if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Cerita Ranah Minang’ Category

Gema Adzan di Bandara Minangkabau Padang

without comments

Jika Anda bepergian dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Padang, adakah sesuatu yang berbeda yang tidak ditemukan di bandara lain di Indonesia?

Bukan bentuk atapnya yang tradisional khas rumah gadang yang membuatnya berbeda, bukan pula karena satu-satunya bandara yang namanya diambil dari nama etnik, bukan itu maksud saya. Tapi, jika anda seorang muslim, maka Anda akan merasakan sesuatu yang berbeda itu, yaitu dikumandangkannya suara adzan pertanda waktu sholat wajib. Jika anda berada di bandara ini pada waktu masuk shalat, maka jangan kaget tiba-tiba terdengar suara adzan menggema melalui pengeras suara, menembus semua sudut dan ruang-ruang di bandara, mengingatkan umat muslim bahwa waktu sholat wajib sudah tiba dan segeralah menunaikan shalat. Setahu saya baru adzan Magrib dan Dhuhur yang pernah saya dengar.

Suasana di dalam bandara

Suasana di dalam bandara

Suasana ruang chek-in. Orang-orang yang berdiri di lantai dua pada foto ini adalah mereka yang antri untuk wudhu dan sholat di mushola yang kecil.

Suasana ruang chek-in. Orang-orang yang berdiri di lantai dua pada foto ini adalah mereka yang antri untuk wudhu dan sholat di mushola yang kecil.

Saya tiba di bandara ini beberapa saat sebelum masuk adzan Maghrib. Ketika sedang chek-in, bergemalah suara adzan Maghrib. Terlihat orang-orang menuju mushola kecil di lantai dua. Karena tempat wudhu kecil dan ruang sholat juga kecil, maka sholat harus bergiliran (lihat foto di atas). Bahkan, karena sempitnya mushola, maka terpaksa lorong di sebelah mushola dimanfaatkan sebagai mushola kedua.

Jamaah yang sholat Maghrib di lorong sebelah mushola

Jamaah yang sholat Maghrib di lorong sebelah mushola

Sebagai daerah yang mempunyai filosofi adat basandi syara’ dan syara’ basandi kitabullah (yang artinya adat bersendikan pada syariat agama yaitu Islam, dan syariat agama bersendikan pada kitab suci Al-Quran), maka salah satu pengejawantahan filosofi itu mungkin gema adzan pada ruang publik seperti bandara ini. Meskipun filosofi Minangkabau tersebut saat ini sudah mulai terlihat luntur dan kurang dipegang teguh oleh sebagian masyarakatnya (contohnya kemaksiatan yang banyak terdapat di sepanjang Pantai Padang), tetapi masih ada usaha Pemerintah Daerah untuk tetap melestarikan filosofi tersebut, antara lain gema adzan di bandara BIM ini.

Saya katakan gema adzan di bandara hanya ada di BIM karena di Bandara Iskandar Muda Banda Aceh sendiri saya tidak mendengar suara adzan melalui pengeras suara di bandara tersebut (koreksi jika saya salah). Itu pengalaman saya ketika ke Banda Aceh beberapa tahun lalu, padahal Aceh adalah daerah dengan penerapan Syariat Islam.

Semoga gema adzan di BIM tetap lestari dan dipertahankan oleh pengelola bandara sebagai salah satu ciri khas bandara ini.


Written by rinaldimunir

February 23rd, 2014 at 8:03 pm

Tidak Ada Ind*mart dan Alf*mart di Sumbar

without comments

Minggu lalu saya melakukan perjalanan ke beberapa kota di Sumatera Barat bersama teman-teman dosen lain di kampus. Suatu malam teman saya keluar dari hotel untuk mencari minimarket di kota Bukittinggi guna membeli beberapa barang keperluan sehari-hari. Dia bercerita kepada saya tentang keheranannya tidak menemukan Ind*mart atau Alf*mart di Bukittinggi, padahal kalau di Bandung sangat mudah menemukannya.

Saya senyum-senyum saja mendengarnya. Sejak dulu sampai sekarang memang tidak ditemukan minimarket waralaba seperti yang saya sebutkan di atas di seluruh tempat di provinsi Sumatera Barat. Sudah berkali-kali saya pulang kampung dan tidak menemukan kedua minimarket tersebut hingga saat ini, baik di kota Padang sebagai ibukota Provinsi maupun di kota-kota lainnya di Sumbar. Alasan yang saya dengar adalah tidak (atau mungkin belum) diizinkan oleh Pemda. Padahal di propinsi tetangga seperti Riau dan Jambi kedua minimarket waralaba itu sudah berdiri sejak lama.

Kalau di Jakarta atau Bandung mau mencari barang keperluan malam-malam mah gampang, tinggal pergi ke minimarket tersebut karena tokonya ada di setiap sudut. Kedua minimarket warabala itu sangat ekspansif membuka gerai hingga ke pelosok kota kecamatan di kabupaten-kabupaten. Di Jawa Barat sendiri, selain kedua minimarket raksasa itu yang sudah dikenal, ditambah lagi dengan minimarket waralaba dari anak perusahaan Yogya Departement Store, yaitu Y*mart. Di perumahan saya di Antapani misalnya, dalam jarak kurang dari seratus meter terdapat salah satu dari ketiga minimarket tersebut, kalau tidak Alf*mart, ya Ind*mart, kalau nggak Y*mart. Bahkan, beberapa gerai saling berdekatan dalam jarak beberapa meter saja seperti pada foto di bawah ini. Di mana ada Ind*mart disitu ada Alf*mart:

Dua minimarket Alf*mart dan Ind*mart yang saling berdekatan (Sumber: http://www.ecampindonesia.com/5-alasan-mengapa-indomaret-dan-alfamart-selalu-berdekatan/)

Dua minimarket Alf*mart dan Ind*mart yang saling berdekatan (Sumber: http://www.ecampindonesia.com/5-alasan-mengapa-indomaret-dan-alfamart-selalu-berdekatan/)

Keberadaan minimarket yang menjamur itu sudah menjadi perhatian serius Pemda tingkat 2 di Jabar, sebab ada kekhawatiran keberadaanya dapat mematikan keberadaan pedagang tradisionil. Dengan suasana toko yang modern, terang, ber-AC, barang yang tertata apik, aneka barang yang cukup lengkap, dan harga jual yang pasti, membuat orang lebih suka berbelanja di minimarket waralaba tersebut. Minimarket waralaba sering dituding sebagai penyebab warung-warung atau toko kelontong menjadi sepi pembeli. Hukum alam pun berlaku bahwa yang kuat yang akan menang, yang kalah akan tersisih.

