if99.net

IF99 ITB

Archive for the ‘Cerita Minang di Rantau’ Category

Kiriman Rendang Pensi Singkarak

without comments

Beberapa hari yang lalu kakak perempuan saya di Padang mengirim paket rendang pensi. Tau pensi? Orang Minang pasti tahu makanan yang satu ini. Pensi adalah sejenis tiram/kerang air tawar yang hanya ada di Danau Singkarak dan Danau Maninjau, Sumatera Barat. Orang Minang mengolah pensi ini menjadi berbagai macam lauk, salah satunya rendang pensi yang dikirim oleh kakak saya itu. Selain pensi, Danau Singkarak juga terkenal dengan hasil tangkapan berupa ikan endemik khas danau yang bernama ikan bilih.

DSC_1530 (1)

Rendang pensi, kiriman dari Padang

Pensi dimasak dengan santan dan bumbu-bumbu seperti cabe, bawang, daun serai (sereh), laos, jahe, daun ruku-ruku, daun jeruk, dan lain-lain. Cara memasaknya mirip seperti memasak rendang. Lebih enak lagi dicampur dengan kacang berukuran besar yang kalau di Padang dinamakan kacang pagar.

Awalnya sebelum menjadi rendang masih berupa gulai yang dinamakan gulai pensi. Biasanya yang dimasak adalah daging tiramnya saja, sedangkan cangkangnya dibuang. Nah, dalam bentuk gulai pensi saja sudah menerbitkan air liur, seperti gambar di bawah ini (Sumber gambar gulai pensi dari sini):

gulai pensi

Gulai pensi 

Almarhumah ibu saya dulu sangat pandai memasak gulai pensi. Ibu kami berasal dari daerah Solok. Danau Singkarak itu sebagian berada di Kabupaten Solok, sehingga orang Solok sangat kenal dengan pensi ini. Sekarang kemahiran memasak pensi itu dilanjutkan oleh kakak saya di Padang. Pensi yang dikirimnya itu dalam bentuk rendang agar awet jika dikirim ke tempat yang jauh.

Saya menjadikan rendang pensi itu sebagai bekal makan siang di kampus. Ini dia bekal makan siang berupa nasi, rendang pensi, dan tentu saja samba lado.

934849_1060444320690259_8659086415320729305_n

Bekal makang siang dengan rendang pensi

Jika anda nanti singgah ke Danau Singkarak atau Danau Maninjau, jangan lupa membeli oleh-oleh berupa pensi yang sudah diambil dagingnya (tanpa cangkang). Di Pasar Raya Padang juga ada yang menjual pensi, tetapi membeli pensi segar dari pinggir danau lebih disarankan. Pedagang mejualnya dalam takaran liter atau kilogram.

2-pensi

Pensi. (Sumber gambar dari http://www.izzawa.com/2015/08/cemilan-pensi.html)

Tiba di rumah nanti bisa diolah menjadi aneka masakan. Salah satu resep gulai pensi dapat dibaca di sini.


Written by rinaldimunir

March 15th, 2016 at 3:36 pm

Soto Padang yang Enak di Bandung

without comments

Sore dalam perjalanan pulang ke rumah ke kantor, saya singgah dulu di kedai soto padang masakan Uda Ujang di Jalan Singaperbangsa, dekat kampus Unpad Dipati Ukur, Bandung. Suasana sore yang mendung dan dingin ini membuat saya agak lapar, jadi saya ingin makan soto padang yang hangat dan enak. Hmmm….

soto-pdg3

Menurut saya soto padang masakan Uda Ujang adalah soto padang yang terenak di kota Bandung. Mantap rasa, aroma, dan pedasnya. Orisinal, persis sama dengan soto yang saya makan  di Pasar Raya, Padang. Di Bandung ada beberapa rumah makan padang yang menyediakan soto, tetapi dari semua soto padang yang pernah saya coba, saya menempatkan soto padang yang terenak ya soto di kedai ini. Kedai Uda Ujang khusus hanya menjual masakan soto padang saja, tidak ada masakan lain.

soto-pdg1

Soto padang isinya antara lain irisan daging goreng atau daging dendeng yang dipotong kecil-kecil, perkedel kentang, bihun, seledri, bawang goreng, dan sama sekali tanpa MSG. Kelezatan soto padang terletak pada kuahnya. Kuah soto terbuat dari kaldu daging atau ulang sapi dengan ramuan rempah-rempah. Paduan rempah-rempah itulah yang membedakan soto padang yang satu dengan soto padang lainnya. Paduan mana yang menghasilkan rasa yang pas di lidah, itulah soto padang yang enak dan gurih. Soto padang akan lebih nikmat jika ditambah dengan sambal khas dan perasan jeruk nipis atau cuka. Sambalnya adalah cabe halus yang dimasak dengan tambahan asam cuka. Supaya lebih menarik, nasinya  ditaburi kerupuk merah. Mantap!

soto-pdg2

Saya suka mengajak teman makan di sini, kadang-kadang juga saya pesan untuk menu rapat di kantor. Kedainya buka dari pagi jam 8 hingga malam. Seporsi soto padang tanpa nasi Rp17.000, jika pakai nasi harganya Rp20.000. Kedai ini juga punya jongko kaki lima di depan kampus Unpad, tepatnya di pool bis Damri Dipati Ukur.

Mau coba? Silakan datang ke sana.


