if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Dunia oh Dunia’ Category

Negeri Sodom Abad Modern di Tanah Amerika

without comments

Keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang melegalkan pernikahan sesama jenis (lelaki dmengan lelaki, perempuan dengan perempuan) sontak membuat dunia heboh. Sebenarnya Amerika bukan yang pertama, legalisiasi pernikahan sesama jenis sudah duluan disahkan di beberapa negara seperti Belanda, Irlandia, Uruguay, dan lain-lain. Tetapi, karena Amerika adalah negara besar, maka pengaruhnya tentu sangat besar pula pada negara lain di seluruh dunia. Apa yang terjadi di Amerika akan menjalar ke tempat lain dan mungkin akan ditiru pula di negara lain, cepat atau lambat. Hanya di negara-negara yang konservatif yang memegang teguh ajaran agama peraturan itu akan mendapat perlawanan keras.

Semua agama menentang pernikahan sesama jenis. Tetapi di Amerika, dan juga di negara-negara Barat lainnya, agama telah dicampakkan oleh banyak warganya. Agama tidak lagi menjadi tuntunan hidup, agama tinggallah sebagai perayaan seremoni belaka. Kebebasan, kesetaraan, dan HAM menjadi ‘agama’ baru bagi warga Barat. Kalau melihat fenomena di dunia Barat di mana gereja-gereja sudah sepi ditinggalkan penganutnya, maka tidaklah mengherankan jika pernikahan sesama jenis mendapat dukungan besar warganya, terutama dari kaum mudanya.

Anehnya Indonesia ada pula kalangan selebriti yang bangga dengan pengesahan pernikahan sesama jenis itu. Sebut saja seperti penyanyi Sherina dan sutradara Joko Anwar yang menuliskan cuitan di Twitter sebagai sebuah kemajuan peradaban. Ah, artis-artis semacam itu tidak perlu lagi menjadi tuntunan dan tontonan, karena mereka mendukung perbuatan dosa besar. Orang yang mematuhi ajaran agama tidak mungkin akan menyetujui pernikahan sesama jenis.

Hubungan sesama jenis adalah perbuatan yang nyata-nyata dilarang oleh Allah SWT. Banyak sekali ayat di dalam Alquran maupun di dalam Bibel yang menceritakan kisah umat Nabi Luth di kota Sodom. Ummat Nabi Luth melakukan perbuatan liwath yang terlarang, yaitu menyalurkan syahwat lelaki kepada lelaki dan perempuan kepada perempuan. Karena perbuatan ummat Nabi Luth itu, maka Allah SWT membinasakan kaum ini dengan membalikkan kotanya.

Sekarang, kisah kaum Sodom itu muncul lagi pada abad modern dengan dalih kebebasan dan kesetaraan. Negara memfasilitasi orang-orang melakukan liwath. Mungkin ini merupakan tanda-tanda akhir zaman. Bukan tidak mungkin azab Allah akan muncul kembali kepada negeri Sodom modern. Wallaahu alam.

Gay dan lesbian adalah perilaku yang sebagian besar terjadi karena pergaulan. Sanga jarang gay dna lesbian itu karena faktor genetik. Seseorang yang bergaul dengan kaum homoseksual akan cenderung mempunyai perilaku ini. Maka, boleh saya katakan kalau gay dan lesbian adalah perilaku menular. Pada zaman sekarang pergaulan anak muda begitu bebasnya, gay dan lesbian sudah menjadi gaya hidup. Banyak anak muda Indonesia yang ikut-ikutan menjadi homoseksual karena salah pergaulan. Sekali masuk ke dalam dunia itu, sukar untuk keluar.

Jika pernikahan homoseksual sudah menjadi hal yang legal, sukar membayangkan bagaimana dunia nanti. Keluarga pasangan gay dan lesbian apabila ingin mempunyai anak, maka mereka melakukannya dengan cara adopsi atau donor sperma. Konsep keluarga akan menjadi kacau. Seorang anak akan melihat “ayah ibu”-nya dari jenis kelamin yang sama. Mana ayah dan mana ibu sudah tidak jelas lagi. Anak yang dibesarkan oleh pasangan sejenis mempunyai peluang besar meniru kelakuan orangtuanya.

Saya memang orang yang konservatif. Saya tidak perlu bermodern-modern soal yang satu ini. Mereka, pendukung LGBT dan pernikahan sesama jenis, mengatakannya sebagai kemajuan peradaban. Mengutip seorang teman, kehancuran peradaban biasanya dimulai ketika ia melawan fitrah kehidupan. Pernikahan sesama jenis adalah perbuatan yang melawan fitrah kehidupan.


