if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Pendidikan’ Category

Adegan Kurang Nyaman di dalam Film “Dilan 1990”

without comments

Terpengaruh oleh promosi dan meme-meme yang lucu di media sosial tentang film Dilan 1990 membuat saya dan istri ikut tertarik menonton film remaja ini. Ini film yang sedang poluler di tanah air dan sudah mencapai jumlah penonton mendekati 5 juta orang.  Katanya, film yang diadopsi dari novel laris karya Pidi Baiq dengan judul sama ini, ceritanya tidak berat, banyak adegan kocak, dan yang paling penting banyak kalimat puitis yang bikin baper banyak orang.  Salah satu kalimat yang favorit di film itu dan bikin baper anak muda adalah Jangan rindu. Berat. Kamu tidak kuat. Biar aku saja. ?

Saya tertarik menonton film ini bukan karena kalimat-kalimat puitis yang bikin baper itu. Bukan. Tetapi karena film ini menggambarkan suasana kota Bandung tahun 1990. Singkatnya, tokoh Dilan dan Milea di dalam di film tersebut bersekolah di SMA di daerah Buahbatu (tahu sendirilah, pasti SMAN 8 Bandung), jadi tentu shooting film mengambil setting kota Bandung tahun 1990. Tahun 1990 itu saya masih kuliah di ITB, belum lulus, dan kesibukan saya lebih banyak menjadi pengajar di Bimbel Karisma Salman ITB. Di Bimbel itu saya bertemu banyak anak SMA dari berbagai sekolah di Bandung. Jadi, ini semacam nostalgia saja. Bagi saya, kota Bandung adalah kota kecintaan saya yang kedua setelah kota Padang tempat kelahiran saya. Saya kuliah di sini, di ITB,  dan akhirnya bekerja menjadi dosen di almamater saya hingga sekarang.

dilan-film

Menurut saya setelah menonton film Dilan, jujur saja filmnya memang bagus, jalan ceritanya menarik. Ini memang kisah cinta remaja. Saya jadi teringat masa-masa remaja di SMA, tetapi memang jalan cerita saya tidak sama dengan Dilan, he..he.

Namun, ada beberapa adegan yang menurut saya cukup mengganggu dan kurang nyaman dilihat. Di dalam film ada adegan Dilan mengamuk, menyerang, dan memukul gurunya, Pak Suripto, pada saat upacara bendera. Memang Pak Suripto salah juga sih, dia menarik kerah baju Dilan lalu menamparnya di depan siswa lain. Itu memang sikap guru yang tidak pantas karena melakukan kekerasan kepada siswa. Tidak jelas juga apa kesalahan Dilan sehingga dia ditampar. Tapi menurut saya tidak selayaknya adegan guru menampar murid dan Dilan menghantam Pak Guru ditampilkan di dalam film tersebut mengingat banyaknya kasus kekerasan antara murid dan guru saat ini. Guru melakukan kekerasan kepada murid, murid membunuh gurunya. Hii….sungguh zaman sekarang makin kacau.

Saya khawatir adegan Dilan menyerang guru nanti jadi pembenaran bagi murid  lain untuk membalas dengan kekerasan pula jika guru memarahi murid dengan tangan. Heran saja adegan tersebut bisa  lolos sensor. Saya tidak tahu apakah di dalam novelnya ada alur cerita demikian (saya tidak membaca novel Pidi Baiq), tetapi ada atau tidak di dalam novel aslinya tidak perlulah ditampilkan adegan tersebut secara vulgar di dalam film. Saya sebagai guru (dosen) saja tidak nyaman melihat seorang guru diserang, dipukul, dan dihantam, apalagi Dilan memanggil gurunya dengan nama saja, Suripto, tanpa kata Pak di depannya. Itu saja tidak sopan menurut saya.

Selain adegan di atas, ada adegan lain yang saya juga kurang nyaman melihatnya, yaitu adegan romantis Milea memeluk Dilan yang boncengan di atas sepeda motor. Saya tidak tahu di dalam novel aslinya apa juga demikian, atau hanya kreativitas sutradara saja yang membuat visualisasinya demikian. Anak SMA lho itu, bukan cerita orang dewasa. Film ini menurut klasifikasinya untuk usia 13+, tetapi saya lihat banyak anak-anak juga ikut nonton bersama orangtuanya, dan petugas bioskop pun tidak melarangnya.

Saya khawatir saja adegan mesra tersebut ditiru remaja kita dan menganggapnya perbuatan biasa, padahal bisa mengarah ke perbuatan selanjutnya yang dilarang agama.  Penonton film Dilan kebanyakan remaja. Usia remaja belum bisa memfilter mana adegan yang baik dan mana yang kurang pantas. Untung anak saya yang duduk di SD batal ikut menonton, padahal tadinya dia ngotot mau ikut. Coba kalau ikut, tentu saya merasa jengah melihat dia menyaksikan kemesraan dua anak SMA yang berpacaran. Menurut saya sebuah film tidak hanya berisi tontonan, tetapi seharusnya  juga berisi tuntunan yang mendidik. Memang pada zaman sekarang sudah biasa kita lihat para remaja berpacaran seperti sudah menjadi suami istri saja, peluk-pelukan, pegangan tangan, ciuman, dan akhirnya berbuat zina yang lebih dalam lagi. Tapi yang sudah biasa itu tidak boleh kita anggap benar. Saya memang termasuk kolot dalam mendidik anak, wanti-wanti saya melarang ini itu, ini tak boleh itu tak boleh, bergaul sama siapa saja.  Boleh badung sepert Dilan, tetapi jangan mendekati zina yang dilarang agama. Itu saja.

