if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Cerita perjalanan’ Category

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 5): Umrah ke Mekkah

without comments

Setelah berada delapan hari Madinah, maka pada hari kesembilan kami bersiap-siap melaksanakan umrah ke Mekkah. Ibadah umrah terdiri dari ihram, tawaf, dan sa’i. Selama umrah kita akan berpakaian ihram, yaiu bagi laki-laki menggunakan hanya dua lembar kain tidak berjahit. Untuk pembaca ketahui, rukun haji itu ada enam yaitu ihram, wukuf, tawaf ifadah, sa’i, tahalul, dan tertib.

Sehari sebelum berangkat umrah, kami semua diwajibkan mengemasi semua barang ke dalam koper besar, koper besar akan dikumpulkan keesokan paginya di depan kamar masing-masing untuk diangkut dengan bus ke Mekkah. Koper kecil berisi pakaian ganti, kain ihram, peralatan mandi, dan barang pribadi lainnya.

Hari itu Hari Jumat tanggal 27 Juli 2018, kami jamaah haji Kloter 7 JKS akan berangkat umrah ke Mekkah setelah sholat Ashar. Pagi hari sebelum sholat Jumat saya ke Raudhah terlebih dahulu (seperti yang saya ceritakan pada tulisan sebelumnya, “pamitan” ke Rasulullah). Setelah sholat Jumat (yang dijamak dengan sholat Ashar), kami kembali ke hotel untuk bersiap-siap memakai kain ihram. Pakaian ihram hanya dua lembar kain berjahit, tidak boleh pakai pakaian apapun lagi seperti pakaian dalam. Boleh memakai sabuk agar kain ihram tidak lepas. Di situs Youtube banyak sekali video yang memperagakan cara memakai kain misalnya ini, ini, dan ini.

Setelah waktu Ashar, kami diperintahkan turun ke lantai dasar hotel untuk bersiap masuk bus. Kami hanya membawa tas kecil dan tas paspor saja. Setiap rombongan sudah tahu busnya masing-masing, nomor bus sama sejak dari Bandung. Saya dan jamaah dari KBIH saya menempati bus nomor 1.

Jam 16.30 bus bergerak meninggalkan Madinah. Ada perasaan sedih meninggalkan kota Madinah disaat lagi betah-betahnya disini. Jamaah haji tidak kembali lagi ke Madinah setelah puncak haji di Arafah. Di masjid inilah terdapat maqam Rasulullah. Jutaan jamaah haji berziarah ke maqam Rasul sambil mengenang perjuangannya di masa lalu. Memang bermukim di Madinah tidak termasuk ke dalam rukun haji. Sunnah saja. Di Madinah jamaah haji berziarah ke berbagai tempat peninggalan sejarah Nabi Muhammad, termasuk shalat arbain (40 kali) di Masjid Nabawi. Selamat tinggal kota Nabi. Mudah-mudahan saya bisa kembali lagi ke sini kalau ada kesempatan melaksanakan umrah suatu hari nanti.

37835726_1971859286215420_332718386138054656_o

Hotel-hotel pemondokan jamaah haji di sekitar Masjid Nabawi, Madinah.

Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam dari hotel, sampailah jamaah haji ke Masjid Bir Ali. Jamaah haji yang datang  dari Madinah mengambil miqat di Masjid Bir Ali ini. Bir dalam bahasa Arab artinya sumur, dulu di tempat ini Ali bin Abi Thalib membangun sumur sehingga diberi nama Bir Ali. Di Masjid Bir Ali jamaah haji melaksanakan sholat sunnah dua rakaat, setelah itu melafalkan niat ihram: Labbaika Allahumma umratan, yang artinya Aku datang memenuhi panggilan-Mu untuk berumroh. Sesaat setelah mengucapkan niat umrah tersebut, maka berlakulah larangan-larangan ihram seperti tidak boleh memakai wangi-wangian, tidak boleh menggunting kuku dan rabut, tidak boleh memperlihatkan aurat, tidak boleh berhubungan suami-istri, dan masih banyak lagi larangan yang harus dipatuhi. Jika dilanggar, maka jamaah haji terkena dam atau denda yang besarnya seharga satu ekor kambing.

Setelah melafalkan niat ihram, kami masuk kembali ke dalam bus. Sepuluh bus rombongan jamaah haji Kloter 07 JKS bergerak menuju kota Mekkah. Perjalanan dari Masjid Bir Ali ke kota Mekkah akan memakan waktu enam jam. Pada sore hari itu terlihat di kiri kanan jalan pemandangan yang tandus dan gersang. Bukit batu dan tanah berpasir, hanya itu saja yang terlihat. Sekali-sekali tanpak perumahan penduduk dan bangunan-bangunan yang seperti tidak berpenghuni. Di dalam bus jamaah banyak lebih banyak duduk berdiam diri saja, atau mengikuti Pak ustad pembimbing melantunkan talbiyah. Labbaikallahumma labbaik. Labbaikalaa syarikalaka labbaik. Innal hamda, wa ni’mata, laka wal mulk, laa syarikalak. Sebenar lagi saya akan berjumpa dengan Baitullah di tanah suci Mekkah. Perasaan saya bercampur aduk.

Saya yang duduk sendirian paling belakang mulai merasakan perut tidak enak. Sakit melilit-lilit, perut ditekan terasa keras. Rupanya perut saya kembung masuk angin. Saya memang rentan masuk angin jika tidak memakai pakaian. Kain ihram yang dua lembar  membuat sebagian badan saya terbuka sehingga gampang masuk angin. Saya menyesal tidak minum jamu tolak angin sebelum berangkat tadi. Saya sarankan jamaah haji membawa cukup banyak jamu tolak angin dari tanah air karena sangat bermanfat sekali di sana ketika badan terasa kurang enak.

Ketika bus berhenti di rest area saya mencari apakah ada pedagan yang menjua jamu tersebut, ternyata tidak ada. He…he, ini bukan di Indonesia, tetapi di jalur yang sepi di Arab audi, mana ada yang menjual. Untunglah Pak Ustad Pembimbing Haji membawa jamu tolak angin. Setelah meminum jamu itu saya kentut berkali-kali (maaf), alhamdulillah perut saya sekali.

Memasuki perbatasan kota Mekkah, bus harus melapor ke pos perbatasan (check point). Di sini petugas Arab Saudi naik ke atas bus untuk memeriksa penumpang bus guna memastikan bahwa semuanya adalah jamaah haji yang legal. Oleh karena itu, kartu identitas haji kita harus selalu dibawa. Pemeriksaaan itu bertujuan untuk mencegah masuknya pendatang ilegal ke kota Mekkah. Selama musim haji, Arab Saudi memang sangat ketat memeriksa setiap orang yang masuk ke kota Mekkah. Hanya jamaah haji dan orang-orang yang punya izin khusus yang boleh masuk ke Tanah Haram. Hal ini bisa dimaklumi karena selama musim haji kota Mekkah akan sangat padat dengan jamaah haji dari seluruh dunia. Masuknya orang-orang yang tidak berkepentingan dengan urusan haji dapat membuat kota Mekkah akan macet total.

Setelah pemeriksaan beres, jamaah haji mendapat sambutan selamat datang berupa paket makanan ringan dan sebotol air zam-zam dari Kerajaan Arab Saudi. Wah, bahagia rasanya diperlakukan sebagai tamu yang dihormati.  Pemerintah Arab Saudi sebagai pengayom dua tanah suci (Mekkah dan Madinah) memang melayani tamu-tamu Allah yang datang ke negara itu. Berbagai infrastruktur dibangun besar-besaran di kedua tanah haram tersebut demi kenyamanan jamaah haji.

Dari titik check point, bus memasuki kota Mekkah. Dari atas bus tampaklah Menara Zamzam di kejauhan. Menara zamzam adalah bangunan tertinggi di kota Mekah, ia selalu tampak di mana saja kita berada.

Tepat jam 1 malam bus sampai di pemondokan haji di wilayah Syisyah 2. Karena sudah malam, kami tidak dapat melihat bangunan hotel yang akan kami tempati selama satu bulan di kota Mekkah. Kloter 07 JKS ditempatkan di dua buah hotel yang bersebelahan, yang diberi nama Hotel Indonesia 214 dan Hotel Indonesia 215. Foto di bawah ini adalah rupa hotel 215 tempat kami menginap jika dilihat pada siang hari. Hotel ini nantinya juga menjadi tempat pemnodan jamaah haji dari Kebumen (embarkasi Solo), dan jamaah haji dari Kabupaten Kerinci dan Kabupaten Muaro Jambi (embarkasi Batam).

Hotel dengan nomor 215 tempat pemondokan haji Kloter 07 JKS

Setelah selesai pembagian kamar dan penyerahan koper, kami disuruh istirahat selama satu jam di kamar masing-masing. Saya satu kamar bertiga (tiga bed), dicampur dengan jamaah haji dari KBIH Maqdis. Kamarnya tidak lebih bagus daripada kamar hotel di Madinah. Mirip kamar kos. Sepertinya bangunan hotel ini masih baru, itu terlihat dari cat dan furniturnya. Pemiliknya membangun banyak hotel di kawasan Syisyah 2, terlihat dari arsitektur bangunan di sini mirip-mirip semua.

Kamar hotel tempat saya menginap di Hotel 215. Maaf ya kamarnya berantakan. Ini foto pagi hari setelah bangun tidur.

Saya mencoba beristirahat di kamar, namun saya tidak bisa tidur, hanya tidur-tiduran saja. Ingat ya, jamaah haji yang laki-laki masih dalam berpakaian ihram,. Selama istirahat di dalam kamar kita tidak boleh mengganti pakaian, harus tetap memakai dua lembar kain tidak berjahit. Pakaian ihram tidak boleh dibuka di hadapan jamaah haji yang lainnya meskipun sesama laki-laki, sebab aurat tidak boleh kelihatan oleh orang lain. Jika terbuka, batal ihramnya. Kita boleh membuka pakaian ihram di dalam toilet jika ingin BAK atau BAB. Selama tidur-tiduran di atas kasur, saya juga tidak berani memakai selimut, karena khawatir membatalkan ihram.

Jam dua malam kami bersiap untuk melaksanakan umrah ke Masjidil Haram. Kawasan Sysisyah 2 lumayan jauh dari Masjidil Haram, yaitu sekitar 7 km. Untunglah Pemerintah RI menyediakan layanan bus-bus yang selalu beredar dari pemondokan haji ke Masjidil Haram. Bus-bus tersebut diberi nama bus Shalawat yang merupakan singkatan dari Shalat Lima Waktu. Jamaah haji Indonesia gratis naik bus tersebut. Kapan saja jamaah haji ingin pergi ke Haram untuk sholat maka tunggulah bus tersebut lewat di depan hotel. Nanti jika pulang dari Masjidil Haram ke hotel, jamaah dapat naik bus itu kembali dari terminal di dekat Haram (terminal untuk bus kami bernama Syib Amir).

Penampakan bus Shalawat pada siang hari

Perjalanan dengan bus Shalawat pada dinihari dari hotel ke Masjidil Haram memakan waktu 20 menit saja. Bus Shalawat bernomor 8 berhenti di terminal Syib Amir. Dari terminal Syib Amir kami berjalan kaki menuju kompleks Masjidil Haram. Sepanjang jalur dari terminal Syib Amir ke pintu Masjidil Haram dipenuhi toko-toko dan restoran yang berjualan kebutuhan jamaah haji (makanan, buah-buahan, kurma, pakaian, asesori, dan sebagainya). Berbagai restoran cepat saji khas Arab berderet menawarkan makanan yang menggoda (restoran broast).

Terminal Syib Amir pada siang hari

Restoran dan toko-toko di Terminal Syib Amir

Sambil berjalan menuju Masjidil Haram, saya memandang menara Zamzam.  Menara Zamzam berdiri dengan gagahnya di beranda Masjidil Haram, tampak dari arah terminal bus. Di menara ini terdapat puluhan hotel dan mal. Jamaah haji ONH plus (sekarang bernama program Haji Khusus untuk membedakannya dengan program haji reguler) biasanya menginap di hotel2 di Menara Zamzam, bukan di pemondokan seperti yang kami tempati. Cukup berjalan 50 meter dari Menara Zamzam langsung masuk Masjidil Haram.

