if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Pengalamanku’ Category

Pohon Buah Tin di Halaman Rumah

without comments

Di rumah saya sedang tumbuh dua batang pohon tin. Saya tanam di dalam pot karena halaman rumah saya tidak luas. Satu bibit pohon tin saya dapatkan dari seorang teman di medsos, sedangkan satu lagi saya beli di tukang tanaman di depan GOR Arcamanik, Bandung.

Buah tin atau yang memiliki nama ilmiah Ficus carica ini dulunya banyak tumbuh di kawasan Asia Barat atau Timur Tengah. Buah tin juga disebut sebagai buah ara atau fig dalam Bahasa Inggris.

Subhanalah, pohon tin yang aslinya hidup di Timur Tengah ternyata bisa hidup subur di tanah nusantara.  Daunnya lebar-lebar dan banyak. Pada mulanya daunnya seperti tiga jari, tetapi ketika melebar ia menjadi daun yang lancip. Ini gambar dua pohon tin di halaman rumah saya.

Tin1

Buah tin adalah salah satu dari empat nama buah-buahan yang disebut di dalam Al-Quran (tiga lagi adalah buah kurma, buah zaitun, dan buah anggur). Begitu istimewanya buah tin ini sehingga di dalam Al-Quran terdapat sebuah surat yang diberi nama surat At-Tin. Bahkan Allah sendiri pernah bersumpah atas nama buah tin di dalam permulaan surat tersebut yang bunyinya:

Wattiini waz zaituun
Watuurisiniina
(Demi buah tin dan buah zaitun,
dan demi bukit Sinai)
(At-Tin, 1:2)

Karena Allah pernah bersumpah atas nama buah tin, saya menganggap buah tin adalah buah yang diberkahi. Buah surga. Para ahli telah menyelidiki manfaat buah tin untuk kesehatan. Dikutip dari sini, buah tin memiliki kandungan vitamin, mineral, dan fitonutrien yang baik untuk tubuh.  Vitamin yang terkandung dalam buah tin antar lain Vitamin A, vitamin C, vitamin E, vitamin K, dan vitamin B kompleks. Terdapat juga kandungan mineral meliputi tembaga, kalium, zat besi, mangan, magnesium, kalsium, zinc, sodium, dan selenium.

Beberapa manfaat buah tin adalah untuk menjaga kesehatan jantung, menjaga saluran pencernaan, mengatasi anemia, menjaga kesehatan tulang, mengatasi insomnia, mengatasi masalah seksual, meningkatkan imunitas tubuh, dan lain-lain (selengkapnya baca ini, atau ini).

Saya sendiri belum pernah makan buah tin, hanya mendengar namanya saja. Dua tahun lalu ketika saya menunaikan ibadah haji, saya mencari-cari buah tin di supermarket di kota Mekkah. Namun sayang sekali saya tidak menjumpai buah tin segar, yang ada hanya buah tin yang sudah diawetkan menjadi manisan. Kalau sudah menjadi manisan tentu rasanya sudah tidak asli lagi, cuma rasa gula saja.

Pohon tin yang tumbuh di halaman rumah selalu saya rawat dengan sepenuh hati. Saya siram dan rutin diberi pupuk. Setiap hari sebelum berangkat ke kampus saya pandang-pandang pohon ini.  Cepatlah berbuah, kata saya dalm hati.  Saya tidak sabar untuk menikmati buah surga ini.

Setelah empat bulan tumbuh, maka pada suatu hari pohon tin mulai mengeluarkan beberapa buah putik. Makin lama putik semakin  besar dan mulai menampakkan wujud seperti buah tin sebenarnya.  Warnanya masih hijau, pertanda belum matang. Saya sudah tidak sabar menunggunya sampai merah.

tin3

Kelak jika sudah matang warnanya akan merah seperti di bawah ini (sumber foto dari sini). Hmmm…ranumnya.

tin4

Dan bila kita memotong buahnya, tampaklah daging buahnya yang seperti serat-serat berwarna marah. Serat-serat berwarna merah itu mengingatkan saya pada isi buah delima.

tin5

Dua hari yang lalu buah tin di pohon sudah menunjukkan tanda-tanda matang. Meskipun kulitnya belum berwarna merah seperti pada gambar, namun saya merabanya seperti sudah matang. Mungkin jenis buah tin yang sayang tanam berbeda dengan buah tin berwarna merah.

