if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Cerita perjalanan’ Category

Naik LRT di Palembang

without comments

LRT (light rapid tranport) di Indonesia baru ada di kota Palembang. Jakarta saja belum punya LRT, masih sedang dibangun, meski MRT (mass rapid transport) sudah ada namun baru terbatas saja jalurnya dan tidak semua di bawah tanah. Tentang transportasi cepat memang negara kita terlambat dibandingkan negara tetangga. Tidak usah bandingkan dengan Singapura, dengan Thailand dan Malaysia saja kita masih tertinggal dalam hal transportasi cepat (LRT dan MRT).

Kalau Anda mampir ke Palembang jangan lupa mencoba LRT. Saya beberapa bulan lalu berkunjung ke Palembang. Dari bandara Sultan Mahmud Badaruddin II saya sudah meniatkan mau mencoba naik LRT ke hotel tempat saya menginap. LRT di Palembang haya satu jalur saja, yaitu dari bandara SMD ke kompleks stadion olahraga Jakabaring. Kebetulan hotel saya terletak di Jalan Sudirman. Jalur LRT melalui depan hotel. Di depan hotel terletak stasiun Cinde, jadi saya bisa turun di situ.

Dari terminal kedatangan kita berjalan ke luar ke arah kanan menaiki stasiun LRT yang terletak di depan bandara.

Kereta belum datang.Saya beli tiket loket di stasiun bandara.  Harga tiket ke stasiun Cinde hanya Rp10.000 saja. Sangat murah ya, jauh lebih murah daripada kita naik taksi dari bandara. Di depan loket tertera rute yang dilalui LRT.  Nah, stasiun Cinde itu sebelum stasiun Ampera. Stasiun Ampera terletak di dekat jembatan Ampera yang terkenal di atas Sungai Musi.

Lima belas menit menunggu akhirnya kereta pun datang. Gerbong kereta ada tiga buah. Saya naik gerbong yang pertama.

Penumpang tidak banyak saat itu. Memang saya dengar okupansi LRT masih rendah sehingga pemasukan LRT dari penumpang belum mampu menutupi biaya operasional. LRT masih disubsidi oleh Pemerintah.

Kereta LRT berangkat tepat waktu. Hmm…omong-omong tentang kereta bandara, kita sudah memiliki beberapa bandara yang terhubung dengan kereta api. Bandara pertama yang memiliki kereta bandara adalah Bandara Kualanamu, kedua Bandara Minangkabau (baca: Mencoba Kereta Bandara Minangkabau, Padang), baru kemudian bandara SMD Palembang. Bandara lain yang sudah memiliki kereta bandara adalah Bandara Soekarno-Hatta dan bandara YIA Yogyakarta.

Kereta melewati beberapa stasiun seperti stasiun Asrama Haji, stasiun Punti Kayu, RSUD, Garuda Dempo, Demang, Bumi Sriwijaya, Dishub, dan stasiun Cinde. Laju kereta memang tidak terlalu cepat. Setiap stasiun memiliki bentuk bangunan yang mirip. Karena jalur LRT adalah jalur layang, maka kita perlu naik turun lift atau eskalator ke atas stasiun.

Sayang sekali stasiun Cinde terletak sebelum jembatan Ampera. Kalau nggak, saya kan bisa merasakan LRT yang melewati jalur di atas Sungai Musi seperti foto di bawah ini. Jalur LRT di atas Sungai Musi berdampingan dengan Jembatan Ampera.

Mungkin pemandangan yang sangat menarik melihat kesibukan Pasdar 16 Ilir yang terletak di pinggir Sungai Musi dari atas LRT.  Ya, hampir semua aktivitas kota Palembang memang terpusat di sekitar Sungai Musi dan Jembatan Ampera.

Bersukurlah warga Palembang memiliki sarana transportasi modern yang tidak dimiliki kota-kota lain di Indonesia. Berkah Asian Games tahun 2018.

Written by rinaldimunir

January 9th, 2020 at 4:56 pm

Posted in Cerita perjalanan

Sholat Jumat di Masjid Jogokariyan

without comments

Sewaktu berada di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu, saya sudah meniatkan diri untuk sholat Jumat di Masjid Jogokariyan, sebuah masjid bersejarah di Yogyakarta. Kebetulan saya check-out hotel jam 12.00, jadi waktunya pas dengan jadwal sholat Jumat. Dari hotel tempat saya menginap di Jalan Gowongan Kidul, Malioboro, saya naik Gojek ke masjid tersebut.

Sudah lama saya mendengar cerita tentang manajemen masjid Jogokariyan, masjid kampung yang mendunia. Sejarah masjid ini dapat anda baca pada laman Wikipedia ini.  Masjid Jogokariyan memiliki manajemen yang luar biasa, sila baca pada situs webnya. Masjid Jogokariyan tidak hanya sekadar masjid tempat sholat, tetapi sekaligus menjadikannya sebagai pusat peradaban.

Deretan keistimewaan masjid Jogokariyan misalnya mengundang jamaah sholat ke masjid dengan cara berbeda, gerakan infak yag selalu tersisa nol rupiah, gerakan jamaah mandiri (selengkap baca di sini:  Deretan Keistimewaan Masjid Jogokariyan di Yogyakarta). Di masjid ini sandal hilang atau bahkan kendaraan yang hilang saja diganti. Banyak lagi deh cerita-cerita unik tentang masjid ini (Baca ini: 4 Alasan Mendatangi Masjid Jogokariyan Jogja Saat Ramadhan, yang ini:  Kisah Masjid dan Jamaah Jogokariyan Melayani Peserta Muslim United, atau yang ini:  Geliat dakwah Masjid Jogokariyan di kampung komunis).

Banyaknya cerita unik dan tayangan menarik tentang masjid ini membuat saya semakin penasaran. Oleh karena itulah ketika saya di Yogyakarta dan jadwal kereta saya ke Bandung waktunya masih lama (malam hari), maka saya sempatkan ke sana.

Setelah mutar-mutar naik Gojek, sampailah saya di kampung Jogokariyan. Kampung Jogokariyan terletak di arah Jalan Parangtritis, Nah, di perempatan kampung itulah terletak masjid Jogokariyan yang berwarna hijau. Waktu sholat Jumat lima bels menit lagi, saya berfoto dulu di depan masjid.

Di halaman masjid sudah teratata rapi ratusan nasi bungkus, gelas-gelas air minum dan botol-botol air minum mineral. Makanan dan minuman itu disediakan oleh masjid bagi jamaah usai sholat Jum’at nanti, atau bagi siapapun yang lewat di sana.

Semakin mendekati waktu sholat Jumat, masjid semakin ramai dengan jamaah hingga meluber ke halaman. Jamaah sholat Jumat tidak hanya warga sekitar, tetapi juga wisatawan atau pendatang seperti saya yang sama-sama ingin mencoba sholat di masjid yang terkenal ini. Saya tahu hal itu sebab setelah selesai sholat Jumat banyak orang berfoto-foto di depan nama masjid ini.

Sholat Jumat berlangsung seperti biasa. Khotib sholat Jumat mengangkat topik tentang makanan halal dan haram. Khatib menyoroti maraknya kedai-kedai makanan di Yogyakarta yang menjual menu daging anjing, jamaah diminta untuk mewaspadai makanan yang diharamkan agama itu (anjing adalah hewan carnivora sehingga termasuk makanan yang diharamkan di dalam Islam).

Usai sholat Jum’at nasi bungkus yang telah telah disediakan tadi dibagikan kepada para jamaah. Tidak usah khawatir, semua orang akan kebagian. Sayapun mendapat satu bungkus nasi. Ini nasi barokah, sebab ia adalah sedekah ikhlas dari hamba Allah. Jamaah termasuk saya makan bersama di teras masjid. Alangkah nikmatnya makan bersama-sama ya.

Nasi bungkus habis saya makan. Menunya sederhana saja. Nasi dan lauk berupa telur bacem dan bihun goreng bumbu kecap. Heran juga saya bisa menghabiskannya, sebab saya sangat sulit makan dengan lauk yang rasanya manis. Maklum selera saya masih selera Minang yang pedas, masih sukar menerima masakan yang manis meski sudah bertahun-tahun merantau di tanah Jawa.

Setiap orang makan dengan tertib, tidak ada makanan yang tersisa, tidak ada sampah-sampah bekas makanan yang terserak. Jamaah dengan tertib membuang sampah di tempat yang telah disediakan. Sambil makan jamaah bercakap-cakap dengan jamaah lain. Ibu-ibu yang tidak ikut sholat Jumat datang belakangan lalu menunaikan sholat Dhuhur di masjid, selanjutnya ikut makan nasi bungkus. Nasi bungkus sepertinya tidak pernah kurang.