Masjidil Haram dan Menara Zamzam pada siang hari

Menara Zamzam adalah bangunan paling tinggi di Kota Mekah. Dimana pun kita berada di Mekah pasti dapat melihat menara ini dari kejauhan. Di puncaknya berdiri bangunan bulan sabit dari emas murni yang beratnya berton-ton. Lalu sebuah jam besar yang menjadi patokan waktu di Mekah.

Crane-crane yang terlihat di dalam foto di atas menunjukkan bahwa pembangunan perluasan Masjidil Haram masih terus berlangsung. Sejak saya umrtah tahun 2015 hingga naik haji tahun ini, tampaknya perluasan Masidil Haram belum selesai-selsesai juga.

Kami memasuki Haram dari pintu Marwah. Ini adalah pintu tempat keluar jika sudah selesai sa’i. Dari pintu ini kami berjalan kaki ke arah ka’bah melewati jalur sa’i. Meski waktu saat itu dinihari, jamaah haji yang melakukan sa’i ramai sekali. Oh iya, rangkaian ibadah umrah terdiri dari thawaf, sa’i, dan ditutup dengan tahalul. Suhu udara di linatsan sa’i ini lumayan dingin karena banyak sekali dipasang kipas angin yang meniupkan udara dingin di dalam ruangan. Brrr….

Jalur melakukan sa’i, yaitu lari-lari kecil antara bukit Shhafa dan bukit Marwah

Setelah berjalan kaki melalui lintasan sa’i sampailah kami ke mataf, yaitu tempat melakukan thawaf. Allahu Akbar, tampaklah di depan kami ka’bah, Baitullah, Rumah Allah, yang selama ini hanya dapat dilihat gambarnya saja. Kami ingin thawaf di plaza, yaitu lantai dasar yang langsung berhadapan dengan ka’bah. Dari lantai dua kami turun ke lantai dasar. Suasana plaza di depan ka’bah saat dinihari itu sangat ramai dengan jamaah haji yang thawaf maupun yang sholat. Jamaah haji dari seluruh dunia sudah berdatangan ke Mekkah, jadi wajar saja Masjidil Haram saat itu sudah padat.

Ka’bah, kiblat ummat Islam sedunia. Sepoton bulan menggantung di atas kota Mekkah. Sungguh indah sekali malam itu.

Rombongan KBIH kami thawaf dalam satu kelompok. Jamaaah perempuan berada di tengah, lalu dibentengi di kiri kanannya dengan jamaah laki-laki. Pembimbing haji berada di depan memimpin thawaf. Agar suara pembimbing dapat didengar oleh jamaah, maka masing-masing kami dilengkapi dengan perangkat radio dan kabel earphone. Earphone dipasang ke telinga, dihubungkan dengan perangkat radio yang ditaruh di dalam tas paspor (tas paspor digantung ke leher). Setiap memutar ka’bah ustad pembimbing memandu bacaan doa, kami mendengarnya melalui perangkat earphone tadi, lalu melafalkan doa yang dibaca Pak Ustad.  Menurut saya cara ini lebih efektif daripada pembimbing haji mbaa doa keras-keras agar didengar jamaahnya.

Thawaf dilakukan sebanyak tujuh putaran, dimulai dari sudut ka’bah yang terdapat hajarul aswad (batu hitam) dan setiap putaran berakhir di sudut itu juga. Untuk mengetahui letak hajarul aswad dari kejauhan, tedapat lampu berwarna hijau di sudut dinding masjid. Jamaah haji melihat ke lampu hijau itu untuk memulai putaran berikutnya. Bacaan yang dibaca ketika memulai putaran dari hajarul aswad adalah bismillahi allahu akbar sambil mengangkat tangan kanan dan mengecupnya (sebagai simbol mencium hajarul aswad).  Ketika melewati sudut ka’bah yang bernama sudut Yamani, jamaah juga melafalkan bacaan yang sama tatapi tanpa mengecup tangan.

Sebenarnya pada setiap putaran kita bebas membaca doa apa saja, namun Kemenag RI  telah meyediakan buku kecil yang berisi kumpulan doa selama thawaf dan sa’i. Jamaah yang melakukan thawaf sendiri dapt membaca doa di buku itu sembari memutar ka’bah.

Selama thawaf kita dapat menyaksikan gaya masing-masing jamaah berbagai negara dalam membaca doa. Ada yang berjalan sambil membaca buku doa, atau membaca doa dari layar ponsel. Rombongan jamaah haji Indonesia dari berbagai daerah dapat mudah dikenali. Jamaah haji Indonesia tubuhnya kecil-kecil namun tertib, kontras dengan jamaah haji dari Turki, India, Mesir, Asia Tengah, yang bertubuh besar-besar dan berjalan dengan sangat cepat. Selama thawaf kami sering tergencet tubuh-tubuh jamaah haji yang besar-besar itu, beberapa kali kami terdorong ke kiri dan ke kanan. Hampir saja rombongan kami terpecah, tetapi dapat bersatu kembali. Ibadah thawaf memang memerlukan fisik yang kuat karena selain berjalan sebanyak tujuh putaran kita juga harus mengantisipasi tergencet atau terdorong oleh jamaah haji lainnya dalam suana yang padat dna berdesak-desakan.

Kurang dari satu jam akhirnya kami selesai melaksanakan thawaf, lalu kami keluar dari putaran. Selanjutnya kami mencari tempat di dekat maqam Ibahim untuk melaksanakan sholat sunnat dua rakaat. Rakaat pertama membaca surat Al-kafirun, sedangkan rakaat kedua membaca surat Al-ikhlas. Selesai sholat sunnat, selanjutnya meminum air zamzam dari gentong-gentong yang banyak terdapat di sudut-sudut Masjidil Haram.

Selanjutnya jamaah haji menuju masa’a untuk melaksanakan sa’i. Sa’i adalah berlari-lari kecil antara bukit Safa dan bukit Marwah sebanyak tujuh kali. Setiap kali dari Safa ke Marwa dihitung satu kali, begitu pula dari Marwa ke Safa. Sa’i merupakan pengulangan sejarah Siti Hajar yang mencari air untuk minum bayinya (Ismail) yang kehausan. Ismail terus menangis karena haus, sementara ASI Siti Hajar sudah kering. Saya mengenang ribuan tahun yang lalu kisah Siti Hajar dan putranya Ismail. Dia melihat dari bukit Safa sekiranya ada air di sekeliling padang yang tandus. Dia melihat ada bayangan air di bukit Marwah, lalu dia berlari ke bukit Marwah. Ternyata yang dia temukan adalah fatamorgana belaka. Kemudian dia balik lagi ke bukit Safa. Begitu seterusnya sebanyak tujuh kali.

Sekarang bukit Safa dan bukit Marwah sudah tidak ada lagi seperti zaman dulu. Pembangunan perluasan Masjidil Haram mengakibatkan kedua bukit itu telah dipapas. Yang tersisa adalah sebagian potongannya yang dijadikan memorabilia sebagai tanda di situ terdapat kedua bukit tersebut. Saat ini tempat sa’i sudah sangat nyaman dan terdiri dari tiga lantai.

Awal sa’i adalah dari bukit Safa ini.

Bukit Marwa

Sa’i dimulai dari Safa dan setelah tujuh kali berlari maka akan berakhir di Marwa. Pada  lintasan dari Safa ke Marwa maupun sebaliknya ada bagian lintasan yang ditandai dengan lampu berwarna hijau. Jamaah laki-laki berlari-lari ekcil pada bagian lintasan ini, sedangkan jamaah perempuan cukup berjalan cepat atau berjalan biasa saja. Di sepanjang lintasan sa’i terdapat kran air zamzam. Jamaah yang lelah dapat berhenti dulu untuk minum air zamzam lalu menersukan sa’inya.

Ibadah sa’i kami terpotong dengan sholat Subuh. Setelah berlari sebanyak lima kali, adzan Subuh berkumandang. Sa’i pun dihentikan sementara. Kami mencari  tempat di lintasan sa’i untuk bersiap-siap sholat Subuh berjamaah. Selesai sholat Subuh, ritual sa’i yang tersisa pun dituntaskan. Alhamdulillah, pukul 6 pagi kami sudah selesai menuntaskan sa’i. Ibadah umrah diakhiri dengan tahalul, yaitu memotong sedikit rambut sebagai simbol halal melakukan apa-apa yang dilarang selama berihram. Kami sudah boleh memakai pakaian baisa, namun pakaian biasa ada di kamar hotel, jadi nanti di sana saja.

Tuntas sudah ibadah umrah. Kami berjalan keluar Haram menuju terminal Syib Amir. Kami menaiki bus shalawat kembali ke hotel untuk beristirahat. Sebelum pulang, saya singgah dulu ke restoran Ayam Broast yang tadi saya lewati. Kayaknya makanannya enak juga, maklum perut sudah lapar. Saya membeli kentang goreng untuk sarapan nanti di hotel. (BERSAMBUNG)

Written by rinaldimunir

October 19th, 2018 at 2:44 pm

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 4): Masjid Nabawi dan Sekitarnya

without comments

Masjid Nabawi sangatlah besar dan interior di dalamnya sangat indah. Barangsiapa yang masuk ke dalamnya pasti akan merasa terkaum-kagum melihat keindahannya. Lengkung-lengkung di dalamnya dipengaruhi gaya masjid di Turki dan Cordoba (Spanyol). Karpet merah terbentang hampir di seluruh lantainya. Lampu-lampu kristal bergelantungan di langit-langit.  Pintu-pintunya sangat banyak. Jamaah haji harus mengingat di pintu mana ia masuk agar tahu kalau nanti kalau keluar supaya tidak tersesat.

Interior yang cantik di dalam Masjid Nabawi

Di dalam masjid Nabawi jamaah haji dari berbagai bangsa berkumpul untuk melaksanakan sholat maupun mengaji Al-Quran. Jika ingin mendapatkan shaf di dalam masjid, maka datanglah setengah jam sebelum sholat dimulai. Jika datang pas mendekati waktu sholat, maka mungkin jamah mendapat shaf paling belakang atau di luar masjid. Selama di Madinah jamaah haji memperbanyak sholat di Madjid Nabawi, karena sholat di Masjid Nabawi 1000 kali pahalanya dibandingkan sholat di masjid lain, kecuali di Masjidil Haram.

Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom. Shalat di Masjidil Harom lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” (HR. Ahmad 3/343 dan Ibnu Majah no. 1406, dari Jabir bin ‘Abdillah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1173.).

Duduk-duduk di dalam masjid membuat kita betah dan tidak ingin untuk pulang. Udara yang sejuk di dalam masjid yang berasal dari pendingin udara membuat mata terkantuk-kantuk. Memang banyak jamaah haji menunggu waktu sholat berikutnya di dalam masjid. Setelah sholat maghrib, sebagian jamaah haji tetap berada di dalam Masjid Nabawi menunggu sholat Isya. Begitu juga setelah sholat Dhuhur, tetap berada di dalam masjid sambil menunggu waktu sholat Ashar.

Sambil menunggu waktu sholat berikutnya, sebagian jamaah menghabiskan waktunya dengan membaca Al-Quran. Kitab Al-Quran tersebar di berbagai rak yang bertebaran di dalam masjid. Sebagian lagi saya lihat banyak jamaah haji tidur-tiduran di dalam masjid. Ternyata tidak di Indonesia saja jamaah tidur di dalam masjiid, di Saudi juga sama ya. Nah, kalau anda tidur di dalam masjid Nabawi, sebaiknya perhatikan  etika ini. Jangan tidur dengan menjulurkan kaki anda ke arah kiblat atau ke arah maqam Nabi (maqam nabi berada di bagian depan Masjid Nabawi). Jadi, kepala anda berada di sebelah barat dan kaki anda ke arah timur. Saya pernah ditegur oleh jamaah haji dari Bangladesh karena kaki saya menghadap ke arah maqam Nabi. Tidak menghormati Nabi, katanya.