Written by rinaldimunir

February 12th, 2018 at 11:44 am

Posted in Pendidikan

Lingkungan Berat Anak Zaman Sekarang

without comments

Dulu orangtua sering khawatir dengan anak perempuannya, khawatir dengan pergaulan bebas yang dapat merusak masa depannya. Anak perempuan dijaga betul bergaul dengan laki-laki khawatir, khawatir kenapa-kenapa, misalnya pelecehan seksual, perkosaan, hamil diluar nikah, dsb. Berbagai aturan pun dibuat orangtua untuk menjaga keselamatan anak perempuan mereka, misalnya tidak boleh pulang malam, tidak boleh berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan mahram, dan sederet wanti-wanti agar anak perempuan mereka tidak mudah tergoda bujuk rayu lelaki. Pokoknya cerewetlah kepada anak perempuan dibandingkan kepada anak laki-laki.  Sementara anak laki-laki diberi kebebasan di luar rumah.

Tetapi pada zaman sekarang mempunyai anak laki-laki juga sama khawatirnya dengan anak perempuan. Banyak kejahatan seksual mengintai anak laki-laki, baik yang masih anak-anak maupun yang sudah remaja. Kaum yang mengalami penyimpangan seksual mencari mangsa tidak hanya anak perempuan di bawah umur, tetapi juga anak laki-laki. Pedofilia namanya, pelakunya disebut pedofili. Orang dewasa  mencari anak laki-laki untuk memuaskan hasratnya. Kejahatan pedofilia sudah sering kita baca beritanya di media massa. Anak-anak yang menjadi korban pedofilia akan mengalami trauma berat, dan bila dewasa mereka kemungkinan akan menjadi pedofili juga atau penyuka sesama jenis.

Baru-baru ini di Bandung kita digegerkan dengan peristiwa pembuatan video porno yang melibatkan anak-anak. Beberapa anak laki-laki yang berusia 9 sampai 11 tahun disuruh melakukan adegan mesum dengan perempuan dewasa, adegan itu direkam menjadi sebuah video, lalu video tersebut dijual kepada pemesannya (kaum pedofili) dari luar ngeri. Sungguh mengerikan dan menjijikkan, dan yang lebih bejad lagi ibu dari anak itu sendiri yang mengatur adegan tersebut di kamar hotel dan memerintahkan anaknya untuk patuh mengikuti arahan sutradara video.

Jika pada anak laki-laki kejahatan yang mengincar adalah pedofilia, maka pada remaja  atau anak muda laki-laki ancaman yang sangat mengkhawatrikan akhir-akhir ini adalah perilaku LGBT, khususnya perilaku homoseksual (gay dan lesbianisme). Menurut yang saya baca di media, kaum LGBT saat ini berkembang sedemikian pesat, jumlahnya semakin hari semakin bertambah saja. LGBT merupakan perilaku yang dapat menular. LGBT menyasar remaja dan mahasiswa yang masih labil pola pikirnya. Sudah banyak kasus anak-anak muda yang normal berubah menjadi homoseksual karena diajak masuk atau terjebak ke dalam  pergaulan kaum LGBT. Media sosial sangat berperan menyuburkan pertumbuhan LGBT. Coba saja ketikkan kata “gay bandung ” , “gay depok”, “gay bekasi” atau nama lokasi lainnya pada akun Facebook anda, maka akan muncul banyak  sekali grup kaum homoseksual dengan jumlah anggota fantastis, ribuan jumlahnya. Bulan lalu polisi menggerebek pesta seks kaum gay di sebuah villa di Cianjur, dan yang mengagetkan salah satu pesertanya adalah remaja yang masih SMA.

Anak saya yang ingin ikut fitness di sebuah tempat gym saya larang, karena saya sering mendengar pusat kebugaran disinyalir tempat berkumpulnya LGBT. Tentu tidak semua pusat kebugaran tubuh demikian, tetapi sudah bukan rahasia lagi di tempat mengolah kebugaran tubuh itu sering dijadikan ajang perkenalan kaum gay. Gay menyukai pria yang berotot dengan badan six-pack. Pria-pria yang bertubuh six-pack terlihat macho, tetapi sebagian diantaranya ternyata penyuka sesama jenis. Mereka mungkin semula normal tetapi terjerat menjadi gay karena salah pergaulan.

Semua agama apapun menolak perilaku LGBT. LGBT bertentangan dengan ajaran agama. Indonesia saat ini sudah darurat LGBT karena pertumbuhannya sudah mengkhawatirkan. Tapi tampaknya para pemimpin kita masih belum aware dengan keresahan ini. Perbuatan LGBT belum menjadi tindak pidana. Jika kepedulian tentang LGBT ini tidak ditindaklanjuti oleh para pemimpin kita, maka jangan kaget jika nanti  makin banyak anak-anak kita nanti memilki perilaku seksual yang menyimpang.

Marilah kita jaga anak-anak kita dari pergaulan yang dapat menjerumuskan mereka kepada perbuatan yang dilarang agama. Lingkungan pergaulan anak laki-laki maupun perempuan saat ini semakin berat saja tantangannya. Semoga Allah SWT menyelamatkan bangsa kita dari perbuatan yang dilarang agama.

