if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Gado-gado’ Category

Memasangkan Jokowi dengan Prabowo

without comments

Pemilu dan Pilpres 2019 sudah dekat. Politikus di tanah air sudah mulai kasak-kusuk memikirkan Capres dan Cawapres. Sementara ini Jokowi diprediksi memiliki peluang paling besar untuk menang lagi menjadi Presiden periode kedua. Jokowi belum punya lawan tangguh. Survey-survey menunjukkan elektabilitasnya paling tinggi, jauh meninggalkan kandidat-kandidat yang digadang-gadang menjadi Capres. Sebut saja Prabowo, Agus Harimurti Yudhoyono, Anies Baswedan, dan lain-lain. Hanya Prabowo yang elektablitasnya agak bagus, yang lain-lain masih di bawah dua digit.

Dari media kita membaca bahwa Prabowo mungkin akan maju lagi menjadi Capres. Jika ini terjadi, maka saya memprediksi dia akan kalah lagi. Sulit bagi Prabowo untuk menang, karena media daring dan media sosial di negara kita sangat garang untuk membunuh karakter seseorang. Kita sebaiknya berkaca pada Pilpres 2014 yang lalu, bagaimana bangsa kita terbelah dua menyikapi perbedaan dalam mendukung seorang Capres. Meskipun Pilpres sudah berlalu, tetapi keterbelahan itu masih terus kita rasakan hingga sekarang. Efek keterbelahan akibat Pilpres merembet sampai Pilkada DKI tahun yang lalu. Kelompok-kelompok yang saling bertentangan ini memiliki julukan nama seperti  jokower, wowoer, ahoker, cebong, hater, panasbung, dan lain-lain.

Media massa di negara kita sebagian besar dikuasai kelompok tertentu. Dengan dukungan media massa (daring maupun konvensional) dan media sosial yang tak bertuan, opini masyarakat sangat mudah dibentuk untuk membunuh karakter seorang calon pemimpin yang dianggap pesaing rezim saat ini. Karena itu, sangat sulit bagi calon lawan Jokowi untuk muncul, karena deklarasi saja belum tapi yang bersangkutan sudah dibantai dengan sejumlah isu untuk menggiring opini masyarakat. Pasukan cyber army, buzzer, dan bot siap untuk menyebarkan berbagai posting (termasuk yang hoax) untuk menjatuhkan lawan.

Jika Capres itu dari kelompok Islam, maka sejumlah isu sensitif sangat mudah untuk dimainkan media massa maupun media sosial, sebut saja isu syariah, anti NKRI, anti bhinneka tunggal ika, anti Pancasila, anti pluralisme, intoleran, dan sebagainya. Isu semacam itu akan membuat alergi masyarakat non-muslim (terutama di kawasan Indonesia Timur) maupun masyarakat yang sekuler (tidak suka agama ikut masuk urusan politik).  Jika Capres itu dari kelompok militer, maka isu yang digunakan untuk menghantamnya adalah isu pelanggaran HAM pada masa lalu.  Jika Capres itu anak tokoh politik, maka isu yang digunakan untuk menjatuhkannya adalah masa lalu orangtuanya. Politik menanamkan kebencian sudah menjadi hal lazim untuk menjatuhkan citra seorang lawan.

Bangsa kita yang sudah terlanjur terbelah sejak Pilpres 014 dan Pilkada DKI 2017 membutuhkan ketenangan. Mereka mungkin sudah tidak suka melihat perang urat syaraf dan perang kata antara pendukung Jokowi dan pendukung non-Jokowi.

Jika Prabowo direpresentasikan sebagai penantang kuat Jokowi nanti, maka saya punya saran untuk mengobati “luka” masyarakat kita akibat keterbelahan. Dari pengamatan saya, perpolitikan di negara kita ditentukan oleh empat king maker: Megawati, Prabowo, SBY, dan satu lagi mungkin kamu tidak sepakat dengan saya, yaitu Habib Rizieq Syihab. Jangan salah, pengikut HRS sangat banyak jumlahnya dan kenyataan itu tidak bisa dinafikan. Maka, saya menyarankan semua pertentangan itu disatukan saja dalam satu wadah.  Saya usul Jokowi sebagai Capres dan Prabowo sebagai Cawapres. Lalu, tokoh-tokoh lain nanti menjabat sebagai menteri atau setingkat menteri. Mas AHY, Ahok, Anies Baswedan, bahkan Habib Rizieq Syihab, menjadi menteri atau kordinator menteri. Bukan tidak mungkin pula tokoh politik yang garang di DPR seperti Fahri Hamzah dan Fadli Zon menjadi menteri kabinet. Lengkaplah sudah semua tokoh yang berseberangan ini terkumpul menjadi satu, semuanya memikirkan bangsa ini, tidak ada lagi gontok-gontokan. Negara dan masyarakat ini akan tenang, riuh rendah media sosial akan berhenti berperang menyikat lawan (seng tak ada lawan).

