if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Kisah Hikmah’ Category

Sempurna itu Tidak Pernah Ada

without comments

Pepatah yang mengatakan bahwa “manusia tidak ada yang sempurna” bukanlah suatu pembelaan diri (excuse) semata. Kesempurnaan hidup itu tidak akan pernah kita dapatkan. Ada saja kurangnya, ada saja cacatnya.

Mencari jodoh yang ideal, misalnya, hanya ada di dalam cerita-cerita dongeng. Yang ideal itu tidak akan pernah ada. Ada saja kurangnya. Dapat suami yang tampan, tinggi, tajir, humoris, cerdas, pendidikannya tinggi, tetapi setelah diamati lagi ada kelemahannya, misalnya suka emosional. Dapat istri yang cantik, berkulit putih, semampai, badan proporsional, tetapi ada saja kurangnya, misalnya tidak suka memasak.

Ya, pasangan hidup kita, baik istri kita ataupun suami kita, pasti mempunyai kekurangan. Masalahnya adalah bagaimana kita bisa ikhlas menerima kekurangan itu. Pikirkanlah bahwa dibalik kekurangannya, ia mempunyai kelebihan. Jadi, kelebihan itu diciptakan Tuhan untuk menutupi kelemahannya.

Ada sebuah kisah bijaksana yang menceritakan seorang pujangga, Khalil Gibran. Begini kisahnya, seperti yang saya peroleh dari sebuah pesan di jejaring pertemanan.

Suatu hari, Khalil Gibran bertanya kepada gurunya:

“Bagaimana caranya agar kita mendapatkan sesuatu yang paling sempurna dalam hidup..?”

Sang Guru: “Berjalanlah lurus di taman bunga, lalu petiklah bunga yang paling indah menurutmu dan jangan pernah kembali ke belakang..!”.

Setelah berjalan dan sampai di ujung taman, Khalil Gibran kembali dengan tangan hampa, lalu Sang Guru bertanya: “Mengapa kamu tidak mendapatkan bunga satu pun…???”

Gibran: “Sebenarnya tadi aku sudah menemukannya, tapi aku tidak memetiknya, karena aku pikir mungkin yang di depan pasti ada yang lebih indah. Namun ketika aku sudah sampai di ujung, aku baru sadar bahwa yang aku lihat tadi adalah yang TERINDAH, dan aku pun tak bisa kembali ke belakang lagi..!”

Sambil tersenyum, Sang Guru berkata: “Ya, itulah hidup.. semakin kita mencari kesempurnaan, semakin pula kita tak akan pernah mendapatkannya, “Karena sejatinya kesempurnaan yang hakiki tidak pernah ada, yang ada hanyalah keikhlasan hati kita utk menerima kekurangan.

Tuhan menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tidak usah berkecil hati dengan kekurangan yang ada pada diri kita, tidak usah malu dengan kekurangan yang ada pada anak kita, pasti ada kelebihan yang mungkin tidak tampak sekarang, tapi muncul suatu hari nanti.


Written by rinaldimunir

April 23rd, 2015 at 8:21 am

Posted in Kisah Hikmah

Tetangga, Menjadi Musuh atau Menjadi Teman?

without comments

Hidup bertetangga itu susah-susah gampang. Karena setiap hari bertemu atau berinteraksi, maka yang namanya gesekan itu pasti ada. Tidak jarang terjadi perselisihan, cekcok, dan sebagainya. Kadang-kadang hanya masalah sepele seperti masalah anak, masalah air talang hujan, masalah air pembuangan, atau tanaman tetangga yang cabangnya masuk ke halaman rumah kita. Sepele tapi bisa meletup menjadi persoalan besar.

Namun, sebaliknya tidak jarang ditemukan pula para tetangga yang selalu hidup rukun, damai, dan guyub. Kalau mendapat tetangga yang baik, maka itu adalah berkah, tetapi jika mendapat tetangga yang selalu reseh atau tidak ramah, maka alamat tidak akan bisa akur. Akhirnya yang terjadi adalah hidup nafsi-nafsi, hidup masing-masing, tanpa mempedulikan tetangga.

Ketika saya membeli rumah (rumah seken sih), maka selain utilitas vital seperti air dan listrik, maka pertimbangan saya yang lain adalah tetangga di sebelah menyebelah rumah. Jika naga-naganya tetangga sebelah orang yang ramah, setelah melihat dan kenalan sepintas, maka saya merasa nyaman jika membeli rumah tersebut. Tetapi, jika orangnya terlihat judes, kurang ramah, dan tertutup, waaah..lebih baik saya cari yang lain saja.

Gesekan antar tetangga adalah wajar. Persoalannya adalah bagaimana menyikapi gesekan tersebut sehingga tidak menjadi persoalan besar. Apakah kita ingin tetangga menjadi teman selamanya atau menjadi musuh yang selalu perang?

Ada sebuah kisah dari Tiongkok yang saya peroleh dari persebaran tulisan di jejaring sosial. Sungguh indah kisahnya, dan sungguh bermakna hikmah yang terkandung di dalamya. Begini kisahnya setelah saya rapikan tata bahasanya (terima kasih kepada orang yang pertama kali mengetikkan kisah ini, jazakllah).

Kisah Petani dan Pemburu

Dikisahkan ada seorang petani mempunyai seorang tetangga yg berprofesi sebagai pemburu dan mempunyai anjing-anjing yg galak namun kurang terlatih. Anjing-anjing itu sering melompati pagar dan mengejar domba-domba petani. Petani itu meminta tetangganya untuk menjaga anjing-anjinya, tapi ia tidak mau peduli.

Suatu hari anjing-anjing itu melompati pagar dan menyerang beberapa domba sehingga terluka parah. Petani itu merasa tidak sabar, lalu ia memutuskan pergi ke kota untuk berkonsultasi pada seorang hakim.

Hakim itu mendengarkan cerita petani itu dan berkata; “Saya bisa saja menghukum pemburu itu, memerintahkan dia untuk merantai dan mengurung anjing-anjingnya, tapi Anda akan kehilangan seorang teman dan mendapatkan seorang musuh. Mana yang kau inginkan, teman atau musuh yang jadi tetanggamu?”

Petani itu menjawab bahwa ia lebih suka mempunyai seorang teman.

“Baik, saya akan menawari anda sebuah solusi yg mana anda harus menjaga domba-domba anda, supaya tetap aman dan ini akan membuat tetangga anda tetap sebagai teman.”

Mendengar solusi pak hakim, petani itu setuju, lalu dia pulang kembali ke desanya. Ketika sampai di rumah, petani itu segera melaksanakan solusi pak hakim. Dia mengambil tiga domba terbaiknya dan menghadiahkannya kepada tiga anak tetangganya itu, yang mana mereka menerima denga sukacita dan mulai bermain dengan domba-domba tersebut.

