if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Dunia oh Dunia’ Category

Menangisi Nasib Etnik Rohingya yang Nestapa

without comments

Kekerasan terhadap etnis Rohingya di Myanmar yang dilakukan oleh tentara Myanmar dan massa Budha radikal mewarnai pemberitaan dunia hari-hari ini. Media setiap hari memberitakan pembunuhan keji yang dilakukan oleh tentara Myanmar kepada warga etnik Rohingya di negara bagian Rakhine (Arakan). Kaum lelaki dibunuh dan dibakar, anak-anak yang melindungi ibunya dipotong lehernya dengan pisau, rumah-rumah mereka dibakar. Puluhan ribu orang yang selamat melarikan diri ke perbatasan Bangladesh menyeberangi sungai Naf. Perahu yang sarat penumpang itu ada yang terbalik menghanyutkan penumpangnya, yang akhirnya menjadi mayat-mayat yang terdampar di pinggir sungai. Ethnic cleansing atau genosida sedang dilakukan oleh tentara dan Pemerintah Myanmar.

rohingya2

Sumber gambar: http://bdnews24.com/neighbours/2017/09/02/rohingya-muslims-flee-as-more-than-2600-houses-burned-in-myanmar-s-rakhine

Etnik Rohingya adalah etnik yang tidak diakui oleh negara Myanmar. Mereka dianggap imigran dari Bangladesh yang memasuki wilayah Rakhine, meskipun menurut sejarah mereka sudah tinggal di Rakhine beberapa generasi. Secara fisik mereka berbeda dengan orang Myanmar pada umumnya. Orang Rohingya berkulit gelap (hitam) dan, sedangkan orang Burma (suku terbesar di Myanmar) berkulit putih. Bahasa mereka juga berbeda dengan bahasa di Myanmar. Satu pembeda lain dengan warga Myanmar adalah agama. Penduduk Myanmar umumnya beragama Budha, sedangkan orang Rohingya ini beragama Islam. Kelak soal agama ini juga ikut memicu ketegangan rasial antara etnik Rohingya dengan kelompok Budha yang dipimpin oleh Bhiksu radikal.

Pemerintah dan warga Myanmar menyebut mereka Bengali ketimbang Rohingya. Jumlah mereka mencapai 1,1 jiwa yang sebagian besar hidup di Rakhine. Karena tidak diakui sebagai warganagera yang sah, maka warga etnik Rohingya tidak mendapat hak-hak seperti hak pendidikan, hak politik, kesehatan, hak mendapat pekerjaan formal, dan lainnya. Mereka didiskriminasi dalam segala bidang. Pemerintah dan warga Myanmar membenci etnik Rohingya dan menjadikan mereka sebagai musuh bersama yang harus dijauhi dan diusir dari Myanmar. Malangnya, Bangladesh pun tidak mengakui mereka sebagai warga Bangladesh. Jadilah orang Rohingya menjadi stateless, tidak memiliki kewarganegaraan apapun. Faktor stateless inilah yang menjadi pemicu awal diskriminasi terhadap etnik Rohingya.

Hampir setiap waktu terjadi aksi kekerasan terhadap orang Rohingya. Tak tahan dengan kekerasan yang terus menerus yang dialami etniknya, maka sekelompok kecil warga Rohingya akhirnya menjadi militan dan melakukan perlawanan mengangkat senjata. Mereka sudah putus asa dan sudah kehilangan harapan untuk hidup.  Dalam pikiran mereka, jika pun masih hidup, maka nanti aka mati juga di tangan tentara atau warga Myanmar. Satu-satunya jalan adalah melawan, mau mayti atau hidup sudah tidak ada harapan lagi, mungkin begitu yang terlintas di kepala mereka. Kelompok militan yang dinamakan ARSA ini  menyerang pos polisi dan tentara, membunuh target yang mereka temui. Rupanya, aksi kekerasan yang dilakukan oleh ARSA ini berimbas kepada warga Rohingya lain yang tidak berdosa. Mereka menjadi target tentara Myanmar untuk memburu kelompok militan itu, dengan alasan tidak bisa membedakan mana militan dan  mana warga biasa. Dengan keji tentara Mynamar membunuh warga Rohingya yang tidak bersalah, membakar rumah-rumah mereka, sehingga menghasilkan arus pengungsian seperti yang saya sebutkan di bagian awal.

Sesungguhnya pengusiran dan pembunuhan warga Rohingya sudah berlangsung selama puluhan tahun. Sekarang saja puncaknya karena ada momentum untuk menjadi alasan pembenaran aksi kekejaman itu, yaitu sebagian warga Rohingya dianggap teroris yang  harus dibasmi.

