if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Pengalamanku’ Category

Dosen Co-pas, Mahasiwa Juga Co-pas

without comments

Berita yang sangat memprihatinkan dalam dunia pendidikan tinggi dilansir pada berita brerikut: Diduga Mencontek, Ribuan Dosen tak Lulus Sertifikasi. Banyak dosen yang tidak lulus ujian sertifikasi dosen, antara lain penyebabnya karena ketahuan mencontek dengan melakukan copy paste (co-pas) jawaban deskripsi diri temannya yang sudah lulus sertifikasi. Berita lain ada di sini.

Dikutip dari tautan berita di atas:

“Sebagian besar para dosen menulis deskripsi diri, mereka mencontek atau ‘copy paste’ dari dosen yang telah lulus sertifikasi,” katanya pula.

Ghufron memperkirakan para dosen yang tidak lulus itu mencontek deskripsi diri dari dosen yang telah lulus sertifikasi dengan harapan bisa lulus juga. Padahal tim sertifikasi memberi perhatian lebih pada keaslian deskripsi diri tersebut.

“Dosen kita itu lihat ada yang lulus langsung mencontek. Padahal itu harus dihindari dan diperingatkan. Menurut saya, besok di situsnya harus diperingatkan kalau ‘copas’ dijamin tak lulus,” kata dia lagi.

FYI, dalam ujian sertifikasi dosen, peserta diminta menulis deskripsi diri dalam untaian kalimat yang panjang lebar, tidak cukup kalimat pendek saja. Untuk lebih jelasnya seperti apa pertanyaanya, silakan baca tulisan saya yang dulu, Pengalaman Mengisi Dokumen Sertifikasi Dosen. Jika jawabanya hanya satu dua kata atau kalimat pendek, pasti tidak lulus.Bagi dosen yang terbiasa menulis atau membuat karangan, maka menjawab pertanyaan semacam itu bukan sebuah kesulitan. Namun, bagi dosen yang tidak biasa menulis, maka itu adalah pertanyaan yang menyiksa. Karena ingin lulus ujian sertifikasi, maka cara-cara tidak hahal pun dilakukan, misalnya meng-copas jawaban temannnya yang sudah lulus ujian sertifikasi sebelumnya.

Padahal, penilai memerlukan jawaban yang menggambarkan deskripsi diri anda, dan itu harus asli, bukan deskripsi orang lain, bukan? Tentu lucu jika anda menyalin deskripsi   teman anda, karena itu tidak menggambarkan deskripsi anda sendiri.

Tentu saja kejadian di atas sebuah ironi. Dosen yang notabene seorang pendidik diharapkan memberi teladan kepada mahasiswanya, dengan melarang mahasiswa  mencontek dalam ujian atau  copas tugas temannya, namun di lapangan justru melakukan perbuatan yang dilarangnya. Maka, jangan heran jika dosennya saja begitu, bagaimana mahasiswanya.

Lebih ironi lagi jika atasan dosen malah membela anak buahnya yang tidak lulus itu, dengan berkata begini (dikutip dari berita di atas):

“Ini sangat merugikan, kami akan memikirkan bagaimana mekanismenya agar para dosen yang tak lulus ini bisa lulus. Tentunya harus melalui serangkaian tes lagi,” kata Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada itu pula.

Bukannya dosen-dosen yang melakukan copas ini diberi sanksi, tapi ini malah diusahakan lulus dengan memberi serangkaian tes lagi. Apa kata dunia pendidikan kalau begitu?


Written by rinaldimunir

August 26th, 2016 at 10:59 am

Posted in Pengalamanku

Telepon Rumah (Tidak) Akan Tinggal Kenangan?

without comments

Di rumah saya masih terpasang telepon rumah. Telepon rumah ini jarang sekali digunakan dan jarang sekali berdering, jadi boleh dibilang lebih sering menganggur. Paling-paling telepon rumah digunakan untuk mencari keberadaan ponsel yang  lupa ditaruh di mana. Selain itu untuk menelpon toko air mineral dan toko gas minta diantarkan air galon dan gas jika keduanya sudah habis di rumah.  Hampir tidak pernah lagi saya menggunakan telepon rumah untuk menghubungi teman, saudara, dan orang lainnya, seperti halnya dua puluh tahun yang lalu.

telepon-rumah

Telepon rumah yang kesepian

Sejak telepon genggam (ponsel) sudah menjadi alat komunikasi yang sudah  lumrah dan biasa, telepon rumah semakin menjadi tidak penting lagi keberadaannya. Sudah ada ponsel yang lebih praktis dan mobile daripada telepon rumah, maka orang-orang tidak menganggap telepon rumah menjadi  kebutuhan penting.

Telepon rumah adalah satu-satunya saluran telepon fixed line yang dikelola oleh PT Telkom. Dulu ketika memiliki ponsel belum selumrah sekarang, untuk mendapatkan sambungan telepon rumah dari PT Telkom butuh waktu yang cukup lama. Jika di sekitar rumah kita belum ada tiang dan kabel telepon, maka perlu bersabar untuk mendapat sambungan baru. Dulu rumah yang memiliki telpon rumah memiliki nilai tambah tersendiri, sebab ketika rumah dijual dan ada sambungan telepon rumah maka harganya berbeda jika rumah tersebut tidak punya sambungan telepon.

