if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Indonesiaku’ Category

Hoaks WhatsApp dan Ciri-cirinya

without comments

Berbahagialah orang yang tidak punya media sosial seperti Facebook, Instagram, twitter, atau aplikasi pesan instan seperti WhatsApp, Telegram, MeChat, atau yang sejenis itulah. Mereka tidak terpapar gambar-gambar atau tulisan hoaks yang setiap hari masuk ke ponsel mereka, ke kamar mereka, ke ruang-ruang privasi mereka. Selama Pemilu dan Pilpres  2019 kemarin saja misalnya, tidak terhitung tulisan dan gambar hoaks wara-wiri berseliweran masuk ke dalam ponsel kita. Parahnya lagi, masyarakat kita mudah percaya dan mudah terhasut oleh gambar dan tulisan palsu itu.

Umat manusia pada zaman digital sekarang suka mem-posting sesuatu  secara cepat ke medsos tanpa mikir, tanpa cek dan ricek terlebih dahulu apakah posting-an tersebut benar atau palsu.  Terdorong rasa peduli atau sekedar berbagi informasi atau mungkin  ingin menjadi orang yang pertama mengabarkannya ke kolega, maka sekali tekan tombol, share deh. Sebagian orang yang membacanya langsung  percaya saja lalu menyebarkannya  lagi ke media sosial lain. Viral deh. Kalau benar sih nggak apa-apa, tapi kalau hoaks, coba hitung berapa banyak orang yang sudah percaya sesuatu yang bohong diyakini kebenarannya.

WhatsApp (WA) merupakan aplikasi pesan instan yang paling banyak digunakan  oleh warganet di dunia, sekaligus media yang paling banyak digunakan untuk mengirim posting-an hoaks. Setiap pengguna WA umumnya memiliki grup percakapan lebih dari satu. Grup teman sekolah, grup teman kerja, grup keluarga, macam-macamlah. Di RT saya warga kami juga memiliki grup WA untuk berbagi kabar maupun sekedar sharing, jualan barang, atau diskusi apa saja. Nah, sangat sering warga mendapat posting-an dari seseorang atau dari grup lain lalu tanpa memverifikasi kebenarannya langsung share ke grup RT.

Dari pengalaman saya membaca posting-an hoaks, maka saya membuat kesimpulan sederhana bahwa posting-an hoaks yang menyebar via WA dapat dikenali ciri-cirinya  adalah salah satu  (dua atau tiga juga boleh) dari berikut ini:

  1.  Mencatut nama orang lain, nama tokoh, atau nama pejabat. Tujuannya adalah untuk menguatkan bahwa posting-an tersebut dibenarkan atau berasal dari orang tersebut.
  2. Isinya provokatif untuk menimbulkan ketakutan, kepanikan, keresahan, dan rasa was-was.
  3.  Isinya mengandung unsur kebencian kepada suatu etnis, kelompok, agama, dan golongan. Tujuannya adalah untuk mengadu domba antar masyarakat.
  4.  Tulisan-tulisan tentang amal keagamaan yang sangat ringan namun memperoleh ganjaran pahala yang sangat besar, didukung oleh hadis-hadis palsu.
  5. Tulisan tentang manfaat tumbuhan tertentu dapat mengobati penyakit parah seperti kanker, stroke, diabetes, dll, padahal belum teruji secara medis.
  6. Nah, ciri utama adalah pada bagian akhir posting-an terdapat tulisan share, bagikan, sebarkan, viralkan, dan sejenisnya. Tujuannya adalah untuk membuat posting-an tersebut menjadi viral.

Cara lain untuk memverifikasi apakah posting-an di WA adalah hoaks  adalah dengan meng-copy paste tulisan tersebut ke Google, lalu bacalah penjelasan beberapa situs anti-hoaks yang memverifikasi kebenarannya. Cara ini yang sering saya gunakan untuk memverifikasi kebenaran posting-an di WA.

Di bawah ini saya copas beberapa posting-an yang menyebar via WA yang merupakan tulisan hoaks. Pada bagian akhir tulisan biasanya ada kata-kata sebarkan, share, bagikan, viralkan, dsb (saya cetak tebal).

Posting-an ke-1:

TV One baru saja mengeluarkan berita bahwa hacker sudah mulai masuk WA, mereka menempatkan video seks/porno, atau permintaan dana dg berbagai alasan memakai nama anda pada teman2 anda, tanpa anda mengetahuinya.
Anda tidak dapat melihatnya, namun orang lain bisa melihatnya se-olah2 anda yg mempublikasikannya. Jadi, jika anda menerima suatu video atau permintaan dana (barangkali atas nama saya), maka itu bukan saya, mohon konfirmasikan ke saya!!!
Ternyata hal ini sdh terjadi bbrp kasus dlm bbrp group wa. Waspadalah, jangan sampai terjadi pd akun anda. Terimakasih.

NB: Sebarkan berita ini, demi keamanan anda.
Terimakasih.

Tulisan di atas adalah hoaks. Mulanya ditulis Metro TV lalu diganti TV One.

[HOAX] “Metro TV Baru Saja Mengeluarkan Berita Bahwa Hacker Sudah Mulai Masuk Facebook, BBM dan WA”

Ini penjelasan lainnya tentang posting di atas adalah hoaks:
http://cekhoaxataufakta.blogspot.com/2018/02/hacker-sudah-membobol-wa.html?m=1

Posting-an ke-2:

TOLONG DIBACA DAN DISEBARKAN INFORMASI PENTING INI?
“Copy paste dari Bpk. Agus Susanto – Sat Narkoba Polres Kab. Tangerang”

Yang Punya
ANAK gadis,
ADIK perempuan,
KAKAK perempuan
atau ANDA sendiri dan
semua yang ?PEREMPUAN…..!!!?

informasi penting …..

Telah beredar sebuah obat baru yg bernama ?”Progesterex”?
Obat ini adalah pil kecil yg digunakan untuk mensterilisasi.
Obat ini sekarang dipakai oleh para pemerkosa pada :
~Perayaan pesta
~Pub, Discotique
~Perayaan Reuni dsbnya untuk memperkosa & mensterilisasi korbannya.

Progesterex dasarnya dijual di beberapa dokter hewan & toko binatang,& digunakan untuk hewan besar.
Obat tersebut biasanya digunakan bersamaan dengan Rohypnol (Roofies) semacam obat bius.
Pembeliannya harus menggunakan resep dokter.
Rohypnol ini semacam ?effervescent tablet? yang cepat larut didalam air.
Pelaku hanya tinggal memasukan ?Rohypnol & Progesterex? kedalam minuman & Korban tidak akan pernah ingat apa yang telah terjadi pada malam/pagi/siang/ sore itu & Progesterex akan membuat si wanitaTIDAK AKAN HAMIL
Hingga si pemerkosa akan tetap bebas berkeliaran.
Tetapi yang perlu diperhatikan, ?EFFECT PROGESTEREX GAK SEMENTARA?
Progesterex dibuat untuk mensterilkan kuda, jerapah & binatang besar lainnya.
Setiap wanita yang telah meminumnya ?TIDAK AKAN PERNAH MENGANDUNG LAGI SEUMUR HIDUPNYA.?

Kalau bisa dishare sekarang juga!!!
?”PEDULI PEREMPUAN”?

Harap Di Share juga ke teman2 dan saudara yang lain karena sangat bermanfaat !!!

NB : ?Jangan Pernah menerima minuman dari laki laki yg tidak dikenal dgn alasan ingin berkenalan, atau orang yg tdk dikenal dgn baik.?

Semoga bermanfaat.
Informasi dari :
?Mabes POLRI,? ?DepKes dan DPP YPKMI??( *Yayasan? Peduli Kesehatan Masyarakat Indonesia )*

Posting-an di atas mencatut nama pejabat di Polri (Bpk. Agus Susanto – Sat Narkoba Polres Kab. Tangerang).  Penjelasan bahwa tulisan itu hoaks dapat dibaca pada berita di Detik.com ini: https://m.detik.com/news/berita/d-3454922/broadcast-soal-ngerinya-progesterex-obat-yang-dipakai-pemerkosa.

Posting-an ke-3:

Mulai Malam ini (Ba’da Maghrib sudah masuk 1 Shafar. Rasullullah Bersabda “Barang Siapa Yang Memberitahukan Berita 1 Safar Kepada Yang Lain, Maka Haram Api Neraka Baginya”. Dan berdzikirlah mengingat ??????? … “Subhanallah, Walhamdulillah, Walaa ilaaha ilallah, Allahu-Akbar, laa haula wala quwata illa billahil aliyil adzim” Sebarkan!, Anda akan membuat beribu-ribu manusia berzikir kepada Allah SWT ???????? ???????? ???????? ??? ????? ????????????? … Jangan putus di tangan anda. Sebarkanlah, tak sampai pun 1 minit.. ??????? maha besar 

atau dalam redaksional yang lain:

Tepat Jam 12 Malam , datangnya 1 Safar. Rasullullah Bersabda “Barang Siapa Yang Memberitahukan Berita 1 Safar Kepada Yang Lain, Maka Haram Api Neraka Baginya”. Dan tolong baca sebentar aja kita berdzikir mengingat ??????? … “Subhanallah, Walhamdulillah, Walaa ilaaha ilallah, Allahu-Akbar, laa haula wala quwata illa billahil aliyil adzim” Sebarkan!, Anda akan membuat beribu-ribu manusia berzikir kepada Allah SWT ???????? ???????? ???????? ??? ????? ?????????????

