if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Kisah Hikmah’ Category

Berakhir Masa Menjadi “Tukang Ojek” Anak

without comments

Tahun ini saya pensiun menjadi “tukang ojek” anak. Sudah lebih lima belas tahun saya rutin setiap pagi mengantar anak pergi ke sekolah, untuk ketiga anak saya. Cerita menjadi tukang ojek buat anak sudah pernah saya tulis sebelumnya (Baca: Menjadi “Tukang Ojek” Anak).

Mengantar anak ke sekolah adaah pekerjaan yang menyenangkan bagi saya. Tidak semua ayah bisa punya kesempatan mengantar anaknya ke sekolah, lho.  Itu masa-masa yang tidak akan bisa terulang. Orangtua yang sangat sibuk, seperti di Jakarta, hampir tidak punya kesempatan mengantar anaknya pergi ke sekolah. Pagi ketika waktu Subuh mereka sudah berangkat ke kantor, hal ini karena perumahan sekarang sudah jauh di luar kota, maka pergi bekerja ke pusat kota harus siap mengejar jadwal kereta komuter atau bawa kendaraan sendiri lebih pagi supaya tidak terjebak macet. Pulang ke rumah pun sudah malam, anak sudah tidur. Masa bertemu dengan anak hanya hari Sabtu dan Minggu, tetapi kebanyakan sekolah libur pada hari Sabtu.

Seorang warganet di media sosial menumpahkan curhatannya tentang kesedihan tidak dapat mengantar anaknya ke sekolah (jika anda punya akun Facebook, silakan baca laman ini). Berikut curhatnya (mohon izin dikutip ya mas :-)):

Mimpi Mengantar Sekolah

Foto ini saya ambil di daerah Pasar Jumat, Lebak Bulus. Saat lalu lintas sedang padat-padatnya. Yang entah kenapa isinya kok banyak anak sekolahnya.

Fotonya memang biasa aja. Saya kenal dengan bapak beranak itu pun tidak. Tapi sebagai lelaki yang pernah jadi jagoan pada masanya dulu, saya langsung down melihat bapak antar sekolah anak macem ini. Anak saya 3. Yang usia sekolah 2. Tapi ngga pernah saya bisa menikmati hal-hal romantis macam itu: antar anak sekolah, menggenggam tangannya sambil berceloteh ala pria, lalu melepasnya masuk kelas setelah tos dan memukul pundaknya.

Saya kirim gambar itu ke istri, disertai caption menyayat hati

Dia bales sih.. satu jam kemudian. Sambil seperti biasa kasih joke satir: tenang… ntar juga bisa anter anak. Kalo udah pensiun..

Tak lupa emot ???. Makin membuat saya menertawakan nasib sendiri. Ini lagi sedih beneran. Kok bisa bisanya diguyoni.

Tapi barangkali istri mengatakan itu juga dengan pedih hatinya (iya ngga sih, istri? Kamu pedih gak? ?)…

Selepas Subuh saya sudah gedandapan berangkat kerja meninggalkannya dengan segudang masalah rumah tangga. Pulangnya juga sering mendapati anak-anak sudah berpiyama.

Ada satu bagian yang hilang, itu sudah pasti. Saya melewatkan banyak momen romantis dengan tim transformer kecil saya di rumah. Untuk satu alasan: cari nafkah.

Harusnya alasan ini sangat kuat. Wajar kalau seorang ayah tidak banyak ambil bagian dalam membesarkan anak, karena memang jatah dia adalah di luar rumah. Tapi percaya tidak bro, mengantar anak sekolah adalah mimpi sederhana saya sejak dulu. Dan mimpi sesederhana ini pun sulit saya wujudkan.

Itu rasanya… seperti gagal menjadi lelaki dari anak lelaki.

Bro, kalau anda semua masih diberkahi waktu luang dan pekerjaan yang fleksibel, saya ucapkan selamat. Nikmati lah masa-masa yang tidak akan terulang ini. Berkelakarlah dengannya sembari ia merangkulmu di balik jaketmu. Tunjukkan jalan-jalan tikus sambil menyombongkan kehebatanmu menghafal jalan. Nikmati kekagumannya padamu.

Sebelum menjadi sepertiku. Yang hanya bisa iri setengah mati pada bapak-bapak berjaket pembonceng anak.

