if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Pendidikan’ Category

Mendidik dengan Memberi Contoh

without comments

Suatu hari anak saya yang bungsu pergi belanja sendiri ke minimarket dengan menggunakan sepeda. Diam-diam saya buntuti dia, karena saya agak khawatir kalau dia tidak lihat kiri kanan saat menyeberang jalan dengan sepedanya (minimarket itu berada di seberang jalan). Tiba di minimarket, saya amati dia dari jauh. Setelah membayar belanjaan di kasir, ternyata ada sisa kembalian berupa uang receh. Uang receh itu lalu dia masukkan ke kotak amal yatim piatu yang terletak di luar dekat pintu masuk minimarket. Dia melakukan hal itu (memasukkan uang ke dalam kotak amal) karena sering melihat saya melakukan hal yang sama ketika dia diajak berbelanja ke minimarket. Hmmm…padahal saya tidak pernah lho menyuruh dia untuk memasukkan uang ke kotak kencleng, tapi sekarang dia melakukan amal kecil yang pernah saya lakukan.

Saya pun tersadar. Pendidikan terbaik bagi anak-anak adalah dengan memberikan contoh. Tidak perlu berteori yang muluk-muluk atau berceramah  panjang lebar, tapi perlihatkan dengan contoh teladan. Apa saja yang anda lakukan, maka anak anda akan menirunya karena dia menganggap orangtua dan guru adalah contoh yang patut ditiru, terlepas apakah perbuatan itu baik atau buruk. Anak anda akan mem-foto-copy apa yang anda lakukan.

Maka, bila anda memperlihatkan teladan baik, anak anda akan mencontohnya. Bila anda memperlihatkan sikap buruk, anak anda  pun akan menirunya. Anda membanting pintu sebagai pelampiasan marah di depan anak anda, maka anak anda akan melakukan hal yang sama. Anda merokok di depannya, anak anda akan jadi perokok juga, diam-diam atau terang-terangan. Pada contoh cerita saya di atas, anda bersedekah di dekatnya, maka dia pun akan melakukan hal yang sama kelak. Percayalah.

Saya merasa tindakan apa yang saya lakukan selama ini ternyata berpengaruh besar terhadap sikap anak. Selain sikap yang menurut pandangan umum adalah baik, kadang-kadang saya menyesal bila pernah memberi contoh yang kurang baik. Makan minum sambil berdiri misalnya, maka anak saya pun sering begitu. Membawa ponsel ke toilet, maka anak pun juga membawa ponselnya ke sana. Duh, saya menyesal telah memberi contoh yang  kurang baik dan sekarang harus memperbaiki kembali bangunan yang sudah salah terbentuk.


Written by rinaldimunir

September 11th, 2017 at 2:49 pm

Posted in Pendidikan

Berakhir Masa Menjadi “Tukang Ojek” Anak

without comments

Tahun ini saya pensiun menjadi “tukang ojek” anak. Sudah lebih lima belas tahun saya rutin setiap pagi mengantar anak pergi ke sekolah, untuk ketiga anak saya. Cerita menjadi tukang ojek buat anak sudah pernah saya tulis sebelumnya (Baca: Menjadi “Tukang Ojek” Anak).

Mengantar anak ke sekolah adaah pekerjaan yang menyenangkan bagi saya. Tidak semua ayah bisa punya kesempatan mengantar anaknya ke sekolah, lho.  Itu masa-masa yang tidak akan bisa terulang. Orangtua yang sangat sibuk, seperti di Jakarta, hampir tidak punya kesempatan mengantar anaknya pergi ke sekolah. Pagi ketika waktu Subuh mereka sudah berangkat ke kantor, hal ini karena perumahan sekarang sudah jauh di luar kota, maka pergi bekerja ke pusat kota harus siap mengejar jadwal kereta komuter atau bawa kendaraan sendiri lebih pagi supaya tidak terjebak macet. Pulang ke rumah pun sudah malam, anak sudah tidur. Masa bertemu dengan anak hanya hari Sabtu dan Minggu, tetapi kebanyakan sekolah libur pada hari Sabtu.

Seorang warganet di media sosial menumpahkan curhatannya tentang kesedihan tidak dapat mengantar anaknya ke sekolah (jika anda punya akun Facebook, silakan baca laman ini). Berikut curhatnya (mohon izin dikutip ya mas :-)):

Mimpi Mengantar Sekolah

Foto ini saya ambil di daerah Pasar Jumat, Lebak Bulus. Saat lalu lintas sedang padat-padatnya. Yang entah kenapa isinya kok banyak anak sekolahnya.

Fotonya memang biasa aja. Saya kenal dengan bapak beranak itu pun tidak. Tapi sebagai lelaki yang pernah jadi jagoan pada masanya dulu, saya langsung down melihat bapak antar sekolah anak macem ini. Anak saya 3. Yang usia sekolah 2. Tapi ngga pernah saya bisa menikmati hal-hal romantis macam itu: antar anak sekolah, menggenggam tangannya sambil berceloteh ala pria, lalu melepasnya masuk kelas setelah tos dan memukul pundaknya.

Saya kirim gambar itu ke istri, disertai caption menyayat hati

Dia bales sih.. satu jam kemudian. Sambil seperti biasa kasih joke satir: tenang… ntar juga bisa anter anak. Kalo udah pensiun..

Tak lupa emot ???. Makin membuat saya menertawakan nasib sendiri. Ini lagi sedih beneran. Kok bisa bisanya diguyoni.