Written by rinaldimunir

January 22nd, 2018 at 4:52 pm

Mendidik dengan Memberi Contoh

without comments

Suatu hari anak saya yang bungsu pergi belanja sendiri ke minimarket dengan menggunakan sepeda. Diam-diam saya buntuti dia, karena saya agak khawatir kalau dia tidak lihat kiri kanan saat menyeberang jalan dengan sepedanya (minimarket itu berada di seberang jalan). Tiba di minimarket, saya amati dia dari jauh. Setelah membayar belanjaan di kasir, ternyata ada sisa kembalian berupa uang receh. Uang receh itu lalu dia masukkan ke kotak amal yatim piatu yang terletak di luar dekat pintu masuk minimarket. Dia melakukan hal itu (memasukkan uang ke dalam kotak amal) karena sering melihat saya melakukan hal yang sama ketika dia diajak berbelanja ke minimarket. Hmmm…padahal saya tidak pernah lho menyuruh dia untuk memasukkan uang ke kotak kencleng, tapi sekarang dia melakukan amal kecil yang pernah saya lakukan.

Saya pun tersadar. Pendidikan terbaik bagi anak-anak adalah dengan memberikan contoh. Tidak perlu berteori yang muluk-muluk atau berceramah  panjang lebar, tapi perlihatkan dengan contoh teladan. Apa saja yang anda lakukan, maka anak anda akan menirunya karena dia menganggap orangtua dan guru adalah contoh yang patut ditiru, terlepas apakah perbuatan itu baik atau buruk. Anak anda akan mem-foto-copy apa yang anda lakukan.

Maka, bila anda memperlihatkan teladan baik, anak anda akan mencontohnya. Bila anda memperlihatkan sikap buruk, anak anda  pun akan menirunya. Anda membanting pintu sebagai pelampiasan marah di depan anak anda, maka anak anda akan melakukan hal yang sama. Anda merokok di depannya, anak anda akan jadi perokok juga, diam-diam atau terang-terangan. Pada contoh cerita saya di atas, anda bersedekah di dekatnya, maka dia pun akan melakukan hal yang sama kelak. Percayalah.

Saya merasa tindakan apa yang saya lakukan selama ini ternyata berpengaruh besar terhadap sikap anak. Selain sikap yang menurut pandangan umum adalah baik, kadang-kadang saya menyesal bila pernah memberi contoh yang kurang baik. Makan minum sambil berdiri misalnya, maka anak saya pun sering begitu. Membawa ponsel ke toilet, maka anak pun juga membawa ponselnya ke sana. Duh, saya menyesal telah memberi contoh yang  kurang baik dan sekarang harus memperbaiki kembali bangunan yang sudah salah terbentuk.


Written by rinaldimunir

September 11th, 2017 at 2:49 pm

Posted in Pendidikan

Berakhir Masa Menjadi “Tukang Ojek” Anak

without comments

Tahun ini saya pensiun menjadi “tukang ojek” anak. Sudah lebih lima belas tahun saya rutin setiap pagi mengantar anak pergi ke sekolah, untuk ketiga anak saya. Cerita menjadi tukang ojek buat anak sudah pernah saya tulis sebelumnya (Baca: Menjadi “Tukang Ojek” Anak).

Mengantar anak ke sekolah adaah pekerjaan yang menyenangkan bagi saya. Tidak semua ayah bisa punya kesempatan mengantar anaknya ke sekolah, lho.  Itu masa-masa yang tidak akan bisa terulang. Orangtua yang sangat sibuk, seperti di Jakarta, hampir tidak punya kesempatan mengantar anaknya pergi ke sekolah. Pagi ketika waktu Subuh mereka sudah berangkat ke kantor, hal ini karena perumahan sekarang sudah jauh di luar kota, maka pergi bekerja ke pusat kota harus siap mengejar jadwal kereta komuter atau bawa kendaraan sendiri lebih pagi supaya tidak terjebak macet. Pulang ke rumah pun sudah malam, anak sudah tidur. Masa bertemu dengan anak hanya hari Sabtu dan Minggu, tetapi kebanyakan sekolah libur pada hari Sabtu.

Seorang warganet di media sosial menumpahkan curhatannya tentang kesedihan tidak dapat mengantar anaknya ke sekolah (jika anda punya akun Facebook, silakan baca laman ini). Berikut curhatnya (mohon izin dikutip ya mas :-)):

Mimpi Mengantar Sekolah

Foto ini saya ambil di daerah Pasar Jumat, Lebak Bulus. Saat lalu lintas sedang padat-padatnya. Yang entah kenapa isinya kok banyak anak sekolahnya.

Fotonya memang biasa aja. Saya kenal dengan bapak beranak itu pun tidak. Tapi sebagai lelaki yang pernah jadi jagoan pada masanya dulu, saya langsung down melihat bapak antar sekolah anak macem ini. Anak saya 3. Yang usia sekolah 2. Tapi ngga pernah saya bisa menikmati hal-hal romantis macam itu: antar anak sekolah, menggenggam tangannya sambil berceloteh ala pria, lalu melepasnya masuk kelas setelah tos dan memukul pundaknya.

