if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Cerita perjalanan’ Category

Perjalanan ke Kota Atambua dan Dili (Bagian 3 – Habis)

without comments

Woaaahhh….huff…selamat pagi Atambua! Pagi yang dingin sekali di Atambua. Setelah bermalam di hotel  (yang susah payah dicari semalaman untuk menemukan kamar yang kosong), saatnya sekarang berangkat ke Motaain. Jam 7 pagi kami memacu kendaraan kembali ke Motaain. Kenapa harus pagi-pagi, karena untuk urusan administrasi di perbatasan akan memakan waktu yang cukup lama, kira-kira satu jamlah, karena kita membawa kendaraan ke Timor Leste. Waktu satu jam itu sudah termasuk pemeriksaan di pintu perbatasan di sisi Timor Leste.

Di atas kendaraan yang dikendarai Daniel, saya mengamati lingkungan alam sekitar sepanjang perjalanan menuju Motaain. Adem sekali suasana di sisi kiri kanan jalan. Tidak banyak rumah saya lihat, hanya alam yang hening menyertai perjalanan. Satu hal yang paling menakjubkan bagi saya di tanah Timor adalah mataharinya. Matahari di sini bersinar sangat terang benderang bagaikan lampu sorot. Belum pernah saya lihat matahari seperti ini di Bandung atau di pulau Jawa. Begitu perkasa matahari di Pulau Timor. Matahari terlihat berukuran besar. Mungkin karena di Pulau Timor uap air sangat minim sehingga matahari bersinar tanpa ada penghalang. Langit terlihat super biru tanpa ada awan.

Kami berhenti sejenak di sebuah ketinggian. Dari sini tampakah negara Timor Leste. Itu negaranya, di balik bukit yang tampak di kejauhan. Tampak pula laut Timor secara samar-samar, seperti foto di bawah ini.

Dari kejauhan dibalik bukit itulah negara Timor Leste berada. Laut Timor tampak di kejauhan.

Jam 8.00 sampailah kami di pos perbatasan Motaain. Ternyata pintu pagar masih ditutup. Sebentar lagi kayaknya. Beberapa orang yang hendak menyeberang ke Timor Leste menunggu di luar seperti saya. Suasana di dekat pos perbatasan masih sepi.

Pintu perbatasan Motaain

Jalanan lengang di dekat pos perbatasan

Setelah menunggu selama setengah jam, pintu pagar pos perbatasanpun dibuka petugas. Kompleks pos perbatasan ini sangat luas. Di dalamnya banyak gedung baru dan terkesan megah.  Pemerintah Indonesia tampaknya membangun pos perbatasan laksana  bandara saja.

Berswafoto di dalam kompleks pos perbatasan

Bangunan di dalam kompleks pos perbatasan Motaain

Bagian informasi

Seperti halnya kalau kita mau pergi ke luar negeri, kita pun harus melewati pemeriksaan imgrasi. Dari Bandung saya memang sudah membawa paspor. Jadi, di sini kita mengisi kartu kedatangan lalu paspor kita dicap.

Pemeriksaan dokumen di imigrasi

Dalam sehari pos perbatasan Motaain melayani ratusan orang yang keluar masuk Indonesia dan Timor Leste. Mereka adalah para pelintas batas yang merupakan pedagang, pelajar, maupun penduduk lokal di kedua negara (maklum penduduk di masing-masing perbatasan masih bertalian darah). Untuk melintas batas kita harus membawa paspor dan membayar visa di pos Timor Leste.  Jenis visanya adalah Visa on Arrival yang biayanya  30 dollar. Sebaliknya, warga Timor Leste yang memasuki Indonesia tidak dikenai visa karena Indonesia menerapkan bebas visa untuk sejumlah negara termasuk Timor Leste.

Di ujung kompleks terdapat pos tentara Indonesia. Mereka berjaga-jaga di pintu keluar perbatasan mengamati orang-orang yang keluar masuk.

Pos tentara

Nah, di pintu keluar perbatasan terdapat sebuah jembatan. Jembatan ini menghubungkan tanah Timor Leste dan taah Indonesia. Sungai di bawah jembatan itulah yang memisahkan kedua negara. Uniknya, setengah dari jembatan itu dicat warna merah putih dan setengah lagi berwarna bendera Timor Leste. Di titik tengah jembatan itu terdapat  garis kuning yang menjadi batas kedua negara.

Jembatan yang menghubungkan tanah kedua negara

Setengah dari jembatan dicat warna merah putih dan setengah lagi berwarna bendera Timor Leste. Di titik tengah jembatan itulah garis batas kedua negara (garis kuning).

Saya melangkahkan kaki di garis kuning di atas jembatan ini. Satu kaki di tanah Indonesia, satu kaki lagi di Timor Leste.  Wah, berati satu kaki saya sudah memasuki wilayah negara lain.

Satu kaki di tanah Indonesia, satu kaki lagi di Timor Leste.

Setelah prosedur imigrasi dan bea cukai selesai, kendaraan kami melintasi jembatan itu. Akhirnya sampailah saya di negara Timor Leste meskipun baru di perbatasan saja. Selanjutnya kami memasuki pos perbatasan di sisi Timor Leste yang bernama Batugade. Tiba di sini semua tulisan sudah berganti dengan bahasa Porto, sudah hilang semua tulisan berbahasa Indonesia. Namun, sinyal Telkomsel masih terjangkau di sini, saya masih bisa berkirim kabar lewat Whatsapp dan meng-update status di Facebook.

Tanah Timor Leste diperbatasan

Selamat datang di Timor Leste

Pos perbatasan di Timor Leste bangunannya lebih sederhana dibandingkan pos di Motaain. Kesederhanaan itu mungkin mencerminkan negara Timor Leste yang taraf kehidupan rakyatnya yang masih bersahaja.

Tentara Timor Leste di depan pos perbatasan Batugade

Peta negara Timor Leste

Di pos Batugade kami melewati pemeriksaan imigrasi lagi dan membayar visa on arrival sebesar 30 dolar. Barang-barang kita diperiksa dan melewati detektor X-ray seperti halnya di bandara. Mobil dan isinya pun diperiksa.

Setelah beres pemeriksaan di pos Batugade, kendaraan kami meluncur keluar pos dan siap menuju kota Dili. Perjalanan dari pos perbatasan Batugade menuju kota Dili melewati pinggir pantai dengan pemandangan laut Timor yang indah. Perlu berhati-hati melewati ruas jalan karena di kirinya jurang yang dalam dengan laut di bawahnya. Hii..seram jika jatuh. Beberapa ruas jalan rusak parah, terutama beberapa ruas jalan peninggalan Indonesia, tetapi setelah melewati Liquica hingga Dili jalan aspal mulus. Dari pos perbatasan Baatugade kita akan melewati distrik Bobonaro dan Liquica sebelum sampai ke Dili.

Peta negara Timor Leste

Timor Leste adalah negara termiskin di dunia. Ngara ini tidak memiliki sumber daya alam kecuali hasil pertanian. Minyak di celah Timor belum dapat dinikmati negara Timor Leste.

Orang Timor Leste hidupnya sederhana, itu terlihat dari rumah-rumah mereka yang sederhana, sebagian masih rumah tradisionil beratap daun gowang.

Rumah-rumah tradisional beratap daun gowang sepanjang jalan di Bobonaro

Laut Timor menemani perjalanan menuju Dili

Seperti halnya di Atambua, matahari bersinar garang di bumi Lorosae. Matahari terlihat begitu besar dengan pancaran sinarnya yang menyala. Kami harus memburu waktu ke Dili karena kami harus bisa kembali ke pos perbatasan sebelum pukul 16.00 WITA (atau pukul 17.00 waktu Timor Leste. Waktu di Timor Leste mengikuti waktu WIT). Untuk mencapai kota Dili dari pos Batugade diperlukan waktu 2 hingga 3 jam dengan kendaraan.

Melewati jalan-jalan di Timor Leste maka kita dapat menyaksikan kehidupan penduduknya yang bersahaja. Anak-anak sekolah terlihat berjalan bersama-sama di pinggir jalan dengan riang gembira. Bangunan sekoalahnya seperti bangunan sekolah di kabupaten-kabupaten di Indonesia berupa bangunan memanjang. Bendera Timor Leste berkibar di rumah-rumah maupun sekolah. Tulisan-tulisan yang saya baca di pinggir jalan semuanya berbahasa Tetun atau bahasa Porto. Meskipun demikian, warga Timor Leste masih bisa berbahasa Indonesia.

Mereka memang miskin, tetapi seperti kata Pak Agustinus, warga Timor Leste tetap merasa bahagia dengan negara mereka yang sudah merdeka, tidak lagi dijajah oleh Indonesia.

Dikutip dari siniTimor Timur dijajah oleh Portugal pada abad ke-16, dan dikenal sebagai Timor Portugis sampai 28 November 1975, ketika Front Revolusi untuk Timor Leste Merdeka (FRETILIN) mengumumkan kemerdekaan wilayah tersebut. Sembilan hari kemudian, Indonesia melakukan invasi dan aneksasi terhadap Timor Timur dan Timor Timur dinyatakan sebagai provinsi ke-27 oleh Indonesia pada tahun berikutnya. Pendudukan Indonesia di Timor Timur ditandai oleh konflik yang sangat keras selama beberapa dasawarsa antara kelompok separatis (khususnya FRETILIN) dan militer Indonesia.

Pada tanggal 30 Agustus 1999, dalam sebuah referendum yang disponsori PBB, mayoritas rakyat Timor Timur memilih untuk lepas merdeka dari Indonesia. Segera setelah referendum, milisi anti-kemerdekaan Timor-Leste – yang diorganisir dan didukung oleh militer Indonesia – memulai kampanye militer bumi hangus. Milisi membunuh sekitar 1.400 rakyat Timor Timur dan dengan paksa mendorong 300.000 rakyat mengungsi ke Timor Barat. Mayoritas infrastruktur hancur dalam gerakan militer ini. Pada tanggal 20 September 1999, Angkatan Udara Internasional untuk Timor Timur (INTERFET) dikirim ke Timor Timur untuk mengakhiri kekerasan. Setelah masa transisi yang diorganisasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, Timor Timur diakui secara internasional sebagai negara dan secara resmi merdeka dari Indonesia pada tanggal 20 Mei 2002. Sebelumnya bernama Provinsi Timor Timur, ketika menjadi anggota PBB, mereka memutuskan untuk memakai nama Portugis “Timor Leste” sebagai nama resmi.

Memasuki pedalaman Bobonaro ada kejadian yang membuat muka kami agak  pucat dan berasa khawatir. Jalan-jalan di Timor Leste lengang dari kendaraan, hanya satu dua kendaraan yang melintas. Justru yang sering melintas adalah ternak seperti kambing dan babi. Daniel mengemudikan mobil cukup ngebut karena mengejar waktu ke Dili. Tanpa disadari seekor babi melintas menyeberang jalan dan kecelakaan pun tidak terhindarkan. Mobil melindas babi itu. Mati. Warga sekitar berlarian ke arah babi untuk melihat babi yang sekarat.

Mobil kami pun berhenti. Pak Agustinus dan Daniel berjalan menghampiri warga. Untungnya Pak Agustinus yang memang berasal dari Timor Leste dapat berbicara dengan bahasa Tetun. Dia berbicara kepada warga dan meminta maaf telah menabrak babi hingga tewas. Warga tampak mengerti karena babi memang sering lalu lalang menyeberang jalan. Kami mengganti harga babi yang mati itu dengan uang 100 dolar. Wah, menurut saya mereka “beruntung” sebab daging babi bisa mereka makan dan dapat uang 100 dolar pula. ?

Kami mengisi dulu di pom bensin di Bobonaro. Di pos bensin ini terdapat minimarket yang menjual berbagai makanan, sabun, sahampo, rokok, tidak ketinggalan bir dan wine. Ini wine impor dari Australia dan Portugis. Banyak dari barang yang dijual di sana berasal dari Indonesia. Timor Leste memang masih bergantung kepada Indonesia untuk barang-barang kebutuhan sehari-hari.

Pom bensin di Bobonaro

Ups…rumah makan Jawa Timur di dalam pom bensin

Pukul 13.00 siang akhirnya kami memasuki kota Dili. Karena waktu yang terbatas, maka kami hanya mengunjungi istana Perdana Menteri yang dulu pernah menjadi Kantor Gubernur Timor Timur. Istana yang cantik bekas peninggalan Portugis.

Welfie di sini

Pelabuhan Dili terhampar di seberang istana Perdana Menteri. Sebuah plaza di pinggir pantai menjadi tempat yang bagus untuk berjalan kaki menikmati laut dan kal-kapal yang berlabuh. Hmmm…saya membayangkan sore hari waktu yang pas untuk duduk-duduk di sini. Dua orang anak menghampiri saya menawarkan buah mangga yang telah dipotong-potong. Satu dolar saja, kata anak-anak itu. Tetapi saya tidak membawa uang dolar, jadi saya tidak bisa membelinya. Rupiah tentu tidak laku di sana.