Sebelum buah surga ini disikat oleh kelelawar, kemarin saya petik. Saya potong empat, buat anak dan istri, sama-sama mencicipi, meski cuma sekerat saja.  Rasanya? Manis dan segar. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa mencicipi buah tin hasil tanam sendiri. Terima kasih ya allah, atas nikmat buah surga dari-Mu.

~~~~~~~~~~~~

Surat At Tin

?????? ??????? ??????????? ???????????

  1. ??????????? ????????????????  wat-t?ni waz-zait?n  (Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun),
  2. ???????? ???????????  wa ??ri s?n?n (demi gunung Sinai),
  3. ??????? ????????? ????????????  wa h??al-baladil-am?n dan demi negeri (Mekah) yang aman ini.
  4. ?????? ????????? ???????????? ????? ???????? ???????????  laqad khalaqnal-ins?na f? a?sani taqw?m (Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya),
  5. ????? ?????????? ???????? ????????????  ?umma radadn?hu asfala s?fil?n (kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya),
  6. ?????? ?????????? ????????? ?????????? ??????????? ???????? ?????? ?????? ???????????  illalla??na ?man? wa ‘amilu?-??li??ti fa lahum ajrun gairu mamn?n (kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya).
  7. ????? ??????????? ?????? ????????????  fa m? yuka??ibuka ba’du bid-d?n  (Maka apa yang menyebabkan (mereka) mendustakanmu (tentang) hari pembalasan setelah (adanya keterangan-keterangan) itu?)
  8. ???????? ??????? ?????????? ?????????????  a laisall?hu bi`a?kamil-??kim?n (Bukankah Allah hakim yang paling adil?)

Written by rinaldimunir

March 6th, 2020 at 1:38 pm

Sholat Jumat di Masjid Jogokariyan

without comments

Sewaktu berada di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu, saya sudah meniatkan diri untuk sholat Jumat di Masjid Jogokariyan, sebuah masjid bersejarah di Yogyakarta. Kebetulan saya check-out hotel jam 12.00, jadi waktunya pas dengan jadwal sholat Jumat. Dari hotel tempat saya menginap di Jalan Gowongan Kidul, Malioboro, saya naik Gojek ke masjid tersebut.

Sudah lama saya mendengar cerita tentang manajemen masjid Jogokariyan, masjid kampung yang mendunia. Sejarah masjid ini dapat anda baca pada laman Wikipedia ini.  Masjid Jogokariyan memiliki manajemen yang luar biasa, sila baca pada situs webnya. Masjid Jogokariyan tidak hanya sekadar masjid tempat sholat, tetapi sekaligus menjadikannya sebagai pusat peradaban.

Deretan keistimewaan masjid Jogokariyan misalnya mengundang jamaah sholat ke masjid dengan cara berbeda, gerakan infak yag selalu tersisa nol rupiah, gerakan jamaah mandiri (selengkap baca di sini:  Deretan Keistimewaan Masjid Jogokariyan di Yogyakarta). Di masjid ini sandal hilang atau bahkan kendaraan yang hilang saja diganti. Banyak lagi deh cerita-cerita unik tentang masjid ini (Baca ini: 4 Alasan Mendatangi Masjid Jogokariyan Jogja Saat Ramadhan, yang ini:  Kisah Masjid dan Jamaah Jogokariyan Melayani Peserta Muslim United, atau yang ini:  Geliat dakwah Masjid Jogokariyan di kampung komunis).

Banyaknya cerita unik dan tayangan menarik tentang masjid ini membuat saya semakin penasaran. Oleh karena itulah ketika saya di Yogyakarta dan jadwal kereta saya ke Bandung waktunya masih lama (malam hari), maka saya sempatkan ke sana.

Setelah mutar-mutar naik Gojek, sampailah saya di kampung Jogokariyan. Kampung Jogokariyan terletak di arah Jalan Parangtritis, Nah, di perempatan kampung itulah terletak masjid Jogokariyan yang berwarna hijau. Waktu sholat Jumat lima bels menit lagi, saya berfoto dulu di depan masjid.

Di halaman masjid sudah teratata rapi ratusan nasi bungkus, gelas-gelas air minum dan botol-botol air minum mineral. Makanan dan minuman itu disediakan oleh masjid bagi jamaah usai sholat Jum’at nanti, atau bagi siapapun yang lewat di sana.

Semakin mendekati waktu sholat Jumat, masjid semakin ramai dengan jamaah hingga meluber ke halaman. Jamaah sholat Jumat tidak hanya warga sekitar, tetapi juga wisatawan atau pendatang seperti saya yang sama-sama ingin mencoba sholat di masjid yang terkenal ini. Saya tahu hal itu sebab setelah selesai sholat Jumat banyak orang berfoto-foto di depan nama masjid ini.

Sholat Jumat berlangsung seperti biasa. Khotib sholat Jumat mengangkat topik tentang makanan halal dan haram. Khatib menyoroti maraknya kedai-kedai makanan di Yogyakarta yang menjual menu daging anjing, jamaah diminta untuk mewaspadai makanan yang diharamkan agama itu (anjing adalah hewan carnivora sehingga termasuk makanan yang diharamkan di dalam Islam).

Usai sholat Jum’at nasi bungkus yang telah telah disediakan tadi dibagikan kepada para jamaah. Tidak usah khawatir, semua orang akan kebagian. Sayapun mendapat satu bungkus nasi. Ini nasi barokah, sebab ia adalah sedekah ikhlas dari hamba Allah. Jamaah termasuk saya makan bersama di teras masjid. Alangkah nikmatnya makan bersama-sama ya.

Nasi bungkus habis saya makan. Menunya sederhana saja. Nasi dan lauk berupa telur bacem dan bihun goreng bumbu kecap. Heran juga saya bisa menghabiskannya, sebab saya sangat sulit makan dengan lauk yang rasanya manis. Maklum selera saya masih selera Minang yang pedas, masih sukar menerima masakan yang manis meski sudah bertahun-tahun merantau di tanah Jawa.

Setiap orang makan dengan tertib, tidak ada makanan yang tersisa, tidak ada sampah-sampah bekas makanan yang terserak. Jamaah dengan tertib membuang sampah di tempat yang telah disediakan. Sambil makan jamaah bercakap-cakap dengan jamaah lain. Ibu-ibu yang tidak ikut sholat Jumat datang belakangan lalu menunaikan sholat Dhuhur di masjid, selanjutnya ikut makan nasi bungkus. Nasi bungkus sepertinya tidak pernah kurang.

Alhamdulillah, akhirnya niat saya untuk sholat di Masjid Jogokariyan kesampaian juga. Terima kasih ya Allah.

Written by rinaldimunir

January 3rd, 2020 at 11:36 am

Kisah Hidup Berharga dari Tukang Becak di Malioboro

without comments

Semalam saya diantar seorang tukang becak dari hotel ke stasiun Tugu, Yogyakarta. Dia  adalah bagian tukang becak yang biasa mangkal di dekat hotel. Tarif becak ke berbagai tujuan sudah pasti harganya, sebagaimana tertulis di dekat gerbang hotel. Hotel-hotel di Yogya telah berkordinasi dengan tukang beca dalam bentuk “kerjasama” yang saling menguntungkan, antara lain penentuan tarif. Pengguna becak itu kebanyakan para tamu hotel, terutama turis-turis yang ingin keliling Yogya dengan kendaraan tradisional. Saat ini becak harus bersaing dengan gojek dan grab dalam meraih penumpang.