Alhamdulillah, akhirnya niat saya untuk sholat di Masjid Jogokariyan kesampaian juga. Terima kasih ya Allah.

Written by rinaldimunir

January 3rd, 2020 at 11:36 am

Bangkok Halal 4D3N

without comments

Bangkok adalah tujuan wisata yang sudah mainstream. Wisata belanja, wisata kuliner, atau menyusuri sungai Chao Praya, adalah beberapa tujuan orang berwisata ke Bangkok. Saya sendiri sudah pernah sekali pergi ke kota Bangkok dalam rangka mengikuti konferensi ilmiah. Tahun ini saya kembali mengunjungi Bangkok dalam perhelatan yang serupa, yaitu mempresentaskan paper hasil penelitian di sebuah konferensi di kampus Thai-Nichi Institute of Technology (TNI), sebuah perguruan tinggi swasta di Thailand. Selama 4 hari 3 malam (4D3N) saya berada di Bangkok.

Gerbang kampus Thai-Nichi Institute of Technology

Kota Bangkok tidak jauh beda dengan kota Jakarta dalam hal juara macet dan keramaian pedagang kaki lima. Bedanya, kota Bangkok lebih teratur dan lebih tertib daripada Jakarta. Baik siang maupun malam lalu lintas di pusat kota Bangkok sangat padat, apaklagi saat jam pulang kerja adalah saat rush hour, bisa berjam-jam terjebak kemacetan.

Rush hour di kota Bangkok

Thailand adalah negara dengan penduduk mayoritas beragama Budha.  Orang Thai sangat menghormati para bhiksu, sama seperti orang kita yang sangat menghormati ulama, kyai atau ajengan. Setiap pagi terlihat bhiksu berjalan kaki di kota Bangkok. Warga memberikan sedekah makanan kepada bhiksu yang lewat, memasukkannya ke dalam panci yang dililit di pinggang bhiksu. Bhiksu kemudian menuangkan air suci ke dalam wadah yang disediakan di atas tanah, lalu mendoakan umatnya. Warga berlutut, melepaskan alas kaki, lalu mensedekapkan kedua tangan, ikut berdoa.  Sebuah harmoni pagi di kota Bangkok yang saya saksikan di dekat hotel tempat saya menginap.

Warga Thai sedang berdoa dengan dibimbing oleh bhiksu

Meski Thailand adalah negara dengan mayoritas penduduk beragama Budha, lalu apakah sulit mencari makanan halal di Bangkok? Ternyata mencari makanan halal di Bangkok  tidak sulit. Makanan jalanan (street food) di kota Bangkok tersedia beraneka ragam, ada yang halal dan tidak halal.

Untuk memastikan anda membeli makanan yang halal, maka kedai-kedai makanan halal memasang tulisan Halal Food, Muslim Food, atau kata halal dalam aksara Arab. Pedagangnya adalah orang Pattani dari Thailand Selatan. Pattani adalah wilayah muslim di perbatasan Thailand dengan Malaysia, penduduknya beretnis melayu. Kota Bangkok sendiri banyak terdapat kantong-kantong pemukiman muslim dari Pattani, perkampungan Jawa, dan etnis muslim lain yang telah berasimilasi menjadi warga Thailand. Saya menemukan cukup banyak masjid di pinggir jalan. Perempuan berkerudunng mudah ditemui lalu lalang di keramaian. Di kampus Tha-Nichi saya melihat mahasiswi yang memakai jilbab, begitu juga anak-anak sekolah yang memakai busana muslimah berbau dengan siswa lainnya.

Label halal di sebuah kedai makanan di kawasan Ratchathewi

Muslim food

Jika sudah ada tulisan halal di kedai makanan, maka tenanglah kita makan di sana. Bermacam-macam kuliner yang menggugah selera ada kedai itu, misalnya nasi goreng tom yam, phad thai, som tam, dan lain-lain. Makanan-makanan itu bisa dikombinasikan, misalnya som tam dengan nasi goreng, mie rebus dengan tom yam, dan sebagainya. Pedagan langsung memasaknya di depan kita.

Seafood dan nasi goreng tom yam

Terbit air liur dibuatnya

Di kawasan Pratunam, kira-kira 500 meter dari Kedubes RI di Bangkok, ada sebuah rumah makan melayu Pattani dengan nama restoran MAKAN. Ya Makan. Pemiliknya orang Pattani.  Saya diajak oleh Abdullah Zulkifli,  alumni Informatika ITB angkatan 1990 yang sekarang menjadi diplomat di Kedubes RI di Bangkok, makan malam di resoran Makan.  Cukup berbicara dengan bahasa Indonesia, karena pemilik dan pelayannnya mengerti bahasa Melayu. Kami memesan som tam, pad thai, ayam kukus daun pandan, dan ikan kembung bakar tetapi tanpa kulit.  Phad thai adalah semacam kwetiau namun terbuat dari tepung beras, sedangkan som tam adalah sayuran pedas dari pepaya muda. Ini favorit saya yang suka makanan pedas.

Phad thai

Som tam

Ayam dikukus dengan daun pandan

Saya bersama Abdullah Zulkifli di restoran Makan, Pratunam, Bangkok

Tentu saja menikmati makanan halal di Bangkok tidak lengkap tanpa menikmati jajanan yang sudah beken, yaitu makan nasi ketan dengan buah mangga manis (sticky rice mango), ketannya disiram kuah santan. Rasanya? Bukan enak lagi, sangat enak. Jenis mangganya juga beda. Kalau di kampung saya makan ketan itu dengan durian. Di Bandung sudah banyak yang menjual dessert ini, tetapi mangganya diganti dengan mangga harum manis.

Nasi ketan buah mangga

Jenis mangga yang digunakan

Saya menikmati nasi ketan mangga di kedai pinggir jalan, pedagangnya orang Pattani. Ada logo halal di gerobaknya. Saya merasa nyaman saja jika membeli makanan di kedai orang Pattani. Makanan halal itu selain sehat juga barokah.

Gerobak pedagang nasi ketan mangga

Thailand memang sangat peduli dengan konsep wisata halal. Pariwisata adalah industri yang menopang ekonomi Thailand. Mereka sadar wisatawan yang datang ke negaranya banyak berasal dari berbagai negara berpenduduk muslim, oleh karena itu mereka menyediakan tempat-tempat yang menjual makanan halal lengkap dengan label halalnya. Bahkan, industri makanan kemasan pun mendapat sertifikasi halal dari MUI Thailand. Jika kita berbelanja makanan kemasan di minimarket, maka untuk memastikan halal tidaknya makanan itu  cukup lihat label tulisan halal yang tertera di bagian belakang kemasan.

Tidak hanya makanan, Thailand pun menyediakan mushola di tempat-tempat umum, misalnya mushola di bandara Suvarnabhumi. Saat waktu maghrib datang, saya sholat di sebuah mushola di mal Platinum. Di mal Platinum yang megah ini terdapat mushola buat sholat, mushola terpisah untuk mushola pria dan mushola untuk wanita. Bangkok lho ini, bukan di Jakarta atau di tanah air. Saya teringat mal megah di Bandung yang musholanya terletak di basement yang pengap dan bersebelahan dengan toilet dan tempat parkir.

Mushoal untuk laki-laki di mal Platinum

Interior di dalam mushola

Thailand memang serius menggarap pangsa wisata dari negara-negara berpenduduk muslim. Mereka sediakan segalanya, termasuk wisata halal, tanpa menghilangkan identitas dan ciri khas mereka.

Written by rinaldimunir

December 27th, 2019 at 4:23 pm

Jalan-jalan ke Pulau Ayer

without comments

Mau jalan-jalan jauh ke tempat wisata di luar pulau saat ini terasa mahal akibat tiket pesawat yang naiknya nggak karu-karuan. Apa boleh buat, jalan-jalan ke tempat yang dekat saja. Kenapa tidak ke Kepulauan Seribu di DKI Jakarta? Dari Bandung cukup naik kereta api ke Jakarta, lalu dari Gambir bersambung naik bus ke Ancol. Tinggal menyeberang ke salah satu pulau di Kepulauan Seribu, maka nikmatilah pulau yang indah dengan pemandangan laut yang jernih dan udara yang masih bersih.

Fakultas saya mengadakan tur rekreasi ke Pulau Ayer di Kepulauan Seribu. Pulau Ayer adalah salah pulau tujuan wisata yang populer. Di pulau ini terdapat sebuah resort wisata yang dikelola oleh sebuah perusahaan swasta. Cottage-cottage bergaya etnik Papua terhampar di atas permukaan laut

69488552_2613851398682869_8861211929075515392_n

Pulau Ayer, foto dari atas drone (Credit photo by Arry Ahmad Arman)

Cottage-cottage apung bergaya etnik Papua di atas permukaan laut ((Credit photo by Arry Ahmad Arman)

Untuk pergi ke pulau ini kita dapat berangkat dari  Marina Ancol dengan waktu tempuh 30 menit menggunakan speedboat. Untunglah saat itu cuaca sangat bagus sehingga laut tidak terlalu bergelombang. Perjalanan ke Pulau Ayer berlangsung tanpa hambatan.

