if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Gado-gado’ Category

Kalau ke Bandara, Bawalah Makanan Sendiri

without comments

Sudah seringkali kita mendengar cerita orang-orang yang “dicekik” harga tak wajar ketika makan di Bandara. Semua orang tahu kalau harga makanan di Bandara tak terkira mahalnya. Mungkin karena pajak atau sewa ruangan di Bandara yang mahal maka pemilik restoran sungguh semena-mena menetapkan harga yang mahal untuk jualannya.

Ini cerita yang saya peroleh dari seorang fesbuker. Di bandara Cengkareng dia melihat seorang bapak dengan istri dan dua orang anak,  yang tampaknya datang dari kampung,  masuk ke sebuah rumah makan semacam “warung tegal” ketimbang masuk ke restoran cepat saji atau waralaba yang populer.  Setelah makan dengan menu masing-masing dan ditambah minuman ringan, betapa kagetnya sang kepala keluarga ketika harus membayar total harga makanan dan minuman sebesar 395 ribu rupiah.  Hampir tidak percaya dia, semacam warung tegal di Bandara menjual makanan dengan harga yang tidak kira-kira mahalnya. Sebagai perbandingan, soto betawi di rumah makan itu harganya seporsi kecil saja sudah 70 ribu rupiah.

Betapa mahalnya, betapa bangsa kita tidak tahu malu mengeruk saku pengunjung dengan harga yang tidak sebanding dengan kualitas dan kuantitas makanan yang dijual. Parahnya lagi, tidak ada daftar harga di dalam menu, baik di meja maupun yang ditempel di dinding sehingga pengunjung yang masuk akhirnya merasa tertipu setelah selesai makan.

Cerita teman saya di Bandara Cengkareng juga tidak jauh beda. Di area parkir mobil pribadi ada sebuah kafe bernama kafe N. Karena sudah lelah dan lapar setelah terbang sekian jam, dia dan temannya makan di kafe itu. Seporsi nasi dan ayam, seporsi nasi dan rawon, serta minuman teh total harganya Rp225.000. Rinciannya, nasi ayam Rp80.000, nasi rawon Rp115.000, dan teh Rp30.000.  Alamak, rawon macam apa yang harganya 115 ribu? Nasi ayam macam mana yang harganya mencapai 80 ribu?

Tidak karu-karuan. Harga makanan di bandara negara kita jauh lebih mahal daripada di bandara Changi atau Kualalumpur. Di Bandara Minangkabau Padang saya juga terkaget-kaget ketika makan soto Padang semangkuk kecil plus nasi di restoran di dalam bandara harganya Rp45.000. Sudahlah rasa sotonya tidak enak, dagingnya seencrit, mahal pula. Bah, kapok saya makan di sana lagi.

Maka, menyikapi harga makanan yang tidak wajar di Bandara, sebaiknya kita membawa makanan sendiri dari rumah atau dari luar bandara. Bersih, sehat, dan murah, serta tidak membuat sakit hati. Saya sendiri selalu begitu, hampir selalu bawa nasi dari rumah. Saya tidak malu makan di ruang tunggu atau di kursi bandara. Ini makanan saya sendiri, kenapa harus malu. Di luar negeri sudah biasa orang menikmati sandwhich-nya atau memakan bekalnya sambil duduk membaca di ruang tunggu bndara. Jika pun terpaksa makan di restoran, pilihlah restoran waralaba yang sudah populer, karena harga makanannya selalu sama di mana saja, baik di bandara maupun di luar bandara.


Written by rinaldimunir

January 31st, 2017 at 5:21 pm

Jagung Hitam

without comments

Ketika belanja di sebuah supermarket, di bagian sayur mayur saya menemukan jagung yang berawarna hitam. Bukan karena gosong, tapi memang hitam legam. Baru kali ini saya melihat ada varitas jagung yang berwarna hitam, biasanya kita tahu jagung itu warna biji-bijinya kuning.

jagung-hitam

Jagung hitam, kontras dengan jagung kuning sebelahnya

Saya tidak sempat membelinya, tetapi kata teman yang sudah pernah mencicipi, rasanya manis seperi jagung biasa. Enak. Setelah cari informasinya di Google, ketemu ini: http://www.victoryseeds.com/corn_black-aztec-sweet.html. Ternyata jagung ini asalnya dari Mexico sehingga diberi nama Black Mexican Sweet Corn.

