if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Makanan enak’ Category

Rendang Gordon Ramsay

without comments

Beberapa hari yang lalu saluran National Geographic menayangkan program televisi yang menjadi perbincangan warganet. Program televisi bertajuk Uncharted itu menampilkan eksplorasi seorang master chef terkenal, Gordon Ramsay, menjelajahi kuliner di Sumatera Barat, khususnya memasak randang (rendang) di negeri asal rendang itu sendiri, yaitu Minangkabau (Sumatera Barat). Mengapa rendang, ya karena rendang sudah dinobatkan oleh CNN menjadi makanan paling favorit nomor satu di dunia.

Sangat menarik melihat Gordon Ramsay memasak rendang, mulai dari dia terjun ke pasar tradisional membeli aneka bumbu randang, mencari daging sapi yang enak, hingga memasak langsung di lembah Ngarai Sianok dibawah bimbingan William Wongso.

2020_05_29_96468_1590758157._large

Tetapi setelah saya  melihat apa yang dia masak dan yang dia cicipi menurut saya itu bukanlah rendang, tetapi baru berupa kalio (atau kalio rendang). Kalio adalah rendang yang setengah jadi, berwarna coklat, dan masih basah (berminyak). Kalio itulah yang umum disediakan di restoran padang di Jawa, dan kebanyakan orang (yang bukan orang Minang) menyebutnya sebagai rendang, padahal itu bukanlah rendang.

Ini namanya kalio, belum menjadi rendang

Disebut rendang adalah jika ia sudah berwarna hitam atau coklat kehitaman dan agak kering. Untuk mencapai tahap rendang ini diperlukan waktu memasak selama 8 jam. Rendang yang  dihasilkan akan awet selama satu bulan.

Inilah rendang

Meskipun demikian, tidak ada “keharusan” memasak rendang sampai berwarna hitam dan kering seperri gambar di atas, tergantung selera masing-masing. Anda bisa berhenti sampai tahap kalio yang rasanya creamy, atau menyimpannya dulu di lemari es, lalu memasaknya kembali selama beberapa jam hingga menghasilkan rendang.

Lalu, mengapa umumnya rumah makan padang di pulau Jawa dan di daerah lain menyajikan rendang dalam bentuk kalio? Itu tentu saja karena alasan praktis, sebab seperti yang disebutkan di atas, memasak rendang membutuhkan waktu yang lama. Di Sumatera Barat sendiri umumnya rendang yang dijual di rumah makan jarang berupa kalio, minimal sudah berwarna coklat kehitaman dan tidak basah.

Demikianlah perbedaan antara kalio dan rendang.

Written by rinaldimunir

July 2nd, 2020 at 3:15 pm

Pohon Buah Tin di Halaman Rumah

without comments

Di rumah saya sedang tumbuh dua batang pohon tin. Saya tanam di dalam pot karena halaman rumah saya tidak luas. Satu bibit pohon tin saya dapatkan dari seorang teman di medsos, sedangkan satu lagi saya beli di tukang tanaman di depan GOR Arcamanik, Bandung.

Buah tin atau yang memiliki nama ilmiah Ficus carica ini dulunya banyak tumbuh di kawasan Asia Barat atau Timur Tengah. Buah tin juga disebut sebagai buah ara atau fig dalam Bahasa Inggris.

Subhanalah, pohon tin yang aslinya hidup di Timur Tengah ternyata bisa hidup subur di tanah nusantara.  Daunnya lebar-lebar dan banyak. Pada mulanya daunnya seperti tiga jari, tetapi ketika melebar ia menjadi daun yang lancip. Ini gambar dua pohon tin di halaman rumah saya.

Tin1

Buah tin adalah salah satu dari empat nama buah-buahan yang disebut di dalam Al-Quran (tiga lagi adalah buah kurma, buah zaitun, dan buah anggur). Begitu istimewanya buah tin ini sehingga di dalam Al-Quran terdapat sebuah surat yang diberi nama surat At-Tin. Bahkan Allah sendiri pernah bersumpah atas nama buah tin di dalam permulaan surat tersebut yang bunyinya:

Wattiini waz zaituun
Watuurisiniina
(Demi buah tin dan buah zaitun,
dan demi bukit Sinai)
(At-Tin, 1:2)

Karena Allah pernah bersumpah atas nama buah tin, saya menganggap buah tin adalah buah yang diberkahi. Buah surga. Para ahli telah menyelidiki manfaat buah tin untuk kesehatan. Dikutip dari sini, buah tin memiliki kandungan vitamin, mineral, dan fitonutrien yang baik untuk tubuh.  Vitamin yang terkandung dalam buah tin antar lain Vitamin A, vitamin C, vitamin E, vitamin K, dan vitamin B kompleks. Terdapat juga kandungan mineral meliputi tembaga, kalium, zat besi, mangan, magnesium, kalsium, zinc, sodium, dan selenium.

