if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Hidup di Belanda’ Category

Tantangan pewarisan akidah ke anak di Belanda

without comments

Bagi umat Islam di Belanda, tantangan untuk mewariskan akidah ke anak cukup besar, bagaimana agar anak keturunan kita masih ber-Islam, masih mendirikan sholat, mendoakan orangtuanya, memelihara nilai ketimuran yang baik-baiknya.  Tulisan berikut ini hasil pengamatan dan pendengaran saya, sedikit yang saya tahu, di Eropa yang terlihat ‘mending’ dakwahnya atau lingkungan lebih ‘kondusif’ mungkin di Belanda, UK, Jerman.

Di Belanda, jumlah populasi Indonesia (berbagai etnis dan agama) sekitar empat ratusan ribu atau 3%-an dari total populasi Belanda yang saat ini 16 juta-an, populasi orang Indonesia sebanding dengan komunitas Turki, tetapi peran orang Ina tidak semanstab orang Turki, Turkiye mempunyai bisnis ritel yg penting buka 365 hari dlm setahun =), ada pengacara, dokter, atlet, ada yg di parlemen. Orang Ina sangat disukai orang Belanda, karena ramah (ga gampang marah), sopan, terkenal mahir membaur/beradaptasi, sampai diberikan penghargaan oleh menteri Blnd sebagai komunitas terbaik paling siap/bisa berakulturasi. Kelakar seorang ustadz, lah iya memang bukan membaur lagi tapi sampai luntur =)

Salah satunya, luntur bahasa Indonesianya, generasi kedua kebanyakan sudah tidak bicara bahasa Indonesia sementara generasi pertama lahir/datang dr Ina, dengan nilai2 ketimurannya, nilai2 agamanya. Kalau orang Turki ngomong ke anak/sesama turki ya bhs Turki. Titik kritisnya di peralihan generasi 1 ke 2 ini, apakah generasi pertama dapat mewariskan nilai2nya? sebab kenyataan kita hidup di lingkungan yg berbeda secara akidah & budaya. Generasi pertama kalaupun menguasai bhs Blnd apakah sefasih anaknya? sementara jika anaknya tidak mampu berbahasa Indonesia apakah orangtua mampu menjawab argumentasi2 anaknya yg didapat dr sekolah/pergaulan? disini anak akan mendapati orangtua kalah keren/argumentatif, bahkan ortu bisa jadi tidak memahami pembicaraan anak, karena faktor bahasa. Saya juga kurang paham kenapa bisa ada gap bahasa begitu, katanya ada khawatiran kalau anaknya tidak bicara bahasa Belanda akan tertinggal pelajaran & pergaulan di sekolah.

Faktor eksternal ini sangat kuat, perbedaan akidah & budaya sesuatu yang esensiil. Orang Blnd itu ‘galak’, ‘cerewet’ relatif thdp karakter kita yg ramah, ngalahan, sehingga mereka lebih determinatif =) Saya melihat cara mba nana dididik disekolah juga demikian, disiplin. Orang Belanda itu harus necis, necisnya dalam pengertian bersih rapi kinclong contohnya rumah harus kinclong, kaca, dapur, lantai, pakaian, ga boleh bikin kerusakan/kotor, segala hal ditulis di notes, sesuai jadwal, bikin janji, barang dipake sesuai fungsinya, apa2 kudu proper, yg semacam2 itu, jadi soal kedisiplinan mah saya kalah sepertinya sama mba nana :) .  Meski anak msh kecil itu klo marah2in di depan umum biasa (tak heran kalau sudah besar banyak anaknya yang abai thdp ortu ya… ini hanya dugaan sy).

Nah diusia-usia yang disarankan Ali bin Abi Tholib 7-14 yg hrs ‘menawan’ atau disiplin ke anak, ini yang keliatan jadi kritis di Belanda, di sekolah anak2 dididik dg disiplin, dg argumentasi2 yg kuat (meski konten akidah beda), diajari untuk kritis/beda pendapat biasa/boleh bersitegang/melawan orangtua, di rumah anak masih dielus2 ibunya, boleh ini boleh itu (bayangkan jika ditambah bhs Blnd ortunya kalah fasih), jadinya ortunya kalah keren, kalah wibawa, kalah determinasi dengan guru. Jadilah anak lebih percaya ke guru/sekolah/teman drpada orangtua. Apalagi di Belanda itu anak diajari sejak dini untuk mengadukan perilaku orangtua jika merasa dikerasi/dipaksa, padahal kan kadar kekerasan & alasannya bisa macem2. Ini juga (saya duga) upaya sistematis pemerintah Belanda untuk men-discourage umat Islam & mengambil anak2 muslim dr pengasuhan orangtuanya, karena orang Belanda juga tau ada konflik akidah/budaya yang biasanya membuat ortu-anak bersitegang, ketegangan ini mereka manfaatkan. Memang ada muslim dr komunitas tertentu yg ‘keras’ spt anak tidak sholat kan dipukul, kalau komunitas tersebut mukulnya beneran dengan rotan smp luka, akhirnya anak kabur, ditampung orang Belanda, dijauhkan dr ortunya, padahal bs jadi ini kesalahpahaman ortu-anak yg bagi kita konflik biasa/wajar.

Kalau untuk pemeliharaan anak, dari ibu hamil smp mngkn usia SD sy akui di Blnd ini memang terjamin, dr hsil survey (berarti kuantitatif) indeks ‘kebahagiaan’ anak2 Blnd tertinggi di dunia, kesehatan, fasilitas umum yg ramah anak, permainan, gizi, sistem pendidikan yg tdk menekan tp sebaliknya menumbuhkan minat belajar, belajar bahasa, seni,sosial, science dg leluasa & terfasilitasi, hal2 tsb memang terjamin. Tapi begitu lulus SD, bayangkan kepala sekolah membagikan kondom, aktifitas seksual sdh diterima, tp jgn smp hamil/menikah. Anak di usia ini penuh pertanyaan, kritis, labil, mencari patron yg menurutnya keren, sanggupkah orangtua menjadi patron, bisakah keluarga menjadi tempat kembali? tempat pembanding nilai2 yg benar & baik? atau adakah komunitas yg bs menjadi tempt kembali anak2 kita?

Written by ibu didin

June 21st, 2011 at 4:48 pm

Senyum Snijders

without comments

Hari Selasa kemarin saya sudah bersiap untuk melakukan exam ulangan untuk mata kuliah metode riset kuantitatif bagian kedua, bagian pertamanya sudah lulus, bagian duanya belum lulus yang (entah kenapa) dicitrakan rada horor, multivariate modelling dengan tool SPSS yang diasuh oleh Prof.Snijders.  Mungkin yang bikin horor karena dalam waktu 8 minggu harus mastering multivariate modelling dg standar si profesor tea, duuh klo bikin soal. Ini adalah ujian terakhir yang harus saya ikuti, dan ini adalah matakuliah penyetaraan untuk mahasiswa internasional, bukan bagian dari matakuliah master program.

Sistem akademis di Belanda, untuk ujian harus registrasi online khusus mengikuti exam lewat blackboard/studyweb, ada batas akhir pendaftaran, jadi klo tidak terdaftar (meskipun karena lupa) biasanya tidak akan bisa masuk ruang ujian. Karena ada yang disebut Exam Committee/Exam Board yang secara resmi menyetujui pengeluaran nilai kita, tugas dosen adalah memberi ujian, mengoreksi, dan mengirim hasilnya ke Exam Board.  Exam board akan memverifikasi apakah sesuai dg daftar registrasi exam, sesuai dengan daftar kehadiran di ruang kelas, kemudian akan mengesahkan nilai & jumlah ECTS nya.  Exam board ini jg lembaga yang akan bersidang/melayani appeal, keberatan atas suatu nilai, menyidang tersangka plagiarisme, memutuskan hukuman, atau bisa menentukan mata kuliah ‘darurat’ yang harus diambil student.

