if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Pengalamanku’ Category

Tidur Siang Sejenak di Kampus

without comments

Setelah jam 14.00 siang biasanya mata saya lelah setelah cukup lama berada di depan komputer atau mengajar. Selain lelah mata, juga lelah otak. Kalau sudah begitu, biasanya saya pergi menuju ruang rapat yang sepi, lalu menyusun kursi-kursi berjejer. Selanjutnya saya merebahkan badan di atas jejeran kursi itu, meletakkan ponsel dan kacamata di atas kursi di depan saya, lalu tiduranlah saya sekitar setengah jam hingga satu jam. Lumayan segar lagi setelah bangun. Otak dan matapun punya hak untuk istirahat.

Rupanya tidur siang adalah sunnah yang dianjurkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda (sumber dari sini dan ini):

Qailulah-lah (istirahat sianglah) kalian, sesungguhnya setan-setan itu tidak pernah istirahat siang.” (HR. Abu Nu’aim)

Keberkahan tidur siang sejenak juga disebutkan di dalam Al-Quran:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” (Ar-Ruum :23)

Jadi, tidur siang itu sunnah. Tidur siang yang dilarang adalah tidur setelah sholat Subuh dan setelah Sholat Ashar.

Tidur sejenak siang hari memiliki manfaat, antara lain membuat pikiran segar kembali untuk beraktivitas berikutnya. Saya pernah membaca sebuah artikel tentang kebiasaan orang Italia dan Spanyol tidur siang. Lepas tengah hari mereka menutup pintu-pintu tokonya untuk tidur siang. Satu jam setelah tidur mereka membuka tokonya kembali.

Beberapa kantor perusahaan IT modern seperti Google menyediakan dipan untuk tidur siang. Karyawannya bisa relax sejenak sejenak dari aktivitas coding. Kantor Bukalapak di Bandung pun menyediakan ruangan tidur lengkap dengan dipannya.

Jadi, tidak salah juga saya tidur sejenak di kantor saat setelah lepas Dhuhur. Kalau saya agak cape, atau kepala berat dan pusing, saya pergi ke ruang rapat itu. Tidak ada kasur, kursi-kursipun jadilah. Tidur dulu ah…..

Written by rinaldimunir

February 18th, 2019 at 4:37 pm

Posted in Agama,Pengalamanku

Kebiasaanku Bila Bepergian

without comments

Saya punya beberapa kebiasaan jika bepergian ke luar kota.  Kebiasaan ini saya lakukan adalah hasil lesson learned dari kejadian apes  yang dialami orang kain, Agar kejadian yang sama tidak menimpa saya, maka saya selalu mengamalkan tiga kebiasaan di bawah ini.

Kebiasaan 1.

Kebiasaan saya kalau pergi ke luar kota adalah selalu meninggalkan SIM, STNK, dll di rumah. Saya cukup membawa KTP dan beberapa ATM. Ini untuk mengantisipasi kalau dompet hilang maka tidak seluruh kartu penting hilang.

Sabtu kemarin ketika pergi tugas mengajar ke Lampung saya tinggalkan lagi SIM dan STNK di rumah. Tapi hari Senin saya lupa memasukkannya ke dalam dompet. Alhasil, ketika bawa motor saya baru sadar ketinggalan di rumah. Sudah tangung mau balik lagi ke rumah. Sudah setengah perjalanan. Saya khawatir saja ada polisi yang razia. Jadilah saya celingak-celinguk dan waspada. Lewat jalan alternatif yang tidak ada polisinya. Nakal.

Ketika pulang kantor kekhawatiran yang sama kena razia terulang lagi. Tapi alhamdulilah tidak ada. Polisinya sibuk mengatur kemacetan saat jam pulang kerja.

Sekarang kalau pergi ke luar kota lagi saya harus pasang alarm di HP: ingat, SIM dan STNK di lemari!!! Alarm itu akan berbunyi pada hari Senin pagi.

Kebiasaan 2

Selain meninggalkan SIM dan STNK di rumah, saya juga punya kebiasaan memasukkan dua kartu ATM di dalam tas ransel setiap pergi ke luar kota (saya backpackeran). Saya punya tiga kartu ATM dari tiga bank berbeda: BNI, Muamalat, dan BSM. BNI buat penampungan gaji PNS, Muamalat dan BSM buat masa depan .

Nah, kartu ATM dan Muamalat saya selipkan di dalam tas ransel. Kartu BNI di dalam dompet. Jadi, jika dompet saya hilang atau ketinggalan, saya tidak panik kehabisaan uang buat makan atau beli tiket bus. Masih ada dua kartu ATM di dalam tas ransel. Bayangkan jika kita berada pada situasi dimana tidak kenal seorang pun di sebuah tempat, kemana mau minta uang? Oh ya, saya juga menyelipkan dua atau tiga lembar uang 10.000-an di dalam tas.

Kebiasaan ini saya lakukan berkaca dari pengalaman seorang teman, rekan saya, yang ketinggalan dompet di tempat penginapan. Dia sudah sampai di bandara tujuan, tetapi mau pulang ke rumah tidak punya uang. Setelah dia bongkar semua sudut di dalam tas ranselnya, alhamdulillah nyelip uang 3000.  Dia akhirnya bisa pulang ke rumah naik angkot.  Dia mengatakan sering memasukkan uang receh ke dalam tasnya, siapa tahu nanti diperlukan saat dibutuhkan. Ternyata memang sangat dibutuhkan saat terjepit seperti itu.

Sebuah peribahasa mengatakan jangan simpan semua telur di dalam satu keranjang. Jatuh keranjang, pecah semua telur. Simpanlah telur di dalam beberapa keranjang.

Kebiasaan 3

Kalau berada di bandara lalu KTP ketinggalan atau hilang, bagaimana? Tentuk kita akan kesulitan melakukan check-in, apalagi SIM juga sudah disimpan di rumah.

Kalau berada diluar negeri lalu paspor hilang, bagaimana? Tidak kita tidak bisa melewati imigrasi. Kepulangan tertunda, harus lapor dulu ke Kedubes.

Saya selalu memfoto semua identitas dan kartu penting: KTP, paspor, kartu NPWP, bahkan halaman pertama buku tabungan. Semua foto ada di dalam memori hp. Bukan apa-apa, jaga-jaga saja kalau ada apa-apa. Memang foto KTP atau paspor tidak bisa dijadikan bukti identitas diri di bandara, tetapi sering berguna jika dianggap “pendatang haram” atau orang tidak jelas. Tunjukkan saja foto identitas tersebut bersama tiket pesawat.

Namun ada sisi praktisnya punya foto identitas penting tersebut. Seringkali pihak pengundang meminta foto kartu NPWP, halaman pertama buku tabungan, dan KTP. Buat bukti potongan pajak katanya. Atau minta foto paspor. Buat dibelikan tiket, katanya. Nah, kita kan tidak selalu bawa paspor , NPWP, buku tabungan. Tapi karena fotonya ada di hp, tinggal kirim saja pakai WA atau email via hp. Tidak repot buka laci lemari mencari dan memfotonya lagi.