Setiap hari Senin dan Kamis sore menjelang sholat Maghrib saya melihat  pemandangan yang unik.  Di atas karpet tempat sholat terbentang kain putih. Di atasnya ditata hidangan seperti roti Arab, kurma, dan air zam-zam (kadang-kadang yoghurt). Di ujung kain putih seorang pemuda Madinah  memohon-mohon kepada jamaah yang lewat di dalam di masjid Nabawi untuk singgah mencicipi hidangan yang mereka sediakan secara gratis. Halal, halal, katanya. Kalau kita tidak singgah mereka sedikit kecewa.  Hidangan ini sebenarnya ditujukan bagi jamaah yang akan berbuka puasa sunat, tetapi jamaah yang tidak puasa juga boleh makan.

Pemuda ini menawarkan hidangan kepada setiap jamaah yang lewat.

Sampai kenyang perut saya karena makan hidangan tsb di dekat pintu masuk, tapi ketika berjalan ke arah depan semakin banyak saja yang menawarkan dan sudah tidak sanggup lagi saya. Syukran, syukran, kata saya.

Kebiasaan menjamu jamaah biasanya saya dengar pada saat bulan Ramadhan. Saat itu banyak penduduk Makkah dan Madinah berlomba-lomba menyediakan hidangan gratis bagi orang yang berpuasa, mereka memohon agar orang yang lewat mencicipi takjil untuk berbuka puasa. Setelah Ramadhan, kata pemuda itu menjelaskan dengan bahasa Inggris yang patah-patah, kebiasaan itu berlanjut setiap hari Senin dan Kamis.

Jamaah sedang mencicipi hidangan dari penduduk Madinah yang dermawan.

Saat musim haji seperti sekarang sekitar 2 juta jamaah datang dari berbagai penjuru dunia memenuhi kota Madinah. Tentu penduduk kota Madinah akan semakin berlomba meraih pahala dengan menjamu jamaah haji yang menjadi tamu-tamu Allah itu. Penduduk Madinah memang orang yang ramah, jadi teringat ketika Rasulullah dan kaum Muhajirin disambut dengan suka cita oleh kaum Anshar di Madinah. Allahumma shalli ala Muhammad.

Pemandangan lain yang saya lihat di dalam Masjid Nabawi adalah pemuda dan anak-anak kota Madinah sedang setor hafalan ayat Al-Quran kepada gurunya usai sholat Ashar. Mereka menghadap ke guru, lalu membacakan hafalan. Jika bacaannya salah maka dikoreksi oleh guru. Metode ini mirip dengan metode tahfidz di tanah air kita, atau mungkin yang metode di tanah air mengadopsi sistem di Madinah.

Anak-anak sedang setor hafalan Al-Quran

Seorang pemuda sedang setor hafalan Quran. Gurunya mendengarkan dengan seksama.

Di dalam Masjid Nabawi ada sebiuah tempat yang selalu menjadi incaran jamaah, apalagi kalau bukan Raudhah. Raudhah adalah sebuah area yan luasnya 100 meter persegi yang terletak di antara maqam Nabi dan mimbar Nabi. Dahulunya Raudhah adalah tempat yang terletak antara rumah Nabi dan mimbar Nabi. Masjid Nabawi dulu kecil adanya, sedangkan rumah Rasululllah terletak di luarnya. Rasulullah berkata:

Antara rumahku dan mimbarku terdapat taman di antara taman surga.” (HR. Bukhari, no. 1196 dan Muslim, no. 1391)

Ummat Islam meyakini bahwa Raudhah adalah tempat yang mustajab untuk berdoa. Tempat itu menyebabkan masuk surga dan bahwa doa serta shalat di dalamnya layak mendapatkan balasan seperi itu, demikan tafsir para ulama.

Sholat di Raudhah. Dibalik teralis berwarna hijau itulah terdapat makam Rasulullah, Abu Bakar Siddiq, dan Umar bin Khatab

Untuk bisa memasuki Raudhah perjuangannya sangat luar biasa. Ribuan orang berdesak-desakan antri untuk memasuki Raudhah. Untuk jamaah wanita disediakan jalur khusus dan hanya dibuka setelah sholat Subuh dan Ashar, sedangkan untuk jamaah laki-laki dapat ke Raudhah waktu kapan saja.

Setiap usai sholat lima waktu jamaah haji berlomba mendekati Raudhah. Para askar dan petugas cleaning service sudah membuat barikade dengan memblok jalur ke Raudhah. Mereka mengatur jamaah yang berdesak-desakan untuk memasuki Raudhah. Setiap kali masuk Raudhah dibatasi sekitar seratus orang. Jamaah yang tidak tahan terjepit biasanya keluar dari antrian. Untuk bisa memasuki Raudhah diperlukan waktu sekitar satu jam, yang penting sabar  saja. Sebaiknya jamah membekali dirinya dengan air minum karena antri di dalam keumunan yang sangat padat dan berdesak-desakan memerlukan stamina kuat. Waktu terbaik ke Raudhah adalah siang hari jam 10 pagi dan malam hari setelah jam 22.00. Saat itu antrian tidak terlalu padat karena jamaah sudah banyak yang pulang ke pemondokan.

Area Raudhah ditandai dengan karpet berwarna hijau

Sholat dan berdoa di Raudah tidak bisa berlama-lama, karena jamaah yang lain juga antri untuk masuk ke dalamnya. Para askar meemberi waktu kira-kira 10 menit kepada jamaah berada di dalam Raudhah, lalu menyuruh jamaah segera keluar. Askar tidak berani mengusir jamaah yang sedang sholat di Raudhah, tetapi mereka “mengusir” jamaah yang terlalu lama berdoa. Padahal, setiap jamaah yang memasuki Raudhah sudah memiliki rencana sejumlah doa dan permohonan yang akan disampaikan di Raudhah. Jika dilakukan dalam keadaan terburu-buru karena kasip waktu tentu tidak akan kesampaian semua doa tersebut. Satu tips agar bisa berdoa agak sedikit lama di Raudhah adalah jangan berdoa sambil duduk menengadahkan kedua tangan sebegaimana kita berdoa pada umumnya, tetapi berdoalah sambil bersujud. Maksudnya, anda mengambil posisi sujud lalu berdoalah dalam keadaan sujud tersebut, askar menyangka anda sedang melaksanakan sholat. Seperti yang saya katakan tadi, askar tidak akan berani mengusir jamaah yang sedang sholat,  he..he..

Di Raudhah perasaan saya pun mellow-mellow. Saya hampir tidak percaya bisa duduk sebegitu dekat dengan Rasulullah, di sebelah maqamnya. Yang memisahkan saya dengan Rasulullah hanyalah waktu sejarak 1500 tahun. Lima belas abad yang lalu lelaki mulia itu tinggal dan dimakamkan di sini. Sekarang saya ada di sampingnya, jarak kami berdua hanya beberapa meter saja. Meski hanya berada disamping jasadnya yang sudah di dalam tanah, itu sudah membuat saya merasa terharu. Saya bayangkan dulu beliau bolak-balik dari rumahnya (yang sekarang menjadi maqamnya) ke mimbarnya melewati tempat yang saya duduki ini.

Ya Nabi salam alayka, ya Rasul salam alayka. ya habib salam alayka, shalawatullah alayka. Shalawat dan salam tercurah untukmu. Begitu besar kecintaan kaum muslimin dan muslimat di seluruh dunia kepadamu. Namamu selalu disebut setiap sholat, shalawat dan salam selalu dikirim kepadamu. Hanya engkau yang bisa memberi syafaat kepada umat di Hari Akhir nanti. Sekarang saya datang berziarah ke maqammu.

Selama di Madinah saya sudah beberapa kali bisa berhasil memasuki Raudhah. Beberapa kali gagal karena saking padatnya antrian yang berdesak-desakan. Pada hari terakhir saya meninggalkan Madinah sebelum berangkat ke Mekkah untuk melaksanakan umrah, saya sempatkan datang ke Raudhah lagi sekitar jam 10 pagi. Saya akan “berpamitan” dengan Rasulullah. Disitulah saya sholat sunnah dua kali, dan pada shalat sunnat yang terakhir saya menangis sejadi-jadinya. Teringat perjuangan Rasulullah Muhammad SAW, teringat anak saya yang saya tinggalkan,teringat dosa-dosa saya. Saya berdoa dalam keadaan sujud, dan saya menangis lagi tidak terbendung.

Selesai sholat di Raudhah, jamaah keluar masjid dan melewati melalui maqam Rasulullah dan para sahabatnya (Abubakar Siddiq dan Umar bin Khatab). Di sini kita melakukan ziarah ke maqam Rasulullah. Jamaah biasanya berjalan pelan sambil mengintip ke dalam melalui celah-celah yang agak terbuka. Saya melihat ke dalam seperti ada cungkup yang ditutupi dengan kain hijau. Mungkin itulah maqam Rasulullah atau sahabatnya. Saya melihat berbagai kelakuan jamaah di depan maqam Nabi. Ada jamaah yang mengusap-ngusapkan tangannya ke pintu maqam, mengibas-ngibaskan kain atau pecinya ke pintu maqam, mungkin mereka ngalap berkah. Askar yang berjaga di sana selalu memperingatkan jamaah agar tidak melakukan perbuatan yang dianggap syirik atau bidáh. Hajj..haj..la..la, kata akar memperingatkan jamaah.

Berziarah ke maqam Rasulullah

Selama di Madinah jamah haji memaksimalkan sholat lima waktu di Masjid Nabawi. Pemerintah Indonesia memberikan waktu sembilan hari (termasuk hari kedatangan dan hari meninggalkan Madinah) kepada jamaah haji berada di Madinah untuk melakukan arbain, yaitu sholat wajib sebanyak 40 kali di Masjid Nabawi. Alhamdulillah, saya bisa melaksanakan arbain di Masjid Nabawi. Kalau saya hitung sejak waktu kedatangan di Madinah dan pergi meninggalkan Madinah, memang pas melaksanakan sholat wajib sebanyak 40 kali (kira-kira 8 hari, yaitu 8 x 5) di Masjid Nabawi. Kami sampai di Madinah pada waktu sore hari menjelang Ashar, dan pergi dari Madinah setelah sholat Ashar.

Sholat di Masjid Nabawi maupun mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Madinah tidaklah termasuk Rukun dan Wajib Haji. Jadi, sebenarnya tidak ada keharusan bagi jamaah haji untuk ke Madinah. Haji itu adalah wukuf d Arafah. Namun, jamaah haji berada di Madinah tujuannya adalah untuk berziarah dan tentu saja menikmati sholat di Masjid Nabawi.

Setelah dua hari berada di Madinah, Panitia Haji Indonesia memfasilitasi jamaah haji untuk mengunjungi dua tempat bersejarah, yaitu Masjid Quba dan Bukit (Jabal) Uhud, serta agenda tambahan mengunjungi kebun kurma. Masjid Quba adalah masjid yang pertama dibanun oleh Rasulullah, letaknya di luar kota Madinah. Jabal Uhud adalah tempat lokasi peperangan antara kaum muslimin dengan kaum kafir Quraisy yang terkenal dengan nama Perang Uhud.

Pemerintah RI menyediakan 10 bis untuk setiap kloter melakukan ziarah ke sana. Pagi hari setelah sholat Subuh jamaah haji sudah bersiap menunggu di depan hotel untuk berangkat tur. Kunjungan pertama adalah ke Masjid Quba. Di sini jamaah haji melakukan sholat sunnah. Hanya sebentar di sini, karena masih ada kunjungan ke tempat lainnya.  Tur harus selesai sebelum waktu Dhuhur agar jamaah bisa sholat wajib di Masjid Nawabi.

Masjid Quba tampak dari luar

Mihrab Masjid Quba

Menara Masjid Quba

Setelah berfoto-foto di sini, dari Masjid Quba tur dilanjutkan ke Bukit Uhud. Pada siang hari Bukit Uhud tampak berwarna kemerah-merahan. Kita bisa membayangkan disinilah Rasulullah dan kaum muslimin Madinah berperang dengan kaum Quraisy. Pada Perang Uhud ini kaum muslimin menderita kekalahan akibat tidak mau menuruti perintah Rasulullah, mereka lebih tergoda dengan harta pampasan perang yang ditinggalkan kaum Quraisy.

