if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Pendidikan’ Category

Milenial yang Berbahasa Santun

without comments

Beberapa waktu yang lalu di dunia maya (khususnya twitter) sempat trending berita tentang chat mahasiswa kepada dosenya yang dianggap oleh dosen tersebut kurang sopan (baca: Membaca Lagi Chat Dosen ‘Kok Kamu Atur Saya’ yang Heboh di Twitter). Meskipun saya tidak  mengerti dimana letak kesalahan kata-kata si mahasiswi, biasa saja kalimatnya, wajar dan sopan, tapi mungkin saja saat itu sang dosen sedang tidak berada dalam kondisi mood yang baik sehingga emosinya kurang stabil. Wallahu alam.

Itulah bedanya bahasa lisan dengan bahasa tulisan, bisa berbeda-beda penafsiran. Bahasa tulisan (seperti SMS, surel, chat dengan whatsapp, dll) tidak mengandung ekspresi dan intonasi yang rentan menimbulkan salah paham.

Anak muda generasi milenial sering dipersepsikan tidak tahu sopan santun berbahasa. Benarkah demikian? Pengalaman saya mengajar mahasiswa milenial beberapa tahun terakhir ternyata sebaliknya.

Mahasiswa milenial menurut saya sopan-sopan saja kok kalau menghubungi dosen via surel (e-mail) atau WA. Saya belum pernah mendapat pesan dengan bahasa yang kurang santun, baik dari mahasiswa di kampus sendiri, maupun mahasiswa dari kampus lain. Di awal atau di akhir surel mereka sering ada kalimat begini:

Mohon maaf apabila mengganggu waktu Bapak

Mohon maaf bila ada salah kata

Mohon maaf bila ada kata-kata atau kalimat saya yang kurang sopan

Menurut saya itu kalimat-kalimat yang baik. Malah saya sendiri kalau menyurati orang lain jarang menulis  kalimat-kalimat di atas.

Terima kasih anak-anaku, saya tidak pernah merasa terganggu membaca surel kalian, karena kebiasaan saya setiap (pagi) hari adalah mengecek semua surel yang masuk dan selalu membacanya (dan membalasnya jika pengirim menunggu jawaban).

Dulu sebelum pandemi corona, setiap kali masuk kantor dan menyalakan komputer desktop, maka aktivitas yang pertama kali saya lakukan adalah membaca semua surel yang masuk ke dalam inbox. Sekarang, ketika harus WFH, membaca surel dari orang lain bisa dilakukan kapan saja, di rumah, di perjalanan, di kantor, dan sebagainya. Ada smartphone, dan yang terpenting ada akses internet.

Sebagai dosen dan pendidik, kita tidak perlu menjadi orang yang gila hormat. Kalau kita ramah, rendah hati, selalu menyempatkan diri membalas surel/WA mahasiswa, tidak mempersulit mahasiswa, maka mahasiswa kita pun akan hormat dan segan. Mereka tidak pernah mengirim pesan dengan bahasa yang tidak sopan kepada kita. Seperti bunyi sebuah slogan pada sebuah stiker: anda sopan, kami segan.

Written by rinaldimunir

August 29th, 2020 at 11:43 am

Rindu ke Sekolah Lagi

without comments

Sebuah posting-an di grup WA saya terima pagi ini, lengkap dengan foto ilustrasi:

Sedih yaa .. nasib anak desa .. anak rakyat kecil nan miskin ..

Absen tiap pagi pakai seragam “cekrek cekrek” dan kirim fotonya ke Bapak / ibu guru. Setelah itu duduk manis di depan hape canggih ataupun laptop mahal… kelas online dimulai. Sepertinya asyik ya?

Apa daya aku anak seorang buruh harian, jangankan hape mahal… hape di rumah hanya ada satu dibawa ayah bekerja. Ayah bilang hapenya tak bisa ditinggal untukku, ayah juga perlu.

Aku berharap pandemi segera berlalu. Bisa kembali ke sekolah. Aku bisa bersaing dengan yang lainnya jika belajar di sekolah. Tapi kalau online… aku bisa apa? Termangu di teras rumah, pasrah….

Aku rindu suasana belajar di sekolah lagi…

anaksekolah

****************************

Tidak hanya anak desa, anak di kota pun merasakan hal yang sama. Memang pembelajaran secara daring (atau PJJ, pembelajaran jarak jauh) banyak kendala. Kendala kesenjangan antara daerah yang dapat mengakses internet dan tidak, kesenjangan antara kaya dan miskin (yang mampu beli hape smartphone dan tidak, apalagi membeli kuota internet).

Maka hari-hari ini kita sering membaca kisah guru-guru yang rela naik turun bukit menemui muridnya di rumah demi si anak bisa menerima pelajaran (Baca:  Tak Punya Android, Guru SDN Riit di Sikka Datangi Rumah Murid Beri Pelajaran)

Sedih dan prihatin. Apa mau dikata, ketentuan belajar daring dari Pemerintah Pusat harus dijalankan tanpa pernah memperhatikan apakah infrastrukturnya sudah tersedia, apakah orangtuanya mampu menyediakan perangkat.

