if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Cerita Ranah Minang’ Category

Kuburan di Atas Bukit

without comments

Bulan puasa Ramadhan pada tahun 2017 tinggal dalam hitungan hari. Kebiasaan umat Islam di Indonesia menjelang bulan Ramadhan adalah pergi beziarah ke makam orangtua atau keluarga yang sudah mendahului. Di Jawa dinamakan dengan tradisi nyekar atau nyadran. Tradisi ziarah kubur sebelum Ramadhan memang tidak dicontohkan oleh Nabi, tetapi ziarah kubur sendiri tidak dilarang, sebab mengunjungi makam orang yang sudah meninggal berguna agar kita selalu mengingat kematian.

Seperti orang Indonesia lainnya, minggu lalu saya menyempatkan diri pulang ke Padang untuk menziarahi makam kedua orangtua saya.  Di Padang kompleks pemakaman sering didasarkan atas kampung asal (orang Padang sendiri sebagian besar adalah perantau dari berbagai daerah kabupaten di  Sumatera Barat). Kompleks pemakaman orang-orang dari Koto Anau, Solok, di Padang adalah di sebuah bukit di daerah Seberang Palinggam. Di sanalah kedua orangtua saya dimakamkan.

Kota Padang sendiri dilingkari oleh perbukitan. Bukit-bukit di daerah selatan, yang berbatasan dengan sungai dan laut, sudah lama menjadi tempat pemakaman warga Tionghoa. Kuburan orang Cina, begitu kami menyebutnya, terentang di atas Bukit Siti Nurbaya (nama baru setelah ada jembatan Siti Nurbaya). Nah, kuburan orang kampung saya di sepanjang bukit itu juga, tapi agak ke timur.

Di atas bukit di daerah Seberang Palinggam itulah terdapat kompleks pemakaman orang kampung saya. Mungkin sudah ada ratusan kuburan di atas sana, dari dulu hingga sekarang. Pemakaman itu dijaga dan dirawat oleh sebuah keluarga dari suku Nias. Orang Nias cukup banyak juga di Padang, umumnya mereka tinggal di sekitar perbukitan dekat kawasan Muara.

13315652_1118877744846916_5869833978637917960_n

Untuk mencapai pemakaman ini, kita harus menaiki tangga, sebagian lagi melalui jalan setapak yang cukup terjal. Saya membayangkan betapa sulitnya membawa jenazah yang hendak dikubur di sini. Pada musim hujan jalan setapak ke atas bukit itu  cukup licin, jika tidak hati-hati kita bisa terpeleset ke bawah. Namun, bagi orang Nias yang banyak bermukim di bukit itu, mereka sudah biasa saja naik turun bukit yang terjal tersebut.

13266057_1118877698180254_3045192816838233239_n

Karena berada di atas bukit, maka kompleks pemakaman itu rawan longsor. Dua tahun lalu terjadi hujan deras yang begitu lebat di atas bukit. Air dari atas bukit meluncur deras dalam jumlah yang besar, menghanyutkan dan merobohkan apapun yang dilaluinya. Sejumlah kuburan terkena longsoran, termasuk makam ayah saya. Air yang deras meluluhlantakkan isi sejumlah makam sehingga tulang-belulang jenazah ikut jatuh ke bawah dan tidak dikenali lagi itu tulang belulang siapa.

Atas kesepakatan warga perantau kampung saya, maka seluruh tulang belulang itu dikumpulkan dan dimakamkan di dalam satu lubang. Sebagai simbol bahwa makam pernah ada, maka keluarga yang masih hidup membangun makam baru sebagai simbol saja, padahal isinya tidak ada. Tujuannya adalah agar keluarga yang masih hidup dapat tetap berizarah ke sana meskipun kuburan aslinya sudah hiang. Itu termasuk makam ayah saya.

Karana kompleks pemakaman ini berada di atas bukit, maka dari atas bukit ini kita dapat melihat pemandangan kota Padang. Dari kejauhan kita dapat melihat kantor gubernur, beberapa bangunan hotel, Masjid Raya Sumbar, Pantai Padang, dan lain-lain.

18485304_1472619679472719_10544900203165908_n

13325440_1118877774846913_1913774488892107167_n

18485281_1472619636139390_1941990409701227054_n

Tadi sudah saya sebutkan bahwa bukit ini berbatasan dengan sebuah sungai, namanya Sungai Batang Harau. Sungai ini bermuara ke Samudera Hindia sekitar 2 km ke arah barat. Di daerah Muara bertemulah air laut yang asin dengan air tawar dari sungai.

Anda semua pasti tahu jika kota Padang rawan gempa. Gempa bumi sering terjadi dalam skala kecil hingga skala besar. Beberapa kali gempa besar pernah terjadi di sini, terkahir tahun 2009 yang meluluhlantakkan kota. Kekhawatiran paling besar dari gempa bumi adalah tsunami. Peristiwa tsunami di Aceh telah memberi kesadaran bagi Pemerintah kota untuk membangun jalur evakuasi. Bagi warga yang bermukim di kawasan selatan, jalur evakuasi untuk menghindari tsunami adalah lari ke atas bukit-bukit itu. Pemerintah kota membangun beberapa jembatan evakuasi di atas sungai Batang Harau. Jika terjadi peringatan tsunami, maka warga bisa berlari ke atas bukit yang saya ceritakan ini.

Dari kompleks pemakaman tadi saya dapat melihat dengan jelas jembatan evakuasi tsunami.  Berlindung ke bukit yang tinggi ini cukup aman bagi warga sampai menunggu pertolongan datang.

