if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Cerita perjalanan’ Category

Jalan-Jalan ke Danau Toba dan Samosir (Bagian 3)

without comments

Setelah menikmati Pulau Samosir, maka saatnya melihat Danau Toba dari ketinggian dengan pemandangan jauh lebih indah dan sangat mengagumkan.  Dari Parapat hendaknya Anda mengelilingi Danau Toba melalui jalan-jalan di sekitarnya yang mendaki. Dari daerah ketinggian itu terlihatlah keindahan Danau Toba yang luar biasa dan tidak bsia dilukiskn dengan kata-kata. Dalam perjalanan kami dari Parapat menuju Medan, kami melewati sebuah tempat di Kabupaten Karo yang bernama  Simarajunjung.  Di daerah ini terdapat sebuah resort yang dikelola oleh pihak swasta, bernama Taman Simalem.

Di Taman Simalem ini terdapat hotel, restoran, amphiteather, taman-taman yang indah, toko souvenir dan lain-lain. Sangat luas sekali resort ini, kabarnya milik seorang pengusaha Medan. Dari taman Simalem yang terletak di Dataran Tinggi Karo kita dapat menyaksikan pemandangan Danau Toba yang sungguh mempesona, seperti foto-foto di bawah ini. Kita dapat melihat betapa Danau Toba itu laksana lautan luas sahaja.

Setelah makan dan sholat di kawasan Taman Simalem (di dalamnya ada mushola dan di depannya gereja), kami melanjutkan perjalanan ke kota Medan. Kami melewati kota-kota seperti  Kabanjahe, Berastagi, Sibolangit, dan lain-lain. Sepanjang jalan kita melihat penduduk yang mengelola perkebunan. Daerah Dataran Tinggi Karo memang sangat subur. Beberapa komoditas pertanaian seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Kebun buah yang utama adalah jeruk. Jeruk Medan yang kita kenal itu sebenarnya berasal dari Berastagi. D

Kami mampir di pasar buah Berastagi. Di pasar buah ini kita dapat melihat dan membeli buah-buah segar yang berwarna-warni damn sangat menawan hati. Ada jeruk, terong belanda, mangga udang yang kecil-kecil tapi manis, salak side,puan, buah kesemek, dan lain-lain. Melihat buah-buahan yang beraneka ragam itu, sadarkah kita kalau negara kita ini sebenarnya penghasil buahan-buahan yang menarik dan segar?

Demikianlah perjalanan saya mengunjungi Danau Toba dan Pulau Samosir. Sebenarnya masih kurang puas hanya sebentar di sana. Jika ada kesempatan, saya ingin lebih lama lagi menjelajahi keindahan danau ini.

(TAMAT)

 


Written by rinaldimunir

August 29th, 2017 at 5:11 pm

Posted in Cerita perjalanan

Jalan-Jalan ke Danau Toba dan Samosir (Bagian 2)

without comments

Jalan-jalan ke Danau Toba tanpa mengunjungi Pulau Samosir sama seperti makan nasi tanpa sayur, nggak lengkap rasanya. Danau Toba dan Pulau Samosir adalah satu kesatuan geografis. Pulau Samosir yang berada di tengah Danau Toba besarnya kira-kira seluas negara Singapura (lihat gambar di bawah, sumber dari sini). Oh ya, Danau Toba yang luas ini dikelililing oleh tujuh  kabupaten, yaitu Kabupaten Simalungun, Kabupaten Tobasa (Toba Samosir), Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Dairi, Kabupatyen Karo, dan Kabupaten Samosir. (Baca:  7 Kabupaten yang mendiami kawasan Danau Toba).

Danau Toba dan Pulau Samosir di tengahnya (Sumber gambar: Wikipedia)

Setelah sarapan dan check-out dari Hotel Inna Parapat, kami rombongan Garuda menyeberang ke Pulau Samosir menaiki perahu wisata. Dari dermaga di dekat Hotel Inna Parapat menuju ke Pulau Samosir membutuhkan waktu berlayar kira-kira 40 menit.

Perahu wisata menuju Pulau Samosir

Air Danau Toba cukup tenang, tidak berombak seperti lautan. Membayangkan diri kita berlayar di Danau Toba sebenarnya kita mengarungi kaldera bekas letusan supervalcano ribuan tahun yang lalu. Saya sempat berpikiran nakal, jika tiba-tiba supervolcano Toba ini meletus kembali, habislah diri kami di sini.

Sepanjang perjalanan di danau yang sangat luas ini kita dapat melihat hamparan Pulau Samosir yang memanjang. Hotel dan vila berjejer di sepanjang pantai pulau. Pulau Samosir sekarang menjadi kabupaten sendiri, bernama Kabupaten Samosir dengan ibukotanya di Panguruan. Panguruan adalah kota kecil yang terletak pada posisi persambungan Pulau Samosir dengan Pulau Sumatera. Jadi, sebenarnya Pulau Samosir ini dahulu tidaklah terpisah seluruhnya dengan daratan Pulau Sumatera.  Ia belum menjadi pulau dalam arti sebenarnya, tapi masih merupakan bagian pulau Sumatera. Ada bagian tanjung yang sangat sempit yang tersambung dengan pulau Sumatera. Tetapi,  Belanda pada zaman penjajahan dulu memotong persambungan ini sehingga Pulau Samosir resmi terpisah dengan Pulau Sumatera, dipisahkan oleh sebuah kanal. Sekarang daratan antara Pulau Samosir dengan Pulau Sumatera dihubungkan dengan sebuah jembatan sepanjang 20 meter (Baca tentang jembatan itu di sini:  Sejarah Pulau Samosir yang Banyak Orang Belum Tahu, dan Kisah Jembatan Satu-satunya dari Pulau Samosir ke Sumatera).

