if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Indonesiaku’ Category

Masyarakat Pemarah (2)

without comments

Masyaralat kita gampang sekali marah dan main hakim sendiri tanpa tahu duduk masalahnya.  Kasus yang memilukan baru-baru ini adalah tindakan main hakim sendiri hingga membakar hidup-hidup terduga pencuri amplifier mushola bernama Zoya (baca: Pria yang Dibakar Hidup-hidup di Bekasi Sempat Bilang “Saya Enggak Maling”, dan Ini Cerita Saksi Tentang Joya yang Dibakar Hidup-Hidup.)

Malang benar nasib Zoya. Dia tidak sempat membela diri, tapi hukuman jalanan sudah lebih dulu berbicara. Yang membuat hati tambah pilu adalah dia meninggalkan seorang istri yang sedang mengandung dan seorang anak balita.

Membakar hidup-hidup seorang yang diduga mencuri adalah tindakan yang sangat kejam. Kalau pun benar ia mencuri amplifier, hukuman membakar hidup-hidup itu sama sekali sangat tidak pantas di negara yang menjunjung tinggi hukum dan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Harga amplifier tidak seberapa dibandingkan  dengan nyawa seorang anak manusia yang dibunuh dan dibakarnya.

Saya ingin bertanya kepada pelaku yang membakar Zoya, anda dibakar saja sedikit jari tangannya, minimal disentuh ke dalam api selama sepuluh detik saja, mau tidak? Sakit tidak? Itu baru jari tangan, bagaimana bila seluruh tubuh? Sungguh sakit yang tiada terperi. Begitu pula yang dirasakan Zoya yang, lebih mengerikan sakitna dai yang kita kira. Saya tidak bermaksud membela Zoya, tapi saya mempertanyakan aksi kejam yang dilakukan oleh orang-orang saat itu.

Aksi pembakaran terhadap terduga pelaku pejahatan sudah sering terjadi. Tahun 2006 saya sudah pernah menulis tentang kejadian serupa dalam tulisan berjudul sama: Masyarakat pemarah. Masyarakat kita sudah gelap mata sehingga orang yang belum tentu benar-benar mencuri sudah dihukum tanpa proses pengadilan.

Masyarakat kita memang sudah tidak bisa lagi menahan diri untuk main hakim sendiri terhadap terduga perilaku kriminal. Ingat lho, masih terduga, belum menjadi tersangka. Tindakan main hakim sendiri hingga hukuman yang sangat sadis mungkin dilatari oleh rasa kesal  masyarakat terhadap aksi pencurian (maupun  aksi kriminal lain seperti penculikan anak, pemerkosaan, dll)  yang membuat resah. Aparat keamanan dianggap gagal memberikan rasa aman, maka masyarakat sendiri yang memberikan hukuman jalanan. Namun, apapun alasannnya, tetap saja tindakan main hakim sendiri tidak dapat dibenarkan.

Hukuman bakar hidup-hidup ini sangat ironis dibandingkan koruptor yang mencuri uang rakyat dalam jumlah yang tidak kira-kira. Koruptor saja hukumannya ringan, hanya dalam hitungan tahun. Bahkan ada koruptor yang masih bisa tersenyum dan melambaikan tangan.


Written by rinaldimunir

August 8th, 2017 at 4:41 pm

Posted in Indonesiaku

Motor, Trotoar, dan Kegagalan Pendidikan Karakter

without comments

Sore hari menjelang waktu buka puasa, lalu lintas menuju kawasan perumahan di Antapani sangat padat. Semua pengendara berpacu agar duluan sampai ke rumah. Berbuka puasa bersama keluarga tentu momen yang selalu dinantikan. Jam-jam rush hour adalah saat sore ketika pulang kantor, yaitu ketika secara bersamaan orang-orang pulang ke rumah. Ruas jalan sempit di samping Jembatan Pelangi Antapani itu disesaki mobil dan motor.  Ruas jalan itu tersendat dan sulit bergerak. Semua pengendara tidak mau mengalah, tidak mau antri.

Pengendara motor yang tidak sabaran akhirnya menjajal trotoar yang diperuntukkan bagi pejalan kaki.  Satu memberi contoh, lalu diikuti oleh pengendara yang laindi belakangnya.

trotoar1

Tanpa merasa bersalah, pengendara motor – yang pasti orang berpendidikan- melaju di atas trotoar. Memang tidak ada pejalan kaki saat itu. Tapi, melaju di atas trotoar tetap saja salah, bukan?

trotoar2

Pemandangan seperti ini, pada saat lalu lintas padat, sering kita temui di mana-mana. Di bawah ini foto bersumberkan dari Antara. Ceritanya masih sama, pemotor yang tidak sabaran dan maunya menang sendiri.

Motor-Naik-Trotoar-020713-AGR-2

Pemgendara motor yang tidak sabaran (Sumber foto: Antara)

Beberapa tahun yang lalu pernah  ada berita yang menjadi viral di media sosial tentang bocah kecil bernama Daffa yang berani menghadang pengendara motor di atas trotoar. Hebatnya lagi, bocah kecil itu tidak takut dibentak pengendara motor.  Dia ingin menunjukkan keyakinannya bahwa berkendaraan di atas trotoar itu salah.

daffa

Daffa menghadang pengendara motor di atas trotoar (Sumber foto: Tribunnews.com)

Tapi, viralnya berita tentang Daffa tidak mampu mengubah perilaku pengendara motor. Dengan berlalunya waktu, orang pun melupakan kisah Daffa, pemotor yang menaiki trotoar pun mulai marak lagi.

Kasus pemotor yang menaiki trotoar adalah salah satu contoh bahwa pendidikan katakter di negara kita belum berhasil. Contoh lainnya adalah budaya antri yang belum menjadi perilaku bangsa kita, orang-orang yang membuang sampah makanan dari atas mobil, merokok di sembarang tempat, meludah sembarangan, dan sebagainya.