Subhanallah, macam-macam ciptaan Allah yang beraneka ragam dan warna untuk manusia.Jadi, nikmat-Nya mana lagi yang kamu dustakan?


Written by rinaldimunir

December 25th, 2016 at 11:24 am

Posted in Gado-gado

Sisa Makanan Anak, Orangtua Menjadi Seksi “Pembersih”

without comments

Orangtua di mana-mana mungkin sama saja tindakannya. Jika anaknya  nggak habis memakan makanannya, maka orangtua bertindak menjadi seksi “pembersih”. Sisa makanan anak dimakan lagi, rasanya sayang jika dibuang. Mubazir. Seperti foto di bawah ini, nasi  bagian bawah adalah sisa anakku tadi yang makan dengan  ayam goreng krispi, nasi yang bagian atas saya tambahkan untuk makan malam.

sisanasi

Jika memakan sisa makanan orang lain kita sering merasa enggan atau malahan jijik, tetapi memakan sisa makanan anak sendiri sama sekali tidak. Bahkan jajanan yang didigit anak saja kita masih mau memakannya. Kenapa begitu, ya karena rasa jijik itu dibuang saja, toh anak sendiri, darah daging kita sendiri. Waktu anak masih bayi saja kita mau dipipisinya, lagi-lagi karena merasa itu darah daging kita sendiri. Coba kalau dipipisi orang lain, tidak tanggung marah dan jijiknya kita.

Yah begitulah, ikatan jiwa dengan anak kandung membuat orangtua irasional dan mau melakukan apa saja untuk anaknya.  Tahukah anda kenapa demikian? Itu karena rasa kasih dan sayang. Pengasih dan penyayang itu sifat Tuhan, namun sebagian rasa kasih dan sayang itu diberikan-Nya kepada manusia, khususnya orangtua, untuk mengasihi dna menyayangi anaknya.

Kembali ke cerita soal makanan bersisa tadi. Karena sering memakan sisa makanan anak, tidak jarang ibu-ibu malah tambah gemuk. Maksud hati ingin diet untuk menguruskan badan, tapi melihat makanan anak bersisa sayang untuk dibuang, akhirnya dimakan juga, he..he.


Written by rinaldimunir

December 23rd, 2016 at 8:24 pm

Posted in Gado-gado

Anak-anak Pemburu Telolet. Telolet itu Palindrom!

without comments

Tiba-tiba saja deman telolet menjadi fenomena dan viral di  dunia maya dengan tagar #OmTeloletOm. Awalnya fenomena telolet itu berasal dari kebiasaan anak-anak yang berburu suara klakson bus yang berbunyi khas. Suara klakson itu terdengar seperti “telolet…telolet..telolet…”. Ini videonya:

Mereka meminta bus-bus yang lewat untuk membunyikan suara klakson telolet. Suara itu direkam oleh anak-anak itu dengan menggunakan ponsel. Koleksi suara-suara telolet itulah yang membuat anak-anak ketagihan sehingga mereka setiap sore berdiri di pinggir jalan raya untuk berburu suara telolet. Demam telolet juga merambah ke orang-orang dewasa dengan memasang kertas bertuliskan “Om Telolet Om” di sepanjang jalan yang dilalui bus  hingga akhirnya menjadi fenomenal dan viral di media sosial. Demam telolet membawa kesenangan dan kebahagian tersendiri bagi orang-orang. Bahagia itu ternyata sederhana ya.