Bukit Uhud

Bukit Uhud yang berwarna merah

Di kompleks Bukit Uhud ini terdapat makam para syuhada yang gugur dalam peperangan, termasuk Hamzah, Paman Nabi Muhammad, yang juga gugur. Kita dapat melihat kompleks pemakaman itu, tetapi karena ditutup dengan plastik putih sehingga kurang terlihat dengan jelas. Tidak terlihat seperti kuburan, tidak ada batu-batu nisan seperti makam di Tanah Air, karena begitulah kebiasaan di Arab Saudi dalam menguburkan jenazah.

Kompleks makam para syhada

Dari Bukit Uhud, tur dilanjutkan ke kebun kurma. Di kebun kurma ini terdapat toko yang menjual bermacam-macam jenis kurma dari yang berwarna kuning, merah, hingga hitam, salah satunya kurma ajwa, yang disebut juga kurma Rasul, karena Rasulullah menyunnahkan makan kurma ini. Kurma ajwa adalah kurma favorit dan selalu menjadi buruan jamaah haji. Menurut saya harga kurma di kebun kurma mahal-mahal, saya tidak menganjurkan jamaah membeli kurma buat oleh-oleh di sini. Lebih baik membeli kurma di Pasar Kurma di Madinah (Pasar Kurma terletak setelah Gate 7 dari Masjid Nabawi). Sebagai perbandingan, satu kg kurma ajwa di kebun kurma dijual 60 riyal, sedangkan di Pasar Kurma dengan kualitas yang sama harganya 40 hingga 50 riyal, bahkan bisa 30 riyal asal pandai menawar. Jamaah haji umumnya membeli kurma dalam jumlah yang banyak, mereka mengirimkannya melalui cargo ke tanah air, sebab ada batasan membawa barang ke dalam pesawat ketika pulang (hanya boleh membawa satu koper besar, satu ts tenteng, dan satu tas paspor).

Selesai tur, jamaah haji kembali ke hotel untuk mengejar sholat Dhuhur berjamaah di Masjid Nabawi.

Sebenarnya ada satu tempat lain yang juga menjadi keinginan jamah haji untuk mengunjunginyam di luar kota Madinah yaitu jabal magnit. Disebut demikian karena tempat ini dianggap memiliki pengauh medan magnet. Mobil dapat melaju kencang dalam posisi netral, bahkan bisa mencapai kecepatan 120km/jam padahal mobil lumayan besar 3500 cc. Supir bus kami membawa mobil dalam posisi kopling netral. Mobil melaju kencang namun mesin tetap hidup dan rem tetap dipakai sebagai pengendali.

Jabal magnet

Kawasan jabal manet

Jabal magnet tidak termasuk ke dalam paket tur yang saya ceritakan di atas. Jika berminat ke sana, jamaah haji dapat urunan menyewa bus. Rombongan KBIH kami menyewa satu bus ke sana, setiap kami urunan 30 riyal.

Ada beberapa masjid yang bisa diziarahi di sekitar Masjid Nabawi, yaitu tiga buah masjid bersejarah. Masjid pertama adalah Masjid Ali bin Abi Thalib, masjid kedua adalah Masjid Abu Bakar, dan masjid ketiga adalah Masjid Ghamammah. Sesuai namanya, Masjid Ali dan Masjid Abu Bakar memang dibangun oleh kedua khalifah tersebut. Masjid Ghamammah adalah masjid di mana Nabi melakukan sholat istisqa‘untuk meminta turun hujan.

Ketiga masjid tersebut tidak jauh dari Masjid Nabawi, namun tidak digunakan lagi untuk sholat. Pintu masjid terlihat dalam keadaan tertutup. Namun saya perhatikan banyak juga jamaah haji yang melakukan sholat sunnat di luar masjid tersebut, padahal sudah ada larangan untuk tidak melakukan sholat di sana.

Masjid Ali

Masjid Abu Bakar

Masjid Ghamammah

Seperti yang saya tulis di atas, rangkaian kegiatan di Madinah memang tidak masuk ke dalam Rukun Haji. Selama 9 hari jamaah haji Indonesia gelombang satu tinggal di Madinah sebelum bertolak menunaikan rukun haji di Mekah. Selama di Madinah jamaah sholat arbain di Masjid Nabawi dan berziarah ke tempat-tempat bersejarah seperti Bukit Uhud, masjid Quba, Masjid Qiblatain, dan tiga madjid di atas. Masih ada lagi yang ingin dikunjungi yaitupercetakan Al-Qur’an, tetapi karena tidak punay waktu yang cukup maka kunjungan ke percetakan Al-Quran tidak jadi dilakukan. (BERSAMBUNG)

Written by rinaldimunir

October 12th, 2018 at 1:29 pm

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 3): Di Kota Nabi, Madinah nan Barokah

without comments

Selamat datang di kota Nabi, Madinah yang penuh barokah, ahlan wa sahlan. Ya Rasulullah, saya sampai ke kota yang warganya dulu menyambutmu dan kaum muhajrin lainnya dengan ramah dan tangan terbuka.

Inilah Madinah, kota yang tenteram dan damai. Tidak perlu menempuh waktu lama dari bandara Madinah menuju hotel, dua puluh menit dengan bus sampailah kami di hotel  Taiba Arac Suites. Hotel Taiba terletak persis di samping Masjid Nabani, yaitu di balik pagar hotel, tepatnya antara pintu gerbang 16 dan pintu gerbang 17.   Sangat dekat sekali, hanya sepelemparan batu saja.

Hotel Taiba Arkac Suites, tempat kami menginap, terletak antara Gate 16 dan Gate 17

Pemerintah RI telah menyewa puluhan hotel di sekitar Masjid Nabawi. Hotel-hotel untuk pemondokan jamaah haji Indonesia di Madinah sangat dekat dengan Masjid Nabawi, paling dekat 50 meter dan paling jauh adalah 500 m. Kondisi ini sangat berbeda ketika di Mekah, hotel pemondokan jamaah haji Indonesia letaknya cukup jauh dari Masjidil Haram, paling dekat 1 km, paling jauh 7 km dari Haram (sebutan untuk masjidil haram).

Hotel-hotel di sekitar Taiba Arkac Suites.

Sesampai jamaah di hotel, petugas kloter dan ketua rombongan  langsung melakukan pembagian kamar. Satu kamar bisa diisi dengan empat hingga enam orang. Hotel Taiba sangat besar, terdiri dari 15 lantai, kamar-kamarnya sangat banyak. Hotel ini dapat menampung 15.000 jamaah haji. Hotel Taiba menjadi pemondokan jamaah dari berbagai kloter dan daerah di tanah air. Jamaah haji yang menempati hotel ini yang saya ketahui datang dari Garut, Jember, Kabupaten Musi Rawas, Tegal, Palembang, Bandung, dan lain-lain.

Satu kamar dengan empat tempat tidur

Satu persoalan di hotel di Madinah adalah tidak ada tempat untuk menjemur pakaian, padahal kita cukup lama di Madinah yaitu selama sembilan hari. Sebenarnya bisa saja menggunakan jasa laundry di hotel atau laundry di luar, tetapi tentu harganya cukup mahal. Alternatifnya adalah menjemur pakaian di dalam kamar mandi. Namun saya melihat jendela di sebelah tempat tidur saya bisa digeser sedikit jendelanya. Lubang-lubang jeruji di balik jendela itu ternyata bisa digunakan untuk mengaitkan gantungan jemuran. Saya membawa beberapa gantungan jemuran dari rumah. Jadilah saya dan teman sekamar bergantian menjemur pakaian di balik jendela itu. Menjemur pakaian di Madinah tidak perlu menunggu waktu lama untuk kering. Udara yang panas membuat pakaian basah cepat kering. Tiga sampai empat jam saya jemur pada siang hari sudah kering.

Karena hotel ini menampung belasan ribu jamaah haji, maka kejadian yang sering menjengkelkan adalah saat naik lift menuju lantai kamar. Usai sholat di Masjid Nabawi, ratusan jamaah haji kembali ke hotel  untuk beristirahat dan makan. Lift yang tersedia di berbagai sisi di hotel jumlahnya terbatas sementara yang mau naik ratusan orang. Maka yang terjadi adalah tumpukan jamaah yang tidak sabar untuk antri naik lift. Usai sholat Dzuhur dan Isya di Masjid Nabawi adalah saat-saat rush hour di depan lift hotel.

Pemandangan padatnya jamaah menunggu naik lift saat rush hour 

Tipikal orang Indonesia adalah  tidak mau antri atau membentuk barisan yang tertib. Mereka saling dorong untuk masuk lift terlebih dahulu. Lift bergerak menuju setiap lantai untuk menurunkan jamaah sampai lantai teratas, lalu kembali ke bawah. Terbayang kan lama sekali menunggu lift itu turun kembali ke lantai dasar. Oleh karena itu, banyak jaamah haji menunggu dulu di masjid sampai merasa antrian di lift sudah mulai berkurang, baru kemudian pulang.

Antri naik lift

Masjid Nabawi yang terletak persis disamping hotel memudahkan saya dan jamaah lain untuk setiap waktu ke sana. Cukup berjalan kaki selama 5 menit sampailah kita ke pintu masjid.  Masjid Nabawi sangat luas. Kata ustad pembimbing haji kami, dulu luas kota Yastrib (Madinah sekarang) adalah seluas masjid Nabawi sekarang. Berjalan kaki mengelilingi Masjid Nabawi melalui pelatarannya memakan waktu setengah jam. Waktu yang cocok untuk berjalan mengelilingi  Masjid Nabawi adalah seusai sholat subuh, sore hari menjelang Maghrib, atau malam selepas Isya. Saat itu udara kota Madinah sudah mulai sejuk. Payung-payung raksasa di pelataran masjid sudah menguncup. Ketika siang hari, payung-payung itu dikembangkan agar jamaah terlindung dari panas menyengat. Payung-payung dikembangkan secara otomatis dari sentralnya usai sholat Subuh dan dikuncupkan lagi menjelang sholat Mahgrib. Sangat menarik menyaksikan detik-detik payung itu mengembang atau menguncup saat bersamaan. Jika pada siang hari kita datang ke masjid,  kita tidak dapat melihat rupa masjid secara utuh karena tertutup oleh payung-payung itu. Jadi waktu terbaik memotret masjid adalah saat payung itu menguncup.

Biasanya foto dengan latar belakang Masjid Nabawi tertutup oleh payung-payung raksasa yang mengembang. Saat payungnya menguncup pada sore hari, barulah tampak masjidnya.

Jamaah haji harus menghafal nomor-nomor pintu masjid dan nomor pintu gerbang agar tidak kesasar. Pintu masuk masjid banyak sekali, jadi jangan sampai lupa nomornya. Masuk dari pintu berapa dan keluar lagi melalui pintu yang sama. Jangan sekali-sekali merasa takabur “ah, gampang kok“, seringkali saya mendengar cerita jamaah yang tidak tahu arah pulang krena merasa takabur. Jadi, hati kita harus dibersihkan ya, jangan sombong atau takabur.  Dulu waktu saya umrah pintu gerbang tidak diberi nomor, hanya bangunan toilet yang diberi nomor, sekarang setiap pintu gerbang sudah diberi nomor. Hotel saya terletak di antara gerbang nomor 16 dan 17.

Saat malam hari usai sholat Isya atau sholat Subuh adalah saat yang cukup syahdu untuk  berjalan-jalan di pelataran masjid menikmati rupa Masjid Nabawi. Langit malam di atas masjid Nabawi tampak bersih tanpa awan. Tidak terlihat bintang-bintang, tetapi sepotong bulan sabit terlihat begitu indahnya.

Sepotong bulan di atas langit Madinah.

Suasana di dalam Masjid Nabawi akan saya ceritakan dalam tulisan tersendiri sesudah tulisan ini.

