if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Pengalamanku’ Category

Manfaat Punya Kartu Asuransi Kesehatan

without comments

Asuransi kesehatan itu perlu. Sedapat mungkin setiap orang mengikuti program asuransi kesehatan. Manfaatnya baru terasa kalau kita menderita sakit yang cukup berat sehingga perlu dirawat di rumah sakit. Di bawah ini  pengalaman saya menggunakan kartu asuransi kesehatan.

Di kampus saya semua dosen dan karyawan dimasukkan ke dalam program asuransi kesehatan. Mitra perusahaan asuransi kesehatan selalu berganti setiap tahun, karena penentuannya melalui tender. Beberapa perusahaan asuransi yang pernah menjadi  rekanan kantor saya diantaranya Jasindo, Bumida, Bumiputera, dan lain-lain. Setiap pegawai hanya memperoleh empat kartu asuransi, yaitu untuk suami, istri, dan dua orang anak saja. Anak ketiga saya tidak mendapat jaminan asuransi kesehatan, kasihan ya. Kalau mau, maka kita menambah sendiri dengan biaya sendiri.

Sepengetahuan saya biaya premi asuransi itu ditanggung oleh kantor. Jadi, kita tidak mengeluarkan biaya premi lagi, atau dipotong dari gaji. Terima kasih kampusku. Oh iya, selain asuransi kesehatan yang ditanggung oleh kantor, saya juga memiliki kartu BPJS sebagai pengganti Askes. Di kartu itu tidak ada tulisan BPJS, tetapi Kartu Indonesia Sehat. Ah, sama saja, kata saya dalam hati.

Selama ini saya belum pernah menggunakan asuransi kesehatan. Alhamdulillah, saya jarang sakit berat dan tidak pernah diopname di rumah sakit. Saya berharap jangan sampai pernah menggunakan asuransi kesehatan tersebut, artinya saya ingin selalu tetap sehat dan jangan sampai menderita sakit. Semoga Allah SWT selalu memberi saya kesehatan, amin, dan kesehatan yang diberikan saat ini patut selalu disyukuri. Terima kasih ya Allah. Selama ini kalau sakit saya hanya sakit flu, batuk, demam, pernah juga tipes tapi cukup dirawat dan istirahat di rumah saja.

Tapi yang namanya sakit bisa menyerang anggota keluarga yang lain. Nah, itu dialami oleh istri saya. Sudah dua kali istri saya dirawat di rumah sakit dan menjalani operasi, keduanya di rumah sakit swasta. Semula saya tidak ngeh dengan kartu asuransi yang kami miliki, karena jarang dibawa-bawa (tidak dimasukkan ke dalam dompet). Tetapi, ketika mengurus pendaftaran rawat inap, saya menanyakan apakah bisa menggunakan kartu asuransi? Petugasnya menjawab, silakan, nanti kami coba kontak dulu asuransinya.

Untuk rawat inap yang pertama, kebetulan saya membawa kartu asuransi atas nama istri saya. Setelah kartu digesek oleh petugas, lalu petugas melihat poin-poin apa saja yang ditanggung asuransi, ternyata saya bisa menggunakan kartu asuransi tersebut untuk pembayaran biaya selama di rumah sakit (biaya dokter, rawat inap, obat-obatan, dll). Kelas kamar yang bisa ditempati maksimal sampai kelas 2 saja. Kalau mau ke kelas lebih tinggi, maka kelebihannya akan ditanggung kita sendiri. Ketika mengurus kepulangan pasien dari rumah sakit, maka saya mendapat rincian biaya-biaya. Total biaya semuanya sekitar lima juta, dan asuransi kesehatan menanggung hampir semuanya, saya hanya membayar biaya kelebihan (excess) yang sangat kecil, yaitu Rp 128 ribu saja. Itupun tidak dibayar langsung, tetapi ditagihkan ke kantor, nanti barulah kantor mengirimkan tagihan ke saya untuk saya lunasi melalui potong gaji.

Kali kedua, istri saya menjalani operasi kecil dan dirawat di rumah sakit yang lain. Kali ini saya tidak membawa kartu asuransi. Lupa. Saya pulang ke rumah dulu untuk mengambilnya. Untuk rawat inap yang kedua ini ternyata proses persetujuan asuransinya memakan waktu yang lama.  Jadi, ketika saya mendaftar di rumah sakit, saya  belum mendapat kepastian apakah bisa ditanggung asuransi atau tidak. Tapi jawaban dari rumah sakit adalah: kami akan proses dulu dan akan mengontak pihak asuransinya. Setelah operasi dan rawat inap selesai, dan saya mengurus kepulangan, barulah saya mendapat jawaban ternyata bisa ditanggung asuransi. Total biayanya sekitar 9 jutaan, dan saya hanya membayar kelebihan biaya sekitar 300-an ribu saja. Alhamdulillah.

Setelah mengalami dua peristiwa ini barulah saya merasakan manfaat memiliki asuransi kesehatan. Sakit itu mahal, maka hendaklah kita berusaha jangan sampai sakit. Namun jika akhirnya sakit dan menjalani rawat inap, apalagi sampai operasi, maka disitulah pentingnya punya kartu asuransi.

Sayangnya kartu asuransi kesehatan yang saya miliki tidak dapat digunakan untuk biaya rawat jalan atau konsultasi/diagnosis ke dokter. Saya pernah membawa istri ke rumah sakit swasta yang lain untuk konsultasi ke dokter penyakit dalam dan dokter spesialis ginjal. Cukup mahal juga biaya ke dokter tersebut (termasuk pemeriksaan lab radiologi), tetapi tidak dapat di-cover oleh asuransi. Jadi, sebaiknya kita perlu mengetahui poin-poin apa saja yang ditanggung oleh suransi kesehatan, apakah rawat inap saja atau juga termasuk rawat jalan.

Demikianlah pengalaman saya merasakan manfaat memiliki asuransi kesehatan.