Kebetulan saja etnik Rohingya ini beragama Islam, maka solidaritas dan aksi demo di negara-negara muslim pun marak memprotes kekejaman tentara Myanmar. Di tanah air, solidaritas kepada etnik Rohingya memancing sekelompok orang lain untuk bersikap sebaliknya. Kelompok ini sepertinya tidak memiliki hati nurani. Aksi keji tentara dan warga Myanmar terhadap etnis Rohingya tidak mampu menumbuhkan empati pada diri mereka. Mereka menyalahkan etnik Rohingya sebagai pendatang dari Bangladesh yang tidak tahu diri. Sudahlah “mengambil” tanah orang, lalu membuat gaduh di sana, begitu kata mereka. Terhadap orang Indonesia yang ikut-ikutan membela Rohingya, kelompok ini berkata sinis sebagai berikut: tidak perlu jauh-jauh membantu orang Rohingya, masih banyak warga kita yang perlu dibantu itu urusan dalam negeri Mynamar, ngapain kita ikut campur; kalau mau berjihad, silakan saja pergi ke sana; ujung-ujungnya nanti yang disalahkan adalah Jokowi; dan sebagainya.  Perpecahan bangsa akibat Pilpres dan Pilkada masih berlanjut hingga ke masalah Rohingya ini. Astaghfirullah.

Padahal, tidak perlu menjadi muslim untuk ikut bersimpati kepada penderitaan warga Rohingya. Menjadi manusia saja sudah cukup untuk ikut merasakan nestapa etnik Rohingya yang teraniaya. Mereka terlahir menjadi Rohingya bukanlah keinginan mereka.  Meski mereka tidak memiliki kewarganegaraan, tapi bukan berarti manusia, dalam hal ini tentara Myanmar, boleh semena-mena memperlakukan mereka sebagai anjing kurap yang harus dibasmi. Siapapun manusia di dunia yang teraniaya karena nasibnya yang malang, apapun etnis dan agamanya, maka sebagai manusia lain yang lebih beruntung minimal kita berempati kepada nasib mereka ini.

Di sisi lain, meskipun kita warga muslim Indonesia berempati dan membela Rohingya, jangan sampai pula kita membuat fallacy yang membahayakan. Meskipun mayoritas warga Myanmar beragama Budha, tetapi warga Budha di Indonesia sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kekerasan yang dilakukan warga Budha Myanmar terhadap warga Rohingya. Jadi, sungguh perbuatan salah jika vihara, bhiksu, dan warga Budha di tanah air menjadi sasaran kemarahan. Stop membuat kesimpulan ngawur dan sesat.


Written by rinaldimunir

September 6th, 2017 at 4:43 pm

Posted in Dunia oh Dunia

Ali

without comments

Muhammad Ali. Siapapun tahu nama itu. Dia seorang petinju legendaris dunia dalam sejarah manusia abad modern. Sosok Ali menjadi terkenal semata-mata bukan karena prestasi tinjunya yang mengkanvaskan lawan-lawannya. Dia begitu populer setelah menjadi muslim pada tahun 1975. Mungkin setelah dia masuk Islam itu citra Islam meningkat di Amerika Serikat. Berkat Ali maka orang Amerika mengenal Islam. Ali juga menjadi sumber inspirasi warga kulit hitam di Amerika yang selalu mengalami diskriminasi. Berkat Ali pula warga kulit hitam terangkat harga dirinya.

Ali

Muhammad Ali sedang berdoa setelah sholat

Ali dicintai banyak orang di Indonesia. Saya ingat ketika kecil dulu, setiap kali siaran langsung pertandingan tinju Muhammad Ali disiarkan oleh TVRI, jalan-jalan menjadi lengang. Hampir semua orang duduk menyimak siaran televisi. Saat Ali berhasil memukul KO lawannya, orang-orang berteriak senang. Namun, ketika Ali jatuh tersungkur di-KO lawannya, banyak orang menangis, seakan-akan mereka tidak menerima Muhammad Ali kalah.

Sebuah lagu yang menjadi hits pernah dipersembahkan untuk Muhammad Ali, sebagai lagu tema untuk film The Greatest yang menceritakan biografi Muhammad Ali. Lagu yang berjudul The Greatest Love of All dinyanyikan oleh penyanyi Whitney Houston.

(jika ingin video yang ada lirik lagunya, silakan klik video ini)

Sosoknya yang penuh kontroversi dan penuh drama, mulutnya yang selalu sesumbar mengalahkan lawannya (sehingga dia dijuluki “si mulut besar”), keputusannya menolak dikirim ke medan perang ke Vietnam, pilihannya menjadi muslim, dan penyakit parkinson yang membuatnya semakin lemah, telah membuat dunia bersimpati kepada Ali. Maka, kabar kematiannya pada tanggal 4 Juni 2016, setelah berjuang melawan penyakit parkinson yang sudah lama dideritanya, membuat dunia menangis. Tidak hanya warga AS yang berkabung,  tetapi saya kira hampir seluruh warga dunia.

Inna lillaahi wa inna ilaihi raajiun. Allaahummaghfirlahu warhamhu wa’afihii wa’fu ‘anhu waj’alil jannata matswaahu.

Selamat jalan Ali menuju Sang Khalik.


Written by rinaldimunir

June 6th, 2016 at 3:11 pm

Posted in Dunia oh Dunia

Beda Antara Paris dan Ankara

without comments

Bom kembali meledak di bandara dan stasiun kereta api di Brussel (Belgia) kemarin dalam aksi serangan bunuh diri yang menewaskan puluhan orang dan ratusan lainnya luka-luka. Sungguh ini perbuatan keji, karena orang-orang tidak bersalah menjadi korban. Dunia kembali tersentak setelah aksi serangan terorisme yang memakan banyak korban di Paris bulan November tahun lalu.