Written by rinaldimunir

February 13th, 2016 at 6:28 am

Rindu Siaran Radio Kampung Halaman dengan “RRI Play”

without comments

Jika datang kerinduan mendengar siaran radio dari kampung halaman, maka saat ini kerinduan itu bukan hal yang sulit lagi. Tidak perlu pulang kampung untuk mendengarkan siaran radio berbahasa daerah, cukup dari genggaman tangan anda dengan menggunakan smartphone, maka kerinduan itu akan terbalaskan. Siaran radio streaming dari RRI stasiun daerah dapat anda nikmati sambil tiduran, berkendara, atau leyeh-leyeh di rumah. Asalkan ada koneksi Internet, maka anda dapat mendengarkan radio streaming dari belahan bumi mana saja.

Caranya mudah. Cari aplikasi RRI Play dari aplikasi Play Store di smartphone dengan sistem operasi android (atau Apple Store jika smartphone anda dari Apple), lalu unduh ke ponsel anda. Aplikasi RRI Play ini tidak berbayar alias gratis.

Screenshot_2015-06-15-19-58-13Setelah diunduh, jalankan aplikasi RRI Play ini. RRI ini punya kanal Pro 1, Pro 2, Pro 3, dan Pro 4 dari stasiun RRI berbagai kota mulai dari Aceh sampai Papua, masing. Misalkan saya ini sebagai perantau Minang ingin mendengarkan siaran berbahasa Minang dari RRI Padang, maka pilih Pro 4, kemudian pilih RRI Padang, maka siaran radio berbahasa Minang dari RRI Padang Pro 4 dapat saya nikmati. Saya dapat mendengarkan lagu-lagu Minang, request lagu, berita kampung halaman, dan lain-lain yang disiarkan penyiar dalam bahasa Minang. Rasanya saya sedang berada di kampung sendiri saja :-). Dengan kecepatan 32 kbps, siaran RRI statsiun daerah ini dapat dinikmati secara live dan realtime. Pulsa internet yang terpakai pun tidak terlalu besar untuk streaming selama satu jam.

Screenshot_2015-06-15-19-58-40Ada banyak stasiun RRI daerah Pro 4 yang dapat dimainkan dari RRI Play. Saat ini ada RRI Ambon, RRI Bandung, RRI Banjarmasin, RRI Cirebon, RRI Denpasar, RRI Jakarta, RRI Jambi, RRI Jayapura, RRI Kupang, RRI Malang, RRI Manado, RRI Manokwari, RRI Medan, RRI Padang, RRI Palembang, RRI Palu, RRI Pekanbaru, RRI Semarang, RRI Samarinda, RRI Surabaya, RRI Yogyakarta. Untuk RRI Pro 1, selain stasiusn radio yang disebutkan di atas, masih ada RRI Bukittinggi, RRI Fak Fak, RRI Gunung Sitoli, RR Ende, RRI Biak, RRI Bengkulu, RRI Banten, RRI Bogor, RRI jember, RRI Kendari, RRI Madiun, dan masih banyak lagi. Itu belum termasuk RRI Pro 2 dan Pro 3. RRI Play juga mempunyai kanal lagu-lagu jazz, kanal lagu klaisk, kanal lagu keroncong, da siaran perbatasan.

Screenshot_2015-06-15-19-59-22Radio adalah media yang lebih akrab dan lebih intm ketimbang televisi. Kita dapat mendengarkannya sambil belajar, sambil membaca buku, sambil mengetik di depan komputer, sambil mengemudi, atau sambil tidur-tiduran tanpa harus membuat mata lelah seperti menonton TV. Rasanya kerinduan pada kampung halaman terbayarkan, apalagi jika anda tidak mudik ke kampung pada lebaran tahun ini. Terima kasih RRI Play, semoga RRI tetap jaya, sekali di udara tetap di udara.


Written by rinaldimunir

July 12th, 2015 at 12:00 pm

Warna-warni Kesenian Minangkabau di Gedung Sabuga ITB

without comments

(Tulisan ini sebenarnya agak terlambat di-posting, karena kejadiannya sebulan yang lalu. Meskipun demikian, masih tetap gres saya tulis di sini)

Setiap tahun, menjelang Ujian Akhir Semester, mahasiswa-mahasiswa ITB yang tergabung di dalam Unit Kesenian Minangkabau (UKM) ITB mengadakan malam pagelaran kesenian budaya Minangkabau di dalam kampus. Temptanya di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) ITB. Penontonnya tidak hanya para mahasiswa di dalam kampus, tetapi juga datang dari mahasiswa lainnya di kota Bandung, khususnya mahasiswa asal Sumbar, dan tentu saja para perantau Minang yang berada dia kawasan Bandung Raya. Bagi pertantau Minang di Bandung, acara UKM-ITB ini adalah yang selalu ditunggu-tunggu. Hal ini tampak dari membludaknya penonton, ditandai dari antrean panjang calon penonton di pintu Sabuga dengan memperlihatkan kode pesanan tiketnya yang dipesan secara daring di Internet. Zaman sekarang menjual tiket tidak perlu berupa kertas lagi, tetapi cukup via internet seperti kita membeli tiket pesawat. Tidak hanya itu, jika anda tidak hadir di Sabuga malam itu, pertunjukan pun dapat dilihat dari seluruh dunia karena disiarkan secara live streaming melalui Internet.

Saya datang pada malam itu guna memenuhi undangan para mahasiswa Minang ITB yang saya cintai. Bandung malam itu sangat ramai dan meriah, karena baru saja usai ‘pesta’ perayaaan Konferensi Asia Afrika ke-60. Kawasan Jalan Dago dan sekitarnya macet total, karena beberapa jalan ditutup akibat adanya pertunjukan musik dan karnaval. Jadi, malam pagelaran kesenian Minang dari UKM-ITB itu bolehlah dianggap sebagai ‘ikut meramaikan’ perayaan KAA. Ketika ada seorang rekan bertanya kepada saya, apakah malam keseninan Minang di Sabuga itu dalam rangka KAA? Iya, jawab saya sekenanya sambil tersenyum.