Mungkin kekhawatiran itu pula yang menjadi alasan Pemda Sumbar tidak memberi izin membuka gerai waralaba Ind*mart dan Alf*mart di seluruh daerah di propinsi Sumatera Barat. Orang Minang terkenal dengan jiwa dagangnya, sehingga larangan membuka gerai minimarlet waralaba bertujuan untuk melindungi keberadaan pedagang tradisionil yang notabene penduduk asli. Namun bukan berarti tidak ada minimarket sama sekali di sana, ada juga minimarket tetapi sifatnya milik perorangan dan bukan waralaba.

Dalam pikiran saya, larangan membangun minimarket waralaba seperti Ind*mart dan Alf*mart di Sumbar ada sisi positif dan sisi negatifnya. Sisi positifnya seperti yang saya sebutkan di atas, yaitu melindungi eksistensi pedagang tradisionil. Namun sisi negatifnya juga ada, pedagang tradisionil menjadi tidak punya trigger untuk meningkatkan kualitas dagangan maupun layanannya. Akhirnya kualitas dagangan dan kualitas layanan pedagang tradisionil ya begitu-begitu saja. Padahal kalau ada pesaing, maka setiap pedagang pasti berusaha untuk meningkatkan kualitas dagangan dan layanan untuk menarik calon pembeli datang.

Kalaupun nanti akhirnya pintu perizinan mimarket waralaba jebol di Sumbar, saya tetap tidak menginginkan pertumbuhan waralaba di Sumbar seperti di Jawa Barat. Minimarket waralaba di Sumbar tetap harus dibatasi, persyaratannya harus ketat (misalnya berjarak cukup jauh dari pasar/kios tradisional), dan yang paling penting adalah bersinergi dengan para pedagang tradisioninil, dalam arti saling menguntungkan kedua belah pihak.


Written by rinaldimunir

January 2nd, 2014 at 12:36 pm

Poster Film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” yang Bikin Miris Itu

without comments

Melihat poster film Tenggalamnya Kapal Van Der Wjck (TKVDW) membuat saya miris. Saya memang belum menonton filmnya, tetapi poster film tersebut sangat kontroversial menurut saya. Lihatlah pakaian yang dikenakan oleh Hayati, tokoh utama yang digambarkan di dalam film itu, sangat jauh dari penggambaran Buya Hamka tentang Hayati di dalam novelnya yang berjudul sama yang kemudian difilmkan.

tenggelamnya kapal van der wijck

Saya sudah berkali-kali membaca novel TKVDW, sejak masih kecil dulu. Hayati adalah gadis Minang yang sangat kuat memegang teguh adat dan agama. Hayati digambarkan selalu berbaju kurung dan berselendang sebagaimana jamaknya perempuan Minang pada zaman dulu. Tidak hanya dalam soal pakaian, Hayati juga selalu menjaga hubungan dengan lelaki yang bukan mahramnya (dalam hal ini Zainuddin), tidak sekali-kali dia bertemu dengan Zainuddin berduaan saja, apalagi memakai pakaian yang jauh dari aturan adat dan agama.

Tetapi dalam poster itu (entah juga dalam filmnya), Hayati digambarkan memakai pakaian seperti kutang, tidak berlengan, dan auratnya (maaf) kelihatan. Mana ada perempuan Minangkabau zaman dulu yang berpakaian kutang seperti itu? (kalau sekarang mungkin sudah berubah). Apa maksud sutradara memvisualisasikan busana demikian? Supaya kelihatan seksi dan mirip dengan film Titanic?

Adaptasi novel ke dalam film boleh-boleh saja, tetapi adaptasi yang terlalu jauh dari novel aslinya dapat merusak imaji yang sudah tertanam selama ini terhadap budaya Minangkabau. Saya masih lebih respek penggambaran Hamid dan Zainab di dalam film Di Bawah Lindungan Ka’bah yang juga diangkat dari novel Buya Hamka, meskipun dari sisi cerita saya cukup kecewa. Lihatlah busana yang mereka gunakan, masih relevan dengan pengambaran perempuan Minangkabau pada zaman dulu.

Adegan film Di Bawah Lindungan Ka'bah

Adegan film Di Bawah Lindungan Ka’bah

film_di_bawah_lindungan_ka_bah-20110817-027-uji

Saya tidak tahu bagaimana tanggapan keluarga (alm) Buya Hamka setelah melihat poster film TKVDW. Andai Buya Hamka masih hidup saya yakin beliau akan marah atau protes karena sutradara film telah melencengkan visualisasi Hayati jauh dari gambaran perempuan Minang yang islami (sebagaimana karya-karya Hamka sebelumnya). Saya yakin banyak orang Minang yang terusik dengan poster film TKVDW tersebut karena tidak rela tokoh Hayati dan Zainuddin digambarkan terlalu bebas. Entahlah bagaimana pula jalan cerita di dalam filmnya.