Paris? Ya, dunia lebih banyak mengingat peristiwa bom Paris ketimbang aksi bom di tempat lainnya. Hampir semua pemimpin dunia menyuarakan kecaman, kutukan, sembari mendoakan Perancis agar tetap kuat. Jagad maya pun ikut heboh. Di jagad maya tagar #PrayForParis dengan cepat menyeruak sebagai bentuk simpati kepada Perancis. Netizen memasang gambar bendera Perancis menjadi  foto profilnya sebagai tanda ikut berduka cita.

Namun, reaksi warga dunia, khususnya penduduk jagad maya, sangat berbeda ketika aksi terorisme melanda Ankara, Turki. Selama dua bulan berturut-turut Turki dilanda aksi terorisme. Dua ledakan besar melanda ibukota Turki, Ankara. Puluhan orang tewas dan luka-luka. Tidak ada tagar #PrayforAnkara di jagad maya, seakan-akan peristiwa bom di Ankara adalah peristiwa biasa saja. Padahal Turki juga negara Eropa, seperti halnya Perancis. Presiden Jokowi pun tidak pernah menyampaikan kicauan duka cita di akun Twitter-nya terkait bom Ankara. Ini sangat berbeda ketika bom di Paris dan Brussel, Presiden Jokowi dengan cepat memberikan reaksinya.

brussel

Reaksi yang berbeda ini mungkin karena Turki adalah negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. Jika korban aksi terorisme adalah warga muslim, maka dunia tidak terlalu peduli, sebagaimana ketidakpedulian ketika aksi bom dan terorisme menyasar di Irak, Afghanistan, Pakistan, Palestina, dan lain-lain. Sedangkan peristiwa bom di Paris dan Brussel mendapat simpati dan reaksi berbeda karena korbannya adalah warga Eropa dan pelakunya diduga berkaitan dengan dunia Arab.

Begitulah. Tidak ada yang begitu mempedulikan peristiwa keji di Turki dan di negara-negara muslim lainnya. Mereka yang menjadi korban mungkin hanya dihitung secara statistik saja, lalu sesudah itu dilupakan.

Kita mengutuk aksi terorisme di manapun. Korbannya adalah rakyat tidak berdosa. Siapapun pelakunya, sungguh keji perbuatannya. #PrayforParis, #PrayforAnkara, #PrayforBrussel, #PrayforGaza, #PrayforPalestina, #PrayforIrak, #PrayforAfghanistan, dan di manapun di dunia ini #pray untuk kemanusiaan.


Written by rinaldimunir

March 23rd, 2016 at 4:03 pm

Posted in Dunia oh Dunia

Standard Ganda Facebook

without comments

Meskipun Facebook pusatnya berada di Amerika, dan kita tahu negara Amerika menjamin kebebasan berbicara dan berekspresi sepenuhnya, namun untuk posting tentang anti LGBT Facebook melakukan standard ganda. Pihak Facebook menghapus posting netizen yang berisi  penolakan terhadap LGBT. Penghapusan itu dilakukan atas laporan yang diberikan oleh pengguna Facebook lainnya yang  melaporkan adanya  posting yang anti-LGBT. Pihak Facebook menyebutnya sebagai posting yang menyebarkan kebencian (hate speech) sehingga melanggar standard komunitas mereka.

Beberapa fesbuker (sebutan buat pengguan Facebook) melaporkan posting-an mereka dihapus oleh admin Facebook, padahal isinya tidak seluruhnya berupa penolakan, tetapi banyak yang berupa argumentasi, pandangan, saran, dan lain-lain yang berkategori biasa saja. Tidak hanya menghapus posting-an, tetapi juga menonaktifkan akun secara temporer hingga ancaman untuk menutup akun selamanya (Baca: Facebook Ancam Tutup Permanen Akun Tere Liye).

Setahu saya Facebook memang terang-terangan mendukung LGBT, bahkan salah seorang pendiri Facebook adalah seorang gay.  Jadi, pembungkaman terhadap suara yang menolak LGBT mungkin bisa dipahami sebagai sebuah bentuk keberpihakan.

Tetapi masalahnya bukan itu. Jika memang ada posting-an yang menyebarkan kebencian, maka seharusnya Facebook juga melakukan hal yang sama apabila ada posting lain yang bukan membahas LGBT namun menghina suatu agama. Terhadap posting-an yang menghina Nabi Muhamammad  misalnya, sudah banyak yang melaporkan posting-an seperti ini kepada admin Facebook, namun Facebook menolak menghapusnya, malah membiarkannya. Inilah standard ganda itu.

Tindakan Facebook yang membungkam suara penggunanya yang kontra LGBT sangat kontras dengan posting-an Mark Zuckenberg tanggal 9 Januari 2015 tentang Facebook sebagai tempat orang-orang dapat  berbicara dengan bebas tanpa takut melanggar:

“I’m commited to building a service where you can speak freely without fear of violence.”

