if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Indonesiaku’ Category

Nasib Partai-partai Islam pada Pemilu 2019

without comments

Kasus  penangkapan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP). M Romahurmuziy,  oleh KPK pada hari Jumat minggu lalu mengagetkan publik di tanah air. KPK terlah menetapkannya Rommy, demikian namanya, sebagai tersangka. Seorang Ketum partai berasaskan Islam terlibat menerima suap terkait pengaturan jabatan tinggi di Kementerian Agama. Sedih dan miris. Bagaimana tidak miris, dia membawa nama partai Islam, lambang partainya ka’bah, tetapi perilaku korupsinya bertolak belakang dengan asas partai maupun lambang partainya.

Ketika partai belum sebanyak sekarang (hanya ada Golkar, PPP, dan PDI(P)), saya dulu adalah salah satu pemilih PPP.  Dengan kasus OTT Rommy oleh KPK ini, tentu masyarakat akan memberikan hukuman sosial kepada PPP. Apalagi Pemilu tinggal satu bulan lagi.  Peristiwa OTT terhadap Ketum PPP bagaikan tsunami yang akan meruntuhkan kepercayaan publik kepadanya. Hukuman sosial dari publik jauh lebih kejam daripada hukuman terhadap Ketum itu sendiri. Masih ingat kita ketika Partai Demokrat dilanda kasus korupsi yang dilakukan para kadernya, suara Demokrat langsung turun drastis. Begitu pula kasus korupsi yang menimpa Presiden PKS yang berdampak pada suara PKS. tapi untunglah kedua partai ini dapat bangkit kembali.

Sekarang PPP yang kena. Saya merasa sedih dan prihatin melihat nasib partai PPP dan partai-partai berasaskan Islam lainnya atau mempunyai basis massa dari kalangan ormas Islam (PKS, PKB, PBB, dan PAN).  Sebagai salah satu aset umat Islam seharusnya partai-partai Islam itu harus dijaga tetap eksis dan besar. Di parlemen wakil-wakil partai Islamlah yang vokal menentang UU yang kurang ramah dengan kepentingan ummat.

Tetapi makin ke sini partai-partai Islam semakin kerdil. Kecuali PKB yang mungkin masih bisa bertahan karena memiliki pemilih yang loyal dari kalangan nahdlyin (NU), saat ini pemilih sudah banyak tidak tertarik dengan partai berbasis agama, karena partai-partai itu kurang inovatif, kurang kreatif, dan berkutat pada jargon-jargon yang itu-itu saja. Partai-partai Islam hanya mendekati ummat ketika mau pemilu saja. Di luar pemilu mereka nyaris sama saja dengan partai-partai nasionalis atau partai sekuler.

Banyaknya kader partai Islam yang terlibat korupsi atau perilaku amoral lainnya membuat ummat melihat mereka hampir tidak ada bedanya dengan kader partai nasionalis. Kelakuannya sama saja.

Peristiwa yang menimpa Rommi pasti membuat kepercayaan ummat makin jatuh ke titik nadir. Perilaku elit partai-partai Islam yang jauh dari aspirasi akar rumput membuat partai Islam makin ditinggalkan ummat. Pilkada DKI tahun 2017 adalah contohnya.  Saat itu PPP dan PKB malah malah mendukung Cagub kontroversial yang terlibat kasus penistaan agama.  Demi kepentingan pragmatis dan kekuasaan semata, elit-elit partai Islam mengambil pilihan yang berbeda dengan suara akar rumput. Pada Pilpres 2019 pun terulang kembali, elit-elit partai-partai Islam seperti PPP dan PBB berlawanan dengan suara akar rumput dalam mendukung Capres.

Hasil-hasil survey sementara menunjukkan posisi partai-partai Islam terancam tidak lolos parliamentary threshold sebesar 4%. PKS dan PAN di ujung tanduk, PBB hanya mendapat nol koma, PPP mungkin akan tenggelam karena kasus Rommi, hanya PKB yang mungkin bisa lolos. Hasil pastinya baru kita ketahui setelah tanggal 17 April 2019.

Sekarang apa boleh buat, nasi sudah jadi bubur. Sulit meraih kepercayaan ummat lagi. Kepercayaan ummat dirusak oleh kelakuan para elit partai-parttai Islam.

Written by rinaldimunir

March 19th, 2019 at 2:42 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

2019, Tahun Hilangnya Akal Sehat

without comments

Tahun 2019 adalah tahun yang melelahkan pikiran anak bangsa. Sebentar lagi kita akan melaksanakan Pilpres dan Pileg secara serentak, tetapi pertentangan di tengah masyarakat mengenai Pilpres masuk hingga ke ranah privat. Banjir kiriman berita hoaks, kata-kata dan gambar hasutan, serta ujaran kebencian masuk ke ponsel kita. Pendukung kedua kubu 01 dan 02 perang kata-kata untuk membela jagoannya sambil mendegradasikan lawannya.

Memang pemilu kali ini ada pemilihan presiden (Pilpres) dan pemilihan anggota legislatif (Pileg, meliputi anggota DPR, DPRD Propinsi, D{RD Kota/Kabupaten, dan DPD), tetapi Pileg tenggelam oleh hiruk pikuk Pilpres. Masyarakat lebih memperhatikan Pilpres ketimbang Pileg.  Hingga hari ini saya, dan mungkin juga publik seperti anda, tidak pernah tahu atau malas mencari tahu tentang calon legislatif yang akan dipilih. Jika sampai hari H demikian kondisinya, maka Pileg akan mundur seperti Pemilu dua periode sebelumnya, yaitu menusuk lambang partai ketimbang meusuk foto caleg.

