if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Pendidikan’ Category

Sidang Tugas Akhir Mahasiswa Angkatan Corona

without comments

Mahasiswa yang lulus sidang skripsi/tugas akhir (TA) dan disiwisuda saat pandemi wabah masih berlangsung mungkin dapat disebut angkatan corona. Mereka sidang TA secara daring dan wisuda secara daring pula. Hal ini karena kampus-kampus ditutup, pertemuan tatap muka ditiadakan, dan semua aktivitas akademik dilakukan secara daring gegara wabah virus corona. Mahasiswa dan dosen tetap berada di tempat tinggalnya masing-masing. Semua terhubung secara virtual. Kuliah , seminar, sidang, rapat, dan wisuda dilakukan secara virtual.

Sebelum ini kita sudah merasa nyaman semua aktivitas dilakukan dengan bertemu secara fisik, namun semua berubah setelah negara api menyerang…eh salah, setelah virus corona menyerang. ?

Untung zaman modern ini ada internet sehingga semua kegiatan akademik, termasuk sidang TA, tetap bisa berjalan sebagaimana biasa. Soal apakah efektif atau tidak, itu soal lain.

Saya akan menceritakan pengalaman saya melakukan sidang tugas akhir, tesis, dan disertasi mahasiswa secara daring. Jika secara luring (offline) sidang dilakukan di dalam ruangan tertutup, dihadiri oleh mahasiswa yang disidang, dosen penguji, dan dosen pembimbing, maka secara virtual sidang dilakukan di dalam sebuah meeting room virtual yang dibuat (create) terlebih dahulu menggunakan aplikasi video conference seperti Zoom atau Google Meet (kami menggunakan Google Meet dengan pertimbangan lebih “murah” dan  fleksibel dibandingkan Zoom). Waktu dan tanggal sidang pun sudah ditetapkan dengan menggunakan aplikasi Calender di Google.

Dosen dan mahasiswa bertemu di ruang virtual ini. Tautan (link) ke meeting room sudah dibagikan jauh-jauh hari kepada dosen pembimbing, dosen penguji, dan mahasiswa melalui surel. Saat waktu sidang tiba, klik tautan tersebut untuk join dan ruang sidang pun muncul di layar komputer menghadirkan semua peserta sidang (dosen dan mahasiswa). Bagi dosen yang tidak ingin wajahnya ditampilkan maka kamera di komputernya bisa dimatikan.

sidang1

Tatacara sidang TA secara virtual dilakukan persis sama seperti sidang secara luring. Ada pembukaan, presentasi dari mahasiswa, tanya jawab dari dosen penguji, penilaian hasil sidang secara tertutup, dan pembacaan hasil sidang. Sesi penilaian secara tertutup oleh dosen penguji dan pembimbing dilakukan dengan cara meminta mahasiswa meninggalkan (left) meeting room virtual untuk kemudian dipanggil lagi (melalui whatsapp) dan disuruh join video conference kembali setelah sesi penilaian tertutup selesai. Hal ini persis seperti pada sidang secara luring, mahasiswa diminta keluar ruang sidang, lalu kemudian dipanggil masuk kembali untuk mendengarkan pembacaan hasil sidang. Proses sidang dapat direkam (REC) jika sewaktu-waktu dibutuhkan untuk melihat kembali pelaksanaan sidang.

sidang2

(Keterangan gambar: Dua buah skrinsut yang saya tampilkan di bawah ini adalah dua orang mahasiswa saya yang sidang TA. Posisinya sedang berada di Singaraja (Bali), satu lagi di Medan, sedangkan dosen pembimbing dan dosen penguji berada di rumahnya Bandung).

Lalu, bagaimana pengisian form penilaian sidang yang biasanya pada sidang secara luring menggunakan form kertas? Mudah saja. Semua form penilaian dan beriata acara sidang diubah formatnya menjadi format digital  menggunakan aplikasi Google Form yang dapat diakses secara daring pula. Dosen pembimbing dan penguji tinggal mengisi form tersebut dari komputernya masing-masing. Berita acara sidang yang berisi catatan perbaikan dikirim secara otomatis ke surel mahasiswa.

Bagaimana dengan naskah TA mahasiswa, apakah perlu dikirim ke rumah dosen dalam bentuk hard copy atau soft copy-nya dikirim melalui surel? Tidak perlu. Merepotkan saja. Semua naskah TA mahasiswa yang sidang pada periode ini disimpan di dalam Google Drive. Dosen cukup mengklik tautan Google Drive yang berisi soft copy TA tersebut, tinggal diunduh atau cukup dibaca saja.

Lihat, semua proses, baik sebelum dan selama pelaksanaan sidang, dilakukan secara daring, tanpa kertas (paperless), dan sangat mangkus (efisien). Aplikasi yang disediakan Google sangat bermanfaat, mulai dari aplikasi Calender untuk menetapkan waktu sidang, Google Form untuk membuat form penilaian, Google Meet untuk melakukan video conferebce, dan Google Drive untuk menyimpan dokumen TA.

Ke depan, meskipun pandemi corona nanti sudah berakhir dan aktifitas temu fisik kembali berjalan, saya pikir sidang secara daring ini akan menjadi model yang dapat diteruskan. Dosen dan mahasiswa tidak perlu hadir di kampus. Semua form dan dokumen tersedia secara daring. Tatacara sidangnya sama seperti sidang secara luring.