Pelabuhan Dili di seberang istana

Pelabuhan Dili

Anak penjual mangga di pantai Dili. Mau beli, tapi uang rupiah tidak laku. 
Mereka cuma bisa bertransaksi menggunakan USD (Credit photo by Tutun Juhana)

Kami tidak bisa berlama-lama di Dili karena harus mengejar waktu kembali ke pos perbatasan di Batugade. Jika kami terlambat sampai ke pos perbatasan, pintu ditutup sehingga kami tidak bisa kembali ke Atambua hari itu, terpaksa harus kembali lagi ke Dili. Jadi, rencana melihat patung Yesus raksasa, rumah uskup Bello, rumah Xanana Gusmao pun tidak kesampaian. Bahkan rencana saya untuk shlat Dhuhud di Masjid An-Nur Dili pun tidak sempat karena waktu yang kasip. Secara berkelakar teman saya berkata kita nanti melewati rumah Raul Lemos, suami penyanyi Krisdayanti.

Beberapa foto yang saya abadikan merekam suasana kota Dili dan aktivitas pasar yang masih tradisionil.

Pasar kakilima

Angkot

Universitas Nasional Timor Lorosae

Demikianlah kunjungan singkat saya yang hanya satu jam berada di kota Dili. Benar-benar singkat dan belum bisa mengeksplorasi lebih jauh tempat-tempat menarik di Dili. Mungkin nanti jika ada kesempatan saya kembali lagi ke Dili.

Written by rinaldimunir

July 26th, 2019 at 4:24 pm

Posted in Cerita perjalanan

Perjalanan ke Kota Atambua dan Dili (Bagian 2)

without comments

Kami sampai pintu perbatasan di Motaain pukul 16.00. Yah, sudah tutup, tidak bisa menyeberang ke Timor Leste hari ini. Padahal kami ingin bermalam di kota Dili lalu melihat sunrise di Bumi Lorosae itu. Meskipun agak kecewa, kami berbalik kembali ke Atambua. Sebelum balik kami melapor terlebih dahulu di Polres Belu Sektor Motaain untuk menitipkan STNK mobil.

Perjalanan kembali ke Atambua tidak melewati jalan semula, tetapi melewati jalur jalan di pinggir pantai. Kami menikmati pantai Motaain di perbatasan Kabupaten  Belu dengan Timor Leste. Pantai yang sepi berpadu dengan langit biru yang super bersih tanpa awan dan polusi. Jika berjalan terus menyusuri pantai ke arah timur mungkin kita sampai ke kota Dili.

Pantai Motaain

Jalan aspal dari pinggir pantai menuju Atambua sepi dari kendaraan. Namun yang membanggakan adalah hampir semua jalan di Pulau Timor beraspal mulus. Melintasi jalan raya di sini kala sore dan pagi hari kita disuguhi pemandangan khas Pulau Timor yaitu bukit-bukit gersang berwarna kemerahan dengan tanaman perdu yang tumbuh di atasnya.

Jalan beraspal mulus di Kabupaten Belu

Setelah beristirahat di pantai Motaain, kami meneruskan perjalanan ke arah Atambua. Di tengah perjalanan kami melintasi pelabuhan Atapupu. Ini adalah pelabuhan antar pulau di Kabupaten Belu. Barang-barang kebutuhan di Atambua (termasuk untuk Timor Leste) diangkut dari Surabaya ke pelabuhan ini.

Pelabuhan Atapupu

Sore itu tampak langit di Pulau Timor benar-benar biru bersih tanpa awan. Matahari bersinar dengan perkasa. Sebuah kapal sedang memuat sapi dan rumput. Sapi-api itu itu akan dikirim ke Kalimantan untuk Hari Raya Idul Adha nanti.

Sebuah kapal bersandar di Pelabuhan Ataupu

Pelabuhan Atapupu yang hening dengan laut yang sangat bersih

Hari sudah benar-benar sore. Sebelum masuk ke Atambua, singgahlah kami terlebih dahulu di bendungan Rotiklot Kabupaten Belu yang diresmikan presiden beberapa waktu yg lalu. Bendungannya belum berisi air dan saat itu pengunjung masih dilarang masuk. Matahari terlihat menuju peraduannya dikala sunse. Benar-benar pemandangan sore yang menawan di negeri yang hening.

Pintu masuk ke bendungan Rotiklot

Akhirnya kami sampai kembali ke kota Atambua. Ada beberapa hotel di kota ini, baik kelas melati maupun hotel bintang dua. Kami agak kesulitan mencari kamar hotel yang kosong malam itu. Hampir semua hotel penuh. Maklum ini hari Sabtu. Pada akhir pekan banyak warga Timor Leste datang ke Atambua dan mereka menginap di hotel-hotel itu. Mereka pergi ke Atambua selain untuk menengok saudaranya (maklum orang Timor Leste masih bertalian darah dengan orang Timor bagian barat), mereka umumnya memborong barang kebutuhan sehari-hari di Atambua. Barang-barang di Atambua lebih murah dibandingkan dengan harga di Dili. Warga Timor Leste membawa uangnya dalam bentuk dollar Amerika (mata uang imor Leste adalah US $), ketika di-kurs ke rupiah di Atambua nilainya jadi besar. (BERSAMBUNG)

Written by rinaldimunir

July 25th, 2019 at 2:03 pm

Posted in Cerita perjalanan

Perjalanan ke Kota Atambua (NTT) dan Dili (Timor Leste) – Bagian 1

without comments

Mengunjungi kota Dili di Timor Leste tidak pernah terpikirkan oleh saya. Mungkin Dili tidak termasuk dalam daftar kota yang akan saya kunjungi. Namun, ketika saya mengadakan kunjungan ke kota Kupang dalam rangka penelitian dengan Politeknik Negeri Kupang, teman di sana menawarkan jalan-jalan ke kota Dili. Wah, kenapa tidak, pikir saya. Kapan lagi punya kesempatan mengunjungi bekas ibukota Propinsi Timor Timur yang sekarang menjadi ibukota negara Timor Leste itu?

Perjalanan ke Dili dari Kupang melalui kota perbatasan di NTT yang bernama kota Atambua. Tulisan pertama ini menceritakan perjalanan saya dari kota Kupang menuju kota Atambua.

Saya tiba di kota Kupang pukul 21.30 WITA setelah menempuh perjalanan panjang dengan pesawat Garuda dari Bandara Soekarno-Hatta dan transit di Surabaya. Daniel Bataona, dosen Poltek Kupang menjemput kami di Bandara Eltari. Bandara ini sedang dibangun bertingkat dan akan menjadi bandara yang megah. Kupang dan NTT mulai menjadi tujuan menarik wisatawan baik wisatawan asing maupun wisatawan lokal. Alam NTT yang unik adalah daya tarik tersendiri. Mengunjungi Kupang tahun ini adalah kunjungan saya kedua kalinya setelah kunjungan pertama pada tahun yang lalu untuk urusan yang sama (Baca: Berkunjung ke Kota Kupang).

Pagi hari pukul 7.00 setelah istirahat semalam di hotel Neo dekat bandara, kami memulai perjalanan menuju kota Atambua dan Dili. Seorang pegawai Poltek Kupang bernama Pak Agustinus akan ikut menemani kami hingga ke Dili. Pak Agustinus adalah orang asli Timor Leste. Dia termasuk warga Timor Timur yang pro integrasi saat jajak pendapat tahun 1999 dan memilih bergabung dengan Indonesia. Banyak juga orang Timor Timur yang tidak mau kembali ke kampung halamannya dan memilih tinggal di Pulau Timor bagian wilayah Indonesia.

Perjalanan dari Kupang ke Atambua menempuh waktu 6 jam dengan mobil. Wah, lama juga ya. Sebenarnya kita bisa pergi ke sana lewat udara. Dari Kupang ke Atambua ada dua kali penerbangan setiap hari yang dilayani oleh Wings Air. Tetapi saya memilih lewat darat supaya dapat melihat pemandangan alam Pulau Timor dan kehidupan masyarakatnya yang bersahaja. Bulan Juli hingga September adalah waktu yang tepat untuk mengunjung Pulau Timor karena cuaca sangat cerah. Matahari bersinar terang dan langit biru bersih tanpa awan.

Kami keluar kota Kupang dan sekarang memasuki Kabupaten Kupang.  Ketika sampai di Oesao, kami berhenti sebentar untuk membeli jajanan khas yaitu kue cucur. Sebenarnya ingin berhenti di kedai jagung pulut yang pernah saya singgahi tahun lalu (Baca: Berkunjung ke Kota Kupang), tapi pagi itu mungkin jagung pulut yang khas Oesao belum tersedia. Di depan warung kue cucur berhenti sebuah minibus yang hendak menuju kota Kefamananu di pedalaman di Pulau Timor. Bus-bus antar kota di Kupang tidak ada yang besar, umumnya berukuran minibus.  Seorang pemuda Pulau Timor dan lelaki tua dengan kain tenun ikat berdiri di depan bus.  Wajah-wajah orang Timor itu umumnya khas seperti pada foto ini. Berambut ikal, hidung mancung, kulit agak kehitaman, dan mata agak ke dalam. Inilah Indonesia yang multi etnis dan multi kultural.

Minibus yang membawa sebuah sepeda motor di belakangnya.

Pemandangan sepanjang jalan sungguh indah. Pohon-pohon sepe dan pohon jati berbaris sepanjang jalan. Alam pulau Timor tidaklah segersang yang kita kira. Jalanan menaik dan menurun mendaki dan menuruni bukit.  Bukit-bukit hijau berdiri memagar.

Kami telah keluar Kabupaten Kupang dan sekarang akan memasuki Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Kami berhenti di desa Takari. Di pinggir jalan terlihat sebuah pemandangan alam yang mempesona. Sebuah lembah dengan sungai yang  hampir mengering dan bukit kapur terlihat sangat mempesona. Swafoto dulu ah…

Numpang foto di Takari, Kab TTS.

Di Takari kita melewati sebuah jembatan yang panjang bernama jemnbatan Noelmina (saya kira jembatan Wilhelmina :-). Jembatan ini menghubungkan Kabupaten Kupang dengan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Sebuah tugu dengan tiga jari tegak dan dua jari membentuk huruf O menyambut kami. Hmmm…apa ya makna susunan jari seperti itu?

Jembatan Noelmina

Tugu perbatasan Kabupaten Kupang dengan Kabupaten TTS

Setelah dua jam perjalanan kami memasuki kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Kota Kefamenanu, atau kota Kefa saja adalah ibukota Kabupaten TTU. Kami berhenti di sini untuk mengisi bensin. Sebuah gereja cantik bernama Gereja Masehi Injili di tanah Timor berdiri dengan megah. Penduduk Pulau Timor mayoritas beragama Katolik (55,39%) dan Kristen Protestan (34,32%). Penduduk beragama Islam sekitar 9.05%, sisanya agama lain dan kepercayaan lokal seperti Marapu (Sumber: NTT   di Wikipedia). NTT adalah propinsi dengan kerukunan beragama yang baik. Dua kali saya berkunjung ke Timor saya melihat masjid dan gereja mudah ditemukan. Perempuan berkerdudung banyak ditemukan di pasar-pasar bahkan hingga di kota pedalaman.

Jalanan di kota Kefamenanu

Gereja Masehi Injili di Timor

Kami memasuki hutan Jati di luar kota Kefa. Di pinggir hutan berdiri pondok-pondok yang menjual jambu biji dan jeruk lokal yang warnanya menggoda. Jeruk-jeruk diatur dalam tumpukan piring sehingga terlihat menarik. Rasa jeruknya agak asam, tapi lumayan memberikan kesegaran pada siang hari yang terik.

Jeruk lokal Kefa

Perjalanan ke Atambua masih jauh, sekitar 2 jam lagi. Terus terang saya merasa pusing dan mual selama perjalanan karena jalanan yang berbelok-belok. Ya, kita naik dan turun melingkar bukit sehingga isi perut serasa dikocok-kocok. Saya lebih banyak diam dan berbaring karena merasa mau muntah. Untung tidak jadi muntah karena makan jeruk lokal tadi. Nggak nyambung ya?

Pukul 13 siang kami memasuki kota Atambua. Gapura gerbang kota Atambua menyambut kami. Sepanjang jalan memasuki kota Atambua dipenuhi hutan jati. Pohon jati milik Pemerintah, sebagian lagi milik misi (organisisasi Katolik). Pohon jati di sini ditanam sejak zaman Belanda. Pohonnya tidak pernah ditebang-tebang, dibiarkan begitu saja. Pohon jatinya besar-beasar lho. Hmmmm…kalau dijual di Pulau Jawa harganya tentu selangit. Tapi pohon jati di sini tidak boleh ditebang, barang siapa yang menebang akan ditangkap polisi.

Gerbang kota Atambua. Ini difoto kala pulang dari sana (sore hari)

Hutan jati sepanjang jalan memasuki kota Atambua

Hutan jati

Berfoto bersama pak Agustinus, orang asli Timor Leste, yang menjadi guide kami ke Dili

Alhamdulillah, sampailah kami ke pusat kota Atambua. Perut sudah lapar nih. Kami pun berhenti di rumah makan padang.  Hehehe…kemanapun pergi, tetap makannya di rumah makan padang. Ada tiga sampai empat rumah makan Padang di kota Atambua. Ternyata cukup banyak juga perantau Minang di kota perbatasan dengan Timor Leste ini. Pemilik rumah makan yang saya singgahi ini adalah perantau dari Pariaman. Katanya ada sekitar 80 KK warga perantau Minang di sana. Banyak juga ya. Oh ya, selain rumah makanan padang, mencari makanan halal di Atambua  tidak sulit. Ada juga rumah makan Jawa Timur dengan soto ayamnya.