Jakarta 18 juli 2017

~~~~~~

Itulah yang saya katakan, tidak setiap ayah memiliki kesempatan mengantar anaknya ke sekolah. Sepele ya kelihatannya, ada rasa “iri”, ada kerinduan yang mendalam bagi seorang ayah untuk bisa mengalami momen seperti ini. Tapi apa mau dikata, alasan pekerjaan jua yang membuat mimpi itu belum bisa diwujudkan.

Kembali ke cerita saya pada bagian awal. Saya sekarang sudah berhenti mejadi “tukang ojek anak”. Apa pasal?  Anak saya yang bungsu sekarang sudah kelas 5 SD. Awal tahun ajaran kemaren dia bilang kepada saya bahwa dia tidak mau lagi diantar pergi ke sekolah, juga tidak mau pulang sekolah pakai becak langganan. Dia ingin pergi ke sekolah sendiri pakai sepeda. Pulang sekolah juga pakai sepeda sendiri. Biasanya selama ini saya mengantar anak ke sekolah dengan motor, lalu nanti siang, karena saya tidak bisa menjemput (sedang di kampus), maka anak saya pulang sekolah dengan becak yang sudah saya langgan sejak masih Playgroup.

fajar1

Tentu saja keinginannya itu adalah hal yang menyedihkan sekaligus juga menggembirakan bagiku. Sedih karena saya tidak bisa bisa punya momen indah mengantar anak ke sekolah. Tapi saya sudah merasa puaslah, sebab sejak anak-anak preschool hingga akhir SD semua anak kuantar ke sekolah dengan motor. Ketika masuk SMP mereka sudah mulai pergi sendiri naik angkot. Lima belas tahun sudah saya menjadi “tukang ojek” anak, dan itu adalah kenangan yang berkesan bagi seorang ayah dan anak.

fajar2

Di sisi lain ada juga terselip rasa gembira karena itu artinya dia sudah merasa besar dan sudah ingin mandiri.  Dia ingin menunjukkan bahwa dia mampu pergi sendiri. Tinggal saya saja yang merasa nelangsa sendiri, melepasanya dengan tatapan berkaca-kaca. Tapi saya pun harus menyadari, bahwa suatu hari nanti anak-anak kita akan pergi meninggalkan orangtuanya, pergi mencari jalan hidupnya sendiri. Tidak selamanya anak kita bersama kita, bukan?

Jadi, bagi kalian para ayah, jangan sampai melewatkan kesempatan berharga bersama anak-anakmu. Hanya ketika mereka masih kecil kita bisa menikmati  momen-momen indah bersama anak kita. Mengantar anak ke sekolah itu contohnya, adalah hal yang terlihat kecil dan sepele, namun akan berkesan bagi anak ketika mereka sudah dewasa nanti. Jangan lupa, ketika anda mengantar anak anda ke sekolah, banyak nilai-nilai kehidupan yang bisa ditanamkan.


Written by rinaldimunir

July 29th, 2017 at 1:48 pm

Obrolan dengan Supir Go-Jek Sepanjang Jalan

without comments

Akhir-akhir ini saya jadi sering menggunakan Go-Jek dari rumah ke Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Biasanya saya naik taksi dari rumah, atau bawa motor lalu dititip parkir di Bandara selama semalam dua malam, tapi saya merasa lebih praktis naik ojek saja.

Nah, naik ojek pangkalan atau naik ojek berbasis aplikasi semacam Go-Jek? Dua-duanya saya gunakan, tapi kalau ke Bandara saya pilih naik Go-jek saja.  Go-Jek bisa dipesan dari rumah melalui aplikasinya, lima menit kemudian supir Go-Jek nya datang.  Praktis dan lebih murah. Namun saya tetap menghargai ojek pangkalan, kalau untuk jarak dekat ya saya naik ojek biasa.

Saya ini orang yang tipenya suka mengajak ngobrol supir Go-Jek sepanjang perjalanan. Tidak hanya supir Go-Jek saja, tapi saya juga suka mengajak ngobrol supir angkot, supir taksi, atau supir travel. Kebetulan saja saya mendapat supir-supir Go-Jek yang ramah dan mau diajak bercerita. Saya suka menanyakan pengalaman mereka selama menjadi supir Go-Jek. Naluri jurnalistik saya muncul begitu saja, siapa tahu ada bahan untuk tulisan, he..he. Sambil mendengarkan mereka bercerita, saya menyelami kehidupan mereka. Banyak saja cerita yang dapat dijadikan pelajaran hidup dan sumber inspirasi. Sambil ngobrol mereka tetap awas menjalankan motornya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Cerita Supir Go-Jek 1

Saya naik Go-Jek dari rumah di Antapani ke Bandara Husein S. Tarifnya terpampang di layar aplikasi cuma 24 ribu saja. Sebagai perbandingan, jika memakai taksi dari rumah saya minimal 50 ribu rupiah. Sepanjang perjalanan supir gojeknya enak diajak mengobrol.  Saya tanya-tanyalah dia, berapa dapat penghasilan dari bonus go-ride, go-food, go-mart, dan aneka go lainnya.  Setiap hari dia mendapat bonus minimal 20 poin, itu setara 100 ribu rupiah, minimal lho itu.  Bonus uang itu ditransfer ke rekeningnya setiap hari. Sebulan berarti minimal tiga juta rupiah. Itu belum termasuk bayaran cash dan bonus lebih bayar dari penumpang.

Jam kerjanya fleksibel, Go-Jek ini cuma kerja tambahan saja.  Dia hanya Go-Jek dari pagi sampai pukul 9.00, lalu sesudah itu dia bekerja mengantar surat tagihan kartu kredit dari berbagai bank ke alamat nasabah. Tugas mengantar tagihan kartu kredit sampai jam 15.00, sesudah itu dia kembali nge-gojek lagi sampai jam 10 malam. Kalau surat tagihan yang diantar tidak banyak, dia nge-go-jek lagi, tidak harus dari jam 15.00.