Dengan teknologi internet yang sangat mudah saat ini, kita pun dapat menyimpan foto-foto itu secara otomatis di private cloud., misalnya di  onedrive atau dropbox. Kita pun dapat mensinkronkan ponsel dengan Google Photo sehingga setiap kali memotret foto langsung terunggah ke onedrive.

Written by rinaldimunir

February 7th, 2019 at 7:10 am

Posted in Pengalamanku

Punya SIM Lagi Setelah Hangus

without comments

Selama dua tahun saya mengendarai motor dengan SIM C yang sudah hangus. Mati. Penyebabnya adalah saya lupa memperpanjang SIM. Masa berlaku SIM adalah lima tahun, dan tanggal kadaluarsanya sesuai dengan tanggal lahir kita. Nah, masalahnya saya tidak menyadari kalau SIM saya harus diperpanjang sebelum tanggal kadaluarsanya habis. Lupa, benar-benar lupa. Saya kira masih satu tahun lagi kadaluarsanya. Sekarang kepolisian tidak memberi maaf, lewat satu hari dari tanggal kadaluarsa maka SIM kita hangus. Kita harus daftar ulang untuk membuat SIM baru dari awal lagi, harus tes drive lagi, harus ujian teori lagi.

Saya tidak masalah dalam ujian teori, tetapi tes drive itu yang bikin deg-degan. Kenapa deg-degan, sebab jika gagal melewati salah satu tes drive, misalnya kaki menginjak tanah saat melewati lintasan angka 8, maka tes drive gagal. Jika gagal, kita harus mengulang lagi minggu depannya. Jika gagal lagi, maka datang lagi minggu depan, begitu seterusnya sampai berhasil. Tes melewati angka 8 itu yang paling sulit. Tidak masuk akal memang, mana ada dalam kehidupan sehari-hari kita melewati jalur sempit angka 8. Tetapi, karena tesnya demikian maka ya dijalani saja.

Jarang ada peserta yang lolos tes drive satu kali. Beberapa orang yang pernah mengikuti tes drive menceritakan mereka sampai empat hingga enam kali mengulang baru berhasil lolos tes drive. Itu berarti empat minggu hingga enam minggu harus datang ke kantor polisi. Padahal, untuk mengikuti tes drive ini kita harus antri menunggu giliran. Orang yang mengantri juga banyak. Kita perlu menyediakan waktu setengah hari untuk mengikuti tes drive ini. Tentu kita harus mengorbankan waktu kerja. Kalau berulang-ulang mengikuti tes drive ya rugi waktu juga dan buang-buang tenaga.

Tahun 2016, saya mengamati ujian tes drive di Polrestabes Bandung.

Salah satu tes yang paling sulit adalah melintasi jalur angka 8. Banyak peserta yag gagal.

Orang-orang yang tidak mau bersusah payah mengikuti ujian praktek SIM yang berulang-ulang biasanya mengatakan begini: “Sudahlah, ambil SIM tembak saja, beres!”.  SIM tembak? Ah, saya tidak mau. SIM tembak artinya sama saja memberi suap kepada oknum polisi. Pungli. Tidak mendidik, dan yang jelas dosa memberi suap maupun menerima suap. SIM tembak itu tidak prosedural, jalur pintas, lewat jalan belakang. Membuat SIM tembak artinya melalui oknum polisi, kita tidak perlu ikut tes drive atau ujian teori. Pokoknya tinggal beres. Tapi harganya mahal, ada yang bilang 750 ribu, ada yang bilang 800 ribu. Uang itu entah dibagi buat siapa saja. Saya tidak tahu apakah sekarang masih ada praktek SIM tembak itu, karena kepolisian saat ini sudah berbenah dan lebih disiplin menegakkan aturan.

Karena “takut” gagal mengikuti tes  drive, maka selama dua tahun saya membawa motor dengan SIM yang sudah mati.  Nakal saya ini, melanggar aturan. Benar-benar nekat. Saya terpaksa kucing-kucingan supaya tidak bertemu polisi. Ketika melewati suatu jalan, saya harus waspada apakah ada razia. Jika ada, maka saya harus mencari jalan lain. Dua kali saya pernah apes, kena tilang saat ada razia. Tentu saya kena denda atau ikut pengadilan tilang. Namun, saya tidak mau membayar uang damai kepada polisi yang menawarkan dielesaikan di jalan saja.  Tidak. Saya meminta slip tilang berwarna biru, lalu saya membayar denda tilang di Bank BRI (baca: Kena Tilang (lagi), Slip Biru, dan Anti-korupsi).

Namun, perasaan saya tidak tenang setiap kali membawa motor dengan SIM yang sudah mati. Saya merasa bersalah. Namun, saya juga punya perasaan khawatir gagal melewati tes drive. Saya itu orangnya suka gugup jika menjalankan sebuah hal yang baru (curhat nih).  Untuk menghilangkan rasa bersalah, maka saya putuskan saya harus ikut ujian SIM. Harus, tidak bisa saya tunda-tunda lagi. Tapi bagaimana cara bisa lulus tes drive yang sulit itu?

Seminggu sebelum ikut ujian SIM, saya mengikuti pelatihan tes drive di belakang Lotte Jalan Soekarno-Hatta. Saya baru tahu ternyata ada lembaga pelatihan tes drive, baik untuk motor maupun mobil. Lumayan mahal biayanya, 500 ribu. Di sana saya dilatih sampai bisa (lulus) mengikuti tes drive yang sama persis dengan tes drive di kantor polisi. Memang sulit tes drive ini, beberapa kali saya melanggar plang, beberapa kali kaki terpaksa jatuh ke tanah karena tidak seimbang. Yang sangat sulit itu melewati angka 8 dan zig-zag (slalom test). Tetapi pembimbing di sana melatih terus dan memberikan trik dan tips. Akhirnya setelah beberapa kali dicoba akhirnya bisa juga, dan alhamdulillah lulus. Butuh waktu empat jam berlatih tes drive berkali-kali, sebelum akhirnya saya lulus.  Fiuh… Saya pun mendapat sertifikat lulus tes drive.

Sertifikat telah lulus ujian mengemudi

Ketika mendaftar pembuatan SIM di kantor polisi, sertifikat ini saya bawa saat pendaftaran dan dilampirkan pada formulir. Saya perhatikan hampir semua pemohon SIM (baik SIM A maupun SIM C) saya lihat membawa sertifikat lulus mengemudi.

Setiap pemohon SIM hampir semuanya membawa map yang berisi sertifikat lolos tes drive.

Prosedur pembuatan SIM tetap harus dilalui peserta sebanyak 7 loket. Loket satu sampai loket 7.  Tetap antri di loket manapun. Tetap harus ikut tes teori secara daring di depan komputer.

Tes teori

Serius mengikuti ujian teori

Ada 30 soal, soal-soal ujian umumnya tentang tertib berlalu lintas. Peserta ujian harus menjawab benar 21 soal dari 30 soal. Jika kurang dari 21, maka tidak lulus. Peserta yang tidak lulus ujian teori masuk ke ruang simulator. Di sana Pak Polisi menjelaskan cara tertib berlalu lintas kepada peserta yang tidak lulus ujian teori.

Loket simulator

Masuk ke ruang simulator bagi yang tidak lulus ujian teori.