13312673_1118877794846911_5475495546647719388_n

Jembatan evakuasi dari tsunami

13325620_1118958614838829_6122710926432889508_n

Yang paling penting dari jembatan ini adalah edukasi. Penting bagi Pemerintah kota untuk sering melakukan simulasi gempa dan tsunami agar warga menyadari bahwa jembatan ini bukan sekedar tempat penyeberangan biasa, tetapi adalah sarana evakuasi bencana.


Written by rinaldimunir

May 22nd, 2017 at 5:16 pm

Tanah yang Tak Kulupa

without comments

Sebagai orang rantau, kerinduan apakah yang selalu membayang di dalam pikiran? Tentu saja tanah kampung halaman. Apalagi jika di tanah itu anda pernah dilahirkan, dibesarkan, lalu ketika beranjak dewasa meninggalkannya. Jika masih punya orangtua di sana, maka keinginan untuk pulang selalu ada. Tapi jika sudah tidak punya orangtua lagi, dua-duanya sudah almarhum, maka apakah tanah kampung halaman itu akan dilupakan?

Jawabnya tidak, teutama bagi saya sendiri. Meskipun kedua orang ibu-bapa saya sudah meninggalkan dunia fana ini, tetapi keinginan untuk selalu pulang selalu tetap ada. Minimal menengok rumah warisan orangtua, tempat di mana saya dulu dilahirkan dan dibesarkan dengan kasih sayang.

Setiap kali meninggalkan kota Padang menggunakan pesawat, saya selalu mengambil duduk pada sisi pesawat sebelah kiri. Tujuannya satu: menatap dari atas udara tanah kota yang telah membesarkan saya. Kota ini berhalaman lautan yang terbantang luas di sebelah barat, yaitu Samudera Hindia. Kawasan pinggiran pantai sangat padat dengan pemukiman, gedung-gedung, dan perkantoran. Dari udara semua pemandangan itu terlihat dengan jelas selepas pesawat take-off dari Bandara Minangkabau.

padang2

Lihatlah daratan bagian bawah, tampaklah tanah yang berbentuk kepala burung. Diujungnya teronggok Gunung Padang yang seakan duduk termenung di pinggir laut. Tanah yang berbentuk kepala dan badan burung itu adalah bagian dari perbukitan yang berhadapan dengan Samudera Hindia. Sebuah sungai yang bernama Batang Arau memisahkan kawasan perbukitan dengan dataran kota. Ujung sungai itu bernama Muara. Di sepanjang sungai itulah terletak kaweasan kota lama yang dibangun sejak zaman Hindia-Belanda.

padang1

Terus mengarahkan pandangan menyusuri perbukitan itu ke arah tenggara, maka sampailah ke kompleks pemakaman orang kampung saya. Di sanalah, di atas tanah bukit yang curam, terletak makam ibu dan ayah saya.  Tidak tampak dari atas pesawat, tapi saya bisa membayangkannya dari atas pesawat dengan perasaan sedih. Semoga Allah SWT menerima amal sholehmu wahai ayah dan ibu, dan menempatkamu di tempat yang layak di sisi-Nya, amin.

Lamat-lamat pesawat semakin menjauh dari tanah kota Padang, terbang ke selatan menuju tanah Jawa. Tanah yang telah memberikan kenangan kepada saya pun hilang dari pandangan. Tanah itu tidak akan pernah kulupa.


Written by rinaldimunir

April 10th, 2017 at 4:22 pm

Kiriman Rendang Pensi Singkarak

without comments

Beberapa hari yang lalu kakak perempuan saya di Padang mengirim paket rendang pensi. Tau pensi? Orang Minang pasti tahu makanan yang satu ini. Pensi adalah sejenis tiram/kerang air tawar yang hanya ada di Danau Singkarak dan Danau Maninjau, Sumatera Barat. Orang Minang mengolah pensi ini menjadi berbagai macam lauk, salah satunya rendang pensi yang dikirim oleh kakak saya itu. Selain pensi, Danau Singkarak juga terkenal dengan hasil tangkapan berupa ikan endemik khas danau yang bernama ikan bilih.

DSC_1530 (1)

Rendang pensi, kiriman dari Padang

Pensi dimasak dengan santan dan bumbu-bumbu seperti cabe, bawang, daun serai (sereh), laos, jahe, daun ruku-ruku, daun jeruk, dan lain-lain. Cara memasaknya mirip seperti memasak rendang. Lebih enak lagi dicampur dengan kacang berukuran besar yang kalau di Padang dinamakan kacang pagar.

Awalnya sebelum menjadi rendang masih berupa gulai yang dinamakan gulai pensi. Biasanya yang dimasak adalah daging tiramnya saja, sedangkan cangkangnya dibuang. Nah, dalam bentuk gulai pensi saja sudah menerbitkan air liur, seperti gambar di bawah ini (Sumber gambar gulai pensi dari sini):

gulai pensi

Gulai pensi 

Almarhumah ibu saya dulu sangat pandai memasak gulai pensi. Ibu kami berasal dari daerah Solok. Danau Singkarak itu sebagian berada di Kabupaten Solok, sehingga orang Solok sangat kenal dengan pensi ini. Sekarang kemahiran memasak pensi itu dilanjutkan oleh kakak saya di Padang. Pensi yang dikirimnya itu dalam bentuk rendang agar awet jika dikirim ke tempat yang jauh.

Saya menjadikan rendang pensi itu sebagai bekal makan siang di kampus. Ini dia bekal makan siang berupa nasi, rendang pensi, dan tentu saja samba lado.

