if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Makanan enak’ Category

Rujak Sayur-Buah dan Bubur Hanjeli khas Orang Sunda kala Bulan Puasa

without comments

Membicarakan masalah makanan tiada habisnya, he..he. Mumpung ini bulan Ramadhan, maka topik tentang makanan untuk buka puasa termasuk hal yang menarik untuk dibahas. Setiap daerah di tanah air tentu punya makanan khas yang hanya keluar saat bulan Ramadhan saja. Pada bulan puasa inilah kita dapat melihat aneka penganan dan makanan yang disajikan sebagai hidangan pembuka puasa. Kreativitas masyarakat dalam mengolah makanan keluar semua pada bulan puasa.

Tipikal orang perkotaan adalah ingin serba praktis, dan tidak mau direpotkan dengan urusan memasak makanan untuk buka puasa. Hal ini ditangkap oleh sebagian masyarakat dengan menjual aneka hidangan takjil. Ketika matahari mulai tergelincir, lapak-lapak penjual makanan untuk buka puasa bertebaran di mana-mana.

Di Kota Bandung di sepanjang jalan banyak yang menjual aneka takjil. Menjelang sore keriuhan penjual takjil semakin  menjadi-jadi. Orang-orang yang pulang dari kantor biasanya mampir membeli makanan untk berbuka puasa.

Salah satu makanan untuk buka puasa favorit saya adalah rujak buah-sayur dan bubur hanjeli. Yang pertama adalah rujak buah-sayur atau kadang disebut juga rujak cuka.  Penganan ini saya amati hanya muncul saat bulan puasa di Bandung. Rujak buah-sayur mungkin mirip seperti asinan Bogor tetapi tidak serupa. Saya sebut rujak buah-sayur karena isinya campuran buah dan sayur. Buah yang digunakan adalah potongan buah bengkoang dan buah nanas, sedangkan sayurannya adalah tauge, kol, mentimun, dan parutan wortel. Kuahnya adalah air yang sudah dicampur dengan serbuk kacang, cabe, gula, dan cuka. Rasanya asam pedas manis. Lebih enak disimpan dulu di dalam kulkas, lalu dimakan sepulang sholat tarawih. Segar dan menyehatkan.

Rujak buah-sayur khas Bandung

Makanan yang kedua adalah bubur hanjeli. Hanjeli adalah tumbuhan biji-bijian dari suku padi-padian, mirip seperti biji gandum. Nama latinnya coix lacryma-jobi.  Jika dimasak menjadi bubur sepintas mirip kacang hijau. Rasanya tawar, tapi bagi orang Sunda hanjeli dijadikan bubur dengan tambahan gula merah dan santan. Bubur hanjeli bisa juga dicampur dengan aneka kolak seperti kolak kolang-kaling, kolak candil dan pisang. Makanan ini jarang dijual pada hari biasa, meskipun beberapa food court ada juga yang menyediakannya, misalnya di Kartika Sari.

Bubur hanjeli

Itulah dua makanan khas yang saya temukan di tanah Pasundan saat bulan puasa. Jika anda ingin mencobanya, coba saja cari di antara penjual kolak di berbagai ruas jalan yang ramai menjajakannya. Kolak candil sudah biasa, tetapi bubur hanjeli jarang ada. Rujak buah sudah umum, tetapi rujak buah-saur ini beda rasanya.

Mau?

Written by rinaldimunir

May 30th, 2018 at 2:08 pm

Posted in Makanan enak

Lumpiah Basah Jalan Ganesha yang “Ngangenin” Alumni ITB

without comments

Ada satu jajanan kaki lima di depan kampus ITB (Jalan Ganesha) yang menjadi nostalgia dan bikin kangen alumni ITB. Apa itu? Jajanan sederhana bernama lumpiah basah. Biasanya lumpiah itu digoreng, tetapi lumpiah yang satu ini, sesuai namanya, tidak digoreng, tetapi dibungkus di dalam sebuah kulit yang sudah dilumuri dengan adonan tertentu, sedangkan isinya berupa sayuran yang ditumis. Maka, tampilannya akan terlihat mengandung kuah  atau basah.