Untuk menjaga mainan baru anaknya, si pemburu itu mengkerangkeng anjing pemburunya. Sejak saat itu anjing-anjing itu tidak pernah mengganggu domba² pak tani.

Sebagai rasa terima kasih atas kedermawanan petani kepada anak-anaknya, pemburu itu sering membagi hasil buruan kepada petani. Sebagai balasannya, petani mengirimkan daging domba & keju buatannya. Dalam waktu singkat tetangga itu menjadi teman yang baik.

Sebuah ungkapan Tiongkok Kuno mengatakan,
“CARA TERBAIK UNTUK MENGALAHKAN & MEMPENGARUHI ORANG ADALAH DENGAN KEBAJIKAN.

Moral dari cerita ini adalah, sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Ingat sebuah peribahasa yang berbunyi: seribu teman itu masih sedikit, tetapi satu musuh itu terlalu banyak.


Written by rinaldimunir

April 17th, 2015 at 11:44 am

Posted in Kisah Hikmah

Pelajaran Berharga dari Penjual Nasi Kuning

without comments

Nasi kuning merupakan sarapan pagi orang Bandung. Nasi kuning adalah semacam nasi uduk tetapi berwarna kuning karena memakai kunyit (bahasa Sunda: koneng). Rasanya gurih karena dimasak dengan santan dan aneka daun rempah-rempah. Hampir setiap pekan saya membeli nasi kuning, karena anak saya suka sekali memakannya. Salah satu penjual nasi kuning langganan saya adalah seorang ibu yang membuka warung di pinggir jalan di kawasan perumahan. Sejak dulu harga sebungkus nasi kuningnya cuma Rp5000. Murah sekali, bukan? Seporsi nasi kuning terdiri atas nasi kuning, irisan telur dadar, oseng-oseng tempe, sambal oncom, dan kerupuk. Harga Rp5000 itu bertahan selama bertahun-tahun. Barulah setahun lalu terpaksa dinaikkan menjadi 6000. Saya katakan “terpaksa” karena si ibu penjual nasi kuning melakukannya dengan berat hati. Banyak pelanggan setianya protes karena harganya dinaikkan seribu. Pelanggan setia penjual nasi kuning adalah mamang-mamang penarik beca, tukang ojeg, pedagang sayur keliling, yang penghasilannya memang pas-pasan.

Sejak kenaikan harga BBM awal tahun yang lalu, harga barang-barang kebutuhan lainpun ikut naik sebagai efek domino dari kenaikan BBM, termasuk harga bahan baku pembuatan nasi kuning, terutama sekali beras. Kenaikan harga BBM telah menyengsarakan rakyat kecil. Sekarang, meskipun harga BBM sudah diturunkan, namun harga barang kebutuhan tidak mau turun. Saya menyarankan kepada si ibu penjual nasi kuning untuk menaikkan harga dagangannya menjadi Rp7000. Saya kira para pembeli pasti bisa memakluminya. Di pedagang lain harga seporsi nasi kuning rata-rata sudah Rp7000, bahkan ada yang seporsi delapan ribu hingga sepuluh ribu. Masa si ibu nggak ikut menaikkannya? Apa dia tidak rugi nanti?

Apa jawab si ibu? “Ah enggaklah den, kasihan yang beli, nanti pada lari. Biar harganya 6000 tetapi yang penting tetap ada yang beli. Biar (untung) sedikit tetapi langgeng”.

Sederhana sekali pikiran si ibu. Ia lebih memperhatikan kelestarian pelanggan ketimbang mencari untung lebih besar. Apa gunanya menaikkan harga tetapi pelanggan menjauh dan akhirnya usahanya tutup. Maka, yang dilakukannya adalah mengurangi sedikit porsi nasi kuning namun harga tetap. Prinsip ini banyak dianut pedagang kecil, mereka lebih mempertahankan pelanggan ketimbang tergoda untung yang lebih besar.

Begitu juga seorang hamba dalam beramal sholeh, biar amalan kecil tetapi terus menerus (langgeng) alias istiqamah. Biar sedekah cuma seribu tetapi rutin setiap hari, biar sibuk bekerja tetapi sholat Dhuha dan sholat malam rutin dikerjakan. Sesungguhnya Allah mencintai amalan yang sedikit namun terus menerus (langgeng/lestari).

Dikutip hadis dari sini, dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.”

Dari ’Aisyah, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah. Rasul shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab,

”Amalan yang rutin (kontinu), walaupun sedikit.”

’Alqomah pernah bertanya pada Ummul Mukminin ’Aisyah, ”Wahai Ummul Mukminin, bagaimanakah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam beramal? Apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal?” ’Aisyah menjawab,

”Tidak. Amalan beliau adalah amalan yang kontinu (rutin dilakukan). Siapa saja di antara kalian pasti mampu melakukan yang beliau shallallahu ’alaihi wa sallam lakukan.”

Pelajaran berharga dari penjual nasi kuning, biar sedikit tetapi terus menerus.


Written by rinaldimunir

February 11th, 2015 at 11:47 am

Posted in Agama,Kisah Hikmah

Kisah Hikmah: Pilihan dari Allah Adalah yang Terbaik

without comments

Sebuah cerita penuh hikmah yang saya kutip dari situs Percikan Iman ini sungguh memberikan pelajaran berharga bahwa apa yang dipilihkan oleh Allah buat kita adalah yang terbaik. Boleh jadi apa menurut kita buruk ternyata baik bagi Allah, dan sebaliknya boleh jadi apa yang baik menurut ternyata buruk bagi Allah SWT. Oleh karena itu, janganlah kita suka berburuk sangka kepada Allah SWT

Suatu masa, ada seorang raja yang sangat menyayangi rakyatnya, setiap rakyatnya mendapat musibah dia selalu mengatakan Al Khair Khairutullah, pilihan Allah adalah yang terbaik, sehingga menjadi lapanglah hati rakyatnya mendengar hal ini.

Suatu hari sang raja mendapat musibah jari tangannya putus, lalu ia mengadu kepada salah seorang menteri kesayangannya, dan menteri tersebut mengatakan kepada raja hal yang biasa ia katakan pada rakyatnya, Al Khair Khairutullah, pilihan Allah adalah yang terbaik. Mendengar hal ini sang raja murka dan memenjarakan perdana menteri tadi.

Suatu hari raja bersama pasukannya pergi berburu dan mereka tersesat jauh di dalam hutan dan tertangkap sekelompok penyembah roh. Satu persatu pasukan raja di sembelih untuk di persembahkan ke dewa penyembah roh tadi hingga tiba giliran araja mereka melihat jari raja yang terputus sehingga mereka tidak jadi menyembelih raja karena dianggap cacat. akhirnya raja selamat dan kembali ke istananya.

