktu bisa kembali diputar mundur ke belakang, tetapi sayang hal itu tidak bisa.

Dulu ada senior saya yang menceritakan masa mudanya yang makan apa saja tanpa memikir kesehatan. Segala makanan yang enak dan berlemak tinggi dilibas. Ketika akhirnya dia terkena stroke, barulah dia menyesali kenapa dulu tidak memikir kesehatan apabila makan. Sampai akhir hayatnya saya masih terngiang-ngiang penyesalannya itu.

Sepasang suami istri pernah menyesal kenapa dulu terlalu sibuk bekerja siang sampai malam sehingga melupakan pendidikan agama anaknya. Ketika anaknya terlibat pergaulan bebas yang berakhir masuk penjara, barulah mereka menyesali kenapa dulu dia dilenakan oleh pekerjaan duniawi sehingga melupakan perhatian kepada anak-ananya.

Seorang artis menyesali dulu semasa masih terkenal hidup bergelimang maksiat. Minum minuman keras sudah biasa, mencoba narkoba pun sudah sering meskipun tidak tertangkap polisi. Kehidupan malam adalah dunianya. Berganti pasangan sudah lumrah. Hidupnya terasa hampa. Kebahagiaan duniawi yang dicapainya hanya semu semata. Ketika sudah mulai tua dan tidak laku lagi barulah dia menyadari dia begitu jauh dari Tuhan. Untung malaikat maut masih “berbaik” hati belum menjemputnya, dia pun tobat dan memperbaiki hidupnya.

Kita sering membaca atau mendengar orang-orang yang menyesali apa yang sudah dia lakukan pada masa lalu. Dulu tidak pernah berpikir mengapa tidak begini, mengapa tidak begitu. Masa muda disesali pada masa tua.

Namun, penyesalan terhadap masa lalu yang saya ceritakan di atas belum ada apa-apanya dibandingkan penyesalan orang yang sudah mati.  Penyesalan dikatakan belum terlambat selama umur masih dikandung badan, selama ajal belum datang.  Ketika maut sudah memisahkan nyawa dengan badan, maka semua penyesalan sudah tiada berguna. Janganlah kita seperti penghuni neraka yang meminta dikembalikan ke dunia dan berjanji untuk mengerjakan amal saleh. Semuanya sudah terlambat. Banyak ayat Al-Quran yang menceritakan penyesalan orang yang sudah mati dan sekarang berada di alam akhirat. Mereka menyesal kenapa dulu tidak rajin beribadah dan beramal shaleh. DFiantyara ayat-ayat tersebut adalah sebagai berikut:

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu : “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan.” (Surat Faathir :37)

Hingga apabila telah  datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, “Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku beramal shalih terhadap yang telah aku tinggalkan”. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan dihadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan. (Al Mukminun: 99-100)

Wahai Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda [kematian]ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah…” (QS. Al Munafiqun: 10)

“Yaa Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (kedunia) niscaya kami akan mengerjakan amal shalih. Sungguh kami adalah orang orang yang yakin.” (QS. As Sajdah: 12)

Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) adzab datang kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zhalim, “Ya Rabb kami, kembalikanlah kami meskipun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan-Mu dan mengikuti rasul-rasul”. (QS. Ibrahim: 44)

Oleh karena itu, selama hayat masih dikandung badan, selama masih diberi kehidupan, hendaklah kita banyak melakukan amal saleh. Mendirikan sholat, memperbanyak sholat sunat, menyeringkan puasa sunat, memperbanyak sadaqah, mengeluarkan zakat, memberi makan orang miskin dan anak yatim, rajin ke masjid, memperbanyak membaca Quran, menjauhi perbuatan maksiat, dan lain-lain. Janganlah setelah kita mati kita menyesal telah lalai mengerjakannya. Itu sudah terlambat.

Tulisan ini untuk mengingatkan diri sendiri dan orang-orang yang membacanya. Amin.