Dengan penghasilan meng-gojek saja minimal mendapat penghasilan per bulan minimal tiga juta diluar cash dan bonus penumpang. Itu penghasilan di atas UMK. Jika ditambah dengan penghasilan mengantarkan surat tagihan kartu kredit dari bank tentu lebih besar lagi. Makanya banyak orang yang keluar dari pekerjaan formalnya dan beralih menjadi supir Go-Jek karena terbayang penghaislan yang menggiurkan.

Tapi supir Go-Jek di Bandung masih belum berani show of force menampakkan diri dengan seragam Go-Jek serta helm hijaunya itu seperti yang kita lihat di Jakarta atau di kota lain. Mereka masih melapisi seragam Go-Jek dengan jaket penutup agar tidak terlihat oleh supir ojek pangkalan, yang masih menolak kehadiran Go-Jek. Itu cara supir Go-Jek di Bandung menyamar. Namun sekarang kondisinya sedikit lebih lunak. Supir Go-Jek boleh mengantarkan penumpang ke daerah yang dikuasai ojek pangkalan, tapi mereka terlarang menarik penumpang baru dari daerah itu. Itu win-win solution dengan supir ojek pangkalan, demikian cerita supir Go-Jek tadi.

Tidak terasa sampailah saya di Bandara Husein, hendak terbang ke Lampung mengajar di ITERA. Supir Go-Jek menurunkan saya di dekat pangkalan taksi bandara. Ongkos Go-Jek 24 ribu saya lebihkan, bonus buat supir Go-Jek itu, serta memberi nilai bintang  5  di aplikasi Go-Jek.

Olala, saya lupa mengambil foto supir Go-Jek tadi agar tidak dibilang “no pic = hoax“. He..he..

 

Cerita Supir Gojek 2

Kali ini saya ke bandara Husein lagi dengan Go-Jek. Supir gojek yang membawa saya sungguh keren pengalaman hidupnya. Inspiratif. Namanya Pak Saiful, orang Madura. Dia bukan supir Go-Jek dengan pengalaman hidup biasa-biasa saja, tapi luar biasa. Selama bertahun-tahun sebelum menjadi supir Go-Jek, Pak Saiful  telah melanglangbuana di berbagai negara bekerja sebagai sarjana teknik mesin. Pak Saiful pernah bekerja di Belanda, Belgia, Australia, dan terakhir di Arab Saudi sebelum akhirnya pulang ke tanah air.

Putra Pak Saiful adalah lulusan S2 bidang komputer di Korea dan sekarang bekerja di empat perusahaan masakapai asing sebagai ahli IT. Meskipun sudah mencapai gelar Master, Pak Saiful tetap mendorong anaknya untuk meneruskan S3 ke luar negeri. Putranya itu sebenarnya sudah diterima S3 di  Jepang tapi tidak jadi diambilnya karena memakai program ikatan dinas dan setelah lulus harus bekerja selama 10 tahun di sana. Mungkin S3 di Jerman saja, katanya. Keren ya…

Sekarang sesudah pensiun pak Saiful sekali-sekali masih menjadi konsultan permesinan, minggu lalu baru pulang proyek di Kendari. Lha, udah hidup mapan begini kok masih mau kerja Go-Jek, Pak, tanya saya. He…he, ternyata me-gojek itu buat mengusir rasa jenuh saja karena sehari-hari dia di depan komputer memantau pekerjaan.

Pak Saiful juga bercerita tentang kucing-kucingan supir Go-Jek menghindari bentrokan dengan ojek pangkalan. Meski tidak memakai atribut Go-Jek, tapi supir ojek pangkalan mampu mendeteksi supir Go-Jek yang masuk kawasannya. Antapani yang padat berbagai kompleks perumahan itu sebenarnya pasar basah Go-Jek, namun supir Go-Jek sering takut masuk Antapani.

Setelah sampai di Bandara Husein, saya minta mengambil gambarnya buat berbagi cerita yang menarik ini. Ini Pak Saiful, tidak memakai seragam Go-Jek, seperti halnya supir Go-Jek lain di Bandung.

gojek

Hmmmm…saya membayangkan masa pensiun yang indah seperti Pak Saiful ini, yang telah berhasil mendidik anak-anaknya ke jenjang pendidikan yang tinggi. Semoga tetap sehat terus, Pak…


Written by rinaldimunir

April 6th, 2017 at 4:31 pm

Posted in Kisah Hikmah

Miskin bukan berarti tidak punya APA-APA, kaya bukan berarti punya SEGALANYA

without comments

Ini cerita sederhana tentang seorang gadis yang mengontrak sebuah rumah, dia tinggal sendiri di sana. Di sebelah rumahnya tinggal sebuah keluarga miskin dengan dua orang anaknya yang masih kecil.

Suatu malam listrik mati di pemukiman mereka. Rumah-rumah menjadi gelap gulita, termasuk rumah yang disewa gadis dan rumah keluarga miskin tadi. Dengan bantuan cahaya dari ponsel, si gadis segera mencari lilin di dapur. Tiba-tiba pintu rumahnya diketuk, suara seorang anak kecil  terdengar dari luar. “Kak, punya lilin tidak?”, tanya anak kecil tadi.  Itu adalah suara dari anak miskin, tetangga sebelah rumahnya.

Gadis itu terdiam, dia berpikir sejenak. Dia merasa tidak usah memberikan lilin kepada anak miskin tadi, sebab jika diberi nanti  menjadi kebiasaan untuk terus meminta. Lalu dia menjawab  dengan keras, “Tidak ada!”.

Anak miskin tadi berkata dengan riang. “Saya tahu kakak tidak punya lilin. Ibu menyuruh saya memberikan dua lilin ini kepada kakak, karena ibu khawatir kakak tinggal sendirian dan tidak punya lilin”.

Si gadis merasa bersalah karena telah berburuk sangka kepada keluarga miskin itu. Dengan air mata berlinang dia memeluk erat-erat anak miskin tadi…