Tulisan di atas hoax. Zikirnya sih benar dan baik kita lakukan, tetapi hadisnya palsu. Baca penjelasannya di sini:
http://www.konsultasislam.com/2015/11/tentang-bulan-safar.html?m=1
Pertanyaan:
Mohon penjelasan hadist dr pesan berantai dibawah ini ustadz, Syukron.

Tepat Jam 12 Malam , datangnya 1 Safar. Rasullullah Bersabda “Barang Siapa Yang Memberitahukan Berita 1 Safar Kepada Yang Lain, Maka Haram Api Neraka Baginya”. Dan tolong baca sebentar aja kita berdzikir mengingat ??????? … “Subhanallah, Walhamdulillah, Walaa ilaaha ilallah, Allahu-Akbar, laa haula wala quwata illa billahil aliyil adzim” Sebarkan!, Anda akan membuat beribu-ribu manusia berzikir kepada Allah SWT ???????? ???????? ???????? ??? ????? ?????????????

Jawaban :
Palsu akhi, tidak asa asalnya. Jangan turut menyebarkan dan penyebarnya / pengirimnya ke antum jika mampu diingatkan.

???? ????? ?????? ???????? ?????? ????? ??????? ?????? ?????? ?????? ??????????????

“Siapa yang meriwayatkan dariku suatu hadits yang ia menduga bahwa itu dusta, maka dia adalah salah seorang dari dua pendusta (karena meriwayatkannya).” (HR. Muslim)

Kalau menduga saja sudah dikatakan pendusta, apalagi yang sudah mengetahui ?

Dan ancaman berdusta atas nama Rasulullah/ menyebarkan hadits palsu :

??? ??????????? ???????? ????????? ???? ???????? ??????? ?????????? ????????.

“Janganlah kamu berdusta atas (nama)ku, karena sesungguhnya barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka pasti ia masuk Neraka.” (HR. Bukhari)

Naudzubillahi min dzalika. Wallahu a’lam

Posting-an ke-4:

Daftar kurma israel :

Jangan Dibeli

Dr. Anang Saifuddin, MA
Dosen UIN Antasari Bjm

Inilah daftar merk kurma import asal Israel,negara ini membunuhi kaum Muslimin :

Sehubungan dengan persiapan untuk Ramadhan, Harap diperhatikan dengan seksama agar JANGAN BELI KURMA dari Israeli, yang dijual dengan nama-nama merk sbb:

1.Bomaja
2.Carmel Agrexco
3.Delilah
4.Desert Diamond
5.Hadiklaim
6.Jordan Plains
7.Jordan River
8.King Solomon
9.Paradise Dates
10.Rapunzel
11.Red Sea
12.Royal Treasure
13.Shams
14.Tamara

BANTU SEBARKAN
Syukron

Postingan ini hoax pak. Kurma tsb dari Palestina, bukan dari Israel.

[BENAR] Kurma Impor Produksi Israel

Posting-an ke-5:

PENTING !!!!!
KHUSUS PENGGEMAR BAKSO !!

Seharusnya Dibuat Perda, Bahwa Kios yg jual Baso harus menyediakan KUNYIT dan TUSUK GIGI…
Yg lalai menyediakannya akan di tindak tegas dan atau di umumkan “diragukan Kejujurannya”

Berani ??

????

Buat penggemar BAKSO !!!
BAWALAH : Tusuk Gigi & Kunyit ke- mana2.

?Dua siswi SMAN 3 Semarang, Dayu Laras Wening dan Luthfia Adila telah menemukan cara mendeteksi BORAX dgn cara yg sgt mudah & praktis, yaitu hanya dgn TUSUK GIGI.

?Tusukkan “Tusuk Gigi” ke KUNYIT terlebih dahulu, lalu tusukkan pd makanan yg akan diuji selama 5 detik, maka akan kelihatan apakah makanan tsb mengandung BORAX atau Tidak, krn KUNYIT akan bereaksi terhadap bahan kimia.

?Bila ada kandungan boraxnya, maka tusuk gigi tsb akan berwarna MERAH
Mereka menamakan temuannya dgn SIBODEX (Stick of Borax Detector).

?Temuan mrk ini berhasil menyabet medali emas pd International Exhibition for Young Inventors (IEYI) 2014, sebuah ajang kompetisi inovasi anak…

Selamat menikmati BAKSO bebas dari BORAX ?

* Mohon dishare biar yg lain juga tahu bahkan mungkin menjadi inspirasi kita 

Ini adalah berita hoax, baca penjelasannya di sini:
https://stophoax.id/blog/post/salah-tusuk-gigi-dan-kunyit-pendeteksi-borax-2250 

“Pesan berantai ini ada kemungkinan benar isinya, terutama yang menyangkut penggunaan kunyit sebagai pendeteksi borax. Namun pesan yang mengatasnamakan siswi SMA 3 Semarang itu tidak benar atau hoax karena mereka belum mempublikasikan temuanya secara luas. Soal kunyit yang bisa mendeteksi borax, Dila mengaku tidak tahu apakah hal itu benar atau tidak. Selengkapnya di bagian PENJELASAN.”

Posting-an ke-6:

Maaf sebelumnya, ini kabar dari FB.
Khabar dr Ust Nazer (Thoha Travel) bersama Jemaahnya di Medina 3 jam yg lalu
Melalui FB nya
Salam untuk semua kaum muslim.
Palestine dikepung oleh pasukan Israel.
Israel akan melakukan serangan darat ke Gaza (spt juga diberitakan RCTI pkl 16.00)..

Pemimpin Hizbullah, Syed Hasan Nasrallah minta semua muslim utk dg ikhlas membaca surah al-Baqarah ayat 26-27 dan surah Yunus ayat 85,86,88 malam ini…

Tolong sebarkan forward kpd seluruh umat Islam.. bhw saudara seagama telah dikepung & keadaan amat dahsyat.
Itu Saja JIHAD kita…. minta tolong dgn sangat kpd sahabat2 sebarkan seluas mungkin….Labbaika Allahuma Labbaika .. minta tolong dgn sangat kpd sahabat2 sebarkan seluas mungkin…maaf untuk yg non muslim Indonesia

Yahudi akan menyerang darat mlm ini Kasihan saudara kita umat Islam, kita berdoa utk keselamatan atas rencana Israel utk menyerang dlm masa 24jam.

La illaha illa Anta Subhanaka Inni Kuntum Minazzaalimin.

Please foward to all of our friends…
even if U’ll not pray, just FORWARD

Astaghfirullah!
3x
*Hasbunallahu wa ni’imal wakil.
*Hasbunallahu wa ni’imal wakil.
*Hasbunallahu wa ni’imal wakil.
*Hasbunallahu wa ni’imal wakil.
*Hasbunallahu wa ni’imal wakil.
*Hasbunallahu wa ni’imal wakil.
*Hasbunallahu wa ni’imal wakil (7x)

…walaupun tak baca doa, forwardkan message ini
Selesai membaca tolong forward, krn dlm bbrp menit, berjuta org akan membaca…

Subhanallah. ???

Tulisan di atas hoax dan sudah beredar sejak bertahun-tahun. Silakan copas tulisan ini di Google untuk menemukan penjelasannya.

Posting-an ke-7:

Restoran Sederhana sedang merayakan ulang tahun ke-15 di Indonesia dan untuk waktu yang terbatas, kami akan membagikan makanan gratis di salah satu restoran kami! Saya sudah menerima undangan untuk makan gratis!
https://sharen.win?s=sederhana 

Tulisan di atas hoaks. Sebelumnya juga ada pesan berantai makanan gratis di KFC dalam rangka HUT ke 15.
https://turnbackhoax.id/2019/10/08/salah-voucher-makan-gratis-promo-hut-ke-15-kfc/
Bisa dicek restoran Sederhana sudah berusia lebih dari 15 tahun.

Demikianlah sedikit dari sejumlah posting-an hoaks yang bertebaran di tengah masyarakat dan menyebar via WA. Entah apa tujuan orang yang pertama kali membuat pesan tersebut. Meresahkan, membuat ketakutan, menanamkan kebencian, atau mengadu domba. Mungkin karena ada rasa iri dan dengki atau apa. Wallahu alam.