Dalam perjalanan menuju stasiun, bapak penarik becak, sebut saja Pak Sumarto namanya, menawarkan kepada saya apakah mau beli oleh-oleh bakpia dulu di Jalan Pathuk sebelum ke stasiun. Bolehlah, kata saya. Jadwal kereta saya toh masih dua jam lagi. Tapi ongkosnya tambah berapa?, tanya saya. Cuma tambah lima ribu saja, Mas, jawabnya.

Saya minta diantar oleh Pak Sumarto ke toko bakpia 25 di Jalan Pathuk. Memang saya lebih suka bakpia 25, menurut saya bakpia 25 ini yang paling enak diantara nomor-nomor bakpia yang puluhan jumlahnya (14, 27, 55, 99, dll).

+ Kok tidak ke pabriknya saja pak?, tanya saya. (Saya dulu pernah ke home industry bakpia 25, langsung melihat proses pembuatannya, melihat para pekerja membuat bakpia. Fresh from oven)
– Ini juga sama mas, pabriknya punya beberapa toko, jawabnya.

Setelah selesai membeli beberapa kotak bakpia, saya kembali naik becaknya menuju stasiun Tugu.

Selama perjalanan dari hotel melewati Jalan Malioboro terus ke Jalan Pathuk dan stasiun Tugu saya pun kepo bertanya tentang pengalaman hidupnya menarik becak di Yogya.

+ Pak, bapak kan sering mengantar pembeli ke toko bakpia. Bapak nggak dapat komisi dari toko karena sudah mendatangkan pembeli ke tokonya?
– Oh, itu nanti. Nanti menjelang lebaran kami tukang becak dikasih THR berupa uang dan sembako dari toko.

Pak Sumarto bercerita, toko-toko bakpia, toko batik, dan toko kaos sudah punya data nama-nama tukang becak yang mangkal di hotel atau di jalan Malioboro. Tukang-tukang becak itulah yang mengantar tamu (lebih tepatnya mendatangkan) ke toko-toko tadi. Mereka tidak langsung dapat uang tips dari toko, tetapi nanti pada hari raya dalam bentuk THR dan sembako (beras, gula, minyak goreng, dll).

Jadi, di kota Yogyakarta sudah lama terjalin simbiosis mutualisma antara tukang becak dan toko oleh-oleh. Tukang-tukang becak bagaikan agen marketing toko-toko oleh-oleh. Kalau kita jalan-jalan di Malioboro, banyak tukang becak menyapa kita, menawarkan beli oleh-oleh ke bakpia pathuk. Misalnya sapaan begini: Mas, mbak, mau diantar naik becak beli bakpia ke Jalan Pathuk? Sepuluh ribu saja pulang pergi.

Biasanya tukang becak mengantar ke toko bakpia 25, karena bakpia 25 itu yang sudah punya nama. Tetapi mereka juga mau mengantar ke toko bakpia lain sesuai keinginan pelancong, misalnya bakpia tugu jogja, dan lain-lain.

Tidak hanya bakpia, simbiosis mutualisma juga terjadi dengan toko batik (misalnya rumah batik di gang-gang perumahan dekat keraton), toko kaos dll.

Setiap menjelang lebaran, demikian cerita Pak Sumarto, toko-toko itu membagikan THR dan sembako kepada tukang becak yang sudah mereka data. Pak Sumarto tidak hanya mendapat THR dari satu toko, tetapi juga dari toko-toko lain.

+ Pemilik toko bakpia itu baik orangnya. Kita juga boleh datang ke tokonya minta bantuan. Misalnya kalau becak saya rusak, perlu ongkos 200 ribu untuk memperbaikinya, tapi saya hanya punya uang 150 ribu, mereka mau membantu 50 ribu sisanya.
– Oh gitu ya pak. Memangnya pemilik toko bakpia itu orang Jawa?
+ Bukan. Semuanya orang cina, tetapi mereka baik kepada kami.

Yogyakarta adalah kota harmoni. Kehidupan di sini terasa tenang dan damai. Orang-orang kecil seperti tukang becak seperti Pak Sumarto ini tidak perlu khawatir tidak dapat rezeki. Simbiosis mutualisme dengan pihak hotel dan toko oleh-oleh adalah pengikatnya.

Tiba-tiba sejurus kemudian dia bertanya.

+ Mas orang cina ya?
– Bukan pak. Emang wajah saya mirip cina, gitu? (Saya pun terheran-heran).
+ Kulitnya mas
– Oh… (saya pun tertawa. Sudah sering saya dikira orang Cina atau orang Manado karena warna kulit)
+ Mantu saya orang cina, Mas, cina singapur. Anak saya perempuan kawin dengan cina singapur dan sekarang tinggal di Singapur.

Wah, menarik nih.

– Terus, bapak pernah diajak anak ke Singapur? Jalan2 gitu.
+ Sudah sering diajak, tapi saya nggak punya paspor. Repot mengurus paspor, harus banyak yang diisi, pakai akte kelahiran. Wong saya nggak punya akte.

Trus, bapak ketemu anak dan mantu bapak di mana?
+ Karena nggak punya paspor, kami hanya bisa ketemuan di Batam. Anak saya yang datang ke Batam sama suaminya. Sebulan saya di sana. Tapi nggak betah, balik lagi ke Yogya.
– Trus? (Saya semakin kepo saja )
+ Anak saya menyuruh saya berhenti ngebeca, tinggal di Batam saja. Saya mau dibelikan rumah 250 juta di Batam. Tapi saya nggak mau. Biarlah saya di Yogya saja menarik becak.

– Bapak asli mana?
+ Saya dari Wonogiri, Mas. Di sini saya merantau saja.
+ Ngontrak di sini?
– Ya nggak, tidur di atas becak saja.

Hmmm…meski sudah punya anak yang sudah hidup mapan di Singapur, namun Pak Marto tetap menarik becak.

– Pak, apakah anak bapak sering kirim uang ke Bapak? Bantu2 bapak dan ibunya,gitu.
+ Saya larang, Mas. Saya bilang ke dia, itu kan uang suamimu. Suamimu yang kerja,bukan kamu. Kamu harus minta izin ke suamimu jika menggunakan uang untuk keperluan keluarga di kampung. Kecuali memang suamimu yang kasih, ya saya terima.
+ Saya bilang ke anak saya. Bapak sudah cukup dengan penghasilan menarik becak.

Dalam hati saya berkata, sungguh Anda bapak yang rendah hati, tidak mau merepotkan anak atau meminta sesuatu kepada anaknya meski anaknya sudah hidup senang. Uang istri adalah dari suami. Istri harus minta izin suami jika menggunakan uang pemberian suami untuk membantu keluarganya. Ini sejalan dengan prinsip Islam.

– Menantu bapak muslim?
+ Iya. Masuk Islam. Saya suruh sunat dulu sebelum kawin dengan anak saya.
– Oh… (saya tertawa kecil)

Becakpun akhirnya sampai di stasiun Tugu. Saya pun turun. Tidak lupa ongkos becak saya lebihkan.

Bagi saya ini sebuah kisah hidup yang berharga. Meski anaknya sudah hidup mapan di negeri orang, tetapi dia tidak pernah mau meminta apapun dari anaknya. Dia melarang anaknya mengirim uang kepadanya . Membesarkan dan mendidik anak adalah pekerjaan penuh keikhlasan, tidak harap berbalas jasa. Hanya memberi, tak harap kembali.

Akupun nanti juga akan begitu. Jika anak-anakku sudah berkerja dan berkeluarga, akupun tidak akan mau meminta apapun darinya, tidak akan mau merepotkan anakku. Biarlah masa tua nanti dijalani dengan kesederhanaan di rumah sendiri. Sebagai orangtua kita sudah cukup bahagia jika anak kita sukses dan bahagia dengan hidupnya. Cukuplah kita mendoakan anak-anak kita agar mereka menjadi anak sholeh dan berhasil di dalam hidupnya.

Written by rinaldimunir

December 15th, 2019 at 9:13 pm

Masa-masa Mengantar Anak ke Sekolah yang Tidak akan Pernah Terulang

without comments

Seorang teman di kantor minta izin sebentar karena mau menjemput anaknya dari sekolah (masih SD). Setiap pagi dia selalu mengantar anaknya ke sekolah, pun pulang sekolah juga selalu dijemput.