Written by rinaldimunir

October 9th, 2017 at 2:35 pm

Posted in Pengalamanku

Sebaskom Kecil Air Minum Untuk Kucing Liar

without comments

Di halaman rumah saya ada ember kecil untuk menampung cucuran air dari talang di atap rumah. Talang itu berfungsi untuk mengalirkan air hujan, selain itu juga untuk mengalirkan limpahan air dari toren penampung  air ledeng yang juga berada di atas atap rumah.

Setiap hari ember tersebut selalu berisi air bersih limpahan dari toren semalam. Karena di sekitar rumah saya jarang ada genangan air, maka kucing-kucing liar yang lalu lalang di depan rumah sering mendatangi ember itu untuk minum dikala kehausan. Nikmat sekali tampaknya kucing itu meneguk air dengan lidahnya. Cukup lama ia minum, ada sekitar dua hingga tiga menit hingga lambungnya sudah penuh dengan air.

Melihat kucing minum dengan nikmatnya dari ember itu merupakan pemandangan yang mengharukan bagi saya. Saya teringat sebuah tulisan seorang Ustadz yang berisi contoh amal sholeh kecil yang dapat kita lakukan setiap hari. Isinya kurang lebih begini: sediakan satu wadah atau ember kecil di depan rumahmu yang berisi air bersih untuk minum kucing-kucing liar atau anjing liar yang sering lewat. Mudah-mudahan setiap tetes air yang diminum oleh hewan itu menjadi tambahan timbangan pahalamu kelak di Padang Mahsyar nanti. Amin.

Sekarang ember kecil hitam itu saya ganti dengan baskom yang lebih rendah sehingga tidak menyulitkan kucing-kucing yang mampir untuk minum. Setiap hari air tersebut perlu diganti agar tidak menjadi sarang nyamuk. Idealnya saya taruh di pinggir jalan di depan rumah agar hewan lain seperti anjing liar yang lewat pun bisa minum, tapi untuk sementara masih di dalam halaman dulu.

Saya kutip tulisan dari seorang teman: kata bijak mengatakan, janganlah engkau meremehkan sebuah kebaikan kecil untuk selama lamanya, karena boleh jadi jadi saat engkau tengah terlelap dalam tidur, pintu-pintu langit diketuk oleh puluhan doa kebaikan untukmu dari kucing-kucing atau anjing-anjing liar yg kehausan yang telah engkau tolong. Amin.


Written by rinaldimunir

September 22nd, 2017 at 4:01 pm

Keluar dari Grup Whatsapp

without comments

Berbincang-bincang melalui aplikasi whatsapp (WA) di dalam sebuah grup diskusi memang mengasyikkan. Pada era smartphone saat ini hampir semua pemilik gawai (gadget) memiliki aplikasi whatsapp. Perbincangan di dalam grup bisa membahas masalah serius, tapi bisa pula hanya berisi senda gurau belaka yang dapat melenakan penggunanya sehingga keasyikan  chatting berjam-jam.

Setiap orang mungkin tergabung dalam beberapa grup di WA. Grup WA yang banyak  jumlahnya adalah grup alumni, baik alumni SD, SMP, SMA, kuliah, alumni prajabatan CPNS, alumni umroh dan haji, dan masih banyak lagi. Itu belum termasuk grup komunitas, grup pegawai di kantor, grup RT, grup arisan, dan sebagainya. Memori ponsel bisa-bisa penuh dengan pesan-pesan yang terkirim di WA. Jika dilayani semua, chatting melalui WA dapat melalaikan pekerjaan kita atau tugas utama kita sehari-hari. Sikap yang paling bijak adalah berkomunikasi melalui WA seperlunya saja.

Pesan atau informasi apa saja dapat dikirim melalui WA. Tidak hanya pesan teks, tetapi juga dokumen (Word, Excell, PPT, pdf, dll), gambar, video, animasi, tautan ke situs berita daring dan sebagainya. Nah, di sinilah letak masalahnya. Karena terlalu bersemangat, anggota grup WA seringkali kebablasan. Humor-humor yang berbau pornografi sering kali melintas. Namun yang lebih parah adalah gambar-gambar mesum atau video mesum yang dikirim anggota grup.

Saya yang menerima gambar-gambar atau video mesum tersebut masih dapat bersabar. Gambar dan video tersebut saya hapus dari memori ponsel. Tetapi gambar-gambar mesum lain masih saja terus lalu lalang yang dikirim oleh anggota grup. Default-nya adalah gambar-gambar yang dikirim melalui WA akan tersimpan secara otomatis kecuali kalau kita men-seting perlu persetujuan user.

Pengirim gambar-gambar mesum sering berkilah, tujuannya hanya untuk sekedar fun, biar nggak stres, atau hanya sekedar iseng mencari perhatian anggota grup. Namun, pengirim gambar tidak sadar, bahwa tidak semua anggota grup mempunyai pola pikir seperti dia. Tidak semua anggota suka dengan gambar-gambar mesum tersebut.

Saya sering komplain pada beberapa grup, mempertanyakan anggota grup yang suka mengirim gambar-gambar yang tidak pantas ke jalur umum. Jika ingin menikmati gambar-gambar koleksi mesum tersebut, nikmati saja sendiri, tanggung jawab sendiri, itu urusan Anda, dosanya dosa anda, kenapa harus disebar ke dalam grup yang anggotanya beragam?

Saya punya alasan mengapa saya harus “marah”. Anak saya di rumah suka meminjam ponsel saya, sekedar main game atau mengakses video di Youtube. Kadang-kadang dia juga suka melihat koleksi gambar di Gallery ponsel.  Nah, inilah yang saya takutkan. Setiap kali saya menerima kiriman gambar mesum dari grup WA, saya dengan sigap selalu menghapusnya. Saya khawatir anak-anak saya melihatnya dan mengira saya mengkoleksi gambar-gambar mesum tersebut. Namun, ada kalanya saya lupa menghapusnya. Kecepatan saya menghapus juga tidak selalu secepat anak saya melihatnya. Bisa saja ketika dia menggunakan ponsel saya, gambar-gambar tersebut masuk dan saya belum menghapusnya. Itulah yang saya takutkan, dia melihat gambar-gamba pornografi kiriman anggota grup.  Saya membenarkan pendapat Bu Elly Risman yang menyatakan kalau peredaran pornografi secara masif adalah melalui ponsel.