Written by rinaldimunir

May 11th, 2018 at 1:52 pm

Posted in Renunganku

Pensiun (3)

without comments

Akhirnya satu persatu dosen senior saya memasuki masa purnabakti. Pensiun. Umur 65 tahun adalah batas usia seorang dosen mengabdi di almamaternya, kecuali profesor bisa sampai umur 70 tahun. Beberapa tahun sebelumnya sudah enam orang yang purnabakti. Tahun 2018 ini dua orang lagi. Dari semua dosen senior pendiri Informatika ITB, maka akan tersisa tiga orang yang masih mengabdi di tempat kami. Namun dalam beberapa tahun ke depan, sekitar empat hingga enam tahun lagi, mereka pun akan memasuki masa purna bakti pula. Maka, akan habislah dosen senior di almamater saya. Waktu ternyata berlalu begitu cepat. Empat atau enam tahun itu tidak terasa lama.

Saya yang selama ini merasa masih tetap dosen yunior, karena merasa nyaman dengan keberadaan dosen senior di atas saya, tiba-tiba harus merasa untuk bersiap-siap  menjadi dosen senior di almamater saya di Informatika ITB. Di bawah saya sudah banyak dosen muda yang berkiprah. Mereka menggantikan peran dosen yang telah pergi memasuki masa retired. Begitulah hidup, ada yang datang dan ada yang pergi. That”s life.  Pensiun adalah hukum alam yang tidak bisa ditolak.

Tiba-tiba saja saya merasa diri ini sudah tua. Sebenarnya saya sudah menyadari hal itu sejak beberapa tahun lalu, ketika rambut putih sudah mulai banyak bertaburan di atas kepala. Tetapi, saya sering tidak sadar karena alasan di atas, yaitu merasa nyaman dengan keberadaan dosen senior di atas saya, sehingga saya merasa masih muda saja, merasa masih perlu dibimbing oleh para senior. Tetapi dengan berlalunya waktu, mereka telah mulai meninggalkan kami. Itu artinya saya akan menggantikan peran mereka menjadi orang yang dituakan oleh para dosen yang lebih muda. Semoga saja saya bisa mengemban peran tersebut.

Suatu hari, saya pernah berjalan kaki bersama seorang dosen senior ketika kami mendapat tugas mengajar di Lampung. Satu tahun lagi dia akan memasuki masa purnabakti. Sembari kami berjalan kaki, saya menceritakan kesedihan saya yang akan merasa kehilangan setelah dia pensiun. Saya menceritakan saat saya diterima menjadi dosen ketika beliau menjabat Sekretaris Jurusan. Saya menceritakan wejangan yang dia berikan, nasehat yang dia berikan saat itu, tugas yang dia berikan kepada saya, lalu cerita masa-masa kami bersama menjalankan Jurusan (waktu itu masih bernama Jurusan Teknik Informatika). Entah kenapa saya merasa sentimentil.  Dia hanya tertawa dan mengatakan bahwa dia akan tetap sering ke kampus meskipun nanti sudah pensiun.

Ada satu hal yang membuat saya merasa betah berkiprah di kampus, yaitu keberadaan para mahasiswa. Itulah alasan mengapa saya tetap ada di sini. Mereka para anak muda yang haus ilmu pengetahuan. Mereka membutuhkan bimbingan dan panutan. Tiap hari saya masuk ke kampus, lalu pulang pada sore harinya. Terkadang, biarpun badan masih sakit saya paksakan juga ke kampus menemui mereka, mengajar di depan kelas, melayani bimbingan dan konsultasi. Tiba-tiba saja penyakit di badan terasa hilang, badan menjadi lebih ringan, tetapi di rumah badan mulai meriang lagi. Itulah kadang sukanya menjadi pengajar dan pendidik, rasa sakit lenyap ketika sudah berada di depan anak didik. Peran ini akan terus saya lanjutkan sampai tiba suatu masa saya mendapat giliran memasuki masa purnabakti pula, entah pada umur 65 atau umur 70. Wallahualam.