Tapi barangkali istri mengatakan itu juga dengan pedih hatinya (iya ngga sih, istri? Kamu pedih gak? ?)…

Selepas Subuh saya sudah gedandapan berangkat kerja meninggalkannya dengan segudang masalah rumah tangga. Pulangnya juga sering mendapati anak-anak sudah berpiyama.

Ada satu bagian yang hilang, itu sudah pasti. Saya melewatkan banyak momen romantis dengan tim transformer kecil saya di rumah. Untuk satu alasan: cari nafkah.

Harusnya alasan ini sangat kuat. Wajar kalau seorang ayah tidak banyak ambil bagian dalam membesarkan anak, karena memang jatah dia adalah di luar rumah. Tapi percaya tidak bro, mengantar anak sekolah adalah mimpi sederhana saya sejak dulu. Dan mimpi sesederhana ini pun sulit saya wujudkan.

Itu rasanya… seperti gagal menjadi lelaki dari anak lelaki.

Bro, kalau anda semua masih diberkahi waktu luang dan pekerjaan yang fleksibel, saya ucapkan selamat. Nikmati lah masa-masa yang tidak akan terulang ini. Berkelakarlah dengannya sembari ia merangkulmu di balik jaketmu. Tunjukkan jalan-jalan tikus sambil menyombongkan kehebatanmu menghafal jalan. Nikmati kekagumannya padamu.

Sebelum menjadi sepertiku. Yang hanya bisa iri setengah mati pada bapak-bapak berjaket pembonceng anak.