Berhubung komplain saya tidak mendapat tanggapan yang memuaskan, maka apa boleh buat, saya pun terpaksa left atau keluar dari grup. Daripada anak saya menjadi korban pornografi, biarlah saya rela tidak mengikuti grup diskusi yang ramai itu. Keluar dari grup WA tidak berarti memutus hubungan pertemanan di darat. Hubungan saya dengan teman di grup tetap baik-baik saja.


Written by rinaldimunir

September 19th, 2017 at 5:19 pm

Posted in Pengalamanku

Masjid Salman Tempat yang “Radikal”

without comments

Sebagai orang yang pernah aktif di Masjid Salman ITB, saya cukup terhentak dengan tudingan Ketua Umum PBNU K.H Said Aqil Siradj yang menyatakan bahwa Masjid Salman ITB adalah tempat berkembangnya paham radikalisme (Baca: NU: Radikalisme Menyebar ke Kampus, Terutama Masjid Salman ITB). Meski akhirnya Pak Kyai mengaku khilaf dan meminta maaf atas tudingannya itu  (baca: Pengurus Masjid Salman: Kiai Said Aqil Mengaku Khilaf dan Mohon Maaf), namun tuduhan pak Kyai terlanjur menjadi viral di media sosial dan menimbulkan keresahan bagi para alumni ITB yang pernah merasakan kehidupan di Masjid Salman.

masjid-salman

Masjid Salman ITB (Sumber: kabarsalman.com)

Kata radikal saat ini menjadi kata yang banyak dilontarkan terkait situasi politik tanah air yang belum tenang sebagai dampak kasus Ahok. Radikal dipertentangkan dengan Pancasila. Ormas radikal, ormas anti pancasila, radikalisme, kaum radikal, dan seterusnya, itulah kata-kata yang menghiasi media di tanah air. Disematkan kata radikal saja sudah membuat tidak nyaman, apalagi jika dituding sebagai pendukung dan penyebar radikalisme.

Padahal kalau membuka kamus radikal itu tidak selalu berarti negatif.  Radikal berasal dari kata radix yang artinya akar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti radikal adalah sbb:

radikal1/ra·di·kal/ a 1 secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip): perubahan yang –; 2 Pol amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan); 3 maju dalam berpikir atau bertindak;

Jika dimaksudkan radikal itu adalah kembali ke hal yang mendasar atau prinsipil, maka sudah seharusnya setiap orang demikian. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Kita sering berkata demikian, misalnya harus sesuai dengan prinsip dasar, hal yang mendasar adalah…., dsb, dsb.  Lihatlah artsitektur Masjid Salman sendiri tergolong radikal pada zamannya. Ia tidak mempunyai kubah seperti masjid lain pada umumnya.  Arsitek Masjid Salman, Pak (alm) Ahmad  Nu’man, punya alasan mengapa rancangan masjidnya demikian. Masjid itu kata dasarnya sujud, jadi masjid itu tempat bersujud. Maka, bagi sebuah masjid uyang dipentingkan adalah fungsi dasarnya sebagai tempat bersujud (sholat). Bentuk bangunan sendiri tidak ditekankan seperti apa, pakai kubah atau tidak. Lihatlah Masjidil Haram, tidak ada kubah di sana. Kubah masjid baru ada pada zaman Kerajaan Ottoman Turki. Kubah tidak identik dengan Islam, kubah juga terdapat pada bangunan gereja-gereja di Eropa.

Arti kata radikal yang ketiga adalah maju dalam berpikir dan bertindak. Ya, memang, dalam hal ini Masjid Salman tergolong radikal. Pengelolaan masjid dilakukan secara profesional oleh pengurus masjid yang kebanyakan adalah dosen-dosen ITB. Berbagai teknologi sudah diterapkan Masjid Salman untuk membuat masjid ini semakin nyaman untuk beribadah (baca juga: ATM Beras dari Masjid Salman ITB). Berbagai kajian dan diskusi yang mencerahkan pikiran diadakan silih berganti untuk menambah wawasan jamaah. Berbagai tokoh politik, tokoh agama, ilmuwan, dan tokoh masyarakat telah banyak mengisi kajian berupa seminar, telaah buku, diskusi kontemporer, semuanya untuk menghidupkan fungsi masjid lebih dari sekedar tempat sholat, tetapi masjid adalah pusat peradaban masyarakat.

Arti kata radikal yang kedua adalah amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan). Jika ini yang dimaksudkan, maka sangat jauh panggang dari api. Jamaah Salman yang umumnya kaum intelektual (mahasiswa, dosen) bukanlah bertipe demikian, apalagi jika dihubungkan dengan perilaku kekerrasan.  Saya belum pernah membaca atau mendengar ada kegiatan makar atau penggulingan Pemerintahan yang sah yang dilakukan oleh jamaah Salman. Di Salman tidak ada kaderisasi politik. Jika alumninya aktif dalam politik praktis, maka itu bukan karena Salman-nya, tetapi adalah pilihan pribadinya.

Siapapun yang pernah berkunjung, sholat, maupun aktif di Masjid Salman ITB, pasti mengetahui bahwa Masjid Salman ITB adalah masjid yang terbuka. Siapapun boleh datang, ikut kajian, ikut mendengarkan ceramah, ikut mengaji, ikut memakmurkan masjid, ikut berbagai kegiatan yang dilakukan oleh remaja masjid, dan sebagainya. Walikota Bandung, Ridwan Kamil, adalah alumni Masjid Salman juga.

emil dan bimbel

Emil (sedang dipeluk di belakang) dan para murik Bimbel Salman berfoto dengan para pengajar di tangga Masjid Salman, tahun 1990 usai malam tafakkur menjelang UMPTN 1990.