Gerobak pedagang lumpiah basah di Jalan Ganesha

Gerobak pedagang kaki lima penjual lumpiah basahi biasanya mangkal di depan Masjid Salman. Kalau kita mau ke Salman dan melewati gerobak pedagang ini maka terciumlah bau wangi bawang putih yang sedang dirajang di penggorengan.

lumpiah4

Mamang sedang membuat lumpiah (Foto ini dari Ginar IF2005)

Lumpiah basah terdiri dari kulit yang sudah dilumuri dengan adonan aci dan gula merah. Di atas kulit ini dimasukkan sayuran yang sudah ditumis dengan bumbu-bumbu dan  diorak-arik dengan telur.  Biasanya sayuran di dalam lumpiah adalah  rebung, tetapi pedagang lumpiah basah di Ganesha menggantinya dengan bengkoang yang sudah dibumbui sehingga baunya tidak terlalu tajam lagi (kalau rebung baunya khas dan tajam). Selain rebung juga ada tauge dan lain-lain. Untuk menambah selera dan sensasi pedas, maka ditambahkan sambal cabe rawit. Setelah matang lalu ditaruh di atas daun pisang dan dimakan menggunakan sumpit. Panas-panas dan pedas.

Lumpiah yang siap dimakan

Hmmmm….sedapnya

Porsi sayuran di dalam lumpiah banyak sekali sehingga memakan satu lumpiah basah itu sudah mengenyangkan. Harganya hanya 10 ribu rupiah saja.  Umumnya penggemar lumpiah basah adalah para mahasiswi. Mamang penjual lumpiah terlihat repot meladeni para pembeli ini terutama pada jam makan siang.

Di Bandung penjual lumpiah tidak terlalu banyak jumlahnya. Di kota lain di Jawa Barat  juga ditemukan pedagang lumpiah basah. Menurut cerita para alumni yang sudah mencoba bermacam lumpiah basah di berbagai tempat, maka lumpiah basah di Jalan Ganesha ini yang katanya paling enak. Mamang penjual lumpiah basah di Jalan Ganesha sudah cukup lama berjualan, mahasiswi angkatan tahun 97-an ke atas sudah mengenal si Mamang.

Saya jadi teringat cerita mahasiswiku tentang jajanan lumpiah basah di depan kampus ITB itu. Katanya lumpiah basah tidak ditemukan di kotanya (Yogya). Lumpiah basah di depan kampus selalu ngangenin, kata para alumni ITB, khususnya yang perempuan. Maka, jika ada kesempatan kunjungan ke Bandung, misalnya acara reuni di kampus, maka salah satu yang dicari adalah lumpiah basah di Jalan Ganesha ini.

Mau coba?


Written by rinaldimunir

December 27th, 2017 at 1:41 pm

Menikmati Kuliner Malam di Bandar Lampung

without comments

Dalam suatu kesempatan menjadi dosen terbang di Instyitut Teknologi Sumatera (YTERA), Lampung Selatan, saya menginap satu malam. Malam hari setelah sholat Maghrib di wisma, saya mulai mencari makan malam di Bandar Lampung. Kalau bakso Sonny sudah biasa, sudah sering. Kali ini supir yang mengantar tadi siang mempromosikan begini: coba pak, nasi uduk Toha, sudah terkenal di Bandar Lampung. Nasi uduk mah sudah biasa, di Bandung juga ada, tetapi umumnya dijual pada pagi hari. Malam hari ada juga sih yang menjual nasi uduk ini, umumnya pedagang soto Jawa Timur. Selain soto, pedagang juga menyediakn menu ayam goreng dan pecel lele, nah nasinya itu bisa nasi biasa atau nasi uduk. Nasi uduk adalah nasi  nasi gurih yang dimasak dengan bumbu-bumbu dan sedikit santan.

Tertarik dengan promosi pak supir, saya pun mulai mencari tempat yang menjual nasi uduk ini. Kebetulan ruko yang menjual nasi uduk Toha itu tidak jauh dari wisma, yaitu di Jalan Antasari. Nah itu dia, nasi uduk Toha yang kata orang Lampung sudah menjadi legendaris.