Written by rinaldimunir

November 13th, 2013 at 4:54 pm

Jembatan Layang “Kelok Sambilan” nan Mempesona

without comments

Beberapa hari yang lalu Presiden SBY meresmikan jembatan layang di Kelok Sambilan (Kelok 9) di Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Kelok Sambilan (yang artinya belokan jalan yang jumlahnya sembilan buah) adalah salah satu kelok jalan yang terkenal di Sumatera Barat. Selain Kelok Sambilan, ada lagi Kelok Ampek Puluh Ampek (Kelok 44) di sekitar Danau Maninjau, Kabupaten Agam.

Jalur Kelok Sambilan adalah jalur lalu lintas yang penting, sebab ia menghubungkan daerah Riau dengan Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Dari Pekanbaru ke Padang pasti melewati Kelok 9 ini, begitu juga dari Sibolga (Sumatera Utara) ke daerah Riau juga melewati Kelok 9. Pengalaman saya dulu, kalau bepergian dari Pekanbaru hendak pulang ke Padang atau Bukittinggi selalu melewati Kelok 9. Jalur Kelok 9 cukup membuat perut teraduk-aduk karena tikungannya yang tajam dan banyak.

Kelok Sambilan sebelum ada jembatan layang (Sumber: http://warun99ambar.blogspot.com/2012/12/kelok-9-sumatera-barat.html)

Kelok Sambilan sebelum ada jembatan layang (Sumber: http://warun99ambar.blogspot.com/2012/12/kelok-9-sumatera-barat.html)

Karena Kelok 9 adalah jalur yang penting, maka jalur ini cukup ramai. Pada musim liburan seperti lebaran pasti macet karena banyaknya pengguna kendaraan yang melewatinya. Selain macet, waktu tempuh juga lebih lama karena jalurnya yang panjang. Untuk mengatasi kemacetan dan memperpendek waktu tempuh, maka Pemerintah membangun jembatan layang di atas Kelok 9 ini. Jembatan itulah yang diresmikan oleh Pak Beye dua hari yang lalu.

Saya melihat foto jembatan layang itu di Internet, waaahh… sungguh cantik dan mempesona, dipadu dengan pemandangan alam pegunungan Bukit Barisan yang menjadi dindingnya. Jembatan layang Kelok Sambilan terlihat meliuk-liuk di antara bukit-bukit yang curam. Bentuknya mirip seperti jalur tamiya, itu lho jalur balap untuk mobil mainan anak yang dirakit dan dijalankan dengan batere, he..he.

Di bawah ini beberapa foto jembatan layang Kelok sambilan yang saya peroleh dari berbagai sumber di Internet.

Jembatan layang Kelok sambilan (Sumber: http://www.setkab.go.id/nusantara-10738-.html

Jembatan layang Kelok sambilan (Sumber: http://www.setkab.go.id/nusantara-10738-.html

Jembatan layang Kelok Sambilan (Sumber: http://smknews.net/sekilas-tentang-kelok-9/)

Jembatan layang Kelok Sambilan (Sumber: http://smknews.net/sekilas-tentang-kelok-9/)

Jembatan layang Kelok Sambilan. Tinggi kaleee... (Sumber: http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=1570949&page=7)

Jembatan layang Kelok Sambilan. Tinggi sekali! (Sumber: http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=1570949&page=7)

Jembatan layang Kelok 9 dikala malam (Sumber: https://pbs.twimg.com/media)

Jembatan layang Kelok 9 dikala malam (Sumber: https://pbs.twimg.com/media)

Memang itu cuma foto-foto jepretan orang lain saja, saya belum melihat sendiri jembatan layang tersebut. Pengen lihat ke sana ah kalau pulang kampung.


Written by rinaldimunir

November 1st, 2013 at 4:22 pm

Senja di Masjid Jami Birugo, Bukittinggi

without comments

Ketika libur lebaran yang lalu, saya dan keluarga mudik ke rumah istri di kota Bukittinggi. Rumah orang tua istri terletak di dekat daerah Birugo. Di pinggir Jalan Sudirman di kawasan Birugo terdapat sebuah masjid yang cantik, namanya Masjid Jami Birugo. Di bawah ini foto-fotonya.

Masjid Jami Birugo dengan sebuah rumah gadang di sebelahnya.

Masjid Jami Birugo dengan sebuah rumah gadang di sebelahnya.

Anak saya di depan Masjid Jami Birugo.

Anak saya di depan Masjid Jami Birugo.

Tidak jauh dari Masjid Jami Birugo, ada sebuah surau (mushala) dengan menara mirip Jam Gadang yang menjadi landmark kota Bukittinggi.

Mushola dengan menara seperti Jam Gadang.

Mushola dengan menara seperti Jam Gadang.

Di depan mushalla ada kolam. Surau-surau di ranah Minang (terutama yang di pedalaman) selalu ada kolam di depannya. Dulu kolam itu diguakaan untuk berwudhu, sekarang fungsinya tidak lebih sebagai penampung air bekas wudhu.

Kolam di depan surau

Kolam di depan surau

Selain di masjid, masih banyak rumah-rumah penduduk di Bukittinggi dilengkapi dengan kolam, seperti foto di bawah ini.

Kolam di samping rumah penduduk.

Kolam di samping rumah penduduk.

Gunung Singgalang tampak dari rumah-rumah penduduk di Birugo.

Gunung Singgalang tampak dari rumah-rumah penduduk di Birugo.

Rumah-rumah penduduk dengan arsitektur rumah gadang masih banyak ditemukan di Bukittinggi, seperti di kawasan Birugo ini. Rumah gadang beratap seng berada di sela-sela rumah modern.

Rumah penduduk dengan arsitektur rumah gadang.

Rumah penduduk dengan arsitektur rumah gadang.

Rumah penduduk peninggalan zaman dahulu, masih eksis sampai sekarang.

Rumah penduduk peninggalan zaman dahulu, masih eksis sampai sekarang.

Satu lagi rumah penduduk peninggalan zaman dahulu di Birugo.

Satu lagi rumah penduduk peninggalan zaman dahulu di Birugo.