Beberapa manfaat buah tin adalah untuk menjaga kesehatan jantung, menjaga saluran pencernaan, mengatasi anemia, menjaga kesehatan tulang, mengatasi insomnia, mengatasi masalah seksual, meningkatkan imunitas tubuh, dan lain-lain (selengkapnya baca ini, atau ini).

Saya sendiri belum pernah makan buah tin, hanya mendengar namanya saja. Dua tahun lalu ketika saya menunaikan ibadah haji, saya mencari-cari buah tin di supermarket di kota Mekkah. Namun sayang sekali saya tidak menjumpai buah tin segar, yang ada hanya buah tin yang sudah diawetkan menjadi manisan. Kalau sudah menjadi manisan tentu rasanya sudah tidak asli lagi, cuma rasa gula saja.

Pohon tin yang tumbuh di halaman rumah selalu saya rawat dengan sepenuh hati. Saya siram dan rutin diberi pupuk. Setiap hari sebelum berangkat ke kampus saya pandang-pandang pohon ini.  Cepatlah berbuah, kata saya dalm hati.  Saya tidak sabar untuk menikmati buah surga ini.

Setelah empat bulan tumbuh, maka pada suatu hari pohon tin mulai mengeluarkan beberapa buah putik. Makin lama putik semakin  besar dan mulai menampakkan wujud seperti buah tin sebenarnya.  Warnanya masih hijau, pertanda belum matang. Saya sudah tidak sabar menunggunya sampai merah.

tin3

Kelak jika sudah matang warnanya akan merah seperti di bawah ini (sumber foto dari sini). Hmmm…ranumnya.

tin4

Dan bila kita memotong buahnya, tampaklah daging buahnya yang seperti serat-serat berwarna marah. Serat-serat berwarna merah itu mengingatkan saya pada isi buah delima.

tin5

Dua hari yang lalu buah tin di pohon sudah menunjukkan tanda-tanda matang. Meskipun kulitnya belum berwarna merah seperti pada gambar, namun saya merabanya seperti sudah matang. Mungkin jenis buah tin yang sayang tanam berbeda dengan buah tin berwarna merah.