Selain dua kesenjangan tadi, terdapat juga kesenjangan kualitas PJJ antara sekolah swasta (yang bonafid tentunya) dengan sekolah negeri dalam melaksanakan belajar daring (PJJ). Di sekolah swasta guru-guru melakukan pembelajaran secara video conference dengan semua muridnya lewat aplikasi Zoom dan siswa menyimak dari laptopnya masing-masing. Guru-gurunya cukup kreatif menyiapkan konten video ajar. Sekolah sudah menyiapkannya video ajar jauh-jauh hari, berkaca dari pengalaman PJJ pada semester yang lalu. Orangtua siswa umumnya mampu menyediakan laptop dan akses internet yang unlimited (karena ada WiFi di rumah).

Coba lihat di sekolah negeri. Guru-guru memberi materi pelajaran kepada murid lewat grup WA dan Google classroom. Siswa-siswa di sekolah negeri berasal dari keluarga dengan disparitas ekonomi yang sangat beragam. Tidak semua orangtua mampu menyediakan kuota internet untuk vidcon lewat Zoom. Pun tidak semua mampu menyediakan laptop, siswa hanya belajar pakai ponsel saja.

***********

Anak-anak sekolah sudah lama rindu pergi ke sekolah lagi.  Anak-anak sekolah (juga mahasiswa) sudah berkorban cukup lama berdiam diri di rumah, mereka tentu sudah ingin bersosialisasi dengan temannya. Orangtua di rumah pun sudah sangat kerepotan dengan pembelajaran jarak jauh ini.

Sebuah posting-an di WA berisi keluhan orangtua wali murid:

Saya mewakili wali murid seluruh indonesia yg insya Allaah satu suara. Tolong dg sangat ” BUKA KEMBALI SEKOLAH UTK ANAK2 KAMI”
Kami tidak semuanya paham dan ngerti cara belajar online. Kami tidak selalu punya uang utk beli paket data. Dgn adanya belajar online… tidak membuat anak2 kami ngerti dg materi pelajaran, malah tambah bodoh….. malas… tidak disiplin…. bahkan yg lebih parah…. MEMPERCEPAT ANAK2 INDONESIA MENGALAMI KEBUTAAN DINI karena kebanyakan mantengin ponsel…. . Apakah ini yg namanya SOLUSI???? Bapak/ ibu pemimpin yg terhormat…. tolong pertimbangkan lagi kebijakan yg kalian ambil. Aktifitas kami di batasi dg ancaman covid, sementara beratnya beban hidup kami seolah tak kalian peduli. Jika sekolah masih terus di tutup, apa jadinya dg anak2 kami….! Pasar bebas ramai , berkerumun, tanpa khawatir terpapar covid, pantai dan tmpat wisata di buka, tmpat hiburan di buka, pesawat penuh sesak dg penumpang…. mall juga di buka. Tapi kenapa SEKOLAH DI TUTUP hanya karena takut terpapar covid?! . Tolong… pak… bu…. bukalah lagi sekolah kami, tmpat anak2 kami menuntut ilmu, tmpat di mana anak2 bertemu kawan dan guru guru…. sementara di rumah…. kami sbg ortu sudahlah di repotkan dg pekerjaan rumah, kebutuhan sehari hari…. masih lagi di repotkan dg mengajarkan materi yg ada di buku tema kpd anak yg notabene itu bukan kapasitas kami… karena memang itu di luar kemampuan kami. Saya mohon….. kpd bpk/ ibu yg trhormat…. tolong…. BUKA… BUKA…. BUKA SEKOLAH KAMI. Jgn sampai menunggu kejadian… yg tak di harapkan terjadi dan ter alami di suatu saat nanti.

Pemberlakuan hanya daerah zona hijau dalam tingkat kabupaten/kota yang boleh melakukan belajar tatap muka perlu ditinjau lagi. Daerah-daerah yang berada di pedalaman, di lereng gunung, di pulau kecil, di tepi hutan, dan daerah-daerah lain yang jauh dari penyebaran covid, sebenarnya dapat melakukan pembelajaran tatap muka seperti biasa (tentu dengan memperhatikan protokol kesehatan).

Pemberlakuan zona hijau sebaiknya ditinjau pada level yang lebih kecil. Jika di sebuah kecamatan tidak ada kasus covid atau penyebaran covid terkendali, maka pembelajaran tatap muka di sekolah bisa dilakukan dengan protokol kesehatan. Rencana Gubernur Jabar yang akan membuka sekolah di kawasan-kawasan tersebut perlu diapresiasi.

“Dari (daerah) Risiko Rendah dan Sedang ini kita akan lebih detail ke wilayah kecamatan untuk pembukaan sekolah di Zona Hijau. Akan dibahas lebih lanjut lagi,” ucap Kang Emil. (Sumber: 22 Daerah di Jabar Masuk Zona Kuning, 5 Masih Zona Oranye).