Written by rinaldimunir

June 30th, 2015 at 11:51 am

Posted in Dunia oh Dunia

Konflik Timur Tengah Laksana Spagheti

without comments

Timur Tengah adalah kawasan tempat diutusnya para nabi agama-agama samawi (Islam, Kristen, Yahudi). Seharusnya kawasan ini adalah kawasan yang damai dan diberkahi karena Tuhan menurunkan wahyu-Nya di sini. Namun nyatanya, dari dulu hingga sekarang Timur Tengah adalah kawasan yang penuh konflik berdarah. Konflik semakin rumit bak benang kusut karena melibatkan negara besar seperti Amerika, Rusia, Inggris, dan lain-lain. Negara-negara tersebut memiliki kepentingan utama di Timur Tengah, karena Timur Tengah adalah daerah yang kaya minyak. Oleh karena itu, mereka berlomba menanamkan pengaruh di sana sehingga negara-negara di Timur Tengah akans elalu bergantung kepada mereka, baik secara militer, ekonomi, dan teknologi.

Kusutnya konflik di Timur Tengah (Sumber: https://twitter.com/arissetyawan/status/487122086322659328)

Kusutnya konflik di Timur Tengah seperti spagheti (Sumber: https://twitter.com/arissetyawan/status/487122086322659328)

Konflik yang abadi adalah konflik antara Israel dan Palestina. Israel didukung oleh Amerika dan Inggris, bahkan bagi Amerika Serikat negara Israel adalah anak emas yang selalu dibela dan dilindungi. Negara Israel dulunya tidak ada, tetapi Amerika dan Inggris membuat negara itu di tanah Palestina. Israel senagaja ditanam di Timur Tengah untuk membuat ketidaksatabilan di kawasan itu. Bagi pihak Amerika, jika negara-negara Arab bersatu, maka ini adalah malapetaka sebab jika negara-negara Arab bersatu maka mereka bisa memainkan politik embargo minyak, sesuatu yang ditakuti negara-negara industri yang bergantung pada minyak. Amerika tahu bahwa negara-negara Arab itu memusuhi Israel (karena menduduki tanah Palestina), maka dengan menghadirkan Israel di sana, maka negara-negara Arab itu merasa terancam. Untuk melindungi diri mereka dari serangan IsraeL, negara-negara Arab itu mau tidak mau meminta negara adikuasa (Amerika dan Rusia) untuk melindungi mereka. Negara-negara Arab menjadi tergantung persenjataan militernya dari negara adikuasa. Sebagai imbalannya, negara-negara Arab berbaik hati menyediakan wilayahnya menjadi pangkalan militer negara adikuasa (khususnya Amerika).

Konflik lainnya adalah konfik antara faksi Hamas dan faksi Fatah di Palestina. Ini adalah pertikaian antara dua saudara kandung yang selalu dijaga agar tetap tidak akur. Dengan membuat mereka selalu berkonflik untuk merebut kekuasaan, maka negara Palestina tidak akan pernah terwujud. Bagi Israel, bersatunya Hamas dan Fatah adalah mimpi buruk buat mereka, sebab kekuatan perlawanan terhadap Israel menjadi semakin solid.

Selain dengan Palestina, Israel juga harus menghadapi perlawanan kelompok Hezbollah di Libanon. Kelompok Hezbollah adalah kelompok syiah yang didukung Iran. Tentara-tentara Hezbolah sangat ditakuti Israel karena militansinya. Israel tidak hanya berhadapan dengan Hezbollah, tetapi juga dengan Iran. Di kawasan Timur Tengah hanya ada dua negara yang kuat secara militer, yaitu Iran dan Israel. Keduanya sellau bermusushan dan saling mengancam.

Konflik berikutnya adalah konflik antara kelompok sunni dan syiah. Pada mulanya konflik ini bermula di Irak, namun merembet hingga ke Suriah hingga timbulnya kelompok militan baru yang kejam bernama ISIS. Konflik pun melebar menjadi urusan negara, karena kelompok syiah didukung oleh Iran. Bagi Arab Saudi dan negera-negara yang bermazhab Sunni, Iran adalah ancaman selain Israel. Paham syiah yang semakin lama semakin kuat (misalnya di Libanon dan Yaman) adalah ancaman terhadap negara-negara penganut sunni. Maka, jika sekarang Arab Saudi dan koalisinya menggempur kelompok Houthi di Yaman, maka sebenarnya perang yang terjadi adalah antara syiah dan sunni, atau antara Iran (di balik layar) dengan negara-negara Arab Saudi.