Memang semua orang di dalam sidang  tidak hadir secara fisik, tetapi secara virtual saja.  Apalah bedanya. Jauh secara fisik, namun tetap berdekatan secara niskala.

Selama sidang secara virtual saya tidak harus berada di depan laptop terus menerus. Saya bisa pergi sebentar ke dapur mengambil kudapan, membuat minuman, atau menengok anak di dalam kamarnya, lalu balik lagi ke meja laptop mendengarkan mahasiswa presentasi atau dicecar pertanyaan oleh dosen penguji. Sersan. Serius tapi santai.  ?

Written by rinaldimunir

June 18th, 2020 at 8:56 pm

WFH itu Tidak Selalu Nyaman

without comments

Setelah hampir dua bulan “dirumahkan” semasa pandemi virus corona, apa yang Anda rasakan?

Bagi saya, jujur saja jawabannya adalah bosan. Iya, rasanya sudah bosan rasanya berada di rumah terus. Bagi orang yang sudah biasa bekerja di luar rumah atau berhubungan dengan banyak orang seperti saya (dosen dengan para mahasiswanya), berada di rumah selama berbulan-bulan tidak menyenangkan. Kecuali bagi orang yang memang sehari-harinya bekerja dari rumah tentu tidak masalah di rumah terus.

Virus corona mengajarkan kepada kita bahwa relasi sosial itu penting artinya. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri. Ia butuh berhubungan dengan orang lain. Namun pandemi virus corona yang tidak tahu pasti kapan berakhirnya membuat banyak orang harus menjauh dari orang lain. Diam di rumah saja agar terhindar dari penularan virus corona. Itu cara yang aman dan ikut membantu membatasi penularan.

Bagi kami yang bekerja dalam bidang pendidikan (guru, dosen), work from home (WFH) itu, jujur saja, tidak selalu nyaman. Seorang teman curhat begini:

Kasihan dosen2 ya… kalau harus ngajar on line terus… pakai fasilitas internet dan komputer pribadi. WFH itu bagi dosen malah jadi bekerja seperti 24 hours a day… 7 days a week… Instruksi “top down” dari atasan kapan saja, mhs minta diskusi on line kapan saja, konsultasi pembimbingan kapan saja… tidak ada “office hours”…

Melakukan perkuliahan secara daring itu cukup menyita waktu. Bekerja tidak lagi sesuai jam kerja, tetapi bisa siang dan malam. Rapat secara daring juga dilakukan pada hari libur (sabtu atau minggu), atau sore menjelang malam. Jadi tidak heran jika WFH itu tidak mengenal “office hour”.

Namun WFH bagi kami orang pendidikan ada sisi positifnya juga. Materi kuliah yang sudah ada mau tidak mau harus diperbaiki, di-update, dan diperbagus, sehingga ketika disampaikan di dalam kuliah yang menggunakan video conference (Zoom, GoogleMeetWebex, dll) mudah dimengerti oleh mahasiswa.  Menyampaikan kuliah secara langsung (offline) tentu berbeda jika disampaikan secara daring (online). Pun jika  materi kuliah tampil dalam bentuk rekaman di platform seperti YouTube misalnya, tidak malu-maluin. Selain itu ini saat yang tepat untuk mempelajari berbagai teknologi dan aplikasi pembelajaran daring.

Meski bosan, tidak nyaman dengan WFH, ya mau tidak mau harus dijalani saja dengan sabar dan tabah. Yang patut disyukuri adalah saya dan keluarga masih diberi kesehatan oleh Allah SWT.

Written by rinaldimunir

May 14th, 2020 at 3:25 pm

Posted in Pendidikan

Kreatifitas Kuliah di tengah Pandemi Corona

without comments

Wabah virus corona di Indonesia telah memaksa sekolah-sekolah dari TK hingga perguruan tinggi “diliburkan”. Sebenarnya tidak diliburkan dalam arti sebenarnya, siswa/mahasiswa tetap belajar dari rumah secara daring (online). Kuliah tatap muka diganti dengan kuliah dengan menggunakan Internet.

Di ITB kuliah tatap muka sudah berjalan selama 10 minggu. Pekan Ujian Tengah Semester (UTS) pun sudah selesai. Tersisa kuliah selama lima minggu lagi. Kampus ditutup mulai tanggal 16 Maret 2020. Aktivitas perkuliahan secara tatap muka dihentikan,  dosen dipersilakan melakukan perkuliahan (termasuk bimbingan tugas akhir) dengan menggunakan segala perangkat TIK (teknologi informasi dan komunikasi) yang ada. Silakan menggunakan email, Whatsapp, Facebook, YouTube, atau aplikasi online meeting seperti Zoom, Webex, Google Meet, dan lain-lain.