Nasi uduk Toha

Saya pun memesan satu porsi nasi uduk dengan lauk satu potong ayam goreng dan tempe. Ternyata yang dihidangkan lebih dari itu.  Tambahannya berupa satu piring kerupuk emping, lalap sayuran yang banyak, dan tentu saja sambal.

Satu porsi nasi uduk lengkap

Rasanya sih lumayan, memang cocok dimakan hangat pada malam hari yang dingin. Menurutku nilai nasi uduknya 7,5 lah. Sambalnya tidak pedas sekali, ada sedikit rasa manis. Rasa ayam gorengnya standard seperti ayam goreng yang dijajakan pedagang kaki lima.

Coba tebak berapa harga yang harus saya bayar untuk satu paket seperti pada gambar di atas. Empat puluh dua ribu (42.000) rupiah. Hmmmm…mahal juga, kata temanku yang membaca postingan-ku di Facebook. Dia kira sekitar 20 sampai 25 ribulah. Kalau menurut taksiranku sih sekitar 30 ribulah, karena emping dan tempenya lumayan banyak.  Yang penting saya sudah mencoba nasi uduk Toha yang legendaris di Bandar Lampung itu.


Written by rinaldimunir

November 20th, 2017 at 12:58 pm

Posted in Makanan enak

Kenangan Pecel Kroya

without comments

Di daerah Antapani Bandung sering terlihat seorang perempuan penjual pecel. Dia mbak bakul penjual pecel asal Kroya, Cilacap. Setiap pagi dia keliling kompleks pemukiman di Antapani berjualan pecel dengan menggunakan sepeda. Pecelnya lumayan enak meskipun menurut saya agak kurang pedas (maklum cabe rawit merah harganya selangit saat ini, Rp140.000/kg). Saya beli satu porsi pecel pincuk (pecel dengan wadah daun pisang), pakai tambahan daun pepaya yang pahit biar enak di perut. Sayangnya nggak ada bunga kecombrang merah, padahal itulah khasnya pecel Kroya.

pecel1

pecel2

pecel3

Pecel Kroya? Hmm…saya jadi terkenang masa lalu ketika dulu main ke Solo, Yogya, atau Surabaya, saya selalu naik kereta api, biasanya kereta api ekonomi dari Bandung. Nah,  ketika kereta berhenti di Kroya, banyak penjual pecel di stasiun menawarkan pecel pincuk, harganya murah cuma seribu ribu rupiah.

pecel kroya

Pemandangan para perempuan penjual pecel di stasiun seperti ini adalah eksotisme masa lalu yang mungkin jarang terulang (Sumber foto: https://c1.staticflickr.com/4/3769/9959534334_c3bbc18d6a.jpg)

kroya4

Mbok bakul penjual pecel di stasiun Kroya. Bunga kecombrang merah menjadi hiasan pecel khas Kroya. (Sumber foto: http://haapengennulishe.blogspot.co.id/2010/09/haa-iki-pecel-kroya.html)

Sebagian penjual pecel masuk ke dalam kereta menawarkan pecelnya. Penumpang yang kelaparan memang sudah menunggu-nunggu pedagang asongan ini, terutama pecel itu, karena pakai lontong.Untuk membuat pecel itu terlihat menaik, maka di atasnya diletakkan bunga kecombrang yang berwarna merah sebagi hiasan, tapi juga bisa dimakan.

Sekarang tidak mungkin lagi beli pecel di stasiun Kroya karena pedagang pecel tidak boleh masuk ke dalam kereta. Jendela kereta bisnis dan ekesekutif juga tidak bisa dibuka. Kalau mau, ya berani turun gerbong untuk beli pecel itu, tapi resikonya bisa ketinggalan kereta karena berhentinya cuma dua menit.


