if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Indonesiaku’ Category

Tragedi Danau Toba yang Memilukan

without comments

Liburan Idul Fitri tahun ini diwarnai berita yang kecelakaan yang memilukan. Pada tanggal 18 Juni 2018 sebuah kapal penyeberangan di Danau Toba, KM Sinar Bangun, yang mengangkut lebih dari 200 orang penumpang serta puluhan kendaraan bermotor tenggelam di danau yang sangat dalam itu (450-500 meter dalamnya).  Hanya ada 18 orang penumpang selamat, tiga orang ditemukan meninggal dunia, dan ratusan lainnya masih hilang, diduga ikut tenggelam ke dasar Danau Toba bersama kapal yang nahas itu. Kapal berangkat dari Pulau Samosir yang berada di tengah danau dan hendak menyerang ke daerah Simalungun di daratan Sumatera (berita di sini). Penumpang kapal mungkin sebagian besar adalah wisatawan yang jalan-jalan ke Pulau Samosir.

Menurut penuturan penumpang yang selamat, kapal dihantam badai dan gelombang besar ketika berlayar (Baca: Video Detik-detik Menakutkan Kapal Tenggelam di Danau Toba). Tetapi faktor lain yang membuat kapal itu tenggelam adalah over kapasitas atau kelebihan muatan. Seharusnya kapal hanya boleh membawa penumpang maximum 80 orang, tetapi jumlah yang diangkut didiuga mencapai 200 orang lebih.  Di bawah ini foto penampakan KM Sinar Bangun yang saya peroleh dari media sosial, saya tidak tahu apakah ini foto sebelum keberangkatan pada harii yang nahas itu atau foto pelayaran sebelumnya. Lihatlah puluhan motor berjajar di pinggir kapal, sementara penumpang yangmembludak sampai duduk di atas kapal.

sinarbangun

Penampakan KM Sinar Bangun yang over kapasitas

Tahun lalu kami sefakultas jalan-jalan ke Danau Toba dan Pulau Samosir. Sungguh takjub saya menyaksikan Danau Toba, selain indah juga sangat-sangat luas.  Karena sangat  tidak terkira luasnya, maka ia tampak lebih mirip lautan ketimbang danau. Dengan bentang danau yang sangat luas itu, sangatlah mungkin di tengahnya terjadi badai dan gelombang besar mirip di lautan.

Danau Toba yang sangat luas tampak dari Taman Simalem di Bukit Simarjarunjung

Danau Toba dari atas Taman Simalem

Danau Toba dan Pulau Samosir di tengahnya (Sumber gambar: Wikipedia)

Kembali ke soal keecelakaan kapal  di Daau Toba tadi. Siapakah yang salah? Pada kodnisi prihatin seperti ini saling menyalahkan tidak ada gunanya. Nakhoda kapal jelas harus bertanggung jawab karena dia tidak memperhatikan faktor keselamatan kapal, penumpang diangkut sebanyak-banyaknya mumpung sedang ramai.  Kendaraan (motor) dibawa dalam jumlah banyak seperti pada foto di atas. Nakhoda juga tidak memeprhatikan faktor cuaca, tidak memantau informasi datri BMKG.

Tetapi kita juga menyayangkan kurangnya perhatian pada angkutan danau. Kita punya lembaga ASDP, Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan, namun kalau saya perhatikan ASDP lebih sering mengurusi pelayaran penyeberangan di laut seperti kapal ferry. Padahal negara kita mempunyai beberapa danau yang luas, misalnya selain Danau Toba adalah Danau Singkarak, Danau Sentani, Danau Maninjau, Danau Ranau, Danau Sempayang, dan lain-lain.  Di danau yang luas maupun kecil penyeberangan dari suatu titik ke titik lain di pinggir danau sering tidak terawasi. Kalau sudah ada kejadian, barulah kita menyadari kealpaan selama ini.

Written by rinaldimunir

June 26th, 2018 at 7:35 am

Posted in Indonesiaku

Bahaya Melakukan Rampatan (Generalisasi): Kasus Cadar

without comments

Pasca teror bom bunuh diri yang menghebohkan tanah air, berseliweran ujaran kebencian dan sikip sinis kepada kelompok tertentu, salah satunya kepada wanita pemakai cadar. Salah satu pelaku bom bunuh diri di Gereja di Surabaya adalah seorang wanita yang memakai hijab (cadar?). Oleh karena itu, banyak wanita pemakai cadar merasa tidak nyaman karena mereka dianggap sebagai orang berpaham radikal.

Sebelumnya beberapa bulan yang lalu pernah ada polemik larangan penggunaan cadar bagi mahasiswa dan dosen di beberapa universitas. Lagi-lagi karena, meskipun tidak ditulis secara eksplisit, mengasosiasikan penggunaan cadar dengan radikalisme. Kasus teror bom bunuh diri kemaren semakin menguatkan sentimen sebagian kalangan kepada wanita yang bercadar.

Menurut pemahaman saya, cadar memang bukan keharusan bagi wanita muslimah. Di dalam agama hanya disebutkan kewajiban menutup aurat bagi wanita. Aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. Jadi, menggunakan jilbab atau kerudung yang menutup aurat saja sudah cukup. Tetapi, pemahaman agama setiap orang tidak selalu sama. Sebagian kalangan di dalam Islam memiliki keyakinan bahwa wajah wanita juga termasuk aurat yang harus ditutupi. Kalangan ini mengatakan cadar termasuk keharusan.

Kita tidak memperdebatkan jika ada keyakinan orang Islam yang demikian. Silakan saja. Toh orang yang memakai cadar termasuk berbusana sopan,  jadi kenapa harus delarang. UUUD 1945 menjamin kebebasan setiap penduduk menjalankan agama dan keyakinannya, termasuk keyakinan bahwa menggunakan cadar termasuk kewajiban seorang muslimah. Istri saya snediri hanya memakai jilbab biasa, tidak bercadar. Mahasiswi saya di kampus juga kebanyakan memakai jilbab yang bermacam-macam bentuknya, jarang sekali saya melihat mahasiswi memakai cadar, tetapi kampus ITB tidak pernah melarang cadar sejauh yang saya ketahui.