Sebelum buah surga ini disikat oleh kelelawar, kemarin saya petik. Saya potong empat, buat anak dan istri, sama-sama mencicipi, meski cuma sekerat saja.  Rasanya? Manis dan segar. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa mencicipi buah tin hasil tanam sendiri. Terima kasih ya allah, atas nikmat buah surga dari-Mu.

~~~~~~~~~~~~

Surat At Tin

?????? ??????? ??????????? ???????????

  1. ??????????? ????????????????  wat-t?ni waz-zait?n  (Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun),
  2. ???????? ???????????  wa ??ri s?n?n (demi gunung Sinai),
  3. ??????? ????????? ????????????  wa h??al-baladil-am?n dan demi negeri (Mekah) yang aman ini.
  4. ?????? ????????? ???????????? ????? ???????? ???????????  laqad khalaqnal-ins?na f? a?sani taqw?m (Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya),
  5. ????? ?????????? ???????? ????????????  ?umma radadn?hu asfala s?fil?n (kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya),
  6. ?????? ?????????? ????????? ?????????? ??????????? ???????? ?????? ?????? ???????????  illalla??na ?man? wa ‘amilu?-??li??ti fa lahum ajrun gairu mamn?n (kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya).
  7. ????? ??????????? ?????? ????????????  fa m? yuka??ibuka ba’du bid-d?n  (Maka apa yang menyebabkan (mereka) mendustakanmu (tentang) hari pembalasan setelah (adanya keterangan-keterangan) itu?)
  8. ???????? ??????? ?????????? ?????????????  a laisall?hu bi`a?kamil-??kim?n (Bukankah Allah hakim yang paling adil?)

Written by rinaldimunir

March 6th, 2020 at 1:38 pm

Bangkok Halal 4D3N

without comments

Bangkok adalah tujuan wisata yang sudah mainstream. Wisata belanja, wisata kuliner, atau menyusuri sungai Chao Praya, adalah beberapa tujuan orang berwisata ke Bangkok. Saya sendiri sudah pernah sekali pergi ke kota Bangkok dalam rangka mengikuti konferensi ilmiah. Tahun ini saya kembali mengunjungi Bangkok dalam perhelatan yang serupa, yaitu mempresentaskan paper hasil penelitian di sebuah konferensi di kampus Thai-Nichi Institute of Technology (TNI), sebuah perguruan tinggi swasta di Thailand. Selama 4 hari 3 malam (4D3N) saya berada di Bangkok.

Gerbang kampus Thai-Nichi Institute of Technology

Kota Bangkok tidak jauh beda dengan kota Jakarta dalam hal juara macet dan keramaian pedagang kaki lima. Bedanya, kota Bangkok lebih teratur dan lebih tertib daripada Jakarta. Baik siang maupun malam lalu lintas di pusat kota Bangkok sangat padat, apaklagi saat jam pulang kerja adalah saat rush hour, bisa berjam-jam terjebak kemacetan.

Rush hour di kota Bangkok

Thailand adalah negara dengan penduduk mayoritas beragama Budha.  Orang Thai sangat menghormati para bhiksu, sama seperti orang kita yang sangat menghormati ulama, kyai atau ajengan. Setiap pagi terlihat bhiksu berjalan kaki di kota Bangkok. Warga memberikan sedekah makanan kepada bhiksu yang lewat, memasukkannya ke dalam panci yang dililit di pinggang bhiksu. Bhiksu kemudian menuangkan air suci ke dalam wadah yang disediakan di atas tanah, lalu mendoakan umatnya. Warga berlutut, melepaskan alas kaki, lalu mensedekapkan kedua tangan, ikut berdoa.  Sebuah harmoni pagi di kota Bangkok yang saya saksikan di dekat hotel tempat saya menginap.

Warga Thai sedang berdoa dengan dibimbing oleh bhiksu

Meski Thailand adalah negara dengan mayoritas penduduk beragama Budha, lalu apakah sulit mencari makanan halal di Bangkok? Ternyata mencari makanan halal di Bangkok  tidak sulit. Makanan jalanan (street food) di kota Bangkok tersedia beraneka ragam, ada yang halal dan tidak halal.

Untuk memastikan anda membeli makanan yang halal, maka kedai-kedai makanan halal memasang tulisan Halal Food, Muslim Food, atau kata halal dalam aksara Arab. Pedagangnya adalah orang Pattani dari Thailand Selatan. Pattani adalah wilayah muslim di perbatasan Thailand dengan Malaysia, penduduknya beretnis melayu. Kota Bangkok sendiri banyak terdapat kantong-kantong pemukiman muslim dari Pattani, perkampungan Jawa, dan etnis muslim lain yang telah berasimilasi menjadi warga Thailand. Saya menemukan cukup banyak masjid di pinggir jalan. Perempuan berkerudunng mudah ditemui lalu lalang di keramaian. Di kampus Tha-Nichi saya melihat mahasiswi yang memakai jilbab, begitu juga anak-anak sekolah yang memakai busana muslimah berbau dengan siswa lainnya.