Boleh saya katakan bahwa pendidikan di negara kita baru sebatas knowing, belum sampai menjadi doing. Murid-murid  memang diajarkan agar jangan membuang sampah di sembarang tempat, tapi itu baru sebatas pengetahuan saja. Dalam kesehariannya masih banyak anak-anak  bahkan orang dewasa dengan cuek membuang bungkus kemasan makanan dari dalam mobil di atas jalan tol. Makan kacang rebus memang asyik, tapi kulitnya berserakan di atas tanah. Makan permen itu simpel, tapi bungkusnya dibuang ke lantai.

Menyeberanglah di atas zebra cross atau di atas jembatan, tapi orang-orang tetap saja seenaknya menyeberang jalan di mana saja dia suka. Naiklah bus dari halte, tapi orang-orang malas pergi ke halte, mereka menyetop bus atau angkot dari posisi berdirinya sekarang. Supir-supir bus pun menuruti permintaan penumpang yang minta turun di mana saja yang diinginkan penumpang.

Antrilah masuk ke dalam pesawat, tapi orang-orang secara bergerombol berusaha duluan masuk melalui gate tempat pemeriksaan boarding pass. Kenapa mereka tidak mau antri dengan tertib, bukankah nanti semua penumpang akan masuk juga ke dalam pesawat, semuanya sudah mendapat nomor kursi, apa lagi yang dikhawatirkan?

Antrilah naik ke atas kereta, tapi orang-orang berebut naik dan turun kereta. Mungkin untuk kereta commuter yang karcisnya tanpa nomor kursi kita masih bisa agak maklum, mengapa orang-orang  adu cepat naik kereta agar dapat tempat duduk, tapi tetap saja fenomena ini menunjukan orang kita malas antri.

Ketika saya berkunjung ke Jepang beberapa tahun lalu, saya kagum dengan budaya antri mereka. Kereta belum datang, tapi orang-orang sudah antri dengan tertib dalam satu line. Ini adalah antrian untuk masuk ke dalam kereta, padahal keretanya sendiri belum sampai ke stasiun. Tidak ada dorong-dorongan, tidak ada yang menyerobot antrian.

DSCF1019

Antri dengan tertib menunggu kereta.

DSCF1023

Antri dengan tertib menunggu kereta

Selama pola pendidikan di negara kita masih dalam sebatas knowing, maka sangat sulit mengubah karakter bangsa ini. Pendidikan karakter seharusnya sejak dini ditanamkan. Pendidikan karakter yang terbaik adalah by practicing, tidak hanya knowing. Saya dapat cerita dari teman, jika di negara kita anak TK diajarkan sebareg pelajaran mulai dari belajar membaca dan berhitung sederhana, maka di Jepang anak-anak TK diajarkan bagaimana naik kereta, bagaimana antri dan bertransaksi di minimarket atau di supermarket. Jadi, pendidikan dini di sana langsung praktek, yang diaharapkan terbawa jika mereka dewasa. Jika dari kecil sudah terbiasa belajar tertib dan sesuai aturan, maka kelak jika dewasa nanti sudah menjadi perilaku keseharian.


Written by rinaldimunir

June 12th, 2017 at 3:05 pm

Ketika Mahasiswiku Non-Muslim Menanyakan Kantin pada Bulan Puasa

without comments

Suatu hari seorang mahasiswiku yang beragama bukan Islam (non muslim) bertanya kepada saya. Pak, apakah ada kantin yang buka di kampus siang ini?, tanyanya.

Hari ini adalah hari ketiga puasa bulan Ramadhan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, hampir semua kantin di kampus ITB tutup selama bulan puasa (ketika tulisan ini ditulis, ternyata ada satu kantin yang buka, yaitu kantin Eititu di Gedung Student Center).  Saat ini juga memasuki liburan panjang, maka kantin tutup dikarenakan tidak banyak mahasiswa di kampus juga merupakan alasan lainnya.

Tidak ada, jawab saya. Kalau kamu mau makan, kamu bisa pergi ke kantin atau kafe di Jl Gelapnyawang, di belakang Masjid Salman. Apakah kamu bawa bekal dari rumah?, tanya saya lagi.

+ Ada, pak. Saya bawa snack.

Silakan kamu makan di sini saja, di ruang asistenku di sana

+ Saya tidak enak pak sama orang yang puasa.

Tidak apa-apa. Kamu makan di labku nggak akan membuat yang berpuasa jadi batal puasanya. Kami di sini sama-sama bisa mengerti.

Saya memang tidak melarang orang lain untuk makan pada siang hari bulan Ramadhan. Orang yang berpuasa tidak perlu meminta dihormati puasanya, orang lain makan di siang bolong kita tidak boleh melarangnya. Tidak semua orang berpuasa, di lingkungan kita tidak semuanya muslim, ada saudara-suadara sebangsa kita yang tidak ikut berrpuasa. Bahkan tidak semua orang Islam ikut berpuasa. Wanita yang datang bulan, wanita yang hamil, wanita yang sedang menyusui anak, musafir, dan orang yang sedang sakit diperbolehkan tidak menjalankan ibadah puasa. Karena itu, rumah makan yang melayani orang yang tidak berpuasa seharusnya diperbolehkan.

Di Indonesia memang ada pro kontra tentang rumah makan yang buka pada siang hari bulan Ramadhan.  Di daerah yang heterogen seperti Jakarta, Bandung, dan kota-kota multietnis dan agama lainnya, sebagian rumah makan tetap buka. Biasanya mereka masih menunjukkan sikap tenggang rasa dengan tidak membuka rumah makannya secara mencolok.  Jendelanya ditutup dengan tabir kain, atau pintunya tidak dibuka seluruhnya. Di Bandung beberapa rumah makan Padang ada yang buka pada siang hari namun mereka tidak melayani makan di tempat, hanya bisa dibungkus atau tidak makan di sana.

Di daerah yang homogen dan kental keislamannya sudah ada kesepakatan berupa Perda atau aturan yang melarang rumah makan berjualan pada siang hari selama bulan puasa. Sebagai bentuk kearifan lokal, maka aturan tersebut tetaplah harus kita hormati. Saya pernah membaca ada aturan di daerah mayoritas Kristen seperti di Papua yang melarang toko-toko dan pasar buka pada hari Minggu, karena hari Minggu adalah hari khusus untuk beribadah di gereja. Aturan tersebut ditaati oleh pedagang muslim di sana.