Ide saya ini mungkin ide yang konyol. Mimpi kalee.

Written by rinaldimunir

February 23rd, 2018 at 2:48 pm

Posted in Gado-gado

Koran Bekas “Penglarisan” si Mamang

without comments

Mamang-mamang pembeli barang rongsokan setiap hari selalu lewat di depan rumah saya  sambil menanyakan apakah mau jual koran bekas. Mamang-mamang itu sepertinya tahu saja kalau saya masih berlangganan koran, padahal dalam era digital sekarang orang lebih banyak membaca berita di internet ketimbang media cetak. Media cetak pun satu per satu sudah mulai kolaps karena ditinggalkan pembaca.

Langganan koran di rumah tetap saya lanjutkan karena anak saya suka membaca koran, yach minimal untuk tetap terus menumbuhkan minat baca selain baca buku tentunya. Sejak kecil di Padang saya penyuka baca koran, karena itulah saya banyak tahu tentang sitauasi politik negara ini, kejadian di luar negeri, dan lainnya. Hobi membaca koran itu diwariskan ke anak saya.

Kembali ke cerita si Mamang pembeli koran bekas. Dengan setengah berharap dia meminta saya menjual koran bekas. Buat penglarisan, katanya. Dari tadi belum dapat barang, lanjutnya. Pedagang Sunda memang paling suka menyebut kata “penglaris” sebagai cara berharap agar dagangannya laku. Jika dagangan sedang sepi, lalu ada pembeli pertama datang, maka tawar menawar harga tidak akan sulit. Pedagang merelakan dagangannya dibeli dengan harga yang ditawar. Setingkali uang yang diterima dari pembeli dikibas-kibaskan ke barang dagangannya. Buat penglarisan, katanya, sebuah kepercayaan yang sudah turun temurun di Tatar Sunda sejak dulu kala.

Mamang sedang menimbang koran bekas

Saya lihat ke dapur, memang sudah banyak tumpukan koran bekas. Berapa sekilo mang, tanya saya. Tiga ribu, jawabnya. Sekarang harga koran bekas lagi bagus, Pak, lanjutnya. Iya, kata saya dalam hati, biasanya pedagang koran bekas membeli 2000/kg. Koran-koran bekas itu dijual ke pengepul. Biasanya koran bekas dijadikan pembungkus, misalnya pembungkus ikan asin atau buat tanaman. Si Mamang juga menanyakan apakah saya punya kertas HVS bekas kalau ada. Kertas HVS bekas biaanya didaur ulang menjadi kertas lagi. Harganya 1500/kg, lebih murah daripada koran bekas. Selain koran, si mamang juga sering menanyakan apakah ada aki bekas, besi bekas, dan sebagainya. Wah, mana ada barang itu di rumah saya.

Oke, transaksi pun berlanjut. Setelah ditimbang, ternyata ada 11 kg. Lumayan, tiga puluh tiga ribu. Uang penjualan koran bekas buat si bibi pembantu di rumah saja, yang selama ini selalu membereskan koran yang berantakan di lantai setelah dibaca. Si Mamang pun pergi dengan hati yang girang membawa barang.

Written by rinaldimunir

February 19th, 2018 at 11:15 am

Posted in Gado-gado

Memelihara Jantung

without comments

Beberapa minggu yang lalu rekan kami di kampus meninggal dunia secara mendadak akibat serangan jantung. Tentu saja kami merasa kehilangan karena usia beliau masih relatif muda. Penyakit jantung merupakan penyakit nomor satu yang paling mematikan. Ia bisa menyerang siapa saja, tidak peduli usia muda atau tua. Teman saya semasa kuliah dulu sudah ada berapa orang yang meninggal dunia karena serangan jantung, padahal usianya kala itu juga masih muda.