Karena sifatnya yang terbuka, maka siapapun bisa beraktivitas di sana. Ketika ramai kasus NII di Bandung, masjid Salman ikut kena imbas karena aktivis NII melakukan perekrutan anggota melalui masjid, tak terkecuali mungkin mereka diam-diam menggunakan Masjid Salman sebagai base. Tapi, sekali lagi itu bukan kegiatan masjid, tetapi orang-orang yang memanfaatkan masjid untuk tujuan kelompoknya.

Tulisan ini bukan pembelaan diri. Tetapi demikianlah adanya bahwa masjid Salman itu memang masjid yang radikal dalam tanda kutip.


Written by rinaldimunir

May 31st, 2017 at 3:44 pm

Kena Tilang (lagi), Slip Biru, dan Anti-korupsi

without comments

Beberapa hari yang lalu motor saya kena tilang pak polisi di depan PUSDAI Jalan Supratman, Bandung. Salah saya juga sih, plat nomor saya sudah kadaluarsa beberapa hari. Hari yang apes, karena pada hari itu saya justru mau urus STNK di kantor SAMSAT, tapi keburu kena tilang. Selain plat nomor yang kadaluarsa, SIM saya juga sudah lewat waktu (belum sempat ikut ujian SIM lagi. Saya harus bikin ulang SIM baru karena masa kadaluarsa SIM telat satu hari). Jadilah saya melanggar dua pasal.

Pak polisi yang menilang saya kemudian berkata: “Motor bapak kami tahan beserta kuncinya, nanti bisa diambil di Jalan Jawa (kantor Poltabes). Bagaimana, Pak? Apa bapak mau ikut sidang pengadilan tanggal 26 Mei atau dibantu diselesaikan di sini?”.

Saya sudah paham maksud Pak polisi itu. “Diselesaikan disini” artinya selesai di jalan saja, tidak perlu ikut sidang pengadilan, tapi cukup pakai “uang damai”.  Tawarannya saya tolak, sebab bertentangan dengan prinsip saya (anti menyuap). Menyelesaikan perkara dengan jalan uang damai sama saja dengan menyuruh Pak Polisi melakukan korupsi. Uang damai akan masuk ke kantongnya, bukan ke kas negara.

“Begini saja pak”, kata saya setelah diskusi yang cukup alot dengan Pak Polisi. “Saya minta slip formulir tilang yang berwarna biru. Nanti denda tilang saya setor ke Bank BRI”.

(Ini adalah alternatif jika kita tidak mau ikut sidang tilang.  Terlalu lama menunggu. Di Bandung sidang tilang setiap hari Jumat di Jalan Riau, yang antri sidang puluhan sampai ratusan orang. Kita harus pagi-pagi datang ke pengadilan supaya dapat nomor antrian kecil. Sidangnya tidak sampai 5 menit, tapi mengantrinya seharian)

Pak Polisi tampak agak ogah-ogahan memberikan slip tilang yang berwarna biru. Sepertinya dia agak keberatan. Dia pikir mungkin saya mau menyelesaikan di jalan saja, seperti pemotor lain yang kena tilang.

Setelah berdiskusi dengan temannya, akhirnya dia berikan juga slip biru itu. Dia cantumkan nomor rekening Bank BRI di formulir tersebut. Saya bisa setor denda tilang via ATM BRI atau ke teller BRI.  Saya coba bayar via ATM ternyata tidak berhasil (belakangan saya ketahui memang belum bisa, sebab besar denda tilang tidak tertulis di surat tilang tesrebut). Akhirnya saya minta pegawai kantor saya untuk membayar denda tilang di  kantor BRI. Teller BRI sudah tahu  berapa besar dendanya.  Denda yang kita bayar adalah denda maksimal (kalau ikut sidang pengadilan, maka dendanya lebih kecil lagi). Saya membayar denda Rp150.000.  Tak apalah, daripada seharian antri sidang pengadilan yang menurut saya tidak efektif.

Dua hari kemduian saya bisa mengambil motor kembali di Jalan Jawa , tapi sebelumnya saya harus mengurus perpanjangan STNK beserta plat nomor seharian di kantor Samsat. Perlu waktu dua hari untuk mengurus perpanjangan plat nomor ini.  Berhubung saya tidak punya waktu, maka saya kuasakan saja ke pegawai kantor saya. Untuk perpanjangan plat nomor ini (berikut denda keterlambatan),  biayanya sekitar Rp400 ribuan.

Moral dari cerita ini, setidaknya saya bersyukur. Bersyukur karena saya sudah terhindar memberikan uang suap, dan telah menghindarkan polisi itu dari berbuat korupsi. Itu saja.


Written by rinaldimunir

May 15th, 2017 at 3:12 pm

Posted in Pengalamanku

Rumah di Pinggir Lapangan

without comments

Saya merasa beruntung sekali membeli rumah yang terletak di pinggir lapangan (ruang terbuka hijau atau RTH). Di sekeliling lapangan itu tumbuh pohon-pohon besar. Ketika siang hari yang panas, angin semilir berhembus dari pohon-pohon itu, membawa kesejukan dan rasa adem. Burung-burung beterbangan di sekitar pohon, dan suara serangga tonggeret yang sedang musim kawin riuh rendah terdengar hingga ke depan rumah.

Namun yang lebih menyenangkan lagi karena  rumah persis di depan lapangan (dipisahkan oleh jalan), maka kami tidak punya tetangga di depan rumah. Oleh karena itu ruang bermain anak menjadi lebih luas selain lapangan itu juga dapat dijadikan warga untuk aneka aktivitas, seperti main layang-layang, main bola, atau tempat duduk-duduk warga pada sore hari.

rumah1

Halaman rumah kala hujan, dengan ruang terbuka hijau (lapangan) tampak dari depan rumah

Namun, yang lebih penting dari semua itu adalah ruang terbuka yang luas untuk anak saya yang sulung. Saya diamanahi oleh Allah SWT anak berkebutuhan khusus (ABK). Keberadaan ABK tentu dapat membuat tetangga merasa agak kurang nyaman karena suara dan aktivitas anak saya yang mungkin dapat membuat orang lain terganggu.  Dengan tidak adanya tetangga di depan rumah, maka tentu berkurang rasa khawatir jika tetangga kami merasa kurang nyaman.