Written by rinaldimunir

March 17th, 2017 at 3:41 pm

Bakmi Jowo Gunung Kidul van Bandung

without comments

Sore hari sepulang dari kantor saya melewati jalan Dipati Ukur. Cuaca yang dingin karena mendung dan perut yang sedang lapar membuat saya berhenti dulu di sebauh kedai bakmi jowo di pertigaan Jalan Dipati Ukur – Jalan Multatuli, seberang kampus ITHB. Bakmi Jowo DU namanya, singkatan Dipati Ukur. Saya sering melintasi jalan itu, sering melihat beberapa orang koki memasak bakmi menggunakan anglo (tungku dengan bahan bakar berupa arang kayu). Dapurnya persis di pinggir jalan, jadi siapapun yang lewat pasti melihat para koki itu memasak. Bau harum bakmi menyebar ke hidung, membuat siapapun yang lewat untuk singgah makan di sana.

bakmijowo1

Juru masak bakmi jowo yang selalu menggunakan batik

Kata orang-orang yang pernah mencoba bakmi di sana rasanya enak. Favort, katanya. Jadi, singgahlah saya di kedai Bakmi Jowo DU untuk makan bakmi godhog panas-panas sepiring. Bakmi godhog adalah nama lain untuk mie berkuah. Selain bakmi godhog, ada bakmi goreng yang rasanya agak manis dan bakmi nyemek, yaitu bakmie goreng namun agak basah karena diberi kuah sedikit.

bakmijowo2

Bakmi nyemek

bakmijowo3

bakmi godhog

Setelah menunggu sekitar 10 menit, maka pesanan bakmi godhog saya pun terhidang di atas meja. Isinya mie (jelas dong), sayur, ayam suwir, telur, dan bahan yang agak kenyal-kenyal gitu. Silakan tambah dengan acar ketimun, sambal cabe rawit, dan saos tomat sesuai selera.

bakmijowo4

Sepiring mie godhog

Dari tampilannya saja sudah menggugah selera. Rasanya? Lumayanlah, agak kurang asin gitu. Mungkin anda perlu menambahkan garam sendiri yang tersedia di atas meja. Sepiring mie godhog itu harganya Rp25.000. Agak sedikit mahal ya, bagi mahasiwa kos mungkin berat makan di situ, karena seputar Jalan Dipati Ukur adalah kawasan mahasiswa.

Menurut asal-usul, bakmi jowo pada mulanya berasal dari Gunung Kidul, Yogyakarta, sehingga diberi nama mie jowo. Orang Jawa dan orang Indonesia pada dasarnya suka makan mie. Mie jika diolah dengan bumbu lokal akan menghasilkan cita rasa yang khas. Di Aceh ada mie aceh yang kuahnya serasa bumbu kari, maka di Gunung Kidul ada mie jowo yang bumbunya sesuai dengan selera orang Jawa.

Di Bandung banyak cabang bakmi jowo. Bakmi Jowo DU ini termasuk favorit penikmat kuliner di kawasan Bandung Utara. Selain Bakmi DU, bakmi jowo di Jalan Taman Pramuka (dekat Jalan R.E Martadinata) juga terkenal enak, tapi yang ini saya belum coba. Kapan-kapan deh makan bakmi jowo di sana.


Written by rinaldimunir

May 20th, 2016 at 2:05 pm

Makan Siang di RM Padang Bu Mus, Buah Batu Bandung

without comments

Di Jalan Buah Batu  Bandung ada sebuah rumah makan padang yang sangat enak rasanya. Namanya Rumah Makan Padang Bu Mus. Kalau lewat jalan Buah Batu, saya selalu singgah di sini untuk makan siang atau sekedar dibungkus saja. Rumah makan ini dulu dikenal dengan nama rumah makan kapau, ada yang mengatakan Bu Mus ini masih punya hubungan saudara dengan Uni Lis yang berjualan nasi kapau di Pasar Bawah, Bukittingi.

bumus1

Apa yang menarik dari rumah makan padang Bu Mus ini? Bukankah rumah makan padang ada di mana-mana dan menunya hampir seragam? Yang membedakan setiap rumah makan padang adalah rasanya dan variasi masakannya. Di RM Bu Mus kita menemukan masakan rumahan yang jarang ditemukan di rumah padang lain, misalnya sayur anyang, goreng teri kentang balado, goreng jengkol, goreng terung cabe hijau, dan masih banyak lagi. Tentu saja masakan wajib seperti rendang, ayam goreng, gulai kepala ikan kakap, gulai nangka, gulai hati,  goreng ikan balado pasti ada. Begini penampakan masakan di RM Bu Mus itu. Hmmmslurp… masakannya yang berwarna-warni sangat menggugah selera.