Pulau Samosir dari atas perahu

Setelah menempuh waktu 40 menit, sampailah kami di dermaga Pulau Samosir. Inilah titik singgah pertama wisatawan dari Parapat ke Samosir.  Dari dermaga ini kita berjalan melewati jalan setapak menuju sebuah kampung Ambarita, kampung marga Huta Siallagan. Di kampung ini terdapat situs bersejarah peninggalan masa lalu berupa beberapa rumah adat Batak Toba serta meja dan kursi dari batu tempat rapat marga Huta Siallagan. Menurut kepercayaan orang Batak, Pulau Samosir dianggap sebagai tempat asal-muasal suku Batak. Berikut foto-foto di kampung Ambarita.

Konon, di meja dan kursi batu inilah Raja Huta Siallagan melakukan sidang untuk mengadili orang yang dituduh melakukan tindak kejahatan atau mata-mata. Sebelum disidang, tersangka pelaku dipasung di dalam sebuah ruangan di depan rumah adat ini.

Tempat pemasungan pelaku (tersangka)

Tidak jauh darti meja batu tadi, terdapat meja batu lain sebaga tempat eksekusi pelaku yang sudah dijatuhi hukuman mati. Hukuman matinya adalah dengan cara memenggal kepala si tersangka. Hii…seram ya.

Meja batu tempat eksekusi

Batu tempat pemenggalan kepala

Kata pemandu kami, kepala yang sudah dipenggal kemudian dibuang ke Danau Toba. Menurut kepercayaan penduduk Samosir, Danau Toba setiap tahun meminta tumbal berupa kepala manusia. Hiiii….lagi-lagi seram ya.

Di kampung Ambarita ini wisatawan dapat menikmati paket wisata berupa menari tor-tor bersama-sama dengan pakaian ulos dan busana batak lainnya, serta melihat atraksi patung sigale-gale.

Sebenarnya masih banyak situs-situs yang perlu dikunjungi di Pulau Samosir ini, misalnya Tomok. Namun, karena keterbatasan waktu, kami tidak dapat mengunjunginya. Untuk menjelajahi seluruh Pulau Samosir ini dibutuhkan waktu sedikitnya satu minggu. Jangan khawatir, di pulau ini banyak terdapat hotel dan penginapan.

Di kampung Ambarita, tempat meja batu tadi, kita dapat berbelanja souvenir khas Batak. Pedagang souvenir di sini sangat gigih merayu wisatawan untuk membeli dagangannya. Inang-inang (ibu-ibu suku Batak) menghiba-hiba untuk mampir ke kiosnya. Belilah satu, belilah satu pak, kata inang-inang itu setiap kali saya melewati satu kios.  Satu tips yang penting berbelanja souvenir di sini adalah pandai-pandai menawar. Jika beruntung dan deal, anda dapat setengah harga.

(BERSAMBUNG)


Written by rinaldimunir

August 23rd, 2017 at 4:58 pm

Posted in Cerita perjalanan

Jalan-Jalan ke Danau Toba (Bagian 1)

without comments

Siapa yang tidak ingin melihat Danau Toba, danau yang terluas di Indonesia dan Asia Tenggara dan terletak di propinsi Sumatera Utara. Jangan heran, meskipun saya berasal dari Sumatera, namun saya belum pernah ke sana. Sumatera Utara adalah propinsi yang sangat luas, di sanalah Danau Toba berada. Pergi ke kota Medan pun saya baru sekali. Danau Toba sendiri sangat jauh dari kota Medan, memakan waktu perjalanan sekitar lima sampai enam jam lewat perjalanan darat. Namun sekarang akses ke Danau Toba menjadi lebih dekat sejak dibukanya Bandara Silangit yang terletak di Siborong-borong, kabupaten  Tapanuli Utara. Dari Silangit ke kota Parapat di pinggir danau Toba sudah lebih dekat yaitu dua jam perjalanan darat.

Ada dua maskapai yang membuka penerbangan langsung dari Jakarta ke Silangit, yaitu Garuda Indonesia dan Sriwjaya Air. Garuda memiliki jadwal satu kali penerbangan dari Terminal 3 Bandara Soetta ke Silangit, sedangkan Sriwijaya Air ada dua kali penerbangan langsung ke sana. Selain dari Jakarta, Bandara Silangit juga dapat dicapai dengan penerbangan dari Batam da Kualanamu. Jika naik Sriwijaya, pesawatnya dari jenis Boeing, sedangkan bila memakai Garuda maka pesawatnya berukuran lebih kecil dari Boeing, yaitu pesawat berjenis Bombardier atau Explore Jet.

Minggu lalu fakultas saya mengadakan acara rapat kerja sekaligus rekreasi ke Danau Toba.  Kami berangkat dengan penerbangan pagi, rombongan pertama menggunakan Sriwijaya, sedangkan rombongan kedua menggunakan Garuda.  Saya berada dengan rombongan kedua, namun karena pesawat mengalami kerusakan, kami mengalami delay yang cukup lama, yaitu empat jam! Sebagai kompensasinya, kami mendapat makan gratis sepuasnya di Lounge Garuda Terminal 3, selanjutnya karena delay empat jam itu maka kami juga mendapat uang tunai Rp300.000 dari Garuda sesuai aturan Kementerian Perhubungan. Yah, berantakanlah rencana mengunjungi danau Toba pada siang hari itu, sebab pesawat baru berangkat pukul 13.00, padahal kami berangkat dari bandung pukul 12 malam untuk mengantisipasi kemacetan di jalan tol menuju Jakarta.

garuda

Uang kompensasi 300 ribu dari Garuda

Rombongan pertama dengan Sriwijaya berhasil mendarat di Silangit pada pukul semilan pagi, sedangkan kami yang di Garuda gagal mendarat di Silangit karena cuaca buruk. Selama dalam perjalanan kami sempat mengalami turbulensi di atas daratan Sumatera. Cukup mencekam juga  mengalami turbulensi yang membuat wajah pucat pasi. Kalau sudah berada di udara, maka saya hanya bisa berpasrah diri kepada Allah SWT.  La hawla walaa quwwata illa billah. Hidup dan mati ada ditangan-Nya.  Karena gagal mendarat di Bandara Silangit, pesawat akhirnya dialihkan mendarat di Bandara Kualanamu di Deli Serdang pada sore hari. Dari Kualanamu perjalanan diteruskan lewat darat melewati beberapa kota dan daerah menempuh waktu (termasuk makan dan istirahat di Perbaungan) enam jam. Jam 12 malam lebih sedikit akhirnya kami sampai di hotel Inna Parapat yang terletak persis di pinggir Danau Toba. Alhamdulillah, sampai jugalah saya di pinggir danau yang sudah lama ingin saya kunjungi.