Kembali tentang topik saya di atas yang mengasosiasikan cadar dengan radikalisme. Melakukuan generalisasi ini berbahaya, karena menganggap semua wanita bercadar adalah radikal, ekstrimis, atau bahkan teroris. Jika ada yang berpendapat demikian, maka ia akan malu sendiri jika melihat foto di bawah ini. Ini foto yang bersumber dari sebuah akun Twitter  . Di dalam akunnya itu ia menulis sebagai berikut:

“Kapolri menjenguk polisi korban serangan teroris di Riau; AKBP Farid. Istri AKBP Farid mengenakan cadar. Maka, stop asosiasikan cadar dengan teroris. Justru mereka adalah korban dari teroris, jangan tambah lagi penderitaan mereka karena anggapan kita.”

AKBP Farid adalah salah satu korban luka pada aksi terorisme di Pekanbaru. Pasca teror bom di Surabaya, dua hari sesudahnya juga terjadi aksi teror ke Mapolrestabes Pekanbaru. Terduga teroris menggunakan pedang dan menghantam mobilnya ke polisi. Seorang polisi meninggal dunia, dan beberapa orang luka-luka, salah satunya adalah AKBP Farid. Istri AKBP Farid adalah seorang pengguna cadar. Nah, di internal keluarga polisi sendiri ada yang memakai cadar, maka apakah mereka ini pantas dicap berpaham radikal atau teroris sedangkan suaminya sendiri seorang polisi yang berhadapan dengan teroris.

Contoh kasus di atas menunjukkan bahwa melakukan perampatan (meng-generalisasi) kepada suatu kelompok orang hanya karena ulah segelintir oknum di dalam kelompok tersebut sama sekali tidak tepat dan berbahaya. Berbahaya karena semua orang di dalam kelompok tersebut mendapat stigma negatif, yang dapat berlanjut kepada persekusi, pengusiran, bahkan pembunuhan.  Kita semua melawan terorisme, tetapi marilah kita obyektif menilai. Tidak semua orang memakai cadar adalah teroris, tetapi teroris memakai cadar bisa jadi.

Written by rinaldimunir

May 22nd, 2018 at 2:53 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Membajak Agama di Surabaya dan Racun Orangtua kepada Anak-anaknya

without comments

Memasuki awal bulan Ramadhan tahun ini terasa sumbing. Aksi terorisme yang sangat keji terjadi di Surabaya membuyarkan keceriaan menyambut Ramadhan. Lima aksi bom bunuh diri dalam dua hari menyasar orang-orang yang tidak bersalah. Tiga gereja menjadi sasaran kekejian teroris, lalu malam harinya bom meledak di sebuah rusun, dan keesokan paginya polisi di Polrestabes menjadi sasaran berikutnya. Puluhan jiwa tak bersalah menjadi korban terorisme.

Saya pribadi mengutuk aksi biadab itu. Melakukan aksi bunuh diri saja dilarang agama, apalagi membunuh orang lain yang tidak bersalah. Jika pelaku bom bunuh diri mengklaim bahwa aksinya termasuk jihad dan matinya adalah syahid, maka menurut saya hal itu salah besar. Indonesia tidak berada dalam kondisi perang, maka tidak ada musuh yang harus dimusnahkan. Mengapa pula sasarannya gereja dan jemaatnya. Apa kesalahan jemaat gereja itu sehingga mereka dibom?

Saya bisa memahami perasaan saudara-saudara sebangsa kita kaum kristiani. Mereka tentu trauma menjalankan ibadah, karena selalu diliputi rasa was-was. Aksi terorisme kemarin salah satu tujuiannya mungkin telah tercapai, yaitu membuat hubungan antar agama menjadi saling curiga atau bahkan saling membenci.

Sekali lagi aksi terorisme tersebut telah mencoreng wajah Islam yang damai karena pelaku terorisme di Surabaya kebetulan beragama Islam.  Sebagian kaum non-muslim yang selama ini memiliki persepsi negatif tentang agama Islam, karena  diidentikkan dengan aksi kekerasan di berbagai wilayah di muka bumi, semakin menambah persepsi buruk mereka tentang agama Islam. Memang tidak semua kaum non-muslim mempunyai persepsi demikian, karena sebagian mereka tetap beranggapan pelaku kekerasan tersebut hanyalah oknum yang berkedok agama dan tidak mewakili mayoritas penganut agama tersebut. Radikalisme ada pada penganut agama manapun.

Teroris telah membajak ajaran agama dengan melakukan penafsiran secara sempit.  Mereka bilang ini jihad, tetapi sesungguhnya perbuatan mereka adalah kejahatan yang mengerikan. Mereka bilang  ini mati syahid, tetapi sesungguhnya ini adalah mati konyol. Tidak ada ajaran Islam yang menyuruh membunuh orang yang tidak bersalah atau menghancurakn rumah ibadah agama lain. Nabi saja melarang membunuh anak, anak, wanita, dan manula, baik dalam situasi perang maupun bukan. Dalam masa pemerintahan Nabi di Madinah, keberadaan kaum Yahudi dan Nasrani dilindungi, termasuk rumah ibadah mereka.

Satu hal yang membuat miris dari aksi terorisme di Surabaya kemarin adalah pelakunya adalah tiga keluarga. Lima kali peristiwa bom di Surabaya melibatkan anak-anak dan istri  teroris. Saya bergidik mendengarnya. Sungguh, sampai saat ini saya antara percaya dan tidak percaya anak-anak tersebut melakukan aksi bom bunuh diri.  Saya melihat foto ibu dan keempat anaknya itu di akun fesbuk ibu mereka. Terlihat anak-anak itu masih dalam membutuhkan dunia bermain, sorot matanya mendambakan kasih sayang.  Anak-anak yang masih polos, lugu, dan mempunyai masa depan yang masih panjang diajak orangtuanya untuk melakukan bom bunuh diri. Membunuh orang lain yang tak berdosa dan membunuh darah dagingnya sendiri. Alangkah bejat dan biadabnya kelakuan teroris seperti itu, mencuci otak istri dan anaknya. Alangkah biadabnya si ayah, melilitkan bom ke pinggang anaknya, lalu menyuruh anaknya meledakkan diri di gereja. Oh…

Sampai sekarang saya masih syok kenapa ayah yang biadab ini mengajak anak-anak serta istrinya melakukan aksi bom bunuh diri.  Ajaran apa yang didoktrinasi kepada anak istrinya sehingga mereka tega melakukan aksi teror pembunuhan. Sungguh bejat ayah seperti itu, dan sungguh biadab orang yang mendoktrin mereka menjadi demikian (Baca: Peluk Tangis Anak-Anak Dita Maghrib Sebelum Aksi Bom). Saya tidak sanggup menuliskannya lagi.  Saya juga mempunyai anak-anak seusia mereka. Saya pulang dan saya cium anak-anak saya di rumah. Oh….