 

mark2

 

Facebook tidak perlu otoriter menghapus atau menutup akun seseorang hanya karena dia menulis sesuatu yang tidak sesuai dengan selera pendirinya. Lawanlah kata dengan kata, kalimat dengan kalimat, pemikiran dengan pemikiran, itu baru intelek namanya, bukan dengan cara represif yang membungkam kebebasan berbicara yang diagung-agungkan pendirinya, Mark Zuckenberg. Itu hipokrit namanya.


Written by rinaldimunir

February 24th, 2016 at 4:57 pm

Posted in Dunia oh Dunia

Teror di Paris dan Citra Islam di Mata Dunia

without comments

Kota Paris di Perancis beberapa hari yang lalu diserang oleh aksi terorisme yang mematikan.  Dunia mengutuk aksi teroris yang membunuh lebih dari 130 orang. Meskipun pelaku teror belum dapat dipastikan dari kelompok mana, namun sudah mengarah pelakunya ada kaitannya dengan Islam. Apalagi sebelum melakukan aksi terornya pelaku berteriak “ini untuk Suriah” dan teriakan “Allahu Akbar.” Apakah kelompok ISIS pelakunya? Wallahalam.  Mungkinkah ISIS balas dendam karena Perancis ikut dalam pasukan sekutu untuk menghancurkan ISIS di Suriah. Entahlah, apapun motifnya yang jelas aksi teror ini sungguh keji dan biadab.

peace

Jika memang pelakunya beragama Islam atau membawa simbol-simbol Islam, maka aksi kejinya itu sama sekali tidak mencerminkan ajaran Islam. Namun, media sudah terlanjur mengait-ngaitkan aksi terorisme dengan Islam, seakan-akan Islam identik dengan kekerasan. Berbagai sikap, tudingan, dan komentar muncul dari berbagai pihak yang mengaitkan aksi teror di Paris dengan ajaran Nabi Muhammad. Sudah susah payah para ulama kita, para ilmuawan muslim, dan tokoh-tokoh muslim mengklarifikasi serta meluruskan bahwa aksi terorisme sangat bertentangan dengan ajaran Islam, dan bahwa teroris tidak mewakili umat Islam, namun sikap dunia sudah kadung mencap Islam itu buruk.

Ya sudahlah, jika media dan penduduk dunia tetap ngotot berpandangan Islam itu identik dengan kekerasan, mau bagaimana lagi. Silakan saja mereka berpendapat begitu, kami juga sudah tidak tahu harus bagaimana lagi menjelaskannya. Yang jelas kami  tetap istiqamah dengan agama kami, agama yang mengajarkan kebajikan, kasih sayang, dan cinta damai. Terorisme adalah perilaku yang sangat kompleks dan rumit, namun sayangnya agama dibawa-bawa ke dalamnya.

Pelaku terorisme yang membawa-bawa simbol agama di dalam aksinya sungguh merusak citra Islam. Karena aksi segelintir orang yang mengatasnamakan agama atau membawa simbol-simbol agama dalam melancarkan aksi terornya, seluruh umat Islam di dunia terkena getahnya. Mungkin sesudah peristiwa di Paris ini, kebencian warga Perancis khususnya dan Eropa umumnya terhadap agama Islam dan penganutnya akan semakin bertambah. Islamophobia yang sudah akut di Eropa maupun di dunia Barat akan menemukan pembenaran dengan kejadian ini.

Anggap saja sikap Islamophobia itu sebagai sebuah cobaan dan ujian dalam mempertahankan keyakinan. Tetap saja menjalankan kesalehan dalam beragama dan kesalehan dalam sosial seperti yang selama ini dipraktekkan. Masih lebih banyak orang Islam yang baik dan hanif dalam menjalankan agamanya, daripada segelintir orang yang mengaku Islam tetapi perilakunya jauh menyimpang dari ajaran Nabi Muhammad. Menunjukkan Islam itu  identik dengan ajaran cinta damai adalah dengan amal kebajikan, bukan dengan gembar-gembor melalui kata-kata. Jika sudah begitu masih juga dicap miring oleh non muslim, ya sudah, terserah mereka menilai. Hidup itu singkat, dan kita akan kembali untuk mempertanggungjawabkan amalan kita di hadapan Allah SWT nanti.


Written by rinaldimunir

November 17th, 2015 at 1:41 pm

Posted in Agama,Dunia oh Dunia

Negeri Sodom Abad Modern di Tanah Amerika

without comments

Keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang melegalkan pernikahan sesama jenis (lelaki dmengan lelaki, perempuan dengan perempuan) sontak membuat dunia heboh. Sebenarnya Amerika bukan yang pertama, legalisiasi pernikahan sesama jenis sudah duluan disahkan di beberapa negara seperti Belanda, Irlandia, Uruguay, dan lain-lain. Tetapi, karena Amerika adalah negara besar, maka pengaruhnya tentu sangat besar pula pada negara lain di seluruh dunia. Apa yang terjadi di Amerika akan menjalar ke tempat lain dan mungkin akan ditiru pula di negara lain, cepat atau lambat. Hanya di negara-negara yang konservatif yang memegang teguh ajaran agama peraturan itu akan mendapat perlawanan keras.

