if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘dmr’ Category

Pelatihan DMR di BPPT, Juni 2014

without comments

bppt-training-dmr-juni2014-2 bppt-training-dmr-juni2014Pada Pemilu Legislatif 2014, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah melakukan uji petik e-rekapitulasi menggunakan teknologi Digital Mark Reader (DMR) dan Unstructured Supplementary Service Data (USSD) untuk penghitungan suara di Kab. Pekalongan.

Kegiatan uji petik tersebut dilakukan bekerjasama dengan pemerintah Kab. Pekalongan sebagai tim pengumpulan data, serta ITB sebagai inventor teknologi DMR dan Indosat sebagai penyedia USSD.

Agar DMR yang dimiliki oleh BPPT dapat lebih bermanfaat untuk kegiatan-kegiatan lain seperti penyebaran kuesioner serta entri data lainnya, pada tanggal 3 Juni 2014 dilakukan workshop & pelatihan DMR bertempat di Gedung Teknologi 3, BPPT, Serpong.

Pelatihan ini diikuti sekitar 20 orang peserta yang berasal dari Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (PTIK) BPPT.

Dari terlaksananya pelatihan DMR tersebut diharapkan bahwa pekerjaan pengumpulan data dan hasil survey dapat dilakukan lebih cepat dan akurat bila dibandingkan dengan prosedur manual yang sebelumnya sering diterapkan oleh PTIK BPPT.

 


Written by arifrahmat

June 7th, 2014 at 10:29 am

Kisruh UN 2013 Berawal dari Peraturan Itu Sendiri

without comments

Koran Kompas, 18 April 2013 halaman 12 memuat berita berjudul “Tipis, Lembar Jawaban UN Sulit Dipindai”.
LJUN Tipis 500

Pemeriksaan UN menggunakan scanner adalah pekerjaan rutin tahunan, lalu apa yang menyebabkan pemeriksaan tahun ini berbeda?

Setiap ruangan akan mendapatkan 21 jenis paket soal yang terdiri dari 20 jenis paket soal untuk peserta dan 1 jenis paket soal cadangan. Lembar Jawaban Ujian Nasional (LJUN) melekat pada naskah soal dan dapat dipotong, untuk memotong lembar jawaban dari lembar soal harus hati-hati agar tidak tersobek.

Setelah lembar jawaban dan soal dipisahkan, selanjutnya silahkan mengisi biodata. Biodata yang diisi harus sesuai dengan yang tertera pada kartu tanda peserta ujian, pada lembar soal juga tidak ada nomor paket, yang ada hanya barcode dan setiap soal itu kemungkinan tidak sama.

Sumber: http://sumsel.kemenag.go.id/index.php?a=berita&id=124069

Kesalahan fatal di sini adalah:

  1. LJUN disobek dari soal, sehingga LJUN menggunakan bahan kertas yang massa jenisnya sama dengan kertas soal, yaitu 70 gsm (baca: 70 gram per meter persegi). Hal ini tidak mengapa bila yang digunakan adalah scanner LJK DMR yang mampu mentolerir kertas tipis. Adapun bila menggunakan scanner OMR (sebagaimana pada UN SMA), umumnya digunakan kertas yang lebih tebal, 100gsm. Mengapa demikian? Scanner OMR tidak mentolerir masuknya kertas yang miring, apalagi ada bekas sobekan yang tidak lurus. Kertas 70gsm sangat letoy dan berpotensi miring saat masuk ke scanner. Oleh karenanya, LJK OMR harus kaku dan tebal. Dengan scanner OMR, bila kertas masuk miring atau ada error, scanning harus diulang. Akibatnya, scanner OMR yang katanya berkecepatan 5000 per jam, pada kenyataannya hanya 1000 sampai 2000 per jam. Ibarat angkutan kota yang top speed-nya 120 kpj, tapi di dalam kota hanya 20-40kpj karena sangat sering berhenti.
  2. Nomor paket pada LJUN tidak lagi tercetak (tak bisa dibaca mata manusia). Hal ini sangat berpotensi menimbulkan kesalahan skoring, karena bisa saja kesalahan terjadi saat pencetakan barcode maupun pembacaan barcode. Bukankah prosedur di swalayan, bila barcode tidak terbaca, petugas kasir harus melakukan entri kode secara manual dengan keyboard? Belum lagi dengan soal dan LJUN yang difotokopi. Pertama, scanner OMR tak mampu baca fotokopian, beda dengan scanner DMR. Walaupun jawabannya dipindahkan ke LJUN asli, bagaimana cara mendapatkan LJUN yang barcode kode soalnya persis sama dengan yang dikerjakan oleh siswa? Pakai mata tak bisa, barcode scanner pun tak tersedia di panitia, apalagi barcode printernya.
  3. Kerumitan pencetakan tidak dibarengi dengan ketersediaan waktu yang memadai. Setidaknya demikian kilah pengacara PT Ghalia, perusahaan percetakan yang membuat UN SMA di 11 propinsi tertunda. Apakah Anda mau membeli koran hari Senin di hari Kamis dengan harga yang sama? Apakah Anda mau melangsungkan resepsi pernikahan dahulu sebelum mencetak undangan resepsinya? Bila ternyata UN dilaksanakan di hari yang berbeda, mengapa harus mencetak soal lagi? Mengapa tidak menggunakan soal yang lama (sebagaimana buku tes psikologi yang digunakan berulang-ulang dan tipe soalnya beragam)? Penghematannya puluhan milyar rupiah lho, cukup mengeluarkan biaya ekspedisi, tak perlu biaya cetak.

Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Sedikit saja kesalahan panitia UN, membuat mereka dihujat publik habis-habisan. Kita doakan saja, mereka mampu fokus bekerja, tak ada siswa yang dirugikan, dan panitia UN Pusat mau belajar dari kesalahannya, tak mengulanginya lagi.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana siswa dapat mengetahui bahwa dirinya tidak dirugikan? Bagaimana siswa dapat meyakini bahwa hasil pekerjaannya diperiksa dengan kunci kode paket soal yang sama dengan yang dikerjakannya? Bagaimana uji petik dan uji publik dapat dilakukan?

Arif Rahmat
Praktisi Pemeriksa Ujian dengan Scanner
Tim Peneliti DMR dari ITB
@arifdmr


Written by arifrahmat

April 18th, 2013 at 1:08 pm

Scanner Periksa Nilai: DMR

without comments

Scanner periksa nilai adalah sebuah penamaan produk (kompetitor) yang kurang tepat. Mengapa demikian? Nilai adalah hasil, adapun yang diperiksa adalah LJK. Jadi, bila Anda membutuhkan Scanner Untuk Pemeriksaan Hasil Ujian Menjadi Nilai, carilah di Google, Scanner LJK DMR.

Digital Mark Reader (DMR) adalah scanner pemeriksa ujian berupa software LJK yang paling banyak digunakan di Indonesia. Selang tujuh tahun sejak diperkenalkan tahun 2004, ribuan lisensi DMR telah digunakan oleh ratusan lembaga di dalam dan luar negeri. Artinya lembaga-lembaga tersebut telah mempercayakan survey, entri data, maupun penilaian hasil ujiannya kepada produk scanner DMR.

Awalnya DMR dibuat untuk digunakan oleh sekolah-sekolah dalam membantu penilaian ujian harian, namun pada kenyataannya, minat yang paling besar justru datang dari pihak profesional, baik itu perusahaan BUMN, swasta, militer, hingga pemerintah pusat dan daerah, baik untuk rekrutmen, sertifikasi, survey maupun psikotes.

Sebuah kebanggaan yang sangat berat tantangannya bagi kami, untuk tetap dapat memberikan pelayanan dan kualitas produk yang terbaik bagi para pengguna DMR. Mohon dukungannya, agar produk DMR terus tumbuh dan berkembang, dengan mendengarkan apa keinginan penggunanya.


Written by arifrahmat

December 27th, 2010 at 1:42 am

Posted in dmr,scanner,techno

Panduan dan Tips Memilih/Membeli Scanner

without comments

Memilih scanner bukanlah hal yang sulit. Di artikel ini, kami akan membagi tips dan panduan memilih serta membeli scanner agar Anda mendapatkan scanner yang terbaik dan sesuai dengan kebutuhan.

1. Scanner A4 Flatbed

Scanner yang umum dijumpai adalah scanner A4 flatbed. Dokumen maupun objek 3 dimensi yang akan dipindai diletakkan pada kaca scanner, lalu lensa di bawah kaca tersebut akan bergerak sambil mengambil gambar. Scanner tipe ini dapat dengan mudah ditemui di toko komputer dan pusat perbelanjaan peralatan elektronik. Kisaran harganya umumnya di bawah Rp 1 juta.