Karena sudah sangat jarang digunakan, sebagian orang mencabut telepon rumah dari kabelnya, maksudnya telepon rumah tidak dipasang lagi di atas meja. Anehnya, meski telepon rumah sudah tidak dipasang, namun mereka tidak memutus sambungannya dari PT Telkom. Mungkin merasa sayang saja jika diputus karena dulu untuk mendapatkannya perlu kesabaran tersendiri. Meski tidak dipasang lagi, tapi mereka tetap membayar abonemen bulanan  ke PT Telkom. Bagi PT Telkom sendiri telpon rumah yang menganggur mungkin sebuah kerugian, sebab mereka tidak banyak mendapat pemasukan dari fixed line, namun perawatan fixed line tetap saja harus dilakukan.

Saya sendiri tidak berniat untuk memutus sambungan telepon rumah. Biar saja terpajang di atas meja. Ia masih berfungsi dengan baik. Meskipun jarang digunakan, setidaknya telepon rumah masih berguna untuk menelpon call center bank, menelpon kantor layanan umum, menelpon pembantu dari kantor ke rumah, memesan gas dan air galon yang habis, dan ya itu…mencari keberadaan ponsel yang nyelip entah di mana.:-). Menurut cerita teman, beberapa bank BUMN dan bank asing  menjadikan nomor telepon rumah sebagai syarat untuk membuka rekening, entah benar entah tidak.

Bagi saya telepon rumah punya kelebihan tersendiri, yaitu sifatnya yang lebih ‘hangat’ dibandingkan ponsel. Ponsel bersifat privat,  jika ia berdering dengan nada dering yang disetel oleh pemiliknya, maka hanya pemiliknya yang mengangkat. Beda dengan telepon rumah, jika ia berdering di dalam rumah, maka seisi rumah tahu. Jika seorang anggota rumah mengangkatnya dan ternyata telpon itu untuk anggota keluarga lainnya, maka dia akan memanggil anggota rumah yang dituju. Jadi, kebertadan telpon rumah dapat mempererat jalinan anggota keluarga. Sepele, tapi itulah yang saya alami sendiri.


Written by rinaldimunir

July 25th, 2016 at 1:33 pm

Untung sudah “web check-in”

without comments

Hari Jumat yang lalu saya pulang kampung ke Padang. Seperti biasa saya selalu pulang kampung menjelang bulan puasa Ramadhan untuk berziarah ke makam orangtua, karena lebaran saya tidak mudik lagi. Kedua orangtua saya sudah tiada, jadi hanya tinggal pusaranya saja yang selalu ditengok-tengok setiap kali saya pulang. Saya pulang membawa anak yang baru saja selesai mengikuti UN SMP. Tiket pesawat pulang-pergi sudah saya beli jauh-jauh hari.

Pesawat saya berangkat dari Cengkareng. Sehari sebelum berangkat saya sudah melakukan check-in di website Garuda Indonesia (saya pilih naik Garuda untuk pulang dan kembali dengan Batik Air). Firasat saya mengatakan untuk chek-in sehari sebelumnya, khawatir telat ke bandara, karena perjalanan dari Bandung ke Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng tidak bisa diprediksi kemacetan lalu lintasnya. Boarding pass sudah cetak dan saya simpan baik-baik di dalam tas. Untuk jaga-jaga, boarding pass juga saya kirim ke akun surel saya di Gmail.

Seperti kebiasaan saya kalau bepergian, saya selalu backpacker-an. Hanya bawa tas ransel untuk pakaian dan lain-lain. Oleh-oleh saya taruh ke dalam kardus kecil  dan tas kantung plastik yang bisa dibawa ke atas kabin. Saya kurang suka memasukkan barang ke bagasi, karena perlu waktu setengah jam untuk mengambil barang tersebut di bandara.

Berangkatlah saya dan anak ke Bandara Soetta dari Bandung pukul 9.00 pagi. Kami naik bis Primajasa dari Batununggal. Mungkin ini kesalahan saya juga, saya memilih keberangkatan jam 9.00, agak terlalu mepet dengan keberangkatan pesawat jam 14.00 dari Soetta. Seharusnya saya memilih berangkat pukul 8.00. Di boarding pass tertulis waktu boarding jam 13.40. Perkiraan saya jam 13 selambatnya sudah sampai di bandara, karena waktu tempuh Bandung- Bandara Soetta berkisara paling lama 4 jam, jadi saya masih punya waktu satu jam kurang sebelum boarding.

Ternyata perkiraan saya salah. Memasuki Tol Cikampek arah ke Cikarang, perjalanan mulai tersendat. Bis bergerak pelan, sebentar maju sebentar berhenti. Saya masih agak santai saja waktu itu, ah nanti juga hilang macetnya, pikir saya. Ternyata tidak, macetnya lama sekali. Hari sudah menunjukkan pukul 11 lebih. Wah, saya sudah mulai khawatir. Tetapi karena saya sudah chek-in, saya tenang lagi. Kemacetan itu akibat banyaknya truk-truk bermuatan sembako lewat. Menjelang bulan puasa truk-truk sembako ini memadati jalan tol. Ternyata sebagian besar truk-truk itu rutenya mau masuk gerbang tol Cikunir. Tetapi karena banyak sekali mobil dan truk yang ke arah Cikunir, maka bis dan mobil lain di belakangnya yang hendak lurus ke gerbang tol Cikarang ikut kena macet.