Semua agama menentang pernikahan sesama jenis. Tetapi di Amerika, dan juga di negara-negara Barat lainnya, agama telah dicampakkan oleh banyak warganya. Agama tidak lagi menjadi tuntunan hidup, agama tinggallah sebagai perayaan seremoni belaka. Kebebasan, kesetaraan, dan HAM menjadi ‘agama’ baru bagi warga Barat. Kalau melihat fenomena di dunia Barat di mana gereja-gereja sudah sepi ditinggalkan penganutnya, maka tidaklah mengherankan jika pernikahan sesama jenis mendapat dukungan besar warganya, terutama dari kaum mudanya.

Anehnya Indonesia ada pula kalangan selebriti yang bangga dengan pengesahan pernikahan sesama jenis itu. Sebut saja seperti penyanyi Sherina dan sutradara Joko Anwar yang menuliskan cuitan di Twitter sebagai sebuah kemajuan peradaban. Ah, artis-artis semacam itu tidak perlu lagi menjadi tuntunan dan tontonan, karena mereka mendukung perbuatan dosa besar. Orang yang mematuhi ajaran agama tidak mungkin akan menyetujui pernikahan sesama jenis.

Hubungan sesama jenis adalah perbuatan yang nyata-nyata dilarang oleh Allah SWT. Banyak sekali ayat di dalam Alquran maupun di dalam Bibel yang menceritakan kisah umat Nabi Luth di kota Sodom. Ummat Nabi Luth melakukan perbuatan liwath yang terlarang, yaitu menyalurkan syahwat lelaki kepada lelaki dan perempuan kepada perempuan. Karena perbuatan ummat Nabi Luth itu, maka Allah SWT membinasakan kaum ini dengan membalikkan kotanya.

Sekarang, kisah kaum Sodom itu muncul lagi pada abad modern dengan dalih kebebasan dan kesetaraan. Negara memfasilitasi orang-orang melakukan liwath. Mungkin ini merupakan tanda-tanda akhir zaman. Bukan tidak mungkin azab Allah akan muncul kembali kepada negeri Sodom modern. Wallaahu alam.

Gay dan lesbian adalah perilaku yang sebagian besar terjadi karena pergaulan. Sanga jarang gay dna lesbian itu karena faktor genetik. Seseorang yang bergaul dengan kaum homoseksual akan cenderung mempunyai perilaku ini. Maka, boleh saya katakan kalau gay dan lesbian adalah perilaku menular. Pada zaman sekarang pergaulan anak muda begitu bebasnya, gay dan lesbian sudah menjadi gaya hidup. Banyak anak muda Indonesia yang ikut-ikutan menjadi homoseksual karena salah pergaulan. Sekali masuk ke dalam dunia itu, sukar untuk keluar.

Jika pernikahan homoseksual sudah menjadi hal yang legal, sukar membayangkan bagaimana dunia nanti. Keluarga pasangan gay dan lesbian apabila ingin mempunyai anak, maka mereka melakukannya dengan cara adopsi atau donor sperma. Konsep keluarga akan menjadi kacau. Seorang anak akan melihat “ayah ibu”-nya dari jenis kelamin yang sama. Mana ayah dan mana ibu sudah tidak jelas lagi. Anak yang dibesarkan oleh pasangan sejenis mempunyai peluang besar meniru kelakuan orangtuanya.

Saya memang orang yang konservatif. Saya tidak perlu bermodern-modern soal yang satu ini. Mereka, pendukung LGBT dan pernikahan sesama jenis, mengatakannya sebagai kemajuan peradaban. Mengutip seorang teman, kehancuran peradaban biasanya dimulai ketika ia melawan fitrah kehidupan. Pernikahan sesama jenis adalah perbuatan yang melawan fitrah kehidupan.


Written by rinaldimunir

June 30th, 2015 at 11:51 am

Posted in Dunia oh Dunia

Konflik Timur Tengah Laksana Spagheti

without comments

Timur Tengah adalah kawasan tempat diutusnya para nabi agama-agama samawi (Islam, Kristen, Yahudi). Seharusnya kawasan ini adalah kawasan yang damai dan diberkahi karena Tuhan menurunkan wahyu-Nya di sini. Namun nyatanya, dari dulu hingga sekarang Timur Tengah adalah kawasan yang penuh konflik berdarah. Konflik semakin rumit bak benang kusut karena melibatkan negara besar seperti Amerika, Rusia, Inggris, dan lain-lain. Negara-negara tersebut memiliki kepentingan utama di Timur Tengah, karena Timur Tengah adalah daerah yang kaya minyak. Oleh karena itu, mereka berlomba menanamkan pengaruh di sana sehingga negara-negara di Timur Tengah akans elalu bergantung kepada mereka, baik secara militer, ekonomi, dan teknologi.