Pilpres hanya diikuti oleh dua pasang calon (paslon), Prabowo-Sandi dan Jokowi-Ma’ruf, namun masyarakat sudah terlanjur terbelah karena mendukung salah satu paslon. Masalahnya dalam mendukung jagoannya, seringkali pendukung terlalu berlebihan alih-alih kebablasan. Sudah tidak rasional lagi bicaranya.

Marilah kita lihat dua kasus berbeda, masing-masing pada setiap kubu 01 dan 02. Pendukung 01 (Jokowi-Ma’ruf) terlalu jumawa dalam membanggakan keberhasilan Jokowi membangun proyek infrastruktur seperti jalan tol. Saking jumawanya mereka mengancam masyarakat yang tidak memilih Jokowi dilarang lewat jalan tol yang dibangun oleh Jokowi. Menurut saya ini pikiran kekanak-kanakan, Kenapa pakai larang melarang segala? Jalan tol itu dibangun dengan uang rakyat, bukan dibangun oleh uang pribadi Jokowi. Maka, siapapun rakyat boleh melewatinya. Membangun proyek infrastruktur adalah kewajiban pemerintah, siapapun presidennya. Jika sampai larang melarang begitu, nanti akan ada serangan balasan dari kubu 02 yang melarang pendukung 01 melewati jalan tol yang dibangun pada era Soeharto atau era SBY. Kacau bukan?

Sekarang kita lihat pula kasus yang irasional pada pendukung 02 (Prabowo-Sandi). Baru-baru ini beredar video viral tiga orang ibu-ibu di Karawang yang mengatakan jika Jokowi menang maka adzan akan dilarang. Lalu video yang sejenis di tempat lain mengatakan jika Jokowi menang maka pernikahan sejenis akan diizinkan. Menurut saya pernyataaan pendukung 02 ini jelas tidak masuk akal. Mana mungkin adzan akan dilarang di negara yang penduduknya mayoritas muslim? Cari mati itu namanya, sebab presiden yang demikian akan berhadapan dengan ratusan juta umat Islam. Tidak mungkinlah Jokowi melarang adzan jika dia menang. Begitu pula, tidak akan mungkin pernikahan sejenis akan dilegalkan di Indonesia yang masyarakatnya masih menjadikan agama sebagai pegangan hidup. Agama manapun melarang pernikahan sejenis. Indonesia tidak akan seperti Eropa yang mengizinkan pernikahan sesama lelaki atau sesama perempuan. Islam yang menjadi agama mayoritas di Indonesia adalah tameng terkuat yang akan menentangpernikahan sejenis maupun  LGBT sampai kapanpun karena haram hukumnya.

Masih banyak lagi berita hoaks yang beredar di ruang privat kita dari kedua pendukung capres. Tujuannya satu, menjatuhkan citra lawan dengan fitnah yang keji atau memberi ancaman jika tidak memilih paslon tertentu. Inilah yang saya sebut sudah tidak rasional lagi aksi dukungan dari kedua kubu. Sudah hilang tingkat kewarasannya demi membela jagoannya. Fanatisme yang berlebihan dari pendukung capres telah melunturkan akal sehat. Apa saja mereka sampaikan untuk memanipulasi keadaan. Banyak orang yang gerah dan tidak nyaman dengan kondisi panas seperti ini. Mereka berharap Pilpres cepatlah berlalu. Sudah tidak sehat lagi . Sudah hilang akal sehat.

Written by rinaldimunir

March 15th, 2019 at 2:45 pm

Posted in Indonesiaku

Mempermasalahkan Istilah “Kafir”

without comments

Bahtsul Masail hasil Konferensi Alim Ulama dan Musyawarah Nasional Nahdlatul Ulama (NU) di Banjar, Jawa Barat minggu lalu merekomendasikan untuk mengganti istilah “kafir” kepada nonmuslim.  Sebagai gantinya, NU lebih memilih untuk mengajukan istilah “Muwathinun” yang berarti warga negara sebagai gantinya. Menurut kyai di NU, istilah “kafir” dianggap mengandung unsur kekerasan teologis. Seperti dikutip dari sini ( NU dan Usul Penghapusan Label Kafir untuk Nonmuslim), “Abdul Moqsith Ghazali yang jadi pimpinan sidang Komisi Bahtsul Masail Maudluiyah mengatakan para kiai berpandangan penyebutan kafir dapat menyakiti para nonmuslim di Indonesia.”

“Meski begitu, kata Moqsith, bukan berarti NU akan menghapus seluruh kata kafir di Alquran atau hadis. Keputusan dalam Bahtsul Masail Maudluiyyah ini hanya berlaku pada penyebutan kafir untuk warga Indonesia yang nonmuslim.”

Saya agak heran dengan rekomendasi NU ini. Bukan saya anti, tetapi sebenarnya di mana masalahnya? Dalam konteks muamalah, atau hubungan sesama manusia, saya rasa hampir tidak pernah ada orang Islam Indonesia di dalam pergaulan sehari-hari menyebut saudaranya yang tidak seiman dengan sebutan kafir. Bangsa kita juga mempunyai tata krama dan sopan santun, mereka tidak mau menyakiti hati saudaranya sebangsa dengan sebutan “hai, kafir”, “hai para kafirin”, dan sebagainya. Tidak pernah, saya rasa.

Sebutan kafir hanya kita dengar dalam ceramah-ceramah agama pada konteks teologis, untuk membedakan orang yang beriman kepada Allah SWT dengan orang yang kufur nikmat, yang disebut kafir. Di dalam surat Al-Kafirun Allah sudah dengan tegas menyebut dengan kalimat “ya ayyuhal kaafirun”.  Jadi, bukan dalam konteks muamalah seperti yang disebutkan oleh para kyai.