Scanner A4 flatbed butuh waktu 15 hingga 60 detik untuk scanning 1 halaman dokumen. Resolusi scanner flatbed biasanya 600 hingga 4800 dpi. Semakin tinggi dpi, hasil gambar semakin bagus, tetapi waktu yang dibutuhkan untuk scanning semakin lama pula. Scanner ini cocok untuk pekerjaan scanning dalam jumlah sedikit, misal 1 hingga 10 halaman foto maupun dokumen. Apabila jumlah dokumen mencapai ratusan, ribuan, bahkan jutaan lembar, penggunaan scanner ini menjadi tidak efisien.

Kelemahan scanner A4 Flatbed adalah perlunya keseriusan dalam merawat dan membersihkan kaca. Sumber kotoran dapat berasal dari kertas dokumen yang dipindai/di-scan, debu yang menempel pada kaca sebelah dalam, maupun goresan kecil yang muncul tanpa disengaja.
Kotoran kecil saja dapat menjadi pengganggu yang sangat besar pada gambar hasil scanning. Kelemahan lain, scanner A4 Flatbed tidak dapat digunakan untuk scanning kertas berukuran folio/legal.

Merk yang disarankan: Canon.

2. Scanner A4/Folio/Legal Manual Feeding

Bentuk scanner ini sangat mungil, harganya pun relatif murah, antara 1 hingga 3 jutaan. Lensa tidak bergerak, tetapi kertasnya yang bergerak. Kertas yang akan di-scan harus dipilah dan dimasukkan 1 demi 1, tidak dapat ditumpuk begitu saja seperti pada printer. Kecepatan scanning model scanner seperti ini mencapai 3 halaman per menit. Scanner ini cocok untuk scanning puluhan dokumen, tetapi akan cukup melelahkan Anda bila digunakan untuk ratusan dokumen.
Merk yang disarankan: Plustek.

3. Scanner A4/Folio/Legal ADF (Ready Stock @ JualScanner.com)

ADF adalah singkatan dari Automatic Document Feeder. Istilah ADF digunakan untuk scanner yang memiliki input tray seperti pada printer, tumpukan kertas yang akan di-scan diletakkan pada input tray tersebut, lalu kertas akan ditarik secara otomatis oleh scanner satu demi satu.

Ada beberapa ciri, Anda membutuhkan scanner A4/Folio/Legal ADF. Salah satunya saja terpenuhi, maka sebaiknya Anda menggunakan scanner A4/Folio/Legal ADF. Apa saja alasan itu?
1. Jumlah dokumen yang akan di-scan terlalu banyak, jumlahnya ratusan, ribuan, bahkan hingga jutaan lembar. Contohnya dokumen LJK, dokumen arsip tahunan, dokumen entri data berkala, dokumen kuesioner, dokumen yang akan di-PDF-kan, dokumen voting, dsb
2. Anda perlu scanner kencang yang ringkas untuk perjalanan atau dapat diselipkan di tas laptop.
3. Anda perlu scanner yang tidak perlu perawatan yang repot, tahan lama, dan kualitas gambarnya sangat baik untuk pembuatan PDF.
4. Anda perlu scanner yang sangat mudah dalam pengoperasiannya, cukup dengan meletakkan kertas pada tray, tanpa menekan 1 tombol pun.
5. Anda perlu melakukan scanning dokumen dengan beragam ukuran, namun waktu yang tersedia sangat sedikit.
6. Anda perlu melakukan scanning puluhan kartu nama yang secara otomatis kontennya dapat disinkronkan dengan Microsoft Outlook.
7. Anda membutuhkan fitur color dropout dan punch hole removal, membuang warna tertentu dan menghilangkan lubang hitam bekas jilid saat scanning dokumen.
8. Dokumen yang akan di-scan berukuran legal dengan panjang 14 inci.
9. Anda perlu membangun image sebagai perusahaan atau lembaga yang maju dan menggunakan teknologi tinggi dan terbaru, salah satunya untuk pengarsipan dokumen dengan mengurangi pencarian dokumen fisik yang banyak memakan tempat.

Harga scanner A4/Folio/Legal ADF berkisar Rp 3.000.000 hingga Rp 20.000.000.