Written by rinaldimunir

January 20th, 2020 at 10:11 am

Posted in Indonesiaku

Dimana Rasa Empati? (dan Sakit Hati)

without comments

Banjir besar dan sangat parah di Jadebotabek pada awal tahun 2020 meninggalkan cerita sedih dan pilu. Ribuan rumah tenggelam oleh banjir yang tingginya sampai ke atap rumah, bahkan ada yang tingginya sampai delapan meter. Mirip tsunami kecil saja karena aliran air banjir sangat deras akibat bobolnya tanggul.  Puluhan orang meninggal dunia karena tenggelam, hanyut, atau tertimpa tanah longsor. Mobil-mobil hanyut. Tentu tidak terhitung kerugian harta benda akibat banjir hebat ini. Banjir sangat masif dengan cakupan wilayah yang luas. Benar-benar banjir yang paling besar dalam sejarah di kawasan itu.

Seorang teman yang rumahnya (di Jatiasih Bekasi) digulung banjir tampak terpukul. Banjir setinggi atap rumah merendam semua barang di dalam rumahnya. Malangnya lagi, saat kejadian banjir tidak ada seorangpun di rumah, semua anggota keluarga sedang berada di luar kota. Kasur, perabot, TV, kulkas, sepeda motor, mobil di garasi, dan segala rupa barang rusak semua. Semua harta benda yang telah didapatkan selama bertahun-tahun musnah seketika. Yang paling dia sedihkan adalah kertas-kertas berharga iku hancur. Ya ijazah, sertifikat rumah, dan surat-surat berharga lainnya.

Saya menelpon dia tanggal 3 Januari pagi kemarin. Ketika saya telepon dia sedang membersihkan rumah dan semua barang yang berlumpur dengan air. Bayangkan, kemana pula mencari air bersih untuk menyemprot lumpur-lumpur itu. Pompa air pun rusak/korslet akibat terendam. Kalau tidak segera disemprot air dikhawatirkan lumpur-lumpur itu mengeras sehingga semakin sukar dibersihkan.

Saat itu yang pertama dibersihkannya dan coba dihidupkannya adalah sepeda motor agar bisa digunakan. Kalau mobil di garasi pastilah tidak akan bisa dihidupkan lagi, rusaklah. Tanpa kendaraan  tentu mobilitasnya sangat terbatas, sulit pergi ke mana-mana untuk membeli berbagai keperluan.

Saya dapat merasakan hancur dan sedih hatinya. Namun, di dunia netizen yang “kejam” yang terjadi bukannya memberikan rasa empati kepada korban, tetapi malah sibuk mencari-cari kesalahan dan membuli orang lain. Bukannya membantu para korban yang ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, tetapi membuat kegaduhan di dunia maya dengan komentar-komentar yang menyerang seorang pejabat. Sungguh terlalu.

banjir

Banjir kali ini sekaligus memperlihatkan bahwa efek Pilakda dan DKI dan Pilpres masih belum selesai rupanya, duel antara cebong dan kampret masih berlanjut di dunia maya. Padahal banjir  tidak hanya terjadi di Jakarta, namun juga di daerah Jawa Barat bagian barat dan Banten, tetapi semua kesalahan ditimpakan kepada Gubernur DKI Jakarta.  Tanpa bermaksud membela siapapun, banyak orang tidak bisa berlaku adil dalam hal ini.  Bukannya berempati kepada para korban, mereka malah lebih mengedepankan rasa kebencian dan sakit hati kepada gubernur DKI yang sekarang.

Ya begitulah politik, peristiwa bencana pun dipolitisasi dan dijadikan ajang balas dendam. Kekalahan akibat Pilkada DKI masih menyimpan rasa sakit hati bagi pendukung yang kalah. Rasa sakit hati bercampur dengan hasad dan dengki, kebaikan orang tidak dilihat, yang tampak hanya keburukan saja.

Membanding-bandingkan pemimpin yang sekarang dengan pemimpin sebelumnya dalam situasi prihatin seperti sekarang tidaklah pantas.  Tiap orang harus diperlakukan secara proporsional. Anak-anak kita saja harus diperlakukan adil, mereka pasti tidak suka kalau dibanding-bandingkan, bukan?  Semua pemimpin pasti sudah berupaya yang terbaik mereka lakukan untuk rakyatnya, cuma tidak bisa sempurna 100% karena kesempurnaan hanya milik Allah.

Written by rinaldimunir

January 6th, 2020 at 2:19 pm

Posted in Indonesiaku

Toleransi yang Hanya Kosmetik

without comments

Beberapa tahun belakangan ini saya melihat fenomena toleransi yang rancu setiap hari Natal. Acara misa Natal di dalam gereja, yang sejatinya merupakan rangkaian ibadah saudara-saudara kita kaum kristiani,  juga diisi oleh partisipan kaum santri yang memainkan rebana, melantunkan shalawat, atau menari sufi (Baca Natal di Semarang, Diiringi Rebana hingga Gotong Royong Warga Muslim, Tari Sufi Iringi Misa Natal di Kota Malang, Pengurus Gereja: Terimakasih Telah Membangun Toleransi). Meskipun rebana atau tarian sufi tidak punya agama, namun keduanya sudah terlanjur identik dengan tradisi keislaman.

Dikutip dari siniSuara rebana mengiringi perarakan misa di permulaan rangkaian acara. Pemuda Muslim bersarung dan berkopiah berjalan bersama-sama anak-anak altar memasuki gereja. Setelah sampai di gereja, musik pun berganti dengan lagu gerejawi.

Sebelum misa ditutup, tarian sufi khas Turki kembali hadir bersama dengan lantunan kidung Syi’ir Tanpo Waton. Syi’ir Tanpo Waton adalah rangkaian bacaan istigfar (bacaan minta ampunan), shalawat Nabi Muhammad SAW, dan syair berbahasa Jawa. ”Sungguh luar bisa. Ini kado natal terindah bagi kami,” kata Anton, umat setempat.

Saya tidak habis pikir dengan mereka yang mencampuradukkan kedua hal ini (kekristenan dan keislaman) dengan dalih toleransi. Apakah untuk mendukung keragaman atau toleransi antar umat beragama kita sampai perlu mengikuti acara ibadah agama orang lain? Apakah pada tempatnya melantunkan shalawat di dalam geraja?  Bukankah hal-hal seperti ini berlebihan dan dapat menimbulkan kesalahpahaman?

Sebaliknya saya tidak pernah mendengar ketika pada hari raya Iedul  Fitri kaum kristiani datang ke dalam masjid atau lapangan sholat Ied menyanyikan paduan suara gerejawi, atau ikut pula melantunkan takbir bersama-sama sebagai wujud toleransi.

Saya khawatir toleransi yang dipraktekkan oleh sekelompok orang dengan menghadiri acara misa Natal itu hanya kosmetik belaka, baru sebatas kulit. Itu  adalah toleransi yang rancu. Menurut saya toleransi beragama yang sesungguhnya adalah membiarkan saudara-saudara kita yang berbeda agama menjalankan ibadahnya dengan tenang dan nyaman. Biarkanlah saudara-saudara kita kaum kristiani dapat melaksanakan ibadah misa Natal dengan penuh kedamaian, memastikan ibadah mereka tidak terganggu, tanpa kita perlu ikut campur pula di dalam rangkaian ibadah mereka.

Membantu kelancaran lalu lintas di depan gereja, membantu mengatur perparkiran kendaraan jemaat yang akan ibadah, tidak menyetel musik keras-keras saat ibadah misa berlangsung, merupakan contoh-contoh sikap yang menunjukkan toleransi beragama.

Begitu juga sebaliknya toleransi yang dilakukan dari kaum kristiani ke kaum muslimin dengan memberi rasa aman dan nyaman kaum muslim melakukan ibadahnya. Tepa salira, bertenggang rasa, dan berempati, itulah makna hakiki toleransi.

Saya yakin saudara-saudara kita kaum kristiani tidak memerlukan kehadiran kita dalam pelaksanaan ibadah Natal. Sebaliknya kaum muslim juga tidak memerlukan kehadiran kaum kristiani dalam sholat Idul Fitri. Biarlah masing-masing umat beragama menjalankan ibadahnya dengan tenang dan damai tanpa gangguan. Itu sudah bertoleransi namanya.

Semoga kita semua bangsa Indonesia tetap hidup rukun dan damai tanpa memandang perbedaan suku dan agama. Toleransi menyangkut hubungan horizontal sesama umat manusia, sedangkan ibadah mengatur hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta. Janganlah keduanya dicampuradukkan. Insya Allah, hidup ini akan indah jika kita dapat
menghargai perbedaan tanpa kita perlu masuk ke dalamnya.