Written by rinaldimunir

February 2nd, 2018 at 3:45 pm

Bersikap Istiqamah itu Jauh lebih Sulit

without comments

Beberapa hari ini media daring ramai memberitakan artis Indonesia yang melepas hijab (jilbabnya) setelah dua tahun memakainya. Tanggapan dan komentar pun datang silih berganti. Kalau yang melakukannya orang biasa, mungkin tidak ada orang peduli, tetapi karena yang melepas hijab adalah tokoh publik, maka resiko sebagai public figure ya begitu, setiap tindak tanduknya harus siap dinilai, dikritisi, atau dikomentari.

Sebenarnya ini berita basi, sebab sudah biasa dan sering terjadi artis yang melepas jilbabnya setelah cukup lama memakainya. Sebagai orang awam, bukan hak kita untuk menghakimi mereka. Biar itu urusannya dengan Tuhan saja. Apakah mereka mempermainkan agama atau bukan, saya kurang tahu.

Setidaknya peristiwa semacam di atas memberi hikmah bagi kita.  Tiap orang ingin menjadi lebih baik dari hari kemarin. Pada kasus di atas, bagi perempuan muslimah, keputusan memakai busana muslimah dengan menutup aurat (mengenakan hijab) adalah sebuah hijrah untuk lebih mengamalkan ajaran agama menjadi lebih baik lagi.

Nah, untuk berubah menjadi orang yang lebih baik tidaklah sulit. Tetapi yang jauh lebih sulit adalah adalah bersikap istiqamah atau konsisten untuk mempertahankannya. Saya sendiri mengalami hal yang sama, misalnya ingin terus melaksanakan shalat tahajud, tetapi hanya konsisten di awal-awal, setelah itu jarang. Ingin bersedekah, meskipun sedikit, setiap hari, tetapi sekarang sering lalai. Ampuni Hamba-Mu ini ya Allah, tidak bisa istiqamah.

Nah, apa yang dialami oleh para artis yang buka tutup hijab saya duga mungkin juga begitu. Mereka ingin berubah lebih baik, ingin menjalankan agama lebih kaffah, tetapi tidak dapat mempertahankannya untuk waktu yang seterusnya. Godaan di luar sana, masalah di dalam diri sendiri, dan lain-lain yang saya tidak tahu, membuat keistiqamahan itu luntur dalam perjalanan waktu.

Menurut saya, sungguh berbahagialah orang yang selalu istiqamah, orang yang selalu konsisten dengan pilihan hidupnya atau dengan keputusan yang dia ambil, meskipun banyak orang mengecam atau mencemoohnya. Dia tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang, dia hanya berkeyakinan bahwa apa yang dia lakukan adalah benar.


Written by rinaldimunir

November 13th, 2017 at 11:06 am

Posted in Renunganku

Sebaskom Kecil Air Minum Untuk Kucing Liar

without comments

Di halaman rumah saya ada ember kecil untuk menampung cucuran air dari talang di atap rumah. Talang itu berfungsi untuk mengalirkan air hujan, selain itu juga untuk mengalirkan limpahan air dari toren penampung  air ledeng yang juga berada di atas atap rumah.

Setiap hari ember tersebut selalu berisi air bersih limpahan dari toren semalam. Karena di sekitar rumah saya jarang ada genangan air, maka kucing-kucing liar yang lalu lalang di depan rumah sering mendatangi ember itu untuk minum dikala kehausan. Nikmat sekali tampaknya kucing itu meneguk air dengan lidahnya. Cukup lama ia minum, ada sekitar dua hingga tiga menit hingga lambungnya sudah penuh dengan air.

Melihat kucing minum dengan nikmatnya dari ember itu merupakan pemandangan yang mengharukan bagi saya. Saya teringat sebuah tulisan seorang Ustadz yang berisi contoh amal sholeh kecil yang dapat kita lakukan setiap hari. Isinya kurang lebih begini: sediakan satu wadah atau ember kecil di depan rumahmu yang berisi air bersih untuk minum kucing-kucing liar atau anjing liar yang sering lewat. Mudah-mudahan setiap tetes air yang diminum oleh hewan itu menjadi tambahan timbangan pahalamu kelak di Padang Mahsyar nanti. Amin.