Rumah makan Padang Raya di tengah kota Atambua

atambua adalah ibukota Kabupaten Belu. Kota Atambua kecil saja. Tapi inilah kota perbatasan ke Timor Leste. Jam 19.00 malam kota ini udah sepi, toko-toko sudah tutup. Masjid dan gereja berdiri berdampingan. Di tengah kota terdapat gereja katedral dan masjid raya Al-Mujahidin. Saya sholat jamak Dhuhur dan Ashar di sana. Teman saya, Daniel dan Agustinus menunggu di halaman masjid.

 

Masjid Raya Mujahidin di Atambua

Selesai makan kami mengejar waktu untuk memasuki pintu perbatasan ke Timor Leste di Motaain. Tapi karena kami membawa mobil selama di Timor Leste, maka kami harus mengurus surat izin bea cukai terlebih dahulu di kantor bea cukai Atambua. Kantor bea cukai ini terletak setelah bandara Atambua dan taman makam pahlawan Seroja. Di sini dimakamkan tentara dan pejuang RI yang gugur di Timor Timur.  Oh ya, di kantor bea cukai ini juga terdapat kantor imigrasi di lantai dua.

Nampang di taman makam pahlawan Seroja

Taman makam pahlawan Seroja

Petugas bea cukai masih muda-muda. Mereka umumnya adalah lulusan STAN di Jakarta. Mereka adalah pegawai Kementerian Keuangan RI. Pegawai bea cukai ramah-ramah. Mereka menanyakan surat-surat kendaraan, setelah itu dilanjutkan dengan memeriksa fisik kendaraan.

Mengurus surat izin kendaraan di kantor Bea Cukai

Kantor bea cukai

Cukup lama juga kami mengurus suart-surat kendaran di kantor bea cukai Atambua. Hari sudah menunjukkan pukul 15.30, setengah jam lagi pintu perbatasan RI-Timor Leste di Motaain akan tutup. Pintu perbatasan dibuka pukul 8.00 pagi hingga pukul 16.00 WITA, setelah itu tutup dan jika terlambat maka kita harus menunggu keesokan harinya. Hmmm…apakah kami bisa terkejar waktunya ke Motaain yang jaraknya 10 km dari kantor bea cukai? (BERSAMBUNG)

Written by rinaldimunir

July 23rd, 2019 at 5:11 pm

Posted in Cerita perjalanan

Menaiki Puncak Menara Petronas

without comments

Menara kembar Petronas di Kuala Lumpur (KL) termasuk salah satu bangunan menara tertinggi di dunia. Wisatawan yang mengunjungi KL dipastikan mampir ke menara ini, sekedar melihat-lihat atau berfoto di bawahnya.

Kalau cuma jalan-jalan dan melihat-lihat di bawah menara saja itu sudah biasa, namun naik ke puncaknya tentu pengalaman berbeda. Ada rasa penasaran seperti apa berada di puncak menara yang tingginya 452 meter itu?

Sewaktu mengikuti konferensi internasional di KL beberapa bulan lalu, saya dan teman rehat sejenak mengunjungi Menara Petronas (MP). Sore itu taman di sekitar MP ramai dengan turis mancanegara, kebanyakan turis dari Cina dan India. Memotret menara ini dari bawah dengan kamera ponsel memang hasilnya kurang memuaskan, tidak keseluruhan menara dapat tertangkap di layar. Beberapa pedagang kaki lima, orang KL, menawarkan lensa tambahan sehingga dapat menangkap citra menara dengan jelas.

Menara kembar Petronas. Antara kedua menara dihubungkan dengan jembatan. Kami akan naik ke atas menara itu.

Setelah berjalan-jalan di mal Suria KLCC, yang terletak di bawah menara, waktunya sekarang untuk menaiki menara ini. Kami turun ke lantai dasar Suria KLCC untuk membeli tiket naik menara. Tiket naik menara lumayan mahal bagi orang asing, yaitu 80 ringgit atau kalau dirupiahkan Rp280.000. Namun bagi lansia (usia 57 tahun ke atas) hanya dikenakan 42 ringgit saja. Bagi warga lokal harga tiketnya  lebih murah, hanya 30 ringgit saja.

Tiket naik menara

Kami mendapat jam naik ke menara pukul 17.00. Untuk naik menara ini memang perlu antri, hanya satu rombongan setiap kali naik. Satu rombongan terdiri dari 20-25 orang. Sebelum naik menara ini kita difoto di lantai dasar  fotonya dijual nanti di lantai 83.

Tidak boleh bawa minuman ke atas menara ini, seperti naik pesawat saja. Semua tas ransel dan minuman harus dititipkan di lantai dasar. Total waktu kunjungan ke atas menara per grup adalah 45 menit.

Jam 17.00 kami mulai naik ke atas menara menggunakan lift. Perhentian pertama kali adalah di lantai 41. Di lantai inilah terdapat jembatan yang menghubungkan kedua menara kembar. Saya berjalan di atas jembatan ini agak merasa gamang ketika melihat ke bawah. Hiiii…pada dasarnya saya orang yang takut dengan ketinggian.

Pintu menuju jembatan yang terletak 170 meter di atas permukaan bumi

Jembatan di lantai 41

Pemandangan dari atas jembatan dan lantai 41 sangat mengagumkan. Kita dapat melihat kota Kuala Lumpur yang penuh dengan gedung-gedung pencakar langit. Foto-foto di bawah ini memperlihatkan beberapa sudut foto yang saya ambil dari atas jembatan lantai 41.

Di lantai 41 rombongan hanya boleh berada selama 20 menit saja. Setelah puas berfoto-foto, kita naik lift lagi menuju lantai 83. Di lantai 83 ini dijual berbagai souvenir tentang Menara Petronas, termasuk foto kita yang tadi dipotret di lantai dasar.  Harga fotonya bikin kita tidak mau beli, 130 ringgit! Kali saja dengan Rp3600, mendingan saya beli laksa johor dan teh tarik bergelas-gelas di Suria KLCC. Kalau tidak ada yang mau membeli, maka foto-foto itu mungkin dimusnahkan, barangkali.

Dari lantai 83, kita naik lift lagi ke lantai paling tinggi yang boleh dinaiki, yaitu lantai 86 dari 88 lantai Gedung Petronas (dua lantai paling atas untuk maintenance). Kita hanya boleh sampai di sini saja. Pemandangan dari lantai 88 lebih spektakuler dari lantai 41. Ini berarti kita sudah berada di ketinggian 425 meter dari permukaan tanah. Ngeri? Ya, sebenarnya saya phobia dengan ketinggian, melihat ke bawah merasa takut. Di bawah ini foto-foto dari lantai 88.

Di lantai 88 ini dipajang foto Mahathir Muhammad. Mahathir yang menginspirasi Malaysia, pantaslah dia menjadi Bapak Malaysia.

Setelah 45 menit mengunjungi lantai 41, 83, dan lantai 88 menara, kami pun disuruh turun kembali. Delapan puluh ringgit harga yang harus dibayar untuk menikmati pemandangan dari Menara Petronas. Lumayanlah. Mengobati rasa penasaran.

Written by rinaldimunir

February 11th, 2019 at 5:19 pm

Menaiki Puncak Menara Petronas

without comments

Menara kembar Petronas di Kuala Lumpur (KL) termasuk salah satu bangunan menara tertinggi di dunia. Wisatawan yang mengunjungi KL dipastikan mampir ke menara ini, sekedar melihat-lihat atau berfoto di bawahnya.

Kalau cuma jalan-jalan dan melihat-lihat di bawah menara saja itu sudah biasa, namun naik ke puncaknya tentu pengalaman berbeda. Ada rasa penasaran seperti apa berada di puncak menara yang tingginya 452 meter itu?

Sewaktu mengikuti konferensi internasional di KL beberapa bulan lalu, saya dan teman rehat sejenak mengunjungi Menara Petronas (MP). Sore itu taman di sekitar MP ramai dengan turis mancanegara, kebanyakan turis dari Cina dan India. Memotret menara ini dari bawah dengan kamera ponsel memang hasilnya kurang memuaskan, tidak keseluruhan menara dapat tertangkap di layar. Beberapa pedagang kaki lima, orang KL, menawarkan lensa tambahan sehingga dapat menangkap citra menara dengan jelas.

Menara kembar Petronas. Antara kedua menara dihubungkan dengan jembatan. Kami akan naik ke atas menara itu.

Setelah berjalan-jalan di mal Suria KLCC, yang terletak di bawah menara, waktunya sekarang untuk menaiki menara ini. Kami turun ke lantai dasar Suria KLCC untuk membeli tiket naik menara. Tiket naik menara lumayan mahal bagi orang asing, yaitu 80 ringgit atau kalau dirupiahkan Rp280.000. Namun bagi lansia (usia 57 tahun ke atas) hanya dikenakan 42 ringgit saja. Bagi warga lokal harga tiketnya  lebih murah, hanya 30 ringgit saja.

Tiket naik menara

Kami mendapat jam naik ke menara pukul 17.00. Untuk naik menara ini memang perlu antri, hanya satu rombongan setiap kali naik. Satu rombongan terdiri dari 20-25 orang. Sebelum naik menara ini kita difoto di lantai dasar  fotonya dijual nanti di lantai 83.

Tidak boleh bawa minuman ke atas menara ini, seperti naik pesawat saja. Semua tas ransel dan minuman harus dititipkan di lantai dasar. Total waktu kunjungan ke atas menara per grup adalah 45 menit.

Jam 17.00 kami mulai naik ke atas menara menggunakan lift. Perhentian pertama kali adalah di lantai 41. Di lantai inilah terdapat jembatan yang menghubungkan kedua menara kembar. Saya berjalan di atas jembatan ini agak merasa gamang ketika melihat ke bawah. Hiiii…pada dasarnya saya orang yang takut dengan ketinggian.

Pintu menuju jembatan yang terletak 170 meter di atas permukaan bumi

Jembatan di lantai 41

Pemandangan dari atas jembatan dan lantai 41 sangat mengagumkan. Kita dapat melihat kota Kuala Lumpur yang penuh dengan gedung-gedung pencakar langit. Foto-foto di bawah ini memperlihatkan beberapa sudut foto yang saya ambil dari atas jembatan lantai 41.

Di lantai 41 rombongan hanya boleh berada selama 20 menit saja. Setelah puas berfoto-foto, kita naik lift lagi menuju lantai 83. Di lantai 83 ini dijual berbagai souvenir tentang Menara Petronas, termasuk foto kita yang tadi dipotret di lantai dasar.  Harga fotonya bikin kita tidak mau beli, 130 ringgit! Kali saja dengan Rp3600, mendingan saya beli laksa johor dan teh tarik bergelas-gelas di Suria KLCC. Kalau tidak ada yang mau membeli, maka foto-foto itu mungkin dimusnahkan, barangkali.

Dari lantai 83, kita naik lift lagi ke lantai paling tinggi yang boleh dinaiki, yaitu lantai 86 dari 88 lantai Gedung Petronas (dua lantai paling atas untuk maintenance). Kita hanya boleh sampai di sini saja. Pemandangan dari lantai 88 lebih spektakuler dari lantai 41. Ini berarti kita sudah berada di ketinggian 425 meter dari permukaan tanah. Ngeri? Ya, sebenarnya saya phobia dengan ketinggian, melihat ke bawah merasa takut. Di bawah ini foto-foto dari lantai 88.

Di lantai 88 ini dipajang foto Mahathir Muhammad. Mahathir yang menginspirasi Malaysia, pantaslah dia menjadi Bapak Malaysia.

Setelah 45 menit mengunjungi lantai 41, 83, dan lantai 88 menara, kami pun disuruh turun kembali. Delapan puluh ringgit harga yang harus dibayar untuk menikmati pemandangan dari Menara Petronas. Lumayanlah. Mengobati rasa penasaran.

Written by rinaldimunir

February 11th, 2019 at 5:19 pm

Berkunjung ke Kota Kupang

without comments

Beberapa waktu yang lalu saya menginjakkan kaki pertama kali di Tanah Timor, tepatnya ke kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).  Saya berkunjung ke kota Kupang dalam rangka memantau kemajuan hasil penelitian rekan dosen di Politeknik Negeri Kupang. Hibah penelitan ini berasal dari Kemenristekdikti dengan skema PKPT (Peneliti Kerjasama Perguruan Tinggi) dengan ITB sebagai mitranya.

Tidak ada penerbangan langsung dari Bandung ke Kupang, jadi saya menggunakan penerbangan transit. Dari Bandung saya transit di Denpasar dengan Garuda, lalu dari Denpasar terbang dengan maskapai yang sama ke Kupang.  Saya tiba di Bandara El Tari  Kupang pukul 21.30 malam. Rekan saya dosen dari Poltek Kupang, Daniel Bataona,  menjemput di Bandara.

Bandara El Tari Kupang. Ikon alat musik Sasando terlihat di atas nama bandara

Kota Kupang terletak di Pulau Timor dan menjadi ibukota Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).  Propinsi NTT adalah propinsi kepulauan yang mencakup ratusan pulau. Pulau utama adalah Pulau Timor, Pulau Sumba, Pulau Flores, Pulau Alor, dan Pulau Rote. Pulau Timor sendiri terbagi menjadi dua negara. Sebelah timur Pulau Timor adalah negara Timor Leste yang dulu pernah menjadi propinsi ke 27 di Indonesia dengan nama Timor Timur.

