if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Cerita perjalanan’ Category

Kenangan di Pelabuhan Teluk Bayur

without comments

Masa-masa alrus balik lebaran yang berlangsung hari-hari ini membuat saya teringat dengan sebuah foto lama. Ini foto kenangan saya di pelabuhan Teluk Bayur Padang tahun 1998, saat saya balik ke perantauan ke tanah Jawa setelah mudik lebaran ke kampung halaman. Saya masih bujangan saat itu, baru beberapa tahun menjadi dosen di ITB. Balik ke pulau Jawa menumpang kapal PT PELNI bernama KM Lambelu. Saya diantar ke pelabuhan Teluk Bayur oleh orangtua (alm) dan saudara.

Di depan KM Lambelu, Teluk Bayur Padang

Saat itu pulang mudik dan balik naik kapal laut adalah pilihan yang menyenangkan. Pesawat low cost carrier seperti Lion Air dan lainnya belum ada, pesawat hanya ada Garuda, Merpati, dan Sempati Air (milik Tommy Soeharto ). Harga tiket pesawat masih terasa mahal, sedangkan naik kapal laut masih lebih murah. Di atas kapal laut kita bertemu dengan teman2 seperantauan. Tidur di kelas ekonomi (dek) atau paling banter di kelas 4 yang sekamar 8 orang.

Kapal Pelni yang singgah ke Teluk Bayur saat itu adalah KM Kerinci, KM Kambuna, KM Lawit, dan KM Lambelu. Butuh waktu perjalanan dua hari satu malam mengarungi Samudera Hindia menuju Tanjung Priok, Jakarta. Dari Tanjung Priok perjalanan diteruskan ke Bandung naik bus atau kereta api.

Ada kesan yang mendalam setiap naik kapal dari Teluk Bayur, terutama ketika naik KM Kerinci. Ketika kapal mulai bertolak dari pelabuhan, dari pengeras suara di atas kapal diputarlah lagu legendaris ” Teluk Bayur” dari Ernie Djohan yang terkenal itu, menggema ke seluruh ruang-ruang kapal dan sampai terdengar hingga dermaga. Begini syair lagunya:

“Selamat tinggal Teluk Bayur permai
Aku pergi jauh ke negeri seberang
Ku kan mencari ilmu di negeri orang
Bekal hidup kelak di hari tua

Selamat tinggal kasihku yang tercinta
Doakan agar ku cepat kembali
Kuharapkan suratmu setiap minggu
Kan ku jadikan pembunuh rindu

Lambaian tanganmu kurasakan ngilu di dada
Kasih sayangku bertambah padamu
Air mata berlinang tak terasa kan olehku
Nantikanlah aku di Teluk Bayur”

https://m.youtube.com/watch?v=2nMmX7masBE

Suasananya memang pas sekali, melankolis, yaitu menceritakan perpisahan di Teluk Bayur. Ketika lagu itu diputar, hampir semua penumpang berdiri di pinggir kapal melambai-lambaikan tangan ke para pengantar di dermaga. Di dermaga para pengantar berjalan semakin mendekati bibir dermaga sambil melambaikan tangan tanda perpisahan. Syair lagu tadi begitu meresap, tak terasa air mata pun berlinang-linang, banyak penumpang kapal menangis terisak-isak termasuk saya sendiri tentunya, seakan-akan pergi tidak bertemu lagi. Salut bagi kapten kapal yang pandai mengharu-biru emosi penumpang kapal dengan lagu itu sehingga penumpang merasa berkesan naik kapalnya.

Sekarang sudah tidak ada kapal Pelni menyinggahi pelabuhan Teluk Bayur lagi, kalah bersaing dengan Lion Air dkk. Orang awak lebih memilih naik pesawat daripada kapal laut. Tetapi pengalaman naik kapal laut setiap mudik dan balik lebaran meninggalkan kenangan yang tidak terlupakan bagi saya.

Foto ini juga mengingatkan saya akan kasih sayang (alm) ayah dan (almh) ibu, setiap balik ke Tanah Jawa saya selalu diantar ke pelabuhan meskipun saya sudah besar sekalipun. Hanya doa yang bisa kupanjatkan buat mereka.

Allahummaghfirlahu(a) warhamhu(a) wa ‘afihi wa’fuanhu(a) waj ‘alil jannata matswaahu(a).

Written by rinaldimunir

June 18th, 2018 at 6:45 am

Posted in Cerita perjalanan

Melakukan Perjalanan dalam Bulan Puasa

without comments

Latepost !

Melakukan perjalanan ke luar kota saat bulan Ramadhan ini rasanya sesuatu banget bagi saya. Kalau tidak terlalu penting sama sekali saya lebih baik tidak pergi saja. Bagi saya sendiri, berkumpul bersama anak dan istri di rumah, menyiapkan buka puasa dan makan sahur bersama, itu adalah kebahagiaan yang tidak bisa diukir dengan materi.  Acara-acara buka bersama (bukber) jarang saya ikuti, ya karena alasan itu tadi, saya kebih suka bersama anak-anak saya di rumah. Tetapi demi memudahkan urusan orang lain di kota yang saya kunjungi, maka saya tidak kuasa menolaknya, saya ikhlaskan hati pergi meninggalkan rumah selama bulan  puasa  ini.

Bandara Husein Sastranegara Bandung dengan latar belakang Gunung Tangkubanperahu.

Mendarat di kota tujuan saat adzan maghrib berkumandang ibalah hati. Terbayang anak-anak dan istri di rumah buka puasa tanpa kehadiran saya, sementara saya masih on the way dari bandara menuju hotel. Memang pihak hotel menyediakan kurma dan teh hangat untuk berbuka puasa, tetapi tetap saja  lebih afdhal sama anak-anakku di rumah.

Pihak pengundang menyediakan akomodasi hotel dengan paket makan malam untuk buka puasa dan makan sahur sebagai pengganti breakfast. Saat memasuki restoran hotel untuk buka puasa,  betapa kagetnya saya melihat restoran ini penuh dengan manusia yang menyerbu berbagai makanan yang terhidang. Semua kursi penuh di-booking. Agaknya mereka tidak semuanya tamu hotel, tetapi pengunjung biasa yang memanfaatkan promosi hotel yang menyediakan paket berbuka puasa all you can eat dengan harga miring.   Apalagi hotel ini bersatu  dengan mal, jadi tidak heran pengunjungnya mungkin adalah pengunjung mal juga.

