if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Gado-gado’ Category

Sepinya Pasar Tanah Abang

without comments

Beberapa waktu yang lalu saya mampir ke toko sepatu seorang teman lama di Pasar Tanah Abang Blok A. Pasar Tanah Abang adalah pusat perkulakan terbesar di Asia Tenggara, selalu ramai dan padat pembeli. Pengunjungnya datang dari seluruh daerah nusantara dan manca negara. Tapi hari itu saya menemukan pemandangan yang cukup “aneh”. Lengang. Jarang ada pembeli. Saya hampir tidak percaya apakah ini benar Pasar Tanah Abang, kok sepi begini. Padahal ini hari minggu lho, hari banyak orang berbelanja ke toko-toko.

Sebuah toko di Pasar Tanah Abang

Apakah kondisinya selalu begini?, tanya saya kepada teman saya pemilik toko. Dia membenarkan. Kondisi sepi dan lesu sudah berlangsung sejak awal tahun ini. Hanya menjelang lebaran saja ramai, sesudah itu sepi. Padahal dulu biasanya pembeli selalu ramai setiap hari. Pembeli dengan partai besar umumnya berasal dari Indonesia Timur. Mereka membeli barang dalam jumlah besar untuk dijual kembali di daerahnya. Tapi itu dulu, sekarang sudah hampir tidak ada.

Dia mengeluhkan omset yang terus menurun. Biasanya omset perbulan minimal 200 juta rupiah. Sekarang dapat 100 juta per bulan saja sudah lumayan. Jika omset sudah kurang dari 100 juta maka dia khawatir tidak akan mampu lagi bertahan.  Pengeluaran untuk gaji karyawan, listrik,  dan sebagainya tidak akan tertutupi.

Kondisi sepi dan  lesu tidak hanya menimpa Pasar Tanah Abang, tetapi juga Mangga Dua, Glodok, dan sebagainya. Pergilah anda ke sana, sepi (Baca:  Glodok dan WTC Mangga Dua Sepi, Ekonomi Lagi Lesu?). Beberapa supermarket dan minimarket pun mulai menutup gerainya.

Saya menduga-duga apa penyebab lesunya pusat perbelanjaan akhir-akhir ini. Mungkin memang perekonomian Indonesia saat ini sedang lesu seperti yang diungkap oleh para pakar ekonomi. Tapi penyebab lain adalah bergesernya pola belanja orang Indonesia saat ini. Orang Indonesia senang berbelanja secara daring (online) (Baca: Pengunjung Sepi, Pedagang Mangga Dua Mall Keluhkan Toko Online). Tidak perlu datang ke toko, tetapi beli saja lewat Internet. Cukup dari ponsel di tangan, anda sudah bisa memilih barang-barang yang anda inginkan dari rumah. Jika cocok, maka bayar dengan bermacam cara (ATM, kartu kredit, Internet Banking, dan sebagainya), lalu barang akan diantar ke rumah dalam satu dua hari. Usaha jasa kurir yang marak belakangan ini ikut bergairah dengan banyaknya orang belanja daring.

Nah, pedagang konvensional yang tidak menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi akan terancam punah secara perlahan. Satu-satunya cara agar mereka bertahan adalah ikut menjual dagangannya secara daring. Jadi, toko secara fisik tetap ada, tetapi toko virtual juga ada. Keduanya saling melengkapi.

Dugaan saya di atas dibantah oleh teman saya yang berdagang sepatu di Tanah Abang tadi. Jikapun orang beralih belanja secara daring, maka pengaruhnya tidak banyak, karena orang membeli hanya satu atau dua buah. Saya tidak mengiyakan dan juga tidak membantah yang dia katakan. Mungkin saja memang tidak besar pengaruhnya, tetapi pembeli partai besar yang selama ini menjadi pelanggan utama toko-toko di Tanah Abang mungkin saja sudah beralih membeli barang dalam partai besar secara daring namun bukan ke toko yang biasanya mereka kunjungi, tetapi langsung ke pabrik atau distributor barang. Jika sudah demikian kondisinya, Tanah Abang akan tinggal legenda.