Ada orang yang menderita penyakit jantung karena bawaan sejak lahir, tetapi lebih banyak lagi orang yang menderita penyakit jantung karena gaya hidup yang tidak memperhatikan keseimbangan, keseimbangan antara yang masuk dan keluar. Terlalu banyak makan yang berlemak tetapi kurang gerak atau olahraga merupakan pemicu penyakit jantung.

Saya bukan dokter, tetapi dari berbagai informasi yang saya ketahui serangan jantung disebabkan oleh tersumbatnya aliran darah menuju jantung akibat penumpukan lemak kolesterol, atau unsur lain di dalam pembuluh darag. Gangguan aliran darah ke jantung bisa merusak atau menghancurkan otot jantung dan bisa berakibat fatal (Sumber:  Pengertian Serangan Jantung).

Penyakit jantung disebabkan berbagai faktor, antara lain kebiasaan merokok, pola hidup yang kurang sehat (kurang berolahraga, suka makanan berlemak, jarang memakan buah dan sayur), hipertensi, diabetes, obesitas, faktor usia, jenis kelamin, dan riwayat keluarga yang memiliki penyakit jantung (Sumber: Penyebab Penyakit Jantung).

Jadi, mulai sekarang peliharalah jantung milik kita masing-masing, dengan cara memperhatikan faktor-faktor penyebab di atas, salah satunya olahraga secara teratur. Berolahraga memang bagus buat jantung, tetapi memforsis diri untuk berolahraga malah bisa fatal. Olahraga itu ada batasnya, kalau tubuh sudah merasa tidak nyaman atau mata mulai berkunang-kunang ketika berolahraga, badan mulai tidak stabil (sempoyongan), itu pertanda olahraga harus dihentikan saat itu. Segeralah menepi dan memilih beristirahat.

Tahun lalu Rektor sebuah PTN di Bandung meninggal dunia ketiak sedang bermain tenis. Beberapa tahun lalu kita juga mendengar seorang artis pria (Adjie Massaid) meninggal dunia ketika sedang bermain futsal. Masih banyak lagi berita orang yang meninggal dunia secara mendadak ketika berolahraga.

Bagi orang yang berusia di atas 40 tahun (seperti saya), sudah waktunya memilih olahraga yang bisa “dikendalikan”. Maksudnya, sebaiknya kita melakukan olahraga yang bisa kita kontrol sendiri kapan kita harus berhenti dan kapan dilanjutkan. Jika tubuh sudah merasa lelah, maka kita sendiri memutuskan untuk berhenti sejenak atau dalam waktu yang agak lama. Olahraga yang bisa dikendalikan itu antara lain jalan kaki, lari, senam, bersepeda, dan berenang. Semua olahraga ini bersifat privat dan bukan bersifat pertandingan. Kita tidak perlu mengikuti aturan baku dalam olahraga itu, karena kita sendiri yang melakukannya dan kita sendiri yang tahu kapan tubuh kita harus berhenti untuk berisitirahat dan kapan dilanjutkan lagi.

Olahraga yang memerlukan partner atau teamwork dalam pertandingan tidak disarankan bagi orang berusia di atas 40 tahun, karena sangat mengurus energi. Olahraga semacam itu misalnya bermain futsal, tenis, badminton, sepakbola, volley, basket, dan sebagainya. Bermain sepakbola misalnya, kita hanya istirahat setelah 90 menit pertandingan. Kita tidak bisa berhenti sesuka hati kita ketika sedang main. Meskipun tubuh sudah sempoyongan, kita terikat aturan permainan untuk terus bermain sampai waktu istirahat tiba (kecuali ada pergantian). Hal yang sama juga berlaku ketiak sedang bermain tenis, badminton, volley, futsal, dan sebagainya. Semuanya olahraga yang menguras tenaga, jika jantung tidak kuat memompa darah bisa fatal akibatnya, apalagi kalau punya potensi penyakit jantung.

Jantung adalah pusat dari tubuh kita, yang memompa darah ke semua bagian tubuh, Jika ia berhenti berkerja, maka habislah riwayat kita. Mari kita syukuri nikmat Allah SWT dengan memelihara jantung kita masing-masing.