Written by rinaldimunir

May 15th, 2018 at 4:15 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

TKI vs TKA

without comments

Hari ini hari buruh. Persoalan tenaga kerja adalah persoalan yang tidak pernah selesai di negara kita. Hari buruh tahun ini diwarnai isu banjir Tenaga Kerja Asing (TKA) ke Indonesia. TKA, terutama dari Tiongkok, hampir setiap hari berdatangan ke daerah-daerah tertentu di tanah air. Ombudsman melaporkan salah satu temuannya bahwa penerbangan Jakarta – Kendari 70%-80% penumpangnya adalah TKA.  Banyak dari TKA itu yang bekerja sebagai buruh kasar hingga supir. Gaji mereka pun tiga kali lipat dari gaji tenaga kerja lokal.

Apakah kita perlu merasa khawatir dengan banjirnya TKA ke Indonesia? Jawabannya bergantung pada jenis TKA itu. Selama TKA yang kerja di Indonesia adalah TKA terdidik atau mempunyai kualifikasi pendidikan formal, maka tidak ada masalah, hal itu sebagai efek globalisasi. Sama seperti para alumni perguruan tinggi Indonesia yang bekerja di luar negeri, why not, boleh-boleh saja.

Nah, kalau TKA yang bekerja adalah pekerja di sektor informal (buruh kasar, tukang, dupir dll) barulah hal itu menjadi masalah karena di sini stok tenaga kerja seperti itu melimpah, banyak yang mengganggur, dan sulit mencari pekerjaan.

Pemerintah, dan sebagian orang yang asal bunyi, selalu mebandingkan masalah TKA dengan jutaan TKI yang bekerja di luar negeri, misalnya di Hongkong, Taiwan, Arab Saudi, Malaysia, Singapura, dan lain-lain. Kenapa kita protes keberadaan TKA tetapi TKI kita bekerja di negara lain tidak ada yang protes. Menurut saya ini perbandingan yang tidak relevan. Kondisinya berbeda. Negara-negara tujuan TKI tersebut memang membutuhkan TKI  sektor informal seperti itu. Para TKI umumnya dari sektor informal seperti menjadi PRT, buruh perkebunan, supir, tukang, dll.  Penduduk negara tujuan TKI sudah makmur, mereka enggan bekerja untuk pekerjaan kasar, atau penduduknya sedikit. Mereka mengimpor tenaga kerja dari luar untuk pekerjaan informal seperti di atas.

Negara kita tidak membutuhkan TKA untuk pekerjaan kasar dengan alasan yang saya sebutkan di atas. Pemerintah perlu membenahi lagi berbagai penyimpangan masuknya TKA yang merebut pekerjaan yang dapat dilakukan oleh masyarakat kita sendiri. Jika tidak dibenahi, keberadaan TKA di sektor buruh kasar hal ini dapat menjadi bom waktu yang dapat meledak di kemudian hari.

Selamat Hari Buruh!

Written by rinaldimunir

May 1st, 2018 at 8:08 am

Posted in Indonesiaku

#2019(Tidak)GantiPresiden

without comments

Tahun 2019 sudah dekat. Pada tahun 2019 nanti sejarah Pilpres 2014 akan kembali terulang. Bukan sejarah yang dikenang dengan baik, tetapi sejarah yang membuat bangsa ini terbelah dua akibat perbedaan dalam memilih Capres. Keterbelahan itu tidak langsung hilang setelah presiden baru telah dilantik, tetapi terus abadi hingga kini.

Kini, setahun sebelum Pemilu legislatif dan Pilpres tahun 2019 , suasana panas di jagad maya sudah mulai keluar aromanya. Jagad maya dipanaskan dengan kemunculan hastag #2019GantiPresiden. Gerakan ini  muncul sebagai antitesa gerakan pendukung Jokowi yang mempopulerkan slogan Salam 2 Periode dan sudah pasti menginginkan Jokowi menjadi presiden untuk periode kedua. Menurut Bawaslu, kedua gerakan tersebut legal dan tidak bertentangan dengan demokrasi, jadi tidak ada yang perlu dilarang atau ditangkap. Di lapangan, terjadi perang kaos antara kedua pendukung. Pihak yang paling diuntungkan dari perbedaan kedua kubu ini tentu saja pengusaha kaos ?

ganti

Perang kaos antara penolak dan pendukung Jokowi

Sejauh ini Capres yang sudah pasti maju lagi adalah petahana Jokowi. Jokowi seolah-olah tiada punya lawan sebanding. Prabowo yang digadang-gadang untuk maju lagi belum mendeklarasikan dirinya menjadi Capres. Akankah Prabowo akan maju lagi? Semuanya masih misteri.

Gerakan #2019GantiPresiden berasal dari kelompok masyarakat yang tidak menginginkan Jokowi kembali menjadi presiden.  Meskipun siapa calon presiden pengganti juga belum diketahui namanya, tetapi gerakan ini cukup masif di dunia maya. Dari berita dan tulisan yang saya baca di Internet, saya menyimpulkan  gerakan #2019GantiPresiden muncul karena beberapa faktor.

Faktor pertama adalah perasaan diperlakukan tidak adil. Pendukung hastag #2019GantiPresiden sebagian besar adalah dari kelompok Islam. Mereka menilai di era Presiden Jokowi luar biasa sekali pelecehan terhadap agama (Islam) dan kriminalisasi pada ulama. Para pengkritik Jokowi yang melakukan ujaran kebencian atau penyebaran hoax di media sosial begitu cepat diproses secara hukum oleh polisi, tetapi sebaliknya para pendukung Jokowi yang melakukan pelecehan agama dan melakukan ujaran kebencian kepada ulama seperti tidak tersentuh hukum, misalnya pelecehan agama yang dilakukan oleh Ade Armando, Abu Janda, dan terakhir Sukmawati lain-lain. Kasus-kasus pelecehan agama dan ujaran kebencian yang dilakukan oleh mereka proses hukumnya berjalan sangat lamban dan tidak ada kabar kelanjutannya. Polisi dinilai menjadi alat kekuasaan untuk menangkap orang-orang yang berseberangan dengan Pemerintah.

Faktor kedua adalah  tentang janji. Mereka menilai Jokowi ingkar dengan janji-janjinya semasa kampanye, misalnya berjanji tidak akan mengimpor pangan, berjanji tidak akan menaikkan harga BBM, berjanji tidak bagi-bagi kursi, berjanji membeli lagi Indosat dan lain-lain (baca: Rekapitulasi Janji-janji Jokowi).  Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya.

