if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Pendidikan’ Category

Tidak Pernah Bosan Mengasuh dan Mendidik Anak

without comments

Bagi saya pribadi Mengasuh dan mendidik anak itu tidak pernah mengenal kata bosan atau capek. Kuncinya adalah melakukannya dengan senang hati dan ikhlas. Biar badan kita sudah lelah dan pegal-pegal mengerjakan berbagai urusan pekerjaan, tetapi jika menyangkut urusan anak maka apapun akan dilakoni. Malam yang sepi dan dingin pun akan ditembus demi urusan anak, begitulah perumpamaannya. Apa yang mendorong banyak orangtua melakukan hal itu? Tidak lain karena rasa tanggung jawab.

Ketika anak saya masih kecil-kecil, setiap hari saya pontang-panting berbagi tugas dengan istri: memandikan, menyuapi makan, antar sekolah, beli berbagai keperluan anak, hingga menemaninya tidur sampai terlelap. Pak pik puk dan kerepotan setiap pagi sudah biasa itu. Rutinitas pagi. Sekali-sekali mengomel karena khawatir anak telat pergi ke sekolah dan kita pun telat pergi ke kantor itu lumrah saja.

Dulu, ketika saya mulai berkeluarga dan punya anak, maka waktu dan pikiran pun harus dibagi-bagi untuk urusan kampus, mahasiswa, orangtua, istri, tetangga, sekolah S2 dan S3, dan tentu saja urusan anak. Hidup kita di dunia ini benar-benar multitasking, multithreading, dan multiprogramming. Satu processor, yaitu otak, harus dibagi-bagi untuk mengerjakan banyak pekerjaan, task, thread, dan program. Itulah hebatnya otak manusia yang diciptakan Allah.

Orangtua di manapun di muka bumi ini pasti merasakan susah senangnya mengurus anak. Keluh kesah pasti adalah, namanya anak juga makhluk hidup, tidak selalu sesuai dengan maunya kita. Anak kita pernah bandel, itu biasa. Anak kita pernah nakal, itu bagian dari perkembangannya. Anak kita pernah tidak mau menurut, itu bagian dari proses kemandiriannya. Jangan pernah berprasangka anak kita tidak menyayangi kita. Itu sama sekali tidak benar. Anak manapun di dunia ini tidak akan pernah melupakan orangtuanya, apalagi tidak menyayanginya.

Jika dipikir-pikir anak-anaklah harta yang paling berharga di dunia ini. Iya, kan? Anak itu anugerah Ilahi. Tidak ada alasan untuk bosan dan capek mengurus anak. Mengasuh dan mendidik anak hanya sekali saja dalam hidup kita ini. Tidak akan terulang lagi.

Written by rinaldimunir

December 23rd, 2019 at 4:14 pm

Posted in Pendidikan

Menghafal itu Perlu, tetapi Mengamalkan yang Dihafal Jauh Lebih Perlu

without comments

Diskursus tentang hafal menghafal tidak perlu menjadi polemik (baca berita: Nadiem Makarim: Dunia Tak Butuh Anak-anak yang Jago Menghafal).  Menurut saya Pak Menteri tidak bermaksud merendahkan kemampuan menghafal, namun menafikan kemampuan hafalan juga tidak sepatutnya.

Menghafal adalah bagian dari proses belajar. Otak manusia memiliki kemampuan mengingat sesuatu. Di dalam Taksonomi Bloom dijelaskan bahwa “mengingat” atau “menghafal” adalah tingkatan terendah untuk mencapai tingkatan berikutnya. Tingkatan Taksonomi Bloom dari rendah ke tinggi adalah sebagai berikut:
1. Mengingat
2. Memahami
3. Menerapkan
4. Menganalisis
5. Mengevaluasi
6. Menciptakan

Menurut saya kemampuan menghafal itu perlu. Ketika saya masih di kecil, di sekolah guru menyuruh kami menghafal perkalian dari 1 sampai 10, sehingga ketika menyelesaikan soal perkalian dapat diselesaikan tanpa perlu banyak berpikir. Sampai sekarang pun saya kira guru2 SD masih mengajarkan murid untuk menghafal perkalian, namun dibarengi dengan menyelesaikan soal-soal matematika.

Beberapa profesi memerlukan daya ingat (CMIIW), misalnya dokter harus menghafal dan mengingat bagian-bagian anatomi manusia, ahli hukum perlu hafal pasal-pasal KUHP, biolog perlu hafal nama-nama latin makhluk hidup, dsb.

Di kelas kuliah saya pun saya menyuruh mahasiswa harus hafal hukum-hukum himpunan (set properties) dan hukum-hukum logika proposisi (law of logics), karena ketika menyelesaikan soal ujian untuk membuktikan sebuah kesamaan, mereka harus menuliskan nama-nama hukum yang dipakai. Bagaimana cara mengingatnya terserah mereka, yang penting selain hafal tapi tahu kapan menggunakannya. Jika tidak menyebutkan nama-nama hukumnya, maka nilainya tidak penuh, harusnya 10 maka dapat 8.

Saat ini, ketika dunia hanya dalam satu genggaman, menghafal itu tidak terlalu penting lagi. Cukup cari di Internet, pengetahuan apa yang kita inginkan dapat diperoleh dengan mudah  cepat. Dulu saat masih SD saya sangat rajin menghafal nama-nama menteri, nama-nama gubernur, nama-nama ibukota negara, dan lain-lain. Sekarang buat apa menghafal nama-nama itu, tidak perlu.