Written by rinaldimunir

December 31st, 2019 at 8:28 am

Posted in Indonesiaku

Ketika Menjadi Sholeh Menimbulkan Kecurigaan

without comments

Sudah puluhan tahun saya hidup di tanah air tercinta, baru pada zaman pemerintahan sekarang, kira-kira 5 tahun ke belakanglah, saya merasa banyak hal menjadi terbalik-balik. Yang benar dianggap salah, yang salah dianggap benar. Banyak contohnya.

Memakai gamis, memakai jilbab panjang, menumbuhkan jenggot, atau memakai celana semata kaki (dikenal dengan nama celana cingkrang) akan dicap sebagai orang radikal, khilafah, HTI, fundamentalis, PKS, bahkan teroris. Dengan gampang saja label itu disematkan kepada mereka oleh kelompok pembenci. Waspada kepada paham radikalisme boleh-boleh saja, tetapi menggeneralisasi semua orang yang mengikuti sunnah Rasul adalah radikal adalah sikap kebablasan.

Pada kasus revisi UU KPK misalnya, buzzer-buzzer pendukung Pemerintah melancarkan opini bahwa KPK adalah sarang kelompok radikal. Tudingan itu dibuat karena di sana ada penyidik Novel Baswedan yang sekarang suka memakai celana cingkrang, juga karena setiap pekan ada pengajian buat karyawan yang muslim ( sementara kebaktian bagi karyawan kristiani tidak dipermasalahkan).

Fenomena lain yang membuat saya prihatin adalah seringnya ustad dihadang di bandara, pengajian dibubarkan oleh sekelompok orang atau ormas hanya karena ustad  yang akan mengisi pengajian dicap sebagai ustad radikal, khilafah, HTI, dan sebagainya. Ustad Felix Siaw adalah ustad yang paling sering dihadang dan pengajiannya dibubarkan, disamping ustad-ustad lain. Meskipun saya tidak kenal Felix Siaw, tidak selalu sepaham dengan Felix Siaw, tidak pernah mendengarkan ceramahnya, namun membubarkan pengajian atau menghadang ulama dalam kacamata saya adalah perbuatan yang tidak menghargai demokrasi. Tidak Pancasilais, anti Pancasila malah, sebab Pancasila menjunjung tinggi demokrasi, menghargai kebebasan berpendapat, dan menjamin setiap orang menjalankan agama dan kepercayaannya.

Parahnya, ormas yang membubarkan pengajian sama-sama ormas Islam juga. Lha, kok?  Aneh, bukan? Sama-sama mengucapkan syahadat, sama-sama mempunyai kitab Al-Quran, Nabinya sama, Tuhannya sama, tetapi kok sangat beringas kepada saudaranya. Dialog tidak dikedepankan, tetapi kekerasan fisik dan verbal lebih diutamakan.

Kemarin saya membaca berita Ustad Abdul Somad (UAS) ditolak oleh UGM mengisi diskusi di masjid kampus dengan alasan yang terkesan mengada-ada. Menurut kabar karena tekanan sebagian alumninya. Sebagai kampus yang menyediakan mimbar akademis dan tempat beradu gagasan, penolakan itu tidaklah pada tempatnya. Apa yang ditakutkan dengan ceramah seorang ustad? Penolakan terhadap UAS tidak hanya sekali ini saja, tetapi sudah beberapa kali di beberapa tempat karena alasan dia ustad radikal. Benarkah?

Saya menduga, penyebab berbagai tudingan radikal, fundamentalis, khilafah, membubarkan pengajian, menghadang ulama, menolak ustad, dan sebagainya, benang merahnya sama: mereka dianggap oposan, tidak pro rezim, mereka tidak berada di kubu 01. Politis sekali, bukan? Karena anda tidak berada di kubu kami, maka anda adalah lawan. Mengerikan. Polarisasi akibat Pilpres (dan juga Pilkada DKI) memang sangat buruk. Bangsa kita terbelah dua. Efeknya masih terasa sampai sekarang meskipun Pilkada DKI dan Pilpres sudah selesai, meskipun Prabowo sudah menyalami Jokowi, tetapi dampaknya belum hilang. Orang-orang yang dianggap oposan itu citranya dibuat buruk

Keberadaan para pendengung (buzzer) seperti Denny Siregar, Abu Janda, dan lain-lain ikut memperkeruh suasana. Para pendengung itu meniupkan isu, menyebarkan hoaks (ingat isu ambulan membawa batu yang disebarkan oleh DS), paling sering melontarkan isu radikal, khilafah, dan lain-lain, sehingga membuat suasana menjadi panas. Keberadaan para pendengung ini merusak demokrasi karena membuat bangsa ini terpecah belah. Sayangnya, meski telah berkali-kali dilaporkan ke kepolisian, mereka untouchable. Sampai lima tahun ke depan saya prediksi persatuan bangsa ini akan mudah tercabik-cabik karena kepentingan kekuasaan. Mengerikan!

Written by rinaldimunir

October 11th, 2019 at 1:21 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Generasi Milenial Ternyata tidak Apatis Sosial Politik

without comments

Aksi demo besar-besaran mahasiswa di berbagai kota di Indonesia yang meminta pencabutan revisi RUU KPK dan beberapa RUU lainnya telah membuat tercengang berbagai kalangan. Bagaimana tidak, mahasiswa-mahasiswa yang berdemo ini merupakan generasi milenial, yaitu mereka yang lahir sekitar tahun 2000. Generasi mileneal sering dianggap apatis, cuek, atau kurang peduli  terhadap kondisi sosial politik di tanah air. Mereka dibesarkan oleh gawai dan sangat aktif ber-sosmed ketimbang memikirkan urusan perpolitikan.

Namun, tanpa diduga, ternyata masih ada dan masih banyak mahasiswa yang peduli tentang negeri ini dengan melakukan aksi turun ke jalan. Mereka menyuarakan keresahan di tengah masyarakat terkait dengan revisi UU KPK yang dianggap mengkerdilkan lembaga anti rasuah tersebut serta bebrbagai RUU yang dianggap kontroversial. Surprise karena di tengah kondisi mahasiswa kita yang umumnya  lebih mementingkan urusan kuliah, gawai, medsos, dan juga asmara rupanya masih ada sebagian mahasiswa yang tergerak hati nuraninya menyuarakan keprihatinan masyarakat. Ketika tidak ada lagi yang mampu menyuarakan keprihatinan, maka harapan masyarakat disandangkan ke pundak para mahasiswa itu.

Aksi demo berlangsung masif dan brhari-hari. Dimulai dari aksi  #GejayanMemanggil Yogyakarta, dengan cepat aksi mahasiswa di Yogya menular ke berbagai kota di Indonesia. Mereka turun ke jalan. Mahasiswa yang selama ini diam akhirya terpanggil bergerak. Aksi demo semakin dramatis dengan kehadiran pelajar-pelajar STM (sebutan SMK untuk jurusan teknik) yang membantu kakak-kakaknya berdemo. Sejak aksi demonstrasi besar-besaran mahasiswa tahun 1998, barangkali inilah aksi demo yang terbesar sesudah tahun 1998.

Namun ingat, mereka berdemo bukanlah untuk menurunkan presiden. Bukan. Pemilu dan Pilpres sudah selesai. Mereka menyuarakan keprihatinan dan kekecewaan masyarakat terhadap berbagai UU dan RUU yang dibuat kejar tayang oleh DPR dan Pemerintah. Naif juga mengaitkan aksi mereka dengan radikalisme dan isu-isu seperti khilafah dan sebagainya. Saya melihat aksi demo mereka murni dan tidak ditunggangi.

Selama aksi-aksi mahasiswa itu murni, konstitusional, dan tidak anarkis, tentu akan  didukung oleh masyarakat. Menyuarakan pendapat dijamin oleh UU. Tentu saja aksi demo mereka berhadapan dengan aparat keamanan yang menjaga ketertiban. Hanya saja kalau ada mahasiswa yang terluka, terkena gas air mata, apalagi sampai ada yang mati, saya merasa sangat sedih. Tidak seharusnya aksi damai berubah menjadi “pertarungan” antara anak-anak muda harapan bangsa itu dengan polisi dan berakhir dengan kesedihan.

Generasi milenial ternyata tidak identik dengan anak manja, apatis, cuek, kurang peduli, dan stereotip lainnya. Mereka akan “bangun” pada waktunya, sekali mereka bangun bergemuruhlah seluruh negeri.

Written by rinaldimunir

October 3rd, 2019 at 3:35 pm

Posted in Indonesiaku

Mengenang Habibie

without comments

Terlalu banyak yang ingin saya tuliskan tentang B.J. Habibie, mantan Presiden Indonesia yang wafat semalam. Habibie adalah orang yang sangat baik. Semua orang Indonesia pasti tahu tentang itu. Semua anak Indonesia dulu mengidolakan beliau. Kenapa tidak, Habibie adalah orang yang jenius, karya-karyanya dalam bidang aeronautika tersebar ke seluruh dunia. Banyak orangtua menamai anak lekakinya dengan nama Habibie. Di Prodi saya di Informatika ITB tidak terhitung jumlah mahasiswa bernama Habibi, baik sebagai kata did epan maupun di belakang. Orangtuanya tentu berharap anaknya kelak seperti B.J Habibie.