Saya katakan kepada teman saya itu (sambil menyemangatinya): Benar, masa-masa mengantar jemput  anak ke sekolah  tidak akan pernah terulang. Hanya sekali saja dalam hidup kita ini sebagai orangtua. Kalau anak sudah besar, mereka mungkin tidak mau diantar lagi. Mumpung masih bisa antar jemput, lakukan saja dengan senang hati. Nikmati masa-masa itu.

Saya jadi teringat posting-an seorang warganet di Facebook yang baper melihat seorang ayah mengantar anaknya ke sekolah. Dia merasa sangat sedih karena tidak pernah mengantar anaknya ke sekolah. Bukan dia tidak mau, tetapi tidak punya kesempatan.

antar

Seorang ayah mengantar anaknya ke sekolah (sumber foto dari sini)

Saya sih sudah selesai menjalani masa antar anak-anak ke sekolah saat mereka SD (baca: Berakahir Masa Menjadi “Tukang Ojek” Anak). Anak-anakku kini sudah beranjak besar, dua orang yang besar sudah kuliah. Anak yang bungsu masih SMP kelas 7, dia pergi dan pulang sekolah sendiri, naik gojek, kadang naik angkot/bis. Dulu dari TK sampai SD saya yang rutin antar setiap anak ke sekolahnya setiap pagi dengan motor yang kupakai hingga kini ke kampus. Sekarang masa itu sudah lewat dengan setumpuk kenangan yang tidak akan terlupakan.

Mumpung kalian masih punya anak masih kecil, nikmati masa-masa mengantar anak ke sekolah setiap pagi. Masa-masa seperti itu tidak akan pernah terulang lagi.

Written by rinaldimunir

December 3rd, 2019 at 9:11 am

Jamu Tol*k An*in, Obat Sapu Jagat

without comments

Di rumah saya selalu menyediakan jamu Tol*k Ang*n (sengaja saya samarkan namanya supaya tidak dianggap iklan). Jika saya masuk angin, perut kembung, badan hangat, nggak enak badan, pusing, segera saya minum itu jamu. Alhamdulillah ampuh. Tidak lama kemudian badan saya enakan lagi. Obat sapu jagat, begitu sebutan untuk jamu itu, karena dapat digunakan untuk penyakit yang saya sebutkan di atas. Padahal bahan bakunya hanya jahe dan madu tetapi komposisinya pas. Memang jahe itulah zat aktifnya yang membuat badan terasa enak. Ditambah lagi dengan madu yang sudah disebutkan di dalam ASl-Quran sebagai obat  dari segala obat.

Saya punya pengalaman tidak terlupakan dengan jamu tersebut. Pernah waktu saya naik haji tahun lalu, dalam perjalanan dari Masjid Bir Ali menuju Mekah untuk umrah, saya masih berpakaian ihram, hanya itu yang saya pakai, badan dan perut sedikit terbuka. Bus pakai AC. Kalau sudah seperti itu kondisinya gampanglah saya masuk angin. Perut saya kembung dan keras. Masuk angin. Di dalam bus yg melaju di jalan tol perut saya melilit sakit. Mau berhenti tidak tahu kapan berhenti itu bus. Mekkah masih jauh. Lima jam lagi.

Bus akhirnya berhenti di sebuah rest area. Jangan bayangkan seperti rest area di Indonesia. Kecil. Saya cari warung atau toko yang menjual jamu Tol*k Ang*n di sana. Tidak ada. Saya lupa ini bukan di Indonesia yang segalanya ada. Melihat saya yang kebingungan, pak ustad pembimbing haji bertanya,mau beli apa. Saya jawab jamu tersebut. Oh, saya bawa, katanya. Diberinya saya satu. Segera saya minum. Beberapa menit kemudian saya mulai buang angin berturut-turut. Perut saya kempes dan enakan lagi.

Sejak kejadian di Mekkah tsb saya selalu sedia jamu Tol*k Ang*n di rumah maupun kalau bepergian ke luar kota. Di dalam tas saya selalu saya sediakan jamu tersebut. Pernah saya coba merek yang lain lagi karena di warung kosong, tetapi tidak cocok. Tadi siang anak saya masuk angin dan muntah, setelah minum jam Tol*k Ang*n jadi segar lagi.

Nenek moyang kita yang menemukan jamu memang hebat ya.

 

Written by rinaldimunir

March 26th, 2019 at 4:10 pm

Posted in Pengalamanku

Pentingnya Sering Minum Air Putih

without comments

Saya mendapat kiriman dari seorang teman sebuah berita tentang wafatnya salah satu ahli geologi Indonesia, Rovicky Dwi Putrohari (Alumni Fisika UI). Beliau meninggal dunia karena ada masalah dengan ususnya. Tahun 2016 berliau pernah menulis tentang penyakit ususnya itu, yang disebabkan oleh kurang minum air putih. Berikut tulisannya yang berjudul Allah mengingatkan saya tentang air.

Saya menuliskan tentang air tapi saya malas minum *air putih.* Akibatnya saya ditegur untuk mengamalkan ilmu tidak hanya dibagi tapi juga dipakai sendiri.

Saat ini saya baru saja operasi menyambung usus besar akibat _*”sigmoid diverticulosis”*_ salah satu akibat kurang bagusnya mekanisme pembersihan usus.

Memang benar makanan berserat itu sangat diperlukan untuk mengikat sisa makanan dan mengantarkan ke pembuangan. Namun *air putih* sangat diperlukan sehingga membuat pup itu tidak mengeras, abrasif dan menggelontor seluruh permukaan usus dengan baik.

Penyakit _Diverticulosis_ memang tidak diketahui ahli kesehatan secara pasti penyebabnya. Namun salah satu yg terkena pada saya adalah kurangnya minum air putih. Saya cukup minum (teh tawar, jus dll) hanya menjaga utk tidak dehidrasi tapi semestinya memang harus dibarengi “air putih” utk pembersihan sisa makanan ini.

*Usus itu memang unik*

Usus tersusun dari otot yg tidak sadar, artinya usus itu berkontraksi karena sinkronisasi dengan gerakan otot lainnya. Jadi kalau anda ingin pencernaannya sehat, maka anda WAJIB berolah raga. Otot usus akan bekerja saat otot lain bekerja.

*Usus juga tidak memiliki syaraf perasa* , sehinggga ketika usus terganggu kita sepertinya tidak merasakan apapun. Dan itu yang terjadi pada saya empat bulan lalu.

Siang itu, empat bulan lalu, saya tidak merasakan apapun, namun sorenya saya sama sekali tidak dapat berdiri tegak karena sakit bagian bawah perut. Dan ketika esoknya ke dokter diperiksa memakai CT Scan saya disarankan untuk operasi esok paginya !!

Akhirnya usus saya dipotong 8cm esok harinya. Ususnya juga *belum dapat disambung*. Dan saya harus memakai “stoma”. Pembuangan pup lewat samping.

Barangkali penyakit ini salah satu *”silent killer”* yang harus kita waspadai secara serius, karena bisa muncul tanpa peringatan dini.

Saya menjalani sebagai ostomed selama 4 bulan. Nanti kapan” saya mendongeng ttg ostomed.

Empat hari lalu saya menjalani operasi kedua utk menutup “stoma” yg sudah menemani saya selama 4 bulan sebelumnya. Dan sekarang masih menjalani recovery.

Allah mengingatkan saya tentang manfaat *air putih*.

Saya pernah menulis beberapa artikel tehnis ilmiah populer dongeng geologi tentang Sumur Zam-Zam ini sudah hampir sepuluh tahun lalu. Tapi saya masih diberi peringatan Allah utk mengerti khasiat *air putih*.

Alhamdulillah,
Semoga teguran ini pertanda cintaNya.