Akhirnya, tibalah di loket 6, yaitu loket untuk tes drive. Ketika tiba di loket 6, ternyata peserta yang membawa sertifikat tidak dipanggil untuk mengikuti tes drive. Makanya saya tidak heran kenapa arena tes drive di luarnya sepi. Ya, karena pemohon SIM sudah lulus tes drive di tempat pelatihan sehingga tidak diuji lagi.  Apakah ini kebijakan baru di kantor polisi, saya tidak tahu. Hmmm…saya masih bertanya-tanya apakah data hasil kelulusan tes drive di tempat pelatihan tersambung secara online ke kantor polisi? Wallahu alam.

Arena tes drive yang sepi.

Dari loket 6 saya langsung langsung ke loket 7 (loket BRI) untuk pembayaran biaya SIM sebesar 100 ribu (untuk SIM A besarnya 120 ribu). Dan akhirnya SIM baru bisa diambil di ruang sebelahnya. Proses pembuatan SIM ini hanya memakan waktu 2 sampai 3 jam saja, kecuali jika jaringan tiba-tiba mati (offline) seperti hari ini. Sangat mudah membuat SIM sekarang ini. Kepolisian saat ini telah berevolusi menjadi lebih mangkus dan sangkil. Lebih ramah melayani, dan no tips.

Alhamdulillah, sekarang saya sudah memiliki SIM yang baru. Saya jadi tenang membawa motor, tidak takut razia lagi. Saya juga senang karena lulus godaan membuat SIM tembak atau lewat  calo. Saya akui memang saya mengeluarkan biaya tambahan sebesar 500 ribu untuk ikut pelatihan tes mengemudi sehingga biaya membuat SIM menjadi 600 ribu, tidak jauh beda dengan biaya SIM tembak. Tidak masalah. Saya tidak mempersoalkan  biaya tambahan 500 ribu itu, tetapi saya telah menghemat waktu karena tidak ikut tes drive berminggu-minggu di kantor polisi. Uang bisa dicari lagi, tetapi waktu sangat berharga untuk dibuang. Dan yang paling penting, saya telah mengikuti semua ujian SIM secara prosedural, tidak lewat calo atau pakai perantara.

Ayo bikin SIM sendiri tanpa nembak, tanpa calo, dan tanpa pakai biro jasa. Mudah kok dan cepat.

Written by rinaldimunir

January 25th, 2019 at 3:58 pm

Posted in Pengalamanku

Pengalaman Minum Obat Tidur

without comments

Mungkin ini salah satu pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan, yaitu pernah mengkonsumsi obat tidur!  Seumur hidup inilah pertama kali saya mengkonsumsi obat semacam ini.

Jadi ceritanya begini. Seusai lebaran kemaren, saya pernah dua hari dua malam tidak bisa tidur. Mata tidak bisa dipejamkan  sepicingpun. Sudah bolak-balik badan saya di atas kasur, tapi mata tetap melek. Sudah beberapa doa dan surat di dalam Al-Quran saya baca tetapi tetap tidak bisa tidur juga. Sampai adzan subuh berkumandang saya belum berhasil tidur.  Istilah ilmiahnya saya mengalami insomnia.

Efeknya terasa pada siang hari. Badan saya kleyeng-kleyengan kata orang Jawa, tidak nyaman, pusing, tidak bisa konsentrasi.  Badan terasa lelah. Mata terasa sangat berat tetapi tidak ada rasa mengantuk. Tidak enaklah pokoknya.

Dua hari tidak bisa tidur, maka saya tidak ingin pada hari ketiga juga tidak bisa tidur. Lalu, saya pun mengunjungi dokter umum. Dokter mengatakan saya mungkin mengalami stres atau banyak pikiran sehingga tidak bisa tidur. Banyak pikiran? Mungkin juga. Menjelang keberangkatan haji, seperti yang saya ceritakan pada tulisan sebelumnya, saya memang sering kepikiran. Kepikiran anak sulung, kepikiran segala macam. Meskipun kepikiran itu hanya selintas-selintas saja melayang di dalam otak, tetapi terbawa ke tempat tidur. Akibatnya ya begini, saya tidak bisa tidur sepicingpun. Insomnia!

Saya minta solusinya kepada dokter. Saya ingin tidur barang sejam dua jam tak apalah. Dokter memberi saya lima butir obat namanya Alganax. Dari internet saya ketahui kalau Alganax adalah sejenis obat penenang yang memberi efek mengantuk. Semacam valium lah. Obat ini diminum satu butir setelah makan malam. Dosis obat yang diberikan adalah 0.5 mg.

Malam harinya saya minum satu butir Alganax. Beberapa jam kemudian saya merasa mengantuk berat. Akhirnya saya benar-benar bisa tertidur pulas sampai adzan Subuh. Keesokan harinya badan saya merasa segar kembali.

Pada malam kedua saya minum satu butir lagi. Saya memang bisa tidur seperti pada hari sebelumnya.

Tetapi, pada hari ketiga, saya tidak mau meminum lagi. Saya tidak ingin tergantung pada obat tidur ini. Dua butir saja cukup, sisanya tidak mau saya habiskan.  Pada dasarnya semua obat penenang memberi efek kecanduan, yang jika dikonsumsi dalam jangka waktu lama bisa membuat penggunanya seperti pecandu narkoba: harus tersedia, jika tidak ada maka diri akan merasa gelisah, badan tidak enak, dan sebagainya.

Pada hari ketiga dan keempat setelah saya tidak mau minum obat tidur itu lagi, memang mata sulit dipejamkan. Saya mencoba berbagai tips agar bisa tidur, misalnya kamar dibuat dalam keadaan gelap gulita, tidak boleh ada cahaya sedikitpun. Semua jam yang berbunyi saya turunkan,  minum susu hangat, madu, bahkan mandi air hangat. Setelah berjuang berjam-jam untuk tidur, memang saya bisa tidur sebentar tapi terbangun lagi. Setelah terbangun saya tidak bisa tidur lagi. Intinya saya tidak bisa tidur lelap. Kejadian ini berlangsung selama beberapa hari yang membuat badan saya drop. Tetapi, demi tidak mau minum obat tidur lagi, hal ini harus dilalui supaya efek ketergantungan itu hilang.

Saya berkesimpulan bahwa penyebab insomnia ini yang harus diatasi terlebih dahulu, bukan solusinya dengan obat.  Obat tidur atau obat penenang hanya memberi ketenangan yang semu. Efek mengantuknya tidak alami, tetapi karena dirangsang oleh zat kimia dari obat. Kalau memang saya tidak bisa tidur karena banyak pikiran menjelang berangkat haji, maka masalah inilah yang harus diselesaikan.  Lalu, saya bermunajat kepada Allah SWT, saya memasrahkan diri saya kepada-Nya, ikhlas lahir batin. Semua saya serahkan kepada Allah, baik keluarga saya, anak saya, maupun harta benda saya. Saya minta diampuni semua dosa dan kesalahan saya.

Pada hari kelima dan seterusnya saya bisa juga tidur, tetapi setelah larut malam baru mata bisa terpejam. Tak apalah, daripada tidak bisa tidur sama sekali. Dua jam pun cukup.