Sekarang ember kecil hitam itu saya ganti dengan baskom yang lebih rendah sehingga tidak menyulitkan kucing-kucing yang mampir untuk minum. Setiap hari air tersebut perlu diganti agar tidak menjadi sarang nyamuk. Idealnya saya taruh di pinggir jalan di depan rumah agar hewan lain seperti anjing liar yang lewat pun bisa minum, tapi untuk sementara masih di dalam halaman dulu.

Saya kutip tulisan dari seorang teman: kata bijak mengatakan, janganlah engkau meremehkan sebuah kebaikan kecil untuk selama lamanya, karena boleh jadi jadi saat engkau tengah terlelap dalam tidur, pintu-pintu langit diketuk oleh puluhan doa kebaikan untukmu dari kucing-kucing atau anjing-anjing liar yg kehausan yang telah engkau tolong. Amin.


Written by rinaldimunir

September 22nd, 2017 at 4:01 pm

Ingatlah Umurmu

without comments

Sewaktu melewati sebuah jalan di kawasan Kiaracondong, mata saya tertumbuk pada sebuah spanduk yang terpampang di tembok sebuah kantor biro perjalanan umrah dan haji. Isinya sebuah hadis Nabi, makjleb sekali maknanya.

spanduk

Spanduk tersebut mengingatkan kita akan usia yang selalu bertambah setiap tahun, tanpa  terasa ternyata sudah melewati usia Nabi. Nabi Muhammad SAW umurnya hanya 63 tahun. Banyak orang-orangtua berkata, ketika umur mereka sudah melewati 63  tahun, mereka sering menghibur diri dengan mengatakan  bahwa mereka mendapat bonus umur dari Tuhan, sambil membandingkan umur mereka dengan umur Rasulullah Muhammad SAW. Bagi orang Islam yang taat, semua hal dari Nabi adalah teladan, termasuk soal usia. Shalawat dan salam semoga selalu  tercurah bagimu ya Rasulullah shalallahu wa alaihi wassalam.

Memang panggilan Malaikat Izrail tidak tergantung pada usia manusia. Kematian bisa datang kapan saja, baik kala berusia muda maupun sudah berusia senja. Hari ini seseorang terlihat ceria, besoknya tiba-tiba kita mendengar hanya tinggal namanya saja. Mungkin dia meninggal karena kecelakaan, mungkin karena serangan jantung, mungkin karena nasib apes dibunuh begal di tengah jalan. Wallahu alam, hanya Allah yang tahu kapan panggilan itu datang.

Sesuatu yang sudah menjadi hukum alam adalah manusia itu fana. Usia tua artinya sudah mendekati kematian. Alam ini selalu setia menjalani siklus hidup. Mulai  dari bayi, tumbuh menjadi anak-anak, lalu remaja, kemudian dewasa, lalu menjaid tua, dan akhirnya mati. Maka, hadis Riwayat At-Tarmidzi pada spanduk di atas adalah pengingat agar manusia selalu bersiap-siap.

Bukan berarti ketika masih muda maka manusia bisa berbuat apa saja, mumpung masih muda maka nikmatilah dunia, karena hidup hanya sekali. Begitu yang sering kita dengar. Namun bukan begitu maksudnya. Seperti yang saya tuliska di atas, kematian bisa datang kapan saja. Maka, yang perlu anda renungkan adalah: suidahkah kamu menyiapkan bekal untuk kampung akhirat kelak? Bekal itu adalah amal sholeh selama di dunia.


Written by rinaldimunir

November 21st, 2016 at 9:58 am

Posted in Renunganku

Jangan menawar harga dari pedagang kecil

without comments

Kalau  berbelanja di supermarket atau toko swalayan, kita tidak pernah bisa menawar harga. Harga barang sudah pasti, tidak bisa dikurangi lagi. Tetapi, jika kita berbelanja di pasar tradisionil, maka tawar menawar harga merupakan seni berbelanja. Kepandaian mendapat harga lebih murah bergantung pada kemampuan pembeli menawar harga. Kaum perempuan umumnya pandai menawar harga, sedemikian alotnya sehingga jika berhasil mendapat harga lebih murah, maka ada kepuasa tersendiri bagi mereka.