Jam 12 lebih barulah bis kami berhasil melewati kemacetan parah itu. Memasuki gerbang tol Halim perjalanan mulai lancar jaya. Saya sudah mulai bernapas lega. Tetapi kelegaan saya hanya sebentar. Memasuki jalan tol Sedyatmo (jalan tol Bandara), ternyata terjebak macet lagi. Ada sebuah truk mogok di jalan, ke arah Muara Angke. Kendaraan di belakangnya terkena dampaknya. Hari sudah menunjukkan pukul 13.00. Saya sudah sangat khawatir dan sudah hilang harapan akan ketinggalan pesawat. Saya sudah mulai berpikir mau beli tiket penerbangan berikutnya lewat HP, cari di Traveloka. Alamaaak, penerbangan hari itu sudah sold out semua, tidak satu pun tiket yang tersisa untuk semua maskapai (Lion, Garuda, Citilink, Sriwijaya). Tapi saya tidak kehilangan harapan, saya kontak mbak di agen travel langganan saya di Bandung via whatssapp, minta dicarikan tiket. Jawabannya sama, habis semua. Namun tiket buat keesokan hari masih ada. Saya sudah berpikir akan menginap di Bandara saja dan terbang besok harinya.

Jam 13.20 kemacetan di Tol Sedyatmo terurai. Bis melaju kencang ke arah Bandara. Namun saya sudah hilang harapan, sudah tidak mungkin lagi kekejar pesawat. Waktu tempuh dari gerbang tol Sedyatmo ke gerbang tol Cengkareng saja memakan waktu setengah jam, itu belum termasuk waktu untuk menurunkan penumpang di Terminal 1A, 1B, 1C, dan 2D (saya di Terminal 2F, Garuda). Saya berdoa di dalam hati, semoga pesawat saya delay sehingga masih kekejar. Hari sudah menunjukkan pukul 13.50 ketika memasuki Terminal 1A. Satu per satu penumpang turun di terminalnya masing-masing. Di areal bandara sangat padat kendaraan yang akan keluar, berjalan pelan. Saya sudah tidak berharap lagi akan bisa boarding.

Jam 14.01 akhirnya bis sampai di Terminal 2F. Sambil berlari membawa tas dan barang bawaan saya dan anak berlari ke dalam. Ternyata tidak mudah juga, antrian masuk ke dalam lumayan banyak. Seorang perempuan yang baik hati di depan saya mempersilakan saya memotong antriannya. Kami berhasil masuk ke dalam, dan setelah melewati pemeriksaan X-Ray pertama kami tancap gas terengah-engah lari ke dalam. Di layar monitor terlihat status penerbangan saya masih boarding dan panggilan terakhir naik ke pesawat. Wah, harapan itu pun hidup lagi. Seorang petugas yang melihat kami lari tergopoh-gopoh menanyakan saya hendak ke mana, setelah saya jawab mau ke Padang, dia mengontak petugas di pintu gate F4 bahwa masih ada dua penumpang lagi. Akhirnya kami berhasil masuk Gate 4. Kami adalah penumpang terakhir yang naik ke dalam bis yang akan membawa ke dalam pesawat. Telat satu menit saja saya tiba maka bis  terkahir sudah berangkat dan saya harus menginap di  bandara untunk esok harinya.

Alhamdulillah, Allah masih baik kepada saya. Kami berhasil masuk ke dalam pesawat. Untung saja kami sudah web chek-in sebelumnya dan sudah mencetak boarding pass serta tidak ada barang untuk dimasukkan ke dalam bagasi. Petugas di gate F4 tidak mempermasalahkan boarding p0ass saya yang seukuran A4 iru (bukan boarding pass Garuda yang berupa kartu seukuran 30 x 10 cm itu.

Di atas bus yang membawa ke dalam pesawat saya mengontak mbak Travel langganan saya, mengabarkan saya tidak perlu beli tiket lagi. Dia juga mengucap syukur saya berhasil tidak ketinggalan pesawat. Dia menulis begini “Niat baik pasti dimudahkan oleh Allah, Pak”. Ya, niat saya pulang kampung adalah untuk ziarah kubur, mennegok makam orangtua dan mendoakan mereka. allah memudahkan jalan saya. Terima kasih ya Allah.


Written by rinaldimunir

June 3rd, 2016 at 7:04 am

Posted in Pengalamanku

Review Blog Catatanku Selama Tahun 2015

without comments

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2015 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Museum Louvre dikunjungi 8,5 juta orang setiap tahun. Blog ini telah dilihat sekitar 2.000.000 kali di 2015. Jika itu adalah pameran di Museum Louvre, dibutuhkan sekitar 86 hari bagi orang sebanyak itu untuk melihatnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.


Written by rinaldimunir

December 31st, 2015 at 11:17 am

Posted in Pengalamanku

Jangan Umbar Privasi Anakmu di Media atau Jejaring Sosial

without comments

Pekan-pekan menjelang akhir semester pada tahun ini adalah masa mengambil rapor anak di sekolahnya. Sekarang ini orangtua yang mengambil rapor anaknya di sekolah (pada zaman saya dulu sekolah SD dan SMP, saya sendiri yang mengambil rapor). Tentu ada orangtua yang senang anaknya mendapat rapor yang bagus, tentu ada yang sedikit sedih atau biasa-biasa saja.