Written by rinaldimunir

October 5th, 2017 at 11:10 am

Posted in Gado-gado

Berbuka dengan yang Asin

without comments

Pada bulan puasa ini, ada fenomena yang cukup unik saya jumpai di Bandung. Menjelang waktu berbuka puasa, pedagang gorengan ramai dikerubungi pembeli.  Gorengan seperti bala-bala (sejenis bakwan), tempe mendoan, tempe goreng, gehu (tahu goreng yang berisi sayur toge dan kol), comro, cireng, pisang goreng yang  mengkal, perkedel jagung, dan lain-lain, laris dibeli orang.   Semuanya, kecuali pisang goreng, adalah jajanan yang rasanya asin.

gorengan1

Pedagang gorengan di Antapani

Tampilan gorengan yang tampak krispi memang menggoda selera siapapun yang melihatnya.  Di Indonesia gorengan sering menjadi makanan pembuka sebelum makanan utama.  Bila ada gorengan di atas meja, maka itulah yang dicomot lebih dulu. Gorengan adalah makanan pengganjal perut yang sedang lapar. Menikmati gorengan akan lebih enak lagi bila dimakan dengan cabe rawit atau sambal kecap cabe rawit.

Pada bulan puasa, ternyata kebanyakan orang kita lebih suka berbuka puasa dengan  makanan asin ketimbang yang manis. Coba saja anda perhatikan, jika di meja makan tersedia kurma dan gorengan, maka makanan yang diambil pertama kali kebanyakan adalah gorengan. Kurma sendiri kurang begitu “laku”.

gorengan2

Gorengan yang menggoda

Padahal ada hadis Nabi yang mengatakan “berbukalah dengan yang manis”. Jika di negara-negara Arab maksud makanan yang manis itu adalah kurma, tapi karena di Indonesia bukan tempat tumbuh pohon kurma, maka kurma diganti dengan kolak pisang atau makanan manis lainnya.

Memang kolak manis itu juga menjadi ciri hidangan pembuka puasa di tanah air, tetapi jika ia hadir berdampingan dengan gorengan, maka secara psikologis ketika orang lapar makanan yang diambil pertama kali adalah gorengan yang asin itu sebagai pembuka puasa, baru kemudian makan kolaknya.

Meski gorengan itu kurang sehat, ternyata orang Indonesia adalah pencinta gorengan sejati. Asal jangan sering-sering saja sebab kandungan kolesterolnya tinggi.


Written by rinaldimunir

June 15th, 2017 at 1:29 pm

Posted in Gado-gado

Ketika Mahasiswiku Non-Muslim Menanyakan Kantin pada Bulan Puasa

without comments

Suatu hari seorang mahasiswiku yang beragama bukan Islam (non muslim) bertanya kepada saya. Pak, apakah ada kantin yang buka di kampus siang ini?, tanyanya.

Hari ini adalah hari ketiga puasa bulan Ramadhan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, hampir semua kantin di kampus ITB tutup selama bulan puasa (ketika tulisan ini ditulis, ternyata ada satu kantin yang buka, yaitu kantin Eititu di Gedung Student Center).  Saat ini juga memasuki liburan panjang, maka kantin tutup dikarenakan tidak banyak mahasiswa di kampus juga merupakan alasan lainnya.

Tidak ada, jawab saya. Kalau kamu mau makan, kamu bisa pergi ke kantin atau kafe di Jl Gelapnyawang, di belakang Masjid Salman. Apakah kamu bawa bekal dari rumah?, tanya saya lagi.

+ Ada, pak. Saya bawa snack.

Silakan kamu makan di sini saja, di ruang asistenku di sana

+ Saya tidak enak pak sama orang yang puasa.

