if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘dosen belanda’ Category

Belajar Cara Mengajar

without comments

onderwijsSalah satu hal positif yang bisa dipelajari di Belanda adalah cara dosen mengajar, efisien! Contohnya, cara mengelola kelas perkuliahan, kelihatan dosen telah siap, di awal tahun ajaran materi kuliah sudah lengkap dipasang di website (di TU Eindhoven namanya Studyweb, di TU Delft namanya Blackboard), termasuk jurnal bacaan wajibnya. Kemudian di minggu pertama kuliah biasanya dosen memasang file rencana studi, jadwal tiap minggu, jam, ruangan, tema, bacaan yang harus dibaca, rencana minggu keberapa akan ada tugas (individual atau workgroup assignment), dan juga rencana jadwal ujian.

Yang paling menarik adalah, seperti konvensi tidak tertulis, bahwa dosen harus mampu menyampaikan materi yang direncanakan tidak melebihi jam pelajaran, termasuk 15 menit break di dalamnya. Disini, setiap mata kuliah mempunyai break satu kali selama 15 menit, biasanya studenten keluar minum teh/kopi dari vending machine, dan dosen melayani pertanyaan-pertanyaan studenten yang menghampirinya. Biasanya, untuk dapat berbicara dalam waktu yang ditentukan atau dibatasi akan lebih diperlukan persiapan, dibanding jika tidak ada batasan waktu, boleh ngobrol ngalor ngidul. Kalau jam pelajaran berakhir tapi dosennya belum selesai, biasanya studenten ada yang keluar duluan, sebab mungkin dia punya rencana lain, atau memang ini sudah waktunya selesai kok belum selesai, jadi ya ditinggal aja he..he.. Perlu berlatih bicara seperlunya, sistematis, mana yang penting mana yang tidak, tidak repetitif tapi jelas. Hemmm…. semoga saja saya juga jadi terlatih bisa efisien bicara ^_^ Oh iya, saya juga belum pernah menjumpai dosen ijin pada jam mengajar, atau menggagalkan jam kuliah karena dosennya ada acara lain, seingat saya belum pernah.

Yang agak baru bagi saya adalah, untuk satu matakuliah bisa ditangani lebih dari satu dosen, bahkan sampai empat dosen, apalagi matakuliah2 wajib yang bobotnya besar2 (6 ECTS atau 1 semester). Misalnya untuk mata kuliah wajib ‘Evolutionary Foundation for Innovation Sciences’ digerebuk oleh empat dosen sekaligus, dua full professor dan dua assistant professor. Sebab satu mata kuliah dibangun (kolaborasi) dari beberapa grup-grup (section) riset. Seperti mata kuliah tadi, dikelola oleh section ‘Philosophy of Technology: Ethics and Epistemology of Innovation’ untuk bagian ‘evolutionary theory’ nya, kemudian bagian path dependence, technology lock-in & increasing returns, economic geography dikelola oleh section ‘Technology Flows, Knowledge Economy & Economic Performance’, dan untuk bagian transition dikelola oleh section ‘System Innovations & Sustainability Transitions’.

Karena program saya termasuk kelas kecil (sekitar 15-20an studenten), maka seringnya format kelasnya meja bundar alias diskusi, awalnya cukup mengerikan, sebab meja bundar berarti semua orang bakal terlihat, jadi kalau diem saja yach malu berat he..he.. alhasil harus memaksakan diri aktif dalam diskusi, mengejar kemampuan bahasa inggris dan kemampuan berargumentasi (sampe sering nongkrongin videonya chomksy dll), dan tak lupa siap materi sebelumnya sehingga tidak blank. Hal yang baru juga buat saya adalah harus sering membuat proposition (dalil) untuk menjadi bahan diskusi.  Ternyata kudu mikir yach bikinnya :) dan merepresentasikan kepahaman kita terhadap materi dan juga kekritisan.  Sering saya merasa tertantang, sudahlah muslimah berjilbab, dari negara yang bagi mereka dunia ketiga, klo diem saja kok kayak semakin memastikan asumsi mereka bahwa kita teh terbelakang. Makanya kesombongan mereka harus dijawab dengan kemampuan kita, biar nyaho, huh!

Kalau soal nilai, hemmm… pengalaman di program saya kayaknya sih memang rada pelit, jadi 8 wouw, 9 jarang-jarang alias super, 10 wah perfect bisa selametan ^_^ Tapi memang disini tidak meng-endorse nilai, sebab batasnya 6 lulus. Cuman bagi studenten Asia, kalau dapat 6 walaupun lulus kok rasanya aduh kumaha kitu, da terbiasa saingan nilai kita mah dari kecil (beda dengan studenten Belanda) :D :D:D

Oh iya, kertas jawaban ujian kita tidak akan dibagikan kembali, kita boleh membuat janji dengan dosen untuk melihat kertas ujian kita dan mendiskusikan hasil/nilainya jika tidak puas, kalau mau memiliki harus difotokopi, sebab kertas ujian asli akan diarsip dan dihancurkan setelah lima tahun. Mungkin untuk alasan legal/hukum. Kalau dosen memang susah ditebak, ada yang fair, ada juga yang tidak fair loh, underestimate studenten Asia, atau gimanalah (nyebelin yach, klo yg spt ini mah sorry dori mori ga mau lah berurusan lagi dengannya), jadi kalau soal nilai setelah berusaha optimal, serahkan pada Yang Kuasa :)

Episode berikutnya: Belajar Cara Belajar (iAllah abis ujian ya…)

Written by ibu didin

November 3rd, 2010 at 3:37 pm