Nah, kalau saya perhatikan, banyak orangtua yang memposting foto rapor nilai anaknya di Facebook, Twitter, atau di jejaring sosial lainnya. Mungkin mereka ingin membagi kebahagiaan karena rapor anaknya bagus atau mungkin ingin pamer.

Saya khwatir dengan fenomena ini. Tidak tahukah anda bahwa rapor anak merupakan data pribadi, di dalamnya ada data privasi (rahasia) seperti alamat rumah, nama sekolah, alamat sekolah, nama anak, dan lain-lain. Mempublikasikan data pribadi ke media atau jejaring sosial sama artinya memberi peluang kepada orang lain untuk mengetahui apapun tentang anda atau anak anda. Nah, kalau ada orang yang berniat jahat kepada anak anda, lalu dia menggunakan informasi pribadi tadi untuk menculik anak anda di sekolah, bagaimana?

Si penjahat mungkin berpura-pura menyamar bahwa dia adalah saudaramu dan meminta menjemput anakmu di sekolah. Dia punya informasi tentang dirimu di Facebook, misalnya fotomu, foto anakmu, alamat rumah, alamat sekolah, dan lain-lain.  Sudah banyak kasus penculikan anak di sekolah dengan pura-pura menyamar sebagai saudara dari orangtua si anak.

Selain modus penculikan, hal yang tidak kalah penting adalah data pribadi sering berkaitan dengan informasi rahasia yang harus dijaga, seperti kata-sandi (password), kunci, PIN, dan lain-lain. Masih banyak orang menggunakan kata-sandi atau PIN yang diambil dari informasi yang berkaitan dengan dirinya agar mudah diingat, seperti tanggal lahir, tanggal menikah, nama anak, nama suami, alamat rumah, dan lain-lain.

Mempublikasikan data pribadi ke publik sama saja mempermudah penjahat untuk menebak kata-sandi atau PIN anda melalui serangan yang di dalam bidang information security dinamakan dictionary attack. Penjahat akan menggunakan kamus yang berisi semua informasi terkait diri anda tadi untuk merangkai kata-sandi atau PIN. Pada banyak praktek, biasanya serangan ini berhasil menemukan kata-sandi seseorang. Karena itu, aware-lah dan jangan mudah mempublikasikan datya pribadi anda kepada publik seperti media sosial dan jejaring sosial. Berbahaya! Bahkan, ketika anda melakukan registrasi di situs daring yang meminta data pribasi tempat & tanggal lahir, alamat, dan lain-lain, anda tidak perlu memasukan data anda yang sebenarnya. Media atau jejaring sosial berhak menggunakan data pribadi anda itu untuk kepentingan mereka, atau malah mempejualbelikannya kepada pihak lain.

******

Kembali ke kasus publikasi rapor anak tadi.  Mempublikasikan apapun tentang anak anda, selain membuka celah keamanan,  sama saja melanggar privasi anak anda. Tiada hak orangtua untuk mempublikasikan hal yang terkait anaknya, apalagi jika dia tidak tahu atau tidak suka. Anda tidak minta izin kepada anak anda untuk mempublikasikan rapornya, bukan? Anak juga memiliki privasi seperti orangtuanya, dan kita harus melindungi privasi si anak sama seperti kita mlindungi privasi kita sendiri.


Written by rinaldimunir

December 22nd, 2015 at 2:13 pm

Pengalaman Mendapat Voucher Kompensasi Delay dari Citilink

without comments

Ini pengalaman pertama saya mendapat voucher 300 ribu rupiah sebagai kompensasi keterlambatan (delay) pesawat Citilink hingga 4 jam.

Beberapa hari yang lalu saya hendak kembali dari Padang ke Jakarta dengan pesawat Citilink. Keberangkatan seharusnya jam 19.20 WIB.  Saya sudah datang pukul 18.15 dan segera melakukan check-in. Ternyata di loket check-in di Bandara Minangkabau diumumkan perubahan jadwal (delay) menjadi jam 21.45.  Sebenarnya ada pemberitahuannya melalui SMS ke ponsel saya, namun saya tidak membacanya, jadi saya sudah terlanjur datang terlalau awal. Banyak juga penumpang yang sudah datang kecewa dengan delay tersebut, tetapi karena delay adalah hal yang “wajar”, maka saya tidak terlalu mempermasalahkan. Saya akan menunggu di ruang tunggu bandara sajalah. Toh saya sendirian, tidak membawa anak, jadi delay tidak terlalu repot.

Seorang penumpang yang tiketnya connecting flight  dari Padang-Jakarta dan Jakarta-Surabaya dengan Citilink mendadak kebingungan, karena pesawat Citilink dari Jakarta ke Surabaya adalah pukul 22.15, itu berarti penerbangannya dari Jakarta ke Surabaya tidak akan mungkin terkejar lagi. Dia akhirnya dijadwal ulang untuk  penerbangan dari Jakarta ke Surabaya menjadi pukul 05.00 subuh, itu artinya dia harus menginap di bandara Soekarno-Hatta, tidur leleran di kursi bandara.