Setahu saya, orang-orang nosmuslim pun tidak keberatan mereka disebut kafir (dalam pengertian teologis), karena mereka tahu sebutan kafir itu dalam sudut pandang Islam, bukan dalam pemahaman mereka (Baca: Soal Sebutan Kafir Hilang, Walubi: Urusan Mereka Panggil Kami Apa). Dalam sudut pandang agama non-Islam, orang Islam pun tentu dianggap “kafir” dari sudut pandang ajaran mereka, mungkin dengan istilah yang tidak sama tetapi maksudnya kurang lebih sama. Misalnya, sebagai contoh saja, CMIIW (mohon maaf kalau saya  salah memahami), menolak mengimani Kristus sebagai juru selamat tentu dianggap “kafir” dalam pandangan Kristen, atau istilahnya “domba-domba yang tersesat”. Biasa saja bagi orang Islam disebut demikian, dan biasa juga bagi orang non-muslim jika dianggap kafir dalam pemahaman orang Islam.

Tetapi ilmu saya tentu tidak sedalam ilmu para kyai di NU. Pemahaman saya yang sederhana ini tentang kafir memang seperti demikian, saya rasa banyak orang Islam pun sama pemahaman dengan saya. Sejak dulu sampai sekarang tidak ada masalah dengan istilah kafir, lalu mengapa tiba-tiba menjadi masalah saat ini? Saya tidak mengerti.

Written by rinaldimunir

March 5th, 2019 at 3:58 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Terbelah (Lagi) karena Pilpres 2019

without comments

Keterbelahan orang Indonesia akibat Pipres 2014 belum sepenuhnya pulih, sekarang keterbelahan itu semakin menguat menjelang Pemilu Presiden (Pilpres) bulan April 2019 mendatang. Penyebabnya adalah jagoan yang bertarung di Pilpres masih yang itu lagi: Jokowi dan Prabowo. Keduanya revenge kembali pada Pilpres 2019.

Pilpres 2014 masih menyisakan kubu-kubuan antara pendukung Jokowi dan Prabowo. Kedua kubu gontok-gontokan di udara melalui media sosial dan media daring.  Perang kata-kata, perang urat syafaf, dan psycological war antar kedua kubu. Saya kira bersamaan dengan berjalannya waktu perseteruan antara dua kubu akan berkurang, ternyata tidak. Pilkada DKI Jakarta 2017 adalah arena perseteruan berikutnya karena dua orang calon gubernur DKI kebetulan dari dua kubu yang itu lagi.

Sekarang  menjelang Pilpres 2019 kita merasakan panasnya suasana perseteruan dua kubu. Kubu petahana dan kubu oposisi. Berbagai sindiran, ujaran kebencian, berita hoaks, adu opini, perdebatan, dan adu komentar antara kedua kubu menghiasi media sosial. Banyak pihak merasakan ketidaknyamanan dengan situasi ini. Di media sosial yang kita ikuti (whatsapp, facebook, instagram, twitter, dll) selalu ada saja teman yang berseberangan dengan kita soal pilihan capres mengirim posting yang memburukkan capres lawan. Kalau sudah begitu, persahabatan dan hubungan pertemanan menjadi terganggu karena posting yang memanas-manaskan itu. Left group, unfriend, dan unfollow adalah tindakan ekstrim yang dilakukan sebagian orang ketika teman yang berseberangan dan selalu memburuk-burukkan capres lawan.

Saya yang aktif di Facebook setidaknya mengamati pendukung seorang capres selalu mengirim posting foto, tautan berita, kata-kata atau video yang berisi hal-hal negatif capres lawan. Seolah-olah dengan mengirim posting yang demikian dia merasa puas menghajar kubu lawan, merasa senang telah mentertawakan kedunguan lawan. Dia  merasa mendapat kepuasan batin dengan mem-posting demikian seolah-olah mengatakan “tuh lihat, capres jagoanmu begitu-begini, capresku nggak seperti capresmu“.

Padahal kedua capres tersebut mungkin baik-baik saja hubungan keduanya, tetapi pendukungnya yang mati-matian membela. Kalau dipikir-pikir, capres yang kita bela mati-matian itu belum tentu masih ingat kepada kita kalau nanti menang. Dia naik tahta, kita ya tetap begitu-begitu saja. Sudah sering terjadi, pemimpin yang kita dukung ternyata jauh dari ekspektasi kita. Saat awal-awal terlihat manisnya, tetapi setalah agak lama berkuasa barulah terlihat boroknya. Janji-janji yang diucapkan selama kampanye ternyata bohong belaka. Janji tinggallah janji.

Sayangnya Pilpres kita kali hanya diiukuti oleh dua pasang calon saja. Jokowi cs dan Prabowo cs.  Kita tidak diberikan pilihan ketiga, karena ketika penjaringan capres, undang-undang Pemilu yang baru seolah-olah memustahilkan muncul capres ketiga. Pasangan capres-cawapres hanya boleh diusulkan parpol atau gabungan parpol yang memiliki kursi di DPR minimal 20%. Itu jumlah kursi dari Pemilu 2014 yang lalu, bukan berdasarkan hasil Pemilu yang sekarang. Pada Pemilu sekarang Pileg dan Pilpres bersamaan, jadi tidak mungkin parliementary threshold itu terpenuhi dari hasil Pileg sekarang. Barulah nanti pada Pilpres 2024 tidak ada parliementary threshold lagi, setiap parpol bebas mengusn capresnya sendiri. Tapi itu kan annti, masih lama.