Fenomena Arab Spring yang bermula di Tunisia lalu merembet ke Mesir, Libya, Suriah, dan negara-negara Arab lainnya ternyata layu sebelum berkembang. Arab Spring yang berawal dari people power di negaranya tidak membuat negara-negara barat happy. Arab Spring mengancam hegemoni raja-raja dan para emir yang selama ini sudah lama berkuasa di negara-negara Arab. Para raja dan emir yang selama ini selalu bergantung kepada negara barat sudah berada pada comfort zone. Jika Arab Spring berkembang sehingga menggulingkan kekuasaan penguasa Arab yang otoriter dan korup itu, maka Amerika dan sekutunya merasa terancam keberadaannya di Timur Tengah. Para pendukung Arab Spring sudah lama jengah dengan penguasa negaranya yang selalu tunduk kepada Amerika dan sekutunya. Oleh karena itu, bagi negara barat, fenomena Arab Spring harus “dihentikan” dengan membuat negara-negara yang menikmati Arab Spring tetap dilanda konflik perang saudara (contohnya Mesir yang tetap tidak stabil hingga saat ini).

Yah, begitulah saya memotret konflik di kawasan Timur Tengah yang rumit itu. Yang terjadi di sana tidak lagi perang agama, tetapi perang atas nama kekuasaan. Rakyat di negara-negara di kawasan itu menjadi korban pertikaian yang tidak berkesudahan. Sementara kita yang berada di Indonesia hanya bisa menonton dari jauh, tidak bisa berbuat apa-apa. Kita, khususnya ummat Islam di Indonesia, tetap memasang mata dan telinga memantau suasana di Timur Tengah. Rasa empati pada negara-negara Arab di sana adalah wajar, bagaimanapun tanah suci ada di kawasan itu, ke sanalah ummat Islam Indonesia pergi ziarah, umroh dan hajji. Jika kawasan itu selalu dilanda konflik, maka ziarah ke tanah suci bisa terhalang.


Written by rinaldimunir

May 16th, 2015 at 4:32 pm

Posted in Dunia oh Dunia

Di Gaza Hidup dan Mati Tidak Ada Bedanya

without comments

Pada malam hari kami menunggu datangnya siang. Pada siang hari kami menunggu malam, seperti menanti giliran kematian di rumah pembantaian,” kata seorang wanita di Jalur Gaza seperti dikutip Haaretz, Ahad (13/7). (Sumber: Warga Gaza Menunggu Kematian di Rumah Pembantaian).

Seperti itulah keadaan di Jalur Gaza, Palestina, saat ini. Hidup warganya penuh ketakutan, karena mereka tidak tahu kapan terkena bom, peluru, atau mortir yang berjatuhan secara acak di atas kepala mereka. Kebrutalan Israel untuk menghancurkan tentara Hamas telah menyebabkan lebih dari 1600 orang warga Gaza syuhada. Dari subuh hingga ke subuh lagi ratusan bom dimuntahkan dari darat, laut, dan udara ke daratan Gaza oleh tentara Israel. Dengan ganas tentara Israel menembaki apa saja: rumah, sekolah, masjid, rumah sakit, dan warga sipil yang tidak berdosa menjadi korbannya, sebagian besar anak-anak dan wanita. Sementara tidak satupun warga sipil Israel yang menjadi korban, sebab sasaran Hamas adalah tentara Israel, bukan warga sipilnya.

gaza4

gaza5

Setiap hari korban jiwa terus berjatuhan di Gaza. Tubuh-tubuh yang terkoyak, berdarah-darah, anak-anak yang mati terkapar adalah pemandangan yang mengerikan untuk dibayangkan. Apa salah warga Gaza sehingga mereka harus menjadi korban keganasan Israel? Tentara Hamas menembakkan roket ke Israel sebagai pesan kepada negara itu untuk mencabut blokade yang telah menyengsarakan rakyat Gaza bertahun-tahun. Tetapi, Israel membalas roket itu dengan bom-bom pembunuh yang merenggut banyak nyawa warga tak berdosa. Satu warga Israel terbunuh harus dibalas dengan kematian puluhan atau ratusan warga Gaza.