Dari petugas di loket check-in saya mendapat informasi bahwa keterlambatan itu disebabkan padatnya traffic pesawat di bandara Soekarno-Hatta sehingga pesawat terlambat datang ke Bandara Minangkabau Padang.

Tidak berapa lama kemudian, masuk SMS kedua yang memberitahukan bahwa penerbangan diundur lagi menjadi pukul 22.15 WIB. Wah, semakin malam saja tiba di Jakarta nih, kata saya di dalam hati. Ini berarti telah terjadi keterlambatan hampir tiga jam. Sesuai peraturan Menteri Perhubungan, jika keterlambatan antara 90 menit sampai 180 menit maka penumpang mendapat konsumsi makan. Para penumpang dibagikan  makan malam berupa nasi dan ayam hgoreng fried chicken yang restorannya masih buka di Bandara malam itu.

Lewat jam 22.15 belum juga ada tanda pesawat datang. Akhirnya diumumkan lagi bahwa pesawat akan datang pukul 23.05, dan boarding dilakukan pukul 23.15 WIB.  Itu berarti delay sudah mencapai hampir 4 jam.  Semua penumpang dipanggil ke gate, lalu supervisor Citilink dengan ramah meminta maaf atas keterlambatan kedatangan pesawat. Sesuai Permenhub, jika delay 4 jam maka semua penumpang mendapat kompensasi uang 300 ribu. Supervisor Citilink tersebut membagikan voucher uang  senilai 300 ribu. Voucher dapat dicairkan di Bank Mandiri mana saja, begitu kata supervisor yang bertanggung jawab di bandara.

voucher-citilink

Voucher Citilink senilai Rp300.000


Keesokan harinya saya mencairkan voucher ini di Bank Mandiri. Memang uang 300 ribu tidak akan dapat mengganti kerugian waktu yang hilang selama 4 jam, tetapi ini masih lebih baik daripada tidak, dan anggap saja itu uang penghiburan :-).

Hmmm… dengan penumpang mencapai sekitar 180 orang, itu artinya maskapai ini harus mengeluarkan biaya kompensasi sedikitnya 180 x Rp300.000, sekitar Rp54 juta. Angka yang sangat besar, padahal tiket yang saya beli hanya sekitar 500 ribuan.  Bisa bangkrut tuh maskapai pesawat jika sering terlambat sampai 4 jam, he..he. Tapi begitulah seharusnya jika maskapai ingin melayani penumpang dengan baik. Konsumen adalah raja, maka jika penumpang dirugikan, maka maskapai harus menunjukkan tanggung jawabnya.

Dari pramugari di atas pesawat, saya mendapat informasi bahwa keterlambatan pesawat disebabkan oleh faktor cuaca. Pesawat yang saya gunakan ini sebelumnya datang dari Batam ke Jakarta. Keterlambatan satu pesawat akan merembet ke jadwal berikutnya, semacam efek domino. Jadi bukan karena traffic yang padat di Bandara Soeta seperti kata supervisor di atas, tetapi akibat faktor cuaca yang buruk sehingga pesawat menunda penerbangan dari bandara sebelumnya. Jadi, bagi kita para penumpang pesawat seharusnya bisa memahami bahwa delay adalah hal yang wajar saja. Lebih delay daripada nanti tidak selamat.

Bagi anda calon penumpang pesawat, anda harus tahu hak-hkl anda, dan maskapai harus tahu akan kewajibannya. Berikut kompensasi yang harus diberikan oleh maskapai karena delay (saya kutip dari sini).

Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan No. 25 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Angkutan Udara dan Peraturan Menteri Perhubungan No 77 Tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara, penumpang berhak mendapatkan kompensasi dari maskapai bila penerbangan mereka terlambat alias delay.

Nah apa saja kompensasi yang seharusnya diterima oleh penumpang bila penerbangan mengalami keterlambatan dari jadwal yang seharusnya?

Berdasarkan Pasal 36 Permenhub 25/2008:
a. keterlambatan lebih dari 30 menit sampai dengan 90 menit, perusahaan angkutan udara niaga berjadwal wajib memberikan minuman dan makanan ringan

b. keterlambatan lebih dari 90 menit sampai dengan 180 menit, perusahaan angkutan udara niaga berjadwal wajib memberikan minuman, makanan ringan, makan siang atau malam dan memindahkan penumpang ke penerbangan berikutnya atau ke perusahaan angkutan udara niaga berjadwal lainnya, apabila diminta oleh penumpang

c. keterlambatan lebih dari 180 menit, perusahaan angkutan udara niaga berjadwal wajib memberikan minuman, makanan ringan, makan slang atau malam dan apabila penumpang tersebut tidak dapat dipindahkan ke penerbangan berikutnya atau ke perusahaan angkutan udara niaga berjadwal lainnya, maka kepada penumpang tersebut wajib diberikan fasilitas akomodasi untuk dapat diangkut pada penerbangan hari berikutnya.