Apa boleh buat, kita hanya disodorkan dua pilihan itu saja. Baik Jokowi maupun Prabowo menurut saya sama-sama capres yang mengecewakan. Jokowi terlalu banyak berjanji dan tidak ditepati, terlalu sering berutang sehingga terus menumpuk, menggunakan aparat penegak hukum sebagai alat kekuasaan untuk melibas lawan, kurang responsif dengan aspirasi mayoritas. Positifnya dia tipe pekerja, sederhana, merakyat, keluarganya tidak terlibat bisnis yang menggunakan kekuasaanya. Sedangkan Prabowo belum punya track record dalam pemerintahan, sering berbicara tanpa data, dan sudah dua kali kalah. Positifnya dia punya karakter tegas karena dari militer. Itu penilaian dari saya lho, anda boleh setuju atau tidak setuju. Meskipun demikian, nanti saat Pilpres saya harus memilih yang terbaik dari yang terburuk. Saya tidak akan golput.

Saya tidak tahu sampai kapan bangsa ini terus terbelah karena berbeda pilihan capres. Apakah pasca 2019 akan terus terpecah dan kubu-kubuan lagi? Wallahu alam. Menurut pengamatan saya, masih terus terjadinya perseteruan dua kubu pendukung Jokowi dan Prabowo pasca 2014 adalalah karena pihak yang menang tidak mau merangkul pihak yang kalah. Pihak yang kalah terus diwacanakan sebagai oposisi dan kelompok pengganggu. Kalau pasca 2019 pihak yang menang tidak mau merangkul kubu yang kalah, saya yakin bangsa ini akan terus terbelah.

Written by rinaldimunir

January 29th, 2019 at 5:35 pm

Posted in Indonesiaku

Tragedi Danau Toba yang Memilukan

without comments

Liburan Idul Fitri tahun ini diwarnai berita yang kecelakaan yang memilukan. Pada tanggal 18 Juni 2018 sebuah kapal penyeberangan di Danau Toba, KM Sinar Bangun, yang mengangkut lebih dari 200 orang penumpang serta puluhan kendaraan bermotor tenggelam di danau yang sangat dalam itu (450-500 meter dalamnya).  Hanya ada 18 orang penumpang selamat, tiga orang ditemukan meninggal dunia, dan ratusan lainnya masih hilang, diduga ikut tenggelam ke dasar Danau Toba bersama kapal yang nahas itu. Kapal berangkat dari Pulau Samosir yang berada di tengah danau dan hendak menyerang ke daerah Simalungun di daratan Sumatera (berita di sini). Penumpang kapal mungkin sebagian besar adalah wisatawan yang jalan-jalan ke Pulau Samosir.

Menurut penuturan penumpang yang selamat, kapal dihantam badai dan gelombang besar ketika berlayar (Baca: Video Detik-detik Menakutkan Kapal Tenggelam di Danau Toba). Tetapi faktor lain yang membuat kapal itu tenggelam adalah over kapasitas atau kelebihan muatan. Seharusnya kapal hanya boleh membawa penumpang maximum 80 orang, tetapi jumlah yang diangkut didiuga mencapai 200 orang lebih.  Di bawah ini foto penampakan KM Sinar Bangun yang saya peroleh dari media sosial, saya tidak tahu apakah ini foto sebelum keberangkatan pada harii yang nahas itu atau foto pelayaran sebelumnya. Lihatlah puluhan motor berjajar di pinggir kapal, sementara penumpang yangmembludak sampai duduk di atas kapal.

sinarbangun

Penampakan KM Sinar Bangun yang over kapasitas

Tahun lalu kami sefakultas jalan-jalan ke Danau Toba dan Pulau Samosir. Sungguh takjub saya menyaksikan Danau Toba, selain indah juga sangat-sangat luas.  Karena sangat  tidak terkira luasnya, maka ia tampak lebih mirip lautan ketimbang danau. Dengan bentang danau yang sangat luas itu, sangatlah mungkin di tengahnya terjadi badai dan gelombang besar mirip di lautan.

Danau Toba yang sangat luas tampak dari Taman Simalem di Bukit Simarjarunjung

Danau Toba dari atas Taman Simalem

Danau Toba dan Pulau Samosir di tengahnya (Sumber gambar: Wikipedia)

Kembali ke soal keecelakaan kapal  di Daau Toba tadi. Siapakah yang salah? Pada kodnisi prihatin seperti ini saling menyalahkan tidak ada gunanya. Nakhoda kapal jelas harus bertanggung jawab karena dia tidak memperhatikan faktor keselamatan kapal, penumpang diangkut sebanyak-banyaknya mumpung sedang ramai.  Kendaraan (motor) dibawa dalam jumlah banyak seperti pada foto di atas. Nakhoda juga tidak memeprhatikan faktor cuaca, tidak memantau informasi datri BMKG.

Tetapi kita juga menyayangkan kurangnya perhatian pada angkutan danau. Kita punya lembaga ASDP, Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan, namun kalau saya perhatikan ASDP lebih sering mengurusi pelayaran penyeberangan di laut seperti kapal ferry. Padahal negara kita mempunyai beberapa danau yang luas, misalnya selain Danau Toba adalah Danau Singkarak, Danau Sentani, Danau Maninjau, Danau Ranau, Danau Sempayang, dan lain-lain.  Di danau yang luas maupun kecil penyeberangan dari suatu titik ke titik lain di pinggir danau sering tidak terawasi. Kalau sudah ada kejadian, barulah kita menyadari kealpaan selama ini.

Written by rinaldimunir

June 26th, 2018 at 7:35 am

Posted in Indonesiaku

Bahaya Melakukan Rampatan (Generalisasi): Kasus Cadar

without comments

Pasca teror bom bunuh diri yang menghebohkan tanah air, berseliweran ujaran kebencian dan sikip sinis kepada kelompok tertentu, salah satunya kepada wanita pemakai cadar. Salah satu pelaku bom bunuh diri di Gereja di Surabaya adalah seorang wanita yang memakai hijab (cadar?). Oleh karena itu, banyak wanita pemakai cadar merasa tidak nyaman karena mereka dianggap sebagai orang berpaham radikal.