Saya mendaftar ujian untuk mata kuliah Method and Model for Behavioral Research yang berkode 0AP03, nah mata kuliah ini dibagi dua babak, bagian pertama 3 ECTS berkode 0AP07, bagian kedua 3 ECTS berkode 0AP05, nama matakuliahnya sama. Nanti dua nilai ini akan digabung menjadi 0AP03 sejumlah 6 ECTS. Jadi jika belum lulus salah satunya, maka dua2nya nilai tidak akan bisa didapat.

Bagian kedua yang rada horor ini sudah saya persiapkan baik2, ujiannya menggunakan komputer, membawa laptop sendiri2, soal dikirim satu atau dua hari sebelumnya dalam bentuk terenkripsi, di kelas akan diberitahu passwordnya. Untuk menghindari kecurangan, maka masing2 student harus mengaktifkan software monitoring aktifitas di komputer yang filenya juga dikirim besarta jawaban ujian. Ujian berlangsung 3 jam.

Di studyweb/blackboard akan ada tanggal, waktu, dan tempat ujian. Saya lihat terdaftar untuk hari Selasa, 12 April 2011, pukul 14 – 17, di ruang Pavilion U-46, ruangan yang cukup jauh dengan berjalan kaki dari gerbang depang TU/e.  Dengan naik kereta jam 10 dari Delft, maka akan nyampe di Eindhoven jam 11.30, waktu masih cukup untuk membuka coretan rangkuman lagi. Saya mampir dulu ke kantin Spoortzaal, suasananya asyik ga terlalu rame, saladnya lengkap kap kadang suka nemu sayuran/buah yg aneh, dan mesin kopi gratis he..he.. Kemudian meneruskan perjalanan menuju Pavilion, dan mengambil tempat yang tenang di perpustakaan fakultas yang terletak di kompleks Pavilion.

Jam 13.30 saya menuju ruangan, di jalan ketemu mba Sherly (satu fakultas beda master program), dia memberi tips2 mengerjakan soal Snijders, pokoknya yang pilihan ganda kerjakan dg cepat jangan lebih dari 30 menit, sisanya untuk mengerjakan soal analisis, waktunya biasanya ga cukup. Okay dech bismiLlah… sampai di ruangan saya merasa ada kejanggalan, kenapa di setiap meja tidak ada colokan ya… akhirnya saya memilih tempat paling pojok belakang yang deket colokan di dinding.. kemudian keluar lagi ke toilet (kehamilan yang makin besar menyebabkan lebih sering ke toilet), masuk ruangan lagi lihat pengawas ujian (biasanya pensiunan, kakek2/nenek2 yg sepuh2) sudah membagikan presensi hadir (satu orang satu kertas kecil yang harus ditandatangani).

Melihat student lain tidak ada yang mengeluarkan laptop saya semakin curiga, akhirnya saya tanya ke student lain, ini ujian bagian pertama atau kedua? doweng doweng…. ini adalah ujian 0AP07 alias bagian pertama.  Jadi saya salah dong, aduh ujian Snijders dimana? Astaghfirullah saya tau kesalahan saya adalah salah mendaftar kode ujian sehingga yang akan terlihat di blackboard adalah waktu & tempat untuk ujian 0AP07, sedang saya seharusnya mendaftar untuk 0AP05.  Sebenarnya sewaktu saya mendaftar exam ada keganjilan dimana disitu ditulis 1 used of 3 maximum (artinya ujian pertama kali dari 3 kali maksimal ujian).  Oh iya, ujian di Blnd maksimal 3 kali, klo belum lulus2 maka harus appeal ke Exam Board, mereka kemudian akan menentukan langkah apa yang harus diambil.  Seharusnya saya 2 used of 3 maximum, karena ini percobaan kedua.  Tapi kok firasat aneh itu ga segera ditindaklanjuti.. Astaghfirullah… mungkin harus lebih banyak lagi mengingat Allah agar kejadian seperti ini tidak terulang.

Saya memastikan ke kakek2 penjaga ujian, dia juga bingung ga ngerti, terus pas saya keluar ruangan ada bapak2 (mungkin PhD student) datang menanyakan dimana ruangan U-46, dia membawa soal ujian, disitu kepastian bahwa ini adalah ujian tertulis untuk 0AP07 (bagian pertama). Yachhhh…. disitu saya ketemu lagi mba Sherly, wah mba salah ruangan nie, tak tanya ke kantor study advisor barangkali  mereka bisa akses data dimana ujian 0AP05, karena hari ujiannya sama, sebab Snijders mengirim file soal bertanggal 12 April 2011. Setelah dilihat di komputer, ada ujian 0AP05 tapi jam 9 – 12 pagi tadi. Dowenggg….. yach.. deg2an, menyesal, tapi sambil ketawa-ketawa (menertawakan kebodohan diri sendiri), ga boleh buang waktu lagi.. saya berjalan ke gedung Innovation Sciences ruangan Snijders, mba Sherly bilang Snijders orangnya strict, tapi coba aja dulu deh.

Sesampai di Innovation Sciences menanyakan ruangan Snijders ke sekertaris, bertemu dia di lorong, sambil ngos2an dan ketawa menceritakan dengan singkat ceritanya… bla bla bla… kemudian meminta mungkin ga dilakukan exam, hari ini juga. Dia bilang, masalahnya kamu tidak terdaftar untuk exam, jadi tidak mungkin mengeluarkan nilai. Saya bilang bagaimana kalau saya melakukan exam dan nanti appeal ke Exam Board, saya juga akan membicarakan ini dengan my study advisor.   Akhirnya dia minta saya menghubungi study advisor, saya nanya apa yang dia harapkan? reference letter atau apa, di bilang terserah mau email atau apa pokoknya  memberitahukan apa yang harus dilakukan terkait persoalan ini.  Saya segera ke lantai dasar bertanya ke sekretaris ruangan dan keberadaan study advisor saya (Mr.Clarkson), ruangannya terkunci, wah ini kalau dianya ga ada saya ga bisa ngasih apa2 ke Snijders.  Saya mencari tau ke sekretaris yang lain (ini sekertaris bidang keahlian riset, beda dg yg dilantai bawah), dia memberikan nomor telepon dan ruangan lain Mr.Clarkson yang ternyata di Pavilion.

(Untuk membuat lebih lebay) dengan menenteng bawaan tas laptop dan satu tas lain berisi buku dll saya menuju gedung Pavilion lagi, mungkin adeknya mba nana ikut2an tegang ya di dalam perut, maafkan ibu deh nak, kebodohan ibu membuat repot seperti ini. Di depan pintu rungan A02 ada laki2 menyapa siapa yang dicari, saya bilang Mr.Clarkson, yes I am the one.  Saya berkenalan singkat, karena biasanya kami komunikasi lewat email saja untuk progres2 study, jadi belum pernah ketemu. Oh ya Didin…dia mengenali émail’ saya.  Saya ceritakan kejadiannya… Alhamdulillah dia cukup ramah, segera dia menelpon Snijders, mereka bicara dalam bahasa Belanda..and… Didin you can come to Snijders and make the exam now… Alhamdulillah… thank you… thank you for your kind help…

Balik lagi berjalan ke gedung Innovation Sciences, naik ke lantai satu, wah daripada capek pake lift deh, ketemu orang ramah lagi di lift, mengetok pintu Snijders dan dia keluar sambil tersenyum mengacungkan jempol (maksudnya selamat atas usaha kerasnya kali hihihihi). Come on, follow me, dia menuju sekertaris mencari kunci untuk satu ruangan kosong, saya menunggunya sambil mengisi botol air minum, dia yang keluar sambil membawa kunci ketawa lagi, take your time… o ho ho dia ramah sekali, berkali2 melihatnya senyum/ketawa. Di ruangan dia juga membantu menyetting komputer, membukakan jendela, wah panas ya.. memberi password untuk soal yang terenkripsi, memberi tahu soal-soal yang ambigu, kemudian menanyakan apa kebutuhan saya, saya bilang perlu kertas kosong. Dia mengambilkan dan lagi-lagi tersenyum….  wah wah.. baru tahu Snijders tidak seserem imejnya di kelas. Saya mengikuti kelas wajibnya, The Network Society, tentang sosial network, termasuk matakuliah yang ‘horor’ juga (definisi mata kulah horor kalau yang dapat 8 bisa dihitung dengan jari :D :D:D), di Belanda dia pakarnya social network, di Innovation Sciences dia juga figur penting dan berdaya jual heheh, sudah full professor di usia 38 tahunan, ahli matematik, kemudian ke sosiologi (social network).