Bangsa Indonesia ini sudah sejak dulu tidak punya masalah soal toleransi atau tenggang rasa. Saya teringat pengalaman saya sholat di sebuah ruang di kampus Perguruan Tinggi Swasta Katolik, mereka (teman-teman dosen di PTS tersebut) tidak masalah saya sholat di sana, padahal  di dalam ruang tersebut ada salib dan patung Yesus di dinding, malah saya sholat di bawahnya. Mereka memberi waktu untuk saya melakukan sholat, bahkan menanyakan apakah saya mau sholat dulu sebelum memulai diskusi lagi?

Meskipun saya punya pandangan tidak melarang orang makan pada siang hari bulan puasa, tetapi tetaplah ada satu hal yang perlu diperhatikan. Kalau mau makan, ya makan saja, tidak usah secara demonstratif sengaja menunjukkan makan secara terbuka di depan khalayak yang berpuasa. Kadang-kadang tidak semua orang bisa paham atau mungkin bisa salah paham dengan anda. Maka lebih bijak mencari tempat yang agak tertutup dan silakan makan di sana.

Kembali ke dialog saya dengan mahasiswi tadi.

+ Terima kasih, pak.

Dia pun mencari tempat di sudut lab, memakan bekal snack-nya.


Written by rinaldimunir

June 5th, 2017 at 2:50 pm

Masjid Salman Tempat yang “Radikal”

without comments

Sebagai orang yang pernah aktif di Masjid Salman ITB, saya cukup terhentak dengan tudingan Ketua Umum PBNU K.H Said Aqil Siradj yang menyatakan bahwa Masjid Salman ITB adalah tempat berkembangnya paham radikalisme (Baca: NU: Radikalisme Menyebar ke Kampus, Terutama Masjid Salman ITB). Meski akhirnya Pak Kyai mengaku khilaf dan meminta maaf atas tudingannya itu  (baca: Pengurus Masjid Salman: Kiai Said Aqil Mengaku Khilaf dan Mohon Maaf), namun tuduhan pak Kyai terlanjur menjadi viral di media sosial dan menimbulkan keresahan bagi para alumni ITB yang pernah merasakan kehidupan di Masjid Salman.

masjid-salman

Masjid Salman ITB (Sumber: kabarsalman.com)

Kata radikal saat ini menjadi kata yang banyak dilontarkan terkait situasi politik tanah air yang belum tenang sebagai dampak kasus Ahok. Radikal dipertentangkan dengan Pancasila. Ormas radikal, ormas anti pancasila, radikalisme, kaum radikal, dan seterusnya, itulah kata-kata yang menghiasi media di tanah air. Disematkan kata radikal saja sudah membuat tidak nyaman, apalagi jika dituding sebagai pendukung dan penyebar radikalisme.

Padahal kalau membuka kamus radikal itu tidak selalu berarti negatif.  Radikal berasal dari kata radix yang artinya akar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti radikal adalah sbb:

radikal1/ra·di·kal/ a 1 secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip): perubahan yang –; 2 Pol amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan); 3 maju dalam berpikir atau bertindak;

Jika dimaksudkan radikal itu adalah kembali ke hal yang mendasar atau prinsipil, maka sudah seharusnya setiap orang demikian. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Kita sering berkata demikian, misalnya harus sesuai dengan prinsip dasar, hal yang mendasar adalah…., dsb, dsb.  Lihatlah artsitektur Masjid Salman sendiri tergolong radikal pada zamannya. Ia tidak mempunyai kubah seperti masjid lain pada umumnya.  Arsitek Masjid Salman, Pak (alm) Ahmad  Nu’man, punya alasan mengapa rancangan masjidnya demikian. Masjid itu kata dasarnya sujud, jadi masjid itu tempat bersujud. Maka, bagi sebuah masjid uyang dipentingkan adalah fungsi dasarnya sebagai tempat bersujud (sholat). Bentuk bangunan sendiri tidak ditekankan seperti apa, pakai kubah atau tidak. Lihatlah Masjidil Haram, tidak ada kubah di sana. Kubah masjid baru ada pada zaman Kerajaan Ottoman Turki. Kubah tidak identik dengan Islam, kubah juga terdapat pada bangunan gereja-gereja di Eropa.

Arti kata radikal yang ketiga adalah maju dalam berpikir dan bertindak. Ya, memang, dalam hal ini Masjid Salman tergolong radikal. Pengelolaan masjid dilakukan secara profesional oleh pengurus masjid yang kebanyakan adalah dosen-dosen ITB. Berbagai teknologi sudah diterapkan Masjid Salman untuk membuat masjid ini semakin nyaman untuk beribadah (baca juga: ATM Beras dari Masjid Salman ITB). Berbagai kajian dan diskusi yang mencerahkan pikiran diadakan silih berganti untuk menambah wawasan jamaah. Berbagai tokoh politik, tokoh agama, ilmuwan, dan tokoh masyarakat telah banyak mengisi kajian berupa seminar, telaah buku, diskusi kontemporer, semuanya untuk menghidupkan fungsi masjid lebih dari sekedar tempat sholat, tetapi masjid adalah pusat peradaban masyarakat.

Arti kata radikal yang kedua adalah amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan). Jika ini yang dimaksudkan, maka sangat jauh panggang dari api. Jamaah Salman yang umumnya kaum intelektual (mahasiswa, dosen) bukanlah bertipe demikian, apalagi jika dihubungkan dengan perilaku kekerrasan.  Saya belum pernah membaca atau mendengar ada kegiatan makar atau penggulingan Pemerintahan yang sah yang dilakukan oleh jamaah Salman. Di Salman tidak ada kaderisasi politik. Jika alumninya aktif dalam politik praktis, maka itu bukan karena Salman-nya, tetapi adalah pilihan pribadinya.