Raja segera membebaskan menteri yang ia penjarakan tadi dan berkata benar apa yang engkau bilang wahai menteri Al Khair Khairutullah, pilihan Allah adalah yang terbaik, lalu ia menceritakan apa yang terjadi pada menteri tadi.

Dan sang raja bertanya pada menteri lalu apakah penjara bagimu adalah yang terbaik pilihan Allah? sang menteri menjawab benar wahai raja, Al Khair Khairutullah, pilihan Allah adalah yang terbaik.

Sang raja bertanya apa terus apakah hikmahnya bagimu wahai menteri?
Menteri menjawab seandainya saya tidak masuk penjara tentunya saya akan ikut bersama raja berburu dan tentunya saya sudah disembelih bersama pasukan lainnya. namun Allah menyelematkan saya dengan memasukkan saya ke penjara.

Sumber: http://www.percikaniman.org/category/artikel-islam/pilihan-allah-adalah-terbaik


Written by rinaldimunir

November 25th, 2013 at 10:17 am

Posted in Kisah Hikmah

Iklan 3 Menit yang Mengharukan

without comments

Saya mendapat tautan video di Internet dari seorang teman. Kisah di dalam video itu sangat mengharukan -bahkan bikin mata jadi mewek alias nangis. Iklan yang dibuat sebuah perusahaan telekomunikasi Thailand itu menceritakan the power of giving (pinjam istilahnya Ustad Yusuf Mansur), bahwa kekuatan memberi itu tidak mengharapkan kembali atau balas jasa. Video iklan ini mendapat apresiasi yang luas di seluruh dunia, karena bahasa visualnya mampu menyentuh lubuk hati yang terdalam.

Dikisahhan dalam video iklan tersebut tentang seorang anak yang kedapatan mencuri obat dari sebuah toko di sebuah pasar yang ramai. Pemilik toko mengejar anak itu dan memintanya untuk mengembalikan obat tadi. Melihat keributan kecil di depan toko obat, seorang bapak penjual makanan (mie ramen) merasa iba. Dia menghampiri anak dan pemilik toko tadi, lalu menanyakan apakah ibunya sakit sehingga dia mencuri obat dari toko. Anak itu mengangguk pelan. Bapak penjual mie ramen lalu membayar obat yang diambil anak tadi. Tidak hanya itu, dia juga meminta anak perempuannya membungkuskan sop ramen dan memberikannya kepada anak tersebut untuk ibunya yang sakit.

Tiga puluh tahun kemudian, ketika sedang melayani pembeli, bapak yang dermawan tersebut tiba-tiba pingsan karena menderita penyakit radang otak. Dia dibawa ke rumah sakit dan harus dioperasi untuk menyelamatkan nyawanya. Namun ongkos operasi sangatlah besar, anak perempuannya tidak sanggup untuk membayar biaya operasi itu. Hampir saja dia menggadaikan warung ramennya untuk membayar ongkos operasi bapaknya.

Di tengah keputus-asaan, sesaat terbangun di samping ayahnya di rumah sakit, anak perempuan itu menemukan secarik kertas yang menyatakan bahwa biaya operasi sudah ditanggung seseorang. Ternyata seseorang yang dermawan itu adalah dokter rumah sakit yang menangani operasi ayahnya. Dokter tersebut merasa kenal dengan bapak yang sakit dan anak perempuannya itu, merekalah yang dulu pernah menolong dirinya ketika dia mencuri obat untuk ibunya sakit. Katanya di dalam surat itu, biaya operasi si bapak sudah dibayar 30 tahun yang lalu, oleh sebotol obat dan sebungkus sop ramen.

Sungguh mengharukan melihat video iklan yang sederhana ini, sarat makna dan sangat menyentuh perasaan. Anda dapat menontonnya di Youtube dengan meng-klik video di bawah ini. Saya suka dengan tagline dalam iklan itu: giving is the best communication.


Written by rinaldimunir

September 16th, 2013 at 10:03 pm

Posted in Kisah Hikmah

Kisah Hikmah: Imam Hanafi dan Anak Kecil

without comments

Sebuah kisah yang mengandung hikmah saya peroleh dari sebuah email (sepertinya diambil dari situs NU ini). Kisah itu bersumber dari kitab “Muqodimah Hasyiah Ibnu Abidin” pada jilid yang ke 1/67. Kisah yang mengandung hikmah berharga itu bercerita tentang Imam Hanafi dan seorang anak kecil. Imam Hanafi adalah salah seorang ulama klasik yang tulisan-tulisannya menjadi madzhab penting dalam ajaran Islam, yaitu Madzhab Hanafi.

Dalam kisah ini diceritakan dialog antara Imam Hanafi dengan anak kecil itu. Siapa sangka, peringatan yang keluar dari lidah anak kecil itu membuat Imam Hanafi tersungkur menangis. Berikut kisahnya yang saya copas dari email, saya tulis di sini kembali untuk menjadi hikmah buat kita semua, agar kita selalu rendah hati dan tawadhlu selalu, baik di hadapan manusia maupun di hadapan Allah SWT

~~~~~~~~~~~~~~

Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit, atau populer disebut Imam Hanafi, pernah berpapasan dengan seorang anak kecil yang tampak berjalan mengenakan sepatu kayu.

”Hati-hati, Nak, dengan sepatu kayumu itu. Jangan sampai kau tergelincir,” sang imam menasehati.

Bocah miskin ini pun tersenyum, menyambut perhatian pendiri mazhab Hanafi ini dengan ucapan terima kasih.

”Bolehkah saya tahu namamu, Tuan?” tanya si bocah.

”Nu’man.”

”Jadi, Tuan lah yang selama ini terkenal dengan gelar al-imam al-a‘dham (imam agung) itu?”

”Bukan aku yang menyematkan gelar itu. Masyarakatlah yang berprasangka baik dan menyematkan gelar itu kepadaku.”

“Wahai Imam, hati-hati dengan gelarmu. Jangan sampai Tuan tergelincir ke neraka gara-gara dia. Sepatu kayuku ini mungkin hanya menggelincirkanku di dunia. Tapi gelarmu itu dapat menjerumuskanmu ke kubangan api yang kekal jika kesombongan dan keangkuhan menyertainya.”

Ulama kaliber yang diikuti banyak umat Islam itu pun tersungkur menangis. Imam Hanafi bersyukur. Siapa sangka, peringatan datang dari lidah seorang bocah.


Written by rinaldimunir

July 11th, 2013 at 1:42 pm

Posted in Kisah Hikmah

Kisah Hikmah: Bakso Khalifatullah (Tulisan Emha Ainun Nadjib)

without comments

Cerita di bawah ini mungkin membuat siapa pun membacanya tidak bisa berkata-kata (speechless). Kisah ini adalah tulisan Emha Ainun Nadjib, yang diambil dari buku kumpulan cerpennya yang berjudul Demokrasi La Roiba Fih (Gramedia – Juli 2009 ). Semoga menjadi inspiarsi bagi kita semua.