Sementara dalam Pasal 10 Permenhub 77/2011 diatur sebagai berikut:
a. keterlambatan lebih dari 4  jam diberikan ganti rugi sebesar Rp 300.000 per penumpang

b. diberikan ganti kerugian sebesar 50 persen dari ketentuan huruf a apabila pengangkut menawarkan tempat tujuan lain yang terdekat dengan tujuan penerbangan akhir penumpang (re-routing), dan pengangkut wajib menyediakan tiket penerbangan lanjutan atau menyediakan transportasi lain sampai ke tempat tujuan apabila tidak ada moda transportasi selain angkutan udara

c. dalam hal dialihkan kepada penerbangan berikutnya atau penerbangan milik Badan Usaha Niaga Berjadwal lain, penumpang dibebaskan dari biaya tambahan, termasuk peningkatan kelas pelayanan (up grading class) atau apabila terjadi penurunan kelas atau sub kelas pelayanan, maka terhadap penumpang wajib diberikan sisa uang kelebihan dari tiket yang dibeli.

Apakah semua keterlambatan mencapai 4 jam akan mendapat kompensasi sebesar 300 ribu rupiah? Sepertinya tidak juga. Tidak semua maskapai taat aturan Permenhub, termasuk Citilink sekalipun. Seorang teman di Facebook bercerita, penerbangannya dengan Citilink terlambat mencapai 4 jam di Bandara Halim Perdanakusumah, tetapi dia tidak mendapat voucher tersebut. Jawabannya mungkin bergantung pada apakah manajer/supervisor maskapai di bandara mengerti aturan Permenhub itu  atau tidak, atau pura-pura tidak tahu dengan segudang alasan.

Itu baru Citilink, yang dikenal punya reputas baik, mungkin karena ia adalah anak perusahaan Garuda. Bagaimana dengan maskapai lain yang sangat terkenal dengan pelayanan yang buruk (baca: kurang memuaskan) dan sering delay?  Anda p[asti sudah tahu maskapai ayang saya maksudkan. Sudah sering kita dengar penumpang yang mengamuk di bandara hingga menggebrak meja, memecahkan kaca, atau memukul petugas maskapai tersebut karena merasa ditelantarkan berjam-jam tanpa kejelasan, tanpa mendapat kompensasi yang sesuai aturan.

Apa yang dilakukan Citilink di atas seharusnya menjadi contoh bagi maskapai lain.

 

 


Written by rinaldimunir

December 18th, 2015 at 11:20 am

Posted in Pengalamanku

Masakan di Hotel Jarang Ada yang Enak

without comments

Saya cukup sering menginap di hotel atau mengikuti acara yang diadakan di hotel. Dari pengalaman menikmati masakan di hotel (sarapan atau jamuan makan siang), saya menyimpulkan masakan di hotel jarang sekali rasanya enak. Hambar dan kurang nendang, nggak mantap dimakan. Bumbunya mungkin hanya berbasis garam dan merica saja.

Coba saja anda lihat sepiring makan siang yang saya ambil pada jamuan makan pada acara konferensi internasional yang diadakan di sebuah hotel berbintang yang cukup ternama di Bandung. Hotel ini merupakan jaringan hotel internasional AS**N yang hotelnya ada di mana-mana. Tapi masakannya? Saya beri nilai 6 saja.

Masakan yang hambar di sebuah hotel berbintang

Masakan yang hambar di sebuah hotel berbintang

Menu masakannya berupa fillet ikan digoreng tepung, ayam kecil-kecil goreng tepung, sayur brokoli disiram saus salad, oseng-oseng daging sapi bumbu lada hitam, sambal saos botol. Sama sekali tidak berselera. Tapi karena saya sudah membayar cukup mahal untuk konferensi itu, ya dimakan saja seadanya.

Chef hotel perlu belajar pada tukang mansak di warung-warung kakilima yang ramai pembelinya, mengapa masakan di warung kakilima jauh lebih enak dan daripada masakan hotel. Apakah chef hotel tidak pernah belajar masakan tradisionil yang bikin kangen itu? Mengapa chef harus mengikuti menu dengan bumbu minimalis?

Dulu Pak Rhenald Kasali pernah membuat tulisan yang mirip dengan keluhan saya di atas, tapi tulisannya tentang nasi goreng di hotel. Baca deh tulisannya ini: Mengapa Tak Ada Nasi Goreng Enak di Hotel?. Memang benar sih, nasi goreng di hotel rasanya kalah jauh dengan nasi goreng masakan pedagang mie tek-tek. Nasi gorengnya saja sudah begitu, apalagi masakan untuk makan siang atau makan mala dengan bumbu yang minimalis. Menurut penilaian saya masakan di hotel mirip dengan masakan pada acara resepsi perkawinan, hambar dan tidak menggugah selera.

Memang tidak semua hotel masakannya kurang enak, ada juga beberapa hotel yang masakannya lumayan enak. Umumnya hotel yang berada di daerah dengan menu masakan tradisionil sesuai daerahnya. Tapi kalau masakan hotel di kota-kota besar seperti Jakarta atau Bandung, rasanya kurang menggugah selera.


Written by rinaldimunir

October 8th, 2015 at 4:02 pm

Posted in Pengalamanku

Masakan di Hotel Jarang Ada yang Enak

without comments

Saya cukup sering menginap di hotel atau mengikuti acara yang diadakan di hotel. Dari pengalaman menikmati masakan di hotel (sarapan atau jamuan makan siang), saya menyimpulkan masakan di hotel jarang sekali rasanya enak. Hambar dan kurang nendang, nggak mantap dimakan. Bumbunya mungkin hanya berbasis garam dan merica saja.