Siapapun yang pernah berkunjung, sholat, maupun aktif di Masjid Salman ITB, pasti mengetahui bahwa Masjid Salman ITB adalah masjid yang terbuka. Siapapun boleh datang, ikut kajian, ikut mendengarkan ceramah, ikut mengaji, ikut memakmurkan masjid, ikut berbagai kegiatan yang dilakukan oleh remaja masjid, dan sebagainya. Walikota Bandung, Ridwan Kamil, adalah alumni Masjid Salman juga.

emil dan bimbel

Emil (sedang dipeluk di belakang) dan para murik Bimbel Salman berfoto dengan para pengajar di tangga Masjid Salman, tahun 1990 usai malam tafakkur menjelang UMPTN 1990.

Karena sifatnya yang terbuka, maka siapapun bisa beraktivitas di sana. Ketika ramai kasus NII di Bandung, masjid Salman ikut kena imbas karena aktivis NII melakukan perekrutan anggota melalui masjid, tak terkecuali mungkin mereka diam-diam menggunakan Masjid Salman sebagai base. Tapi, sekali lagi itu bukan kegiatan masjid, tetapi orang-orang yang memanfaatkan masjid untuk tujuan kelompoknya.

Tulisan ini bukan pembelaan diri. Tetapi demikianlah adanya bahwa masjid Salman itu memang masjid yang radikal dalam tanda kutip.


Written by rinaldimunir

May 31st, 2017 at 3:44 pm

Ketika Islam Dibenturkan dengan Kebhinnekaan dan NKRI

without comments

Sebagai orang Islam, saya merasa cukup sedih ketika umat Islam dituding intoleran, radikal, anti-kebhinnekaan, anti-NKRI, anarkis, dan sebagainya. Sebutan-sebutan negatif itu berlangsung selama Pilkada DKI berlangsung hingga Ahok divonis bersalah dan dihukum dua tahun penjara oleh hakim Pengadilan Tinggi Jakarta Utara baru-baru ini.

Pilkada DKI memang kental dengan nuansa SARA. Puncaknya ketika Ahok dianggap menistakan Al-Quran dengan kasus Al-Maidah 51 yang sama-sama kita ketahui. Pro kontra terhadap ucapan Ahok itu telah membangkitkan sentimen keagamaan yang meluas ke seluruh tanah air. Aksi-aksi Bela Islam yang bertubi-tubi yang diikuti oleh ratusan ribu hingga jutaan umat Islam di Jakarta,  demo di mana-mana di seluruh negeri, dan perang kata-kata di media sosial, telah membuat situasi negara ini menjadi tambah panas. Hampir-hampir saja negara ini diambang perpecahan. Peserta demo-demo itu dituding anti-kebhinnekaan, radikal, intoleran, dan anti NKRI. Saya tidak mengerti kenapa disebut demikian, mungkin karena yang demo itu memakai sorban, peci, berbaju putih-putih, menggemakan takbir, dan sasaran demo adalah Ahok yang kebetulan non-muslim dan beretnik Tionghoa. Padahal yang diperjuangkan oleh peserta demo adalah tindakan hukum, bukan agama orang lain atau etnik.

Setelah Pilkada diketahui hasilnya, yang ternyata Ahok kalah, maka media asing pun ramai memberitakannya. Media asing menuding kemenangan Anis-Sandi adalah kemenangan kaum radikal dan menunjukkan meningkatnya intoleransi. Publik di dalam negeri yang Pro Ahok ikut-ikutan mengamini tudingan media luar negeri tersebut.  Itu artinya 58% pemilih DKI yang memilih Anies-Sandi (sekitar 3,2  juta pemilih) seluruhnya dianggap kaum radikal dan intoleran, dan 42% yang memilih Ahok dianggap toleran dan tidak radikal. Kesimpulan yang sama sekali gegabah, sebab, meski ada yang memilih karena alasan agama, lebih banyak warga DKI tidak memilih Ahok bukan karena pertimbangan agama, tetapi karena faktor attitude Ahok dan serangkaian peristiwa yang terjadi pada masa tenang yang telah menggerus elektabilitasnya. Peristiwa-peristiwa itu seperti pembagian sembako, kasus Steven yang mendiskreditkan pribumi, dan iklan kampanye Ahok yang kontroversial.

Pasca Pilkada, ternyata kegaduhan di dalam negeri belum usai. Sidang Ahok berakhir klimaks dengan vonis hukuman penjara dua tahun yang diberikan oleh hakim. Hakim memerintahkan Ahok ditahan. Media luar negeri pun kembali nyinyir dengan menyebut hukuman kepada Ahok sebagai bukti intoleransi dan radikalisme di Indonesia. Mereka menyebut vonis tersebut adalah hasil tekanan massa. Itu artinya media luar negeri meragukan independensi hakim Indonesia.

Para pendukung Ahok yang belum bisa move on tidak terima Ahok dipenjara. Mereka melakukan unjuk rasa dan menuntut Ahok dibebaskan. Dalam aksi unjuk rasanya mereka kembali menghina ulama dan menyebut vonis ini adalah akibat kaum radikal yang anarkis dan intoleran dan anti-NKRI.

Kawan. Umat Islam Indonesia sangat cinta NKRI. Kemerdekaan Indonesia ini diperjuangan dengan darah para syuhada dan ulama. Mana mungkin umat Islam mengkhianati hasil perjuangannya sendiri dengan mengancam NKRI?

Umat Islam tidak anti Pancasila. Sila-sila di dalam Pancasila itu adalah perwujudan ajaran Islam. Umat Islam tidak menuntut negara Islam. Soal dasar negara ini sudah selesai ketika para tokoh Islam pada tahun 1945 berbesar hati menghilangkan tujuh kata di dalam Piagam Jakarta untuk menjaga keutuhan NKRI dari ancaman pemisahan oleh saudara sebangsa di kawasan Indonesia Timur.