Peta Propinsi NTT dengan ibukotanya Kupang  (Sumber: ttps://www.lavalontouristinfo.com/lavalon/map-ntt.htm)

Saya menginap di Hotel Neo yang tidak jauh dari Universitas Cendana (Undana) dan Politeknik Negeri Kupang. Politeknik Negeri Kupang bersebelahan letaknya dengan kampus Undana. Dari kamar hotel saya dapat melihat kalau tanah di kota Kupang banyak  unsur batu karang, sehingga kota Kupang dinamakan juga Kota Karang.

Batu karang yang menyusun tanah kota Kupang. Laut

Kota Kupang bercuaca panas. Panasnya terik.  Curah hujan di sini cukup rendah dibandingkan kota-kota lain di Indonesia. Dikutip dari laman Wikipedia, curah hujan selama tahun 2010 tercatat 1.720,4 mm dan hari hujan sebanyak 152 hari. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari, yaitu tercatat 598,3 mm, sedangkan hari hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember dengan 28 hari hujan.

Meskipun panas, namun saya mengagumi langit di kota Kupang. Langitnya biru bersih tanpa polusi, biru sebenar-benar biru, tanpa ada awan. Saya mengunjungi kota Kupang pada bulan Oktober, masih musim kemarau saat itu. Langit biru bersih seperti ini jarang saya lihat di Pulau Jawa. Saya berfoto di depan rektorat Undana, lihatlah birunya langit di atas kota Kupang. Tidak heran jika observatorium  bintang rencananya akan dibangun di Kota Kupang. Langit di Pulau Jawa sudah terkontaminasi polusi sehingga perlu dibuat observatorium kedua setelah Lembang.

Birunya langit di atas Kota Kupang

Menyusuri jalanan di kota Kupang maka yang saya lihat adalah pemandangan yang kering. Mungkin karena sedang musim kemarau maka pemandangan di kota Kupang sangat khas.  Pohon-pohon sepe, pohon khas di Kupang, berdiri meranggas di sepanjang jalan.

Pemandangan khas sepanjang jalan di kota Kupang, pohon sepe sepanjang jalan

Pohon-pohon sepe di sepanjang jalan di dalam kampus Undana

Di bawah lindungan pohon sepe

Tapi jangan salah, kata teman saya di Kupang, pada buan Desember pohon-pohon sepe itu berbunga dengan indahnya. Bunga-bunga merahnya keluar, menyembul dari balik daun, menjadikanya seperti bunga Sakura yang mekar di Jepang, seperti foto di bawah ini yang bersumber dari situs ini. Foto-foto kota Kupang yang berbunga pada bulan Desember dapat dilihat pada tulisan “Sepe, Sang Bunga Harapan” The December Flower, dan tulisan Mekarnya Bunga Sepe, Jadi Momen Terbaik untuk Traveling ke Kupang.

Pohon sepe berbunga merah pada bulan Desember (Sumber: https://cvaristonkupang.com/2013/11/27/sepe-sang-bunga-harapan-the-december-flower/)

Kota Kupang terletak  di pinggir pantai. Pantainya berpasir putih dan bersih, ombaknya tidak terlalu besar. Salah satu pantai di dalam kota yang saya kunjungi adalah Pantai Pasir Panjang.  Banyak pohon di pantai ini sehingga tidak terasa gerah. Duduk-duduk di sini saja bisa membuat kitatertidur. Anginnya itu sepoi-sepoi menghanyutkan.

Pantai Pasir Panjang

Di pinggir pantai ini ada sebuah restoran seafood yang cukup luas dan asri, di sanalah saya dan teman menikmati makan siang dengan hidangan seafood. Masakan ikan yang khas di Kupang adalah ikan kuah asam. Kuahnya bukan dari santan, tetapi dari air yang yang sudah mengandung bumbu-bumbu seperti kunyit, laos, bawang, cabe rawit, dan-lain, dan tentu saja jeruk asam.  Selain ikan kuah asam, salad tuna juga masakan khas di Kupang.

Rumah makan seafood di pantai Pasir Panjang

Salad ikan tuna yang yummy

Saya sampai lupa menceritakan kalau tugas utama saya ke Kupang adalah melihat kemajuan hasil penelitian penelitian kami di Politeknik Negeri Kupang. Purwarupa aplikasi Powerplan (Power Point menggunakan LAN) diuji coba oleh mahasiswa di dalam kelas. Dengan aplikasi ini, keterbatasan LCD untuk menayangkan slide presentasi dapat teratasi dengan menggunakan Local Area Network.

Mahasiswa Politeknik Kupang sedang melakukan uji coba aplikasi Powerplan

Wajah-wajah mahasiswa khas Kupang

Bersama dosen Politeknik Negeri Kupang

Malam hari di kota Kupang adalah waktu yang tepat menimati ikan segar di Kampung Solor. Kampung Solor adalah salah satu wilayah yang banyak didiami pemukiman muslim, si sini ada kampung nelayan dan pasar kuliner yang rata-rata menawarkan masakan ikan segar, kepiting, udang dan sebagainya. Ikan-ikan hasil tangkapan nelayan Kampung Solor dijejerkan di sepanjang ruas jalan. Kita tinggal pilih ikan yang mana dan mau dimasakkan apa. Mau dibakar, digoreng, atau dibuat masakan kuah asam kuning. Terserah.

Pasar kuliner di Kampung Solor

Ikan-ikan segar hasil tangkapan nelayan di Kampung Solor

Salah satu warung kuliner di Kampung Solor

Hmmm…ikan bakar yang yummy

Tidak lengkap pulang dari Kupang tanpa membawa oleh-oleh. Salah satu oleh-oleh khas koyta Kupang adalah seí. Seí adalah daging asap, yaitu daging yang diawetkan dengan cara diasap selama berjam-jam. Daging yang digunakan bisa daging babi, daging sapi, atau ikan. Seí adalah tradisi mengawetkan makanan yang berasal dari Pulau Rote, tetapi di Kupang dapat kita temukan penjual seí. Karena saya muslim tentu saya mencari seí  yang halal, salah satunya di kedai Ibu Soekiran di Jalan Muhammad Hatta. Seí dapat diolah lagi menjadi aneka masakan, misalnya digoreng, ditumis, digulai, dipindang, dan sebagainya. Orang Kupang sendiri makan seí dengan sambal khas Kupang yaitu sambal luat. Sambal luat terbuat dari cabe rawit dicampur dengan daun kemangi. Harum dan pedas.

Seí sapi dan se’i ikan tuna

Kedai Ibu Soekiran yang menjual seí halal

Esok harinya sebelum pulang ke Bandung (jadwal pesawat saya sore hari), rekan saya di Politeknik Kupang mengajak menikmati jajanan khas NTT di desa  Oesao, di Kabupaten Kupang. Sepanjang jalan menuju Oesao yang saya lihat adalah alam yang kering dan gersang. Penduduk Pulau Timor sudah biasa hidup dengan kondisi alam yang kering dan panas seperti itu. Saya juga melewati pemukiman penduduk Timor Timur pro integrasi, mereka adalah warga Timor Timur yang menolak referendum dan memilih tetap bergabung dengan  Indonesia. Sungguh menyedihkan melihat rumah-rumah mereka yang seperti bedeng dan jauh dari layak. Pemerintah RI seharusnya memperhatikan nasib mereka

Jajanan khas di Oesao jagung pulut. Jagung pulut adalah jagung putih yang digoreng dengan bumbu-bumbu dan dimakan dengan sambal. Hmmm…enak.

Jagung pulut

Kedai cucur

Jalan raya menuju Kab. Timor Tengah Selatan, Atambua, dan Timor Leste

Dari Oesao saya menuju Bandar El Tari untuk kembali ke Bandung. Meskipun dua hari saya di Kupang, tapi cukup banyak yang saya lihat. Insya Allah lain waktu saya ingin ke Kupang lagi. Jika ada kesempatan saya ingin mengunjungi Timor Leste karena jaraknya tidak terlalu jauh dari Kupang.

Ruang tunggu keberangkatan di Bandara El Tari

See you, Kupang!

Written by rinaldimunir

January 17th, 2019 at 5:06 pm

Posted in Cerita perjalanan

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 12 – HABIS): Hari-hari Terakhir di Mekkah, Selamat Tinggal Tanah Suci Mekkah Al-Mukarramah

without comments

Usai sudah puncak pelaksanaan ibadah haji. Tinggal menghitung hari lagi saya berada di kota Mekkah. sini. Hampir empat puluh hari meninggalkan tanah air, berada di tanah suci. Tiba saatnya untuk berpisah. Sedih? Ya sudah tentu. Ingin lebih lama lagi di sini, tetapi program pemerintah untuk haji hanya 41 hari. Selain itu tugas-tugas di kampus pun sudah menanti. Mahasiswa sudah menunggu. Keluarga di rumah juga sudah menunggu. Tugas-tugas kehidupan adalah arena ibadah selanjutnya.

Bak kata sebuah lagu, ada pertemuan tentu ada pula perpisahan.

“Pertemuan atau berada di Baitullah memiliki makna tersendiri bagi setiap orang yang pernah mengerjakan haji atau umrah.

Ka’bah yang selalu dirindukan

Baitullah bukan hanya sekedar “rumah” yang ditatap hanya sepintas dan kemudian ditinggalkan. Baitullah ternyata menjadi sumber kerinduan bagi seluruh jamaah haji.

Setiap jamaah yang meninggalkan Ka’bah rindu untuk kembali ke sana, bahkan tidak sedikit orang yang meneteskan air mata karenanya. Berbeda dengan ketika melihat dan menyaksikan suatu tempat yang lain yang tanpa kesan dan tidak tertarik lagi untuk kedua kaki dan seterusnya. Memandang Ka’bah menumbuhkan keimanan di dalam hati” (Dikutip dari buku panduan haji Kemenag).

Bagi seorang muslim, tiada satupun tempat di muka bumi ini yang selalu dirindukan untuk ingin dikunjugi lagi, dikunjungi lagi, dan seterusnya, selain Baitullah. Haji memang wajib satu kali saja, tetapi umrah bisa kapan saja selagi masih punya umur, biaya, dan kesempatan. Kalau anda sudah berada di tanah air lalu mendengar teman atau tetangga naik haji atau umrah, mungkn tiba-tiba saja perasaan di dalam dada berkecamuk rindu dengan penuh keharuan. Kapan pula saya akan ke sana lagi?, begitu kira-kira. Mungkin perasaan yang sama akan saya rasakan pula tahun depan ketika melihat postingan teman2 di media sosial yang pamitan naik haji.

Satu per satu jamaah haji gelombang pertama mulai pulang ke tanah air. Kami yang termasuk ke dalam Kloter 07 JKS akan pulang tanggal 29 Agustus 2018 melalui bandara Jeddah. Jamaah haji gelombang kedua masih tetap berada di Mekkah selama 30 hari, lalu kemudian pindah ke kota Madinah dan pulang ke tanah air melalui bandara Madinah.

Dua hari sebelum pulang ke tanah air, kami semua kembali ke Masjidil Haram untuk melaksanakan tawaf wada’ atau tawaf perpisahan. Kami sengaja mengambil waktu tawaf setelah sholat Subuh agar dapat melaksanakan tawaf di plaza di depan Ka’bah. Bus Sholawat sudah mulai berperasi sesudah hari tasyrik. Masjidil Haram sudah mulai agak longgar karena jamaah hai dari berbagai negara sudah mulai pulang ke tanah airnya.

Melaksanakan tawaf perpisahan sungguh mengharukan. Inilah tawaf perpisahan yang sangat mengharukan. Hampir semua jamaah berlinang air mata ketika melakukan tawaf wada’, karena sebentar lagi akan berpisah dengan Baitullah.  Selesai tawaf wada’, kami berdoa dipimpin oleh Pak Ustad. Kami berdoa agar dapat bertemu kembali dengan Baitullah. Dalam doa ada air mata.

Usai berdoa, rombongan jamaah meninggalkan Masjidil Haram, kecuali saya. Saya sengaja memisahkan diri dan belum ingin pulang. Saya ingin duduk lama di depan Ka’bah sebelum saya pulang ke hotel. Sebab, setelah tawaf wada’ ini kita tidak bisa lagi mengunjungi Ka’bah, tidak boleh lagi tawaf. Saya belum ingin berpisah dengan Baitullah. Saya mengambil tempat menyendiri di depan Ka’bah. Saya menumpahkan isi hati saya kepada Allah, menceritakan apa yang yang saya rasakan. Terbayanglah anak-anak saya, terutama si sulung yang matanya selalu sendu. Membuncahlah tangis saya tak tertahankan. Saya menangis tersedu-sedu, saya berdoa, meminta kepada Allah agar si sulung diberi kesembuhan.  Lama sekali saya menangis di depan Ka’bah. Kira-kira setengah jam saya menangis tersedu-sedu sendirian, sementara di depan saya lalu lalang orang-orang yang melaksanakan tawaf. Saya tidak peduli, saya terus menangis, mohon ampunan, memohon lindungan, memohon segala apa yang ada di dalam hati saya. Saya belum pernah menangis tersedu-sedu dalam waktu yang lama seperti ini. Belum pernah.