Asesori-asesori hiasan Minangkabau sudah menyambut tamu menuju pintu Sabuga. Sepasang anak daro-marapulai (pengantin muda-muda Minang) menyambut penonton dengan ramah. Saya menyempatkan berfoto dulu bersama teman saya, seorang alumni ITB yang pernah menjadi Dirut beberapa BUMN semasa Menteri Dahkan Iskan dulu. Sambutan muda-mudi dalam balutan busana tradisionil Minangkabau bagaikan pengkondisian bahwa anda sekarang memasuki kawasan budaya Minang.

Sepasang muda-mudi Minang menyambut penonton masuk ke dalam sabuga.

Sepasang muda-mudi Minang menyambut penonton masuk ke dalam sabuga.

Jadwal pertunjukan ternyata ngaret dari yang diagendakan. Acara dimulai dengan pembacaan tilawah Al-Quran. Sebagai orang Minang yang taat pada agama dan dengan filosofi adat yang bersendikan pada ajaran agama (Islam), tradisi pembukaan acara dengan membaca kitab Suci Al-Quran sangat jarang kita temukan pada pertunjukan kesinian manapun. Hanya di UKM-ITB itu ada. Tradisi ini sangat baik dan perlu dilestarikan pada setiap pertunjukan dari UKM-ITB.

Setelah beberapa kata sambutan dari beberapa orang, dua orang pembawa acara mulai berceloteh panjang lebar dalam Bahasa Minang yang memancing tawa. Saya mencatat celotehan ini setidaknya memakan waktu hampir satu jam, waktu yang terlalu lama untuk pembawa acara yang tampak terlampau semangat bergurau di atas panggung, lupa bahwa the main course bukanlah lawakan mereka, tetapi atraksi kesenian yang ditunggu-tunggu penonton. Tidak heran jika pertunjukan berakhir sampai hampir tengah malam (23.30 WIB). Ups…, saya sudah membicarakan waktu akhir, padahal tulisan ini baru saja dimulai.

Latar belakang panggung dengan rumah bagonjong dan tampilan video mapping.

Latar belakang panggung dengan rumah bagonjong dan tampilan video mapping.

Pertunjukan kesenian Minang pada malam itu mengambil setting cerita drama tahun 2040 (wah!). Dikisahkan tentang keluarga perantau Minang di Jakarta mempunyai anak lelaki yang akan diplot menjadi datuk di kampung halaman. Namun persoalannya, di kampungnya juga ada kandidat calon datuk lain yang digadang-gadang oleh keluarganya. Persaingan menjadi datuk pun terjadi dengan aneka intrik dan taktik. Di sela-sela kisah drama itu ditampilkan aneka tarian, randai, dendang, musik, dan lagu.

Salah satu adegan drama. Video mapping di latar belakang menambah rancak suasana.

Salah satu adegan drama. Video mapping di latar belakang menambah rancak suasana.

Sejatinya penonton tidak terlalu mementingkan jalan cerita drama yang mudah ditebak dan mengandung pesan-pesan yang mungkin terkesan klise. Pada setiap pertunjukan kesenian Minang di manapun, yang menjadi andalan adalah tari, musik, dan lagu. Kisah drama bolehlah dianggap sebagai pemanis belaka, celoteh bagarah-garah (lawakan) yang memnacing tawa bolehlah untuk menghidupkan suasana supaya tidak garing, namun gerak tari dan lagu dengan iringan musik tradisionil itulah yang sebenarnya ditunggu-tunggu oleh penonton di manapun. Jiwa dari kesenian minang adalah musik, tarian (termasuk randai), dan lagu. Jadi, jiwa inilah yang harus mendapat perhatian besar bagi produser acara kesenian Minang di manapun, termasuk para mahasiswa ITB itu.

Tim musik talempong

Tim musik talempong

Gerak tari sungguh rancak dipandang mata, suara musik dan lagu memanjakan telinga. Padu padan tarian dan musik lebih baik dari tahun sebelumnya. Lho, kok tahu? Lha iya, saya selalu menonton acara ini setiap tahun :-). Hanya sayangnya, seperti kata saya dulu, tarian yang dibawakan tidak pernah berubah, selalu yang itu-itu saja. Hanya personilnya yang berganti, sedangkan koleksi tarian masih yang dulu.

Meskipun demikian, hati sungguh terhibur dengan penampilan yang memukau mata dan telinga. Gerakan yang kompak, ritmis, dan teratur dari para penari membuat penonton tidak beranjak sampai acara selesai. Apalagi di latar belakang dihiasi dengan tampilan video mapping yang membuat acara kali ini penuh warna. Video mapping adalah hal yang bari kali ini, meskipun kepopulerannya di kota Bandung sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu ketika ada pertunjukan video mapping di dinding Gedung Sate.

Foto-foto di bawah ini dapat membawa anda terhanyut dalam warna-warni kesenian Minangkabau seperti yang saya ceritakan.