Atau video yang ini:

Menyaksikan anak-anak yang berburu telolet mengingatkan saya pada masa kanak-kanak. Telolet bukan hal yang baru, ia sudah digemari sejak dulu. Anak-anak suka mendengar suara klakson bus yang berbunyi telolet. Saya pun juga begitu. Dulu bus-bus di sepanjang jalan Lintas Sumatera membunyikan klakson telolet yang khas itu. Sebut saja bus ALS, ANS, IPS,  Sibual-buali, Bintang Kejora, dan lain-lain. Anak-anak  berdiri di sepanjang jalan menunggu bus-bus yang lewat. Supir-supir bus merasa terhormat disambut anak-anak yang melambai-lambai sepanjang jalan. Sebagai bentuk penghargaan kepada anak-anak itu, supir bus membunyikan suara klakson telolet sebagai tanda menyapa anak-anak itu. Anak-anak pun bersorak kegirangan.

ans

Bus ANS tahun 70-80-an

Sekarang telolet mendunia. Telolet ini sebuah ungkapan yang istimewa, sebab kata  TELOLET jika dibaca dari depan dan dari belakang bunyinya teap sama yaitu TELOLET. Di dalam teori lingustik hal ini dikenal sebagai bentuk palindrome. Kata atau kalimat lain yang palindrom adalah KATAK, MALAM, NABABAN, KASUR RUSAK, dan lain-lain. Jadi, jika sekarang sedang ramai istilah “OM TELOLET OM” maka ia menjadi palindrom pula jika ditulis “MO TELOLET OM” yang artinya mau telolet om.????


Written by rinaldimunir

December 22nd, 2016 at 3:11 pm

Posted in Gado-gado

Rasulullah Sudah Mengajarkan Cara Mandi yang Benar dan Sehat

without comments

Sebuah artikel yang saya kutip dari laman web ini tampaknya masuk akal, meskipun secara medis perlu mendapat penjelasan yang lebih ilmiah. Saya akan mengulasnya di bawah ini:

Sering kita dengar banyak orang jatuh dan terkena stroke di dalam kamar mandi. Yang jadi pertanyaan mengapa tidak di tempat lain? Perlu untuk direnungkan mengapa kita selalu mendengar kabar orang jatuh di kamar mandi akibat serangan stroke. Mengapa kita jarang mendengar orang jatuh akibat serangan strok ditempat tempat lain?

Seorang penceramah professor di universitas di Malaysia, UITM,  yang juga terlibat dengan kegiatan olah raga negara menasihatkan supaya pada waktu mandi jangan membasahi kepala dulu, namun basahi bagian badan lainnya.

Ini karena apabila kepala basah dan dingin, secara tiba-tiba darah akan dipompa mengalir ke kepala untuk menghangatkan kepala, logika ‘warm blooded human’. Dan jika ada saluran pembuluh darah di daerah kepala yang mengalami penyempitan akibat kolesterol atau lainnya maka dapat terjadi kondisi pecahnya pembuluh darah akibat derasnya aliran darah yang tiba-tiba di kepala. Ini kerapkali berlaku di kamar mandi.

Berikut cara mandi yang benar :

1. Pertama siramkan air di telapak kaki.
2. Kemudian dilanjutkan dengan segayung di betis.
3. Segayung di paha.
4. Segayung di perut.
5. Segayung di bahu.
6. Berhentilah sejenak 5-10 detik

Kita akan merasakan seperti uap/ angin yang keluar dari ubun-ubun bahkan meremang, setelah itu lanjutkan dengan mandi seperti biasa.

Ini ibarat sebuah gelas yang diisi air panas kemudian kita isi dengan air dingin. Apa yang terjadi? Gelas akan retak,  bahkan pecah!

Jika perubahan suhu yang tiba-tiba ini terjadi pada tubuh kita apa yang retak dan pecah?

Suhu tubuh kita cenderung panas dan air itu dingin, maka yang terjadi jika kita mandi langsung menyiram pada badan atau kepala, uap yang harusnya keluar jadi terperangkap dan dapat membawa maut karena pecahnya pembuluh darah.

Maka sebab itu kita sering menjumpai orang jatuh di kamar mandi tiba-tiba kena ‘stroke’. Boleh jadi kita sering masuk angin karena cara mandi kita yang salah. Boleh jadi kita sering migrain kerana cara mandi yang salah.