~~~~~~~~~~

Moral dari cerita ini adalah hendaklah kita jangan mudah berprasangka. Jangan menilai  kelemahan orang lain dari penampilannya. Kekayaan tidak diukur dari banyaknya harta yang kita miliki, tetapi seberapa mampu yang kita beri  kepada orang yang tidak berpunya. Miskin bukan berarti tidak punya APA-APA, kaya bukan berarti punya SEGALANYA.

(kisah terinspirasi dari kiriman seorang teman)


Written by rinaldimunir

April 6th, 2016 at 5:12 pm

Posted in Kisah Hikmah

Orang Miskin akan Menuntun Tanganmu ke Surga

without comments

Sebuah posting bagus yang saya terima pagi ini. Isinya inpsiraif dan menggugah iman kita. Saya bagikan dulu ya sebelum saya komentari di bawahnya. Terima kasih buat penulisnya (yang tidak diketahui siapa orang yang pertama kali mengirimnya, karena begitu cepat menyebar di jejaring sosial).

~~~~~~~~~~

“JANGAN TAKUT DIMINTA TOLONG”

Ada seorang teman datang berkunjung ke sebuah perusahaan, pas dia melewati pintu gerbang melihat tulisan,
“Tidak Menerima Permintaan Sumbangan dari Pihak Mana pun.”

Teman yang juga seorang motivator tersebut, langsung berkomentar kepada si pemilik perusahaaan….
“Ganti Pak tulisan ini…”
“Ganti sama apa?”
“Ganti dengan: ‘Siapa pun yg butuh sumbangan, silakan kemari aja.’ “

Tentu saja komentar itu disambut dengan tawa.
“Nanti pada dateng dong minta sumbangan.”
“Biarin aja. Itu kan tandanya rezeki. Semakin banyak yg dateng, maka semakin banyak rezeki. Lagian, enggak mungkin Allah mempertemukan yang susah dengan kita, kalau kita enggak bisa bantu. Jadi kalau didatengin sama yang susah, itu tandanya Allah sudah mempersiapkan kita untuk bisa membantu.”

Banyak orang takut didatengin orang susah. Karena seringkali logika berpikirnya, mereka yg butuh, bakal ngerepotin. Padahal, kita yang butuh mereka.

Suatu hari Rasulullah memberitahu para sahabatnya, bahwa orang2 miskin nanti akan memiliki kekuasaan. Sahabat bertanya, “Kekuasaan apa ya Rasul?”
Rasulullah menjawab,”di hari kiamat, nanti akan dikatakan kepada mereka, tariklah mereka yang pernah memberimu makan walau sesuap, minum walau seteguk, pakaian walau selembar. Peganglah tangannya dan tuntunlah ke surga.” Masya Allah!!!

Dan salah satu kekuatan orang susah, orang miskin, orang yg terdzalimi, doanya makbul dan cepat dikabulkan.

Semoga kita tergolong insan mukmin yang gemar dan mudah menolong.

~~~~~~~~~~~~

Saya pribadi memiliki pengalaman yang juga dialami oleh kebanyakan orang, yaitu selalu didatangi oleh peminta sumbangan, pengamen, peminta-minta, maupun orang kesusahan lainnya. Insya Allah selalu ada saja rezeki saya buat mereka. Tidak perlulah kita pelit memberi kepada orang yang kesulitan hidup.

Terhadap peminta sumbangan yang mengatasnamakan anak yatim, pondok pesantren, panitia pembangunan masjid, yayasan pengampu anak cacat, dan sebagainya, mungkin ada perasaan berat hati untuk memberi mereka sekedar uang. Mungkin sebagian kita berpikir, apakah ini benar? Apakah ini penipuan? Akibatnya sebagian orang enggan untuk mengeluarkan uangnya, paling-paling hanya mengucapkan “maaf”. Kalau saya sih saya beri saja, perkara mereka bohong atau tidak benar, itu urusan mereka dengan Allah saja. Niat saya  bersekah dan beramal sholeh. Saya sengaja memberikan uang itu di depan anak-anak saya, dengan harapan kelak mereka menjadi orang pengasih dan penyayang kepada orang lain.

Di pintu rumah beberapa warga atau pintu kantor sering saya temui stiker yang berbunyi mirip seperti posting-an di atas: “TIDAK MENERIMA PERMINTAAN SUMBANGAN DALAM BENTUK APAPUN TANPA IZIN KETUA RT”., atau “DI SINI NGAMEN GRATIS”. Secara tidak sadar mereka sudah menutup pintu rumahnya dari orang-orang miskin. Padahal kalau kita mengimani hadis Rasulullah di atas, justru kitalah yang membutuhkan orang miskin, bukan mereka yang butuh kita. Di akhirat nanti tangan orang miskin yang pernah kita beri bantuan akan menarik tangan kita ke surga.


Written by rinaldimunir

March 21st, 2016 at 10:58 am

Posted in Agama,Kisah Hikmah

Jika Anakmu Begini, itu Karena Begitu (Sebuah Nasehat)

without comments

Sebuah nasehat buat orangtua atau calon orangtua yang saya copas dari whatsapp. Bagus nasehatnya, mudah-mudahan menyadarkan kita yang mungkin sering salah dalam mendidik anak.