Saya kirim gambar itu ke istri, disertai caption menyayat hati

Dia bales sih.. satu jam kemudian. Sambil seperti biasa kasih joke satir: tenang… ntar juga bisa anter anak. Kalo udah pensiun..

Tak lupa emot ???. Makin membuat saya menertawakan nasib sendiri. Ini lagi sedih beneran. Kok bisa bisanya diguyoni.

Tapi barangkali istri mengatakan itu juga dengan pedih hatinya (iya ngga sih, istri? Kamu pedih gak? ?)…

Selepas Subuh saya sudah gedandapan berangkat kerja meninggalkannya dengan segudang masalah rumah tangga. Pulangnya juga sering mendapati anak-anak sudah berpiyama.

Ada satu bagian yang hilang, itu sudah pasti. Saya melewatkan banyak momen romantis dengan tim transformer kecil saya di rumah. Untuk satu alasan: cari nafkah.

Harusnya alasan ini sangat kuat. Wajar kalau seorang ayah tidak banyak ambil bagian dalam membesarkan anak, karena memang jatah dia adalah di luar rumah. Tapi percaya tidak bro, mengantar anak sekolah adalah mimpi sederhana saya sejak dulu. Dan mimpi sesederhana ini pun sulit saya wujudkan.

Itu rasanya… seperti gagal menjadi lelaki dari anak lelaki.

Bro, kalau anda semua masih diberkahi waktu luang dan pekerjaan yang fleksibel, saya ucapkan selamat. Nikmati lah masa-masa yang tidak akan terulang ini. Berkelakarlah dengannya sembari ia merangkulmu di balik jaketmu. Tunjukkan jalan-jalan tikus sambil menyombongkan kehebatanmu menghafal jalan. Nikmati kekagumannya padamu.

Sebelum menjadi sepertiku. Yang hanya bisa iri setengah mati pada bapak-bapak berjaket pembonceng anak.