Cara mandi ini baik bagi semua umur terutama yang memunyai sakit diabetes, darah tinggi, kolesterol dan migrain/ sakit kepala sebelah.

~~~~~~~~

Cara mandi seperti yang dituliskan dalam artikel di atas sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Rasulullah mengajarkan kita tatacara mandi besar  atau mandi wajib (misalnya karena junub, mimpi basah, selepas haid, dsb). Mandi besar dimulai dengan membasuh kedua telapak tangan, mencuci kemaluan, lalu berwudhu.  Ini adalah sebuah cara adaptasi agar tubuh tidak kaget dengan air (dingin). Selanjutnya, setelah berwudhu, mulailah menyiram kepala sehingga  seluruh tubuh basah dengan air (baca: Tata Cara Mandi Junub Sesuai Tuntunan Rasulullah).

Tidak hanya ketika mandi besar, untuk mandi yang lain pun kita disunnahkan berwudhu terlebih dahulu. Maknanya selain untuk menyucikan, juga agar tubuh beradaptasi dengan air, sehingga terhindar dari stroke  karena mendapat kejuatan dingin tiba-tiba.

Demikianlah, Rasulullah sudah mencontohkan mandi yang benar dan sehat sejak 15 abad yang silam, sebelum ilmu pengetahuan kemudian menemukan kebenarannya. Shalawat dan salam teercurah padamu ya Rasulullah.


Written by rinaldimunir

September 27th, 2016 at 6:24 pm

Posted in Agama,Gado-gado

Pokemon Tidak Perlu Dilarang

without comments

Permainan online berbasis augmented reality dan teknologi GPS yang lagi heboh saat ini adalah Pokemon. Di dalam permainan yang menggunakan gawai ini, pengguna berburu monster lucu  di berbagai tempat. Semakin banyak dan semakin langka monster yang ditangkap, semakin mengasyikkan dan membuat penasaran hingga ketagihan.Di bawah ini gambar permainan Pokemon (Sumber gambar dari sini).

pokemon-go-nick_statt-screenshots-2.0

Layar permainan Pokemon.

pokemon-go-nick_statt-screenshots-1.0

Monster dari permainan Pokemon ini berbasis augmented reality, dia muncul dengan latar belakang berupa gambar dunia nyata yang ditangkap oleh kamera perangkat gawai.

Positifnya,  pemain Pokemon perlu banyak berjalan kaki sampai berkilo-kilo meter untuk berburu monster di tempat-tempat yang dianggap banyak monster bersembunyi, sehingga membuat tubuh sehat. Negatifnya, karena mata selalu tertuju pada layar gawai sambil berjalan kaki, si pengguna mungkin tidak awas sehingga bisa jatuh, tertabrak, atau menabrak orang lain. Bahkan ada orang yang tidak peduli adab sampai berburu Pokemon ke dalam masjid, tidak sadar mereka memakai celana pendek. Masuk masjid kok tidak punya tata krama begini.

Cari-Monster-Pokemon-Dua-Pria-Bercelana-Pendek-Menyelonong-ke-Masjid-Cheng-Hoo-Pandaan-Pasuruan-by-Tafdil-31wdr6qacv5x91smqv5r7k

Nyelonong ke dalam masjid mencari Pokemon, tidak sadar menggunakan celana pendek. Sumber gambar: hidayatullah.com

Sebegitu hebohnya permainan ini, lembaga Pemerintah dan lembaga layanan masyarakat sampai perlu mengeluarkan edaran larangan bermain Pokemon di instansinya, seperti edaran yang dikeluarkan oleh Menpanlarangan dari kepolisian, dan larangan yang diekluarkan banyak Pemda. Bahkan para ulama NU pun mulai membahas hukum bermain Pokemon hingga mengeluarkan hukum makruh sampai haram.  Ada juga yang khawatir kalau pembuat Pokemon punya agenda terselubung untuk mengumpulkan data dari GPS untuk tujuan intelijen sehingga membahayakan negara. Kenapa hanya Pokemon yang dilarang? Banyak juga kan aplikasi online lain yang berbasis GPS seperti Gojek, Grab Taxi, Waze, Instagram, dan lain-lain tetapi kok tidak dilarang? (baca tulisan rekan saya ini yang meninjau dari sisi keamanan: Keamanan Aplikasi Pokemon Go).