Namun, tidak selamanya kita harus menawar harga barang kepada pedagang tradisionil. Lihat-lihat dululah keadaan pedagangnya. Bagi pedagang kecil, pedagang yang sudah tua, pedagang yang tampak kepayahan, pedagang yang  dagangannya kurang laku, atau pedagang yang hanya mendapat keuntungan sedikit dari barang yang dijualnya, tidak usahlah kita menawar harga barangnya. Beli sajalah sesuai harganya, kalau perlu dilebihkan. Mudah-mudahan ini menjadi amal sholeh. Sungguh miris jika kita masih menawar harga serendah mungkin kepada pedagang semacam di atas, sementara berbelanja di pasar modern kita tidak pernah menawar harga.

Mengapa kita tidak usah menawar harga barang dari pedagang kecil? Bagi mereka uang sekecil apapun sangatlah berarti. Anak dan istrinya mungkin sedang sakit sehingga membutuhkan uang. Ketika kita menawar barangnya terlalu murah, boleh jadi mereka melepaskan barang jualannya karena terpaksa. Terpaksa butuh uang daripada tidak laku sama sekali.

Di bulan Ramadhan ini mari kita perbanyak amal sholeh dengan membantu orang-orang kecil tersebut. Tidak usah berburuk sangka bahwa mereka mencari untung banyak. Dengan membeli dagangan mereka seharga yang layak, kita telah membantu kehidupan mereka.


Written by rinaldimunir

June 9th, 2016 at 1:55 pm

Posted in Renunganku

Ujian Bagi Guru, Dosen, Ustad, …

without comments

“The mediocre teacher tells. The good teacher explains. The superior teacher demonstrates. The great teacher inspires.”
— William Arthur Ward

Saya termenung membaca ungkapan William Arthur di atas. Saya belum mampu menjadi the great teacher, yaitu dosen yang menginspirasi mahasiswanya. Masih jauhlah. Mungkin saya baru sampai menjadi the good teacher saja, itupun dengan banyak kekurangan.

Menjadi guru, dosen, atau ustadz itu banyak godaannya. Godaan yang nyata adalah merasa ‘ujub atau merasa bangga dengan ilmu yang dimilikinya.  Orang yang memiliki sifat ‘ujub merasa tinggi hati karena merasa memiliki ilmu lebih banyak, lebih dulu,  atau lebih tinggi dari para murid atau jamaahnya. Sifat ‘ujub itu sangat dekat dengan sifat riya, yaitu sifat ingin dipuji atau disanjung karena  ilmu yang dimilikinya. Jika sudah mencapai sifat riya, maka bagi seorang muslim apapun yang dilakukannya sudah tidak bernilai lagi di Mata Allah, karena sudah tidak ikhlas. Kunci dari ibadah itu adalah ikhlas, yaitu semata-mata mengharapkan  ridha Allah semata. Padahal, menjadi dosen, guru, atau ustadz itu diniatkan untuk beribadah kepada-Nya. Mengajar itu ibadah, membimbing mahasiswa itu ibadah, berbagi ilmu itu ibadah, memberi ceramah itu ibadah.

‘Ujub adalah godaan yang berat bagi seorang pendidik, tetapi ada godaan yang lebih berat lagi, yaitu mengendalikan ego. Pelajaran ini saya peroleh dari kisah Prof Damardjati Supadjar, seorang dosen UGM. Kisah tersebut saya baca pada situs web ini, yang bersumber dari akun Facebook seorang muridnya. Sangat menarik dan inspiratif.

Saya kutip kembali kisah Prof. Damardjati Supadjar seperti tertulis di bawah ini:

Setiap berkendara dari perempatan Kamdanen, ke timur ke arah Jalan Kaliurang, aku selalu melintasi rumah almarhum Prof. Damardjati Supadjar. Setiap kali pula, aku teringat sebuah percakapan dengan beliau, yang bagiku sangat inspiratif.