Tari pembukaan, Pasambahan

Tari pembukaan, Pasambahan

Tari pembukaan, Pasambahan

Tari pembukaan, Pasambahan

Tari Indang

Tari Indang

Tari Kipeh Marawa

Tari Kipeh Marawa

Tari Randai

Tari Randai

Tari Rantak

Tari Rantak

Puncak semua tari, Tari Piring

Puncak semua tari, Tari Piring

Para mahasiswa itu telah berhasil menampilkan pagelatran kesenian Minang yang menawan. Apresiasi buat mereka, karena telah mengorbankan banyak waktu latihan di sela-sela kesibukan kuliah yang padat dan berat. Setiap sore dan malam meerka berlatih di sela-sela lantai gedung kampus yang kosong. Meskipun mereka bukan penari dan pemusik profesional, mereka sudah menampilkan pertunjukan kesenian sekelas profesional.

Tahun depan, pertunjukan macam apa lagikah yang akan mereka hidangkan?


Written by rinaldimunir

June 9th, 2015 at 3:42 pm

Tampil Beda pada “Minangkabau Festival” dari UKM-ITB

without comments

Ini cerita tentang malam pagelaran kesenian Minangkabau pada Dies ke-39 Unit Kesenian Minangkabau (UKM) ITB, hari Minggu 27 April 2014. Dengan tajuk Minangkabau Festival, mereka menampilkan acara yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya acara pagelaran diadakan pada ruang tertutup di dalam gedung megah Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), maka kali ini acara pagelaran didadakan di ruang terbuka, yaitu di tempat yang menjadi monumental sejak ITB dulu kala, yaitu Lapangan Basket. Dari panitia saya dengar tujuan diselenggarakan di area terbuka adalah untuk lebih mendekatkan UKM-ITB dengan masyarakat umum dan mahasiswa Minang Bandung, karena pagelaran kesenian ini tidak dipungut biaya alias gratis nontonnya. Tahun-tahun sebelumnya ketika diadakan di Sabuga penonton harus membeli tiket masuk. Masalahnya bukan pada harga tiketnya, tetapi banyak calon penonton kecewa karena tidak memperoleh tiket, mereka harus masuk waiting list. Kapasitas setengah Sabuga yang kecil tidak mampu menampung penonton lebih banyak lagi. Pertunjukan UKM-ITB memang selalu ditunggu-tunggu dan membludak penontonnya.

Pertunjukan di ruang terbuka bukannya tanpa kendala. Bulan April ini Bandung masih dalam musim hujan. Hujan yang turun pada hari minggu siang sampai sore membuat galau panitia dies ke-39 Unit Kesenian Minangkabau (UKM) ITB. Jika hujan terus turun sampai malam hari, maka acara pagelaran kesenian di lapangan basket terancam gagal. Tapi untunglah Tuhan “mendengar” kegalauan para mahasiswa itu, pukul 17 sore hujan berhenti dan setelah maghrib langit sangat cerah. Para penonton terus mengalir ke lapangan basket dan duduk di bawah tenda yang disediakan. Penonton sabana rami, tumpah ruah memenuhi lapangan basket. Penonton yang tidak dapat tempat duduk terpaksa berdri atau duduk lesehan di atas lantai lapangan. Penonton tidak hanya mahasiswa, tetapi juga bapak-bapak dan keluarganya yang merupakan perantau urang awak di Bandung. Bagi penonton yang tidak bisa hadir di sana, panitia juga menyediakan live streaming via Internet.

Panggung talempong dan pemain musik tradisionil Minangkabau.

Panggung talempong dan pemain musik tradisionil Minangkabau.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pagelaran kesenian menampilkan drama yang diselingi tari-tarian, musik, dan lagu. Dramanya menceritakan sejarah lahirnya negeri Minangkabau dan asal mula kata Minangkabau itu. Sayang dramanya ditampilkan agak kaku dan tidak natural, jadinya kurang membekas dalam pikiran. Baiklah, ceritanya tidak terlalu penting dibahas, karena yang ditunggu-tunggu oleh para penonton sebenarnya adalah penampilan tarian, lagu minang, dan musik tradisionil.

Salah satu adegan drama

Salah satu adegan drama

Yang menarik adalah penyampaian cerita dalam bentuk kilas balik atau flashback oleh dua orang host dan dipadu dengan randai. Host pertama adalah seorang mahasiswa ITB yang diceritakan sedang menyusun Tugas Akhir tentang sejarah Minangkabau (TA yang aneh untuk keilmuan di ITB, tapi tak apa-apa namanya juga rekaan), dan host yang kedua pemandu wisata yang memerankan orang Minang kampung. Apresiasi perlu diberikan kepada dua orang host ini, karena melalui dialog-dialog segar dan celoteh-celoteh minang yang mengundang tawa, pertunjukan kesenian malam itu menjadi hidup dan membuat penonton terpingkal-pingkal. Memamg kalau acara pagelaran kesenian minang tidak ada lawaknya maka akan menjadi pertunjukan yang garing.

"Host " ciamik yang memandu acara.

“Host ” ciamik yang memandu acara.

Kalau tari-tarian yang ditampilkan tidak ada yang baru, masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, meskipun demikian sungguh rancak dibawakan oleh para mahasiswa itu (sebagian masih TPB). Yang saya ingat tarian yang ditampilkan adalah Galombang Pasambahan, tari Payung, dan masih beberapa lagi, yang ditutup oleh tari maskot UKM adalah tari Piriang Manggaro. Sayang jumlah tariannya kurang banyak, sebab yang menjadi inti pertunjukan adalah tari-tarian minang itu.