Saya rasa itulah dua faktor utama yang saya tangkap dari orang-orang yang tidak menginginkan Jokowi menjadi presiden lagi. Faktor tambahan seperti  isu hutang Pemerintah sebesar 4000 T  mungkin untuk menambah kesan seram Pemerintahan Jokowi saja, dan saya pikir ini bukan kesalahan Jokowi semata tetapi juga warisan dari Pemerintahan sebelumnya.

Ada aksi tentu ada reaksi. Gerakan #2019GantiPresiden menimbulkan perlawanan dari kelompok pro Jokowi. Mereka juga membuat hastag seperti #2019TetapPresidenJokowi, #2019KamiPuasLanjutkan, dan lain-lain. Kelompok pro Jokowi menilai Jokowi adalah presiden yang merakyat. Jokowi dinilai berhasil membangun banyak infrastruktur di berbagai daerah di tanah air, karena itu Jokowi pantas menjabat presiden untuk periode kedua.

Menurut saya, kedua gerakan yang berlawanan ini akan memanaskan jagad maya dan mungkin saja situasi bangsa secara fisik setahun ke depan. Saya tidak tahu apakah tahun 2019 akan ganti presiden atau tidak ganti presiden. Yang bisa saya prediksi adalah bangsa ini akan terbelah dua lagi karena berbeda pilihan. Sejarah mengulang dirinya sendiri.

Written by rinaldimunir

April 24th, 2018 at 1:56 pm

Posted in Indonesiaku

Kapan Hukuman Pembunuhan adalah Dibunuh?

without comments

Judul tulisan saya di atas mungkin menyeramkan. Menyebut kata “dibunuh” saja sudah membuat mulut bergetar, apalagi bila tangan melakukannya. Tapi, jika membaca berita di bawah ini, masihkah kita bertoleransi kepada pembunuh?

“Jangan bunuh saya. Kalau mau ambil uang, mobil dan harta ambillah. Tetapi tolong jangan bunuh saya. Saya masih ada anak dan istri,” kata Tyas menirukan perkataan terakhir korban saat dalam kondisi dijerat.

Tyas adalah seorang supir Go-Car di Palembang. Dia mendapat order dari empat pemuda, salah seorang diantaranya adalah mahasiswa. Keempatnya sudah merencanakan untuk menggasak mobil korban. Ketika sedang membawa keempat pemuda tadi, lehernya dijerat dengan tali dari belakang. Dia masih sempat melawan, tapi jeratan tali sangatlah erat. Saat sudah tidak berdaya lagi, dia memohon belas kasihan kepada keempat penjahat tadi agar jangan membunuhnya. Silakan ambil mobil dan uangnya, tapi jangan bunuh dirinya, sebab dia masih punya anak dan istri, katanya,  seperti penggalan kalimat yang saya tulis di atas. Tetapi ucapan memohon belas kasihan dari dirinya tidak mampu meluluhkan hati kempat penjahat tadi. Nyawanya lepas dari badannya, lalu tubuhnya dibuang ke rawa. Jenazahnya yang sudah membusuk baru ditemukan 40 hari kemudian. Baca beritanya di sini:  Saat Sopir Go-Car Dihabisi Tyas Dkk: Jangan Bunuh Saya.

Astaghfirullah. Sungguh sadis. Insya Allah korban mati dalam keaadaan syahid karena ia mati ketika sedang mencari nafkah buat anak istrinya. Pembunuhnya sudah membuat seorang anak menjadi yatim dan istri menjadi janda.

Apa hukuman yang pantas bagi keempat pembunuh tadi? Jawabnya adalah hukuman mati. Mereka harus mendapat balasan yang setimpal. Nyawa harus dibalas dengan nyawa. Kalau sudah begitu, saya rindu dengan hukum Islam, sebab di dalam hukum Islam pembunuh harus mendapat hukuman yang sama, yaitu harus dimatikan juga.

Sayangnya hukum di negara kita bukan hukum Islam, meskipun mayoritas rakyatnya beragama Islam. Negara kita memakai hukum peninggalan Belanda. Di dalam hukum positif yang berlaku sekarang, hukuman bagi pelaku pembunuhan paling tinggi adalah hukuman mati, tetapi itu paling tinggi. Kenyataannya tidaklah demikian, hukuman bagi pelaku pembunuhan biasanya beberapa tahun sampai belasan tahun. Hanya kasus pembunuhan yang sangat berat saja yang mendapat hukuman mati, itupun tidak langsung dilaksanakan, tetapi ditunda beberapa tahun hingga puluhan. Pelaku pembunuhan mendekam dulu di dalam penjara. Eksekusi sering ditunda karena berbagai alasan, lalu yang terjadilah adalah sikap mendua dan akhirnya menjadi pro kontra di tengah masyarakat.

Sebagian orang, termasuk pegiat HAM, beranggapan hukuman mati melanggar HAM. Janganlah menambah korban lagi dengan melakukan hukuman mati, katanya. Mereka tidak memikirkan HAM orang yang mati dan keluarganya. Bagaimana jika pembunuhan itu terjadi pada dirinya atau keluarganya? Apakah mereka akan memikirkan HAM juga?

Pada kasus-kasus pembunuhan yang berlangsung di pengadilan, sering kita baca atau lihat di TV  keluarga korban tidak kuasa menahan amarahnya melihat pelaku pembunuhan dihadirkan di ruang pengadilan. Mereka merangsek maju untuk melakukan pembalasan yang setimpal  kepada pelaku. Kalau perlu pelaku pembunuhan itu dibunuh saat itu juga. Jika pelampiasan amarah itu tidak berhasil dilakukan, keluarga korban berteriak-teriak kepada hakim untuk menjatuhkan hukuman mati kepada pelaku.

Yang paling merasakan duka kehilangan akibat pembunuhan adalah keluarga korban. Kita yang bukan bagian dari keluarga itu mungkin bersikap biasa saja karena kita tidak merasakan kepedihan mereka. Nyawa keluarga mereka yang menjadi korban tidak bisa diganti lagi. Rasa kasihan kepada pelaku, kasihan jika dihukum mati, tidak mampu menggantikan nyawa korban.