Namun, menghafal pelajaran thok tanpa mengaplikasikannya jelas tidak berguna. Sangat disayangkan memori jangka panjang digunakan untuk menghafal pelajaran semata. Hidup itu memerlukan kemampuan untuk menerapkan ilmu yang dipelajari, bukan sekedar hafalan. Inilah yang dimaksudkan oleh Pak Menteri itu.

Dunia tidak butuh anak-anak yang jago hafalan? Ya betul, untuk konteks urusan duniawimu memang tidak dibutuhkan kemampuan hafalan, tetapi yang dibutuhkan adalah skill, kompetensi, dan kemampuan mengaplikasikan ilmu.  Ini juga maksud dan tujuan Pak Menteri berkata begitu.

Dunia tidak butuh anak-anak yang jago hafalan? Ya betul, tetapi untuk urusan akhiratmu perlu. Hidup kita kan tidak hanya untuk dunia saja. Bagi seorang muslim yang percaya ada kehidupan di akhirat, hidup itu juga persiapan untuk menuju akhirat kelak. Bagi seorang muslim, menghafal itu penting. Saya bisa membaca surat-surat pendek ketika sholat karena sejak kecil sudah dibiasakan menghafal juz Amma. Saat ini kemampuan saya menghafal surat selain juz Amma sudah sulit. Faktor U penyebabnya.

Karena kemampuan menghafal itulah maka Al-Quran terjamin kemurniannya hingga saat ini. Para sahabat Nabi menghafal Al-Quran sehingga bacaan Al-Quran tetap terjaga. Keberadaan hafidz dan hafidzah adalah dalam rangka melestarikan Al-Quran dan dalam rangka ibadah meraih pahala. Namun perlu diingat juga, Al-Quran diturunkan tidak hanya untuk dihafal, tetapi diamalkan dalam kehidupan. Pintar menghafal tetapi tidak mengamalkannya sama seperti rangka tidak punya jiwa.

Jadi, marilah kita mendudukkan masalah hafal menghafal ini sesuai konteksnya. Menghafal bukan berarti tidak perlu. Perlu, namun lebih penting lagi mengamalkan (mempraktekkan) apa yang dihafal itu.

Selamat pagi.

Antapani, 17-12-2019.

Written by rinaldimunir

December 17th, 2019 at 11:45 am

Posted in Pendidikan

Masa-masa Mengantar Anak ke Sekolah yang Tidak akan Pernah Terulang

without comments

Seorang teman di kantor minta izin sebentar karena mau menjemput anaknya dari sekolah (masih SD). Setiap pagi dia selalu mengantar anaknya ke sekolah, pun pulang sekolah juga selalu dijemput.

Saya katakan kepada teman saya itu (sambil menyemangatinya): Benar, masa-masa mengantar jemput  anak ke sekolah  tidak akan pernah terulang. Hanya sekali saja dalam hidup kita ini sebagai orangtua. Kalau anak sudah besar, mereka mungkin tidak mau diantar lagi. Mumpung masih bisa antar jemput, lakukan saja dengan senang hati. Nikmati masa-masa itu.

Saya jadi teringat posting-an seorang warganet di Facebook yang baper melihat seorang ayah mengantar anaknya ke sekolah. Dia merasa sangat sedih karena tidak pernah mengantar anaknya ke sekolah. Bukan dia tidak mau, tetapi tidak punya kesempatan.

antar

Seorang ayah mengantar anaknya ke sekolah (sumber foto dari sini)

Saya sih sudah selesai menjalani masa antar anak-anak ke sekolah saat mereka SD (baca: Berakahir Masa Menjadi “Tukang Ojek” Anak). Anak-anakku kini sudah beranjak besar, dua orang yang besar sudah kuliah. Anak yang bungsu masih SMP kelas 7, dia pergi dan pulang sekolah sendiri, naik gojek, kadang naik angkot/bis. Dulu dari TK sampai SD saya yang rutin antar setiap anak ke sekolahnya setiap pagi dengan motor yang kupakai hingga kini ke kampus. Sekarang masa itu sudah lewat dengan setumpuk kenangan yang tidak akan terlupakan.

Mumpung kalian masih punya anak masih kecil, nikmati masa-masa mengantar anak ke sekolah setiap pagi. Masa-masa seperti itu tidak akan pernah terulang lagi.

Written by rinaldimunir

December 3rd, 2019 at 9:11 am

Mahasiswa Depresi dan Bunuh Diri

without comments

Beberapa hari yang lalu ada peristiwa yang cukup menggemparkan warga kampus Ganesha ITB. Seorang mahasiswa S2 di kampus kami meninggal dunia di kamar kosnya karena bunuh diri (baca beritanya di sini). Siapa sangka, mahasiswa yang cerdas, berprestasi, ternyata mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis seperti itu. Di dalam blognya dia menulis sudah lama mengalami depresi dan sudah punya keinginan untuk melakukan bunuh diri. Membaca tulisannya di blog sungguh membuat hati terenyuh.

Depresi. Aku pernah merasakan depresi. April 2018 lalu aku ke psikolog mengikuti konseling karena depresi. Aku merasakan depresi dan terus berpikir untuk bunuh diri.

….

Dua belas atau tiga belas tahun yang lalu aku mendapat peringkat pertama Olimpiade Sains Nasional tingkat SD di bidang IPA. Karena prestasi itu aku mendapatkan beasiswa di SMP Semesta Semarang, sebuah sekolah swasta berasrama. Kemudian aku melanjutkan pendidikan di SMA Mustafa Germirli di Kayseri, Turki. Setelah 4 tahun SMA aku lalu melanjutkan kuliah di ITB mengambil jurusan Teknik Elektro. Juli 2018 lalu aku lulus menjadi ST.