Silakan sekolah-sekolah di kawasan yang aman dibuka kembali, tapi tentu saja dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Written by rinaldimunir

July 21st, 2020 at 11:34 am

Sidang Tugas Akhir Mahasiswa Angkatan Corona

without comments

Mahasiswa yang lulus sidang skripsi/tugas akhir (TA) dan disiwisuda saat pandemi wabah masih berlangsung mungkin dapat disebut angkatan corona. Mereka sidang TA secara daring dan wisuda secara daring pula. Hal ini karena kampus-kampus ditutup, pertemuan tatap muka ditiadakan, dan semua aktivitas akademik dilakukan secara daring gegara wabah virus corona. Mahasiswa dan dosen tetap berada di tempat tinggalnya masing-masing. Semua terhubung secara virtual. Kuliah , seminar, sidang, rapat, dan wisuda dilakukan secara virtual.

Sebelum ini kita sudah merasa nyaman semua aktivitas dilakukan dengan bertemu secara fisik, namun semua berubah setelah negara api menyerang…eh salah, setelah virus corona menyerang. ?

Untung zaman modern ini ada internet sehingga semua kegiatan akademik, termasuk sidang TA, tetap bisa berjalan sebagaimana biasa. Soal apakah efektif atau tidak, itu soal lain.

Saya akan menceritakan pengalaman saya melakukan sidang tugas akhir, tesis, dan disertasi mahasiswa secara daring. Jika secara luring (offline) sidang dilakukan di dalam ruangan tertutup, dihadiri oleh mahasiswa yang disidang, dosen penguji, dan dosen pembimbing, maka secara virtual sidang dilakukan di dalam sebuah meeting room virtual yang dibuat (create) terlebih dahulu menggunakan aplikasi video conference seperti Zoom atau Google Meet (kami menggunakan Google Meet dengan pertimbangan lebih “murah” dan  fleksibel dibandingkan Zoom). Waktu dan tanggal sidang pun sudah ditetapkan dengan menggunakan aplikasi Calender di Google.

Dosen dan mahasiswa bertemu di ruang virtual ini. Tautan (link) ke meeting room sudah dibagikan jauh-jauh hari kepada dosen pembimbing, dosen penguji, dan mahasiswa melalui surel. Saat waktu sidang tiba, klik tautan tersebut untuk join dan ruang sidang pun muncul di layar komputer menghadirkan semua peserta sidang (dosen dan mahasiswa). Bagi dosen yang tidak ingin wajahnya ditampilkan maka kamera di komputernya bisa dimatikan.

sidang1

Tatacara sidang TA secara virtual dilakukan persis sama seperti sidang secara luring. Ada pembukaan, presentasi dari mahasiswa, tanya jawab dari dosen penguji, penilaian hasil sidang secara tertutup, dan pembacaan hasil sidang. Sesi penilaian secara tertutup oleh dosen penguji dan pembimbing dilakukan dengan cara meminta mahasiswa meninggalkan (left) meeting room virtual untuk kemudian dipanggil lagi (melalui whatsapp) dan disuruh join video conference kembali setelah sesi penilaian tertutup selesai. Hal ini persis seperti pada sidang secara luring, mahasiswa diminta keluar ruang sidang, lalu kemudian dipanggil masuk kembali untuk mendengarkan pembacaan hasil sidang. Proses sidang dapat direkam (REC) jika sewaktu-waktu dibutuhkan untuk melihat kembali pelaksanaan sidang.

sidang2

(Keterangan gambar: Dua buah skrinsut yang saya tampilkan di bawah ini adalah dua orang mahasiswa saya yang sidang TA. Posisinya sedang berada di Singaraja (Bali), satu lagi di Medan, sedangkan dosen pembimbing dan dosen penguji berada di rumahnya Bandung).

Lalu, bagaimana pengisian form penilaian sidang yang biasanya pada sidang secara luring menggunakan form kertas? Mudah saja. Semua form penilaian dan beriata acara sidang diubah formatnya menjadi format digital  menggunakan aplikasi Google Form yang dapat diakses secara daring pula. Dosen pembimbing dan penguji tinggal mengisi form tersebut dari komputernya masing-masing. Berita acara sidang yang berisi catatan perbaikan dikirim secara otomatis ke surel mahasiswa.

Bagaimana dengan naskah TA mahasiswa, apakah perlu dikirim ke rumah dosen dalam bentuk hard copy atau soft copy-nya dikirim melalui surel? Tidak perlu. Merepotkan saja. Semua naskah TA mahasiswa yang sidang pada periode ini disimpan di dalam Google Drive. Dosen cukup mengklik tautan Google Drive yang berisi soft copy TA tersebut, tinggal diunduh atau cukup dibaca saja.

Lihat, semua proses, baik sebelum dan selama pelaksanaan sidang, dilakukan secara daring, tanpa kertas (paperless), dan sangat mangkus (efisien). Aplikasi yang disediakan Google sangat bermanfaat, mulai dari aplikasi Calender untuk menetapkan waktu sidang, Google Form untuk membuat form penilaian, Google Meet untuk melakukan video conferebce, dan Google Drive untuk menyimpan dokumen TA.