Gaza1

Dunia? Hanya diam membisu. Kematian anak-anak dan wanita Gaza tidak diratapi dunia, bahkan tubuh anak-anak dan wanita yang hancur berdarah-darah tidak mampu melunakkan hati Obama. Amerika akan terus membela Israel dengan mengirimkan senjata dan mesin pembunuh anak-anak, wanita Gaza, dan para orangtua tak berdosa. Kongres AS baru-baru ini menyetujui usulan penambahan dana untuk membantu Israel melawan Hamas. Dalam pandangan Amerika, aksi Hamas adalah terorisme, sedangkan aksi Israel adalah tindakan membela diri.

PBB? Jangan harap, lembaga itu macan ompong, karena Amerika sebagai pelindung utama dan pendukung Israel akan selalu memveto segala upaya pemberian sanksi kepada Israel. PBB tidak berkutik dengan Amerika. Sekjennya hanya bisa mengecam saja, tetapi tidak melakukan tindakan apa-apa kecuali mengusulkan gencatan senjata yang tidak punya arti apa-apa.

Seperti kata wanita di atas, setiap orang di Gaza merasa tinggal menunggu kematian, mati dari bom, mortir, dan peluru penjajah zionis yang datang secara random. Kemanakah mereka mau lari? Tidak ada tempat untuk lari, sebab semua perbatasan sudah diblokade oleh penjajah Israel. Gaza bagaikan kandang penjara raksasa, dan warga Gaza bagaikan kelinci yang berlarian ke sana kemari di dalam kandang itu menghindari mesin pembunuh yang mengejar mereka. Bagi warga Gaza, beda hidup dan mati itu sangat tipis. Antara hidup dan mati tidak ada bedanya, karena sewaktu-waktu mereka bisa tewas oleh serangan bom pembunuh.

Dunia hanya menonton Gaza, dan saya hanya bisa menangisimu.

(Keterangan: sumber foto dari kompas.com, councilforthenationalinterest.org, twitter.com)


Written by rinaldimunir

August 2nd, 2014 at 11:28 pm

Posted in Dunia oh Dunia

Anak-Anak Suriah yang Malang

without comments

Ketika saya berada di Bangkok, saya melihat tayangan berita dari TV Aljazeera kemarin sore yang mengabarkan ratusan (atau mungkin ribuan) warga di pinggir kota Damaskus, Suriah (Syria), mati bergelimpangan setelah menghirup gas beracun mematikan dari bom senjata kimia yang dimuntahkan oleh tentara Presiden Bashar Al-Assad. Sebagian besar korban itu adalah wanita dan anak-anak.

Saya melihat foto anak-anak Suriah yang tewas setelah menghirup gas beracun yang mematikan itu. Mayat-mayat mereka digeletakkan di lantai sebuah ruangan klinik. Foto tersebut saya dapat dari akun ustad Felix Siauw di Fesbuk. Wajah anak-anak yang polos dan tanpa dosa itu diam tak bernyawa. Sama sekali tidak ada luka-luka pada tubuh anak-anak itu, yang membuktikan bahwa mereka mati akibat senjata kimia berupa gas beracun. Foto-foto lainnya yang mengenaskan hati dan tidak sanggup saya tayangkan di sini dapat dilihat pada situs Arrahmah ini.

Jenazah anak-anak Suriah yang menjadi korban bom senjata kimia.

Jenazah anak-anak Suriah yang menjadi korban bom senjata kimia.

Saya menangis melihat foto yang sangat memilukan hati itu. Saya memiliki 3 orang anak sebesar anak-anak Suriah dalam foto di atas. Anda baru merasakan kesedihan yang sangat mendalam jika Anda memiliki anak-anak seusia mereka. Terbayang kan anak-anak kita di rumah yang bermain dengan ceria atau berlari-lari menyambut kita pulang dari kantor. Senyum mereka dan tawa mereka adalah obat kepenatan kita setelah seharian bekerja. Ketika senyum dan tawa itu direnggut oleh kematian akibat pertikaian orang-orang dewasa, betapa hancur lebur hati kita, perih tak terperikan. Barangkali itulah yang dirasakan orang-orang Suriah saat ini, yang mengalami duka sangat mendalam karena sanak keluarganya (termasuk anak-anak mereka) mati mengenaskan akibat perang antara pihak-pihak yang bertikai memperebutkan kekuasaan.