Jakarta 18 juli 2017

~~~~~~

Itulah yang saya katakan, tidak setiap ayah memiliki kesempatan mengantar anaknya ke sekolah. Sepele ya kelihatannya, ada rasa “iri”, ada kerinduan yang mendalam bagi seorang ayah untuk bisa mengalami momen seperti ini. Tapi apa mau dikata, alasan pekerjaan jua yang membuat mimpi itu belum bisa diwujudkan.

Kembali ke cerita saya pada bagian awal. Saya sekarang sudah berhenti mejadi “tukang ojek anak”. Apa pasal?  Anak saya yang bungsu sekarang sudah kelas 5 SD. Awal tahun ajaran kemaren dia bilang kepada saya bahwa dia tidak mau lagi diantar pergi ke sekolah, juga tidak mau pulang sekolah pakai becak langganan. Dia ingin pergi ke sekolah sendiri pakai sepeda. Pulang sekolah juga pakai sepeda sendiri. Biasanya selama ini saya mengantar anak ke sekolah dengan motor, lalu nanti siang, karena saya tidak bisa menjemput (sedang di kampus), maka anak saya pulang sekolah dengan becak yang sudah saya langgan sejak masih Playgroup.

fajar1

Tentu saja keinginannya itu adalah hal yang menyedihkan sekaligus juga menggembirakan bagiku. Sedih karena saya tidak bisa bisa punya momen indah mengantar anak ke sekolah. Tapi saya sudah merasa puaslah, sebab sejak anak-anak preschool hingga akhir SD semua anak kuantar ke sekolah dengan motor. Ketika masuk SMP mereka sudah mulai pergi sendiri naik angkot. Lima belas tahun sudah saya menjadi “tukang ojek” anak, dan itu adalah kenangan yang berkesan bagi seorang ayah dan anak.

fajar2

Di sisi lain ada juga terselip rasa gembira karena itu artinya dia sudah merasa besar dan sudah ingin mandiri.  Dia ingin menunjukkan bahwa dia mampu pergi sendiri. Tinggal saya saja yang merasa nelangsa sendiri, melepasanya dengan tatapan berkaca-kaca. Tapi saya pun harus menyadari, bahwa suatu hari nanti anak-anak kita akan pergi meninggalkan orangtuanya, pergi mencari jalan hidupnya sendiri. Tidak selamanya anak kita bersama kita, bukan?

Jadi, bagi kalian para ayah, jangan sampai melewatkan kesempatan berharga bersama anak-anakmu. Hanya ketika mereka masih kecil kita bisa menikmati  momen-momen indah bersama anak kita. Mengantar anak ke sekolah itu contohnya, adalah hal yang terlihat kecil dan sepele, namun akan berkesan bagi anak ketika mereka sudah dewasa nanti. Jangan lupa, ketika anda mengantar anak anda ke sekolah, banyak nilai-nilai kehidupan yang bisa ditanamkan.


Written by rinaldimunir

July 29th, 2017 at 1:48 pm

Motor, Trotoar, dan Kegagalan Pendidikan Karakter

without comments

Sore hari menjelang waktu buka puasa, lalu lintas menuju kawasan perumahan di Antapani sangat padat. Semua pengendara berpacu agar duluan sampai ke rumah. Berbuka puasa bersama keluarga tentu momen yang selalu dinantikan. Jam-jam rush hour adalah saat sore ketika pulang kantor, yaitu ketika secara bersamaan orang-orang pulang ke rumah. Ruas jalan sempit di samping Jembatan Pelangi Antapani itu disesaki mobil dan motor.  Ruas jalan itu tersendat dan sulit bergerak. Semua pengendara tidak mau mengalah, tidak mau antri.

Pengendara motor yang tidak sabaran akhirnya menjajal trotoar yang diperuntukkan bagi pejalan kaki.  Satu memberi contoh, lalu diikuti oleh pengendara yang laindi belakangnya.

trotoar1

Tanpa merasa bersalah, pengendara motor – yang pasti orang berpendidikan- melaju di atas trotoar. Memang tidak ada pejalan kaki saat itu. Tapi, melaju di atas trotoar tetap saja salah, bukan?

trotoar2

Pemandangan seperti ini, pada saat lalu lintas padat, sering kita temui di mana-mana. Di bawah ini foto bersumberkan dari Antara. Ceritanya masih sama, pemotor yang tidak sabaran dan maunya menang sendiri.

Motor-Naik-Trotoar-020713-AGR-2

Pemgendara motor yang tidak sabaran (Sumber foto: Antara)

Beberapa tahun yang lalu pernah  ada berita yang menjadi viral di media sosial tentang bocah kecil bernama Daffa yang berani menghadang pengendara motor di atas trotoar. Hebatnya lagi, bocah kecil itu tidak takut dibentak pengendara motor.  Dia ingin menunjukkan keyakinannya bahwa berkendaraan di atas trotoar itu salah.

daffa

Daffa menghadang pengendara motor di atas trotoar (Sumber foto: Tribunnews.com)

Tapi, viralnya berita tentang Daffa tidak mampu mengubah perilaku pengendara motor. Dengan berlalunya waktu, orang pun melupakan kisah Daffa, pemotor yang menaiki trotoar pun mulai marak lagi.

Kasus pemotor yang menaiki trotoar adalah salah satu contoh bahwa pendidikan katakter di negara kita belum berhasil. Contoh lainnya adalah budaya antri yang belum menjadi perilaku bangsa kita, orang-orang yang membuang sampah makanan dari atas mobil, merokok di sembarang tempat, meludah sembarangan, dan sebagainya.

Boleh saya katakan bahwa pendidikan di negara kita baru sebatas knowing, belum sampai menjadi doing. Murid-murid  memang diajarkan agar jangan membuang sampah di sembarang tempat, tapi itu baru sebatas pengetahuan saja. Dalam kesehariannya masih banyak anak-anak  bahkan orang dewasa dengan cuek membuang bungkus kemasan makanan dari dalam mobil di atas jalan tol. Makan kacang rebus memang asyik, tapi kulitnya berserakan di atas tanah. Makan permen itu simpel, tapi bungkusnya dibuang ke lantai.