Pulau Ayer kecil saja. Meskipun demikian, pulau ini telah lama dijadikan tempat wisata dan rehat dari kesibukan ibukota. Dikutip dari laman Wikipedia, Pulau ini mulai dikunjungi sejak tahun 1950. Bahkan semasa hidupnya, mantan Presiden Sukarno menjadikan Pulau Ayer ini sebagai tempat peristirahatannya. Mantan Presiden Sukarno juga pernah mengajak mantan Presiden Tito dari Yugoslavia dan mantan Sekretaris Jenderal PBB, U Nu, berkunjung ke pulau ini. Meski pulau kecil, namun di sini terdapat sumber air tawar.

Pulau Ayer berpasir putih

Baru saja mendarat di Pulau Ayer, kita seakan-akan disambut oleh sekumpulan hewan baiawak. Biawak mirip dengan komodo, namun sebenarnya mereka spesies yang berbeda. Biawak di Pulau Ayer hidup di kolong-kolong dermaga. Petugas di Pulau Ayer menjaga biawak ini agar tidak berkeliaran ke tengah pulau. Hati-hati jangan terlalu mendekat ke biawak sebab jika terancam mereka melecutkan ekornya. Kata petugas pulau, lecutan ekor biawak  sangat pedih dan bisa menimbulkan luka yang dalam.

Biawak di Pulau Ayer

Mencoba berteman dengan biawak

Semua pantai di Pulau Ayer berpasir putih, namun butiran pasirnya tidak terlalu halus. Pohon-pohon besar nan rindang bertebaran di seluruh pulau. Beberapa pohon tergolong langka, seperti pohon beringin, pohon asam jawa, dan lain-lain. Angin sepoi-sepoi dari laut membuat kita terkantuk-kantuk saat tidur bermalas-malasan di tepi pantai. Sejenak melupakan rutinitas di kampus, merenung di pulau. Hmmm…sekarang ada program Dosen Merenung lho yang diluncurkan oleh Dikti. Namun bukan sembarang merenung atau melamun, tetapi dari merenung itu  harus bisa menghasilkan paper atau jurnal. Ah, nggaklah, saya ke sini bukan mau menulis paper, tetapi mau jalan-jalan saja bersama istri menikmati jauh dari keramaian, sekalian bulan madu kedua, hehehe.

Pantai Andoi

Santai sejenak di Pantai Andoi, Pulau Ayer

Tempat yang instagrammable untuk berfoto

Seperti yang saya ceritakan di atas, cottage-cottage di Pulau Ayer terletak di atas laut. Saat malam hari, terasa sekali ombak kecil beriak-riak di bawah kolong cottage. Ada sensasi tersendiri tidur di atas laut. Sekali-sekali saya terbangun dari tidur mendengar riak-riak ombak di kolong, seolah-olah ombak menggulung cottage. Ah, itu hanya pikiran aneh-aneh saja.

Cottage apung. Setiap cottage terhubung dengan jembatan

Pemandangan salah satu cottage

Saat malam hari

Andalan Pulau Ayer adalah pantainya dan cottage-cottage di atas laut. Bagi wisatawan yang senang memancing, pulau ini menyediakan tempat untuk memancing. Pulau Ayer dapat dikelilingi dalam waktu lima belas menit saja dengan berjalan kaki. Benar-benar pulau yang kecil ya. Tidak ada dataran tinggi atau bukit, datar saja.

Semalam di Pulau Ayer sudah cukuplah. Saatnya kembali ke keramaian dunia, kembali ke rutinitas harian di kampus Ganesha.

Written by rinaldimunir

December 12th, 2019 at 9:31 am

Posted in Cerita perjalanan

Perjalanan ke Kota Atambua dan Dili (Bagian 3 – Habis)

without comments

Woaaahhh….huff…selamat pagi Atambua! Pagi yang dingin sekali di Atambua. Setelah bermalam di hotel  (yang susah payah dicari semalaman untuk menemukan kamar yang kosong), saatnya sekarang berangkat ke Motaain. Jam 7 pagi kami memacu kendaraan kembali ke Motaain. Kenapa harus pagi-pagi, karena untuk urusan administrasi di perbatasan akan memakan waktu yang cukup lama, kira-kira satu jamlah, karena kita membawa kendaraan ke Timor Leste. Waktu satu jam itu sudah termasuk pemeriksaan di pintu perbatasan di sisi Timor Leste.

Di atas kendaraan yang dikendarai Daniel, saya mengamati lingkungan alam sekitar sepanjang perjalanan menuju Motaain. Adem sekali suasana di sisi kiri kanan jalan. Tidak banyak rumah saya lihat, hanya alam yang hening menyertai perjalanan. Satu hal yang paling menakjubkan bagi saya di tanah Timor adalah mataharinya. Matahari di sini bersinar sangat terang benderang bagaikan lampu sorot. Belum pernah saya lihat matahari seperti ini di Bandung atau di pulau Jawa. Begitu perkasa matahari di Pulau Timor. Matahari terlihat berukuran besar. Mungkin karena di Pulau Timor uap air sangat minim sehingga matahari bersinar tanpa ada penghalang. Langit terlihat super biru tanpa ada awan.

Kami berhenti sejenak di sebuah ketinggian. Dari sini tampakah negara Timor Leste. Itu negaranya, di balik bukit yang tampak di kejauhan. Tampak pula laut Timor secara samar-samar, seperti foto di bawah ini.

Dari kejauhan dibalik bukit itulah negara Timor Leste berada. Laut Timor tampak di kejauhan.

Jam 8.00 sampailah kami di pos perbatasan Motaain. Ternyata pintu pagar masih ditutup. Sebentar lagi kayaknya. Beberapa orang yang hendak menyeberang ke Timor Leste menunggu di luar seperti saya. Suasana di dekat pos perbatasan masih sepi.

Pintu perbatasan Motaain

Jalanan lengang di dekat pos perbatasan

Setelah menunggu selama setengah jam, pintu pagar pos perbatasanpun dibuka petugas. Kompleks pos perbatasan ini sangat luas. Di dalamnya banyak gedung baru dan terkesan megah.  Pemerintah Indonesia tampaknya membangun pos perbatasan laksana  bandara saja.

Berswafoto di dalam kompleks pos perbatasan

Bangunan di dalam kompleks pos perbatasan Motaain

Bagian informasi

Seperti halnya kalau kita mau pergi ke luar negeri, kita pun harus melewati pemeriksaan imgrasi. Dari Bandung saya memang sudah membawa paspor. Jadi, di sini kita mengisi kartu kedatangan lalu paspor kita dicap.

Pemeriksaan dokumen di imigrasi

Dalam sehari pos perbatasan Motaain melayani ratusan orang yang keluar masuk Indonesia dan Timor Leste. Mereka adalah para pelintas batas yang merupakan pedagang, pelajar, maupun penduduk lokal di kedua negara (maklum penduduk di masing-masing perbatasan masih bertalian darah). Untuk melintas batas kita harus membawa paspor dan membayar visa di pos Timor Leste.  Jenis visanya adalah Visa on Arrival yang biayanya  30 dollar. Sebaliknya, warga Timor Leste yang memasuki Indonesia tidak dikenai visa karena Indonesia menerapkan bebas visa untuk sejumlah negara termasuk Timor Leste.

Di ujung kompleks terdapat pos tentara Indonesia. Mereka berjaga-jaga di pintu keluar perbatasan mengamati orang-orang yang keluar masuk.

Pos tentara

Nah, di pintu keluar perbatasan terdapat sebuah jembatan. Jembatan ini menghubungkan tanah Timor Leste dan taah Indonesia. Sungai di bawah jembatan itulah yang memisahkan kedua negara. Uniknya, setengah dari jembatan itu dicat warna merah putih dan setengah lagi berwarna bendera Timor Leste. Di titik tengah jembatan itu terdapat  garis kuning yang menjadi batas kedua negara.

Jembatan yang menghubungkan tanah kedua negara

Setengah dari jembatan dicat warna merah putih dan setengah lagi berwarna bendera Timor Leste. Di titik tengah jembatan itulah garis batas kedua negara (garis kuning).

Saya melangkahkan kaki di garis kuning di atas jembatan ini. Satu kaki di tanah Indonesia, satu kaki lagi di Timor Leste.  Wah, berati satu kaki saya sudah memasuki wilayah negara lain.

Satu kaki di tanah Indonesia, satu kaki lagi di Timor Leste.