Seperti diketahui, saat bulan puasa adalah low season bagi kebanyakan industri hotel. Tamu hotel turun sangat drastis karena orang-orang menahan diri tidak melakukan perjalanan selama bulan puasa.  Kegiatan-kegiatan bisnis dan pertemuan di hotel banyak “dipepetkan” selesai sebelum bulan Ramadhan, akibatnya selama bulan Ramadhan hotel benar-benar sepi tamu. Maka, salah satu strategi hotel untuk tetap “hidup” adalah mengadakan paket buka puasa di restoran mereka dengan harga miring, all you can eat. Strategi ini tampaknya berhasil, nyatanya hampir semua rumah makan, kafe, termasuk restoran di hotel, pengunjungnya membludak saat buka puasa tiba. Kursi-kursi sudah di-booking, orang-orang sudah ramai duduk di kursinya satu jam sebelum beduk maghrib berbunyi. Maka, saya tidak heran melihat restoran hotek penuh sesak seperti yang saya saksikan.

Saya kehilangan selera makan melihat suasana ramai seperti itu.  Apalagi hampir semua makanan yang tersaji ludes, saya hanya mendapat sisa-sisa saja.  Lagi-lagi saya teringat dengan keluarga di rumah, kami makan dengan tenang. Seusai makan pembatal puasa, saya menemani anak shalat maghrib dulu, barulah makan makanan berat.

Saat makan sahur di hotel, saya merasa “aneh” saja makan sahur sendirian di hotel ini. Biasanya jam 3.20 dinihari  segini saya dan istri sudah bangun untuk menyiapkan makan sahur buat semua. Sekarang saya menikmati sahur yang disediakan hotel sebagai pengganti breakfast. Menginap di hotel ini sekalian dengan paket berbuka puasa dan sahur. Jika saat buka puasa restoran hotel penuh sesak dengan pengunjung sehingga makanan yang tersaji cepat habis, maka saat makan sahur boleh dihitung pengunjungnya dengan jari, yang umumnya tamu hotel itu sendiri.

Sagur sendirian di hotel

Nasi goreng hotel. Hanya sedikit saya bisa makan.

Kembali ke Bandung dengan pesawat siang, hanya ada 20 orang penumpang Wings Air hari itu dari kapasitas 80 penumpang, itupan sudah digabung dengan penumpang Lion Air jadwal sorenya. Waktu berangkat dari Bandung pun demikian, seharusnya saya terbang dengan Lion Air sore, tetapi karena penumpang sore sangat sedikit, maka mereka digabung dengan penumpang pesawat siang, pesawat sore dibatalkan.

Sepi penumpang

Seperti halnya hotel, industri penerbangan pun mengalami low season saat bulan puasa, tetapi itu hanya sebentar, sawat memang Benar2 sepi. Seperti sudah diduga, selama bulan puasa orang enggan melakukan perjalanan. Namun periode sepi itu hanya sebentar, menjelang lebaran Idul Fitri penumpang pesawat hotel melonjak tajam dan mencapai peak season tertingginya dalam satu tahun, sampai-sampai maskapai menambahfrekuensi penerbangan (extra flight). Begitu juga hotel-hotel full booked selama musim liburan Idul Fitri. Begitulah, Allah SWT Maha Adil, rezeki-Nya tidak pernah kurang. Selalu saja ada.

Written by rinaldimunir

June 12th, 2018 at 8:57 am

Posted in Cerita perjalanan

Jalan-jalan ke Pulau Bangka (Bagian 3 – Tamat)

without comments

Pulau Bangka memiliki pantai yang indah dan menawan, tidak kalah dengan pantai di Pulau Bali. Pantainya landai dan berpasir putih. Yang menarik adalah hamparan batu-batu granit di sepanjang garis pantai seperti halnya pantai-pantai di Pulau Belitung. Batu-batu granit yang berukuran besar itu muncul ke permukaan bumi akibat tekanan dari dalam bumi (endogen) jutaan tahun yang lalu.

Pantai pertama yang kami kunjungi adalah Pantai Tikus Emas. Pantai ini tidak jauh dari Puri Tri Agung yang kami kunjungi tadi. Nama tikus pada pantainya bukan berarti banyak tikus di sana, tetapi pantai ini dijadikan jalur tikus bagi penambang ilegal untuk menjual timah ke Singapura melalui jalur laut. Pantai Tikus menghadap ke sebelah timur Pulau Bangka dan dekat dengan Pulau Batam dan Singapura. Pulau Bangka adalah pulau penghasil timah yang berkualitas bagus. Secara resmi penambangan timah dilakukan oleh BNUMN PT Timah, tetapi sejak era reformasi masyarakat pun menambang timah secara sendiri atau berkelompok. Timah itu dijual ke pengepul atau dijual secara ilegak ke negara tetangga, Singapura. Mereka mengangkut timah ilegal melalui Pantai Tikus ini. Pantai Tikus Emas adalah bagian dari Pantai Tikus yang dikelola oleh pihak swasta dan untuk masuk ke sana kita harus membayar, namun fasilitas bermain dan pantainya yang landai serta rimbun dengan pohon cemara cocok untuk berkumpul atau sekedar jalan-jalan di pantai.

Pintu masuk ke Pantai Tikus Emas

Pantai Tikus Emas

Batu-batu granit berukuran besar di Pantai Tikus Emas

Tikus emas yang menjadi maskot pantai ini

Rimbunan pohon cemara di sepanjang pantai. Pasir pantainya bwrsih dan halus. Tempat ini cocok untuk berkemah sambil menikmati ombak di laut

Setelah menikmati Pantai Tikus Emas, tempat selanjutnya yang dikunjungi adalah Pantai Tongaci atau Pantai Kuala, masih di seputaran Sungailiat. Pantai ini dikelola oleh pengusaha bernama Tong Aci. Di pintu masuk pantai kita disambut deretan toko-toko suvenir, patung-patung binatang, batu-batu granit, dan sejumlah dekorasi lainnya. Ada juga replika patung tentra Teerracotta yang ditemukan di Tiongkok (peninggalan abad 1 M) di pantai ini.

Pintu masuk Pantai Tongaci

Asesori kereta api di Pantai Tongaci

Pantai Tongaci

Patung Tentara Terracotta di Pantai Tongaci

Tentara Terracotta

Di Pantai Tongaci juga terdapat tempat penangkaran penyu. Telur-telur penyu ditetaskan di sini, lalu anak-anak penyu (tukik) dibesarkan sebelum dilepas ke lautan bebas.

Penangkaran penyu

Pantai terakhir yang kami kunjungi adalah Pantai Parai. Jika di pantai sebelumnya tidak terdapat hotel dan penginapan, maka di Pantai Parai terdapat resort yang berisi cottage-cottage dalam jumlah banyak, cocok jika membawa keluarga.