Tari Galombang Pasambahan

Tari Galombang Pasambahan

Tari Payung

Tari Payung

Tari Perang

Tari Perang

Tari Piriang Manggaro

Tari Piriang Manggaro

Saran saya yang pernah saya sampaikan ke adik-adik mahasisea sebelumnya agar menampilkan juga lagu-lagu minang ternyata terealisasi juga pada pagelaran ini. Sayangnya pilihan lagunya kurang pas, yaitu Bapisah Bukannyo Bacarai. Lagu ini ditampilkan di bagian awal acara, padahal acara kan belum selesai. Masih banyak pilihan lagu lawas Minang yang bisa ditampilkan untuk membangkitkan nostalgia penonton. Satu lagi, lagu minangnya hanya sekali saja, kurang banyak menurut saya.

Duet lagu minang

Duet lagu minang

Kekurangan utama pementasan malam itu adalah sound system yang jelek. Mik sering kali mati, serta suara dengung dari feedback mengganggu kenikmatan mendengar.

Secara keseluruhan penampilan malam itu sungguh rancak. Saya merasa cukup puas, saya nilai 8 deh untuk art performance kali ini. Penonton saya lihat tidak beranjak dari tempat duduknya dari awal hingga akhir acara (pukul 11 malam), padahal hari itu minggu malam lho, dimana besoknya sudah masuk kerja dan kuliah.

Catatan: mohon maaf foto-fotonya kurang tajam karena memakai kamera ponsel yang tidak bagus untuk foto malam hari. Di bawah ini foto dari akun Reisha Humaira di Facebook.

Screenshot beberapa foto yang diambil dari live streaming (by Reisha Humaira).

Screenshot beberapa foto yang diambil dari live streaming (by Reisha Humaira).


Written by rinaldimunir

April 30th, 2014 at 2:58 pm

Tampil Beda pada “Minangkabau Festival” dari UKM-ITB

without comments

Ini cerita tentang malam pagelaran kesenian Minangkabau pada Dies ke-39 Unit Kesenian Minangkabau (UKM) ITB, hari Minggu 27 April 2014. Dengan tajuk Minangkabau Festival, mereka menampilkan acara yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya acara pagelaran diadakan pada ruang tertutup di dalam gedung megah Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), maka kali ini acara pagelaran didadakan di ruang terbuka, yaitu di tempat yang menjadi monumental sejak ITB dulu kala, yaitu Lapangan Basket. Dari panitia saya dengar tujuan diselenggarakan di area terbuka adalah untuk lebih mendekatkan UKM-ITB dengan masyarakat umum dan mahasiswa Minang Bandung, karena pagelaran kesenian ini tidak dipungut biaya alias gratis nontonnya. Tahun-tahun sebelumnya ketika diadakan di Sabuga penonton harus membeli tiket masuk. Masalahnya bukan pada harga tiketnya, tetapi banyak calon penonton kecewa karena tidak memperoleh tiket, mereka harus masuk waiting list. Kapasitas setengah Sabuga yang kecil tidak mampu menampung penonton lebih banyak lagi. Pertunjukan UKM-ITB memang selalu ditunggu-tunggu dan membludak penontonnya.

Pertunjukan di ruang terbuka bukannya tanpa kendala. Bulan April ini Bandung masih dalam musim hujan. Hujan yang turun pada hari minggu siang sampai sore membuat galau panitia dies ke-39 Unit Kesenian Minangkabau (UKM) ITB. Jika hujan terus turun sampai malam hari, maka acara pagelaran kesenian di lapangan basket terancam gagal. Tapi untunglah Tuhan “mendengar” kegalauan para mahasiswa itu, pukul 17 sore hujan berhenti dan setelah maghrib langit sangat cerah. Para penonton terus mengalir ke lapangan basket dan duduk di bawah tenda yang disediakan. Penonton sabana rami, tumpah ruah memenuhi lapangan basket. Penonton yang tidak dapat tempat duduk terpaksa berdri atau duduk lesehan di atas lantai lapangan. Penonton tidak hanya mahasiswa, tetapi juga bapak-bapak dan keluarganya yang merupakan perantau urang awak di Bandung. Bagi penonton yang tidak bisa hadir di sana, panitia juga menyediakan live streaming via Internet.

Panggung talempong dan pemain musik tradisionil Minangkabau.

Panggung talempong dan pemain musik tradisionil Minangkabau.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pagelaran kesenian menampilkan drama yang diselingi tari-tarian, musik, dan lagu. Dramanya menceritakan sejarah lahirnya negeri Minangkabau dan asal mula kata Minangkabau itu. Sayang dramanya ditampilkan agak kaku dan tidak natural, jadinya kurang membekas dalam pikiran. Baiklah, ceritanya tidak terlalu penting dibahas, karena yang ditunggu-tunggu oleh para penonton sebenarnya adalah penampilan tarian, lagu minang, dan musik tradisionil.

Salah satu adegan drama

Salah satu adegan drama

Yang menarik adalah penyampaian cerita dalam bentuk kilas balik atau flashback oleh dua orang host dan dipadu dengan randai. Host pertama adalah seorang mahasiswa ITB yang diceritakan sedang menyusun Tugas Akhir tentang sejarah Minangkabau (TA yang aneh untuk keilmuan di ITB, tapi tak apa-apa namanya juga rekaan), dan host yang kedua pemandu wisata yang memerankan orang Minang kampung. Apresiasi perlu diberikan kepada dua orang host ini, karena melalui dialog-dialog segar dan celoteh-celoteh minang yang mengundang tawa, pertunjukan kesenian malam itu menjadi hidup dan membuat penonton terpingkal-pingkal. Memamg kalau acara pagelaran kesenian minang tidak ada lawaknya maka akan menjadi pertunjukan yang garing.

"Host " ciamik yang memandu acara.