Hukum Islam tentang pembunuhan sungguh adil. Pelaku pembunuhan tidak langsung dijatuhi hukuman mati. Mereka menjalani sidang pengadilan terlebih dahulu. Jika dari proses pengadilan memang terbukti pelaku melakukan pembunuhan, maka hukumannya adalah hukuman mati (entah dengan cara ditembak, dipancung, atau dihukum gantung). Tujuannya adalah untuk membuat efek jera. Namun, ada kemungkinan pelaku bisa lolos dari jerat hukuman mati. Jika keluarga korban memaafkan pelaku, maka pupuslah hukuman mati. Pelaku pembunuhan cukup membayar diyat (atau uang denda) kepada keluarga korban yang besarnya ditentukan oleh keluarga korban.

Kembali ke kasus pembunuhan supir Go-Car di atas, dapatkah anda mengerti kenapa hukuman bagi pelaku pembunuh Tyas seharusnya juga dihukum mati dengan mengesampingkan perasaan belas kasihan?

Semoga hukum Islam tentang pembunuhan diadopsi menjadi hukum positif di negara kita supaya memenuhi rasa keadilan.

Written by rinaldimunir

April 9th, 2018 at 5:12 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Mengapa terpikir bumi itu datar?

without comments

Dalam sebuah acara keagamaan, seorang ustad bercerita di depan jamaah bahwa dia sudah tidak percaya lagi bumi itu bulat seperti bola. Dia menyitir beberapa ayat di dalam Al-quran untuk mendukung argumentasinya bumi itu. Allah mengatakan dalam salah sebuah ayat yang artinya begini: “Dan bagaimana bumi itu dihamparkan” (Al-Ghasyiyah (88): 20), atau  “Dan bumi itu Kami hamparkan (farasynaha), maka sebaik-baik yang menghamparkan (adalah Kami)” Adz-Dzariyat (51): 48) . Masih banyak lagi kata-kata “menghamparkan” disebut di dalam Al-Quran (Baca: Benarkah Al Qur’an Menyatakan Bentuk Bumi Datar?). Kata “menghamparkan” mengesankan tempat yang datar, oleh karena itu tidaklah mungkin bumi itu bulat, demikian kata Pak Ustad. Beliau meneruskan lagi kata-katanya, jadi, selama ini kita telah dibohong oleh ilmuwan xxxxx dan xxxxxx (xxxxx yang dia sebut itu adalah nama dua agama).

Saya yang mendengarkan kajian Pak Ustad hanya bisa manggut-manggut saja.  Saya tidak ingin mendebatnya karena tidak ingin mempermalukannya di depan jamaah. Menurut saya, Pak Ustad ini sudah termakan kampanye komunitas flat earth (bumi datar) yaitu kelompok orang yang menolak pendapat bahwa bumi itu bulat dan lebih mempercayai bumi itu datar.  Sungguh saya sedih mendengarnya, apalagi kelompok ini sering menggunakan dalil-dalil keagamaan untuk mendukung argumentasinya. Bukti-bukti imiah dari sains dan teknologi tidak mampu menggoyahkan keyakinan mereka. Mindset mereka tidak bisa lagi diubah, tetap bergeming dengan keyakinannya. Padahal  ijma’ (kesepakatan) para ulama sudah meyakini bahwa bumi itu bulat (baca ini: Apakah Bumi Bulat Bola Atau Datar Menurut Pandangan Syariat?).

Dogma bumi itu datar telah “memakan” banyak “korban”, termasuk orang yang berpendidikan tinggi sekalipun.  Logika ilmu dijungkirbalikkan, ayat suci dimaknai secara letterlux. Padahal kata “menghamparkan” itu untuk memaknai bumi itu adalah tempat yang sangat luas, sangat luas dibandingkan diri manusia yang kecil. Karena luasnya itu, maka bumi tampak seperti hamparan.

Andaikan kaum yang mengklaim bumi itu datar mau lebih berpikir lebih jauh lagi, maka sesungguhnya bumi itu bulat sudah terbukti dengan jelas. Pergantian siang dan malam pada bagian bumi adalah contohnya. Keadaan siang terjadi karena bagian bumi disinari matahari, sebaliknya pada waktu yang bersamaan bagian bumi yang tidak mendapat sinar matahari mengalami gelap yang kita sebut malam. Andaikan bumi itu datar, pastilah seluruh bagian bumi mendapat sinar matahari sehingga tidak ada bagian bumi yang mengalami kegelapan. Ukuran matahari jauh lebih besar dari ukuran bumi, ribuan kali besarnya. Maka, tidak mungkin ada bagian bumi yang tidak mendapat sinar matahari jika bumi itu dianggap datar. Adanya bagian bumi yang mengalami siang dan bagian bumi lain mengalami  malam hari pada waktu yang sama hanya mungkin jika bumi itu bulat, tidak mungkin terjadi kalau bumi itu datar. Misalnya di Indonesia saat ini siang hari, sementara di Eropa dan Amerika pada saat yang sama sedang malam hari.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (QS. ‘Ali `Imran [3] : 190)

Jika bumi itu memang datar lalu ada bagian bumi yang mengalami siang dan saat yang sama ada bagian bumi yang mengalami malam, maka hal itu hanya mungkin jika matahari itu sangat kecil ukurannya dibandingkan dengan bumi. Karena kecilnya, maka saat matahari berada pada sebuah sisi, maka  pada sisi yang lain bagian bumi itu mengalami malam. Menganggap matahari berukuran jauh lebih kecil dari bumi jelas tidak masuk akal.

Saat ini, di tengah polarisasi bangsa yang terbelah akibat Pilpres dan Pilkada, istilah “kaum bumi datar” mengalami pergeseran makna. Istilah “kaum bumi datar” sering disematkan warganet kepada kelompok Islam yang kontra Ahok atau kepada orang-orang yang selalu mengkritik Pemerintah (Jokowi). Orang-orang yang kontra dengan Ahok atau Jokowi disebut “kaum bumi datar”  oleh para pendukung Jokowi/Ahok. Saya tidak tahu mengapa mereka disebut kaum bumi datar hanya karena memiliki pendapat  yang berseberangan dengan Pemerintah saat ini. Asal berseberangan, maka mereka dipukul rata sebaga kaum bumi datar.  Mendukung ustad A disebut kaum bumi datar, mendukung partai B disebut kaum bumi datar, mendukung tokoh ini atau tokoh itu disebut kaum bumi datar. Selama berbeda dengan Jokowi (atau Ahok) maka disebut kaum bumi datar.  Begitulah simplifikasinya.