Jakarta 18 juli 2017

~~~~~~

Itulah yang saya katakan, tidak setiap ayah memiliki kesempatan mengantar anaknya ke sekolah. Sepele ya kelihatannya, ada rasa “iri”, ada kerinduan yang mendalam bagi seorang ayah untuk bisa mengalami momen seperti ini. Tapi apa mau dikata, alasan pekerjaan jua yang membuat mimpi itu belum bisa diwujudkan.

Kembali ke cerita saya pada bagian awal. Saya sekarang sudah berhenti mejadi “tukang ojek anak”. Apa pasal?  Anak saya yang bungsu sekarang sudah kelas 5 SD. Awal tahun ajaran kemaren dia bilang kepada saya bahwa dia tidak mau lagi diantar pergi ke sekolah, juga tidak mau pulang sekolah pakai becak langganan. Dia ingin pergi ke sekolah sendiri pakai sepeda. Pulang sekolah juga pakai sepeda sendiri. Biasanya selama ini saya mengantar anak ke sekolah dengan motor, lalu nanti siang, karena saya tidak bisa menjemput (sedang di kampus), maka anak saya pulang sekolah dengan becak yang sudah saya langgan sejak masih Playgroup.

fajar1

Tentu saja keinginannya itu adalah hal yang menyedihkan sekaligus juga menggembirakan bagiku. Sedih karena saya tidak bisa bisa punya momen indah mengantar anak ke sekolah. Tapi saya sudah merasa puaslah, sebab sejak anak-anak preschool hingga akhir SD semua anak kuantar ke sekolah dengan motor. Ketika masuk SMP mereka sudah mulai pergi sendiri naik angkot. Lima belas tahun sudah saya menjadi “tukang ojek” anak, dan itu adalah kenangan yang berkesan bagi seorang ayah dan anak.

fajar2

Di sisi lain ada juga terselip rasa gembira karena itu artinya dia sudah merasa besar dan sudah ingin mandiri.  Dia ingin menunjukkan bahwa dia mampu pergi sendiri. Tinggal saya saja yang merasa nelangsa sendiri, melepasanya dengan tatapan berkaca-kaca. Tapi saya pun harus menyadari, bahwa suatu hari nanti anak-anak kita akan pergi meninggalkan orangtuanya, pergi mencari jalan hidupnya sendiri. Tidak selamanya anak kita bersama kita, bukan?

Jadi, bagi kalian para ayah, jangan sampai melewatkan kesempatan berharga bersama anak-anakmu. Hanya ketika mereka masih kecil kita bisa menikmati  momen-momen indah bersama anak kita. Mengantar anak ke sekolah itu contohnya, adalah hal yang terlihat kecil dan sepele, namun akan berkesan bagi anak ketika mereka sudah dewasa nanti. Jangan lupa, ketika anda mengantar anak anda ke sekolah, banyak nilai-nilai kehidupan yang bisa ditanamkan.


Written by rinaldimunir

July 29th, 2017 at 1:48 pm

Motor, Trotoar, dan Kegagalan Pendidikan Karakter

without comments

Sore hari menjelang waktu buka puasa, lalu lintas menuju kawasan perumahan di Antapani sangat padat. Semua pengendara berpacu agar duluan sampai ke rumah. Berbuka puasa bersama keluarga tentu momen yang selalu dinantikan. Jam-jam rush hour adalah saat sore ketika pulang kantor, yaitu ketika secara bersamaan orang-orang pulang ke rumah. Ruas jalan sempit di samping Jembatan Pelangi Antapani itu disesaki mobil dan motor.  Ruas jalan itu tersendat dan sulit bergerak. Semua pengendara tidak mau mengalah, tidak mau antri.

Pengendara motor yang tidak sabaran akhirnya menjajal trotoar yang diperuntukkan bagi pejalan kaki.  Satu memberi contoh, lalu diikuti oleh pengendara yang laindi belakangnya.

trotoar1

Tanpa merasa bersalah, pengendara motor – yang pasti orang berpendidikan- melaju di atas trotoar. Memang tidak ada pejalan kaki saat itu. Tapi, melaju di atas trotoar tetap saja salah, bukan?

trotoar2

Pemandangan seperti ini, pada saat lalu lintas padat, sering kita temui di mana-mana. Di bawah ini foto bersumberkan dari Antara. Ceritanya masih sama, pemotor yang tidak sabaran dan maunya menang sendiri.

Motor-Naik-Trotoar-020713-AGR-2

Pemgendara motor yang tidak sabaran (Sumber foto: Antara)

Beberapa tahun yang lalu pernah  ada berita yang menjadi viral di media sosial tentang bocah kecil bernama Daffa yang berani menghadang pengendara motor di atas trotoar. Hebatnya lagi, bocah kecil itu tidak takut dibentak pengendara motor.  Dia ingin menunjukkan keyakinannya bahwa berkendaraan di atas trotoar itu salah.

daffa

Daffa menghadang pengendara motor di atas trotoar (Sumber foto: Tribunnews.com)

Tapi, viralnya berita tentang Daffa tidak mampu mengubah perilaku pengendara motor. Dengan berlalunya waktu, orang pun melupakan kisah Daffa, pemotor yang menaiki trotoar pun mulai marak lagi.

Kasus pemotor yang menaiki trotoar adalah salah satu contoh bahwa pendidikan katakter di negara kita belum berhasil. Contoh lainnya adalah budaya antri yang belum menjadi perilaku bangsa kita, orang-orang yang membuang sampah makanan dari atas mobil, merokok di sembarang tempat, meludah sembarangan, dan sebagainya.

Boleh saya katakan bahwa pendidikan di negara kita baru sebatas knowing, belum sampai menjadi doing. Murid-murid  memang diajarkan agar jangan membuang sampah di sembarang tempat, tapi itu baru sebatas pengetahuan saja. Dalam kesehariannya masih banyak anak-anak  bahkan orang dewasa dengan cuek membuang bungkus kemasan makanan dari dalam mobil di atas jalan tol. Makan kacang rebus memang asyik, tapi kulitnya berserakan di atas tanah. Makan permen itu simpel, tapi bungkusnya dibuang ke lantai.