Dari jendela hotel kita dapat melihat sebagian danau Toba. Saya sebut sebagian karena Danau Toba itu selain sangat luas juga sangat panjang.  Panjang danau Toba adalah 100 km, sedangkan lebarnya 30 km, kedalamannya saja 500 meter! Dalam sekali. Di bawah ini saya tampilkan tiga foto penampakan Danau Toba dari Hotel Inna Parapat yang terletak di kota Parapat di pinggir Danau Toba (Foto-foto lainnya akan saya tampilkan dalam tulisan selanjutnya.).  Di pinggir danau ini terdapat banyak sekali hotel dan tempat penginapan, mulai dari kelas melati hingga berbintang empat.

Toba1

Toba3

Toba2

Itu foto pada pagi hari. Cuaca di Parapat sering mendung dan berkabut, jadi mendapatkan foto yang sangat bersih agak sulit diperoleh saat musm hujan pada bulan Agustus di sana.

Danau Toba pada dasarnya adalah sebuah kawah hasil letusan  gunung api raksasa (supervolcano). Dikutip dari laman Wikipedia,  Gunung Toba meletus sekitar 75.000 tahun yang lalu. Hasil letusan menghasilkan kaldera yang kemudian terisi dengan air, itulah yang menjadi Danau Toba sekarang. Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya pulau yang bernama Pulau Samosir. Pulau Samosir inilah yang menjadi keunikan Danau Toba, yaitu ada pulau besar di tengah danau yang sangat luas.

Tulisan tentang jalan-jalan ke Danau Toba akan saya teruskan pada tulisan selanjutnya. (BERSAMBUNG)


Written by rinaldimunir

August 14th, 2017 at 4:48 pm

Posted in Cerita perjalanan

Berakhir Masa Menjadi “Tukang Ojek” Anak

without comments

Tahun ini saya pensiun menjadi “tukang ojek” anak. Sudah lebih lima belas tahun saya rutin setiap pagi mengantar anak pergi ke sekolah, untuk ketiga anak saya. Cerita menjadi tukang ojek buat anak sudah pernah saya tulis sebelumnya (Baca: Menjadi “Tukang Ojek” Anak).

Mengantar anak ke sekolah adaah pekerjaan yang menyenangkan bagi saya. Tidak semua ayah bisa punya kesempatan mengantar anaknya ke sekolah, lho.  Itu masa-masa yang tidak akan bisa terulang. Orangtua yang sangat sibuk, seperti di Jakarta, hampir tidak punya kesempatan mengantar anaknya pergi ke sekolah. Pagi ketika waktu Subuh mereka sudah berangkat ke kantor, hal ini karena perumahan sekarang sudah jauh di luar kota, maka pergi bekerja ke pusat kota harus siap mengejar jadwal kereta komuter atau bawa kendaraan sendiri lebih pagi supaya tidak terjebak macet. Pulang ke rumah pun sudah malam, anak sudah tidur. Masa bertemu dengan anak hanya hari Sabtu dan Minggu, tetapi kebanyakan sekolah libur pada hari Sabtu.

Seorang warganet di media sosial menumpahkan curhatannya tentang kesedihan tidak dapat mengantar anaknya ke sekolah (jika anda punya akun Facebook, silakan baca laman ini). Berikut curhatnya (mohon izin dikutip ya mas :-)):

Mimpi Mengantar Sekolah

Foto ini saya ambil di daerah Pasar Jumat, Lebak Bulus. Saat lalu lintas sedang padat-padatnya. Yang entah kenapa isinya kok banyak anak sekolahnya.

Fotonya memang biasa aja. Saya kenal dengan bapak beranak itu pun tidak. Tapi sebagai lelaki yang pernah jadi jagoan pada masanya dulu, saya langsung down melihat bapak antar sekolah anak macem ini. Anak saya 3. Yang usia sekolah 2. Tapi ngga pernah saya bisa menikmati hal-hal romantis macam itu: antar anak sekolah, menggenggam tangannya sambil berceloteh ala pria, lalu melepasnya masuk kelas setelah tos dan memukul pundaknya.

Saya kirim gambar itu ke istri, disertai caption menyayat hati

Dia bales sih.. satu jam kemudian. Sambil seperti biasa kasih joke satir: tenang… ntar juga bisa anter anak. Kalo udah pensiun..

Tak lupa emot ???. Makin membuat saya menertawakan nasib sendiri. Ini lagi sedih beneran. Kok bisa bisanya diguyoni.

Tapi barangkali istri mengatakan itu juga dengan pedih hatinya (iya ngga sih, istri? Kamu pedih gak? ?)…

Selepas Subuh saya sudah gedandapan berangkat kerja meninggalkannya dengan segudang masalah rumah tangga. Pulangnya juga sering mendapati anak-anak sudah berpiyama.

Ada satu bagian yang hilang, itu sudah pasti. Saya melewatkan banyak momen romantis dengan tim transformer kecil saya di rumah. Untuk satu alasan: cari nafkah.

Harusnya alasan ini sangat kuat. Wajar kalau seorang ayah tidak banyak ambil bagian dalam membesarkan anak, karena memang jatah dia adalah di luar rumah. Tapi percaya tidak bro, mengantar anak sekolah adalah mimpi sederhana saya sejak dulu. Dan mimpi sesederhana ini pun sulit saya wujudkan.