Ditilik dari sejarah kelahirannya, kelompok flat earth sama sekali tidak ada hubungannya dengan agama. Kelompok flat earth  lebih dulu muncul dari dunia barat. Silakan ketik “flat earth society” di Google, maka kita akan menemukan situs komunitas flat earth di luar negeri, misalnya  https://theflatearthsociety.org/home/. Dikutip dari laman Wikpedia,

Flat Earth Society (juga dikenal sebagai International Flat Earth Society atau International Flat Earth Research Society) adalah sebuah organisasi yang memiliki keyakinan bahwa bumi berbentuk datar, bertentangan dengan fakta-fakta ilmiah yang menunjukkan bahwa bumi itu bulat. Organisasi modernnya didirikan oleh seorang pria asal Inggris, Samuel Shenton pada 1956, dan kemudian dipimpin oleh Charles K. Johnson, yang menjadikan rumahnya di Lancaster, California, sebagai basis organisasi. Organisasi ini tidak lagi aktif semenjak kematian Johnson pada 2001, namun baru-baru ini organisasi Flat Earth Society dimunculkan kembali oleh presiden barunya, Daniel Shenton.

Karena itu, mengaitkan istilah kaum bumi datar kepada suatu agama atau kelompok agama jelaslah tindakan yang kebablasan bahkan keterlaluan. Menghubungkan kaum bumi datar dengan polarisasi politik juga adalah tindakan yang tidak semestinyqa dan hanya memperkeruh suasana saja.

Written by rinaldimunir

March 23rd, 2018 at 5:17 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Lingkungan Berat Anak Zaman Sekarang

without comments

Dulu orangtua sering khawatir dengan anak perempuannya, khawatir dengan pergaulan bebas yang dapat merusak masa depannya. Anak perempuan dijaga betul bergaul dengan laki-laki khawatir, khawatir kenapa-kenapa, misalnya pelecehan seksual, perkosaan, hamil diluar nikah, dsb. Berbagai aturan pun dibuat orangtua untuk menjaga keselamatan anak perempuan mereka, misalnya tidak boleh pulang malam, tidak boleh berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan mahram, dan sederet wanti-wanti agar anak perempuan mereka tidak mudah tergoda bujuk rayu lelaki. Pokoknya cerewetlah kepada anak perempuan dibandingkan kepada anak laki-laki.  Sementara anak laki-laki diberi kebebasan di luar rumah.

Tetapi pada zaman sekarang mempunyai anak laki-laki juga sama khawatirnya dengan anak perempuan. Banyak kejahatan seksual mengintai anak laki-laki, baik yang masih anak-anak maupun yang sudah remaja. Kaum yang mengalami penyimpangan seksual mencari mangsa tidak hanya anak perempuan di bawah umur, tetapi juga anak laki-laki. Pedofilia namanya, pelakunya disebut pedofili. Orang dewasa  mencari anak laki-laki untuk memuaskan hasratnya. Kejahatan pedofilia sudah sering kita baca beritanya di media massa. Anak-anak yang menjadi korban pedofilia akan mengalami trauma berat, dan bila dewasa mereka kemungkinan akan menjadi pedofili juga atau penyuka sesama jenis.

Baru-baru ini di Bandung kita digegerkan dengan peristiwa pembuatan video porno yang melibatkan anak-anak. Beberapa anak laki-laki yang berusia 9 sampai 11 tahun disuruh melakukan adegan mesum dengan perempuan dewasa, adegan itu direkam menjadi sebuah video, lalu video tersebut dijual kepada pemesannya (kaum pedofili) dari luar ngeri. Sungguh mengerikan dan menjijikkan, dan yang lebih bejad lagi ibu dari anak itu sendiri yang mengatur adegan tersebut di kamar hotel dan memerintahkan anaknya untuk patuh mengikuti arahan sutradara video.

Jika pada anak laki-laki kejahatan yang mengincar adalah pedofilia, maka pada remaja  atau anak muda laki-laki ancaman yang sangat mengkhawatrikan akhir-akhir ini adalah perilaku LGBT, khususnya perilaku homoseksual (gay dan lesbianisme). Menurut yang saya baca di media, kaum LGBT saat ini berkembang sedemikian pesat, jumlahnya semakin hari semakin bertambah saja. LGBT merupakan perilaku yang dapat menular. LGBT menyasar remaja dan mahasiswa yang masih labil pola pikirnya. Sudah banyak kasus anak-anak muda yang normal berubah menjadi homoseksual karena diajak masuk atau terjebak ke dalam  pergaulan kaum LGBT. Media sosial sangat berperan menyuburkan pertumbuhan LGBT. Coba saja ketikkan kata “gay bandung ” , “gay depok”, “gay bekasi” atau nama lokasi lainnya pada akun Facebook anda, maka akan muncul banyak  sekali grup kaum homoseksual dengan jumlah anggota fantastis, ribuan jumlahnya. Bulan lalu polisi menggerebek pesta seks kaum gay di sebuah villa di Cianjur, dan yang mengagetkan salah satu pesertanya adalah remaja yang masih SMA.

Anak saya yang ingin ikut fitness di sebuah tempat gym saya larang, karena saya sering mendengar pusat kebugaran disinyalir tempat berkumpulnya LGBT. Tentu tidak semua pusat kebugaran tubuh demikian, tetapi sudah bukan rahasia lagi di tempat mengolah kebugaran tubuh itu sering dijadikan ajang perkenalan kaum gay. Gay menyukai pria yang berotot dengan badan six-pack. Pria-pria yang bertubuh six-pack terlihat macho, tetapi sebagian diantaranya ternyata penyuka sesama jenis. Mereka mungkin semula normal tetapi terjerat menjadi gay karena salah pergaulan.

Semua agama apapun menolak perilaku LGBT. LGBT bertentangan dengan ajaran agama. Indonesia saat ini sudah darurat LGBT karena pertumbuhannya sudah mengkhawatirkan. Tapi tampaknya para pemimpin kita masih belum aware dengan keresahan ini. Perbuatan LGBT belum menjadi tindak pidana. Jika kepedulian tentang LGBT ini tidak ditindaklanjuti oleh para pemimpin kita, maka jangan kaget jika nanti  makin banyak anak-anak kita nanti memilki perilaku seksual yang menyimpang.

Marilah kita jaga anak-anak kita dari pergaulan yang dapat menjerumuskan mereka kepada perbuatan yang dilarang agama. Lingkungan pergaulan anak laki-laki maupun perempuan saat ini semakin berat saja tantangannya. Semoga Allah SWT menyelamatkan bangsa kita dari perbuatan yang dilarang agama.