Sekarang saya sudah bisa tidur lagi. Sebagai pengganti obat tidur dari dokter, saya menggunakan beberapa herbal. Saya pesan teh Chammomile lewat Tokopedia. Saya coba minum larutan serbuk buah pala dicampur madu. Saya juga minum suplemen. Alhamdulillah, saya berhasil  tidur lama dan badan saya mulai merasa segar kembali.

Written by rinaldimunir

July 6th, 2018 at 4:50 pm

Posted in Pengalamanku

Rindu dengan Rasulullah

without comments

Insya Allah tinggal dua minggu lagi saya akan berangkat menunaikan haji ke Tanah Suci. Berbagai perasaan tentu telah berkecamuk di dalam hati saya menjelang keberangkatan. Antara bahagia, sedih, dan gembira. Bahagia karena saya akan menjadi tamu Allah SWT di Rumah-Nya di Baitulah. Gembira karena saya akan bertemu kembali dengan Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan saya akan berada di samping Rasulullah meskipun hanya maqamnya saja. Sedih karena harus meninggalkan keluarga, terutama anak dan istri yang saya sayangi. Tetapi, saya telah memasrahkan diri kepada Allah SWT  sepenuh hati lahir dan batin agar perjalanan haji ini dilancarkan dan berharap mendapat haji yang mabrur.

Meskipun saya telah pernah pergi ke Tanah Suci untuk melaksanakan Umrah tahun 2015, namun haji adalah puncak dari Rukun Islam. Haji itu adalah wukuf di Arafah, demikian kata Rasulullah, maka haji tanpa wukuf di Arah adalah tidak sah. Umrah yang saya lakukan hanya sebatas Thawaf dan Sa’i, maka itu bukanlah ibadah haji.

Orang yang pernah pergi ke Tanah Suci Makkah dan Madinah, baik untuk berumrah maupun berbadah haji, maka di dalam dirinya selalu muncul keinginan untuk kembali dan kembali lagi ke Tanah Suci. Tanah Suci Makkah dan Madinah adalah dua tempat yang selalu dirindukan untuk didatangi lagi, berkali-kali jika ada kesempatan (waktu dan biaya). Tidak heran banyak orang umrah berkali-kali meskipun tidak wajib, tetapi perasaan rindu itu telah mengikat batin untuk datang berkali-kali ke sana.

Sebuah tempat yang saya rindukan untuk selalu berada di sisinya adalah maqam Rasulullah. Maqam Rasulullah terdapat di dalam Masjid Nabawi di Madinah. Saya pernah duduk di samping maqam Rasulullah, Nabi Muhammad SAW, ketika umrah tiga tahun lalu. Kisah ini saya ceritkan dalam tulisan berjudul Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 3): Di dalam Masjid Nabawi. Saya duduk di area Raudhah. Raudhah adalah tempat yang terletak di antara rumah Nabi dan mimbar Nabi. Seperti diketahui, Nabi dimakamkan di dalam rumahnya, dan rumahnya kini sudah menyatu di dalam Masjid Nabawi.

DSC_0511

Jamaah menyesaki Raudhah. Di kejauhan tampak maqam Nabi yang berawarna hijau

Kadang-kadang saya duduk persis di sebelah maqam Nabi. Tidak terbayangkan oleh saya bisa berada sedekat itu dengan Rasulullah meskipun hanya duduk di samping jasadnya yang sudah berada di dalam tanah. Saya bayangkan dulu Nabi bolak-balik pergi melewati tempat saya duduk dari rumahnya menuju mimbar di dalam masjid, dan sekarang saya hanya bisa mengenangnya. Shalawat dan salam ya Rasulullah.

DSC_0525

Maqam Rasulullah di dalam Masjid Nabawi, dahulu adalah rumahnya. Maqam ini ditutup dengan pintu besi berwarna hijau dan menyisakan beberapa lubang untuk melihat ke dalamnya.

Sungguh saya tidak percaya, sedekat itu saya berada di samping Rasulullah, meskipun terpisah oleh waktu selama ribuan tahun. Tetapi saya saat itu duduk di dekatnya. Rasulullah Muhammad SAW, lelaki yang agung yang dicintai oleh ratusan juta ummat Islam di seluruh dunia. Namanya selalu diucapkan setiap hari, seluruh ummat mendambakan syafaatnya pada Hari Akhir nanti.

Ketika saya mendengarkan lagu dari penyanyi Maher Zain yang berjudul Ya Nabi Salam Alaika, tiba-tiba saja kerinduan saya kepada Rasulullah membuncah demikian hebatnya. Tidak terasa mata saya terasa basah, membayangkan lelaki yang telah membawa ummat manusia ke jalan keselamatan.

Lirik lagu Ya Nabi Salam Alaika:

Anta nurullahi fajran
Ji’ta ba’dal usri yusran
Rabbuna ‘alaka qadran
Ya imamal anbiya’i

Anta fil wujdani hayyun
Anta lil ainaini dhoyyun
Anta indal haudhiriyyun
Anta hadun wa shafiyyun
Ya habibi ya Muhammad

Ya nabi salam alaika
Ya rassul salam alaika
Ya habib salam alaika
Shalawatullah alaika

Yartawi bil hubbi qalbi
Hubbi khairi rusli Rabbi
Man bihi abshortu darbi
Ya syafi’i ya Rasulallah

Ayyuhal mukhtaru fina
Zadanal hubbu haniina
Ji’tana bil khairidiina
Ya khitamal mursalina
Ya habibi ya Muhammad

Ya Nabi salam alaika
Ya Rasul salam alaika
Ya Habib salam alaika
Shalawatullah alaika

 

Terjemahan:

Engkaulah cahaya pada waktu fajar
Engkau datang setelah kesulitan (dan menjadikannya) kemudahan
Tuhan kami telah mengangkat derajat atasmu
Wahai pemimpin para nabi

Engkau berada di dalam hati nurani yang hidup
Engkaulah cahaya untuk kedua mataku
Engkaulah aliran air pada sungai
Engkau adalah petunjuk yang sesungguhnya
Wahai kekasihku ya Muhammad

Wahai Nabi keselamatan (tercurah) atasmu
Wahai Rasul keselamatan (tercurah) atasmu
Wahai kekasih keselamatan (tercurah) atasmu
(semoga) shalawat (rahmat) Allah (tercurah atasmu

Cinta yang tak terpadamkan di dalam hatiku
Cinta(kepada) utusan terbaik dari Tuhanku
Barangsiapa yang bersama kulihat (berada) di jalan (Allah)
Wahai perantaraku wahai Rasululullah