Label halal di sebuah kedai makanan di kawasan Ratchathewi

Muslim food

Jika sudah ada tulisan halal di kedai makanan, maka tenanglah kita makan di sana. Bermacam-macam kuliner yang menggugah selera ada kedai itu, misalnya nasi goreng tom yam, phad thai, som tam, dan lain-lain. Makanan-makanan itu bisa dikombinasikan, misalnya som tam dengan nasi goreng, mie rebus dengan tom yam, dan sebagainya. Pedagan langsung memasaknya di depan kita.

Seafood dan nasi goreng tom yam

Terbit air liur dibuatnya

Di kawasan Pratunam, kira-kira 500 meter dari Kedubes RI di Bangkok, ada sebuah rumah makan melayu Pattani dengan nama restoran MAKAN. Ya Makan. Pemiliknya orang Pattani.  Saya diajak oleh Abdullah Zulkifli,  alumni Informatika ITB angkatan 1990 yang sekarang menjadi diplomat di Kedubes RI di Bangkok, makan malam di resoran Makan.  Cukup berbicara dengan bahasa Indonesia, karena pemilik dan pelayannnya mengerti bahasa Melayu. Kami memesan som tam, pad thai, ayam kukus daun pandan, dan ikan kembung bakar tetapi tanpa kulit.  Phad thai adalah semacam kwetiau namun terbuat dari tepung beras, sedangkan som tam adalah sayuran pedas dari pepaya muda. Ini favorit saya yang suka makanan pedas.

Phad thai

Som tam

Ayam dikukus dengan daun pandan

Saya bersama Abdullah Zulkifli di restoran Makan, Pratunam, Bangkok

Tentu saja menikmati makanan halal di Bangkok tidak lengkap tanpa menikmati jajanan yang sudah beken, yaitu makan nasi ketan dengan buah mangga manis (sticky rice mango), ketannya disiram kuah santan. Rasanya? Bukan enak lagi, sangat enak. Jenis mangganya juga beda. Kalau di kampung saya makan ketan itu dengan durian. Di Bandung sudah banyak yang menjual dessert ini, tetapi mangganya diganti dengan mangga harum manis.

Nasi ketan buah mangga

Jenis mangga yang digunakan

Saya menikmati nasi ketan mangga di kedai pinggir jalan, pedagangnya orang Pattani. Ada logo halal di gerobaknya. Saya merasa nyaman saja jika membeli makanan di kedai orang Pattani. Makanan halal itu selain sehat juga barokah.

Gerobak pedagang nasi ketan mangga

Thailand memang sangat peduli dengan konsep wisata halal. Pariwisata adalah industri yang menopang ekonomi Thailand. Mereka sadar wisatawan yang datang ke negaranya banyak berasal dari berbagai negara berpenduduk muslim, oleh karena itu mereka menyediakan tempat-tempat yang menjual makanan halal lengkap dengan label halalnya. Bahkan, industri makanan kemasan pun mendapat sertifikasi halal dari MUI Thailand. Jika kita berbelanja makanan kemasan di minimarket, maka untuk memastikan halal tidaknya makanan itu  cukup lihat label tulisan halal yang tertera di bagian belakang kemasan.

Tidak hanya makanan, Thailand pun menyediakan mushola di tempat-tempat umum, misalnya mushola di bandara Suvarnabhumi. Saat waktu maghrib datang, saya sholat di sebuah mushola di mal Platinum. Di mal Platinum yang megah ini terdapat mushola buat sholat, mushola terpisah untuk mushola pria dan mushola untuk wanita. Bangkok lho ini, bukan di Jakarta atau di tanah air. Saya teringat mal megah di Bandung yang musholanya terletak di basement yang pengap dan bersebelahan dengan toilet dan tempat parkir.

Mushoal untuk laki-laki di mal Platinum

Interior di dalam mushola

Thailand memang serius menggarap pangsa wisata dari negara-negara berpenduduk muslim. Mereka sediakan segalanya, termasuk wisata halal, tanpa menghilangkan identitas dan ciri khas mereka.

Written by rinaldimunir

December 27th, 2019 at 4:23 pm

Puasa Makan Gorengan

without comments

Pada bulan Ramadhan ini camilan yang sangat menggoda untuk buka puasa adalah gorengan (bakwan, bala-bala, gehu, comro, tempe mendoan, goreng pisang, dll). Sepanjang jalan menuju rumah di Antapani bertebaran penjual gorengan. Pada bulan puasa orang-orang tampaknya lebih suka berbuka dengan makanan yang asin-asin daripada yang manis-manis.

gorengan2

Gorengan yang menggoda

Saya sangat suka- makan bala-bala (bakwan khas di Bandung). Bala-bala adalah jajanan gorengan yang terbuat dari tepung terigu dengan campuran kol, wortel, dan bumbu-bumbu. Bala-bala dimakan dengan cabe rawit dalam keadaan masih panas, hmmm… nyam… nyam. Saya bisa makan sampai 4 buah bala-bala.