934849_1060444320690259_8659086415320729305_n

Bekal makang siang dengan rendang pensi

Jika anda nanti singgah ke Danau Singkarak atau Danau Maninjau, jangan lupa membeli oleh-oleh berupa pensi yang sudah diambil dagingnya (tanpa cangkang). Di Pasar Raya Padang juga ada yang menjual pensi, tetapi membeli pensi segar dari pinggir danau lebih disarankan. Pedagang mejualnya dalam takaran liter atau kilogram.

2-pensi

Pensi. (Sumber gambar dari http://www.izzawa.com/2015/08/cemilan-pensi.html)

Tiba di rumah nanti bisa diolah menjadi aneka masakan. Salah satu resep gulai pensi dapat dibaca di sini.


Written by rinaldimunir

March 15th, 2016 at 3:36 pm

Orang Minang yang Egaliter

without comments

Kesebelasan Semen Padang dikalahkan oleh Mitra Kukar pada pertandingan Piala Sudirman di Gelora Senayan tanggal 24 Januari 2016 yang lalu dengan skor 2-1. Penonton di Senayan mayoritas adalah pendukung Semen Padang. Mereka adalah pendukung yang sengaja datang dari kampung halaman, namun sebagian besar adalah para perantau yang tinggal di Jabodetabek. Mereka memberikan dukungan baik sebelum dan selama pertandingan. Namun ketika kesebelasan kesayangan mereka kalah, tidak ada aksi anarkis atau marah-marah melampiaskan kekesalan, baik kepada pelatih maupun kepada pemain. Mereka keluar dengan wajah muram sambil membicangkan kekalahan. Kecewa, sudah pasti. Namun seperti tipikial orang Minang yang egaliter dan rasional, tampaknya kekalahan itu tidak berlarut-larut. Besoknya para perantau yang umumnya pedagang di pasar-pasar Jabodetabek beraktivitas kembali seperti biasa. Bahkan, kalau pun Semen Padang menang, saya yakin euforia yang muncul tidak akan berlebihan. Menang atau kalah itu hal yang biasa.

Egaliter. Itu satu kata untuk menggambarkan bahwa orang Minang sejatinya tidak mengkultuskan apapun, baik orang maupun kelompok. Tidak ada pemujaan atau perlakuan istimewa terhadap seorang tokoh. Semua orang dianggap kedudukannya sama, sesuai dengan peribahasa yang berlaku di ranah Minangkabau, duduk sama rendah tegak sama tinggi. Anda tidak akan pernah melihat budaya cium tangan dari rakyat kecil kepada pemimpin seperti yang kita lihat di tanah Jawa, atau cium tangan dari para jamaah kepada tokoh agama, sebagaimana yang kita lihat pada budaya santri yang mencium tangan kyai di pesantren di tanah Jawa. Orang Minang mempertahankan egaliteriannya di hadapan orang lain.

Sifat egaliter ini dapat menjelaskan kenapa pada Pilpres 2014 kemarin Capres Jokowi kalah telak di Sumatera Barat. Capres Prabowo memenangkan pertarungan di Sumbar dengan angka yang cukup mencolok, 78% berbanding 22%. Orang Minang tampaknya tidak mempan dengan pencitraan yang dilakukan oleh Jokowi sebelum dan selama kampanye Pemilu dan Pilpres. Mereka tidak bisa ditipu dengan tayangan televisi. Jika di daerah lain Jokowi dielu-elukan dan dipuja-puji, di Ranah Minang adem ayem saja. Orang Minang adalah tipe orang yang tidak mengkultuskan atau mendewa-dewakan orang lain.  Pemilih di sana adalah pemilih yang rasional. Mereka menilai pada visi misi calon, bukan pada pencitraan yang dibuat-buat atau digadang-gadang oleh media. Meskipun Jusuf Kalla adalah sumando orang Minang (istri Jusuf Kalla berasal dari Minangkabau), namun sentimen kedaerahan tidak mampu mengangkat kemenangan Jokowi-JK pada Pilpres (analisis lainnya baca ini: 4 Faktor Prabowo-Hatta Menang Telak di Tanah Minang).

Sedikit banyaknya sifat egaliter ortang Minang dipengaruhi oleh dua hal: pertama bahasa, kedua agama. Bahasa Minang termasuk ke dalam varian Bahasa Melayu.  Bahasa Melayu sejatinya tidak mengenal perbedaan hirarkhi. Tidak seperti bahasa daerah di Jawa yang memiliki tingkatan bahasa yang halus untuk orang yang lebih tua, dituakan, atau dihormati, dan  bahasa umum (kromo) untuk pergaulan setara, maka bahasa Melayu tidak demikian. Tidak ada perbedaan “kasta” dalam bahasa Melayu (termasuk bahasa Minang). Kepada orang yang lebih tua, lebih muda, tokoh terhormat, orang awam, bahasanya sama saja.

Faktor kedua adalah agama, dalam hal ini agama Islam. Orang Minang umumnya sangat taat menjalankan ajaran agama. Agama Islam mengajarkan kesetaraan, semua orang sama kedudukannya di mata Tuhan, yang membedakan hanya ketaqwaan tiap orang. Di dalam sholat berjamaah tidak ada tempat khusus buat pejabat atau tokoh penting. Siapa yang duluan datang, dia duduk di shaf depan, yang datang belakangan duduk di shaf belakang. Ajaran Islam sudah melekat erat dalam adat istiadat, sehingga timbullah pepatah yang populer di sana yaitu adat basandi syara’, syara’ basandikan kitabullah (adat bersendikan pada syariat Islam, syariat bersendikan pada Kitab Allah, yaitu ASl-Quran).