Menyeberanglah di atas zebra cross atau di atas jembatan, tapi orang-orang tetap saja seenaknya menyeberang jalan di mana saja dia suka. Naiklah bus dari halte, tapi orang-orang malas pergi ke halte, mereka menyetop bus atau angkot dari posisi berdirinya sekarang. Supir-supir bus pun menuruti permintaan penumpang yang minta turun di mana saja yang diinginkan penumpang.

Antrilah masuk ke dalam pesawat, tapi orang-orang secara bergerombol berusaha duluan masuk melalui gate tempat pemeriksaan boarding pass. Kenapa mereka tidak mau antri dengan tertib, bukankah nanti semua penumpang akan masuk juga ke dalam pesawat, semuanya sudah mendapat nomor kursi, apa lagi yang dikhawatirkan?

Antrilah naik ke atas kereta, tapi orang-orang berebut naik dan turun kereta. Mungkin untuk kereta commuter yang karcisnya tanpa nomor kursi kita masih bisa agak maklum, mengapa orang-orang  adu cepat naik kereta agar dapat tempat duduk, tapi tetap saja fenomena ini menunjukan orang kita malas antri.

Ketika saya berkunjung ke Jepang beberapa tahun lalu, saya kagum dengan budaya antri mereka. Kereta belum datang, tapi orang-orang sudah antri dengan tertib dalam satu line. Ini adalah antrian untuk masuk ke dalam kereta, padahal keretanya sendiri belum sampai ke stasiun. Tidak ada dorong-dorongan, tidak ada yang menyerobot antrian.

DSCF1019

Antri dengan tertib menunggu kereta.

DSCF1023

Antri dengan tertib menunggu kereta

Selama pola pendidikan di negara kita masih dalam sebatas knowing, maka sangat sulit mengubah karakter bangsa ini. Pendidikan karakter seharusnya sejak dini ditanamkan. Pendidikan karakter yang terbaik adalah by practicing, tidak hanya knowing. Saya dapat cerita dari teman, jika di negara kita anak TK diajarkan sebareg pelajaran mulai dari belajar membaca dan berhitung sederhana, maka di Jepang anak-anak TK diajarkan bagaimana naik kereta, bagaimana antri dan bertransaksi di minimarket atau di supermarket. Jadi, pendidikan dini di sana langsung praktek, yang diaharapkan terbawa jika mereka dewasa. Jika dari kecil sudah terbiasa belajar tertib dan sesuai aturan, maka kelak jika dewasa nanti sudah menjadi perilaku keseharian.


Written by rinaldimunir

June 12th, 2017 at 3:05 pm

Bermula dari Satu Sekolah Muhammadiyah ini

without comments

Sebuah foto saya peroleh dari grup ilmuwan Muhammadiyah di WhatsApp. Ini foto jadoel, diperkirakan tahun 1912, foto sekolah Muhammadiyah pertama yang didirikan K.H Ahmad Dahlan di Kauman, Yogyakarta. Tampak di dalam foto K.H Ahmad Dahlan berdiri di pintu. Murid-muridnya berpakaian sederhana dan bersarung, sedangkan asisten guru memakai baju lurik dan blangkon Jawa.

SD Muhammadiyah Kauman 1912

Bermula dari sekolah kecil ini, organisasi Muhammadiyah kini mempunyai ribuan TK, SD, SMP, SMA, SMK, MI, MTs, MA, Pondok Pesantren, dan ratusan Perguruan Tinggi di seluruh Nusantara. Menurut data dari situs web Muhammadiyah, jumlah lembaga pendidikan yang dikelola oleh Muhammadiyah saat ini adalah:

1 TK/TPQ 4.623
2
Sekolah Dasar (SD)/MI
2.252
3
Sekolah Menengah Pertama (SMP)/MTs
1.111
4
Sekolah Menengah Atas (SMA)/SMK/MA
1.291
5
Pondok Pesantren
67
 6
Jumlah total Perguruan tinggi Muhammadiyah171
 171

Itulah amal usaha Muhammadiyah yang ikut mencerdaskan anak bangsa . Jika Ahmad Dahlan masih hidup, mungkin dia tidak akan percaya jika sekolah Muhammadiyah yang dirintisnya tahun 1912 berkembang luar biasa.

Saya yang pernah sekolah di SD Muhammadiyah Sawahan, Padang, dan hidup di lingkungan Muhammadiyah yang kental di Sumatera Barat juga ikut merasa bangga. Dua anak saya juga bersekolah di SD Muhammadiyah 7 Antapani Bandung. Meskipun saya bukan kader, hanya simpatisan saja, saya berharap Muhammadiyah akan selalu istiqamah dalam membentuk manusia Indonesia yang berpendidikan, beriman, berkarakter, dan berakhlaqul karimah. Amin.


Written by rinaldimunir

May 6th, 2017 at 3:35 pm

Posted in Pendidikan

Ingatlah Harapan-Harapan Ayahmu

without comments

Kuliah Semester Genap ini baru saja berakhir. Ujian Akhir Semester suah dimulai pada minggu ini.  Seperti biasa, pada sesi kuliah terakhir Semester Genap ini,  saya mengisi penutup kuliah dengan memberikan nasehat-nasehat dan pepatah petitih kepada para mahasiswa. Saya ingatkan lagi betapa besar harapan ayah bunda mereka yang menaruh harapan agar putra-putrinya selalu berhasil menempuh perkuliahan di ITB dan tentu saja kuliah kehidupan lainnya selama di kampus.

Saya berpesan agar para mahasiswa memberikan hasil terbaik kepada kedua orangtuanya. Jangan sia-siakan masa muda, masa muda adalah masa untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya sebagai bekal buat masa depan.

Sebagai penutup, saya putarkan video klip lagu “Yang Terbaik Bagimu (Ayah)”  dari ADA Band ini (feat Gita Guttawa) di layar proyektor. Saya suka lagu ini.  Ini lagu yang menurut saya sangat bagus, sebab mengingatkan seorang anak pada harapan yang dilontarkan orangtuanya, khususnya ayahnya.
Beberapa mahasiswi yang menyaksikan video klip ini tak mampu menutup wajahnya, matanya berkaca-kaca mendengarkan lirik lagu tersebut. Mungkin terbayang ayahnya di kampung halaman sehingga menjadi ia hiks…hiks… . Maafkan saya, tidak bermaksud membuatmu menangis.
Berikut ini lirik lagu Yang Terbaik Bagimu (Ayah) dari ADA Band:

Teringat masa kecilku
Kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu
Buatku melambung
Disisimu terngiang
Hangat nafas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu

Kau ingin ku menjadi
Yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu
Jauhkan godaan
Yang mungkin kulakukan
Dalam waktuku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku
Terbelenggu jatuh dan terinjak

Chorus:Tuhan tolonglah sampaikan
Sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji
Tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya
Ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu

Andaikan detik itu
Kan bergulir kembali
Kurindukan suasana
Basuh jiwaku
Membahagiakan aku
Yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu
Yang pernah terlewati

La la laaLa la la laa la

Silkan klik video di Youtube ini untuk mendengarkan lagu dan musiknya. Saya yakin kamu pun akan tersentuh.

Written by rinaldimunir

May 4th, 2017 at 3:06 pm

Nyaris 100% Anak Sudah Melihat Pornografi

without comments

Sebuah berita di harian lokal Bandung pagi itu membuat saya sangat kaget. Berita tersebut menyebutkan hampir 100% anak-anak sudah melihat pornografi. Nyaris 100%, itu berarti termasuk anakmu, anakku, anak kita, (hampir)  semua sudah melihat pornografi. Menyedihkan, kalau tidak bisa dibilang mengerikan. Sebab, pornografi sama bahayanya dengan narkoba. Narkoba menjerumuskan masa depan anak, sedangkan pornografi merusak otak anak yang akhirnya juga merusak masa depan anak (Baca tulisan saya yang lalu: Indonesia Darurat Pornografi).

pornografi

Menurut Maria Advianti dari KPAI yang melakukan riset tentang hal ini, sebagian besar anak melihat pornografi melalui gawai (gadget). Gawai itu dibelikan oleh orangtuanya atau meminjam gawai temannya. Umumnya gawai saat ini berupa smartphone yang dapat mengakses internet. Nah, melalui internet itulah anak-anak melihat pornografi, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, baik sendirian maupun bersama  teman-temannya.

Jadi solusinya bagaimana nih? Mengeluh saja tidak ada gunanya. apakah anak-anak tidak usah diberi atau dibelikan gawai supaya mereka tidak bisa mengakses internet? Ini hampir mustahil, sebab mungkin saja mereka melihat pornografi itu dari gawai milik temannya, atau bahkan dari gawai orangtuanya.

Melarang anak menggunakan dan mengakses teknologi informasi (atau IT)  bukan solusi yang tepat. Cepat atau lambat ia akan menggunakannya juga. Di zaman digital ini hampir musykil memisahkan anak dengan teknologi informasi (komputer, telekomunikasi). Lihatlah, kehidupan kita saat ini sudah dikelilingi teknologi informasi. Teknologi informasi adalah keniscayaan peradaban yang mau tidak mau akan dihadapi seorang anak di dalam hidupnya.

Solusi yang bijak menurut saya adalah mengendalikan, mengawasi, dan mengedukasi. Orangtua perlu mengendalikan penggunaan gawai pada anaknya. Di rumah saya, sebelum anak berstatus siswa SMP, dia belum saya belikan ponsel. Untuk adiknya yang masih SD, penggunaan smartphone (pakai smartphone saya sendiri) hanya boleh dalam waktu tertentu dengan lama terbatas.

Setelah pengendalian, maka selanjutnya adalah mengawasi. Orangtua perlu mendampingi penggunaan smartphone oleh anak. Anak kita jangan dilepas begitu saja menggunakan smartphone. Umumnya anak-anak mengakses internet untuk main game aau nonton video di Youtube. Kalau anak kita mengakses game online, kita perlu memastikan apakah game online tersebut aman untuk anak (tidak mengandung konten kekerasan dan pornografi). Begitu juga video di Youtube yang dia lihat pun perlu dipastikan video yang aman. Tidak apa-apa menjadi cerewet melakukan cek dan ricek ini, kalau bukan kita yang melakukannya, lalu siapa lagi?

Last but not least, yang paling penting dari semua aksi itu adalah melakukan edukasi. Anak kita tidak 24 jam ada bersama kita di rumah. Dia berinteraksi dengan teman-temannya di luar rumah (sekolah, tetangga). Justru penularan pornografi itu lebih banyak dari interkasi dengan  orang lain. Oleh karena itu, sangat penting bagi orangtua membekali dan membentengi anaknya dari pengaruh negatif yang berasal dari lingkungan luar. Kuncinya adalah edukasi atau pendidikan. Anak kita perlu diedukasi dan diberitahu bahaya konten kekerasan dan pornografi. Anak kita perlu diajarkan nilai-nilai yag baik, apa yang boleh dan tidak boleh, mengapa boleh dan mengapa tidak boleh. Termasuk dalam hal ini adalah penanaman nilai-nilai agama. Jadi, jika dia berada di luar rumah dan tidak dalam kendali kita sebagai orangtuanya, maka harapan terakhir penahan pornografi adalah dari nilai-nilai edukasi yang kita tanamkan itu. Duh, Sulitnya Menjadi Orangtua Zaman Sekarang (Tentang Pornografi pada Anak dan Remaja). Kalau tidak berhasil juga, bablaslah kita, gagal mendidik anak!


Written by rinaldimunir

March 8th, 2017 at 4:18 pm

Posted in Pendidikan

Menerima Pemberian dari (Orangtua) Mahasiswa

without comments

Baru-baru ini Kemenristekdikti mengeluarkan surat edaran tentang larangan bagi dosen untuk menerima hadiah atau pemberian lainnya dari mahasiswanya. Tujuannya untuk menjaga integritas proses akademik antara mahasiswa dan dosennya. Dengan kata lain, dosen dilarang menerima gratifikasi dalam bentuk apapun dari mahasiswa yang berada dalam tanggung jawabnya (dosen wali, dosen pembimbing Tugas Akhir, dosen pengampu mata kuliah). Begitu juga mahasiswa dilarang memberi apapun kepada dosennya.

gratifikasi