Written by rinaldimunir

August 30th, 2013 at 1:17 pm

Jadi Gitu Toh Film “Cinta Tapi Beda”? Pesan Moralnya Sangat Buruk!

without comments

Sutradara Hanung Brahmantyo sekali lagi membuat film yang menyulut kontroversi. Kali ini orang Minang yang merasa dilecehkan oleh film Cinta Tapi Beda (CTB) yang dibuatnya. Dalam film tersebut digambarkan percintaan sepasang manusia yang berbeda agama. Sayangnya Hanung mengambil setting yang tidak pas. Dalam film itu Diana digambarkan gadis asal Padang tetapi beragama Katolik dan menjalin pacaran dengan seorang pemuda muslim asal Yogya. Bukan kisah cinta beda agamanya yang menjadi masalah sebab realitanya hubungan berbeda keyakinan itu memang ada dan cukup banyak, tetapi kalau berujung ke pernikahan akan terbentur aturan. UU Perkawinan di negara kita tidak membolehkan pernikahan pasangan yang berbeda agama. Dalam agama Islam KUA tidak akan mau menikahkan, setahu saya dalam agama lain juga sama kecuali jika pasangan yang berbeda agama berpindah keyakinan terlebih dahulu.

Yang menjadi masalah dalam film CTB itu adalah penggambaran Diana gadis asal Padang yang beragama Katolik. Hanung boleh saja berkelit bahwa yang dia maksudkan adalah Diana dari kota Padang, bukan Diana gadis Minang. Di kota Padang kan tidak hanya orang Islam saja yang tinggal di sana, tetapi orang bermacam-macam suku dan agama, bahkan ateis, hidup di sana. Dalam hal ini Hanung benar, Padang adalah kota besar, di Padang banyak orang Cina, Nias, Batak, dan lain-lain yang hidup damai. Orang Padang tidak seluruhnya orang Minang itu betul, dan orang Padang tidak seluruhnya bergama Islam, itu juga betul.

Tetapi, sukar membantah kalau Diana itu bukan gadis Minang. Setting film yang menggmbarkan musik saluang, Jam Gadang, masjid tua, apakah itu bukan menggambarkan Diana adalah seorang Minang? Saya menduga Hanung ini menyangka Minang itu sama dengan Padang, orang Minang = orang Padang seperti simplifikasi orang luar selama ini terhadao suku Minangkabau. Bahwa Diana gadis Minang makin dipertegas secara tidak langsung oleh pernyataan Hanung di media ketika meluncurkan film CTB: “Yang menarik dari film ini adalah bukan tentang agama, tetapi tentang profesi chef dan penari, yang satu Jawa dan yang satu Padang, yang satu patrilineal dan satu lagi matrilineal. Beda dalam arti yang luas bukan hanya tentang agama.” tukas Hanung. Nah, suku apa di Indonesia yang menganut asas matrilineal? Hanya suku Minang, tidak ada yang lain.

Hmm… lalu apa yang salah kalau Diana gadis Padang (baca: Minang) beragama bukan Islam? Tidak ada yang salah kalau ada orang Minang yang tidak beragama Islam. Lalu, apakah tidak boleh orang Minang beragama bukan Islam? Itu boleh-boleh saja sebab negara kita menjamin kebebasan rakyatnya untuk memeluk suatu agama atau berpindah agama sesukanya. Kasus-kasus orang Minang berpindah keyakinan memang ada, dan kebanyakan kasus karena hubungan perkawinan. Teman saya waktu kuliah, seorang perempuan berjilbab, sekarang sudah tidak muslim lagi karena menikah dengan lelaki beragama lain. Bahkan adik Buya Hamka (yang berbeda ayah) adalah seorang pendeta dan adik K.H Agus Salim pun pindah keyakinan menjadi seorang non-muslim.

Namun, setelah seorang Minang keluar dari agama Islam, maka secara adat dan budaya dia tidak disebut orang Minang lagi. Begitulah falsafah Minangkabau yang berbunyi adat basandikan syarak dan syarak basandikan Kitabullah (ABS-SBK), yang artinya adat bersendikan pada syariat agama (Islam) dan syariat agama bersendikan pada Al-Quran. Semua orang Minang paham dengan falsafah ini. Adat dan agama sudah menyatu dalam kehidupan seorang Minang, sama halnya seperti adat dan agama Hindu yang menyatu pada orang Bali. Jadi, kalau orang Minang itu identik dengan orang Islam memang sudah ada dasarnya dan itu dipahami oleh orang Minang sejak dulu, dan jika orang Minang keluar dari Islam maka otomatis ABS-SBK itu terlepas dari dirinya dan ia tidak dianggap lagi orang Minang.

Jadi, dengan penggambaran Diana sebagai gadis Padang (Minang) yang beragama Katolik, jelas penggambaran itu melukai perasaan orang Minang. Ini yang tidak dipahami oleh Hanung dan produser film CTB. Mengapa Hanung tidak memilih setting Diana seorang gadis Manado atau gadis Batak atau suku lain yang memang tidak identik dengan agama Islam, yang tidak akan menghasilkan benturan nantinya? Atau, mengapa tidak menggambarkan Diana seorang gadis cina asal Padang dengan setting kawasan Pondok (kawasan pecinan di Padang)? Saya menduga pemilihan setting Minang did alam film CTB itu bukan suatu kebetulan, tetapi memang disengaja supaya terjadi benturan sebagaimana film-filmnya terdahulu yang terkesan melecehkan agama Islam (film Perempuan Berkalung Sorban dan film “?“). Kalau tidak ada benturan maka filmnya tidak heboh dan kalau tidak heboh maka tidak laku, dan nyatanya skenario itu berhasil untuk film CTB.