~~~~~~~~~~~~

Bakso Khalifatullah
(Oleh: Emha Ainun Nadjib)

Setiap kali menerima uang dari orang yang membeli bakso darinya, Pak Patul mendistribusikan uang itu ke tiga tempat: sebagian ke laci gerobaknya, sebagian ke dompetnya, sisanya ke kaleng bekas tempat roti.

“Selalu begitu, Pak?”, saya bertanya, sesudah beramai-ramai menikmati bakso beliau bersama anak-anak yang bermain di halaman rumahku sejak siang.

“Maksud Bapak?”, ia ganti bertanya.“Uangnya selalu disimpan di tiga tempat itu?”

Ia tertawa. “Iya Pak. Sudah 17 tahun begini. Biar hanya sedikit duit saya, tapi kan bukan semua hak saya”

“Maksud Pak Patul?”, ganti saya yang bertanya.

“Dari pendapatan yang saya peroleh dari kerja saya terdapat uang yang merupakan milik keluarga saya, milik orang lain dan milik Tuhan”.

Aduh gawat juga Pak Patul ini. “Maksudnya?”, saya mengejar lagi.

“Uang yang masuk dompet itu hak anak-anak dan istri saya, karena menurut Tuhan itu kewajiban utama hidup saya. Uang yang di laci itu untuk zakat, infaq, qurban dan yang sejenisnya. Sedangkan yang di kaleng itu untuk nyicil biaya naik haji. Insyaallah sekitar dua tahun lagi bisa mencukupi untuk membayar ONH. Mudah-mudahan ongkos haji naiknya tidak terlalu, sehingga saya masih bisa menjangkaunya”.

Spontan saya menghampiri beliau. Hampir saya peluk, tapi dalam budaya kami orang kecil, jenis ekspressinya tak sampai tingkat peluk memeluk, seterharu apapun, kecuali yang ekstrem misalnya famili yang disangka meninggal ternyata masih hidup, atau anak yang digondhol Gendruwo balik lagi.

Bahunya saja yang saya pegang dan agak saya remas, tapi karena emosi saya bilang belum cukup maka saya guncang-guncang tubuhnya. Hati saya meneriakkan “Jazakumullah, masyaallah, wa yushlihu balakum!”, tetapi bibir saya pemalu untuk mengucapkannya. Tuhan memberi ‘ijazah’ kepadanya dan selalu memelihara kebaikan urusan-urusannya.

Saya juga menjaga diri untuk tidak mendramatisir hal itu. Tetapi pasti bahwa di dalam diri saya tidak terdapat sesuatu yang saya kagumi sebagaimana kekaguman yang saya temukan pada prinsip, managemen dan disiplin hidup Pak Patul. Untung dia tidak menyadari keunggulannya atas saya: bahwa saya tidak mungkin siap mental dan memiliki keberanian budaya maupun ekonomi untuk hidup sebagai penjual bakso, sebagaimana ia menjalankannya dengan tenang dan ikhlas.

Saya lebih berpendidikan dibanding dia, lebih luas pengalaman, pernah mencapai sesuatu yang ia tak pernah menyentuhnya, bahkan mungkin bisa disebut kelas sosial saya lebih tinggi darinya. Tetapi di sisi manapun dari realitas hidup saya, tidak terdapat sikap dan kenyataan yang membuat saya tidak berbohong jika mengucapkan kalimat seperti diucapkannya: “Di antara pendapatan saya ini terdapat milik keluarga saya, milik orang lain dan milik Tuhan”.

Peradaban saya masih peradaban “milik saya”. Peradaban Pak Patul sudah lebih maju, lebih rasional, lebih dewasa, lebih bertanggungjawab, lebih mulia dan tidak pengecut sebagaimana ‘kapitalisme subyektif posesif’ saya.

Tiga puluh tahun silam saya pernah menuliskan kekaguman saya kepada penjual cendol yang marah-marah dan menolak cendholnya diborong oleh Pak Kiai Hamam Jakfar Pabelan karena “Kalau semua Bapak beli, bagaimana nanti orang lain yang memerlukannya?”

Ilmunya penjual jagung asal Madura di Malang tahun 1976 saya pakai sampai tua. Saya butuh 40 batang jagung bakar untuk teman-teman seusai pentas teater, tapi uang saya kurang, hanya cukup untuk bayar 25, sehingga harga perbatang saya tawar. Dia bertahan dengan harganya, tapi tetap memberi saya 40 jagung.

“Lho, uang saya tidak cukup, Pak”

“Bawa saja jagungnya, asal harganya tetap”

“Berarti saya hutang?”

“Ndaaak. Kekurangannya itu tabungan amal jariyah saya”.

Doooh adoooh…! Tompes ako tak’iye!

Di pasar Khan Khalili semacam Tenabang-nya Cairo saya masuk sebuah toko kemudian satu jam lebih pemiliknya hilang entah ke mana, jadi saya jaga tokonya. Ketika dating saya protes: “Keeif Inta ya Akh…ke mane aje? Kalau saya ambilin barang-barang Inta terus saya ngacir pigimane dong….”

Lelaki tua mancung itu senyum-senyum saja sambil nyeletuk: “Kalau mau curi barang saya ya curi saja, bukan urusan saya, itu urusan Ente sama Tuhan….”

Sungguh manusia adalah ahsanu taqwim, sebaik-baik ciptaan Allah, master-piece. Orang-orang besar bertebaran di seluruh muka bumi. Makhluk-makhluk agung menghampar di jalan-jalan, pasar, gang-gang kampung, pelosok-pelosok dusun dan di mana-manapun. Bakso Khlifatullah, bahasa Jawanya: bakso-nya Pak Patul, terasa lebih sedap karena kandungan keagungan.

Itu baru tukang bakso, belum anggota DPR. Itu baru penjual cendhol, belum Menteri dan Dirjen, Irjen, Sekjen. Itu baru pemilik toko kelontong, belum Gubernur Bupati Walikota tokoh-tokoh Parpol. Itu baru penjual jagung bakar, belum Kiai dan Ulama.