Berfoto bersama peserta KNSI 2018 di Pantai Parai

Batu-batu granit

Batu-batu granit di sepanjang Pantai Parai

Demikianlah sekelumit cerita mengunjungi sejumlah pantai di Paulau Bangka. Negara kita memiliki banyak pantai yang indah. Semoga ada kesempatan melihat pantai-pantai lain yang belum dikunjungi di Pulau Bangka, misalnya Pantai Tanjung Pesona, Pantai Belinyu, dan lain-lain. (TAMAT)

Written by rinaldimunir

March 17th, 2018 at 10:32 am

Posted in Cerita perjalanan

Jalan-jalan ke Pulau Bangka (Bagian 2)

without comments

Setelah konferensi KNSI selesai dilaksanakan selama dua hari, maka keesokan harinya (Hari Sabtu) sebagian peserta konferensi berdarmawisata mengunjungi sejumlah tempat wisata di Pulau Bangka. Wisata di Pulau Bangka dapat dibagi menjadi tiga macam, pertama wisata alam, kedua wisata sejarah, dan ketiga wisata religi. Untuk wisata alam, objek wisata yang dominan adalah wisata pantai di pulau Bangka bagian timur. Wisata sejarah adalah mengunjungi tempat pembuangan Bung Karno di Mentok (Bangka bagian barat). Wisata religi adalah mengunjungi situs atau tempat ibadah agama Budha (kelenteng dan wihara), Katolik (goa Maria), dan Islam (maqam penyebar agama islam di Pulau Bangka). Berhubung tempat yang jauh dan waktu yang terbatas, kami memilih objek wisata alam saja plus sedikit wisata religi.

Tujuan utama wisata alam di di Pulau Bangka adalah di sekitar kota Sungailiat. Sungailiat adalah ibukota Kabupaten Bangka. Pulau Bangka terdiri atas empat kabupaten dan satu kota, yaitu Kabupaten Bangka dengan ibukota Sungailiat, Kabupaten Bangka Barat dengan ibukota Mentok, Kabupaten Bangka Tengah dengan ibukota Koba, Kabupaten Bangka Tengah dengan ibukota Toboali, dan satu kota yaitu Pangkalpinang.

Sungailiat merupakan kota tua, sudah berdiri sejak tambang timah dibuka pada zaman Belanda (tahun 1766). Kota Sungailiat tidak terllau jauh dari Pangkalpinang, kira-kira menempuh perjalanan 45 menit. Biro tur dan travel di Pangkalpinang menjadikan Sungailiat sebagai tujuan utama wisata. Dalam perjalanan ke Sungailiat, tempat pertama yang kami kunjungi adalah Jembatan EMAS atau Jembatan Baturusa II. Emas adalah singkatan nama mantan Gubernur Kepulauan Bangka Belitung yang menggagas jembatan ini, yaitu Eko Maulana Ali-Syamsudin Basari (alm).  Jembatan Emas menghubungkan kota Pangkalpinang dengan Kabupatane Bangka. Keistmewaan jembatan ini adalah dapat membuka dan menutup jika ada kapal dari lautan lepas masuk atau keluar ke/dari pelabuhan Pangkal Balam.

Jembatan Emas sedang membuka karena ada kapal yang akan lewat

Sebuah kapal dari  Jakarta akan melewati jembatan yang sedang membuka

Tampak atas Jembatan Emas adalah seperti foto di bawah ini (Sumber foto dari sini). Cantik sekali jembatannya jika dilihat dari udara. Tidak salah jika Jembatan Emas menjadi ikon baru propinisi Kepulauan Bangka Belitung.

Jembatan Emas tampak dari atas.

Ketika jembatan sedang membuka, kendaraaan yang akan lewat harus berhenti sampai jembatan tersebut menutup kembali. Kami sebenarnya ingin menyaksikan dan merekam detik-detik jembatan itu menutup kembali, tetapi karena terlalu lama menunggu (masih ada kapal dari kejauhan di lautan lepas akan lewat), maka kami berbalik arah kembali menuju kota Sungailiat.

Dalam perjalanan menuju Pantai Tikus Emas di Sungailiat, kami melewati sebuah tempat ibadah suci tiga agama, bernama Puri Tri Agung. Disebut Tri Agung karena ia menjadi rumah ibadah tiga agama dan aliran kepercayaan, yaitu Budha, Kong Hu Chu, dan Lao Tse.  Puri Tri Agung terletak di atas sebuah bukit. Dari tempat ibadah ini kita dapat melihat Pantai Tikus dari kejauhan.

Puri Tri Agung, Sungailiat

Di dalamnya terdapat patung Budha, Kong Hu Chu, dan Lao Tse. Di dalam Puri banyak terdapat ornamen-ornamen cina berwarna merah seperti lampion dan tulisan Cina. Pengelola Puri Tri Agung umumnya adalah warga Keturunan Tionghoa yang memang cukup banyak mendiami Pulau Bangka sejak zaman dulu. Pengunjung boleh memasuki Puri ini tetapi harus melepas alas kaki. Jika ingin berfoto di dalamnya, pengunjung tidak boleh membelakangi ketiga patung. Foto menyamping boleh.

Seorang pemeluk agama Tridharma sedang menaruh hormat kepada salah satu (atau ketiga patung) yang diyakininya.

Langit-langit kubah Puri Tri Agung

Pada tulisan selanjutnya saya akan menceritakan pantai-pantai yang indah di Sungailiat. (BERSAMBUNG)

Written by rinaldimunir

March 15th, 2018 at 5:25 pm

Posted in Cerita perjalanan

Jalan-jalan ke Pulau Bangka (Bagian 1)

without comments

Konferensi Nasional Sistem Informasi (KNSI) tahun 2018 kali ini diadakan di kota Pangkalpinang di Pulau Bangka, Propinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Tuan rumah konferensi KNSI 2018 adalah STMIK Atma Luhur, Pangkalpinang. Sebagai salah seorang komite KNSI, saya diundang untuk hadir. Tentu saja kesempatan ini tidak saya sia-siakan, karena saya belum pernah mengunjungi kota Pangkalpinang khususnya dan Pulau Bangka umumnya. Kepulauan Bangka Belitung terdiri dari dua pulau besar, yaitu Pulau Bangka dan Pulau Belitung. Saya sudah pernah ke pulau Belitung beberapa tahun yang lalu, tetapi ke Pulau Bangka ya baru kali.