Saya sendiri belum merasa menjadi orangtua yang baik, entah apakah yang saya lakukan selama ini sudah benar atau ternyata salah.

~~~~~~~~

DEAR PARA ORANG TUA…
ANAKMU MENGENALKAN SIAPA DIRIMU…
1. Jika anakmu BERBOHONG, 
itu karena engkau MENGHUKUMNYA terlalu BERAT.

2. Jika anakmu TIDAK PERCAYA DIRI,
itu karena engkau TIDAK MEMBERI dia SEMANGAT

3. Jika anakmu KURANG BERBICARA,
itu karena engkau TIDAK MENGAJAKNYA BERBICARA

4. Jika anakmu MENCURI,
itu karena engkau TIDAK MENGAJARINYA MEMBERI.

5. Jika anakmu PENGECUT,
itu karena engkau selalu MEMBELANYA.

6. Jika anakmu TIDAK MENGHARGAI ORANG LAIN,
itu karena engkau BERBICARA TERLALU KERAS KEPADANYA.

7. Jika anakmu MARAH,
itu karena engkau KURANG MEMUJINYA.

8. Jika anakmu SUKA BERBICARA PEDAS,
itu karena engkau TIDAK BERBAGI DENGANNYA.

9. Jika anakmu MENGASARI ORANG LAIN,
itu karena engkau SUKA MELAKUKAN KEKERASAN TERHADAPNYA.

10. Jika anakmu LEMAH,
itu karena engkau SUKA MENGANCAMNYA.

11. Jika anakmu CEMBURU,
itu karena engkau MENELANTARKANNYA.

12. Jika anakmu MENGANGGUMU,
itu karena engkau KURANG MENCIUM & MEMELUKNYA

13. Jika anakmu TIDAK MEMATUHIMU,
itu karena engkau MENUNTUT TERLALU BANYAK padanya.

14. Jika anakmu TERTUTUP,
itu karena engkau TERLALU SIBUK.


Written by rinaldimunir

November 18th, 2015 at 11:36 am

Kisah Hikmah: Delapan Jam PP Setiap Hari Untuk Mencium Tangan Ibunya

without comments

Tulisan di bawah ini saya dapat dari media sosial. Penulisnya adalah Nasir Azzaini. Isinya membuat saya sungguh terharu. Ini kisah seorang supir taksi yang rela bolak-balik pulang ke rumahnya yang berjarak empat jam perjalanan pergi dan empat jam perjalanan pulang. Pulang hanya untuk menemui ibunya agar ketika pergi bekerja bisa selalu mencium tangan ibunya. Worth it!

Dan dia ingin mengumrohkan ibunya…

Mari muliakan orangtua kita, selagi mereka masih hidup.

~~~~~~~~~~~~~~

(TANPA JUDUL)
Oleh: Jamil Azzaini

Saya menggunakan jasa taxi, Blue Bird. Begitu saya naik taxi sang driver menyapa dengan kata-kata yang lembut dan bahasa tubuh yang mengesankan. Semakin saya ajak ngobrol, saya semakin “jatuh cinta” dengan driver itu. Dalam hati saya bergumam, “Pasti ada sesuatu di dalam diri driver ini sehingga pribadinya begitu mempesona. Saya ingin banyak belajar dengan driver ini.”

Agar punya kesempatan yang lebih luas untuk ngobrol, driver ini saya ajak makan siang di salah satu restoran kesukaan saya di Bogor. Awalnya dia menolak, tetapi setelah saya “paksa” akhirnya ia bersedia menemani saya. Ketika saya tanya mau pesan apa, dia menjawab, “Terserah bapak.” Driver itu saya pesankan menu sama persis dengan pesanan saya: Sate kambing tanpa lemak dan sop kambing, masing-masing satu mangkok.

Sebelum makan saya bertanya, “Tinggal dimana?” Dia menjawab, “Balaraja Tangerang.” “Berapa jam perjalanan ke pool?” sambung saya. Diapun menjawab, “Empat jam.” Saya terkejut, “Hah! Empat jam? Pergi pulang delapan jam. Kenapa gak nginep saja di pool?” Dia segera menjawab, “Saya harus menjaga ibu saya.”

“Menjaga ibu?” batinku. Bagaimana mungkin menjaga ibu, sampai rumah jam 23.30 berangkat kerja jam 03.30 dini hari? Untuk mengurangi rasa penasaran, kemudian saya bertanya lagi, “Bukannya sampai rumah ibu sudah tidur, berangkat ibu belum bangun?”

Dengan agak terbata dia menjawab, “Setiap saya berangkat ibu sudah bangun. Saya hanya ingin mencium tangan ibu setiap pagi sebelum berangkat kerja, sambil berdoa semoga saya bisa membahagiakan ibu.” Jawaban itu menusuk sanubariku, hanya sekedar mencium tangan ibu dan mendoakannya ia rela menempuh perjalanan delapan jam setiap hari. Sayapun ke belakang sejenak menghapus air mata yang mengalir di pipi.

Kemudian saya bertanya lagi, “Apa yang kamu lakukan untuk membahagiakan ibu?” Dengan lembut ia menjawab, “Saya sudah daftarkan umroh di kantor.”

“Maksudnya?” seru saya. Ia menjawab, “Kalau saya berprestasi dan tidak pernah mangkir kerja, saya berpeluang mendapat hadiah umroh dari kantor. Bila saya menang, hadiah umroh itu akan saya berikan kepada ibu tercinta.”

Mendengar jawaban itu saya menarik napas panjang. Dengan nada agak bergetar ia melanjutkan, “Setiap hari saya pulang agar bisa mencium tangan ibu dan mendoakannya agar ia bisa pergi umroh. Saya benar-benar ingin membahagiakan ibu saya.” Mendengar jawaban itu, haru dan malu bercampur menjadi satu. Air matapun mengalir deras di pipiku. Malu karena pengorbananku untuk ibuku kalah jauh dengan driver taxi ini.

Bila selama ini saya yang membuat peserta training berkaca-kaca. Hari ini Asep Setiawan, driver taxi itu, yang membuatku menangis tersedu. Dia telah menjadi trainer dalam kehidupanku. Ya, Asep Setiawan telah menjadi trainerku… bukan melalui kata-katanya tetapi melalui tindakannya. (Tulisan Jamil Azzaini, Saturday, 19 September 2015


Written by rinaldimunir

October 6th, 2015 at 11:25 am

Posted in Kisah Hikmah

Kisah Hikmah: Delapan Jam PP Setiap Hari Untuk Mencium Tangan Ibunya

without comments

Tulisan di bawah ini saya dapat dari media sosial. Penulisnya adalah Nasir Azzaini. Isinya membuat saya sungguh terharu. Ini kisah seorang supir taksi yang rela bolak-balik pulang ke rumahnya yang berjarak empat jam perjalanan pergi dan empat jam perjalanan pulang. Pulang hanya untuk menemui ibunya agar ketika pergi bekerja bisa selalu mencium tangan ibunya. Worth it!