Masing-masing aplikasi memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Aplikasi Zoom misalnya, kualitasnya video conference-nya bagus, namun memakan pulsa internet yang besar. Saya merasa kasihan saja dengan kantong mahasiswa. Memakai Zoom bisa menguras pulsa internet mahasiswa yang rata-rata fakir kuota. Seorang teman melakukan survey kepada mahasiswanya setelah melakukan kuliah daring selama dua jam menggunakan Zoom. Ternyata mahasiswa membutuhkan lebih dari 300 MB untuk pertemuan kuliah daring. Kalau tersedia akses wifi yang unlimited, apalagi gratis, tentu tidak masalah habis pulsa internet seberapapun.

Dari yang saya amati, banyak dosen (dan juga guru sekolah) yang gagap menyiapkan kuliah secara daring. Wajar saja, ini kasus pertama kali terjadi. Selama ini para dosen di Indonesia sudah merasa nyaman mengajar secara tradisionil yaitu kuliah tatap muka. Ketika terjadi penyebaran wabah penyakit seperti virus corona ini sehingga kuliah tatap muka dihentikan dan diganti dengan kuliah daring, banyak dosen kita yang belum siap.

Namun, keadaan terpaksa ini justru membuat para dosen harus meluangan waktu belajar menggunakan berbagai aplikasi TIK untuk tetap memberikan layanan perkuliahan dan bimbingan tugas akhir, tesis, dan disertasi kepada mahasiswa.

Saya sendiri memutuskan tidak menggunakan aplikasi pertemuan daring seperti Zoom, Google Meet, Webex, dan sebagainya untuk melaksanakan perkuliahan daring dengan berbagai pertimbangan. Sebagai gantinya, saya membuat video-video kuliah yang saya unggah ke Youtube. Video kuliah tanpa wajah saya di sana, dibuat dengan menggunakan aplikasi Power Point. Saya sudah memiliki PPT materi kuliah, jadi dengan PowerPoint saya merekamnya menjadi video bersuara, seolah-olah saya sedang mengajar materi tersebut.

Silakan kunjungi kanal saya di YoutTube dengan meng-klik tautan ini untuk mengakses video-video kuliah yang saya buat bersama dengan teman-teman dari tim kuliah yang kami ampu:

https://www.youtube.com/channel/UCBiY3GSJuQGGjNAdV8JebSQ

Dengan menunggah video-video kuliah tersebut di YouTube, mahasiswa dapat memutarnya berkali-kali jika belum mengerti.  Saya juga meniatkan membagikannya kepada mahaiswa lain di luar ITB dan juga buat umum yang ingin belajar materi kuliah kami. Semoga bermanfaat buat pendidikan bangsa ini.

Written by rinaldimunir

April 9th, 2020 at 8:51 pm

Ayah dan Ibu Tidak Dapat Dibandingkan

without comments

Ayah dan Ibu adalah orang yang sangat berarti bagi kita. Kita ada di dunia ini karena ada mereka. Satu orang saja di antara mereka tidak cukup untuk menghadirkan kita ke dunia.

Ayah dan ibu adalah dua orang manusia unik. Ayah dan ibu masing-masing punya peran berbeda.  Keduanya bukan untuk diperbandingkan, tetapi saling melengkapi dalam kehidupan seorang anak manusia.

Sebuah gambar di bawah ini memaparkan mengapa kita tidak perlu membandingkan keduanya. Sungguh dalam maknanya.

father-mother

Orang yang mencintai sampai kamu menutupkan mata adalah Ibu.
Orang yang mencintai tanpa ekspresi di matanya adalah Ayah

Ibu memperkenalkanmu kepada dunia
Ayah mengenalkan dunia kepadamu

Ibu memberimu kehidupan
Ayah memberimu penghidupan

Ibu memastikanmu tidak kelaparan
Ayah memastikanmu tahu nilai-nilai lapar

Ibu melambangkan perawatan
Ayah melambangkan tanggung jawab

Ibu melindungimu dari kejatuhan
Ayah mengajarkanmu untuk bangkit dari kejatuhan

Ibu mengajarkanmu berjalan
Ayah mengajarkanmu perjalanan hidup

Ibu mengajarmu dari pengalamannya
Ayah mengajarkanmu untuk belajar dari pengalamanmu

Ibu mencerminkan ideologi
Ayah mencerminkan realitas

Kamu mengenal cinta ibumu sejak lahir
Kamu mengenal cinta ayahmu ketika kamu menjadi seorang ayah

*******

Nikmatilah apa yang dikatakan ayahmu
Tetaplah mencintai ibumu

Written by rinaldimunir

February 21st, 2020 at 10:27 am

Tidak Pernah Bosan Mengasuh dan Mendidik Anak

without comments

Bagi saya pribadi Mengasuh dan mendidik anak itu tidak pernah mengenal kata bosan atau capek. Kuncinya adalah melakukannya dengan senang hati dan ikhlas. Biar badan kita sudah lelah dan pegal-pegal mengerjakan berbagai urusan pekerjaan, tetapi jika menyangkut urusan anak maka apapun akan dilakoni. Malam yang sepi dan dingin pun akan ditembus demi urusan anak, begitulah perumpamaannya. Apa yang mendorong banyak orangtua melakukan hal itu? Tidak lain karena rasa tanggung jawab.

