if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘iso 9126’ Category

Road to thesis : wanna change your research question?

without comments

Mulai tertarik membahasa e-learning. Awalnya, topik tesis saya arahkan ke evaluasi ERP. Namun, saya berpikir, saya ada di dunia akademik, dunia pendidikan, kenapa tidak saya ambil sesuatu yang menjadi bagian dari itu. ERP cenderung jauh dari dunia pendidikan, lebih cocok untuk industri, meskipun ada juga institusi pendidikan yang berinvestasi di ERP, namun tetap kalah jumlahnya dibandingkan perusahaan yang menggunakan software tersebut. Jadi, kenapa tidak mengalihkan topik pembahasan ke sistem e-learning?

Topik besarnya tetap software quality. Saya berusaha untuk istiqomah menekuni bidang ini. Lantas, bagaimana mengaitkan antara e-learning dengan software quality? Apakah sama dengan topik thesis yang sebelumnya dan hanya mengganti jenis software? Kalau iya, lantas model pengukuran apa yang akan dipakai? Apakah standar ISO 9126? Kalau iya, apakah model ini tidak perlu di-customize? Sudah ada atau belum evaluasi kualitas sistem e-learning yang berbasis model kualitas? Atau pertanyaan mendasar, mengapa sistem e-learning perlu dievaluasi kualitasnya? Dari perspektif siapakah nantinya evaluasi dilakukan?

Kok jadi bertambah banyak pertanyaannya?

Baik…baik..tarik nafas dulu. Kita mulai dari pertanyaan mendasar :

1. Mengapa software e-learning perlu dievaluasi?
- Setiap software perlu dievaluasi kualitasnya, bisa dari sisi proses pengembangannya ataupun dari produk jadinya. Standar evaluasi juga bermacam-macam. Umumnya menggunakan standar ISO, ISO 9001 untuk evaluasi proses dan ISO 9126 untuk produk.
- Hasil evaluasi sebuah software dapat menjadi pertimbangan untuk pemilihan, apalagi software e-learning banyak macamnya, mulai dari yang propietary hingga open source. Pemilihan yang tidak tepat dapat menimbulkan kerugian, antara lain waktu dan biaya.

2. Adakah orang yang pernah meneliti tentang evaluasi sistem e-learning?
- Ada beberapa, misalnya Lanzilotti (2006) mengembangkan  sebuah metodologi bernama eLSE untuk mengevaluasi sistem e-learning dengan penekanan pada interaksi antara user dan sistem, Abdellatief (2011) juga mengusulkan evaluasi kualitas software e-learning dari sudut pandang developer, dan Chua (2004) yang menerapkan ISO 9126 untuk mengevaluasi sistem e-learning.

3. Apa kira-kira yang belum dikerjakan oleh peneliti-peneliti di atas?
- Nah, ini dia yang agak susah dijawab. Sejauh ini, menurut saya, belum ada evaluasi yang terintegrasi. Masing-masing evaluasi belum mengerucut ke satu nilai kualitas atau belum mengkuantifikasi kualitas software, melainkan berhenti sampai ke metrik pengukuran.

4. Kira-kira lagi, bagian apa yang menarik minat saya?
- Romi Satria Wahono (http://romisatriawahono.net/2008/01/24/memilih-sistem-e-learning-berbasis-open-source/)  menyatakan bahwa memilih sistem e-learning adalah bergantung kebutuhan organisasi. Nah, ketika di suatu institusi telah mengimplementasikan sistem e-learning, bagaimana kita mengukur seberapa baik sistem tersebut telah memenuhi kebutuhan organisasi?

5. Bagaimana mengukur kualitas sebuah software dalam konteks seberapa baik software tsb memenuhi requirements?

Nah.. lebih jelas sekarang, lebih jelas dalam artian literatur apa lagi yang mesti saya cari. Jadi, kerja tak berhenti sampai di sini, perjalanan masih panjang, artinya saya harus lebih banyak bersabar dan berusaha.

Wallahu’alam


Written by indahgita

March 13th, 2012 at 9:04 am

Road to thesis : Identifikasi Topik

without comments

Menurut Rencana Perkuliahan Metodologi Penelitian, tugas yang dipresentasikan hari ini punya bobot 20%. Kecil atau besarkah itu? Kalau dilihat dari angkanya, kecil memang, hanya seperlima dari total penilaian. Tapi, jika dilihat dari usaha yang sudah saya lakukan hampir tiga minggu ini, angka 20 jadi terlihat besar. Saya jadi membayangkan effort untuk mengerjakan 80% sisanya.

Sejauh ini saya sudah mengunduh puluhan judul artikel, baik dari ScienceDirect maupun dari GoogleScholar.  Keseluruhan judul tersebut topik besarnya adalah software quality. Dari puluhan judul tersebut, sebagian besar sudah sekilas saya baca garis besarnya (udah garis besarnya aja, sekilas pula, mana ingat sekarang). Saya lakukan seleksi dan akhirnya sudah lebih mengerucut ke arah evaluasi software quality.

Ada sebuah metode yang tertarik saya ambil yaitu cara menilai kualitas software dengan pendekatan fuzzy. Alasannya, karena saya ingin ada sedikit unsur sistem informasi dan sedikit unsur teknik informatika. Objek yang menjadi bahan pengukuran adalah software ERP. Kenapa? Karena pemanfaatan ERP di industri mulai meningkat seiring dengan makin banyaknya vendor yang menawarkan software ini. Rata-rata, vendor mencantumkan keunggulan produknya dalam porsi yang lebih besar daripada kekurangannya. Alhasil, user kesulitan untuk menentukan secara objektif software ERP yang cocok untuk perusahaannya.

Adalah penting untuk mengetahui seberapa kualitas dari sebuah software ERP. Salah satu metode untuk mengukur kualitas adalah dengan menggunakan model kualitas. Model kualitas meruakan kumpulan dari atribut kualitas. Atribut-atribut kualitas ini kemudian akan diasosiasikan dengan metrik-metrik yang sesuai yang nantinya akan mengukur secara real kinerja dari software.

Model-model kualitas yang ada, seperti Mc Call’s, Boehm’s, ISO 9126, FURPS, Dromey’s, dll dirasa kurang sesuai untuk software ERP. Software ERP termasuk ke dalam kelompok software COTS (commercial off-the-shelf). Ada beberapa model kualitas yang memang khusus dibuat untuk mengevaluasi software COTS, antar lain dikembangkan oleh Bertoa (2002) dan Rawashdeh (2006), serta model kualitas yang lebih spesifik domainnya untuk ERP (Botella, 2003).

Berdasarkan uraian di atas, saya tertarik untuk mengukur kualitas software ERP di sebuah perusahaan berbasis model kualitas yang sesuai dengan pendekatan fuzzy multi-criteria. Tujuannya, saya bisa mengetahui apakah software ERP yang diimplementasikan di perusahaan tersebut berada di kriteria baik, cukup, atau kurang baik.

Wallahu’alam


Written by indahgita

March 6th, 2012 at 10:49 am