Ke depan, meskipun pandemi corona nanti sudah berakhir dan aktifitas temu fisik kembali berjalan, saya pikir sidang secara daring ini akan menjadi model yang dapat diteruskan. Dosen dan mahasiswa tidak perlu hadir di kampus. Semua form dan dokumen tersedia secara daring. Tatacara sidangnya sama seperti sidang secara luring.

Memang semua orang di dalam sidang  tidak hadir secara fisik, tetapi secara virtual saja.  Apalah bedanya. Jauh secara fisik, namun tetap berdekatan secara niskala.

Selama sidang secara virtual saya tidak harus berada di depan laptop terus menerus. Saya bisa pergi sebentar ke dapur mengambil kudapan, membuat minuman, atau menengok anak di dalam kamarnya, lalu balik lagi ke meja laptop mendengarkan mahasiswa presentasi atau dicecar pertanyaan oleh dosen penguji. Sersan. Serius tapi santai.  ?

Written by rinaldimunir

June 18th, 2020 at 8:56 pm

WFH itu Tidak Selalu Nyaman

without comments

Setelah hampir dua bulan “dirumahkan” semasa pandemi virus corona, apa yang Anda rasakan?

Bagi saya, jujur saja jawabannya adalah bosan. Iya, rasanya sudah bosan rasanya berada di rumah terus. Bagi orang yang sudah biasa bekerja di luar rumah atau berhubungan dengan banyak orang seperti saya (dosen dengan para mahasiswanya), berada di rumah selama berbulan-bulan tidak menyenangkan. Kecuali bagi orang yang memang sehari-harinya bekerja dari rumah tentu tidak masalah di rumah terus.

Virus corona mengajarkan kepada kita bahwa relasi sosial itu penting artinya. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri. Ia butuh berhubungan dengan orang lain. Namun pandemi virus corona yang tidak tahu pasti kapan berakhirnya membuat banyak orang harus menjauh dari orang lain. Diam di rumah saja agar terhindar dari penularan virus corona. Itu cara yang aman dan ikut membantu membatasi penularan.

Bagi kami yang bekerja dalam bidang pendidikan (guru, dosen), work from home (WFH) itu, jujur saja, tidak selalu nyaman. Seorang teman curhat begini:

Kasihan dosen2 ya… kalau harus ngajar on line terus… pakai fasilitas internet dan komputer pribadi. WFH itu bagi dosen malah jadi bekerja seperti 24 hours a day… 7 days a week… Instruksi “top down” dari atasan kapan saja, mhs minta diskusi on line kapan saja, konsultasi pembimbingan kapan saja… tidak ada “office hours”…

Melakukan perkuliahan secara daring itu cukup menyita waktu. Bekerja tidak lagi sesuai jam kerja, tetapi bisa siang dan malam. Rapat secara daring juga dilakukan pada hari libur (sabtu atau minggu), atau sore menjelang malam. Jadi tidak heran jika WFH itu tidak mengenal “office hour”.

Namun WFH bagi kami orang pendidikan ada sisi positifnya juga. Materi kuliah yang sudah ada mau tidak mau harus diperbaiki, di-update, dan diperbagus, sehingga ketika disampaikan di dalam kuliah yang menggunakan video conference (Zoom, GoogleMeetWebex, dll) mudah dimengerti oleh mahasiswa.  Menyampaikan kuliah secara langsung (offline) tentu berbeda jika disampaikan secara daring (online). Pun jika  materi kuliah tampil dalam bentuk rekaman di platform seperti YouTube misalnya, tidak malu-maluin. Selain itu ini saat yang tepat untuk mempelajari berbagai teknologi dan aplikasi pembelajaran daring.

Meski bosan, tidak nyaman dengan WFH, ya mau tidak mau harus dijalani saja dengan sabar dan tabah. Yang patut disyukuri adalah saya dan keluarga masih diberi kesehatan oleh Allah SWT.

Written by rinaldimunir

May 14th, 2020 at 3:25 pm

Posted in Pendidikan

Kreatifitas Kuliah di tengah Pandemi Corona

without comments

Wabah virus corona di Indonesia telah memaksa sekolah-sekolah dari TK hingga perguruan tinggi “diliburkan”. Sebenarnya tidak diliburkan dalam arti sebenarnya, siswa/mahasiswa tetap belajar dari rumah secara daring (online). Kuliah tatap muka diganti dengan kuliah dengan menggunakan Internet.

Di ITB kuliah tatap muka sudah berjalan selama 10 minggu. Pekan Ujian Tengah Semester (UTS) pun sudah selesai. Tersisa kuliah selama lima minggu lagi. Kampus ditutup mulai tanggal 16 Maret 2020. Aktivitas perkuliahan secara tatap muka dihentikan,  dosen dipersilakan melakukan perkuliahan (termasuk bimbingan tugas akhir) dengan menggunakan segala perangkat TIK (teknologi informasi dan komunikasi) yang ada. Silakan menggunakan email, Whatsapp, Facebook, YouTube, atau aplikasi online meeting seperti Zoom, Webex, Google Meet, dan lain-lain.