Tidak apa-apa. Kamu makan di labku nggak akan membuat yang berpuasa jadi batal puasanya. Kami di sini sama-sama bisa mengerti.

Saya memang tidak melarang orang lain untuk makan pada siang hari bulan Ramadhan. Orang yang berpuasa tidak perlu meminta dihormati puasanya, orang lain makan di siang bolong kita tidak boleh melarangnya. Tidak semua orang berpuasa, di lingkungan kita tidak semuanya muslim, ada saudara-suadara sebangsa kita yang tidak ikut berrpuasa. Bahkan tidak semua orang Islam ikut berpuasa. Wanita yang datang bulan, wanita yang hamil, wanita yang sedang menyusui anak, musafir, dan orang yang sedang sakit diperbolehkan tidak menjalankan ibadah puasa. Karena itu, rumah makan yang melayani orang yang tidak berpuasa seharusnya diperbolehkan.

Di Indonesia memang ada pro kontra tentang rumah makan yang buka pada siang hari bulan Ramadhan.  Di daerah yang heterogen seperti Jakarta, Bandung, dan kota-kota multietnis dan agama lainnya, sebagian rumah makan tetap buka. Biasanya mereka masih menunjukkan sikap tenggang rasa dengan tidak membuka rumah makannya secara mencolok.  Jendelanya ditutup dengan tabir kain, atau pintunya tidak dibuka seluruhnya. Di Bandung beberapa rumah makan Padang ada yang buka pada siang hari namun mereka tidak melayani makan di tempat, hanya bisa dibungkus atau tidak makan di sana.

Di daerah yang homogen dan kental keislamannya sudah ada kesepakatan berupa Perda atau aturan yang melarang rumah makan berjualan pada siang hari selama bulan puasa. Sebagai bentuk kearifan lokal, maka aturan tersebut tetaplah harus kita hormati. Saya pernah membaca ada aturan di daerah mayoritas Kristen seperti di Papua yang melarang toko-toko dan pasar buka pada hari Minggu, karena hari Minggu adalah hari khusus untuk beribadah di gereja. Aturan tersebut ditaati oleh pedagang muslim di sana.

Bangsa Indonesia ini sudah sejak dulu tidak punya masalah soal toleransi atau tenggang rasa. Saya teringat pengalaman saya sholat di sebuah ruang di kampus Perguruan Tinggi Swasta Katolik, mereka (teman-teman dosen di PTS tersebut) tidak masalah saya sholat di sana, padahal  di dalam ruang tersebut ada salib dan patung Yesus di dinding, malah saya sholat di bawahnya. Mereka memberi waktu untuk saya melakukan sholat, bahkan menanyakan apakah saya mau sholat dulu sebelum memulai diskusi lagi?

Meskipun saya punya pandangan tidak melarang orang makan pada siang hari bulan puasa, tetapi tetaplah ada satu hal yang perlu diperhatikan. Kalau mau makan, ya makan saja, tidak usah secara demonstratif sengaja menunjukkan makan secara terbuka di depan khalayak yang berpuasa. Kadang-kadang tidak semua orang bisa paham atau mungkin bisa salah paham dengan anda. Maka lebih bijak mencari tempat yang agak tertutup dan silakan makan di sana.

Kembali ke dialog saya dengan mahasiswi tadi.

+ Terima kasih, pak.

Dia pun mencari tempat di sudut lab, memakan bekal snack-nya.