Itu rasanya… seperti gagal menjadi lelaki dari anak lelaki.

Bro, kalau anda semua masih diberkahi waktu luang dan pekerjaan yang fleksibel, saya ucapkan selamat. Nikmati lah masa-masa yang tidak akan terulang ini. Berkelakarlah dengannya sembari ia merangkulmu di balik jaketmu. Tunjukkan jalan-jalan tikus sambil menyombongkan kehebatanmu menghafal jalan. Nikmati kekagumannya padamu.

Sebelum menjadi sepertiku. Yang hanya bisa iri setengah mati pada bapak-bapak berjaket pembonceng anak.

Jakarta 18 juli 2017

~~~~~~

Itulah yang saya katakan, tidak setiap ayah memiliki kesempatan mengantar anaknya ke sekolah. Sepele ya kelihatannya, ada rasa “iri”, ada kerinduan yang mendalam bagi seorang ayah untuk bisa mengalami momen seperti ini. Tapi apa mau dikata, alasan pekerjaan jua yang membuat mimpi itu belum bisa diwujudkan.

Kembali ke cerita saya pada bagian awal. Saya sekarang sudah berhenti mejadi “tukang ojek anak”. Apa pasal?  Anak saya yang bungsu sekarang sudah kelas 5 SD. Awal tahun ajaran kemaren dia bilang kepada saya bahwa dia tidak mau lagi diantar pergi ke sekolah, juga tidak mau pulang sekolah pakai becak langganan. Dia ingin pergi ke sekolah sendiri pakai sepeda. Pulang sekolah juga pakai sepeda sendiri. Biasanya selama ini saya mengantar anak ke sekolah dengan motor, lalu nanti siang, karena saya tidak bisa menjemput (sedang di kampus), maka anak saya pulang sekolah dengan becak yang sudah saya langgan sejak masih Playgroup.

fajar1

Tentu saja keinginannya itu adalah hal yang menyedihkan sekaligus juga menggembirakan bagiku. Sedih karena saya tidak bisa bisa punya momen indah mengantar anak ke sekolah. Tapi saya sudah merasa puaslah, sebab sejak anak-anak preschool hingga akhir SD semua anak kuantar ke sekolah dengan motor. Ketika masuk SMP mereka sudah mulai pergi sendiri naik angkot. Lima belas tahun sudah saya menjadi “tukang ojek” anak, dan itu adalah kenangan yang berkesan bagi seorang ayah dan anak.

fajar2

Di sisi lain ada juga terselip rasa gembira karena itu artinya dia sudah merasa besar dan sudah ingin mandiri.  Dia ingin menunjukkan bahwa dia mampu pergi sendiri. Tinggal saya saja yang merasa nelangsa sendiri, melepasanya dengan tatapan berkaca-kaca. Tapi saya pun harus menyadari, bahwa suatu hari nanti anak-anak kita akan pergi meninggalkan orangtuanya, pergi mencari jalan hidupnya sendiri. Tidak selamanya anak kita bersama kita, bukan?

Jadi, bagi kalian para ayah, jangan sampai melewatkan kesempatan berharga bersama anak-anakmu. Hanya ketika mereka masih kecil kita bisa menikmati  momen-momen indah bersama anak kita. Mengantar anak ke sekolah itu contohnya, adalah hal yang terlihat kecil dan sepele, namun akan berkesan bagi anak ketika mereka sudah dewasa nanti. Jangan lupa, ketika anda mengantar anak anda ke sekolah, banyak nilai-nilai kehidupan yang bisa ditanamkan.


Written by rinaldimunir

July 29th, 2017 at 1:48 pm

Supir Taksi di Pulau Lombok, Orang Sasak yang Taat Agama

without comments

Bulan lalu saya berkesempatan membawa anak istri jalan-jalan ke Pulau Lombok.  Saya sudah dua kali ke Pulau Lombok tapi tidak bersama keluarga, kali ini ketika sedang libur lebaran saya ingin membawa mereka ke Pantai Senggigi, Lombok Barat. Dari Bandung kami naik Lion Air pukul 6 pagi, lalu transit di Juanda Surabaya selama dua jam kurang. Setelah menyambung perjalanan dengan pesawat Lion yang lain, kami sampai di Bandara Internasional Lombok di Praya, Lombok Tengah, pukul 11.30 siang waktu setempat (WITA).

Hari itu adalah hari Jumat. Kami naik taksi resmi bandara dengan tujuan hotel Holiday Resort di Batu Layar, Senggigi, Lombok Barat. Tarifnya Rp240.000, karena jaraknya cukup jauh. Perjalanan ke Senggigi dari Bandara memakan waktu sekitar satu jam 20 menit. Sepanjang jalan dari Bandara menuju Senggigi terasa seakli suasana sepi. Masyarakat Lombok baru saja merayakan lebaran Idul Fitri  seperti umat Islam lainnya di tanah air. Tetapi perayaan lebaran yang lebih meriah adalah seminggu sesudahnya, yang disebut Lebaran Ketupat, atau Lebaran Topat.

Jalan raya dari bandara menuju kota Mataram sangat mulus laksana jalan tol saja. Hanya ada satu dua kendaraan yang melintas. Suasana sepi ini mungkin karena kaum muslimin sedang menunaikan ibadah sholat Jumat.

Tiba-tiba di tengah perjalanan, supir taksi meminta izin apakah dia boleh berhenti sebentar di mesjid untuk menunaikan sholat Jumat. Kebetulan kami hampir memasuki kota Mataram. Dia akan mencari masjid terdekat yang akan siap menunaikan sholat Jumat, jadi tidak sampai ikut mendengarkan khutbah Jumat. Kemungkinan nanti di  masjid Islamic Center yang baru dan megah di Kota Mataram. Kalau tidak diizinkan  juga tidak apa-apa, katanya.

islamic center mataram

Masjid Islamic Center di tengah kota Mataram (Sumber: bimasislam.kemenag.go.id)