Tidak salah Presiden Soeharto memanggil Habibie pulang dari Jerman dan mengangkatnya menjadi menteri. Takdir hidup pula yang menggariskan dia kelak menjadi presiden Indonesia berikutnya setelah Soeharto mengundurkan diri akibat tekanan politik, kerusuhan sosial, dan kejatuhan rupiah saat itu.

Saat saya masih mahasiswa di ITB, nama Habibie adalah jaminan untuk sekolah ke luar negeri. Pak Habibie saat itu sebagai Menristek sekaligus ketua BPPT mengirim banyak lulusan SMA untuk sekolah di luar negeri, khsusnya ke Eropa dan Amerika. Kami menyebutnya program Beasiswa Habibie.Tujuannya tidak lain untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dalam bidang teknologi. Tidak hanya teknologi dirgantara seperti keahlian Habibie, tetapi teknologi lainnya yang dibutuhkan negara.

Habibie saat muda (Aachen, Jerman, 1954)

Banyak sekali teman saya yang sudah diterima di ITB akhirnya mengundurkan diri dari kampus karena mendapat beasiswa Habibie. Sebuah prestise saat itu mendapat beasiswa ke Eropa dan Amerika. Mereka sekolah dari S1 sampai S3. Sebagian ada yang pulang kembali ke tanah air, tapi sebagian lagi tidak balik dan bekerja sebagai ekspatriat di Eropa.

Saya yakin seyakin-yakinnya hampir semua orang Indonesia mencintai Habibie. Beliau Presiden Indonesia yang tidak meninggalkan masalah selepas turun tahta. Dari tujuh presiden Indonesia (Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY, dan Jokowi), saya paling berkesan dengan Habibie. Alasan-alasannya adalah sebagai berikut:
1. Cerdas. Beliau adalah salah satu orang Indonesia yang jenius. Ilmuwan hebat yang diakui dunia atas karya-karyanya dalam bidang aeronautika.
2. Rendah hati (humble). Tidak sombong, tidak suka berkoar-koar menebar janji-janji dan harapan palsu. Betapa presiden-presiden Indonesia terlalu sering membuat janji dan harapan semu sekedar gimmick atau lipstik. Tapi Habibie beda. Sekedar contoh saja, berkat tangan dinginnya dia mampu mengembalikan rupiah yang terpuruk saat kejatuhan Soeharto dari 17.000 menjadi 9000 per dollar. Saat ini kita tidak pernah melihat dollar bertengger di bawah sepuluh ribu rupiah.
3. Tidak menumpuk kekayaan selama berkuasa, karena memang pada dasarnya Habibie sudah kaya dari royalti yang diterimanya atas karya-karya pesawatnya. Habibie adalah sosok yang ikhlas. Kecintaannya pada tanah air jangan diragukan lagi.
4. Tidak punya kasus setelah tidak berkuasa.  Ini saya saya sebutkan tadi. Habibie bersih dari berbagai skandal, sepi dari segala rumor dan isu tidak sedap setelah turun tahta. Coba bandingkan dengan Soekarno, Soeharto, SBY, Megawati, masih saja diungkit-ungkit perbuatannya pada  masa lalu. Entah pula nanti Jokowi ketika nanti lengser, apa pula yang akan dipermasalahkan orang nanti.
5. Demokratis. Dialah yang membuka kran media massa sehingga puluhan media terbit. Media bebas bersuara, tidak takut lagi mengkritik penguasa. Pemilu multi partai pun dimulai pada era Habibie. Partai yang semula cuma 3 (Golkar, PPP, PDI) berkembang menjadi 48 partai. Luar biasa. Pantaslah Habibie disebuts ebagai Bapak Demokrasi.
6. Habibie mewakafkan hartanya untuk ilmu pengetahuan. Habibie Award adalah Nobel Price-nya Indonesia.
7. Habibie memadukan ilmu dengan agama. Salah satuwarisan yang dipopulerkan Habibie adalah frase “meningkatkan IMTAK dan IPTEK”. IMTAK = iman dan taqwa. IPTEK = ilmu pengetahuan dan teknologi.
8. Habibie menguasai banyak bahasa asing (Inggris, Jerman, Perancis)

Memang semua presiden di repulik ini punya keunikan, masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Namun Habibie-lah yang paling berkesan di hati.

Habibie saat muda adalah pria yang ganteng. Kegantengannya dan budi pekertinya yang santun meluluhkan hati Ainun, seorang mojang priangan kota Kembang yang cantik, saat Habibi kuliah di ITB dulu. Foto-foto Habibie saat masih muda bertebaran di media sosial seperti foto-foto di bawah ini.

Berkat film Ainun dan Habibie, yang mengisahkan perjalanan Hbibibie dan istrinya, orang Indonesia pun tahu bahwa Habibie tidak hanya cerdas tetapi juga romantis. Kisah hidupnya dengan Ainun menjadi inspirasi bagi banyak orang. Bacalah sebuah tulisan yang saya tidak tahu siapa penulisnya tetapi saya rasa sungguh tepat menggambarkan Habibie dan istrinya itu. Saya copas di sini ya.

SELAMAT JALAN, RUDY..
9 Maret 1962. Saat itu malam hari raya Iedul Fitri.
Rudy – panggilan BJ Habibie – mengajak jalan Ainun. Ia ingin mengajaknya nonton bioskop, tapi sayang karena udara begitu cerah. Akhirnya mereka berjalan kaki menyusuri sepanjang kampus ITB. Hati Rudy berdetak tidak karuan. Ada yang ingin ia sampaikan. Tapi ia begitu malu. Sampai terlintas dalam pikirannya, “Kalau tidak sekarang, kapan lagi ?”
Lalu ia memberanikan diri bertanya, “Ainun, maaf. Saya tidak ingin mengganggu masa depanmu. Tapi, apakah kamu punya kawan dekat ?”

Ainun, dengan detak jantung yang sama cepatnya, terdiam lama. Lalu ia menghadapkan tubuhnya ke arah Rudy sambil menjawab dengan lirih, “Tidak. Saya tidak punya kawan dekat..”

Hati Rudy bersorak. Perasaan yang sudah lama dipendamnya mendapatkan jawaban. Sesudah malam itu, merekapun selalu bersama, saling berbincang dan saling menyatukan hati hingga menikah pada tahun yang sama.

Perjalanan hidup kedua manusia ini menjadi cerita romansa yang tidak ada habisnya. Mereka tidak pernah berjauhan. Tidak sedikitpun. Ainun selalu mengikuti kemana Rudy pergi, sampai kekasihnya menjadi Presiden RI.

Tetapi janji itu putus sudah. Ainun harus pergi tanpa bisa meminta. Betapa hancurnya hati Rudy saat itu. Ia ingin menangis tapi suaranya tidak pernah keluar. Tubuhnya lunglai tanpa ia mampu menegakkan.

“Saat ini saya tidak takut lagi menunggu kematian, karena Ainun menunggu disana..” Perih hatinya menjadi sukacita. Ia menunggu hari-harinya dengan senyum kekasihnya yang selalu ada di setiap malam ketika rasa sepi membunuhnya.

Malam ini, Profesor Dr Ing Bacharuddin Jusuf Habibie, dengan tersenyum menuju ke tempat hatinya berada. Ke tempat Ainun menunggunya dengan senyum yang tak pernah ada habisnya.
Ia berbahagia ketika seluruh bangsa menangis ditinggalkannya. Hati ini hancur seperti hancurnya Rudy ketika Ainun meninggalkannya.

Rudy dan Ainun, mereka bersama menari di alam yang berbeda. Mereka memang tidak terpisahkan. Tidak akan pernah…

Selamat jalan B.J Habibie. Anda akan dikenang sebagai seorang yang baik, malah sangat baik. Nama anda akan selalu ada di hati segenap bangsa Indonesia.

Written by rinaldimunir

September 12th, 2019 at 9:04 am

Posted in Indonesiaku

THR. Berterimakasihlah kepada Gerakan Kaum Buruh

without comments

Menjelang Hari Raya Idul Fitri yang segera tiba, kata apa yang paling sering disebut oleh kaum pekerja? Ya, THR, atau Tunjangan Hari Raya. THR adalah kebahagiaan tersendiri bagi seluruh pekerja di tanah air. Kaum pekerja itu adalah PNS, pegawai swasta, buruh, satpam, supir perusahaan, bahkan pembantu rumah tangga.