Saya diberi waktu 3 jam, karena mulai jam 14.36 maka selesai jam 17.36 (file jawaban di submit via email ke Snijders), dia bilang sudah pulang jam segitu, jadi kunci ruangannya balikin ke sekertaris ya.  Okay deh Sir.. karena ruangan dibiarkan terbuka, mahasiswa PhD yang tadi bawa soal ujian ke ruangan Pavilion menyapa saya yang tengah mengerjakan soal, ternyata dia di gedung ini juga, dia bilang tadi juga sudah curiga saya salah waktu ujian, tapi dia tidak yakin. Saya cerita singkat.. and thank you….  Pukul 17.27 saya dah submit, beresin laptop dan berisap pulang, ruangan dikunci dan waktu nyari sekretaris ternyata rungan2 sudah terkunci dan semua sudah pulang, waduh kuncinya taruh mana ya…. pada saat itu ketemu mahasiswa PhD tadi, dia menawarkan bantuan untuk mengembalikan kunci, dia tahu cara narohnya.. ALhamdulillah.. again thank you…

Segera berjalan lagi  menuju stasiun Eindhoven (jarak 20-30 menit jalan kalau saya yang jalan kaki he…he…), kereta intercity ke Den Haag (yang berhenti di Delft) ada setiap setengah jam, sampai di stasiun kelaparan, ada snack bami (mie yang dibumbui, dicetak kotak, dibungkus tepung panir tebal dan digoreng, wah wah penasaran pengen bisa bikin aahh), dan pas naik kereta di jamnya berangkat.  Alhamdulillah hari yang aneh2 ini happy ending… semoga saja lulus ujiannya (dah segitu menghebohkan banyak orang).  Terima kasih atas kebaikan-kebaikan yang diberikan hari ini. Ibu jangan ndoweh lagi, repot dan ngrepotin banyak orang.

Written by ibu didin

April 13th, 2011 at 4:50 pm

Inilah cara Londo

without comments

Menyebalkan memang, mereka akan galak dan cepat2 meng-autodebet kewajiban2 yang harus kita bayarkan, bahkan kalau perlu mereka debet dulu tagihan2 meski kita sudah bilang berhenti langganan suatu layanan, masalah diklarifikasi itu soal nanti, kadang juga harus berantem dulu baru mereka mengakui. Tapi giliran mereka yang harus membayar kewajibannya ke kita, seribu satu alasan dibuat-buat, ditunda-tunda.  Mengutip LN Palar sewaktu pidato didepan sidang Dewan Keamanan PBB tahun 1947, “Inilah diplomasi cara Belanda”.

Sudah dua bulan uang saya belum dikembalikan, sekian lama bbrp kali diemail2 beginilah jawabannya….

Dear Ms. Kristinawati,

My apologizes for the late response to your email. We are experiencing high
volumes of claims, telephone calls, and emails.

bla bla bla bla..

===

Dear Mr.******

Thank you for your reply.

It has happened to me three times,
I hope *** can value its customer with respect and egalitarian, because we have mutual interest here.

Thank you.

Regards,
Didin

Written by ibu didin

April 6th, 2011 at 8:06 pm

Posted in Hidup di Belanda

Monitoring tumbuh kembang bayi dan balita di Belanda

without comments

Pencatatan dan monitoring anak dilakukan oleh gementee/kecamatan. Yang jelas bagi pendatang, anak harus terdaftar di gementee/kecamatan, tidak hanya di imigrasi/IND,  untuk mendapatkan pelayanan tumbuh kembang.  Penanganan tumbuh kembang bayi dan balita (serta lebih jauh anak2 dan remaja) dibawah organisasi pemerintah yang beroperasi di tingkat kecamatan yang bernama CJG (Centrum voor Jeugd en Gezin) atau ´Centre for Youth and Family´.  Mungkin kalau di Ina karena skala penduduk yang besar bisa ditaruh di tingkat Posyandu.

Sesuai dengan usia bayi/balita, maka orang tua akan dikirimi surat oleh kecamatan berupa undangan untuk datang ke CJG baik karena sudah jadwalnya imunisasi ataupun untuk monitor tumbuh kembang.  Sehingga memang ibu tidak harus pusing mikirin kapan waktunya imunisasi, tidak harus mengeluarkan biaya imunisasi ke dokter (seingat saya di Ina harga imuniasasi di bidan dan dokter beda ya…). Kalau di Ina soal imunisasi ini juga mazhab2an, ada yang berkeyakinan tidak perlu imunisasi, atau sebaliknya, terserah saja. Kalau di sini kayaknya wajib, kalau orangtua tidak merespon surat2 panggilan untuk imunisasi/monitoring anak, kabarnya akan ada sanksi karena melalaikan kewajiban pengasuhan anak (entah saya tidak begitu tahu).

Undangan ke CJG bersifat individu, maksudnya orang tua satu dan lainnya beda-beda jadwal (bukan massal), sesuai usia anak dan prosedur monitoring apa yang harus dijalankan pemerintah.  Misalnya, panggilan ´Baby clinic´ di usia bayi 4 minggu, 3 bln, 6 bln, 7,5 bln, 9 bln, 14 bln, 18 bln, 2 tahun, 3 tahun, terakhir 3 tahun 9 bulan. Panggilan ini disesuaikan dengan monitoring milestone tumbuh kembang dan jadwal imunisasi. Orang tua diberikan buku ´growth book´ yang berisi catatan kesehatan anak dan juga milestone tumbuh kembang anak serta tips2 safety. Lumayan menolong bagi ibu2 dalam mengasuh buah hatinya. Selain standar pengukuran berat dan tinggi, riwayat sakit, orang tua juga ditanya apakah anak mengalami gangguan tidur, kendala makan, bicara, tantrum/ngamuk, biasanya petugas CJG memberi saran2.  Petugas CJG juga akan memonitor perkembangan motorik halus dan kasar anak.

Keseluruhan layanan tersebut menurut saya bukan sesuatu yang sangat canggih atau wouw untuk bisa diterapkan di Posyandu Indonesia, sangat mungkin, dengan dikoordinasi oleh institusi yang punya kapasitas dan kuat.  Posyandu ini saya pikir penting sekali, ini solusi komunal, bersama2 oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Asal yang ngatur (pemerentahnya) bener-bener.

Demikianlah kira2, saya tidak tahu dengan pemerintahan baru Belanda dan kabinetnya yang kelihatan kanan (lebih liberal dibanding tradisi Belanda yang sosialis/welfare state), pemotongan anggaran pendidikan dan kesehatan, akan seperti apa  masa depan Belanda ini.

Saya tetap optimis insyaAllah negara kita bisa maju dan lebih baik. Kalau Belanda (atau negara ´maju´ di Eropa) bisa seperti sekarang ini, mereka juga telah melewati ?ocial exercise´ yang berdarah-darah selama ratusan tahun. Jadi kalau negara kita sedang bergejolak, saya pikir itu juga bagian dari proses ´social exercise´, segala segi sedang ditata, untuk menemukan bentuk masyarakat Indonesia yang lebih adil sejahtera (yang wajahnya akan dibentuk oleh orang Indoensia sendiri). Cocok dengan syair H.Mutahar di Dirgahayu Indonesiaku (kado 50 tahun Indonesia merdeka), bahwa kita ini sedang ´ditempa Tuhan’ agar jadi bijak bestari.