Ya, ya, Pokemon telah membuat banyak orang sibuk sampai membuat larangan segala. saya punya pendapat agak berbeda. Pokemon tidak perlu dilarang, karena dia tidak menakutkan seperti yang kita kira. Ini permainan yang sifatnya trend sesaat saja, mode saja, lama-lama juga nanti orang akan bosan sendiri. Sifat dasar manusia adalah selalu tertarik mencoba sesuatu yang baru atau sensasi baru, setelah lama dipakai akhirnya jenuh, ternyata ya cuma begitu-begitu saja. Akhirnya hilang sendiri deh itu permainan, digusur permainan baru yang muncul selanjutnya. Ingat dulu pernah heboh permainan angry birds, tomagochi, dll, yang sudah tidak terdengar lagi  beritanya. Sebagian pengguna fanatik mungkin akan bertahan, tetapi sebagian besar pengguna hanya coba-coba saja untuk memenuhi rasa ingin tahu.

Jadi, ya begitulah, tidak perlu lebay. Jangan sampai energi ini dihabiskan untuk membahas hal-hal yang kurang esensial begini.


Written by rinaldimunir

July 26th, 2016 at 12:17 pm

Telepon Rumah (Tidak) Akan Tinggal Kenangan?

without comments

Di rumah saya masih terpasang telepon rumah. Telepon rumah ini jarang sekali digunakan dan jarang sekali berdering, jadi boleh dibilang lebih sering menganggur. Paling-paling telepon rumah digunakan untuk mencari keberadaan ponsel yang  lupa ditaruh di mana. Selain itu untuk menelpon toko air mineral dan toko gas minta diantarkan air galon dan gas jika keduanya sudah habis di rumah.  Hampir tidak pernah lagi saya menggunakan telepon rumah untuk menghubungi teman, saudara, dan orang lainnya, seperti halnya dua puluh tahun yang lalu.

telepon-rumah

Telepon rumah yang kesepian

Sejak telepon genggam (ponsel) sudah menjadi alat komunikasi yang sudah  lumrah dan biasa, telepon rumah semakin menjadi tidak penting lagi keberadaannya. Sudah ada ponsel yang lebih praktis dan mobile daripada telepon rumah, maka orang-orang tidak menganggap telepon rumah menjadi  kebutuhan penting.

Telepon rumah adalah satu-satunya saluran telepon fixed line yang dikelola oleh PT Telkom. Dulu ketika memiliki ponsel belum selumrah sekarang, untuk mendapatkan sambungan telepon rumah dari PT Telkom butuh waktu yang cukup lama. Jika di sekitar rumah kita belum ada tiang dan kabel telepon, maka perlu bersabar untuk mendapat sambungan baru. Dulu rumah yang memiliki telpon rumah memiliki nilai tambah tersendiri, sebab ketika rumah dijual dan ada sambungan telepon rumah maka harganya berbeda jika rumah tersebut tidak punya sambungan telepon.

Karena sudah sangat jarang digunakan, sebagian orang mencabut telepon rumah dari kabelnya, maksudnya telepon rumah tidak dipasang lagi di atas meja. Anehnya, meski telepon rumah sudah tidak dipasang, namun mereka tidak memutus sambungannya dari PT Telkom. Mungkin merasa sayang saja jika diputus karena dulu untuk mendapatkannya perlu kesabaran tersendiri. Meski tidak dipasang lagi, tapi mereka tetap membayar abonemen bulanan  ke PT Telkom. Bagi PT Telkom sendiri telpon rumah yang menganggur mungkin sebuah kerugian, sebab mereka tidak banyak mendapat pemasukan dari fixed line, namun perawatan fixed line tetap saja harus dilakukan.

Saya sendiri tidak berniat untuk memutus sambungan telepon rumah. Biar saja terpajang di atas meja. Ia masih berfungsi dengan baik. Meskipun jarang digunakan, setidaknya telepon rumah masih berguna untuk menelpon call center bank, menelpon kantor layanan umum, menelpon pembantu dari kantor ke rumah, memesan gas dan air galon yang habis, dan ya itu…mencari keberadaan ponsel yang nyelip entah di mana.:-). Menurut cerita teman, beberapa bank BUMN dan bank asing  menjadikan nomor telepon rumah sebagai syarat untuk membuka rekening, entah benar entah tidak.