Ketika anak saya masih kecil-kecil, setiap hari saya pontang-panting berbagi tugas dengan istri: memandikan, menyuapi makan, antar sekolah, beli berbagai keperluan anak, hingga menemaninya tidur sampai terlelap. Pak pik puk dan kerepotan setiap pagi sudah biasa itu. Rutinitas pagi. Sekali-sekali mengomel karena khawatir anak telat pergi ke sekolah dan kita pun telat pergi ke kantor itu lumrah saja.

Dulu, ketika saya mulai berkeluarga dan punya anak, maka waktu dan pikiran pun harus dibagi-bagi untuk urusan kampus, mahasiswa, orangtua, istri, tetangga, sekolah S2 dan S3, dan tentu saja urusan anak. Hidup kita di dunia ini benar-benar multitasking, multithreading, dan multiprogramming. Satu processor, yaitu otak, harus dibagi-bagi untuk mengerjakan banyak pekerjaan, task, thread, dan program. Itulah hebatnya otak manusia yang diciptakan Allah.

Orangtua di manapun di muka bumi ini pasti merasakan susah senangnya mengurus anak. Keluh kesah pasti adalah, namanya anak juga makhluk hidup, tidak selalu sesuai dengan maunya kita. Anak kita pernah bandel, itu biasa. Anak kita pernah nakal, itu bagian dari perkembangannya. Anak kita pernah tidak mau menurut, itu bagian dari proses kemandiriannya. Jangan pernah berprasangka anak kita tidak menyayangi kita. Itu sama sekali tidak benar. Anak manapun di dunia ini tidak akan pernah melupakan orangtuanya, apalagi tidak menyayanginya.

Jika dipikir-pikir anak-anaklah harta yang paling berharga di dunia ini. Iya, kan? Anak itu anugerah Ilahi. Tidak ada alasan untuk bosan dan capek mengurus anak. Mengasuh dan mendidik anak hanya sekali saja dalam hidup kita ini. Tidak akan terulang lagi.

Written by rinaldimunir

December 23rd, 2019 at 4:14 pm

Posted in Pendidikan

Menghafal itu Perlu, tetapi Mengamalkan yang Dihafal Jauh Lebih Perlu

without comments

Diskursus tentang hafal menghafal tidak perlu menjadi polemik (baca berita: Nadiem Makarim: Dunia Tak Butuh Anak-anak yang Jago Menghafal).  Menurut saya Pak Menteri tidak bermaksud merendahkan kemampuan menghafal, namun menafikan kemampuan hafalan juga tidak sepatutnya.

Menghafal adalah bagian dari proses belajar. Otak manusia memiliki kemampuan mengingat sesuatu. Di dalam Taksonomi Bloom dijelaskan bahwa “mengingat” atau “menghafal” adalah tingkatan terendah untuk mencapai tingkatan berikutnya. Tingkatan Taksonomi Bloom dari rendah ke tinggi adalah sebagai berikut:
1. Mengingat
2. Memahami
3. Menerapkan
4. Menganalisis
5. Mengevaluasi
6. Menciptakan

Menurut saya kemampuan menghafal itu perlu. Ketika saya masih di kecil, di sekolah guru menyuruh kami menghafal perkalian dari 1 sampai 10, sehingga ketika menyelesaikan soal perkalian dapat diselesaikan tanpa perlu banyak berpikir. Sampai sekarang pun saya kira guru2 SD masih mengajarkan murid untuk menghafal perkalian, namun dibarengi dengan menyelesaikan soal-soal matematika.

Beberapa profesi memerlukan daya ingat (CMIIW), misalnya dokter harus menghafal dan mengingat bagian-bagian anatomi manusia, ahli hukum perlu hafal pasal-pasal KUHP, biolog perlu hafal nama-nama latin makhluk hidup, dsb.

Di kelas kuliah saya pun saya menyuruh mahasiswa harus hafal hukum-hukum himpunan (set properties) dan hukum-hukum logika proposisi (law of logics), karena ketika menyelesaikan soal ujian untuk membuktikan sebuah kesamaan, mereka harus menuliskan nama-nama hukum yang dipakai. Bagaimana cara mengingatnya terserah mereka, yang penting selain hafal tapi tahu kapan menggunakannya. Jika tidak menyebutkan nama-nama hukumnya, maka nilainya tidak penuh, harusnya 10 maka dapat 8.

Saat ini, ketika dunia hanya dalam satu genggaman, menghafal itu tidak terlalu penting lagi. Cukup cari di Internet, pengetahuan apa yang kita inginkan dapat diperoleh dengan mudah  cepat. Dulu saat masih SD saya sangat rajin menghafal nama-nama menteri, nama-nama gubernur, nama-nama ibukota negara, dan lain-lain. Sekarang buat apa menghafal nama-nama itu, tidak perlu.

Namun, menghafal pelajaran thok tanpa mengaplikasikannya jelas tidak berguna. Sangat disayangkan memori jangka panjang digunakan untuk menghafal pelajaran semata. Hidup itu memerlukan kemampuan untuk menerapkan ilmu yang dipelajari, bukan sekedar hafalan. Inilah yang dimaksudkan oleh Pak Menteri itu.

Dunia tidak butuh anak-anak yang jago hafalan? Ya betul, untuk konteks urusan duniawimu memang tidak dibutuhkan kemampuan hafalan, tetapi yang dibutuhkan adalah skill, kompetensi, dan kemampuan mengaplikasikan ilmu.  Ini juga maksud dan tujuan Pak Menteri berkata begitu.