Kepulauan Bangka dan Belitung. Pulau Bangka di sebelah kiri dengan kota terbesar di sana adalah kota Pangkalpinang, sekaligus menjadi ibukota Propinsi Babel. (Sumber: https://contenttugas.wordpress.com/peta-wisata-pulau-bangka-belitung/)

Kota Pangkalpinang dapat dicapai dengan pesawat dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Palembang, dan Batam. Dari Bandung sebenarnya ada penerbangan langsung dengan maskapai NAM Air ke Pangkalpinang, tetapi tidak setiap hari ada. Seringkali penerbangan dibatalkan karena jumlah penumpang yang minim. Saya khawatir saja lama-lama penerbangan dari Bandung ke Pangkalpinang ditutup karena sepi penumpang.

Karena hari Rabu tidak ada flight ke Pangkalpinang dari Bandung, maka saya dan teman-teman “terpaksa” mengambil rute Bandung-Batam-Pangkalpinang. Memang agak lama karena kita transit di Batam selama 3,5 jam (itupun kalau tidak delay). Dari Bandung kami terbang ke Batam pada siang hari (pukul 11.30), lalu menunggu di Bandara Hang Nadim Batam  selama 4 jam lebih karena delay di Batam. Jam 17.30 barulah kita terang ke Pangkalpinang dari Batam. Melelahkan juga ya…

Penerbangan dari Batam ke Pangkalpinang memakan waktu 45 menit. Dari atas udara Pulau Bangka tampaklah kota Pangkalpinang yang berkerlap-kerlip lampunya di bawah. Semakin mendekati bandara semakin terlihat banyak bangunan hotel dan gedung bertingkat lainnya.  Kota Pangkalpinang tidaklah kota kecil seperti yang saya bayangkan, tetapi sudah seperti kota metropolis, maklumlah ini ibukota Propinsi Babel.

Kami mendarat di Bandara Depati Amir. Bandaranya masih baru, itu tampak dari bangunan terminalnya yang megah dan modern dan bergaya futuristik. Ada tiga buah garbarata untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.

Bandara Depati Amir, Pangkalpinang

Bagian dalam Bandara Depati Amir

Bagian luar bandara Depati Amir

Swafoto sejenak ?

Dari bandara kami diantar ke hotel. Tetapi sebelum sampai ke hotel, kami mampir dulu di sebuah restoran seafood dekat bandara. Sebagai propinsi yang dikelilingi oleh laut, hidangan laut tentu menjadi ciri khas propinsi ini.  Beberapa hidangan laut yang menggugah selera ada di restoran ini. Salah satu hidangan laut khas pulau Bangka bernama Lempah Kuning. Hidangan ini mirip pindang ikan di Palembang, tetapi berbumbu kuah kuning dari aneka rempah-rempah. Sajian ikan di dalam Lempah Kuning adalah ikan tenggiri. Rasanya asam segar dan pedas (pedas dari lada, bukan dari cabe merah). Rasa asam disebabkan oleh buah nanas di dalamnya. Hmmm…enak sekali. Selain Lempah Kuning yang khas, juga terdapat ikan tenggiri bakar bumbu kuning. Hmmm…serba kuning ya.

Lempah Kuning

Ikan bakar bumbu kuning

Bagaimana? Kulienrya saja sudah enak, apalagi nanti pemandangan alamnya yang akan saya ceritakan pada bagian kedau (BERSAMBUNG).

Written by rinaldimunir

March 13th, 2018 at 5:08 pm

Posted in Cerita perjalanan

Berkunjung ke Kota Ho Chi Minh City, Vietnam

without comments

Setelah menghadiri konferensi internasional ICEEI 2017 di Langkawi, Malaysia, beberapa hari kemudian saya harus berangkat lagi ke Ho Chi Minh City, Vietnam, guna mengikuti konferensi RCCIE 2017. Konferensi ini  diselenggarakan di Ho Chi Minh City University of Technology (HCMUT).

Ini pengalaman pertama kali bagi saya berkunjung ke negara Vietnam. Jika disebut Vietnam maka yang terbayang bagi kita adalah Perang Vietnam, film Rambo, manusia perahu (yang mengungsi dan ditampung di Pulau Galang, dekat Batam), dan sebagainya. Tapi itu dulu, sekarang Vietnam tumbuh sebagai negara yang paling pesat pertumbuhan ekonominya. Vietnam  mampu mengejar ketertinggalannya setelah porak poranda akibat perang saudara dan intervensi Amerika.

Ibukota negara Vietnam adalah Hanoi, tetapi kota terbesar di negara itu adalah Ho Chi Minh City.  Dulu Vietnam terpecah menjadi dua negara, Vietnam Utara dan Vietnam Selatan. Vietnam Utara yang berhaluan komunis beribukota di Hanoi, sedangkan Vietnam Selatan ibukotannya Saigon (sekarang berganti nama menjadi Ho Chi Minh City). Ho Chi Minh adalah nama pemimpin Vietnam dulu yang menjadi father of Vietnam.

Dari Bandung tidak ada penerbangan langsung ke Ho Chi Minh City. Jadi, saya naik pesawat Malindo Air dulu dari Bandung, kemudian transit di Kuala Lumpur (KLIA) selama empat jam. Dari Kuala Lumpur banyak pilihan maskapai ke Ho Chi Minh City, bisa menggunakan Vietnam Airlines, Malaysia Airlines, Malindo Air, dan sebagainya. Saya  naik Malaysia Airlines karena untuk mengikuti konferensi ini saya mendapat sponsorship dari AUN-SEED/Net, dan pesawat yang dipilihkan adalah Malaysia Airlines.

Bandara Ho Chi Minh City

Jadwa konferensi yang padat dari pagi sampai sore tidak memungkinkan saya untuk berjalan-jalan ke tempat-tempat yang menarik di kota Ho Chi Minh City.  Meski bukan ibukota Vietnam, Ho Chi Minh City adalah kota metropolitan yang besar dan padat penduduk. Gedung-gedung pencakar langit bertebaran di mana-mana. Menurut guide orang Vietnam, penduduk kota Ho Chi Minh sekitar 10 juta jiwa. Hmmm…sepadat kota Jakarta ya.

Sesudut kota Ho Chi Minh City dari lantai sembilan Hotel Athena, tempat saya menginap.