Apakah aku masih depresi? Aku tidak tahu. Ingin aku katakan kalau aku sudah tidak lagi merasakan depresi. Aku sudah tidak merasa sesedih April 2018 lalu. Namun bagaimana aku bisa tahu? Bagaimana aku tahu kalau nanti malam, atau besok, atau lusa aku tidak akan melompat dari gedung atau menggantung diri atau memutus nadi. Bagaimana aku bisa tahu?

Aku tidak tahu.

Namun yang aku tahu sekarang adalah aku punya kedua orang tua yang mendukungku. Aku tahu ada adik-adikku melihatku dari jauh. Aku tahu ada teman-teman dan Bapak Ibu dosen dan staff yang mengenalku. Dan yang paling penting ada seseorang yang menghangatkan hatiku. Selama ada mereka mungkin aku tidak akan bunuh diri. Karena aku ingin membuat mereka bahagia.

….

Dalam hidupku aku bukanlah orang yang punya banyak teman. Aku tidak pandai bergaul. Keberadaan sesorang dan ketiadaan sesorang sangat berarti bagiku. Maka dari itu aku takut.

Aku takut kalau selama ini aku terlalu clingy kepada orang-orang yang mengenalku. Aku takut sendirian. Ketika aku depresi aku merasa sangat sendirian. Tidak ada yang dapat aku ajak curhat. Tidak ada yang dapat aku peluk. Tidak ada yang bilang kepadaku kalau dia mengerti dan mau menenangkanku.

Saat aku depresi aku merasakan ketiadaan itu jauh lebih baik dari pada keberadaan. Setiap waktu yang berlalu terasa menusuk. Pekerjaan semuanya tertunda. Apapun tidak ingin dilakukan. Yang diinginkan adalah ketiadaan.

….

Saya tidak habis pikir dan tidak mengerti mengapa almarhum mengambil jalan pintas yang sesat itu? Saya bisa membayangkan betapa hancur dan sedih hati ayah dan ibunya mendapat kenyataan pahit seperti ini. Padahal orangtuanya selalu mendukungnya seperti yang dia tulis di atas.

Saya sudah sering membaca berita mahasiswa melakukan bunuh diri di berbagai kampus. Apakah masalah perkuliahan di kampus yang menjadi penyebab mahasiswa bunuh diri? Saya tidak percaya. Saya yakin sebagian besar faktor penyebab bunuh diri itu bukan karena masalah akademik, tetapi masalah non akademik yang mengganggu pikirannya, seperti masalah dengan pacar, orangtua, keluarga, mengidap penyakit menahun, halusinasi pikiran-pikiran burruk, dan lain sebagainya. Masalah non akademik ini mengakibatkan stres dan depresi yang berkepanjangan, lalu jalan pintasnya bunuh diri. Sayang sekali, kita kehilangan satu generasi, lost generation.

Sebagai dosen kita tidak hanya melihat mahasiswa dari sisi akademik semata. Kalau ada mahasiswa yang sudah aneh-aneh sikapnya, stres, depresi, dsb, maka mahasiswa ini perlu diperhatikan lebih intens, kalau perlu dilakukan pendampingan agar dia tidak sendirian. Early warning perlu kita tindak lanjuti.

Di sisi lain teman-teman sesama mahasiswa juga perlu bersikap peduli dengan temannya yang bermasalah. Jangan cuek. Kesibukan kuliah yang padat jangan sampai menjadi alasan untuk memperhatikan orang lain. Sesibuk apapun sempatkanlah memperhatikan teman. Sharing is caring.

Saling membantu itu indah. Anda tidak perlu merasa terbuang waktu karena telah menaruh kepedulian kepada sesama. Waktu yang terbuang tidak sebanding dengan generasi yang hilang.

Written by rinaldimunir

September 6th, 2019 at 11:31 am

Uneg-Uneg PPDB Sistem Zonasi (lagi)

without comments

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019 untuk sekolah negeri SMP dan SMA di kota Bandung dan Jawa Barat umumnya sudah selesai. Hasil-hasilnya sudah diumumkan. Tentu ada yang sedih dan gembira dengan hasilnya. Diantara banyak kesedihan tersimpan kekecewaan mendalam dari sebagian orangtua yang merasa “dizalimi” dengan sistem penerimaan siswa berdasarkan jarak rumah. Dengan persentase kuota yang besar untuk jalur domisili berdasarkan jarak rumah ke sekolah (90%, termasuk kombinasi jarak dan NEM) dan hanya menyisakan 2,5% kuota untuk jalur berdasarkan nilai NEM dan 2,5% untuk prestasi perlombaan, PPDB sistem zonasi meninggalkan cerita pedih. Kekisruhan selama 1 bulan ini selama proses PPDB akhirnya membuat presiden turun tangan.

Menurut saya PPDB sistem zonasi merupakan kebijakan Mendikbud yang paling “konyol” dari seorang menteri miskin prestasi. Di akhir masa jabatannya ia membuat aturan zonasi 90% dalam PPDB. Setelah disentil oleh Pak Jokowi, akhirnya beliau mengubah kuota jalur prestasi dari 5% menjadi 15% dan menurunkan kuota jarak domisili menjadi 80%. Diubahnya hari Jumat sore, sedangkan di Jabar pendaftaran PPDB SMA terakhir hari Sabtu. Mana pula bisa formulir yang sudah dimasukin dicabut kembali? Sudah telat. Tidak dipikir dulu matang-matang sebelum bikin aturan, bisa diubah seenaknya di tengah jalan saat PPDB sedang injury time. Anak-anak sekolah jadi kelinci percobaan setiap tahun dengan aturan PPDB yang selalu berubah-ubah.