Ruang terbuka hijau itu dulunya milik Perumnas, maklum rumah saya termasuk di daerah Perumnas. Di sekeliling lapangan dimanfaatkan warga yang rumahnya di pinggir lapagan untuk bergai keperluan. Ada yang membangun garasi buat mobil, ada yang menjadikannya kebun, dan lain-lain. Saya sendiri memanfaatkan lahan di pinggir lapangan di depan rumah menjadi taman dan kebun kecil untuk menanam bunga serta beberapa tumbuhan lain. Selama ini tidak ada larangan untuk memanfaatkan lahan di pinggir lapangan tersebut asalkan bukan bangunan permanen. Daripada menjadi semak-semak dan tempat bersarang nyamuk, maka lebih baik dimanfaatkan. Tapi jika sewaktu-waktu mau di-revitalisasi oleh Pemerintah Kota, maka siap-siap saja semua yang sudah ditanam atau dibangun di sana harus rela dibongkar.

rumah2

Lahan di pinggir lapangan di seberang rumah saya jadkan taman dan kebun

Saya sering duduk sendirian di depan rumah memandang taman rimbun dan lapangan itu. Seringkali saya berpikir, mungkin mendapat rumah ini sudah menjadi suratan Tuhan, sudah diatur oleh Tuhan saya mempunyai rumah di sini. Dengan kondisi anak saya yang ABK, rupanya Tuhan memilihkan saya rumah di sini. Membeli rumah itu kata orang seperti mencari jodoh. Kalau mendapat yang pas, maka kita pun mencintainya. Itu tandanya saya berjodoh dengan rumah ini.

~~~~~~~~~

Saya melempar kembali ingatan ke masa lalu  kisah mendapatkan rumah  yang saya tempati sekarang. Setelah saya menikah, saya menjadi seorang kontraktor. Maksudnya saya selalu mengontrak rumah karena belum mampu membeli rumah sendiri. Saya sudah tiga kali mengontrak rumah, selalu berpindah-pindah ke rumah kontrakan, tapi masih dalam satu kawasan. Satu per satu anak saya lahir dan rumah kontrakan mulai terasa sempit. Bosan sering pindah rumah terus, mengangkut barang-barang itu lho, sungguh merepotkan.

Sebagai orang yang selalu hidup hemat, saya rajin menabung. Setiap dapat penghasilan, saya selalu menabungnya. Kebetulan saya bukan orang yang suka royal, tidak suka menonton bioskop, tidak suka ke mal, tidak merokok, jadi memang penghasilan sebagai dosen dan penulis hanya untuk makan, transportasi, dan kebutuhan rumah tangga saja.

Setiap hari libur saya sering membawa anak-anak yang masih kecil itu jalan-jalan ke kompleks perumahan. Jalan kaki saja. Ada satu rumah yang saya sering lewati. Rumah itu kosong, halamannya cukup luas, namun saya belum terpikir untuk memilikinya. Tabungan saya juga belum cukup. Lagipula, tidak ada tanda-tanda rumah itu mau dijual.

Setiap kali jalan-jalan membawa anak keliling-keliling, saya selalu melewati rumah itu lagi. Suatu hari ada tulisan RUMAH INI DIJUAL. HUBUNGI NOMOR (nomor telpon pemilik). Iseng-iseng saya hubungi nomor yang bersangkutan. Disambut. Lalu saya tanyakan harga rumahnya. Dia menyebutkan sebuah harga. Oh, saya tidak memiliki uang sebanyak yang dia minta. Kemudian saya tawar, apakah bisa sekian harganya. Pemiliknya ternyata menyarankan untuk janjian ketemu di rumah tersebut.

Pada hari yang dijanjikan, kami bertemu dengan pemilik rumah. Saya membawa anak yang masih kecil-kecil. Melihat anak-anak saya itu, pemilik itu merasa simpati. Dia minta sebuah harga yang bulat, sedikit lebih rendah dari yang dia tawarkan, sementara untuk biaya balik nama, pajak, dan biaya notaris ditanggung berdua (saya dan pemilik rumah). Akhirnya deal. Setelah melalui proses di  notaris selama sebulan, rumah tersebut akhirnya menjadi milik saya. Saya seperti hampir tidak percaya bisa memiliki rumah sendiri. Uang yang saya tabung selama bertahun-tahun sejak saya belum menikah, sedikit demi sedikit, akhirnya membuahkan sebuah rumah.

Rumah itu memiliki nomor yang bagus, yaitu nomor sembilan, meskipun saya tidak  percaya soal angka keberuntungan. Airnya dari PDAM, selalu lancar dan bersih. Rumah-rumah yang terletak di jalan lain di seberang lapangan seringkali kekurangan air, maka air di rumah saya selalu mengalir. Kami tidak pernah kekurangan air.  Alhamdulillah. Saya ingat pesan orangtua jika membeli rumah: perhatikan apakah airnya lancar. Itu nomor satu. Nomor dua adalah lingkungan. Lingkungan di sekitar rumah saya yang asri, sejuk, segar, lapang, hijau, dan tetangga yang baik adalah nilai tambah lainnya, sebagaimana yang saya ceritakan di atas.

Setelah merenung-renung kembali, makasaya pun mulai mengerti, inilah rumah yang dipilihkan Allah SWT untuk kami. Rahasia Allah kita tidak pernah tahu.


Written by rinaldimunir

April 3rd, 2017 at 5:16 pm

Posted in Pengalamanku

Kasih Ibu Kucing

without comments

Kucing adalah hewan kesayangan Rasulullah. Saya suka dengan kucing meskipun tidak memeliharanya di rumah. Suatu hari ketika mengunjungi saudara di Jakarta, saya memperhatikan seekor induk kucing yang selalu dibuntuti anak-anaknya. Kemanapun ia pergi, anak-anaknya yang berjumlah empat ekor selalu mengikutinya. Anak-anak kucing itu sudah agak besar namun mereka belum mau berpisah dengan ibunya. Belum mau mandiri. Induknya pun juga belum menunjukkan tanda-tanda untuk menolak kehadiran  anaknya agar seger hidup mandiri. Sepertinya ikatan jiwanya dengan anaknya masih belum bisa diputus begitu saja.