Menyeberanglah di atas zebra cross atau di atas jembatan, tapi orang-orang tetap saja seenaknya menyeberang jalan di mana saja dia suka. Naiklah bus dari halte, tapi orang-orang malas pergi ke halte, mereka menyetop bus atau angkot dari posisi berdirinya sekarang. Supir-supir bus pun menuruti permintaan penumpang yang minta turun di mana saja yang diinginkan penumpang.

Antrilah masuk ke dalam pesawat, tapi orang-orang secara bergerombol berusaha duluan masuk melalui gate tempat pemeriksaan boarding pass. Kenapa mereka tidak mau antri dengan tertib, bukankah nanti semua penumpang akan masuk juga ke dalam pesawat, semuanya sudah mendapat nomor kursi, apa lagi yang dikhawatirkan?

Antrilah naik ke atas kereta, tapi orang-orang berebut naik dan turun kereta. Mungkin untuk kereta commuter yang karcisnya tanpa nomor kursi kita masih bisa agak maklum, mengapa orang-orang  adu cepat naik kereta agar dapat tempat duduk, tapi tetap saja fenomena ini menunjukan orang kita malas antri.

Ketika saya berkunjung ke Jepang beberapa tahun lalu, saya kagum dengan budaya antri mereka. Kereta belum datang, tapi orang-orang sudah antri dengan tertib dalam satu line. Ini adalah antrian untuk masuk ke dalam kereta, padahal keretanya sendiri belum sampai ke stasiun. Tidak ada dorong-dorongan, tidak ada yang menyerobot antrian.

DSCF1019

Antri dengan tertib menunggu kereta.

DSCF1023

Antri dengan tertib menunggu kereta

Selama pola pendidikan di negara kita masih dalam sebatas knowing, maka sangat sulit mengubah karakter bangsa ini. Pendidikan karakter seharusnya sejak dini ditanamkan. Pendidikan karakter yang terbaik adalah by practicing, tidak hanya knowing. Saya dapat cerita dari teman, jika di negara kita anak TK diajarkan sebareg pelajaran mulai dari belajar membaca dan berhitung sederhana, maka di Jepang anak-anak TK diajarkan bagaimana naik kereta, bagaimana antri dan bertransaksi di minimarket atau di supermarket. Jadi, pendidikan dini di sana langsung praktek, yang diaharapkan terbawa jika mereka dewasa. Jika dari kecil sudah terbiasa belajar tertib dan sesuai aturan, maka kelak jika dewasa nanti sudah menjadi perilaku keseharian.


Written by rinaldimunir

June 12th, 2017 at 3:05 pm

Bermula dari Satu Sekolah Muhammadiyah ini

without comments

Sebuah foto saya peroleh dari grup ilmuwan Muhammadiyah di WhatsApp. Ini foto jadoel, diperkirakan tahun 1912, foto sekolah Muhammadiyah pertama yang didirikan K.H Ahmad Dahlan di Kauman, Yogyakarta. Tampak di dalam foto K.H Ahmad Dahlan berdiri di pintu. Murid-muridnya berpakaian sederhana dan bersarung, sedangkan asisten guru memakai baju lurik dan blangkon Jawa.

SD Muhammadiyah Kauman 1912

Bermula dari sekolah kecil ini, organisasi Muhammadiyah kini mempunyai ribuan TK, SD, SMP, SMA, SMK, MI, MTs, MA, Pondok Pesantren, dan ratusan Perguruan Tinggi di seluruh Nusantara. Menurut data dari situs web Muhammadiyah, jumlah lembaga pendidikan yang dikelola oleh Muhammadiyah saat ini adalah:

1 TK/TPQ 4.623
2
Sekolah Dasar (SD)/MI
2.252
3
Sekolah Menengah Pertama (SMP)/MTs
1.111
4
Sekolah Menengah Atas (SMA)/SMK/MA
1.291
5
Pondok Pesantren
67
 6
Jumlah total Perguruan tinggi Muhammadiyah171
 171

Itulah amal usaha Muhammadiyah yang ikut mencerdaskan anak bangsa . Jika Ahmad Dahlan masih hidup, mungkin dia tidak akan percaya jika sekolah Muhammadiyah yang dirintisnya tahun 1912 berkembang luar biasa.

Saya yang pernah sekolah di SD Muhammadiyah Sawahan, Padang, dan hidup di lingkungan Muhammadiyah yang kental di Sumatera Barat juga ikut merasa bangga. Dua anak saya juga bersekolah di SD Muhammadiyah 7 Antapani Bandung. Meskipun saya bukan kader, hanya simpatisan saja, saya berharap Muhammadiyah akan selalu istiqamah dalam membentuk manusia Indonesia yang berpendidikan, beriman, berkarakter, dan berakhlaqul karimah. Amin.


Written by rinaldimunir

May 6th, 2017 at 3:35 pm

Posted in Pendidikan

Ingatlah Harapan-Harapan Ayahmu

without comments

Kuliah Semester Genap ini baru saja berakhir. Ujian Akhir Semester suah dimulai pada minggu ini.  Seperti biasa, pada sesi kuliah terakhir Semester Genap ini,  saya mengisi penutup kuliah dengan memberikan nasehat-nasehat dan pepatah petitih kepada para mahasiswa. Saya ingatkan lagi betapa besar harapan ayah bunda mereka yang menaruh harapan agar putra-putrinya selalu berhasil menempuh perkuliahan di ITB dan tentu saja kuliah kehidupan lainnya selama di kampus.

Saya berpesan agar para mahasiswa memberikan hasil terbaik kepada kedua orangtuanya. Jangan sia-siakan masa muda, masa muda adalah masa untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya sebagai bekal buat masa depan.

Sebagai penutup, saya putarkan video klip lagu “Yang Terbaik Bagimu (Ayah)”  dari ADA Band ini (feat Gita Guttawa) di layar proyektor. Saya suka lagu ini.  Ini lagu yang menurut saya sangat bagus, sebab mengingatkan seorang anak pada harapan yang dilontarkan orangtuanya, khususnya ayahnya.
Beberapa mahasiswi yang menyaksikan video klip ini tak mampu menutup wajahnya, matanya berkaca-kaca mendengarkan lirik lagu tersebut. Mungkin terbayang ayahnya di kampung halaman sehingga menjadi ia hiks…hiks… . Maafkan saya, tidak bermaksud membuatmu menangis.