THR merupakan rezeki tambahan para pekerja di tengah himpitan ekonomi menjelang hari raya. Menjelang lebaran kebutuhan masyarakat umumnya bertambah untuk membeli berbagai kebutuhan lebaran, termasuk biaya buat mudik. Maka, THR selalu didamba menjelang lebaran. Saat ini THR wajib diberikan oleh Pemerintah, perusahaan, atau institusi yang mempekerjakan orang. Besar THR bervariasi, minimal satu bulan  gaji. Beberapa perusahaan ada yang memberikan kurang dari satu bulan gaji tergantung kemampuan perusahaan tersebut.

Ketahuilah, THR hanya ada di Indonesia, kita tidak menjumpai pemberian THR di negara lain, apalagi di negara-negara non-muslim sekalipun yang masyarakatnya merayakan hari raya agama seperti Natal, Dipawali, Waisyak, dan sebagainya. Tidak ada THR di sana.

Menurut cerita seorang teman, para ekspatriat yang bekerja di Indonesia sering terheran-heran dengan THR buat pegawai lokal, karena di negara mereka tidak ada THR. Memang di negaranya ada bentuk hadiah saat Natal, tetapi dalam bentuk barang, dan nilainya tidak sebesar gaji satu bulan. Tidak ada THR di negara asing karena mereka menerima gaji tidak hanya 12 kali selama satu tahun, tetapi bisa lebih dari 12 kali. Di Indonesia, beberapa perusahaan swasta dan BUMN memberi gaji pegawainya juga lebih dari 12 kali dalam satu tahun dalam bentuk bonus atau insentif. Sedangkan di lingkungan pegawai negeri sipil dikenal pula gaji ke-13 menjelang tahun ajaran baru. Jika ditambah dengan THR maka PNS mendapat 14 kali gaji dalam satu tahun.

Kewajiban memberi THR di Indonesia memiliki sejarah panjang. Sejarah THR dapat dibaca dari tulisan Sejarah Gerakan Buruh di Balik Kewajiban THR. Ternyata organisasi kaum buruhlah yang pertama kali menginisiasi kewajiban pemberian THR. Pada tahun 1950-an situasi ekonomi sangat sulit, harga barang kebutuhan sangat tinggi. Kaum buruh terjepit di tengah kemiskinan absolut dengan upah rendah tetapi kebutuhan hidup terasa mahal, apalagi menjelang lebaran.

Saya kutip tulisan dari artikel tersebut:

“Everett Hawkins, dalam artikelnya “Labour in Developing Economics” (1962), menggambarkan kemiskinan yang dialami para buruh pada dekade 1950an “[…] bukan hanya upah yang rendah tapi juga harga 19 bahan pokok di Jakarta naik 77 persen dari tingkat awal 100 persen pada 1953 menjadi 177 persen pada 1957, dan kemudian naik makin cepat, dari 258 pada 1958 menjadi 325 pada akhir 1959.”

Menurut Jafar, “Sepanjang 1951-1952 masih belum ada aturan atau keputusan resmi pemerintah menyangkut THR—baik soal kepastiannya sebagai salah satu hak buruh (bukan semata-mata hadiah) maupun soal isi besarannya.” Dengan mengutip artikel K. Gunadi, “Hadiah Lebaran Dalam Rangka Kebijaksanaan Pemerintah” (1957), Jafar menyebut THR di masa itu dipandang sebagai “pemberian yang bersifat sukarela dan yang tidak dapat dipaksakan”.

Sebagai organisasi buruh terbesar masa itu, Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), tulis Jafar, “teguh dalam memimpin perjuangan gerakan buruh demi terpenuhinya tuntuan akan THR.” Dalam Sidang Dewan Nasional II di bulan Maret 1953 di Jakarta, SOBSI, organisasi buruh yang belakangan dicap PKI ini, mulai menyuarakan: “Pemberian tundjangan hari raya bagi semua buruh sebesar satu bulan gadji kotor.”

Karena THR kala itu hanya dianggap sukarela, organ buruh yang lain tak terlalu keras menuntut. Melihat sulitnya perekonomian pada era 1950an, keberadaan THR akan membuat hati buruh tentram. SOBSI tahu benar hal itu. Dan SOBSI, dari waktu ke waktu, terus mendesak pemerintah untuk mewujudkan THR.

Semuanya tidak serta merta terpenuhi seperti dituntut serikat buruh (termasuk SOBSI). “Apa yang terjadi muncul perlahan dan bertahap, sesuai dengan desakan tuntutan gerakan buruh dan kehati-hatian politik pemerintah dalam menghadapi kekuatan sosial gerakan buruh,” tulis Jafar.

Perlu juga dicatat, bahwa pada 1954, sudah ada “Persekot Hari Raja” yang kala itu hanya bisa dinikmati pegawai negeri. Persekot itu keluar dengan dalil Peraturan Pemerintah nomor 27 tahun 1954, tanggal 19 Maret 1954, tentang Pemberian Persekot Hari Raja Kepada Pegawai Negeri.

Karena istilahnya persekot, uang itu hanya bersifat uang muka pinjaman kepada pegawai dan setelahnya harus dikembalikan. Menurut pasal 6 ayat 1 PP tersebut, pengembalian “dilakukan dalam enam angsuran dengan memotong gaji pegawai yang bersangkutan tiap-tiap bulannya.”

Sedangkan untuk para buruh, ada istilah “Hadiah Lebaran” berdasar Surat Edaran nomor 3676/54 yang dikeluarkan Menteri Perburuhan S.M. Abidin dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo I yang berkuasa dari 1953 hingga 1955. Hal itu dilakukan guna meredam tuntutan buruh yang diberikan berdasarkan sukarela oleh pihak perusahaan. Besarannya, “seperduabelas dari upah yang diterima buruh dalam masa antara lebaran sebelumnya dan yang akan datang, sekurang-kurangnya 50 rupiah dan sebanyak-banyaknya 300 rupiah.”

Pada 1955, 1956, 1957, 1958, surat edaran itu sama isinya. Sayangnya surat edaran tidak punya kekuatan hukum. Surat itu hanya beredar saja dan sama sekali tidak menenangkan perut buruh di kala lebaran. Menurut Jafar, surat edaran hanyalah jalan tengah pemerintah saja. Untuk itulah serikat buruh, terutama SOBSI, terus bergerak.

Titik cerah makin terlihat ketika Ahem Erningpraja menjadi Menteri Perburuhan dalam Kabinet Kerja II (18 Februari 1960 hingga 6 Maret 1962). Meski besarannya belum sebulan gaji kotor, THR wajib dibayarkan dan menjadi hak buruh dengan masa kerja sekurang-kurangnya 3 bulan kerja. Kebijakan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Perburuhan nomor 1/1961 yang dikeluarkan oleh Ahem.”

*******************

Sekarang tidak hanya buruh saja yang mendapat THR, tetapi THR adalah hak semua pekerja tanpa terkecuali. Kepada kaum buruh kita perlu berterima aksih atas perjuangannya.

Meskipun pembantu rumah tangga (atau asisten rumah tangga) tidak termasuk pekerja di dalam perusahaan, namun majikan yang mempekerjakan pembantu, supir, satpam juga diminta memberikan THR bagi pekerja di rumahnya.

Saya pribadi sudah menyiapkan THR buat pembantu saya di rumah, termasuk juga buat pengemudi ojek yang selalu rutin antar jemput anak saya ke sekolah.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 H.

Written by rinaldimunir

June 1st, 2019 at 10:33 am

Posted in Indonesiaku

Kejutan PKS dan PSI pada Pemilu 2019

without comments

Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 membawa berbagai kejutan kejutan. Beberapa partai naik suaranya (Nasdem, PKS, Gerindra), beberapa partai lagi turun (PPP, Demokrat, PBB), demikian menurut hasil hitung cepat (quick count). Satu kejutan yang masih menjadi perbincangan pengamat politik adalah naiknya perolehan suara Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan tidak lolosnya Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ke Senayan. Padahal PKS diprediksi oleh lembaga-lembaga survey tidak akan lolos ambang batas 4% akibat konflik internal dan berbagai kasus miring yang mendera kadernya. Sebaliknya, PSI dianggap oleh banyak orang sebagai partai harapan baru karena berisi anak-anak muda millenial sehingga punya kans besar untuk meraih suara dari kalangan anak muda.

Kenyataannya tidaklah demikian. PKS malah melejit raihan suaranya, dari semula sekitar 6% pada Pemilu 2014 menjadi sekitar 8% hingga 9% pada Pemilu tahun ini. Sebaliknya PSI malah hanya mendapat sekitar 2% suara nasional sehingga sangat sulit untuk lolos ke DPR.

Apa yang membuat kejutan ini terjadi? Saya akan membuat analisis amatiran di bawah ini.