Bagi saya telepon rumah punya kelebihan tersendiri, yaitu sifatnya yang lebih ‘hangat’ dibandingkan ponsel. Ponsel bersifat privat,  jika ia berdering dengan nada dering yang disetel oleh pemiliknya, maka hanya pemiliknya yang mengangkat. Beda dengan telepon rumah, jika ia berdering di dalam rumah, maka seisi rumah tahu. Jika seorang anggota rumah mengangkatnya dan ternyata telpon itu untuk anggota keluarga lainnya, maka dia akan memanggil anggota rumah yang dituju. Jadi, kebertadan telpon rumah dapat mempererat jalinan anggota keluarga. Sepele, tapi itulah yang saya alami sendiri.


Written by rinaldimunir

July 25th, 2016 at 1:33 pm

Bandara yang Ramah Colokan Listrik

without comments

Ketika menunggu boarding pesawat di Bandara sama Ratulangi, Manado, mata saya tertumbuk pada deretan bangku dengan colokan listrik terpasang pada setiap tempat duduknya (lihat foto di bawah ini).

samrat

Colokan listrik pada setiap kursi di dalam ruang tunggu keberangkatan di Bandara Sam Ratulangi, Manado

Keberadaan colokan listrik di ruang tunggu ini sangat berarti bagi calon penumpang. Calon penumpang tidak perlu repot lagi mencari colokan kabel listrik di dinding, di pojok, bahkan sampai rebutan atau antri dengan orang lain yhang duluan dapat colokan listrik. Sambil duduk tenang menunggu boarding, calon penumpang bisa pakai ponsel/laptop sambil men-cas ponsel, laptop, power bank, dll sampai penuh di tempat duduknya masing-masing.

samrat2

Ruang tunggu keberangkatan di Bandara Sama Ratulangi. Setiap calon penumpang asyik dengan gawainya. Gawai sangat bergantung pada energi listrik.

Di Bandara Soekarno-Hatta sendiri tidak ada fasilitas yang sama seperti ini. Memang di ruang tunggu keberangkatan ada disediakan kotak sebesar lemari kecil yang berisi beberapa colokan listrik paralel, namun kita harus berjalan ke sana meninggalkan tempat duduk, lalu menungguinya, atau ditinggal pergi sambil dilihat dari jauh. Yang repot adalah ketika kita membutuhkan ponsel saat sedang di-cas, maka mau tidak mau mau kita harus berdiri di dekat kotak colokan itu sambil menggunakan ponsel atau gawai yang sedang di-cas. Kurang nyaman saja rasanya.

Mobilitas orang-orang zaman sekarang tidak bisa dilepaskan dari perangkat gawai. Gawai membutuhkan pasokan energi listrik. Colokan yang ada di setiap tempat duduk itu sangat memudahkan pengguna bandara yang sangat bergantung pada energi listrik agar gawai tetap bisa menyala.

Saya ucapkan salut buat kepada manager bandara yang mengerti sekali kebutuhan mobilitas orang2 zaman sekarang ini. Memang belum semua bangku diberi colokan listrik seperti gambar di atas, tetapi sekali lagi ini sangat memudahkan. Mudah-mudahan di semua bandara lain juga diberikan fasilitas colokan listrik pada setiap bangku.


Written by rinaldimunir

July 21st, 2016 at 2:28 pm

Posted in Gado-gado

Kritik itu ternyata (tidak) perlu

without comments

Pada dasarnya setiap orang tidak suka dikritik. Meskipun sering dikatakan “silakan kritik saya, tidak apa-apa, tidak masalah bagi saya”, seolah-olah diucapkan dengan ikhlas, namun sebenarnya di dalam hatinya tidak mengharapkan untuk dikritik. Kritikan bagi seseorang adalah bentuk sebuah pamaparan kelemahannya, padahal manusia tidak suka kelemahannya ditunjukkan, apalagi di depan umum.

Pemimpin pun tidak selalu suka dikritik. Pada zaman Orde Baru, mengkritik Presiden artinya anda harus berhadapan dengan aparat, dan anda harus siap-siap masuk bui. Pada zaman reformasi sekarang, tidak semua pemimpin suka dikritik, ada yang siap menerima kritikan, ada  yang alergi dengan kritikan, dan ada pula yang bertahan (defensif) dengan melakukan pembelaan maupun serangan balik. Memang tidak ada orang yang masuk bui karena mengkritik pemimpin saat ini, kecuali kritikan yang menyerang pribadi atau mencemarkan nama baik (ini sudah banyak kasusnya).

