if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Puisi’ Category

Jika Berkeping-keping

without comments

Share

Manakalah sedih, hatiku patah berkeping-keping, yang kadang sulit aku utarakan. Keherananku pada sodara-sodaraku seiman, yang tidak paham kondisinya, ditengah penindasan dan penistaan, malah membela penistanya, mendukung penindasnya. Astaghfirullah… kalau sudah begini, suka berkelebat dua hal ini. Pertama, ingatan seorang anak laki-laki, Prof.Tariq Ramadan kepada (perjuangan) Ayahnya, Dr.Said Ramadhan:
…………………………………… penggalan dari http://tariqramadan.com/english/2011/08/10/4th-august-presence-and-silence/

But analysis of current events was not enough for him. Everything interested him, from technology and medicine to science and ecology. He knew what was needed for a thoroughgoing reform in Islam. His curiosity, always alert, always lucid, knew no limits. He had traveled the world; henceforth the world would come into his room. Where once there had been crowds, scholars, presidents and kings, now only observation, analysis and deep sadness remained. In his solitude, though, there was the Qur’an; and in his isolation, there were invocations mingled with tears. He gave his children symbolic names, names from the history of persecution and boundless determination. A thread of complicity connected him with each one of us; we held his undivided attention, shared the sensitivity of our relationship with him, and his love. With Aymen, it was his success and wounds; with Bilal, his potential and his heartbreak; with Yasser, his presence, his generous devotion and his patience; with Arwa, his complicity and silences; with Hani, his commitment and his determination. He convinced each of us to believe in our own qualities. He reminded each of us that he had given us the best of mothers, she who is, with all the qualities of her heart, his most precious gift.

Kemudian, sepenggal puisi dari Chairil Anwar, Aku, 1943

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih perih
Dan aku akan lebih tidak perduli  
Aku mau hidup seribu tahun lagi
................
 Wonden en gif voer ik mee op mijn vlucht
 Vlucht
 Tot de schrijnende pijn zal verdwijnen
 En ik zal er nog minder om geven
 Ik wil nog duizend jaar leven
(Avert.A. Teeuw, Amsterdam 1979)

Written by ibudidin

March 31st, 2015 at 4:22 pm

Posted in Puisi,Tafakur

Pada Suatu Pagi Hari

without comments

Share

Mual, ketika break siang kemarin membaca berita kriminalitas. Biasanya yang kerap dibaca adalah berita ekonomi politik sosial budaya teknologi. Kisah-kisahnya tak jauh dari perempuan. Prostitusi, buruh pabrik shift-shift-an, pembantu rumah tangga… tragis.. dianiaya, dibunuh. Mereka itu perempuan, seperti aku… tapi berada dalam kehidupan yang ganas, mengerikan, tidak aman. Gentayangan sampai larut dalam keadaan yang menyedihkan, barangkali laki-laki juga menganggapnya sampah. Masuk kerja shift jam 1 malam yang sungguh….. pembantu-pembantu dengan jam kerja ga jelas, upah ga jelas, tanpa perlindungan. Mungkin kisah mereka jarang dicolek menjadi status fesbuk yang menarik. Bahkan mereka juga barangkali tidak terlintas sebagai AKTOR yang diperhitungkan dalam pengambilan keputusan/kebijakan. Mereka itu perempuan, seperti aku. Dan mereka itu sama saudara satu bangsa, bahkan, barangkali saudara satu iman. Inginnya ga mau tahu cerita-cerita begitu… tapi… who am I, to be blind, pretending not to see their needs (?)… astaghfirullahaladhiimmm

Pada Suatu Pagi Hari

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis
Sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu
Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi
Agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis
dan tak ada orang bertanya kenapa

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk
Memecahkan cermin membakar tempat tidur
Ia hanya ingin menangis lirih saja
sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik
di lorong sepi pada suatu pagi

(Sapardi Djoko Damono, 1973)
Kalpana-rainy alley way

Written by ibudidin

November 26th, 2014 at 8:01 am

Posted in Puisi,Tafakur

Rayuan Gula Kelapa

without comments

Share

gula arensegala rasa tentang Indonesia
terangkum dalam rayuan gula kelapa

Bandung, 14 Oktober ’14

Written by ibudidin

October 14th, 2014 at 12:45 pm

Posted in Puisi

Terbatas

without comments

Saya itu
ga bisa ini
ga bisa itu
ga berbakat ini
ga berbakat itu
ga bisa ini
ga bisa itu

terbatas
banyak ga bisanya
banyak mengeluhnya

tapi
saya hanya ingin hari ini taat
dan tidak melakukan maksiat
setia
pada-Nya

Written by ibudidin

February 20th, 2012 at 8:36 pm

Posted in Puisi,Tafakur

Catetan Ibu 2012-02-16 04:49:26

without comments

Ya Allah ya Allah ya Allah..
siapakah yang bisa kusebut namanya selain nama-Mu
siapakah yang bisa mendengar selain telinga-Mu
berilah jawabannya, jangan biarkan pembicaraan ini satu arah
I am lost

Written by ibudidin

February 16th, 2012 at 4:49 am

Posted in Puisi

Mencintai

without comments

Ya Allah,
Berilah kesempatan untuk mencintai
orang-orang yang kucintai

Written by ibudidin

February 10th, 2012 at 9:44 pm

Posted in Puisi

Inilah yang diperbuat keimanan

without comments

Membuka mata dan hati.
Menumbuhkan kepekaan.
Menyirai kejelitaan, keserasian, dan kesempurnaan…
Iman adalah persepsi baru terhadap alam,
apresiasi baru terhadap keindahan,
dan kehidupan di muka bumi,
di atas pentas ciptaan Allah,
sepanjang malam dan siang…

(Sayyid Quthb)

Written by ibu didin

January 20th, 2012 at 10:06 pm

Posted in Puisi

Tercekat

without comments

Segala yang tercekat sampai tenggorokan saja
Biarlah kuadukan pada yang Maha Tahu saja

Written by ibu didin

December 30th, 2011 at 10:48 pm

Posted in Puisi

Kekhawatiran

without comments

Sebenarnya kekhawatiran-kekhawatiran sedang bertumpuk-tumpuk

khawatir satu hal dan hal lainnya bertubi-tubi

tetapi saya memilih kekhawatiran itu dicicil saja

lebih baik menghadirkan syukur demi syukur

biarlah kekhawatiran-kekhawatiran itu dijawab Allah saja dengan cara-Nya

saya sisakan saja sebuah ruang untuk tawakkal

Written by ibu didin

July 3rd, 2011 at 1:23 pm

Posted in Puisi,Tafakur