PKS dan PSI dapat dianggap dua partai yang berbeda ideologi dan arah politik. PKS adalah partai Islam, tergabung ke dalam koalisi Capres-cawapres Prabowo-Sandi. PSI adalah partai nasionalis dan tergabung ke dalam koalisi Jokowi-Amin. Selama kampanye Pemilu sangat terihat kedua partai ini berbeda secara diametral. PSI sangat sering menyerang PKS terkait ideologinya itu. Bahkan dalam berbagai kesempatan salah satu petinggi partainya pernah mengatakan “haram” berkoalisi dengan PKS baik di legislatif maupun di Pilkada kelak. Para petinggi PKS menanggapi serangan itu dengan kalem saja, mereka menyatakan buktikan dulu PSI masuk ke Senayan baru kemudian bermanuver.

Sebenarnya publik menaruh harapan kepada PSI sebagai pendatang baru. Ada harapan partai ini membawa angin baru di tengah kejenuhan terhadap partai-partai lama yang selalu terlilit kasus-kasus korupsi dan asusila. PSI diisi oleh anak-anak muda. Para calegnya bersih dari kasus korupsi. Anak-anak muda generasi milenial adalah kaum terpelajar, rasional, melek internet, dan aktif di media sosial. Merekalah pangsa potensial pemilih PSI.

Namun sayang seribu sayang, partai ini membuat posisitioning yang melahirkan resistensi dari mayoritas muslim di tanah air. Dalam berbagai kesempatan partai ini mewacanakan akan melarang poligami di Indonesia dengan alasan poligami lebih sering merugikan perempuan. Harapannyaadalah kaum perempuan akan simpati dengan wacana ini sehingga akan memilih PSI. Namun, partai ini lupa jika mereka hidup di Indonesia yang masih menjunjung tinggi ajaran agama. Publik mengaitkan larangan poligami dengan ajaran Islam. Di dalam agama Islam poligami itu dibolehkan tetapi dengan syarat-syarat yang ketat. Meskipun tidak semua laki-laki muslim setuju poligami, tetapi mewacanakan penentangan terhadap poligami dianggap menentang syariat Islam. Hal ini dipandang sebagai persoalan serius karena menyentuh ajaran agama yang dipeluk mayoritas rakyat Indonesia. Sudah dapat diduga publik pun mulai menentang partai baru ini.

Belum berhenti dengan isu poligami, PSI terus mewacanakan isu sensitif lainnya seperti menolak perda-perda yang mereka sebut Perda Syariah. Perda syariah dituding oleh PSI melahirkan diskriminasi terhadap minoritas. Meskipun soal diskriminasi ini masih dapat diperdebatkan, namun Perda-Perda yang dinilai berbau syariah itu sebenarnya adalah kearifan lokal di masyarakat setempat yang dijadikan undang-undang. Misalnya Perda yang mengatur penutupan rumah makan selama siang hari pada bulan puasa, Perda yang mengatur penggunaan busana muslimah bagi perempuan muslim di Aceh, dan sebagainya. Hal ini mirip seperti Perda di Bali yang melarang kegiatan selama Hari Raya Nyepi.

Namun, sikap penolakan PSI terhadap Perda Syariah itu diartikan oleh publik yang mayoritas muslim sebagai penolakan terhadap syariat Islam. PSI dipesepsikan sebagai partai anti-syariah, partai anti Islam, dan sebagainya. Cap sebagai partai anti-syariah semakin bertambah ketika publik mengaitkan partai ini dengan pendukung Ahok yang dianggap penista agama, karena memang para pendiri PSI dulunya adalah komunitas Teman Ahok. Jika potitioning PSI terus seperti itu, maka publik akan selalu mengingatnya sebagai partai anti-syariah.

Positioning yang salah tempat dan waktu itu akibatnya fatal. PSI mendapat penolakan oleh kaum mayoritas. Menariknya lagi, kaum minoritas pun tidak banyak yang memilih PSI, sebab mereka telah melabuhkan pilihannya kepada partai nasionalis lain seperti PDIP dan Nasdem. Maka, wajar saja raihan suara PSI pada Pemilu 2019 jebok. Hanya di kota-kota besar suaranya lumayan seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan sebagainya. Di kota-kota ini PSI dipilih oleh kelompok terpelajar seperti mahasiswa. Di kota Bandung suara PSI cukup lumayan di daerah kos mahasiswa seperti di kecamatan Coblong (Dago).

Bagaimana dengan PKS? PKS mendapat “rezeki” peningkatan suara karena lima faktor. Faktor pertama adalah PKS tidak lagi mengangkat isu-isu keislaman dalam kampanyenya. Tetapi mereka “menjual” isu-isu populis seperti SIM seumur hidup dan penghapusan pajak motor. Isu-isu ini meskipun sangat sulit direalisasikan kelak, namun kalangan menengah ke bawah yang menempati porsi terbesar pemilih tertarik dengan isu ini. Motor identik dengan rakyat kecil. Kader-kader PKS yang terkenal militan berhasil mensosialisasikan isu-isu ini ke tengah masyarakt melalui baliho-balihonya yang hamoir semuanya bertuliskan SIM seumur hidup dan pajak motor dihapuskan.

Faktor kedua adalah dampak isu-isu besar nasional yang lahir selama dan pasca Pilkada DKI, yang dianggap tidak memberi keadilan bagi ummat Islam. Aksi-aksi massa spektakuler di Monas, yang dikenal sebagai aksi 212 dan demo berjilid-jilid sesudahnya mempengaruhi persepsi umat Islam terhadap pemerintah. Isu-isu pun berkembang di tengah masyarakat seperti Pemerintah  mengkriminalisasi ulama,  menangkap para tokoh dan aktivis Islam, dan lain-lain.

Sejak aksi 212 hingga sekarang bermunculan tokoh-tokoh medsos yang sering mengeluarkan postingan kontroversial dan melecehkan rasa keberagamaan umat Islam, antara lain Ade Armando, Abu Janda, Deny Siregar, dll.  Hal itu ditambah lagi dengan kasus-kasus seperti pembakaran bendera tauhid dan ormas tertentu yang mempersekusi ustad beken. Muara dari kekecewaan itu adalah partai-partai pendukung Pemerintah pun dijauhi. Pemilih muslim yang kecewa dengan Pemerintahan Jokowi kemudian melihat PKS adalah partai yang paling dekat dengan sisi emosional mereka. Memang ada partai-partai Islam lain seperti PPP, PKB, dan PBB, namun pemilih muslim ini melihat ketiga partai ini bagian dari koalisi Jokwowi sehingga mereka tidak mau memilihnya. PKS-lah yang mendapat berkah dari kekecewaan pemilih muslim ini.

Faktor ketiga yang meningkatkan suara PKS adalah kasus hukum yang menimpa Ketum PPP, Rommaharmuzzy alias Rommi. Rommy ditangkap oleh KPK karena diduga menerima suap pengaturan jabatan di Kemenag. Kasus Rommy ibarat tsunami politik bagi PPP karena terjadi sebulan sebelum Pemilu. Sebagian pemilih PPP yang kecewa dengan aib yang mencoreng nama partainya mengalihkan dukungannya kepada partai Islam lain seperti PKB, PAN, dan PKS. Jadi, PKS ikut mendapat limpahan suara dari pemilih PPP yang kecewa itu.

Faktor keempat adalah limpahan suara dari pemilih loyal PBB. Semula ada harapan PBB yang dinakhodai oleh Yusril sebagai harapan baru umat Islam. Namun, tindakan Yusril yang membawa PBB mendukung capres Jokowi berseberangan dengan suara akar rumput kader partainya yang sebagian besar mendukung Prabowo. Pertentangan antara elit PBB dengan kaum akar rumput menghasilkan penolakan terhadap PBB. Akar rumput PBB yang kecewa kemudian mengalihkan suaranya ke partai Islam pendukung Prabowo, yaitu PKS dan PAN.

Faktor kelima adalah video Ustad Abdul Somad (UAS) yang viral menyatakan hanya ada dua partai yang masih konsisten menolak legalisasi miras dan LGBT, yaitu PKS dan PAN. Seperti diketahui, Abdul Somad adalah ustad paling populer saat ini.  UAS mempunyai jutaan jamaah pengajian di seluruh tanah air. Kata-katanya selalu didengar orang. Peredaran video yang viral itu ikut andil menaikkan suara PKS dan PAN. Menurut hasil hitung cepat malah PKS adalah peraih suara terbanyak di propinsi Riau.

Begitulah analisis pengamat amatir terhadap kejuatan kedua partai ini, PKS dan PSI. Boleh setuju atau tidak. Namanya juga orang Informatika merangkap pengamat amatiran politik. ?