Saya langsung menyetujui permintaan supir taksi tesrebut. Ibadah sholat Jumat di masjid wajib bagi laki-laki muslim. Yang membuat saya salut adalah meski sedang bekerja mencari nafkah (mengemudi taksi), tapi dirinya tidak mau melalaikan sholat Jumat. Saya jarang menemui supir taksi di kota-kota lain seperti itu, mereka tetap saja menarik taksi (membawa penumpang) meskipun sedang berlangsung ibadah sholat Jumat (ibadah sholat Jumat meliputi khutbah Jumat dan sholat dua rakaat).

Setelah mencari masjid yang sudah mulai khutbah Jumat dan menunjukkan tanda-tanda akan berakhir, pak supir akhirnya berhenti di sebuah masjid di dalam kompleks kantor Pemerintah. Di meminggirkan mobilnya di pinggir jalan di depan kantor itu.  Sepanjang jalan banyak mobil yang parkir karena pemiliknya sedang sholat Jumat. Dia meninggalkan taksi kepada kami dalam keadaan AC nyala dan pintu tidak dikunci.  Saya tidak ikut sholat Jumat karena ada keringanan (rukshah) sebagai musafir. Saya nanti akan sholat jamak Dhuhur dan Ashar di kamar hotel saja. Saya dan keluarga menunggu di dalam taksi.

Ada sekitar 15 menit kami menunggu di dalam taksi. Sholat Jumat sudah usai. Setelah itu terlihat supir taksi tadi datang dengan terburu-buru sambil meminta maaf karena kami lama menunggu. Tidak apa-apa, kata saya tersenyum. Perjalanan dilanjutkan lagi menuju Senggigi.

Supir taksi ini orang dari suku Sasak, yaitu suku asli di Pulau Lombok. Suku Sasak dikenal sebagai suku yang sangat taat menjalankan agama. Jika Pulau Bali dijuluki Pulau Seribu Pura, maka Pulau Lombok sendiri dijuluki pulau Seribu Masjid karena terdapat ribuan masjid di sana. Orang Sasak belajar agama Islam dari ulama yang disebut Tuan Guru , jika di Pulau Jawa namanya Kyai.  Jika di Jawa masyarakat santri sangat patuh kepada kyai pondok pesantren, maka di Pulau Lombok orang Sasak takzim dan sangat menghormati Tuan Guru. Gubernur NTB sekarang adalah seorang Tuan Guru Haji (TGH) Muhammad Zainul Majdi yang juga dikenal sebagai Tuan Guru Bajang. Demikan tingginya penghormatan orang Sasak kepada Tuan Guru, maka ketika Tuan Guru mereka dilecehkan, mereka bangkit untuk membelanya. Kita masih ingat kejadian terakhir ketika Gubernur NTB yang juga Tuan Guru mendapat pelecehan kata-kata kotor dari seorang  warga Indonesia dari etnik tertentu di Bandara Changi Singapura. Mendengar kabar Tuan Guru mereka dilecehkan, masyarakat  Sasak melakukan demo di seantero Pulau Lombok, begitu juga masyarakat Sasak di Jakarta. Kasus ini sudah dilaporkan ke Kepolisian, tetapi sampai  sekarang tidak ada lagi kejelasannya.

Jika di Pulau Jawa ormas keagamaan tradisional yang dominan adalah Nahdlatul Ulama (NU), maka di Pulau Lombok ormas keagamaan  yang dominan adalah Nahdlatul Wathan (NW). NW merupakan ormas yang bergerak dalam bidang pendidikan dan sosial, organisisasi ini memiliki sekolah mulai dari SD sampai perguruan tinggi. Pemimpin tertinggi Nahdlatul Wathan disebut Tuan Guru Bajang.

Kembali ke cerita di atas. Akhirnya sampailah kami diantar supir taksi yang sholeh tadi ke hotel tujuan kami di Senggigi. Kami tidak berlama-lama berlibur di Senggigi, karena hari Minggu tanggal 2 Juli 2017 adalah perayaan Lebaran Ketupat besar-besaran di Senggigi. Lebaran Ketupat (atau Lebaran Topat) dirayakan seminggu setelah hari H Idul Fitri. Perayaannya dipusatkan di Senggigi. Hampir seluruh masayarakat Sasak dari berbagai daerah di Pulau Lombok mendatangi Pantai Senggigi. Mereka membawa makanan berupa ketupat dan sayurannya lalu dimakan ramai-ramai di sepanjang Pantai Senggigi. Jadi, sudah dapat dipastikan jalanan akan macet total dengan kendaraan dan lautan manusia. Anda akan kesulitan menuju Bandara, kecuali berangkat pagi-pagi sekali. Jika memaksakan diri menuju bandara pada siang hari, dipastikan akan menempuh perjalanan berjam-jam  lamanya (sekitar lima sampai enam jam) dan mungkin anda akan ketinggalan pesawat. Informasi ini saya peroleh dari supir taksi.

lebaran-topat guidelombok.com

Perayaan lebaran topat (Sumber foto: guidelombok.com)

Nah, ketika berangkat ke Bandara dari hotel kami memesan taksi Blue Bird. Taksi ini banyak mangkal di sekitar Senggigi dan dapat kita minta pergi kemana saja di seluruh Pulau Lombok. Kali ini saya mendapat pengalaman yang sama mengesankan seperti kisah supir taksi di atas. Kami berangkat dari hotel pukul 16.00 sore WITA. Perkiraan saya akan sampai di Bandara LIA jam 17.30. Dari Senggigi ke Bandara melewati kota Mataram lagi.  Ketika sampai di Ampenan (kota Mataram lama), supir taksi meminta izin menunaikan sholat Ashar. Dia belum sholat Ashar rupanya. Ya sudah, sekalian saja berhenti  di tumah makan ayam taliwang di Ampenan, karena saya ingin membeli ayam taliwang yang terkenal itu untuk dibawa ke Bandung. Di rumah makan itu tersedia mushala. Jadi, sembari menunggu pesanan ayam selesai, supir taksi tadi menunaikan sholat Ashar dulu di mushala.