Dalam perang apapun anak-anak yang tidak berdosa selalu menjadi korban. Mereka korban dari perang orang-orang dewasa. Sungguh malang nasibmu anak-anak Suriah. Saya di sini tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menuliskan kepedihan hati melalui blog ini. Saya berharap negeri Suriah, yang merupakan negeri para Nabi pada zaman duu, kembali damai seperti dulu dan anak-anak Suriah bisa hidup dengan riang gembira seperti anak-anak lainnya di muka bumi.

Wahai anak-anak Suriah yang telah suhada, kalian saat ini mungkin sudah berlari-lari di Taman Surga. Orangtua kalian mungkin sudah tiada atau masih ada yang selamat di bumi meratapi nasib kehilangan buah hati tersayang. Hidup itu sangat ganas buatmu, maka Tuhan mengambilmu kembali ke pangkuann-Nya.

“Dan jangan sekali-kali engkau menyangka orang-orang yang terbunuh (gugur Syahid) pada jalan Allah itu mati, (mereka TIDAK mati) bahkan mereka adalah hidup (secara istimewa) di sisi Tuhan mereka dengan mendapat rizki” (QS: Ali Imran:169)


Written by rinaldimunir

August 23rd, 2013 at 8:05 am

Posted in Dunia oh Dunia

Nyawa Manusia Seperti Tidak Ada Harganya

without comments

Apa yang terjadi di Mesir, Syria, Myanmar, Irak, dan belahan dunia lain sungguh memilukan. Puluhan hingga ribuan orang dibunuh oleh penguasa dan rakyat yang marah. Nyawa manusia seperti tidak ada harganya. Di Mesir ratusan pendukung Presiden terguling, Mohammad Mursi, tewas ditembak oleh tentara dengan peluru yang dibeli dari uang rakyatnya sendiri. Di Syria penguasa yang lalim membantai rakyat tak berdosa. Di Myanmar ratusan etnis Rohingya mati karena kebencian rasial. Di Irak puluhan orang tewas oleh bom bunuh diri. Masih banyak lagi di manusia mati karena dibunuh dan terbunuh oleh arogansi manusia lainnya.

Ini bukan masalah agama, tetapi lebih kepada masalah kemanusiaan. Di Mesir, orang yang saling berbunuhan itu adalah sesama muslim sendiri. Tentara dan polisi Mesir itu jelas orang Muslim juga. Jenderal dan Presiden hasil kudetanya seorang Muslim. Jadi, konflik yang terjadi antara pendukung Morsi dengan pihak oposisi (plus militer) bukan dipicu masalah agama. Di Syria juga begitu, kaum pemberontak dan penguasa sama-sama mengaku muslim (meskipun sebagian orang memandangnya sebagai pertarungan antara Syiah dan Sunni). Di Irak juga sama, yang membunuh dan terbunuh adalah saudara seiman mereka sendiri. Hanya di Myanmar konfliknya bergeser ke masalah agama, namun asal mula persoalan bukan karena masalah agama, tetapi masalah kecemburuan sosial, kebencian terhadap etnis, dan akhirnya merembet kepada kebencian kepada simbol-simbol agama.

Darah pertama tertumpah ke muka bumi ketika Qabil membunuh suadaranya Habil. Sejak itu darah manusia tidak pernah berhenti menyirami bumi karena dibunuh atau terbunuh. Rasa kemanusiaan manusia telah hilang ketika dia membunuh orang lain tanpa alasan yang haq. Menyaksikan usus yang tercerai berai, darah yang mengalir ke aspal, isi kepala yang berceceran ditembus peluru, mayat yang gosong karena dilempar ke dalam api, sungguh membuat saya bergidik ngeri. Ke manakah letak peri kemanusiaan orang-orang yang melakukan pembunuhan?

Jangankan membunuh orang, menyembelih ayam atau melihat ayam disembelih saja saya tidak tega dan tidak berani. Bahkan pada Hari Raya Idul Adha, saya tidak berani melihat penyembelihan hewan qurban. Di sisi lain, ada orang yang lebih tega dan lebih kejam daripada penyembelih ayam. Naudzubillah min dzalik.


Written by rinaldimunir

August 19th, 2013 at 8:06 am

Posted in Dunia oh Dunia

Penggulingan Mursi dan Krisis Ekonomi

without comments

Tadi pagi saya membaca berita yang mengejutkan. Presiden Mesir, Mohammad Mursi, akhirnya digulingkan oleh rakyatnya sendiri dengan dukungan intervensi rezim militer. Padahal Mursi terpilih lewat Pemilu yang demokratis tahun 2012 yang lalu. Namun baru satu tahun berkuasa, akhirnya dia pun jatuh. Kekuatan massa (people power), apalagi jika didukung oleh militer, memang sulit untuk dilawan.