Masalah melukai perasaan orang Minang itu adalah satu hal, ada lagi masalah lain yang sangat buruk dalam film ini. Film tersebut sama sekali tidak mendidik generasi muda. Saya memang tidak menonton film ini (dan tidak akan mau menontonnya), tetapi membaca dari pengalaman orang yang sudah menontonnya, saya menyimpulkan pesan moral film ini sangat buruk. Di bawah ini adalah tweet Fahira Idris, putri pengusaha Minang dan mantan menteri Fahmi Idris, yang mengomentari film ini dari sudut edukasinya. Saya setuju dengan paparannya itu. Anda bisa membaca pada tautan ini: http://t.co/eDQetBwT


Baru saja nonton #ctb bersama Uda @iwanpiliang Uda @iwel_mc @irfan_zj @AngeliaQuw @vannypn @n0erhidayati @ZarIslam @gustisantana

#ctb 1. Tadinya saya kira Film CTB hanya menghina #Minangkabau tapi ternyata lebih dari itu..

#ctb 2. Film ini adlh Film Percintaan, salah satu message nya adlh : Menuhankan Cinta, tapi tidak Mencintai Tuhan…

#ctb 3. Banyak sekali Logika2 Dasar yg ditabrak.. Dan sy yakin bukan krn tidak disengaja.. Tapi krn DISENGAJA.. Pesanan !

#ctb 4. Bukan hanya #Minangkabau yg dihina di film ini, tapi juga etnis #Jawa – dan yg paling saya benci adlh Menghina #Islam

#ctb 5. Tidak ada urgensinya memakai #Minangkabau sbg latar belakang cerita yg sudah jelas2 ingin mengusung Pluralisme Yg Kebablasan!!

#ctb 6. Sy tau persis anda bukan orang bodoh! Film ini sangat menghina #Minangkabau dan #Islam !! Porsi hina etnis #Jawa hanya sedikit

#ctb 7. Sy bukan orang yg menolak pluralisme.. Sahabat sy banyak yg non muslim, tapi kami saling menghormati dan menghagai.. Saling SOPAN !

#ctb 8. Setiap hari kita sll mendengar keluhan ibu yg kerepotan menjaga anak2nya agar bisa tumbuh baik, beragama & juga mampu bertoleransi

#ctb 9. Tapi kalau kita semua lengah, anak2 kita bs di doktrin ke ajaran2 yg menyesatkan agama, dijejalkan dg Toleransi2 Pesanan!

#ctb 10. Dg Segala Hormat saya mau minta tolong sahabatku, Uda @iwanpiliang u/ membongkar, siapa yg mendanai film ini.

#ctb 11. Yg tinggal di Padang mmg bukan hanya yg beragama Islam saja, semua agama sampai yg atheis pun ada disana..

#ctb 12. Ngajarin orang/ anak2 bangsa u/ toleran boleh2 saja.. saya pun sll mengajarkan anak saya u/ toleransi.. Toleransi YANG BAIK & BENAR

#ctb 13. Diana Gadis Katolik Padang ini berpacaran dg Cahyo Muslim Jawa..

#ctb 14. Kalau Toleransi yg BAIK dan BENAR, ya harusnya benar2 dicontohkan yg baik dong.. Film ini ngajarin Toleransi yg memaksakan..

#ctb 15. Sangat jomplang perimbangan Toleransi di Film ini.. #Islam banyak di hina.. #Islam dipaksa hrs mengalah.. Diana Katolik yg dominan

#ctb 16. Kalau Diana mmg Gadis Katolik yg Toleran, dia tidak akan menyuruh Cayho memasakkan Babi Rica Rica, masakan keluarga mereka

#ctb 17. Kalau Diana Toleran, pd saat mengundang Cahyo secara Resmi ke rumah, kenapa harus dihidang kan 2 Masakan Babi.. ?????????????????

#ctb 18. Kalau saja saya Katolik, dan saya mau mengundang pacar saya ke rumah secara resmi, saya akan masakkan khusus makanan HALAL !!

#ctb 19. Walaupun tante nya masak juga yg non BABI, dg bilang bhw dimasak secara terpisah, tapi gambaran masak terpisahnya GAK ADA !!

#ctb 20. Pada saat Cahyo mengajak Diana ke Jogja u/ diperkenakan ke Ortu Cahyo, tadinya Diana sdh mau menanggalkan kalung salib nya, tetapi

#ctb 21. Tetapi Cahyo bilang : Gak usah dilepas Kalung Salib nya.. Islam itu Toleran kok.. <<=== Kalau Toleran, Copot dong SALIB nya!!

#ctb 22. Nabi #MuhammadSAW sll mengajarkan umatnya agar hormat kepada Orang Tua, terlebih lagi terhadap Ibu..

#ctb 23. Tapi di Film ini Cahyo seorang anak yg baik tetapi sangat berani terhadap Ibu dan Bapak nya.. Bentak, Marah.. Semua di balik2..

#ctb 24. Jadi mrk mau bilang bhw, kalau kamu punya kemauan, Maki tuh Ibu kamu.. Maki bapak kamu.. gak papa kok.. Islam boleh.. BEGITU ????

#ctb 25. Sorry to say.. tapi Film ini benar2 asli dibuat u/ Merusak Moral Anak Bangsa.. & Merendahkan #Islam !! Film ini sangat BURUK !!

#ctb 26. Saya bukan pmerhati film, bukan pbenci agama lain, tapi saya gak suka bila ada fihak yg lengah meloloskan pembenaran2 yg GAK BENAR

#ctb 27. Saya bukan pembenci pernikahan beda agama.. Bukan Urusan saya, & bukan area pembahasan saya sehari hari pula..

#ctb 28. Semua Agama setau saya melarang pernikahan agama, semua orang tua pasti akan berusaha mencoba u/ meminimalisir terjadinya hal tsb

#ctb 29. Tapi di flim ini message nya jelas, & msupport anak2 bangsa bahwa, sudahlah dobrak saja larangan agamamu. kamu pasti bisa.. GILA

#ctb 30. Tante Diana adlh Muslim menikah dg Om yg Katolik. Om blg : Semoga mereka mau mencontoh kita (nikah beda agama) <– APEUUU..??