~~~~~~~~~~~~~~~~

Pengalaman sakit (alm) Rovicky menyadarkan kita pentingnya sering minum air putih. Banyak orang yang menganggap remeh soal minuma air, jarang minum, dan setelah sakit barulah sadar telah lalai kurang minum.

Bahwa kita harus sering minum air putih untuk menjaga  badan tetap sehat sudah saya buktikan sendiri khasiatnya. Kalau saya merasa agak pusing (saya kadang-kadang memiliki tekanan darah rendah), saya langsung minum banyak air putih, beberapa saat kemudian saya merasa segar kembali. Minum air putih adalah terapi yang ampuh untuk menjaga kestabilan tekanan darah, kesehatan jantung, saluran pencernaan, dan menjaga tubuh agar tetap fit.

Sewaktu menunaikan ibadah haji tahun lalu, ustad pembimbing haji selalu mengingatkan jamaah haji agar sering minum air putih selama di Mekkah dan  Madinah. Tidak hanya untuk mencegah dehidrasi akibat cuaca panas (40-50 derajat celcisu), tetapi untuk menjaga agar tubuh selalu sehat dan tidak gampang sakit.

Sejak tahun lalu sepulang haji saya selalu membiasakan diri sering minum air putih  meskipun sedang tidak haus. Pusing sedikit, langsung minum air putih. Tidak pusingpun selalu minum. Saya sudah kapok sudah tiga kali terkena penyakit ISK (Infeksi Saluran Kemih) yang sakitnya luar biasa, sampai-sampai saya berguling-guling menahan sakit yang tidak terperi di perut bagan bawah. Salah satu cara pencegahan ISK adalah rajin minum air putih untuk membuang bakteri yang menginfeksi saluran kemih. Jika ingin ginjal kita tetap sehat, banyaklah minum air pada siang hari, sedikit minum pada malam hari, dan kosongkan kandung kemih sebelum tidur, demikian tips sehat yang saya baca.

Saya menerima kiriman gambar yang sangat bagus untuk mengingatkan kita agar selalu minum pada waktu-waktu berikut: setelah bangun tidur, sebelum makan, sebelum mandi, dan sebelum pergi tidur.

Minum setelah bangun tidur berfungsi untuk membersihkan organ di dalam tubuh dengan air, lalu kotoran dan kuman di dalam organ itu akan keluar ketika kita buang air kecil.

Minum segelas air sebelum makan bertujuan untuk mengencerkan cairan di dalam saluran pencernaan sehingga makanan yang masuk menjadi lebih mudah untuk dicerna.

Minum  air sebelum mandi bertujuan untuk menurunkan tekanan darah sehingga tubuh tidak kaget ketika menerima guyuran air.

Minum air sebelum tidur bertujuan untuk menjaga tubuh tetap terhidarsi, tidak kekurangan cairan selama tidur.

Semoga kita tidak lalai untuk menyuskuri nikmat Allah SWT ini berupa khasat air.

Written by rinaldimunir

March 12th, 2019 at 4:44 pm

Posted in Pengalamanku

Tidur Siang Sejenak di Kampus

without comments

Setelah jam 14.00 siang biasanya mata saya lelah setelah cukup lama berada di depan komputer atau mengajar. Selain lelah mata, juga lelah otak. Kalau sudah begitu, biasanya saya pergi menuju ruang rapat yang sepi, lalu menyusun kursi-kursi berjejer. Selanjutnya saya merebahkan badan di atas jejeran kursi itu, meletakkan ponsel dan kacamata di atas kursi di depan saya, lalu tiduranlah saya sekitar setengah jam hingga satu jam. Lumayan segar lagi setelah bangun. Otak dan matapun punya hak untuk istirahat.

Rupanya tidur siang adalah sunnah yang dianjurkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda (sumber dari sini dan ini):

Qailulah-lah (istirahat sianglah) kalian, sesungguhnya setan-setan itu tidak pernah istirahat siang.” (HR. Abu Nu’aim)

Keberkahan tidur siang sejenak juga disebutkan di dalam Al-Quran:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” (Ar-Ruum :23)

Jadi, tidur siang itu sunnah. Tidur siang yang dilarang adalah tidur setelah sholat Subuh dan setelah Sholat Ashar.

Tidur sejenak siang hari memiliki manfaat, antara lain membuat pikiran segar kembali untuk beraktivitas berikutnya. Saya pernah membaca sebuah artikel tentang kebiasaan orang Italia dan Spanyol tidur siang. Lepas tengah hari mereka menutup pintu-pintu tokonya untuk tidur siang. Satu jam setelah tidur mereka membuka tokonya kembali.

Beberapa kantor perusahaan IT modern seperti Google menyediakan dipan untuk tidur siang. Karyawannya bisa relax sejenak sejenak dari aktivitas coding. Kantor Bukalapak di Bandung pun menyediakan ruangan tidur lengkap dengan dipannya.

Jadi, tidak salah juga saya tidur sejenak di kantor saat setelah lepas Dhuhur. Kalau saya agak cape, atau kepala berat dan pusing, saya pergi ke ruang rapat itu. Tidak ada kasur, kursi-kursipun jadilah. Tidur dulu ah…..