Coba saja anda lihat sepiring makan siang yang saya ambil pada jamuan makan pada acara konferensi internasional yang diadakan di sebuah hotel berbintang yang cukup ternama di Bandung. Hotel ini merupakan jaringan hotel internasional AS**N yang hotelnya ada di mana-mana. Tapi masakannya? Saya beri nilai 6 saja.

Masakan yang hambar di sebuah hotel berbintang

Masakan yang hambar di sebuah hotel berbintang

Menu masakannya berupa fillet ikan digoreng tepung, ayam kecil-kecil goreng tepung, sayur brokoli disiram saus salad, oseng-oseng daging sapi bumbu lada hitam, sambal saos botol. Sama sekali tidak berselera. Tapi karena saya sudah membayar cukup mahal untuk konferensi itu, ya dimakan saja seadanya.

Chef hotel perlu belajar pada tukang mansak di warung-warung kakilima yang ramai pembelinya, mengapa masakan di warung kakilima jauh lebih enak dan daripada masakan hotel. Apakah chef hotel tidak pernah belajar masakan tradisionil yang bikin kangen itu? Mengapa chef harus mengikuti menu dengan bumbu minimalis?

Dulu Pak Rhenald Kasali pernah membuat tulisan yang mirip dengan keluhan saya di atas, tapi tulisannya tentang nasi goreng di hotel. Baca deh tulisannya ini: Mengapa Tak Ada Nasi Goreng Enak di Hotel?. Memang benar sih, nasi goreng di hotel rasanya kalah jauh dengan nasi goreng masakan pedagang mie tek-tek. Nasi gorengnya saja sudah begitu, apalagi masakan untuk makan siang atau makan malam dengan bumbu yang minimalis. Menurut penilaian saya masakan di hotel mirip dengan masakan pada acara resepsi perkawinan, hambar dan tidak menggugah selera.

Memang tidak semua hotel masakannya kurang enak, ada juga beberapa hotel yang masakannya lumayan enak. Umumnya hotel yang berada di daerah dengan menu masakan tradisionil sesuai daerahnya. Tapi kalau masakan hotel di kota-kota besar seperti Jakarta atau Bandung, rasanya kurang menggugah selera.


Written by rinaldimunir

October 8th, 2015 at 4:02 pm

Posted in Pengalamanku

Seberapa Mahal Tarif Dokter Gigi?

without comments

Jika berobat ke dokter gigi, saya pasti membawa uang lebih banyak daripada mengunjungi dokter umum atau dokter spesialis. Tahu sendiri kan, tarif dokter gigi terkenal mahal. Mungkin zat/obatnya yang mahal atau alatnya yang mahal, tak tahulah mana yang lebih dulu, atau dua-duanya?

Kalau mau ongkos yang agak murah bisa saja saya pergi ke Puskesmas atau ke klinik medika kampus, atau ada yang menyarankan ke klinik dokter koas (calon dokter gigi) dekat kamus Unpad. Tapi karena ini sudah sore/malam hari maka tidak ada pilihan lain kecuali ke klinik dokter swasta. Puskesmas dan medika kampus sudah tutup.

Ceritanya begini, suatu sore menjelang malam saya membawa anak saya yang giginya berlubang ke klinik dokter swasta di kompleks perumahan. Sebelumnya sama dokter ini juga sih, dan sekarang disuruh datang lagi untuk memeriksa gigi lain yang disinyalir pada pemeriksaan terdahulu sudah berlubang. Saya sudah tahu tarifnya lebih mahal daripada tarif dokter gigi yang lain, tetapi karena sudah kadung sama dokter ini sebelumnya, maka dilanjutkan saja.

Dokter bilang bahwa di satu gigi anak saya ada tiga lubang, lalu di gigi lain satu lubang. Jadi ada empat lubang, dan dia menyarankan untuk ditambal. Langsung saya iyakan saja. Kesalahan saya adalah tidak menanyakan berapa ongkos semuanya, dan kesalahan dokter adalah tidak menyebutkan berapa ongkosnya sebelum minta persetujuan orangtua.

Tidak lama proses menambal lubang di dua gigi tersebut, hanya sekitar 20 menit sudah selesai. Setelah beres, saya tanya berapa (ongkosnya)?

“Sembilan ratus ribu”, jawab dokter itu tenang.

Ha? Saya nyaris tidak percaya, saya tanya lagi mungkin saya salah dengar. Jawabannya sama. Saya minta penjelasannya kenapa besar sekali.

“Semua ada empat lubang, pak, satu lubang tarifnya Rp225.000”, jelasnya tanpa rasa “bersalah”.

Saya tidak enak berdebat lama-lama. Saya tidak membawa uang sebanyak itu, tidak menyangka ongkosnya hampir mencapai sampai satu juta rupiah. Setengah berlari saya menuju ke ATM terdekat untuk mengambil uang tunai sambil tetap tidak percaya kok semahal itu. Biasanya tarif pengobatan gigi kan dihitung per gigi, jadi satu gigi ongkosnya sudah jelas. Ini yang ditambal dua gigi tapi tarifnya bujubune. Memang di satu gigi ada tiga lubang dan di gigi lain satu lubang. Jadi, si dokter menghitung tarifnya berdasarkan jumlah lubang, bukan jumlah gigi yang ditambal.