Untuk PPDB SMP di kota Bandung perubahan kuota jalur prestasi menjadi 15% bagaikan nasi sudah menjadi bubur. PPDB SMP di Bandung sudah tuntas sebelum lebaran dengan kuota jalur prestasi berdasarkan nilai USBN hanya 2,5% atau sama dg 8 orang siswa. Tentu penambahan kuota sampai 15% sudah tidak bisa lagi dilakukan. Sudah selesai. Andai waktu itu kuotanya 15%, tentu anak bungsuku bisa masuk ke SMP …., tapi ya sudahlah.

Pak menteri membuat aturan PPDB salah satu tujuannya adalah menghapus label sekolah favorit dan tidak favorit. Baiklah, saya tidak keberatan dengan maksud ini, labelisasi favorit dan tidak favorit telah mengkastakan sekolah negeri.  Dilanjutkan olehnya, bersekolah di mana saja sama.  Untuk pernyatan kedua ini saya tidak setuju. Jelas tidak sama, pak menteri. Bersekolah di SMP 2 Bandung dengan fasilitas sarana lengkap dan wah tentu tidak sama dengan bersekolah di SMP 5x yang sarana dan prasarananya memprihatinkan. Sekedar contoh, toilet di SMP 2 saja sekelas toilet hotel, sedangkan toilet di SMP xx jorok dan bau pesing. Itu baru toilet. Wajar orangtua mencari sekolah negeri yang berkualitas bua putra-putrinya.

Pak menteri lupa. PPDB sistem zonasi itu memiliki dua syarat sebelum dilaksanakan. Syarat pertama adalah penyebaran sekolah negeri harus merata di setiap kecamatan dan proporsional dengan jumlah penduduk. Ada kecamatan yang sama sekali tidak memiliki sekolah negeri. Jika mereka mendaftar ke sekolah negeri di kecamatan tetangga jelas mereka akan tersingkir karena kalah oleh faktor jarak rumah yang jauh. Padahal ketika belum ada sistem zonasi mereka seharusnya bisa bersaing masuk sekolah negeri berdasarkan NEM. Memang solusi untuk masalah ini adalah perlu ditambah jumlah sekolah negeri, tetapi itu kan perlu waktu beberapa tahun lagi, sekarang mereka mau sekolah di mana?

Syarat kedua adalah kualitas setiap sekolah -baik sarana dan prasaran maupun kualitas guru-  sudah sama atau setara. Jika kedua syarat itu sudah dipenuhi, barulah bisa dikatakan bersekolah di mana saja sama. Barulah PPDB sistem zonasi bisa diterapkan. Bukan seperti sekarang yang sangat jomplang. Faktanya saat ini penyebaran sekolah negeri belum merata dan kualitasnya satu sama lain jauh berbeda. Butuh waktu untuk menyamakan dan meratakan.

Selama penyebaran sekolah belum merata dan kualitasnya belum sama atau setara, maka PPDB sistem zonasi dilakukan secara bertahap dulu,  jangan langsung memaksakan full seperti sekarang. Artinya seleksi berdasarkan NEM tetap diadakan selain faktor jarak juga dipertimbangkan.  Jika tidak, maka yang terjadi adalah gejolak di tengah masyarakat.

Sistem zonasi telah membuat sekolah-sekolah negeri yang selama ini punya nama turun reputasinya. Sekolah-sekolah itu menerima siswa dengan NEM yang kecil-kecil. Padahal reputasi sekolah unggulan dicapai selama puluhan tahun. Tidak ada yang salah memiliki sekolah negeri favorit sebab sekolah itu terbentuk secara alami. Bahkan putri Gubernur Jabar pun mendaftar ke sekolah favorit (SMAN 3 Bandung) yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya, padahal Pak Gub sendiri dalam beberapa kesempatan berkoar-koar agar masyarakat memilih sekolah yang dekat rumah saja demi mengurangi kemacetan.

Memiliki sekolah negeri unggulan (baca: favorit) sepertinya “tidak diizinkan” dengan sistem zonasi. Semua sekolah harus sama rasa dan sama rata. Semua sekolah harus unggulan. Namun dengan kondisi yang jomplang saat ini, seperti yang diungkapkan di atas, jelas belum bisa.

PPDB sistem zonasi seakan-akan mempersulit siswa-siswa pintar masuk sekolah negeri idamannya karena kuota yang tersedia sangat sedikit (2,5%). Hasil kerja keras mereka belajar kurang diapresiasi dengan proporsional. Mereka kalah dengan seleksi berdasarkan meteran. Orangtua mereka mungkin telah “salah” memilih lokasi rumah di pinggiran kota atau di luar zona sehingga gagal masuk sekolah yang diinginkan.

Dalam pandangan saya, aturan PPDB zonasi memang terlihat adil bagi siswa yang rumahnya dekat sekolah, tetapi zalim bagi siswa berprestasi yang rumahnya di luar zona atau jauh dari sekolah negeri. Impiannya untuk masuk sekolah yang diidamkannya pupus karena tidak bisa mendaftar ke sana. Jika tidak lolos ke sekolah negeri, ya ke sekolah swasta saja, kata pak menteri. Dikiranya ke sekolah swasta itu bisa pakai uang pangkal kayak mengeruk uang di selokan depan rumah saja.