Jamaah haji berada di Madinah selama sembilan hari untuk dapat melaksanakan arbain, yaitu sholat 40 kali di Masjid Nabawi. Karena pemondokan jamaah haji hampir seluruhnya sangat dekat dengan masjid Nabawi, maka jamaah haji insya Allah dapat melaksanakan sholat wajib sebanyak 40 kali di sana. Saya sudah menghitung sejak  check-in hotel di Madinah hingga check-out hotel, memang pas waktunya untuk 40 kali sholat wajib di Masjid Nabawi. Sholat arbain di Masjid Nabawi hukumnya sunnah, jadi jamaah haji tidak perlu memaksakan diri. Jika tidak kuat, tidak usah dipaksakan. Tapi kalau badan sehat usahakanlah karena kesempatan sholat di Masjid Nabawi adalah langka, tidak akan kita dapatkan kalau kita sudah pulang ke tanah air.

Selama di Madinah jamaah haji mendapat makan setiap hari dua kali sehari (makan siang dan makan malam). Pemerintah Indonesia menyediakan layangan catering haji tahun ini sebanyak 40 kali, lebih banyak daripada tahun lalu yang hanya 25 kali. Perusahaan catering haji di Maidnah dan Makkah wajib menyediakan makanan dengan menu Indonesia. Bumbu-bumbu masakan didatangkan dari Indonesia. Koki yang memasak makanan sudah dilatih oleh tim dari NHI,  sebuah perguruan tinggi bidang perhotelan di Bandung, agar bsia memasak masakan dengan menu Indonesia.

Catering haji di Madinah (nasi kotak untuk makan siang)

Catering haji diantar ke hotel tempat jamaah menginap dua kali sehari. Satu paket catering terdiri dari nasi kotak, buah segar (bervariasi, kadang apel, pir, atau jeruk), dan satu botol air mineral. Biasanya paket catering sudah sampai di hotel pukul 10 pagi untuk makan siang dan pukul 16 sore untuk makan malam. Jadi, sebelum sholat Dzuhur dan sebelum sholat Maghrib kita sudah bisa makan. Kalau jamaah ingin di tetap berada di Masjid Nabawi dari Maghrib hingga sampai sholat Isya, maka makan malam sebelum berangkat sholat maghrib ke Masjdi Nabawi sudah bisa dilakukan di hotel. Jadi, pulang dari sholat Isya dari Masjid Nabawi tinggal beristirahat (tidur) saja lagi.

Menurut saya yang merasakan catering di Madinah dan Makkah, menu catering di Madinah cenderung enak rasanya dan lebih variatif dibandingkan menu catering di Makkah. Memang soal rasa sangat subyektif pada setiap orang. Menu catering di Makkah cenderung membosankan dan kurang ada rasa (bumbu), sedangkan menu catering di Madinah lebih kaya bumbu. Menu catering di Madinah cenderung pedas, sedangkan di Makkah rasanya manis. Bagi saya yang orang Minang, saya merasa cocok dengan catering di Madinah, tetapi kurang cocok dengan catering di Makkah. Untunglah saya membawa bekal rendang dari Bandung, sehingga kalau menu cateringnya kurang cocok dengan lidah saya, maka rendang iniah sang “penyelamat” makan, he..he. Rendang padang merek Asese dikrim kakak saya dari Padang sebagai bekal haji. Saya rasa hampir setiap jamaah haji dari  setiap daerah membawa masakan khas mereka sendiri  ke Tanah Suci untuk mengantisipasi masakan yang kurang sesuai selera.

Menu makan siang dari catering haji

Untuk sarapan pagi jamaah haji harus mencari sendiri. Bekal mie instan seperti Indomie dari tanah air cukup membantu untuk sarapan pagi. Sebenarnya kita tidak perlu membawa banyak mie instan dari tanah air, sebab di Makkah dan Madinah mie instan Indomie dalam kemasan bahasa Arab banyak dijual di supermarket maupun toko-toko kelontong di sana, harganya 2 riyal (1 riyal sekiytar 4000 rupiah).

Tentu bosan dan kurang menyehatkan jika sarapan pagi selalu dengan mie instan terus. Di sekitar hotel banyak gerai yang menjual kentang goreng dan kebab khas Arab bernama shawarma. Kentang goreng dan shawarma harganya sama yaitu 5 riyal. Shawarma  isinya potongan daging ayam panggang yang dicampur dengan sayur kol yang sudah disiram dengan saus, lalu dibungkus dnegan lapisan roti tipis seperti kebab umumnya. Rasanya segar dan gurih, lebih enak jika ditambahkan saus cabe.

Pedagang shawarma (kebab Arab). Sarapan pagi dengan kebab.

Usai sholat Subuh di Masjid Nabawi jamaah haji kembali ke hotel, sebagian lagi jalan-jalan di pertokoan yang banyak terdapat di lantai dasar dan lantai basement setiap hotel, apalagi kalau bukan untuk  berbelanja. Oh iya, hampir setiap hotel di sekitar masjid Nabawi memiliki pertokoan di lantai dasar dan basement. Antara satu hotel dan hotel lain sering ada jalur bawah tanah yang menghubungkan pertokoan itu. Paling banyak toko yang menjual perhiasan emas, sajadah, peci haji, dan jam tangan. Ibu-ibu sangat senang mengunjungi toko emas, sebab emas di Madinah dan Makkah kualitasnya bagus-bagus.

Jamaah haji Indonesia dengan ciri khas kain sarungnya.

Jamah haji Indoensia mudah kita temukan di mana-mana di Madinah. Pertama jumlahnya paling banyak dibandingkan dari negara lain. Ciri khasnya adalah pakaian mereka. Jamaah haji Indonesia dikenali dari kopiahnya, baju batiknya, dan kain sarungnya.  Kebiasaan orang Indonesia, terutama kaum santri atau nahdliyin dari Jawa, yang selalu memakai sarung ketika ke masjid juga dibawa ke Tanah Suci.  Namun itulah kekhasan bangsa kita. Busana adalah salah satu ciri khas jamaah haji Indonesia (BERSAMBUNG)

Written by rinaldimunir

September 23rd, 2018 at 8:07 pm

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 2): Dari Embarkasi Haji Bekasi Menuju Madinah

without comments

Setelah menempuh perjalanan 6 jam dari Bandung (termasuk istirahat dan makan di RM Cibening Sari, Purwakarta, akhirnya 10 rombongan bus Kloter 7 JKS sampai di Embarkasi Haji  Bekasi. Ini adalah embarkasi untuk jamaah haji dari Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Lampung. Dulu embarkasi ini bernama Asrama Haji Pondok Gede. Kabarnya tahun depan embarkasi haji untuk jamaah haji Jawa Barat dipindahkan ke Bandara Kertajati, Majalengka. Tahun ini belum bisa di Kertajati karena belujm dibangun.

Di Embarkasi Haji Bekasi kami cukup lama menunggu untuk masuk aula dan belum bisa beristirahat di aarama. Kami harus menunggu selesainya pemrosesan kedatangan jamaah haji Kloter 6 dari Tasikmalaya. Sambil menunggu masuk aula, jamaah haji duduk-duduk saja di lorong asrama. Udara kota Bekasi saat itu terasa gerah, jamaah yang kelelahan selama perjalanan banyak yang duduk tertidur sambil terangguk-angguk. Semua jamaah haji memakai seragam batik nasional yang berwarna hijau. Seragam batik ini dipakai saat keberangkatan dan saat kepulangan. Tetapi, di Tanah Suci banyak juga jamaah haji Indonesia tetap memakai batik ini sehari-hari ketika ke Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Ia menjadi identitas jamaah haji Indonesia. Dengan melihat jamaah yang memakai seragam batik tersebut, maka tahulah kita jika mereka adalah saudara sebangsa dan setanah air di Tanah Suci.

Duduk-duduk menunggu panggilan masuk aula

Kompleks embarkasi Haji Bekasi cukup luas. Di dalamnya terdapat asrama, masjid, aula, dan lapangan untuk manasik haji. Ada minatur ka’bah di tengahnya. Tetapi keberadaan kami di embarkasi ini hanya selama 12 jam, jadi mana sempat untuk latihan manasik haji. Jadilah ka’bah mini itu hanya untuk dipandang-pandang. Insya Allah kami akan melihat ka’bah yang sebenarnya dalam waktu beberapa hari lagi.

Embarkasi Haji Bekasi

Akhirnya, setelah rombongan Kloter 6 selesai diproses, rombongan jamaah haji Kloter 7 dipanggil untuk masuk ke dalam aula. Di dalam aula ini ada seremoni penyambutan jamaah haji, lalu serah terima jamaah haji hari PPIH Kota Bandung ke PPIH Pusat, dan beberapa pengarahan yang cukup lama. Tidak apa-apa, jamaah haji banyak yang berusia lanjut, jadi kepada mereka memang perlu pengarahan secara detil. Selain itu, jamaah haji juga diperiksa kembali kesehatannya. Khusus untuk jamaah haji perempuan yang masih usi produktif, ada lagi trs urin untuk memastikan sedang tidak hamil. Jika tenryata positif hamil, maka jamaah tersebut terpaksa dibatalkan kebeangkatannya.

Di dalam aula , menerima berbagai pengarahan dan….uang riyal.

Tibalah pembagian yang ditunggu-tunggu, he..he. Setiap jamaah mendapat living cost sejumlah 1500 riyal atau setara 6 juta rupiah. Living cost adalah tradisi Pemerintah RI sejak dulu. Living cost diberikan sebagai bekal jamaah selama di Tanah Suci. Di Tanah Suci jamaah haji mendapat 40 kali makan (siang dan malam) berupa layanan catering haji. Tidak setiap hari jamaah haji mendapat catering makan, ada sejumlah hari tidak mendapat catering, yaitu beberapa hari sebelum dan sesudah pelaksanaan wukuf. Selain itu, jamaah tidak mendapat sarapan pagi, sarapan pagi harus dibeli sendiri. Jadi, uang living cost itu tujuanya digunakan sebagai bekal membeli makanan selama tidak mendapat layanan catering, juga untuk membeli sarapan pagi, dan membeli barang kebutuhan lainnya. Namun dalam pengamatan saya di Tanah Suci, living cost yang dibagikan lebih banyak digunakan untuk membeli oleh-oleh di Madinah dan Mekah, he..he. Selain living cost, jamaah haji juga mendapat uang pengganti pembuatan paspor sejumlah Rp350.000. Dalam hati saya berkata, ini paspor sudah lama dibuat, tetapi tetap dapat penggantian biaya, ya diterima saja, anggap saja rezeki.

Umumnya jamaah haji juga telah membawa bekal uang sendiri dalam bentuk pecahan riyal. Ada yang banyak membawa riyal, tapi saya membawa secukupnya saja, hanya beberapa ratus riyal saja yang saya tukarkan di bank. Tidak perlu khawatir kekurangan uang riyal di Saudi. Asalkan punya kartu ATM dengan logo VISA, maka kita bisa menarik uang riyal di ATM mana saja di Saudi.

Nah, selain dapat uang di atas, jamaah haji mendapat lagi souveir dari Kemenkes RI, berupa obat-obatan (oralit, krim anti pegal-pegal, hansaplast), setumpuk masker, dan tabung air semprot. Walah, tas koper dan tas tentengan saya sudah penuh, mau ditaruh dimana lagi barang-barang souvenir tadi. Jamaah haji mendapat satu buah koper, satu tas tenteng, dan satu tas paspor yang digantung di leher. Hanya tiga tas itu saja yang boleh dibawa ke dalam pesawat. Koper sudah dibawa duluan dari Bandung oleh truk ke bandara, tas tenteng sudah penuh dan padat, akhirnya terpaksalah dicari-cari ruang untuk memasukkan souvenir dai Kemenkes.

Setelah dua jam di dalam aula, akhirnya jamaah haji mendapat pembagian kamar asrama untk beristirahat. Saya mendapat kamar di gedung yang lama, satu kamar berisi 10 tempat tidur dalam bentuk ranjang susun. Gedungnya kusam, kamar mandinya di luar, dan AC nya tidak jalan. Malam hari terasa gerah sekali, saya tidak bisa tidur. Ah, memang tidak akan bisa tidur, sebab jam 2 malam nanti harus siap-siap bangun lagi untuk berangkat ke bandara Soekarno-Hatta.