Setelah prosedur imigrasi dan bea cukai selesai, kendaraan kami melintasi jembatan itu. Akhirnya sampailah saya di negara Timor Leste meskipun baru di perbatasan saja. Selanjutnya kami memasuki pos perbatasan di sisi Timor Leste yang bernama Batugade. Tiba di sini semua tulisan sudah berganti dengan bahasa Porto, sudah hilang semua tulisan berbahasa Indonesia. Namun, sinyal Telkomsel masih terjangkau di sini, saya masih bisa berkirim kabar lewat Whatsapp dan meng-update status di Facebook.

Tanah Timor Leste diperbatasan

Selamat datang di Timor Leste

Pos perbatasan di Timor Leste bangunannya lebih sederhana dibandingkan pos di Motaain. Kesederhanaan itu mungkin mencerminkan negara Timor Leste yang taraf kehidupan rakyatnya yang masih bersahaja.

Tentara Timor Leste di depan pos perbatasan Batugade

Peta negara Timor Leste

Di pos Batugade kami melewati pemeriksaan imigrasi lagi dan membayar visa on arrival sebesar 30 dolar. Barang-barang kita diperiksa dan melewati detektor X-ray seperti halnya di bandara. Mobil dan isinya pun diperiksa.

Setelah beres pemeriksaan di pos Batugade, kendaraan kami meluncur keluar pos dan siap menuju kota Dili. Perjalanan dari pos perbatasan Batugade menuju kota Dili melewati pinggir pantai dengan pemandangan laut Timor yang indah. Perlu berhati-hati melewati ruas jalan karena di kirinya jurang yang dalam dengan laut di bawahnya. Hii..seram jika jatuh. Beberapa ruas jalan rusak parah, terutama beberapa ruas jalan peninggalan Indonesia, tetapi setelah melewati Liquica hingga Dili jalan aspal mulus. Dari pos perbatasan Baatugade kita akan melewati distrik Bobonaro dan Liquica sebelum sampai ke Dili.

Peta negara Timor Leste

Timor Leste adalah negara termiskin di dunia. Ngara ini tidak memiliki sumber daya alam kecuali hasil pertanian. Minyak di celah Timor belum dapat dinikmati negara Timor Leste.

Orang Timor Leste hidupnya sederhana, itu terlihat dari rumah-rumah mereka yang sederhana, sebagian masih rumah tradisionil beratap daun gowang.

Rumah-rumah tradisional beratap daun gowang sepanjang jalan di Bobonaro

Laut Timor menemani perjalanan menuju Dili

Seperti halnya di Atambua, matahari bersinar garang di bumi Lorosae. Matahari terlihat begitu besar dengan pancaran sinarnya yang menyala. Kami harus memburu waktu ke Dili karena kami harus bisa kembali ke pos perbatasan sebelum pukul 16.00 WITA (atau pukul 17.00 waktu Timor Leste. Waktu di Timor Leste mengikuti waktu WIT). Untuk mencapai kota Dili dari pos Batugade diperlukan waktu 2 hingga 3 jam dengan kendaraan.

Melewati jalan-jalan di Timor Leste maka kita dapat menyaksikan kehidupan penduduknya yang bersahaja. Anak-anak sekolah terlihat berjalan bersama-sama di pinggir jalan dengan riang gembira. Bangunan sekoalahnya seperti bangunan sekolah di kabupaten-kabupaten di Indonesia berupa bangunan memanjang. Bendera Timor Leste berkibar di rumah-rumah maupun sekolah. Tulisan-tulisan yang saya baca di pinggir jalan semuanya berbahasa Tetun atau bahasa Porto. Meskipun demikian, warga Timor Leste masih bisa berbahasa Indonesia.

Mereka memang miskin, tetapi seperti kata Pak Agustinus, warga Timor Leste tetap merasa bahagia dengan negara mereka yang sudah merdeka, tidak lagi dijajah oleh Indonesia.

Dikutip dari siniTimor Timur dijajah oleh Portugal pada abad ke-16, dan dikenal sebagai Timor Portugis sampai 28 November 1975, ketika Front Revolusi untuk Timor Leste Merdeka (FRETILIN) mengumumkan kemerdekaan wilayah tersebut. Sembilan hari kemudian, Indonesia melakukan invasi dan aneksasi terhadap Timor Timur dan Timor Timur dinyatakan sebagai provinsi ke-27 oleh Indonesia pada tahun berikutnya. Pendudukan Indonesia di Timor Timur ditandai oleh konflik yang sangat keras selama beberapa dasawarsa antara kelompok separatis (khususnya FRETILIN) dan militer Indonesia.

Pada tanggal 30 Agustus 1999, dalam sebuah referendum yang disponsori PBB, mayoritas rakyat Timor Timur memilih untuk lepas merdeka dari Indonesia. Segera setelah referendum, milisi anti-kemerdekaan Timor-Leste – yang diorganisir dan didukung oleh militer Indonesia – memulai kampanye militer bumi hangus. Milisi membunuh sekitar 1.400 rakyat Timor Timur dan dengan paksa mendorong 300.000 rakyat mengungsi ke Timor Barat. Mayoritas infrastruktur hancur dalam gerakan militer ini. Pada tanggal 20 September 1999, Angkatan Udara Internasional untuk Timor Timur (INTERFET) dikirim ke Timor Timur untuk mengakhiri kekerasan. Setelah masa transisi yang diorganisasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, Timor Timur diakui secara internasional sebagai negara dan secara resmi merdeka dari Indonesia pada tanggal 20 Mei 2002. Sebelumnya bernama Provinsi Timor Timur, ketika menjadi anggota PBB, mereka memutuskan untuk memakai nama Portugis “Timor Leste” sebagai nama resmi.

Memasuki pedalaman Bobonaro ada kejadian yang membuat muka kami agak  pucat dan berasa khawatir. Jalan-jalan di Timor Leste lengang dari kendaraan, hanya satu dua kendaraan yang melintas. Justru yang sering melintas adalah ternak seperti kambing dan babi. Daniel mengemudikan mobil cukup ngebut karena mengejar waktu ke Dili. Tanpa disadari seekor babi melintas menyeberang jalan dan kecelakaan pun tidak terhindarkan. Mobil melindas babi itu. Mati. Warga sekitar berlarian ke arah babi untuk melihat babi yang sekarat.

Mobil kami pun berhenti. Pak Agustinus dan Daniel berjalan menghampiri warga. Untungnya Pak Agustinus yang memang berasal dari Timor Leste dapat berbicara dengan bahasa Tetun. Dia berbicara kepada warga dan meminta maaf telah menabrak babi hingga tewas. Warga tampak mengerti karena babi memang sering lalu lalang menyeberang jalan. Kami mengganti harga babi yang mati itu dengan uang 100 dolar. Wah, menurut saya mereka “beruntung” sebab daging babi bisa mereka makan dan dapat uang 100 dolar pula. ?

Kami mengisi dulu di pom bensin di Bobonaro. Di pos bensin ini terdapat minimarket yang menjual berbagai makanan, sabun, sahampo, rokok, tidak ketinggalan bir dan wine. Ini wine impor dari Australia dan Portugis. Banyak dari barang yang dijual di sana berasal dari Indonesia. Timor Leste memang masih bergantung kepada Indonesia untuk barang-barang kebutuhan sehari-hari.

Pom bensin di Bobonaro

Ups…rumah makan Jawa Timur di dalam pom bensin

Pukul 13.00 siang akhirnya kami memasuki kota Dili. Karena waktu yang terbatas, maka kami hanya mengunjungi istana Perdana Menteri yang dulu pernah menjadi Kantor Gubernur Timor Timur. Istana yang cantik bekas peninggalan Portugis.

Welfie di sini

Pelabuhan Dili terhampar di seberang istana Perdana Menteri. Sebuah plaza di pinggir pantai menjadi tempat yang bagus untuk berjalan kaki menikmati laut dan kal-kapal yang berlabuh. Hmmm…saya membayangkan sore hari waktu yang pas untuk duduk-duduk di sini. Dua orang anak menghampiri saya menawarkan buah mangga yang telah dipotong-potong. Satu dolar saja, kata anak-anak itu. Tetapi saya tidak membawa uang dolar, jadi saya tidak bisa membelinya. Rupiah tentu tidak laku di sana.

Pelabuhan Dili di seberang istana

Pelabuhan Dili

Anak penjual mangga di pantai Dili. Mau beli, tapi uang rupiah tidak laku. 
Mereka cuma bisa bertransaksi menggunakan USD (Credit photo by Tutun Juhana)

Kami tidak bisa berlama-lama di Dili karena harus mengejar waktu kembali ke pos perbatasan di Batugade. Jika kami terlambat sampai ke pos perbatasan, pintu ditutup sehingga kami tidak bisa kembali ke Atambua hari itu, terpaksa harus kembali lagi ke Dili. Jadi, rencana melihat patung Yesus raksasa, rumah uskup Bello, rumah Xanana Gusmao pun tidak kesampaian. Bahkan rencana saya untuk shlat Dhuhud di Masjid An-Nur Dili pun tidak sempat karena waktu yang kasip. Secara berkelakar teman saya berkata kita nanti melewati rumah Raul Lemos, suami penyanyi Krisdayanti.