Kusutnya konflik di Timur Tengah (Sumber: https://twitter.com/arissetyawan/status/487122086322659328)

Kusutnya konflik di Timur Tengah seperti spagheti (Sumber: https://twitter.com/arissetyawan/status/487122086322659328)

Konflik yang abadi adalah konflik antara Israel dan Palestina. Israel didukung oleh Amerika dan Inggris, bahkan bagi Amerika Serikat negara Israel adalah anak emas yang selalu dibela dan dilindungi. Negara Israel dulunya tidak ada, tetapi Amerika dan Inggris membuat negara itu di tanah Palestina. Israel senagaja ditanam di Timur Tengah untuk membuat ketidaksatabilan di kawasan itu. Bagi pihak Amerika, jika negara-negara Arab bersatu, maka ini adalah malapetaka sebab jika negara-negara Arab bersatu maka mereka bisa memainkan politik embargo minyak, sesuatu yang ditakuti negara-negara industri yang bergantung pada minyak. Amerika tahu bahwa negara-negara Arab itu memusuhi Israel (karena menduduki tanah Palestina), maka dengan menghadirkan Israel di sana, maka negara-negara Arab itu merasa terancam. Untuk melindungi diri mereka dari serangan IsraeL, negara-negara Arab itu mau tidak mau meminta negara adikuasa (Amerika dan Rusia) untuk melindungi mereka. Negara-negara Arab menjadi tergantung persenjataan militernya dari negara adikuasa. Sebagai imbalannya, negara-negara Arab berbaik hati menyediakan wilayahnya menjadi pangkalan militer negara adikuasa (khususnya Amerika).

Konflik lainnya adalah konfik antara faksi Hamas dan faksi Fatah di Palestina. Ini adalah pertikaian antara dua saudara kandung yang selalu dijaga agar tetap tidak akur. Dengan membuat mereka selalu berkonflik untuk merebut kekuasaan, maka negara Palestina tidak akan pernah terwujud. Bagi Israel, bersatunya Hamas dan Fatah adalah mimpi buruk buat mereka, sebab kekuatan perlawanan terhadap Israel menjadi semakin solid.

Selain dengan Palestina, Israel juga harus menghadapi perlawanan kelompok Hezbollah di Libanon. Kelompok Hezbollah adalah kelompok syiah yang didukung Iran. Tentara-tentara Hezbolah sangat ditakuti Israel karena militansinya. Israel tidak hanya berhadapan dengan Hezbollah, tetapi juga dengan Iran. Di kawasan Timur Tengah hanya ada dua negara yang kuat secara militer, yaitu Iran dan Israel. Keduanya sellau bermusushan dan saling mengancam.

Konflik berikutnya adalah konflik antara kelompok sunni dan syiah. Pada mulanya konflik ini bermula di Irak, namun merembet hingga ke Suriah hingga timbulnya kelompok militan baru yang kejam bernama ISIS. Konflik pun melebar menjadi urusan negara, karena kelompok syiah didukung oleh Iran. Bagi Arab Saudi dan negera-negara yang bermazhab Sunni, Iran adalah ancaman selain Israel. Paham syiah yang semakin lama semakin kuat (misalnya di Libanon dan Yaman) adalah ancaman terhadap negara-negara penganut sunni. Maka, jika sekarang Arab Saudi dan koalisinya menggempur kelompok Houthi di Yaman, maka sebenarnya perang yang terjadi adalah antara syiah dan sunni, atau antara Iran (di balik layar) dengan negara-negara Arab Saudi.

Fenomena Arab Spring yang bermula di Tunisia lalu merembet ke Mesir, Libya, Suriah, dan negara-negara Arab lainnya ternyata layu sebelum berkembang. Arab Spring yang berawal dari people power di negaranya tidak membuat negara-negara barat happy. Arab Spring mengancam hegemoni raja-raja dan para emir yang selama ini sudah lama berkuasa di negara-negara Arab. Para raja dan emir yang selama ini selalu bergantung kepada negara barat sudah berada pada comfort zone. Jika Arab Spring berkembang sehingga menggulingkan kekuasaan penguasa Arab yang otoriter dan korup itu, maka Amerika dan sekutunya merasa terancam keberadaannya di Timur Tengah. Para pendukung Arab Spring sudah lama jengah dengan penguasa negaranya yang selalu tunduk kepada Amerika dan sekutunya. Oleh karena itu, bagi negara barat, fenomena Arab Spring harus “dihentikan” dengan membuat negara-negara yang menikmati Arab Spring tetap dilanda konflik perang saudara (contohnya Mesir yang tetap tidak stabil hingga saat ini).

Yah, begitulah saya memotret konflik di kawasan Timur Tengah yang rumit itu. Yang terjadi di sana tidak lagi perang agama, tetapi perang atas nama kekuasaan. Rakyat di negara-negara di kawasan itu menjadi korban pertikaian yang tidak berkesudahan. Sementara kita yang berada di Indonesia hanya bisa menonton dari jauh, tidak bisa berbuat apa-apa. Kita, khususnya ummat Islam di Indonesia, tetap memasang mata dan telinga memantau suasana di Timur Tengah. Rasa empati pada negara-negara Arab di sana adalah wajar, bagaimanapun tanah suci ada di kawasan itu, ke sanalah ummat Islam Indonesia pergi ziarah, umroh dan hajji. Jika kawasan itu selalu dilanda konflik, maka ziarah ke tanah suci bisa terhalang.


Written by rinaldimunir

May 16th, 2015 at 4:32 pm

Posted in Dunia oh Dunia

Di Gaza Hidup dan Mati Tidak Ada Bedanya

without comments

Pada malam hari kami menunggu datangnya siang. Pada siang hari kami menunggu malam, seperti menanti giliran kematian di rumah pembantaian,” kata seorang wanita di Jalur Gaza seperti dikutip Haaretz, Ahad (13/7). (Sumber: Warga Gaza Menunggu Kematian di Rumah Pembantaian).