Written by rinaldimunir

June 5th, 2017 at 2:50 pm

Berkas Ujian yang Sayang Dibuang

without comments

Semester genap di ITB baru saja selesai. Nilai-nilai mata kuliah sudah diumumkan. Seperti biasa, pada akhir semester saya selalu membagikan kembali semua berkas milik mahasiswa, baik itu berkas ujian mereka maupun berkas tugas lainnya. Saya taruh di atas meja lab, silakan diambil milik masing-masing. Namun, berkas ujian dan tugas itu seringkali tidak diambil lagi oleh mahasiswa setelah nilai diumumkan. Mungkin mereka merasa tidak perlu lagi, padahal menurut saya mendokumentasikan hasil-hasil pekerjaan dann ujian selama kuliah itu adalah penting.

berkas

Saya sendiri selalu menyimpan hasil-hasil ujian dan tugas sejak S1 hingga S3. Tujuannya bukan sekedar memorabilia untuk bernostalgia, tetapi mengingatkan perjalanan hidup yang pernah dilalui. Baik buruk hasilnya, itu adalah diri kita, sejarah kita.

Kebiasaan menyimpan hasil sekolah ini saya teruskan ke anak saya. Semua berkas ujian mereka, buku catatan, hasil karya, dll (kecuali buku cetak) saya simpan di dalam lemari, sampai penuh tuh lemari. Sampai-sampai istri saya  mengeluh karena lemari sudah penuh. Mau dibuang, tapi saya bilang jangan dulu. Sayang.

Berkas-berkas yang tidak diambil itu sayang sekali jika nanti dikilo di pasar loak lalu berakhir di kios gorengan untuk pembungkus pisang goreng atau pembungkus barang dagangan. Tertera di bungkus gorengan nilai UAS seorang mahasiswa mendapat nilai 35. Saya tersenyum kecut membaca jawaban ujiannya.

Di negara Belanda (cerita teman), berkas-berkas ujian mahasiswa disimpan di lemari universitas. Berkas-berkas itu hanya boleh dimusnahkan setelah 5 tahun (itu artinya setelah mahasiswa yang bersangkutan lulus). Jadi, berkas ujian mahasiswa tidak pernah ditemukan di pasar kertas bekas, tidak seperti di sini yang berakhir menjadi pembungkus gorengan.

Dokumentasi itu penting, sebab ia adalah sejarah diri kita.


Written by rinaldimunir

June 2nd, 2017 at 3:18 pm

Selipkan Sedikit Uang dan Kartu ATM di dalam Tasmu

without comments

Teman saya mendapat pengalaman yang dapat menjadi pelajaran  bagi kita kalau bepergian. Dia mendarat di Bandara Husein Sastranegara Bandung karena baru tiba dari Lampung. Setelah keluar dari Bandara dan mau pulang, dia merogoh sakunya, ternyata dia barus tersadar kalau dompetnya ketinggalan di wisma di Lampung.  Masalahnya dia sama sekali tidak mempunyai uang seperserpun untuk naik taksi atau sekedar naik angkot. Mau ambil uang di ATM tetapi kartu ATM berada di dalam dompet yang ketinggalan itu.

Lalu dia coba mengobok-ngobok isi tas ranselnya, mencari-cari siapa tahu ada terselip uang receh. Alhamdulillah, ternyata ada satu lembar uang 2000-an dan satu uang logam seribuan. Lumayan cukup untuk naik angkot dari Bandara sampai ke jalan terdekat ke kampus ITB, nanti bisa disambung jalan kaki. Setiba di kampus dia bisa pinjam uang temannya untuk pulang ke rumah.

Saya sendiri kalau bepergian ke luar kota selalu menerapkan pepatah yang mengatakan “jangan taruh semua telur di dalam satu keranjang”. Jika keranjang jatuh, maka semua telur pecah. Saya sering merasa khawatir kalau sedang bepergian  lalu dompet saya hilang, dicopet, atau ketinggalan, padahal semua uang dan kartu ATM ada di dompet tersebut. Bayangkan kalau kita berada di suatu tempat dimana kita tidak mengenal satu orangpun. Kalau dompet hilang, kemana kita mencari pinjaman uang sekedar untuk naik taksi atau makan? Oke, bisa saja kita minta tolong istri kita atau saudara kita untuk mentransfer uang ke rekening kita, tapi masalahnya kita tidak bisa mengambilnya di mesin ATM karena kartu ATM pun hilang. Mau ambil di bank, kita tidak membawa buku tabungan.