Berikut ini lirik lagu Yang Terbaik Bagimu (Ayah) dari ADA Band:

Teringat masa kecilku
Kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu
Buatku melambung
Disisimu terngiang
Hangat nafas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu

Kau ingin ku menjadi
Yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu
Jauhkan godaan
Yang mungkin kulakukan
Dalam waktuku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku
Terbelenggu jatuh dan terinjak

Chorus:Tuhan tolonglah sampaikan
Sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji
Tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya
Ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu

Andaikan detik itu
Kan bergulir kembali
Kurindukan suasana
Basuh jiwaku
Membahagiakan aku
Yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu
Yang pernah terlewati

La la laaLa la la laa la

Silkan klik video di Youtube ini untuk mendengarkan lagu dan musiknya. Saya yakin kamu pun akan tersentuh.

Written by rinaldimunir

May 4th, 2017 at 3:06 pm

Nyaris 100% Anak Sudah Melihat Pornografi

without comments

Sebuah berita di harian lokal Bandung pagi itu membuat saya sangat kaget. Berita tersebut menyebutkan hampir 100% anak-anak sudah melihat pornografi. Nyaris 100%, itu berarti termasuk anakmu, anakku, anak kita, (hampir)  semua sudah melihat pornografi. Menyedihkan, kalau tidak bisa dibilang mengerikan. Sebab, pornografi sama bahayanya dengan narkoba. Narkoba menjerumuskan masa depan anak, sedangkan pornografi merusak otak anak yang akhirnya juga merusak masa depan anak (Baca tulisan saya yang lalu: Indonesia Darurat Pornografi).

pornografi

Menurut Maria Advianti dari KPAI yang melakukan riset tentang hal ini, sebagian besar anak melihat pornografi melalui gawai (gadget). Gawai itu dibelikan oleh orangtuanya atau meminjam gawai temannya. Umumnya gawai saat ini berupa smartphone yang dapat mengakses internet. Nah, melalui internet itulah anak-anak melihat pornografi, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, baik sendirian maupun bersama  teman-temannya.

Jadi solusinya bagaimana nih? Mengeluh saja tidak ada gunanya. apakah anak-anak tidak usah diberi atau dibelikan gawai supaya mereka tidak bisa mengakses internet? Ini hampir mustahil, sebab mungkin saja mereka melihat pornografi itu dari gawai milik temannya, atau bahkan dari gawai orangtuanya.

Melarang anak menggunakan dan mengakses teknologi informasi (atau IT)  bukan solusi yang tepat. Cepat atau lambat ia akan menggunakannya juga. Di zaman digital ini hampir musykil memisahkan anak dengan teknologi informasi (komputer, telekomunikasi). Lihatlah, kehidupan kita saat ini sudah dikelilingi teknologi informasi. Teknologi informasi adalah keniscayaan peradaban yang mau tidak mau akan dihadapi seorang anak di dalam hidupnya.

Solusi yang bijak menurut saya adalah mengendalikan, mengawasi, dan mengedukasi. Orangtua perlu mengendalikan penggunaan gawai pada anaknya. Di rumah saya, sebelum anak berstatus siswa SMP, dia belum saya belikan ponsel. Untuk adiknya yang masih SD, penggunaan smartphone (pakai smartphone saya sendiri) hanya boleh dalam waktu tertentu dengan lama terbatas.

Setelah pengendalian, maka selanjutnya adalah mengawasi. Orangtua perlu mendampingi penggunaan smartphone oleh anak. Anak kita jangan dilepas begitu saja menggunakan smartphone. Umumnya anak-anak mengakses internet untuk main game aau nonton video di Youtube. Kalau anak kita mengakses game online, kita perlu memastikan apakah game online tersebut aman untuk anak (tidak mengandung konten kekerasan dan pornografi). Begitu juga video di Youtube yang dia lihat pun perlu dipastikan video yang aman. Tidak apa-apa menjadi cerewet melakukan cek dan ricek ini, kalau bukan kita yang melakukannya, lalu siapa lagi?

Last but not least, yang paling penting dari semua aksi itu adalah melakukan edukasi. Anak kita tidak 24 jam ada bersama kita di rumah. Dia berinteraksi dengan teman-temannya di luar rumah (sekolah, tetangga). Justru penularan pornografi itu lebih banyak dari interkasi dengan  orang lain. Oleh karena itu, sangat penting bagi orangtua membekali dan membentengi anaknya dari pengaruh negatif yang berasal dari lingkungan luar. Kuncinya adalah edukasi atau pendidikan. Anak kita perlu diedukasi dan diberitahu bahaya konten kekerasan dan pornografi. Anak kita perlu diajarkan nilai-nilai yag baik, apa yang boleh dan tidak boleh, mengapa boleh dan mengapa tidak boleh. Termasuk dalam hal ini adalah penanaman nilai-nilai agama. Jadi, jika dia berada di luar rumah dan tidak dalam kendali kita sebagai orangtuanya, maka harapan terakhir penahan pornografi adalah dari nilai-nilai edukasi yang kita tanamkan itu. Duh, Sulitnya Menjadi Orangtua Zaman Sekarang (Tentang Pornografi pada Anak dan Remaja). Kalau tidak berhasil juga, bablaslah kita, gagal mendidik anak!


Written by rinaldimunir

March 8th, 2017 at 4:18 pm

Posted in Pendidikan

Menerima Pemberian dari (Orangtua) Mahasiswa

without comments