“Host ” ciamik yang memandu acara.

Kalau tari-tarian yang ditampilkan tidak ada yang baru, masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, meskipun demikian sungguh rancak dibawakan oleh para mahasiswa itu (sebagian masih TPB). Yang saya ingat tarian yang ditampilkan adalah Galombang Pasambahan, tari Payung, dan masih beberapa lagi, yang ditutup oleh tari maskot UKM adalah tari Piriang Manggaro. Sayang jumlah tariannya kurang banyak, sebab yang menjadi inti pertunjukan adalah tari-tarian minang itu.

Tari Galombang Pasambahan

Tari Galombang Pasambahan

Tari Payung

Tari Payung

Tari Perang

Tari Perang

Tari Piriang Manggaro

Tari Piriang Manggaro

Saran saya yang pernah saya sampaikan ke adik-adik mahasisea sebelumnya agar menampilkan juga lagu-lagu minang ternyata terealisasi juga pada pagelaran ini. Sayangnya pilihan lagunya kurang pas, yaitu Bapisah Bukannyo Bacarai. Lagu ini ditampilkan di bagian awal acara, padahal acara kan belum selesai. Masih banyak pilihan lagu lawas Minang yang bisa ditampilkan untuk membangkitkan nostalgia penonton. Satu lagi, lagu minangnya hanya sekali saja, kurang banyak menurut saya.

Duet lagu minang

Duet lagu minang

Kekurangan utama pementasan malam itu adalah sound system yang jelek. Mik sering kali mati, serta suara dengung dari feedback mengganggu kenikmatan mendengar.

Secara keseluruhan penampilan malam itu sungguh rancak. Saya merasa cukup puas, saya nilai 8 deh untuk art performance kali ini. Penonton saya lihat tidak beranjak dari tempat duduknya dari awal hingga akhir acara (pukul 11 malam), padahal hari itu minggu malam lho, dimana besoknya sudah masuk kerja dan kuliah.

Catatan: mohon maaf foto-fotonya kurang tajam karena memakai kamera ponsel yang tidak bagus untuk foto malam hari. Di bawah ini foto dari akun Reisha Humaira di Facebook.

Screenshot beberapa foto yang diambil dari live streaming (by Reisha Humaira).

Screenshot beberapa foto yang diambil dari live streaming (by Reisha Humaira).


Written by rinaldimunir

April 30th, 2014 at 2:58 pm

Pengalaman Naik “Xpress Air” dari Bandung ke Padang

without comments

Sudah beberapa bulan ini maskapai Xpress Air melayani rute Bandung – Padang pulang pergi setiap hari. Dari Bandung berangkat pukul 17.00 sore sedangkan dari Padang pukul 6.30 pagi. Ini adalah salah satu alternatif pulang kampung tanpa harus bersusah payah melewati kota Jakarta yang padat, macet, serta habis waktu di jalan menuju Bandara Soekarno-Hatta. Juga alternatif ke Bandung dari Padang tanpa perlu repot ke Jakarta dulu.

Saya ingin mencoba naik pesawat ini, bagaimana rasanya terbang langsung ke kota kelahiran dari Bandung. Setelah mencari waktu yang tepat maka bulan lalu saya membeli tiket Xpress Air di sebuah agen. Saya dapat tiket seharga Rp650.000 untuk penerbangan hari Sabtu. Jika dihitung-hitung memang agak lebih mahal dibandingkan bila berangkat dari Jakarta. Lion Air misalnya, pada tanggal saya pulang harga tiket paling murahnya berkisar antara 450-550 ribu rupiah, namun jika ditambah ongkos travel atau bis dari Bandung ke Bandara Soeta maka selisihnya tidak jauh berbeda. Dari Bandung ke Bandara Soeta di Jakarta bila naik bis Primajasa ongkos tiketnya sudah 90.000 rupiah. Orang Minang memang selalu berhitung, he..he…

Rupa pesawat Xpress Air di landasan Bandara Husein

Rupa pesawat Xpress Air di landasan Bandara Husein

Jam 15.45 saya sudah tiba di Bandara Husein Sastranegara Bandung, masih ada waktu sejam lebih lagi sebelum berangkat. Setelah proses chek-in, saya menunggu di ruang tunggu. Hari Sabtu sore itu Bandara Husein cukup ramai dengan calon penumpang yang akan berangkat ke Bali, Surabaya, dan Medan. Saya cari-cari di ruang tunggu itu apakah ada calon penumpang yang berbicara pakai bahasa Minang, sebab itu pertanda mereka calon penumpang ke Padang dengan pesawat yang sama dengan saya, he..he (padahal nggak selalu kan, mungkin saja mereka calon penumpang ke Bali atau Surabaya). Oh ada ternyata, berarti saya tidak sendiri.

Jam 16.15 pesawat Xpress Air baru saja mendarat dari Palembang. Memang rute pesawat ini setiap hari dari Bandung hanya tiga saja, yaitu Bandung-Pontianak pp (pagi), lalu Bandung-Palembang pp (siang), dan terakhir Bandung-Padang (sore). Jam 16.30 datang panggilan boarding kepada calon penumpang. Para penumpang Xpress Air pun berjalan ke landasan bandara menuju pesawat Xpress Air yang terparkir di sana. Wah, on-time juga pesawat ini.

22022014033

Pesawat yang saya naiki ukurannya tidak terlalu besar, kira-kira untuk seratusan penumpang, namun saya perhatikan pesawat hari itu tidak terisi penuh sebab masih banyak kursi yang kodong. Kursi-kursinya berwarna coklat dengan seat-belt sedikit berbeda dari pesawat lainnya.