#ctb 31. Cukup lah saya ceritakan film ini, bagi yg lain gak perlu lah nonton film ini di bioskop.. Menonton = Menguntungkan Mereka

#ctb 32. Cahyo membentak bapaknya, yg dia nilai menyindir Diana.. Cahyo blg ke Ibu, Harusnya Bapak bisa jadi contoh Toleransi bg kelg..

#ctb 33. Dlm film ini Diana sll mengajak makan Cahyo di rest non muslim, tidak pernah ada gambar Diana makan di rest yg biasa..

#ctb 34. Yg parahnya, pd saat Cahyo menolak makan di rest itu, Diana marah & bentak2, memaksa Cahyo u/ makan menu lain yg non Babi..

#ctb 35. Toleransi seperti itu kah yg kalian maksud?? Tolernsi macam apa itu??

#ctb 36. Pd saat petugas KUA menolak mengawinkan mereka krn beda agama, Diana memaksa Cahyo mengaku beragama Katolik.. Ampun deh..

#ctb 37. Ibu Cahyo nasehatin Bapak Cahyo yg agak keras menolak, bahasa nya sih halus, tapi kalimat nya baru pernah saya dengar.. yaitu :

#ctb 38. RESTU adlh hak nya ANAK.. Orang Tua WAJIB untuk memberikan nya.. <<=== ASLI BARU DENGER MALAM INI.. Ajaran Sesat !!

#ctb 39. Pd saat ada pasangan beda agama mau menikah, petugas KUA menolak, kalau mau kamu nikah ke GEREJA aja.. knp gak ke MESJID opsi nya?

#ctb 40. Kesimpulan nya adlh, film ini sangat2 tidak bagus, mengajarkan Toleransi yg Kebablasan.. Semoga semua pd sadar dan TOBAT

#ctb sekian..

Kadang kalau melihat TL nya orang2 yg berani mengungkapkan fakta, saya suka terkagum2 melihat keberanian mereka.. Kok bisa ya?

Profesi saya bukan pen-tweet fakta fakta selama ini.. Kadang saya punya perasaan gak enak, takut, dll sbg nya kalau mau ungkap fakta..

Tapi u/ #ctb saya harus berani menceritakan yg sebenarnya, mengungkapkan kesedihan saya yg sedalam2nya.. Bukan bermaksud fitnah..

Sy mengajak u/ slg mhormati & menjaga lah.. Mari kita bertoleransi kpd saudara2 kita yg beda agama/ nikah beda agama.. Tapi yg BAIK & BENAR

Membuat Film atas nama kebebasan ekspresi boleh boleh saja.. tapi jangan terlalu kasarlah dlm menDobrak Norma2 yg sudah ada..

Mohon maaf sebesarnya bila dlm tweet #ctb ini ada yg tlalu kasar.. Smg besok saya bisa Move On.. No More #ctb di TL saya..

Plural Tapi Beda…

Toleran Tapi Maksa…

Jadi, saya menduga film ini memang “pesanan” atau ada yang mensponsori. Saya menduga Hanung yang dekat dengan kelompok Islam liberal lebih memilih film yang menghasilkan benturan ketimbang edukasi. Dia berani mengambil jalan yang berbeda dengan membuat film-film yang underestimate terhadap Islam (baca tulisan Mustofa B. Nahrawardaya ini). Sekali lagi atas nama kebebasan berekspresi maka orang berdalih boleh membuat film apa saja dengan embel-embel tambahan: kalau tidak suka ya tidak usah nonton, gitu aja kok repot.

Ulasan lain tentang film CTB dari sudut pandang budayawan Minang dapat dibaca di sini: http://www.lenteratimur.com/ketika-minangkabau-merasa-terhina/


Written by rinaldimunir

January 14th, 2013 at 9:48 am

Jalan-Jalan ke Pantai Purus, Padang

without comments

Tulisan ini masih merupakan catatan yang tersisa ketika saya mudik ke Padang pada akhir bulan Oktober yang lalu. Berhubung jadwal pesawat saya ke Jakarta pukul 20.30 malam, maka siang hari bersama anak saya menyempatkan jalan-jalan ke Pantai Purus.

Selama ini orang tahunya Pantai Padang yang di Muara. Duduk-duduk di pinggir pantai ini sambil menikmati sunset di sore hari sudah merupakan hal yang biasa. Namun, untuk berenang atau bermain-main di pasir pantai sudah agak susah karena bagian berpasirnya sudah semakin susut akibat terkikis ombak Samudera Hindia yang ganas. Lagipula air lautnya tidak terlalu bersih seba bercampur dengan sampah yang dialirkan oleh Sungau Batang Harau di Muara.

Nah, ada pantai yang cukup landai tidak jauh dari Pantai Padang, namanya Pantai Purus atau lebih dikenal dengan nama Danau Cimpago. Letaknya ke utara sekitar 2 km dari Pantai Padang. Sayangnya pantai Purus tidak dilalui oleh angkutan kota, jadi saya bersama anak naik ojek saja ke sana.

Pantai Purus, Padang, nan landai

Pantai Purus, Padang, nan landai

Pantainya sungguh cantik, landai, dan area pasirnya cukup luas. Banyak tenda dengan kursi santai yang disediakan oleh pedagang di sana. Kalau mau duduk di tenda ini, tidak enak rasanya kalau anda tidak membeli dagangan mereka seperti minuman, makanan, atau snack lainnya.

Tenda-tenda sepanjang pantai

Tenda-tenda sepanjang pantai

Pantainya yang landai dan pasirnya yang halus memang cocok tempat bermain anak-anak, ya mandi-mandi di laut atau bermain pasir.

Asyiknya bermain pasir di Pantai Purus

Asyiknya bermain pasir di Pantai Purus

Menariknya, di pantai ini terjadi pertemuan antara sebuah sungai besar (saya lupa namanya) dengan air laut. Air laut yang berwarna coklat (akibat hujan di daerah hulu) bercampur dengan air laut yang berwarna biru. Kedua jenis air ini tampak tidak bisa bercampur, terlihat jelas batasnya.