Written by rinaldimunir

January 17th, 2018 at 11:05 am

Posted in Gado-gado

Sepinya Pasar Tanah Abang

without comments

Beberapa waktu yang lalu saya mampir ke toko sepatu seorang teman lama di Pasar Tanah Abang Blok A. Pasar Tanah Abang adalah pusat perkulakan terbesar di Asia Tenggara, selalu ramai dan padat pembeli. Pengunjungnya datang dari seluruh daerah nusantara dan manca negara. Tapi hari itu saya menemukan pemandangan yang cukup “aneh”. Lengang. Jarang ada pembeli. Saya hampir tidak percaya apakah ini benar Pasar Tanah Abang, kok sepi begini. Padahal ini hari minggu lho, hari banyak orang berbelanja ke toko-toko.

Sebuah toko di Pasar Tanah Abang

Apakah kondisinya selalu begini?, tanya saya kepada teman saya pemilik toko. Dia membenarkan. Kondisi sepi dan lesu sudah berlangsung sejak awal tahun ini. Hanya menjelang lebaran saja ramai, sesudah itu sepi. Padahal dulu biasanya pembeli selalu ramai setiap hari. Pembeli dengan partai besar umumnya berasal dari Indonesia Timur. Mereka membeli barang dalam jumlah besar untuk dijual kembali di daerahnya. Tapi itu dulu, sekarang sudah hampir tidak ada.

Dia mengeluhkan omset yang terus menurun. Biasanya omset perbulan minimal 200 juta rupiah. Sekarang dapat 100 juta per bulan saja sudah lumayan. Jika omset sudah kurang dari 100 juta maka dia khawatir tidak akan mampu lagi bertahan.  Pengeluaran untuk gaji karyawan, listrik,  dan sebagainya tidak akan tertutupi.

Kondisi sepi dan  lesu tidak hanya menimpa Pasar Tanah Abang, tetapi juga Mangga Dua, Glodok, dan sebagainya. Pergilah anda ke sana, sepi (Baca:  Glodok dan WTC Mangga Dua Sepi, Ekonomi Lagi Lesu?). Beberapa supermarket dan minimarket pun mulai menutup gerainya.

Saya menduga-duga apa penyebab lesunya pusat perbelanjaan akhir-akhir ini. Mungkin memang perekonomian Indonesia saat ini sedang lesu seperti yang diungkap oleh para pakar ekonomi. Tapi penyebab lain adalah bergesernya pola belanja orang Indonesia saat ini. Orang Indonesia senang berbelanja secara daring (online) (Baca: Pengunjung Sepi, Pedagang Mangga Dua Mall Keluhkan Toko Online). Tidak perlu datang ke toko, tetapi beli saja lewat Internet. Cukup dari ponsel di tangan, anda sudah bisa memilih barang-barang yang anda inginkan dari rumah. Jika cocok, maka bayar dengan bermacam cara (ATM, kartu kredit, Internet Banking, dan sebagainya), lalu barang akan diantar ke rumah dalam satu dua hari. Usaha jasa kurir yang marak belakangan ini ikut bergairah dengan banyaknya orang belanja daring.

Nah, pedagang konvensional yang tidak menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi akan terancam punah secara perlahan. Satu-satunya cara agar mereka bertahan adalah ikut menjual dagangannya secara daring. Jadi, toko secara fisik tetap ada, tetapi toko virtual juga ada. Keduanya saling melengkapi.

Dugaan saya di atas dibantah oleh teman saya yang berdagang sepatu di Tanah Abang tadi. Jikapun orang beralih belanja secara daring, maka pengaruhnya tidak banyak, karena orang membeli hanya satu atau dua buah. Saya tidak mengiyakan dan juga tidak membantah yang dia katakan. Mungkin saja memang tidak besar pengaruhnya, tetapi pembeli partai besar yang selama ini menjadi pelanggan utama toko-toko di Tanah Abang mungkin saja sudah beralih membeli barang dalam partai besar secara daring namun bukan ke toko yang biasanya mereka kunjungi, tetapi langsung ke pabrik atau distributor barang. Jika sudah demikian kondisinya, Tanah Abang akan tinggal legenda.