Setelah tangisan saya berhenti, saya duduk menjauh, tetap masih menghadap Ka’bah. Setelah sholat sunat Dhuha, saya selesaikan khatam Quran saya di depan Ka’bah. Ada beebrapa surat di dalam Juz 30 yang belum selesai saya baca, saya tamatkan di depan Ka’bah hari ini, hari terakhir saya mengunjungi Baitullah. Alhamdulillah, niat saya dari tanah air untuk mengkkhatamkan Al-Quran akhirnya tuntas sudah.

Saya isi air botol air mineral dengan air zam-zam sebanyak-banyaknya. Saya ingin membawa pulang beberapa botol air zam-zam, meskipun Pemerintah Arab Saudi akan memberikan secara gratis 5 liter air zam-zama.

Saya berjalan ke arah pintu keluar Haram melalui jalus sa’i. Mata saya terus menatap Ka’bah. Dan terakhir kali sebelum Ka’bah hilang di pelupuk mata, saya potretlah ia dalam mode siluet.

Pandangan terakhir melihat Ka’bah

Sampai bertemu kembali dengan Baitullah. Mudah-mudahan Allah SWT mengundangku kembali ke sini suatu hari nanti. Amin.

~~~~~~~~~~~~~~

Sehari sebelum kepulangan, semua koper jamaah haji dikumpulkan di lobby hotel untuk dibawa ke bandara. Koper akan lebih dulu dibawa ke bandara Jeddah. Setiap koper ditimbang dan beratnya tidak boleh lebih dari 30 kg. Jangan sekali-sekali mencoba “menyelundupkan” air zamzam ke dalam bagasi, pasti ketahuan, dan koper Anda akan dibuka paksa petugas di Jeddah untuk mengeluarkannya.

Pemeriksaan dan penimbangan bagasi di lobby hotel

Keesokan harinya, setelah sholat Subuh, kami sudah bersiap masuk ke dalam bus-bus untuk menuju kota Jeddah. Setelah ada acara pelepasan oleh petugas haji Indonesia, bus-bus bergerak meninggalkan hotel. Selamat tinggal kota Mekkah.

Perjalanan ke Jeddah menempuh waktu dua jam. Selepas kota Mekkah, pemandangan yang kita lihat hanyalah padang pasir dan bukit batu yang tandus.

Di Bandara King Abdul Aziz Jeddah, jamaah menunggu untuk masuk melalui pintu keberangkatan. Di sini kita mendapat catering makan siang. Inilah catering terakhir dari Kemenag RI.

Di pintu keberangkatan, petugas haji Arab Saudi membagikan Al-Quran gratis dan keping DVD. Banyak sekali pemberian yang diperoleh di bandara ini. Sudah tidak muat lagi tas tenteng untuk menyimpan barang-barang tersebut.

Sebelum masuk ke gate keberangkatan, semua barang bawaan jamaah diperiksa lagi. Sangat lelet sekali pemeriksaannya. Pemeriksaan terhadapa jamaah perempuan lebih lama dibandingkan jamaah pria. Saya antri kira-kira dua jam untuk sampai ke alat pemindai X-ray. Saya lihat banyak jamaah yang menggantungkan di lehernya tabung air dari tembaga yang berisi air zam-zam. Saya pikir tabung air zam-zam maupun botol-botol air zam-zam akan disita, eh, ternyata boleh lewat. Jadi, membawa air zam-zam ke atas pesawat tidak dilarang oleh petugas Arab Saudi, asalkan botol air zam-zam itu ditenteng, tidak dimasukkan ke dalam tas. Jadi, yang tidak boleh itu adalah memasukkan zamzam ke dalam tas, sebab jika tumpah maka dapat berbahaya jika di atas pesawat (korsleting mislanya). Saya yang hanya membawa tiga botol air-zam “sedikit menyesal” kenapa hanya membawa tiga botol saja, padahal kalau saya bawa lebih banyak lagi tidak apa-apa. Tapi ya sudahlah, mungkin rezekis aya segitus aja.

Jam 14.00 siang akhirnya kami bisa boarding ke atas pesawat Saudi Arabian. Pesawat berbadan lebar ini akan mengangkut sekitar 400-an jamaah haji Kloter 07 ke Jakarta. Jamah yang pulang telah berkurang satu karena wafat di Mekkah.

Pulang

Setelah menempuh perjalanan sekitar 9 jam, pada hari Kamis pukul 03.00 pesawat mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Alhamdulillah, sampailah kami kembali ke tanah aii tercinta. Dari landasan Bandara, bus-bus menjemput kami untuk dibawa ke Embarkasi Haji di Bekasi. Di sana setiap jamaah mendapat jerigen berisi 5 liter air zam-zam. Koper-koper bagasi dikembalikan lagi kepada jamaah.

Setelah seremoni singkat serah terima jamaah haji dari Embarkasi Bekasi ke PPIH Kota Bandung, berangkatlah bus-bus rombongan jamaah haji Klotyer 07 JKS menuju kota Bandung.

Selama di dalam perjalanan ke Bandung, saya melakukan kials balik dan merenung. Banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan sejak keberangkatan ke Tanah Suci hingga pulang kembali ke tanah air. Menjadi jamaah haji Indonesia, khususnya yang berangkat melalui Embarkasi Jakarta/Bekasi, mendapat banyak sekali kebajikan dan keistmewaan dari berbagai pihak sebagai berikut:

Di tanah air:
1. Kami mendaat berbagai souvenir dari Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung antara lain  tikar mendong, tempat air minum, payung, tas sandal, dll. Itu belum termasuk souvernir dari bank penerima setoran ONH berupa kain ihram, buku, tas sandal. Khusus kami jamaah haji dari ITB, dilepas oleh pak rektor di rumah dinasnya dan mendapat lagi seabreg souvernir.

2. Makan gratis oleh Pemkot di perjalanan ke Embarkasi waktu pergi dan pulang.

3. Bus rombongan haji dikawal oleh mobil Patwal polisi dari Mapolda Jabar hingga Embarkasi sehingga mendapat prioritas jalan. Bahkan ketika tol Cikampek ditutup karena ada pembangunan jalan LRT, khusus untuk rombongan jamaah haji dibuka khusus. Serasa menjadi tamu VIP. Hal yang sama ketika pulang ke Bandung.

4. Dari Embarkasi Bekasi hingga bandara Cengkareng dikawal lagi oleh patwal.

5. Di Embarkasi mendapat souvernir lagi dari Kemenkes berupa obat2an, payung, masker, tabung semprot, dll. Sudah tidak muat lagi tas dengan berbagai pemberian.

6. Naik ke pesawat tidak melalui gate atau terminal keberangkatan, bus rombongan langsung mengantar jamaah haji dari Embarkasi hingga ke tangga pesawat. Hal yang sama ketika pulang.

7. Pengambilan data biometrik tidak lagi di bandara Saudi, tetapi di Embarkasi Bekasi sehingga mempercepat proses keluar bandara.

8. Pemeriksaan imigrasi di bandara Saudi dipindahkan ke bandara Cengkareng, sehingga tiba di Saudi tidak perlu ke imigrasi lagi, langsung keluar bandara.

9. Mendapat uang living cost sejumlah 1500 riyal atau setara 6 juta rupiah. Sejak dulu hingga sekarang, hanya jamaah haji Indonesia yang mendapat uang living cost selama di Saudi. Pernah tanya ke jamaah negara tetangga, mereka tidak pernah dapat bekal uang.
10. Tidak terhitung doa dari para sejawat, teman, tetangga, handai tolan, hingga dilepas oleh ribuan orang.

Di Saudi:
1. Ada perbaikan menu catering yang tadinya 25 kali menjadi 40 kali.

2. Masuk di perbatasan kota Mekah disambut oleh petugas Saudi dengan mengantarkan makanan dan air zamzam ke dalam bus.

3. Banyak orang Saudi memberi makanan dan minuman gratis kepada jamaah haji di Madinah dan Mekah. Itu mulai dari kurma, air mineral, hingga makanan berat.

4. Tanggal 1 hingga 8 Zulhijjah adalah puncak murah hatinya para dermawan Saudi kepada para jamaah haji. Hampir tiap hari mobil2 dermawan datang ke pemondokan mengantarkan nasi kotak berupa nasi briyani, nasi bukhori, nasi mandhi. Sampai-sampai kita tidak tahu bagaimana menghabiskannya karena baru dapat nasi kotak, tiba lagi nasi kotak baru.

5. Macam-macam souvernir datang lagi ke pemondokan berupa payung, Al-Qur’an, dll.

6. Tim kesehatan (dokter dan perawat) dari Kemenkes siap siaga di maktab jika ada jamaah haji yang sakit. Semua obat dan pelayanan gratis.

7. Pulang lewat bandara Jeddah disambut khusus oleh petugas Saudi dan mendapat lagi paket Qur’an, buku, dan DVD. Tas sudah tidak muat lagi.

Semua keistimewaan tadi sebabnya satu: jamaah haji itu adalah tamu-tamu Allah, sehingga banyak orang/instansi berlomba memuliakan tamu-tamu itu, meskipun kita sebagai jamaah haji tentu tidak pernah meminta perlakuan khusus tadi.

Least but not least: untuk semua kebajikan di atas maka saya teringat ayat ini : “Maka, nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?” (TAMAT)

Written by rinaldimunir

December 21st, 2018 at 5:00 pm

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 11): Melempar Jumrah pada Hari-hari Tasyrik dan Tawaf Ifadah

without comments

Siang hari setelah aktivitas melempar jumrah Aqabah selesai, jamaah yang sudah bangun dari tidurnya memulai aktivitas di dalam dan di sekita tenda. Tidak ada yang dapat dilakukan selain hanya membaca, mengaji, duduk-duduk, ngobrol, tiduran, dan sebagainya. Pasokan catering untuk makan siang dan makan malam tetap datang. Catering makan siang datang pada pukul 10 pagi, sedangkan catering makan malam datang pada sore hari. Di sekitar juga tersedia air panas untuk memasak mie instan, teh, atau kopi.

Saya berjalan-jalan ke luar tenda, karena saya belum melihat suasana perkampungan tenda pada siang hari. Jamaah yang sudah berpakaian biasa terlihat bercengkerama di luar.

Jmaaah haji bercengkerama di luar tenda

Aktivitas yang paling ramai adalah di sekitar toilet merangkap kamar mandi. Puluhan orang antri untuk mandi atau membuang hajat. Jika terlalu lama anda di dalam, seseorang di luar mungkin menggedor-gedor pintu toilet. Ya, harap bertoleransi saja dan menenggang rasa dengan jamaah haji orang lain. Harap dimaklumi juga orang Indoensia tidak bisa menjaga kebersihan. Bungkus shampo, sabun mandi, dan yang paling mengenaskan adalah ceceran BAB orang-orang tua yang tidak bersih membersihkan diri. Oh ya, di dalam toliet ini tersedia selang air panas dan air dingin.

Antri di depan jajaran toilet di sekitar tenda

Saya melihat ke arah jalan di sekitar tenda. Jamaah haji yang tidak punya kegiatan menghabiskan waktu di luar, sembari melihat-lihat dagangan PKL yang juga berjualan secara sembunyi-sembunyi.

Pintu masuk ke perkampungan tenda. Jamaah haji mengerumuni PKL

Saya melongok ke arah jalan. Masih banyak rombongan jamaah haji yang baru pulang melempar jumrah Aqabah. Mereka tetap melempar jumrah pada siang hari. Setiap KBIH memang berbeda-beda dalam  menentukan waktu untuk melempar jumrah. Menurut saya semuanya sah saja karena ada dalilnya masing-masing dan tidka perlu dipersoalkan.

Pulang dari melempar jumrah Aqabah

Adzan Maghrib di Mina menandakan waktu pun berganti hari menjadi tanggal 11 Zulhijjah. Ini berarti hari-hari Tasyrik pun dimulai. Selama hari-hari Tasyrik jamaah haji melempar 3 jumrah, yaitu jumrah Ula, jumrah Wustha, dan jumrah Aqabah. Batu-batu di dalam kantong kecil yang berawran biru masih cukup untuk melempar ketiga jumrah itu. Ustad pembimbing haji mengatakan bahwa kita akan melempar tiga buah jumrah pada pukul 2 dinihari nanti. Jadi, sama seperti tanggal 10 Zulhijjah, kita akan melempar jumrah pada waktu dinihari. Oke, jadi jamaah haji tidur dulu dan bangun lagi pukul 12 malam.

Jam 12 malam kami dibangunkan. Pak Ustad menyuruh kita membawa semua barang bawaan. Lho, mau ke mana, kata saya? Ternyata, setelah melempar tiga buah jumrah nanti, kita langsung kembali ke hotel di Mekkah, tidak kembali lagi ke tenda di Mina. Saya baru paham, berada siang hari di Mina tidak diwajibkan, sebab yang wajib itu adalah mabit (bermalam) di Mina. Barang siapa yang berada siang hari di Mina, maka dia wajib bermalam di Mina. Sementara, kami tidak akan di Mina pada siang hari, tetapi istirahat di hotel saja. Nanti setelah Maghrib kami akan kembali ke Mina untuk mabit. Kebetulan hotel kami di daerah Syisyah 2 tidak jauh dari jamarat, yaitu dibalik bukit batu. Tenda-tenda yang sempit di Mina dengan fasilitas sanitasi yang kurang memadai memang kurang nyaman bagi jamaah haji, jadi kalau bisa istirahat di hotel kenapa tidak.