Pertemua air sungai dan air laut di Pantai Purus

Pertemua air sungai dan air laut di Pantai Purus

Nah, di tempat berrtemuanya air sungai dan air laut itu, banyak orang yang terlihat asyik memanncing. Mengasyikkan ya menghabiskan waktu dengan memancing.

Memancing

Memancing

Pada siang hari, pantai ini terlihat sepi. Tetapi, jika sore menjelang, pantai semakin ramai saja, dan pada malam hari banyak anak muda di kota Padang menghabiskan waktu di kafe-kafe yang berjejeran di sepanjang jalan raya sepanjang pantai. Sayangnya pantai yang bagus ini menjadi arena berbuat maksiat bagi para anak muda itu. Tenda-tenda yang terletak di sepanjang pantai pada malam hari menjadi tempat mojok asyik masyuk bagi orang yang berpacaran. Saya baca di koran lokal, Walikota Padang sempat marah dengan keberadaan tenda-tenda maksiat tersebut, lalu memerintahkan Stapol PP membakarnya. Ada pengaruhnya kah dengan membakar tenda-tenda itu? Entahlah…

Padang dan Ranah Minang sekarang ini memang sudah jauh berubah. Falsafah “adat basandi syarak dan syarak basandi kitabullah” sepertinya tinggal slogan. Gaya hidup bebas yang tidak mengindahkan norma agama sudah merebak di kalangan anak mudanya, salah satunya dapat anda saksikan di Pantai Cimpago Purus ini pada waktu malam.


Written by rinaldimunir

December 23rd, 2012 at 8:00 pm

Es Durian Pondok Padang yang “Yummy”

without comments

Ini cerita oleh-oleh waktu pulang kampung ke Padang pada akhir bulan Oktober yang lalu. Sudah lama ya, tetapi baru sempat menuliskannya sekarang. Tulisan ini untuk megisi kekosongan blog yang tidak sempat saya isi karena kesibukan pekerjaan.

FYI, kawasan Pondok adalah kawasan pecinan di kota Padang. Tidak jauh dari Pondok terdapat kawasan kota Padang yang lama yang dibangun pada zaman kolonial Belanda pada abad 18 dan 19.

Pondok juga menjadi kawasan wisata kuliner di kota Padang. Nah, yang saya ceritakan di sini adalah es durian Pondok yang sudah terkenal ke mana-mana. Pelopor kedai es durian ini adalah seorang cina Padang yang dipanggil dengan nama Incek Sinyo. Di Padang, pedagang tionghoa sering dipanggil incek, tidak tahu kenapa disebut incek, sebab incek (Bahasa Minang) artinya biji. Nah, kedai es durian pondok itu sekarang bernama Ganti Nan Lamo, terletak di Jalan Pulau Karam No. 103B.

Kedai Es Durian "Ganti Nan Lamo"

Kedai Es Durian “Ganti Nan Lamo”

Kedai Ganti Nan Lamo di kawasan pecinan, Pondok, Padang. Masjid dan kelenteng berdekatan lokasinya.

Kedai Ganti Nan Lamo di kawasan pecinan, Pondok, Padang. Masjid dan kelenteng berdekatan lokasinya.

Ganti Nan Lamo artinya ganti yang lama. Dulunya kedai ini terletak di seberangnya, tetapi sekarang pindah ke tempat yang sekarang. Jangan salah, di dekat sini banyak sekali kedai es durian dengan nama yang mirip-mirip seperti Iko Gantinyo dan Nan Lamo. Meskipun pedagangnya orang tionghoa, tetapi mereka memakai aksen bahasa Minang dalam penamaaannya. Di Padang hubungan orang cina dengan penduduk pribumi cukup erat.

Lukisan es durian di dalam kedai Ganti Nan Lamo

Lukisan es durian di dalam kedai Ganti Nan Lamo

Es durian adalah durian yang ditambah dengan es dan. Aslinya adalah satu gelas yang berisi daging durian (tanpa biji) yang ditambah dengan serutan es (disebut es durian tok), tetapi sekarang sudah banyak varian menu, ada yang memakai tambahan cincau, delima, susu coklat manis, dan sebagainya.

Saya memesan satu porsi es durian, maunya saya sih es durian tok, tetapi karena belum berpengalaman makan es di sana, saya memilih sembarang saja, ternyata es durian yang dicampur dengan cincau, delima, dan susu coklat.

Satu porsi es durian

Satu porsi es durian

Rasanya amboiii… lezat sekali, sangat terasa benar duriannya. Lebih enak lagi minum es durian sambil makan sate padang. Di kedai ini juga tersedia sate padang yang hangat dan berkuah merah kental.

Rahasia kelezatan es durian terletak pada pemilihan duriannya yang berkualitas. Duriannya dipilih yang berdaging tebal dan berwarna kuning. Sumatera Barat adalah penghasil durian yang lezat.

Oh ya, satu porsi es durian itu harganya Rp14.000, tidak terlalu mahal saya kira. Kalau anda mampir ke kota Padang, jangan lupa singgah mencicipi es durian yang legendaris ini.


Written by rinaldimunir

December 22nd, 2012 at 5:28 pm

Berkunjung ke Sekolah SMA 1 Padang yang Baru

without comments

Minggu lalu saya pulang ke Padang dalam rangka berziarah ke makam orangtua berhubung sudah mendekati bulan puasa Ramadhan yang tidak lama lagi. Ibu dan ayah saya sudah tiada (ibu baru meninggal bulan November 2011 yang lalu). Di sela-sela pulang kampung saya menyempatkan diri mengunjungi bekas sekolah saya yang dulu, yang telah menghantarkan saya kuliah di ITB hingga berkarir menjadi dosen hingga sekarang.