Tahun 90an awal, Pak Damar beberapa kali mengisi acara di Masjid Ash-Shiddiiqy, Demangan — sebuah masjid kecil yang aku turut mengurusnya. Ceramah beliau selalu sangat filosofis, sarat dengan ilmu kelas tinggi yang disajikan dengan cara amat sederhana. Ngelmu tuwo, kata beberapa jamaah senior di masjid itu.

Pada suatu kesempatan, saat turut mengantar Pak Damar pulang usai ceramah, aku bertanya pada beliau, “Pak, jadi dosen enak ya?”

“Bagi saya enak,” jawab beliau. “Tapi kalau diniati untuk kaya raya, ya jadi dosen itu tidak enak.”

“Tapi jadi dosen kan harus selalu menambah ilmu Pak,” kataku agak kurang nyambung.

“Tentu saja. Tapi itu kan otomatis berjalan, tak perlu dipaksakan.”

“Jadi tidak berat ya Pak?”

“Sama sekali tidak. Yang berat itu malah hal lain.”

“Apa itu Pak?”

“Mengendalikan ego,” jawab beliau.

Aku membuka telinga…

“Seorang dosen, juga seorang guru atau ustadz atau kyai, mudah terjerumus pada ‘ujub.” Pak Damar mulai menjelaskan. “Dengan pengetahuan yang dimiliki, dengan peluang untuk berbicara di depan orang lain yang bersedia atau dipaksa mendengarkan, semua pendidik pada dasarnya punya peluang menjadi tinggi hati. Ciri pendidik yang tinggi hati adalah gemar memamerkan pengetahuan, agar nampak pandai di hadapan anak-didiknya.”

“Tapi kan itu lumrah Pak.”

“Tidak lumrah. Pendidik yang tinggi hati, sesungguhnya akan gagal mendidik. Dia hanya akan menghasilkan pengagum, bukan orang terdidik. Pendidik yang baik adalah yang mampu menekan ego di hadapan anak-anak didiknya.

“Menekan ego seperti apa Pak, maksudnya?” Aku tak paham betul apa maksud Pak Damar.

“Menekan ego untuk nampak pintar. Tugas guru dan dosen bukanlah keminter di hadapan murid-muridnya, melainkan untuk memberi inspirasi.”

“Menunjukkan kepintaran di hadapan murid kan juga bisa menginspirasi Pak?” tanyaku tetap kurang paham.

“Iya, inspirasi untuk kagum pada sang guru, bukan inspirasi untuk mencari ilmu sejati.”

Tetap tak paham, namun aku lanjut bertanya. “Soal menekan ego itu Pak, seberapa banyak pendidik yang bisa melakukannya?”

“Hanya mereka yang bisa menghayati makna ‘tidak ada ilah selain Allah’ yang bisa menekan ego.”

Aku tak yakin apakah aku betul-betul paham yang dimaksudkan oleh Pak Damar. Namun kata-kata itu selalu terngiang di benakku: “Seorang pendidik harus menekan ego untuk nampak pintar”.

Aku baru bisa mencerna dan sedikit-demi-sedikit memahami kata-kata itu beberapa tahun kemudian, setelah beberapa waktu menjadi dosen. Bahkan hingga sekarangpun, aku tak yakin apakah bisa mengendalikan ego seperti dimaksud Pak Damar itu.

Lahul faatihah…

Sumber: FB salah satu muridnya

*********

Alangkah tinggi untuk mencapai ma’rifat seperti yang disampaikan Prof. Damardjati di atas. Maafkan saya Prof, saya belum mampu mencapainya, bahkan sekadar membuang sifat ‘ujub saja tidaklah mudah, apalagi mengendalikan ego. Saya tidak ingin mahasiswa saya kagum kepada diri saya, tetapi seharusnya mereka kagum dengan ilmu yang saya sampaikan. Dari situlah saya berharap mahasiswa terinspirasi untuk mencari ilmu sejati.


Written by rinaldimunir

December 24th, 2015 at 4:45 pm

Posted in Renunganku