Written by ibu didin

February 27th, 2011 at 12:25 pm

Bagaimana jika hamil dan melahirkan di Belanda?

without comments

Lagi-lagi asuransi penting sekali di Belanda, kalau tidak bisa setres dengan biaya ini itu. Periksa manfaat asuransi yang kita daftarkan disini menanggung biaya hamil dan melahirkan atau tidak. Kalau asuransi student/expatriate yang saya ikuti,  asuransi menanggung biaya kehamilan dan persalinan apabila diketahui hamil sudah terdaftar asuransi, bukan baru daftar asuransi setelah kehamilan.

Sistem untuk kehamilan disini, setelah mengetahui dari test pack (biasanya minggu ke-5 atau 6), maka segera cari praktek midwifes/verloskundigen, di Indonesia disebut bidan.  Disini biasanya grup beberapa bidan dalam satu lembaga, cari terdekat dari rumah (biar ga sulit transportasi/capek). Di Belanda tidak bisa hamil langsung pergi ke dokter kandungan (entah kenapa?), kecuali untuk kasus khusus, entah mungkin kehamilan sebelumnya bermasalah, atau masalah2 medis lainnya, biasanya langsung ditangani oleh dokter spesialis. Prosedurnya harus ke midwife dulu untuk membuat janji pertemuan pertama. Di pertemuan pertama ini membawa dokumen asuransi, pas foto, dan urin. Pertemuan pertama akan berlangsung cukup lama sekitar satu jam, sebab bidan akan mengisi ke database komputer berbagai pertanyaan standar yang sudah disiapkan/diprosedurkan oleh pemerintah. Mulai data diri, daftar riwayat penyakit diri dan saudara terdekat (mungkin hubungannya dengan faktor genetis), aspek psikologis (apakah korban kekerasan/korban perang), dan pertanyaan aneh2 yg menyeramkan (riwayat h*mo seksual, inc*st, dsj), apakah pernah melakukan terapi psikologi, kriminalitas, dst. Sebab mereka adalah negara multikultur, orang datang dari macem2 negara karena alasan macem2, dan melahirkan adalah proses klinis dan psikologi, jadi harus dipersiapkan dulu katanya.

Apabila segalanya normal hingga menjelang persalinan, maka melahirkan ditolong bidan tersebut, disarankan melahirkan di rumah masing2 (aneh ya, justru melahirkan di rumah umum di Belanda). Boleh juga melahirkan di rumah sakit, untuk persalinan normal tetap oleh bidan. Tetapi menurut beberapa ibu2, kalau normal mending di rumah saja, sebab kalau di rumah sakit, beberapa jam sesudah melahirkan sudah diusir/disuruh pulang (alasan efisiensi alias pelit tea). Tetapi apabila ada indikasi tidak normal, atau karena sebab tertentu dan harus dalam pengawasan dokter maka bidan akan merujuk ke rumah sakit bagian obgin. Untuk kehamilan normal dengan riwayat melahirkan sebelumnya operasi, maka baru pada minggu ke 34 dialihkan ke dokter obgin dan harus melahirkan di rumah sakit.  Setiap kunjungan ke bidan ditanggung asuransi.

Setelah kunjungan pertama, ibu hamil diharuskan melakukan tes darah, tinggal membawa rekomendasi bidan ke rumah sakit. Free of charge (ditanggung asuransi).  Tes yang dilakukan untuk mengetahui kandungan Hb, trombosit dan sejenisnya, kadar vitamin D (karena di negara semacam ini rawan defisiensi), kadar gula, infeksi hepatitis, infeksi HIV.

Pada minggu ke-20 (5 bulan) ibu hamil diminta melakukan USG (yang lebih detail dari USG di tempat bidan). Biasanya ke lembaga pemeriksaan yang satu jaringan dengan midwife kita.  Tujuan utama bukan untuk mengetahui gender (untuk gender orangtua ditanya mau tahu/tidak), tetapi tujuannya untuk melihat fungsi jantung, paru, organ perut, tangan-kaki, kepala. Calon orangtua harus menandatangani dokumen bahwa orangtua paham pemeriksaan ini tidak 100% akurat (takut dituntut mereun..).  Biayanya sekitar 150 ero/ 1,8 juta, tapi umumnya ditanggung asuransi.  Kalau ada indikasi abnormal, orangtua ditawari untuk melakukan riset lebih lanjut (yang biasanya tidak dicover asuransi), keputusan aborsi (yang disini legal..syeremmm) hanya boleh sampai usia janin 24 bulan.

Keluarga ibu hamil diharuskan menghubungi/mendaftar untuk Kraamzorg (maternity care), yaitu ?erawatan’ ibu hamil setelah melahirkan oleh petugas Kraamzorg (perawat/bidan). Petugas ini akan visit ke rumah selama 3 jam dalam sehari selama 8 hari untuk mengajari ibu untuk memandikan bayi dan sejenisnya, serta melakukan monitoring ibu hamil pasca melahirkan (pendarahan atau tidak dan sejenisnya). Biaya petugas ini sekitar 125 euro/hari atau sekitar 1,5 jt/hari (makanya berabe kalau ga punya asuransi).
Sewaktu melahirkan anak pertama di desa (Kota Batu), saya juga ada petugas seperti Kraamzorg ini tapi namanya dukun bayi he..he..(tapi bersertifikat loh :D ), sepulang dari rumah sakit, ibu ini akan datang ke rumah pagi dan sore untuk merawat mba nana (mandiin, pijit, dan sejenisnya) sehingga darinya juga bisa belajar macam2, biasanya selama 40 hari atau terserah yang meminta. Jauh lebih murah dibanding biaya Kraamzorg di Belanda. Canggih kan, di desa tapi sistemnya kayak di Belanda :D
Yang rada bikin repot, dari awal-awal midwife sudah mengirim surat barang standar yang harus disiapkan di rumah, baik untuk melahirkan maupun untuk petugas Kraamzorg. Misalnya, bed tempat tidur harus setinggi 70 cm (biar bidannya ga sakit pinggang katanya), handuk2, lap, alkohol, tempat mengganti popok bayi, tempat menaruh bak mandi bayi dan tetek bengeknya.

Written by ibu didin

February 27th, 2011 at 12:23 pm

Bagaimana jika sakit di Belanda?

without comments

Sanitasi dan lingkungan yang baik lebih memperkecil kemungkinan mudah terserang penyakit, daya tahan tubuh lebih kuat, ditambah pola makan/asupan yang baik. Tetapi bagaimana tata laksana untuk orang sakit di Belanda?

Asuransi adalah wajib, pendatang yang tidak memiliki asuransi dianggap ilegal, atau kalau tidak memperpanjang asuransi bisa berabe kalau ada apa2. Sebab serba mahal layanan disini. Enaknya dengan asuransi pula, pembayaran dokter juga bisa diatur terpusat, maka tidak ada perang tarif dokter, karena dokter digaji pemerintah (mungkin sudah cukup layak) dan mungkin pula telah ada rasio jumlah dokter dan pasien berdasarkan kepadatan populasi.  Pengalaman teman yang terdiagnosa kanker stadium lanjut dan dikemo mengatakan, untung saja kankernya disini ada asuransi, kalau di Ina mungkin harus jual rumah dan sawah. Teman saya yang kanker ini, sekarang dokter sudah tidak mau lagi menembak/menghancurkan sel kankernya, sudah maksimal selnya dibunuh. Jadi meski sekarang ada indikasi sel kanker tumbuh lagi, tidak bisa lagi dikemo, dan melakukan pengobatan tradisional plus menjaga pola makan (dia tidak makan daging dan banyak makan jus buah/detoks), kumaha deui ceunah.