Selama di embarkasi ada kegiatan yang baru dilakukan tahun ini, yaitu pengambilan data bieoemtrik (sidik jari dan foto wajah). Malam hari setelah Isya, jamaah dipanggil untuk pengambilan data biometrik. Biasanya kalau kita keluar negeri, pengambilan data biometrik ini dilakukan di bandara kedatangan (dalam hal ini bandara di Saudi), tetapi tahun ini ada inovasi baru, yaitu pengambilan data biometrik dilakukan di Embarkasi. Proses pengambilan data biometrik ini akan mempersingkat waktu tunggu jamaah di bandara Saudi nantinya. Pengambilan data biometrik dilakukan oleh petugas Indonesia namun di bawah pengawasam Imigrasi Saudi. Tahun ini pengambilan data biometrik hanya dilakukan di beberaopa embarkasi saja sebegai percontohan, tahun depan mungkin semua embarkasi.

Hmmm…malam yang melelahkan. Saya tidak bisa memejamkan mata sepicingnpun di dalam kamar asrama. Selain gerah, juga banyak nyamuk. Jamaah haji yang mendapat kamar di gedung yang baru mungkin lebih beruntung, karena kamarnya seperti kamar di hotel bintang tiga. Tapi saya tetap mensyukuri apapun yang saya terima.

Jam dua malam jamaah harus bangun dan siap-siap untuk berangkat ke bandara. Jamaah melewati proses pemindain X-ray, semua bawaan jamaah berupa tas tenteng dan tas paspor diperiksa dengan sinar X untuk memastikan tidak ada benda-benda terlarang dan ciaran yang melebihi 100 ml. Jadi, nanti di bandara kita tidak melewati pemeriksaan X-raya lagi, sebab jamaah haji langsung diantar ke tangga pesawat.

Jam empat pagi akhirnya jamaah haji masuk ke dalam bus-bus untuk berangkat ke bandara Soekarno-Hatta. Bus-bus dilawal kembvali oleh mobil patwal dari embarkasi menuju bandara. Sesampai di bandara, mula-mula kita dibawa ke bagian imigrasi bandara. Saya kira kita akan diperiksa lagi oleh imigrasi Indonesia, ternyata bukan. Di bandara Soekarno-Hatta kita melewati imigrasi Saudi! Ya, untuk mempersingkat pemeriksaan imigrasi di Saudi, petugas imigrasi dari Saudi didatangkan ke Jakarta. Di sini paspor dan data biometrik kita dicocokkan kembali. Proses ini menurut saya akan mempersingkat antrian jamaah di bandara kedatangan, sebab di bandra Saudi tidak perlu pemeriksaaan imigrasi lagi, jamaah haji bisa langsung keluar bandara seturun dari pesawat.

Tepat jam tuu pagi jamaah mulai memasuki pesawat. Jam delapan tepat pesawat pun take-off. Pesawat yang membawa jamaah haji Kloter 7 adalah dari maskapai Saudia. Pesawatnya sama dengan pesawat ketika saya umrah tahun 2015 yang lalu. Garuda Indonesia hanya membawa jamaah haji dari beberapa bandara saja, yaitu Padang, Batam, Solo, Banda Aceh, Makassar, dan Banjarmasin, selebihnya diangkut oleh maskapai Saudi. Menurut saya maskapai Saudia ini bagus, pesawatnya lebar dan besar. Susunan kursinya dalam satu baris 3, 4, 3. Sajian makanannya juga enak. Selama dalam penerbangan penumpang mendapat dua kali makan (meal), dan berbagai sncak serta minuman. Pramugarinay selain orang Arab juga ada orang Indonesia. Pengumuman disampaikan dalam bahasa Srab dan dalam Bahasa Indonesia.

Sepuluh jam di dalam pesawat cukup menjemukan. Kita dapat mengisi waku dengan tidur, membaca Quran, atau menikmati hiburan melalui layar  TV di depan kita. Di luar sana hanya terlihat awan dan cahaya terang (kami berangkat pagi hari).

Memasuki wilayah daratan Saudi terlihatlah pemandangan yang tandus. Bukit batu dan gurun pasir yang tandus teerlihat di bawah sana. Masya Allah, si negeri yang tandus inolah Nabi Muhammad diutus oleh Allah SWT kepada kaum yang jahiliyah.

Bukit-bukit batu yang tandus terlihat dari atas pesawat.

Tepat pukul 14.0o waktu Madinah, pesawat mendarat di Bandara Madinah. Alhamdulillah, perjalanan sangat lancar. Tiba di bandara Madinah kami disambut dengan suhu udara 44 derajat Celcius!

Alhamdulillah, pesawat yang membawa Kloter 7 JKS mendarat di bandara Madinah

Tidak perlu berlama-lama di bandara ini. Tidak ada pemeriksaan imigrasi lagi. Jamaah haji dapat langsung keluar bandara. Koper-koper dan tas tenteng sudah diurus oleh porter dan dimasukkan ke dalam bus. Jamaah haji segera menuju hotel tempat pemondokan selama berada di Madinah. Kami adalah jamaah haji Gelombang 1, jadi akan berada di Madinah dulu selama sembilan hari, baru kemudian pindah ke Mekah (BERSAMBUNG)

 

 

 

 

Written by rinaldimunir

September 10th, 2018 at 2:35 pm

Posted in Cerita perjalanan

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 1): Dari Bandung Menuju Embarkasi Haji

without comments

Pengantar: Selama satu bulan lebih, lebih tepatnya 41 hari, saya cuti menulis di dalam blog ini karena saya menjadi tamu Allah SWT di Tanah Suci Makkah dan Madinah untuk menunaikan Rukun Islam yang ke-5, Haji. Sebelum berangkat ke Tanah Suci, saya sudah berniat untuk menuliskan perjalanan haji sepulang dari sana, sebagaimana dulu saya pernah menuliskan tulisan berseri catatan perjalanan Umrah tahun 2015. Insya Allah saya akan menuliskan pengalaman haji sebagai tulisan berseri, dengan maksud berbagi pengalaman kepada pembaca yang belum pernah naik haji, atau sekedar bernostalgia merajut kenangan bagi pembaca yang sudah pernah menunaikan haji.

Sebelum menulis seri tulisan tentang haji, saya sudah menulis beberapa tulisan pendahuluan sebagai berikut:

  1.  Bismillaahirrahmaanirrahiim, Memulai Niat ke Tanah Suci
  2.  Menuju Haji 2018
  3. Rindu dengan Rasulullah

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu selama enam tahun pun tiba. Setelah mengikuti manasik selama tiga bulan di KBIH Mega Arafah (d/h Mega Citra), akhirnya kami diberitahu bahwa keberangkatan haji ke tanah suci adalah pada tanggal 19 Juli 2018. Saya dan jamaah lain di KBIH tersebut tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter 7), dengan kode JKS 07 embarkasi Bekasi.Saya pergi haji sendiri, tidak bersama istri. Istri saya sudah haji tahun 2011. Kami tidak bisa pergi haji berdua karena kondisi yang tidak memungkinkan.

Tanggal 18 Juli 2018 sebelum sholat subuh semua jamaah haji sudah berkumpul di KBIH sebelum berangkat ke Mapolda Jabar di Gedebage, Bandung. Semua jamaah haji kota Bandung berangkat ke embarkasi Bekasi dari Mapolda Jabar. Di kantor KBIH kami dilepas oleh keluarga. Di sana tidak tertahankan lagi isak tangis dan peluk cium yang mengharukan antara jamaah haji dengan keluarganya, seperti hendak pergi selama-lamanya dan tidak bertemu lagi. Pergi haji masih dianggap pergi ke tempat yang jauh dan dalam jangka waktu yang lama (40 hari). Belum tentu jamaah haji bisa pulang ke tanah air, mungkin saja ditakdirkan wafat di Tanah Suci. Hidup dan mati hanya Allah yang tahu, kita tidak tahu di bumi mana kita dilahirkan dan di bumi mana kita diwafatkan. Setiap tahun memang ratusan jamaah haji Indonesia meninggal dunia di Tanah Suci. Faktor penyakit bawaan dari tanah air atau usia lanjut adalah faktor terbesar meninggalnya jamaah haji di sana.

Saya pun larut dalam kesedihan. Apalagi saya pergi haji sendiri, meninggalkan anak dan istri di rumah tanpa kehadiran saya. Namun, saya selalu teringat kata-kata ustadz pembimbing haji ketika manasik. Katanya, jika kita berangkat haji, maka pasrahkan saja semuanya kepada Allah SWT.  Kita pasrahkan keluarga kita dan harta yang kita tinggalkan kepada Allah. Biarlah Allah saja yang menjaganya. Insya Allah dengan memasrahkan diri kepada Allah kita dapat berangkat ke Tanah Suci dengan tenang.

Dari kantor KBIH di Jalan Cimandiri (belakang Gedung Sate), kami berangkat dalam rombongan satu bus ke Mapolda Jabar di Gedebage, Jalan Soekarno-Hatta Bandung. Di sana semua rombongan jamaah haji Kloter 07 dari berbagai KBIH dikumpulkan.  Jamaah haji Kloter 7 semuanya 410 orang. Mereka berasal dari KBIH Maqdis, KBIH Mega Arafah, KBIH As-syakur, KBIH Al-Abror, KBIH Unisba, dan beberapa orang jamaah haji mandiri (tidak tergabung dalam KBIH manapun).

Di Mapolda Jabar jamaah haji Kloter 7 dikumpulkan di Masjid. Di sana jamaah masih diberi pengarahan dan kiat-kiat sehat di Tanah Suci. Setelah serangkaian seremoni, akhirnya jamaah haji masuk kembali ke dalam bus masing-masing, siap berangkat ke embarkasi Jawa Barat di Bekasi.

37340808_1956250637776285_8274474032997335040_n

Bersiap-siap memasuki bus

37252237_1956250557776293_6700607280540286976_n

Berfoto bersama di Mapolda Jabar sebelum berangkat ke Embarkasi

Satu persatu bus rombongan haji (10 bus) meninggalkan Mapolda Jabar. Para pengantar,  yang merupakan keluarga jamaah haji, yang menunggu di luar (tidak boleh masuk ke dalam Mapolda) menyemut memberikan lambaian tangan selamat jalan. Tak terasa air mata pun menetes. Sungguh mengharukan. Sepanjang jalan dari Mapolda Jabar hingga perempatan lampu merah di Gedebage para pengantar berbaris melambaikan tangan. Perjalanan haji adalah perjalanan jauh, mungkin juga perjalanan menuju kematian. Para pengantar itu datang beramai-ramai ke Mapolda. Ada yang menyewa angkot, minibus, atau membawa mobil pribadi.

37275248_1956250861109596_3640470458261831680_n

Lambaian tangan selamat jalan dari pengantar

37327764_1956251107776238_748762419173523456_n

Para keluarga pengantar jamah haji berbaris sepanjang jalan melambaikan tangan selamat jalan

Labbaikallahumma labbaik, labbaikala syarikalaka labbaik. Hamba datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah.

Bus-bus rombongan jamaah haji selama perjalanan dari embarkasi menuju Embarkasi Haji di Bekasi dikawal oleh mobil Patwal polisi sehingga mendapat prioritas jalan. Bunyi sirine meraung-raung sepanjang jalan.  Bahkan, ketika tol Cikampek ditutup karena ada pembangunan jalan LRT,  khusus untuk rombongan jamaah haji dibuka khusus. Serasa menjadi tamu VIP saja.

Di Kabupaten Purwakarta bus berhenti di RM Cibening Sari untuk makan siang. Pemkot Bandung mentraktir jamaah haji makan siang gratis di rumah makan tersebut. Memang selama mengikuti haji mulai berangkat dari Bandung hingga kembali ke Bandung jamaah haji mendapat banyak keistimewaan perlakuan. Mungkin sebabnya satu: jamaah haji itu adalah tamu-tamu Allah, sehingga banyak orang/instansi berlomba memuliakan tamu-tamu itu, meskipun sebagai jamaah haji tidak pernah meminta perlakuan khusus tadi.