Secara logika, penggulingan Mursi itu memang membingungkan. Dulu rakyat Mesir bersatu padu menggulingkan rezim militer (Husni Mubarak), sekarang mereka berbalik mendukung rezim militer. Memang tiada musuh yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan sesaat. Kebetulan kelompok anti-Mursi bersesuaian kepentingan dengan kelompok militer yang mengalami post power syndrom sejak tergulingnya Mubarak (seorang militer)

Apa kesalahan Mursi? Saya tidak tahu persis. Yang saya tahu, sejak dia terpilih menjadi Presiden, Pemerintahannya selalu digoyang demo oleh kelompok oposisi yang kalah dalam Pemilu pasca kejatuhan Presiden Husni Mubarak. Kelompok oposisi selalu digambarkan sebagai kaum sekuler atau liberal, sedangkan Mursi sendiri didukung oleh kelompok islamis.

Menyederhanakan masalah Mesir sebagai pertentangan ideologis (islamis vs liberal) sepertinya bukan jawaban yang memuaskan. Memang ada masalah ideologis di situ, tetapi saya yakin pasti ada alasan lainnya. Gerakan massa anti-Mursi jumlahnya melebihi pemilih partai-partai liberal yang kalah dalam Pemilu. Ini berarti penentang Mursi dalam gerakan people power yang terjadi sejak 30 Juni yang lalu tidak melulu dari kelompok sekuler liberal saja, tetapi juga dari rakyat kebanyakan yang merasakan ketidakpuasan kepada Mursi.

Sejak kejatuhan Huni Mubarak, perekonomian Mesir anjlok ke titik terendah. Rakyat Mesir merasakan krisis ekonomi yang membuat kehidupan mereka menjadi tambah sulit. Pada zaman Mubarak perekonomian Mesir berada dalam keadaan stabil, namun karena Mubarak terlalu lama berkuasa, rakyat Mesir pun mulai muak dengan Mubarak yang tampak seperti Firaun yang otoriter. Fenomena Arab Spring (yang dimulai dari Tunisia) menjalar ke Mesir. Rakyat Mesir melakukan gerakan massa untuk menggulingkan Mubarak. Mubarak jatuh, Mursi naik ke tampuk kekuasaan melalui Pemilu yang dramatis.

Satu tahun Mursi berkuasa tidak tampak perbaikan perekomonian Mesir. Anda bisa paham jika selama setahun perekonomian sulit, orang pasti merasa gelisah. Urusan perut tidak bisa ditunda-tunda, rakyat Mesir tidak sabar menunggu lama. Rasa gelisah memuncak menjadi amarah, dan bila digabungkan dengan orang-orang lain yang bernasib sama, maka timbullah gerakan massa yang tidak terbendung. Itulah yang terjadi di Mesir saat ini.

Berkaca pada kasus Indonesia 1998, apa yang terjadi di Mesir saat ini mirip dengan yang terjadi di Indonesia. Kejatuhan Soeharto juga disebabkan oleh krisis ekonomi. Bedanya, Soeharto jatuh setelah 32 tahun berkuasa, sedangkan Mursi baru satu tahun. Jadi, kesulitan ekonomi adalah alasan paling mungkin yang menggerakkan massa untuk menentang Mursi. Karena itu tidak tepat memandang Mesir sebagai pertentangan antara kelompok Islam dan kelompok sekuler semata.


Written by rinaldimunir

July 4th, 2013 at 4:04 pm

Posted in Dunia oh Dunia

Menangisi Nasib Saudaraku di Seberang Benua

without comments

Apa perasaan dan reaksimu setelah melihat foto-foto pada situs web berikut?

http://banoosh.com/2013/03/28/photos-of-killed-muslims-with-armed-terrorist-buddhists-in-meiktila-myanmar/

Saya hanya bisa menangis!
Di manakah ajaran cinta damai itu?


Written by rinaldimunir

April 4th, 2013 at 10:02 am

Posted in Dunia oh Dunia

“Love Rohingya”, Marilah Bantu Orang Rohingya

without comments

Saat-saat kita umat Islam sedang menyiapkan makanan untuk buka puasa, bagaimana keadaan saudara kita kaum Rohingya di Myanmar (Burma) sana ya? Apakah mereka mendapat makanan untuk berbuka puasa? Apakah mereka tetap kuat berpuasa ditengah kesedihan karena dizhalimi dan diusir dari kampung halamannya?