Merk dan tipe scanner A4/Folio/Legal ADF yang disarankan:
Kecepatan 15ppm: Canon P-150
Kecepatan 20ppm: Plustek PS-281/Canon DR-2010 / Kodak Scanmate i1120
Kecepatan 30ppm: Canon DR-3010
Kecepatan 40ppm: Fujitsu fi-6130 / HP Scanjet 7000
Kecepatan 60ppm: Fujitsu fi-6140

4. Scanner A3 Flatbed
Ukuran A3 sama dengan 2 kali ukuran kertas A4. Harga scanner A3 Flatbed berkisar antara 12 hingga 20 juta rupiah. Resolusi yang didukung 600 hingga 1600 dpi. Serupa dengan scanner A4 Flatbed, scanner A3 Flatbed juga perlu dijaga kebersihan kacanya agar kualitas gambar tetap baik. Penggunaan scanner A3 flatbed biasanya untuk scanning kardus, tabloid, serta dokumen lain yang berukuran A3. Scanning dokumen folio maupun legal sebenarnya tidak perlu menggunakan scanner A3, cukup dengan scanner A4/Folio/Legal ADF.

Merk dan tipe Scanner A3 Flatbed yang disarankan: Plustek A320

5. Scanner A3 ADF
Harga scanner A3 ADF kelas menengah berkisar antara 40 juta hingga 100 juta rupiah. Namun ada beberapa tipe juga yang mencapai 200 hingga 300 juta rupiah, sering dikelompokkan sebagai scanner kelas produksi.
Kecepatan scanning scanner A3 ADF apabila digunakan untuk scanning dokumen A4 (mode landscape) mulai dari 50 ppm hingga 120ppm. Tersedia pula kombinasi scanner A3 ADF dan flatbed untuk fleksibilitas jenis dokumen yang akan di-scan.
Merk dan tipe Scanner A3 ADF yang disarankan:
Kecepatan 50ppm: Canon DR-5010
Kecepatan 60ppm: Fujitsu fi-5530C2
Kecepatan 72ppm: Fujitsu fi-6750S (A3 ADF simplex + Flatbed)
Kecepatan 90ppm: Fujitsu fi-6670/Canon DR-9050 (60 s/d 100 jutaan)
Kecepatan 100ppm: Fujitsu fi-6800 (200 jutaan)
Kecepatan 120ppm: Fujitsu fi-5900C/Canon DR-X10C (300 jutaan)

6. Scanner A2 sampai A0
Harga scanner A2 sampai A0 umumnya ratusan juta rupiah, tetapi untuk ukuran A2 ada yang di bawah 50 juta rupiah. Dokumen yang biasanya di-scan dengan Scanner A2 – A0 adalah dokumen peta, cetak biru, rancangan produk, dan sebagainya.
Merk dan tipe Scanner A2 sampai A0 yang disarankan: Contex

7. Scanner LJK
Dahulu, untuk memeriksa scanner LJK dibutuhkan scanner OMR. Scanner OMR tidak menghasilkan image, namun data teks. Scanner OMR hanya digunakan untuk entri data, voting maupun pemeriksaan ujian dan kuesioner.

Maraknya penggunaan scanner dokumen di tahun 2000-an telah menambah fungsi scanner dokumen tersebut menjadi scanner LJK. Untuk mewujudkannya, ITB melakukan riset tentang alat pemeriksa ujian berbiaya rendah. Hasil dari Riset Unggulan ITB tersebut kemudian melahirkan Digital Mark Reader (DMR).

Secara teknis, DMR dapat dipasangkan dengan semua merk dan tipe scanner dokumen, flatbed maupun ADF. Namun untuk kepraktisan dan jaminan kualitas serta kecepatan, DMR hanya disarankan dipasangkan dengan beberapa tipe scanner yang telah teruji baik. Tipe-tipe tersebut telah dipaketkan menjadi beberapa pilihan, scanner DMR paket sekolah dan scanner DMR paket umum. Dengan ribuan pengguna, DMR telah menjadi pilihan utama pemeriksa LJK yang paling akurat, tercepat dan teruji.

Digital Mark Reader (DMR) is a data acquisition software bundled with image scanners as a replacement for OMR scanners. DMR is capable of scoring examination and questionnaire for education purposes, to data entry & customer satisfaction in manufacture companies.