Dunia tidak butuh anak-anak yang jago hafalan? Ya betul, tetapi untuk urusan akhiratmu perlu. Hidup kita kan tidak hanya untuk dunia saja. Bagi seorang muslim yang percaya ada kehidupan di akhirat, hidup itu juga persiapan untuk menuju akhirat kelak. Bagi seorang muslim, menghafal itu penting. Saya bisa membaca surat-surat pendek ketika sholat karena sejak kecil sudah dibiasakan menghafal juz Amma. Saat ini kemampuan saya menghafal surat selain juz Amma sudah sulit. Faktor U penyebabnya.

Karena kemampuan menghafal itulah maka Al-Quran terjamin kemurniannya hingga saat ini. Para sahabat Nabi menghafal Al-Quran sehingga bacaan Al-Quran tetap terjaga. Keberadaan hafidz dan hafidzah adalah dalam rangka melestarikan Al-Quran dan dalam rangka ibadah meraih pahala. Namun perlu diingat juga, Al-Quran diturunkan tidak hanya untuk dihafal, tetapi diamalkan dalam kehidupan. Pintar menghafal tetapi tidak mengamalkannya sama seperti rangka tidak punya jiwa.

Jadi, marilah kita mendudukkan masalah hafal menghafal ini sesuai konteksnya. Menghafal bukan berarti tidak perlu. Perlu, namun lebih penting lagi mengamalkan (mempraktekkan) apa yang dihafal itu.

Selamat pagi.

Antapani, 17-12-2019.

Written by rinaldimunir

December 17th, 2019 at 11:45 am

Posted in Pendidikan

Masa-masa Mengantar Anak ke Sekolah yang Tidak akan Pernah Terulang

without comments

Seorang teman di kantor minta izin sebentar karena mau menjemput anaknya dari sekolah (masih SD). Setiap pagi dia selalu mengantar anaknya ke sekolah, pun pulang sekolah juga selalu dijemput.

Saya katakan kepada teman saya itu (sambil menyemangatinya): Benar, masa-masa mengantar jemput  anak ke sekolah  tidak akan pernah terulang. Hanya sekali saja dalam hidup kita ini sebagai orangtua. Kalau anak sudah besar, mereka mungkin tidak mau diantar lagi. Mumpung masih bisa antar jemput, lakukan saja dengan senang hati. Nikmati masa-masa itu.

Saya jadi teringat posting-an seorang warganet di Facebook yang baper melihat seorang ayah mengantar anaknya ke sekolah. Dia merasa sangat sedih karena tidak pernah mengantar anaknya ke sekolah. Bukan dia tidak mau, tetapi tidak punya kesempatan.

antar

Seorang ayah mengantar anaknya ke sekolah (sumber foto dari sini)

Saya sih sudah selesai menjalani masa antar anak-anak ke sekolah saat mereka SD (baca: Berakahir Masa Menjadi “Tukang Ojek” Anak). Anak-anakku kini sudah beranjak besar, dua orang yang besar sudah kuliah. Anak yang bungsu masih SMP kelas 7, dia pergi dan pulang sekolah sendiri, naik gojek, kadang naik angkot/bis. Dulu dari TK sampai SD saya yang rutin antar setiap anak ke sekolahnya setiap pagi dengan motor yang kupakai hingga kini ke kampus. Sekarang masa itu sudah lewat dengan setumpuk kenangan yang tidak akan terlupakan.

Mumpung kalian masih punya anak masih kecil, nikmati masa-masa mengantar anak ke sekolah setiap pagi. Masa-masa seperti itu tidak akan pernah terulang lagi.

Written by rinaldimunir

December 3rd, 2019 at 9:11 am

Mahasiswa Depresi dan Bunuh Diri

without comments

Beberapa hari yang lalu ada peristiwa yang cukup menggemparkan warga kampus Ganesha ITB. Seorang mahasiswa S2 di kampus kami meninggal dunia di kamar kosnya karena bunuh diri (baca beritanya di sini). Siapa sangka, mahasiswa yang cerdas, berprestasi, ternyata mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis seperti itu. Di dalam blognya dia menulis sudah lama mengalami depresi dan sudah punya keinginan untuk melakukan bunuh diri. Membaca tulisannya di blog sungguh membuat hati terenyuh.

Depresi. Aku pernah merasakan depresi. April 2018 lalu aku ke psikolog mengikuti konseling karena depresi. Aku merasakan depresi dan terus berpikir untuk bunuh diri.

….

Dua belas atau tiga belas tahun yang lalu aku mendapat peringkat pertama Olimpiade Sains Nasional tingkat SD di bidang IPA. Karena prestasi itu aku mendapatkan beasiswa di SMP Semesta Semarang, sebuah sekolah swasta berasrama. Kemudian aku melanjutkan pendidikan di SMA Mustafa Germirli di Kayseri, Turki. Setelah 4 tahun SMA aku lalu melanjutkan kuliah di ITB mengambil jurusan Teknik Elektro. Juli 2018 lalu aku lulus menjadi ST.