Masing-masing aplikasi memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Aplikasi Zoom misalnya, kualitasnya video conference-nya bagus, namun memakan pulsa internet yang besar. Saya merasa kasihan saja dengan kantong mahasiswa. Memakai Zoom bisa menguras pulsa internet mahasiswa yang rata-rata fakir kuota. Seorang teman melakukan survey kepada mahasiswanya setelah melakukan kuliah daring selama dua jam menggunakan Zoom. Ternyata mahasiswa membutuhkan lebih dari 300 MB untuk pertemuan kuliah daring. Kalau tersedia akses wifi yang unlimited, apalagi gratis, tentu tidak masalah habis pulsa internet seberapapun.

Dari yang saya amati, banyak dosen (dan juga guru sekolah) yang gagap menyiapkan kuliah secara daring. Wajar saja, ini kasus pertama kali terjadi. Selama ini para dosen di Indonesia sudah merasa nyaman mengajar secara tradisionil yaitu kuliah tatap muka. Ketika terjadi penyebaran wabah penyakit seperti virus corona ini sehingga kuliah tatap muka dihentikan dan diganti dengan kuliah daring, banyak dosen kita yang belum siap.

Namun, keadaan terpaksa ini justru membuat para dosen harus meluangan waktu belajar menggunakan berbagai aplikasi TIK untuk tetap memberikan layanan perkuliahan dan bimbingan tugas akhir, tesis, dan disertasi kepada mahasiswa.

Saya sendiri memutuskan tidak menggunakan aplikasi pertemuan daring seperti Zoom, Google Meet, Webex, dan sebagainya untuk melaksanakan perkuliahan daring dengan berbagai pertimbangan. Sebagai gantinya, saya membuat video-video kuliah yang saya unggah ke Youtube. Video kuliah tanpa wajah saya di sana, dibuat dengan menggunakan aplikasi Power Point. Saya sudah memiliki PPT materi kuliah, jadi dengan PowerPoint saya merekamnya menjadi video bersuara, seolah-olah saya sedang mengajar materi tersebut.

Silakan kunjungi kanal saya di YoutTube dengan meng-klik tautan ini untuk mengakses video-video kuliah yang saya buat bersama dengan teman-teman dari tim kuliah yang kami ampu:

https://www.youtube.com/channel/UCBiY3GSJuQGGjNAdV8JebSQ

Dengan menunggah video-video kuliah tersebut di YouTube, mahasiswa dapat memutarnya berkali-kali jika belum mengerti.  Saya juga meniatkan membagikannya kepada mahaiswa lain di luar ITB dan juga buat umum yang ingin belajar materi kuliah kami. Semoga bermanfaat buat pendidikan bangsa ini.

Written by rinaldimunir

April 9th, 2020 at 8:51 pm

Ayah dan Ibu Tidak Dapat Dibandingkan

without comments

Ayah dan Ibu adalah orang yang sangat berarti bagi kita. Kita ada di dunia ini karena ada mereka. Satu orang saja di antara mereka tidak cukup untuk menghadirkan kita ke dunia.

Ayah dan ibu adalah dua orang manusia unik. Ayah dan ibu masing-masing punya peran berbeda.  Keduanya bukan untuk diperbandingkan, tetapi saling melengkapi dalam kehidupan seorang anak manusia.

Sebuah gambar di bawah ini memaparkan mengapa kita tidak perlu membandingkan keduanya. Sungguh dalam maknanya.

father-mother

Orang yang mencintai sampai kamu menutupkan mata adalah Ibu.
Orang yang mencintai tanpa ekspresi di matanya adalah Ayah

Ibu memperkenalkanmu kepada dunia
Ayah mengenalkan dunia kepadamu

Ibu memberimu kehidupan
Ayah memberimu penghidupan

Ibu memastikanmu tidak kelaparan
Ayah memastikanmu tahu nilai-nilai lapar

Ibu melambangkan perawatan
Ayah melambangkan tanggung jawab

Ibu melindungimu dari kejatuhan
Ayah mengajarkanmu untuk bangkit dari kejatuhan

Ibu mengajarkanmu berjalan
Ayah mengajarkanmu perjalanan hidup

Ibu mengajarmu dari pengalamannya
Ayah mengajarkanmu untuk belajar dari pengalamanmu

Ibu mencerminkan ideologi
Ayah mencerminkan realitas

Kamu mengenal cinta ibumu sejak lahir
Kamu mengenal cinta ayahmu ketika kamu menjadi seorang ayah

*******

Nikmatilah apa yang dikatakan ayahmu
Tetaplah mencintai ibumu

Written by rinaldimunir

February 21st, 2020 at 10:27 am

Tidak Pernah Bosan Mengasuh dan Mendidik Anak

without comments

Bagi saya pribadi Mengasuh dan mendidik anak itu tidak pernah mengenal kata bosan atau capek. Kuncinya adalah melakukannya dengan senang hati dan ikhlas. Biar badan kita sudah lelah dan pegal-pegal mengerjakan berbagai urusan pekerjaan, tetapi jika menyangkut urusan anak maka apapun akan dilakoni. Malam yang sepi dan dingin pun akan ditembus demi urusan anak, begitulah perumpamaannya. Apa yang mendorong banyak orangtua melakukan hal itu? Tidak lain karena rasa tanggung jawab.

