if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘gelisah’ Category

Paradoks onlen onlen overdosis

without comments

textaddictionSaat ini, dengan hadirnya berbagai produk teknologi yang menawarkan fitur dan fasilitas macam-macam, membuat penggunanya dapat terkoneksi internet 24 jam, kapan saja, dimana saja. Mengecek email setiap waktu, berteman di facebook setiap saat, menyalurkan hobi berargumentasi lewat milis misalnya, mengupdate status di fesbuk, melihat-lihat profil, foto teman, berbalas komentar, mengikuti berita terupdate lewat twitter, atau menjelajah blog, dunia yang seru sepertinya. ┬áBegitu ‘nganggur’ sedikit, maka henpon pun diraih, utak atik utak atik, ketak ketik ketak ketik. Bahkan seorang teman melaporkan, sesudah sholat berjama’ah, assalamu’alaykum toleh kanan toleh kiri, langsung raih saku, keluarkan gadget, ketak ketik ketak ketik )(*&^%$#@!

Mungkin memang bertetangga/berteman di dunia maya menghadirkan sensasi tersendiri, tidak perlu mandi dan dandan untuk berteman (kita lagi ngapain juga orang lain tidak tahu ^^), kita dapat merancang cerita tentang diri sendiri (politik pencitraan tea mereun), seseorang dapat membangun citranya di dunia maya, menjadi lebih relijius, lebih cantik dengan mempermak foto, menjadi suami/istri yang terlihat harmonis dengan foto2 mesra, menjadi orang tua yang terlihat berdedikasi dengan foto2 bareng anak-anak, atau menjadi lebih lembut, pengertian, menjadi apa saja yang bisa dirancang image-nya ^^ (Apakah setiap orang seperti itu? jawabnya tentu tidak, prasangka baik lebih utama didahulukan, mungkin cukup sebagai pengingat untuk diri sendiri).

Eksistensi, banyak teman, banyak perhatian, mungkin itu daya tarik dunia maya, seolah-olah kita selalu ada, dan selalu ada orang lain bersama kita. Tetapi saya merasa di tengah hiruk pikuk onlen onlen, ada sesuatu yang mengganggu, keramaiannya sering tidak diinginkan, update disana sini, arrrgghhhh pusiiinnnngggggg.

Kalau misalnya, sedikit waktu luang onlen, tengah di perjalanan onlen, tengah menunggu onlen, tengah rapat onlen, tengah belajar onlen, tengah masak onlen, tengah ngasuh anak onlen, haduuhhh kumaha ieuh, kapan kontemplasinya, kapan inget Allah nya, kapan inget dosanya, kapan tobatnya :( (

Mungkin sekarang perlu lebih banyak ruangan yang dahulu dipakai untuk tilawah, merenung, berpikir, shalat dengan khusyuk, juga ruangan-ruangan untuk bercengkrama dengan anak, obrolan dengan suami/istri, berkunjung, menengok tetangga. Singkatnya, agar eksis di dunia non maya (bukan berati dunai maya tidak ada manfaatnya). Tapi lagi-lagi sesuatu yang berlebihan/over dosis, bukan hasil yang baik yang dituai.

Mungkin, ada baiknya pula untuk saat ini saya masih mempertahankan henpon yang lama, tanpa koneksi internet, tanpa bisa cek email, cek fesbuk, cekcok cekcokan, agar memang onlen hanya di depan laptop, jika tersambung internet di depan komputer. Selebihnya biarlah saya rasakan kemerdekaan dari hingar bingar onlen onlen :(

NB:

mungkin dalam kasus ini pendapat dari Langdon bisa benar adanya, bahwa teknologi bisa merampas kebebasan (freedom) manusia, baik itu dirampas paksa maupun sukarela.

image by CBS/The Early Show

Written by ibu didin

October 18th, 2010 at 11:43 am