Apakah aku masih depresi? Aku tidak tahu. Ingin aku katakan kalau aku sudah tidak lagi merasakan depresi. Aku sudah tidak merasa sesedih April 2018 lalu. Namun bagaimana aku bisa tahu? Bagaimana aku tahu kalau nanti malam, atau besok, atau lusa aku tidak akan melompat dari gedung atau menggantung diri atau memutus nadi. Bagaimana aku bisa tahu?

Aku tidak tahu.

Namun yang aku tahu sekarang adalah aku punya kedua orang tua yang mendukungku. Aku tahu ada adik-adikku melihatku dari jauh. Aku tahu ada teman-teman dan Bapak Ibu dosen dan staff yang mengenalku. Dan yang paling penting ada seseorang yang menghangatkan hatiku. Selama ada mereka mungkin aku tidak akan bunuh diri. Karena aku ingin membuat mereka bahagia.

….

Dalam hidupku aku bukanlah orang yang punya banyak teman. Aku tidak pandai bergaul. Keberadaan sesorang dan ketiadaan sesorang sangat berarti bagiku. Maka dari itu aku takut.

Aku takut kalau selama ini aku terlalu clingy kepada orang-orang yang mengenalku. Aku takut sendirian. Ketika aku depresi aku merasa sangat sendirian. Tidak ada yang dapat aku ajak curhat. Tidak ada yang dapat aku peluk. Tidak ada yang bilang kepadaku kalau dia mengerti dan mau menenangkanku.

Saat aku depresi aku merasakan ketiadaan itu jauh lebih baik dari pada keberadaan. Setiap waktu yang berlalu terasa menusuk. Pekerjaan semuanya tertunda. Apapun tidak ingin dilakukan. Yang diinginkan adalah ketiadaan.

….

Saya tidak habis pikir dan tidak mengerti mengapa almarhum mengambil jalan pintas yang sesat itu? Saya bisa membayangkan betapa hancur dan sedih hati ayah dan ibunya mendapat kenyataan pahit seperti ini. Padahal orangtuanya selalu mendukungnya seperti yang dia tulis di atas.

Saya sudah sering membaca berita mahasiswa melakukan bunuh diri di berbagai kampus. Apakah masalah perkuliahan di kampus yang menjadi penyebab mahasiswa bunuh diri? Saya tidak percaya. Saya yakin sebagian besar faktor penyebab bunuh diri itu bukan karena masalah akademik, tetapi masalah non akademik yang mengganggu pikirannya, seperti masalah dengan pacar, orangtua, keluarga, mengidap penyakit menahun, halusinasi pikiran-pikiran burruk, dan lain sebagainya. Masalah non akademik ini mengakibatkan stres dan depresi yang berkepanjangan, lalu jalan pintasnya bunuh diri. Sayang sekali, kita kehilangan satu generasi, lost generation.

Sebagai dosen kita tidak hanya melihat mahasiswa dari sisi akademik semata. Kalau ada mahasiswa yang sudah aneh-aneh sikapnya, stres, depresi, dsb, maka mahasiswa ini perlu diperhatikan lebih intens, kalau perlu dilakukan pendampingan agar dia tidak sendirian. Early warning perlu kita tindak lanjuti.

Di sisi lain teman-teman sesama mahasiswa juga perlu bersikap peduli dengan temannya yang bermasalah. Jangan cuek. Kesibukan kuliah yang padat jangan sampai menjadi alasan untuk memperhatikan orang lain. Sesibuk apapun sempatkanlah memperhatikan teman. Sharing is caring.

Saling membantu itu indah. Anda tidak perlu merasa terbuang waktu karena telah menaruh kepedulian kepada sesama. Waktu yang terbuang tidak sebanding dengan generasi yang hilang.

Written by rinaldimunir

September 6th, 2019 at 11:31 am

Uneg-Uneg PPDB Sistem Zonasi (lagi)

without comments

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019 untuk sekolah negeri SMP dan SMA di kota Bandung dan Jawa Barat umumnya sudah selesai. Hasil-hasilnya sudah diumumkan. Tentu ada yang sedih dan gembira dengan hasilnya. Diantara banyak kesedihan tersimpan kekecewaan mendalam dari sebagian orangtua yang merasa “dizalimi” dengan sistem penerimaan siswa berdasarkan jarak rumah. Dengan persentase kuota yang besar untuk jalur domisili berdasarkan jarak rumah ke sekolah (90%, termasuk kombinasi jarak dan NEM) dan hanya menyisakan 2,5% kuota untuk jalur berdasarkan nilai NEM dan 2,5% untuk prestasi perlombaan, PPDB sistem zonasi meninggalkan cerita pedih. Kekisruhan selama 1 bulan ini selama proses PPDB akhirnya membuat presiden turun tangan.

Menurut saya PPDB sistem zonasi merupakan kebijakan Mendikbud yang paling “konyol” dari seorang menteri miskin prestasi. Di akhir masa jabatannya ia membuat aturan zonasi 90% dalam PPDB. Setelah disentil oleh Pak Jokowi, akhirnya beliau mengubah kuota jalur prestasi dari 5% menjadi 15% dan menurunkan kuota jarak domisili menjadi 80%. Diubahnya hari Jumat sore, sedangkan di Jabar pendaftaran PPDB SMA terakhir hari Sabtu. Mana pula bisa formulir yang sudah dimasukin dicabut kembali? Sudah telat. Tidak dipikir dulu matang-matang sebelum bikin aturan, bisa diubah seenaknya di tengah jalan saat PPDB sedang injury time. Anak-anak sekolah jadi kelinci percobaan setiap tahun dengan aturan PPDB yang selalu berubah-ubah.