Seperti itulah keadaan di Jalur Gaza, Palestina, saat ini. Hidup warganya penuh ketakutan, karena mereka tidak tahu kapan terkena bom, peluru, atau mortir yang berjatuhan secara acak di atas kepala mereka. Kebrutalan Israel untuk menghancurkan tentara Hamas telah menyebabkan lebih dari 1600 orang warga Gaza syuhada. Dari subuh hingga ke subuh lagi ratusan bom dimuntahkan dari darat, laut, dan udara ke daratan Gaza oleh tentara Israel. Dengan ganas tentara Israel menembaki apa saja: rumah, sekolah, masjid, rumah sakit, dan warga sipil yang tidak berdosa menjadi korbannya, sebagian besar anak-anak dan wanita. Sementara tidak satupun warga sipil Israel yang menjadi korban, sebab sasaran Hamas adalah tentara Israel, bukan warga sipilnya.

gaza4

gaza5

Setiap hari korban jiwa terus berjatuhan di Gaza. Tubuh-tubuh yang terkoyak, berdarah-darah, anak-anak yang mati terkapar adalah pemandangan yang mengerikan untuk dibayangkan. Apa salah warga Gaza sehingga mereka harus menjadi korban keganasan Israel? Tentara Hamas menembakkan roket ke Israel sebagai pesan kepada negara itu untuk mencabut blokade yang telah menyengsarakan rakyat Gaza bertahun-tahun. Tetapi, Israel membalas roket itu dengan bom-bom pembunuh yang merenggut banyak nyawa warga tak berdosa. Satu warga Israel terbunuh harus dibalas dengan kematian puluhan atau ratusan warga Gaza.

Gaza1

Dunia? Hanya diam membisu. Kematian anak-anak dan wanita Gaza tidak diratapi dunia, bahkan tubuh anak-anak dan wanita yang hancur berdarah-darah tidak mampu melunakkan hati Obama. Amerika akan terus membela Israel dengan mengirimkan senjata dan mesin pembunuh anak-anak, wanita Gaza, dan para orangtua tak berdosa. Kongres AS baru-baru ini menyetujui usulan penambahan dana untuk membantu Israel melawan Hamas. Dalam pandangan Amerika, aksi Hamas adalah terorisme, sedangkan aksi Israel adalah tindakan membela diri.

PBB? Jangan harap, lembaga itu macan ompong, karena Amerika sebagai pelindung utama dan pendukung Israel akan selalu memveto segala upaya pemberian sanksi kepada Israel. PBB tidak berkutik dengan Amerika. Sekjennya hanya bisa mengecam saja, tetapi tidak melakukan tindakan apa-apa kecuali mengusulkan gencatan senjata yang tidak punya arti apa-apa.

Seperti kata wanita di atas, setiap orang di Gaza merasa tinggal menunggu kematian, mati dari bom, mortir, dan peluru penjajah zionis yang datang secara random. Kemanakah mereka mau lari? Tidak ada tempat untuk lari, sebab semua perbatasan sudah diblokade oleh penjajah Israel. Gaza bagaikan kandang penjara raksasa, dan warga Gaza bagaikan kelinci yang berlarian ke sana kemari di dalam kandang itu menghindari mesin pembunuh yang mengejar mereka. Bagi warga Gaza, beda hidup dan mati itu sangat tipis. Antara hidup dan mati tidak ada bedanya, karena sewaktu-waktu mereka bisa tewas oleh serangan bom pembunuh.

Dunia hanya menonton Gaza, dan saya hanya bisa menangisimu.

(Keterangan: sumber foto dari kompas.com, councilforthenationalinterest.org, twitter.com)


Written by rinaldimunir

August 2nd, 2014 at 11:28 pm

Posted in Dunia oh Dunia

Anak-Anak Suriah yang Malang

without comments

Ketika saya berada di Bangkok, saya melihat tayangan berita dari TV Aljazeera kemarin sore yang mengabarkan ratusan (atau mungkin ribuan) warga di pinggir kota Damaskus, Suriah (Syria), mati bergelimpangan setelah menghirup gas beracun mematikan dari bom senjata kimia yang dimuntahkan oleh tentara Presiden Bashar Al-Assad. Sebagian besar korban itu adalah wanita dan anak-anak.

Saya melihat foto anak-anak Suriah yang tewas setelah menghirup gas beracun yang mematikan itu. Mayat-mayat mereka digeletakkan di lantai sebuah ruangan klinik. Foto tersebut saya dapat dari akun ustad Felix Siauw di Fesbuk. Wajah anak-anak yang polos dan tanpa dosa itu diam tak bernyawa. Sama sekali tidak ada luka-luka pada tubuh anak-anak itu, yang membuktikan bahwa mereka mati akibat senjata kimia berupa gas beracun. Foto-foto lainnya yang mengenaskan hati dan tidak sanggup saya tayangkan di sini dapat dilihat pada situs Arrahmah ini.

Jenazah anak-anak Suriah yang menjadi korban bom senjata kimia.