Wahai yang terpilih diantara kami
Cinta kami mendorong rasa rindu kami
Engkau datang kepada kami dengan agamayang terbaik
Wahai penutup orang-orang yang diutus
Wahai kekasihku wahai Muhammad

~~~~~~~~~~~~

Ya Nabi salam ‘alaika shalawat dan salam tercurah untukmu.

Written by rinaldimunir

July 3rd, 2018 at 3:36 pm

Posted in Agama,Pengalamanku

Menuju Haji 2018

without comments

Alhamdulillah, jika tidak ada halangan, saya mendapat undangan menjadi tamu Allah di Tanah Suci Mekkah dan Madinah pada tahun 2018 ini. Setelah menunggu selama enam tahun, akhirnya saya mendapat porsi haji tahun ini. Seperti yang saya tulis pada tulisan tahun 2012 (Bismillaahirrahmaanirrahiim, Memulai Niat ke Tanah Suci), saya mendaftar haji pada awal tahun 2012 dan diperkirakan berangkat pada tahun 2018. Jadi, ada masa enam tahun bagi saya menunggu dapat porsi haji. Saya masih “beruntung” enam tahun, pendaftar sesudah saya beberapa bulan kemudian ada yang harus menunggu 10 tahun. Saya ikut ONH biasa, bukan ONH plus yang waktu tunggunya setahun.

Sekarang ini rata-rata waktu tunggu calon jamaah haji asal Jawa Barat untuk mendapat porsi haji sudah berada di atas 10 tahun, bahkan ada yang 15 tahun. Makin lama Anda menunda mendaftar haji, makin lama pula mendapat porsi haji. Sebaiknya jika Anda mempunyai uang minimal 25 juta, segeralah mendaftar haji ke bank penerima ONH, agar mendapat perkiraan waktu berapa lama menunggu untuk mendapat porsi haji. Entah kalau umur nanti masih sampai…

haji kabah 1

Setelah mendapat kepastian berangkat pada tahun ini (bisa dilihat di website Kemenag Haji), maka langkah selanjutnya adalah memutuskan apakah akan ikut rombongan KBIH (Kelompok  Bimbingan Ibadah Haji) atau haji mandiri (non-KBIH). Ada plus dan minusnya jika ikut KBIH atau non-KBIH. Jika ikut KBIH kita memang harus mengeluarkan uang tambahan sekitar 3,5 juta rupiah (minimal) untuk bimbingan ibadah haji dan lain-lain, sedangkan kalau non-KBIH (istilahnya haji mandiri), tidak perlu keluar biaya lagi. Kelebihan ikut KBIH adalah urusan administrasi kita ke kantor Kemenag sudah diurus oleh KBIH, kita tinggal beres saja, sedangkan kalau non-KBIH maka semuanya harus diurus sendiri.

Bagi orang yang sibuk dan tidak punya banyak waktu, maka ikut KBIH adalah pilihan yang realistis. Selain itu, bimbingan ibadah haji di KBIH sudah dimulai sejak Februari, sedangkan kalau non-KBIH bimbingan haji dilakukan sesudah Idul Fitri sebanyak enam kali (empat kali di KUA kecamatan dan dua kali di tingkat kabupaten/kota). Selebihnya ketika akan berangkat ke embarkasi  haji dan selama di Tanah Suci sama saja antara jamaah KBIH dan non-KBIH, dalam arti konsumsi dan akomodasi diurus oleh Pemerintah, begitu juga jamaah mendapat pembimbing ibadah haji per kelompok (jika ikut KBIH maka pembimbing hajinya dari KBIH).

Setelah mempertimbangkan banyak hal, maka akhirnya saya memilih ikut KBIH. Saya memilih sebuah KBIH yang kantornya di sekitaran Gedung Sate – Masjid Istiqamah Bandung dan sudah saya kenal reputasinya. Saya berangkat haji sendiri, istri saya sudah haji pada tahun 2011. Oh iya, kita harus memastikan bahwa KBIH yang kita pilih adalah KBIH yang legal dan terdaftar di Kemenag serta sudah dikenal reputasinya. Reputasi ini bisa kita cari di Internet atau dari cerita orang lain. Sudah sering kita dengar kisah pilu jamaah haji yang ditelantarkan KBIH-nya di Tanah Suci, maka jangan sampai terulang lagi kisah sedih demikian.

Bimbingan ibadah haji di KBIH sudah dimulai sejak Februari, tetapi saya baru ikut pada bulan Maret. Agak terlambat juga saya ini, tetapi untunglah masih berupa materi teori dan belum praktek manasik haji. Praktek manasik haji akan dilakukan pada bulan Juli nanti dimana calon jamaah haji menginap selama dua hari satu malam di sebuah tempat.

Bulan-bulan sebelum keberangkatan, maka bebarapa tindakan yang harus kita lakukan sendiri (tidak diurus oleh KBIH) adalah medical check-up dan pemeriksaan kesehatan di Puskesmas. Pemeriksaaan kesehatan di Puskesmas hanya bisa dilakukan jika kita sudah melakukan full medical check up di klinik kesehatan. Hasil medical check up inilah yang harus dibawa ke Puskesmas.  Pemeriksaan kesehatan di Puskemas diperlukan untuk memastikan apakah calon jamaah haji dinyatakan cukup sehat untuk berangkat haji. Hasil pemeriksaan kesehatan ini menjadi rujukan boleh tidaknya kita melunasi setoran haji. Seperti diketahui ibadah haji memakan waktu sekitar 40 hari dan memerlukan ketahanan fisik dan kesehatan yang baik. Jika mengidap penyakit beresiko tinggi (penyakit jantung, stroke, diabetes, ashtma, gagal ginjal, dll) maka kita tidak disarankan untuk berangkat haji sampai menunggu kita sudah sehat betul.

Saya melakukan  full medical check up di sebuah klinik medis yang terkenal di kota Bandung. Pemeriksaan meliputi darah, urin, paru-paru, dan jantung. Dari sampel darah dan urin akan diukur kadar gula darah, kolesterol (HDL dan LDL), trigliserida, HB, golongan darah, dan kadar asam urat. Untuk paru-paru maka kita difoto rontgen, sedangkan pemeriksaan jantung menggunakan tes EKG untuk mengetahui ada tidaknya kelainan pada jantung. Biaya full medical check up ini sekitar 1,2 juta rupiah. Sempat terjadi “drama” yang membuat saya shock, yaitu hasil EKG jantung saya ternyata salah, yang seharusnya normal (insya Allah) tetapi ditulis “suspect OMI dan CLV” (lupa saya singkatannya). Saya sempat harus dirujuk ke RS untuk pemeriksaan lebih lanjut, tetapi sebelum saya ke RS, pihak klinik menelpon kalau hasil EKG saya tertukar dengan diagnosa pasien lain. Masya Allah, bagaimana bisa sebuah klinik medis besar dan terkenal sungguh teledor memberikan hasil tes yang bukan sebenarnya. Mereka beberapa kali minta maaf atas kesalahan tersebut, tetapi permintaan maaf tersebut tidak mampu menghilangkan rasa shock saya selama beberapa hari yang membuat saya tidak bisa tidur dan merasa cemas. Saya anggap kejadian ini ujian kesabaran sebelum menunaikan ibadah haji. Astaghfirullah.