Ketika anak saya masih kecil-kecil, setiap hari saya pontang-panting berbagi tugas dengan istri: memandikan, menyuapi makan, antar sekolah, beli berbagai keperluan anak, hingga menemaninya tidur sampai terlelap. Pak pik puk dan kerepotan setiap pagi sudah biasa itu. Rutinitas pagi. Sekali-sekali mengomel karena khawatir anak telat pergi ke sekolah dan kita pun telat pergi ke kantor itu lumrah saja.

Dulu, ketika saya mulai berkeluarga dan punya anak, maka waktu dan pikiran pun harus dibagi-bagi untuk urusan kampus, mahasiswa, orangtua, istri, tetangga, sekolah S2 dan S3, dan tentu saja urusan anak. Hidup kita di dunia ini benar-benar multitasking, multithreading, dan multiprogramming. Satu processor, yaitu otak, harus dibagi-bagi untuk mengerjakan banyak pekerjaan, task, thread, dan program. Itulah hebatnya otak manusia yang diciptakan Allah.

Orangtua di manapun di muka bumi ini pasti merasakan susah senangnya mengurus anak. Keluh kesah pasti adalah, namanya anak juga makhluk hidup, tidak selalu sesuai dengan maunya kita. Anak kita pernah bandel, itu biasa. Anak kita pernah nakal, itu bagian dari perkembangannya. Anak kita pernah tidak mau menurut, itu bagian dari proses kemandiriannya. Jangan pernah berprasangka anak kita tidak menyayangi kita. Itu sama sekali tidak benar. Anak manapun di dunia ini tidak akan pernah melupakan orangtuanya, apalagi tidak menyayanginya.

Jika dipikir-pikir anak-anaklah harta yang paling berharga di dunia ini. Iya, kan? Anak itu anugerah Ilahi. Tidak ada alasan untuk bosan dan capek mengurus anak. Mengasuh dan mendidik anak hanya sekali saja dalam hidup kita ini. Tidak akan terulang lagi.

Written by rinaldimunir

December 23rd, 2019 at 4:14 pm

Posted in Pendidikan

Menghafal itu Perlu, tetapi Mengamalkan yang Dihafal Jauh Lebih Perlu

without comments

Diskursus tentang hafal menghafal tidak perlu menjadi polemik (baca berita: Nadiem Makarim: Dunia Tak Butuh Anak-anak yang Jago Menghafal).  Menurut saya Pak Menteri tidak bermaksud merendahkan kemampuan menghafal, namun menafikan kemampuan hafalan juga tidak sepatutnya.

Menghafal adalah bagian dari proses belajar. Otak manusia memiliki kemampuan mengingat sesuatu. Di dalam Taksonomi Bloom dijelaskan bahwa “mengingat” atau “menghafal” adalah tingkatan terendah untuk mencapai tingkatan berikutnya. Tingkatan Taksonomi Bloom dari rendah ke tinggi adalah sebagai berikut:
1. Mengingat
2. Memahami
3. Menerapkan
4. Menganalisis
5. Mengevaluasi
6. Menciptakan

Menurut saya kemampuan menghafal itu perlu. Ketika saya masih di kecil, di sekolah guru menyuruh kami menghafal perkalian dari 1 sampai 10, sehingga ketika menyelesaikan soal perkalian dapat diselesaikan tanpa perlu banyak berpikir. Sampai sekarang pun saya kira guru2 SD masih mengajarkan murid untuk menghafal perkalian, namun dibarengi dengan menyelesaikan soal-soal matematika.

Beberapa profesi memerlukan daya ingat (CMIIW), misalnya dokter harus menghafal dan mengingat bagian-bagian anatomi manusia, ahli hukum perlu hafal pasal-pasal KUHP, biolog perlu hafal nama-nama latin makhluk hidup, dsb.

Di kelas kuliah saya pun saya menyuruh mahasiswa harus hafal hukum-hukum himpunan (set properties) dan hukum-hukum logika proposisi (law of logics), karena ketika menyelesaikan soal ujian untuk membuktikan sebuah kesamaan, mereka harus menuliskan nama-nama hukum yang dipakai. Bagaimana cara mengingatnya terserah mereka, yang penting selain hafal tapi tahu kapan menggunakannya. Jika tidak menyebutkan nama-nama hukumnya, maka nilainya tidak penuh, harusnya 10 maka dapat 8.