Jika anda datang ke Sumatera Barat, anda akan melihat sifat egaliter itu di lepau-lepau. Lepau atau lapau adalah kedai atau warung tempat para lelaki duduk maota (berbincang-bincang) sambil minum kopi atau makan gorengan, kadang-kadang juga sambil bermain domino. Di lepau itu apa saja dibincangkan, dari berita politik hingga berita kampung. Semua orang bebas bicara, bercanda (bagarah), atau mengolok-olok (mencemeeh). Tidak perlu ada yang marah atau tersinggung, karena di lepau itulah semua yang tersimpan di kepala ditumpahkan.

Saya belum melihat apa kelemahan sifat egeliter, yang saya lihat lebih banyak sisi positifnya. Bagi saya yang seratus persen berdarah Minang, sedikit banyaknya sifat egaliter ini membentuk saya untuk menempatan kesetaraan dalam kehidupan. Di kampus saya di ITB, mahasiswa dan dosen dapat berbaur tanpa sekat-sekat. Saya bisa duduk sejajar dengan rektor, mahasiswa bebas berdiri dan berbincang-bincang dengan profesornya di lorong gedung. Dosen dan mahasiswa bebas menyatakan pendapat di ruang-ruang kelas  tanpa takut.  Pendidikan tinggi di kampus memang seharusnya memperlihatkan egaliterian di antara civitas academica. Tidak ada yang merasa lebih tinggi dari yang lain, tidak ada yang merasa lebih hebat. Semuanya sama kedudukannya. Seseorang hanya dapat dinilai dari integritas akademik dan integritas moralnya. Selain itu, tidak ada perbedaan. Sebagai orang Minang, saya bangga dengan sifat egaliter itu.


Written by rinaldimunir

February 3rd, 2016 at 5:48 pm

Diskotik Modern di dalam Angkot Kota Padang

without comments

Beberapa tahun yang lalu saya pernah menulis tentang angkot di kota Padang yang super berisik (baca: Angkot di Kota Padang: Berisik!!!). Nah, tiga hari yang lalu saya pulang ke Padang untuk berziarah ke makam orangtua karena sebentar lagi akan memasuki bulan Ramadhan. Saya naik angkot ke pusat kota, dan kali ini saya menemukan pemandangan yang lebih canggih dan modern dibandingkan bberapa tahun yang lalu.

Naik angkot di Padang sekarang serasa berada di dalam diskotik, full musik yang memekakkan telinga. Dashboard depan boleh butut, tetapi seperangkat sound system lengkap layar monitor komputer dan peralatan sinar lampu kelap-kelip harus modern di dashboard belakang. Cobalah bandingkan dengan sound system angkot beberapa tahun yang lalu seperti tulisan saya terdahulu (lihat tauitan di atas). Sudah berbeda jauh kan?

Sound system dan layar komputer di dashboard belakang angkot.

Sound system dan layar komputer di dashboard belakang angkot.

Supir angkot bertindak seperti disc jockey (DJ), dia mengendalikan lagu yang diputar dari audio player di dashboard depan. Penumpang pun bisa melihat daftar lagu di layar monitor. Penumpang bisa request lagu kalau mau.

Supir mengatur lagu lewat audio player di dashboatrd depan yang butut. File lagu disimpan di dalam flashdisk yang ditancapkan ke audio player.

Supir mengatur lagu lewat audio player di dashboatrd depan yang butut. File lagu disimpan di dalam flashdisk yang ditancapkan ke audio player.

Konon, pemilik angkot di Padang rela mengeluarkan biaya yang mahal untuk hiburan musik di dalam angkotnya demi menarik penumpang. Kalau nggak ada musiknya, anak-anak sekolah nggak mau naik. Pemilik angkot lebih mengutamakan penyediaan sarana hiburan modern di dalam angkotnya ketimbang meremajakan angkotnya atau sekedar memperbaiki dashboard depan yang butut itu.

Persaingan sesama angkot memang sengit di kota Padang.


Written by rinaldimunir

May 19th, 2015 at 3:41 pm

Lompong Sagu, Kiriman dari Kampung Halaman

without comments

Teman saya yang baru pulang dari Padang membawa kiriman oleh-oleh yang tidak biasa, yaitu penganan tradisionil yang sudah lamaaaa sekali tidak saya temukan. Penganan itu bernama lompong sagu. Bagi generasi minang yang sudah lama hidup di perantauan, nama lompong sagu mungkin masih terkenang dengan baik. Lompong sagu adalah penganan yang terbuat dari tepung sagu, dicampur dengan gula merah, lalu dibakar di atas bara api. Sensasi bau harum dari pembakaran itulah yang membuat penganan ini menggugah selera.