Berada tiga hari di kota ini saya menyimpulkan kota Ho Chi Minh adalah kota dengan lalu lintas yang sangat semrawut. Jalan-jalan dikuasai oleh ribuan sepeda motor. Mobil dan kendaraan roda empat tidak terlalu banyak jumlahnya dibandingkan sepeda motor. Para biker (pengemudi sepeda  motor) tidak mempedulikan kedisiplinan berkendara. Mereka dengan seenaknya menyalip kendaraan lain tanpa bersalah, menyerobot,  mengemudikan motor dengan kencang, dan mengambil jalur yang berlawanan dengan cueknya. Tidak ada polisi yang terlihat mengatur lalu lintas. Sangat ngeri menyeberang jalan di kota Ho Chi Minh City, kalau tidak hati-hati bisa-bisa kita dilindas sepeda motor yang melaju kencang.

Yang mengherankan saya, meskipun para pemotor itu suka menyerobot dan menyalip kendaran roda empat dengan tiba-tiba, tidak ada yang marah-marah. Supir bis kami terlihat tenang saja ketika sebuah motor menyalip dari arah belakang atau arah depan  dengan tiba-tiba sehingga hampir saja tertabrak. Tidak keluar umpatan dari mulutnya karena disalip motor dengan tiba-tiba. Kalau kejadian tersebut di negara kita pasti sudah terdengar umpatan dan sumpah serapah dari mulut supir kendaraan roda empat  yang disalip tiba-tiba. Sepertinya kejadian salip menyalip dan serobot menyerobot itu sudah biasa di Ho Chi Minh City. Saya yang menyaksikan motor-motor salip-menyalip secara tiba-tiba tidak dapat menahan sport jantung. Supir mobil di Ho Chi Minh City sudah lihai tampaknya.

Universitas Teknologi Ho Chi Minh City (HCMUT) adalah universitas papan atas di Vietnam. HCMUT sudah berusia 64 tahun. Kampusnya resik dan banyak pepohonanan sehingga terasa adem berada di sini di tengah cuaca kota Ho Chi Minh yang panas.

Gerbang kampus HCMUT

Pepohonan yang rindang di dalam kampus

Narsis di HCMUT

Latar belakang adalah gambar pemimpin Vietnam masa lalu, Ho Chi Minh

Bangku-bangku sepanjang jalan untuk duduk-duduk atau belajar

Seperti halnya kampus-kampus di Indonesia, di luar kampus banyak bertebaran tempat usaha foto copy dan pedagang kaki lima yang berjualan makanan. Rasanya saya sedang tidak berada di Vietnam, tetapi serasa berada di Indonesia saja.

Tempat usaha foto copy di luar kampus HCMUT

Pedagang kaki lima di sekitar kampus

Serasa bukan di Vietnam

OK, hanya segitu pengalaman saya di kota Ho Chi Minh City.  Seperti yang saya bilang tadi, saya tidak sempat mengunjungi tempat-tempat menarik di kota ini. Hanya pada malam hari saja kami menuju pusat kota untuk makan malam. Oh iya, bagi muslim harap berhati-hati makan di Vietnam karena sebagian besar makanan di sini tidak halal, banyak mengandung daging babi. Baik di hotel atau di restoran saya hanya berani makan ikan dan telur saja. Makan nasi goreng di hotel juga harus berani bertanya ke pelayan campurannya apa saja. Jika campurannya sayuran dan telur saya berani makan, tetapi jika ditambah dengan daging maka saya pun mundur, he..he.

Mata uang Vietnam adalah Dong. Satu Dong Vietnam nilainya setara dengan 0,6 rupiah. Jadi jangan kaget jika daftar harga di Vietnam mempunyai banyak angka nol. Nilai uang di Vietnam sangat rendah, lebih rendah dari mata uang rupiah kita. Sebagai contoh misalnya, harag sebotol Coca-cola di hotel 26.000 dong. Ketika menginap di hotel, petugas hotel meminta uang deposit sebesar 2.000.000 dong atau setara 100 dolar. Jadi, tidak hanya negara kiat saja yang memiliki uang dngan nilai rendah dan banyak angka nol, Vietnam lebih parah lagi, he..he.

Vietnam adalah negara komunis. Delapan puluh persen penduduknya tidak memiliki agama atau memiliki kepercayaan lokal yang dipengaruhi oleh konfusianisme dan taoisme dari Cina (Sumber dari sini). Hanya 20% saja yang mengidentifikasikan dirinya dengan agama. Dari 20% itu agama yang terbesar adalah Budha, lalu Kristen dan Katolik, Hindu, dan Islam. Penganut Islam hanya sekitar 100 ribu yang kebanyakan dari etnis Cham di barat daya Vietnam (Sumber dari sini). Terdapat beberapa masjid di Ho Chi Minh City tetapi saya belum berhsil menemukannya. Menurut teman saya peserta konferensi dari Malaysia, di Ho Chi Minh City terdapat sebuah kampung yang bernama kampung Melayu. Di kampung ini ada masjid dan rumah makan yang menjual makanan halal. Sayang sekali saya tidak sempat ke sana karena pulang sudah malam.

Kembali ke Jakarta saya menggunakan Vietnam Airlines dari bandara Ho Chi Minh City. Maskapai ini tergabung dengan Skyteam sehingga kartu miles Garuda kita bisa dipakai di sini. Bandara Ho Chi Minh City sangat padat hari itu. Cukup lama kami antri di imigrasi. Setelah dari imigrasi kita harus antri lagi menuju ruang tunggu. Pemeriksaan di X-ray terakahir agat ketat. Kita sampa perlu membuka sepatu dan sandal lalu ditaruh di atas baki. Baru kali ini saya diminat melepas sepatu, padahal biasanya cukup ikat pinggang, dompet, jam tangan dan HP.

Antri check-in di konter Vietnam Airlines

Bandara Ho Chi Minh City sangat megah, mirip dengan Terminal 3 Soekarno-Hatta. Saya menghabiskan persediaan uang Dong dengan berbelanja di toko-toko di ruang tunggu penumpang. Saya hanya membeli mainan tempel magnetik kulkas dan durian kering. Harganya semua dalam dolar.

Ruang tunggu penumpang

Vietnam Airlines

Yang menarik di bandara ini adalah tersedia kamar-kamar tidur (sleep zone) bagi calon penumpang yang ingin beristirahat. Saya tidak tahu apakah kamar tidur ini gratis atau bayar.

Kaar-kamar tidur di bandara

Kapan-kapan saya ingin ke Vietnam lagi, tetapi bukan ke Ho Chi Minh City, melainkan ke Hanoi. Di dekat Hanoi ini ada tempat wisata yang terkenal yaiu Halong Bay. OK, suatu saat nanti jika ada kesempatan.