Dan dia ingin mengumrohkan ibunya…

Mari muliakan orangtua kita, selagi mereka masih hidup.

~~~~~~~~~~~~~~

(TANPA JUDUL)
Oleh: Jamil Azzaini

Saya menggunakan jasa taxi, Blue Bird. Begitu saya naik taxi sang driver menyapa dengan kata-kata yang lembut dan bahasa tubuh yang mengesankan. Semakin saya ajak ngobrol, saya semakin “jatuh cinta” dengan driver itu. Dalam hati saya bergumam, “Pasti ada sesuatu di dalam diri driver ini sehingga pribadinya begitu mempesona. Saya ingin banyak belajar dengan driver ini.”

Agar punya kesempatan yang lebih luas untuk ngobrol, driver ini saya ajak makan siang di salah satu restoran kesukaan saya di Bogor. Awalnya dia menolak, tetapi setelah saya “paksa” akhirnya ia bersedia menemani saya. Ketika saya tanya mau pesan apa, dia menjawab, “Terserah bapak.” Driver itu saya pesankan menu sama persis dengan pesanan saya: Sate kambing tanpa lemak dan sop kambing, masing-masing satu mangkok.

Sebelum makan saya bertanya, “Tinggal dimana?” Dia menjawab, “Balaraja Tangerang.” “Berapa jam perjalanan ke pool?” sambung saya. Diapun menjawab, “Empat jam.” Saya terkejut, “Hah! Empat jam? Pergi pulang delapan jam. Kenapa gak nginep saja di pool?” Dia segera menjawab, “Saya harus menjaga ibu saya.”

“Menjaga ibu?” batinku. Bagaimana mungkin menjaga ibu, sampai rumah jam 23.30 berangkat kerja jam 03.30 dini hari? Untuk mengurangi rasa penasaran, kemudian saya bertanya lagi, “Bukannya sampai rumah ibu sudah tidur, berangkat ibu belum bangun?”

Dengan agak terbata dia menjawab, “Setiap saya berangkat ibu sudah bangun. Saya hanya ingin mencium tangan ibu setiap pagi sebelum berangkat kerja, sambil berdoa semoga saya bisa membahagiakan ibu.” Jawaban itu menusuk sanubariku, hanya sekedar mencium tangan ibu dan mendoakannya ia rela menempuh perjalanan delapan jam setiap hari. Sayapun ke belakang sejenak menghapus air mata yang mengalir di pipi.

Kemudian saya bertanya lagi, “Apa yang kamu lakukan untuk membahagiakan ibu?” Dengan lembut ia menjawab, “Saya sudah daftarkan umroh di kantor.”

“Maksudnya?” seru saya. Ia menjawab, “Kalau saya berprestasi dan tidak pernah mangkir kerja, saya berpeluang mendapat hadiah umroh dari kantor. Bila saya menang, hadiah umroh itu akan saya berikan kepada ibu tercinta.”

Mendengar jawaban itu saya menarik napas panjang. Dengan nada agak bergetar ia melanjutkan, “Setiap hari saya pulang agar bisa mencium tangan ibu dan mendoakannya agar ia bisa pergi umroh. Saya benar-benar ingin membahagiakan ibu saya.” Mendengar jawaban itu, haru dan malu bercampur menjadi satu. Air matapun mengalir deras di pipiku. Malu karena pengorbananku untuk ibuku kalah jauh dengan driver taxi ini.

Bila selama ini saya yang membuat peserta training berkaca-kaca. Hari ini Asep Setiawan, driver taxi itu, yang membuatku menangis tersedu. Dia telah menjadi trainer dalam kehidupanku. Ya, Asep Setiawan telah menjadi trainerku… bukan melalui kata-katanya tetapi melalui tindakannya. (Tulisan Jamil Azzaini, Saturday, 19 September 2015


Written by rinaldimunir

October 6th, 2015 at 11:25 am

Posted in Kisah Hikmah

Metafora Hidup Manusia

without comments

Manusia ini dipenuhi dengan banyak urusan dan masalah setiap waktunya. Selesai satu urusan, muncul lagi urusan baru, demikian seterusnya tidak pernah berakhir. Kehidupan kita ini pada dasarnya menyelesaikan aneka urusan dan masalah yang datang silih berganti. Hanya jika kita sudah mati maka semua urusan dan masalah itu berakhir. Orang-orang yang tidak kuat menanggung beban hidup di dunia ini memilih mengakhiri hidupnya sebelum waktunya tiba.

Ada banyak urusan hidup yang datang pada setiap diri manusia, ada urusan besar dan ada urusan kecil. Urusan besar misalnya hubungan kita dengan Tuhan, dengan keluarga, dengan orangtua, dengan anak, dengan istri. Urusan sedang misalnya berhubungan dengan pekerjaan, teman, sahabat, dan lain-lain. Urusan kecil misalnya bersenang-senang, rekreasi, hobby, makan di luar, dan lain-lain.

Kadang-kadang kita lebih mengutamakan urusan kecil dibandingkan urusan besar. Kita lebih mengutamakan pekerjaan di kantor daripada mendidik anak. Kita lebih mengutamakan mengurus hobby kita ketimbang memperhatikan keluarga. Ada banyak manusia seperti itu. Akhirnya yang terjadi adalah kekecewaan dan penyesalan.

Sebuah cerita di bawah ini yang mengandung metafora dan inspirasi saya peroleh dari sebuah sharing di media sosial. Apa yang lebih diprioritaskan di dalam hidup ini, dan bagaimana mengelolalnya? Sebuah mtafora yang bermakna bagi saya, dan mungkin juga anda.