Written by rinaldimunir

May 3rd, 2019 at 2:16 pm

Posted in Indonesiaku

Seberapa Tahan Memboikot Rumah Makan Padang (Nasi Padang)?

without comments

Di media sosial viral seruan netizen untuk memboikot rumah makan masakan padang (lebih tepatnya rumah makan masakan minang) atau nasi padang, gara-gara Jokowi kalah telak di Sumatera Barat. Menurut hasil hitung cepat, pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin hanya mendapat 11-12% suara, sisanya 88-89% untuk pasangan Prabowo-Sandiaga Uno. Sudah dua kali Jokowi kalah telak di Sumatera Barat. Pada Pemilu 2014, Jokowi mendapat 22% suara. Tahun 2019 ini malah semakin turun lagi suaranya.

Pendukung pasangan 01 yang kecewa lalu mem-posting seruan di akun Facebook untuk berhenti makan di rumah makan padang, seperti gambar berikut. Tujuannya adalah untuk membangkrutkan semua rumah makan padang, sebagai balasan terhadap kekalahan Jokowi.

boikot

Entah seruan itu bercanda, sarkasme, atau memang serius, tetapi posting-an di atas terlanjur viral dan mendapat respon luar biasa dari netizen. Tidak semudah itu membangkrutkan rumah makan padang, Ferguso! Masakan padang (minang) sudah terlanjur melekat bagi kebanyakan orang Indonesia. Masakannya enak, kaya bumbu, dan mudah diterima oleh lidah siapapun. Tidak hanya oleh lidah rakyat nusantara, tetapi sudah melampaui selera bangsa-bangsa di dunia. Siapa yang tidak suka rendang yang dinobatkan sebagai masakan terenak nomor 1 di dunia oleh CNN.

Rumah makan padang menyebar di berbagai pelosok tanah air hingga ke luar negeri. Sepahit-pahitnya orang minang itu mencari penghasilan di perantauan, maka kalau tidak berdagang kaki lima, maka ia membuka usaha rumah makan di pinggir jalan. Lama-lama rumah makannya tumbuh besar, lalu pemiliknya beralih menyewa tempat/toko, akhirnya punya restoran sendiri. Para karyawannya yang masih orang sekampungnya pun tidak lama-lama bekerja, setelah beberapa tahun bekerja mereka keluar lalu membuka usaha rumah makan sendiri. Dari satu rumah makan di sebuah kota tumbuh menjadi beberapa rumah makan.

Rumah makan padang merupakan “penyelamat” para turis  muslim jika berada di negeri yang bukan mayoritas muslim, seperti di Bali, Manado, Toba, Singapura, bahkan di Eropa. Jika ragu dengan kehalalan makanan di tempat itu, makan saja di rumah makan padang, sebab sudah pasti halal.

Boikot- memboikot produk bukan hal yang baru di Indonesia karena perbedaan pandangan politik dan ideologi. Sari Roti pernah diboikot tahun 2017 saat aksi demo berjilid-jilid di Monas. Nyatanya merek roti itu tetap eksis karena orang sudah terlanjur suka dengan roti itu. Ingat roti ya ingat Sari Roti.

Saya yakin orang-orang yang memboikot rumah makan padang tidak akan kuat berlama-lama melakukan aksi boikotnya. Mana kuat dia menahan diri untuk untuk tidak memakan masakan padang yang enak-enak itu. Sebut saja rendang, gulai ayam, gulai tunjang, teri balado, gulai kepala kakap, ikan asam padeh, gulai otak, gulai nangka, sambal cabe hijau, itik lado mudo, gulai cancang, dan masih banyak lagi yang menerbitkan air liur.  Paling kuat memboikot satu bulan, dua bulan, atau setahun, lalu pasti kembali lagi makan di sana dengan menahan rasa malu.

Rumah makan padang tidak akan bangkrut karena ulah kekanak-kanakan pendukung Jokowi yang mutung gara-gara capresnya kalah. Masih banyak orang Indonesia, termasuk pendukung Jokowi sendiri, yang berakal sehat tidak menghiraukan seruan boikot itu. Kalau makan ya makan, urusan politik ya lain lagi.  Tidak ada hubungannya pilihan politik dengan kuliner.  Jika pilihan politik dihubungkan dengan kuliner, maka daftar makanan daerah yang diboikot (karena Jokowi kalah di sana) akan bertambah panjang. Apa juga mau memboikot makanan enak-enak seperti mpek-mpek palembang, coto makassar, sate madura, mie aceh, batagor bandng, ayam taliwang, soto banjar, soto mie bogor, sate ikan banten, dodol garut, dan lain-lain?

Ada-ada saja. Lebay ah. Biasa sajalah berdemokrasi. Kalah menang itu hal yang biasa saja.

(Tulisan serupa: Seberapa Kuat Kalian Mau Boikot Rumah Makan Padang?)

Written by rinaldimunir

April 23rd, 2019 at 5:21 pm

Nasib Partai-partai Islam pada Pemilu 2019

without comments

Kasus  penangkapan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP). M Romahurmuziy,  oleh KPK pada hari Jumat minggu lalu mengagetkan publik di tanah air. KPK terlah menetapkannya Rommy, demikian namanya, sebagai tersangka. Seorang Ketum partai berasaskan Islam terlibat menerima suap terkait pengaturan jabatan tinggi di Kementerian Agama. Sedih dan miris. Bagaimana tidak miris, dia membawa nama partai Islam, lambang partainya ka’bah, tetapi perilaku korupsinya bertolak belakang dengan asas partai maupun lambang partainya.

Ketika partai belum sebanyak sekarang (hanya ada Golkar, PPP, dan PDI(P)), saya dulu adalah salah satu pemilih PPP.  Dengan kasus OTT Rommy oleh KPK ini, tentu masyarakat akan memberikan hukuman sosial kepada PPP. Apalagi Pemilu tinggal satu bulan lagi.  Peristiwa OTT terhadap Ketum PPP bagaikan tsunami yang akan meruntuhkan kepercayaan publik kepadanya. Hukuman sosial dari publik jauh lebih kejam daripada hukuman terhadap Ketum itu sendiri. Masih ingat kita ketika Partai Demokrat dilanda kasus korupsi yang dilakukan para kadernya, suara Demokrat langsung turun drastis. Begitu pula kasus korupsi yang menimpa Presiden PKS yang berdampak pada suara PKS. tapi untunglah kedua partai ini dapat bangkit kembali.

Sekarang PPP yang kena. Saya merasa sedih dan prihatin melihat nasib partai PPP dan partai-partai berasaskan Islam lainnya atau mempunyai basis massa dari kalangan ormas Islam (PKS, PKB, PBB, dan PAN).  Sebagai salah satu aset umat Islam seharusnya partai-partai Islam itu harus dijaga tetap eksis dan besar. Di parlemen wakil-wakil partai Islamlah yang vokal menentang UU yang kurang ramah dengan kepentingan ummat.

Tetapi makin ke sini partai-partai Islam semakin kerdil. Kecuali PKB yang mungkin masih bisa bertahan karena memiliki pemilih yang loyal dari kalangan nahdlyin (NU), saat ini pemilih sudah banyak tidak tertarik dengan partai berbasis agama, karena partai-partai itu kurang inovatif, kurang kreatif, dan berkutat pada jargon-jargon yang itu-itu saja. Partai-partai Islam hanya mendekati ummat ketika mau pemilu saja. Di luar pemilu mereka nyaris sama saja dengan partai-partai nasionalis atau partai sekuler.

Banyaknya kader partai Islam yang terlibat korupsi atau perilaku amoral lainnya membuat ummat melihat mereka hampir tidak ada bedanya dengan kader partai nasionalis. Kelakuannya sama saja.

Peristiwa yang menimpa Rommi pasti membuat kepercayaan ummat makin jatuh ke titik nadir. Perilaku elit partai-partai Islam yang jauh dari aspirasi akar rumput membuat partai Islam makin ditinggalkan ummat. Pilkada DKI tahun 2017 adalah contohnya.  Saat itu PPP dan PKB malah malah mendukung Cagub kontroversial yang terlibat kasus penistaan agama.  Demi kepentingan pragmatis dan kekuasaan semata, elit-elit partai Islam mengambil pilihan yang berbeda dengan suara akar rumput. Pada Pilpres 2019 pun terulang kembali, elit-elit partai-partai Islam seperti PPP dan PBB berlawanan dengan suara akar rumput dalam mendukung Capres.

Hasil-hasil survey sementara menunjukkan posisi partai-partai Islam terancam tidak lolos parliamentary threshold sebesar 4%. PKS dan PAN di ujung tanduk, PBB hanya mendapat nol koma, PPP mungkin akan tenggelam karena kasus Rommi, hanya PKB yang mungkin bisa lolos. Hasil pastinya baru kita ketahui setelah tanggal 17 April 2019.

Sekarang apa boleh buat, nasi sudah jadi bubur. Sulit meraih kepercayaan ummat lagi. Kepercayaan ummat dirusak oleh kelakuan para elit partai-parttai Islam.

Written by rinaldimunir

March 19th, 2019 at 2:42 pm

Posted in Agama,Indonesiaku