Written by rinaldimunir

October 5th, 2017 at 11:10 am

Posted in Gado-gado

Berbuka dengan yang Asin

without comments

Pada bulan puasa ini, ada fenomena yang cukup unik saya jumpai di Bandung. Menjelang waktu berbuka puasa, pedagang gorengan ramai dikerubungi pembeli.  Gorengan seperti bala-bala (sejenis bakwan), tempe mendoan, tempe goreng, gehu (tahu goreng yang berisi sayur toge dan kol), comro, cireng, pisang goreng yang  mengkal, perkedel jagung, dan lain-lain, laris dibeli orang.   Semuanya, kecuali pisang goreng, adalah jajanan yang rasanya asin.

gorengan1

Pedagang gorengan di Antapani

Tampilan gorengan yang tampak krispi memang menggoda selera siapapun yang melihatnya.  Di Indonesia gorengan sering menjadi makanan pembuka sebelum makanan utama.  Bila ada gorengan di atas meja, maka itulah yang dicomot lebih dulu. Gorengan adalah makanan pengganjal perut yang sedang lapar. Menikmati gorengan akan lebih enak lagi bila dimakan dengan cabe rawit atau sambal kecap cabe rawit.

Pada bulan puasa, ternyata kebanyakan orang kita lebih suka berbuka puasa dengan  makanan asin ketimbang yang manis. Coba saja anda perhatikan, jika di meja makan tersedia kurma dan gorengan, maka makanan yang diambil pertama kali kebanyakan adalah gorengan. Kurma sendiri kurang begitu “laku”.

gorengan2

Gorengan yang menggoda

Padahal ada hadis Nabi yang mengatakan “berbukalah dengan yang manis”. Jika di negara-negara Arab maksud makanan yang manis itu adalah kurma, tapi karena di Indonesia bukan tempat tumbuh pohon kurma, maka kurma diganti dengan kolak pisang atau makanan manis lainnya.

Memang kolak manis itu juga menjadi ciri hidangan pembuka puasa di tanah air, tetapi jika ia hadir berdampingan dengan gorengan, maka secara psikologis ketika orang lapar makanan yang diambil pertama kali adalah gorengan yang asin itu sebagai pembuka puasa, baru kemudian makan kolaknya.

Meski gorengan itu kurang sehat, ternyata orang Indonesia adalah pencinta gorengan sejati. Asal jangan sering-sering saja sebab kandungan kolesterolnya tinggi.


Written by rinaldimunir

June 15th, 2017 at 1:29 pm

Posted in Gado-gado

Ketika Mahasiswiku Non-Muslim Menanyakan Kantin pada Bulan Puasa

without comments

Suatu hari seorang mahasiswiku yang beragama bukan Islam (non muslim) bertanya kepada saya. Pak, apakah ada kantin yang buka di kampus siang ini?, tanyanya.

Hari ini adalah hari ketiga puasa bulan Ramadhan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, hampir semua kantin di kampus ITB tutup selama bulan puasa (ketika tulisan ini ditulis, ternyata ada satu kantin yang buka, yaitu kantin Eititu di Gedung Student Center).  Saat ini juga memasuki liburan panjang, maka kantin tutup dikarenakan tidak banyak mahasiswa di kampus juga merupakan alasan lainnya.

Tidak ada, jawab saya. Kalau kamu mau makan, kamu bisa pergi ke kantin atau kafe di Jl Gelapnyawang, di belakang Masjid Salman. Apakah kamu bawa bekal dari rumah?, tanya saya lagi.

+ Ada, pak. Saya bawa snack.

Silakan kamu makan di sini saja, di ruang asistenku di sana

+ Saya tidak enak pak sama orang yang puasa.

Tidak apa-apa. Kamu makan di labku nggak akan membuat yang berpuasa jadi batal puasanya. Kami di sini sama-sama bisa mengerti.

Saya memang tidak melarang orang lain untuk makan pada siang hari bulan Ramadhan. Orang yang berpuasa tidak perlu meminta dihormati puasanya, orang lain makan di siang bolong kita tidak boleh melarangnya. Tidak semua orang berpuasa, di lingkungan kita tidak semuanya muslim, ada saudara-suadara sebangsa kita yang tidak ikut berrpuasa. Bahkan tidak semua orang Islam ikut berpuasa. Wanita yang datang bulan, wanita yang hamil, wanita yang sedang menyusui anak, musafir, dan orang yang sedang sakit diperbolehkan tidak menjalankan ibadah puasa. Karena itu, rumah makan yang melayani orang yang tidak berpuasa seharusnya diperbolehkan.