Sekarang bagaimana tanggung jawab menteri terhadap anak-anak yang tidak diterima di mana-mana dan tidak memiliki uang untuk masuk ke sekolah swasta?

 

Written by rinaldimunir

July 1st, 2019 at 1:54 pm

Setelah PPDB SMP Kota Bandung Berlalu

without comments

Hari ini saya datang ke SMPN 44 Bandung di Jalan Cimanuk No. 1, pertigaan dengan Jalan Riau (Jl. R.E Martadinata, jalan yang terkenal dengan sederetan Factory Outlet atau FO). Tujuan ke sini adalah untuk melakukan daftar ulang anak yang diterima di SMP negeri tersebut. Alhamdulillah, Tuhan mentakdirkan anak bungsuku bersekolah di SMP ini melalui proses PPDB  pada bulan puasa yang lalu. Kota Bandung memang paling cepat menyelenggarakan PPDB di antara semua kota/kabupaten di Jawa Barat.

PPDB tahun ini menerapkan full sistem zonasi. Semua sekolah negeri di Indonesia harus tunduk pada Peraturan Menteri Kemendikbud yang mengharuskan penerimaan siswa baru SMP/SMA berdasarkan jarak rumah ke sekolah. Siapa yang rumahnya makin dekat ke sekolah, maka peluangnya diterima di sekolah tersebut makin besar. Tidak perlu belajar serius di tingkat sekolah sebelumnya, punya nilai NEM (nilai USBN atau nilai UN) rendah pun tetap bisa masuk asal rumahnya tidak jauh dari sekolah. Siswa yang punya NEM tinggi tapi rumah jauh dari sekolah terpaksa gigit jari, tersingkir dari sekolah yang diinginkannya.

Sistem zonasi memang sudah berhasil menghilangkan sekolah-sekolah berlabel favorit. Siswa dengan NEM bagus tersebar merata di berbagai sekolah. Sekolah-sekolah SMP favorit yang terletak di tengah kota di Bandung seperti SMPN 2, 5, 7, 13, dan 44 melalui sistem zonasi tahun 2019 ini rata-rata menerima siswa dengan NEM yang rendah. Tidak banyak siswa memiliki NEM bagus. Sistem zonasi di Bandung hanya memberi kuota 2,5% saja menerima siswa berdasarkan nilai NEM, atau setara 7 hingga 8 orang saja, 2,5 % lagi berdasarkan prestasi perlomabaan, dan 5% untk siswa mutasi. Sisanya 90% berdasarkan jarak, itu sudah termasuk jalur kombinasi sebesar 20% yang menerima siswa berdasarkan kombinasi jarak rumah dan nilai NEM.

Sistem PPDB yang selalu berubah-ubah setiap tahun memang memusingkan orangtua. Saya mengapresisi tujuan sistem zonasi, yaitu untuk memeratakan mutu sekolah, tidak ada lagi sekolah favorit atau tidak favorit. Tetapi apresiasi itu dengan syarat, yaitu sekolah tersebar secara merata dan kualitasnya juga merata, sehingga masuk sekolah mana saja sama saja. Namun sayangnya, di kota Bandung penyebaran sekolah dan kualitasnya tidak merata, oleh karena itu sistem zonasi belum bisa diterapkan secara penuh. Tentang hal ini sudah  pernah saya tulis pada posting tahun lalu (baca ini). Kalau belum bisa diterapkan secara penuh, maka fifty-fifty saja, yaitu 50% menerima siswa berdasarkan jarak dan 50% lagi berdasarkan NEM. Lebih fair dan lebih adil bagi semua pihak.

Tahun ini kabinet menteri akan berganti lagi karena presidennya baru. Mendikbud yang sekarang kemungkinan akan diganti juga. Kita semua sudah mahfum dengan slogan ganti menteri ganti aturan. Bukan tidak mungkin Mendikbud yang baru akan mengubah lagi mekanisme PPDB. Siap-siap saja orangtua dipusingkan dengan aturan yang berubah-ubah. Tiga tahun lagi ketika anak saya tamat SMP entah seperti apa pula aturan PPDB masuk SMA.

Jalan Cimanuk yang teduh

Alhamdulillah, proses pendaftaran ulang siswa baru sudah selesai di tempat sekolah anak saya. Sekolah yang berada di kawasan belakang Gedung Sate ini berada di kawasan yang teduh dan rindang, banyak pohon besar, dan tidak dilalui kendaraan umum. Mudah-mudahan sekolah ini adalah yang terbaik yang dipilihkan Tuhan untuk anak saya. Tahun lalu SMPN 44 meraih predikat sekolah berbudaya religi. Itu artinya SMPN 44 memiliki pola pendidikan karakter yang kuat. Insya Allah.

Written by rinaldimunir

June 17th, 2019 at 4:47 pm

Membiasakan Sejak Kecil

without comments

Sudah puluhan tahun saya menjalani ibadah puasa Ramadhan setiap tahun, alhamdulillah selalu lancar, tidak pernah batal kecuali sakit. Menjalani puasa sebulan penuh tidak ada rasa berat, malah sudah terbiasa. Hanya hari pertama dan kedua saja tubuh memerlukan penyesuaian, selebihnya biasa saja.

Sejak kecil kebanyakan orangtua (muslim) sudah mendidik anak-anaknya untuk berlatih berpuasa. Mula-mula puasa setengah hari, lalu kalau sudah kuat puasa seharian penuh. Setiap tahun demikian hingga tumbuh dewasa, maka berpuasa menjadi hal yang terbiasa, tidak lagi ibadah yang berat.

