if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘hamil’ Category

Bagaimana jika hamil dan melahirkan di Belanda?

without comments

Lagi-lagi asuransi penting sekali di Belanda, kalau tidak bisa setres dengan biaya ini itu. Periksa manfaat asuransi yang kita daftarkan disini menanggung biaya hamil dan melahirkan atau tidak. Kalau asuransi student/expatriate yang saya ikuti,  asuransi menanggung biaya kehamilan dan persalinan apabila diketahui hamil sudah terdaftar asuransi, bukan baru daftar asuransi setelah kehamilan.

Sistem untuk kehamilan disini, setelah mengetahui dari test pack (biasanya minggu ke-5 atau 6), maka segera cari praktek midwifes/verloskundigen, di Indonesia disebut bidan.  Disini biasanya grup beberapa bidan dalam satu lembaga, cari terdekat dari rumah (biar ga sulit transportasi/capek). Di Belanda tidak bisa hamil langsung pergi ke dokter kandungan (entah kenapa?), kecuali untuk kasus khusus, entah mungkin kehamilan sebelumnya bermasalah, atau masalah2 medis lainnya, biasanya langsung ditangani oleh dokter spesialis. Prosedurnya harus ke midwife dulu untuk membuat janji pertemuan pertama. Di pertemuan pertama ini membawa dokumen asuransi, pas foto, dan urin. Pertemuan pertama akan berlangsung cukup lama sekitar satu jam, sebab bidan akan mengisi ke database komputer berbagai pertanyaan standar yang sudah disiapkan/diprosedurkan oleh pemerintah. Mulai data diri, daftar riwayat penyakit diri dan saudara terdekat (mungkin hubungannya dengan faktor genetis), aspek psikologis (apakah korban kekerasan/korban perang), dan pertanyaan aneh2 yg menyeramkan (riwayat h*mo seksual, inc*st, dsj), apakah pernah melakukan terapi psikologi, kriminalitas, dst. Sebab mereka adalah negara multikultur, orang datang dari macem2 negara karena alasan macem2, dan melahirkan adalah proses klinis dan psikologi, jadi harus dipersiapkan dulu katanya.

Apabila segalanya normal hingga menjelang persalinan, maka melahirkan ditolong bidan tersebut, disarankan melahirkan di rumah masing2 (aneh ya, justru melahirkan di rumah umum di Belanda). Boleh juga melahirkan di rumah sakit, untuk persalinan normal tetap oleh bidan. Tetapi menurut beberapa ibu2, kalau normal mending di rumah saja, sebab kalau di rumah sakit, beberapa jam sesudah melahirkan sudah diusir/disuruh pulang (alasan efisiensi alias pelit tea). Tetapi apabila ada indikasi tidak normal, atau karena sebab tertentu dan harus dalam pengawasan dokter maka bidan akan merujuk ke rumah sakit bagian obgin. Untuk kehamilan normal dengan riwayat melahirkan sebelumnya operasi, maka baru pada minggu ke 34 dialihkan ke dokter obgin dan harus melahirkan di rumah sakit.  Setiap kunjungan ke bidan ditanggung asuransi.

Setelah kunjungan pertama, ibu hamil diharuskan melakukan tes darah, tinggal membawa rekomendasi bidan ke rumah sakit. Free of charge (ditanggung asuransi).  Tes yang dilakukan untuk mengetahui kandungan Hb, trombosit dan sejenisnya, kadar vitamin D (karena di negara semacam ini rawan defisiensi), kadar gula, infeksi hepatitis, infeksi HIV.

Pada minggu ke-20 (5 bulan) ibu hamil diminta melakukan USG (yang lebih detail dari USG di tempat bidan). Biasanya ke lembaga pemeriksaan yang satu jaringan dengan midwife kita.  Tujuan utama bukan untuk mengetahui gender (untuk gender orangtua ditanya mau tahu/tidak), tetapi tujuannya untuk melihat fungsi jantung, paru, organ perut, tangan-kaki, kepala. Calon orangtua harus menandatangani dokumen bahwa orangtua paham pemeriksaan ini tidak 100% akurat (takut dituntut mereun..).  Biayanya sekitar 150 ero/ 1,8 juta, tapi umumnya ditanggung asuransi.  Kalau ada indikasi abnormal, orangtua ditawari untuk melakukan riset lebih lanjut (yang biasanya tidak dicover asuransi), keputusan aborsi (yang disini legal..syeremmm) hanya boleh sampai usia janin 24 bulan.

Keluarga ibu hamil diharuskan menghubungi/mendaftar untuk Kraamzorg (maternity care), yaitu ?erawatan’ ibu hamil setelah melahirkan oleh petugas Kraamzorg (perawat/bidan). Petugas ini akan visit ke rumah selama 3 jam dalam sehari selama 8 hari untuk mengajari ibu untuk memandikan bayi dan sejenisnya, serta melakukan monitoring ibu hamil pasca melahirkan (pendarahan atau tidak dan sejenisnya). Biaya petugas ini sekitar 125 euro/hari atau sekitar 1,5 jt/hari (makanya berabe kalau ga punya asuransi).
Sewaktu melahirkan anak pertama di desa (Kota Batu), saya juga ada petugas seperti Kraamzorg ini tapi namanya dukun bayi he..he..(tapi bersertifikat loh :D ), sepulang dari rumah sakit, ibu ini akan datang ke rumah pagi dan sore untuk merawat mba nana (mandiin, pijit, dan sejenisnya) sehingga darinya juga bisa belajar macam2, biasanya selama 40 hari atau terserah yang meminta. Jauh lebih murah dibanding biaya Kraamzorg di Belanda. Canggih kan, di desa tapi sistemnya kayak di Belanda :D
Yang rada bikin repot, dari awal-awal midwife sudah mengirim surat barang standar yang harus disiapkan di rumah, baik untuk melahirkan maupun untuk petugas Kraamzorg. Misalnya, bed tempat tidur harus setinggi 70 cm (biar bidannya ga sakit pinggang katanya), handuk2, lap, alkohol, tempat mengganti popok bayi, tempat menaruh bak mandi bayi dan tetek bengeknya.

Written by ibu didin

February 27th, 2011 at 12:23 pm