Di Indonesia memang ada pro kontra tentang rumah makan yang buka pada siang hari bulan Ramadhan.  Di daerah yang heterogen seperti Jakarta, Bandung, dan kota-kota multietnis dan agama lainnya, sebagian rumah makan tetap buka. Biasanya mereka masih menunjukkan sikap tenggang rasa dengan tidak membuka rumah makannya secara mencolok.  Jendelanya ditutup dengan tabir kain, atau pintunya tidak dibuka seluruhnya. Di Bandung beberapa rumah makan Padang ada yang buka pada siang hari namun mereka tidak melayani makan di tempat, hanya bisa dibungkus atau tidak makan di sana.

Di daerah yang homogen dan kental keislamannya sudah ada kesepakatan berupa Perda atau aturan yang melarang rumah makan berjualan pada siang hari selama bulan puasa. Sebagai bentuk kearifan lokal, maka aturan tersebut tetaplah harus kita hormati. Saya pernah membaca ada aturan di daerah mayoritas Kristen seperti di Papua yang melarang toko-toko dan pasar buka pada hari Minggu, karena hari Minggu adalah hari khusus untuk beribadah di gereja. Aturan tersebut ditaati oleh pedagang muslim di sana.

Bangsa Indonesia ini sudah sejak dulu tidak punya masalah soal toleransi atau tenggang rasa. Saya teringat pengalaman saya sholat di sebuah ruang di kampus Perguruan Tinggi Swasta Katolik, mereka (teman-teman dosen di PTS tersebut) tidak masalah saya sholat di sana, padahal  di dalam ruang tersebut ada salib dan patung Yesus di dinding, malah saya sholat di bawahnya. Mereka memberi waktu untuk saya melakukan sholat, bahkan menanyakan apakah saya mau sholat dulu sebelum memulai diskusi lagi?

Meskipun saya punya pandangan tidak melarang orang makan pada siang hari bulan puasa, tetapi tetaplah ada satu hal yang perlu diperhatikan. Kalau mau makan, ya makan saja, tidak usah secara demonstratif sengaja menunjukkan makan secara terbuka di depan khalayak yang berpuasa. Kadang-kadang tidak semua orang bisa paham atau mungkin bisa salah paham dengan anda. Maka lebih bijak mencari tempat yang agak tertutup dan silakan makan di sana.

Kembali ke dialog saya dengan mahasiswi tadi.

+ Terima kasih, pak.

Dia pun mencari tempat di sudut lab, memakan bekal snack-nya.


Written by rinaldimunir

June 5th, 2017 at 2:50 pm

Berkas Ujian yang Sayang Dibuang

without comments

Semester genap di ITB baru saja selesai. Nilai-nilai mata kuliah sudah diumumkan. Seperti biasa, pada akhir semester saya selalu membagikan kembali semua berkas milik mahasiswa, baik itu berkas ujian mereka maupun berkas tugas lainnya. Saya taruh di atas meja lab, silakan diambil milik masing-masing. Namun, berkas ujian dan tugas itu seringkali tidak diambil lagi oleh mahasiswa setelah nilai diumumkan. Mungkin mereka merasa tidak perlu lagi, padahal menurut saya mendokumentasikan hasil-hasil pekerjaan dann ujian selama kuliah itu adalah penting.

berkas

Saya sendiri selalu menyimpan hasil-hasil ujian dan tugas sejak S1 hingga S3. Tujuannya bukan sekedar memorabilia untuk bernostalgia, tetapi mengingatkan perjalanan hidup yang pernah dilalui. Baik buruk hasilnya, itu adalah diri kita, sejarah kita.

Kebiasaan menyimpan hasil sekolah ini saya teruskan ke anak saya. Semua berkas ujian mereka, buku catatan, hasil karya, dll (kecuali buku cetak) saya simpan di dalam lemari, sampai penuh tuh lemari. Sampai-sampai istri saya  mengeluh karena lemari sudah penuh. Mau dibuang, tapi saya bilang jangan dulu. Sayang.

Berkas-berkas yang tidak diambil itu sayang sekali jika nanti dikilo di pasar loak lalu berakhir di kios gorengan untuk pembungkus pisang goreng atau pembungkus barang dagangan. Tertera di bungkus gorengan nilai UAS seorang mahasiswa mendapat nilai 35. Saya tersenyum kecut membaca jawaban ujiannya.

Di negara Belanda (cerita teman), berkas-berkas ujian mahasiswa disimpan di lemari universitas. Berkas-berkas itu hanya boleh dimusnahkan setelah 5 tahun (itu artinya setelah mahasiswa yang bersangkutan lulus). Jadi, berkas ujian mahasiswa tidak pernah ditemukan di pasar kertas bekas, tidak seperti di sini yang berakhir menjadi pembungkus gorengan.