Membiasakan anak-anak melakukan hal-hal yang berulang-ulang sejak kecil adalah metode pendidikan karakter yang baik. Karakter itu akan melekat hingga dewasa dan menjadi sebuah habit (kebiasaan). Contoh sederhana saja misalnya menyuruh anak gosok gigi dua kali sehari, setiap pagi dan setiap akan tidur, melipat selimut setiap bangun tidur, berdoa sebelum makan, mengucapkan salam setiap masuk rumah, membaca buku, dan sebagainya.  Jika kebiasaan ini sudah dilakukan sejak kecil, maka lama-lama akan menjadi kebiasaan dan terbawa hingga besar. Semua kegiatan yang berulang-ulang akan menjadi program yang tersimpan di dalam pikiran bawah sadar dan akan berjalan secara otomatis.

Orangtua sering mengeluh anaknya malas membaca buku, apalagi buku pelajaran, malas sholat, malas mengaji, malas membersihkan kamar tidur, dan sebagainya. Ya itulah karena tidak dilatih sejak kecil dan tidak menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan. Seperti sebuah peribahasa mengatakan, alah bisa karena biasa, yang artinya apabila suatu pekerjaan telah terbiasa dilakukan, maka tidak terasa lagi kesukarannya atau sudah memiliki pengalaman praktek yang lebih baik.

Masa kecil adalah masa emas untuk menanamkan pendidikan karakter. Saat kecil anak mudah dibentuk sesuai dengan keinginan orangtuanya. Otak anak-anak belum berkembang, maka saat itu otak anak bisa dilatih untuk menanamkan kebiasaan yang baik. Sebuah peribahasa mengatakan kecil teranja-anja, besar terbawa-bawa, sudah tua terubah tidak , yang artinya satu kebiasaan yang dilakukan sejak kecil akan menjadi tabiat yang sukar diubah.

Saya bersyukur orangtua saya sejak kecil sudah mendidik saya sholat, puasa, mengaji, jujur, berkata sopan, dan sebagainya. Sekarang semua didikannya membekas dan menjadi kebiasaan hingga sekarang. Kalau belum sholat saja di dalam perjalanan atau acara yang memakan waktu lama saya sudah resah dan gelisah, sepertinya ada yang kurang. Berkata kurang sopan saya merasa bersalah. Apalagi bulan puasa seperti sekarang, mana pula terpikir rasa berat menjalankannya.

Alhamdulillah semua pendidikan baik yang saya dapatkan dari orangtua saya wariskan pula ke anak-anak. Sejak kecil anak-anak saya sudah berpuasa, sholat lima waktu, mengaji setiap hari, dimasukkan ke sekolah mengaji (TPA), dan sebagainya. Tujuannya agar semua yang dilakukannya sejak kecil akan menjadi habit ketika dewasa.

Written by rinaldimunir

May 7th, 2019 at 10:23 am

Posted in Pendidikan

Adegan Kurang Nyaman di dalam Film “Dilan 1990”

without comments

Terpengaruh oleh promosi dan meme-meme yang lucu di media sosial tentang film Dilan 1990 membuat saya dan istri ikut tertarik menonton film remaja ini. Ini film yang sedang poluler di tanah air dan sudah mencapai jumlah penonton mendekati 5 juta orang.  Katanya, film yang diadopsi dari novel laris karya Pidi Baiq dengan judul sama ini, ceritanya tidak berat, banyak adegan kocak, dan yang paling penting banyak kalimat puitis yang bikin baper banyak orang.  Salah satu kalimat yang favorit di film itu dan bikin baper anak muda adalah Jangan rindu. Berat. Kamu tidak kuat. Biar aku saja. ?

Saya tertarik menonton film ini bukan karena kalimat-kalimat puitis yang bikin baper itu. Bukan. Tetapi karena film ini menggambarkan suasana kota Bandung tahun 1990. Singkatnya, tokoh Dilan dan Milea di dalam di film tersebut bersekolah di SMA di daerah Buahbatu (tahu sendirilah, pasti SMAN 8 Bandung), jadi tentu shooting film mengambil setting kota Bandung tahun 1990. Tahun 1990 itu saya masih kuliah di ITB, belum lulus, dan kesibukan saya lebih banyak menjadi pengajar di Bimbel Karisma Salman ITB. Di Bimbel itu saya bertemu banyak anak SMA dari berbagai sekolah di Bandung. Jadi, ini semacam nostalgia saja. Bagi saya, kota Bandung adalah kota kecintaan saya yang kedua setelah kota Padang tempat kelahiran saya. Saya kuliah di sini, di ITB,  dan akhirnya bekerja menjadi dosen di almamater saya hingga sekarang.

dilan-film

Menurut saya setelah menonton film Dilan, jujur saja filmnya memang bagus, jalan ceritanya menarik. Ini memang kisah cinta remaja. Saya jadi teringat masa-masa remaja di SMA, tetapi memang jalan cerita saya tidak sama dengan Dilan, he..he.

Namun, ada beberapa adegan yang menurut saya cukup mengganggu dan kurang nyaman dilihat. Di dalam film ada adegan Dilan mengamuk, menyerang, dan memukul gurunya, Pak Suripto, pada saat upacara bendera. Memang Pak Suripto salah juga sih, dia menarik kerah baju Dilan lalu menamparnya di depan siswa lain. Itu memang sikap guru yang tidak pantas karena melakukan kekerasan kepada siswa. Tidak jelas juga apa kesalahan Dilan sehingga dia ditampar. Tapi menurut saya tidak selayaknya adegan guru menampar murid dan Dilan menghantam Pak Guru ditampilkan di dalam film tersebut mengingat banyaknya kasus kekerasan antara murid dan guru saat ini. Guru melakukan kekerasan kepada murid, murid membunuh gurunya. Hii….sungguh zaman sekarang makin kacau.