Apakah orang Rohingya itu bukan manusia? Apakah mereka tidak berhak hidup di bumi ini? Kenapa mereka diperlakukan dengan begitu kejam oleh Pemerintah dan rakyat Myanmar? Di mana HAM yang selalu diagung-agungkan itu?

Foto-foto yang memilukan hati di bawah ini dapat bercerita untuk melukiskan penderitaan mereka. Mari bantu mereka dengan doa dan sedekah melalui lembaga amal yang membuka rekening donasi buat mereka.

Semua foto bersumber dari laman-laman web yang mudah dicari dengan kata kunci “rohingya” dari Google.


Written by rinaldimunir

July 27th, 2012 at 2:39 pm

Posted in Dunia oh Dunia

Lagu Sendu Buat Kaum Muslim Rohingya (Di mana Aung San Suu Kyi dan Para Aktivis HAM?)

without comments

Baru-baru ini terjadi pembantaian etnis Rohingya di negara bagian Rakhine (Arakan), arah Barat Daya Myanmar. Penduduk Rakhine yang mayoritas beragama Budha memburu dan membunuh etnis Rohingya. Pemicunya adalah tuduhan perkosaan terhadap wanita Rakhine yang dilakukan oleh pria Rohingya. Sejak itu kerusuhan SARA meletus di Myanmar antara warga Budha Rakhine dengan warga muslim Rohingya. Puluhan bahkan mungkin ratusan kaum muslim Rohingya yang tidak terlibat dalam masalah itu dibunuh, rumah-rumah mereka dibakar dan harta mereke dijarah. Warga Rohingya yang selamat lari mengungsi ke Bangladesh. Baca berita ini: Lebih dari 80 Nyawa Melayang dalam Konflik Buddha-Islam di Myanmar.

Pengungsi Rohingya dan keluarganya yang terusir menangis di atas perahu yang akan membawa mereka mengungsi entah ke mana. Di Myanmar mereka ditolak, di Bangladesh pun mereka tidak diterima (Sumber: http://sevensisterspost.com/?p=18993#)

Etnis Rohingya adalah etnis minoritas di Myanmar, jumlahnya sekitar 2 hingga 3 juta orang. Sebenarnya warga etnis Rohingya sudah lama mengalami tindak kekerasan dan diskriminasi dalam segala hal. Mereka dianggap orang asing atau kaum imigran ilegal dari Bengali (Bangladesh), meskipun mereka sudah turun temurun selama berabad-abad tinggal di Myanmar. Mereka tidak diakui sebagai warganegara Myanmar (stateless), itu karena warna kulit mereka berbeda dengan orang Myanmar umumnya. Etnis Rohingya berwarna kulit gelap dan secara fisik mirip seperti orang Bangladesh. Sebagian besar dari mereka tinggal di negara bagian Arakan yang berbataan langsung dengan Bangladesh.

Warna kulit mungkin salah satu alasan mereka dianggap orang asing, alasan lain mungkin juga karena agama mereka Islam, yang berbeda dengan agama orang Myanmar umumnya, Budha. Karena agamanya itu, warga Myanmar menyamakan orang Rohingya sebagai teroris seperti organisasi Al-Qaidah dan Taliban.

Malangnya nasib orang Rohingya, tidak ada satupun pihak yang mau membela mereka, termasuk Aung San Suu Kyi sekalipun. Penerima nobel perdamaian itu diam membisu. Dia sama sekali tidak pernah berbicara tentang pembantaian etnis Rohingya, malah Aung San memilih sibuk berkeliling Eropa bagaikan selebriti. Hal ini sangat berbeda sikapnya ketika dia mengunjungi pengungsi suku Karen di perbatasan Thailand setelah kebebasannya. Suku Karen adalah sukunya Aung San Su Kyi, suku ini beragama Kristen, sama dengan agama Aung San. Kepada pengungsi suku Karen dia berjanji akan memperjuangkan nasib mereka. Namun, Aung San sama sekali tidak pernah mengunjungi pengungsi etnis Rohingya di perbatasan Bangladesh.