Gedung sekolah SMA 1 Padang yang saya kunjungi adalah gedung baru yang terletak di kawasan Belanti. Gedung sekolah yang lama di Jalan Sudirman (pusat kota) rusak parah akibat gempa besar tahun 2009 (baca tulisan saya yang terdahulu yang berisi foto-foto SMA 1 Padang setelah gempa).

Oleh Pemerintah Kota, sekolah saya ini dipindah ke kawasan baru yang lebih tenang. Pembangunan gedung sekolah didanai oleh sebuah Yayasan Budha yang banyak mendanai kegiatan sosial di tanah air.

Area sekolah yang baru sangat luas (tidak sempit seperti di lokasi yang lama). Gedung dibangun berlantai tiga. Di lantai paling atas terdapat shelter yang dapat menampung ribuan orang apabila terjadi tsunami di kota Padang (yang dipredikasi oleh para ahli geologi bakal terjadi, karena kota Padang terletak persis di depan patahan sesar Mentawai, tetapi mudah-mudahan saja jangan pernah terjadi). Di puncak lantai paling atas konon juga terdapat sebuah helipad (tapi saya tidak sempat melihatnya).

Saya menjelajahi seluruh bangunan di gedung yang baru itu. Di bawah ini oleh-oleh berupa foto-foto jepretan kamera ponsel saya, semoga dapat menghilangkan rasa penasaran bagi para alumni SMA Padang yang belum mengetahui sekolah baru alamamater kami.

Aula besar menyambut kedatangan kita ketika menapakkan kaki memasuki gedung sekolah. Ada tulisan Asmaul Husna (99 nama-nama Allah yang indah) dan sebuah pepatah cina di gerbang aula. Nama-nama Asmaul Husna itu untuk menegaskan bahwa orang Minang sangat lekat dengan agama Islam. Pepatah cina untuk mengingatkan gedung sekolah ini didanai oleh Yayasan Budha.

Deretan piala prestasi siswa menyambut kehadiran kita

Foto-foto para Kepsek yang pernah menjabat Kepala Sekolah. Kepsek saya waktu itu adalah Pak Rusdi. Masih hidupkah dia? Semoga Allah SWT memberkahi beliau.

Lorong antar kelas yang lapang dan terang di lantai 1.

Tulisan yang berbeda-beda pada setiap tangga yang mengingatkan para siswa agar selalu jujur, disiplin, taat pada orangtua dan guru.

Pemandangan tangga antar setiap lantai

Galeri yang memajang karya seni para siswa di lantai 3

Foto sudut galeri

Galeri seni lebih dekat

Masjid sekolah yang terletak di samping kiri halaman depan sekolah

Foto masjid sekolah tampak depan

Gedung olahraga di samping kanan halaman depan sekolah

Foto gedung olahraga tampak depan

Plang nama gedung olahraga sekolah

Saya berdiri di halaman depan sekolah

Foto sekolah dari kejauhan

Prasasti peresmian

Dengan sekolah yang luas, bangunan baru yang megah, sarana yang lengkap — apalagi dengan predikat sekolah RSBI — tidak ada alasan buat para siswa-siswanya berprestasi di tingkat nasional (sayangnya belum terdengar pemenang olimpiade sains dari sekolah ini).


Written by rinaldimunir

June 16th, 2012 at 3:10 pm

Terkenang Daun Ruku-Ruku

without comments

Prof Amrinsyah, Guru Besar Teknik Sipil ITB, beberapa bulan lalu memberi saya bibit tanaman ruku-ruku. Saya menanamnya di dalam pot di pekarangan rumah. Tanpa perawatan yang berarti — apalagi saya tidak terlalu sering menjenguknya — tiba-tiba saja saya tersadar kemarin ketika memperhatikan deretan pot dekat tembok rumah. Ternyata tanaman ruku-ruku itu sudah besar dan tinggi, sebentar lagi ia akan berbunga.

Waaaahh.. saya merasa surprise. Anda tahu tanaman ruku-ruku? Ini tanaman yang digunakan sebagai bumbu masakan di Sumatera Barat. Ruku-ruku memiliki nama latin Ocimum tenuiflorum. Dia satu keluarga dengan daun kemangi di Jawa Barat, yaitu dari keluarga Lamiaceae dengan Genus Ocimum.

Tanaman ruku-ruku biasanya diambil batang dan daunnya saja, biasanya digunakan oleh ibu-ibu di Ranah Minang untuk memasak gulai ikan. Fungsinya adalah sebagai penyedap dan pengharum masakan, sama seperti fungsi daun kemangi yang digunakan untuk membuat pepes ikan di kalangan orang Sunda. Dibandingkan dengan daun kemangi, daun ruku-ruku baunya lebih wangi. Setahu saya tanaman ini memang hanya ada di Sumatera Barat, saya belum menemukannya di tanah Jawa. Anda bisa membaca tulisan ini untuk membandingkan ruku-ruku dengan daun kemangi.

Di rumah kami di Padang, (alm) ibu saya menamam tanaman ini di pekarangan rumah. Setiap kali memasak gulai ikan ibu pasti memetik beberapa helai daun ruku-ruku. Seperti inilah gulai ikan yang diberi daun ruku-ruku (foto diambil dari sini):

Tidak hanya untuk gulai ikan, tetapi daun ruku-ruku juga dipakai untuk memasak gulai pensi. Pensi adalah tiram endemik yang hanya terdapat di Danau Singkarak. Kalau membayangkan pensi, menitik air liur saya. Entah kapan saya bisa makan nasi dengan pensi lagi. Seperti ini bentuk gulai pensi (gambar diambil dari sini):

Ondeh, lamak bana! Setiap kali melihat tanaman ruku-ruku itu saya teringat dengan almarhum ibu saya. Oh, Ibu, semoga Allah melapangkan tempatmu di alam barzah sana dan memasukkanmu ke dalam syurga. Amiin.


Written by rinaldimunir

March 1st, 2012 at 3:20 pm