Baru-baru ini Kemenristekdikti mengeluarkan surat edaran tentang larangan bagi dosen untuk menerima hadiah atau pemberian lainnya dari mahasiswanya. Tujuannya untuk menjaga integritas proses akademik antara mahasiswa dan dosennya. Dengan kata lain, dosen dilarang menerima gratifikasi dalam bentuk apapun dari mahasiswa yang berada dalam tanggung jawabnya (dosen wali, dosen pembimbing Tugas Akhir, dosen pengampu mata kuliah). Begitu juga mahasiswa dilarang memberi apapun kepada dosennya.

gratifikasi

Surat edaran tersebut ditanggapi secara beragam oleh para dosen di berbagai perguruan tinggi. Setidaknya tanggapan tersebut dapat  dibaca pada forum-forum diskusi di media sosial. Ada yang setuju, tetapi ada juga yang mengomentari bahwa jawabannya tidak hitam dan putih, tetapi ada variabel lain yang juga perlu dipertimbangkan. Misalnya, jika tiba-tiba ada mahasiswa yang pulang dari kampung lalu datang ke ruangan dosen membawa sedikit oleh-oleh, apakah langsung ditolak? Contoh lain, setelah mahasiswa bimbingan lulus sidang TA, dia sudah beres urusan laporan, nilai, wisuda dan sebagainya, artinya tidak punya hubungan akademik lagi, lalu datang memberikan kenang-kenangan (makanan, pulpen, batik, jam tangan, dll) sebagai ucapan terima kasih, apakah itu termasuk gratifikasi juga kah?

Pada prinsipnya saya sepakat dengan surat edaran tesrebut. Dulu saya pernah menulis tentang masalah gratifikasi di lingkungan kampus (baca: Termasuk Gratifikasikah Ini?). Jauh sebelum muncul surat edaran di atas, saya sendiri sudah berusaha untuk berhati-hati dalam masalah pemberian ini. Secara pribadi saya menolak secara halus pemberian mahasiswa yang masih ada urusan dengan saya. Ini untuk menjaga independensi dan conflict of interest. Pernah ada mahasiswa bimbingan saya membawa oleh-oleh dari kampung halamannya, saya mengucapkan terima kasih atas perhatiannya, namun dengan menyesal saya katakan bahwa saya tidak bisa menerimanya. Setelah saya jelaskan sikap saya ini, dia bisa mengerti. Saya sarankan kepadanya untuk membagi oleh-oleh itu untuk teman-temannya di lab saja :-).

Masih ada beberapa pengalaman lain tentang masalah pemberian ini dengan mahasiswa saya, baik mahasiswa S1, S2, maupun S3. Selama mereka masih dalam tanggung jawab saya, saya menjaga prinsip untuk tidak menerima pemberian atau hadiah dari mereka. Untunglah mahasiswa di ITB sudah paham tentang hal ini, jadi mereka juga tahu diri untuk tidak membawakan dosennya hadiah atau benda-benda lainnya selama mereka masih menjadi mahasiswa di kampus.

Tapi menjaga prinsip ini tidak selalu mudah untuk dipertahankan, khususnya jika yang datang itu adalah orangtua mereka. Saya pernah kedatangan orangtua mahasiswa di bawah perwalian saya. Maksud kedatangannya adalah untuk silaturahmi saja, kebetulan orangtua itu sedang dinas ke Bandung. Nah, orangtua mahasiswa ini ternyata datang dengan membawa oleh-oleh makanan khas dari kotanya. Ini sedikit oleh-oleh, Pak, katanya. Seharusnya saya tolak pemberian itu, namun saya tidak tega, tidak ingin menyakiti perasaannya. Saya tidak punya cara dan kata-kata yang tepat untuk mengatakan tidak. Saya tahu itu pemberian yang tulus. Saya terima juga akhirnya (maafkan saya jika ini termasuk gratifikasi). ?

Pernah juga sekali waktu orangtua mahasiswa di bawah perwalian saya datang bersilaturahmi membawakan oleh-oleh seperti batik, tas buat laptop, dan ikat pinggang. Saya sudah berkali-kali menolaknya, saya suruh bawa kembali, namun orangtua itu kekeuh mengatakan ini tidak ada maksud apa-apa dan meminta saya untuk menerimanya. Saya pun menyerah.

Pernah terpikir oleh saya untuk mengembalikan hadiah itu kepada anaknya (yang merupakan mahasiswa saya), namun tidak jadi saya lakukan, karena bisa muncul masalah baru seperti mahasiswa tersebut merasa malu, atau malah bisa menimbulkan konflik antara orangtua dengan anak. Saya pun pernah meminta pendapat kolega dosen bahkan Dekan, sebaiknya saya apakan hadiah ini, namun tidak ada jawaban yang memuaskan, mungkin mereka pun dilematis. Sampai saat ini barang-barang pemberian itu masih tersimpan rapi di dekat meja saya. Belum pernah saya buka bungkusnya, apalagi memakainya. Mungkin kalau kalau anaknya sudah lulus dari ITB, akan saya pertimbangkan lagi apakah akan tetap memakainya atau mau diapakan.

Untuk amannya bagi kami, kepada orangtua mahasiswa, kami himbau tidak usah membawa makanan atau barang apapun dari kota anda untuk dosen anak anda. Tidak semua kami mampu berkata tidak untuk menolaknya tanpa berniat menyakiti perasaan anda. Kalau mau berkunjung, silaturahmi, atau konsultasi, ya berkunjung saja, tidak perlu membawa macam-macam agar tidak dianggap gratifikasi. Kami menjadi dilematis dan serba salah.

Mungkin kasus-kasus di atas yang disebut variabel bagi sebagian orang, yang dalam hal ini jawabannya tidak hitam dan putih. Tetapi sekali lagi, menjaga prinsip itu tidak selalu mudah.


Written by rinaldimunir

March 6th, 2017 at 6:00 pm

Posted in Pendidikan

Sekarang Semua Orang adalah Guruku

without comments

Pada Hari Guru yang jatuh tanggal 25 November, saya menampilkan quote dari Jet Li, seorang aktor laga Mandarin yang terkenal.

jet-li

Terjemahannya adalah sebagai berikut:

Ketika saya berusia:
SEPULUH tahun, saya takut pada guru saya