Tapi, kesenangan makan gorengan itu adalah riwayat tahun lalu. Tahun ini saya “puasa” makan gorengan semacam bala-bala dan sejenisnya. Akibat sering makan gorengan kolesterol saya naik. Sekarang saya lagi diet makanan berminyak terutama gorengan itu. Gorengan memang enak, tetapi dampak negatifnya juga besar. Di dalam gorengan tersimpan senyawa lemak trans yang memicu kolesterol jahat (LDL). Kita tahu sendiri minyak goreng dipakai oleh pedagang berkali-kali untuk menggoreng. Dikutip dari sini, minyak goreng jika dipanaskan pada suhu tinggi akan mengubah struktur kimiawi lemak, sehingga nantinya akan lebih sulit untuk dicerna oleh tubuh. Alhasil, akan timbul berbagai efek buruk bagi kesehatan akibat kandugan lemak trans. Mulai dari meningkatnya risiko penyakit jantung, kanker, diabetes, hingga obesitas (Lebih lengkap baca: Hati-Hati, Ini 5 Bahaya Kesehatan yang Mengintai Akibat Sering Makan Gorengan).

Oleh karena itu, saya sekarang menghindari makanan yang digoreng, Kalaupun terpaksa ya sekali-sekali saja. Kalau ingin menggoreng sendiri saya beli minyak goreng dengan kadar asam lemak jenuh yang rendah, misalnya minyak dari biji bunga matahari (canola), minyak kedele, atau minyak jagung.

Pada bulan puasa ini saya juga berhenti membeli camilan gorengan yang menggoda itu. Setiap pulang ke rumah saya pasti melewati banyak pedagang kaki lima yang menjajakan hidangan buka puasa, antara lain gorengan. Menggoda selera, tetapi kesehatan adalah nomor satu.

Written by rinaldimunir

May 10th, 2019 at 3:06 pm

Posted in Makanan enak

Antri Membeli Sate Jando di Jalan Cimandiri

without comments

Hari masih pukul 9 pagi ketika saya melewati Jalan Cimandiri di belakang Gedung Sate Bandung, tetapi belasan orang sudah antre di depan jongko pedagang sate di seberang gedung Program Magister Ekonomi UNPAD. Mereka antri untuk mendapatkan seporsi sate yang terkenal dengan nama sate jando. Nanti saya ceritakan apa arti “jando” itu. Saya yang setiap hari lewat di jalan itu ketika menuju kampus ITB cukup penasaran apa yang membuat orang begitu rela antri hanya untuk mendapatkan sate.

Saya pun mencoba ikut antri untuk mencoba satenya itu. Seorang ibu dibantu beberapa “karyawannya” sedang melayani para pembeli yang antri. Ia menggelar dagangan sate di atas trotoar. Sate dibakar langsung di sana dan pembeli makan di situ juga, duduk di atas kursi plastik atau sambil jongkok di dekat selokan yang membatasi trotoar dengan pagar gedung. Pembeli sate banyak juga orang yang membawa mobil dan sengaja parkir di situ hanya untuk makan sate jando.

Ada tiga macam sate yang dijual Bu Sri Rezeki, demikian namanya. Sate ayam, sate sapi, dan sate jando. Nama yang terakhir ini terdengar aneh, tetapi istilah jando adalah sebutan pembeli untuk sate dari gajih yang diambil dari lemak payudara sapi. Seporsi sate dihidangkan di dalam pincuk daun pisang, ditambah lontong, dan disiram bumbu kuah kacang. Seporsi sate ayam harganya Rp22.000, sedangkan sate sapi atau sate jando Rp24.000.

Rasanya? Lumayan enak. Saya nilai 7,5 lah. Soal rasa memang relatif bagi setiap orang. Bumbunya gurih, bisa ditambah sambal supaya lebih pedas. Sate ini menjadi terkenal karena cerita dari mulut ke mulut lalu dari medsos ke medsos. Nama “jando” memang unik dan memancing penasaran banyak orang, termasuk wisatawan yang ke Bandung. Begitu terkenalnya sate jando ini sehingga ia sudah beberapa kali dimuat di media massa seperti di dalam artikel ini, ini, dan ini, serta beberapa situs kuliner.

Setiap hari sate jando hadir di trotoar Jalan Cimandiri. Keberadaannya menimbulkan simbiosa mutualisme dengan pedagang kaki lima lain di sebelahnya. Pedagang lain yang ikut mangkal di sana adalah pedagang minuman, sop buah, dan baso tahu. Tukang parkir pun menikmati kehadiran pembeli yang menepi memarkir motor dan mobil mereka.

Namun bukan berarti pedagang sate jando ini selalu aman berjualan di sana. Karena mereka berjualan di atas trotoar jalan yang dianggap mengganggu hak pejalan kaki, maka kehadiran Satpol PP yang melakukan razia adalah persoalan klasik yang selalu dihadapi pedagang kaki lima.