 


Written by rinaldimunir

December 20th, 2017 at 5:11 pm

Posted in Cerita perjalanan

Jalan-Jalan ke Pulau Langkawi, Malaysia

without comments

Akhir bulan November kemarin saya ada acara konferensi ICCEI 2017 di Pulau Langkawi, Malaysia. Langkawi adalah sebuah pulau wisata di sebelah barat Semenanjung Malaka. Dari Bandung tidak ada penerbangan langsung ke Langkawi, kita harus transit dulu di bandara Kuala Lumpur (KLIA), lalu melanjutkan penerbangan ke Pulau Langkawi. Saya dan teman-teman naik Malindo Air dari Bandung ke Kuala Lumpur (KL) dan dari KL ke Langkawi. Dua jam penerbangan dari Bandung ke KL dan 50 menit penerbangan dari KL ke Langkawi. Menurut saya pesawat Malindo Air cukup nyaman juga, ruang buat kakinya lapang dan nyaman, ada hiburan di dalam pesawat (inflight entertainment) dan mendapat light meal (pizza dan kue serta minuman). Secara umum sama dengan Batik Air. Anda harus bawa earphone sendiri kalau mau mendengarkan audio-nya ya.

Tempat duduk yang lapang di Malindo Air

Light meal di Malindo Air

Oke, kembali ke cerita Langkawi. Setelah menempuh perjalanan total 3 jam plus beberapa jam transit di KL, kami pun sampai di bandra udara Langkawi International Airport. Bandaranya kecil saja, mirip dengan bandara Husein Sastranegara di Bandung. Tidak ada garbarata, jadi kita dari pesawat turun ke landasan dan berjalan kaki memasuki ruang terminal.

Bandara Langkawi

Langkawi merupakan pulau andalan wisata selain Pulau Penang di Malaysia. Pulau Langkawi terletak di negara bagian Kedah, lebih dekat dengan perbatasan Thailand. Kepulauan Langkawi terdiri dari sebuah pulau utama (Pulau Langkawi) dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Di sini terdapat geopark yang sudah terdaftar di Unesco. Kata “Langkawi” berasal dari elang dan kawi. Elang adalah nama burung dan kawi artinya batu. Jadi, Langkawi secara harafiah artinya batu elang atau batu tempat burung elang bertengger. Landamark pulau Langkawi adalah burung elang yang hinggap di batu.

Letak Pulau Langkawi

(Gambar di atas diambil dari sini)

Sebagai pulau wisata, di Langkawi terdapat sejumlah obyek wisata. Di bawah ini saya tampilkan peta wisata di Pulau Langkawi (Sumber dari sini).

Peta wisata Pulau Langkawi

Penduduk pulau Langkawi sedikit saja, hanya 100 ribu orang, tetapi pulau ini dikunjungi banyak turis asing. Kami menginap di sebuah hotel di pinggir pantai, namanya Hotel Resort World. Hotelnya bergaya arsitektur klasik dengan bangunan yang mamanjang sepanjang pantai.

Salah satu sudut hote Resort World

Sudut lain hotel Resort World

Berada di pinggir hotel ini kita serasa berada di pinggir danau, karena lautnya tenang tiada ombak. Ya, kita sebenarnya berada di sebuah laguna. Pulau-ulua kecil di depan hotel membuat laut di sini sangat tenang. Tapi, menurut cerita orang Malaysia, ketika terjadi tsunami pada tahun 2004 yang lalu, pulau ini terkena tsunami setinggi 4 meter, termasuk hotel ini juga terkena gelombang tusnami. Ada puluhan orang di Langkawi yang hilang atau meninggal akibat tsunami.

Karena waktu kami sangat sempit, kami mencuri-curi waktu mengunjungi satu tempat wisata terkenal di Pulau Langkawi, yaitu menaiki cable car yang katanya tertinggi di dunia (800 meter). Oh iya, transportasi tidak sulit di Langkawi. Selain taksi konvensional, kita juga bisa naik Grab. Dari hotel ke tempat cable  car hanya 29 ringgit saja (1 ringgit = Rp3300). Memang sebaiknya kita perlu memasang aplikasi transporatsi online seperti Grab dan Uber selama berada di luar negeri, karena terbukti bermanfaat untuk pergi ke mana-mana dengan harga yang murah.

Naik cable car yang tertinggi di dunia, terlihatlah lanskap alam pulau-pulau di sekitar Langkawi. Sayangnya hari hujan sehingga fotonya kurang jelas

Saya hanya merekam beberapa foto saja. Di bawah ini foto-foto yang lebih jelas yang saya ambil dari akun Facebook teman saya, Pak Arry Armand, yang juga ikut dalam rombongan ke Langkawi.

Cable car

Untuk naik cable car ini (isinya max 6 orang) kita harsu membayar 55 ringgit. Bentangan cable car ini cukup panjang, sekitar 2 km. Ada dua titik perhentian di puncak bukit. Kita bisa berhenti dulu pada setiap perhentian ini untuk berfoto-foto sambil menikmati pemandangan yang spekatakuler, Di bawah sana jurang yang dalam, di ujung sana tampak pulau-pulau.

Di titik perhentian terakhir kita bisa turun lagi dan kalau berani kita menyusuri jembatan gantung yang sebagian dasarnya terbuat dari kaca. Ngeri banget melihat ke bawah. Untuk naik jembatan gantung ini kita harsu membayar 10 ringgit.

Jembatan gantung

Jembatan gantung

Kalau ingin menyusuri Pulau Langkawi lebih lengkap setidaknya dibutuhkan dua hari lagi agar semua obyek wisata bisa dikunjungi. Tapi berhubung jatah kami hanya dua hari saja di sana, maka hanya satu obyek wisata saja yang dapat kami kunjungi.

 


Written by rinaldimunir

December 5th, 2017 at 4:21 pm

Posted in Cerita perjalanan

Jalan-Jalan ke Danau Toba dan Samosir (Bagian 3)

without comments

Setelah menikmati Pulau Samosir, maka saatnya melihat Danau Toba dari ketinggian dengan pemandangan jauh lebih indah dan sangat mengagumkan.  Dari Parapat hendaknya Anda mengelilingi Danau Toba melalui jalan-jalan di sekitarnya yang mendaki. Dari daerah ketinggian itu terlihatlah keindahan Danau Toba yang luar biasa dan tidak bsia dilukiskn dengan kata-kata. Dalam perjalanan kami dari Parapat menuju Medan, kami melewati sebuah tempat di Kabupaten Karo yang bernama  Simarajunjung.  Di daerah ini terdapat sebuah resort yang dikelola oleh pihak swasta, bernama Taman Simalem.