Ketika anak-anak kucing itu lapar, dia tidak sulit mencari makan, segera saja mereka merunduk ke bagian bawah tubuh ibunya, mencari puting susu ibunya, dan mulailah dia nenen ASI kucing. Ibu kucing itupun merebahkan badannya ke lantai agar anak-anaknya leluasa menyusu.

kucing2

Anak-anak kucing itu sangat menikmati mengisap ASI dari ibunya. Matanya sampai terpejam-pejam. Kadang-kadang kedua kaknya ditekan-tekan ke tubuh ibunya seolah-olah memberi tekanan agar ASI lancar keluar. Ibu kucing pun sangat menikmati ASI-nya diisap oleh anak-anaknya, sampai-sampai dia tertidur di lantai.

Saya amati ada satu ekor anak kucing yang tubuhnya lebih besar dari anak kucing yang lain. Anak kucing yang besar itu berbulu hitam. Kata saudara yang saya kunjungi itu, anak kucing yang berbulu hitam adalah anak dari kehamilan sebelumnya. Jadi anak-anak kucing lain yang berbulu putih adalah adik-adiknya. Meskipun anak kucing berbulu hitam ini sudah besar dan seharusnya sudah mencari jalan hidupnya sendiri, namun dia juga masih ikut-ikutan mengisap ASI ibunya, masih mengikuti ibunya kemanapun dia pergi. Induk kucing itu pun tidak melarang atau mengusir anaknya yang berbulu hitam untuk ikut-ikutan menyusu, yang seharusnya adalah hak adik-adiknya. Bahkan, kata saudara saya itu, anak kucing lain yang bukan anaknya sendiri juga diterima untuk ikut mengisap ASI-nya.

kucing1

Subhanallah. Maha Suci Allah. Maha Besar Dia. Dia tunjukkan pemandangan ini sebagai i’tibar kepada manusia. Bahwa, ibu kucing saja begitu besar cinta kasih kepada anak-anaknya, bahkan kepada anak kucing lain yang bukan anaknya sendiri. Apalagi manusia ya, seharusnya lebih besar lagi kasihnya untuk menyayangi anak-anaknya.

Begitulah pelajaran yang ditunjukkan Tuhan kepada saya siang itu di Jakarta,


Written by rinaldimunir

January 5th, 2017 at 11:49 am

Posted in Pengalamanku

Dosen Co-pas, Mahasiwa Juga Co-pas

without comments

Berita yang sangat memprihatinkan dalam dunia pendidikan tinggi dilansir pada berita brerikut: Diduga Mencontek, Ribuan Dosen tak Lulus Sertifikasi. Banyak dosen yang tidak lulus ujian sertifikasi dosen, antara lain penyebabnya karena ketahuan mencontek dengan melakukan copy paste (co-pas) jawaban deskripsi diri temannya yang sudah lulus sertifikasi. Berita lain ada di sini.

Dikutip dari tautan berita di atas:

“Sebagian besar para dosen menulis deskripsi diri, mereka mencontek atau ‘copy paste’ dari dosen yang telah lulus sertifikasi,” katanya pula.

Ghufron memperkirakan para dosen yang tidak lulus itu mencontek deskripsi diri dari dosen yang telah lulus sertifikasi dengan harapan bisa lulus juga. Padahal tim sertifikasi memberi perhatian lebih pada keaslian deskripsi diri tersebut.

“Dosen kita itu lihat ada yang lulus langsung mencontek. Padahal itu harus dihindari dan diperingatkan. Menurut saya, besok di situsnya harus diperingatkan kalau ‘copas’ dijamin tak lulus,” kata dia lagi.

FYI, dalam ujian sertifikasi dosen, peserta diminta menulis deskripsi diri dalam untaian kalimat yang panjang lebar, tidak cukup kalimat pendek saja. Untuk lebih jelasnya seperti apa pertanyaanya, silakan baca tulisan saya yang dulu, Pengalaman Mengisi Dokumen Sertifikasi Dosen. Jika jawabanya hanya satu dua kata atau kalimat pendek, pasti tidak lulus.Bagi dosen yang terbiasa menulis atau membuat karangan, maka menjawab pertanyaan semacam itu bukan sebuah kesulitan. Namun, bagi dosen yang tidak biasa menulis, maka itu adalah pertanyaan yang menyiksa. Karena ingin lulus ujian sertifikasi, maka cara-cara tidak hahal pun dilakukan, misalnya meng-copas jawaban temannnya yang sudah lulus ujian sertifikasi sebelumnya.

Padahal, penilai memerlukan jawaban yang menggambarkan deskripsi diri anda, dan itu harus asli, bukan deskripsi orang lain, bukan? Tentu lucu jika anda menyalin deskripsi   teman anda, karena itu tidak menggambarkan deskripsi anda sendiri.

Tentu saja kejadian di atas sebuah ironi. Dosen yang notabene seorang pendidik diharapkan memberi teladan kepada mahasiswanya, dengan melarang mahasiswa  mencontek dalam ujian atau  copas tugas temannya, namun di lapangan justru melakukan perbuatan yang dilarangnya. Maka, jangan heran jika dosennya saja begitu, bagaimana mahasiswanya.

Lebih ironi lagi jika atasan dosen malah membela anak buahnya yang tidak lulus itu, dengan berkata begini (dikutip dari berita di atas):

“Ini sangat merugikan, kami akan memikirkan bagaimana mekanismenya agar para dosen yang tak lulus ini bisa lulus. Tentunya harus melalui serangkaian tes lagi,” kata Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada itu pula.