Umat Islam tidak anti kebhinnekaan. Sudah lama umat Islam hidup berdampingan dengan damai dengan pemeluk agama berbeda. Di Indonesia tidak hanya hari penting agama Islam saja yang dijadikan hari libur nasional, semua agama mendapat hari libur untuk hari rayanya. Bahkan hari Jumat tidak dijadikan hari libur, justru hari minggu yang menjadi hari libur. Kita hampir tidak menemukan libur nasional untuk hari raya umat Islam di Amerika, Inggris, Jerman maupun Perancis, mereka adalah negara-negara yang dianggap mbah-nya demokrasi.

Umat Islam bukanlah orang radikal, ekstrimis, teroris. Perilaku radikal sekelompk orang tidak dapat digeneralisasi bahwa semua orang Islam adalah radikal, ekstrimis, dan teroris. Mereka yang demo-demo kemarin itu dalam rangka membela agama dan kitab sucinya, sama sekali bukan menyerang agama lain dan etnik  lain. Demo-demo itu bahkan berlangsung tetib dan damai, jauh sekali dari kesan anarkis yang dilabelkan oleh kelompok yang tidak suka.

Kawan. Jangan kau benturkan Islam dengan label-label yang menyesatkan itu.  Indonesia bukan hanya soal Ahok. Indonesia adalah negara besar. Terlalu habis energi bangasa kita ini hanya mengurus masalah satu orang, padahal masih banyak persoalan bangsa ini yang menuntut perhatian.


Written by rinaldimunir

May 12th, 2017 at 5:04 pm

Posted in Agama,Indonesiaku

Antara Karangan Bunga dan Tasyakuran Warga

without comments

Ini masih tentang Pilkada DKI yang menjadi perhatian seluruh bangsa Indonesia, bahkan dunia. Pilkada sudah berlalu, pihak yang kalah dan yang menang sudah sama-sama kita ketahui. Sangat menarik mengamati bagaimana pendukung Anies dan Ahok merepson kemenangan dan kekalahan pemimpin yang didukungnya.

Meskipun Ahok kalah dalam Pilkada ini, namun para pendukungnya masih menaruh “cinta” yang mendalam kepadanya. Pendukung Ahok mengirim karangan bunga yang luar biasa banyaknya sebagai ungkapan tanda cinta dan terimakasih kepada Ahok dan Djarot yg sebentar lagi lengser. Say with flower, katakanlah dengan bunga, begitu kata sebuah peribahasa.

karanganbunga

Ribuan karangan bunga dari pendukung Ahok memenuhi halaman Balai Kota Jakarta.

(Sumber foto di atas dari sini: http://megapolitan.kompas.com/read/2017/04/28/13063561/apa.kata.warga.soal.karangan.bunga.untuk.ahok-djarot)

Bagaimana dengan pendukung Anies? Pendukung Anies yang kebanyakan golongan menengah ke bawah memang tidak mengirim karangan bunga kepada Anies-Sandi, tetapi mereka cukup mengadakan tasyakuran berupa makan sedaun pisang bersama di sepanjang gang pemukiman. Sederhana dan bersahaja namun dapat menimbulkan ikatan persaudaraan.

makanbersama

Warga RW 06 Kramatjati mengadakan tasayakuran berupa makan bersama untuk kemenangan Anies-Sandi.

Sumber foto di atas dari sini: https://mobile.twitter.com/spardaxyz/status/855968857932021760?ref_src=twsrc%5Etfw&ref_url=http%3A%2F%2Fkumparan.com%2Fmuhamad-iqbal%2F5-ungkapan-kemenangan-anies-sandi-potong-sapi-hingga-makan-bersama)

Sebagai warga Indonesia, kita tidak perlu nyinyir menyikapi kedua peristiwa di atas. Biarlah pendukung kedua kubu mengungkapkan caranya masing-masing menerima kekalahan dan kemenangan orang yang didukungnya. Karena, itulah dua ungkapan berbeda namun sarat makna.


Written by rinaldimunir

April 30th, 2017 at 2:44 pm

Posted in Indonesiaku

Setelah Pilkada DKI Berlalu

without comments

Pilkada putaran kedua di DKI Jakarta baru saja selesai. Kita pun sama-sama sudah mengetahui hasilnya. Melalui hasil hitung cepat, pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno berhasil mengalahkan pasangan petahana Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) – Djarot Saiful Hidayat dengan angka yang cukup telak, yaitu 58% banding 42%. Hasil real count dari KPU tidak akan jauh berbeda dari hasil hitung cepat, yang ketika tulisan ini dibuat ternyata rekapitulasi hasilnya sudah diumumkan (Baca: Rekapitulasi Suara TPS di KPU DKI Jakarta Selesai, Ini Hasilnya).

Inilah Pilkada yang paling menegangkan dan paling panas dalam sejarah Pilkada. Pilkadanya di DKI Jakarta, tetapi menyedot perhatian seluruh rakyat Indonesia. Jadi, tidak heran ada yang mengatakan ini Pilkada rasa Pilpres.

Saya sebut Pilkada yang panas dan menegangkan karena Pilkada DKI melibatkan sisi emosional orang banyak. Sentimen SARA sudah mencuat jauh sebelum kampanye Pilkada dimulai. Faktornya adalah sang petahana, Ahok. Banyak orang menilai bahwa Ahok tidak disukai karena etnik dan agamanya. Betulkah begitu? Menurut saya penilaian itu tidak tepat. Orang Indonesia sudah terbiasa hidup berdampingan dengan etnik dan penganut agama yang berbeda. Tidak ada masalah yang serius. Seperti yang pernah saya nyatakan dalam tulisan sebelumnya, Ahok sebenarnya memiliki kinerja yang bagus, jadi seharusnya dia bisa memenangkan pertandingan ini apabila  didasarkan pada hasil kerja nyatanya. Komitmennya menegakkan pemerintahan yang bersih dan anti korupsi juga sangat diapresiasi. Bahkan, hasil-hasil survey juga menunjukkan bahwa warga Jakarta mayoritas puas dengan kinerjanya. Namun ternyata mereka tidak memilih Ahok. Apa sebabnya?