Di Taman Simalem ini terdapat hotel, restoran, amphiteather, taman-taman yang indah, toko souvenir dan lain-lain. Sangat luas sekali resort ini, kabarnya milik seorang pengusaha Medan. Dari taman Simalem yang terletak di Dataran Tinggi Karo kita dapat menyaksikan pemandangan Danau Toba yang sungguh mempesona, seperti foto-foto di bawah ini. Kita dapat melihat betapa Danau Toba itu laksana lautan luas sahaja.

Setelah makan dan sholat di kawasan Taman Simalem (di dalamnya ada mushola dan di depannya gereja), kami melanjutkan perjalanan ke kota Medan. Kami melewati kota-kota seperti  Kabanjahe, Berastagi, Sibolangit, dan lain-lain. Sepanjang jalan kita melihat penduduk yang mengelola perkebunan. Daerah Dataran Tinggi Karo memang sangat subur. Beberapa komoditas pertanaian seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Kebun buah yang utama adalah jeruk. Jeruk Medan yang kita kenal itu sebenarnya berasal dari Berastagi. D

Kami mampir di pasar buah Berastagi. Di pasar buah ini kita dapat melihat dan membeli buah-buah segar yang berwarna-warni damn sangat menawan hati. Ada jeruk, terong belanda, mangga udang yang kecil-kecil tapi manis, salak side,puan, buah kesemek, dan lain-lain. Melihat buah-buahan yang beraneka ragam itu, sadarkah kita kalau negara kita ini sebenarnya penghasil buahan-buahan yang menarik dan segar?

Demikianlah perjalanan saya mengunjungi Danau Toba dan Pulau Samosir. Sebenarnya masih kurang puas hanya sebentar di sana. Jika ada kesempatan, saya ingin lebih lama lagi menjelajahi keindahan danau ini.

(TAMAT)

 


Written by rinaldimunir

August 29th, 2017 at 5:11 pm

Posted in Cerita perjalanan

Jalan-Jalan ke Danau Toba dan Samosir (Bagian 2)

without comments

Jalan-jalan ke Danau Toba tanpa mengunjungi Pulau Samosir sama seperti makan nasi tanpa sayur, nggak lengkap rasanya. Danau Toba dan Pulau Samosir adalah satu kesatuan geografis. Pulau Samosir yang berada di tengah Danau Toba besarnya kira-kira seluas negara Singapura (lihat gambar di bawah, sumber dari sini). Oh ya, Danau Toba yang luas ini dikelililing oleh tujuh  kabupaten, yaitu Kabupaten Simalungun, Kabupaten Tobasa (Toba Samosir), Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Dairi, Kabupatyen Karo, dan Kabupaten Samosir. (Baca:  7 Kabupaten yang mendiami kawasan Danau Toba).

Danau Toba dan Pulau Samosir di tengahnya (Sumber gambar: Wikipedia)

Setelah sarapan dan check-out dari Hotel Inna Parapat, kami rombongan Garuda menyeberang ke Pulau Samosir menaiki perahu wisata. Dari dermaga di dekat Hotel Inna Parapat menuju ke Pulau Samosir membutuhkan waktu berlayar kira-kira 40 menit.

Perahu wisata menuju Pulau Samosir

Air Danau Toba cukup tenang, tidak berombak seperti lautan. Membayangkan diri kita berlayar di Danau Toba sebenarnya kita mengarungi kaldera bekas letusan supervalcano ribuan tahun yang lalu. Saya sempat berpikiran nakal, jika tiba-tiba supervolcano Toba ini meletus kembali, habislah diri kami di sini.

Sepanjang perjalanan di danau yang sangat luas ini kita dapat melihat hamparan Pulau Samosir yang memanjang. Hotel dan vila berjejer di sepanjang pantai pulau. Pulau Samosir sekarang menjadi kabupaten sendiri, bernama Kabupaten Samosir dengan ibukotanya di Panguruan. Panguruan adalah kota kecil yang terletak pada posisi persambungan Pulau Samosir dengan Pulau Sumatera. Jadi, sebenarnya Pulau Samosir ini dahulu tidaklah terpisah seluruhnya dengan daratan Pulau Sumatera.  Ia belum menjadi pulau dalam arti sebenarnya, tapi masih merupakan bagian pulau Sumatera. Ada bagian tanjung yang sangat sempit yang tersambung dengan pulau Sumatera. Tetapi,  Belanda pada zaman penjajahan dulu memotong persambungan ini sehingga Pulau Samosir resmi terpisah dengan Pulau Sumatera, dipisahkan oleh sebuah kanal. Sekarang daratan antara Pulau Samosir dengan Pulau Sumatera dihubungkan dengan sebuah jembatan sepanjang 20 meter (Baca tentang jembatan itu di sini:  Sejarah Pulau Samosir yang Banyak Orang Belum Tahu, dan Kisah Jembatan Satu-satunya dari Pulau Samosir ke Sumatera).

Pulau Samosir dari atas perahu

Setelah menempuh waktu 40 menit, sampailah kami di dermaga Pulau Samosir. Inilah titik singgah pertama wisatawan dari Parapat ke Samosir.  Dari dermaga ini kita berjalan melewati jalan setapak menuju sebuah kampung Ambarita, kampung marga Huta Siallagan. Di kampung ini terdapat situs bersejarah peninggalan masa lalu berupa beberapa rumah adat Batak Toba serta meja dan kursi dari batu tempat rapat marga Huta Siallagan. Menurut kepercayaan orang Batak, Pulau Samosir dianggap sebagai tempat asal-muasal suku Batak. Berikut foto-foto di kampung Ambarita.

Konon, di meja dan kursi batu inilah Raja Huta Siallagan melakukan sidang untuk mengadili orang yang dituduh melakukan tindak kejahatan atau mata-mata. Sebelum disidang, tersangka pelaku dipasung di dalam sebuah ruangan di depan rumah adat ini.

Tempat pemasungan pelaku (tersangka)

Tidak jauh darti meja batu tadi, terdapat meja batu lain sebaga tempat eksekusi pelaku yang sudah dijatuhi hukuman mati. Hukuman matinya adalah dengan cara memenggal kepala si tersangka. Hii…seram ya.

Meja batu tempat eksekusi

Batu tempat pemenggalan kepala

Kata pemandu kami, kepala yang sudah dipenggal kemudian dibuang ke Danau Toba. Menurut kepercayaan penduduk Samosir, Danau Toba setiap tahun meminta tumbal berupa kepala manusia. Hiiii….lagi-lagi seram ya.

Di kampung Ambarita ini wisatawan dapat menikmati paket wisata berupa menari tor-tor bersama-sama dengan pakaian ulos dan busana batak lainnya, serta melihat atraksi patung sigale-gale.