Saya khawatir adegan Dilan menyerang guru nanti jadi pembenaran bagi murid  lain untuk membalas dengan kekerasan pula jika guru memarahi murid dengan tangan. Heran saja adegan tersebut bisa  lolos sensor. Saya tidak tahu apakah di dalam novelnya ada alur cerita demikian (saya tidak membaca novel Pidi Baiq), tetapi ada atau tidak di dalam novel aslinya tidak perlulah ditampilkan adegan tersebut secara vulgar di dalam film. Saya sebagai guru (dosen) saja tidak nyaman melihat seorang guru diserang, dipukul, dan dihantam, apalagi Dilan memanggil gurunya dengan nama saja, Suripto, tanpa kata Pak di depannya. Itu saja tidak sopan menurut saya.

Selain adegan di atas, ada adegan lain yang saya juga kurang nyaman melihatnya, yaitu adegan romantis Milea memeluk Dilan yang boncengan di atas sepeda motor. Saya tidak tahu di dalam novel aslinya apa juga demikian, atau hanya kreativitas sutradara saja yang membuat visualisasinya demikian. Anak SMA lho itu, bukan cerita orang dewasa. Film ini menurut klasifikasinya untuk usia 13+, tetapi saya lihat banyak anak-anak juga ikut nonton bersama orangtuanya, dan petugas bioskop pun tidak melarangnya.

Saya khawatir saja adegan mesra tersebut ditiru remaja kita dan menganggapnya perbuatan biasa, padahal bisa mengarah ke perbuatan selanjutnya yang dilarang agama.  Penonton film Dilan kebanyakan remaja. Usia remaja belum bisa memfilter mana adegan yang baik dan mana yang kurang pantas. Untung anak saya yang duduk di SD batal ikut menonton, padahal tadinya dia ngotot mau ikut. Coba kalau ikut, tentu saya merasa jengah melihat dia menyaksikan kemesraan dua anak SMA yang berpacaran. Menurut saya sebuah film tidak hanya berisi tontonan, tetapi seharusnya  juga berisi tuntunan yang mendidik. Memang pada zaman sekarang sudah biasa kita lihat para remaja berpacaran seperti sudah menjadi suami istri saja, peluk-pelukan, pegangan tangan, ciuman, dan akhirnya berbuat zina yang lebih dalam lagi. Tapi yang sudah biasa itu tidak boleh kita anggap benar. Saya memang termasuk kolot dalam mendidik anak, wanti-wanti saya melarang ini itu, ini tak boleh itu tak boleh, bergaul sama siapa saja.  Boleh badung sepert Dilan, tetapi jangan mendekati zina yang dilarang agama. Itu saja.

Written by rinaldimunir

February 12th, 2018 at 11:44 am

Posted in Pendidikan

Lingkungan Berat Anak Zaman Sekarang

without comments

Dulu orangtua sering khawatir dengan anak perempuannya, khawatir dengan pergaulan bebas yang dapat merusak masa depannya. Anak perempuan dijaga betul bergaul dengan laki-laki khawatir, khawatir kenapa-kenapa, misalnya pelecehan seksual, perkosaan, hamil diluar nikah, dsb. Berbagai aturan pun dibuat orangtua untuk menjaga keselamatan anak perempuan mereka, misalnya tidak boleh pulang malam, tidak boleh berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan mahram, dan sederet wanti-wanti agar anak perempuan mereka tidak mudah tergoda bujuk rayu lelaki. Pokoknya cerewetlah kepada anak perempuan dibandingkan kepada anak laki-laki.  Sementara anak laki-laki diberi kebebasan di luar rumah.

Tetapi pada zaman sekarang mempunyai anak laki-laki juga sama khawatirnya dengan anak perempuan. Banyak kejahatan seksual mengintai anak laki-laki, baik yang masih anak-anak maupun yang sudah remaja. Kaum yang mengalami penyimpangan seksual mencari mangsa tidak hanya anak perempuan di bawah umur, tetapi juga anak laki-laki. Pedofilia namanya, pelakunya disebut pedofili. Orang dewasa  mencari anak laki-laki untuk memuaskan hasratnya. Kejahatan pedofilia sudah sering kita baca beritanya di media massa. Anak-anak yang menjadi korban pedofilia akan mengalami trauma berat, dan bila dewasa mereka kemungkinan akan menjadi pedofili juga atau penyuka sesama jenis.

Baru-baru ini di Bandung kita digegerkan dengan peristiwa pembuatan video porno yang melibatkan anak-anak. Beberapa anak laki-laki yang berusia 9 sampai 11 tahun disuruh melakukan adegan mesum dengan perempuan dewasa, adegan itu direkam menjadi sebuah video, lalu video tersebut dijual kepada pemesannya (kaum pedofili) dari luar ngeri. Sungguh mengerikan dan menjijikkan, dan yang lebih bejad lagi ibu dari anak itu sendiri yang mengatur adegan tersebut di kamar hotel dan memerintahkan anaknya untuk patuh mengikuti arahan sutradara video.