Tiga bungkus lompong sagu di atas piring

Tiga bungkus lompong sagu di atas piring

Mau tahu isinya? Yuk, kita buka sebuah lompong sagu itu lalu potong dua untuk melihat bagain dalamnya. Ini dia:

Lompong sagu yang sudah dibelah

Lompong sagu yang sudah dibelah

Rasanya? Jangan ditanya lagi, rasa sagunya terasa banget, plus rasa manis dari gula merah. Konon gula merah yang terknal di Minangkabau adalah gula merah dari daerah Lawang, Kabupaten Agam. Saking terkenalnya lompong sagu dan gula lawang sampai ada lagu minang lawas yang populer pada tahun 60-an dan 70-an yang dinyanyikan oleh penyanyi legendaris, Oslan Husein, yang berjudul sama:

Lompong sagu

Lompong sagu, lompong sagu bagulo lawang – 2x
Di tangah-tangah, di tangah-tangah karambia mudo – 2x
Sadang katuju, sadang katuju diambiak urang – 2x
Awak juo, awak juo malapeh hao – 2x

Lompong sagu (o sagu) lompong sagu
Lompong sagu (o sagu) bagulo lawang

Lompong sagu, lompong sagu bagulo saka – 2x
Elok dimakan, elok di makan lah jo tangan – 2x
Sadang katuju, sadang katuju kawan manyemba – 2x
Awak juo, awak juo mamangku tangan – 2x

Lompong sagu (o sagu) lompong sagu
Lompong sagu (o sagu) bagulo lawang

Lompong sagu (o sagu) lompong sagu
Lompong sagu (o sagu) bagulo lawang

Lompong sagu, lompong sagu bagulo lawang – 2x
Di tangah-tangah, di tangah-tangah karambia mudo – 2x
Sadang katuju, sadang katuju diambiak urang – 2x
Awak juo, awak juo malapeh hao – 2x

Lompong sagu (o sagu) lompong sagu
Lompong sagu (o sagu) bagulo lawang

(Sumber lirik lagu: http://laguminanglamo.wordpress.com/2007/07/31/lompong-sagu/)

Kalau ingin mendengar lagunya di Youtube, klik video ini:

Selama saya pulang kampung hampir tidak pernah bersua lompong sagu ini dijual di pasar-pasar tradisionil. Tapi untunglah sekarang ini, kata teman saya yang datang dari Padang itu, makanan tradisionil yang lama-lama itu sudah mulai dimunculkan kembali dan dijual di sentra tertentu di Padang. Contohnya lompong sagu yang dia beli itu.

Mau?


Written by rinaldimunir

June 13th, 2014 at 2:56 pm

Lompong Sagu, Kiriman dari Kampung Halaman

without comments

Teman saya yang baru pulang dari Padang membawa kiriman oleh-oleh yang tidak biasa, yaitu penganan tradisionil yang sudah lamaaaa sekali tidak saya temukan. Penganan itu bernama lompong sagu. Bagi generasi minang yang sudah lama hidup di perantauan, nama lompong sagu mungkin masih terkenang dengan baik. Lompong sagu adalah penganan yang terbuat dari tepung sagu, dicampur dengan gula merah, lalu dibakar di atas bara api. Sensasi bau harum dari pembakaran itulah yang membuat penganan ini menggugah selera.

Tiga bungkus lompong sagu di atas piring

Tiga bungkus lompong sagu di atas piring

Mau tahu isinya? Yuk, kita buka sebuah lompong sagu itu lalu potong dua untuk melihat bagain dalamnya. Ini dia:

Lompong sagu yang sudah dibelah

Lompong sagu yang sudah dibelah

Rasanya? Jangan ditanya lagi, rasa sagunya terasa banget, plus rasa manis dari gula merah. Konon gula merah yang terknal di Minangkabau adalah gula merah dari daerah Lawang, Kabupaten Agam. Saking terkenalnya lompong sagu dan gula lawang sampai ada lagu minang lawas yang populer pada tahun 60-an dan 70-an yang dinyanyikan oleh penyanyi legendaris, Oslan Husein, yang berjudul sama:

Lompong sagu

Lompong sagu, lompong sagu bagulo lawang – 2x
Di tangah-tangah, di tangah-tangah karambia mudo – 2x
Sadang katuju, sadang katuju diambiak urang – 2x
Awak juo, awak juo malapeh hao – 2x

Lompong sagu (o sagu) lompong sagu
Lompong sagu (o sagu) bagulo lawang

Lompong sagu, lompong sagu bagulo saka – 2x
Elok dimakan, elok di makan lah jo tangan – 2x
Sadang katuju, sadang katuju kawan manyemba – 2x
Awak juo, awak juo mamangku tangan – 2x

Lompong sagu (o sagu) lompong sagu
Lompong sagu (o sagu) bagulo lawang

Lompong sagu (o sagu) lompong sagu
Lompong sagu (o sagu) bagulo lawang

Lompong sagu, lompong sagu bagulo lawang – 2x
Di tangah-tangah, di tangah-tangah karambia mudo – 2x
Sadang katuju, sadang katuju diambiak urang – 2x
Awak juo, awak juo malapeh hao – 2x

Lompong sagu (o sagu) lompong sagu
Lompong sagu (o sagu) bagulo lawang

(Sumber lirik lagu: http://laguminanglamo.wordpress.com/2007/07/31/lompong-sagu/)

Kalau ingin mendengar lagunya di Youtube, klik video ini:

Selama saya pulang kampung hampir tidak pernah bersua lompong sagu ini dijual di pasar-pasar tradisionil. Tapi untunglah sekarang ini, kata teman saya yang datang dari Padang itu, makanan tradisionil yang lama-lama itu sudah mulai dimunculkan kembali dan dijual di sentra tertentu di Padang. Contohnya lompong sagu yang dia beli itu.

Mau?


Written by rinaldimunir

June 13th, 2014 at 2:56 pm

Masakan Padang Itu Sehat (Tidak Perlu Khawatir Lagi dengan “Hantu” Kolesterol)

without comments

Hampir semua orang di Indonesia suka dengan masakan Minangkabau (yang disederhanakan dengan nama “masakan padang”). Masakannya enak dan selalu mengundang selera. Tidak heran rumah makan padang ada di mana-mana di seluruh tanah air, bahkan hingga ke luar negeri, karena penggemarnya juga ada di mana-mana.