Sebelumnya beberapa bulan yang lalu pernah ada polemik larangan penggunaan cadar bagi mahasiswa dan dosen di beberapa universitas. Lagi-lagi karena, meskipun tidak ditulis secara eksplisit, mengasosiasikan penggunaan cadar dengan radikalisme. Kasus teror bom bunuh diri kemaren semakin menguatkan sentimen sebagian kalangan kepada wanita yang bercadar.

Menurut pemahaman saya, cadar memang bukan keharusan bagi wanita muslimah. Di dalam agama hanya disebutkan kewajiban menutup aurat bagi wanita. Aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. Jadi, menggunakan jilbab atau kerudung yang menutup aurat saja sudah cukup. Tetapi, pemahaman agama setiap orang tidak selalu sama. Sebagian kalangan di dalam Islam memiliki keyakinan bahwa wajah wanita juga termasuk aurat yang harus ditutupi. Kalangan ini mengatakan cadar termasuk keharusan.

Kita tidak memperdebatkan jika ada keyakinan orang Islam yang demikian. Silakan saja. Toh orang yang memakai cadar termasuk berbusana sopan,  jadi kenapa harus delarang. UUUD 1945 menjamin kebebasan setiap penduduk menjalankan agama dan keyakinannya, termasuk keyakinan bahwa menggunakan cadar termasuk kewajiban seorang muslimah. Istri saya snediri hanya memakai jilbab biasa, tidak bercadar. Mahasiswi saya di kampus juga kebanyakan memakai jilbab yang bermacam-macam bentuknya, jarang sekali saya melihat mahasiswi memakai cadar, tetapi kampus ITB tidak pernah melarang cadar sejauh yang saya ketahui.

Kembali tentang topik saya di atas yang mengasosiasikan cadar dengan radikalisme. Melakukuan generalisasi ini berbahaya, karena menganggap semua wanita bercadar adalah radikal, ekstrimis, atau bahkan teroris. Jika ada yang berpendapat demikian, maka ia akan malu sendiri jika melihat foto di bawah ini. Ini foto yang bersumber dari sebuah akun Twitter  . Di dalam akunnya itu ia menulis sebagai berikut:

“Kapolri menjenguk polisi korban serangan teroris di Riau; AKBP Farid. Istri AKBP Farid mengenakan cadar. Maka, stop asosiasikan cadar dengan teroris. Justru mereka adalah korban dari teroris, jangan tambah lagi penderitaan mereka karena anggapan kita.”

AKBP Farid adalah salah satu korban luka pada aksi terorisme di Pekanbaru. Pasca teror bom di Surabaya, dua hari sesudahnya juga terjadi aksi teror ke Mapolrestabes Pekanbaru. Terduga teroris menggunakan pedang dan menghantam mobilnya ke polisi. Seorang polisi meninggal dunia, dan beberapa orang luka-luka, salah satunya adalah AKBP Farid. Istri AKBP Farid adalah seorang pengguna cadar. Nah, di internal keluarga polisi sendiri ada yang memakai cadar, maka apakah mereka ini pantas dicap berpaham radikal atau teroris sedangkan suaminya sendiri seorang polisi yang berhadapan dengan teroris.

Contoh kasus di atas menunjukkan bahwa melakukan perampatan (meng-generalisasi) kepada suatu kelompok orang hanya karena ulah segelintir oknum di dalam kelompok tersebut sama sekali tidak tepat dan berbahaya. Berbahaya karena semua orang di dalam kelompok tersebut mendapat stigma negatif, yang dapat berlanjut kepada persekusi, pengusiran, bahkan pembunuhan.  Kita semua melawan terorisme, tetapi marilah kita obyektif menilai. Tidak semua orang memakai cadar adalah teroris, tetapi teroris memakai cadar bisa jadi.

Written by rinaldimunir

May 22nd, 2018 at 2:53 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Membajak Agama di Surabaya dan Racun Orangtua kepada Anak-anaknya

without comments

Memasuki awal bulan Ramadhan tahun ini terasa sumbing. Aksi terorisme yang sangat keji terjadi di Surabaya membuyarkan keceriaan menyambut Ramadhan. Lima aksi bom bunuh diri dalam dua hari menyasar orang-orang yang tidak bersalah. Tiga gereja menjadi sasaran kekejian teroris, lalu malam harinya bom meledak di sebuah rusun, dan keesokan paginya polisi di Polrestabes menjadi sasaran berikutnya. Puluhan jiwa tak bersalah menjadi korban terorisme.

Saya pribadi mengutuk aksi biadab itu. Melakukan aksi bunuh diri saja dilarang agama, apalagi membunuh orang lain yang tidak bersalah. Jika pelaku bom bunuh diri mengklaim bahwa aksinya termasuk jihad dan matinya adalah syahid, maka menurut saya hal itu salah besar. Indonesia tidak berada dalam kondisi perang, maka tidak ada musuh yang harus dimusnahkan. Mengapa pula sasarannya gereja dan jemaatnya. Apa kesalahan jemaat gereja itu sehingga mereka dibom?

Saya bisa memahami perasaan saudara-saudara sebangsa kita kaum kristiani. Mereka tentu trauma menjalankan ibadah, karena selalu diliputi rasa was-was. Aksi terorisme kemarin salah satu tujuiannya mungkin telah tercapai, yaitu membuat hubungan antar agama menjadi saling curiga atau bahkan saling membenci.