Written by rinaldimunir

July 10th, 2013 at 2:10 pm

Posted in Kisah Hikmah

Kisah Hikmah: Air Mata Seorang Ibu

without comments

Membaca kiriman tulisan di fesbuk di bawah ini membuat saya terharu. Saya jadi teringat almarhumah ibu saya yang telah tiada pada tahun lalu. Rasanya belum banyak yang saya lakukan untuk membahagiakan ibu. Jarak saya yang berjauhan (saya di Bandung, ibu di Padang) membuat saya jarang pulang menengok.

Sekarang setelah dia pergi, barulah timbul rasa kehilangan itu. Hidup selagi masih ada orangtua jauh lebih bermakna daripada sudah tiada sama sekali.

Cerita di bawah ini juga membenarkan peribahasa bahwa kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalan. Bagi anda yang masih memiilki ibu yang masih hidup, beruntunglah anda masih bisa membahagiakan mereka, sedangkan bagi kami yang sudah kehilangan hanya bisa mendoakannya sebagai bakti anak yang sholeh. Selamat membaca dan mengambil hikmah yang terkandung di dalamnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tetesan Air Mata Seorang Ibu

“Seorang ibu bisa mengurus sepuluh orang anak, tapi sepuluh orang anak belum tentu mampu mengurus seorang ibu”.

Saudara/i ku seiman..para facebooker yang dirahmati Allah..sungguh tak sekali pun kudengarkan muhadharah ini kecuali saya dalam keadaan berlinang airmata, saya terjemahkan untuk kita semua, moga kecintaan pada Ibu selalu diingatkan oleh Allah dalam hati-hati kita…selama beliau masih bersama kita..

Suatu hari seorang wanita duduk santai bersama suaminya , pernikahan mereka berumur 21 tahun, mereka mulai bercakap dan ia bertanya pada suaminya, ” Tidakkah engkau ingin keluar makan malam bersama seorang wanita?”. Suaminya kaget dan berkata,” Siapa? Saya tak memiliki anak juga saudara”. Wanita itupun kembali berkata,” Bersama seorang wanita yang selama 21 tahun tak pernah kau temani makan malam”.

Tahukah kalian siapa wanita itu??

Ibunya…

???????? ??? ?????????? ??? ??????? ??????? ???????? ??????????? ?????? ?????????? ?????????????????? ????? ??????? ?????? ??? ???????? ???? ??????????? ????????? ????? ??????? ?????? ????????????? ??? ???? ???????? ??????? ??????? ????????? * ???????? ??????????? ????? ???????????? ????? ?????? ??????????? ????????

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali- kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (Al Isra’: 23-24)

Wanita itu berkata pada suaminya, ”Selama kita bersama tak pernah engkau bersama ibumu walau sejenak saja, hubungilah beliau, ajak makan malam berdua..luangkan waktumu untuknya”, suaminya terlihat bingung, seakan-akan ia lupa pada ibunya.

Maka hari itu juga ia menelpon ibunya, menanyakan kabar dan berkata “ Ibu, gimana menurutmu jika kita habiskan malam ini berdua, kita keluar makan malam. Saya akan menjemput ibu, bersiaplah”. Ibunya heran, ” Anakku, apakah terjadi sesuatu padamu?” jawabnya. ” Tidak ibu”, berulang kali sang ibu bertanya.

“ Ibu, malam ini saya ingin keluar bersamamu”.

Mengherankan! Ibunya begitu tak percaya namun sangat bahagia. “Mungkin kita bisa makan malam bersama, bagaimana menurutmu?”. Ibunya kembali bertanya, ”Saya keluar bersamamu anakku?”

Ibunya seorang janda, ayahnya telah lama wafat, dan anak lelakinya teringat padanya setalah 21 tahun pernikahannya. Hal yang sangat menggembirakannya, begitu lama waktu telah berlalu ia dalam kesendirian, dan datanglah hari ini, anaknya menghubunginya dan mengajaknya bersama. Seolah tak percaya, diapun bersiap jauh sebelum malam tiba. Tentu, dengan perasaan bahagia yang meluap-luap! Ia menanti kedatangan anaknya.

Laki-laki itupun bercerita : “ Setibaku di rumah menjemput ibu, kulihat beliau berdiri di depan pintu rumah menantiku”

Wanita tua…menantinya di depan pintu! “Dan ketika beliau melihatku, segera ia naik ke mobil.

Saya melihat wajahnya yang dipenuhi kebahagiaan, ia tertawa dan memberi salam padaku, memeluk dan menciumku, dan berkata: Anakku, tidak ada seorang pun dari keluargaku..tetanggaku…yang tidak mengetahui kalau saya keluar bersamamu malam ini, saya telah memberitahukan pada mereka semua, dan mereka menunggu ceritaku sepulang nanti” Lihat bagaimana jika seorang anak mengingat ibunya!

Sebuah syair berbunyi :

Apakah yang harus kulakukan
agar mampu membalas
kebaikanmu? Apakah yang harus kuberikan
agar mampu membalas
keutamaanmu?

Bagaimanakah kumenghitung
kebaikan-kebaikanmu ?

Sungguh dia begitu
banyak..sangat banyak..dan
terlampau banyak!

Dan kami pun berangkat, sepanjang jalan saya pun bercerita dengan ibu, kami mengenang hari-hari yang lalu.

Setiba di restoran, saya baru menyadari bahwa baju yang dikenakan ibu adalah baju terakhir yang Ayah belikan untuknya, setelah 21 tahun saya tak bersamanya tentu pakaian itu terlihat sangat sempit, dan saya pun terus memperhatikan ibuku. Kami duduk dan datanglah seorang pelayan menanyakan menu makanan yang hendak kami makan, kulihat ibu membaca daftar menu dan sesekali melirik kepadaku, akhirnya kufahami kalau ibuku tak mampu lagi membaca tulisan di kertas itu. Ibuku sudah tua dan matanya tak bisa lagi melihat dengan jelas.

Kubertanya padanya,” Ibu, apakah engkau mau saya bacakan menunya?” Beliau segera mengiyakan dan berkata, “ Saya mengingat sewaktu kau masih kecil dulu, saya yang membacakan daftar menu untukmu, sekarang kau membayar utangmu anakku..kau bacakanlah untukku”

Maka sayapun membacakan untuknya, dan demi Allah..kurasakan kebahagiaan merasuki dadaku..

Beberapa waktu datanglah makanan pesanan kami, saya pun mulai memakannya. Tapi ibuku tak menyentuh makanannya, beliau duduk memandangku dengan tatapan bahagia. Karena rasa gembira beliau merasa tak selera untuk makan.

Dan ketika selesai makan, kami pun pulang, dan sungguh, tak pernah kurasakan kebahagian seperti ini setelah bertahun-tahun. Saya telah melalaikan ibuku 21 tahun lamanya.