Rupanya, kinerja dan prestasi saja tidak cukup. Orang juga melihat dari sisi yang lain, yaitu attitude. Inilah yang kurang dimiliki Ahok. Ahok tidak bisa menjaga bicaranya. Dia berbicara apa saja, mengomentari hal-hal yang bukan wilayahnya, menunjukkan sikap dan perilaku yang kurang santun, yang mana bagi masyarakat timur sikap dan perilaku masih sangat dijunjung tinggi. Apalagi seorang gubernur tidak hanya pemimpin administrasi pemerintahan, tetapi juga pemberi keteladanan. Apalah artinya kinerja yang bagus namun tertutup oleh attitude yang kurang pas.

Perilaku Ahok yang tidak bisa menjaga bicaranya menimbulkan ketersinggungan, khususnya umat Islam. Puncaknya adalah kasus Al-Maidah 51 yang terkenal itu yang sama-sama kita ketahui masalahnya. Karena sudah masuk ke ranah agama, sesuatu yang sangat esensial dan primordial bagi orang  Indonesia, maka mau tidak mau Pilkada DKI akhirnya “menyeret” partisisipasi hampir seluruh bangsa Indonesia untuk ikut-ikutan berkomentar. Dari semula berkomentar berubah menjadi sikap pro dan kontra.  Bangsa ini akhirnya terbelah dua dalam menyikapi Ahok.  Akibatnya sungguh menyedihkan. Hubungan pertemanan menjadi rusak hanya gara-gara berbeda sikap dan pandangan tentang Ahok. Keharmonisan hubungan antra umat beragama menjadi terganggu. Bangsa Indonesia berada diambang perpecahan. Media sosial memiliki peran besar dalam polarisasi bangsa ini, karena posting-an tentang kubu-kubuan ini beredar dengan cepat dan masif secara personal. Berita fintah dan hoax berseliweran setiap waktu yang membuat kebatinan bangsa ini semakin panas dan tegang.

Sekarang pesta sudah usai. Ahok kalah. Kekalahan itu menurut para pengamat tidak hanya karena faktor sentimen SARA semata, tetapi juga akibat beberapa kejadian  menjelang hari pemungutan suara, yang membuat pemilih rasional mengalihkan suaranya ke pasangan lain. Tiga kejadian yang menonjol adalah, pertama pembagian sembako secara masif pada masa tenang kepada rakyat miskin, yang dinilai sebagai bentuk politik uang dan dianggap menciderai demokrasi yang bersih. Kedua adalah konten video kampanye Ahok-Djarot yang memberi stigma negatif kepada kaum pribumi dan umat Islam. Ketiga adalah kasus penghinaan Steven kepada Gubernur NTB di Bandara Changi, Singapura. Ketiga kejadian ini beredar dengan cepat dan deras melalui media sosial, akibatnya sungguh tak terduga, pemilih rasional menjauhi Ahok.

Syukurlah Ahok menerima kekalahan itu dengan lapang dada. Media sosial pun tiba-tiba berubah menjadi sejuk dan lebih tenang. Suasana panas berubah menjadi dingin. Ada “untungnya” juga Anies-Sandi yang menang, sebab jika Ahok yang menang maka saya khawatir polarisasi bangsa ini akan terus berlanjut hingga Pilpres 2019 dan sesudahnya. Rupanya Tuhan bekerja dengan cara-Nya sendiri sehingga bangsa Indonesia luput dari perpecahan yang mengancam.

Sekarang yang  diperlukan adalah rekonsiliasi bangsa Indonesia yang terpecah akibat Pilkada DKI.  Sudahi permusuhan dan penebaran kebencian kepada masing-masing kelompok. Tidak ada gunanya.  Kita ini bangsa yang satu, yaitu Bangsa Indonesia.


Written by rinaldimunir

April 21st, 2017 at 1:56 pm

Posted in Indonesiaku

Pengorbanan AHY dan Teladan yang Ditunjukkannya

without comments

Pilkada DKI Jakarta putaran pertama sudah berlalu. Paslon nomor 1, yaitu Agus Harymurti Yudhoyono, atau disingkat AHY, dengan pasangannya Sylviana tersingkir dari putaran pertama. Paslon nomor 2, Ahok-Djaror dan Paslon nomor 3, Anies-Sandi, melaju ke putaran kedua. AHY sebenarnya adalah bintang yang cemerlang, di awal-awal kampanye elektablitas AHY naik cepat di atas  30%, namun cepat pula merosot hingga akhirnya hanya dapat suara 17% sesuai hasil quick count kemarin. Penurunan itu akibat banyak faktor, mulai dari penampilan yang kurang memuaskan pada acara debat, hingga serangan-serangan yang berbau politis yang ditujukan untuk menjatuhkan elektabilitasnya.

OK, saya tidak akan membicarakan lagi mengenai hasil Pilkada putaran pertama itu. Saya ingin menyoroti satu sisi lain, yaitu fenomena AHY. Menurut saya,  Mas Agus, panggilan AHY, adalah fenomena baru perpolitikan di negeri ini. Dia adalah bintang yang bersinar. Dia anak mantan Presiden (SBY). Karir militernya sangat bagus, tidak lama lagi akan menjadi Letkol.  Dia sepi dari diberitakan, tidak pernah ada gosip negatif  tentang dirinya. Hal itu ditunjung dengan penampilan fisiknya yang tampan dan postur tubuh yang bagus (atletis).

Di tengah karir militernya yang cemerlang, tiba-tiba dia dipanggil (entah oleh bapaknya atau entah oleh Parpol yang dihimpun SBY) untuk maju ke gelanggang percaturan politik Pilkada DKI. Sebagai anak yang taat kepada orangtua, dia mematuhi permintaan itu, meskipun resikonya sangat besar: dia harus mundur dari TNI, dan jika dia gagal dalam Pilkada DKI, dia tidak bisa kembali lagi ke TNI. Pengorbanan yang sangat berat bagi seorang muda seperti AHY.

ahy

Selama proses kampanye Mas Agus dielu-elukan rakyat kecil. Dia menjadi pilihan alternatif diantara  Ahok (yang dipersepsikan berperilaku kasar) atau Anies (yang dipersepsikan saat itu belum punya program terobosan). Perlahan-lahan Mas Agus yang tidak begitu dikenal tiba-tiba menjadi idola baru. Elektabilitasnya naik bahkan mengalahkan Ahok dan Anies.