Oh iya, kloter saya, Kloter 7, termasuk dalam keberangkatan Gelombang pertama. Sebagaimana diketahui, pemberangkatan jamah haji dibagi menjadi dua gelombang. Gelombang pertama dari tanggal 16 Juli – 30 Juli 2018, jamaah haji diterbangkan ke Madinah dulu. Gelombang kedua dari tanggal 31 Juli – 15 Agustus 2018, jamaah haji diterbangkan ke Mekah via Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Jamaah haji gelombang satu akan berada di Madinah dulu selama sembilan hari sebelum bertolak ke Mekah, sedangkan jamaah haji gelombang kedua tinggal di Mekah dulu selama 31 hari, baru kemudian pindah ke Madinah selama sembilan hari. Jadi, jamaah haji gelombang satu nantinya pulang ke tanah air melalui Jeddah, sedangkan jamah haji gelombang dua pulang melalui bandara Madinah.

Pembagian dua gelombang ini karena jamaah haji Indonesia sangat banyak jumlahnya tahun ini mencapai 220.000 orang, sehingga tidak mungkin diangkut semuanya secara serentak dalam satu periode. Mengangkut 220.000 orang dengan pesawat terbang sama dengan memindahkan penduduk sebuah kabupaten di Sumatera, dan ini adalah sebuah pekerjaan raksasa.

Selama perjalanan ke embarkasi saya lebih banyak duduk diam dan melamun. Melamun banyak hal :-). Akankah saya dapat melaksanakan ibadah haji ini dengan lancar? Dapatkah saya melupakan sejenak urusan duniawi ini, fokus beribadah kepada Allah saja? Banyak lagi yang saya lamukan, namun sebagimana kata ustad pembimbing, pasrahkan semua urusan hidup ini hanya kepada Allah SWT saja. (BERSAMBUNG)

Written by rinaldimunir

September 6th, 2018 at 2:47 pm

Kenangan di Pelabuhan Teluk Bayur

without comments

Masa-masa alrus balik lebaran yang berlangsung hari-hari ini membuat saya teringat dengan sebuah foto lama. Ini foto kenangan saya di pelabuhan Teluk Bayur Padang tahun 1998, saat saya balik ke perantauan ke tanah Jawa setelah mudik lebaran ke kampung halaman. Saya masih bujangan saat itu, baru beberapa tahun menjadi dosen di ITB. Balik ke pulau Jawa menumpang kapal PT PELNI bernama KM Lambelu. Saya diantar ke pelabuhan Teluk Bayur oleh orangtua (alm) dan saudara.

Di depan KM Lambelu, Teluk Bayur Padang

Saat itu pulang mudik dan balik naik kapal laut adalah pilihan yang menyenangkan. Pesawat low cost carrier seperti Lion Air dan lainnya belum ada, pesawat hanya ada Garuda, Merpati, dan Sempati Air (milik Tommy Soeharto ). Harga tiket pesawat masih terasa mahal, sedangkan naik kapal laut masih lebih murah. Di atas kapal laut kita bertemu dengan teman2 seperantauan. Tidur di kelas ekonomi (dek) atau paling banter di kelas 4 yang sekamar 8 orang.

Kapal Pelni yang singgah ke Teluk Bayur saat itu adalah KM Kerinci, KM Kambuna, KM Lawit, dan KM Lambelu. Butuh waktu perjalanan dua hari satu malam mengarungi Samudera Hindia menuju Tanjung Priok, Jakarta. Dari Tanjung Priok perjalanan diteruskan ke Bandung naik bus atau kereta api.

Ada kesan yang mendalam setiap naik kapal dari Teluk Bayur, terutama ketika naik KM Kerinci. Ketika kapal mulai bertolak dari pelabuhan, dari pengeras suara di atas kapal diputarlah lagu legendaris ” Teluk Bayur” dari Ernie Djohan yang terkenal itu, menggema ke seluruh ruang-ruang kapal dan sampai terdengar hingga dermaga. Begini syair lagunya:

“Selamat tinggal Teluk Bayur permai
Aku pergi jauh ke negeri seberang
Ku kan mencari ilmu di negeri orang
Bekal hidup kelak di hari tua

Selamat tinggal kasihku yang tercinta
Doakan agar ku cepat kembali
Kuharapkan suratmu setiap minggu
Kan ku jadikan pembunuh rindu

Lambaian tanganmu kurasakan ngilu di dada
Kasih sayangku bertambah padamu
Air mata berlinang tak terasa kan olehku
Nantikanlah aku di Teluk Bayur”

https://m.youtube.com/watch?v=2nMmX7masBE

Suasananya memang pas sekali, melankolis, yaitu menceritakan perpisahan di Teluk Bayur. Ketika lagu itu diputar, hampir semua penumpang berdiri di pinggir kapal melambai-lambaikan tangan ke para pengantar di dermaga. Di dermaga para pengantar berjalan semakin mendekati bibir dermaga sambil melambaikan tangan tanda perpisahan. Syair lagu tadi begitu meresap, tak terasa air mata pun berlinang-linang, banyak penumpang kapal menangis terisak-isak termasuk saya sendiri tentunya, seakan-akan pergi tidak bertemu lagi. Salut bagi kapten kapal yang pandai mengharu-biru emosi penumpang kapal dengan lagu itu sehingga penumpang merasa berkesan naik kapalnya.

Sekarang sudah tidak ada kapal Pelni menyinggahi pelabuhan Teluk Bayur lagi, kalah bersaing dengan Lion Air dkk. Orang awak lebih memilih naik pesawat daripada kapal laut. Tetapi pengalaman naik kapal laut setiap mudik dan balik lebaran meninggalkan kenangan yang tidak terlupakan bagi saya.

Foto ini juga mengingatkan saya akan kasih sayang (alm) ayah dan (almh) ibu, setiap balik ke Tanah Jawa saya selalu diantar ke pelabuhan meskipun saya sudah besar sekalipun. Hanya doa yang bisa kupanjatkan buat mereka.

Allahummaghfirlahu(a) warhamhu(a) wa ‘afihi wa’fuanhu(a) waj ‘alil jannata matswaahu(a).

Written by rinaldimunir

June 18th, 2018 at 6:45 am

Posted in Cerita perjalanan

Melakukan Perjalanan dalam Bulan Puasa

without comments

Latepost !

Melakukan perjalanan ke luar kota saat bulan Ramadhan ini rasanya sesuatu banget bagi saya. Kalau tidak terlalu penting sama sekali saya lebih baik tidak pergi saja. Bagi saya sendiri, berkumpul bersama anak dan istri di rumah, menyiapkan buka puasa dan makan sahur bersama, itu adalah kebahagiaan yang tidak bisa diukir dengan materi.  Acara-acara buka bersama (bukber) jarang saya ikuti, ya karena alasan itu tadi, saya kebih suka bersama anak-anak saya di rumah. Tetapi demi memudahkan urusan orang lain di kota yang saya kunjungi, maka saya tidak kuasa menolaknya, saya ikhlaskan hati pergi meninggalkan rumah selama bulan  puasa  ini.

Bandara Husein Sastranegara Bandung dengan latar belakang Gunung Tangkubanperahu.

Mendarat di kota tujuan saat adzan maghrib berkumandang ibalah hati. Terbayang anak-anak dan istri di rumah buka puasa tanpa kehadiran saya, sementara saya masih on the way dari bandara menuju hotel. Memang pihak hotel menyediakan kurma dan teh hangat untuk berbuka puasa, tetapi tetap saja  lebih afdhal sama anak-anakku di rumah.

Pihak pengundang menyediakan akomodasi hotel dengan paket makan malam untuk buka puasa dan makan sahur sebagai pengganti breakfast. Saat memasuki restoran hotel untuk buka puasa,  betapa kagetnya saya melihat restoran ini penuh dengan manusia yang menyerbu berbagai makanan yang terhidang. Semua kursi penuh di-booking. Agaknya mereka tidak semuanya tamu hotel, tetapi pengunjung biasa yang memanfaatkan promosi hotel yang menyediakan paket berbuka puasa all you can eat dengan harga miring.   Apalagi hotel ini bersatu  dengan mal, jadi tidak heran pengunjungnya mungkin adalah pengunjung mal juga.

Seperti diketahui, saat bulan puasa adalah low season bagi kebanyakan industri hotel. Tamu hotel turun sangat drastis karena orang-orang menahan diri tidak melakukan perjalanan selama bulan puasa.  Kegiatan-kegiatan bisnis dan pertemuan di hotel banyak “dipepetkan” selesai sebelum bulan Ramadhan, akibatnya selama bulan Ramadhan hotel benar-benar sepi tamu. Maka, salah satu strategi hotel untuk tetap “hidup” adalah mengadakan paket buka puasa di restoran mereka dengan harga miring, all you can eat. Strategi ini tampaknya berhasil, nyatanya hampir semua rumah makan, kafe, termasuk restoran di hotel, pengunjungnya membludak saat buka puasa tiba. Kursi-kursi sudah di-booking, orang-orang sudah ramai duduk di kursinya satu jam sebelum beduk maghrib berbunyi. Maka, saya tidak heran melihat restoran hotek penuh sesak seperti yang saya saksikan.

Saya kehilangan selera makan melihat suasana ramai seperti itu.  Apalagi hampir semua makanan yang tersaji ludes, saya hanya mendapat sisa-sisa saja.  Lagi-lagi saya teringat dengan keluarga di rumah, kami makan dengan tenang. Seusai makan pembatal puasa, saya menemani anak shalat maghrib dulu, barulah makan makanan berat.

Saat makan sahur di hotel, saya merasa “aneh” saja makan sahur sendirian di hotel ini. Biasanya jam 3.20 dinihari  segini saya dan istri sudah bangun untuk menyiapkan makan sahur buat semua. Sekarang saya menikmati sahur yang disediakan hotel sebagai pengganti breakfast. Menginap di hotel ini sekalian dengan paket berbuka puasa dan sahur. Jika saat buka puasa restoran hotel penuh sesak dengan pengunjung sehingga makanan yang tersaji cepat habis, maka saat makan sahur boleh dihitung pengunjungnya dengan jari, yang umumnya tamu hotel itu sendiri.

Sagur sendirian di hotel

Nasi goreng hotel. Hanya sedikit saya bisa makan.

Kembali ke Bandung dengan pesawat siang, hanya ada 20 orang penumpang Wings Air hari itu dari kapasitas 80 penumpang, itupan sudah digabung dengan penumpang Lion Air jadwal sorenya. Waktu berangkat dari Bandung pun demikian, seharusnya saya terbang dengan Lion Air sore, tetapi karena penumpang sore sangat sedikit, maka mereka digabung dengan penumpang pesawat siang, pesawat sore dibatalkan.

Sepi penumpang

Seperti halnya hotel, industri penerbangan pun mengalami low season saat bulan puasa, tetapi itu hanya sebentar, sawat memang Benar2 sepi. Seperti sudah diduga, selama bulan puasa orang enggan melakukan perjalanan. Namun periode sepi itu hanya sebentar, menjelang lebaran Idul Fitri penumpang pesawat hotel melonjak tajam dan mencapai peak season tertingginya dalam satu tahun, sampai-sampai maskapai menambahfrekuensi penerbangan (extra flight). Begitu juga hotel-hotel full booked selama musim liburan Idul Fitri. Begitulah, Allah SWT Maha Adil, rezeki-Nya tidak pernah kurang. Selalu saja ada.

Written by rinaldimunir

June 12th, 2018 at 8:57 am

Posted in Cerita perjalanan

Jalan-jalan ke Pulau Bangka (Bagian 3 – Tamat)

without comments

Pulau Bangka memiliki pantai yang indah dan menawan, tidak kalah dengan pantai di Pulau Bali. Pantainya landai dan berpasir putih. Yang menarik adalah hamparan batu-batu granit di sepanjang garis pantai seperti halnya pantai-pantai di Pulau Belitung. Batu-batu granit yang berukuran besar itu muncul ke permukaan bumi akibat tekanan dari dalam bumi (endogen) jutaan tahun yang lalu.