22022014035

Jam 17.00 tepat pesawat pun lepas landas meninggalkan kota Bandung yang masih berawan cukup tebal sore itu, benar-benar tepat waktu sesuai janjinya. Selama perjalanan di udara tidak ada hal yang menarik, sekali-sekali pesawat mengalami guncangan akibat turbulensi di atas Sumatera, yach maklum pesawat berukuran sedang jadi guncangannya lebih terasa dibandingkan pesawat besar. Pramugari memberikan sekotak snack yang berisi roti dan air mineral, lumayanlah daripada tidak ada sama sekali seperti maskapai si singa udara.

Memasuki kota Padang pesawat berputar-putar dulu karena hujan deras melanda pesisir barat Sumatera. Menurut jadwal seharusnya pesawat sudah mendarat di Bandara Minangkabau pukul 18.30, tetapi karena berputar-putar dulu maka pesawat baru mendarat pukul 7 malam lebih sedikit. Alhamdulillah, saya sudah sampai di kota kelahiran.

Pesawat Xpress Air tersebut bermalam dulu di bandara Minangkabau karena penerbangan ke Bandung dari Padang adalah pukul 6.30 keesokan harinya. Bagi saya terlalu cepat sekali harus pulang lagi besok paginya, maka untuk balik ke Bandung saya naik masakapai lain, yang berarti ke Jakarta dulu. Tidak apa-apa, lain waktu saya akan coba langsung terbang dari Padang ke Bandung. Jadi nanti saya mandi dan sarapan dulu di rumah di Padang, lalu naik pesawat jam 6.30 di Bandara Minangkabau, dan tiba di Bandung pukul 8 pagi. Dari Bandara Husein ke kampus ITB hanya perlu waktu 15 menit dengan sepeda motor (karena saya nanti akan menitipkan motor di bandara Husein), dan setiba di kampus langsung ke kelas untuk mengajar. Asyik kan?


Written by rinaldimunir

March 14th, 2014 at 5:24 pm

Pengalaman Naik “Xpress Air” dari Bandung ke Padang

without comments

Sudah beberapa bulan ini maskapai Express Air melayani rute Bandung – Padang pulang pergi setiap hari. Dari Bandung berangkat pukul 17.00 sore sedangkan dari Padang pukul 6.30 pagi. Ini adalah salah satu alternatif pulang kampung tanpa harus bersusah payah melewati kota Jakarta yang padat, macet, serta habis waktu di jalan menuju Bandara Soekarno-Hatta. Juga alternatif ke Bandung dari Padang tanpa perlu repot ke Jakarta dulu.

Saya ingin mencoba naik pesawat ini, bagaimana rasanya terbang langsung ke kota kelahiran dari Bandung. Setelah mencari waktu yang tepat maka bulan lalu saya membeli tiket Express Air di sebuah agen. Saya dapat tiket seharga Rp650.000 untuk penerbangan hari Sabtu. Jika dihitung-hitung memang agak lebih mahal dibandingkan bila berangkat dari Jakarta. Lion Air misalnya, pada tanggal saya pulang harga tiket paling murahnya berkisar antara 450-550 ribu rupiah, namun jika ditambah ongkos travel atau bis dari Bandung ke Bandara Soeta maka selisihnya tidak jauh berbeda. Dari Bandung ke Bandara Soeta di Jakarta bila naik bis Primajasa ongkos tiketnya sudah 90.000 rupiah. Orang Minang memang selalu berhitung, he..he…

Rupa pesawat Xpress Air di landasan Bandara Husein

Rupa pesawat Express Air di landasan Bandara Husein

Jam 15.45 saya sudah tiba di Bandara Husein Sastranegara Bandung, masih ada waktu sejam lebih lagi sebelum berangkat. Setelah proses chek-in, saya menunggu di ruang tunggu. Hari Sabtu sore itu Bandara Husein cukup ramai dengan calon penumpang yang akan berangkat ke Bali, Surabaya, dan Medan. Saya cari-cari di ruang tunggu itu apakah ada calon penumpang yang berbicara pakai bahasa Minang, sebab itu pertanda mereka calon penumpang ke Padang dengan pesawat yang sama dengan saya, he..he (padahal nggak selalu kan, mungkin saja mereka calon penumpang ke Bali atau Surabaya). Oh ada ternyata, berarti saya tidak sendiri.

Jam 16.15 pesawat Express Air baru saja mendarat dari Palembang. Memang rute pesawat ini setiap hari dari Bandung hanya tiga saja, yaitu Bandung-Pontianak pp (pagi), lalu Bandung-Palembang pp (siang), dan terakhir Bandung-Padang (sore). Jam 16.30 datang panggilan boarding kepada calon penumpang. Para penumpang Express Air pun berjalan ke landasan bandara menuju pesawat Express Air yang terparkir di sana. Wah, on-time juga pesawat ini.

22022014033

Pesawat yang saya naiki ukurannya tidak terlalu besar, kira-kira untuk seratusan penumpang, namun saya perhatikan pesawat hari itu tidak terisi penuh sebab masih banyak kursi yang kodong. Kursi-kursinya berwarna coklat dengan seat-belt sedikit berbeda dari pesawat lainnya.