Beberapa foto yang saya abadikan merekam suasana kota Dili dan aktivitas pasar yang masih tradisionil.

Pasar kakilima

Angkot

Universitas Nasional Timor Lorosae

Demikianlah kunjungan singkat saya yang hanya satu jam berada di kota Dili. Benar-benar singkat dan belum bisa mengeksplorasi lebih jauh tempat-tempat menarik di Dili. Mungkin nanti jika ada kesempatan saya kembali lagi ke Dili.

Written by rinaldimunir

July 26th, 2019 at 4:24 pm

Posted in Cerita perjalanan

Perjalanan ke Kota Atambua dan Dili (Bagian 2)

without comments

Kami sampai pintu perbatasan di Motaain pukul 16.00. Yah, sudah tutup, tidak bisa menyeberang ke Timor Leste hari ini. Padahal kami ingin bermalam di kota Dili lalu melihat sunrise di Bumi Lorosae itu. Meskipun agak kecewa, kami berbalik kembali ke Atambua. Sebelum balik kami melapor terlebih dahulu di Polres Belu Sektor Motaain untuk menitipkan STNK mobil.

Perjalanan kembali ke Atambua tidak melewati jalan semula, tetapi melewati jalur jalan di pinggir pantai. Kami menikmati pantai Motaain di perbatasan Kabupaten  Belu dengan Timor Leste. Pantai yang sepi berpadu dengan langit biru yang super bersih tanpa awan dan polusi. Jika berjalan terus menyusuri pantai ke arah timur mungkin kita sampai ke kota Dili.

Pantai Motaain

Jalan aspal dari pinggir pantai menuju Atambua sepi dari kendaraan. Namun yang membanggakan adalah hampir semua jalan di Pulau Timor beraspal mulus. Melintasi jalan raya di sini kala sore dan pagi hari kita disuguhi pemandangan khas Pulau Timor yaitu bukit-bukit gersang berwarna kemerahan dengan tanaman perdu yang tumbuh di atasnya.

Jalan beraspal mulus di Kabupaten Belu

Setelah beristirahat di pantai Motaain, kami meneruskan perjalanan ke arah Atambua. Di tengah perjalanan kami melintasi pelabuhan Atapupu. Ini adalah pelabuhan antar pulau di Kabupaten Belu. Barang-barang kebutuhan di Atambua (termasuk untuk Timor Leste) diangkut dari Surabaya ke pelabuhan ini.

Pelabuhan Atapupu

Sore itu tampak langit di Pulau Timor benar-benar biru bersih tanpa awan. Matahari bersinar dengan perkasa. Sebuah kapal sedang memuat sapi dan rumput. Sapi-api itu itu akan dikirim ke Kalimantan untuk Hari Raya Idul Adha nanti.

Sebuah kapal bersandar di Pelabuhan Ataupu

Pelabuhan Atapupu yang hening dengan laut yang sangat bersih

Hari sudah benar-benar sore. Sebelum masuk ke Atambua, singgahlah kami terlebih dahulu di bendungan Rotiklot Kabupaten Belu yang diresmikan presiden beberapa waktu yg lalu. Bendungannya belum berisi air dan saat itu pengunjung masih dilarang masuk. Matahari terlihat menuju peraduannya dikala sunse. Benar-benar pemandangan sore yang menawan di negeri yang hening.

Pintu masuk ke bendungan Rotiklot

Akhirnya kami sampai kembali ke kota Atambua. Ada beberapa hotel di kota ini, baik kelas melati maupun hotel bintang dua. Kami agak kesulitan mencari kamar hotel yang kosong malam itu. Hampir semua hotel penuh. Maklum ini hari Sabtu. Pada akhir pekan banyak warga Timor Leste datang ke Atambua dan mereka menginap di hotel-hotel itu. Mereka pergi ke Atambua selain untuk menengok saudaranya (maklum orang Timor Leste masih bertalian darah dengan orang Timor bagian barat), mereka umumnya memborong barang kebutuhan sehari-hari di Atambua. Barang-barang di Atambua lebih murah dibandingkan dengan harga di Dili. Warga Timor Leste membawa uangnya dalam bentuk dollar Amerika (mata uang imor Leste adalah US $), ketika di-kurs ke rupiah di Atambua nilainya jadi besar. (BERSAMBUNG)

Written by rinaldimunir

July 25th, 2019 at 2:03 pm

Posted in Cerita perjalanan

Perjalanan ke Kota Atambua (NTT) dan Dili (Timor Leste) – Bagian 1

without comments

Mengunjungi kota Dili di Timor Leste tidak pernah terpikirkan oleh saya. Mungkin Dili tidak termasuk dalam daftar kota yang akan saya kunjungi. Namun, ketika saya mengadakan kunjungan ke kota Kupang dalam rangka penelitian dengan Politeknik Negeri Kupang, teman di sana menawarkan jalan-jalan ke kota Dili. Wah, kenapa tidak, pikir saya. Kapan lagi punya kesempatan mengunjungi bekas ibukota Propinsi Timor Timur yang sekarang menjadi ibukota negara Timor Leste itu?

Perjalanan ke Dili dari Kupang melalui kota perbatasan di NTT yang bernama kota Atambua. Tulisan pertama ini menceritakan perjalanan saya dari kota Kupang menuju kota Atambua.

Saya tiba di kota Kupang pukul 21.30 WITA setelah menempuh perjalanan panjang dengan pesawat Garuda dari Bandara Soekarno-Hatta dan transit di Surabaya. Daniel Bataona, dosen Poltek Kupang menjemput kami di Bandara Eltari. Bandara ini sedang dibangun bertingkat dan akan menjadi bandara yang megah. Kupang dan NTT mulai menjadi tujuan menarik wisatawan baik wisatawan asing maupun wisatawan lokal. Alam NTT yang unik adalah daya tarik tersendiri. Mengunjungi Kupang tahun ini adalah kunjungan saya kedua kalinya setelah kunjungan pertama pada tahun yang lalu untuk urusan yang sama (Baca: Berkunjung ke Kota Kupang).

Pagi hari pukul 7.00 setelah istirahat semalam di hotel Neo dekat bandara, kami memulai perjalanan menuju kota Atambua dan Dili. Seorang pegawai Poltek Kupang bernama Pak Agustinus akan ikut menemani kami hingga ke Dili. Pak Agustinus adalah orang asli Timor Leste. Dia termasuk warga Timor Timur yang pro integrasi saat jajak pendapat tahun 1999 dan memilih bergabung dengan Indonesia. Banyak juga orang Timor Timur yang tidak mau kembali ke kampung halamannya dan memilih tinggal di Pulau Timor bagian wilayah Indonesia.

Perjalanan dari Kupang ke Atambua menempuh waktu 6 jam dengan mobil. Wah, lama juga ya. Sebenarnya kita bisa pergi ke sana lewat udara. Dari Kupang ke Atambua ada dua kali penerbangan setiap hari yang dilayani oleh Wings Air. Tetapi saya memilih lewat darat supaya dapat melihat pemandangan alam Pulau Timor dan kehidupan masyarakatnya yang bersahaja. Bulan Juli hingga September adalah waktu yang tepat untuk mengunjung Pulau Timor karena cuaca sangat cerah. Matahari bersinar terang dan langit biru bersih tanpa awan.

Kami keluar kota Kupang dan sekarang memasuki Kabupaten Kupang.  Ketika sampai di Oesao, kami berhenti sebentar untuk membeli jajanan khas yaitu kue cucur. Sebenarnya ingin berhenti di kedai jagung pulut yang pernah saya singgahi tahun lalu (Baca: Berkunjung ke Kota Kupang), tapi pagi itu mungkin jagung pulut yang khas Oesao belum tersedia. Di depan warung kue cucur berhenti sebuah minibus yang hendak menuju kota Kefamananu di pedalaman di Pulau Timor. Bus-bus antar kota di Kupang tidak ada yang besar, umumnya berukuran minibus.  Seorang pemuda Pulau Timor dan lelaki tua dengan kain tenun ikat berdiri di depan bus.  Wajah-wajah orang Timor itu umumnya khas seperti pada foto ini. Berambut ikal, hidung mancung, kulit agak kehitaman, dan mata agak ke dalam. Inilah Indonesia yang multi etnis dan multi kultural.