~~~~~~~~~~~~

Seorang guru besar berdiri di depan audiensnya memulai materi kuliah dengan menaruh stoples bening dan besar diatas meja. Lalu sang guru mengisinya dengan bola tenis hingga tidak muat lagi. Beliau bertanya, sudah penuh kah?

Audiens menjawab, sudah penuh.

Lalu sang guru mengeluarkan gundu (kelereng) dari kotaknya; dituangkannya gundu-gundu tadi ke dalam stoples, gundu mengisi sela-sela bola tenis hingga tidak muat lagi. Beliau bertanya, sudah penuh kah?

Audiens menjawab, sudah penuh.

Lalu sang guru mengeluarkan pasir pantai; memasukkannya ke dalam stoples tadi. Pasir mengisi sela-sela bola dan gundu hingga tidak bisa muat lagi. Semua sepakat stoples sudah penuh dan tidak ada yg bisa dimasukkan lagi.

Tapi, terakhir sang guru menuangkan secangkir air kopi, masuk mengisi stoples yg sudah penuh bola, gundu, dan pasir itu.

Kemudian beliau bertanya. Apakah pesan yang dapat diambil dari permainan ini?

Lantas beliau menjelaskan sendiri jawabannya. Hidup kita kapasitasnya terbatas seperti stoples. Tiap kita berbeda ukuran stoplesnya.

Bola tenis adalah hal-hal besar dalam hidup kita, yakni tanggung jawab terhadap Tuhan, orangtua, istri, anak-anak serta makan, tempat tinggal, dan kesehatan.

Gundu adalah hal-hal yg penting seperti pekerjaan, kendaraan, sekolah anak, gelar sarjana, dll.

Pasir adalah yang lain-lain dalam hidup kita, seperti olah raga, nyanyi, rekreasi, Facebook, BBM, nonton film, model baju, model kendaraan dll.

Jika kita isi hidup dg mendahulukan pasir hingga penuh, maka gundu tidak bisa masuk. Berarti hidup kita hanya berisi hal-hal kecil. Hidup kita habis dengan rekreasi dan hobby, sedangkan Tuhan dan keluarga terabaikan.

Jika kita isi dengan mendahulukan bola tenis, lalu gundu dan seterusnya seperti tadi, maka hidup kita berisi lengkap, mulai dari urusan besar, penting hingga hal-hal yang menjadi pelengkap.

Lesson learned-nya adalah: kita mesti mengelola hidup secara cerdas dan bijak, tahu menempatkan mana yg perioritas dan mana yg menjadi pelengkap.

Jika tidak, hidup bukan saja tidak lengkap, bahkan bisa tidak berarti sama sekali.

Lalu sang guru bertanya, adakah kalian yang mau bertanya. Semua audiens terdiam, karena sangat mengerti apa inti pesan dalam pelajaran tadi.

Namun, tiba-tiba seseorang nyeletuk bertanya. Apa arti secangkir air kopi yg dituang tadi..?