Jam 2 malam sampailah kami di jamarat. Mula-mula kami melempar jumrah Ula yang berukuran kecil sebanyak tujuh kali, selanjutnya jumrah Wustha sebanyak tujuh kali, dan terakhir melempar  jumrah Aqabah sebanyak tujuh kali. Jamaah haji tidak terlalu padat malam itu sehingga melempar jumrah dapat dilakukan dengan mudah.

Selesai melempar tiga buah jumrah kami meninggalkan jamarat, berjalan kaki menyusuri jalan menuju hotel Syisyah 2. Setelah melewati beberapa bukit batu, jalanan yang padat dengan bus-bus rombongan jamaah haji, sampailah kami ke hotel pukul 4 pagi. Jarak dari jamarat ke hotel kira-kira 3 km. Berjalan kaki adalah kegiatan yang paling banyak dilakukan selama berhaji, jadi fisik harus kuat, badan harus sehat.

Jamarat tidak terlalu jauh dari hotelami Syisyah 2, letaknya di balik bukit batu itu (di kejauhan)

Sesampai di hotel, lega rasanya bertemu dengan kasur dan kamar mandi dengan air yang deras. Setelah sholat Shubuh, maka apalagi yang dilakukan selain tidur. Sungguh melelahkan tetapi menyenangkan sekali pengalaman melempar jumrah pada hari tasyrik pertama.

Sore hari kami berjalan kaki kembali dari hotel ke jamarat. Ya, kami akan melempar tiga buah jumrah pada hari  Tasyrik kedua (12 Zulhijjah). Kita harus berada di Mina sore itu, yang berarti harus bermalam di Mina. Dalam perjalanan dari Syisah 2 ke jamarat, kami melewati ujung terowongan. Itulah terowongan Mina, terowongan yang punya sejarah monumental bagi jamaah haji Indonesia. Di dalam terowongan inilah terjadi tragedi Mina tahun 1990, yaitu bertemunya arus manusia yang mau melontar jumrah dengan arus manusia yg baru pulang melontar jumrah. Tubrukan tidak terhindarkan dan ribuan jamaah mati syahid terinjak-injak. Ada 600 lebih jamaah haji Indonesia yang jadi korban.  Tapi itu dulu. Sekarang sudah dibangun dua terowongan, satu untuk pergi dan satu untuk pulang.

Terowongan Mina

Sore hari sebelum Maghrib kami sudah sampai ke areal jamarat, tapi belum masuk gedung jamarat. Kami akan melempar jumrah setelah lepas tengah malam. Di areal jamarat ini saya menyaksikan ratusan ribu jamaah haji datang dan pergi pada hari-hari tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah) untuk melaksanakan lempar jumrah. Semakin sore semakin padat karena cuaca sudah berkurang kegarangan panasnya. Mungkin mereka sama seperti kami, pada siang hari pulang ke Mekkah, lalu sore hari kembali ke Mina untuk mabit. Saya merinding melihat ratusan ribu jamaah yang mengalir seperti air bah.

Ratusan ribu jamaah bagai air bah mengalir ke jamarat.

Karena hari masih sore, jadi kami duduk-duduk dulu di sini. Ternyata para askar mengusir  jamaah yang duduk-duduk maupun berdiri dalam kelompok-kelompok. Hajj..hajj, teriak mereka mengusir jamaah haji yang berdiri. Ya, jamaah yang duduk atau berdiri (tidak berjalan) dianggap oleh askar menghalanagi pergerakan jamaah haji lainnnya. Askar-askar itu sih inginnya kami terus berjalan kaki ke arah gedung jamarat, tapi kan kami baru akan melempar jumrah pada pukul 2 dinihari nanti.

Berfoto di area jamarat

Sambil menunggu waktu Maghrib, kami mulai membentangkan sajadah di aspal, lalu sholat sunnat. Nah, kalau sedang sholat, maka askar tidak akan berani mengusir orang yang sholat. Sholat Maghrib dan Isya dilakukan dengan niat jamak.

Selesai sholat Maghrib, kami berjalan kaki menuju gdung jamarat. Jalan kakinya pelan-pelan saja, tidak buru-buru, karena waktu melempar jumrah masih lama. Selama dalam perjalanan kami menemui jamaah haji berbagai bangsa dalam kelompok-kelompoknya. Jamaah haji dari Indonesia tampil dengan busana batik yang khas dan membawa bendera yang melambangkab KBIH atau daerah mereka. Sebagian jamaah haji Indonesia sangat unik, mereka berjalan kaki dengan semangat sambil menyanyikan shalawat. Pastilah itu jamaah haji dari kalangan nahdliyin (NU).

Sambil menunggu waktu untuk melempar jumrah, kami duduk-duduk di jembatan lalu  di dekat gedung jamarat. Dari atas jembatan terlihatlah Mina pada waktu malam dibalut cahaya lampu. Ribuan orang ramai berjalan kaki. Di kejauhan juga terlihat restoran ayam goreng yang terkenal di Saudi, yaiyu Al-Baik.

Mina pada waktu malam

Mina pada waktu malam, sangat ramai.

Dari jembatan kami turun ke lantai dasar. Di area lantai dasar sudah penuh dengan jamaah haji dari berbagai bangsa yang juga menunggu waktu lepas tengah malam untuk melempar jumrah. Kami pun mencari tempat yang kosong di lantai aspal, beralaskan tikar atau sajadah untuk sekedar duduk atau tiduran. Sebenarnya tempat ini terlarang buat jamaah haji untuk duduk-duduk. Tiap sebentar datang mobil askar dengan sirinenya yang meraung-raung membubarkan jamaah yang berada di sana. Bandel ya para jamaah haji. Setelah mobil askar pergi, mereka kembali lagi duduk-duduk dan tiduran di sana. Ya mau kemana lagi, tidak ada tempat untuk beristirahat di jamarat.

Duduk-duduk di areal terlarang untuk menunggu waktu tengah malam.

Akhirnya setelah menunggu selama enam jam, waktu menunjukkan pukul 2 dinihari. Kami segera naik ke lantai satu untuk melempar tiga buah jumrah seperti kemarin. Tujuh lempana untuk jumrah Ula, tujuh lemparan untuk jumrah Wustha, dan tujuh lemparan untuk jumrah Aqabah. Berhubung kami mengambil nafar awal, kami tidak melakukan lempar jumrah pada hari tasyrik ketiga. Oleh karena itu, batu-batu yang tersisa di dalam kantung batu harus dibuang ke dasar jumrah. Batu-batu itu tidak boleh dibawa pulang ke tanah air sebagai oleh-oleh atau kenang-kenangan. Cerita dari ustad kami, pernah ada jamaah haji yang membawa pulang batu dari Mina sebagai oleh-oleh, tapi  di tanah air dia sakit-sakitan dan akhirnya meninggal dunia. Percaya atau tidak, maka sebaiknya kita ikuti saja nasihat untuk tidak membawa pulang sisa batu pelepar jumrah ke tanah air supaya tidak terjadi kejadian yang tidak diinginkan.

Oh ya, tadi saya menyinggung tentang nafar awal. Selain nafar awal maka jamaah haji bisa memilih melakukan nafar tsani. Jika melakukan nafar awal, maka kita melempar jumrah hanya pada tanggal 11 dan 12 Zulhijjah saja. Jika melakukan nafar tsani, maka kita melempar jumrah sampai tanggal 13 Zulhijjah. Jika seseorang berada di Mina pada siang hari tanggal 12 Zulhijjah, maka dia harus mabit di Mina tanggal 13 Zulhijjah, dan wajib melempar jumrah pada tanggal 13 Zulhijjah. Kedua nafar ini sama sahnya.

Karena kami melakukan nafar awal, maka kami harus kembali ke Mekkah guna melakukan tawaf ifadah.  Dari jamarat kami berjalan kaki kembali keluar dari Mina. Kami sampai di luar kota Mekkah (saya lupa namanya, mungkin Aziziyah) yang dinihari itu sangat ramai. Ada beberapa hotel jamaah haji Indonesia di sini. Mungkin inilah hotel jamaah haji yang terdekat ke jamarat.

Dari sini perjalanan ke Masjidil Haram akan ditempuh dengan berjalan kaki. Sebagian jamaah yang tidak kuat lagi berjalan kaki memilih menyewa taksi ramai-ramai ke Masjidil Haram. Saya memilih berjalan kaki saja ke Haram bersama teman yang lain. Menurut saya ini perjalanan spiritual, jadi lebih baik berjalan kaki saja samil meresapi suasana batiniah yang tidak akan terlupakan seumur hidup.

Perjalanan ke Masjidil Haram kira-kira jauhnya 5 km. Saya dan beberapa jamaah lain berjalan kaki melewati jalanan kota Mekkah yang tetap ramai. Sesekali berhenti untuk istirahat dan minum teh yang dijual di pinggir jalan. Sungguh suasana dinihari itu sangat syahdu bagi saya. Alhamdulillah kaki saya masih kuat berjalan.

Kami pun sampai di mulut sebuah terowongan. Ini adalah terowongan yang sering saya lalui jika naik bus sholawat ke Haram. Ini berarti di ujung terowongan sana adalah terminal bus Syib Amir. Dengan kata lain sebentar lagi saya akan sampai di Masjidil Haram. Panjang terowongan ini 800 meter.

Terowongan ke arah terminal Syib Amir

Bejalan di dalam terowongan. JHarus hati-hati karena kendaraan melaju kencang. Tidak ada trotoar.

Di ujung terowongan terlihatlah Menara Zamzam beridiri dengan megah. Allahu Akbar, saya sudah sampai kembali ke Haram. Adzan Subuh berkumaandang tepat ketika kami sampai. Kami pun segera berlari untuk mengejar tempat buat sholat subuh. Masjidil Haram saat itu tidak ramai. Masih sepi saat itu karena sebagian besar jamaah masih berada di Mina. Tentu saja, karena sebagian besar jamaah haji masih berada di MinaMungkin setelah matahari sepenggalahan naik Masjidil Haram akan semakin ramai.

Selesai sholat subuh, kami turun ke mataf untuk melaksanakan tawaf ifadah. Karena jamaah tidak ramai, maka tawaf ifadah dapat dilakukan lebih cepat. Selesai tawaf ifadah, saya duduk di mataf setelah usai melaksanakan tawaf Ifadah usai sholat subuh. Duduk memandangi Baitullah, Ka’bah yang menjadi pusat kiblat ummat Islam sedunia.

Duduk memandangi Ka’bah usai tawaf ifadah

Tinggal menghitung hari lagi saya di sini. Hampir empat puluh hari meninggalkan tanah air, berada di tanah suci. Tiba saatnya untuk berpisah. Sedih? Ya sudah tentu. Ingin lebih lama lagi di sini, tetapi program pemerintah untuk haji hanya 41 hari. Selain itu tugas-tugas di kampus pun sudah menanti. Mahasiswa sudah menunggu. Keluarga di rumah juga sudah menunggu. Tugas-tugas kehidupan adalah arena ibadah selanjutnya.

Tawaf ifadah bukanlah tawaf wada’. Jadi, setelah melakukan tawaf ifadah, sholat di maqam Ibrahim, minum air zam-zam, lalu jamaah haji melakukan ibadah sa’i antara Safa dan Marwa. Dengan demikian tuntaslah rangkaian ibadah haji, sebelum nanti ditutup dengan tawaf Wada’ sebelum kembali ke tanah air. Kami kembali ke hotel dengan taksi, karena bus Sholawat belum beroperasi. Tarif taksi melambung tinggi pada hari-hari setelah melempar jumrah. Saya berlima dengan teman membayar 250 riyal, per orangnya 50 riyal.

Tiba di hotel, saya dan teman-teman menggunduli rambut. Ada teman yang membawa alat cukur dari Bandung, jadi kami tidak perlu pergi ke barber shop. Inilah sunnah yang dilakukan setelah rangkaian ibadah haji selesai. Ini pula pertama kali saya gundul, karena saya belum pernah botak, he..he..he. Huffff…mengantuk sekali, capai sekali selama tiga hari dua malam ini.  Waktunya membayar utang tidur dengan tidur pulas siang hari ini. (BERSAMBUNG).

Written by rinaldimunir

December 17th, 2018 at 3:23 pm

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 10): Melempar Jumrah Aqabah di Mina (10 Zulhijjah)

without comments

Setelah Maghrib bus-bus yang mengangkut jamaah haji bergerak dari Arafah ke Mina. Lalu lintas ke Mina sangat padat dengan bus-bus jamaah haji dari negara lain, tidak hanya bus jamaah haji Indonesia saja. Mina adalah perkampungan tenda. Berbeda dengan tenda di Arafah yang bersifat bongkar pasang, tenda di Mina adalah tenda yang permanen. Tenda-tenda ini hanya terisi selama musim haji saja, di luar itu Mina bagaikan kota mati yang sepi. Ketika mengikuti city tour di kota Mekkah (baca tulisan Bagian 8), kami melewati Mina. Dari atas bus saya melihat bangunan jamarat yang digunakan untuk melempar jumrah.

39069505_2002012579866757_5922487033321750528_n

Melewati perkampungan tenda di Mina ketika city tour di Mekkah. Gedung yang terlihat di kejauhan adalah gedung jamarat untuk melempar jumrah.