Minibus yang membawa sebuah sepeda motor di belakangnya.

Pemandangan sepanjang jalan sungguh indah. Pohon-pohon sepe dan pohon jati berbaris sepanjang jalan. Alam pulau Timor tidaklah segersang yang kita kira. Jalanan menaik dan menurun mendaki dan menuruni bukit.  Bukit-bukit hijau berdiri memagar.

Kami telah keluar Kabupaten Kupang dan sekarang akan memasuki Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Kami berhenti di desa Takari. Di pinggir jalan terlihat sebuah pemandangan alam yang mempesona. Sebuah lembah dengan sungai yang  hampir mengering dan bukit kapur terlihat sangat mempesona. Swafoto dulu ah…

Numpang foto di Takari, Kab TTS.

Di Takari kita melewati sebuah jembatan yang panjang bernama jemnbatan Noelmina (saya kira jembatan Wilhelmina :-). Jembatan ini menghubungkan Kabupaten Kupang dengan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Sebuah tugu dengan tiga jari tegak dan dua jari membentuk huruf O menyambut kami. Hmmm…apa ya makna susunan jari seperti itu?

Jembatan Noelmina

Tugu perbatasan Kabupaten Kupang dengan Kabupaten TTS

Setelah dua jam perjalanan kami memasuki kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Kota Kefamenanu, atau kota Kefa saja adalah ibukota Kabupaten TTU. Kami berhenti di sini untuk mengisi bensin. Sebuah gereja cantik bernama Gereja Masehi Injili di tanah Timor berdiri dengan megah. Penduduk Pulau Timor mayoritas beragama Katolik (55,39%) dan Kristen Protestan (34,32%). Penduduk beragama Islam sekitar 9.05%, sisanya agama lain dan kepercayaan lokal seperti Marapu (Sumber: NTT   di Wikipedia). NTT adalah propinsi dengan kerukunan beragama yang baik. Dua kali saya berkunjung ke Timor saya melihat masjid dan gereja mudah ditemukan. Perempuan berkerdudung banyak ditemukan di pasar-pasar bahkan hingga di kota pedalaman.

Jalanan di kota Kefamenanu

Gereja Masehi Injili di Timor

Kami memasuki hutan Jati di luar kota Kefa. Di pinggir hutan berdiri pondok-pondok yang menjual jambu biji dan jeruk lokal yang warnanya menggoda. Jeruk-jeruk diatur dalam tumpukan piring sehingga terlihat menarik. Rasa jeruknya agak asam, tapi lumayan memberikan kesegaran pada siang hari yang terik.

Jeruk lokal Kefa

Perjalanan ke Atambua masih jauh, sekitar 2 jam lagi. Terus terang saya merasa pusing dan mual selama perjalanan karena jalanan yang berbelok-belok. Ya, kita naik dan turun melingkar bukit sehingga isi perut serasa dikocok-kocok. Saya lebih banyak diam dan berbaring karena merasa mau muntah. Untung tidak jadi muntah karena makan jeruk lokal tadi. Nggak nyambung ya?

Pukul 13 siang kami memasuki kota Atambua. Gapura gerbang kota Atambua menyambut kami. Sepanjang jalan memasuki kota Atambua dipenuhi hutan jati. Pohon jati milik Pemerintah, sebagian lagi milik misi (organisisasi Katolik). Pohon jati di sini ditanam sejak zaman Belanda. Pohonnya tidak pernah ditebang-tebang, dibiarkan begitu saja. Pohon jatinya besar-beasar lho. Hmmmm…kalau dijual di Pulau Jawa harganya tentu selangit. Tapi pohon jati di sini tidak boleh ditebang, barang siapa yang menebang akan ditangkap polisi.

Gerbang kota Atambua. Ini difoto kala pulang dari sana (sore hari)

Hutan jati sepanjang jalan memasuki kota Atambua

Hutan jati

Berfoto bersama pak Agustinus, orang asli Timor Leste, yang menjadi guide kami ke Dili

Alhamdulillah, sampailah kami ke pusat kota Atambua. Perut sudah lapar nih. Kami pun berhenti di rumah makan padang.  Hehehe…kemanapun pergi, tetap makannya di rumah makan padang. Ada tiga sampai empat rumah makan Padang di kota Atambua. Ternyata cukup banyak juga perantau Minang di kota perbatasan dengan Timor Leste ini. Pemilik rumah makan yang saya singgahi ini adalah perantau dari Pariaman. Katanya ada sekitar 80 KK warga perantau Minang di sana. Banyak juga ya. Oh ya, selain rumah makanan padang, mencari makanan halal di Atambua  tidak sulit. Ada juga rumah makan Jawa Timur dengan soto ayamnya.

Rumah makan Padang Raya di tengah kota Atambua

atambua adalah ibukota Kabupaten Belu. Kota Atambua kecil saja. Tapi inilah kota perbatasan ke Timor Leste. Jam 19.00 malam kota ini udah sepi, toko-toko sudah tutup. Masjid dan gereja berdiri berdampingan. Di tengah kota terdapat gereja katedral dan masjid raya Al-Mujahidin. Saya sholat jamak Dhuhur dan Ashar di sana. Teman saya, Daniel dan Agustinus menunggu di halaman masjid.

 

Masjid Raya Mujahidin di Atambua

Selesai makan kami mengejar waktu untuk memasuki pintu perbatasan ke Timor Leste di Motaain. Tapi karena kami membawa mobil selama di Timor Leste, maka kami harus mengurus surat izin bea cukai terlebih dahulu di kantor bea cukai Atambua. Kantor bea cukai ini terletak setelah bandara Atambua dan taman makam pahlawan Seroja. Di sini dimakamkan tentara dan pejuang RI yang gugur di Timor Timur.  Oh ya, di kantor bea cukai ini juga terdapat kantor imigrasi di lantai dua.

Nampang di taman makam pahlawan Seroja

Taman makam pahlawan Seroja

Petugas bea cukai masih muda-muda. Mereka umumnya adalah lulusan STAN di Jakarta. Mereka adalah pegawai Kementerian Keuangan RI. Pegawai bea cukai ramah-ramah. Mereka menanyakan surat-surat kendaraan, setelah itu dilanjutkan dengan memeriksa fisik kendaraan.

Mengurus surat izin kendaraan di kantor Bea Cukai

Kantor bea cukai

Cukup lama juga kami mengurus suart-surat kendaran di kantor bea cukai Atambua. Hari sudah menunjukkan pukul 15.30, setengah jam lagi pintu perbatasan RI-Timor Leste di Motaain akan tutup. Pintu perbatasan dibuka pukul 8.00 pagi hingga pukul 16.00 WITA, setelah itu tutup dan jika terlambat maka kita harus menunggu keesokan harinya. Hmmm…apakah kami bisa terkejar waktunya ke Motaain yang jaraknya 10 km dari kantor bea cukai? (BERSAMBUNG)

Written by rinaldimunir

July 23rd, 2019 at 5:11 pm

Posted in Cerita perjalanan

Menaiki Puncak Menara Petronas

without comments

Menara kembar Petronas di Kuala Lumpur (KL) termasuk salah satu bangunan menara tertinggi di dunia. Wisatawan yang mengunjungi KL dipastikan mampir ke menara ini, sekedar melihat-lihat atau berfoto di bawahnya.

Kalau cuma jalan-jalan dan melihat-lihat di bawah menara saja itu sudah biasa, namun naik ke puncaknya tentu pengalaman berbeda. Ada rasa penasaran seperti apa berada di puncak menara yang tingginya 452 meter itu?

Sewaktu mengikuti konferensi internasional di KL beberapa bulan lalu, saya dan teman rehat sejenak mengunjungi Menara Petronas (MP). Sore itu taman di sekitar MP ramai dengan turis mancanegara, kebanyakan turis dari Cina dan India. Memotret menara ini dari bawah dengan kamera ponsel memang hasilnya kurang memuaskan, tidak keseluruhan menara dapat tertangkap di layar. Beberapa pedagang kaki lima, orang KL, menawarkan lensa tambahan sehingga dapat menangkap citra menara dengan jelas.

Menara kembar Petronas. Antara kedua menara dihubungkan dengan jembatan. Kami akan naik ke atas menara itu.

Setelah berjalan-jalan di mal Suria KLCC, yang terletak di bawah menara, waktunya sekarang untuk menaiki menara ini. Kami turun ke lantai dasar Suria KLCC untuk membeli tiket naik menara. Tiket naik menara lumayan mahal bagi orang asing, yaitu 80 ringgit atau kalau dirupiahkan Rp280.000. Namun bagi lansia (usia 57 tahun ke atas) hanya dikenakan 42 ringgit saja. Bagi warga lokal harga tiketnya  lebih murah, hanya 30 ringgit saja.