Setiba di rumah, kutanyakan padanya : “ Ibu..bagaimana menurutmu kalo kita mencari waktu lain untuk keluar lagi?” beliau menjawab,” Saya siap kapan saja kau memintaku!”

Maka haripun berlalu, Saya sibuk dengan pekerjaan..dengan perdagangan..dan terdengar kabar Ibuku jatuh sakit. Dan beliau selalu menanti malam yang telah kujanjikan. Hari terus berlalu dan sakitnya kian parah. Dan…(Ya Alloh … Astaghfirullohal al’adzim…Ibuku meninggal dan tak ada malam kedua yang kujanjikan padanya.

Setelah beberapa hari, seorang laki- laki menelponku, ternyata dari restoran yang dulu kudatangi bersama ibuku. Dia berkata,” Anda dan istri Anda memiliki kursi dan hidangan makan malam yang telah lunas” Kami pun ke restoran itu, setiba disana..pelayan itu mengatakan bahwa Ibu telah membayar lunas makanan untuk saya dan istri.

Dan menulis sebuah surat berbunyi : “Anakku, sungguh saya tahu bahwa tak akan hadir bersamamu untuk kedua kalinya.

Namun, saya telah berjanji padamu, maka makan malamlah dengan uangku, saya berharap istrimu telah menggantikanku untuk makan malam
bersamamu”

Saya menangis membaca surat ibuku…dimana saya selama ini ?? di mana cintaku untuk Ibu?? Selama 21 tahun…. ….

dikisahkan kembali dari muhadharah syekh Nabil al ‘audhy- hafizhahullahu ta’ala- (????? ??? ).

Sumber: http://www.facebook.com/photo.php?fbid=153349741468664&set=a.104715419665430.5691.100003809169180&type=1&theater


Written by rinaldimunir

August 7th, 2012 at 6:45 am

Posted in Kisah Hikmah

Belajar dari Keikhlasan Tukang Sol Sepatu

without comments

Baru saja membaca kisah tukang sol sepatu di Yogyakarta. Entah kisah nyata atau cuma fiksi, tetapi cerita tentang orang-orang yang ikhlas selalu menarik untuk diambil hikmahnya. Sesungguhnya orang-orang yang selalu ikhlas, sabar, jujur, akan mendapat pertolongan dari Allah SWT, seperti kisah bapak tukang sol sepatu di bawah ini.

Cerita ini saya peroleh dari milis, tetapi setelah saya cari di Google ketemu juga beberapa blog yang memuat tulisan serupa, antara lain di blog ini. Siapa ya penulis pertamanya? Semoga anda yang menulis pertama kali mendapat pahala dari Allah SWT karena telah berbagi cerita kebaikan. Ceritanya “amazing” dan menambah semangat untuk selalu berempati kepada orang-orang kecil di sekitar kita.