Saat ini, ketika dunia hanya dalam satu genggaman, menghafal itu tidak terlalu penting lagi. Cukup cari di Internet, pengetahuan apa yang kita inginkan dapat diperoleh dengan mudah  cepat. Dulu saat masih SD saya sangat rajin menghafal nama-nama menteri, nama-nama gubernur, nama-nama ibukota negara, dan lain-lain. Sekarang buat apa menghafal nama-nama itu, tidak perlu.

Namun, menghafal pelajaran thok tanpa mengaplikasikannya jelas tidak berguna. Sangat disayangkan memori jangka panjang digunakan untuk menghafal pelajaran semata. Hidup itu memerlukan kemampuan untuk menerapkan ilmu yang dipelajari, bukan sekedar hafalan. Inilah yang dimaksudkan oleh Pak Menteri itu.

Dunia tidak butuh anak-anak yang jago hafalan? Ya betul, untuk konteks urusan duniawimu memang tidak dibutuhkan kemampuan hafalan, tetapi yang dibutuhkan adalah skill, kompetensi, dan kemampuan mengaplikasikan ilmu.  Ini juga maksud dan tujuan Pak Menteri berkata begitu.

Dunia tidak butuh anak-anak yang jago hafalan? Ya betul, tetapi untuk urusan akhiratmu perlu. Hidup kita kan tidak hanya untuk dunia saja. Bagi seorang muslim yang percaya ada kehidupan di akhirat, hidup itu juga persiapan untuk menuju akhirat kelak. Bagi seorang muslim, menghafal itu penting. Saya bisa membaca surat-surat pendek ketika sholat karena sejak kecil sudah dibiasakan menghafal juz Amma. Saat ini kemampuan saya menghafal surat selain juz Amma sudah sulit. Faktor U penyebabnya.

Karena kemampuan menghafal itulah maka Al-Quran terjamin kemurniannya hingga saat ini. Para sahabat Nabi menghafal Al-Quran sehingga bacaan Al-Quran tetap terjaga. Keberadaan hafidz dan hafidzah adalah dalam rangka melestarikan Al-Quran dan dalam rangka ibadah meraih pahala. Namun perlu diingat juga, Al-Quran diturunkan tidak hanya untuk dihafal, tetapi diamalkan dalam kehidupan. Pintar menghafal tetapi tidak mengamalkannya sama seperti rangka tidak punya jiwa.

Jadi, marilah kita mendudukkan masalah hafal menghafal ini sesuai konteksnya. Menghafal bukan berarti tidak perlu. Perlu, namun lebih penting lagi mengamalkan (mempraktekkan) apa yang dihafal itu.

Selamat pagi.

Antapani, 17-12-2019.

Written by rinaldimunir

December 17th, 2019 at 11:45 am

Posted in Pendidikan

Masa-masa Mengantar Anak ke Sekolah yang Tidak akan Pernah Terulang

without comments

Seorang teman di kantor minta izin sebentar karena mau menjemput anaknya dari sekolah (masih SD). Setiap pagi dia selalu mengantar anaknya ke sekolah, pun pulang sekolah juga selalu dijemput.

Saya katakan kepada teman saya itu (sambil menyemangatinya): Benar, masa-masa mengantar jemput  anak ke sekolah  tidak akan pernah terulang. Hanya sekali saja dalam hidup kita ini sebagai orangtua. Kalau anak sudah besar, mereka mungkin tidak mau diantar lagi. Mumpung masih bisa antar jemput, lakukan saja dengan senang hati. Nikmati masa-masa itu.

Saya jadi teringat posting-an seorang warganet di Facebook yang baper melihat seorang ayah mengantar anaknya ke sekolah. Dia merasa sangat sedih karena tidak pernah mengantar anaknya ke sekolah. Bukan dia tidak mau, tetapi tidak punya kesempatan.

antar

Seorang ayah mengantar anaknya ke sekolah (sumber foto dari sini)

Saya sih sudah selesai menjalani masa antar anak-anak ke sekolah saat mereka SD (baca: Berakahir Masa Menjadi “Tukang Ojek” Anak). Anak-anakku kini sudah beranjak besar, dua orang yang besar sudah kuliah. Anak yang bungsu masih SMP kelas 7, dia pergi dan pulang sekolah sendiri, naik gojek, kadang naik angkot/bis. Dulu dari TK sampai SD saya yang rutin antar setiap anak ke sekolahnya setiap pagi dengan motor yang kupakai hingga kini ke kampus. Sekarang masa itu sudah lewat dengan setumpuk kenangan yang tidak akan terlupakan.

Mumpung kalian masih punya anak masih kecil, nikmati masa-masa mengantar anak ke sekolah setiap pagi. Masa-masa seperti itu tidak akan pernah terulang lagi.