Sekali lagi aksi terorisme tersebut telah mencoreng wajah Islam yang damai karena pelaku terorisme di Surabaya kebetulan beragama Islam.  Sebagian kaum non-muslim yang selama ini memiliki persepsi negatif tentang agama Islam, karena  diidentikkan dengan aksi kekerasan di berbagai wilayah di muka bumi, semakin menambah persepsi buruk mereka tentang agama Islam. Memang tidak semua kaum non-muslim mempunyai persepsi demikian, karena sebagian mereka tetap beranggapan pelaku kekerasan tersebut hanyalah oknum yang berkedok agama dan tidak mewakili mayoritas penganut agama tersebut. Radikalisme ada pada penganut agama manapun.

Teroris telah membajak ajaran agama dengan melakukan penafsiran secara sempit.  Mereka bilang ini jihad, tetapi sesungguhnya perbuatan mereka adalah kejahatan yang mengerikan. Mereka bilang  ini mati syahid, tetapi sesungguhnya ini adalah mati konyol. Tidak ada ajaran Islam yang menyuruh membunuh orang yang tidak bersalah atau menghancurakn rumah ibadah agama lain. Nabi saja melarang membunuh anak, anak, wanita, dan manula, baik dalam situasi perang maupun bukan. Dalam masa pemerintahan Nabi di Madinah, keberadaan kaum Yahudi dan Nasrani dilindungi, termasuk rumah ibadah mereka.

Satu hal yang membuat miris dari aksi terorisme di Surabaya kemarin adalah pelakunya adalah tiga keluarga. Lima kali peristiwa bom di Surabaya melibatkan anak-anak dan istri  teroris. Saya bergidik mendengarnya. Sungguh, sampai saat ini saya antara percaya dan tidak percaya anak-anak tersebut melakukan aksi bom bunuh diri.  Saya melihat foto ibu dan keempat anaknya itu di akun fesbuk ibu mereka. Terlihat anak-anak itu masih dalam membutuhkan dunia bermain, sorot matanya mendambakan kasih sayang.  Anak-anak yang masih polos, lugu, dan mempunyai masa depan yang masih panjang diajak orangtuanya untuk melakukan bom bunuh diri. Membunuh orang lain yang tak berdosa dan membunuh darah dagingnya sendiri. Alangkah bejat dan biadabnya kelakuan teroris seperti itu, mencuci otak istri dan anaknya. Alangkah biadabnya si ayah, melilitkan bom ke pinggang anaknya, lalu menyuruh anaknya meledakkan diri di gereja. Oh…

Sampai sekarang saya masih syok kenapa ayah yang biadab ini mengajak anak-anak serta istrinya melakukan aksi bom bunuh diri.  Ajaran apa yang didoktrinasi kepada anak istrinya sehingga mereka tega melakukan aksi teror pembunuhan. Sungguh bejat ayah seperti itu, dan sungguh biadab orang yang mendoktrin mereka menjadi demikian (Baca: Peluk Tangis Anak-Anak Dita Maghrib Sebelum Aksi Bom). Saya tidak sanggup menuliskannya lagi.  Saya juga mempunyai anak-anak seusia mereka. Saya pulang dan saya cium anak-anak saya di rumah. Oh….

Written by rinaldimunir

May 15th, 2018 at 4:15 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

TKI vs TKA

without comments

Hari ini hari buruh. Persoalan tenaga kerja adalah persoalan yang tidak pernah selesai di negara kita. Hari buruh tahun ini diwarnai isu banjir Tenaga Kerja Asing (TKA) ke Indonesia. TKA, terutama dari Tiongkok, hampir setiap hari berdatangan ke daerah-daerah tertentu di tanah air. Ombudsman melaporkan salah satu temuannya bahwa penerbangan Jakarta – Kendari 70%-80% penumpangnya adalah TKA.  Banyak dari TKA itu yang bekerja sebagai buruh kasar hingga supir. Gaji mereka pun tiga kali lipat dari gaji tenaga kerja lokal.

Apakah kita perlu merasa khawatir dengan banjirnya TKA ke Indonesia? Jawabannya bergantung pada jenis TKA itu. Selama TKA yang kerja di Indonesia adalah TKA terdidik atau mempunyai kualifikasi pendidikan formal, maka tidak ada masalah, hal itu sebagai efek globalisasi. Sama seperti para alumni perguruan tinggi Indonesia yang bekerja di luar negeri, why not, boleh-boleh saja.

Nah, kalau TKA yang bekerja adalah pekerja di sektor informal (buruh kasar, tukang, dupir dll) barulah hal itu menjadi masalah karena di sini stok tenaga kerja seperti itu melimpah, banyak yang mengganggur, dan sulit mencari pekerjaan.

Pemerintah, dan sebagian orang yang asal bunyi, selalu mebandingkan masalah TKA dengan jutaan TKI yang bekerja di luar negeri, misalnya di Hongkong, Taiwan, Arab Saudi, Malaysia, Singapura, dan lain-lain. Kenapa kita protes keberadaan TKA tetapi TKI kita bekerja di negara lain tidak ada yang protes. Menurut saya ini perbandingan yang tidak relevan. Kondisinya berbeda. Negara-negara tujuan TKI tersebut memang membutuhkan TKI  sektor informal seperti itu. Para TKI umumnya dari sektor informal seperti menjadi PRT, buruh perkebunan, supir, tukang, dll.  Penduduk negara tujuan TKI sudah makmur, mereka enggan bekerja untuk pekerjaan kasar, atau penduduknya sedikit. Mereka mengimpor tenaga kerja dari luar untuk pekerjaan informal seperti di atas.