Bagi saya yang PNS ongkos sebesar itu jelas tidak sedikit. Mahal pisan. Saya menyerahkan uang tersebut agak kurang ikhlas, agak keberatan gitu, tapi enggan mau protes lagi. Cepat-cepat saya keluar. Kata-kata si dokter untuk kontrol lagi minggu depan tidak saya gubris, sudah terlanjur mangkel, lebih baik cari dokter gigi yang lain saja nanti.

Dokter gigi memang suka-sukanya mereka menetapkan tarif. Tidak ada standardnya. Mungkin biaya kuliah kedokteran gigi yang mahal membuat dokter gigi ingin cepat “balik modal” dengan menetapkan tarif sesuka hati? Entahlah.

Mungkin benar juga mahal murah itu relatif bagi setiap orang. Di Jakarta seorang teman bilang ada dokter gigi yang tarif prakteknya satu juta per gigi, tetapi tetap saja banyak pasiennya. Mungkin faktor kepuasan kali, sehingga mereka tidak mempermasalahkan tarif yang semahal itu.

Namun bagi saya yang gajinya tidak besar, tetap saja ongkos periksa gigi yang barusan terasa sangat mahal. Untung sekarang ada BPJS sehingga nanti kapan-kapan saya pakai BPJS saja. Tapi, apa klinik dokter swasta mau menerima BPJS? Entahlah.


Written by rinaldimunir

September 8th, 2015 at 9:48 am

Posted in Pengalamanku

Hikmah Air Ledeng “Ngocor” pada Dini Hari

without comments

Kalau air ledeng di rumah anda mati karena pompa rusak atau saluran PDAM di rumah ngadat, bagaimana sikap anda? Tentu anda kesal dan uring-uringan, bukan? Satu keluarga butuh air untuk mandi, BAB, mencuci, dan sebagainya, lalu ketika air di rumah tidak mengalir semua menjadi repot. Alternatifnya adalah meminta air ke rumah tetangga, atau menunggu pedagang air yang menjual air pakai jerigen lewat. Tetapi, tentu cara ini tidak bisa terus diandalkan. Malu juga jika setiap hari minta air ke rumah tetangga.

Satu hari air ledeng tidak mengalir masih bisa menahan diri, tetapi dua hari atau tiga hari tentu hilang kesabaran. Ini beda sekali jika sehari tidak menggunakan ponsel atau menggunakan internet. Sehari, sebulan, atau bahkan bertahun-tahun tidak menggunakan ponsel atau internet kita toh masih bisa hidup. Sehari tidak chatting atauk ber-sosmed kita masih bisa haha-hihi. Lihatlah para petani di desa-desa, mereka tetap nyaman meskipun tidak pernah memakai ponsel atau mengakses internet. Tetapi, kalau air tidak ada, kita bisa mati.

Itu pula yang pernah saya alami ketika air di rumah tidak ngocor. Pusing deh tujuh keliling. Kalau hanya saya sendiri yang merasakan tentu tidak masalah, saya bisa mandi di kantor atau numpang di masjid, tetapi kalau anak-anak tentu tidak bisa demikian. Menurut saya air adalah kebutuhan paling vital di rumah. Ketika saya dulu membeli rumah (rumah seken sih), hal pertama yang saya tanyakan adalah kondisi sumber airnya. Air tanahkah atau air ledeng? Jika air ledeng, apakah air ledengnya lancar? Kalau kondisi sumber air tidak memuaskan, maka rumah tersebut saya buang dari daftar peminatan. Apa jadinya punya tetapi airnya susah.

Dulu ketika saya membeli rumah di Antapani Bandung pada tahun 2005, air ledeng di rumah mengalir cukup lancar. Air hanya mati dari jam 8 pagi hingga jam 12 siang, setelah itu pasokan air ledeng lancar siang malam. Saya tidak pernah kekurangan air, padahal di jalan sebelah -masih dalam satu RT- air ledengnya tidak selancar saya, hanya ngocor pada waktu lewat tengah malam. Tetapi saat ini saya tidak bisa lagi menikmati air ledeng melimpah siang malam seperti dulu. Kawasan Antapani sudah berkembang luar biasa, kompleks perumahan baru bermunculan di mana-mana. Sudah habis tanah di sana, sawah-sawah sudah tidak ada bersisa, bahkan balong pun diuruk menjadi kompleks perumahan.

Bertambahnya perumahan baru berarti bertambah permintaan sambungan baru air PDAM. Alhasil, air ledeng harus dibagi-bagi ke perumahan baru tersebut. Dampaknya sudah terasa, pasokan air ledeng ke rumah sudah tidak selancar dulu lagi. Biasanya dulu jam 12 siang air sudah mengalir, sekarang air baru ngocor lewat jam 12 malam. Saya bangun jam 3 pagi, menyalakan pompa dari pipa PDAM, mengisi toren air selama satu jam lebih, dan mengisi bak mandi penuh-penuh.

Namun ada hikmahnya air ledeng ngocor pada waktu dinihari. Saya jadi punya kesempatan untuk sholat malam (tahajud) setiap malam. Sambil menunggu air di toren penuh, saya bisa menunaikan sholat tahajud pada keheningan malam. Dibalik kesempitan ternyata ada kelapangan. Alhamdulillah.


Written by rinaldimunir

March 12th, 2015 at 12:15 pm