Dokumentasi itu penting, sebab ia adalah sejarah diri kita.


Written by rinaldimunir

June 2nd, 2017 at 3:18 pm

Selipkan Sedikit Uang dan Kartu ATM di dalam Tasmu

without comments

Teman saya mendapat pengalaman yang dapat menjadi pelajaran  bagi kita kalau bepergian. Dia mendarat di Bandara Husein Sastranegara Bandung karena baru tiba dari Lampung. Setelah keluar dari Bandara dan mau pulang, dia merogoh sakunya, ternyata dia barus tersadar kalau dompetnya ketinggalan di wisma di Lampung.  Masalahnya dia sama sekali tidak mempunyai uang seperserpun untuk naik taksi atau sekedar naik angkot. Mau ambil uang di ATM tetapi kartu ATM berada di dalam dompet yang ketinggalan itu.

Lalu dia coba mengobok-ngobok isi tas ranselnya, mencari-cari siapa tahu ada terselip uang receh. Alhamdulillah, ternyata ada satu lembar uang 2000-an dan satu uang logam seribuan. Lumayan cukup untuk naik angkot dari Bandara sampai ke jalan terdekat ke kampus ITB, nanti bisa disambung jalan kaki. Setiba di kampus dia bisa pinjam uang temannya untuk pulang ke rumah.

Saya sendiri kalau bepergian ke luar kota selalu menerapkan pepatah yang mengatakan “jangan taruh semua telur di dalam satu keranjang”. Jika keranjang jatuh, maka semua telur pecah. Saya sering merasa khawatir kalau sedang bepergian  lalu dompet saya hilang, dicopet, atau ketinggalan, padahal semua uang dan kartu ATM ada di dompet tersebut. Bayangkan kalau kita berada di suatu tempat dimana kita tidak mengenal satu orangpun. Kalau dompet hilang, kemana kita mencari pinjaman uang sekedar untuk naik taksi atau makan? Oke, bisa saja kita minta tolong istri kita atau saudara kita untuk mentransfer uang ke rekening kita, tapi masalahnya kita tidak bisa mengambilnya di mesin ATM karena kartu ATM pun hilang. Mau ambil di bank, kita tidak membawa buku tabungan.

Maka, biasanya saya menaruh beberapa kartu ATM di dalam tas. Saya punya tiga kartu ATM dari bank berbeda. Satu kartu saya taruh di dalam dompet, satu kartu lagi di dalam tas ransel, dan satu kartu lagi di tempat lainnya (misalnya saku celana). Kadang-kadang sedikit uang juga saya taruh di dalam tas untuk berjaga-jaga. Jadi, jika saya kehilangan dompet, maka saya tidak terlalu khawatir menjadi orang yang paling bingung di dunia, karena ada cadangan kartu ATM lain di dalam tas atau saku celana.

Biasanya di dalam dompet kita juga menyimpan kartu-kartu lain seperti KTP, SIM, STNK, kartu kredit dan macam-macam kartu yang lain. Maka, untuk meminimalkan kehilangan, kartu-kartu yang tidak penting dibawa (karena tidak dibutuhkan) saya tinggalkan di rumah. Biasanya SIM, STNK, kartu asuransi kesehatan, dan kartu NPWP yang saya tinggal di rumah.

Kebiasaan “jangan menaruh semua telur di dalam satu keranjang” saya terapkan juga kepada anak saya. Uang jajan anak saya (atau uang  keperluan lainnya) tidak semuanya saya masukkan ke dalam dompet atau saku celananya, tetapi sebagian saya taruh di dalam tasnya. Jadi, jika dia mau naik angkot atau ojek dan dompetnya ketinggalan di rumah, maka masih ada sedikit uang di dalam tas untuk membayar angkot atau ojek. Malang sekali kan jika turun dari angkot ternyata tidak bisa membayar sama sekali berhubung dompet ketinggalan. Bisa-bisa anak kita dimaki-maki supir angkot atau dituduh menipu.


Written by rinaldimunir

April 12th, 2017 at 3:25 pm

Posted in Gado-gado

Kalau ke Bandara, Bawalah Makanan Sendiri

without comments

Sudah seringkali kita mendengar cerita orang-orang yang “dicekik” harga tak wajar ketika makan di Bandara. Semua orang tahu kalau harga makanan di Bandara tak terkira mahalnya. Mungkin karena pajak atau sewa ruangan di Bandara yang mahal maka pemilik restoran sungguh semena-mena menetapkan harga yang mahal untuk jualannya.