bumus5

bumus3

bumus4

Menurut saya yang beberapa kali makan di sana, masakan khas RM Bu Mus adalah gulai ikan tauco. Gulai ikan tauco ini berupa goreng ikan tenggiri di dalam kuah santan berisi irisan cabe hijau dengan saus tauco. Masakan kampung seperti ini sangat jarang ditemukan di rumah makan lain. Saya sangat menggemarinya karena sejak kecil memang suka dengan gulai tauco masakan almarthum ibu.

Soal harga di rumah makan ini memang relatif agak mahal. Sebagai perbandingan, saya membeli nasi bungkus dengan gulai ikan tauco ini harganya Rp22.000. Meski agak mahal, tetapi rumah makan ini banyak pelanggannya, tadi siang ketika membeli di sini seluruh meja makan penuh dengan pengunjung yang sedang makan. Masakan padang (lebih tepatnya masakan minang) memang sudah terkenal enak sejak dulu kala. Mau coba?


Written by rinaldimunir

May 12th, 2016 at 3:58 pm

Posted in Makanan enak

Kiriman Rendang Pensi Singkarak

without comments

Beberapa hari yang lalu kakak perempuan saya di Padang mengirim paket rendang pensi. Tau pensi? Orang Minang pasti tahu makanan yang satu ini. Pensi adalah sejenis tiram/kerang air tawar yang hanya ada di Danau Singkarak dan Danau Maninjau, Sumatera Barat. Orang Minang mengolah pensi ini menjadi berbagai macam lauk, salah satunya rendang pensi yang dikirim oleh kakak saya itu. Selain pensi, Danau Singkarak juga terkenal dengan hasil tangkapan berupa ikan endemik khas danau yang bernama ikan bilih.

DSC_1530 (1)

Rendang pensi, kiriman dari Padang

Pensi dimasak dengan santan dan bumbu-bumbu seperti cabe, bawang, daun serai (sereh), laos, jahe, daun ruku-ruku, daun jeruk, dan lain-lain. Cara memasaknya mirip seperti memasak rendang. Lebih enak lagi dicampur dengan kacang berukuran besar yang kalau di Padang dinamakan kacang pagar.

Awalnya sebelum menjadi rendang masih berupa gulai yang dinamakan gulai pensi. Biasanya yang dimasak adalah daging tiramnya saja, sedangkan cangkangnya dibuang. Nah, dalam bentuk gulai pensi saja sudah menerbitkan air liur, seperti gambar di bawah ini (Sumber gambar gulai pensi dari sini):

gulai pensi

Gulai pensi 

Almarhumah ibu saya dulu sangat pandai memasak gulai pensi. Ibu kami berasal dari daerah Solok. Danau Singkarak itu sebagian berada di Kabupaten Solok, sehingga orang Solok sangat kenal dengan pensi ini. Sekarang kemahiran memasak pensi itu dilanjutkan oleh kakak saya di Padang. Pensi yang dikirimnya itu dalam bentuk rendang agar awet jika dikirim ke tempat yang jauh.

Saya menjadikan rendang pensi itu sebagai bekal makan siang di kampus. Ini dia bekal makan siang berupa nasi, rendang pensi, dan tentu saja samba lado.

934849_1060444320690259_8659086415320729305_n

Bekal makang siang dengan rendang pensi

Jika anda nanti singgah ke Danau Singkarak atau Danau Maninjau, jangan lupa membeli oleh-oleh berupa pensi yang sudah diambil dagingnya (tanpa cangkang). Di Pasar Raya Padang juga ada yang menjual pensi, tetapi membeli pensi segar dari pinggir danau lebih disarankan. Pedagang mejualnya dalam takaran liter atau kilogram.

2-pensi

Pensi. (Sumber gambar dari http://www.izzawa.com/2015/08/cemilan-pensi.html)

Tiba di rumah nanti bisa diolah menjadi aneka masakan. Salah satu resep gulai pensi dapat dibaca di sini.