Surat edaran tersebut ditanggapi secara beragam oleh para dosen di berbagai perguruan tinggi. Setidaknya tanggapan tersebut dapat  dibaca pada forum-forum diskusi di media sosial. Ada yang setuju, tetapi ada juga yang mengomentari bahwa jawabannya tidak hitam dan putih, tetapi ada variabel lain yang juga perlu dipertimbangkan. Misalnya, jika tiba-tiba ada mahasiswa yang pulang dari kampung lalu datang ke ruangan dosen membawa sedikit oleh-oleh, apakah langsung ditolak? Contoh lain, setelah mahasiswa bimbingan lulus sidang TA, dia sudah beres urusan laporan, nilai, wisuda dan sebagainya, artinya tidak punya hubungan akademik lagi, lalu datang memberikan kenang-kenangan (makanan, pulpen, batik, jam tangan, dll) sebagai ucapan terima kasih, apakah itu termasuk gratifikasi juga kah?

Pada prinsipnya saya sepakat dengan surat edaran tesrebut. Dulu saya pernah menulis tentang masalah gratifikasi di lingkungan kampus (baca: Termasuk Gratifikasikah Ini?). Jauh sebelum muncul surat edaran di atas, saya sendiri sudah berusaha untuk berhati-hati dalam masalah pemberian ini. Secara pribadi saya menolak secara halus pemberian mahasiswa yang masih ada urusan dengan saya. Ini untuk menjaga independensi dan conflict of interest. Pernah ada mahasiswa bimbingan saya membawa oleh-oleh dari kampung halamannya, saya mengucapkan terima kasih atas perhatiannya, namun dengan menyesal saya katakan bahwa saya tidak bisa menerimanya. Setelah saya jelaskan sikap saya ini, dia bisa mengerti. Saya sarankan kepadanya untuk membagi oleh-oleh itu untuk teman-temannya di lab saja :-).

Masih ada beberapa pengalaman lain tentang masalah pemberian ini dengan mahasiswa saya, baik mahasiswa S1, S2, maupun S3. Selama mereka masih dalam tanggung jawab saya, saya menjaga prinsip untuk tidak menerima pemberian atau hadiah dari mereka. Untunglah mahasiswa di ITB sudah paham tentang hal ini, jadi mereka juga tahu diri untuk tidak membawakan dosennya hadiah atau benda-benda lainnya selama mereka masih menjadi mahasiswa di kampus.

Tapi menjaga prinsip ini tidak selalu mudah untuk dipertahankan, khususnya jika yang datang itu adalah orangtua mereka. Saya pernah kedatangan orangtua mahasiswa di bawah perwalian saya. Maksud kedatangannya adalah untuk silaturahmi saja, kebetulan orangtua itu sedang dinas ke Bandung. Nah, orangtua mahasiswa ini ternyata datang dengan membawa oleh-oleh makanan khas dari kotanya. Ini sedikit oleh-oleh, Pak, katanya. Seharusnya saya tolak pemberian itu, namun saya tidak tega, tidak ingin menyakiti perasaannya. Saya tidak punya cara dan kata-kata yang tepat untuk mengatakan tidak. Saya tahu itu pemberian yang tulus. Saya terima juga akhirnya (maafkan saya jika ini termasuk gratifikasi). ?

Pernah juga sekali waktu orangtua mahasiswa di bawah perwalian saya datang bersilaturahmi membawakan oleh-oleh seperti batik, tas buat laptop, dan ikat pinggang. Saya sudah berkali-kali menolaknya, saya suruh bawa kembali, namun orangtua itu kekeuh mengatakan ini tidak ada maksud apa-apa dan meminta saya untuk menerimanya. Saya pun menyerah.

Pernah terpikir oleh saya untuk mengembalikan hadiah itu kepada anaknya (yang merupakan mahasiswa saya), namun tidak jadi saya lakukan, karena bisa muncul masalah baru seperti mahasiswa tersebut merasa malu, atau malah bisa menimbulkan konflik antara orangtua dengan anak. Saya pun pernah meminta pendapat kolega dosen bahkan Dekan, sebaiknya saya apakan hadiah ini, namun tidak ada jawaban yang memuaskan, mungkin mereka pun dilematis. Sampai saat ini barang-barang pemberian itu masih tersimpan rapi di dekat meja saya. Belum pernah saya buka bungkusnya, apalagi memakainya. Mungkin kalau kalau anaknya sudah lulus dari ITB, akan saya pertimbangkan lagi apakah akan tetap memakainya atau mau diapakan.

Untuk amannya bagi kami, kepada orangtua mahasiswa, kami himbau tidak usah membawa makanan atau barang apapun dari kota anda untuk dosen anak anda. Tidak semua kami mampu berkata tidak untuk menolaknya tanpa berniat menyakiti perasaan anda. Kalau mau berkunjung, silaturahmi, atau konsultasi, ya berkunjung saja, tidak perlu membawa macam-macam agar tidak dianggap gratifikasi. Kami menjadi dilematis dan serba salah.

Mungkin kasus-kasus di atas yang disebut variabel bagi sebagian orang, yang dalam hal ini jawabannya tidak hitam dan putih. Tetapi sekali lagi, menjaga prinsip itu tidak selalu mudah.


Written by rinaldimunir

March 6th, 2017 at 6:00 pm

Posted in Pendidikan

Sekarang Semua Orang adalah Guruku

without comments

Pada Hari Guru yang jatuh tanggal 25 November, saya menampilkan quote dari Jet Li, seorang aktor laga Mandarin yang terkenal.

jet-li

Terjemahannya adalah sebagai berikut:

Ketika saya berusia:
SEPULUH tahun, saya takut pada guru saya
DUA PULUH tahun, saya mulai memahami guru adalah orang biasa seperti orang lain
TIGA PULUH tahun, saya mulai berpikir pentingnya kehadiran seorang guru
EMPAT PULUH tahun, saya menghargai setiap guru yang saya jumpai
Sekarang saya berusia LIMA PULUH tahun, setiap orang adalah guruku

Dan…untuk saya sendiri, sekarang semua orang adalah guru saya, guru dalam kehidupan yang tidak pernah diam. Karena, sekarang  I’m fifty seperti Jet Li.


Written by rinaldimunir

November 25th, 2016 at 4:04 pm

Posted in Pendidikan