22022014035

Jam 17.00 tepat pesawat pun lepas landas meninggalkan kota Bandung yang masih berawan cukup tebal sore itu, benar-benar tepat waktu sesuai janjinya. Selama perjalanan di udara tidak ada hal yang menarik, sekali-sekali pesawat mengalami guncangan akibat turbulensi di atas Sumatera, yach maklum pesawat berukuran sedang jadi guncangannya lebih terasa dibandingkan pesawat besar. Pramugari memberikan sekotak snack yang berisi roti dan air mineral, lumayanlah daripada tidak ada sama sekali seperti maskapai si singa udara.

Memasuki kota Padang pesawat berputar-putar dulu karena hujan deras melanda pesisir barat Sumatera. Menurut jadwal seharusnya pesawat sudah mendarat di Bandara Minangkabau pukul 18.30, tetapi karena berputar-putar dulu maka pesawat baru mendarat pukul 7 malam lebih sedikit. Alhamdulillah, saya sudah sampai di kota kelahiran.

Pesawat Express Air tersebut bermalam dulu di bandara Minangkabau karena penerbangan ke Bandung dari Padang adalah pukul 6.30 keesokan harinya. Bagi saya terlalu cepat sekali harus pulang lagi besok paginya, maka untuk balik ke Bandung saya naik maskapai lain, yang berarti ke Jakarta dulu. Tidak apa-apa, lain waktu saya akan coba langsung terbang dari Padang ke Bandung. Jadi nanti saya mandi dan sarapan dulu di rumah di Padang, lalu naik pesawat jam 6.30 di Bandara Minangkabau, dan tiba di Bandung pukul 8 pagi. Dari Bandara Husein ke kampus ITB hanya perlu waktu 15 menit dengan sepeda motor (karena saya nanti akan menitipkan motor di bandara Husein), dan setiba di kampus langsung ke kelas untuk mengajar. Asyik kan?


Written by rinaldimunir

March 14th, 2014 at 5:24 pm

Rute Baru Pesawat Express Air dari Bandung ke Padang

without comments

Dulu saya pernah mendambakan ada maskapai yang membuka penerbangan dari Bandung ke Padang, begitu juga sebaliknya. Baca tulisan saya yang terdahulu tentang hal ini: Bandara Husein Bandung Makin Ramai Saja (Andai Ada Penerbangan Bandung – Padang). Kalau ada, maka saya tidak perlu repot-repot harus ke Jakarta kalau mau pulang kampung. Tahu sendiri kan situasi Jakarta, luar biasa macetnya untuk mencapai bandara Soekarno-Hatta dari Bandung. Bisa habis waktu empat jam perjalanan dari Bandung ke bandara saja. Padahal naik pesawat ke Padang hanya 1,5 jam, jadi lebih lama waktu di jalan daripada di udara.

Alhamdulillah, akhirnya harapan saya terwujud juga. Maskapai Express Air membuka rute baru dari Bandung ke Padang pulang pergi mulai tanggal 28 November 2013. Meskipun baru 4 kali seminggu (Selasa, Kamis, Jumat, dan Minggu), tetapi hal itu sungguh membantu para perantau yang ada di Bandung. Di Bandung ini banyak mahasiswa dan pedagang urang awak yang bermukim, jadi mereka merupakan pangsa pasar potensial untuk rute ini. Berita pembukaan rute baru Bandung – Padang pp dapat dibaca pada berita ini atau ini atau berita di koran lokal Padang ini. Situs pemesanan tiket Express Air dapat dilihat di sini.

Semoga saja rute baru Bandung – Padang dari Express Air ini bisa lestari, dan jangan sampai nasibnya sama seperti masakapai Indonesia Air yang sempat membuka rute Bandung – Padang beberapa bulan yang lalu namun akhirnya tutup setelah beroperasi dalam waktu yang singkat.

Sekarang pulang kampuang semakin mudah dan mangkus saja dari Bandung.


Written by rinaldimunir

November 29th, 2013 at 3:25 pm

“Samba Ampok-Ampok” Bang Themy

without comments

Di kedai ikan nila bakar Bang Themy, selain ikan dan ayam bakar bumbu padang, ada sejenis sambal yang juga dia jual di kedainya yaitu samba ampok-ampok. Bagi orang Minang, kata samba digunakan untuk merujuk pada aneka macam masakan yang dimakan sebagai teman nasi, yaitu semua jenis gulai, goreng, tumis, kalio, dan sebagainya. Dalam arti sempit samba juga berarti sambal cabe.

Nah, samba ampok-ampok ini sangat unik, sebab ia diolah bersama dengan jengkol. Sebenarnya saya kurang suka makan jengkol atau jengki, tetapi kalau kerupuk jengkol (di Padang disebut karupuak jariang) saya suka sekali.

Samba ampok-ampok

Samba ampok-ampok

Saya penasaran dengan sambal yang satu ini. Di kampung saya sendiri belum pernah ketemu sambal yang ini. Saya beli satu porsi (Rp6000) dan saya bawa pulang. Tiba di rumah saya makan nasi dengan samba ini. Ambooooiii… enaknya, lahap benar saya makan, terbuka selera makan jadinya.

Rahasia sambal itu teletak pada jengkolnya. Cabe merah diulek di batu lado dengan jengkol sehingga rasa jengkol yang khas sepet-sepet pahit berpadu dengan pedasnya cabe. jengkolnya tidak perlu diulek sampai hancur lebur, tetapi cukup dipukul-pukul saja menjadi beberapa potongan sehingga sarinya keluar. Dalam bahasa Minang, kata “dipukul” adalah “diampok”. Jadi, samba ampok-ampok itu itu adalah sambal dengan jengkol yang dipukul-pukul. Anda dapatemelihat potongan jengkol pada foto di atas?


Written by rinaldimunir

December 5th, 2012 at 1:18 pm