Maka, biasanya saya menaruh beberapa kartu ATM di dalam tas. Saya punya tiga kartu ATM dari bank berbeda. Satu kartu saya taruh di dalam dompet, satu kartu lagi di dalam tas ransel, dan satu kartu lagi di tempat lainnya (misalnya saku celana). Kadang-kadang sedikit uang juga saya taruh di dalam tas untuk berjaga-jaga. Jadi, jika saya kehilangan dompet, maka saya tidak terlalu khawatir menjadi orang yang paling bingung di dunia, karena ada cadangan kartu ATM lain di dalam tas atau saku celana.

Biasanya di dalam dompet kita juga menyimpan kartu-kartu lain seperti KTP, SIM, STNK, kartu kredit dan macam-macam kartu yang lain. Maka, untuk meminimalkan kehilangan, kartu-kartu yang tidak penting dibawa (karena tidak dibutuhkan) saya tinggalkan di rumah. Biasanya SIM, STNK, kartu asuransi kesehatan, dan kartu NPWP yang saya tinggal di rumah.

Kebiasaan “jangan menaruh semua telur di dalam satu keranjang” saya terapkan juga kepada anak saya. Uang jajan anak saya (atau uang  keperluan lainnya) tidak semuanya saya masukkan ke dalam dompet atau saku celananya, tetapi sebagian saya taruh di dalam tasnya. Jadi, jika dia mau naik angkot atau ojek dan dompetnya ketinggalan di rumah, maka masih ada sedikit uang di dalam tas untuk membayar angkot atau ojek. Malang sekali kan jika turun dari angkot ternyata tidak bisa membayar sama sekali berhubung dompet ketinggalan. Bisa-bisa anak kita dimaki-maki supir angkot atau dituduh menipu.


Written by rinaldimunir

April 12th, 2017 at 3:25 pm

Posted in Gado-gado

Kalau ke Bandara, Bawalah Makanan Sendiri

without comments

Sudah seringkali kita mendengar cerita orang-orang yang “dicekik” harga tak wajar ketika makan di Bandara. Semua orang tahu kalau harga makanan di Bandara tak terkira mahalnya. Mungkin karena pajak atau sewa ruangan di Bandara yang mahal maka pemilik restoran sungguh semena-mena menetapkan harga yang mahal untuk jualannya.

Ini cerita yang saya peroleh dari seorang fesbuker. Di bandara Cengkareng dia melihat seorang bapak dengan istri dan dua orang anak,  yang tampaknya datang dari kampung,  masuk ke sebuah rumah makan semacam “warung tegal” ketimbang masuk ke restoran cepat saji atau waralaba yang populer.  Setelah makan dengan menu masing-masing dan ditambah minuman ringan, betapa kagetnya sang kepala keluarga ketika harus membayar total harga makanan dan minuman sebesar 395 ribu rupiah.  Hampir tidak percaya dia, semacam warung tegal di Bandara menjual makanan dengan harga yang tidak kira-kira mahalnya. Sebagai perbandingan, soto betawi di rumah makan itu harganya seporsi kecil saja sudah 70 ribu rupiah.

Betapa mahalnya, betapa bangsa kita tidak tahu malu mengeruk saku pengunjung dengan harga yang tidak sebanding dengan kualitas dan kuantitas makanan yang dijual. Parahnya lagi, tidak ada daftar harga di dalam menu, baik di meja maupun yang ditempel di dinding sehingga pengunjung yang masuk akhirnya merasa tertipu setelah selesai makan.