Written by rinaldimunir

February 18th, 2019 at 4:37 pm

Posted in Agama,Pengalamanku

Kebiasaanku Bila Bepergian

without comments

Saya punya beberapa kebiasaan jika bepergian ke luar kota.  Kebiasaan ini saya lakukan adalah hasil lesson learned dari kejadian apes  yang dialami orang kain, Agar kejadian yang sama tidak menimpa saya, maka saya selalu mengamalkan tiga kebiasaan di bawah ini.

Kebiasaan 1.

Kebiasaan saya kalau pergi ke luar kota adalah selalu meninggalkan SIM, STNK, dll di rumah. Saya cukup membawa KTP dan beberapa ATM. Ini untuk mengantisipasi kalau dompet hilang maka tidak seluruh kartu penting hilang.

Sabtu kemarin ketika pergi tugas mengajar ke Lampung saya tinggalkan lagi SIM dan STNK di rumah. Tapi hari Senin saya lupa memasukkannya ke dalam dompet. Alhasil, ketika bawa motor saya baru sadar ketinggalan di rumah. Sudah tangung mau balik lagi ke rumah. Sudah setengah perjalanan. Saya khawatir saja ada polisi yang razia. Jadilah saya celingak-celinguk dan waspada. Lewat jalan alternatif yang tidak ada polisinya. Nakal.

Ketika pulang kantor kekhawatiran yang sama kena razia terulang lagi. Tapi alhamdulilah tidak ada. Polisinya sibuk mengatur kemacetan saat jam pulang kerja.

Sekarang kalau pergi ke luar kota lagi saya harus pasang alarm di HP: ingat, SIM dan STNK di lemari!!! Alarm itu akan berbunyi pada hari Senin pagi.

Kebiasaan 2

Selain meninggalkan SIM dan STNK di rumah, saya juga punya kebiasaan memasukkan dua kartu ATM di dalam tas ransel setiap pergi ke luar kota (saya backpackeran). Saya punya tiga kartu ATM dari tiga bank berbeda: BNI, Muamalat, dan BSM. BNI buat penampungan gaji PNS, Muamalat dan BSM buat masa depan .

Nah, kartu ATM dan Muamalat saya selipkan di dalam tas ransel. Kartu BNI di dalam dompet. Jadi, jika dompet saya hilang atau ketinggalan, saya tidak panik kehabisaan uang buat makan atau beli tiket bus. Masih ada dua kartu ATM di dalam tas ransel. Bayangkan jika kita berada pada situasi dimana tidak kenal seorang pun di sebuah tempat, kemana mau minta uang? Oh ya, saya juga menyelipkan dua atau tiga lembar uang 10.000-an di dalam tas.

Kebiasaan ini saya lakukan berkaca dari pengalaman seorang teman, rekan saya, yang ketinggalan dompet di tempat penginapan. Dia sudah sampai di bandara tujuan, tetapi mau pulang ke rumah tidak punya uang. Setelah dia bongkar semua sudut di dalam tas ranselnya, alhamdulillah nyelip uang 3000.  Dia akhirnya bisa pulang ke rumah naik angkot.  Dia mengatakan sering memasukkan uang receh ke dalam tasnya, siapa tahu nanti diperlukan saat dibutuhkan. Ternyata memang sangat dibutuhkan saat terjepit seperti itu.

Sebuah peribahasa mengatakan jangan simpan semua telur di dalam satu keranjang. Jatuh keranjang, pecah semua telur. Simpanlah telur di dalam beberapa keranjang.

Kebiasaan 3

Kalau berada di bandara lalu KTP ketinggalan atau hilang, bagaimana? Tentuk kita akan kesulitan melakukan check-in, apalagi SIM juga sudah disimpan di rumah.

Kalau berada diluar negeri lalu paspor hilang, bagaimana? Tidak kita tidak bisa melewati imigrasi. Kepulangan tertunda, harus lapor dulu ke Kedubes.

Saya selalu memfoto semua identitas dan kartu penting: KTP, paspor, kartu NPWP, bahkan halaman pertama buku tabungan. Semua foto ada di dalam memori hp. Bukan apa-apa, jaga-jaga saja kalau ada apa-apa. Memang foto KTP atau paspor tidak bisa dijadikan bukti identitas diri di bandara, tetapi sering berguna jika dianggap “pendatang haram” atau orang tidak jelas. Tunjukkan saja foto identitas tersebut bersama tiket pesawat.

Namun ada sisi praktisnya punya foto identitas penting tersebut. Seringkali pihak pengundang meminta foto kartu NPWP, halaman pertama buku tabungan, dan KTP. Buat bukti potongan pajak katanya. Atau minta foto paspor. Buat dibelikan tiket, katanya. Nah, kita kan tidak selalu bawa paspor , NPWP, buku tabungan. Tapi karena fotonya ada di hp, tinggal kirim saja pakai WA atau email via hp. Tidak repot buka laci lemari mencari dan memfotonya lagi.

Dengan teknologi internet yang sangat mudah saat ini, kita pun dapat menyimpan foto-foto itu secara otomatis di private cloud., misalnya di  onedrive atau dropbox. Kita pun dapat mensinkronkan ponsel dengan Google Photo sehingga setiap kali memotret foto langsung terunggah ke onedrive.

Written by rinaldimunir

February 7th, 2019 at 7:10 am

Posted in Pengalamanku

Punya SIM Lagi Setelah Hangus

without comments

Selama dua tahun saya mengendarai motor dengan SIM C yang sudah hangus. Mati. Penyebabnya adalah saya lupa memperpanjang SIM. Masa berlaku SIM adalah lima tahun, dan tanggal kadaluarsanya sesuai dengan tanggal lahir kita. Nah, masalahnya saya tidak menyadari kalau SIM saya harus diperpanjang sebelum tanggal kadaluarsanya habis. Lupa, benar-benar lupa. Saya kira masih satu tahun lagi kadaluarsanya. Sekarang kepolisian tidak memberi maaf, lewat satu hari dari tanggal kadaluarsa maka SIM kita hangus. Kita harus daftar ulang untuk membuat SIM baru dari awal lagi, harus tes drive lagi, harus ujian teori lagi.

Saya tidak masalah dalam ujian teori, tetapi tes drive itu yang bikin deg-degan. Kenapa deg-degan, sebab jika gagal melewati salah satu tes drive, misalnya kaki menginjak tanah saat melewati lintasan angka 8, maka tes drive gagal. Jika gagal, kita harus mengulang lagi minggu depannya. Jika gagal lagi, maka datang lagi minggu depan, begitu seterusnya sampai berhasil. Tes melewati angka 8 itu yang paling sulit. Tidak masuk akal memang, mana ada dalam kehidupan sehari-hari kita melewati jalur sempit angka 8. Tetapi, karena tesnya demikian maka ya dijalani saja.