Tetapi, politik itu sangat kejam. Mulailah berbagai cara untuk menjatuhkan citra Mas Agus. Mula-mula suami pasangannya, Mpok Sylvi, dikaitkan dengan isu makar. Selanjutnya Mpok Sylvi dikaitkan dengan isu korupsi pembangunan masjid. Kedua kasus tersebut tidak terdengar lagi perkembangannya, kemungkinan memang disengaja dibuka pada masa Pilkada. Dua pemberitaan tersebut perlahan mulai menurunkan elektablitas Mas Agus, disamping karena performa debatnya yang agak mengecewakan.

Penurunan elektabilitas tidak berhenti sampai di situ. Pak Beye tidak dapat menahan perasaannya untuk sering “curhat” di Twitter mengenai  kasus-kasus yang mengaitkan dirinya dengan berbagai tudingan miring. Puncaknya adalah “serangan fajar” yang dilakukan oleh mantan ketua KPK, Antasari Azhar, sehari sebelum pencoblosan, yang menuding SBY berada dibalik kriminalisasi dirinya.

Lengkaplah sudah berbagai sebab itu membuat pemilih AHY lari ke Paslon lain. Dia tersingkir dari gelanggang Pilkada. Namun lihatlah bagaimana reaksi AHY. Setelah mengetahui hasil quick count yang tidak memenangkan dirinya, AHY mengakui kekalahan secara ksatria. Dia tidak perlu ngeles segala atau menuding ada kecurangan, atau mencari-cari alasan dengan menyalahkan pihak lain, namun dia terima hasilnya dengan lapang dada. Mas Agus telah memberi contoh teladan yang baik dalam berkompetisi. Sportivitas prajurit benar-benar dia laksanakan, tidak hanya retorika belaka.

Barangkali ini semua adalah hasil jerih payah orangtuanya yang berhasil mendidik anak-anaknya. SBY boleh kecewa karena AHY terlempar, tapi menurut saya Indonesia butuh orang-orang seperti AHY yang telah memberikan contoh yang baik dalam berkompetisi. Jangan melihat pada hasil akhir saja, tetapi lihat pulalah prosesnya.

Meskipun saya tidak memilih Mas Agus (bukan warga DKI), namun terus terang saya bangga dan terharu dengan Mas Agus. Mas Agus masih memiliki harapan untuk nanti tampil kembali menjadi pemimpin Indonesia masa depan. Dia masih muda, mungkin sekitar sepuluh tahun lagi, ketika para jago-jago tua sudah tiada atau sudah  undur diri dari gelanggang, dia dapat maju ke gelanggang dengan performa yang lebih matang. Kekalahan adalah kemenangan yang tertunda. Kepada Pak Beye, selamat Pak anda memiliki anak yang taat kepada orangtua, bangsa, dan agama.

Semoga Allah SWT selalu menjaga Mas Agus.


Written by rinaldimunir

February 20th, 2017 at 4:09 pm

Posted in Indonesiaku

Konflik Rasial adalah Akibat Kesenjangan Sosial

without comments

Konflik rasial yang bermuatan SARA (suku, agama, ras, antar golongan) cukup sering terjadi di Indonesia. Konflik rasial ini semakin marak sejak fase reformasi (1998). Makin ke sini makin sering saja. Contoh yang berkaitan dengan agama misalnya masalah pembangunan rumah ibadah agama minoritas di tengah masyarakat mayoritas (ingat kasus di Bogor, Bekasi, Papua, Bali, Kupang, dsb). Contoh yang berkaitan dengan etnik misalnya pengusiran warga Madura oleh warga Dayak di Kalimantan, konflik antara masyarakat keturunan Bali dengan warga pribumi di Lampung, konflik antara warga Tionghoa dengan warga pribumi di Tanjungbalai.

Pertanyaannya, apakah konflik rasial itu disebabkan karena bangsa kita anti perbedaan? Tidak suka hidup berdampingan dengan orang berbeda etnik, agama, dan golongan? Kenapa dulu bangsa kita rukun-rukun saja, kenapa sekarang makin sering terjadi konflik?

Saya yakin jawabannya bukanlah karena bangsa kita anti perbedaan. Konflik rasial itu bukan disebabkan karena perbedaan agama maupun etnik. Jika karena berbeda agama maupun etnik, pasti sejak dulu bangsa kita sudah perang bratayudha antara satu agama dnegan agama lain, antara satu suku dnegan suku lain, antara satu golongan dengan golongan lain. Nyatanya tidak, bukan? Lihatlah di berbagai daerah, masjid, gereja, pura, dan wihara bisa berdiri tanpa ada yang mengganggu. Orang-orang di kota dan di desa sudah biasa punya tetangga berbeda agama maupun etnik. Di dalam satu keluarga bisa saja anggota keluarga berbeda agama. Di beberapa suku di Maluku ada tradisi pelagandong yang mengikat masyarakat yang berbeda agama (Islam dan Nasrani). Jadi, bangsa kita sudah terbiasa hidup dengan orang berbeda agama dna suku sejak dahulu kala.

Lalu, kenapa kok masih sering terjadi konflik rasial? Apa sebabnya? Saya menduga, penyebab konflik tersebut adalah akibat kesenjangan sosial yang semakin lebar. Harmoni yang sudah terbangun sejak lama menjadi rusak karena faktor kesenjangan sosial. Melihat kaum pendatang sukses di suatu daerah, lalu mereka membawa semakin banyak kaumnya ke tanah rantau, maka muncullah ketidakseimbangan. Kaum pendatang membawa tradisi dan agamanya, mereka membangun banyak rumah ibadah tanpa memperhatikan perasaan warga lokal yang mulai terusik. Secara ekonomi mereka lebih baik daripada warga lokal, mereka membangun jaringan ekonomi dengan sesama sukunya. Warga lokal hanya menjadi kuli atau pegawai rendahan. Maka, ketika ada kasus yang melibatkan warga lokal dengan warga pendatang, maka siap-siaplah akan meletus konflik sosial yang dibaca orang sebagai konflik rasial. Provokator akan masuk untuk membuat suasana semakin panas dan runyam.