Dunia menunggu komentar Aung San tentang Rohingya, tetapi Aung San masih menutup mata melihat kekejian yang dilakukan junta militer dan warga Myanmar terhadap etnis Rohingya. Aung San mungkin dalam posisi serba sulit, dia dan partainya baru-baru ini memenangkan pemilihan parlemen dan sedang menggalang dukungan rakyat Myanmar untuk menjadi pemimpin Mynamar. Dia mungkin takut kehilangan dukungan rakyat Myanmar jika dia ikut bersimpati atau mengomentari pembersihan etnis Rohingya (baca ini), karena sebagian besar orang Myanmar tidak suka kepada warga Rohingya. Karena itu sikap Aung San yang memperjuangkan keadilan dan anti penindasan perlu dipertanyakan kembali.

Tidak hanya Aung San, para aktivis HAM pun diam seribu bahasa, termasuk LSM dan aktivis HAM di Indonesia yang selalu lantang membela kaum minoritas yang tertindas. Padahal, HAM itu bersifat universal, tidak mengenal batas wilayah, etnis, dan agama. Media mainstream pun tidak banyak memuat penderitaan kaum Rohingya ini, seakan-akan berita tentang mereka tidak penting. Mungkinkah karena etnis Rohingya yang ditimpa kemalangan itu kebetulan beragama Islam — dan seperti kebanyakan kasus lain ketika umat Islam menjadi korban — maka para aktivis HAM menjadi tuli dan sariawan? Wallahualam bissawab.

Berita yang berkaitan:
1. Muslim Rohingya, Siapa Mereka?
2. Rohingya refugees call for Suu Kyi’s help
3. Muslim Rohingya, Tantangan Terbesar Aung San Suu Kyi
4. Myanmar Harus Hentikan Kekerasan atas Etnis Rohingya


Written by rinaldimunir

July 1st, 2012 at 1:27 pm

Posted in Dunia oh Dunia

Foto-Foto Bencana Alam 2011 yang Luar Biasa

without comments

Saya menggemari film-film fiksi ilmiah tentang bencana alam, misalnya tentang gunung meletus, topan tornado, gempa bumi, meteor jatuh, tsunami, dan sebagainya. Beberapa film bencana yang pernah saya tonton adalah Twister, Volcano, Dante’s Peak, Krakataoa, 2012, dan lain-lain. Dalam film tersebut terlihat Kuasa Tuhan Yang Maha Besar yang tidak bisa dilawan oleh manusia, kekuatan alam yang dahsyat, dan perjuangan manusia untuk bertahan hidup. Begitu kecil manusia ini di hadapan Allah SWT, ilmu setinggi apapun tidak berguna ketika kekuatan alam yang dahsyat melanda. Film-film tersebut memberi pesan agar manusia tidak boleh sombong di muka bumi ini.

Selain film, saya juga mengagumi foto-foto bencana alam yang berhasil dipotret oleh orang. Sama seperti film, foto-foto di atas memperlihatkan betapa tidak berdayanya manusia ini di hadapan Ilahi. Hikmahnya adalah agar kita selalu berserah diri hanya kepada allah SWT.

Di bawah ini ada beberapa foto-foto bencana alam dahsyat tahun 2011 yang saya ambil dari situs http://www.buzzfeed.com/mjs538/the-most-powerful-photos-of-2011. Selamat menikmati.

Pusaran air laut di lepas pantai Jepang setelah tsunami pada 11 Maret 2011

Sebuah kapal wisata, Hama Yuri, dibawa gelombang tsunami Jepang sejauh 1300 meter dari pantai dan tersangkut di atap rumah.

Sebelum dan sesudah tornado di Missouri, 22 Mei 2011

Sebuah badai debu mengerikan (Haboob) menderu melalui Phoenix, Arizona pada bulan Juli.

Foto dari udara yang menggambarkan kerusakan setelah tsunami Jepang.

Gunung berapi meletus di Puyehue Chile, menyebabkan pembatalan lalu lintas udara di seluruh Amerika Selatan, Selandia Baru, Australia dan memaksa lebih dari 3.000 orang mengungsi.

Seorang ibu mmeluk anaknya di Concord, Alabama, di dekat rumahnya yang hancur oleh tornado di bulan April.

Badai Irene mendekati pantai timur.

Pekerja kantor mencari jalan keluar dari sebuah gedung bertingkat tinggi di pusat kota Christchurch, Selandia Baru pada 22 Februari. Sebuah gempa kuat menewaskan sedikitnya 180 orang.

Seorang wanita bergantung pada tiang jalan di tengah banjir kota Bangkok pada 24 Oktober.


Written by rinaldimunir

January 2nd, 2012 at 2:49 pm

Posted in Dunia oh Dunia