Negara kita tidak membutuhkan TKA untuk pekerjaan kasar dengan alasan yang saya sebutkan di atas. Pemerintah perlu membenahi lagi berbagai penyimpangan masuknya TKA yang merebut pekerjaan yang dapat dilakukan oleh masyarakat kita sendiri. Jika tidak dibenahi, keberadaan TKA di sektor buruh kasar hal ini dapat menjadi bom waktu yang dapat meledak di kemudian hari.

Selamat Hari Buruh!

Written by rinaldimunir

May 1st, 2018 at 8:08 am

Posted in Indonesiaku

#2019(Tidak)GantiPresiden

without comments

Tahun 2019 sudah dekat. Pada tahun 2019 nanti sejarah Pilpres 2014 akan kembali terulang. Bukan sejarah yang dikenang dengan baik, tetapi sejarah yang membuat bangsa ini terbelah dua akibat perbedaan dalam memilih Capres. Keterbelahan itu tidak langsung hilang setelah presiden baru telah dilantik, tetapi terus abadi hingga kini.

Kini, setahun sebelum Pemilu legislatif dan Pilpres tahun 2019 , suasana panas di jagad maya sudah mulai keluar aromanya. Jagad maya dipanaskan dengan kemunculan hastag #2019GantiPresiden. Gerakan ini  muncul sebagai antitesa gerakan pendukung Jokowi yang mempopulerkan slogan Salam 2 Periode dan sudah pasti menginginkan Jokowi menjadi presiden untuk periode kedua. Menurut Bawaslu, kedua gerakan tersebut legal dan tidak bertentangan dengan demokrasi, jadi tidak ada yang perlu dilarang atau ditangkap. Di lapangan, terjadi perang kaos antara kedua pendukung. Pihak yang paling diuntungkan dari perbedaan kedua kubu ini tentu saja pengusaha kaos ?

ganti

Perang kaos antara penolak dan pendukung Jokowi

Sejauh ini Capres yang sudah pasti maju lagi adalah petahana Jokowi. Jokowi seolah-olah tiada punya lawan sebanding. Prabowo yang digadang-gadang untuk maju lagi belum mendeklarasikan dirinya menjadi Capres. Akankah Prabowo akan maju lagi? Semuanya masih misteri.

Gerakan #2019GantiPresiden berasal dari kelompok masyarakat yang tidak menginginkan Jokowi kembali menjadi presiden.  Meskipun siapa calon presiden pengganti juga belum diketahui namanya, tetapi gerakan ini cukup masif di dunia maya. Dari berita dan tulisan yang saya baca di Internet, saya menyimpulkan  gerakan #2019GantiPresiden muncul karena beberapa faktor.

Faktor pertama adalah perasaan diperlakukan tidak adil. Pendukung hastag #2019GantiPresiden sebagian besar adalah dari kelompok Islam. Mereka menilai di era Presiden Jokowi luar biasa sekali pelecehan terhadap agama (Islam) dan kriminalisasi pada ulama. Para pengkritik Jokowi yang melakukan ujaran kebencian atau penyebaran hoax di media sosial begitu cepat diproses secara hukum oleh polisi, tetapi sebaliknya para pendukung Jokowi yang melakukan pelecehan agama dan melakukan ujaran kebencian kepada ulama seperti tidak tersentuh hukum, misalnya pelecehan agama yang dilakukan oleh Ade Armando, Abu Janda, dan terakhir Sukmawati lain-lain. Kasus-kasus pelecehan agama dan ujaran kebencian yang dilakukan oleh mereka proses hukumnya berjalan sangat lamban dan tidak ada kabar kelanjutannya. Polisi dinilai menjadi alat kekuasaan untuk menangkap orang-orang yang berseberangan dengan Pemerintah.

Faktor kedua adalah  tentang janji. Mereka menilai Jokowi ingkar dengan janji-janjinya semasa kampanye, misalnya berjanji tidak akan mengimpor pangan, berjanji tidak akan menaikkan harga BBM, berjanji tidak bagi-bagi kursi, berjanji membeli lagi Indosat dan lain-lain (baca: Rekapitulasi Janji-janji Jokowi).  Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya.

Saya rasa itulah dua faktor utama yang saya tangkap dari orang-orang yang tidak menginginkan Jokowi menjadi presiden lagi. Faktor tambahan seperti  isu hutang Pemerintah sebesar 4000 T  mungkin untuk menambah kesan seram Pemerintahan Jokowi saja, dan saya pikir ini bukan kesalahan Jokowi semata tetapi juga warisan dari Pemerintahan sebelumnya.

Ada aksi tentu ada reaksi. Gerakan #2019GantiPresiden menimbulkan perlawanan dari kelompok pro Jokowi. Mereka juga membuat hastag seperti #2019TetapPresidenJokowi, #2019KamiPuasLanjutkan, dan lain-lain. Kelompok pro Jokowi menilai Jokowi adalah presiden yang merakyat. Jokowi dinilai berhasil membangun banyak infrastruktur di berbagai daerah di tanah air, karena itu Jokowi pantas menjabat presiden untuk periode kedua.

Menurut saya, kedua gerakan yang berlawanan ini akan memanaskan jagad maya dan mungkin saja situasi bangsa secara fisik setahun ke depan. Saya tidak tahu apakah tahun 2019 akan ganti presiden atau tidak ganti presiden. Yang bisa saya prediksi adalah bangsa ini akan terbelah dua lagi karena berbeda pilihan. Sejarah mengulang dirinya sendiri.

Written by rinaldimunir

April 24th, 2018 at 1:56 pm

Posted in Indonesiaku

Kapan Hukuman Pembunuhan adalah Dibunuh?

without comments

Judul tulisan saya di atas mungkin menyeramkan. Menyebut kata “dibunuh” saja sudah membuat mulut bergetar, apalagi bila tangan melakukannya. Tapi, jika membaca berita di bawah ini, masihkah kita bertoleransi kepada pembunuh?