Namun sebagian orang membatasi diri mengkonsumsi masakan padang karena takut dengan “hantu” kolesterol. Masakan padang sering dianggap sumber kolesterol karena umumnya masakannya bersantan. Masakan yang bersantan itu ditemukan pada aneka gulai seperti gulai ayam, gulai tambunsu (usus), gulai tunjang, gulai otak, kalio daging, rendang, dan sebagainya. Santan pada masakan inilah yang dianggap sebagai biang kolesterol sehingga menyebabkan penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan stroke. Tiap kali mau makan masakan padang, orang yang dihantui dengan kolesterol tinggi mencoba menahan seleranya.

Benarkah santan pada masakan padang sebagai sumber kolesterol? Hal itu dibantah oleh Guru Besar Ilmu Gizi dari Universitas Andalas Padang, Prof. dr. Nur Indrawaty Lipoeto, seperti yang diberitakan pada artikel di situs ini . Menurut hasil penelitian Prof. dr. Nur Indrawaty Lipoeto, orang Minang tahu rahasia sehat masakan padang. Bumbu-bumbu pada santan seperti jahe, kunyit, lengkuas, bawang merah, bawang putih, cabe, serai, daun salam, daun limau, dan daun-daun lainnya berfungsi sebagai antioksidan, dan antioksidan itu menetralisir lemak jenuh yang terdapat pada santan dan daging hewan.

Dikutip dari artikel tersebut:

“Hal yang ditakutkan dari masakan Minang itu kan lemak daging yang bercampur dengan lemak kelapa. Kedua lemak itu merupakan lemak jenuh yang jahat. Namun, ketika diramu oleh orang Minang dengan bumbu khasnya, lemak itu bisa dinetralisir dengan zat antioksidan yang terdapat di dalam bumbu itu,” ujar jebolan Monash University, Australia ini.

Makanan tradisional Minang yang dianggap sehat itu adalah masakan yang memakai santan dan mengandung bumbu yang disebutkan di atas. Di antara bumbu tersebut, menurut Indrawaty, yang paling tinggi kandungan antioksidannya adalah jahe, kunyit, dan cabe.

(Sumber: Guru Besar Ilmu Gizi Unand Ungkap Rahasia Sehat Masakan Minang. Artikel lengkapnya saya lampirkan pada bagian bawah apabila Anda kesulitan mengakses situs tersebut.)