Sautu kali saya hendak membeli sate jando, tiba-tiba datanglah Satpol PP. Buyar deh rencana saya membeli sate.  Namun untungnya petugas Satpol PP nya masih “baik”, dagangan Bu Sri Rezeki tidak diangkut, hanya diambil KTP saja lalu dagangannya difoto. Entah ada deal atau apa :-). Hanya sebentar saja, dan bussiness as usual. Kembali seperti biasa dan pembeli pun antri kembali.

Petugas Satpol PP merazia pedagang sate jando

Begitulah sejumput keramaian di sebuah ruas jalan Cimandiri. Jalan Cimandiri yang rindang di belakang Gedung Sate memang menjadi tujuan orang yang hendak mencoba mencicipi sate jando yang terkenal itu.

Jalan Cimandiri

Written by rinaldimunir

February 22nd, 2019 at 3:59 pm

Rujak Sayur-Buah dan Bubur Hanjeli khas Orang Sunda kala Bulan Puasa

without comments

Membicarakan masalah makanan tiada habisnya, he..he. Mumpung ini bulan Ramadhan, maka topik tentang makanan untuk buka puasa termasuk hal yang menarik untuk dibahas. Setiap daerah di tanah air tentu punya makanan khas yang hanya keluar saat bulan Ramadhan saja. Pada bulan puasa inilah kita dapat melihat aneka penganan dan makanan yang disajikan sebagai hidangan pembuka puasa. Kreativitas masyarakat dalam mengolah makanan keluar semua pada bulan puasa.

Tipikal orang perkotaan adalah ingin serba praktis, dan tidak mau direpotkan dengan urusan memasak makanan untuk buka puasa. Hal ini ditangkap oleh sebagian masyarakat dengan menjual aneka hidangan takjil. Ketika matahari mulai tergelincir, lapak-lapak penjual makanan untuk buka puasa bertebaran di mana-mana.

Di Kota Bandung di sepanjang jalan banyak yang menjual aneka takjil. Menjelang sore keriuhan penjual takjil semakin  menjadi-jadi. Orang-orang yang pulang dari kantor biasanya mampir membeli makanan untk berbuka puasa.

Salah satu makanan untuk buka puasa favorit saya adalah rujak buah-sayur dan bubur hanjeli. Yang pertama adalah rujak buah-sayur atau kadang disebut juga rujak cuka.  Penganan ini saya amati hanya muncul saat bulan puasa di Bandung. Rujak buah-sayur mungkin mirip seperti asinan Bogor tetapi tidak serupa. Saya sebut rujak buah-sayur karena isinya campuran buah dan sayur. Buah yang digunakan adalah potongan buah bengkoang dan buah nanas, sedangkan sayurannya adalah tauge, kol, mentimun, dan parutan wortel. Kuahnya adalah air yang sudah dicampur dengan serbuk kacang, cabe, gula, dan cuka. Rasanya asam pedas manis. Lebih enak disimpan dulu di dalam kulkas, lalu dimakan sepulang sholat tarawih. Segar dan menyehatkan.

Rujak buah-sayur khas Bandung

Makanan yang kedua adalah bubur hanjeli. Hanjeli adalah tumbuhan biji-bijian dari suku padi-padian, mirip seperti biji gandum. Nama latinnya coix lacryma-jobi.  Jika dimasak menjadi bubur sepintas mirip kacang hijau. Rasanya tawar, tapi bagi orang Sunda hanjeli dijadikan bubur dengan tambahan gula merah dan santan. Bubur hanjeli bisa juga dicampur dengan aneka kolak seperti kolak kolang-kaling, kolak candil dan pisang. Makanan ini jarang dijual pada hari biasa, meskipun beberapa food court ada juga yang menyediakannya, misalnya di Kartika Sari.

Bubur hanjeli

Itulah dua makanan khas yang saya temukan di tanah Pasundan saat bulan puasa. Jika anda ingin mencobanya, coba saja cari di antara penjual kolak di berbagai ruas jalan yang ramai menjajakannya. Kolak candil sudah biasa, tetapi bubur hanjeli jarang ada. Rujak buah sudah umum, tetapi rujak buah-saur ini beda rasanya.

Mau?

Written by rinaldimunir

May 30th, 2018 at 2:08 pm

Posted in Makanan enak

Lumpiah Basah Jalan Ganesha yang “Ngangenin” Alumni ITB

without comments

Ada satu jajanan kaki lima di depan kampus ITB (Jalan Ganesha) yang menjadi nostalgia dan bikin kangen alumni ITB. Apa itu? Jajanan sederhana bernama lumpiah basah. Biasanya lumpiah itu digoreng, tetapi lumpiah yang satu ini, sesuai namanya, tidak digoreng, tetapi dibungkus di dalam sebuah kulit yang sudah dilumuri dengan adonan tertentu, sedangkan isinya berupa sayuran yang ditumis. Maka, tampilannya akan terlihat mengandung kuah  atau basah.

Gerobak pedagang lumpiah basah di Jalan Ganesha

Gerobak pedagang kaki lima penjual lumpiah basahi biasanya mangkal di depan Masjid Salman. Kalau kita mau ke Salman dan melewati gerobak pedagang ini maka terciumlah bau wangi bawang putih yang sedang dirajang di penggorengan.

lumpiah4

Mamang sedang membuat lumpiah (Foto ini dari Ginar IF2005)