Begitulah pengalaman saya yang berkesan tentang orang Sasak di Pulau Lombok. Dua sampel (dua orang) saya tentu tidak representatif mewakili kesholehan para supir taksi di sana. Tapi yang saya temukan kebetulan adalah dua sampel yang taat menjalaan kewajibann agama, yaitu sholat.


Written by rinaldimunir

July 13th, 2017 at 4:05 pm

Posted in Cerita perjalanan

Kuburan di Atas Bukit

without comments

Bulan puasa Ramadhan pada tahun 2017 tinggal dalam hitungan hari. Kebiasaan umat Islam di Indonesia menjelang bulan Ramadhan adalah pergi beziarah ke makam orangtua atau keluarga yang sudah mendahului. Di Jawa dinamakan dengan tradisi nyekar atau nyadran. Tradisi ziarah kubur sebelum Ramadhan memang tidak dicontohkan oleh Nabi, tetapi ziarah kubur sendiri tidak dilarang, sebab mengunjungi makam orang yang sudah meninggal berguna agar kita selalu mengingat kematian.

Seperti orang Indonesia lainnya, minggu lalu saya menyempatkan diri pulang ke Padang untuk menziarahi makam kedua orangtua saya.  Di Padang kompleks pemakaman sering didasarkan atas kampung asal (orang Padang sendiri sebagian besar adalah perantau dari berbagai daerah kabupaten di  Sumatera Barat). Kompleks pemakaman orang-orang dari Koto Anau, Solok, di Padang adalah di sebuah bukit di daerah Seberang Palinggam. Di sanalah kedua orangtua saya dimakamkan.

Kota Padang sendiri dilingkari oleh perbukitan. Bukit-bukit di daerah selatan, yang berbatasan dengan sungai dan laut, sudah lama menjadi tempat pemakaman warga Tionghoa. Kuburan orang Cina, begitu kami menyebutnya, terentang di atas Bukit Siti Nurbaya (nama baru setelah ada jembatan Siti Nurbaya). Nah, kuburan orang kampung saya di sepanjang bukit itu juga, tapi agak ke timur.

Di atas bukit di daerah Seberang Palinggam itulah terdapat kompleks pemakaman orang kampung saya. Mungkin sudah ada ratusan kuburan di atas sana, dari dulu hingga sekarang. Pemakaman itu dijaga dan dirawat oleh sebuah keluarga dari suku Nias. Orang Nias cukup banyak juga di Padang, umumnya mereka tinggal di sekitar perbukitan dekat kawasan Muara.

13315652_1118877744846916_5869833978637917960_n

Untuk mencapai pemakaman ini, kita harus menaiki tangga, sebagian lagi melalui jalan setapak yang cukup terjal. Saya membayangkan betapa sulitnya membawa jenazah yang hendak dikubur di sini. Pada musim hujan jalan setapak ke atas bukit itu  cukup licin, jika tidak hati-hati kita bisa terpeleset ke bawah. Namun, bagi orang Nias yang banyak bermukim di bukit itu, mereka sudah biasa saja naik turun bukit yang terjal tersebut.

13266057_1118877698180254_3045192816838233239_n

Karena berada di atas bukit, maka kompleks pemakaman itu rawan longsor. Dua tahun lalu terjadi hujan deras yang begitu lebat di atas bukit. Air dari atas bukit meluncur deras dalam jumlah yang besar, menghanyutkan dan merobohkan apapun yang dilaluinya. Sejumlah kuburan terkena longsoran, termasuk makam ayah saya. Air yang deras meluluhlantakkan isi sejumlah makam sehingga tulang-belulang jenazah ikut jatuh ke bawah dan tidak dikenali lagi itu tulang belulang siapa.

Atas kesepakatan warga perantau kampung saya, maka seluruh tulang belulang itu dikumpulkan dan dimakamkan di dalam satu lubang. Sebagai simbol bahwa makam pernah ada, maka keluarga yang masih hidup membangun makam baru sebagai simbol saja, padahal isinya tidak ada. Tujuannya adalah agar keluarga yang masih hidup dapat tetap berizarah ke sana meskipun kuburan aslinya sudah hiang. Itu termasuk makam ayah saya.

Karana kompleks pemakaman ini berada di atas bukit, maka dari atas bukit ini kita dapat melihat pemandangan kota Padang. Dari kejauhan kita dapat melihat kantor gubernur, beberapa bangunan hotel, Masjid Raya Sumbar, Pantai Padang, dan lain-lain.

18485304_1472619679472719_10544900203165908_n

13325440_1118877774846913_1913774488892107167_n

18485281_1472619636139390_1941990409701227054_n

Tadi sudah saya sebutkan bahwa bukit ini berbatasan dengan sebuah sungai, namanya Sungai Batang Harau. Sungai ini bermuara ke Samudera Hindia sekitar 2 km ke arah barat. Di daerah Muara bertemulah air laut yang asin dengan air tawar dari sungai.

Anda semua pasti tahu jika kota Padang rawan gempa. Gempa bumi sering terjadi dalam skala kecil hingga skala besar. Beberapa kali gempa besar pernah terjadi di sini, terkahir tahun 2009 yang meluluhlantakkan kota. Kekhawatiran paling besar dari gempa bumi adalah tsunami. Peristiwa tsunami di Aceh telah memberi kesadaran bagi Pemerintah kota untuk membangun jalur evakuasi. Bagi warga yang bermukim di kawasan selatan, jalur evakuasi untuk menghindari tsunami adalah lari ke atas bukit-bukit itu. Pemerintah kota membangun beberapa jembatan evakuasi di atas sungai Batang Harau. Jika terjadi peringatan tsunami, maka warga bisa berlari ke atas bukit yang saya ceritakan ini.