Written by rinaldimunir

January 22nd, 2018 at 4:52 pm

PilGub Jabar 2018, Siapa yang Akan Menang?

without comments

Hiruk pikuk tahun politik 2018 sudah dimulai pada awal Januari. Tahun 2018 berlangsung iven Pilkada, termasuk di Jawa Barat, propinsi tempat tinggalku kini. Setelah melalui proses tarik ulur yang cukup dramatis, akhirnya PilGub Jabar akan diikuti oleh empat pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur. Keempat pasang calon tersebut adalah Deddy Mizwar – Dedi Mulyadi yang diusung Partai Demokrat dan Golkar, Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum yang diusung oleh Nasdem, PPP, PKB, dan Hanura, Sudradjat – Akhmad Syaikhu yang diusung Gerindra, PKS, dan PAN, serta Tubagus Hasanuddin – Anton Charliyan yang diusung oleh PDIP.

Empat pasang calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat

Sebenarnya jabatan Gubernur tidaklah terlalu menarik, karena negara kita menganut asas otonomi daerah. Kewenangan di daerah dipegang oleh Bupati/Walikota, Gubernur bertindak sebagai koordinator saja. Bupati/Walikotalah yang membuat kebijakan di daerahnya, bukan Gubernur, sehingga para bupati dan walikota sering disebut sebagai “raja kecil” yang berkuasa di daerahnya.

Tetapi, mengapa PilGub tahun 2018 ini sangat menarik perhatian? Tak lain dan tak bukan karena tahun berikutnya, 2019, adalah tahun politik panas. Pada tahun 2019 rakyat Indonesia melakukan pemilihan umum untuk memilih anggota legislatif dan presiden. Nah, posisi Presiden Jokowi tahun 2019 belum aman kalau ia ingin menjadi presiden lagi, sebab hasil-hasil jajak pendapat beberapa lembaga survey menyebutkan elektablitasnya masih di bawah 50%. Meskipun kepuasan rakyat terhadap kinerjanya tinggi, tetapi tidak sebanding dengan elektabilitas yang belum mencapi 50% itu.

Nah, disinilah letak strategisnya Pilkada tahun 2018. Partai-partai politik berlomba-lomba menempatkan calon terbaiknya dalam pemilihan bupati, walikota, dan gubernur sebagai ajang pemanasan  menjelang Pemilu 2019. Partai-partai politik itu berusaha memenangkan calonnya menjadi penguasa di daerah, karena akan memudahkan tujuan mereka mencapai kekuasaan yang lebih tinggi. Jika berhasil memenangkan Pilkada, maka bupati, walikota, atau gubernur yang mereka jagokan akan “dimanfaatkan” untuk memenangkan partainya dalam Pemilu 2019. Dana-dana politik untuk memenangkan Pemilu 2019 lebih mudah diperoleh karena bupati, walikota, dan gubernur itu memiliki akses ke birokrasi atau pengusaha di daerahnya. Itu sudah menjadi rahasia umum di negeri ini bahwa birokrasi digunakan penguasa daerah untuk tujuan politiknya.

PilGub Jabar menyedot perhatian karena Jawa Barat adalah propinsi dengan penduduk paling besar, yaitu 47 juta. Jawa Barat merupakan lumbung suara bagi banyak partai politik. Tetapi, di Jawa Barat ini Jokowi tumbang pada Pilpres 2014, dikalahkan oleh Prabowo dengan persentasi 60% : 40%. Maka, siapapun yang berhasil menguasai Jawa Barat akan memudahkan memenangkan persaingan dalam Pilpres 2019 nanti. Di sinilah letak pentingnya PilGub Jabar 2018. Maka, tidak heran Ridwan Kamil yang diusung salah satunya oleh Partai Nasdem diikat dengan perjanjian harus mensukseskan kemenangan Jokowi pada Pilpres 2019 nanti.

Lalu, siapakah calon gubernur yang akan dipilih oleh rakyat Jawa Barat pada Pilgub nanti? Di atas kertas adalah Ridwan Kamil. Ridwan Kamil selalu unggul dalam berbagai jajak pendapat. Peluangnya paling besar untuk memenangkan PilGub. Tetapi, banyak yang beranggapan Ridwan Kamil baru menang “di udara” (di dunia maya), yaitu di wilayah perkotaan yang melek Internet dan selalu update informasi, sementara di darat (wilayah pedesaan) belum tentu (kurang terlalu dikenal).

Tipikal orang Sunda (Jawa Barat) adalah memilih pemimpin yang memenuhi aspek nyunda, nyantri, dan nyakola. Dilihat dari ketiga aspek tersebut semua pasangan calon memiliki kelebihan dan kekurangan. Nyunda, semua calon orang suku Sunda, jadi tidak ada masalah (meskipun Deddy Mizwar orang Sunda tapi lebih banyak tinggal di Jakarta).   Nyakola (berpendidikan), semuanya merupakan intelektual dan berpendidikan.

yantri artinya taat agama (Islam). Tiga pasangan calon (Ridwan Kamil – Uu, Sudradjat – Akhmad Syaikhu, Deddy Mizwar – Dedi Mulyadi) memiliki rekam jejak yang dapat dinilai aspek kesantriannya. Untuk Dedi Mulyadi ada rekam jejak yang diingat bagi pemilih muslim yang kritis, yaitu kiprahnya selama menjadi Bupati Purwakarta mengadakan iven yang dianggap menjurus syirik dan membangun patung-patung di kota Purwakarta yang ditentang ulama dan ormas Islam.  Sementara pasangan Tb. Hasanuddin – Anton Charliyan jarang terdengar kiprahnya dalam soal keislaman. Faktor PDIP sebagai partai yang kurang dekat dengan Islam mungkin akan membuat jarak bagi pemilih yang menimbang aspek ini sebagai kriteria memilih.  Apalagi, Anton Charliyan ketika menjadi Kapolda Jabar pernah meninggalkan catatan yang kurang mengenakkan yaitu kejadian bentrokan antara ormas binaannya dengan sebuah ormas Islam.

Ridwan Kamil bukannya tanpa ada masalah juga. Awal-awal pencalonannya oleh Partai Nasdem menimbulkan pro dan kontra. Ridwan Kamil menerima pinangan Nasdem pada saat yang tidak tepat, yaitu saat suasana kebatinan pemilih muslim masih diliputi kemarahan oleh kasus Ahok. Kebetulan Nasdem adalah salah satu pengusung Ahok pada Pilkada DKI. Banyak pengagum dan fans Ridwan Kamil memilih meninggalkannya,  istilahnya unfriend. Saya tidak tahu apakah saat ini “rasa luka” pemilih yang unfriend itu masih berbekas atau sudah mulai melupakan. Wallahu alam.