DUA PULUH tahun, saya mulai memahami guru adalah orang biasa seperti orang lain
TIGA PULUH tahun, saya mulai berpikir pentingnya kehadiran seorang guru
EMPAT PULUH tahun, saya menghargai setiap guru yang saya jumpai
Sekarang saya berusia LIMA PULUH tahun, setiap orang adalah guruku

Dan…untuk saya sendiri, sekarang semua orang adalah guru saya, guru dalam kehidupan yang tidak pernah diam. Karena, sekarang  I’m fifty seperti Jet Li.


Written by rinaldimunir

November 25th, 2016 at 4:04 pm

Posted in Pendidikan

Peringkat PT Indonesia, masih yang itu-itu lagi

without comments

Kemenristekdikti tahun 2016 ini mengeluarkan daftar peringkat Perguruan Tinggi di Indonesia. Hasil peringkat untuk dua belas besar perguruan tinggi (dan perbandingan dengan peringkat tahun 2015) diperlihatkan pada gambar di bawah ini (Sumber data dari sini). Baca juga berita: Ini 12 Besar Peringkat Perguruan Tinggi Indonesia 2016).

peringkat-pt-2016

Peringkat dua belas besar PT d Indonesia (Sumber: Kemenristekdikti)

Ada PT yang peringkatnya naik dan ada yang turun. ITB dan UGM stabil peringkatnya, sedangkan sisanya naik turun. Di Jawa Timur Universitas Brawijaya menggeser ITS dan Unair. Di Jawa Barat hanya ITB yang tetap stabil di peringkat pertama, sedangkan Unpad merosot ke peringkat bawah. Hanya ada dua perguruan tinggi di luar Jawa yang masuk 12 besar, yaitu Universitas Andalas Padang dan Universitas Hasanuddinj Makassar. Maka, bolehlah dikatakan Unand dan Unhas adalah perguruan tinggi terbaik di luar Jawa dan  berhasil masuk sebagai PT cluster 1)

Kriteria penilaian peringkat tentu saja dapat diperdebatkan, namun Kemenristekdikti telah menetapkan indikatornya. Indikator penilaian peringkat dihitung berdasarkan kualitas dosen (12%), kecukupan dosen (18%), akreditasi (30%), kualitas kegiatan kemahasiswaan (10%), dan kualitas kegiatan penelitian (30%).

indikator

Indikator yang digunakan dalam penilian PT

Nilai terbesar  untuk pemeringkatan adalah dari poin akreditasi dan kegiatan penelitian, masingmasing 30%. Dalam hal ini untuk kasus ITB memang sangat tinggi nilainya untuk kedua indikator tersebut, karena semua Prodinya beraktreditasi A. Dari sisi penelitian ITB juga paling tinggi jika dihitung dari jumlah publikasi ilmiah yang terindeks di Scopus (baca: UI dan ITB “Kejar-kejaran””di Scopus).

Nilai-peringkat-2015-3

Peringkatberdasarkan penbelitian

Dari nilai keseluruhan memang ITB berada pada peringkat pertama, tetapi kontribusi terbesar nilai itu diperoleh dari poin penelitian dan akreditasi, sedangkan untuk indikator yang lain tidak terlalu bagus amat. Nilai  yang sangat mencolok adalah dari kualitas kegiatan kemahasiswaan, ITB  di bawah UI, Universitas Brawijaya, dan UGM.

Nilai-peringkat-2015-2

Peringkat berdasarkan kemahasiswaan

Berdasarkan data pemeringkatan tahun 2015 misalnya (tahun 2016 tidak tersedia datanya), nilai ITB jauh di bawah UGM untuk indikator kualitas kegiatan kemahasiswaan, ITB 1.9 sedangkan UGM 4.0. Apakah itu berarti kegiatan kemahasiswaan di ITB melempem? Kalau melihat ramainya kehidupan kampus ITB oleh kegiatan unit-unit kemahasiswaan dari sore hingga malam hari, ternyata itu bukan indikasi kualitas kemahasiswaan. Jika diukur dari prestasi kegiatan yang diadakan oleh Kemenristekdikti seperti PKM, PIMNAS, dll, memang ITB jauh di bawah UGM.

Nilai-peringkat-2015

Nilai skor pemeringkatan PT tahun 2015.   

Dari hasil pemeringkatan tahun 2015 dan tahun 2016 saya tidak melihat ada kejutan. Kita dapat membaca bahwa perguruan tinggi yang masuk peringkat atas masih yang itu-itu lagi, sebagian besar masih di Pulau Jawa, hanya Unand dan Unhas  dari luar Jawa yang bisa danggap sejajar. Bahkan untuk 20 besar pun semuanya masih PT di Jawa. Sangat sulit bagi perguruan tinggi di luar Jawa bisa bersaing dengan perguruan tinggi di Pulau Jawa. Agak-agak tidak fair juga membandingkan PT di luar Jawa dengan PT di Jawa. Mereka sudah kalah dalam banyak hal, mulai dari segi pendanaan, kualitas SDM, dana riset,  publikasi, dan sebagainya. Menurut saya Pemerintah belum berhasil menaikkan kualitas PT di luar Jawa. Fokus Pemerintah masih PT di Jawa, sedangkan yang di luar Jawa agak terabaikan.


Written by rinaldimunir

August 22nd, 2016 at 4:25 pm

Setelah PPDB 2016 Berlalu

without comments

Tanggal 18 Juli 2016 adalah awal tahun ajaran baru untuk tingkat SD, SMP, dan SMA. Sebagian besar anak-anak sudah mendapat sekolah yang diidamkannya masing-masing, sebagian lagi masuk di sekolah yang kurang diinginkannya, dan sebagian lagi gagal mendapat sekolah. PPDB (Pendaftaran Peserta Didik baru) sekolah negeri tahun 2016 di Kota Bandung sudah berakhir dengan sejumlah banyak catatan. Tentu ada yang bahagia, sebagian tentu ada yang merasa kecewa. Ada yang merasa diperlakukan kurang adil, tetapi sebagian lagi merasa PPDB ini sudah adil. Adil atau tidak adalah relatif bagi setiap orang, jika keinginannya tercapai maka dia akan senang hati menyebutnya sudah adil, tetapi jika keinginannya tidak tercapai maka dia mungkin menganggap proses PPDB ini tidak adil.