Tiket naik menara

Kami mendapat jam naik ke menara pukul 17.00. Untuk naik menara ini memang perlu antri, hanya satu rombongan setiap kali naik. Satu rombongan terdiri dari 20-25 orang. Sebelum naik menara ini kita difoto di lantai dasar  fotonya dijual nanti di lantai 83.

Tidak boleh bawa minuman ke atas menara ini, seperti naik pesawat saja. Semua tas ransel dan minuman harus dititipkan di lantai dasar. Total waktu kunjungan ke atas menara per grup adalah 45 menit.

Jam 17.00 kami mulai naik ke atas menara menggunakan lift. Perhentian pertama kali adalah di lantai 41. Di lantai inilah terdapat jembatan yang menghubungkan kedua menara kembar. Saya berjalan di atas jembatan ini agak merasa gamang ketika melihat ke bawah. Hiiii…pada dasarnya saya orang yang takut dengan ketinggian.

Pintu menuju jembatan yang terletak 170 meter di atas permukaan bumi

Jembatan di lantai 41

Pemandangan dari atas jembatan dan lantai 41 sangat mengagumkan. Kita dapat melihat kota Kuala Lumpur yang penuh dengan gedung-gedung pencakar langit. Foto-foto di bawah ini memperlihatkan beberapa sudut foto yang saya ambil dari atas jembatan lantai 41.

Di lantai 41 rombongan hanya boleh berada selama 20 menit saja. Setelah puas berfoto-foto, kita naik lift lagi menuju lantai 83. Di lantai 83 ini dijual berbagai souvenir tentang Menara Petronas, termasuk foto kita yang tadi dipotret di lantai dasar.  Harga fotonya bikin kita tidak mau beli, 130 ringgit! Kali saja dengan Rp3600, mendingan saya beli laksa johor dan teh tarik bergelas-gelas di Suria KLCC. Kalau tidak ada yang mau membeli, maka foto-foto itu mungkin dimusnahkan, barangkali.

Dari lantai 83, kita naik lift lagi ke lantai paling tinggi yang boleh dinaiki, yaitu lantai 86 dari 88 lantai Gedung Petronas (dua lantai paling atas untuk maintenance). Kita hanya boleh sampai di sini saja. Pemandangan dari lantai 88 lebih spektakuler dari lantai 41. Ini berarti kita sudah berada di ketinggian 425 meter dari permukaan tanah. Ngeri? Ya, sebenarnya saya phobia dengan ketinggian, melihat ke bawah merasa takut. Di bawah ini foto-foto dari lantai 88.

Di lantai 88 ini dipajang foto Mahathir Muhammad. Mahathir yang menginspirasi Malaysia, pantaslah dia menjadi Bapak Malaysia.

Setelah 45 menit mengunjungi lantai 41, 83, dan lantai 88 menara, kami pun disuruh turun kembali. Delapan puluh ringgit harga yang harus dibayar untuk menikmati pemandangan dari Menara Petronas. Lumayanlah. Mengobati rasa penasaran.

Written by rinaldimunir

February 11th, 2019 at 5:19 pm

Menaiki Puncak Menara Petronas

without comments

Menara kembar Petronas di Kuala Lumpur (KL) termasuk salah satu bangunan menara tertinggi di dunia. Wisatawan yang mengunjungi KL dipastikan mampir ke menara ini, sekedar melihat-lihat atau berfoto di bawahnya.

Kalau cuma jalan-jalan dan melihat-lihat di bawah menara saja itu sudah biasa, namun naik ke puncaknya tentu pengalaman berbeda. Ada rasa penasaran seperti apa berada di puncak menara yang tingginya 452 meter itu?

Sewaktu mengikuti konferensi internasional di KL beberapa bulan lalu, saya dan teman rehat sejenak mengunjungi Menara Petronas (MP). Sore itu taman di sekitar MP ramai dengan turis mancanegara, kebanyakan turis dari Cina dan India. Memotret menara ini dari bawah dengan kamera ponsel memang hasilnya kurang memuaskan, tidak keseluruhan menara dapat tertangkap di layar. Beberapa pedagang kaki lima, orang KL, menawarkan lensa tambahan sehingga dapat menangkap citra menara dengan jelas.

Menara kembar Petronas. Antara kedua menara dihubungkan dengan jembatan. Kami akan naik ke atas menara itu.

Setelah berjalan-jalan di mal Suria KLCC, yang terletak di bawah menara, waktunya sekarang untuk menaiki menara ini. Kami turun ke lantai dasar Suria KLCC untuk membeli tiket naik menara. Tiket naik menara lumayan mahal bagi orang asing, yaitu 80 ringgit atau kalau dirupiahkan Rp280.000. Namun bagi lansia (usia 57 tahun ke atas) hanya dikenakan 42 ringgit saja. Bagi warga lokal harga tiketnya  lebih murah, hanya 30 ringgit saja.

Tiket naik menara

Kami mendapat jam naik ke menara pukul 17.00. Untuk naik menara ini memang perlu antri, hanya satu rombongan setiap kali naik. Satu rombongan terdiri dari 20-25 orang. Sebelum naik menara ini kita difoto di lantai dasar  fotonya dijual nanti di lantai 83.

Tidak boleh bawa minuman ke atas menara ini, seperti naik pesawat saja. Semua tas ransel dan minuman harus dititipkan di lantai dasar. Total waktu kunjungan ke atas menara per grup adalah 45 menit.

Jam 17.00 kami mulai naik ke atas menara menggunakan lift. Perhentian pertama kali adalah di lantai 41. Di lantai inilah terdapat jembatan yang menghubungkan kedua menara kembar. Saya berjalan di atas jembatan ini agak merasa gamang ketika melihat ke bawah. Hiiii…pada dasarnya saya orang yang takut dengan ketinggian.

Pintu menuju jembatan yang terletak 170 meter di atas permukaan bumi

Jembatan di lantai 41

Pemandangan dari atas jembatan dan lantai 41 sangat mengagumkan. Kita dapat melihat kota Kuala Lumpur yang penuh dengan gedung-gedung pencakar langit. Foto-foto di bawah ini memperlihatkan beberapa sudut foto yang saya ambil dari atas jembatan lantai 41.

Di lantai 41 rombongan hanya boleh berada selama 20 menit saja. Setelah puas berfoto-foto, kita naik lift lagi menuju lantai 83. Di lantai 83 ini dijual berbagai souvenir tentang Menara Petronas, termasuk foto kita yang tadi dipotret di lantai dasar.  Harga fotonya bikin kita tidak mau beli, 130 ringgit! Kali saja dengan Rp3600, mendingan saya beli laksa johor dan teh tarik bergelas-gelas di Suria KLCC. Kalau tidak ada yang mau membeli, maka foto-foto itu mungkin dimusnahkan, barangkali.

Dari lantai 83, kita naik lift lagi ke lantai paling tinggi yang boleh dinaiki, yaitu lantai 86 dari 88 lantai Gedung Petronas (dua lantai paling atas untuk maintenance). Kita hanya boleh sampai di sini saja. Pemandangan dari lantai 88 lebih spektakuler dari lantai 41. Ini berarti kita sudah berada di ketinggian 425 meter dari permukaan tanah. Ngeri? Ya, sebenarnya saya phobia dengan ketinggian, melihat ke bawah merasa takut. Di bawah ini foto-foto dari lantai 88.

Di lantai 88 ini dipajang foto Mahathir Muhammad. Mahathir yang menginspirasi Malaysia, pantaslah dia menjadi Bapak Malaysia.

Setelah 45 menit mengunjungi lantai 41, 83, dan lantai 88 menara, kami pun disuruh turun kembali. Delapan puluh ringgit harga yang harus dibayar untuk menikmati pemandangan dari Menara Petronas. Lumayanlah. Mengobati rasa penasaran.

Written by rinaldimunir

February 11th, 2019 at 5:19 pm

Berkunjung ke Kota Kupang

without comments

Beberapa waktu yang lalu saya menginjakkan kaki pertama kali di Tanah Timor, tepatnya ke kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).  Saya berkunjung ke kota Kupang dalam rangka memantau kemajuan hasil penelitian rekan dosen di Politeknik Negeri Kupang. Hibah penelitan ini berasal dari Kemenristekdikti dengan skema PKPT (Peneliti Kerjasama Perguruan Tinggi) dengan ITB sebagai mitranya.

Tidak ada penerbangan langsung dari Bandung ke Kupang, jadi saya menggunakan penerbangan transit. Dari Bandung saya transit di Denpasar dengan Garuda, lalu dari Denpasar terbang dengan maskapai yang sama ke Kupang.  Saya tiba di Bandara El Tari  Kupang pukul 21.30 malam. Rekan saya dosen dari Poltek Kupang, Daniel Bataona,  menjemput di Bandara.