Setelah membaca artikel tersebut saya merasa lega, mungkin juga Anda yang sering merasa was-was bila mengkonsumsi masakan padang. Kekhawatiran bahwa masakan padang sebagai sumber kolesterol telah terpatahkan dengan penelitian profesor Unand ini. Meskipun demikian, saya tetap meyakini bahwa penyakit datang apabila kita makan secara berlebihan, tak peduli masakannya memakai santan atau tidak. Makan yang berlebih-lebihan itu adalah sumber penyakit. Di mana-mana yang berlebihan itu tidak baik. Sedikit itu baik, cukup tidak mengapa, sedangkan berlebih-lebihan adalah awal dari mala petaka.

~~~~~~~~~~~~~~~~~

Guru Besar Ilmu Gizi Unand Ungkap Rahasia Sehat Masakan Minang

RANAHBERITA– Masakan tradisional masyarakat Minangkabau selama ini dinilai tidak sehat karena memakai santan dan bumbu yang banyak. Misalnya pada makanan seperti gulai, rendang dan masakan yang mengandung santan lainnya. Diduga menyebabkan sakit jantung, tekanan darah tinggi dan stroke.

Hal itu dibantah oleh penelitian Prof. dr. Nur Indrawaty Lipoeto, MMedSci, Phd, SpGK, yang baru dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Rabu (20/11/2013).

Dia mengatakan, kalau orang Minang berhenti memakan santan dan malah beralih memakan makanan yang digoreng bisa berakibat fatal. Alasannya, melihat kecenderungan masyarakat saat memasak, semakin banyak santan, maka akan semakin banyak bumbu.

“Bumbu dalam masakan Minang yang memakai santan adalah rahasia sehat dari makanan orang Minang,” kata Indrawaty dalam wawancara dengan ranahberita.com, Senin (26/11/2013).

Bumbu yang dimaksud adalah kunyit, jahe, lengkuas, serai, daun salam, cabe, bawang merah dan putih serta daun-daun lainnya. Bumbu ini dikatakan sehat karena mengandung antioksidan. Antioksidan berfungsi sebagai zat yang menetralisir lemak jenuh pada santan dan hewan.

“Hal yang ditakutkan dari masakan Minang itu kan lemak daging yang bercampur dengan lemak kelapa. Kedua lemak itu merupakan lemak jenuh yang jahat. Namun, ketika diramu oleh orang Minang dengan bumbu khasnya, lemak itu bisa dinetralisir dengan zat antioksidan yang terdapat di dalam bumbu itu,” ujar jebolan Monash University, Australia ini.

Makanan tradisional Minang yang dianggap sehat itu adalah masakan yang memakai santan dan mengandung bumbu yang disebutkan di atas. Di antara bumbu tersebut, menurut Indrawaty, yang paling tinggi kandungan antioksidannya adalah jahe, kunyit, dan cabe.

“Samba lado hijau itu sebenarnya juga baik. Tapi, tak mungkin orang makan cabe itu dalam jumlah banyak, paling sedikit saja. Tapi kalau digulai, kecenderungan orang kalau makan gulai akan menyantap kuahnya lebih banyak. Sehingga bisa menyerap zat antioksidan cabe lebih besar juga,” ujarnya.

Makanan yang berbahaya bagi kesehatan itu, tambah Indrawaty adalah gorengan. Jika masyarakat Minang mengganti santan dengan minyak goreng, tentu orang akan semakin minim memakan bumbu-bumbu di atas. Sehingga, lemak yang terdapat pada minyak goreng itu diserap tanpa ada yang menetralisir.

Sebenarnya, kata Indrawaty, lemak yang terkandung dalam santan jauh lebih sedikit dari minyak goreng. Dibandingkan santan dan minyak goreng dalam jumlah yang sama, misalnya masing-masing dalam satu gelas, maka lemak pada santan hanya 30 persen. Sedangkan lemak minyak goreng itu 100 persen kandungannya.

“Jadi selama ini kita melihat, kebanyak orang Minang tidak percaya diri ketika bicara soal makanan. Karena menganggap makanan khas Minangkabau tidak sehat. Padahal tidak masalah. Itulah hebatnya nenek moyang kita yang telah memikirkannya di zaman yang serba terbatas. Kalau memang tidak sehat, buktinya sampai sekarang kita baik-baik saja,” ujar dosen yang juga pernah menuntut ilmu di Sheffield University, Inggris ini.

Menurutnya, kecemasan masyarakat akan masakan Minangkabau muncul sejak tahun 1950an. Peneliti dari Amerika mendapatkan hasil bahwa penderita sakit jantung karena lemak jenuh. Lemak jenuh yang dimaksud adalah lemak jenuh hewani. “Penelitian mereka terhadap orang yang mengonsumsi lemak jenuh hewani. Orang Amerika tidak ada makan kelapa. Sementara, kadar lemak jenuh kelapa dan hewan itu berbeda,”

Indrawaty meminta, agar masyarakat tetap mengonsumsi masakan tradisional yang mengandung dengan bumbu-bumbu khas. Alasannya, selain aman untuk kesehatan juga merupakan kekayaan budaya.

“Asalkan makannya jangan berlebihan. Apapun makanannya, kalau berlebihan tidak baik bagi kesehatan,” tambah Indrawaty. (Arjuna/Ed1)

Sumber: http://ranahberita.com/news.php?id_news=1876#.Uwyoz_uqNdh


Written by rinaldimunir

February 25th, 2014 at 10:17 pm

Gema Adzan di Bandara Minangkabau Padang

without comments

Jika Anda bepergian dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Padang, adakah sesuatu yang berbeda yang tidak ditemukan di bandara lain di Indonesia?

Bukan bentuk atapnya yang tradisional khas rumah gadang yang membuatnya berbeda, bukan pula karena satu-satunya bandara yang namanya diambil dari nama etnik, bukan itu maksud saya. Tapi, jika anda seorang muslim, maka Anda akan merasakan sesuatu yang berbeda itu, yaitu dikumandangkannya suara adzan pertanda waktu sholat wajib. Jika anda berada di bandara ini pada waktu masuk shalat, maka jangan kaget tiba-tiba terdengar suara adzan menggema melalui pengeras suara, menembus semua sudut dan ruang-ruang di bandara, mengingatkan umat muslim bahwa waktu sholat wajib sudah tiba dan segeralah menunaikan shalat. Setahu saya baru adzan Magrib dan Dhuhur yang pernah saya dengar.

Suasana di dalam bandara

Suasana di dalam bandara

Suasana ruang chek-in. Orang-orang yang berdiri di lantai dua pada foto ini adalah mereka yang antri untuk wudhu dan sholat di mushola yang kecil.

Suasana ruang chek-in. Orang-orang yang berdiri di lantai dua pada foto ini adalah mereka yang antri untuk wudhu dan sholat di mushola yang kecil.