Written by rinaldimunir

December 3rd, 2019 at 9:11 am

Mahasiswa Depresi dan Bunuh Diri

without comments

Beberapa hari yang lalu ada peristiwa yang cukup menggemparkan warga kampus Ganesha ITB. Seorang mahasiswa S2 di kampus kami meninggal dunia di kamar kosnya karena bunuh diri (baca beritanya di sini). Siapa sangka, mahasiswa yang cerdas, berprestasi, ternyata mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis seperti itu. Di dalam blognya dia menulis sudah lama mengalami depresi dan sudah punya keinginan untuk melakukan bunuh diri. Membaca tulisannya di blog sungguh membuat hati terenyuh.

Depresi. Aku pernah merasakan depresi. April 2018 lalu aku ke psikolog mengikuti konseling karena depresi. Aku merasakan depresi dan terus berpikir untuk bunuh diri.

….

Dua belas atau tiga belas tahun yang lalu aku mendapat peringkat pertama Olimpiade Sains Nasional tingkat SD di bidang IPA. Karena prestasi itu aku mendapatkan beasiswa di SMP Semesta Semarang, sebuah sekolah swasta berasrama. Kemudian aku melanjutkan pendidikan di SMA Mustafa Germirli di Kayseri, Turki. Setelah 4 tahun SMA aku lalu melanjutkan kuliah di ITB mengambil jurusan Teknik Elektro. Juli 2018 lalu aku lulus menjadi ST.

Apakah aku masih depresi? Aku tidak tahu. Ingin aku katakan kalau aku sudah tidak lagi merasakan depresi. Aku sudah tidak merasa sesedih April 2018 lalu. Namun bagaimana aku bisa tahu? Bagaimana aku tahu kalau nanti malam, atau besok, atau lusa aku tidak akan melompat dari gedung atau menggantung diri atau memutus nadi. Bagaimana aku bisa tahu?

Aku tidak tahu.

Namun yang aku tahu sekarang adalah aku punya kedua orang tua yang mendukungku. Aku tahu ada adik-adikku melihatku dari jauh. Aku tahu ada teman-teman dan Bapak Ibu dosen dan staff yang mengenalku. Dan yang paling penting ada seseorang yang menghangatkan hatiku. Selama ada mereka mungkin aku tidak akan bunuh diri. Karena aku ingin membuat mereka bahagia.

….

Dalam hidupku aku bukanlah orang yang punya banyak teman. Aku tidak pandai bergaul. Keberadaan sesorang dan ketiadaan sesorang sangat berarti bagiku. Maka dari itu aku takut.

Aku takut kalau selama ini aku terlalu clingy kepada orang-orang yang mengenalku. Aku takut sendirian. Ketika aku depresi aku merasa sangat sendirian. Tidak ada yang dapat aku ajak curhat. Tidak ada yang dapat aku peluk. Tidak ada yang bilang kepadaku kalau dia mengerti dan mau menenangkanku.

Saat aku depresi aku merasakan ketiadaan itu jauh lebih baik dari pada keberadaan. Setiap waktu yang berlalu terasa menusuk. Pekerjaan semuanya tertunda. Apapun tidak ingin dilakukan. Yang diinginkan adalah ketiadaan.

….

Saya tidak habis pikir dan tidak mengerti mengapa almarhum mengambil jalan pintas yang sesat itu? Saya bisa membayangkan betapa hancur dan sedih hati ayah dan ibunya mendapat kenyataan pahit seperti ini. Padahal orangtuanya selalu mendukungnya seperti yang dia tulis di atas.

Saya sudah sering membaca berita mahasiswa melakukan bunuh diri di berbagai kampus. Apakah masalah perkuliahan di kampus yang menjadi penyebab mahasiswa bunuh diri? Saya tidak percaya. Saya yakin sebagian besar faktor penyebab bunuh diri itu bukan karena masalah akademik, tetapi masalah non akademik yang mengganggu pikirannya, seperti masalah dengan pacar, orangtua, keluarga, mengidap penyakit menahun, halusinasi pikiran-pikiran burruk, dan lain sebagainya. Masalah non akademik ini mengakibatkan stres dan depresi yang berkepanjangan, lalu jalan pintasnya bunuh diri. Sayang sekali, kita kehilangan satu generasi, lost generation.

Sebagai dosen kita tidak hanya melihat mahasiswa dari sisi akademik semata. Kalau ada mahasiswa yang sudah aneh-aneh sikapnya, stres, depresi, dsb, maka mahasiswa ini perlu diperhatikan lebih intens, kalau perlu dilakukan pendampingan agar dia tidak sendirian. Early warning perlu kita tindak lanjuti.

Di sisi lain teman-teman sesama mahasiswa juga perlu bersikap peduli dengan temannya yang bermasalah. Jangan cuek. Kesibukan kuliah yang padat jangan sampai menjadi alasan untuk memperhatikan orang lain. Sesibuk apapun sempatkanlah memperhatikan teman. Sharing is caring.

Saling membantu itu indah. Anda tidak perlu merasa terbuang waktu karena telah menaruh kepedulian kepada sesama. Waktu yang terbuang tidak sebanding dengan generasi yang hilang.

Written by rinaldimunir

September 6th, 2019 at 11:31 am