Written by rinaldimunir

March 15th, 2016 at 3:36 pm

Bakso Haji Sony, Bakso yang Enak di Bandar Lampung

without comments

Sore hari sepulang mengajar di ITERA Lampung Selatan, dalam perjalanan dari kampus menuju mess ITERA, saya dan rekan dosen yang lain singgah dulu di kedai bakso Haji Sony di Bandar Lampung. Menurut cerita dari mulut ke mulut, bakso Haji Sony ini terkenal enak. Haji Sony mempunyai 14 cabang kedai bakso di seluruh Bandar Lampung. Banyak banget!

bakso2

Kedai bakso Haji Sony

Bakso Haji Sony, apa istimewanya? Bakso merupakan jajanan biasa saja, bukan? Kedai dan warung bakso ada di mana-mana di seluruh nusantara. Orang Indonesia suka nge-bakso. Yang membuat saya tertarik adalah cerita dari supir kami bahwa setiap hari Haji Sony memotong dua ekor sapi untuk kebutuhan bakso bagi  semua kedai itu. Ha? Dua ekor sapi hanya untuk bakso? Luar biasa, kata saya. Katanya lagi Haji Sony punya peternakan sapi sendiri untuk memasok kebutuhan daging sapi. Wah, saya yakin baksonya pasti halal nih, karena dimiliki seorang haji, lalu sapinya dipotong sendiri, tentu sesuai dengan syariat agama.

Saya memesan seporsi bakso dengan tambahan bihun. Tadinya mau pakai mie, tapi mie habis, ya sudah pakai bihun saja. Isinya enam biji bakso seukuran bola pingpong. Seporsi itu harganya Rp15.000. Setelah dicoba, tekstur baksonya padat dan sangat terasa dagingnya. Tidak seperti bakso lain yang banyak tepung, bakso ini nggak banyak tepungnya. Rasanya mantap dan yummy. Kuahnya juga enak, sepertinya memakai bumbu lada, ya pasti  lada Lampunglah, karena Lampung adalah daerah penghasil lada. Kuah baksonya lebih mantap lagi jika diberi sambal cabe hijau yang pedas. Hmmm…sore-sore yang nikmat.

bakso1

Semangkok bakso Haji Sony

Sore itu pengunjung tidak padat, mungkin belum waktunya makan malam. Wah, kalau siang atau malam pasti ramai ya?

bakso4

Pengunjung lagi makan bakso

Sewaktu pulang ke Bandung saya membawa bakso Haji Sony sebagai oleh-oleh. Mereka sudah menyiapkan paket-paket bakso. Baksonya sudah dikemas sedemikian rupa sedangkan kuahnya tidak perlu kita bawa dalam bentuk cair. Mereka menyiapkan bumbu untuk kuah bakso. Jadi nggak perlu repot membawa kuah bakso ke dalam kabin pesawat.  Tiba di rumah bumbu ini diencerkan dengan air lalu dididihkan. Bakso pun siap dihidangkan!

Saya rekomendasikan kepada anda untuk mencoba bakso Haji Sony ini jika singgah di Bandar Lampung.


Written by rinaldimunir

March 9th, 2016 at 3:12 pm

Posted in Makanan enak

Soto Padang yang Enak di Bandung

without comments

Sore dalam perjalanan pulang ke rumah ke kantor, saya singgah dulu di kedai soto padang masakan Uda Ujang di Jalan Singaperbangsa, dekat kampus Unpad Dipati Ukur, Bandung. Suasana sore yang mendung dan dingin ini membuat saya agak lapar, jadi saya ingin makan soto padang yang hangat dan enak. Hmmm….

soto-pdg3

Menurut saya soto padang masakan Uda Ujang adalah soto padang yang terenak di kota Bandung. Mantap rasa, aroma, dan pedasnya. Orisinal, persis sama dengan soto yang saya makan  di Pasar Raya, Padang. Di Bandung ada beberapa rumah makan padang yang menyediakan soto, tetapi dari semua soto padang yang pernah saya coba, saya menempatkan soto padang yang terenak ya soto di kedai ini. Kedai Uda Ujang khusus hanya menjual masakan soto padang saja, tidak ada masakan lain.