Cerita teman saya di Bandara Cengkareng juga tidak jauh beda. Di area parkir mobil pribadi ada sebuah kafe bernama kafe N. Karena sudah lelah dan lapar setelah terbang sekian jam, dia dan temannya makan di kafe itu. Seporsi nasi dan ayam, seporsi nasi dan rawon, serta minuman teh total harganya Rp225.000. Rinciannya, nasi ayam Rp80.000, nasi rawon Rp115.000, dan teh Rp30.000.  Alamak, rawon macam apa yang harganya 115 ribu? Nasi ayam macam mana yang harganya mencapai 80 ribu?

Tidak karu-karuan. Harga makanan di bandara negara kita jauh lebih mahal daripada di bandara Changi atau Kualalumpur. Di Bandara Minangkabau Padang saya juga terkaget-kaget ketika makan soto Padang semangkuk kecil plus nasi di restoran di dalam bandara harganya Rp45.000. Sudahlah rasa sotonya tidak enak, dagingnya seencrit, mahal pula. Bah, kapok saya makan di sana lagi.

Maka, menyikapi harga makanan yang tidak wajar di Bandara, sebaiknya kita membawa makanan sendiri dari rumah atau dari luar bandara. Bersih, sehat, dan murah, serta tidak membuat sakit hati. Saya sendiri selalu begitu, hampir selalu bawa nasi dari rumah. Saya tidak malu makan di ruang tunggu atau di kursi bandara. Ini makanan saya sendiri, kenapa harus malu. Di luar negeri sudah biasa orang menikmati sandwhich-nya atau memakan bekalnya sambil duduk membaca di ruang tunggu bndara. Jika pun terpaksa makan di restoran, pilihlah restoran waralaba yang sudah populer, karena harga makanannya selalu sama di mana saja, baik di bandara maupun di luar bandara.


Written by rinaldimunir

January 31st, 2017 at 5:21 pm

Jagung Hitam

without comments

Ketika belanja di sebuah supermarket, di bagian sayur mayur saya menemukan jagung yang berawarna hitam. Bukan karena gosong, tapi memang hitam legam. Baru kali ini saya melihat ada varitas jagung yang berwarna hitam, biasanya kita tahu jagung itu warna biji-bijinya kuning.

jagung-hitam

Jagung hitam, kontras dengan jagung kuning sebelahnya

Saya tidak sempat membelinya, tetapi kata teman yang sudah pernah mencicipi, rasanya manis seperi jagung biasa. Enak. Setelah cari informasinya di Google, ketemu ini: http://www.victoryseeds.com/corn_black-aztec-sweet.html. Ternyata jagung ini asalnya dari Mexico sehingga diberi nama Black Mexican Sweet Corn.

Subhanallah, macam-macam ciptaan Allah yang beraneka ragam dan warna untuk manusia.Jadi, nikmat-Nya mana lagi yang kamu dustakan?


Written by rinaldimunir

December 25th, 2016 at 11:24 am

Posted in Gado-gado

Sisa Makanan Anak, Orangtua Menjadi Seksi “Pembersih”

without comments

Orangtua di mana-mana mungkin sama saja tindakannya. Jika anaknya  nggak habis memakan makanannya, maka orangtua bertindak menjadi seksi “pembersih”. Sisa makanan anak dimakan lagi, rasanya sayang jika dibuang. Mubazir. Seperti foto di bawah ini, nasi  bagian bawah adalah sisa anakku tadi yang makan dengan  ayam goreng krispi, nasi yang bagian atas saya tambahkan untuk makan malam.

sisanasi

Jika memakan sisa makanan orang lain kita sering merasa enggan atau malahan jijik, tetapi memakan sisa makanan anak sendiri sama sekali tidak. Bahkan jajanan yang didigit anak saja kita masih mau memakannya. Kenapa begitu, ya karena rasa jijik itu dibuang saja, toh anak sendiri, darah daging kita sendiri. Waktu anak masih bayi saja kita mau dipipisinya, lagi-lagi karena merasa itu darah daging kita sendiri. Coba kalau dipipisi orang lain, tidak tanggung marah dan jijiknya kita.