Pantai pertama yang kami kunjungi adalah Pantai Tikus Emas. Pantai ini tidak jauh dari Puri Tri Agung yang kami kunjungi tadi. Nama tikus pada pantainya bukan berarti banyak tikus di sana, tetapi pantai ini dijadikan jalur tikus bagi penambang ilegal untuk menjual timah ke Singapura melalui jalur laut. Pantai Tikus menghadap ke sebelah timur Pulau Bangka dan dekat dengan Pulau Batam dan Singapura. Pulau Bangka adalah pulau penghasil timah yang berkualitas bagus. Secara resmi penambangan timah dilakukan oleh BNUMN PT Timah, tetapi sejak era reformasi masyarakat pun menambang timah secara sendiri atau berkelompok. Timah itu dijual ke pengepul atau dijual secara ilegak ke negara tetangga, Singapura. Mereka mengangkut timah ilegal melalui Pantai Tikus ini. Pantai Tikus Emas adalah bagian dari Pantai Tikus yang dikelola oleh pihak swasta dan untuk masuk ke sana kita harus membayar, namun fasilitas bermain dan pantainya yang landai serta rimbun dengan pohon cemara cocok untuk berkumpul atau sekedar jalan-jalan di pantai.

Pintu masuk ke Pantai Tikus Emas

Pantai Tikus Emas

Batu-batu granit berukuran besar di Pantai Tikus Emas

Tikus emas yang menjadi maskot pantai ini

Rimbunan pohon cemara di sepanjang pantai. Pasir pantainya bwrsih dan halus. Tempat ini cocok untuk berkemah sambil menikmati ombak di laut

Setelah menikmati Pantai Tikus Emas, tempat selanjutnya yang dikunjungi adalah Pantai Tongaci atau Pantai Kuala, masih di seputaran Sungailiat. Pantai ini dikelola oleh pengusaha bernama Tong Aci. Di pintu masuk pantai kita disambut deretan toko-toko suvenir, patung-patung binatang, batu-batu granit, dan sejumlah dekorasi lainnya. Ada juga replika patung tentra Teerracotta yang ditemukan di Tiongkok (peninggalan abad 1 M) di pantai ini.

Pintu masuk Pantai Tongaci

Asesori kereta api di Pantai Tongaci

Pantai Tongaci

Patung Tentara Terracotta di Pantai Tongaci

Tentara Terracotta

Di Pantai Tongaci juga terdapat tempat penangkaran penyu. Telur-telur penyu ditetaskan di sini, lalu anak-anak penyu (tukik) dibesarkan sebelum dilepas ke lautan bebas.

Penangkaran penyu

Pantai terakhir yang kami kunjungi adalah Pantai Parai. Jika di pantai sebelumnya tidak terdapat hotel dan penginapan, maka di Pantai Parai terdapat resort yang berisi cottage-cottage dalam jumlah banyak, cocok jika membawa keluarga.

Berfoto bersama peserta KNSI 2018 di Pantai Parai

Batu-batu granit

Batu-batu granit di sepanjang Pantai Parai

Demikianlah sekelumit cerita mengunjungi sejumlah pantai di Paulau Bangka. Negara kita memiliki banyak pantai yang indah. Semoga ada kesempatan melihat pantai-pantai lain yang belum dikunjungi di Pulau Bangka, misalnya Pantai Tanjung Pesona, Pantai Belinyu, dan lain-lain. (TAMAT)

Written by rinaldimunir

March 17th, 2018 at 10:32 am

Posted in Cerita perjalanan

Jalan-jalan ke Pulau Bangka (Bagian 2)

without comments

Setelah konferensi KNSI selesai dilaksanakan selama dua hari, maka keesokan harinya (Hari Sabtu) sebagian peserta konferensi berdarmawisata mengunjungi sejumlah tempat wisata di Pulau Bangka. Wisata di Pulau Bangka dapat dibagi menjadi tiga macam, pertama wisata alam, kedua wisata sejarah, dan ketiga wisata religi. Untuk wisata alam, objek wisata yang dominan adalah wisata pantai di pulau Bangka bagian timur. Wisata sejarah adalah mengunjungi tempat pembuangan Bung Karno di Mentok (Bangka bagian barat). Wisata religi adalah mengunjungi situs atau tempat ibadah agama Budha (kelenteng dan wihara), Katolik (goa Maria), dan Islam (maqam penyebar agama islam di Pulau Bangka). Berhubung tempat yang jauh dan waktu yang terbatas, kami memilih objek wisata alam saja plus sedikit wisata religi.

Tujuan utama wisata alam di di Pulau Bangka adalah di sekitar kota Sungailiat. Sungailiat adalah ibukota Kabupaten Bangka. Pulau Bangka terdiri atas empat kabupaten dan satu kota, yaitu Kabupaten Bangka dengan ibukota Sungailiat, Kabupaten Bangka Barat dengan ibukota Mentok, Kabupaten Bangka Tengah dengan ibukota Koba, Kabupaten Bangka Tengah dengan ibukota Toboali, dan satu kota yaitu Pangkalpinang.

Sungailiat merupakan kota tua, sudah berdiri sejak tambang timah dibuka pada zaman Belanda (tahun 1766). Kota Sungailiat tidak terllau jauh dari Pangkalpinang, kira-kira menempuh perjalanan 45 menit. Biro tur dan travel di Pangkalpinang menjadikan Sungailiat sebagai tujuan utama wisata. Dalam perjalanan ke Sungailiat, tempat pertama yang kami kunjungi adalah Jembatan EMAS atau Jembatan Baturusa II. Emas adalah singkatan nama mantan Gubernur Kepulauan Bangka Belitung yang menggagas jembatan ini, yaitu Eko Maulana Ali-Syamsudin Basari (alm).  Jembatan Emas menghubungkan kota Pangkalpinang dengan Kabupatane Bangka. Keistmewaan jembatan ini adalah dapat membuka dan menutup jika ada kapal dari lautan lepas masuk atau keluar ke/dari pelabuhan Pangkal Balam.

Jembatan Emas sedang membuka karena ada kapal yang akan lewat

Sebuah kapal dari  Jakarta akan melewati jembatan yang sedang membuka

Tampak atas Jembatan Emas adalah seperti foto di bawah ini (Sumber foto dari sini). Cantik sekali jembatannya jika dilihat dari udara. Tidak salah jika Jembatan Emas menjadi ikon baru propinisi Kepulauan Bangka Belitung.

Jembatan Emas tampak dari atas.

Ketika jembatan sedang membuka, kendaraaan yang akan lewat harus berhenti sampai jembatan tersebut menutup kembali. Kami sebenarnya ingin menyaksikan dan merekam detik-detik jembatan itu menutup kembali, tetapi karena terlalu lama menunggu (masih ada kapal dari kejauhan di lautan lepas akan lewat), maka kami berbalik arah kembali menuju kota Sungailiat.

Dalam perjalanan menuju Pantai Tikus Emas di Sungailiat, kami melewati sebuah tempat ibadah suci tiga agama, bernama Puri Tri Agung. Disebut Tri Agung karena ia menjadi rumah ibadah tiga agama dan aliran kepercayaan, yaitu Budha, Kong Hu Chu, dan Lao Tse.  Puri Tri Agung terletak di atas sebuah bukit. Dari tempat ibadah ini kita dapat melihat Pantai Tikus dari kejauhan.

Puri Tri Agung, Sungailiat

Di dalamnya terdapat patung Budha, Kong Hu Chu, dan Lao Tse. Di dalam Puri banyak terdapat ornamen-ornamen cina berwarna merah seperti lampion dan tulisan Cina. Pengelola Puri Tri Agung umumnya adalah warga Keturunan Tionghoa yang memang cukup banyak mendiami Pulau Bangka sejak zaman dulu. Pengunjung boleh memasuki Puri ini tetapi harus melepas alas kaki. Jika ingin berfoto di dalamnya, pengunjung tidak boleh membelakangi ketiga patung. Foto menyamping boleh.

Seorang pemeluk agama Tridharma sedang menaruh hormat kepada salah satu (atau ketiga patung) yang diyakininya.

Langit-langit kubah Puri Tri Agung

Pada tulisan selanjutnya saya akan menceritakan pantai-pantai yang indah di Sungailiat. (BERSAMBUNG)

Written by rinaldimunir

March 15th, 2018 at 5:25 pm

Posted in Cerita perjalanan

Jalan-jalan ke Pulau Bangka (Bagian 1)

without comments

Konferensi Nasional Sistem Informasi (KNSI) tahun 2018 kali ini diadakan di kota Pangkalpinang di Pulau Bangka, Propinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Tuan rumah konferensi KNSI 2018 adalah STMIK Atma Luhur, Pangkalpinang. Sebagai salah seorang komite KNSI, saya diundang untuk hadir. Tentu saja kesempatan ini tidak saya sia-siakan, karena saya belum pernah mengunjungi kota Pangkalpinang khususnya dan Pulau Bangka umumnya. Kepulauan Bangka Belitung terdiri dari dua pulau besar, yaitu Pulau Bangka dan Pulau Belitung. Saya sudah pernah ke pulau Belitung beberapa tahun yang lalu, tetapi ke Pulau Bangka ya baru kali.

Kepulauan Bangka dan Belitung. Pulau Bangka di sebelah kiri dengan kota terbesar di sana adalah kota Pangkalpinang, sekaligus menjadi ibukota Propinsi Babel. (Sumber: https://contenttugas.wordpress.com/peta-wisata-pulau-bangka-belitung/)

Kota Pangkalpinang dapat dicapai dengan pesawat dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Palembang, dan Batam. Dari Bandung sebenarnya ada penerbangan langsung dengan maskapai NAM Air ke Pangkalpinang, tetapi tidak setiap hari ada. Seringkali penerbangan dibatalkan karena jumlah penumpang yang minim. Saya khawatir saja lama-lama penerbangan dari Bandung ke Pangkalpinang ditutup karena sepi penumpang.

Karena hari Rabu tidak ada flight ke Pangkalpinang dari Bandung, maka saya dan teman-teman “terpaksa” mengambil rute Bandung-Batam-Pangkalpinang. Memang agak lama karena kita transit di Batam selama 3,5 jam (itupun kalau tidak delay). Dari Bandung kami terbang ke Batam pada siang hari (pukul 11.30), lalu menunggu di Bandara Hang Nadim Batam  selama 4 jam lebih karena delay di Batam. Jam 17.30 barulah kita terang ke Pangkalpinang dari Batam. Melelahkan juga ya…

Penerbangan dari Batam ke Pangkalpinang memakan waktu 45 menit. Dari atas udara Pulau Bangka tampaklah kota Pangkalpinang yang berkerlap-kerlip lampunya di bawah. Semakin mendekati bandara semakin terlihat banyak bangunan hotel dan gedung bertingkat lainnya.  Kota Pangkalpinang tidaklah kota kecil seperti yang saya bayangkan, tetapi sudah seperti kota metropolis, maklumlah ini ibukota Propinsi Babel.

Kami mendarat di Bandara Depati Amir. Bandaranya masih baru, itu tampak dari bangunan terminalnya yang megah dan modern dan bergaya futuristik. Ada tiga buah garbarata untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.

Bandara Depati Amir, Pangkalpinang

Bagian dalam Bandara Depati Amir

Bagian luar bandara Depati Amir

Swafoto sejenak ?

Dari bandara kami diantar ke hotel. Tetapi sebelum sampai ke hotel, kami mampir dulu di sebuah restoran seafood dekat bandara. Sebagai propinsi yang dikelilingi oleh laut, hidangan laut tentu menjadi ciri khas propinsi ini.  Beberapa hidangan laut yang menggugah selera ada di restoran ini. Salah satu hidangan laut khas pulau Bangka bernama Lempah Kuning. Hidangan ini mirip pindang ikan di Palembang, tetapi berbumbu kuah kuning dari aneka rempah-rempah. Sajian ikan di dalam Lempah Kuning adalah ikan tenggiri. Rasanya asam segar dan pedas (pedas dari lada, bukan dari cabe merah). Rasa asam disebabkan oleh buah nanas di dalamnya. Hmmm…enak sekali. Selain Lempah Kuning yang khas, juga terdapat ikan tenggiri bakar bumbu kuning. Hmmm…serba kuning ya.

Lempah Kuning

Ikan bakar bumbu kuning

Bagaimana? Kulienrya saja sudah enak, apalagi nanti pemandangan alamnya yang akan saya ceritakan pada bagian kedau (BERSAMBUNG).

Written by rinaldimunir

March 13th, 2018 at 5:08 pm

Posted in Cerita perjalanan