Untuk PPDB SMP di kota Bandung perubahan kuota jalur prestasi menjadi 15% bagaikan nasi sudah menjadi bubur. PPDB SMP di Bandung sudah tuntas sebelum lebaran dengan kuota jalur prestasi berdasarkan nilai USBN hanya 2,5% atau sama dg 8 orang siswa. Tentu penambahan kuota sampai 15% sudah tidak bisa lagi dilakukan. Sudah selesai. Andai waktu itu kuotanya 15%, tentu anak bungsuku bisa masuk ke SMP …., tapi ya sudahlah.

Pak menteri membuat aturan PPDB salah satu tujuannya adalah menghapus label sekolah favorit dan tidak favorit. Baiklah, saya tidak keberatan dengan maksud ini, labelisasi favorit dan tidak favorit telah mengkastakan sekolah negeri.  Dilanjutkan olehnya, bersekolah di mana saja sama.  Untuk pernyatan kedua ini saya tidak setuju. Jelas tidak sama, pak menteri. Bersekolah di SMP 2 Bandung dengan fasilitas sarana lengkap dan wah tentu tidak sama dengan bersekolah di SMP 5x yang sarana dan prasarananya memprihatinkan. Sekedar contoh, toilet di SMP 2 saja sekelas toilet hotel, sedangkan toilet di SMP xx jorok dan bau pesing. Itu baru toilet. Wajar orangtua mencari sekolah negeri yang berkualitas bua putra-putrinya.

Pak menteri lupa. PPDB sistem zonasi itu memiliki dua syarat sebelum dilaksanakan. Syarat pertama adalah penyebaran sekolah negeri harus merata di setiap kecamatan dan proporsional dengan jumlah penduduk. Ada kecamatan yang sama sekali tidak memiliki sekolah negeri. Jika mereka mendaftar ke sekolah negeri di kecamatan tetangga jelas mereka akan tersingkir karena kalah oleh faktor jarak rumah yang jauh. Padahal ketika belum ada sistem zonasi mereka seharusnya bisa bersaing masuk sekolah negeri berdasarkan NEM. Memang solusi untuk masalah ini adalah perlu ditambah jumlah sekolah negeri, tetapi itu kan perlu waktu beberapa tahun lagi, sekarang mereka mau sekolah di mana?

Syarat kedua adalah kualitas setiap sekolah -baik sarana dan prasaran maupun kualitas guru-  sudah sama atau setara. Jika kedua syarat itu sudah dipenuhi, barulah bisa dikatakan bersekolah di mana saja sama. Barulah PPDB sistem zonasi bisa diterapkan. Bukan seperti sekarang yang sangat jomplang. Faktanya saat ini penyebaran sekolah negeri belum merata dan kualitasnya satu sama lain jauh berbeda. Butuh waktu untuk menyamakan dan meratakan.

Selama penyebaran sekolah belum merata dan kualitasnya belum sama atau setara, maka PPDB sistem zonasi dilakukan secara bertahap dulu,  jangan langsung memaksakan full seperti sekarang. Artinya seleksi berdasarkan NEM tetap diadakan selain faktor jarak juga dipertimbangkan.  Jika tidak, maka yang terjadi adalah gejolak di tengah masyarakat.

Sistem zonasi telah membuat sekolah-sekolah negeri yang selama ini punya nama turun reputasinya. Sekolah-sekolah itu menerima siswa dengan NEM yang kecil-kecil. Padahal reputasi sekolah unggulan dicapai selama puluhan tahun. Tidak ada yang salah memiliki sekolah negeri favorit sebab sekolah itu terbentuk secara alami. Bahkan putri Gubernur Jabar pun mendaftar ke sekolah favorit (SMAN 3 Bandung) yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya, padahal Pak Gub sendiri dalam beberapa kesempatan berkoar-koar agar masyarakat memilih sekolah yang dekat rumah saja demi mengurangi kemacetan.

Memiliki sekolah negeri unggulan (baca: favorit) sepertinya “tidak diizinkan” dengan sistem zonasi. Semua sekolah harus sama rasa dan sama rata. Semua sekolah harus unggulan. Namun dengan kondisi yang jomplang saat ini, seperti yang diungkapkan di atas, jelas belum bisa.

PPDB sistem zonasi seakan-akan mempersulit siswa-siswa pintar masuk sekolah negeri idamannya karena kuota yang tersedia sangat sedikit (2,5%). Hasil kerja keras mereka belajar kurang diapresiasi dengan proporsional. Mereka kalah dengan seleksi berdasarkan meteran. Orangtua mereka mungkin telah “salah” memilih lokasi rumah di pinggiran kota atau di luar zona sehingga gagal masuk sekolah yang diinginkan.