Lumpiah basah terdiri dari kulit yang sudah dilumuri dengan adonan aci dan gula merah. Di atas kulit ini dimasukkan sayuran yang sudah ditumis dengan bumbu-bumbu dan  diorak-arik dengan telur.  Biasanya sayuran di dalam lumpiah adalah  rebung, tetapi pedagang lumpiah basah di Ganesha menggantinya dengan bengkoang yang sudah dibumbui sehingga baunya tidak terlalu tajam lagi (kalau rebung baunya khas dan tajam). Selain rebung juga ada tauge dan lain-lain. Untuk menambah selera dan sensasi pedas, maka ditambahkan sambal cabe rawit. Setelah matang lalu ditaruh di atas daun pisang dan dimakan menggunakan sumpit. Panas-panas dan pedas.

Lumpiah yang siap dimakan

Hmmmm….sedapnya

Porsi sayuran di dalam lumpiah banyak sekali sehingga memakan satu lumpiah basah itu sudah mengenyangkan. Harganya hanya 10 ribu rupiah saja.  Umumnya penggemar lumpiah basah adalah para mahasiswi. Mamang penjual lumpiah terlihat repot meladeni para pembeli ini terutama pada jam makan siang.

Di Bandung penjual lumpiah tidak terlalu banyak jumlahnya. Di kota lain di Jawa Barat  juga ditemukan pedagang lumpiah basah. Menurut cerita para alumni yang sudah mencoba bermacam lumpiah basah di berbagai tempat, maka lumpiah basah di Jalan Ganesha ini yang katanya paling enak. Mamang penjual lumpiah basah di Jalan Ganesha sudah cukup lama berjualan, mahasiswi angkatan tahun 97-an ke atas sudah mengenal si Mamang.

Saya jadi teringat cerita mahasiswiku tentang jajanan lumpiah basah di depan kampus ITB itu. Katanya lumpiah basah tidak ditemukan di kotanya (Yogya). Lumpiah basah di depan kampus selalu ngangenin, kata para alumni ITB, khususnya yang perempuan. Maka, jika ada kesempatan kunjungan ke Bandung, misalnya acara reuni di kampus, maka salah satu yang dicari adalah lumpiah basah di Jalan Ganesha ini.

Mau coba?


Written by rinaldimunir

December 27th, 2017 at 1:41 pm

Menikmati Kuliner Malam di Bandar Lampung

without comments

Dalam suatu kesempatan menjadi dosen terbang di Instyitut Teknologi Sumatera (YTERA), Lampung Selatan, saya menginap satu malam. Malam hari setelah sholat Maghrib di wisma, saya mulai mencari makan malam di Bandar Lampung. Kalau bakso Sonny sudah biasa, sudah sering. Kali ini supir yang mengantar tadi siang mempromosikan begini: coba pak, nasi uduk Toha, sudah terkenal di Bandar Lampung. Nasi uduk mah sudah biasa, di Bandung juga ada, tetapi umumnya dijual pada pagi hari. Malam hari ada juga sih yang menjual nasi uduk ini, umumnya pedagang soto Jawa Timur. Selain soto, pedagang juga menyediakn menu ayam goreng dan pecel lele, nah nasinya itu bisa nasi biasa atau nasi uduk. Nasi uduk adalah nasi  nasi gurih yang dimasak dengan bumbu-bumbu dan sedikit santan.

Tertarik dengan promosi pak supir, saya pun mulai mencari tempat yang menjual nasi uduk ini. Kebetulan ruko yang menjual nasi uduk Toha itu tidak jauh dari wisma, yaitu di Jalan Antasari. Nah itu dia, nasi uduk Toha yang kata orang Lampung sudah menjadi legendaris.

Nasi uduk Toha

Saya pun memesan satu porsi nasi uduk dengan lauk satu potong ayam goreng dan tempe. Ternyata yang dihidangkan lebih dari itu.  Tambahannya berupa satu piring kerupuk emping, lalap sayuran yang banyak, dan tentu saja sambal.

Satu porsi nasi uduk lengkap

Rasanya sih lumayan, memang cocok dimakan hangat pada malam hari yang dingin. Menurutku nilai nasi uduknya 7,5 lah. Sambalnya tidak pedas sekali, ada sedikit rasa manis. Rasa ayam gorengnya standard seperti ayam goreng yang dijajakan pedagang kaki lima.

Coba tebak berapa harga yang harus saya bayar untuk satu paket seperti pada gambar di atas. Empat puluh dua ribu (42.000) rupiah. Hmmmm…mahal juga, kata temanku yang membaca postingan-ku di Facebook. Dia kira sekitar 20 sampai 25 ribulah. Kalau menurut taksiranku sih sekitar 30 ribulah, karena emping dan tempenya lumayan banyak.  Yang penting saya sudah mencoba nasi uduk Toha yang legendaris di Bandar Lampung itu.


Written by rinaldimunir

November 20th, 2017 at 12:58 pm

Posted in Makanan enak

Kenangan Pecel Kroya

without comments