Sebenarnya masih banyak situs-situs yang perlu dikunjungi di Pulau Samosir ini, misalnya Tomok. Namun, karena keterbatasan waktu, kami tidak dapat mengunjunginya. Untuk menjelajahi seluruh Pulau Samosir ini dibutuhkan waktu sedikitnya satu minggu. Jangan khawatir, di pulau ini banyak terdapat hotel dan penginapan.

Di kampung Ambarita, tempat meja batu tadi, kita dapat berbelanja souvenir khas Batak. Pedagang souvenir di sini sangat gigih merayu wisatawan untuk membeli dagangannya. Inang-inang (ibu-ibu suku Batak) menghiba-hiba untuk mampir ke kiosnya. Belilah satu, belilah satu pak, kata inang-inang itu setiap kali saya melewati satu kios.  Satu tips yang penting berbelanja souvenir di sini adalah pandai-pandai menawar. Jika beruntung dan deal, anda dapat setengah harga.

(BERSAMBUNG)


Written by rinaldimunir

August 23rd, 2017 at 4:58 pm

Posted in Cerita perjalanan

Jalan-Jalan ke Danau Toba (Bagian 1)

without comments

Siapa yang tidak ingin melihat Danau Toba, danau yang terluas di Indonesia dan Asia Tenggara dan terletak di propinsi Sumatera Utara. Jangan heran, meskipun saya berasal dari Sumatera, namun saya belum pernah ke sana. Sumatera Utara adalah propinsi yang sangat luas, di sanalah Danau Toba berada. Pergi ke kota Medan pun saya baru sekali. Danau Toba sendiri sangat jauh dari kota Medan, memakan waktu perjalanan sekitar lima sampai enam jam lewat perjalanan darat. Namun sekarang akses ke Danau Toba menjadi lebih dekat sejak dibukanya Bandara Silangit yang terletak di Siborong-borong, kabupaten  Tapanuli Utara. Dari Silangit ke kota Parapat di pinggir danau Toba sudah lebih dekat yaitu dua jam perjalanan darat.

Ada dua maskapai yang membuka penerbangan langsung dari Jakarta ke Silangit, yaitu Garuda Indonesia dan Sriwjaya Air. Garuda memiliki jadwal satu kali penerbangan dari Terminal 3 Bandara Soetta ke Silangit, sedangkan Sriwijaya Air ada dua kali penerbangan langsung ke sana. Selain dari Jakarta, Bandara Silangit juga dapat dicapai dengan penerbangan dari Batam da Kualanamu. Jika naik Sriwijaya, pesawatnya dari jenis Boeing, sedangkan bila memakai Garuda maka pesawatnya berukuran lebih kecil dari Boeing, yaitu pesawat berjenis Bombardier atau Explore Jet.

Minggu lalu fakultas saya mengadakan acara rapat kerja sekaligus rekreasi ke Danau Toba.  Kami berangkat dengan penerbangan pagi, rombongan pertama menggunakan Sriwijaya, sedangkan rombongan kedua menggunakan Garuda.  Saya berada dengan rombongan kedua, namun karena pesawat mengalami kerusakan, kami mengalami delay yang cukup lama, yaitu empat jam! Sebagai kompensasinya, kami mendapat makan gratis sepuasnya di Lounge Garuda Terminal 3, selanjutnya karena delay empat jam itu maka kami juga mendapat uang tunai Rp300.000 dari Garuda sesuai aturan Kementerian Perhubungan. Yah, berantakanlah rencana mengunjungi danau Toba pada siang hari itu, sebab pesawat baru berangkat pukul 13.00, padahal kami berangkat dari bandung pukul 12 malam untuk mengantisipasi kemacetan di jalan tol menuju Jakarta.

garuda

Uang kompensasi 300 ribu dari Garuda

Rombongan pertama dengan Sriwijaya berhasil mendarat di Silangit pada pukul semilan pagi, sedangkan kami yang di Garuda gagal mendarat di Silangit karena cuaca buruk. Selama dalam perjalanan kami sempat mengalami turbulensi di atas daratan Sumatera. Cukup mencekam juga  mengalami turbulensi yang membuat wajah pucat pasi. Kalau sudah berada di udara, maka saya hanya bisa berpasrah diri kepada Allah SWT.  La hawla walaa quwwata illa billah. Hidup dan mati ada ditangan-Nya.  Karena gagal mendarat di Bandara Silangit, pesawat akhirnya dialihkan mendarat di Bandara Kualanamu di Deli Serdang pada sore hari. Dari Kualanamu perjalanan diteruskan lewat darat melewati beberapa kota dan daerah menempuh waktu (termasuk makan dan istirahat di Perbaungan) enam jam. Jam 12 malam lebih sedikit akhirnya kami sampai di hotel Inna Parapat yang terletak persis di pinggir Danau Toba. Alhamdulillah, sampai jugalah saya di pinggir danau yang sudah lama ingin saya kunjungi.

Dari jendela hotel kita dapat melihat sebagian danau Toba. Saya sebut sebagian karena Danau Toba itu selain sangat luas juga sangat panjang.  Panjang danau Toba adalah 100 km, sedangkan lebarnya 30 km, kedalamannya saja 500 meter! Dalam sekali. Di bawah ini saya tampilkan tiga foto penampakan Danau Toba dari Hotel Inna Parapat yang terletak di kota Parapat di pinggir Danau Toba (Foto-foto lainnya akan saya tampilkan dalam tulisan selanjutnya.).  Di pinggir danau ini terdapat banyak sekali hotel dan tempat penginapan, mulai dari kelas melati hingga berbintang empat.

Toba1

Toba3

Toba2

Itu foto pada pagi hari. Cuaca di Parapat sering mendung dan berkabut, jadi mendapatkan foto yang sangat bersih agak sulit diperoleh saat musm hujan pada bulan Agustus di sana.

Danau Toba pada dasarnya adalah sebuah kawah hasil letusan  gunung api raksasa (supervolcano). Dikutip dari laman Wikipedia,  Gunung Toba meletus sekitar 75.000 tahun yang lalu. Hasil letusan menghasilkan kaldera yang kemudian terisi dengan air, itulah yang menjadi Danau Toba sekarang. Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya pulau yang bernama Pulau Samosir. Pulau Samosir inilah yang menjadi keunikan Danau Toba, yaitu ada pulau besar di tengah danau yang sangat luas.

Tulisan tentang jalan-jalan ke Danau Toba akan saya teruskan pada tulisan selanjutnya. (BERSAMBUNG)


Written by rinaldimunir

August 14th, 2017 at 4:48 pm

Posted in Cerita perjalanan