Dalam pandangan saya, aturan PPDB zonasi memang terlihat adil bagi siswa yang rumahnya dekat sekolah, tetapi zalim bagi siswa berprestasi yang rumahnya di luar zona atau jauh dari sekolah negeri. Impiannya untuk masuk sekolah yang diidamkannya pupus karena tidak bisa mendaftar ke sana. Jika tidak lolos ke sekolah negeri, ya ke sekolah swasta saja, kata pak menteri. Dikiranya ke sekolah swasta itu bisa pakai uang pangkal kayak mengeruk uang di selokan depan rumah saja.

Sekarang bagaimana tanggung jawab menteri terhadap anak-anak yang tidak diterima di mana-mana dan tidak memiliki uang untuk masuk ke sekolah swasta?

 

Written by rinaldimunir

July 1st, 2019 at 1:54 pm

Setelah PPDB SMP Kota Bandung Berlalu

without comments

Hari ini saya datang ke SMPN 44 Bandung di Jalan Cimanuk No. 1, pertigaan dengan Jalan Riau (Jl. R.E Martadinata, jalan yang terkenal dengan sederetan Factory Outlet atau FO). Tujuan ke sini adalah untuk melakukan daftar ulang anak yang diterima di SMP negeri tersebut. Alhamdulillah, Tuhan mentakdirkan anak bungsuku bersekolah di SMP ini melalui proses PPDB  pada bulan puasa yang lalu. Kota Bandung memang paling cepat menyelenggarakan PPDB di antara semua kota/kabupaten di Jawa Barat.

PPDB tahun ini menerapkan full sistem zonasi. Semua sekolah negeri di Indonesia harus tunduk pada Peraturan Menteri Kemendikbud yang mengharuskan penerimaan siswa baru SMP/SMA berdasarkan jarak rumah ke sekolah. Siapa yang rumahnya makin dekat ke sekolah, maka peluangnya diterima di sekolah tersebut makin besar. Tidak perlu belajar serius di tingkat sekolah sebelumnya, punya nilai NEM (nilai USBN atau nilai UN) rendah pun tetap bisa masuk asal rumahnya tidak jauh dari sekolah. Siswa yang punya NEM tinggi tapi rumah jauh dari sekolah terpaksa gigit jari, tersingkir dari sekolah yang diinginkannya.

Sistem zonasi memang sudah berhasil menghilangkan sekolah-sekolah berlabel favorit. Siswa dengan NEM bagus tersebar merata di berbagai sekolah. Sekolah-sekolah SMP favorit yang terletak di tengah kota di Bandung seperti SMPN 2, 5, 7, 13, dan 44 melalui sistem zonasi tahun 2019 ini rata-rata menerima siswa dengan NEM yang rendah. Tidak banyak siswa memiliki NEM bagus. Sistem zonasi di Bandung hanya memberi kuota 2,5% saja menerima siswa berdasarkan nilai NEM, atau setara 7 hingga 8 orang saja, 2,5 % lagi berdasarkan prestasi perlomabaan, dan 5% untk siswa mutasi. Sisanya 90% berdasarkan jarak, itu sudah termasuk jalur kombinasi sebesar 20% yang menerima siswa berdasarkan kombinasi jarak rumah dan nilai NEM.

Sistem PPDB yang selalu berubah-ubah setiap tahun memang memusingkan orangtua. Saya mengapresisi tujuan sistem zonasi, yaitu untuk memeratakan mutu sekolah, tidak ada lagi sekolah favorit atau tidak favorit. Tetapi apresiasi itu dengan syarat, yaitu sekolah tersebar secara merata dan kualitasnya juga merata, sehingga masuk sekolah mana saja sama saja. Namun sayangnya, di kota Bandung penyebaran sekolah dan kualitasnya tidak merata, oleh karena itu sistem zonasi belum bisa diterapkan secara penuh. Tentang hal ini sudah  pernah saya tulis pada posting tahun lalu (baca ini). Kalau belum bisa diterapkan secara penuh, maka fifty-fifty saja, yaitu 50% menerima siswa berdasarkan jarak dan 50% lagi berdasarkan NEM. Lebih fair dan lebih adil bagi semua pihak.

Tahun ini kabinet menteri akan berganti lagi karena presidennya baru. Mendikbud yang sekarang kemungkinan akan diganti juga. Kita semua sudah mahfum dengan slogan ganti menteri ganti aturan. Bukan tidak mungkin Mendikbud yang baru akan mengubah lagi mekanisme PPDB. Siap-siap saja orangtua dipusingkan dengan aturan yang berubah-ubah. Tiga tahun lagi ketika anak saya tamat SMP entah seperti apa pula aturan PPDB masuk SMA.

Jalan Cimanuk yang teduh

Alhamdulillah, proses pendaftaran ulang siswa baru sudah selesai di tempat sekolah anak saya. Sekolah yang berada di kawasan belakang Gedung Sate ini berada di kawasan yang teduh dan rindang, banyak pohon besar, dan tidak dilalui kendaraan umum. Mudah-mudahan sekolah ini adalah yang terbaik yang dipilihkan Tuhan untuk anak saya. Tahun lalu SMPN 44 meraih predikat sekolah berbudaya religi. Itu artinya SMPN 44 memiliki pola pendidikan karakter yang kuat. Insya Allah.

Written by rinaldimunir

June 17th, 2019 at 4:47 pm