Di ibukota, dan di kota-kota besar lainnya, di mana kesenjangan sosial sedemikian parahnya antara masyarakat kaya dan miskin, antara konglomerat dengan masyarakat bawah, antara penguasa dengan rakyat, konflik rasial mudah untuk meletus. Ketidakadilan yang dirasakan oleh masyarakat menemukan tempat untuk dilampiaskan dalam bentuk kerusuhan (rasial).

Solusi untuk masalah ini adalah menegakkan keadilan. Adil di sini bukan berarti sama rata sama rasa, tapi adil itu adalah meletakkan sesuatu sesuai tempatnya. Jangan merasa mentang-mentang berkuasa, maka anda bisa sewenang-wenang kepada masyarakat yang tidak memilih anda. Jangan karena anda mempunyai kekayaan melimpah, maka hukum bisa anda beli. Jangan karena kaum anda semakin banyak, anda bisa membuat apa saja di tanah rantau tapa menghormati budaya dan agama setempat. Jangan karena anda menguasai media, maka anda bisa membuat berita yang menyudutkan suatu kelompok. Jangan karena anda merasa paling benar dan merasa banyak beking maka anda bisa melecehkan suatu kepercayaan atau simbol-simbol agama maupun etnik. Jika anda sudah bisa berlaku adil, maka niscaya kesenjangan sosial akan semakin kecil gap-nya. Bangsa ini tidak akan mudah bergejolak.

Ketahuilah, bangsa kita tidak suka berkonflik. Mereka ingin hidup tenang dan damai. Bangsa kita rindu  hidup rukun seperti dulu. Mereka tidak anti perbedaan.


Written by rinaldimunir

February 6th, 2017 at 5:09 pm

Posted in Indonesiaku

Sudah Berapa Orang yang Kamu “Unfriend” dan “Unfollow”?

without comments

Sejak masa Pilpres 2014 hingga Pilkada DKI 2017 menjelang, bangsa Indonesia terbelah dua menjadi kelompok yang pro dan kontra. Seharusnya setelah masa Pilpres usai kedua kelompok ini sudah cair, toh hubungan Jokowi dan Prabowo sudah kembali erat. Namun Pilkada DKI dengan salah satu calonnya Ahok kembali membuat bangsa Indonesia terbelah. Ahok, yang sekarang sedang menjadi terdakwa kasus penistaan agama,  telah memicu sentimen SARA di tanah air. Bangsa Indonesia terbelah lagi antara yang pro dan kontra Ahok.

Lihatlah percakapan di media sosial, isinya kebanyakan perdebatan panas antara kedua kubu. Posting-an yang menyebar kebencian, berita hoax, berita plintiran, gambar editan, dan argumen panas berseliweran setiap hari di media sosial, dari subuh hingga subuh lagi. Orang-orang dengan mudahnya menyebarkan berita dan gambar yang belum tentu benar, cukup dengan menekan tombol Bagikan atau Share, maka kekuatan media sosial mampu menembus batas-batas ruang dan waktu untuk meneruskan posting-an yang panas.

Efek media sosial sangat terasa mempengaruhi pikiran banyhak orang. Perseteruan kedua kelompok pendukung telah merenggangkan hubungan pribadi antara manusia yang dulunya sangat hangat. Teman pun sekarang menjadi “musuh” karena diskusi panas yang tidak mencapai titik temu. Masing-masing pihak merasa benar dengan pendapatnya. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya buzzer yang memanaskan suasana. Buzzer ini menggunakan akun bodong, yaitu akun yang isinya kosong, yang memang dibuat secara instan untuk memberi komentar tanpa ketahuan identitas aslinya. Komentar-komentarnya sangat pedas dan menyakitkan hati. Selain buzzer, jagad maya juga diramaikan dengan bot  (akun robot) yang menyerbu diskusi di dunia maya secara massal dan sistematis. Satu komentar yang sama bisa muncul di banyak thread diskusi. Tujuannya satu: membangun opini.

Gerah dengan posting-an yang tidak berkenan, sebagian orang sampai memutuskan pertemanan di media sosial. Istilahnya unfriend jika semula berteman, atau unfollow jika hanya mengikuti posting-an orang lain tanpa perlu berteman. Alasan melakukan unfriend atau unfollow bermacam-macam, tetapi saya catat beberapa alasannya adalah tidak suka dengan posting-an mantan teman yang suka menjelek-jelekkan pihak lain, tidak suka dengan ujaran kebencian yang membuat sakit hati, tidak suka dengan teman yang menyebarkan gambar atau berita hoax.  Sudah berapa orang yang kamu unfriend atau unfollow dari akun jejaring sosialmu?

Tidak hanya unfriend atau unfollow, sebagian orang keluar (left) dari grup diskusi di Whatsapp, Line, dan lain-lain, karena sudah merasa tidak nyaman lagi berada di dalamnya.  Diskusi-diskusi di dalam grup telah memperlihatkan siapa teman sebenarnya, kemana keberpihakannya, dan bagaimana reaksinya menanggapi berbagai isu terkait Pilkada DKI. Sudah berapa banyak kamu left dari grup whatsapp  sejak isu Pilkada DKI mulai memanas?

Memang kondisi ini sangat menyedihkan. Meskipun bukan warga DKI, namun Pilkada DKI telah menyita perhatian dan energi bangsa ini sehingga terpecah belah. Bangsa kita yang dulu bersatu, tidak punya masalah yang serius amat dalam hubungan berbangsa, sekarang menjadi putus silaturahmi karena berbeda keberpihakan. Entah sampai kapan begini, saya juga tidak tahu. Saya merindukan bangsa Indonesia yang rukun damai seperti dulu.


Written by rinaldimunir

December 16th, 2016 at 11:13 am

Posted in Indonesiaku