Lebih baik jika telah mempunyai asuransi langsung mencari praktik dokter (huisartpraktijk ) terdekat dari rumah dan mendaftar kesana, apabila sudah penuh jumlah pasiennya biasanya dia tidak mau menerima dan menyaranakan untuk mencari praktek dokter umum lain. Biasanya kalau  mendaftarkan anak ke TK/sekolah salah satu yang harus diisi adalah siapakah dokternya anak (maksudnya anak terdaftar di praktek dokter umum mana), atau kalau beli obat di apotik ditanya nama dokternya. Karena saya di Indonesia tidak pernah seperti ini, maka sejak datang anteng2 saja ga daftar ke dokter mana2 juga, ini tidak baik katanya.

Setiap sakit (apapun) tata laksananya adalah ke dokter umum dulu, jangan coba2 langsung ke rumah sakit/nyari dokter spesialis, alamat tidak akan dilayani. Umumnya harus bikin janji dulu, kalau memang sakit banget bisa telepon gawat darurat atau dokter yang diminta datang ke rumah, tapi biayanya tentu lebih mahal :D
Dokter umum inilah yang akan menyarankan tindakan lebih lanjut. Apakah istirahat saja (biasanya ini saran umum kalau batuk pilek demam), apakah disuruh membeli obat di apotik, atau disuruh check up, atau di rujuk ke dokter spesialis, atau ke tempat terapi. Pengalaman yang pernah saya punya adalah lage rugpijn (low backpain/sakit pinggang bagian bawah), tata laksananya harus ke dokter umum dulu, dia kemudian memberikan surat rekomendasi untuk mendatangi terapis yang paling dekat jangkauan dari rumah. Terapis ini harus teregistrasi dan bisa dilacak pihak asuransi. Surat rekomendasi ini juga saya perlukan untuk dikirim ke pihak asuransi, karena mereka yang akan membayar biaya terapi tiap minggunya sekitar 30 ero (360 ribuan), kalau dipikir2 terapinya ´cuman´ dicontohin senam2 ringan untuk memperkuat otot pinggang, panggul, kaki. Profesi terapis menghasilkan juga ya disini. Oh iya, akupuntur telah diterima luas di kedokteran Barat, meski mahzabnya beda, sudah bisa masuk list asuransi.

Karena biasanya sakit demam batpil itu2 juga tata laksananya, saya jadi terpaksa malas sering2 visit dokter, paling disuruh banyak minum, banyak tidur, klo perlu minum paracetamol. Sepertinya orang-orang sudah tahu sama tahu tata laksana ini. Efek baiknya, lebih tenang ataukah rasional? ketika sakit (kok bisa ya?), masih mau bersabar menunggu dulu perkembangan.
Negatifnya, dengan sistem maka harus aware juga jika memang benar2 kesakitan, kata orang-orang kadang harus ngotot dan rewel, bahwa kondisi sedang gawat. Misalnya ada kasus dokter ?enyepelekan’ seorang mahasiswa yang demam dan sakit perut, disuruh balik pulang lagi pulang lagi, akhirnya gawat darurat usus buntunya harus segera dioperasi, itu ketahuan setelah dia ngotot masuk UGD karena nyeri yang tidak tertahan.  Atau anak teman demam terus disuruh balik pulang lagi pulang lagi, setelah rewel dan memaksa akhirnya di rumah sakit ketahuan infeksi saluran kencing. Jadi memang mau tidak mau kita harus pandai mengukur kekuatan/daya tahan diri.

Obat? farmacist di apotheek biasanya sudah tahu mana obat bebas mana obat harus dengan rekomendasi ataupun resep. Dan mereka galak/ketat soal ini, padahal kalau menurut saya yang di Indonesia dulu bisa beli bebas, kok disini ga bisa. Apalagi obat untuk anak mereka lebih ketat, mungkin karena prosedurnya begitu, atau mereka juga takut dituntut pasien kalau terjadi apa2. Biasanya yang jamak tersedia di rumah2 adalah paracetamol dewasa, paracetamol anak, vitamin D tetes untuk anak sampai usia 4 tahun (kasian ya…jarang terkena matahari), dan kotak P3K. Antibiotik saya belum pernah dikasih resep ini baik untuk saya maupun anak, antibiotik ada pula gunanya bukan? tapi bukan untuk virus katanya.

Jika harus operasi atau opname di rumah sakit, lebih tenang soal biaya karena ada asuransi tea. Jadi ingat waktu opname DB di Bandung dulu, alih2 mengkhawatirkan sakitnya, lebih setres ini bakal habis berapa karena belum punya asuransi hihihihi.
Tapi soal makanan teteup botterham met kaas (roti dan keju), sup instan, wah engga (niat) banget deh. Cerita teman, kamar juga kadang campur laki-perempuan, yang tentunya tidak mengenakkan buat orang Timur. Dan kayaknya tidak umum kelas 1, VIP, VVIP. Biasanya digolongkan berdasarkan penyakit (di Indonesia juga begini bukan?), penempatan tergantung ketersediaan kamar. Dan yang ga enaknya, disini efisien sekali (atau kata saya mah pelit :D ), kalau bisa orang segera pulang dari rumah sakit untuk menekan biaya yang harus asuransi/pemerintah keluarkan, tenaga medis dan perawat memang dihargai mahal. Jadi kadang masih lemes gitu ya disuruh pulang :(

Written by ibu didin

February 27th, 2011 at 12:22 pm

Sanitasi di Belanda

without comments

Sungai (disini disebut kanal) bersih, tapi bukan tanpa ongkos, untuk menikmati kali yang bersih dan indah itu kita dikenakan regional waterschap belasting (atau pajak sungai/kali kecamatan) yang pertahunnya tidak murah.  Bebek dan angsa yang berenang disungai juga dipelihara pemerintah, ada orang yang digaji untuk mengirim makanan bebek, kabarnya jumlah populasi bebek&angsa itu dalam pengawasan, kalau ketahuan mencuri/menyembelih bebek2 itu bisa kena denda/pidana.

Udara juga sepertinya lebih bersih (walaupun anginnya ck..ck..ck..masyaAllah) karena mobil tidak sebanyak di Ina, mungkin karena penduduknya sedikit atau rasio jalan dan mobil diperhatikan.
Caranya: transportasi masalnya dibikin nyaman, sehingga insentif bagi orang untuk memilih transportasi umum. Untuk jalan umum dibagi tiga, jalan bis dan trem sendiri biasanya paling tengah, disamping kiri kanannya jalan untuk mobil biasanya pas/sempit untuk satu mobil, hampir jarang sekali jalan dua arah, biasanya satu arah. Disebelah jalan mobil jalan untuk sepedah, dan sebelahnya lagi trotoar untuk pejalan kaki. Jalan umum/utama bisa lebar mungkin kompensasi dari bentuk rumah yang diatur ketat, biasanya rumahnya meninggi/apartemen keatas, bentuknya nyaris seragam, bagian luar ga boleh dicat macem2 (kalau mau ngecat ijin kecamatan dan kena pajak), ya mungkin karena mereka sadar luas negaranya kecil sehingga harus mengelola persepsi ruang (ingat total footbal). Hal lain pajak mobil mahal (ada pajak per bulan berdasarkan berat mobil dan merek), bikin SIM juga mahal.  Mereka juga memperhatikan soal rasio wilayah hijau/tanaman dengan luas wilayah, sepertinya karena harus berdamai dengan keadaan fisik alamnya yang kecil dan iklim laut, jadi mereka harus prihatin mungkin :D (tuh lihat saja kalau mereka bisa keluar dari Belanda, bikin villa/rumah segede2 badak di Puncak dan sejenisnya.) Udara juga penting mempengaruhi daya tahan tubuh terhadap penyakit, dan juga efek jangka panjang polusi macam2 bukan?