Yah begitulah, ikatan jiwa dengan anak kandung membuat orangtua irasional dan mau melakukan apa saja untuk anaknya.  Tahukah anda kenapa demikian? Itu karena rasa kasih dan sayang. Pengasih dan penyayang itu sifat Tuhan, namun sebagian rasa kasih dan sayang itu diberikan-Nya kepada manusia, khususnya orangtua, untuk mengasihi dna menyayangi anaknya.

Kembali ke cerita soal makanan bersisa tadi. Karena sering memakan sisa makanan anak, tidak jarang ibu-ibu malah tambah gemuk. Maksud hati ingin diet untuk menguruskan badan, tapi melihat makanan anak bersisa sayang untuk dibuang, akhirnya dimakan juga, he..he.


Written by rinaldimunir

December 23rd, 2016 at 8:24 pm

Posted in Gado-gado

Anak-anak Pemburu Telolet. Telolet itu Palindrom!

without comments

Tiba-tiba saja deman telolet menjadi fenomena dan viral di  dunia maya dengan tagar #OmTeloletOm. Awalnya fenomena telolet itu berasal dari kebiasaan anak-anak yang berburu suara klakson bus yang berbunyi khas. Suara klakson itu terdengar seperti “telolet…telolet..telolet…”. Ini videonya:

Mereka meminta bus-bus yang lewat untuk membunyikan suara klakson telolet. Suara itu direkam oleh anak-anak itu dengan menggunakan ponsel. Koleksi suara-suara telolet itulah yang membuat anak-anak ketagihan sehingga mereka setiap sore berdiri di pinggir jalan raya untuk berburu suara telolet. Demam telolet juga merambah ke orang-orang dewasa dengan memasang kertas bertuliskan “Om Telolet Om” di sepanjang jalan yang dilalui bus  hingga akhirnya menjadi fenomenal dan viral di media sosial. Demam telolet membawa kesenangan dan kebahagian tersendiri bagi orang-orang. Bahagia itu ternyata sederhana ya.

Atau video yang ini:

Menyaksikan anak-anak yang berburu telolet mengingatkan saya pada masa kanak-kanak. Telolet bukan hal yang baru, ia sudah digemari sejak dulu. Anak-anak suka mendengar suara klakson bus yang berbunyi telolet. Saya pun juga begitu. Dulu bus-bus di sepanjang jalan Lintas Sumatera membunyikan klakson telolet yang khas itu. Sebut saja bus ALS, ANS, IPS,  Sibual-buali, Bintang Kejora, dan lain-lain. Anak-anak  berdiri di sepanjang jalan menunggu bus-bus yang lewat. Supir-supir bus merasa terhormat disambut anak-anak yang melambai-lambai sepanjang jalan. Sebagai bentuk penghargaan kepada anak-anak itu, supir bus membunyikan suara klakson telolet sebagai tanda menyapa anak-anak itu. Anak-anak pun bersorak kegirangan.

ans

Bus ANS tahun 70-80-an

Sekarang telolet mendunia. Telolet ini sebuah ungkapan yang istimewa, sebab kata  TELOLET jika dibaca dari depan dan dari belakang bunyinya teap sama yaitu TELOLET. Di dalam teori lingustik hal ini dikenal sebagai bentuk palindrome. Kata atau kalimat lain yang palindrom adalah KATAK, MALAM, NABABAN, KASUR RUSAK, dan lain-lain. Jadi, jika sekarang sedang ramai istilah “OM TELOLET OM” maka ia menjadi palindrom pula jika ditulis “MO TELOLET OM” yang artinya mau telolet om.????