Jika pada anak laki-laki kejahatan yang mengincar adalah pedofilia, maka pada remaja  atau anak muda laki-laki ancaman yang sangat mengkhawatrikan akhir-akhir ini adalah perilaku LGBT, khususnya perilaku homoseksual (gay dan lesbianisme). Menurut yang saya baca di media, kaum LGBT saat ini berkembang sedemikian pesat, jumlahnya semakin hari semakin bertambah saja. LGBT merupakan perilaku yang dapat menular. LGBT menyasar remaja dan mahasiswa yang masih labil pola pikirnya. Sudah banyak kasus anak-anak muda yang normal berubah menjadi homoseksual karena diajak masuk atau terjebak ke dalam  pergaulan kaum LGBT. Media sosial sangat berperan menyuburkan pertumbuhan LGBT. Coba saja ketikkan kata “gay bandung ” , “gay depok”, “gay bekasi” atau nama lokasi lainnya pada akun Facebook anda, maka akan muncul banyak  sekali grup kaum homoseksual dengan jumlah anggota fantastis, ribuan jumlahnya. Bulan lalu polisi menggerebek pesta seks kaum gay di sebuah villa di Cianjur, dan yang mengagetkan salah satu pesertanya adalah remaja yang masih SMA.

Anak saya yang ingin ikut fitness di sebuah tempat gym saya larang, karena saya sering mendengar pusat kebugaran disinyalir tempat berkumpulnya LGBT. Tentu tidak semua pusat kebugaran tubuh demikian, tetapi sudah bukan rahasia lagi di tempat mengolah kebugaran tubuh itu sering dijadikan ajang perkenalan kaum gay. Gay menyukai pria yang berotot dengan badan six-pack. Pria-pria yang bertubuh six-pack terlihat macho, tetapi sebagian diantaranya ternyata penyuka sesama jenis. Mereka mungkin semula normal tetapi terjerat menjadi gay karena salah pergaulan.

Semua agama apapun menolak perilaku LGBT. LGBT bertentangan dengan ajaran agama. Indonesia saat ini sudah darurat LGBT karena pertumbuhannya sudah mengkhawatirkan. Tapi tampaknya para pemimpin kita masih belum aware dengan keresahan ini. Perbuatan LGBT belum menjadi tindak pidana. Jika kepedulian tentang LGBT ini tidak ditindaklanjuti oleh para pemimpin kita, maka jangan kaget jika nanti  makin banyak anak-anak kita nanti memilki perilaku seksual yang menyimpang.

Marilah kita jaga anak-anak kita dari pergaulan yang dapat menjerumuskan mereka kepada perbuatan yang dilarang agama. Lingkungan pergaulan anak laki-laki maupun perempuan saat ini semakin berat saja tantangannya. Semoga Allah SWT menyelamatkan bangsa kita dari perbuatan yang dilarang agama.

Written by rinaldimunir

January 22nd, 2018 at 4:52 pm

Mendidik dengan Memberi Contoh

without comments

Suatu hari anak saya yang bungsu pergi belanja sendiri ke minimarket dengan menggunakan sepeda. Diam-diam saya buntuti dia, karena saya agak khawatir kalau dia tidak lihat kiri kanan saat menyeberang jalan dengan sepedanya (minimarket itu berada di seberang jalan). Tiba di minimarket, saya amati dia dari jauh. Setelah membayar belanjaan di kasir, ternyata ada sisa kembalian berupa uang receh. Uang receh itu lalu dia masukkan ke kotak amal yatim piatu yang terletak di luar dekat pintu masuk minimarket. Dia melakukan hal itu (memasukkan uang ke dalam kotak amal) karena sering melihat saya melakukan hal yang sama ketika dia diajak berbelanja ke minimarket. Hmmm…padahal saya tidak pernah lho menyuruh dia untuk memasukkan uang ke kotak kencleng, tapi sekarang dia melakukan amal kecil yang pernah saya lakukan.

Saya pun tersadar. Pendidikan terbaik bagi anak-anak adalah dengan memberikan contoh. Tidak perlu berteori yang muluk-muluk atau berceramah  panjang lebar, tapi perlihatkan dengan contoh teladan. Apa saja yang anda lakukan, maka anak anda akan menirunya karena dia menganggap orangtua dan guru adalah contoh yang patut ditiru, terlepas apakah perbuatan itu baik atau buruk. Anak anda akan mem-foto-copy apa yang anda lakukan.

Maka, bila anda memperlihatkan teladan baik, anak anda akan mencontohnya. Bila anda memperlihatkan sikap buruk, anak anda  pun akan menirunya. Anda membanting pintu sebagai pelampiasan marah di depan anak anda, maka anak anda akan melakukan hal yang sama. Anda merokok di depannya, anak anda akan jadi perokok juga, diam-diam atau terang-terangan. Pada contoh cerita saya di atas, anda bersedekah di dekatnya, maka dia pun akan melakukan hal yang sama kelak. Percayalah.

Saya merasa tindakan apa yang saya lakukan selama ini ternyata berpengaruh besar terhadap sikap anak. Selain sikap yang menurut pandangan umum adalah baik, kadang-kadang saya menyesal bila pernah memberi contoh yang kurang baik. Makan minum sambil berdiri misalnya, maka anak saya pun sering begitu. Membawa ponsel ke toilet, maka anak pun juga membawa ponselnya ke sana. Duh, saya menyesal telah memberi contoh yang  kurang baik dan sekarang harus memperbaiki kembali bangunan yang sudah salah terbentuk.


Written by rinaldimunir

September 11th, 2017 at 2:49 pm

Posted in Pendidikan