Malam itu semua jamaah di atas bus masih berpakaian baju ihram. Baju ihram baru boleh diganti jika sudah melakukan tahalul, yaitu setelah melontar Jumrah Aqabah. Wajah-wajah jamaah yang kelelahan terlihat pada sebaian besar jamaah. Melintasi jalan-jalan di Mina yang padat merayap, semakin malam semakin banyak bus-bus yang berdatangan.

Seharusnya kami berhenti sebentar di Mudzdalifah untuk mengumpulkan batu-batu untuk melempar jumrah. Namun tempat kami mabit nanti di Mina adalah di Mina Jadid, atau Mina Baru, yang merupakan perluasan Mina. Jamaah haji yang setiap tahun semakin banyak tidak memungkinkan lagi tertampung di Mina, sehingga Pemerintah Saudi memperluas Mina hingga ke Mina Jadid. Mina Jadid ini sudah termasuk ke dalam wilayah Mudzdalifah. Jadi, bermalam di Mina Jadid pada hakikatnya adalah juga bermalam di Mudzdalifah. Dengan kata lain Mina Jadid itu di Mudzdalifah juga. Oleh karena itu, tujuan kami adalah langsung ke Mina Jadid.

Lalu, bagaimana dengan pengumpulan batu? Kami tidak perlu lagi mengumpulkan batu-batu, Pemerintah Saudi telah menyediakan kantung kecil yang berisi batu-batu kerikil untuk melempar jumrah. Kantung kecil itu dibagikan ketika kami masih berada di atas bus menuju Mina. Wah, semakin dimudahkan saja menjalankan haji oleh Pemerintah Saudi.

39939036_2018008001600548_4157742803129991168_o

Kantung kecil berisi batu pelontar jumrah yang dibagikan Pemerintah Saudi untuk jamaah haji Asia Tenggara

Jam 10 malam akhirnya bus sampai ke depan tenda untuk jamaah haji Kloter 07 JKS di Mina Jadid. Satu tenda diisi oleh beberapa KBIH. Tenda di Mina lebih sempit dibandingkan tenda di Arafah. Untuk tidur saja susah, berjejer seperti ikan pindang, ditambah dengan barang bawaan. Satu kepala menghadap ke utara, satu lagi ke selatan, lalu dua pasang kaki bertemu di tengah. Sebagian jamaah yang tidak tahan dengan suasana sempit di dalam tenda lebih memilih tidur di dalam gang antar tenda. Yang lebih menyedihkan adalah jamaah haji mandiri yang tidak tergabung dalam KBIH manapun. Teman saya di kloter yang lain, jamaah haji mandiri, mengeluhkan dia dan istrinya tidak mendapat tempat di dalam tenda. Tenda-tenda itu sudah dikapling oleh KBIH-KBIH, jadi dia dan temannya yang lain yang tidak tergabung di dalam KBIH tidak kebagian tempat. Setelah diskusi yang alot akhirnya dia memilih di luar saja, sementara istrinya bisa masuk ke dalam tenda.  Persoalan ini terjadi karena pemetaan yang tidak cocok antara jumlah jamaah haji dengan jumlah tenda.

Untuk mengetahui seperti apa suasana tenda di Mina, di bawah ini saya perlihatkan beberapa foto keadaan tenda pada siang hari.

Tenda-tenda jamaah haji di Mina

 

Tenda-tenda jamaah haji di Mina

Jmaaah haji bercengkerama di luar tenda

Pintu masuk ke perkampungan tenda

Antri di depan jajaran toilet di sekitar tenda

Kembali ke cerita ketika baru sampai di Mina dari Arafah. Setlah tiba di tenda Kloter 07 JKS, kami beristirahat sebentar. Catering makan malam yang terlambat dibagikan  kepada jamaah. Tenda penuh dengan tas dan aneka barang bawaan jamaah dari Arafah. Mau rebahan sebentar juga susah dan sempit.

Setelah beritirahat sebentar, jam 12 malam kami diinstruksikan oleh ustad pembimbing haji untuk bersiap-siap menuju jamarat. Ya, melontar jumrah Aqabah pada tanggal 10 Zulhijjah (hari Idul Adha) akan akan segera dilakukan. Sebenarnya waktu yang afdhol untuk melempar jumrah Aqabah adalah pada pagi hari setelah matahari terbit. Namun, mungkin karena pertimbangan padatnya jamaah haji yang melempar jumrah secara bersamaan, maka  kami melempar jumrah Aqabah pada waktu dinihari tanggal 10 Zulhijjah. Begitu juga pada hari tasyrik 11, 12, dan 13 Zulhijjah, kami melempar jumarh selalu seelah lewat waktu tengah malam. Masalah waktu ini memang sering diperdebatkan, dan selalu ada sebagian ulama yang membolehkan maupun melarang dengan dalil masing-masing.  Soal pro dan kontra melempar jumrah Aqabah sebelum matahari terbit pada tanggal 10 Zulhijjah  tidak akan saya bahas di sini. Kalau saya baca berita ini dan ini memang Pemerintah Saudi telah mengatur waktu melempar jumrah Aqabah pada tanggal 10 Zulhijjah bagi jamaah haji Asia Tenggara. Saya kutip dari berita tersebut, “pada tanggal 10 Zulhijjah dilarang melontar jamarat mulai pukul 06.00–10.30 waktu Arab Saudi (WAS), 11 Zulhijjah pada pukul 14.00–18.00 WAS dan 12 Zulhijjah larangan melontar jamarat pada pukul 10.30–14.00 WAS”.

Dari tenda, kami berjalan kaki menuju jamarat. Karena tenda kami di ujung Mina, yaitu di Mina Jadi, maka jaraknya ke jamarat cukup jauh, yaitu sekitar 5 km (saya tidak tahu persisnya), jarak yang sama untuk pulang kembali ke tenda.  Tidak ada kendaraan yang mengantar ke jamarat, semua ditempuh dengan berjalan kaki. Baik muda, tua, maupun yang berkursi roda semua berjalan menuju jamarat. Tidak ada jamaah yang mengeluh dengan kondisi yang jauh itu. Semua dijalani dengan penuh keikhlasan untuk mengharapkan ridho-Nya. Apalagikah yang kita cari selama hidup di dunia ini kalau bukan ridho Allah SWT?

Dari semua rangkaian ibadah haji, melontar jumrah adalah kegiatan yang paling krusial dan paling melelahkan. Jutaan jutaan jamaah bergerak ke tempat yang sama dengan berjalan kaki. Menempuh berjalan kaki sejauh 5 km insya Allah saya masih kuat. Saya membayangkan bagaimana dengan jamaah yang sudah tua, tentu tidak kuat berjalan sejauh itu. Tetapi…ya Allah, saya menemukan kebalikannya. Orang-orang tua yang sudah renta sekalipun sangat bersemangat berjalan kaki. Mereka tidak ada yang mengeluh. Perjalanan menuju jamarat dilakukan dengan ikhlas. Kalau hati sudah ikhlas, perjalanan seberat apapun akan dilalui tanpa beban.

Memperhatikan rombongan jamaah haji Indonesia yang berjalan kaki dari tenda ke Jamarat sungguh membuat hati siapa saja merasa terharu. Bapak – bapak dan ibu yang sudah sepuh, atau yang memakai kursi roda, atau memakai tongkat, berjalan kaki bersama-sama menembus terik matahari yang membara (kalau melontar jumrah pada siang hari), atau menembus malam yang gerah dan jalanan yang padat dengan bus dan manusia. Seorang anak mendorong kursi roda orangtuanya, suami mendorong kursi roda istrinya. Seorang ibu yang kakinya (maaf) pincang tetap berjalan dengan caranya yang khas. Sambil berjalan kaki mereka tetap bersemangat bertalbiyah atau bertakbir. Hati siapa yang tidak tergetar melihat semua ini secara langsung? Mereka menuju titik yang sama: Jamarat. Kalau Allah sudah memanggil hamba-Nya ke Baitullah, apapun akan dilakukan untuk memenuhi undangan-Nya.

Melontar jumrah adalah mengulangi peristiwa sejarah ketika Nabi Ibrahim dan Ismail digoda oleh setan untuk membatalkan niat menyembelih Ismail yang merupakan perintah Allah. Nabi Ibrahim melempari setan dengan batu, begitu pula Nabi Ismail dan ibunya Siti Hajar. Ketiga peristiwa pelemparan batu itu diulang kembali oleh jamaah haji dengan melempar tiga jumrah (ulaa, wustha, dan aqabah). Makna pelemparan jumrah itu saat ini adalah melempari sifat buruk pada diri setiap manusia. Nabi Ibrahim berhasil mengalahkan godaan setan dan mematuhi perintah Allah. Atas ketaatan Nabi Ibrahim mematuhi perintah Allah, maka sebagai gantinya Allah menyuruh Nabi Ibrahim menyembelih seekor domba sebagai ganti menyembelih Ismail. Ummat Islam yang tidak pergi haji mengulangi peristiwa Nabi Ibrahim itu dengan menyembelih hewan qurban pada Hari Raya Idul Adha. Darah dan daging qurban itu tidak sampai kepada Allah SWT karena memang tidak diperuntukkan bagi-Nya, tetapi yang sampai adalah taqwa dari hamba-Nya karena telah menaati perintah-Nya.

Sepanjang perjalanan menuju jamarat kita melalui pinggir jalan raya yang padat dengan bus-bus yang membawa rombongan jamaah haji dari Arafah, Saya menemukan pemandangan yang menarik, yaitu jamaah haji dari Afrika bergelimpangan tidur di pingir jalan. Mereka tidak menginap di tenda, entah mereka tidak mendapat tenda atau memang mereka tidak terorganisir.

Setelah berjalan kaki selama dua jam, akhirnya sampailah kami di gedung jamarat. Gedung jamarat ini ada tiga lantai. Kita dapat melempar jumrah dari lantai  mana saja karena jumrah dibuat seperti tugu yang tingginya tiga lantai. Untuk naik ke setiap lantai tersedia eskalator.

Gedung jamarat

Rombongan kami melempar jumrah di lantai satu. Setelah masuk ke dalam, kita menemukan jumrah yang paling besar, itulah jumrah Aqabah. Dinihari saat itu tidak terlalu padat dengan jamah haji. Kami dapat melempar jumarh Aqabah dengan mudah. Ada tujuh kali lemparan. Setiap kali kita melempar batu ke jumrah, kita membaca bismillaahi allahu akbar.

Melempar jumrah Aqabah

Hanya jumrah Aqabah saja yang dilempar pada tanggal 10 Zulhijjah itu. Dua jumrah yang lain (jumrah Uula dan jumrah Wustha) akan dilempar pada hari-hari tasyrik. Selesai melempar jumrah Aqabah, maka kami pun melaksanakan tahalul, yaitu memotong tiga helai rambut. Alhamdulillah, dengan demikian rangkaian melempar jumrah tahap eprtama sudah selesai, kami sudah boleh memakai pakaian biasa lagi. Tetapi, karena pakaian ada di dalam tenda, maka berganti pakaian nanti saja di tenda.

Rombongan kami berjalan kaki kembali menempuh jalan yang sama menuju tenda. Itu artinya berjalan kaki sejauh 5 km. Bagi jamaah yang tidak kuat pulang berjalan kaki, ada orang Arab yang menyediakan kursi roda dan mendorongnya hingga ke tenda. Seorang ibu di rombongan kami yang tidak kuat lagi berjalan, memilih menggunakan jasa sewa akursi roda ini. Ongkosnya nego,  tercapai kesepakatan 200 riyal atau sekitar 800 ribu rupiah (jika 1 riyal = Rp 4000).

Sempat pula kami kesasar ketika kembali ke tenda. Rupanya kami tidak hafal lokasi tenda semula. Setelah bertanya sana-sini, akhirnya sampai jugalah kami di tenda ketika adzan Subuh berkumandang. Setelah sholat Subuh, sebagian besar jamaah tertidur karena kelelahan. (BERSAMBUNG)

Written by rinaldimunir

December 13th, 2018 at 5:04 pm

Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 9): Puncak Ibadah Haji, Wukuf di Arafah

without comments

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Wukuf di Arafah adalah inti ibadah haji. Berhaji tanpa wukuf di Arafah maka hajinya tidak sah. Haji adalah wukuf di Arafah, dwmikian sabda Rasulullah. Oleh karena itu, menjaga kesehatan selama masa penantian wukuf adala hal yang mutlak. Sakit saat wukuf jelas merepotkan. Mungkin karena sakit yang cukup berat maka anda diangkut oleh ambulans ke Arafah, wukuf di dalam mobil ambulans. Atau, kalau pun tidak dibawa oleh mobil ambulans, mungkin anda di dalam tenda merasa sangat tidak nyaman karena badan sedang tidak fit.

Selama masa penantian di Mekkah, jamaah haji dihimbau tidak memforsir tenaga untuk beribadah ke Harom serta kegiatan-kegiatan yang menguras tenaga. Satu tips kesehatan yang rutin saya lakukan adalah minum air putih sebanyak-banyaknya setiap hari. Terapi minum air putih terbukti mampu membuat badan tetap fit selama di Tanah Suci.