Hasil pemeriksaan medical check up ini lalu saya ke Puskesmas di Jalan Salam. Karena saya ikut KBIH, maka Puskesmasnya sudah ditentukan, jadi tidak bisa di sembarang Puskesmas. Di Puskesmas itu hasil medical check up  itu dibaca oleh dokter. Ada beberapa pertanyaan yang harus kita jawab, misalnya pernah mendapat sakit apa saja, pernah diopname, riwayat kesehatan keluarga (orangtua), selain itu juga diukur berat dan tinggi badan. Setelah dokter Puskesmas memastikan saya sehat, maka data saya dimasukkan ke Siskohat (betul namanya demikian?) secara daring. Data ini dikirim ke Dinas Kesehatan kota Bandung untuk disetujui. Kita mendapat surat yang disebut surat Istitoah yang menyatakan kita sehat dan boleh untuk beribadah haji.

Nah, langkah selanjutnya adalah tindakan vaksinasi meningitis. Calon jamaah haji harus disuntik meningitis di Puskesmas yang ditunjuk. Rencananya saya akan disuntik besok. Selanjutnya pada tanggal 28 April nanti semua calon jamaah haji dari beberapa KBIH yang bekerjasama dengan Puskesmas Salam harus ikut tes kebugaran, yaitu lari keliling lapangan di GOR Saparua di Jalan Banda. Mungkin tes ini untuk mengetahui kebugaran jamaah, sebab sebagian besar ibadah haji adalah berjalan kakid ari suatu tempat ke tempat lain.

Kewajiban lain yang harus diurus sendiri adalah melunasi setoran ONH di bank penerima yang ditunjuk. Tahun ini besaran ONH adalah sekitar 35 juta rupiah lebih dua ratus ribu. Pada waktu mendaftar pertama kali kita harus menyetor 25 juta rupiah, jadi kekurangannya sekitar 10 juta lagi. Pelunasan setoran ONH ini menjadi bukti bahwa kita jadi berangkat tahun ini, jika tidak melunasi maka tertunda pada tahun selanjutnya dan porsi kita diambil dari waiting list berikutnya. Pada saat pelunasan di bank kita harus  membawa buku tabungan, BPIH asli, pas foto yang cukup banyak (3 x 4 dan 4 x 6 masing-masing lima lembar), materai 6000, dan surat Istitoah dari Puskesmas.  Nantinya, bukti pelunasan setoran ONH kat bawa ke KBIH, lalu KBIH yang mengurus pendaftaran final ke kantor Kemenag. Disarankan Anda menyiapkan pas foto sebanyak mungkin (sdkeiatar 50 lembar) karena untuk pendaftran akhir di Kemenag kita diminta foto 25 lembar lagi.

Jika semua sudah beres, maka kita tinggal menunggu waktu keberangkatan, apakah pada gelombang pertama atau pada gelombang kedua. Jamaah haji gelombang pertama langsung menuju Madinah (umrah dulu baru haji), sedangkan jamaah haji gelombang kedua langsung ke Mekah (haji dulu baru umrah). Kepastian waktu berangkat baru nanti kita ketahui pada saat bulan Ramadhan. Diperkirakan jamaah haji mulai berangkat setelah tanggal 20 Juli 2018. Sambil menunggu waktu keberangkatan tiba, maka perbanyaklah membaca buku bimbingan ibadah haji, dan yang paling penting adalah selalu menjaga kesehatan fisik dan mental, menjaga agar tubuh selalu bugar, sebab ibadah haji itu adalah ibadah yang berat.

Insya Allah, aku akan datang memenuhi panggilan-Mu nanti ya, Allah.

Written by rinaldimunir

April 3rd, 2018 at 3:43 pm

Posted in Agama,Pengalamanku

Manfaat Punya Kartu Asuransi Kesehatan

without comments

Asuransi kesehatan itu perlu. Sedapat mungkin setiap orang mengikuti program asuransi kesehatan. Manfaatnya baru terasa kalau kita menderita sakit yang cukup berat sehingga perlu dirawat di rumah sakit. Di bawah ini  pengalaman saya menggunakan kartu asuransi kesehatan.

Di kampus saya semua dosen dan karyawan dimasukkan ke dalam program asuransi kesehatan. Mitra perusahaan asuransi kesehatan selalu berganti setiap tahun, karena penentuannya melalui tender. Beberapa perusahaan asuransi yang pernah menjadi  rekanan kantor saya diantaranya Jasindo, Bumida, Bumiputera, dan lain-lain. Setiap pegawai hanya memperoleh empat kartu asuransi, yaitu untuk suami, istri, dan dua orang anak saja. Anak ketiga saya tidak mendapat jaminan asuransi kesehatan, kasihan ya. Kalau mau, maka kita menambah sendiri dengan biaya sendiri.

Sepengetahuan saya biaya premi asuransi itu ditanggung oleh kantor. Jadi, kita tidak mengeluarkan biaya premi lagi, atau dipotong dari gaji. Terima kasih kampusku. Oh iya, selain asuransi kesehatan yang ditanggung oleh kantor, saya juga memiliki kartu BPJS sebagai pengganti Askes. Di kartu itu tidak ada tulisan BPJS, tetapi Kartu Indonesia Sehat. Ah, sama saja, kata saya dalam hati.

Selama ini saya belum pernah menggunakan asuransi kesehatan. Alhamdulillah, saya jarang sakit berat dan tidak pernah diopname di rumah sakit. Saya berharap jangan sampai pernah menggunakan asuransi kesehatan tersebut, artinya saya ingin selalu tetap sehat dan jangan sampai menderita sakit. Semoga Allah SWT selalu memberi saya kesehatan, amin, dan kesehatan yang diberikan saat ini patut selalu disyukuri. Terima kasih ya Allah. Selama ini kalau sakit saya hanya sakit flu, batuk, demam, pernah juga tipes tapi cukup dirawat dan istirahat di rumah saja.

Tapi yang namanya sakit bisa menyerang anggota keluarga yang lain. Nah, itu dialami oleh istri saya. Sudah dua kali istri saya dirawat di rumah sakit dan menjalani operasi, keduanya di rumah sakit swasta. Semula saya tidak ngeh dengan kartu asuransi yang kami miliki, karena jarang dibawa-bawa (tidak dimasukkan ke dalam dompet). Tetapi, ketika mengurus pendaftaran rawat inap, saya menanyakan apakah bisa menggunakan kartu asuransi? Petugasnya menjawab, silakan, nanti kami coba kontak dulu asuransinya.

Untuk rawat inap yang pertama, kebetulan saya membawa kartu asuransi atas nama istri saya. Setelah kartu digesek oleh petugas, lalu petugas melihat poin-poin apa saja yang ditanggung asuransi, ternyata saya bisa menggunakan kartu asuransi tersebut untuk pembayaran biaya selama di rumah sakit (biaya dokter, rawat inap, obat-obatan, dll). Kelas kamar yang bisa ditempati maksimal sampai kelas 2 saja. Kalau mau ke kelas lebih tinggi, maka kelebihannya akan ditanggung kita sendiri. Ketika mengurus kepulangan pasien dari rumah sakit, maka saya mendapat rincian biaya-biaya. Total biaya semuanya sekitar lima juta, dan asuransi kesehatan menanggung hampir semuanya, saya hanya membayar biaya kelebihan (excess) yang sangat kecil, yaitu Rp 128 ribu saja. Itupun tidak dibayar langsung, tetapi ditagihkan ke kantor, nanti barulah kantor mengirimkan tagihan ke saya untuk saya lunasi melalui potong gaji.