Dari kompleks pemakaman tadi saya dapat melihat dengan jelas jembatan evakuasi tsunami.  Berlindung ke bukit yang tinggi ini cukup aman bagi warga sampai menunggu pertolongan datang.

13312673_1118877794846911_5475495546647719388_n

Jembatan evakuasi dari tsunami

13325620_1118958614838829_6122710926432889508_n

Yang paling penting dari jembatan ini adalah edukasi. Penting bagi Pemerintah kota untuk sering melakukan simulasi gempa dan tsunami agar warga menyadari bahwa jembatan ini bukan sekedar tempat penyeberangan biasa, tetapi adalah sarana evakuasi bencana.


Written by rinaldimunir

May 22nd, 2017 at 5:16 pm

Tanah yang Tak Kulupa

without comments

Sebagai orang rantau, kerinduan apakah yang selalu membayang di dalam pikiran? Tentu saja tanah kampung halaman. Apalagi jika di tanah itu anda pernah dilahirkan, dibesarkan, lalu ketika beranjak dewasa meninggalkannya. Jika masih punya orangtua di sana, maka keinginan untuk pulang selalu ada. Tapi jika sudah tidak punya orangtua lagi, dua-duanya sudah almarhum, maka apakah tanah kampung halaman itu akan dilupakan?

Jawabnya tidak, teutama bagi saya sendiri. Meskipun kedua orang ibu-bapa saya sudah meninggalkan dunia fana ini, tetapi keinginan untuk selalu pulang selalu tetap ada. Minimal menengok rumah warisan orangtua, tempat di mana saya dulu dilahirkan dan dibesarkan dengan kasih sayang.

Setiap kali meninggalkan kota Padang menggunakan pesawat, saya selalu mengambil duduk pada sisi pesawat sebelah kiri. Tujuannya satu: menatap dari atas udara tanah kota yang telah membesarkan saya. Kota ini berhalaman lautan yang terbantang luas di sebelah barat, yaitu Samudera Hindia. Kawasan pinggiran pantai sangat padat dengan pemukiman, gedung-gedung, dan perkantoran. Dari udara semua pemandangan itu terlihat dengan jelas selepas pesawat take-off dari Bandara Minangkabau.

padang2

Lihatlah daratan bagian bawah, tampaklah tanah yang berbentuk kepala burung. Diujungnya teronggok Gunung Padang yang seakan duduk termenung di pinggir laut. Tanah yang berbentuk kepala dan badan burung itu adalah bagian dari perbukitan yang berhadapan dengan Samudera Hindia. Sebuah sungai yang bernama Batang Arau memisahkan kawasan perbukitan dengan dataran kota. Ujung sungai itu bernama Muara. Di sepanjang sungai itulah terletak kaweasan kota lama yang dibangun sejak zaman Hindia-Belanda.

padang1

Terus mengarahkan pandangan menyusuri perbukitan itu ke arah tenggara, maka sampailah ke kompleks pemakaman orang kampung saya. Di sanalah, di atas tanah bukit yang curam, terletak makam ibu dan ayah saya.  Tidak tampak dari atas pesawat, tapi saya bisa membayangkannya dari atas pesawat dengan perasaan sedih. Semoga Allah SWT menerima amal sholehmu wahai ayah dan ibu, dan menempatkamu di tempat yang layak di sisi-Nya, amin.

Lamat-lamat pesawat semakin menjauh dari tanah kota Padang, terbang ke selatan menuju tanah Jawa. Tanah yang telah memberikan kenangan kepada saya pun hilang dari pandangan. Tanah itu tidak akan pernah kulupa.


Written by rinaldimunir

April 10th, 2017 at 4:22 pm

Kenangan Pecel Kroya

without comments

Di daerah Antapani Bandung sering terlihat seorang perempuan penjual pecel. Dia mbak bakul penjual pecel asal Kroya, Cilacap. Setiap pagi dia keliling kompleks pemukiman di Antapani berjualan pecel dengan menggunakan sepeda. Pecelnya lumayan enak meskipun menurut saya agak kurang pedas (maklum cabe rawit merah harganya selangit saat ini, Rp140.000/kg). Saya beli satu porsi pecel pincuk (pecel dengan wadah daun pisang), pakai tambahan daun pepaya yang pahit biar enak di perut. Sayangnya nggak ada bunga kecombrang merah, padahal itulah khasnya pecel Kroya.

pecel1

pecel2

pecel3

Pecel Kroya? Hmm…saya jadi terkenang masa lalu ketika dulu main ke Solo, Yogya, atau Surabaya, saya selalu naik kereta api, biasanya kereta api ekonomi dari Bandung. Nah,  ketika kereta berhenti di Kroya, banyak penjual pecel di stasiun menawarkan pecel pincuk, harganya murah cuma seribu ribu rupiah.

pecel kroya

Pemandangan para perempuan penjual pecel di stasiun seperti ini adalah eksotisme masa lalu yang mungkin jarang terulang (Sumber foto: https://c1.staticflickr.com/4/3769/9959534334_c3bbc18d6a.jpg)

kroya4

Mbok bakul penjual pecel di stasiun Kroya. Bunga kecombrang merah menjadi hiasan pecel khas Kroya. (Sumber foto: http://haapengennulishe.blogspot.co.id/2010/09/haa-iki-pecel-kroya.html)

Sebagian penjual pecel masuk ke dalam kereta menawarkan pecelnya. Penumpang yang kelaparan memang sudah menunggu-nunggu pedagang asongan ini, terutama pecel itu, karena pakai lontong.Untuk membuat pecel itu terlihat menaik, maka di atasnya diletakkan bunga kecombrang yang berwarna merah sebagi hiasan, tapi juga bisa dimakan.

Sekarang tidak mungkin lagi beli pecel di stasiun Kroya karena pedagang pecel tidak boleh masuk ke dalam kereta. Jendela kereta bisnis dan ekesekutif juga tidak bisa dibuka. Kalau mau, ya berani turun gerbong untuk beli pecel itu, tapi resikonya bisa ketinggalan kereta karena berhentinya cuma dua menit.