Sang guru besar menjawab sebagai penutup. Sepenuh dan sesibuk apa pun hidup kita, jangan lupa masih bisa disempurnakan dengan bersilaturrahmi sambil minum kopi dengan tetangga, teman, sahabat yg hebat.

~~~~~~~~

Demikianlah metafora dalam mengelola prioritas hidup yang sebaiknya kita lakukan.


Written by rinaldimunir

September 6th, 2015 at 8:59 am

Sempurna itu Tidak Pernah Ada

without comments

Pepatah yang mengatakan bahwa “manusia tidak ada yang sempurna” bukanlah suatu pembelaan diri (excuse) semata. Kesempurnaan hidup itu tidak akan pernah kita dapatkan. Ada saja kurangnya, ada saja cacatnya.

Mencari jodoh yang ideal, misalnya, hanya ada di dalam cerita-cerita dongeng. Yang ideal itu tidak akan pernah ada. Ada saja kurangnya. Dapat suami yang tampan, tinggi, tajir, humoris, cerdas, pendidikannya tinggi, tetapi setelah diamati lagi ada kelemahannya, misalnya suka emosional. Dapat istri yang cantik, berkulit putih, semampai, badan proporsional, tetapi ada saja kurangnya, misalnya tidak suka memasak.

Ya, pasangan hidup kita, baik istri kita ataupun suami kita, pasti mempunyai kekurangan. Masalahnya adalah bagaimana kita bisa ikhlas menerima kekurangan itu. Pikirkanlah bahwa dibalik kekurangannya, ia mempunyai kelebihan. Jadi, kelebihan itu diciptakan Tuhan untuk menutupi kelemahannya.

Ada sebuah kisah bijaksana yang menceritakan seorang pujangga, Khalil Gibran. Begini kisahnya, seperti yang saya peroleh dari sebuah pesan di jejaring pertemanan.

Suatu hari, Khalil Gibran bertanya kepada gurunya:

“Bagaimana caranya agar kita mendapatkan sesuatu yang paling sempurna dalam hidup..?”

Sang Guru: “Berjalanlah lurus di taman bunga, lalu petiklah bunga yang paling indah menurutmu dan jangan pernah kembali ke belakang..!”.

Setelah berjalan dan sampai di ujung taman, Khalil Gibran kembali dengan tangan hampa, lalu Sang Guru bertanya: “Mengapa kamu tidak mendapatkan bunga satu pun…???”

Gibran: “Sebenarnya tadi aku sudah menemukannya, tapi aku tidak memetiknya, karena aku pikir mungkin yang di depan pasti ada yang lebih indah. Namun ketika aku sudah sampai di ujung, aku baru sadar bahwa yang aku lihat tadi adalah yang TERINDAH, dan aku pun tak bisa kembali ke belakang lagi..!”

Sambil tersenyum, Sang Guru berkata: “Ya, itulah hidup.. semakin kita mencari kesempurnaan, semakin pula kita tak akan pernah mendapatkannya, “Karena sejatinya kesempurnaan yang hakiki tidak pernah ada, yang ada hanyalah keikhlasan hati kita utk menerima kekurangan.

Tuhan menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tidak usah berkecil hati dengan kekurangan yang ada pada diri kita, tidak usah malu dengan kekurangan yang ada pada anak kita, pasti ada kelebihan yang mungkin tidak tampak sekarang, tapi muncul suatu hari nanti.


Written by rinaldimunir

April 23rd, 2015 at 8:21 am

Posted in Kisah Hikmah

Tetangga, Menjadi Musuh atau Menjadi Teman?

without comments

Hidup bertetangga itu susah-susah gampang. Karena setiap hari bertemu atau berinteraksi, maka yang namanya gesekan itu pasti ada. Tidak jarang terjadi perselisihan, cekcok, dan sebagainya. Kadang-kadang hanya masalah sepele seperti masalah anak, masalah air talang hujan, masalah air pembuangan, atau tanaman tetangga yang cabangnya masuk ke halaman rumah kita. Sepele tapi bisa meletup menjadi persoalan besar.

Namun, sebaliknya tidak jarang ditemukan pula para tetangga yang selalu hidup rukun, damai, dan guyub. Kalau mendapat tetangga yang baik, maka itu adalah berkah, tetapi jika mendapat tetangga yang selalu reseh atau tidak ramah, maka alamat tidak akan bisa akur. Akhirnya yang terjadi adalah hidup nafsi-nafsi, hidup masing-masing, tanpa mempedulikan tetangga.

Ketika saya membeli rumah (rumah seken sih), maka selain utilitas vital seperti air dan listrik, maka pertimbangan saya yang lain adalah tetangga di sebelah menyebelah rumah. Jika naga-naganya tetangga sebelah orang yang ramah, setelah melihat dan kenalan sepintas, maka saya merasa nyaman jika membeli rumah tersebut. Tetapi, jika orangnya terlihat judes, kurang ramah, dan tertutup, waaah..lebih baik saya cari yang lain saja.

Gesekan antar tetangga adalah wajar. Persoalannya adalah bagaimana menyikapi gesekan tersebut sehingga tidak menjadi persoalan besar. Apakah kita ingin tetangga menjadi teman selamanya atau menjadi musuh yang selalu perang?

Ada sebuah kisah dari Tiongkok yang saya peroleh dari persebaran tulisan di jejaring sosial. Sungguh indah kisahnya, dan sungguh bermakna hikmah yang terkandung di dalamya. Begini kisahnya setelah saya rapikan tata bahasanya (terima kasih kepada orang yang pertama kali mengetikkan kisah ini, jazakllah).

Kisah Petani dan Pemburu

Dikisahkan ada seorang petani mempunyai seorang tetangga yg berprofesi sebagai pemburu dan mempunyai anjing-anjing yg galak namun kurang terlatih. Anjing-anjing itu sering melompati pagar dan mengejar domba-domba petani. Petani itu meminta tetangganya untuk menjaga anjing-anjinya, tapi ia tidak mau peduli.

Suatu hari anjing-anjing itu melompati pagar dan menyerang beberapa domba sehingga terluka parah. Petani itu merasa tidak sabar, lalu ia memutuskan pergi ke kota untuk berkonsultasi pada seorang hakim.

Hakim itu mendengarkan cerita petani itu dan berkata; “Saya bisa saja menghukum pemburu itu, memerintahkan dia untuk merantai dan mengurung anjing-anjingnya, tapi Anda akan kehilangan seorang teman dan mendapatkan seorang musuh. Mana yang kau inginkan, teman atau musuh yang jadi tetanggamu?”

Petani itu menjawab bahwa ia lebih suka mempunyai seorang teman.

“Baik, saya akan menawari anda sebuah solusi yg mana anda harus menjaga domba-domba anda, supaya tetap aman dan ini akan membuat tetangga anda tetap sebagai teman.”

Mendengar solusi pak hakim, petani itu setuju, lalu dia pulang kembali ke desanya. Ketika sampai di rumah, petani itu segera melaksanakan solusi pak hakim. Dia mengambil tiga domba terbaiknya dan menghadiahkannya kepada tiga anak tetangganya itu, yang mana mereka menerima denga sukacita dan mulai bermain dengan domba-domba tersebut.

Untuk menjaga mainan baru anaknya, si pemburu itu mengkerangkeng anjing pemburunya. Sejak saat itu anjing-anjing itu tidak pernah mengganggu domba² pak tani.

Sebagai rasa terima kasih atas kedermawanan petani kepada anak-anaknya, pemburu itu sering membagi hasil buruan kepada petani. Sebagai balasannya, petani mengirimkan daging domba & keju buatannya. Dalam waktu singkat tetangga itu menjadi teman yang baik.

Sebuah ungkapan Tiongkok Kuno mengatakan,
“CARA TERBAIK UNTUK MENGALAHKAN & MEMPENGARUHI ORANG ADALAH DENGAN KEBAJIKAN.

Moral dari cerita ini adalah, sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Ingat sebuah peribahasa yang berbunyi: seribu teman itu masih sedikit, tetapi satu musuh itu terlalu banyak.


Written by rinaldimunir

April 17th, 2015 at 11:44 am

Posted in Kisah Hikmah