Tahun 2018 ini, Pemerintah Saudi menetapkan waktu wukuf di Arafah jatuh pada hari Senin tanggal 20 Agustus (9 Zulhijjah) dan Hari Raya Idul Adha hari Selasa  tanggal 21 Agustus 2018 (10 Zulhijjah). Ini berarti sehari lebih cepat daripada tanggal Idul Adha yang ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia hari Rabu tanggal 22 Agustus 2018. Perbedaan ini tidak perlu dipermasalahkan, karena bumi ini tidaklah datar, jadi lumrah saja terjadi perbedaan penetapan awal bulan Zulhijjah antara Saudi dan Indonesia. Tetapi, ada juga sebagian orang Indonesia yang menjadikan Saudi sebagai rujukan sehingga mereka melaksanakan puasa Arafah sama dengan waktu wukuf di Saudi. Artinya, dalam pandangan mereka, jika melaksanakan puasa Arafah pada hari Selasa maka hukumnya haram sebab hari itu sudah masuk Idul Adha. Ah, sudahlah, perdebatan semacam ini tidak perlu dibesar-besarkan.

Kembali ke cerita wukuf. Meskipun wukuf akan dilaksanakan pada hari Senin siang, namun jamaah haji Indonesia sudah berangkat ke Arafah sejak hari Minggu pagi. Hal ini dilakukan karena yang akan diangkut aalah 210.000 lebih jamaah haji, tentu tidak mungkin ke Arafah dalam waktu yang serempak apalagi jumlah bus juga terbatas. Setiap Kloter diangkut secara bergiliran.  Kloter kami, Kloter 07 JKS kebagian berangkat pada pkul 13.00 setelah Dhuhur.

Oh ya, ada juga KBIH tertentu yang tidak ikut pengaturan Pemerintah, mereka melaksanakan tarwiyah, yaitu mengikuti Sunnah Rasul dengan berangkat lebih dahulu ke Mina sebelum ke Arafah. Dikutip dari sini, Tarwiyah adalah melakukan napak tilas perjalanan yang pernah dilakukan Nabi Muhammad SAW. Jamaah Tarwiyah akan melakukan perjalanan dari Makkah ke Mina sejauh 14 kilometer. Lalu, setelah itu perjalanan berlanjut keesokan harinya dari Mina ke Arafah untuk bergabung dengan jamaah lainnya yang berangkat dari Makkah, langsung ke Arafah untuk menjalani wukuf.

Umumnya KBIH yang melaksanakan tarwiyah berangkat ke Mina satu hari lebih cepat daripada yang diatur oleh Pemerintah RI. Mereka berangkat tanggal 7 Zulhijjah sore ke Mina, bermalam di tenda-tenda di Mina, barulah tanggal 8 Zulhijjah sore mereka berangkat ke Arafah. Jika melaksanakan tarwiyah, maka Pemerintah RI tidak memfasilitasi transportasi dan akomodasi, semua biaya ditanggung oleh jamaah haji yang melaksankan tarwiyah, sebab mereka harus mengusahakan bus sendiri, menyiapkan catering sendiri, dll.  Selain itu, mereka harus menandatangani surat pernyataan untuk menanggung segala resiko dan bertanggung jawab atas kajadian apapun.

KBIH saya ikut pengaturan oleh Pemerintah RI saja. Dua jam sebelum waktu Dhuhur saya sudah melaksanakan mandi besar. Saya menyiapkan satu tas ransel yang akan dibawa yang berisi cadangan kain ihram, baju ganti, peralatan mandi, mie instan, dan camilan lain. Setelah sholat Dhuhur dan Ashar dijamak di mushola hotel, kami mulai memakai pakaian ihram. Selanjutnya berdiam di kamar menunggu instruksi dari Pak Ustad pembimbing untuk turun ke lobby. Duh,  perasaan saya bercampur aduk karena sebentar lagi kami akan ke Arafah. Niat harus diluruskan kembali, salah niat maka hajinya tidak mabrur. Jam 13.00 siang jamaah haji turun ke lobby hotel. Di sana ustad kembali memberikan bimbingan dan meluruskan niat berhaji. Kami jamaah haji saling berpelukan dan bahkan bertangisan meminta maaf jika selama bergaul di Mekkah dan Madinah melakukan perbuatan yang menyinggung perasaan jamaah lain. Lalu, mulailah kami bersama-sama mengucapkan doa niat haji, yaitu labbaikallah humma hajjan, yang artinya Ya Allah kupenuhi panggilan-Mu untuk berhaji. Sesaat sesudah mengucapkan niat haji itu, maka berlakulah larangan-larangan selama memakai pakaiaan ihram seperti yang pernah saya sebutkan pada tulisan tentang umrah.

Berangkatlah kami naik bus-bus yang sudah menunggu di depan hotel. Selama dalam perjalanan ke Arafah, kami tak putus-putusnya mengucapkan talbiyah. Labbaikallahumma labbaik, labbaikala syarika laka labbaik. Saya duduk sendiri pada kursi paling belakang.  Selama di dalam bus terbayang wajah anak dan istri di rumah. Bulir-bulir air mata menetes dari pelupuk. Pada hari wukuf besok adalah waktu yang paling mustajab untuk berdoa kepada Allah. Saya sudah memendam doa yang akan saya sampaikan nanti di Arafah, salah satunya doa meminta kesembuhan untuk anak sulung saya.

Setelah menempuh perjalanan selama lebih kurang 45 menit, sampailah rombongan bus kami di tenda yang akan menjadi penginapan kami satu hari satu malam di Arafah. Jamaah haji Indonesia di Arafah, di sektor South East Asian Pilgrims. Cuaca di Arafah sangatlah panasnya. Padang Arafah yang dulu gersang sekarang sudah mulai menghijau, banyak tumbuhan yang telah ditanam bertahun-tahun dan sudah meninggi. Lumayanlah untuk mengurangi kegerahan.

Tenda-tenda wukuf di Arafah

Jamaaah haji bergaya ketika difoto

Satu kloter menempati beberapa buah tenda. Satu tenda ukurannya cukup besar. Permadani sebagai alas duduk atau tidur terbentang di atas lantai tanah. Satu tenda ada empat kapling, dibagi untuk dua sampai tiga KBIH, atau satu tenda satu KBIH jika jamaahnya banyak. Satu kapling dapat menampung 20 orang jamaah jika tidur berjejer. Lumayan berdesak-desakan. Jamaah pria dan wanita berada di dalam satu tenda, namun jamaah wanita ditempatkan di susut agar tidak bercampur dengan jamaah haji pria. Di dalam tenda terdapat empat buah kipas angin besar yang juga menyemprotkan uap air. Namun kipas angin tersebut tidak cukup membantu menurunkan hawa yang gerah. Duh, panasnya. Apatah lagi panasnya nanti di Padang Mahsyar ya. Padang Aradah merupakan perumpamaan Padang Mahsyar, semua manusia berkumpul mempertanggung jawabkan amalannya masing-masing di hadapan Allah SWT.

Suasana di dalam tenda kami

***********

Sehari sebelum wukuf terjadi peristiwa yang mencekam, yaitu badai pasir bercampur hujan yang sangat dahsyat.  Ini pertama kali saya merasakan badai pasir yang luar biasa besar di tengah gurun.

Jadi ceritanya begini. Hari Minggu sore waktu Saudi (sehari sebelum wukuf) jamaah haji Indonesia sudah berada di Arafah, sebagian juga sudah di Mina untuk mengikuti Tarwiyah.

Sore hari ketika saya akan berwudhu untuk sholat Maghrib langit di atas sana terlihat mendung. Mungkin akan hujan, pikir saya. Saat sholat Maghrib berjamaah berlangsung di dalam tenda (jam 18.30), di luar sana terdengar suara gemuruh. Angin bertiup menderu-deru seperti tornado. Listrik padam. Sholat pun menjadi tidak konsen lagi. Lama-lama kok makin keras dan mulai menggoyang-goyang tenda dan menarik-nariknya ke atas. Tenda seperti mau copot. Sangat menakutkan. Debu dan pasir berterbangan masuk ke dalam tenda. Badai pasir ini kira2 berlangsung selama 20 menit lalu berhenti. Ketika saya longok keluar, hampir semua benda sudah berantakan akibat beterbangan.

Saya kira badai pasir ini sudah berhenti. Eh, ternyata ia sedang mengumpulkan energi untuk kedua kalinya. Pukul 19.30 badai pasir datang lagi. Kali ini lebih keras dan lebih heboh lagi, lebih menakutkan daripada yang pertama. Jamaah mulai melantunkan talbiyah. Di tenda sebelah yang posisinya lebih tinggi saya dengar banyak jamaah yang menangis dan ketakutan. Listrik pun padam. Kedaaan gelap gulita dan sehingga tambah mencekam.

Tapi secara umum tidak ada jamaah yang terluka. Konstruksi tenda sepetinya dirancang tahan terhadap badai pasir yang sering melanda negara gurun. Namun merasakan sendiri berada di tengah badai pasir ini tentu pengalaman yang berbeda. Mungkin Tuhan punya cara menyambut kami dengan menunjukkan kuasanya melalui badai pasir itu. Wallahu alam.

Setelah badai behenti, saya keluar tenda untuk melihat keadaan sekitar. Olala, sandal dan bungkus makanan sudah berterbangan ke mana-mana. Pasir di mana-mana hingga masuk ke dalam tenda.  Beberapa foto setelah badai dapat dilihat di bawah ini (sumber: Okezone.com dan Viva.co.id). Badai tidak hanya di Arafah dan Mina, tetapi juga sampai ke kota Mekkah. Kiswah Ka’bah pun sampai terbuka ditiup angin yang kencang.

Foto tenda yang roboh setelah badai pasir (Sumber foto: Okezone.com)

Kondisi kiswah Kabah saat diterjang badai. (Sumber: Viva.co.id)

***********

Pagi hari tanggal 9 Zulhijjah  (20 Agutsus 2018), jamaah haji mulai bersiap-siap untuk melaksanakan wukuf. Waktu wukuf adalah  setelah adzan Dhuhur hingga terbenam matahari. Oh iya, sehari sebelum wukuf hingga hari wukuf, pasokan makanan tidak perna berhenti datang ke tenda-tenda. Catering dari Kemenag RI rutin datang untuk sarapan pagi, makan siang, dan makan malam. Mie instan, biskuit, buah-buahan, air minum, yoghurt, dan lain-lain sangat berlimpah. Makanan tidak hanya datang dari Kemenag RI, tetapi juga dari dermawan kota Mekkah. Sungguh bingung menghabiskan makanan-makanan itu.

Sambil menunggu waktu wukuf tiba, jamaah haji duduk-duduk, sekedar mengobrol,  membaca Al-Quran, membaca doa, dan sebagainya. Tepat ketika waktu Dhuhur tiba, salah seorang jamaah di tenda mengumandangkan adzan. Ini berarti waktu  pelaksanaan wukuf sudah tiba. Inilah awal haji yang sesungguhnya. Kami mengatur shaf-shaf di dalam tenda untuk sholat jamak Dhuhur dan Ashar. Suasana di dalam tenda sangat syahdu dan khusu’. Selesai sholat, salah seorang ustad tampil ke depan shaf untuk mengisi khutbah wukuf. Isi khutbahnya mengingatkan tentang dosa-dosa yang telah kita perbuat, inilah saatnya kita meminta ampunan kepada Allah SWT. Diingatkan juga perumpamaan wukuf di Arafah dengan hari bekumpulnya manusia di Padang Mahsyar kelak. Saya dan jamaah lain ada yang menangis, mungkin teringatd engan banyaknya dosa yang pernah kita lakukan selama hidup ini. Seusai khutbah, jamaah haji saling berpelukan meminta maaf.

Sesudah sholat dan khutbah wukuf, masing-masing jamaah larut dengan dirinya sendiri. Waktu wukuf adalah waktu yang paling mustajab untuk berdoa. Di saat wukuf itu pintu langit terbuka, para malaikat turun ke bumi. Ada tiga tempat yang mustajab untuk berdoa, tempat di mana doa-doa dikabulkan. Yang pertama di Multazam (tempat di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah), kedua di Raudhah, dan ketiga di Arafah saat wukuf. Insya Allah doa-doa kita selama wukuf akan diijabah oleh Allah SWT. Mungkin diijabah sekarang, atau ditunda nanti. Wallahu alam. Saya  berdoa apa saja. Saya meminta apa saja. Semua doa dan permohonan yang sudah saya siapkan dari rumah saya tumpahkan di sana, terkhusus doa untuk kesembuhan anak saya yang sulung. Saya berdoa sampai menangis tersedu-sedu. Ya Allah, kabulkanlah doa-doa hamba, hamba datang ke tanah Arafah ini, memohon agar doa-doa yang saya panjatkan terbang memasuki pintu-pintu langit yang sedang membuka.

Selesai berdoa, saya habiskan waktu hingga matahari terbenam dengan membaca Al-Quran, membaca semua doa dan zikir yang tertera di dalam buku karangan K.H Miftah Farid. Janganlah abaikan masa-masa emas puncak haji ini dengan kesia-siaan. Belum tentu kita bisa datang lagi ke Arafah, karena haji hanya sekali seumur hidup. Mau berhaji lagi haru menunggu puluhan tahun. Niat saya untuk mengkhatamkan bacaan Quran selama berhahi saya teruskan di Arafah.

Menjelang sore, jamaah haji sudah berkemas-kemas untuk meninggalkan Arafah, menuju Mina sambil bermalam di Mudzdalifah. Bus-bus sudah siap menunggu di luar kampung tenda. Bus-bus ini akan akan bolak-balik dari Arafah ke Mina untuk menjemput jamaah haji. Jamaaah haji Indonesia sangat banyak, jadi tidak mungkin sekali angkut. (BERSAMBUNG)

Written by rinaldimunir

December 6th, 2018 at 4:28 pm