Jarang ada peserta yang lolos tes drive satu kali. Beberapa orang yang pernah mengikuti tes drive menceritakan mereka sampai empat hingga enam kali mengulang baru berhasil lolos tes drive. Itu berarti empat minggu hingga enam minggu harus datang ke kantor polisi. Padahal, untuk mengikuti tes drive ini kita harus antri menunggu giliran. Orang yang mengantri juga banyak. Kita perlu menyediakan waktu setengah hari untuk mengikuti tes drive ini. Tentu kita harus mengorbankan waktu kerja. Kalau berulang-ulang mengikuti tes drive ya rugi waktu juga dan buang-buang tenaga.

Tahun 2016, saya mengamati ujian tes drive di Polrestabes Bandung.

Salah satu tes yang paling sulit adalah melintasi jalur angka 8. Banyak peserta yag gagal.

Orang-orang yang tidak mau bersusah payah mengikuti ujian praktek SIM yang berulang-ulang biasanya mengatakan begini: “Sudahlah, ambil SIM tembak saja, beres!”.  SIM tembak? Ah, saya tidak mau. SIM tembak artinya sama saja memberi suap kepada oknum polisi. Pungli. Tidak mendidik, dan yang jelas dosa memberi suap maupun menerima suap. SIM tembak itu tidak prosedural, jalur pintas, lewat jalan belakang. Membuat SIM tembak artinya melalui oknum polisi, kita tidak perlu ikut tes drive atau ujian teori. Pokoknya tinggal beres. Tapi harganya mahal, ada yang bilang 750 ribu, ada yang bilang 800 ribu. Uang itu entah dibagi buat siapa saja. Saya tidak tahu apakah sekarang masih ada praktek SIM tembak itu, karena kepolisian saat ini sudah berbenah dan lebih disiplin menegakkan aturan.

Karena “takut” gagal mengikuti tes  drive, maka selama dua tahun saya membawa motor dengan SIM yang sudah mati.  Nakal saya ini, melanggar aturan. Benar-benar nekat. Saya terpaksa kucing-kucingan supaya tidak bertemu polisi. Ketika melewati suatu jalan, saya harus waspada apakah ada razia. Jika ada, maka saya harus mencari jalan lain. Dua kali saya pernah apes, kena tilang saat ada razia. Tentu saya kena denda atau ikut pengadilan tilang. Namun, saya tidak mau membayar uang damai kepada polisi yang menawarkan dielesaikan di jalan saja.  Tidak. Saya meminta slip tilang berwarna biru, lalu saya membayar denda tilang di Bank BRI (baca: Kena Tilang (lagi), Slip Biru, dan Anti-korupsi).

Namun, perasaan saya tidak tenang setiap kali membawa motor dengan SIM yang sudah mati. Saya merasa bersalah. Namun, saya juga punya perasaan khawatir gagal melewati tes drive. Saya itu orangnya suka gugup jika menjalankan sebuah hal yang baru (curhat nih).  Untuk menghilangkan rasa bersalah, maka saya putuskan saya harus ikut ujian SIM. Harus, tidak bisa saya tunda-tunda lagi. Tapi bagaimana cara bisa lulus tes drive yang sulit itu?

Seminggu sebelum ikut ujian SIM, saya mengikuti pelatihan tes drive di belakang Lotte Jalan Soekarno-Hatta. Saya baru tahu ternyata ada lembaga pelatihan tes drive, baik untuk motor maupun mobil. Lumayan mahal biayanya, 500 ribu. Di sana saya dilatih sampai bisa (lulus) mengikuti tes drive yang sama persis dengan tes drive di kantor polisi. Memang sulit tes drive ini, beberapa kali saya melanggar plang, beberapa kali kaki terpaksa jatuh ke tanah karena tidak seimbang. Yang sangat sulit itu melewati angka 8 dan zig-zag (slalom test). Tetapi pembimbing di sana melatih terus dan memberikan trik dan tips. Akhirnya setelah beberapa kali dicoba akhirnya bisa juga, dan alhamdulillah lulus. Butuh waktu empat jam berlatih tes drive berkali-kali, sebelum akhirnya saya lulus.  Fiuh… Saya pun mendapat sertifikat lulus tes drive.

Sertifikat telah lulus ujian mengemudi

Ketika mendaftar pembuatan SIM di kantor polisi, sertifikat ini saya bawa saat pendaftaran dan dilampirkan pada formulir. Saya perhatikan hampir semua pemohon SIM (baik SIM A maupun SIM C) saya lihat membawa sertifikat lulus mengemudi.

Setiap pemohon SIM hampir semuanya membawa map yang berisi sertifikat lolos tes drive.

Prosedur pembuatan SIM tetap harus dilalui peserta sebanyak 7 loket. Loket satu sampai loket 7.  Tetap antri di loket manapun. Tetap harus ikut tes teori secara daring di depan komputer.

Tes teori

Serius mengikuti ujian teori

Ada 30 soal, soal-soal ujian umumnya tentang tertib berlalu lintas. Peserta ujian harus menjawab benar 21 soal dari 30 soal. Jika kurang dari 21, maka tidak lulus. Peserta yang tidak lulus ujian teori masuk ke ruang simulator. Di sana Pak Polisi menjelaskan cara tertib berlalu lintas kepada peserta yang tidak lulus ujian teori.

Loket simulator

Masuk ke ruang simulator bagi yang tidak lulus ujian teori.

Akhirnya, tibalah di loket 6, yaitu loket untuk tes drive. Ketika tiba di loket 6, ternyata peserta yang membawa sertifikat tidak dipanggil untuk mengikuti tes drive. Makanya saya tidak heran kenapa arena tes drive di luarnya sepi. Ya, karena pemohon SIM sudah lulus tes drive di tempat pelatihan sehingga tidak diuji lagi.  Apakah ini kebijakan baru di kantor polisi, saya tidak tahu. Hmmm…saya masih bertanya-tanya apakah data hasil kelulusan tes drive di tempat pelatihan tersambung secara online ke kantor polisi? Wallahu alam.

Arena tes drive yang sepi.

Dari loket 6 saya langsung langsung ke loket 7 (loket BRI) untuk pembayaran biaya SIM sebesar 100 ribu (untuk SIM A besarnya 120 ribu). Dan akhirnya SIM baru bisa diambil di ruang sebelahnya. Proses pembuatan SIM ini hanya memakan waktu 2 sampai 3 jam saja, kecuali jika jaringan tiba-tiba mati (offline) seperti hari ini. Sangat mudah membuat SIM sekarang ini. Kepolisian saat ini telah berevolusi menjadi lebih mangkus dan sangkil. Lebih ramah melayani, dan no tips.