Bukannya dosen-dosen yang melakukan copas ini diberi sanksi, tapi ini malah diusahakan lulus dengan memberi serangkaian tes lagi. Apa kata dunia pendidikan kalau begitu?


Written by rinaldimunir

August 26th, 2016 at 10:59 am

Posted in Pengalamanku

Telepon Rumah (Tidak) Akan Tinggal Kenangan?

without comments

Di rumah saya masih terpasang telepon rumah. Telepon rumah ini jarang sekali digunakan dan jarang sekali berdering, jadi boleh dibilang lebih sering menganggur. Paling-paling telepon rumah digunakan untuk mencari keberadaan ponsel yang  lupa ditaruh di mana. Selain itu untuk menelpon toko air mineral dan toko gas minta diantarkan air galon dan gas jika keduanya sudah habis di rumah.  Hampir tidak pernah lagi saya menggunakan telepon rumah untuk menghubungi teman, saudara, dan orang lainnya, seperti halnya dua puluh tahun yang lalu.

telepon-rumah

Telepon rumah yang kesepian

Sejak telepon genggam (ponsel) sudah menjadi alat komunikasi yang sudah  lumrah dan biasa, telepon rumah semakin menjadi tidak penting lagi keberadaannya. Sudah ada ponsel yang lebih praktis dan mobile daripada telepon rumah, maka orang-orang tidak menganggap telepon rumah menjadi  kebutuhan penting.

Telepon rumah adalah satu-satunya saluran telepon fixed line yang dikelola oleh PT Telkom. Dulu ketika memiliki ponsel belum selumrah sekarang, untuk mendapatkan sambungan telepon rumah dari PT Telkom butuh waktu yang cukup lama. Jika di sekitar rumah kita belum ada tiang dan kabel telepon, maka perlu bersabar untuk mendapat sambungan baru. Dulu rumah yang memiliki telpon rumah memiliki nilai tambah tersendiri, sebab ketika rumah dijual dan ada sambungan telepon rumah maka harganya berbeda jika rumah tersebut tidak punya sambungan telepon.

Karena sudah sangat jarang digunakan, sebagian orang mencabut telepon rumah dari kabelnya, maksudnya telepon rumah tidak dipasang lagi di atas meja. Anehnya, meski telepon rumah sudah tidak dipasang, namun mereka tidak memutus sambungannya dari PT Telkom. Mungkin merasa sayang saja jika diputus karena dulu untuk mendapatkannya perlu kesabaran tersendiri. Meski tidak dipasang lagi, tapi mereka tetap membayar abonemen bulanan  ke PT Telkom. Bagi PT Telkom sendiri telpon rumah yang menganggur mungkin sebuah kerugian, sebab mereka tidak banyak mendapat pemasukan dari fixed line, namun perawatan fixed line tetap saja harus dilakukan.

Saya sendiri tidak berniat untuk memutus sambungan telepon rumah. Biar saja terpajang di atas meja. Ia masih berfungsi dengan baik. Meskipun jarang digunakan, setidaknya telepon rumah masih berguna untuk menelpon call center bank, menelpon kantor layanan umum, menelpon pembantu dari kantor ke rumah, memesan gas dan air galon yang habis, dan ya itu…mencari keberadaan ponsel yang nyelip entah di mana.:-). Menurut cerita teman, beberapa bank BUMN dan bank asing  menjadikan nomor telepon rumah sebagai syarat untuk membuka rekening, entah benar entah tidak.

Bagi saya telepon rumah punya kelebihan tersendiri, yaitu sifatnya yang lebih ‘hangat’ dibandingkan ponsel. Ponsel bersifat privat,  jika ia berdering dengan nada dering yang disetel oleh pemiliknya, maka hanya pemiliknya yang mengangkat. Beda dengan telepon rumah, jika ia berdering di dalam rumah, maka seisi rumah tahu. Jika seorang anggota rumah mengangkatnya dan ternyata telpon itu untuk anggota keluarga lainnya, maka dia akan memanggil anggota rumah yang dituju. Jadi, kebertadan telpon rumah dapat mempererat jalinan anggota keluarga. Sepele, tapi itulah yang saya alami sendiri.


Written by rinaldimunir

July 25th, 2016 at 1:33 pm

Untung sudah “web check-in”

without comments

Hari Jumat yang lalu saya pulang kampung ke Padang. Seperti biasa saya selalu pulang kampung menjelang bulan puasa Ramadhan untuk berziarah ke makam orangtua, karena lebaran saya tidak mudik lagi. Kedua orangtua saya sudah tiada, jadi hanya tinggal pusaranya saja yang selalu ditengok-tengok setiap kali saya pulang. Saya pulang membawa anak yang baru saja selesai mengikuti UN SMP. Tiket pesawat pulang-pergi sudah saya beli jauh-jauh hari.

Pesawat saya berangkat dari Cengkareng. Sehari sebelum berangkat saya sudah melakukan check-in di website Garuda Indonesia (saya pilih naik Garuda untuk pulang dan kembali dengan Batik Air). Firasat saya mengatakan untuk chek-in sehari sebelumnya, khawatir telat ke bandara, karena perjalanan dari Bandung ke Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng tidak bisa diprediksi kemacetan lalu lintasnya. Boarding pass sudah cetak dan saya simpan baik-baik di dalam tas. Untuk jaga-jaga, boarding pass juga saya kirim ke akun surel saya di Gmail.

Seperti kebiasaan saya kalau bepergian, saya selalu backpacker-an. Hanya bawa tas ransel untuk pakaian dan lain-lain. Oleh-oleh saya taruh ke dalam kardus kecil  dan tas kantung plastik yang bisa dibawa ke atas kabin. Saya kurang suka memasukkan barang ke bagasi, karena perlu waktu setengah jam untuk mengambil barang tersebut di bandara.