Di daerah Antapani Bandung sering terlihat seorang perempuan penjual pecel. Dia mbak bakul penjual pecel asal Kroya, Cilacap. Setiap pagi dia keliling kompleks pemukiman di Antapani berjualan pecel dengan menggunakan sepeda. Pecelnya lumayan enak meskipun menurut saya agak kurang pedas (maklum cabe rawit merah harganya selangit saat ini, Rp140.000/kg). Saya beli satu porsi pecel pincuk (pecel dengan wadah daun pisang), pakai tambahan daun pepaya yang pahit biar enak di perut. Sayangnya nggak ada bunga kecombrang merah, padahal itulah khasnya pecel Kroya.

pecel1

pecel2

pecel3

Pecel Kroya? Hmm…saya jadi terkenang masa lalu ketika dulu main ke Solo, Yogya, atau Surabaya, saya selalu naik kereta api, biasanya kereta api ekonomi dari Bandung. Nah,  ketika kereta berhenti di Kroya, banyak penjual pecel di stasiun menawarkan pecel pincuk, harganya murah cuma seribu ribu rupiah.

pecel kroya

Pemandangan para perempuan penjual pecel di stasiun seperti ini adalah eksotisme masa lalu yang mungkin jarang terulang (Sumber foto: https://c1.staticflickr.com/4/3769/9959534334_c3bbc18d6a.jpg)

kroya4

Mbok bakul penjual pecel di stasiun Kroya. Bunga kecombrang merah menjadi hiasan pecel khas Kroya. (Sumber foto: http://haapengennulishe.blogspot.co.id/2010/09/haa-iki-pecel-kroya.html)

Sebagian penjual pecel masuk ke dalam kereta menawarkan pecelnya. Penumpang yang kelaparan memang sudah menunggu-nunggu pedagang asongan ini, terutama pecel itu, karena pakai lontong.Untuk membuat pecel itu terlihat menaik, maka di atasnya diletakkan bunga kecombrang yang berwarna merah sebagi hiasan, tapi juga bisa dimakan.

Sekarang tidak mungkin lagi beli pecel di stasiun Kroya karena pedagang pecel tidak boleh masuk ke dalam kereta. Jendela kereta bisnis dan ekesekutif juga tidak bisa dibuka. Kalau mau, ya berani turun gerbong untuk beli pecel itu, tapi resikonya bisa ketinggalan kereta karena berhentinya cuma dua menit.


Written by rinaldimunir

March 17th, 2017 at 3:41 pm

Bakmi Jowo Gunung Kidul van Bandung

without comments

Sore hari sepulang dari kantor saya melewati jalan Dipati Ukur. Cuaca yang dingin karena mendung dan perut yang sedang lapar membuat saya berhenti dulu di sebauh kedai bakmi jowo di pertigaan Jalan Dipati Ukur – Jalan Multatuli, seberang kampus ITHB. Bakmi Jowo DU namanya, singkatan Dipati Ukur. Saya sering melintasi jalan itu, sering melihat beberapa orang koki memasak bakmi menggunakan anglo (tungku dengan bahan bakar berupa arang kayu). Dapurnya persis di pinggir jalan, jadi siapapun yang lewat pasti melihat para koki itu memasak. Bau harum bakmi menyebar ke hidung, membuat siapapun yang lewat untuk singgah makan di sana.

bakmijowo1

Juru masak bakmi jowo yang selalu menggunakan batik

Kata orang-orang yang pernah mencoba bakmi di sana rasanya enak. Favort, katanya. Jadi, singgahlah saya di kedai Bakmi Jowo DU untuk makan bakmi godhog panas-panas sepiring. Bakmi godhog adalah nama lain untuk mie berkuah. Selain bakmi godhog, ada bakmi goreng yang rasanya agak manis dan bakmi nyemek, yaitu bakmie goreng namun agak basah karena diberi kuah sedikit.

bakmijowo2

Bakmi nyemek

bakmijowo3

bakmi godhog

Setelah menunggu sekitar 10 menit, maka pesanan bakmi godhog saya pun terhidang di atas meja. Isinya mie (jelas dong), sayur, ayam suwir, telur, dan bahan yang agak kenyal-kenyal gitu. Silakan tambah dengan acar ketimun, sambal cabe rawit, dan saos tomat sesuai selera.

bakmijowo4

Sepiring mie godhog

Dari tampilannya saja sudah menggugah selera. Rasanya? Lumayanlah, agak kurang asin gitu. Mungkin anda perlu menambahkan garam sendiri yang tersedia di atas meja. Sepiring mie godhog itu harganya Rp25.000. Agak sedikit mahal ya, bagi mahasiwa kos mungkin berat makan di situ, karena seputar Jalan Dipati Ukur adalah kawasan mahasiswa.

Menurut asal-usul, bakmi jowo pada mulanya berasal dari Gunung Kidul, Yogyakarta, sehingga diberi nama mie jowo. Orang Jawa dan orang Indonesia pada dasarnya suka makan mie. Mie jika diolah dengan bumbu lokal akan menghasilkan cita rasa yang khas. Di Aceh ada mie aceh yang kuahnya serasa bumbu kari, maka di Gunung Kidul ada mie jowo yang bumbunya sesuai dengan selera orang Jawa.

Di Bandung banyak cabang bakmi jowo. Bakmi Jowo DU ini termasuk favorit penikmat kuliner di kawasan Bandung Utara. Selain Bakmi DU, bakmi jowo di Jalan Taman Pramuka (dekat Jalan R.E Martadinata) juga terkenal enak, tapi yang ini saya belum coba. Kapan-kapan deh makan bakmi jowo di sana.


Written by rinaldimunir

May 20th, 2016 at 2:05 pm