“Jangan bunuh saya. Kalau mau ambil uang, mobil dan harta ambillah. Tetapi tolong jangan bunuh saya. Saya masih ada anak dan istri,” kata Tyas menirukan perkataan terakhir korban saat dalam kondisi dijerat.

Tyas adalah seorang supir Go-Car di Palembang. Dia mendapat order dari empat pemuda, salah seorang diantaranya adalah mahasiswa. Keempatnya sudah merencanakan untuk menggasak mobil korban. Ketika sedang membawa keempat pemuda tadi, lehernya dijerat dengan tali dari belakang. Dia masih sempat melawan, tapi jeratan tali sangatlah erat. Saat sudah tidak berdaya lagi, dia memohon belas kasihan kepada keempat penjahat tadi agar jangan membunuhnya. Silakan ambil mobil dan uangnya, tapi jangan bunuh dirinya, sebab dia masih punya anak dan istri, katanya,  seperti penggalan kalimat yang saya tulis di atas. Tetapi ucapan memohon belas kasihan dari dirinya tidak mampu meluluhkan hati kempat penjahat tadi. Nyawanya lepas dari badannya, lalu tubuhnya dibuang ke rawa. Jenazahnya yang sudah membusuk baru ditemukan 40 hari kemudian. Baca beritanya di sini:  Saat Sopir Go-Car Dihabisi Tyas Dkk: Jangan Bunuh Saya.

Astaghfirullah. Sungguh sadis. Insya Allah korban mati dalam keaadaan syahid karena ia mati ketika sedang mencari nafkah buat anak istrinya. Pembunuhnya sudah membuat seorang anak menjadi yatim dan istri menjadi janda.

Apa hukuman yang pantas bagi keempat pembunuh tadi? Jawabnya adalah hukuman mati. Mereka harus mendapat balasan yang setimpal. Nyawa harus dibalas dengan nyawa. Kalau sudah begitu, saya rindu dengan hukum Islam, sebab di dalam hukum Islam pembunuh harus mendapat hukuman yang sama, yaitu harus dimatikan juga.

Sayangnya hukum di negara kita bukan hukum Islam, meskipun mayoritas rakyatnya beragama Islam. Negara kita memakai hukum peninggalan Belanda. Di dalam hukum positif yang berlaku sekarang, hukuman bagi pelaku pembunuhan paling tinggi adalah hukuman mati, tetapi itu paling tinggi. Kenyataannya tidaklah demikian, hukuman bagi pelaku pembunuhan biasanya beberapa tahun sampai belasan tahun. Hanya kasus pembunuhan yang sangat berat saja yang mendapat hukuman mati, itupun tidak langsung dilaksanakan, tetapi ditunda beberapa tahun hingga puluhan. Pelaku pembunuhan mendekam dulu di dalam penjara. Eksekusi sering ditunda karena berbagai alasan, lalu yang terjadilah adalah sikap mendua dan akhirnya menjadi pro kontra di tengah masyarakat.

Sebagian orang, termasuk pegiat HAM, beranggapan hukuman mati melanggar HAM. Janganlah menambah korban lagi dengan melakukan hukuman mati, katanya. Mereka tidak memikirkan HAM orang yang mati dan keluarganya. Bagaimana jika pembunuhan itu terjadi pada dirinya atau keluarganya? Apakah mereka akan memikirkan HAM juga?

Pada kasus-kasus pembunuhan yang berlangsung di pengadilan, sering kita baca atau lihat di TV  keluarga korban tidak kuasa menahan amarahnya melihat pelaku pembunuhan dihadirkan di ruang pengadilan. Mereka merangsek maju untuk melakukan pembalasan yang setimpal  kepada pelaku. Kalau perlu pelaku pembunuhan itu dibunuh saat itu juga. Jika pelampiasan amarah itu tidak berhasil dilakukan, keluarga korban berteriak-teriak kepada hakim untuk menjatuhkan hukuman mati kepada pelaku.

Yang paling merasakan duka kehilangan akibat pembunuhan adalah keluarga korban. Kita yang bukan bagian dari keluarga itu mungkin bersikap biasa saja karena kita tidak merasakan kepedihan mereka. Nyawa keluarga mereka yang menjadi korban tidak bisa diganti lagi. Rasa kasihan kepada pelaku, kasihan jika dihukum mati, tidak mampu menggantikan nyawa korban.

Hukum Islam tentang pembunuhan sungguh adil. Pelaku pembunuhan tidak langsung dijatuhi hukuman mati. Mereka menjalani sidang pengadilan terlebih dahulu. Jika dari proses pengadilan memang terbukti pelaku melakukan pembunuhan, maka hukumannya adalah hukuman mati (entah dengan cara ditembak, dipancung, atau dihukum gantung). Tujuannya adalah untuk membuat efek jera. Namun, ada kemungkinan pelaku bisa lolos dari jerat hukuman mati. Jika keluarga korban memaafkan pelaku, maka pupuslah hukuman mati. Pelaku pembunuhan cukup membayar diyat (atau uang denda) kepada keluarga korban yang besarnya ditentukan oleh keluarga korban.

Kembali ke kasus pembunuhan supir Go-Car di atas, dapatkah anda mengerti kenapa hukuman bagi pelaku pembunuh Tyas seharusnya juga dihukum mati dengan mengesampingkan perasaan belas kasihan?

Semoga hukum Islam tentang pembunuhan diadopsi menjadi hukum positif di negara kita supaya memenuhi rasa keadilan.

Written by rinaldimunir

April 9th, 2018 at 5:12 pm

Posted in Agama,Indonesiaku