Mereka sensi sekali soal air (baik air minum maupun airbah banjir). Air untuk mandi cuci masak dan air untuk langsung minum sama kualitasnya, sama2 langsung ngocor dari keran. Untuk mengelola air ini mereka kerja grubukan melibatkan banyak aktor: dua kementrian, perusahaan air milik publik di tingkat kecamatan, perusahaan swasta, pemerintah kecamatan itu sendiri, dan ?aterschapen atau waterboards yang diberi mandat oleh konstitusi. Mungkin yang studi di IHE-Unesco punya lebih banyak pengetahuan bagaimana mereka mengkoordinasikan soalan air ini. Yang jelas sebagai konsumen, saya menikmati air bersih dengan harga yang relatif tidak terlalu mahal (masih jauh lebih mahal harga gas dan verwaarming/pemanas). Sepanjang di Belanda, saya mengalami sekali air dimatikan dari jam 9 – 15 sore untuk maintenance, itupun dengan surat pemberitahuan sebulan sebelumnya, dan pamflet yang dipasang di gedung. Dalam hati meuni segitunya, padahal di Bandung dulu (mungkin tergantung wilayahnya) air untuk minum Aq*a galon, air untuk masak dan mandi saya beli dari mang air yang katanya mengambil dari mata air, air untuk cuci harus membuat sistem penyaringan air tambahan di rumah yang memakai sabut, pasir aktif, dll tea, yang kalau saya hitung perbulannya lumayan besar juga pengeluaran untuk air ini :( :( :(
Memang air tidak bisa disepelekan untuk kesehatan, penyakit muntaber, infeksi saluran pencernaan, keracunan makanan juga bisa dari air yang kurang memenuhi syarat untuk konsumsi.

Makanan/jajanan sepertinya itu-itu saja. Kata saya karena mereka ga bisa masak he..he..he. (jadi marilah kita serang mereka dengan makanan kita yang enak2, prospek industri makanan masa depan ada di tangan Indonesia insyaAllah :D :D:D). Untuk yang halal di Belanda relatif tidak terlalu sulit karena banyak mas-mas Turkiye yang buka toko, dan juga Oriental shop yang tersedia dari tempe tahu sampe pete jengkol. Efek baiknya, saya jadi merasa aman dengan jajanan untuk anak2, paling itu2 lagi, kalau ga susu, yoghurt, keju, kue keju, roti, mentega, kayaknya mereka ga punya jajanan aneh2. Kalau Eropa memang kabarnya ketat dengan standar makanan (tapi ada isu ketidakadilan disini, mereka suka mengatur standar makanan yang diimpor dari negara berkembang dengan standar organik, ga boleh ini itu, tapi maunya beli dengan harga murah, I really dislike this issue of injustice! Mereka membiarkan negara berkembang terjebak pada race to the bottom (saingan banting2an harga/merendah2an diri, agar barangnya masuk Eropa). Saran: sebisa mungkin belilah produk di Eropa yang diimpor dari negara berkembang yang  memiliki logo FAIR TRADE, walaupun tidak semua ada :( :( :(
Soal makanan ini penting sebab makanan juga berpengaruh terhadap daya tahan tubuh bukan?

Bagaimana mereka membuat warganya taat kepada aturan? tiada lain tiada bukan: UANG (stereotip bahwa orang Belanda pelit tidak sepenuhnya salah :D )
Denda untuk pelanggaran ampun2an mahalnya, jadi lebih baik tidak coba2. Hal lain, dengan ´single identity number´ maka pelanggar kewajiban sosial (pajak dan bayaran ini itu) bisa diblokir dari akses mana2, tidak bisa membuka rekening di Bank, atau kalau bukan orang Belanda, bisa kesulitan untuk masuk Belanda lagi di masa datang.
Tapi mungkin, ini juga karena pemerinah pengelola uang setidaknya bisa dipercaya oleh warganya (strong institutional building seperti isu yang gencar digelontorkan Stiglitz untuk negara berkembang).

Written by ibu didin

February 27th, 2011 at 12:20 pm

(Besar) Kecilnya gaji di Indonesia

without comments

Menikmati ‘digaji’ dengan tugas utama belajar, membuat posisi saya ‘nyaman’ sebagai ibu yang juga mengasuh anak.  Alhamdulillah sejauh ini tugas perkuliahan dapat dijalani dengan baik. ‘Gaji’ juga terhitung lumayan, pekerjaan utama untuk belajar, sesuai dengan kebutuhan saya sebagai ibu rumah tangga, belajar bisa diatur ketika anak sudah tertidur, atau sambil menemani anak bermain. Nyaris selama ini saya menikmati keseimbangan yang baik, tidak ngoyo bekerja dalam arti tidak menghabiskan banyak waktu di perjalanan, karena infrastruktur yang bagus disini, tidak ada macet, kemana2 bisa jalan kaki atau bersepedah, atau menunggu bis/kereta/trem yang jadwalnya bisa dipersiapkan karena tepat waktu, dengan informasi yang bisa diketahui dari internet, istilahnya perjalanan dapat direncanakan dengan baik.  Apalagi sistem pendidikan tinggi Belanda yang justru mengharuskan porsi belajar mandiri yang sangat dominan, peran dosen di kelas sebagai fasilitator diskusi, dan kehadiran di kelas tidak wajib, yang penting justru eksplorasi pribadi.  Lagi-lagi, ini menambah ‘kenyamanan’ saya yang lebih suka di rumah belajar, sambil mengurus pekerjaan rumah dan anak, apalagi pilihan program studi saya bukan program yang menuntut banyak eksperimen di laboratorium, program saya adalah program yang mengharuskan banyak belajar, berpikir, dan mencermati realitas sosial.

Sekali lagi, posisi saya saat ini adalah posisi nyaman (sesuatu yang patut disyukuri), ketika mempunyai anak kecil yang butuh pengasuhan intensif, pada saat yang sama mempunyai penghasilan yang kalau dibandingkan dengan standar gaji di Indonesia sudah cukup lumayan (meskipun kalau dibandingkan dengan penghasilan jika bekerja sebagai karyawan perusahaan Belanda tentu masih jauh), dan pada saat yang sama rutinitas berjalan sangat manusiawi. Tidak banyak menghabiskan waktu di luar rumah, tidak terlalu besar pengaruh hedonisme, tidak menghabiskan waktu di mall, kita bisa menjadi modest (sederhana) tanpa telinga panas karena berisik orang-orang yang berlomba-lomba -maaf- pamer.

Bagaimanapun, keinginan untuk kembali ke tanah air tetap ada, banyak hal yang tentu bisa dilakukan karena negara sedang membangun.  Saya mulai melihat-lihat melalui internet jenis-jenis pekerjaan dan standar gajinya.  Sebab untuk kembali ke tanah air harus siap lahir batin, bukan sekedar euforia dan semangat, tapi harus dengan pikiran yang adem, hati yang tenang, sudah dipikir konsekuensinya, karena tidak bisa dipungkiri kehidupan yang cukup ‘keras’ harus dihadapi dengan niat yang ikhlas, agar ridho Allah benar-benar teraih.  ’Keras’ karena negara kita sedang mengalami ’social exercise’ yang luar biasa, segala sisi sedang ditata, pendek kata sedang ‘ditempa Tuhan’ seperti kata H.Mutahar dalam syair ‘Dirgahayu Indonesiaku’.