Ini cerita yang saya peroleh dari seorang fesbuker. Di bandara Cengkareng dia melihat seorang bapak dengan istri dan dua orang anak,  yang tampaknya datang dari kampung,  masuk ke sebuah rumah makan semacam “warung tegal” ketimbang masuk ke restoran cepat saji atau waralaba yang populer.  Setelah makan dengan menu masing-masing dan ditambah minuman ringan, betapa kagetnya sang kepala keluarga ketika harus membayar total harga makanan dan minuman sebesar 395 ribu rupiah.  Hampir tidak percaya dia, semacam warung tegal di Bandara menjual makanan dengan harga yang tidak kira-kira mahalnya. Sebagai perbandingan, soto betawi di rumah makan itu harganya seporsi kecil saja sudah 70 ribu rupiah.

Betapa mahalnya, betapa bangsa kita tidak tahu malu mengeruk saku pengunjung dengan harga yang tidak sebanding dengan kualitas dan kuantitas makanan yang dijual. Parahnya lagi, tidak ada daftar harga di dalam menu, baik di meja maupun yang ditempel di dinding sehingga pengunjung yang masuk akhirnya merasa tertipu setelah selesai makan.

Cerita teman saya di Bandara Cengkareng juga tidak jauh beda. Di area parkir mobil pribadi ada sebuah kafe bernama kafe N. Karena sudah lelah dan lapar setelah terbang sekian jam, dia dan temannya makan di kafe itu. Seporsi nasi dan ayam, seporsi nasi dan rawon, serta minuman teh total harganya Rp225.000. Rinciannya, nasi ayam Rp80.000, nasi rawon Rp115.000, dan teh Rp30.000.  Alamak, rawon macam apa yang harganya 115 ribu? Nasi ayam macam mana yang harganya mencapai 80 ribu?

Tidak karu-karuan. Harga makanan di bandara negara kita jauh lebih mahal daripada di bandara Changi atau Kualalumpur. Di Bandara Minangkabau Padang saya juga terkaget-kaget ketika makan soto Padang semangkuk kecil plus nasi di restoran di dalam bandara harganya Rp45.000. Sudahlah rasa sotonya tidak enak, dagingnya seencrit, mahal pula. Bah, kapok saya makan di sana lagi.

Maka, menyikapi harga makanan yang tidak wajar di Bandara, sebaiknya kita membawa makanan sendiri dari rumah atau dari luar bandara. Bersih, sehat, dan murah, serta tidak membuat sakit hati. Saya sendiri selalu begitu, hampir selalu bawa nasi dari rumah. Saya tidak malu makan di ruang tunggu atau di kursi bandara. Ini makanan saya sendiri, kenapa harus malu. Di luar negeri sudah biasa orang menikmati sandwhich-nya atau memakan bekalnya sambil duduk membaca di ruang tunggu bndara. Jika pun terpaksa makan di restoran, pilihlah restoran waralaba yang sudah populer, karena harga makanannya selalu sama di mana saja, baik di bandara maupun di luar bandara.


Written by rinaldimunir

January 31st, 2017 at 5:21 pm

Jagung Hitam

without comments

Ketika belanja di sebuah supermarket, di bagian sayur mayur saya menemukan jagung yang berawarna hitam. Bukan karena gosong, tapi memang hitam legam. Baru kali ini saya melihat ada varitas jagung yang berwarna hitam, biasanya kita tahu jagung itu warna biji-bijinya kuning.

jagung-hitam

Jagung hitam, kontras dengan jagung kuning sebelahnya

Saya tidak sempat membelinya, tetapi kata teman yang sudah pernah mencicipi, rasanya manis seperi jagung biasa. Enak. Setelah cari informasinya di Google, ketemu ini: http://www.victoryseeds.com/corn_black-aztec-sweet.html. Ternyata jagung ini asalnya dari Mexico sehingga diberi nama Black Mexican Sweet Corn.

Subhanallah, macam-macam ciptaan Allah yang beraneka ragam dan warna untuk manusia.Jadi, nikmat-Nya mana lagi yang kamu dustakan?


Written by rinaldimunir

December 25th, 2016 at 11:24 am

Posted in Gado-gado