Berangkatlah saya dan anak ke Bandara Soetta dari Bandung pukul 9.00 pagi. Kami naik bis Primajasa dari Batununggal. Mungkin ini kesalahan saya juga, saya memilih keberangkatan jam 9.00, agak terlalu mepet dengan keberangkatan pesawat jam 14.00 dari Soetta. Seharusnya saya memilih berangkat pukul 8.00. Di boarding pass tertulis waktu boarding jam 13.40. Perkiraan saya jam 13 selambatnya sudah sampai di bandara, karena waktu tempuh Bandung- Bandara Soetta berkisara paling lama 4 jam, jadi saya masih punya waktu satu jam kurang sebelum boarding.

Ternyata perkiraan saya salah. Memasuki Tol Cikampek arah ke Cikarang, perjalanan mulai tersendat. Bis bergerak pelan, sebentar maju sebentar berhenti. Saya masih agak santai saja waktu itu, ah nanti juga hilang macetnya, pikir saya. Ternyata tidak, macetnya lama sekali. Hari sudah menunjukkan pukul 11 lebih. Wah, saya sudah mulai khawatir. Tetapi karena saya sudah chek-in, saya tenang lagi. Kemacetan itu akibat banyaknya truk-truk bermuatan sembako lewat. Menjelang bulan puasa truk-truk sembako ini memadati jalan tol. Ternyata sebagian besar truk-truk itu rutenya mau masuk gerbang tol Cikunir. Tetapi karena banyak sekali mobil dan truk yang ke arah Cikunir, maka bis dan mobil lain di belakangnya yang hendak lurus ke gerbang tol Cikarang ikut kena macet.

Jam 12 lebih barulah bis kami berhasil melewati kemacetan parah itu. Memasuki gerbang tol Halim perjalanan mulai lancar jaya. Saya sudah mulai bernapas lega. Tetapi kelegaan saya hanya sebentar. Memasuki jalan tol Sedyatmo (jalan tol Bandara), ternyata terjebak macet lagi. Ada sebuah truk mogok di jalan, ke arah Muara Angke. Kendaraan di belakangnya terkena dampaknya. Hari sudah menunjukkan pukul 13.00. Saya sudah sangat khawatir dan sudah hilang harapan akan ketinggalan pesawat. Saya sudah mulai berpikir mau beli tiket penerbangan berikutnya lewat HP, cari di Traveloka. Alamaaak, penerbangan hari itu sudah sold out semua, tidak satu pun tiket yang tersisa untuk semua maskapai (Lion, Garuda, Citilink, Sriwijaya). Tapi saya tidak kehilangan harapan, saya kontak mbak di agen travel langganan saya di Bandung via whatssapp, minta dicarikan tiket. Jawabannya sama, habis semua. Namun tiket buat keesokan hari masih ada. Saya sudah berpikir akan menginap di Bandara saja dan terbang besok harinya.

Jam 13.20 kemacetan di Tol Sedyatmo terurai. Bis melaju kencang ke arah Bandara. Namun saya sudah hilang harapan, sudah tidak mungkin lagi kekejar pesawat. Waktu tempuh dari gerbang tol Sedyatmo ke gerbang tol Cengkareng saja memakan waktu setengah jam, itu belum termasuk waktu untuk menurunkan penumpang di Terminal 1A, 1B, 1C, dan 2D (saya di Terminal 2F, Garuda). Saya berdoa di dalam hati, semoga pesawat saya delay sehingga masih kekejar. Hari sudah menunjukkan pukul 13.50 ketika memasuki Terminal 1A. Satu per satu penumpang turun di terminalnya masing-masing. Di areal bandara sangat padat kendaraan yang akan keluar, berjalan pelan. Saya sudah tidak berharap lagi akan bisa boarding.

Jam 14.01 akhirnya bis sampai di Terminal 2F. Sambil berlari membawa tas dan barang bawaan saya dan anak berlari ke dalam. Ternyata tidak mudah juga, antrian masuk ke dalam lumayan banyak. Seorang perempuan yang baik hati di depan saya mempersilakan saya memotong antriannya. Kami berhasil masuk ke dalam, dan setelah melewati pemeriksaan X-Ray pertama kami tancap gas terengah-engah lari ke dalam. Di layar monitor terlihat status penerbangan saya masih boarding dan panggilan terakhir naik ke pesawat. Wah, harapan itu pun hidup lagi. Seorang petugas yang melihat kami lari tergopoh-gopoh menanyakan saya hendak ke mana, setelah saya jawab mau ke Padang, dia mengontak petugas di pintu gate F4 bahwa masih ada dua penumpang lagi. Akhirnya kami berhasil masuk Gate 4. Kami adalah penumpang terakhir yang naik ke dalam bis yang akan membawa ke dalam pesawat. Telat satu menit saja saya tiba maka bis  terkahir sudah berangkat dan saya harus menginap di  bandara untunk esok harinya.

Alhamdulillah, Allah masih baik kepada saya. Kami berhasil masuk ke dalam pesawat. Untung saja kami sudah web chek-in sebelumnya dan sudah mencetak boarding pass serta tidak ada barang untuk dimasukkan ke dalam bagasi. Petugas di gate F4 tidak mempermasalahkan boarding p0ass saya yang seukuran A4 iru (bukan boarding pass Garuda yang berupa kartu seukuran 30 x 10 cm itu.

Di atas bus yang membawa ke dalam pesawat saya mengontak mbak Travel langganan saya, mengabarkan saya tidak perlu beli tiket lagi. Dia juga mengucap syukur saya berhasil tidak ketinggalan pesawat. Dia menulis begini “Niat baik pasti dimudahkan oleh Allah, Pak”. Ya, niat saya pulang kampung adalah untuk ziarah kubur, mennegok makam orangtua dan mendoakan mereka. allah memudahkan jalan saya. Terima kasih ya Allah.


Written by rinaldimunir

June 3rd, 2016 at 7:04 am

Posted in Pengalamanku