Bandara El Tari Kupang. Ikon alat musik Sasando terlihat di atas nama bandara

Kota Kupang terletak di Pulau Timor dan menjadi ibukota Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).  Propinsi NTT adalah propinsi kepulauan yang mencakup ratusan pulau. Pulau utama adalah Pulau Timor, Pulau Sumba, Pulau Flores, Pulau Alor, dan Pulau Rote. Pulau Timor sendiri terbagi menjadi dua negara. Sebelah timur Pulau Timor adalah negara Timor Leste yang dulu pernah menjadi propinsi ke 27 di Indonesia dengan nama Timor Timur.

Peta Propinsi NTT dengan ibukotanya Kupang  (Sumber: ttps://www.lavalontouristinfo.com/lavalon/map-ntt.htm)

Saya menginap di Hotel Neo yang tidak jauh dari Universitas Cendana (Undana) dan Politeknik Negeri Kupang. Politeknik Negeri Kupang bersebelahan letaknya dengan kampus Undana. Dari kamar hotel saya dapat melihat kalau tanah di kota Kupang banyak  unsur batu karang, sehingga kota Kupang dinamakan juga Kota Karang.

Batu karang yang menyusun tanah kota Kupang. Laut

Kota Kupang bercuaca panas. Panasnya terik.  Curah hujan di sini cukup rendah dibandingkan kota-kota lain di Indonesia. Dikutip dari laman Wikipedia, curah hujan selama tahun 2010 tercatat 1.720,4 mm dan hari hujan sebanyak 152 hari. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari, yaitu tercatat 598,3 mm, sedangkan hari hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember dengan 28 hari hujan.

Meskipun panas, namun saya mengagumi langit di kota Kupang. Langitnya biru bersih tanpa polusi, biru sebenar-benar biru, tanpa ada awan. Saya mengunjungi kota Kupang pada bulan Oktober, masih musim kemarau saat itu. Langit biru bersih seperti ini jarang saya lihat di Pulau Jawa. Saya berfoto di depan rektorat Undana, lihatlah birunya langit di atas kota Kupang. Tidak heran jika observatorium  bintang rencananya akan dibangun di Kota Kupang. Langit di Pulau Jawa sudah terkontaminasi polusi sehingga perlu dibuat observatorium kedua setelah Lembang.

Birunya langit di atas Kota Kupang

Menyusuri jalanan di kota Kupang maka yang saya lihat adalah pemandangan yang kering. Mungkin karena sedang musim kemarau maka pemandangan di kota Kupang sangat khas.  Pohon-pohon sepe, pohon khas di Kupang, berdiri meranggas di sepanjang jalan.

Pemandangan khas sepanjang jalan di kota Kupang, pohon sepe sepanjang jalan

Pohon-pohon sepe di sepanjang jalan di dalam kampus Undana

Di bawah lindungan pohon sepe

Tapi jangan salah, kata teman saya di Kupang, pada buan Desember pohon-pohon sepe itu berbunga dengan indahnya. Bunga-bunga merahnya keluar, menyembul dari balik daun, menjadikanya seperti bunga Sakura yang mekar di Jepang, seperti foto di bawah ini yang bersumber dari situs ini. Foto-foto kota Kupang yang berbunga pada bulan Desember dapat dilihat pada tulisan “Sepe, Sang Bunga Harapan” The December Flower, dan tulisan Mekarnya Bunga Sepe, Jadi Momen Terbaik untuk Traveling ke Kupang.

Pohon sepe berbunga merah pada bulan Desember (Sumber: https://cvaristonkupang.com/2013/11/27/sepe-sang-bunga-harapan-the-december-flower/)

Kota Kupang terletak  di pinggir pantai. Pantainya berpasir putih dan bersih, ombaknya tidak terlalu besar. Salah satu pantai di dalam kota yang saya kunjungi adalah Pantai Pasir Panjang.  Banyak pohon di pantai ini sehingga tidak terasa gerah. Duduk-duduk di sini saja bisa membuat kitatertidur. Anginnya itu sepoi-sepoi menghanyutkan.

Pantai Pasir Panjang

Di pinggir pantai ini ada sebuah restoran seafood yang cukup luas dan asri, di sanalah saya dan teman menikmati makan siang dengan hidangan seafood. Masakan ikan yang khas di Kupang adalah ikan kuah asam. Kuahnya bukan dari santan, tetapi dari air yang yang sudah mengandung bumbu-bumbu seperti kunyit, laos, bawang, cabe rawit, dan-lain, dan tentu saja jeruk asam.  Selain ikan kuah asam, salad tuna juga masakan khas di Kupang.

Rumah makan seafood di pantai Pasir Panjang

Salad ikan tuna yang yummy

Saya sampai lupa menceritakan kalau tugas utama saya ke Kupang adalah melihat kemajuan hasil penelitian penelitian kami di Politeknik Negeri Kupang. Purwarupa aplikasi Powerplan (Power Point menggunakan LAN) diuji coba oleh mahasiswa di dalam kelas. Dengan aplikasi ini, keterbatasan LCD untuk menayangkan slide presentasi dapat teratasi dengan menggunakan Local Area Network.

Mahasiswa Politeknik Kupang sedang melakukan uji coba aplikasi Powerplan

Wajah-wajah mahasiswa khas Kupang

Bersama dosen Politeknik Negeri Kupang

Malam hari di kota Kupang adalah waktu yang tepat menimati ikan segar di Kampung Solor. Kampung Solor adalah salah satu wilayah yang banyak didiami pemukiman muslim, si sini ada kampung nelayan dan pasar kuliner yang rata-rata menawarkan masakan ikan segar, kepiting, udang dan sebagainya. Ikan-ikan hasil tangkapan nelayan Kampung Solor dijejerkan di sepanjang ruas jalan. Kita tinggal pilih ikan yang mana dan mau dimasakkan apa. Mau dibakar, digoreng, atau dibuat masakan kuah asam kuning. Terserah.

Pasar kuliner di Kampung Solor

Ikan-ikan segar hasil tangkapan nelayan di Kampung Solor

Salah satu warung kuliner di Kampung Solor

Hmmm…ikan bakar yang yummy

Tidak lengkap pulang dari Kupang tanpa membawa oleh-oleh. Salah satu oleh-oleh khas koyta Kupang adalah seí. Seí adalah daging asap, yaitu daging yang diawetkan dengan cara diasap selama berjam-jam. Daging yang digunakan bisa daging babi, daging sapi, atau ikan. Seí adalah tradisi mengawetkan makanan yang berasal dari Pulau Rote, tetapi di Kupang dapat kita temukan penjual seí. Karena saya muslim tentu saya mencari seí  yang halal, salah satunya di kedai Ibu Soekiran di Jalan Muhammad Hatta. Seí dapat diolah lagi menjadi aneka masakan, misalnya digoreng, ditumis, digulai, dipindang, dan sebagainya. Orang Kupang sendiri makan seí dengan sambal khas Kupang yaitu sambal luat. Sambal luat terbuat dari cabe rawit dicampur dengan daun kemangi. Harum dan pedas.

Seí sapi dan se’i ikan tuna

Kedai Ibu Soekiran yang menjual seí halal

Esok harinya sebelum pulang ke Bandung (jadwal pesawat saya sore hari), rekan saya di Politeknik Kupang mengajak menikmati jajanan khas NTT di desa  Oesao, di Kabupaten Kupang. Sepanjang jalan menuju Oesao yang saya lihat adalah alam yang kering dan gersang. Penduduk Pulau Timor sudah biasa hidup dengan kondisi alam yang kering dan panas seperti itu. Saya juga melewati pemukiman penduduk Timor Timur pro integrasi, mereka adalah warga Timor Timur yang menolak referendum dan memilih tetap bergabung dengan  Indonesia. Sungguh menyedihkan melihat rumah-rumah mereka yang seperti bedeng dan jauh dari layak. Pemerintah RI seharusnya memperhatikan nasib mereka

Jajanan khas di Oesao jagung pulut. Jagung pulut adalah jagung putih yang digoreng dengan bumbu-bumbu dan dimakan dengan sambal. Hmmm…enak.

Jagung pulut

Kedai cucur

Jalan raya menuju Kab. Timor Tengah Selatan, Atambua, dan Timor Leste

Dari Oesao saya menuju Bandar El Tari untuk kembali ke Bandung. Meskipun dua hari saya di Kupang, tapi cukup banyak yang saya lihat. Insya Allah lain waktu saya ingin ke Kupang lagi. Jika ada kesempatan saya ingin mengunjungi Timor Leste karena jaraknya tidak terlalu jauh dari Kupang.

Ruang tunggu keberangkatan di Bandara El Tari

See you, Kupang!

Written by rinaldimunir

January 17th, 2019 at 5:06 pm

Posted in Cerita perjalanan