Saya menerima kiriman dari grup WA di bawah ini, apakah anda setuju dengan yang disampaikan oleh penulisnya? Saya perbaiki sedikit ejaanya agar enak dibaca.

Seseorang bertutur tentang pengalaman hidupnya:

Saya dulu sering mengkritik orang lain, dengan asumsi menurut saya, saya sendiri sudah merasa benar dan orang yang saya kritik salah.

Mengapa dulu saya sering mengkritik orang lain? Karena saya percaya dan banyak orang percaya bahwa kritik itu membangun.

Itulah mengapa sering kita mendengar orang berkata tidak apa asalkan “kritik membangun”.

Setelah usia semakin bertambah, dan saya mulai tertarik untuk belajar tentang buku-buku kebijaksanaan, saya terbelalak bahwa sebagian besar buku-buku Wisdom mengatakan bahwa sesungguhnya TIDAK ADA kritik yang MEMBANGUN, semua kritik itu bersifat menghancurkan, merusak dan menekan perasaan orang yang dikritiknya.

Sampai suatu ketika saya membaca buku hasil eksperimen Masaru Emoto dari Jepang, yang melakukan uji coba nasi yang kemudian diletakkan di dalam toples yang berbeda.

Toples yang pertama setiap hari diberikan kritikan terus dan ditempel kertas bertulisan kata yang mengkritik, kemudian toples yang kedua diberi pujian dan motivasi setiap hari.

Dan hasilnya dalam 2-3 minggu, toples pertama yang diberikan kritikan setiap hari membusuk kehitaman sedangkan toples kedua dengan isi yang sama masih berwarna putih bersih tak membusuk.

Penasaran pada penjelasan di buku ini, akhirnya saya meminta para guru di sekolah kami utuk melakukan eksperimen ini bersama para murid di sekolah. Ternyata benar hasilnya lebih kurang serupa.

Toples yang setiap hari diberikan keritikan oleh murid-murid, lebih cepat rusak, hitam dan membusuk. Dan di sekolah kami mengajarkan para siswa melalui eksperimen ini agar tidak mengejek, menhujat atau mengkritik sesama teman, dan melatih mereka untuk bicara baik-baik yang tidak mengkritik.

Dan sejak itulah saya belajar untuk tidak mekritik orang lain, terutama anak dan istri saya.

Dan percaya atau tidak hasilnya di luar dugaan, Istri saya jadi jauh lebih perhatian dan wajahnya lebih berbinar dan anak-anak saya jauh lebih baik, ganteng, kooperatif dan sayang pada ayahnya.

Apa yang saya ubah dari diri saya sehingga anak dan istri saya berubah?

Saya ganti kalimat saya yang mengkritik istri dan anak saya dengan ucapan terimakasih padanya setiap kali mereka berbuat kebaikan.

Saya berterimakasih pada istri dan anak saya dan memujinya dan sering kali sambil memeluknya, saat mereka berhasil berhenti dari kebiasaan yang kurang baik.

Yuk mari kita renungkan, malah kalau perlu kita coba melakukan experiment yang sama bersama anak-anak dirumah atau murid-murid kita di sekolah.

So….. masihkah kita percaya bahwa KRITIK ITU MEMBANGUN ?

Masihkah kita percaya ada KRITIK YANG MEMBANGUN?

Masihkah kita mau mengkritik orang lain, terutama suami, istri dan anak-anak kita..?

Tentu saja pilihan itu terserah pada diri kita masing-masing karena hidup ini adalah pilihan bebas berikut konsekuensinya masing-masing.

Tapi coba rasakan dan ingat-ingat lagi apakah dengan sering mengkritik orang lain akan membuat orang yang kita kritik menjadi lebih baik, atau malah sebaliknya balik mengkritik kita…?

Dan coba lihat apa yang ada rasakan di hati kita pada saat kita sedang dikritik oleh orang lain? Nah perasaan yang sama itulah yang juga akan dirasakan oleh orang lain yang kita kritik.