Written by rinaldimunir

December 22nd, 2016 at 3:11 pm

Posted in Gado-gado

Rasulullah Sudah Mengajarkan Cara Mandi yang Benar dan Sehat

without comments

Sebuah artikel yang saya kutip dari laman web ini tampaknya masuk akal, meskipun secara medis perlu mendapat penjelasan yang lebih ilmiah. Saya akan mengulasnya di bawah ini:

Sering kita dengar banyak orang jatuh dan terkena stroke di dalam kamar mandi. Yang jadi pertanyaan mengapa tidak di tempat lain? Perlu untuk direnungkan mengapa kita selalu mendengar kabar orang jatuh di kamar mandi akibat serangan stroke. Mengapa kita jarang mendengar orang jatuh akibat serangan strok ditempat tempat lain?

Seorang penceramah professor di universitas di Malaysia, UITM,  yang juga terlibat dengan kegiatan olah raga negara menasihatkan supaya pada waktu mandi jangan membasahi kepala dulu, namun basahi bagian badan lainnya.

Ini karena apabila kepala basah dan dingin, secara tiba-tiba darah akan dipompa mengalir ke kepala untuk menghangatkan kepala, logika ‘warm blooded human’. Dan jika ada saluran pembuluh darah di daerah kepala yang mengalami penyempitan akibat kolesterol atau lainnya maka dapat terjadi kondisi pecahnya pembuluh darah akibat derasnya aliran darah yang tiba-tiba di kepala. Ini kerapkali berlaku di kamar mandi.

Berikut cara mandi yang benar :

1. Pertama siramkan air di telapak kaki.
2. Kemudian dilanjutkan dengan segayung di betis.
3. Segayung di paha.
4. Segayung di perut.
5. Segayung di bahu.
6. Berhentilah sejenak 5-10 detik

Kita akan merasakan seperti uap/ angin yang keluar dari ubun-ubun bahkan meremang, setelah itu lanjutkan dengan mandi seperti biasa.

Ini ibarat sebuah gelas yang diisi air panas kemudian kita isi dengan air dingin. Apa yang terjadi? Gelas akan retak,  bahkan pecah!

Jika perubahan suhu yang tiba-tiba ini terjadi pada tubuh kita apa yang retak dan pecah?

Suhu tubuh kita cenderung panas dan air itu dingin, maka yang terjadi jika kita mandi langsung menyiram pada badan atau kepala, uap yang harusnya keluar jadi terperangkap dan dapat membawa maut karena pecahnya pembuluh darah.

Maka sebab itu kita sering menjumpai orang jatuh di kamar mandi tiba-tiba kena ‘stroke’. Boleh jadi kita sering masuk angin karena cara mandi kita yang salah. Boleh jadi kita sering migrain kerana cara mandi yang salah.

Cara mandi ini baik bagi semua umur terutama yang memunyai sakit diabetes, darah tinggi, kolesterol dan migrain/ sakit kepala sebelah.

~~~~~~~~

Cara mandi seperti yang dituliskan dalam artikel di atas sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Rasulullah mengajarkan kita tatacara mandi besar  atau mandi wajib (misalnya karena junub, mimpi basah, selepas haid, dsb). Mandi besar dimulai dengan membasuh kedua telapak tangan, mencuci kemaluan, lalu berwudhu.  Ini adalah sebuah cara adaptasi agar tubuh tidak kaget dengan air (dingin). Selanjutnya, setelah berwudhu, mulailah menyiram kepala sehingga  seluruh tubuh basah dengan air (baca: Tata Cara Mandi Junub Sesuai Tuntunan Rasulullah).

Tidak hanya ketika mandi besar, untuk mandi yang lain pun kita disunnahkan berwudhu terlebih dahulu. Maknanya selain untuk menyucikan, juga agar tubuh beradaptasi dengan air, sehingga terhindar dari stroke  karena mendapat kejuatan dingin tiba-tiba.

Demikianlah, Rasulullah sudah mencontohkan mandi yang benar dan sehat sejak 15 abad yang silam, sebelum ilmu pengetahuan kemudian menemukan kebenarannya. Shalawat dan salam teercurah padamu ya Rasulullah.


Written by rinaldimunir

September 27th, 2016 at 6:24 pm

Posted in Agama,Gado-gado