Saya muat kembali kisahnya di bawah ini agar dapat memberikan hikmah kepada pembaca.

~~~~~~~~~~~~~

Kisah Tukang Sol Sepatu

Cuaca hari ini sangat sangat panas. Mbah Sarno terus mengayuh sepeda tuanya menyisir jalan perumahan Condong Catur demi menyambung hidup. Mbah Sarno sudah puluhan tahun berprofesi sebagai tukang solsepatu keliling. Jika orang lain mungkin berfikir “Mau nonton apa saya malam ini?”, Mbah Sarno cuma bisa berfikir “saya bisa makan atau nggak malam ini?”

Di tengah cuaca panas seperti ini pun terasa sangat sulit baginya untuk mendapatkan pelanggan. Bagi Mbah Sarno, setiap hari adalah hari kerja. Dimana ada peluang untuk menghasilkan rupiah, disitu dia akan terus berusaha. Hebatnya, beliau adalah orang yang sangat jujur. Meskipun miskin, tak pernah sekalipun ia mengambil hak orang lain.

Jam 11, saat tiba di depan sebuah rumah di ujung gang, diapun akhirnya mendapat pelanggan pertamanya hari ini. Seorang pemuda usia 20 tahunan, terlihat sangat terburu-buru.

Ketika Mbah Sarno menampal sepatunya yang bolong, pemuda tadi terus menerus melihat jam. Karena pekerjaan ini sudah digelutinya bertahun-tahun, dalam waktu singkat pun ia berhasil menyelesaikan pekerjaannya.

“Wah cepat sekali. Berapa pak?”

“5000 rupiah mas”

Sang pemuda pun mengeluarkan uang seratus ribuan dari dompetnya. Mbah Sarno jelas kaget dan tentu ia tidak punya uang kembalian sama sekali apalagi sang pemuda ini adalah pelanggan pertamanya hari ini.

“Wah mas gak ada uang pas ya?”

“Nggak ada pak, uang saya tinggal selembar ini, belum dipecah pak”

“Maaf Mas, saya nggak punya uang kembalian”

“Waduh repot juga kalo gitu. Ya sudah saya cari dulu sebentar pak ke warung depan”

“Udah mas nggak usah repot-repot. Mas bawa dulu saja. Saya perhatikan mas lagi buru-buru. Lain waktu saja mas kalau kita ketemu lagi.”

“Oh syukurlah kalo gitu. Ya sudah makasih ya pak.”

Jam demi jam berlalu dan tampaknya ini hari yang tidak menguntungkan bagi Mbah Sarno. Dia cuma mendapatkan 1 pelanggan dan itupun belum membayar. Ia terus menanamkan dalam hatinya, “Ikhlas. Insya Allah akan dapat gantinya.”

Waktu menunjukkan pukul 3 lebih ia pun menyempatkan diri shalat Ashar di masjid depan lapangan bola sekolah. Selesai shalat ia berdoa.

“Ya Allah, izinkan aku mencicipi secuil rezekimu hari ini. Hari ini aku akan terus berusaha, selebihnya adalah kehendakMu.”

Selesai berdoa panjang, ia pun bangkit untuk melanjutkan pekerjaannya.

Saat ia akan menuju sepedanya, ia kaget karena pemuda yang tadi siang menjadi pelanggannya telah menunggu di samping sepedanya.

“Wah kebetulan kita ketemu disini, Pak. Ini bayaran yang tadi siang pak.”

Kali ini pemuda tadi tetap mengeluarkan uang seratus ribuan. Tidak hanya selembar, tapi 5 lembar.

“Loh loh mas? Ini mas belum mecahin uang ya? Maaf mas saya masih belum punya kembalian. Ini juga kok 5 lembar mas. Ini nggak salah ngambil mas?”

“Sudah pak, terima saja. Kembaliannya, sudah saya terima tadi, pak. Hari ini saya tes wawancara. Telat 5 menit saja saya sudah gagal pak. Untung bapak membiarkan saya pergi dulu. Insya Allah minggu depan saya berangkat ke Prancis pak. Saya mohon doanya pak”

“Tapi ini terlalu banyak mas”

“Saya bayar sol sepatu cuma Rp 5000 pak. Sisanya untuk membayar kesuksesan saya hari ini dan keikhlasan bapak hari ini.”

Tuhan punya cara tersendiri dalam menolong hamba-hambaNya yang mau berusaha dalam kesulitannya. Dan kita tidak akan pernah tahu kapan pertolongan itu tiba.

Keikhlasan akan dibalas dengan keindahan.
Kesuksesan akan menyertai keikhlasan dan rasa syukur.


Written by rinaldimunir

July 31st, 2012 at 8:59 am

Posted in Kisah Hikmah

Peristiwa Aneh Sebuah Jenazah (Kisah Nyata)

without comments

Cerita ini saya dapatkan dari milis. Saya copas ke sini agar dapat menjadi hikmah bagi orang yang membacanya. Meskipun kisah ini sepintas tidak masuk akal, tetapi apapun yang diluar nalar bisa ditunjukkan Allah SWT kepada hamba-Nya agar manusia dapat mengambil pelajaran.

Mudah-mudahan kita selalu diingatkan oleh Allah tentang mati dan selalu ditunjukkan jalan yang lurus agar semua langkah hidup kita berada di jalan yang di-ridhoi-Nya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

PERISTIWA ANEH SEBUAH JENAZAH .. (Kisah Nyata) …

Ini adalah kisah nyata, kisah proses penguburan seorang pejabat di sebuah kota di Jawa Timur. Nama dan alamat sengaja tidak disebutkan untuk menjaga nama baik jenazah dan keluarga yang ditinggalkan. Insya Allah kisah ini menjadi hikmah dan cermin bagi kita semua sebelum ajal menjemput.

Kisah ini diceritakan langsung oleh seorang Modin (pengurus jenazah) kepada saya. Dengan gaya bertutur, selengkapnya ceritanya begini:

Saya terlibat dalam pengurus jenazah lebih dari 16 tahun, berbagai pengalaman telah saya lalui, sebab dalam jangka atau kurun waktu tersebut macam-macam jenis mayat sudah saya tangani. Ada yang meninggal dunia akibat kecelakaan, sakit tua, sakit jantung, bunuh diri dan sebagainya. Bagaimanapun, pengalaman mengurus satu jenazah seorang pejabat yang kaya serta berpengaruh ini, menyebabkan saya dapat kesempatan ‘istimewa’ sepanjang hidup. Inilah pertama saya bertemu cukup aneh, menyedihkan, menakutkan dan sekaligus memberikan banyak hikmah.

Sebagai Modin tetap di desa, saya diminta oleh anak almarhum mengurus jenazah Bapaknya. Saya terus pergi ke rumahnya. Ketika saya tiba sampai ke rumah almarhum tercium bau jenazah itu sangat busuk. Baunya cukup memualkan perut dan menjijikan. Saya telah mengurus banyak jenazah tetapi tidak pernah saya bertemu dengan mayat yang sebusuk ini. Ketika saya lihat wajah almarhum, sekali lagi saya tersentuh. Saya tengok wajahnya seperti dirundung oleh macam-macam perasaan takut, cemas, kesal dan macam-macam. Wajahnya seperti tidak mendapat nur dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kemudian saya pun ambil kain kafan yang dibeli oleh anak almarhum dan saya potong. Secara kebetulan pula, disitu ada dua orang yang pernah mengikuti kursus “fardu kifayah” atau pengurus jenazah yang pernah saya ajar. Saya ajak mereka mambantu saya dan mereka setuju.

Tetapi selama memandikan mayat itu, kejadian pertama pun terjadi, sekedar untuk pengetahuan pembaca, apabila memandikan jenazah, badan mayat itu perlu dibangunkan sedikit dan perutnya hendaklah diurut-urut untuk mengeluarkan kotoran yang tersisa. Maka saya pun urut-urut perut almarhum.

Tapi apa yang terjadi, pada hari itu sangat mengejutkan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berkehendak dan menunjukkan kekuasaannya karena pada hari tersebut, kotoran tidak keluar dari dubur akan tetapi melalui mulutnya. Hati saya berdebar-debar. Apa yang sedang terjadi di depan saya ini? Telah dua kali mulut mayat ini memuntahkan kotoran, saya harap hal itu tidak terulang lagi karena saya mengurut perutnya untuk kali terakhir.

Tiba-tiba ketentuan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berlaku, ketika saya urut perutnya keluarlah dari mulut mayat itu kotoran bersama beberapa ekor ulat yang masih hidup. Ulat itu adalah seperti ulat kotoran (belatung). Padahal almarhum meninggal dunia akibat diserang jantung dan waktu kematiannya dalam tempo yang begitu singkat mayatnya sudah menjadi demikian rupa ? saya lihat wajah anak almarhum.