Masyarakat kota Bandung kebanyakan negeri-minded.  Bukan apa-apa, untuk tingkat SMP dan SMA kebanyakan sekolah yang bagus itu adalah sekolah negeri. Sekolah swasta hanya satu beberapa saja yang bagus dan itupun uang pangkal serta SPP-nya lumayan mahal, tidak terjangkau oleh sebagian besar masyarakat. Lagipula, sekolah swasta yang bagus-bagus itu sudah tersegmentasi pasarnya berdasarkan etnis, agama, atau status sosial.

Hasil PPDB 2016 sudah diumumkan di situs PPDB Kota Bandung, namun data kelulusan PPDB ini hanya akan bertahan selama tiga bulan saja, setelah itu masyarakat tidak dapat melihatnya lagi. Namun beberapa blog merekap hasil PPDB sehingga dapat menjadi rujukan untuk tahun-tahun berikutnya, misalnya direkap oleh seorang volunteer di dalam blog bicarapassinggrade.wordpress.com.

Anak saya yang nomor dua masuk SMA taun ini. Keinginannya untuk masuk SMA negeri  di Jalan Belitung ternyata belum berhasil. Kurang sedikit lagi passing grade-nya untuk bisa lolos pada SMA pilihan pertama di Jalan Belitung itu.  Andai Peraturan Walikota (Perwal) yang mengatur passing grade luar kota minimal sama dengan passing grade tahap dua (gabungan wilayah), mungkin dia bisa lolos di SMA pilihan pertama. Namun Panitia PPDB tidak menjalankan amanah Perwal ini dengan alasan yang tidak diketahui. Meskipun saya sudah menyampaikan komplain ini ke Disdik di Jalan Ahmad Yani, namun tidak ada tanggapan. Ya sudahlah, anak saya akhirnya bisa dengan lapan dada menerima masuk di SMA pilihan kedua. Meskipun ada rona kekecewaan, namun saya anggap mungkin sudah jalan hidupnya demikian. Dia memang tidak  lolos masuk SMA terbaik di kota Bandung, namun insya Allah SMA pilihan keduanya ini mungkin SMA yang terbaik bagi dirinya.

Harus saya akui, PPDB 2016 tetap  belum bisa menghilangkan kesan sekolah favorit dalam benak masyarakat, termasuk saya sendiri. Meskipun kebijakan walikota Bandung pada PPDB tahun ini bertujuan baik yaitu agar anak bersekolah di sekolah terdekat dengan rumahnya (sistem rayonisasi), namun bagi sebagian masyarakat memburu sekolah favorit tersebut tetap tidak bisa dihilangkan. Bagi saya pribadi, masuk ke sekolah favorit itu bukan soal gengsi, tetapi bersekolah di sekolah favorit itu agar dapat merasakan suasana kompetitif bagi sang anak. Anak-anak yang masuk di sekolah favorit itu memang sudah bibit unggul, jadi jika berada di tengah-tengah mereka dapat memotivasi anak lain untuk selalu mengejar ketertinggalan dan berusaha terus maju. Inilah yang saya maksud dengan suasana kompetitif yang berdampak positif bagi perkembangan akademik seorang anak. Bukankah di ITB tempat saya mengajar suasana kompetitif itu terbentuk karena mahasiswa yang masuk adalah mahasiswa pilihan yang berotak brilian. Input mahasiswa yang bagus jugalah yang membuat ITB bisa menjadi perguruan tinggi terdepan dalam bidang sains dan  teknologi. Suasana kompetitif semacam ini sulit ditemukan di sekolah atau perguruan tinggi yang biasa-biasa aja.

PPDB tahun 2016 yang membagi seleksi calon siswa menjadi kategori Dalam Wilayah (DW) dan Gabungan Wilayah (GW) (baca tulisan saya sebelumnya) menghasilkan beberapa kejutan yang tak terduga. Beberapa SMA favorit memperoleh siswa dengan nilai UN yang sangat rendah. Di sebuah SMA favorit nilai UN terkecil yang diterima adalah 166. Jika dirata-rata dengan empat pelajaran yang di-UN-kan, maka nilai rata-ratanya hanya 41,5. Saya berpikir positf saja, mungkin sudah rezekinya demikian, maka kita tidak perlu membuli anak yang bernilai UN rendah tersebut. Ada puluhan anak dengan nilai UN yang rendah-rendah lolos masuk SMA favorit tersebut, sangat jauh dengan nilai UN mayoritas anak lainnya yang tinggi-tinggi. Anak-anak tersebut bisa lolos masuk karena “diuntungkan” dengan keberadaan rumah yang berada di dalam rayon SMA favorit itu. Karena jumlah pendaftar dari dalam wilayah SMA tersebut sangat sedikit (maklum bukan wilayah pemukiman penduduk), sementara kuota yang tersedia besar, maka mereka otomatis diterima karena tidak ada saingan di dalam wilayahnya. Mereka pun tidak perlu bersaing dengan anak-anak dari luar rayon (GW)  dengan nilai UN yang lebih tinggi, yang berjuang dengan susah payah untuk masuk dan akhirnya sebagian besar terlempar.

Apakah hasil seperti ini yang dimaksudkan Pak Walikota dengan sistem “proteksi wilayah”, yaitu anak-anak yang berada di dalam wilayah SMA-nya lebih diutamakan daripada anak-anak yang tinggal jauh. Jika sistem seperti ini diteruskan setiap tahun, maka bukan tidak mungkin kesan favorit SMA-SMA tersebut akan pudar karena mereka banyak menerima siswa dengan kemampuan pas-pasan akibat proteksi wilayah. Hal ini menjadi tantangan bagi para guru di sekolah tersebut, yang mungkin shock dengan kondisi ini, yaitu bagaimana membuat anak-anak yang mempunyai keterbatasan akademik itu menjadi orang-orang hebat di kemudian hari. Saya percaya pendidikan tidak hanya untuk memberdayakan otak kiri saja yang identik dengan kecerdasan intelektual, tetapi juga memberdayakan otak kanan yang berhubungan kecerdasan emosional. Kalau anak-anak itu  tidak dapat dibentuk menjadi orang pintar, mudah-mudahan para guru dapat membentuknya menjadi orang yang sholeh.


Written by rinaldimunir

July 18th, 2016 at 12:28 pm