Kali kedua, istri saya menjalani operasi kecil dan dirawat di rumah sakit yang lain. Kali ini saya tidak membawa kartu asuransi. Lupa. Saya pulang ke rumah dulu untuk mengambilnya. Untuk rawat inap yang kedua ini ternyata proses persetujuan asuransinya memakan waktu yang lama.  Jadi, ketika saya mendaftar di rumah sakit, saya  belum mendapat kepastian apakah bisa ditanggung asuransi atau tidak. Tapi jawaban dari rumah sakit adalah: kami akan proses dulu dan akan mengontak pihak asuransinya. Setelah operasi dan rawat inap selesai, dan saya mengurus kepulangan, barulah saya mendapat jawaban ternyata bisa ditanggung asuransi. Total biayanya sekitar 9 jutaan, dan saya hanya membayar kelebihan biaya sekitar 300-an ribu saja. Alhamdulillah.

Setelah mengalami dua peristiwa ini barulah saya merasakan manfaat memiliki asuransi kesehatan. Sakit itu mahal, maka hendaklah kita berusaha jangan sampai sakit. Namun jika akhirnya sakit dan menjalani rawat inap, apalagi sampai operasi, maka disitulah pentingnya punya kartu asuransi.

Sayangnya kartu asuransi kesehatan yang saya miliki tidak dapat digunakan untuk biaya rawat jalan atau konsultasi/diagnosis ke dokter. Saya pernah membawa istri ke rumah sakit swasta yang lain untuk konsultasi ke dokter penyakit dalam dan dokter spesialis ginjal. Cukup mahal juga biaya ke dokter tersebut (termasuk pemeriksaan lab radiologi), tetapi tidak dapat di-cover oleh asuransi. Jadi, sebaiknya kita perlu mengetahui poin-poin apa saja yang ditanggung oleh suransi kesehatan, apakah rawat inap saja atau juga termasuk rawat jalan.

Demikianlah pengalaman saya merasakan manfaat memiliki asuransi kesehatan.


Written by rinaldimunir

October 9th, 2017 at 2:35 pm

Posted in Pengalamanku

Sebaskom Kecil Air Minum Untuk Kucing Liar

without comments

Di halaman rumah saya ada ember kecil untuk menampung cucuran air dari talang di atap rumah. Talang itu berfungsi untuk mengalirkan air hujan, selain itu juga untuk mengalirkan limpahan air dari toren penampung  air ledeng yang juga berada di atas atap rumah.

Setiap hari ember tersebut selalu berisi air bersih limpahan dari toren semalam. Karena di sekitar rumah saya jarang ada genangan air, maka kucing-kucing liar yang lalu lalang di depan rumah sering mendatangi ember itu untuk minum dikala kehausan. Nikmat sekali tampaknya kucing itu meneguk air dengan lidahnya. Cukup lama ia minum, ada sekitar dua hingga tiga menit hingga lambungnya sudah penuh dengan air.

Melihat kucing minum dengan nikmatnya dari ember itu merupakan pemandangan yang mengharukan bagi saya. Saya teringat sebuah tulisan seorang Ustadz yang berisi contoh amal sholeh kecil yang dapat kita lakukan setiap hari. Isinya kurang lebih begini: sediakan satu wadah atau ember kecil di depan rumahmu yang berisi air bersih untuk minum kucing-kucing liar atau anjing liar yang sering lewat. Mudah-mudahan setiap tetes air yang diminum oleh hewan itu menjadi tambahan timbangan pahalamu kelak di Padang Mahsyar nanti. Amin.

Sekarang ember kecil hitam itu saya ganti dengan baskom yang lebih rendah sehingga tidak menyulitkan kucing-kucing yang mampir untuk minum. Setiap hari air tersebut perlu diganti agar tidak menjadi sarang nyamuk. Idealnya saya taruh di pinggir jalan di depan rumah agar hewan lain seperti anjing liar yang lewat pun bisa minum, tapi untuk sementara masih di dalam halaman dulu.

Saya kutip tulisan dari seorang teman: kata bijak mengatakan, janganlah engkau meremehkan sebuah kebaikan kecil untuk selama lamanya, karena boleh jadi jadi saat engkau tengah terlelap dalam tidur, pintu-pintu langit diketuk oleh puluhan doa kebaikan untukmu dari kucing-kucing atau anjing-anjing liar yg kehausan yang telah engkau tolong. Amin.


Written by rinaldimunir

September 22nd, 2017 at 4:01 pm

Keluar dari Grup Whatsapp

without comments

Berbincang-bincang melalui aplikasi whatsapp (WA) di dalam sebuah grup diskusi memang mengasyikkan. Pada era smartphone saat ini hampir semua pemilik gawai (gadget) memiliki aplikasi whatsapp. Perbincangan di dalam grup bisa membahas masalah serius, tapi bisa pula hanya berisi senda gurau belaka yang dapat melenakan penggunanya sehingga keasyikan  chatting berjam-jam.

Setiap orang mungkin tergabung dalam beberapa grup di WA. Grup WA yang banyak  jumlahnya adalah grup alumni, baik alumni SD, SMP, SMA, kuliah, alumni prajabatan CPNS, alumni umroh dan haji, dan masih banyak lagi. Itu belum termasuk grup komunitas, grup pegawai di kantor, grup RT, grup arisan, dan sebagainya. Memori ponsel bisa-bisa penuh dengan pesan-pesan yang terkirim di WA. Jika dilayani semua, chatting melalui WA dapat melalaikan pekerjaan kita atau tugas utama kita sehari-hari. Sikap yang paling bijak adalah berkomunikasi melalui WA seperlunya saja.

Pesan atau informasi apa saja dapat dikirim melalui WA. Tidak hanya pesan teks, tetapi juga dokumen (Word, Excell, PPT, pdf, dll), gambar, video, animasi, tautan ke situs berita daring dan sebagainya. Nah, di sinilah letak masalahnya. Karena terlalu bersemangat, anggota grup WA seringkali kebablasan. Humor-humor yang berbau pornografi sering kali melintas. Namun yang lebih parah adalah gambar-gambar mesum atau video mesum yang dikirim anggota grup.

Saya yang menerima gambar-gambar atau video mesum tersebut masih dapat bersabar. Gambar dan video tersebut saya hapus dari memori ponsel. Tetapi gambar-gambar mesum lain masih saja terus lalu lalang yang dikirim oleh anggota grup. Default-nya adalah gambar-gambar yang dikirim melalui WA akan tersimpan secara otomatis kecuali kalau kita men-seting perlu persetujuan user.

Pengirim gambar-gambar mesum sering berkilah, tujuannya hanya untuk sekedar fun, biar nggak stres, atau hanya sekedar iseng mencari perhatian anggota grup. Namun, pengirim gambar tidak sadar, bahwa tidak semua anggota grup mempunyai pola pikir seperti dia. Tidak semua anggota suka dengan gambar-gambar mesum tersebut.

Saya sering komplain pada beberapa grup, mempertanyakan anggota grup yang suka mengirim gambar-gambar yang tidak pantas ke jalur umum. Jika ingin menikmati gambar-gambar koleksi mesum tersebut, nikmati saja sendiri, tanggung jawab sendiri, itu urusan Anda, dosanya dosa anda, kenapa harus disebar ke dalam grup yang anggotanya beragam?