Untuk pasangan Sudradjat – Akhamad Syaikhu, ini wajah baru yang kurang dikenal di Jawa Barat. Orang memilih karena kenal terlebih dahulu, kalau tidak dikenal mungkin kurang dilirik. Perlu waktu dan kerja keras mesin partai pengusung untuk memperkenalkannya ke penduduk Jawa Barat, padahal waktu yang tersisa hanya enam bulan.  Apakah berhasil, waktu yang akan menjawabnya.

Warga Jawa Barat bebas menentukan pilihannya sesuai preferensinya. Mau pilih figur atau melihat partai pengusung? Memilih calon dengan melihat rekam jejak? Yang jelas faktor SARA tidak akan terjadi pada PilGub Jabar nanti. Mengenai siapa yang akan menang, masih samar-samar.


Written by rinaldimunir

January 8th, 2018 at 5:33 pm

Saya Indonesia, Saya Pancasila, tapi…

without comments

Beberapa bulan terakhir ini saya seringkali membaca slogan orang-orang di media sosial dengan tulisan seperti pada judul di atas. Saya Indonesia, atau Saya Pancasila. Ada juga yang ditambah dengan kata-kata, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI harga mati. Di satu sisi ini slogan ini tujuannya baik, sebab ingin menegaskan bahwa dirinya adalah orang Indonesia tulen yang mencintai bangsa dan negaranya serta meneguhkan Pancasila sebagai falsafah negaranya.

Namun, di sisi lain slogan tersebut seringkali ditujukan untuk menyindir (atau malah menyerang) orang atau kelompok orang yang berbeda pandangan. Dengan menyatakan dirinya Saya Indonesia, Saya Pancasila, maka  orang atau anak bangsa lain yang berbeda pandangannya dengannya dianggap tidak Pancasila, anti bhinneka tunggal ika, anti NKRI, intoleran, dan sebagainya. Dengan gampangnya mereka merasa memiliki otoritas untuk menilai orang lain tidak lebih Pancasila dibandingkan dirinya atau kelompoknya.

Klaim-klaim semacam ini  terjadi pasca Pilpres 2014, lalu diikuti Pilkada DKI 2017. Seperti kita ketahui Pilpres 2014 telah membuat bangsa ini terbelah. Pasca Pilpres polarisasi ini bukannya semakin lebur, tetapi semakin tajam, apalagi ditambah dengan Pilkada DKI 2017 yang merupakan Pilkada terpanas sepanjang sejarah. Sejak kedua pemilu tersebut maka muncullah berbagai demo besar, Berita hoax, berita adu domba, ujaran kebencian, fitnah, dan sebagainya merajalela, yang membuat bangsa Indonesia ini berada di jurang perpecahan. Sejak itulah kata-kata seperti intoleran, radikal, anti kebhinnekaan, anti NKRI, anti Pancasila, dan sebagainya berseliweran di dunia maya maupun di dunia nyata. Maka, untuk membedakan diri atau kelompoknya dengan orang atau kelompok lain yang berbeda pandangan, maka dimunculkanlah slogan-slogan seperti di atas.

Kondisi ini tentu saja sangat menyedihkan dan berbahaya. Menyedihkan  karena menimbulkan permusuhan sesama anak bangsa. Berbahaya karena setiap orang atau kelompok memiliki tafsir sepihak untuk menilai orang lain atau kelompok lain anti Pancasila, anti bhinneka tunggal ika, anti NKRI, dan sebagainya. Kita semua sudah sepakat Pancasila sudah final menjadi dasar negara, tidak ada yang perlu dipersoalkan lagi. Tetapi, jika merasa berhak untuk menilai orang lain tidak lebih Pancasila dibandingkan dirinya itu saya kira sangat fatal.

Baru-baru ini seorang ustad mengalami persekusi ketika akan berceramah di Bali. Dia ditolak dan diancam untuk diusir  oleh beberapa ormas di sana karena dianggap radikal, anti NKRI, anti Pancasila. Sang ustad dipaksa untuk berikrar, mencium bendera merah putih, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan sebagainya. Padahal ormas-ormas itu tidak punya legalitas untuk memaksa orang lain berikrar, apalagi menuduh seseorang anti NKRI, anti Pancasila, dan sebaginya. Hal yang sama juga terjadi pada beberapa ulama yang ditolak ditolak berceramah oleh sebuah ormas keagamaan di Jawa Timur dan Jawa Barat hanya karena ulama-ulama itu dianggap anti bhinneka tunggal ika, anti NKRI, dan sebagainya.

Ormas-ormas yang mengaku paling Pancasila dan paling NKRI itu sebenarnya menunjukkan sikap anti Pancasila. Menolak orang lain mengunjungi suatu daerah di tanah air adalah melanggar undang-undang, karena setiap warga negara Indonesia berhak pergi ke mana saja di seluruh wilayah tanah air. Melarang orang lain melakukan dakwah atau beribadah, apapun agamanya, melanggar sila pertama Pancasila dan Pasal 29 UUD 1945. Melakukan persekusi (penghakiman secara sepihak) kepada orang lain adalah perbuatan melanggar undang-undang.

Bisanya persekusi dimulai dari provokasi seseorang di akun media sosialnya ( FB, Twitter, Instagram, dll) lalu postingan tersebut menyebar secara masif dan cepat di media sosial. Sentimen keagamaan atau kedaerahan membuat orang awam yang tidak tahu apa-apa jadi ikut-ikutan ikut terpancing dan tersulut emosi. Dengan cepat massa berkumpul di suatu tempat, dan tanpa tahu siapa yang memberi komando mereka bergerak melakukan aksi persekusi terhadap orang yang disasar. Senjata tajam pun ikut berkeliaran tetapi aparat penegak hukum seperti tidak berdaya untuk bertindak karena kalah jumlah dengan massa.

Yang saya khawatirkan dan takutkan adalah aksi persekusi itu dapat menimbulkan reaksi balasan di tempat lain. Aksi balas dendam. Itu sudah terjadi pada beberapa kasus di tanah air. Menurutku, Pasca Pilpres 2014 dan Pasca Pilkada DKI bangsa Indonesia saat ini adalah bangsa yang sakit. Gagal move on dan selalu memendam bara api kebencian kepada orang yang sudah mengalahkannya. Menyedihkan!


Written by rinaldimunir

December 13th, 2017 at 5:26 pm

Posted in Indonesiaku