8. Modul Scanner Mesin Fotocopy
Ada 2 jenis karakter scanner ADF yang terpasang pada mesin fotocopy:
1. Scanning berlangsung cepat, image disimpan di memori mesin, lambat saat dipindahkan ke komputer.
2. Scanning berlangsung lambat, image langsung disimpan di komputer.
Modul scanner pada mesin fotocopy umumnya tidak dapat memberikan performa yang baik bila hanya digunakan untuk scanning. Modul scanner tersebut dirancang untuk lebih bermanfaat ketika dipakai sebagai mesin pengganda alias fotokopi, sebagaimana fungsi utamanya.

9. Scanner All-In-One

HP 4110, HP4255, HP 4355, HP J3508 adalah deretan contoh scanner All-In-One dari masa ke masa sejak tahun 2004. Disebut All-In-One karena bukan hanya scanner, terdapat juga printer, fungsi mesin fax, dan fungsi fotokopi. Kisaran harga scanner All-In-One mulai dari 700 ribu hingga 2 jutaan.

10. Scanner Film

Berbeda dengan scanner dokumen, scanner film dibuat untuk scanning negative film. Dengan kemampuan resolusi yang lebih tinggi,  scanner film dapat menjadi scanner microfilm yang marak digunakan untuk menyimpan data pada film-film spy tahun 60-70-an.

Di mana tempat beli scanner yang terbaik? Tentu di JualScanner.com.

Harap diketahui, JualScanner.com belum menjual Scanner A4 Flatbed dan scanner film.


Ujian SMR di BSMR Diperiksa Dengan DMR

without comments

Bank Indonesia meluncurkan program Sertifikasi Manajemen Risiko (SMR), sebagai tindak lanjut dari Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/19/PBI/2009 tentang Sertifikasi Manajemen Risiko Bagi Pengurus dan Pejabat Bank Umum. Seiring dengan pelaksanaan program ini maka diharapkan akan muncul SDM perbankan yang berkualitas untuk membawa dan meningkatkan kualitas perbankan di Indonesia.

Program sertifikasi ini dibuat dalam 5 (lima) tingkat berdasarkan jenjang jabatan dan struktur organisasi bank, masing-masing tingkatan memiliki bobot penekanan yang berbeda-beda terhadap 5 aspek penilaian, yaitu masa kerja di industri perbankan (years of service), pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), perilaku/sikap (attitude), dan pengalaman (experience).

Badan Sertifikasi Manajemen Risiko (BSMR) bertugas untuk menyelenggarakan sertifikasi manajemen risiko yang mengacu pada international best practices, menerbitkan sertifikat manajemen risiko, mencabut sertifikat apabila pemegang sertifikat terbukti bersalah melakukan pelanggaran di bidang perbankan berdasarkan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap atau pelanggaran kode etik profesi, serta melaporkan kegiatan yang berhubungan dengan sertifikasi secara berkala kepada Bank Indonesia.

Bank Indonesia dalam hal ini memiliki kewenangan untuk tidak mengakui sertifikat manajemen risiko yang dimiliki pengurus dan pejabat Bank apabila ditemukan permasalahan kompetensi dan integritas berdasarkan hasil pengawasan dan pemeriksaan.

Sumber: Situs web BSMR

Sebelum BSMR  menerbitkan sertifikat manajemen risiko, para bankir tersebut perlu diuji. BSMR mensyaratkan bahwa pelaksanaan ujian harus dapat diperiksa dengan kecepatan yang sangat tinggi, untuk itulah digunakan scanner gambar digital berkecepatan 120 lembar per menit dilengkapi dengan Digital Mark Reader (DMR) sebagai sistem pemeriksa LJK ujiannya.

Berikut ini kutipan dari Booklet BSMR hal. 13:

  • Sanksi
    - Bagi Bank yang tidak memenuhi ketentuan dapat dikenakan sanksi administratif berupa penurunan aspek manajemen dalam penilaian tingkat kesehatan.
    - Bagi Bank yang tidak mengganti Komisaris dan Manajer Risiko Bank yang tidak memiliki Sertifikat Manajemen Risiko dikenakan sanksi administratif berupa penurunan tingkat kesehatan dan kewajiban membayar sebesar Rp 1 juta per hari untuk setiap Komisaris atau Manajer Risiko Bank dan paling tinggi sebesar Rp 100 juta.
  • Peralihan
    - Bank wajib mengikutsertakan setiap Komisaris dan Pejabat Bank yang dipersyaratkan untuk memiliki Sertifikat Manajemen Risiko pada berbagai tingkat (level) paling lambat 5 (lima) tahun sejak diberlakukannya Peraturan Bank Indonesia.
    - Sertifikat Manajemen Risiko yang telah dimiliki oleh Komisaris dan Direksi Bank melalui Program Eksekutif dinyatakan tetap berlaku selama jangka waktu 5 (lima) tahun sejak berlakunya Peraturan Bank Indonesia dan diakui sebagai Sertifikat Manajemen Risiko yang sesuai dengan tingkatan sertifikat yang dipersyaratkan serta ukuran dan kompleksitas usaha Bank.
    - Setelah berakhirnya jangka waktu 5 (lima tahun) sebagaimana tersebut di atas,
    Komisaris dan Direksi Bank wajib memiliki Sertifikat Manajemen Risiko sesuai
    dengan ukuran dan kompleksitas usaha Bank

Written by arifrahmat

May 4th, 2010 at 1:46 pm

DMR Untuk Ujian Sertifikasi

without comments

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menetapkan sejumlah nama mantan pejabat negara yang terbukti melakukan pelanggaran dan berdampak merugikan negara. Mantan Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah, mantan Menteri Kesehatan Achmad Suyudi, serta mantan Menteri Dalam Negeri Mardiyanto merupakan sekian dari banyaknya pejabat negara yang terseret kasus korupsi.

Bila ditelisik lebih dalam, kasus yang menyeret banyak pejabat negara itu bermuara pada masalah pengadaan barang dan jasa pemerintah (lelang). Para pejabat negara ini menggunakan kekuasaannya dengan penunjukkan langsung yang menyalahi aturan.

Kehadiran Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) yang dibentuk berdasarkan Perpres 106/2007 mungkin dapat memberikan alternatif solusi bagi pejabat tinggi negara yang belum memahami dengan baik tentang aturan pengadaan.
Sebab pembentukan lembaga ini bertujuan salah satunya untuk mengurangi kasus-kasus yang membelit banyak pihak dalam hal pengadaan barang dan jasa pemerintah.

LKPP sebagai satu-satunya lembaga pemerintah yang mempunyai tugas mengembangkan dan merumuskan kebijakan pengadaan barang dan jasa pemerintah memberikan advokasi dan pendampingan dalam rangka mewujudkan pengadaan barang/jasa yang transparan, bebas korupsi, dan bertanggung jawab. Ini sesuai dengan cita-cita pemerintah yang terus menerus mendorong terwujudnya good governance.

Dikutip dari tulisan
Heni Rosmawati,MSi – Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Opini, Lampung Post 05 Maret 2010, disalin dari situs web LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) sebagai pelaksana ujian sertifikasi keahlian pengadaan barang dalam 5 tahun terakhir telah melaksanakan lebih dari 4.000 kali ujian yang diikuti oleh lebih dari 500 ribu peserta.

Tempat pelaksanaan ujian sertifikasi tersebut tidak hanya di pusat, tetapi juga di tingkat propinsi maupun kota/kabupaten. Untuk pelaksanaan ujian dengan menggunakan Lembar Jawaban Komputer (LJK), LKPP menggunakan sistem Digital Mark Reader (DMR) yang dipasangkan dengan scanner dokumen berkecepatan tinggi. Dengan demikian, proses pemeriksaan ujian dapat dilangsungkan dalam waktu yang singkat dengan sumber daya yang hemat.

Penggunaan DMR untuk ujian sertifikasi tidak hanya dilakukan di LKPP. Beberapa ujian sertifikasi lain pemeriksaan ujiannya menggunakan DMR antara lain:


Written by arifrahmat

May 4th, 2010 at 11:22 am

Soal Pilihan Ganda Lebih Dari 1 Jawaban

without comments

Biasanya, pada soal pilihan ganda, pemeriksa soal akan memberikan hukuman nilai minus atau setidaknya nilai 0 untuk jawaban yang lebih dari 1.

Namun, ada beberapa penyelenggara ujian maupun kuesioner yang ternyata membolehkan jawaban lebih dari 1. Nah, untuk mengakomodir hal ini, DMR memiliki Multiple Answer Mode, di mana lebih dari satu jawaban dapat dianggap sebagai jawaban.

Ingin tahu lebih banyak tentang DMR? Kunjungi http://www.digitalmarkreader.com


Written by arifrahmat

March 26th, 2010 at 10:13 am