Mereka seperti terkejut. Mungkin malu, terperanjat dan aib dengan apa yang berlaku pada Bapaknya,kemudian saya tengok dua orang pembantu tadi, mereka juga terkejut dan panik. Saya katakan kepada mereka,”Inilah ujian Allah terhadap kita”. Kemudian saya minta salah satu seorang dari pada pembantu tadi pergi memanggil semua anak almarhum.

Almarhum pada dasarnya seorang yang beruntung karena mempunyai tujuh orang anak, kesemuanya laki-laki. Seorang berada di luar negeri dan enam lagi berada di rumah. Ketika semua anak almarhum masuk, saya nasehati mereka. Saya mengingatkan mereka bahwasanya tanggung jawab saya adalah membantu menguruskan jenazah Bapak mereka, bukan menguruskan semuanya, tanggung jawab ada pada ahli warisnya.

Sepatutnya sebagai anak, mereka yang lebih afdal menguruskan jenazah Bapak mereka itu, bukan hanya iman, hanya bilal, atau guru. Saya kemudian meminta ijin serta bantuan mereka untuk menunggingkan mayat itu. Takdir Allah ketika ditunggingkan mayat tersebut, tiba-tiba keluarlah ulat-ulat yang masih hidup, hampir sebaskom banyaknya. Baskom itu kira-kira besar sedikit dari penutup saji meja makan. Subhanallah suasana menjadi makin panik. Benar-benar kejadian yang luar biasa sulit diterima akal pikiran manusia biasa. Saya terus berdoa dan berharap tidak terjadi lagi kejadian yang lebih ganjil. Selepas itu saya memandikan kembali mayat tersebut dan saya ambilkan wudhu. Saya meminta anak-anaknya kain kafan.

Saya bawa mayat ke dalam kamarnya dan tidak diijinkan seorang pun melihat upacara itu terkecuali waris yang terdekat sebab saya takut kejadian yang lebih aib akan terjadi. Peristiwa apa pula yang terjadi setelah jenazah diangkat ke kamar dan hendak dikafani, takdir Allah jua yang menentukan, ketika mayat ini diletakkan di atas kain kafan, saya dapati kain kafan itu hanya cukup menutupi ujung kepala dan kaki tidak ada lebih, maka saya tak dapat mengikat kepala dan kaki.

Tidak keterlaluan kalau saya katakan ia seperti kain kafan itu tidak mau menerima mayat tadi. Tidak apalah, mungkin saya yang khilaf dikala memotongnya. Lalu saya ambil pula kain, saya potong dan tampung di tempat-tempat yang kurang. Memang kain kafan jenazah itu jadi sambung-menyambung, tapi apa mau dikata, itulah yang dapat saya lakukan. Dalam waktu yang sama saya berdoa kepada Allah “Ya Allah, jangan kau hinakan jenazah ini ya Allah, cukuplah sekedar peringatan kepada hamba-Mu ini.”

Selepas itu saya beri taklimat tentang sholat jenazah tadi, satu lagi masalah timbul, jenazah tidak dapat dihantar ke tanah pekuburan karena tidak ada mobil jenazah/mobil ambulance. Saya hubungi kelurahan, pusat Islam, masjid, dan sebagainya, tapi susah. Semua sedang terpakai, beberapa tempat tersebut juga tidak punya kereta jenazah lebih dari satu karena kereta yang ada sedang digunakan pula.

Suatu hal yang saya pikir bukan sekedar kebetulan. Dalam keadaan itu seorang hamba Allah muncul menawarkan bantuan. Lelaki itu meminta saya menunggu sebentar untuk mengeluarkan van/sejenis mobil pick-up dari garasi rumahnya. Kemudian muncullah sebuah van. Tapi ketika dia sedang mencari tempat untuk meletakkan vannya itu dirumah almarhum, tiba-tiba istrinya keluar. Dengan suara yang tegas dia berkata dikhalayak ramai: “Mas, saya tidak perbolehkan mobil kita ini digunakan untuk angkat jenazah itu, sebab semasa hayatnya dia tidak pernah mengijinkan kita naik mobilnya.” Renungkanlah kalau tidak ada apa-apanya, tidak mungkin seorang wanita yang lembut hatinya akan berkata demikian. Jadi saya suruh tuan yg punya van itu membawa kembali vannya.

Selepas itu muncul pula seorang lelaki menawarkan bantuannya. Lelaki itu mengaku dia anak murid saya. Dia meminta ijin saya dalam 10-15 menit membersihkan mobilnya itu. Dalam jangka waktu yang ditetapkan itu,muncul mobil tersebut, tapi dalam keadaan basah kuyup. Mobil yang dimaksudkan itu sebenarnya lori. Dan lori itu digunakan oleh lelaki tadi untuk menjual ayam ke pasar, dalam perjalanan menuju kawasan pekuburan, saya berpesan kepada dua pembantu tadi supaya masyarakat tidak usah membantu kami menguburkan jenazah, cukup tinggal di camping saja akan lebih baik. Saya tidak mau mereka melihat lagi peristiwa ganjil. Rupanya apa yang saya takutkan itu berlaku sekali lagi, takdir Allah yang terakhir amat memilukan.

Sesampainya Jenazah tiba di tanah pekuburan, saya perintahkan tiga orang anaknya turun ke dalam liang dan tiga lagi menurunkan jenazah. Allah berkehendak semua atas makhluk ciptaan-Nya berlaku, saat jenazah itu menyentuh ke tanah tiba-tiba air hitam yang busuk baunya keluar dari celah tanah yang pada asal mulanya kering.

Hari itu tidak ada hujan, tapi dari mana datang air itu? sukar untuk saya menjawabnya. Lalu saya arahkan anak almarhum, supaya jenazah bapak mereka dikemas dalam peti dengan hati-hati. Saya takut nanti ia terlentang atau telungkup na’udzubillah. Kalau mayat terlungkup, tak ada harapan untuk mendapat safa’at Nabi. Papan keranda diturunkan dan kami segera timbun kubur tersebut. Selepas itu kami injak-injak tanah supaya mampat dan bila hujan ia tidak mendap/ambrol. Tapi sungguh mengherankan, saya perhatikan tanah yang diinjak itu menjadi becek. Saya tahu, jenazah yang ada di dalam telah tenggelam oleh air hitam yang busuk itu.

Melihat keadaan tersebut, saya arahkan anak-anak almarhum supaya berhenti menginjak tanah itu. Tinggalkan lobang kubur 1/4 meter. Artinya kubur itu tidak ditimbun hingga ke permukaan lubangnya, tapi ia seperti kubur berlobang. Tidak cukup dengan itu, apabila saya hendak bacakan talqin, saya lihat tanah yang diinjak itu ada kesan serapan air.

Masya Allah, dalam sejarah peristiwa seperti itu terjadi. Melihat keadaan itu, saya ambil keputusan untuk selesaikan penguburan secepat mungkin.

Sejak lama terlibat dalam penguburan jenazah, inilah mayat yang saya tidak talqimkan. Saya bacakan tahlil dan doa yang paling ringkas. Setelah saya pulang ke rumah almarhum dan mengumpulkan keluarganya. Saya bertanya kepada istri almarhum, apakah yang telah dilakukan oleh almarhum semasa hayatnya.

1. Apakah dia pernah menzalimi orang alim ?

2. Mendapat harta secara merampas, menipu dan mengambil yang bukan haknya?

3. Memakan harta masjid dan anak yatim ?

4. Menyalahkan jabatan untuk kepentingan sendiri ?

5. Tidak pernah mengeluarkan zakat, shodaqoh atau infaq ?

Istri almarhum tidak dapat memberikan jawabannya. Memikirkan mungkin dia malu Untuk memberi tahu, saya tinggalkan nomor telepon rumah. Tapi sedihnya hingga sekarang, tidak seorang pun anak almarhum menghubungi saya. Untuk pengetahuan umum, anak almarhum merupakan orang yang berpendidikan tinggi hingga ada seorang yg beristrikan orang Amerika, seorang dapat istri orang Australia dan seorang lagi istrinya orang Jepang.

Peristiwa ini akan tetap saya ingat. Dan kisah ini benar-benar nyata bukan rekaan atau isapan jempol. Semua kebenaran saya kembalikan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala pencipta jagad raya ini.


Written by rinaldimunir

June 20th, 2012 at 6:51 pm

Posted in Kisah Hikmah