~~~~~~~~~~

Jadi bagaimana? Apakah kritikan itu perlu atau tidak? Mungkin yang lebih tepat istilahnya bukan mengkritik, tetapi mengkritisi. Keduanya memiliki makna berbeda. Mengkritisi artinya menilai secara obyektif baik kelebihan maupun kelemahan, sedangkan mengkritik cenderung menilai secara subyektif dan impulsif.  Mengkritik kurang tepat, mengkritisi lebih elegan.

Jika anda mengkritisi (atau dalam lain kesempatan mengkritik) seseorang, maka jalan tengah yang lebih moderat adalah menyeimbangkan antara mengkritisi dan memuji. Jika ada kelemahan maka kritisilah, tetapi jika tampak kelebihan maka tidak usah segan untuk memuji. Setuju?


Written by rinaldimunir

May 31st, 2016 at 5:00 pm

Posted in Gado-gado

70% vs 30%

without comments

Ini masih saya copas dari grup WA, super sekali analisisnya. Saya simpan pada posting ini untuk dibagikan (terima kasih buat penulisnya, izin share di sini).

Riset Ilmiah membuktikan:
1. Smartphone, 70% fiturnya tidak terpakai
2. Mobil mewah, 70% speednya mubazir
3. Villa mewah, 70% luasnya dibiarkan kosong
4. Universitas, 70% materi kuliahnya tak dapat diterapkan
5. Seabreg kegiatan sosial masyarakat, 70%-nya iseng² tak bermakna
6. Pakaian & peralatan dalam suatu rumah, 70%-nya nganggur tak terpakai
7. Seumur hidup cari uang/harta, 70%-nya dinikmati ahli waris.

“Hidup seperti pertandingan bola”

Di babak pertama (masa muda) menanjak karena pengetahuan, kekuasaan, jabatan, usaha Bisnis, gaji dsb.

Namun di babak kedua (masa tua) menurun karena darah tinggi, trigliserida, gula darah, asam urat, kolestrol dsb.

Waspadalah dari awal hingga akhir, kita harus menang 2 babak !!!

– Tidak sakit, juga harus Medical Check Up.
– Tidak haus, tetap harus minum.
– Meski benar, juga harus mengalah
– Meski Powerfull, juga perlu merendah
– Tidak Lelah pun, perlu Istirahat
– Tidak Kaya pun, wajib bersyukur
– Sesibuk apapun, tetap perlu olahraga

Sadarlah, hidup itu pendek, pasti ada saatnya Finish

Jangan tertipu dg usia MUDA
Karena syarat mati tak harus TUA

Jangan terpedaya dg badan SEHAT
Karena syarat mati tak harus SAKIT

Teruslah berbuat baik, berkata baik, memberi nasihat yg baik

Walaupun tak banyak orang yg memahamimu,

Jadilah seperti JANTUNG, yg tak terlihat tetapi terus berdenyut setiapv saat hingga membuat kita terus hidup menjelang akhir hayat

Ajal tak  mengenal waktu & usia,

Jadi teruslah berbuat baik, mengucap syukur atas apa yang sudah ada & menyampaikan kebenaran terhadap sesama.


Written by rinaldimunir

May 25th, 2016 at 4:10 pm

Posted in Gado-gado