Alhamdulillah, sekarang saya sudah memiliki SIM yang baru. Saya jadi tenang membawa motor, tidak takut razia lagi. Saya juga senang karena lulus godaan membuat SIM tembak atau lewat  calo. Saya akui memang saya mengeluarkan biaya tambahan sebesar 500 ribu untuk ikut pelatihan tes mengemudi sehingga biaya membuat SIM menjadi 600 ribu, tidak jauh beda dengan biaya SIM tembak. Tidak masalah. Saya tidak mempersoalkan  biaya tambahan 500 ribu itu, tetapi saya telah menghemat waktu karena tidak ikut tes drive berminggu-minggu di kantor polisi. Uang bisa dicari lagi, tetapi waktu sangat berharga untuk dibuang. Dan yang paling penting, saya telah mengikuti semua ujian SIM secara prosedural, tidak lewat calo atau pakai perantara.

Ayo bikin SIM sendiri tanpa nembak, tanpa calo, dan tanpa pakai biro jasa. Mudah kok dan cepat.

Written by rinaldimunir

January 25th, 2019 at 3:58 pm

Posted in Pengalamanku

Pengalaman Minum Obat Tidur

without comments

Mungkin ini salah satu pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan, yaitu pernah mengkonsumsi obat tidur!  Seumur hidup inilah pertama kali saya mengkonsumsi obat semacam ini.

Jadi ceritanya begini. Seusai lebaran kemaren, saya pernah dua hari dua malam tidak bisa tidur. Mata tidak bisa dipejamkan  sepicingpun. Sudah bolak-balik badan saya di atas kasur, tapi mata tetap melek. Sudah beberapa doa dan surat di dalam Al-Quran saya baca tetapi tetap tidak bisa tidur juga. Sampai adzan subuh berkumandang saya belum berhasil tidur.  Istilah ilmiahnya saya mengalami insomnia.

Efeknya terasa pada siang hari. Badan saya kleyeng-kleyengan kata orang Jawa, tidak nyaman, pusing, tidak bisa konsentrasi.  Badan terasa lelah. Mata terasa sangat berat tetapi tidak ada rasa mengantuk. Tidak enaklah pokoknya.

Dua hari tidak bisa tidur, maka saya tidak ingin pada hari ketiga juga tidak bisa tidur. Lalu, saya pun mengunjungi dokter umum. Dokter mengatakan saya mungkin mengalami stres atau banyak pikiran sehingga tidak bisa tidur. Banyak pikiran? Mungkin juga. Menjelang keberangkatan haji, seperti yang saya ceritakan pada tulisan sebelumnya, saya memang sering kepikiran. Kepikiran anak sulung, kepikiran segala macam. Meskipun kepikiran itu hanya selintas-selintas saja melayang di dalam otak, tetapi terbawa ke tempat tidur. Akibatnya ya begini, saya tidak bisa tidur sepicingpun. Insomnia!

Saya minta solusinya kepada dokter. Saya ingin tidur barang sejam dua jam tak apalah. Dokter memberi saya lima butir obat namanya Alganax. Dari internet saya ketahui kalau Alganax adalah sejenis obat penenang yang memberi efek mengantuk. Semacam valium lah. Obat ini diminum satu butir setelah makan malam. Dosis obat yang diberikan adalah 0.5 mg.

Malam harinya saya minum satu butir Alganax. Beberapa jam kemudian saya merasa mengantuk berat. Akhirnya saya benar-benar bisa tertidur pulas sampai adzan Subuh. Keesokan harinya badan saya merasa segar kembali.

Pada malam kedua saya minum satu butir lagi. Saya memang bisa tidur seperti pada hari sebelumnya.

Tetapi, pada hari ketiga, saya tidak mau meminum lagi. Saya tidak ingin tergantung pada obat tidur ini. Dua butir saja cukup, sisanya tidak mau saya habiskan.  Pada dasarnya semua obat penenang memberi efek kecanduan, yang jika dikonsumsi dalam jangka waktu lama bisa membuat penggunanya seperti pecandu narkoba: harus tersedia, jika tidak ada maka diri akan merasa gelisah, badan tidak enak, dan sebagainya.

Pada hari ketiga dan keempat setelah saya tidak mau minum obat tidur itu lagi, memang mata sulit dipejamkan. Saya mencoba berbagai tips agar bisa tidur, misalnya kamar dibuat dalam keadaan gelap gulita, tidak boleh ada cahaya sedikitpun. Semua jam yang berbunyi saya turunkan,  minum susu hangat, madu, bahkan mandi air hangat. Setelah berjuang berjam-jam untuk tidur, memang saya bisa tidur sebentar tapi terbangun lagi. Setelah terbangun saya tidak bisa tidur lagi. Intinya saya tidak bisa tidur lelap. Kejadian ini berlangsung selama beberapa hari yang membuat badan saya drop. Tetapi, demi tidak mau minum obat tidur lagi, hal ini harus dilalui supaya efek ketergantungan itu hilang.

Saya berkesimpulan bahwa penyebab insomnia ini yang harus diatasi terlebih dahulu, bukan solusinya dengan obat.  Obat tidur atau obat penenang hanya memberi ketenangan yang semu. Efek mengantuknya tidak alami, tetapi karena dirangsang oleh zat kimia dari obat. Kalau memang saya tidak bisa tidur karena banyak pikiran menjelang berangkat haji, maka masalah inilah yang harus diselesaikan.  Lalu, saya bermunajat kepada Allah SWT, saya memasrahkan diri saya kepada-Nya, ikhlas lahir batin. Semua saya serahkan kepada Allah, baik keluarga saya, anak saya, maupun harta benda saya. Saya minta diampuni semua dosa dan kesalahan saya.

Pada hari kelima dan seterusnya saya bisa juga tidur, tetapi setelah larut malam baru mata bisa terpejam. Tak apalah, daripada tidak bisa tidur sama sekali. Dua jam pun cukup.

Sekarang saya sudah bisa tidur lagi. Sebagai pengganti obat tidur dari dokter, saya menggunakan beberapa herbal. Saya pesan teh Chammomile lewat Tokopedia. Saya coba minum larutan serbuk buah pala dicampur madu. Saya juga minum suplemen. Alhamdulillah, saya berhasil  tidur lama dan badan saya mulai merasa segar kembali.

Written by rinaldimunir

July 6th, 2018 at 4:50 pm

Posted in Pengalamanku