Salah satunya yang harus dipikirkan adalah mencari ‘penghidupan’.  Sebagian besar pekerjaan mempunyai konsekuensi yang menurut saya ‘luar biasa’, bekerja dari pagi hingga petang, termasuk harus bergulat dengan transportasinya, dengan gaji yang juga kadang ‘tak sebanding’. Tapi itu realitas, setiap pilihan ada konsekuensinya.  Sehingga harus benar-benar siap lahir batin dengan pilihan-pilihan itu, termasuk bagaimana konsekuensinya pada anak-anak.  Sejujurnya saat ini saya cukup terkaget-kaget dengan gaji di Indonesia yang secara umum di kisaran 3 jt, 5jt, 7jt, yang pada hemat saya relatif tidak begitu besar sebab mereka-mereka ini adalah tenaga ahli, dengan kualifikasi pendidikan yang baik, jam kerja yang tinggi (mungkin pergi dari rumah jam 8 pagi pulang jam 8 malam), ditambah aneka tugas-tugas kantor untuk lembur, kerja di hari libur.  Bagi yang pernah merasakan kehidupan di luar negeri, apalagi kalau gajinya tinggi, hal ini tentu akan membuat ’shock’.

Itulah sebabnya abah dari jauh-jauh selalu mewanti-wanti, keinginan ibu untuk kembali ke Indonesia harus benar-benar disiapkan lahir dan batin, sehingga tidak banyak mengeluh nantinya.  Ada konsekuensi2, misalnya, kebersamaan kita sebagai keluarga tidak akan seperti sekarang, dimana waktu kita berkumpul sebagai keluarga cukup besar. Ibu harus siap jika misalnya nanti jam kerja abah di luar rumah lebih banyak, atau mungkin kalau abah bekerja di luar kota, ketemu akhir pekan.  Kalau menginginkan kehidupan yang lebih baik mungkin dua-duanya harus bekerja, dan ini ada konsekuensi lain yang harus diperhitungkan, misalnya soal pengasuhan anak.  Kalau ibu ingin lebih fokus ngasuh anak dan memutuskan tidak bekerja di luar rumah misalnya, maka ibu harus lebih qona’ah (nrimo dan bersyukur), tidak tertuntut lingkungan untuk mengejar materi.  Atau ibu bisa menjalankan bisnis yang bisa dikendalikan dari rumah, misalnya ibu pernah mengelola bisnis katering dan jualan online, dan bisnispun selalu ada konsekuensi sukses dan tidak sukses.  Lagi-lagi, semunya harus dipikirkan dan dipersiapkan lahir batin.  Sehingga, teramat baiklah untuk menyelami hadist Arbain yang kesatu,

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

[Diriwayatkan oleh dua orang ahli hadits yaitu Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari (orang Bukhara) dan Abul Husain Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi di dalam kedua kitabnya yang paling shahih di antara semua kitab hadits. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907]

Di luar tanah air, bukan berarti tertutup ladang amal, seperti di Belanda ini, dakwah sedang mulai menggeliat, maka diperlukan pula juru-juru dakwah untuk mengantar masa depan Islam yang leibh baik.  Pendek kata, ibu benar-benar harus menata niat dengan benar,  kembali ketanah air mungkin adalah pilihan ‘perjuangan’ dimana konsekuensinya harus dijalani dengan ikhlas, seperti Hatta, seperti Syahrir, seperti Agus Salim.  Tetapi diatas itu semua, kehendak Allahlah yang akan berlaku, dimanakah takdir akan menempatkan diri untuk berjuang dan beramal.

Written by ibu didin

February 4th, 2011 at 11:55 am

Senin Kelabu & Selamat Tahun Baru 1 Muharram :)

without comments

Hari Ahad pagi, pada sebuah silaturahmi onlen, saya kebagian mengisi kultum, dari sebuah buku mungil, saya menceritakan ulang sebuah kultum singkat tentang orang-orang yang oleh Rasulullah SAW disebut sebagai penderita kebangkrutan.  Sahabat mengira, itu adalah orang-orang yang harta bendanya ludes habis tak bersisa, atau malah meninggalkan hutang. Tetapi kata Rasulullah, itu adalah orang-orang yang pada hari perhitungan, datang ke hadapan Allah membawa amal ibadahnya, shalatnya, puasanya, infaqnya, hajinya, dan kebaikan2 yang lain, hatinya sungguh berseri-seri, tetapi kemudian datang seorang mengadu kepada Allah tentangnya, Allah mengabulkan pengaduannya dan memerintahkan untuk mengambil pahala dari orang tadi, sebagai pengganti tuntutannya, kemudian datang orang lain lagi mengadu, dan Allah pun mengabulkan aduannya, demikian terus sampai pahalanya habis, tapi kemudian datang orang lain lagi yang mengadu kepada Allah, Allah mengabulkan aduannya, dan karena tak ada lagi simpanan pahala, maka Allah memerintahkan dosa si pengadu tadi dipindahkan. Maka itulah orang-orang yang bangkrut… astaghfirullahaladziimm :( :( :(

Pengaduan-pengaduan tersebut datang, bisa jadi karena kedhaliman lidah kita, tangan kita, pengkhianatan2 kita, bergosip, membicarakan orang lain, memfitnah, mengadu domba, menjelek-jelekkan, astaghfirullah :( :(

Ahad siang, saya beralih ke agenda pengajian muslimah Delft termasuk pembentukan pengurusnya, Alhamdulillah acara lancar dan menggembirakan.  Sepulang dari acara muslimah Delft, malam hari dilanjutkan dengan rapat onlen untuk mempersiapkan acara tahunan semacam mabit muslim se-Belanda dan sekitarnya (KIIAT). Tahun ini saya di bagian dapur umum,  Alhamdulillah banyak masukan dari ibu-ibu yang sangat berpengalaman dengan acara2 ini. Hari ahad yang menggembirakan dan bermanfaat insyaAllah :)

Seninnya…doweng doweng…

Senin pagi, saya terlibat obrolan dengan seorang kawan, dan akhirnya huhuhu saya turut nyamber membicarakan orang lain :( :( beberapa menit saja, tapi sungguh membuat hati kecut, perasaan tidak enak, dan ketakutan mulai menjalari.  Sesudah itu konsentrasi saya menjadi buyar, di depan laptop hendak mengerjakan soal-soal mikroekonomi, tapi suasana hati menjadi kacau, beginilah akibat ikut gosipin orang lain. Saya takut keburukan berbalas keburukan, atau berbalas keburukan kepada anak-anak :(  Astaghfirullahaladhiim…

Subuh kian menjelang, abah harus segera berangkat menjemput koleganya di bandara Schipol, sehingga untuk hari senin kemarin saya yang ngantar mba nana sekolah. Karena musim dingin, saya tidak berani memakai sepedah, khawatir licin dan resiko terjatuh, jadi merencanakan membawa mba nana dengan stroller saja, ke sekolahnya yang cukup jauh kalau dihitung jarak jalan.  Karena mba nana tidur larut, akibatnya bangunnya susah, jam 8.20 baru bisa melek, ibu suapin nasi&brokoli, minum susu, bebersih kilat, memakai perlengkapan musim dingin, ibu dengan kilat bersiap-siap ke kampus sebab ibu berpikir ada kuliah jam 13.45, dan kitapun berangkat pukul 8.30.  Karena berjalan cukup berhati-hati agar tidak terjatuh oleh es, maka baru sampai di sekolah mba nana pukul 9 an, begitu sampai, Mowahib teman mba nana menyambut dan memeluk mba nana :)

Untuk menyingkat perjalanan, saya berniat naik kereta dari stasiun Delft Zuid di dekat sekolah mba nana menuju ke Delft centrum, kemudian jalan ke kampus. Yach ternyata harus memutar karena ada pembangunan, daripada nyari jalan memutarnya, saya meneruskan saja perjalanan ke kampus, sampai kampus jam 10 lebih lima, ternyata 1,5 jam total saya jalan kaki dari rumah, rekor di musim salju ^_^ Ternyata cukup  melelahkan jalan jauh dengan udara dingin.