Written by rinaldimunir

March 17th, 2017 at 3:41 pm

Kalau ke Bandara, Bawalah Makanan Sendiri

without comments

Sudah seringkali kita mendengar cerita orang-orang yang “dicekik” harga tak wajar ketika makan di Bandara. Semua orang tahu kalau harga makanan di Bandara tak terkira mahalnya. Mungkin karena pajak atau sewa ruangan di Bandara yang mahal maka pemilik restoran sungguh semena-mena menetapkan harga yang mahal untuk jualannya.

Ini cerita yang saya peroleh dari seorang fesbuker. Di bandara Cengkareng dia melihat seorang bapak dengan istri dan dua orang anak,  yang tampaknya datang dari kampung,  masuk ke sebuah rumah makan semacam “warung tegal” ketimbang masuk ke restoran cepat saji atau waralaba yang populer.  Setelah makan dengan menu masing-masing dan ditambah minuman ringan, betapa kagetnya sang kepala keluarga ketika harus membayar total harga makanan dan minuman sebesar 395 ribu rupiah.  Hampir tidak percaya dia, semacam warung tegal di Bandara menjual makanan dengan harga yang tidak kira-kira mahalnya. Sebagai perbandingan, soto betawi di rumah makan itu harganya seporsi kecil saja sudah 70 ribu rupiah.

Betapa mahalnya, betapa bangsa kita tidak tahu malu mengeruk saku pengunjung dengan harga yang tidak sebanding dengan kualitas dan kuantitas makanan yang dijual. Parahnya lagi, tidak ada daftar harga di dalam menu, baik di meja maupun yang ditempel di dinding sehingga pengunjung yang masuk akhirnya merasa tertipu setelah selesai makan.

Cerita teman saya di Bandara Cengkareng juga tidak jauh beda. Di area parkir mobil pribadi ada sebuah kafe bernama kafe N. Karena sudah lelah dan lapar setelah terbang sekian jam, dia dan temannya makan di kafe itu. Seporsi nasi dan ayam, seporsi nasi dan rawon, serta minuman teh total harganya Rp225.000. Rinciannya, nasi ayam Rp80.000, nasi rawon Rp115.000, dan teh Rp30.000.  Alamak, rawon macam apa yang harganya 115 ribu? Nasi ayam macam mana yang harganya mencapai 80 ribu?

Tidak karu-karuan. Harga makanan di bandara negara kita jauh lebih mahal daripada di bandara Changi atau Kualalumpur. Di Bandara Minangkabau Padang saya juga terkaget-kaget ketika makan soto Padang semangkuk kecil plus nasi di restoran di dalam bandara harganya Rp45.000. Sudahlah rasa sotonya tidak enak, dagingnya seencrit, mahal pula. Bah, kapok saya makan di sana lagi.

Maka, menyikapi harga makanan yang tidak wajar di Bandara, sebaiknya kita membawa makanan sendiri dari rumah atau dari luar bandara. Bersih, sehat, dan murah, serta tidak membuat sakit hati. Saya sendiri selalu begitu, hampir selalu bawa nasi dari rumah. Saya tidak malu makan di ruang tunggu atau di kursi bandara. Ini makanan saya sendiri, kenapa harus malu. Di luar negeri sudah biasa orang menikmati sandwhich-nya atau memakan bekalnya sambil duduk membaca di ruang tunggu bndara. Jika pun terpaksa makan di restoran, pilihlah restoran waralaba yang sudah populer, karena harga makanannya selalu sama di mana saja, baik di bandara maupun di luar bandara.


Written by rinaldimunir

January 31st, 2017 at 5:21 pm

Bandara Sepinggan Balikpapan, Mal di dalam Bandara atau Bandara di dalam Mal?

without comments

Sebagai orang yang suka mengamati bandara, saya cukup surprise ketika mendarat dan berangkat di Bandara Sepinggan yang baru di Balikpapan, Kalimantan Timur. Bandara  megah yang diresmikan semasa Menteri Perhubungan Ignatius Jonan itu terbilang unik, sebab mengambil konsep bandara yang menyatu dengan pusat perbelanjaan (mal).

sepinggan1

Bandara Sepinggan yang baru di Balikpapan

sepinggan2

Terminal keberangkatan

sepinggan8

Lift

sepinggan3

Ruang check-in yang terbuka

Kita akan merasa tidak sedang berada di dalam bandara, tetapi di dalam mal. Suasana di dalam bandara mirip dengan mal. Ada sejumlah eskalator dari satu lantai ke lantai lainnya. Suasana mal semakin terasa dengan keberadaan sebuah supermarket terkenal, seperti yang diperlihatkan pada foto yang saya jepreyt di bawah ini.

sepinggan4

Eskalator dengan suasana mal

sepinggan6

Promosi produk di dalam mal

sepinggan5

Supermarket Matahari

sepinggan7

Pintu Gate

Jadi, tidak salah jika saya menyatakan bahwa bandara ini di dalam sebuah mal atau mal di dalam sebuah bandara.?

Alhamdulillah, negara kita sekarang memiliki banyak bandara megah yang tidak kalah dengan bandara modern di luar negeri. Sebut saja Bandara Kualanamu Medan, Bandara Ngurah Rai Denpasar,  Bandara Djuanda Surabaya, Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Bandara Sultan Mahmud Badaruddin Pelembang, Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, dan Bandara Sepinggan Balikpapan.


Written by rinaldimunir

January 10th, 2017 at 3:33 pm

Posted in Cerita perjalanan