Jenazah anak-anak Suriah yang menjadi korban bom senjata kimia.

Saya menangis melihat foto yang sangat memilukan hati itu. Saya memiliki 3 orang anak sebesar anak-anak Suriah dalam foto di atas. Anda baru merasakan kesedihan yang sangat mendalam jika Anda memiliki anak-anak seusia mereka. Terbayang kan anak-anak kita di rumah yang bermain dengan ceria atau berlari-lari menyambut kita pulang dari kantor. Senyum mereka dan tawa mereka adalah obat kepenatan kita setelah seharian bekerja. Ketika senyum dan tawa itu direnggut oleh kematian akibat pertikaian orang-orang dewasa, betapa hancur lebur hati kita, perih tak terperikan. Barangkali itulah yang dirasakan orang-orang Suriah saat ini, yang mengalami duka sangat mendalam karena sanak keluarganya (termasuk anak-anak mereka) mati mengenaskan akibat perang antara pihak-pihak yang bertikai memperebutkan kekuasaan.

Dalam perang apapun anak-anak yang tidak berdosa selalu menjadi korban. Mereka korban dari perang orang-orang dewasa. Sungguh malang nasibmu anak-anak Suriah. Saya di sini tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menuliskan kepedihan hati melalui blog ini. Saya berharap negeri Suriah, yang merupakan negeri para Nabi pada zaman duu, kembali damai seperti dulu dan anak-anak Suriah bisa hidup dengan riang gembira seperti anak-anak lainnya di muka bumi.

Wahai anak-anak Suriah yang telah suhada, kalian saat ini mungkin sudah berlari-lari di Taman Surga. Orangtua kalian mungkin sudah tiada atau masih ada yang selamat di bumi meratapi nasib kehilangan buah hati tersayang. Hidup itu sangat ganas buatmu, maka Tuhan mengambilmu kembali ke pangkuann-Nya.

“Dan jangan sekali-kali engkau menyangka orang-orang yang terbunuh (gugur Syahid) pada jalan Allah itu mati, (mereka TIDAK mati) bahkan mereka adalah hidup (secara istimewa) di sisi Tuhan mereka dengan mendapat rizki” (QS: Ali Imran:169)


Written by rinaldimunir

August 23rd, 2013 at 8:05 am

Posted in Dunia oh Dunia

Nyawa Manusia Seperti Tidak Ada Harganya

without comments

Apa yang terjadi di Mesir, Syria, Myanmar, Irak, dan belahan dunia lain sungguh memilukan. Puluhan hingga ribuan orang dibunuh oleh penguasa dan rakyat yang marah. Nyawa manusia seperti tidak ada harganya. Di Mesir ratusan pendukung Presiden terguling, Mohammad Mursi, tewas ditembak oleh tentara dengan peluru yang dibeli dari uang rakyatnya sendiri. Di Syria penguasa yang lalim membantai rakyat tak berdosa. Di Myanmar ratusan etnis Rohingya mati karena kebencian rasial. Di Irak puluhan orang tewas oleh bom bunuh diri. Masih banyak lagi di manusia mati karena dibunuh dan terbunuh oleh arogansi manusia lainnya.

Ini bukan masalah agama, tetapi lebih kepada masalah kemanusiaan. Di Mesir, orang yang saling berbunuhan itu adalah sesama muslim sendiri. Tentara dan polisi Mesir itu jelas orang Muslim juga. Jenderal dan Presiden hasil kudetanya seorang Muslim. Jadi, konflik yang terjadi antara pendukung Morsi dengan pihak oposisi (plus militer) bukan dipicu masalah agama. Di Syria juga begitu, kaum pemberontak dan penguasa sama-sama mengaku muslim (meskipun sebagian orang memandangnya sebagai pertarungan antara Syiah dan Sunni). Di Irak juga sama, yang membunuh dan terbunuh adalah saudara seiman mereka sendiri. Hanya di Myanmar konfliknya bergeser ke masalah agama, namun asal mula persoalan bukan karena masalah agama, tetapi masalah kecemburuan sosial, kebencian terhadap etnis, dan akhirnya merembet kepada kebencian kepada simbol-simbol agama.

Darah pertama tertumpah ke muka bumi ketika Qabil membunuh suadaranya Habil. Sejak itu darah manusia tidak pernah berhenti menyirami bumi karena dibunuh atau terbunuh. Rasa kemanusiaan manusia telah hilang ketika dia membunuh orang lain tanpa alasan yang haq. Menyaksikan usus yang tercerai berai, darah yang mengalir ke aspal, isi kepala yang berceceran ditembus peluru, mayat yang gosong karena dilempar ke dalam api, sungguh membuat saya bergidik ngeri. Ke manakah letak peri kemanusiaan orang-orang yang melakukan pembunuhan?

Jangankan membunuh orang, menyembelih ayam atau melihat ayam disembelih saja saya tidak tega dan tidak berani. Bahkan pada Hari Raya Idul Adha, saya tidak berani melihat penyembelihan hewan qurban. Di sisi lain, ada orang yang lebih tega dan lebih kejam daripada penyembelih ayam. Naudzubillah min dzalik.


Written by rinaldimunir

August 19th, 2013 at 8:06 am

Posted in Dunia oh Dunia