soto-pdg1

Soto padang isinya antara lain irisan daging goreng atau daging dendeng yang dipotong kecil-kecil, perkedel kentang, bihun, seledri, bawang goreng, dan sama sekali tanpa MSG. Kelezatan soto padang terletak pada kuahnya. Kuah soto terbuat dari kaldu daging atau ulang sapi dengan ramuan rempah-rempah. Paduan rempah-rempah itulah yang membedakan soto padang yang satu dengan soto padang lainnya. Paduan mana yang menghasilkan rasa yang pas di lidah, itulah soto padang yang enak dan gurih. Soto padang akan lebih nikmat jika ditambah dengan sambal khas dan perasan jeruk nipis atau cuka. Sambalnya adalah cabe halus yang dimasak dengan tambahan asam cuka. Supaya lebih menarik, nasinya  ditaburi kerupuk merah. Mantap!

soto-pdg2

Saya suka mengajak teman makan di sini, kadang-kadang juga saya pesan untuk menu rapat di kantor. Kedainya buka dari pagi jam 8 hingga malam. Seporsi soto padang tanpa nasi Rp17.000, jika pakai nasi harganya Rp20.000. Kedai ini juga punya jongko kaki lima di depan kampus Unpad, tepatnya di pool bis Damri Dipati Ukur.

Mau coba? Silakan datang ke sana.


Written by rinaldimunir

February 13th, 2016 at 6:28 am

Menikmati Pembuatan Surabi “Urang Bandung”

without comments

Pada pagi hari yang dingin di kota Bandung, menikmati jajanan surabi (Bhs Indonesia: serabi) adalah pilihan yang tepat. Surabi yang dibuat langsung di pinggir jalan dibeli dalam keadaan panas, setiba di rumah masih hangat. Surabi lebih enak jika dimakan dalam keadaan masih panas.

Surabi orang Bandung sedikit berbeda dengan serabi di daerah lain. Jika serabi di daerah lain dimakan dengan kuah gula merah, maka surabi urang Bandung tidak demikian. Surabinya lebih tebal dan rasa aslinya agak asin. Surabi yang polos dapat ditambahkan bermacam-macam topping di atasnya.

Jika mau surabi yang manis, maka si pedagang manambahkan larutan gula merah ke atas adonan surabi yang baru dituang ke atas cetakan. Selain surabi yang polos, jenis surabi lainnya adalah surabi oncom, yaitu surabi dengan topping oncom di atasnya. Mau surabi oncom yang pedas, tinggal ditambahkan satu sendok kecil sambal cabe rawit di atasnya.

Mau surabi yang lebih bergizi, maka pembeli bisa minta memesan surabi pakai telur kocok. Itulah tiga macam surabi tradisionil yang masih dijual di banyak tempat di kota Bandung.

Bagi sebagian orang, membeli surabi tidak hanya sekedar membeli jajanan itu sendiri. Tetapi, menyaksikan secara langsung pembuatan surabi adalah kenikmatan tersendiri. Sungguh mengasyikkan mengamati pasangan suami istri di  pinggir Jalan Kuningan Raya, Antapani, Bandung yang saling bekerjasama membuat surabi di atas tungku bakar. Para pembeli terus berdatangan dan harus sabar antri menunggu pesanan surabinya matang.

surabi1

Bekerjasama membuat surabi

surabi2

Tuangkan adonan surabi ke dalam cetakan

surabi3

Sedang dibakar di atas bara api, sekali-sekali diintip apakah sudah matang

surabi4

Surabi yang sudah matang, masih panas menngepul. Ada surabi oncom, surabi manis, dan surabi telur ((yang berwarna kuning)

Harga surabinya tidak mahal. Surabi polos, surabi oncom, atau surabi manis harganya hanya Rp1500, sedangkan surabi telur Rp2500. Tidak mahal bukan?

Kalau jalan-jalan ke Bandung, jangan lupa menikmati surabi urang Bandung yang enak itu.


Written by rinaldimunir

December 9th, 2015 at 2:21 pm