Saya punya alasan mengapa saya harus “marah”. Anak saya di rumah suka meminjam ponsel saya, sekedar main game atau mengakses video di Youtube. Kadang-kadang dia juga suka melihat koleksi gambar di Gallery ponsel.  Nah, inilah yang saya takutkan. Setiap kali saya menerima kiriman gambar mesum dari grup WA, saya dengan sigap selalu menghapusnya. Saya khawatir anak-anak saya melihatnya dan mengira saya mengkoleksi gambar-gambar mesum tersebut. Namun, ada kalanya saya lupa menghapusnya. Kecepatan saya menghapus juga tidak selalu secepat anak saya melihatnya. Bisa saja ketika dia menggunakan ponsel saya, gambar-gambar tersebut masuk dan saya belum menghapusnya. Itulah yang saya takutkan, dia melihat gambar-gamba pornografi kiriman anggota grup.  Saya membenarkan pendapat Bu Elly Risman yang menyatakan kalau peredaran pornografi secara masif adalah melalui ponsel.

Berhubung komplain saya tidak mendapat tanggapan yang memuaskan, maka apa boleh buat, saya pun terpaksa left atau keluar dari grup. Daripada anak saya menjadi korban pornografi, biarlah saya rela tidak mengikuti grup diskusi yang ramai itu. Keluar dari grup WA tidak berarti memutus hubungan pertemanan di darat. Hubungan saya dengan teman di grup tetap baik-baik saja.


Written by rinaldimunir

September 19th, 2017 at 5:19 pm

Posted in Pengalamanku

Masjid Salman Tempat yang “Radikal”

without comments

Sebagai orang yang pernah aktif di Masjid Salman ITB, saya cukup terhentak dengan tudingan Ketua Umum PBNU K.H Said Aqil Siradj yang menyatakan bahwa Masjid Salman ITB adalah tempat berkembangnya paham radikalisme (Baca: NU: Radikalisme Menyebar ke Kampus, Terutama Masjid Salman ITB). Meski akhirnya Pak Kyai mengaku khilaf dan meminta maaf atas tudingannya itu  (baca: Pengurus Masjid Salman: Kiai Said Aqil Mengaku Khilaf dan Mohon Maaf), namun tuduhan pak Kyai terlanjur menjadi viral di media sosial dan menimbulkan keresahan bagi para alumni ITB yang pernah merasakan kehidupan di Masjid Salman.

masjid-salman

Masjid Salman ITB (Sumber: kabarsalman.com)

Kata radikal saat ini menjadi kata yang banyak dilontarkan terkait situasi politik tanah air yang belum tenang sebagai dampak kasus Ahok. Radikal dipertentangkan dengan Pancasila. Ormas radikal, ormas anti pancasila, radikalisme, kaum radikal, dan seterusnya, itulah kata-kata yang menghiasi media di tanah air. Disematkan kata radikal saja sudah membuat tidak nyaman, apalagi jika dituding sebagai pendukung dan penyebar radikalisme.

Padahal kalau membuka kamus radikal itu tidak selalu berarti negatif.  Radikal berasal dari kata radix yang artinya akar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti radikal adalah sbb:

radikal1/ra·di·kal/ a 1 secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip): perubahan yang –; 2 Pol amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan); 3 maju dalam berpikir atau bertindak;

Jika dimaksudkan radikal itu adalah kembali ke hal yang mendasar atau prinsipil, maka sudah seharusnya setiap orang demikian. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Kita sering berkata demikian, misalnya harus sesuai dengan prinsip dasar, hal yang mendasar adalah…., dsb, dsb.  Lihatlah artsitektur Masjid Salman sendiri tergolong radikal pada zamannya. Ia tidak mempunyai kubah seperti masjid lain pada umumnya.  Arsitek Masjid Salman, Pak (alm) Ahmad  Nu’man, punya alasan mengapa rancangan masjidnya demikian. Masjid itu kata dasarnya sujud, jadi masjid itu tempat bersujud. Maka, bagi sebuah masjid uyang dipentingkan adalah fungsi dasarnya sebagai tempat bersujud (sholat). Bentuk bangunan sendiri tidak ditekankan seperti apa, pakai kubah atau tidak. Lihatlah Masjidil Haram, tidak ada kubah di sana. Kubah masjid baru ada pada zaman Kerajaan Ottoman Turki. Kubah tidak identik dengan Islam, kubah juga terdapat pada bangunan gereja-gereja di Eropa.

Arti kata radikal yang ketiga adalah maju dalam berpikir dan bertindak. Ya, memang, dalam hal ini Masjid Salman tergolong radikal. Pengelolaan masjid dilakukan secara profesional oleh pengurus masjid yang kebanyakan adalah dosen-dosen ITB. Berbagai teknologi sudah diterapkan Masjid Salman untuk membuat masjid ini semakin nyaman untuk beribadah (baca juga: ATM Beras dari Masjid Salman ITB). Berbagai kajian dan diskusi yang mencerahkan pikiran diadakan silih berganti untuk menambah wawasan jamaah. Berbagai tokoh politik, tokoh agama, ilmuwan, dan tokoh masyarakat telah banyak mengisi kajian berupa seminar, telaah buku, diskusi kontemporer, semuanya untuk menghidupkan fungsi masjid lebih dari sekedar tempat sholat, tetapi masjid adalah pusat peradaban masyarakat.

Arti kata radikal yang kedua adalah amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan). Jika ini yang dimaksudkan, maka sangat jauh panggang dari api. Jamaah Salman yang umumnya kaum intelektual (mahasiswa, dosen) bukanlah bertipe demikian, apalagi jika dihubungkan dengan perilaku kekerrasan.  Saya belum pernah membaca atau mendengar ada kegiatan makar atau penggulingan Pemerintahan yang sah yang dilakukan oleh jamaah Salman. Di Salman tidak ada kaderisasi politik. Jika alumninya aktif dalam politik praktis, maka itu bukan karena Salman-nya, tetapi adalah pilihan pribadinya.

Siapapun yang pernah berkunjung, sholat, maupun aktif di Masjid Salman ITB, pasti mengetahui bahwa Masjid Salman ITB adalah masjid yang terbuka. Siapapun boleh datang, ikut kajian, ikut mendengarkan ceramah, ikut mengaji, ikut memakmurkan masjid, ikut berbagai kegiatan yang dilakukan oleh remaja masjid, dan sebagainya. Walikota Bandung, Ridwan Kamil, adalah alumni Masjid Salman juga.

emil dan bimbel

Emil (sedang dipeluk di belakang) dan para murik Bimbel Salman berfoto dengan para pengajar di tangga Masjid Salman, tahun 1990 usai malam tafakkur menjelang UMPTN 1990.

Karena sifatnya yang terbuka, maka siapapun bisa beraktivitas di sana. Ketika ramai kasus NII di Bandung, masjid Salman ikut kena imbas karena aktivis NII melakukan perekrutan anggota melalui masjid, tak terkecuali mungkin mereka diam-diam menggunakan Masjid Salman sebagai base. Tapi, sekali lagi itu bukan kegiatan masjid, tetapi orang-orang yang memanfaatkan masjid untuk tujuan kelompoknya.

Tulisan ini bukan pembelaan diri. Tetapi demikianlah adanya bahwa masjid Salman itu memang masjid yang radikal dalam tanda kutip.


Written by rinaldimunir

May 31st, 2017 at 3:44 pm