Saya tiba di bandara ini beberapa saat sebelum masuk adzan Maghrib. Ketika sedang chek-in, bergemalah suara adzan Maghrib. Terlihat orang-orang menuju mushola kecil di lantai dua. Karena tempat wudhu kecil dan ruang sholat juga kecil, maka sholat harus bergiliran (lihat foto di atas). Bahkan, karena sempitnya mushola, maka terpaksa lorong di sebelah mushola dimanfaatkan sebagai mushola kedua.

Jamaah yang sholat Maghrib di lorong sebelah mushola

Jamaah yang sholat Maghrib di lorong sebelah mushola

Sebagai daerah yang mempunyai filosofi adat basandi syara’ dan syara’ basandi kitabullah (yang artinya adat bersendikan pada syariat agama yaitu Islam, dan syariat agama bersendikan pada kitab suci Al-Quran), maka salah satu pengejawantahan filosofi itu mungkin gema adzan pada ruang publik seperti bandara ini. Meskipun filosofi Minangkabau tersebut saat ini sudah mulai terlihat luntur dan kurang dipegang teguh oleh sebagian masyarakatnya (contohnya kemaksiatan yang banyak terdapat di sepanjang Pantai Padang), tetapi masih ada usaha Pemerintah Daerah untuk tetap melestarikan filosofi tersebut, antara lain gema adzan di bandara BIM ini.

Saya katakan gema adzan di bandara hanya ada di BIM karena di Bandara Iskandar Muda Banda Aceh sendiri saya tidak mendengar suara adzan melalui pengeras suara di bandara tersebut (koreksi jika saya salah). Itu pengalaman saya ketika ke Banda Aceh beberapa tahun lalu, padahal Aceh adalah daerah dengan penerapan Syariat Islam.

Semoga gema adzan di BIM tetap lestari dan dipertahankan oleh pengelola bandara sebagai salah satu ciri khas bandara ini.


Written by rinaldimunir

February 23rd, 2014 at 8:03 pm

Tidak Ada Ind*mart dan Alf*mart di Sumbar

without comments

Minggu lalu saya melakukan perjalanan ke beberapa kota di Sumatera Barat bersama teman-teman dosen lain di kampus. Suatu malam teman saya keluar dari hotel untuk mencari minimarket di kota Bukittinggi guna membeli beberapa barang keperluan sehari-hari. Dia bercerita kepada saya tentang keheranannya tidak menemukan Ind*mart atau Alf*mart di Bukittinggi, padahal kalau di Bandung sangat mudah menemukannya.

Saya senyum-senyum saja mendengarnya. Sejak dulu sampai sekarang memang tidak ditemukan minimarket waralaba seperti yang saya sebutkan di atas di seluruh tempat di provinsi Sumatera Barat. Sudah berkali-kali saya pulang kampung dan tidak menemukan kedua minimarket tersebut hingga saat ini, baik di kota Padang sebagai ibukota Provinsi maupun di kota-kota lainnya di Sumbar. Alasan yang saya dengar adalah tidak (atau mungkin belum) diizinkan oleh Pemda. Padahal di propinsi tetangga seperti Riau dan Jambi kedua minimarket waralaba itu sudah berdiri sejak lama.

Kalau di Jakarta atau Bandung mau mencari barang keperluan malam-malam mah gampang, tinggal pergi ke minimarket tersebut karena tokonya ada di setiap sudut. Kedua minimarket warabala itu sangat ekspansif membuka gerai hingga ke pelosok kota kecamatan di kabupaten-kabupaten. Di Jawa Barat sendiri, selain kedua minimarket raksasa itu yang sudah dikenal, ditambah lagi dengan minimarket waralaba dari anak perusahaan Yogya Departement Store, yaitu Y*mart. Di perumahan saya di Antapani misalnya, dalam jarak kurang dari seratus meter terdapat salah satu dari ketiga minimarket tersebut, kalau tidak Alf*mart, ya Ind*mart, kalau nggak Y*mart. Bahkan, beberapa gerai saling berdekatan dalam jarak beberapa meter saja seperti pada foto di bawah ini. Di mana ada Ind*mart disitu ada Alf*mart:

Dua minimarket Alf*mart dan Ind*mart yang saling berdekatan (Sumber: http://www.ecampindonesia.com/5-alasan-mengapa-indomaret-dan-alfamart-selalu-berdekatan/)

Dua minimarket Alf*mart dan Ind*mart yang saling berdekatan (Sumber: http://www.ecampindonesia.com/5-alasan-mengapa-indomaret-dan-alfamart-selalu-berdekatan/)

Keberadaan minimarket yang menjamur itu sudah menjadi perhatian serius Pemda tingkat 2 di Jabar, sebab ada kekhawatiran keberadaanya dapat mematikan keberadaan pedagang tradisionil. Dengan suasana toko yang modern, terang, ber-AC, barang yang tertata apik, aneka barang yang cukup lengkap, dan harga jual yang pasti, membuat orang lebih suka berbelanja di minimarket waralaba tersebut. Minimarket waralaba sering dituding sebagai penyebab warung-warung atau toko kelontong menjadi sepi pembeli. Hukum alam pun berlaku bahwa yang kuat yang akan menang, yang kalah akan tersisih.

Mungkin kekhawatiran itu pula yang menjadi alasan Pemda Sumbar tidak memberi izin membuka gerai waralaba Ind*mart dan Alf*mart di seluruh daerah di propinsi Sumatera Barat. Orang Minang terkenal dengan jiwa dagangnya, sehingga larangan membuka gerai minimarlet waralaba bertujuan untuk melindungi keberadaan pedagang tradisionil yang notabene penduduk asli. Namun bukan berarti tidak ada minimarket sama sekali di sana, ada juga minimarket tetapi sifatnya milik perorangan dan bukan waralaba.

Dalam pikiran saya, larangan membangun minimarket waralaba seperti Ind*mart dan Alf*mart di Sumbar ada sisi positif dan sisi negatifnya. Sisi positifnya seperti yang saya sebutkan di atas, yaitu melindungi eksistensi pedagang tradisionil. Namun sisi negatifnya juga ada, pedagang tradisionil menjadi tidak punya trigger untuk meningkatkan kualitas dagangan maupun layanannya. Akhirnya kualitas dagangan dan kualitas layanan pedagang tradisionil ya begitu-begitu saja. Padahal kalau ada pesaing, maka setiap pedagang pasti berusaha untuk meningkatkan kualitas dagangan dan layanan untuk menarik calon pembeli datang.

Kalaupun nanti akhirnya pintu perizinan mimarket waralaba jebol di Sumbar, saya tetap tidak menginginkan pertumbuhan waralaba di Sumbar seperti di Jawa Barat. Minimarket waralaba di Sumbar tetap harus dibatasi, persyaratannya harus ketat (misalnya berjarak cukup jauh dari pasar/kios tradisional), dan yang paling penting adalah bersinergi dengan para pedagang tradisioninil, dalam arti saling menguntungkan kedua belah pihak.


Written by rinaldimunir

January 2nd, 2014 at 12:36 pm