Sampai di kampus menuju lab komputer, memeriksa jadwal di Blackboard, dalam benak saya kuliah jam 13.45, masih lama menunggu, kepala saya mulai pusing, ah mungkin kelaparan, sampai menunggu jam sebelas saya ke kantin, membeli makan satu buah kue muffin, setengah mangkuk kecil sup tomat, sepotong pastel isi keju, dan sebutir apel. Seusai makan menunggu jam kuliah dengan kepala senut2 dan super ngantuk.  Akhirnya saya tertidur sebentar depan komputer, bangun2 merasa lab jadi rame, banyak melihat teman2 sekelas EPA, saya masih ngantuk dan beranjak ke lantai satu, kalau2 ada tempat untuk tiduran sambil duduk di ruang2 diskusi orange box. Ahh penuh, saya jumpai banyak anak EPA, ada perasaan curiga, saya kembali lagi ke komputer, dan melihat Blackboard… ternyata kuliahnya jam 10.45 – 12.30.. astaghfirullah… yaaaaahhhhhh, untuk memastikan saya telepon anisah, dan doweng doweng, kuliah sudah selesai, jadi sementara saya menunggu di computer room, kuliah tengah berlangsung. Padahal baru datang saya membuka jadwal, ternyata persepsi di pikiran tidak sama dengan realiti mata melihat, ahhh khilaff khilaafff….

Dengan perasaan kecut saya pulang ke rumah, lagi berjalan menembus dingin, setelah semua rintangan tadi pagi, pulang lagi tanpa mengikuti kelas perkuliahan, ditambah pulang migren saya jadi kambuh.  Kalau mau dimaknai, mungkin beginilah cara Allah menegur saya, keburukan tadi pagi berbalas ketidakbaikan, banyak-banyak istighfar…. ya Allah janganlah hukum hamba atas kesalahan2 hamba, ampunilah hamba :( :(:(

Sampai senin malam kepala pusing sebelah, sehingga gagal lagi mengerjakan tugas, saya menahan diri tidak minum parasetamol. hingga malam harinya saya makan mie sedap goreng, ALhamdulillah migrennya kok hilang (loh apa hubungannya :P ).

Berbarengan dengan tahun baru 1 Muharram, memaknai kejadian senin ini, semoga saja kita (saya) sukses berhijrah meninggalkan perkataan yang tidak bermanfaat, atau bahkan yang ghibah, tak hendak menjadi orang-orang yang merugi hingga bangkrut, karena amal kebaikannya habis dilalap dengki, keburukan lisan, pikiran, dan hati.  Ya Allah bimbinglah selalu.

Selamat tahun baru 1 Muharram 1432 Hijriyyah.

Written by ibu didin

December 7th, 2010 at 2:23 pm

Belajar Cara Mengajar

without comments

onderwijsSalah satu hal positif yang bisa dipelajari di Belanda adalah cara dosen mengajar, efisien! Contohnya, cara mengelola kelas perkuliahan, kelihatan dosen telah siap, di awal tahun ajaran materi kuliah sudah lengkap dipasang di website (di TU Eindhoven namanya Studyweb, di TU Delft namanya Blackboard), termasuk jurnal bacaan wajibnya. Kemudian di minggu pertama kuliah biasanya dosen memasang file rencana studi, jadwal tiap minggu, jam, ruangan, tema, bacaan yang harus dibaca, rencana minggu keberapa akan ada tugas (individual atau workgroup assignment), dan juga rencana jadwal ujian.

Yang paling menarik adalah, seperti konvensi tidak tertulis, bahwa dosen harus mampu menyampaikan materi yang direncanakan tidak melebihi jam pelajaran, termasuk 15 menit break di dalamnya. Disini, setiap mata kuliah mempunyai break satu kali selama 15 menit, biasanya studenten keluar minum teh/kopi dari vending machine, dan dosen melayani pertanyaan-pertanyaan studenten yang menghampirinya. Biasanya, untuk dapat berbicara dalam waktu yang ditentukan atau dibatasi akan lebih diperlukan persiapan, dibanding jika tidak ada batasan waktu, boleh ngobrol ngalor ngidul. Kalau jam pelajaran berakhir tapi dosennya belum selesai, biasanya studenten ada yang keluar duluan, sebab mungkin dia punya rencana lain, atau memang ini sudah waktunya selesai kok belum selesai, jadi ya ditinggal aja he..he.. Perlu berlatih bicara seperlunya, sistematis, mana yang penting mana yang tidak, tidak repetitif tapi jelas. Hemmm…. semoga saja saya juga jadi terlatih bisa efisien bicara ^_^ Oh iya, saya juga belum pernah menjumpai dosen ijin pada jam mengajar, atau menggagalkan jam kuliah karena dosennya ada acara lain, seingat saya belum pernah.

Yang agak baru bagi saya adalah, untuk satu matakuliah bisa ditangani lebih dari satu dosen, bahkan sampai empat dosen, apalagi matakuliah2 wajib yang bobotnya besar2 (6 ECTS atau 1 semester). Misalnya untuk mata kuliah wajib ‘Evolutionary Foundation for Innovation Sciences’ digerebuk oleh empat dosen sekaligus, dua full professor dan dua assistant professor. Sebab satu mata kuliah dibangun (kolaborasi) dari beberapa grup-grup (section) riset. Seperti mata kuliah tadi, dikelola oleh section ‘Philosophy of Technology: Ethics and Epistemology of Innovation’ untuk bagian ‘evolutionary theory’ nya, kemudian bagian path dependence, technology lock-in & increasing returns, economic geography dikelola oleh section ‘Technology Flows, Knowledge Economy & Economic Performance’, dan untuk bagian transition dikelola oleh section ‘System Innovations & Sustainability Transitions’.

Karena program saya termasuk kelas kecil (sekitar 15-20an studenten), maka seringnya format kelasnya meja bundar alias diskusi, awalnya cukup mengerikan, sebab meja bundar berarti semua orang bakal terlihat, jadi kalau diem saja yach malu berat he..he.. alhasil harus memaksakan diri aktif dalam diskusi, mengejar kemampuan bahasa inggris dan kemampuan berargumentasi (sampe sering nongkrongin videonya chomksy dll), dan tak lupa siap materi sebelumnya sehingga tidak blank. Hal yang baru juga buat saya adalah harus sering membuat proposition (dalil) untuk menjadi bahan diskusi.  Ternyata kudu mikir yach bikinnya :) dan merepresentasikan kepahaman kita terhadap materi dan juga kekritisan.  Sering saya merasa tertantang, sudahlah muslimah berjilbab, dari negara yang bagi mereka dunia ketiga, klo diem saja kok kayak semakin memastikan asumsi mereka bahwa kita teh terbelakang. Makanya kesombongan mereka harus dijawab dengan kemampuan kita, biar nyaho, huh!

Kalau soal nilai, hemmm… pengalaman di program saya kayaknya sih memang rada pelit, jadi 8 wouw, 9 jarang-jarang alias super, 10 wah perfect bisa selametan ^_^ Tapi memang disini tidak meng-endorse nilai, sebab batasnya 6 lulus. Cuman bagi studenten Asia, kalau dapat 6 walaupun lulus kok rasanya aduh kumaha kitu, da terbiasa saingan nilai kita mah dari kecil (beda dengan studenten Belanda) :D :D:D

Oh iya, kertas jawaban ujian kita tidak akan dibagikan kembali, kita boleh membuat janji dengan dosen untuk melihat kertas ujian kita dan mendiskusikan hasil/nilainya jika tidak puas, kalau mau memiliki harus difotokopi, sebab kertas ujian asli akan diarsip dan dihancurkan setelah lima tahun. Mungkin untuk alasan legal/hukum. Kalau dosen memang susah ditebak, ada yang fair, ada juga yang tidak fair loh, underestimate studenten Asia, atau gimanalah (nyebelin yach, klo yg spt ini mah sorry dori mori ga mau lah berurusan lagi dengannya), jadi kalau soal nilai setelah berusaha optimal, serahkan pada Yang Kuasa :)

Episode berikutnya: Belajar Cara Belajar (iAllah abis ujian ya…)

Written by ibu didin

November 3rd, 2010 at 3:37 pm